Wednesday 9 March 2011

Romance In The Rain Episode 2


Dikediaman sebuah rumah yang besar, Yiping menekan bel yang ada di pintu pagar. Ia basah kuyup karena hujan. Ia menahan dingin. Tak lama kemudian datanglah seorang wanita membawa payung membukakan pintu gerbang. Nona Yiping, hujan selebat ini kenapa tak pakai payung Ucap wanita itu yang ternyata adalah pelayan di rumah itu. Yiping pun kemudian masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah Yiping berusaha mengeringkan rambutnya yang basah dengan tangannya. Yiping berada di ruang tamu. Di ruang tamu, seorang gadis tengah menari dengan diiringi alunan musik. Gadis itu bernama Lu Mengping. Di sana juga, seorang anak laki-laki tengah bermain perang-perangan dengan senjata pistol mainan. Anak laki-laki itu bernama Lu Erjie “Berputar, berputar lagi.” Mengping menari dengan lincah. “hiyaa,, aku Jendral, aku Komandan..Desiung.” Erjie memperagakan suara pistolnya.




Erjie kemudian berbalik arah menghadap Yiping dan mengarahkan pistolnya, “Kutembak kau.. dor! Mati kau!” Plokk.. Peluru mainan itu menyambar dahi Yiping. Erjie berteriak kegirangan.
Mengping yang menari pun ikut berbalik arah dan melihat Yiping yang terkena senjata mainan anak laki-laki tadi. Ia tertawa.
Yiping melepas peluru mainan yang menempel di dahinya. Mengping yang melihat Yiping datang langsung mengomel ketika tahu sepatu Yiping mengotori karpet baru di rumahnya. Yiping mamandang kebawah, kemudian bertanya, “Apa ayah ada di rumah?” dengan ketus Mengping memanggil ayah dan Ibunya, “Ibu, Ayah, Yiping datang.”
Yang muncul lebih dulu adalah Lele, anjing peliharaan di rumah itu. Yiping mengangkat Lele dalam gendongannya, “Hanya kau yang menyambutku.” kata Yiping.


Tapi tak lama kemudian seorang gadis turun dari tangga. Dia Ruping. “Yiping, kenapa sudah lama tak kemari? Aku ingin bicara sesuatu denganmu.” Yiping menjawab,  ”Bukankah kau punya kakak dan adik, kenapa ingin bicara denganku?” Ruping menambahkan, ”Pokoknya aku ingin bicara denganmu, bukankah kau juga kakakku.” Yiping menjawab dengan ketus, “Ibumu ya ibumu. Ibuku ya ibuku. Walaupun marga kita sama tapi kita bukan saudara kandung.” Ruping mengerti tentang perasaan Yiping, “Perasaanmu sedang jelek ya?” tanya Ruping. “Tiap kali kesini perasaanku selalu jelek” jawab Yiping. “Setiap keluarga pasti memiliki masalah bukan? masalah keluarga kita memang rumit, diceritakan pada orang lain pun mungkin tak akan ada yang mengerti.” Ruping menjelaskan.

Ruping tersadar kalau baju yang dipakai Yiping basah, Ruping mengajak Yiping ke kamarnya untuk berganti baju. Ketika hendak menggandeng lengan Yiping, Yiping melihat gelang yang ada di lengan Ruping dan bertanya, “Kau membeli gelang baru?” “Benar, ini model yang terbaru, ada tujuh gelang perak, itu melambangkan tujuh hari dalam seminggu. Kau tahu, tujuh itu angka keberutungan orang Amerika, juga angka keberuntunganku. Harganya mahal sekali, 20 yuan. bagus tidak?” jawab ruping sambil memamerkan gelangnya. Yiping hanya diam.


Erjie terus bermain dengan pistol mainannya dan tanpa sengaja menabrak Mengping yang sedang berdiri di sana. Mereka berdua kemudian berkelahi. Mengping memukul Erjie. Erjie berteriak meminta tolong.


Xueqin datang dan memarahi Mengping kenapa sebagai kakak Mengping tak mau mengalah, bukankah Mengping lebih tua 9 tahun dari Erjie. Xueqin mengancam awas nanti ayah akan memukulmu. Mengping marah karena Erjie selalu dimanja oleh ayahnya, selalu dibelikan mainan, sedangkan dirinya menginginkan piano dan organ tapi tidak dibelikan.

Xueqin melihat Lele, anjing kesayangan Ruping. “Anjing nakal kenapa sudah mandi kotor lagi?” ia kemudian beralih melihat karpet barunya yang juga kotor. Ia menatap marah pada Yiping. “Berisik sekali!” tiba-tiba Lu Zhenhua muncul. Dia melihat Yiping datang. Mengping langsung mematikan musiknya. Xueqin segera mengambilkan minuman untuk suaminya. Sambil memberikan minuman untuk suaminya ia berkata jangan marah pada anak-anak. Semua ini karena rumah terlalu kecil. Jika seperti dulu di Harbin, rumahnya besar, halamannya pun besar anak-anak punya tempat bermain sendiri dan Lu zhenhua tidak akan terganggu.

