Wednesday 11 April 2012

Sinopsis The Equator Man Episode 3

[Klik disini untuk membaca Episode 2]
Sun-woo diculik oleh si rentenir. Mereka menginginkan tenaga Sun-woo untuk memberi pelajaran pada Jung-taek. Mereka mengancam kalau Sun-woo menolak, mereka akan melakukan hal yang buruk pada Jang-il.
Episode 3
Sun-woo keluar dari gudang tempat ia disekap sambil membawa senjata. Ia memandang senjata itu sambil mengingat ucapan Jang-il padanya ketika mabuk kemarin, “Sun-woo aku akan berhasil. Saat aku berhasil aku pasti akan membantumu.”
Sun-woo membuang senjata itu jauh-jauh. Ia tak mau menggunakan benda itu. Ia lari sekencang-kencangnya.
Sun-woo mencari Jung-taek di tempat permainan bilyar. Yang bernama Jung-taek langsung berdiri, kemudian terjadilah perkelahian diantara mereka. Sun-woo babak belur dan menancapkan benda tajam ke kaki Jung-taek. Setelah membuat terluka Jung-taek, Sun-woo keluar dari tempat itu dan berlari sejauh mungkin tapi mereka mengejarnya.
Sun-woo menemui jalan buntu. Mereka bertanya siapa yang menyuruh Sun-woo. Sun-woo tak mengatakannya, ia tertangkap, dihajar habis-habisan dan disekap di gudang yang gelap.
Ayah Jang-il bermimpi mengingat kejadian ketika ia akan menggantung ayah Sun-woo di pohon. Dalam mimpinya ayah Sun-woo yang tadinya tak sadarkan diri bangun dan mencekik lehernya.
Ayah Jang-il terbangun dengan nafas terengah-engah. Jang-il ikut terbangun dan mencemaskan ayahnya. Ayah Jang-il berkata kalau ia baik-baik saja. Ia beralasan kalau ia terlalu banyak minum. Setelah Jang-il kembali ke kamar, ia bergumam kalau yang ia lakukan itu demi putranya.
Sun-woo yang sudah babak belur terbangun dari pingsannya. Sun-woo merangkak sekuat tenaga untuk bangun. (ga tega lihat Sun-woo disini wajahnya lebam semua)
Ayah Soo-mi membuat surat ancaman yang akan ditujukan pada ayah Jang-il, tapi beberapa kali ia meremas kertas yang ia tulis karena dirasa kalimatnya kurang pas.
“Untuk ayah Lee Jang-il. Aku melihatmu malam itu, aku ingin kau memberiku 50 juta won”
Soo-mi ke salon untuk menata rambutnya, awalnya ia ingin mengkriting tapi sepertinya ia tak suka dengan hasilnya dan kembali meminta petugas salon untuk meluruskan kembali rambutnya. Soo-mi kesal ia mengambil gunting dan mencukur rambutnya sendiri.
Soo-mi berpapasan dengan Geum-jool. Geum-jool mencari Sun-woo tapi Soo-mi tak melihatnya bukankah semalam Sun-woo minum dengan Jang-il. Geum-jool ingin tahu Soo-mi mau kemana. Soo-mi berkata kalau ia akan ke Seoul untuk merapikan rambutnya.
Soo-mi naik kereta ia mencari tempat duduk dan terkejut kalau tempat duduknya berada di sebelah Jang-il. Keduanya duduk dalam diam tak bicara sepatah katapun hingga Jang-il terlelap.
Soo-mi berdiri dan menatap Jang-il, Jang-il membuka mata dan menatap pemandangan diluar jendela. Kereta pun berhenti, semua penumpang turun.
Soo-mi keluar dari stasiun tapi sial baginya ia kehilangan dompetnya. Jang-il melewatinya dan berlalu begitu saja. Soo-mi terpaksa memanggilnya dan berkata kalau ia kecopetan. Ia ingin Jang-il meminjaminya uang dan berjanji akan mengembalikannya besok. Tapi Jang-il menolak dan beralasan kalau ia tak punya uang. Jang-il tanya dari mana Soo-mi tahu kalau ia pergi ke Seoul, apa dari Sun-woo.
Soo-mi mencemooh apa Jang-il pikir ia pergi ke Seoul hanya untuk melihat Jang-il, “Apa kau pikir kau itu pintar? kau hanya anak kampung yang sedikit pintar dibandingkan yang lain. Kau tak berhak mengabaikanku. Seandainya aku anak orang kaya, kau pasti akan pergi ke sana denganku. Aku merasa kasihan kau terlihat begitu miskin.”
Soo-mi yakin suatu hari nanti Jang-il akan menyesal karena sudah memperlakukannya seperti ini. Jang-il berkata kalau ia akan menyesalinya nanti.
Soo-mi menghubungi ayahnya dan meminta ayahnya datang menjemput di Seoul. Ia mengatakan kalau ia kecopetan dan tak bisa pulang. Ia juga mengingatkan ayahnya agar memakai pakaian seperti orang normal ketika menjemputnya. Soo-mi menunggu ayahnya sambil mengingat apa yang ia katakan pada Jang-il tadi. Sementara itu Han Ji-won kerja memanggul barang.
Istri Presdir Jin (Cha Hwa-yeon) belajar seriosa dengan putrinya. Tapi istri Presdir Jin tak sanggup masuk ke nada tinggi.
Putrinya (Park Yoon-joo) meminta ibunya membiayai dirinya untuk sekolah diluar negeri. Istri Presdir mengira putrinya akan belajar musik tapi Yoon-joo berkata kalau ia akan belajar bisnis, karena musik itu hanya hobinya dan ada sesuatu yang ingin ia lakukan, setelah ia selesai kuliah ia akan membantu Presdir Jin. Ibunya heran kenapa masih memanggil suaminya dengan sebutan Presdir Jin.