Lu Zhenhua tak memperdulikan minuman yang di bawa Xueqin, dan beralih pada Yiping “Yiping, bagaimana keadaan ibumu, dia baik-baik saja kan?” Yiping menjawab kalau ibunya sering sakit kepala dan batuk karena belakangan ini cuaca sedang tidak baik. Menurut Lu Zhenhua kalau sakit harus diobati. Kalau punya uang pasti sudah berobat, jawab Yiping.


Lu Zhenhua paham maksud kedatangan Yiping, ternyata kau kemari untuk mengambil uang? “Kami sudah dua bulan menunggak uang sewa rumah.” Lu Zhenhua bertanya pada Xueqin apakah uang untuk Yiping dan ibunya sudah disiapkan? Xueqin lalu menyuruh Ruping mengambil uang 20 yuan. Ruping menurut.

Mendengar itu Yiping langsung protes pada ayahnya, uang sewa rumah yang dua bulan harus segera dilunasi, hutang di warung pun harus segera dibayar. Mereka juga harus membeli beberapa pakaian. Ibunya hanya memiliki satu Qipao yang berwarna biru. Juga sepatu. Sepatu Yiping Sudah menganga. Sudah berkali-kali diperbaiki di tempat reparasi. Kalau melihat kondisinya seperti ini pasti orang-orang tak akan percaya kalau dia adalah putri Lu Zhenhua.

Xueqin menyambung pembicaraan, kalau bukan untuk mengambil uang mana mungkin Yiping kerumah ayahnya.

Lu Zhenhua bertanya apa 20 yuan itu tidak cukup? Dan bertanya Yiping mau uang berapa? Yiping manjawab 200 yuan. Xueqin kaget mendengarnya, “Setelah insiden Mukden, rumah kita di Manchuria diduduki jepang, boleh dibilang kita mengungsi ke Shanghai, saudara-saudara yang lain sampai sekarang masih di sana (anak Lu Zhenhua dari istri 1-7 masih di Manchuria), ayahmu sudah tua, tak seperti dulu lagi, kau harus tahu kesulitan ayahmu, kau hanya hidup berdua dengan ibumu, sedangkan disini kami harus memberi makan seluruh keluarga.”
Yiping hanya menjawab, kalau dirinya tidak minta uang pada Xueqin, dia minta uang pada ayahnya. Sambil menghisap cerutunya Lu zhenhua membenarkan apa yang dikatakan Xeuqin. Bahwa sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Yiping harus mengerti keadaan ayahnya.
Yiping mulai emosi, mainan Erjie bisa dibelikan. Gelang ruping, karpet baru, punya pelayan dan supir, juga memelihara kuda. Kenapa tak bisa memberi 200 yuan padanya. Lu Zhenhua mendengarnya ikut emosi, mana ada orang yang berani bicara seperti itu padanya, uang itu miliknya dan ia berhak mengatur uangnya, terserah mau ia belikan apa uang itu.
Suara Yiping memelas, “kami tak bisa menunggak uang sewa rumah lagi, jika tidak dibayar kami akan diusir dan tinggal di jalanan.” Yiping mengatakan kalau dia dan ibunya juga bagian dari  keluarga Lu. Apa ayahnya ingin dia dan ibunya menggelandang di jalan. Lu Zhenhua bertanya apa maksud dari perkataan Yiping itu, bukankah setiap bulan ia selalu memberikan uang, apa Yiping sengaja membuatnya marah.

Ruping datang membawa uang 20 yuan dan mengatakan pada Yiping ambil ini, sudah jangan bicara lagi, jangan bertengkar dengan ayah, kalau tidak cukup nanti ia akan pikirkan caranya. Yiping menolak uang yang dibawa Ruping, Xueqin mengatakan pada Ruping tak usah berbaik-baik dengan Yiping, cepat menyingkir ke tempat lain. Menurut Xueqin sepertinya Yiping tidak menginginkan uang itu. Lu Zhenhua bertanya apa Yiping menginginkan uang itu atau tidak. Kalau tidak 200 yuan, yiping tak bisa menemui ibunya. “Kau ayahku, karena itulah aku menahan emosiku.” Tapi menurut Lu Zhenhua ia melihat emosi Yiping sangat tinggi. Yiping datang seperti orang yang sedang menagih hutang.
Emosi Yiping naik, “Kau pikir aku senang datang ke sini untuk meminta sesuap nasi? Merawat kami adalah tanggung jawabmu. Jika saja di Manchuria dulu kau tak pakai kekuasaanmu untuk menikahi ibu dengan paksa, tak mungkin kami minta makan padamu, kalau kau tak memiliki aku sebagai anakmu, kita sama-sama untung.”
Lu Zhenhua mulai marah, “Apa katamu? Katakan sekali lagi apa maksudmu ? cepat katakan ?”
Yiping mengatakan kalau dirinya sudah salah lahir menjadi anak perempuan keluarga Lu. Kalau saja dirinya lahir di keluarga lain, tentu saja dia tidak akan mengemis meminta makan pada ayahnya sendiri. Sudah bertahun-tahun ayahnya tak bersama ibunya, tak berada di rumahnya. Sambil menangis Yiping melanjutkan kata-katanya, “Ayah dimana sifat perikemanusiaanmu, kalaupun kau tak punya perasaan padaku. Tapi ibuku, dia pernah kau cintai dan kau memaksanya menikah denganmu. Sekarang kau begitu kejam, tak peduli dia hidup atau mati! Pernahkah kau memikirkannya? Memikirkan kesepiannya hatinya? Dia juga manusia, punya darah, punya daging, punya perasaan dan pikiran.”
Lu Zhenhua menggebrak meja, marah dan mulai mengguncangkan tubuh Yiping dan berteriak, “Siapa kau berani bicara begitu padaku ? Ajudan Li.. Ajudan Li..”  Xueqin mengingatkan kalau Ajudan Li sudah tak bersama mereka lagi, bukankah sudah disuruh hidup mandiri bersama istri dan  anak perempuannya. “kau mau apa, biar kulayani.”
“Erhao.. Erhao...” teriak Lu Zhenhua memanggil anak laki-laki tertua dirumah itu.
Yang bernama Erhao datang, “Ayah kau panggil aku, ada apa?” tanya Erhao.
“Cambuk.. mana cambukku!” kata Lu Zhenhua pada Erhao. Semua kaget mendengarnya.
Erhao bertanya pada ayahnya untuk apa meminta cambuk? “Cepat ke kamar karjaku dan ambil cambukku..!” perintah Lu Zhenhua pada Erhao dengan nada bicara yang tetap tinggi. Erhao pergi mengambil cambuk itu.
Ruping menasehati Yiping agar Yiping mau bicara yang lebih enak didengar, mengaku salah pada ayahnya agar tidak di cambuk. Tapi Mengping menarik lengan kakaknya itu dan bicara jangan ikut campur.
“Kau tak boleh memukulku. Kau tak berhak memukulku.” Ucap Yiping pada Lu Zhenhua sambil tetap menangis. “Bertahun-tahun kau telah  mengusir Ibu dan aku, kau tak pernah  menjalankan tugasmu sebagai ayah. Kau tak berhak memberiku pelajaran.”

Lu Zhenhua makin marah, “Berikan cambuknya padaku!” pintanya pada Erhao yang telah datang mengambilkan cambuk. Erhao memberikan cambuk itu pada ayahnya.
“Baik, kalian ayah dan anak bersatu. Suami istri pun sehati. Kalian memang satu keluarga. Dan aku. Aku ini hanya musuhmu!” Yiping melanjutkan, “Cambuklah! Kalau kau mau mencambukku, lakukan sekarang.”
Lu Zhenhua sudah maju akan mencambuk Yiping tapi Erhao menghalanginya. Menurut Erhao lebih baik bicara baik-baik dengan Yiping, mungkin Yiping tak paham. Cukup dimarahi saja tak perlu dicambuk.
Tapi Lu Zhenhua malah berbalik memarahi Erhao, “Kau juga mau mengguruiku? Kau juga mau melawan?” Hampir saja Erhao terkena cambuk kalau saja ia tak segera menghindar. “Siapa yang berani membelanya (Yiping) akan ku cambuk juga.” Semua diam tak ada yang berani.
Lu Zhenhua beralih memandang Yiping dan berkata bahwa ia akan memperlihatkan siapa sebenarnya si Macan kumbang. Dengan berani Yiping mengatakan bahwa macan kumbang yang sekarang hanya bisa mencambuki anak perempuannya. Lu Zhenhua memandang geram Yiping.

Dan Wushh... satu pukulan cambuk mengenai pipi Yiping. Wushh.. pukulan kedua membuat Yiping terjatuh... “Ahh...” Yiping berteriak. Lu Zhenhua terus mencambuki Yiping. Wush.. wushh..Wushh.. dan pukulan demi pukulan cambukan itu merobek baju yang dikenakan Yiping. Yiping terluka di seluruh tubuhnya.
“Cambuklah, aku memang tak beruntung karena sudah lahir sebagai anggota keluarga Lu. Tapi kau akan menyesal. Kau akan mendapat balasannya.” Mendengar itu Lu Zhenhua terus mencambuk Yiping. “Setelah itu aku akan membencimu. Aku akan ingat semuanya. selamanya” Teriak Yiping kembali. “Kalau begitu ingat baik-baik, aku akan mencambukmu sampai mati.” Ancam Lu Zhenhua.
Ruping ingin menolong Yiping tapi dihalangi kakaknya, Erhao. Menurut Erhao kalau keadaannya sudah seperti ini tak ada yang bisa menolong Yiping.
Lu Zhenhua tetap mencambuk, “Malam ini juga kan akan mati” teriak Lu Zhenhua. Yiping menjerit, memejamkan mata sambil menahan sakit. Di wajah. Lengan. Dan di seluruh tubuhnya.
Tapi sesaat kemudian Lu Zhenhua menghentikan cambukkannya. Ia tersadar. Yiping mulai membuka matanya. Matanya bertemu pandang dengan ayahnya.
“Kenapa kau tak mencambukku sampai mati?” Tanya Yiping pada ayahnya. ”Bukankah kau akan mencambukku sampai mati, kalau kau tak melakukannya kau akan menyesal.” Lu Zhenhua hanya memandang cambuknya, tanpa sengaja ia kemudian menjatuhkannya.