“Aku tak bisa memanggilnya ayah. Aku menyuruh ibu untuk berkencan dengannya bukan untuk menikahinya.”
“Tak mungkin aku menikah lagi jika dia hanya seorang duda yang miskin.”
(Wueh ternyata dia ada maunya toh, banyak orang-orang licik nih)

Ayah Soo-mi datang untuk menjemput putrinya, ia heran bagaimana bisa Soo-mi kecopetan. Soo-mi meminta ayahnya cepat membeli tiket untuk pulang.
Di dalam kereta Ayah Soo-mi menawarkan minuman untuk putrinya karena ia melihat putrinya belum makan apapun. Soo-mi menolak ia menyingkirkan minuman yang ditawarkan padanya.
Soo-mi melamun menatap jendela. Ayahnya heran bukankah ia sudah memakai pakaian yang Soo-mi inginkan, seharusnya mereka besenang-senang. Soo-mi mengacuhkan ayahnya dan melamun sambil menyandarkan kepala ke jendela.
Ayahnya tanya apa yang dipikirkan Soo-mi. “Aku merindukan ibu!” ucap Soo-mi tak terasa air matanya pun menetes.
Soo-mi dan ayahnya sampai di rumah. Ayahnya menawarkan apa Soo-mi mau makan, Soo-mi menolak. Ia kesal karena ayahnya cerewet. Soo-mi membaringkan tubuhnya di kursi, tapi pandangannya langsung tertuju ke kertas yang ada di bawah meja. Ia mengambil dan membacanya.

“Untuk ayah Lee Jang-il, aku melihatmu malam itu. Aku mau kau memberiku 50 juta won. Bawa ke dermaga tanggal 15 malam hari, maka aku akan merahasiakannya.”
Ayah soo-mi melihat kalau di kamar putrinya ada lukisan wajah Jang-il dan bertanya siapa dia, apa dia murid yang diterima di Jurusan hukum. “Kenapa kau melukisnya, apa kau menyukainya?”. Soo-mi menatap tajam ayahnya dan berkata kalau ia menyukai Jang-il. Mendengar itu Ayahnya tambah marah Soo-mi tak boleh menyukai Jang-il.
“Kenapa tak boleh? Apa karena ini?” Soo-mi menunjukan surat ancaman yang ditulis ayahnya. Ayah Soo-mi mengambil kertas itu dan merobeknya.

Soo-mi menanyakan kenapa ayahnya menulis surat pada ayah Jang-il dan meminta uang. Soo-mi minta ayahnya menjawab pertanyaannya, jika tidak ia akan melaporkan ke polisi. Tapi ayah Soo-mi tak peduli. Soo-mi akan menelpon polisi tapi ayahnye segera merebut teleponnya.
Soo-mi kembali bertanya maksud surat ancaman itu. Ayah Soo-mi akhirnya mengatakan kalau malam itu ia melihatnya, “Aku melihat seseorang menggantung ayah Sun-woo di pohon. Aku terbangun dan mabuk. Seseorang menggantungnya di atas pohon. Dia masih hidup dia meminta tolong padaku, tapi aku takut karena aku bisa saja ikut terbunuh. Memang saat itu gelap dan aku juga mabuk. Tapi aku yakin kalau itu dia. Ketika ada cahaya, aku melihat bekas luka di tangannya. Aku melihat luka yang sama saat acara ritual tadi."
Ayah Soo-mi menambahkan kalau itu luka yang unik. Tubuh dan gaya rambutnya ia sangat yakin, dia adalah ayah dari anak yang diterima di jurusan hukum.

Soo-mi heran kenapa ayahnya tak segera tak melaporkannya ke polisi. Ayah Soo-mi berkata bagaimana ia bisa melaporkan ke polisi ia sendiri buronan karena kasus jimat palsu, selain itu ia takut dibilang terlibat pembunuhan. Soo-mi menanyakan maksud dari acara ritual kemarin. Ayahnya menjelaskan kalau ia ingin memberi petunjuk pada Sun-woo.