Lalu Lu Zhenhua bicara pada istrinya, “ Xueqin, ambilkan uang 200 yuan.” Xueqin mengatakan mana ada uang sebanyak itu di rumah. Lu Zhenhua marah pada istrinya dan tetap minta diambilkan uang 200 yuan itu. Xueqin menurut.
“Ambil uang ini, bayar sewa rumah dan bawa Ibumu ke dokter. Obati penyakitnya. Belikan juga baju untukmu.” Yiping hanya memandang ayahnya. Hanya ada luka dan air mata.
Lu Zhenhua menyerahkan uang itu pada Yiping. Yiping memandang uang itu. Lalu menerimanya sambil menangis.

“Mulai hari ini aku bukan lagi putri Lu Zhenhua.” Ucap Yiping pada ayahnya. “Kau salah, 200 yuan tak bisa menghilangkan rasa hina dan malu yang kualami hari ini. Tak akan bisa menghilangkan dendam kebencianku. Aku tak akan pernah menginginkan uangmu lagi. Tak akan pernah. Selamanya.” Teriak Yiping sambil membuang uang yang diberikan ayahnya.
“Aku benci kalian. Kalian semua hina dimataku. Aku tak akan melupakan semua kejadian ini. Aku akan balas dendam pada kalian. Aku akan datang sambil tertawa, dan kalian akan menangis.”Yiping berlari meninggalkan semuanya. Ia berlari keluar rumah. Lu Zhenhua kaget mendengar ucapan putrinya itu.

Yiping pergi meninggalkan rumah keluarga Lu dalam keadaan tubuh penuh luka dan hujan deras yang terus mengguyur. Ia berjalan tanpa melihat arah.
“Hati-hati!” Tiba-tiba ada seorang pengendara sepeda yang berteriak. Yiping tertabrak sepeda.
Keduanya pun terjatuh. Pengendara sepeda itu laki-laki.
Dia He Shuhuan.
Shuhuan melihat luka-luka Yiping dan berniat membawa Yiping ke rumah sakit. Tapi Yiping menolak karena luka itu bukan disebabkan karena tertabrak sepeda. Shuhuan tak percaya.
Shuhuan terus bertanya, “Kau dipukuli orang? Dirampok? Kau bertemu orang jahat? Kenapa begini?” Yiping menjawab dengan memelas, “Ya aku dirampok, sampai harga diriku juga.” Shuhuan menyarankan untuk melaporkannya pada polisi. Tapi  menurut Yiping kantor polisi mana yang akan menangani masalahnya. Yiping tidak mau.
Shuhuan mengambil sepedanya dan berusaha menolong Yiping. Ia ingin membawa Yiping ke rumah sakit untuk mengobati lukanya, “Keadaanmu menyedihkan, aku tak bisa lepas tangan begitu saja.”
“Benar keadaanku sangat menyedihkan. Aku tak bisa pulang. Ibu tak boleh melihatku seperti ini.” Yiping melihat dirinya kemudian beralih memandang Shuhuan dan bertanya, “Kau tak perlu membawaku ke rumah sakit, tapi apa kau ada tempat dimana aku bisa beristirahat sebentar?” “Naiklah, kau boleh ke rumahku.” Kata shuhuan sambil membawa sepedanya. Yiping kaget mendengarnya. Tapi Shuhuan memastikan kalau dirinya bukan orang jahat “Namaku He Shuhuan, aku wartawan koran Shen Bao, aku menyewa apartemen didekat sini.” Awalnya Yiping menolak karena merasa belum mengenal, tapi Shuhuan berusaha meyakinkan Yiping dan Yiping pun menurut. Kemudian Shuhuan melapaskan jaket dan topinya. Memakaikannya pada Yiping. “Meskipun kau sudah basah sebaiknya jangan kebasahan lagi.” Dan Yiping pun naik sepeda yang dikendarai Shuhuan.  (Naik sepeda seperti ini rasanya romantis yahhh hehehe,,, yang mbonceng duduk didepan si pengemudi. Serasa dipeluk. Hahaha... :p)