Soo-mi meminta ayahnya merahasiakan ini. “Berjanjilah untuk tetap merahasiakan ini sampai ayah mati. Ayah juga tak boleh membicarakan ini ketika ayah mengigau. Jangan beritahu Sun-woo tentang ini.” Soo-mi bersikeras ayahnya jangan mengatakan ini pada siapapun.
Jang-il dan ayahnya melihat rumah yang akan menjadi tempat tinggal Jang-il di Seoul. Jang-il menilai kalau rumah itu terlalu besar untuknya jika ia tinggal seorang diri. Ayahnya beranggapan ini semua karena Presdir Jin ingin memperlakukan Jang-il dengan baik. Tapi Jang-il merasa kalau ini berlebihan. Ayahnya menolak anggapan Jang-il, ini semua karena ia sudah bekerja keras pada Presdir Jin dan putranya pantas mendapatkan ini.

Jang-il cukup pintar ia bisa menilai semuanya tak ada yang gratis di dunia ini. Maka dari itu ia akan belajar lebih giat lagi untuk mendapatkan beasisiwa sehingga ayahnya tak perlu lagi tunduk pada Presdir Jin.
Jang-il memulai harinya di Universitas dengan mengikuti masa orientasi, ia melihat papan pengumuman. Han Ji-won lewat di belakangnya, Jang-il tak menyadarinya.
Sun-woo masih disekap. Anak buah Jung-taek membangunkannya dengan menyalakan korek api. Tapi Sun-woo diam saja. Anak buah Jung-taek membuang korek itu dan diam-diam tangan Sun-woo bergerak mengambilnya.

Jung-taek dengan kaki terpincang akibat ditusuk oleh Sun-woo berusaha membangunkan Sun-woo dengan tongkat penyangganya. Ia heran kenapa tak ada yang berusaha menyelamatkan Sun-woo, pulangkan saja.
Sun-woo dimasukan kedalam kain yang tertutup rapat dan dibawa ke dalam mobil box. Ketika mobil melaju Sun-woo merobek kain ia menyalakan korek yang ia ambil dan mengetahui kalau ia berada di dalam mobil box. Ia berusaha membuka pintu belakangnya.

“Buka pintunya!” Sun-woo berteriak sambil mendorong dan menggedor pintu. Ia merasa kalau pintu itu tak terkunci rapat. Jang-il di tempat barunya dan berbaring sambil bersiul, sementara Sun-woo sekuat tenaga mendorong agar pintu mobil terbuka.
Pintu mobil akhirnya terbuka, ia segera lari sekencang-kencangnya menghindari kejaran mereka. Tapi Sun-woo terpojok dari arah sebaliknya, Jung-taek dan anak buahnya mencegat dirinya.
Tak ada jalan lain baginya untuk kabur, ia naik ke sisi jembatan dan melompat begitu kereta melintas. Sun-woo berda di atas kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Masa Orientasi diisi tentang materi Fotografi memory (kenangan yang berkesan gitu) mata Jang-il mencari-cari seseorang. Dosen memanggil satu persatu mahasiswa untuk maju agar bisa menyampaikan kenangan yang berkesan itu, “Han Ji-won.” Tak ada yang menyahut.

Ji-won baru datang. Semua mata melihat ke arah Ji-won begitu juga dengan Jang-il. Ji-won langsung berdiri di depan kelas, Jang-il tersenyum memandangnya.
Ji-won bingung tak tahu apa yang harus ia sampaikan. Bu Dosen mengatakan Ji-won harus menyampaikan hal yang berhubungan dengan fotografi memori.
“Waktu itu hari yang dingin di musim salju. Keluargaku dan teman bisnis ayahku makan malam bersama. Bisnis keluargaku tidak begitu baik saat itu. Dan teman ayahku menghina bisnis keluargaku. Jadi aku pergi keluar dan menghancurkan kaca mobilnya. Aku terus memecahkan kaca, tapi ternyata ada anak laki-laki yang berada di dalam mobil dan kami pun bertatapan. Aku sangat terkejut dan aku pun terdiam. Lalu dia pun keluar dari mobil. Dia seumuran denganku dan mengambil batu dari tanganku.”

“Apa dia memukul kepalamu dengan batu itu?” tanya Bu Dosen.
“Itu juga yang kupikirkan. Tapi dia menolongku merusak kacanya. Pandangan matanya terus terekam dalam kepalaku. Dia adalah tipeku....” hahaha semua mahasiswa tertawa tapi tidak dengan Jang-il.
Kesempatan berikutnya adalah laki-laki, Jang-il langsung mengacungkan diri bersedia untuk maju. Jang-il mulai bercerita, “Itu terjadi pada musim semi tahun lalu. Teman sekelasku mengajakku pergi ke acara bisnis ayahnya. Sepertinya acara keluarga di perusahaan, aku melihat seorang gadis bermain gitar sambil bernyanyi. Lampu sorot menyinarinya dan dia bermain gitar di panggung. Dia menyanyikan lagu yang aku suka. Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi.” Jang-il tersenyum menatap Ji-won.
Jang-il memberanikan diri bertanya pada Ji-won judul lagu yang dinyanyikan Ji-won ketika di panggung. “Moon river, sepertinya memang aku yang kau maksud.” jawab Ji-won.

Jang-il merasa kalau ini keajaiban bisa bertemu lagi dengan Ji-won, di kampus yang sama. Jang-il bertanya apa Ji-won ada waktu ia ingin mentraktir makan tapi Ji-won berkata kalau ia kerja paruh waktu. Jang-il akan menunggu sampai Ji-won selesai bekerja. Ji-won berkata kalau ia memiliki 3 pekerjaan dan selesainya jan 12 malam, ia minta maaf tak bisa memenuhi ajakan Jang-il. Jang-il heran kenapa Ji-won melakukan 3 pekerjaan. Ji-woon berkata itu karena ia membutuhkan uang.
Sun-woo bersembunyi di tempat biasa ayahnye bekerja dalam keadaan tubuh penuh luka, “Ayah maafkan aku, aku mau menolong Jang-il, tolong mengerti aku.”
Jang-il makan di kantin, ia melihat Ji-won juga makan disana. Jang-il memberikan minuman kaleng dan buah untuk Ji-won. Keduanya tersenyum.
Presdir Jin mendapat laporan dari Sekertaris Cha tentang ayah Sun-woo, “10 tahun lalu dia mengadopsi anak laki-laki.” Mendengar itu presdir ingat perkataan ayah Sun-woo kalau ayah Sun-woo membesarkan anak laki-laki.
Presdir Jin memanggil ayah Jang-il untuk menemuinya. Presdir menanyakan keadaan Jang-il di Seoul. Ayah Jang-il mengatakan kalau putranya tengah mengikuti masa orientasi.

Presdir Jin Juga menanyakan keadaan Sun-woo. Ayah Jang-il menjawab kalau Sun-woo baik-baik saja. Presdir kembali bertanya bagaimana kuliahnya. Ayah Jang-il menjawab kalau Sun-woo tak kuliah. Yang ia dengar Sun-woo hanya bermain-main saja dan meminta Presdir jangan terlalu mengkhawatirkannya.
Apa yang dilakukan Sun-woo, ternyata Sun-woo mengasah ketrampilannya membuat barang-barang furniture dari kayu di ruang kerja ayahnya.
Tiba-tiba Geum-jool datang dengan tangan penuh luka. Sun-woo langsung mengobatinya.
Geum-jool mengatakan kalau pria itu (si rentenir) berada dipihak Jung-taek, “Dia menyuruhmu tanpa tujuan apapun. Kau tak perlu lagi sembunyi disini mereka tak tertarik lagi denganmu. Sekarang kau bisa pulang dan istirahat.”
(jadi perkelahian kemarin ga ada gunanya donk, ga mengancam nyawa Jang-il malah mengancam nyawa Sun-woo karena terluka parah dan hampir mati--- huft gondok saya)
Geum-jool memberitahu Sun-woo kalau tadi di kantor polisi ia mendengar ada seorang detektif yang membicarakan kematian ayah Sun-woo. Mereka merasa curiga tentang bekas tali di pohon. Mereka bilang bekas itu berbeda dengan bekas tali biasanya. Beberapa detektif bilang itu karena anaknya menariknya ke atas. Sementara yang lainnya tak merasa begitu. Tapi karena suatu alasan mereka malah pergi. Dan juga ada supir taksi yang mengantar ayah Sun-woo, dia bilang kalau ayahmu turun di dekat rumah Presdir Jin yang sedang diperbaiki. Dia merasa hal itu aneh karena disana tak ada apa-apa.

Sun-woo penasaran kapan itu apa Geum-jool yakin. Geum-jool mengatakan kalau waktunya sehari sebelum ayah Sun-woo ditemukan. Sun-woo bergumam kalau itu tempat ayah Jang-il bekerja.
Sun-woo langsung menemui ayah Jang-il, ia mengatakan kalau ayahnya datang ke rumah Presdir Jin sebelum ditemukan di hutan. Supir taksi yang mengatakan itu, ia penasaran kenapa ayahnya pergi ke rumah kosong Presdir Jin yang tengah diperbaki. “Apa kau melihat ayahku hari itu?” (Jika ada yang membaca tulisan ini selain di www.anishuchie.blogspot.com maka tulisan ini sudah dicopas tanpa sepengetahuan penulis)