Di apartemen He Shuhuan,
Shuhuan menjelaskan pada Yiping bahwa di apartemen ia tinggal bersama seorang temannya yang bernama Du Fei. Tapi saat itu Du Fei sedang tidak berada di rumah. Meraka berdua pun masuk ke dalam apartemen Shuhuan. Shuhuan mempersilahkan Yiping masuk.
Shuhuan menjelaskan kalau dirinya berasal dari Nanjing sedangkan Du Fei berasal dari Anhui. Melihat apartemennya berantakan Shuhuan merasa malu. Yiping menabrak karung tinju yang dipasang disana. Shuhuan menjelaskan kalau itu ia gunakan untuk latihan tinju. Shuhuan meminta Yiping agar melepas jaketnya yang basah. Tapi Yiping malah meminta air. Yiping ingin mencuci mukanya.
Shuhuan lalu mengambilkan air hangat dan menaruhnya dalam baskom, Shuhuan juga menyiapkan handuk. Melihat kamarnya berantakan Shuhuan segera membereskannya, baju-baju yang berserakan ia ambil dan menaruhnya di bawah kasur (hahahaha...)
Lalu Shuhuan mengambilkan pakaian yang kering untuk mengganti pakaian Yiping yang basah. Ia kemudian meninggalkan Yiping sendirian dikamarnya untuk mencuci muka dan mengganti baju. Yiping memandang baju yang disiapkan Shuhuan. Ia mengambil handuk dan mencelupkannya pada air hangat yang sudah disiapkan Shuhuan.
Yiping keluar dari kamar Shuhuan dengan memakai baju yang disiapkan Shuhuan tanpa mengganti pakaiannya. Diruang tamu Shuhuan tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Kenapa baju basahnya tidak dilepas?” tanya Shuhuan. Yiping hanya diam. Shuhuan menghampiri Yiping dan memperlihatkan selembar kertas. “Ini namaku.” Kata Shuhuan, “He Shuhuan.” Yiping membaca tulisan itu. “Benar, lalu siapa namamu?” tanya Shuhuan. Yiping hanya menjawab kalau dirinya tak punya nama. Shuhuan heran apa ayahmu lupa memberimu nama? Yiping hanya diam.
“Bisakah kau memberitahuku masalah apa yang kau alami.” Shuhuan mulai menanyai Yiping. Jiwa wartawannnya mulai muncul, Shuhuan ingin tahu. “apa masih ada luka lain ditubuhmu? Parah atau tidak?” Yiping tak menjawab.
Yiping hanya bertanya, apa Shuhuan punya pengering rambut. Shuhuan kaget. Ia mengatakan punya. Lalu Shuhuan mengambil pengering rambut yang sudah usang. Shuhuam memasangnya pada listrik.
Yiping mengambil pengering rambut itu dan segera menggunakannya, tapi tiba-tiba ia kesetrum.. “Ahh,,,” “hati-hati, ini jarang dipakai, sudah rusak. Kami tak biasa memakai ini. Setelah mencuci rambut biasanya kami hanya mengeringkannya dengan handuk.” Jawab Shuhuan.

Yiping duduk di kursi, Shuhuan mengikutinya, dan terus mananyakan ini itu pada Yiping, “Ceritakan padaku, perampok itu menggunakan senjata apa? Ranting pohon? Tambang? Ikat pinggang? Kenapa lukamu bergaris-garis seperti itu?” Shuhuan terus bertanya, “Apa nama margamu? Siapa namamu? Dimana rumahmu?”
Dengan ketus Yiping balik bertanya, “Kau mau apa? memeriksa kondisi rumah orang?”
“aku tak ada niat buruk padamu. Kau tak perlu segalak itu. Aku tidak merampokmu.” Jawab Shuhuan. Yiping minta maaf dan berkata kalau malam ini ia sedang sial, tak seperti biasanya. Shuhuan memaklumi dan menjelaskan kalau semua orang pasti akan bicara begitu kalau sedang mengalami musibah.
Shuhuan lalu melanjutkan, “Tapi aneh, rumah keluarga Lu selalu terang. Banyak anggota keluarga Lu yang keluar masuk. Kejadian itu berada di depan rumah mereka. Kenapa tak menarik perhatian mereka?” Wajah Yiping berubah ketika Shuhuan menyebut nama keluarga Lu. “Keluarga Lu?” tanya Yiping. Shuhuan menjelaskan bahwa tempat ia bertemu dengan Yiping tadi kebetulan dekat dengan rumah Lu Zhenhua. “Lu Zhenhua itu dulu orang yang terkenal. Tadinya aku akan membawamu ke sana, tapi disana banyak orang kau pasti tidak mau.”
Sambil emosi Yiping berdiri, “Ternyata kau mengenal Lu Zhenhua.” Shuhuan meralat bahwa ia tak begitu kenal dengan yang namanya Lu Zhenhua tapi ia mengenal putra Lu Zhenhua, Lu Erhao. Mereka teman sekantor. Yiping marah. “Kenapa? apa kau kenal juga dengan Lu zhenhua?” Tanya Shuhuan. “Aku? Kenal dengan Lu Zhuenhua? Seharusnya sudah kutebak dari tadi kalau kau ini teman keluarga Lu. Kau bukan kebetulan lewat disana tapi sengaja datang kesana.” Shuhuan sekali lagi bertanya, “Apa kau juga teman keluarga Lu?” Yiping menjawab dengan marah, “Aku bukan teman keluarga Lu. Aku tak akan pernah menjadi teman mereka.” Shuhuan kaget.