Ayah Jang-il berbohong ia mengatakan kalau ia tak melihat siapapun kecuali para pekerja. Sun-woo ingin bertemu dengan para pekerja itu ia ingin menanyakan pada mereka mungkin saja diantara mereka ada yang melihat ayahnya datang. Ayah Jang-il mengatakan kalau mereka sudah pergi sejak pekerjaan selesai. Mereka juga tidak hanya bekerja satu tempat saja, mereka berpindah-pindah. Sun-woo kecewa tak mendapatkan informasi apapun.
Sun-woo berjalan keluar dari rumah Presdir Jin sambil mengamati setiap bagian rumah. Disalah satu sudut rumah ia melihat sebuah foto. Foto Presdir Jin bersama relasi bisnisnya. Sun-woo berfikir apa ayahnya datang ke sini untuk bertemu dengan Presdir Jin.
Sun-woo sampai di rumah, ia mengambil foto ayahnya bersama dua orang lain, Presdir Jin dan seorang lagi yang ia belum ketahui siapa (tapi kita sudah tahu yang satu itu siapa, Moon Tae Joo)
Sun-woo seperti memikirkan sesuatu tapi suara telepon membuyarkan apa yang ia pikirkan. Si penelpon mencari Kyung-pil. Ternyata yang menlepon adalah Moon Tae-joo.
Sun-woo tanya siapa ini. Moon Tae Joo balik bertanya siapa Sun-woo. Sun-woo mengatakan kalau ia anak Kim Kyung-pil. Moon Tae-joo terkejut mendengarnya dan mengatakan kalau ia teman Kim Kyung-pil. Ia ingin bicara dengan ayah Sun-woo. Dengan hati yang sedih Sun-woo mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal. Moon Tae-joo terkejut mendengarnya.
Masa orientasi Jang-il selesai. Ia pulang ke kampungnya di Busan, yang ia temui pertama kali adalah Sun-woo. Sun-woo sibuk membuat kursi. Ia senang melihat sahabatnya datang dan mengatakan kalau Jang-il terlihat sangat baik.

Jang-il tanya apa yang sedang Sun-woo lakukan. Sun-woo mengatakan kalau ini adalah hal yang sering ia dan ayahnya lakukan dan minggu depan ia akan bekerja di toko furniture.
Jang-il melarang Sun-woo bekerja, ia mengajak Sun-woo kuliah di Seoul bersamanya. Tapi Sun-woo menolak. Jang-il berkata serius ia tak bercanda mengajak Sun-woo kuliah, tapi Sun-woo tetap menolak ia berterima kasih Jang-il sudah memperhatikannya.

Sun-woo menanyakan apa barang yang ia kirim 2 hari yang lalu ke Seoul sudah Jang-il terima. Jang-il berkata kalau ia belum menerima dan bertanya apa yang Sun-woo kirim. Sun-woo menjawab bukan apa-apa hanya mainan yang ia buat untuk Jang-il.
Malamnya Sun-woo dan Jang-il minum bersama. Jang-il mengatakan tentang teman-temannya di kampus. Mereka memang kaya tapi ia memiliki sesuatu yang tak mereka miliki, “Yaitu Seorang yang mau membayar kuliah dan biaya hidup untukku. Aku menyadari aku bisa memiliki teman sejati dalam hidupku, bukan hanya saingan.”

Sun-woo tanya apa disana ada seorang gadis yang disukai Jang-il. Jang-il bilang ada dia dari fakultas Bahasa Inggris. Sun-woo ingin tahu apa dia cantik. Jang-il tak menjawab ia hanya memberikan jempolnya. Wehehehe... Sun-woo jadi penasaran siapa gadis yang disukai sahabatnya ini.

Sun-woo mengatakan pada Jang-il kalau ia berniat mengajukan surat petisi (permohonan) ke polisi atas kasus kematian ayahnya. Ia mengatakan kalau dulu ia menyerah karena tak ada bukti dan sekarang ia sudah memiliki bukti itu. Ia ingin polisi memeriksa kembali kematian ayahnya.
Jang-il mengusulkan akan lebih baik kalau Sun-woo memiliki seseorang yang bisa mendukung dari belakang dalam kasus ini. Jang-il mengusulkan Sun-woo meminta bantuan pada Presdir Jin.
Sun-woo ragu, ia menunjukan foto ayahnya bersama dengan Presdir Jin dan Moon Tae-joo. Jang-il tanya apa ayah Sun-woo mengenal Presdir Jin. Sun-wo tak tahu. Jang-il menanyakan siapa pria yang satunya ini (Moon Tae-joo) Sun-woo juga tak tahu.
Dan cling ini nih dandanan yang paling saya suka... Sun-woo dan Jang-il memakai setelan jas lengkap, makin gagah deh hehe. Tampak dewasa...

Jang-il memuji kalau Sun-woo cocok mengenakan itu dan ia akan membelikan Sun-woo setelan jas ini. Menurutnya Sun-woo harus terlihat lebih rapi kalau ingin bertemu dengan Presdri Jin dan mengajukan petisi.
Keduanya menemui Presdri Jin. Jang-il mengenalkan Sun-woo pada Presdir Jin dan ada hal penting yang ingin Sun-woo tanyakan pada Presdir Jin.

Sun-woo menunjukan foto ayahnya bersama Presdir Jin. Presdir sedikit terkejut melihat foto itu. Ia berpura-pura mengingat kapan foto itu diambil. Sun-woo mengatakan yang di sebelah kanan itu ayahnya.

Jang-il menjelaskan kalau ayah Sun-woo meninggal dan polisi menganggap itu kasus bunuh diri. Tapi ada sesuatu yang mencurigakan tentang kematian itu. Sun-woo berencana untuk memasukan petisi agar kematian ayahnya diperiksa kembali.
Sun-woo menambahkan kalau ada supir taksi yang mengantar ayahnya ke rumah Presdir Jin sehari sebelum ayahnya ditemukan meninggal. Ia menebak apa ayahnya bertemu dengan Presdir Jin sebelum meninggal.
Presdri Jin menanyakan kapan itu, Sun-woo menjawab kalau itu tanggal 12 april. Presdir beralasan kalau saat itu ia sedang tak di rumah, ia dalam perjalanan bisnis. Sun-woo paham dan tak bertanya lagi.

Presdir terus memperhatikan Sun-woo, ia teringat ucapan ayah Sun-woo sebelum meninggal. Kalau Sun-woo itu anak dari Presdir Jin dan Eun Hye. Presdir Jin membatin kalau tunangannya sudah berselingkuh dan meninggalkannya juga memiliki anak dengan Moon Tae-joo. Presdir menatap Sun-woo seolah ia juga menatap Moon Tae-joo, ia melihat ada kemiripan diantara keduanya.

Sun-woo menanyakan pria di sebelah ayahnya dan Presdir Jin apa itu juga pegawai Presdir Jin dan apa Presdir Jin tahu namanya. Presdir Jin berbohong kalau ia tak ingat siapa nama orang yang di foto itu.
Sepertinya percuma mereka menanyakan itu pada Presdir Jin. Jang-il mengajak Sun-woo segera ke kantor polisi untuk memasukan laporan petisi. Keduanya pamit.

Presdir Jin berpesan pada Jang-il kalau sekarang Jang-il bukan anak kampung lagi, “Kau akan menjadi orang besar. Artinya jika kau melakukan kesalahan kau harus bertanggung jawab atas semuanya. Jadi jaga dirimu dan berhati-hatilah atas apa yang kau lakukan.”

Jang-il mengajak Sun-woo besok ke kantor polisi bersama karena akan lebih baik kalau pergi berdua daripada seorang diri. Sun-woo harus memakai jas ini besok. Sun-woo mengerti. Jang-il akan kembali, ia harus menemui ayahnya yang masih bekerja disana.

Jang-il akan menemui ayahnya di tempat kerja tapi ruangan itu kosong. Ia menulis pesan untuk ayahnya. “Ayah, ayo pergi makan malam bersama. Aku akan kembali saat kau sudah selesai.”
Jang-il jalan melewati lorong tanpa sengaja ia mendengar Presdir Jin memarahi ayahnya, “Apa kau sudah gila? Aku bisa membaca pikirannya. Sekarang dia merasa sudah terlalu pintar. Dia ingin masuk berita karena menyelesaikan kasus kematian ayah temannya. Disini setiap orang memperhatikan dia karena dia pintar tapi di Seoul tidak seperti itu. Dia berusaha keras untuk mendapatkan perhatian dan tidak tahu apa yang dihadapi ayahnya.”
Ayah Jang-il memohon ia akan meyakinkan putranya.

Presdir Jin jadi penasaran bagaimana sikap Jang-il nanti kalau tahu alasan Jang-il bisa kuliah di Seoul adalah karena kematian ayah temannya. Ayah Jang-il berlutut memohon anaknya tak boleh tahu tentang masalah ini.
Jang-il melihat melalui celah pintu ayahnya berlutut dan memohon.
Presdir Jin : “Karena dia kuliah di jurusan hukum mungkin dia akan tahu. Apa yang akan terjadi ketika seseorang melakukan pembunuhan. Mayat yang ditemukan hari itu adalah perbuatan ayahnya. Apa yang dia pikirkan saat aku memberinya beasiswa.”
Mata Jang-il membesar mendengar semua yang di dengarnya. Ia terkejut bukan main. Ia mengingat ketika malam itu ayahnya panik dan juga acara ritual yang dilakukan ayah Soo-mi. Ketika itu Ayahnya berlalu begitu saja meninggalkan upacara ritual.
Jang-il menyendiri dan menangis mengetahui kenyataan bahwa ayahnya ikut terlibat dalam pembunuhan ayah sahabatnya. Jang-il menjerit sekeras-kerasnya menumpahkan semua emosinya. Ia berlari kencang sambil menangis dan terus menerus memanggil nama Sun-woo.
Jang-il membangunkan Sun-woo yang sudah terlelap. Sun-woo heran melihat Jang-il malam-malam ke rumahnya apa Jang-il mabuk. Jang-il mengatakan kalau ia akan berangkat ke Seoul besok dan Sun-woo bisa ikut dengannya ke Seoul untuk kuliah dan ia akan membantu Sun-woo. Jang-il meminta Sun-woo melupakan kematian ayah Sun-woo.