Yiping melepas baju Shuhuan yang dipakainya sambil barkata, “Aku tak kenal Lu Zhenhua, juga tak kenal siapapun dirumah itu. Aku juga tidak kenal kau” Yiping berniat pergi tapi shuhuan mencegah karena diluar masih hujan. “Jangan pergi, jelaskan dulu” cegah Shuhuan.  “Aku tak ingin bicara denganmu. Aku  juga tak perlu batuanmu. Aku nasehati kau, jangan suka ikut campur urusan orang lain.”  
Tepat pada sat itu Du Fei pulang, ia mendengar keributan di dalam rumah. “Shuhuan mengajak wanita ke rumah? Kenapa bertengkar?” Du Fei mendengarkan, ia menempelkan telinganya ke pintu.
Tiba-tiba Yiping membuka pintu, Yiping berniat pergi dari sana. Dan Brukk... Du Fei pun terjatuh tengkurap.
“Kamera baruku! Kalau sampai rusak lagi! Lebih baik aku terjun dari loteng.“ Du Fei mencemaskan kameranya, “Shuhuan kau berbuat ulah apa lagi?” tanya Du fei pada Shuhuan.  Shuhuan meminta Du Fei untuk segera bangun. Du  Fei sadar dan segera bangun. Ia berbalik badan, melihat Yiping dan memperkenalkan diri, “Namaku Du Fei. Du dari Du Fu dan Fei dari kata Fei Lai Fei Qu.”
Tapi Yiping tak menghiraukannya, ia pergi meninggalkan Du Fei yang sudah siap berjabat tangan dengan Yiping.

“Nona, tunggu!” Teriak Shuhuan. Tapi Yiping tak menggubrisnya. Shuhuan ingin mangejar tapi dihalangi Du Fei. “Shuhuan apa yang terjadi? Kau belum menjelaskan dimana bertemu wanita secantik itu? Apa yang kau lakukan padanya?” Du Fei mulai mengintrogasi Shuhuan.
“Aku tak melakukan apapun padanya. Kau yang membuatnya pergi. Semua gara-gara kau, kenapa menghalangiku?” Du Fei tak percaya, “Kalau kau tak melakukan apa-apa, kenapa wajahnya baret-baret penuh luka. Cepat ceritakan padaku” kata Du Fei.

Shuhuan kesal ia berbalik masuk ke dalam rumah. Du Fei mengukutinya. Shuhuan meninju karung pasir yang ada diruang tamu. Shuhuan bertanya pada Du Fei kenapa tak pulang lebih lambat saja, kenapa pulang secepat itu. Sebuah kisah yang bagus jadi hilang. “Berdasarkan insting wartawanku, dia punya kisah yang bagus. Siapa tahu bisa menjadi tulisan khusus atau menjadi laporan eksklusif.”

“Cerita apa? Laporan eksklusif apa?” tanya Du Fei makin bingung. Ia berjalan ke arah meja dan melihat ada pengering rambut “Shuhuan kau baik sekali. Tahu kalau aku kehujanan. Barang seperti ini kau temukan." Du Fei kegirangan.
"Hati-hati nanti kestrum! “teriak Shuhuan.
Tapi terlambat, Zzzzz.... Du Fei menjatuhkan pengering rambut itu. “Rambutku...” Du Fei memegangi rambutnnya yang kesetrum. Rambutnya jadi berdiri (hahahah....) Shuhuan pun tertawa...

Yiping sampai dirumahnya.
“Yiping kau sudah pulang, kau kehujanan tidak?” teriak Wenpei, ibu Yiping dari dalam rumah. Yiping mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya. Wenpei menghampiri putrinya. “Kau kenapa? Mana payungmu?” ibunya bertanya pada Yiping “Aku tak apa-apa. Maaf aku lupa membawa payungnya. Aku basah. Aku mau ke kamar dulu.” Yiping menjawab sambil menghindari Ibunya supaya tidak melihat luka-lukanya. “Kenapa wajahmu, coba kulihat. Kenapa bajumu robek. ” Wenpei menarik putrinya. “Ibu, aku tak apa-apa. Sungguh.” Yiping terus menghindari ibunya. “Yiping kau kenapa? apa yang terjadi? coba kulihat wajahmu.” 
Wenpei menarik Yiping dan dilihatnya wajah putrinya penuh dengan luka baret akibat cambukan. Wenpei kaget.
“Ibu aku tak berguna, aku sudah janji padamu, entah dengan cara apapun, aku akan membawa uang itu. Kini tak sepeserpun uang kubawa. Malah luka-luka seperti ini.”

“Ya Tuhan ! kau disakiti seseorang? Siapa yang melakukannya? Siapa?”