Sun-woo tanya kenapa Jang-il berubah pikiran. Jang-il mengatakan kalau ia mendapat sebuah pencerahan ia tak mau membuang waktu dengan melakukan hal ini. Sun-woo mengira Jang-il mabuk, ia menyuruh sahabatnya untuk tidur.

Jang-il mengatakan kalau Sun-woo harus menikmati hidup, makan-makanan yang enak dan jangan terobsesi dengan kematian ayah Sun-woo. Ia minta Sun-woo lebih berfikir jernih dan menatap masa depan.
Sun-woo kesal mendengar omongan Jang-il, ia akan tetap memasukan surat permohonan ke kantor polisi. Ia tahu kalau dirinya bodoh ia tak peduli apapun yang terjadi ia tetap akan mencari tahu penyebab kematian ayahnya. Kalau Jang-il tak bisa datang ia akan berangkat sendiri ke kantor polisi.
Jang-il pulang dan ayahnya tengah minum-minum, “Apa kau bersama Sun-woo sampai selarut ini?” Tanya ayahnya.
“Apa aku harus memberi tahu ayah dengan siapa aku pergi?” Jang-il ketus.
Ayah Jang-il sudah mendengar kalau Sun-woo membuat surat permohonan untuk penyelidikan kembali kematian ayahnya, “Kenapa kau mencampuri urusan orang lain? kau baru saja masuk universitas hukum. Ada apa denganmu?”
“Jangan takut. Dia tak akan memasukkan petisi itu.” kata Jang-il sambil berlalu masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Ayahnya cemas dan menggedor pintu kamar Jang-il dan bertanya apa yang terjadi.
Kamar Jang-il gelap, “Kenapa ayah melakukan itu? Dia tak akan memasukan petisinya, jadi jangan takut. Tidurlah!”
Esok harinya Sun-woo siap-siap dengan pakaian rapi akan berangkat ke kantor polisi. Tak lupa ia membawa surat petisinya.
Sebelum ke kantor polisi ia menyempatkan diri pergi ke tempat dimana ia menaburkan abu ayahnya. “Ayah aku pergi sekarang. Ayah akan menolongku kan?”

Jang-il berdiri di belakang Sun-woo. Sun-woo bertanya apa Jang-il sudah sadar sekarang, “Semalam apa yang terjadi padamu?”
Jang-il tetap ingin Sun-woo berubah pikiran. Sun-woo ingin tahu apa alasan Jang-il memintanya berubah pikiran. Jang-il memohon agar Sun-woo melupakan kematian ayah Sun-woo dan ikut bersamanya ke Seoul.

Sun-woo curiga Jang-il mengetahui sesuatu. Jang-il diam saja. Sun-woo mengerti Jang-il pasti tahu sesuatu, itu sebabnya Jang-il tiba-tiba berubah seperti ini. Jang-il berkata kalau ia ingin menjadi sahabat Sun-woo selamanya. “Ketika kau membuang waktumu untuk ini, aku akan menjalani hidup yang berbeda di Seoul.”
Sun-woo : “Walaupun ini tak terjadi dan ayah tidak dibunuh, sikapku akan tetap sama. Yang terpenting bagiku adalah orang yang kucintai. Kehilangan mereka adalah luka bagiku.”
Sun-woo tetap pergi menyampaikan surat petisinya.
Jang-il memohon dan berlutut, “Aku.... yang membunuh ayahmu. Anggap saja ayahmu terbunuh karena kesalahanku. Jadi tolong maafkan aku. Jangan pergi ke kantor polisi!”
Sun-woo menilai Jang-il sudah gila. Jang-il mengakui itu, ia memang gila jadi ia minta Sun-woo mendengarkan kata-katanya, “Jika kau pergi sekarang aku tak mau melihatmu lagi. Kumohon, kau jangan bodoh.”
Sun-woo : “Kalau kau membunuh ayahku tidak sengaja aku akan memaafkanmu. Tapi aku akan mencari tahu apa yang terjadi.”

Jang-il terus memohon agar Sun-woo mengentikan ini sampai disini saja. Sun-woo tak peduli, ia tetap pergi ke kantor polisi untuk memasukan surat petisinya. Jang-il tak tahu lagi harus bagaimana, ia tak mau ayahnya masuk penjarai. Ia harus menghentikan Sun-woo.
Jang-il melihat di dekatnya ada sepotong kayu, ia mengambilnya. Jang-il berjalan dengan langkah gontai perlahan di belakang Sun-woo, langkahnya makin lama makin cepat dan secepat kilat Jang-il memukulkan kayu itu ke kepala Sun-woo bagian belakang.
Sun-woo sempoyongan, melihat apa yang dilakukannya masih membuat Sun-woo sadar Jang-il memukulnya sekali lagi hingga membuat Sun-woo jatuh tersungkur. Air mata Jang-il menetes deras. Sun-woo berusaha melihat Jang-il, tapi lama-kelamaan ia tak sadarkan diri.
Jang-il menyeret tubuh Sun-woo yang sudah tak sadarkan diri ke tepi tebing dengan kedua tangannya. Ia berniat meninggalkan tubuh Sun-woo disana tapi ia takut kalau Sun-woo akan kembali sadar air matanya terus menetes.
Jang-il kembali menyeret tubuh Sun-woo sampai ke tepi tebing dan menjatuhkan tubuh Sun-woo ke laut.
Darah yang keluar dari kepala Sun-woo menyatu dengan air laut, tubuhnya makin tenggelam. Jang-il menjerit sekeras-kerasnya.