Yiping memeluk ibunya, “Ibu aku benci mereka. Aku benci sekali.”
Ibunya bertanya siapa yang Yiping maksud mereka. “orang yang berada di rumah mewah di jalan Fu xu. Keluarga bermarga Lu itu.” Wenpei melepaskan pelukan putrinya. “tak mungkin, tak mungkin mereka membuatmu seperti ini, aku tak percaya” Yiping mulai menangis, “ memang mereka yang melakukannya.”

“Apa kau dipukuli ? siapa yang memukulimu ?” tanya Wenpei. “Si Macan Kumbang” yiping hanya menjawab nama julukan ayahnya. Wenpei kaget mendengarnaya. “ayahmu? ayahmu yang memukulmu? dengan apa?” Wenpei mulai menangis pula. “Dia gunakan cambuk kuda yang selalu bersamanya puluhan tahun itu.” Wenpei memeluk putrinya sambil menangis.
Yiping melepaskan pelukan ibunya, dia mendudukan ibunya di kursi.

“Ibu tak usah sedih, mungkin seperti ini lebih baik, aku seharusnya sudah lama mandiri. Harus mengakui keadaan disana. Mulai hari ini ,aku tak perlu mengemis kasana lagi.” Yiping menenangkan ibunya yang terus menangis.

Wenpei beranjak dari kursi dan menuju ke dalam. Yiping duduk di tempat ibunya tadi duduk. Sambil menangis dia menyandarkan kepalanya di meja.
Sementara di luar hujan masih sangat deras, Wenpei keluar sembil membawakan handuk untuk Yiping. Dia mengusap kepala putrinya.

“Setiap bulan, saat menyuruhmu pergi  kesana hatiku selalu cemas. Demi Ibu kau dihina seperti ini. Dia (Lu Zhenhua) tak boleh memukulmu. Bagaimanapun juga kau ini putri kandungnya. Dia tak seharusnya memukulmu. Demi hubungan kami sebagai suami istri sampai saat ini.. dia tak seharusnnya memukulmu...” Wenpei terus menangis.
“Ibu sudahlah jangan menangis, Bibi Xue justru ingin melihat kita menangis atau tak bisa bertahan hidup. Kita tak boleh membiarkan harapannya itu menjadi kenyataan.” Yiping mengusap air mata ibunya.

Wenpei beranjak hendak mencari obat gosok untuk mengobati luka yiping. Yiping mengikuti ibunya, Yiping tahu kalau dirumah memang tak ada obat apapun kecuali obat merah. Wajahnya tak mungkin dipenuhi dengan obat merah.
“Aku masih ingin bertemu dengan orang-orang.” Wenpei bertanya Yiping mau bertemu siapa? Yiping menjelaskan ia ingin mencari pekerjaan dan harus bergantung pada diri sendiri. Yiping mengatakan bahwa ia telah bersumpah tidak akan menerima uang dari ayahnya lagi.

“Ibu kau tak perlu cemas, usiaku sudah 19 tahun. Aku sudah dewasa. Pasti bisa mencari pekerjaan yang baik. Setelah wajahku sembuh aku akan mulai mencari pekerkaan. Setidaknya aku ini lulusan SMU. Aku yakin pasti, aku akan mendapatkan pekerjaan.” “Bukankah kau ingin kuliah?” tanya Ibunya.
Yiping diam sejenak lalu mengatakan bahwa kuliah di perguruan tinggi akan ia lakukan dikehidupan yang akan datang. Wenpei mendengarnya sedih.

Yiping berjalan di jalanan kota Shanghai, ia melihat ke sana kemari sambil membawa secarik kertas. Mungkin semacam kertas lowongan pekerjaan. Ia masuk ke kantor sana ke kantor sini tapi tak ada hasilnya. Semuanya membutuhkan tenaga berpengalaman sementara dirinya belum memiliki pengalaman apa-apa.
Yiping mulai putus asa, ia memandang jalanan kota Shanghai “Bagaimana ini, berhari-hari mencari, belum juga mendapatkan pekerjaan?”

Disebuah gedung hiburan.
Penari dan penyanyi tengah membawakan lagu didepan Bosnya. Ternyata Bosnya itu adalah Tuan Ke-5 Qin.
Penyanyi dan penari itu berlenggak lenggok di atas pangung.
Tuan ke-5 Qin dan asistennya memperhatikan penyanyi itu membawakan lagu yang menurut asistennya itu adalah lagu China dengan sedikit perubahan pada penarinya, penarinya menggunakan tarian popular Perancis. Menurut Tuan ke-5 Qin ternyata tarian asing kalau dipadukan dengan lagu China hasilnya sangat bagus, paling tidak terasa lebih segar.
Yiping memasuki tempat itu. Yiping melihat panggung disana ada penyanyi dan penari. Yiping heran
“Apakah disini perusahaan hiburan  Da Shanghai? kenapa papan didepan tulisannya Klub dansa ?” Yiping bertanya, “Manjaer Cai yang mana orangnya? Aku mau melamar pekerjaan.”
Tiba-tiba anak buah Tuan ke-5 Qin mengahmpiri Yiping, “Kau dari mana? siapa yang mengijinkanmu masuk? Cepat keluar?”

“Aku mencari menajer Cai, kata orang di depan pintu manajer Cai ada disini. Aku datang untuk melamar pekerjaan” jawab Yiping seraya memperlihatkan surat lamarannya.

Kemudian asisten Tuan ke-5 Qin datang dan mengatakan kalau melamar pekerjaan tempatnya di kantor, dibelakang panggung. Asisten Tuan ke-5 Qin menyuruh anak buahnya tadi untuk mengantar Yiping.
“Apa kalian sungguh mencari seorang pegawai ? apa pekerjaannya?” tanya Yiping.

“Kau belum paham? kami mencari penari.” Jawab Asisten Tuan ke-5 Qin.

Yiping hanya tertawa dan menjawab maaf aku salah tempat, kemudian yiping pergi sambil bergumam, “Jadi Nona Lu saja aku tak mau, apalagi jadi penari.”

“Tunggu dulu, apa kau bawa daftar riwayat hidupmu, coba ku lihat” tanya seorang pria ternyata yang bertanya adalah Tuan ke-5 Qin.

Yiping menghampiri Tuan ke-5 Qin dan menyerahkan kertas daftar riwayat hidupnya, “Aku hanya mau mengerjakan pekerjaan kantor saja. “

“Lu Yiping. Lulusan SMU, baru berumur 19 tahun” Tuan ke-5 Qin membaca daftar riwayat hidup Yiping. Yiping mengangguk.
Suara musik berhenti. Tapi  Tuan ke 5 Qin menyuruh penyanyi itu terus menyanyikannya. Penyanyi itu menurut, penari juga dimainta terus menari.

Yiping melihat penyanyi itu menyanyikan lagu. Yiping tersenyum. “Aku bisa menyanyi lebih bagus dari dia” kata Yiping.
Tuan ke-5 Qin kaget mendengarnya, “Apa katamu? "Aku bisa menyanyi lebih bagus daru dia, tapi aku tak bisa menyanyi di tempat seperti ini." kata Yiping sambil menghadap Tuan ke 5 Qin.

“Sombong sekali, aku tak percaya” jawab Tuan ke-5 Qin. “Awal tahun ini, gadis itu juga mengatakan hal yang sama tapi begitu naik ke panggung kakinya gemetaran, kau pikir ini klub hiburan sekolah? aku tak percaya. Coba saja dulu,” tuan ke-5 Qin menyuruh Yiping menyanyi di panggung.
Yiping diam saja, Tuan ke-5 Qin menyahut lagi, “Takut? bicara memang lebih mudah dari pada menyanyi.”

Yiping tersenyum dan ia menitipkan tasnya pada anak buah Tuan ke-5 Qin. Yiping berjalan menujun ke panggung, dan meminta pengiring musik memainkan musik yang dimintanya.

“Ini lagu barat tapi kata-katanya sudah kuubah” Kata Yiping, siap menyanyi.

Yiping menyanyi dengan semangat, para penari dibelakangnya bertepuk tangan seirama. Tuan ke-5 Qin tersenyum mendengar dan melihat nyanyian Yiping.
Anak buah Tuan ke-5 Qin juga bertepuk tangan seirama, mereka menikmati lagu yang dinyanyikan Yiping. Pelayan juga melakukan hal yang sama. Semuanya bertepuk tangan seirama.
Yiping menari, tanpa sengaja ia memainkan sepatunya yang sudah menganga. Tuan ke-5 Qin melihatnya, dan tersenyum.
Yiping mengakhiri nyanyiannya dengan sukses.... Dan membuat tuan ke-5 Qin terus tersenyum...

Bersambung...

Lagu yang dinyanyikan Yiping di depan Tuan ke 5 Qin.



Xiao Yuan Jia


Xiao Yuan Jia, ni gan ma, xiang ge sha gua?
Wo wen hua, wei shen ma, ni bu hui da?
Ni shuo guo, ai zhe wo, shi zhen shi jia?
Suo qing chu, jiang ming bai, bu xu zhuang sha!


Xiao Yuan Jia, ting le hua, ai ya ai ya,
Da da de yan, kan zhe wo, zha ba zha ba!
Qi de wo, diao zhuan tou, bu ru hui jia,
Xiao Yuan Jia, la zhu le wo, zhe cai suo hua!

Han shang tian, han shang di, han shang yuan jia,
Xiang zhe ni, kan zhe ni, xin luan ru ma,
Qian ju hua wan ju hua hou tou da jia,
Shei zhi dao, jian dao le ni, zi hui fa sha!
Xiao Yuan Jia!

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...

Sapaan di Tahun 2018

Assalamu'alaikum kawan, apa kabarnya? Buat teman-teman muslim Selamat Menjalankan Ibadah Puasa.