Equator Man Episode 4 >

12 comments:

  1. MAKASIH MBAK ANIS!!! MAKASIH MAKASIH! >__<
    *ngerebusair
    Pertama-tama, dira mau bilang sun eh hyun woo oppa… siwan oppa..cling cling cling *habis dirapiin ma mbak anis mungkin? :)
    tapi dira ngerasa mereka lebih cocok terlibat perkelahian gitu-timbang rebutan cewek. dira tega? biarin! ^^”
    btw, btw, itu geum jool yang di GOS bukan? Dan bentar, soo mi bilang mau ke seoul untuk merapikan rambut? Sebelum ato sesudah ke salon???
    OH NO?!!! apa soo mi bermaksud menutupi kesalahan ayah jang il mbak? T.T dan Oppa kekurung berapa hari? JAHAT! gak habis pikir ada yang lebih tega, bener2 orang gak da kerjaan pake nyuruh2 berantem segala *ngobatingondoknyambakanis
    Kenapa mereka imut gitu sih mbak? Minta bantuan ke orang yang seharusnya malah dihukum -.- (12 april kan besok wkwkwkwk)
    SPEECHLESS BACA ENDINGNYA, episode ini:episode t-e-g-a dan dira siap2 ditinggal oppa hyun woo dan si wan T_T
    dira ngarang mode on:sun woo membuka mata, dan dira melihat UHM TAE WONG! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha iya makin cling liatnya kalau pake jas n dasi gitu tapi sayangnya bukan saya yg make in dasi hihi...

      iya setelah aku liat itu Geum-jool yang main di God of Study...

      di salon soo-mi ngomel2 karena dandanannya ga sesuai keinginan dia, trus dia ketemu sama geum-jool n bilang mau ke seoul buat ngerapihin rambut, bukannya ngerapihin rambut malah kecopetan... hehe

      ya soo-mi kan ada hati sama jang-il hehe jadi mungkin dia ga mau nyakitin jang-il (padahal dia sendiri sakit hati huhu)

      oh iya ya 12 April besok haha....

      Delete
    2. aih, makasih mbak anis ^^
      berarti mereka ya reunian lagi ya? senangnya...
      dira pikir itu dia udah motong rambutnya sendiri di salon hehe,jauh gak mbak ngerapiiin rambut ke seoul? :P
      baru nyadar dira mereka sama:jang il mau nyembunyiin kasus ayahnya, begitupun soo mi dasar, >_<

      Delete
  2. anak sama ayah sama saja...........pembunuh...............

    wuucch liat face n model rambut ayahnya jang il kie bikin enek di perutku....

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau sampai bikin enek penonton berarti akting mereka berhasil...

      Siwan keren, aktingnya lebih bagus dari pada di TMTETS. di sana dia ga begitu terlihat mungkin karena pengaruh bukan sebagai lead atau second lead kali ya...

      Delete
    2. gak nyangka ya mbak..

      Siwan ini pendatang baru tapi aktingnya ngimbangin yg senior..

      Interaksi Jang Il sama Sun Woo emg mantabs euy..
      karakter dua lead aktrisnya juga keren.

      Delete
  3. Aaah sun woo, malangnya dirimu,ibarat ppatah udah jatuh trtimpa tangga pula,,

    Udah ayahnya dibunuh ma ayah jang il, masa skarang giliran jang il sndiri yg mmbunuh sun woo.. Huhuhu, gag tega diriku lihat dirimu..babak belur bin bonyok gitu.. T.T

    ReplyDelete
  4. Aku lagi nonton episode 1 nya di KBS world, huah ternyata yang jadi ayah angkatnya SunWoo yang jadi Gido Samchoon di Resurrection, trus ada yang jadi Lee Ae Rin di Thorn Birds pula,,

    di prolognya SunWoo gak buta lagi? Atau udah sembuh?? Jadi penasaran,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya itu yang jadi istrinya presdir Jin yang jadi Lee Ae Rin di Thorn Birds...

      yang jadi presdir Jin juga dia yang jadi Suyang di princess man...

      Delete
  5. hehehehe begitunya..klo bikin gregeet...b'arti akting mereka b'hasil, lha klo filmya indonesia gmn tuchh?? itu super 2 bikin kepala ngelu.........perut senep, liat klo bertengkar

    ReplyDelete
  6. hehehe apni, atas nama jang il saya ucapakn terimakasih ckckckckck........

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...

Sapaan di Tahun 2018

Assalamu'alaikum kawan, apa kabarnya? Buat teman-teman muslim Selamat Menjalankan Ibadah Puasa.