Wednesday, 4 May 2011

Midnight Sun Bagian 7

 Melody
Aku masih harus menunggu dulu setelah sampai di sekolah. Jam pelajaran terakhir belum selesai. Itu bagus, karena ada yang mesti kupikirkan, dan aku butuh waktu sendirian. Aromanya masih tertinggal di dalam mobil. Aku membiarkan jendelanya tetap tertutup, membiarkan aromanya menyerangku, berusaha membiasakan diri dengan kuatnya api yang membakar tenggorokanku.

Daya tarik. Itu hal yang rumit untuk direnungkan. Ada begitu banyak sisi. Ada begitu banyak arti dan tingkatan. Tidak sama dengan cinta, tapi berhubungan erat dengan itu. Aku sama sekali tidak tahu jika Bella tertarik padaku. (Mungkinkah kesunyian pikirannya akan terus membuatku makin frustasi sampai akhirnya membuatku gila? Atau, apa ada batasannya yang pada akhirnya akan kucapai?)

Aku coba membandingkan respon fisiknya Bella dengan respon fisiknya orang-orang lain, seperti Ms. Cope dan Jessica Stanley. Tapi, pebandingannya tidak meyakinkan. Ciri-ciri yang sama—perubahan detak jantung dan irama napas—juga bisa merupakan ciri dari rasa takut, syok, atau cemas. Lagipula, juga tidak cocok jika Bella sampai membayangkan jenis-jenis imajinasi yang biasa dipikirkan Jessica. Bagaimanapun, Bella sangat tahu ada sesuatu yang salah dengan diriku, walau tidak tahu apa tepatnya. Dia pernah menyentuh kulitku yang
dingin, kemudian menarik tangannya begitu merasakan dinginnya. Tapi tetap saja...

Aku mengingat lagi segala fantasi yang biasanya menjengkelkanku, tapi kini menggantinya dengan membayangkan Bella di posisi Jessica... Napasku makin memburu, api merayap membakar tenggorokanku. Bagaimana jika Bellalah yang sedang membayangkan bagaimana tanganku memeluk tubuh rapuhnya? Merasakan dirinya ditarik lebih rapat ke pelukanku, dan kemudian bagaimana aku memegang dagunya dengan jari-jariku? Menyingkap rambut gelapnya yang menutupi wajah meronanya dengan tanganku, menyelipkannya ke balik telinga? Menelusuri bibirnya yang penuh dengan ujung jariku? Mendekatkan wajahku padanya, dimana aku bisa merasakan kehangatan napasnya di mulutku? Lebih dekat lagi... Tapi kemudian aku menyentakan diri dari bayangan itu, mengetahui, seperti yang kuketahui ketika Jessica membayangkan hal ini, apa yang akan terjadi jika aku sedekat itu dengannya.

Ketertarikan itu bagai buah simalakama, karena aku sudah terlanjur terlalu tertarik pada Bella dengan cara yang paling buruk. Apa aku menginginkan Bella tertarik padaku, seperti seorang perempuan pada pria? Itu pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang benar adalah: apa sebaiknya aku menginginkan Bella untuk tertarik padaku seperti itu? Dan jawabannya adalah tidak. Karena aku bukan pria-manusia, itu tidak adil buatnya.

Dengan segenap raga, aku mendambakan bisa menjadi manusia, supaya bisa merengkuhnya dalam pelukanku tanpa harus membahayakan nyawanya. Supaya aku bebas membayangkan apa saja dalam fantasiku. Fantasi yang tidak perlu berakhir dengan darahnya di tanganku, dan mataku yang menyala merah oleh darahnya.

Pengejaranku padanya tidak masuk akal. Hubungan seperti apa yang bisa kutawarkan ke dia jika aku tidak bisa menanggung resiko menyentuhnya? Aku menunduk dan menutup mukaku dengan tangan. Lebih membingungkan lagi karena aku belum pernah merasa semanusia ini seumur hidupku—bahkan tidak ketika masih manusia, selama yang bisa kuingat. Ketika itu, pikiranku dipenuhi dengan kebanggaan seorang prajurit. Perang besar menghiasai seluruh masa remajaku. Dan aku baru jalan sembilan bulan dari ulang tahunku yang ke-18 ketika wabah influensa merebak... Ingatan yang kumiliki selama menjadi manusia sangat kabur, ingatan suram yang makin kabur tiap dekadenya. Yang paling kuingat adalah ibuku, dan kurasakan kepedihan purba ketika mengingat wajahnya. Samar-samar aku ingat bagaimana dia sangat membenci keinginanku menjadi prajurit. Dia berdoa setiap malam agar 'perang yang mengerikan' itu cepat berakhir...

Selain hal itu, tidak ada lagi kenangan indah yang bisa kuingat. Selain cinta ibuku, tidak ada lagi cinta yang membuatku ingin tetap tinggal... Ini sama sekali baru untukku. Aku tidak punya pengalaman yang bisa kubandingkan. Cintaku pada Bella awalnya murni, tapi kini mulai keruh. Aku sangat ingin bisa menyentuhnya. Apa dia merasakan hal yang sama? Itu tidak penting, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Aku memandangi tanganku yang putih, membenci kekerasannya, dinginnya, kekuatannya yang tidak normal...

Kemudian aku terloncat ketika tiba-tiba pintu belakang terbuka. Wah, kau tidak sadar aku datang. Ini pertama kalinya, batin Emmet ketika ia menyelinap masuk ke mobil. “Berani taruhan Mrs. Goff pasti mengira kau pakai narkoba, kau kelihatan aneh belakangan ini. Darimana saja kau tadi?”

“Aku tadi...memberi pertolongan.”

Hah?

Aku terkekeh. “Menggotong orang sakit, pokoknya begitulah.”

Itu membuatnya makin bingung, tapi kemudian ia mengambil napas dan mendapati aromanya di mobil.

“Oh... gadis itu lagi?”

Aku menyeringai. Perkembangannya makin aneh.

“Kau tahu sendiri...”

Dia menghirup lagi. “Hmmm, baunya memang lumayan, iya kan?”

Suara geraman langsung keluar dari mulutku sebelum kata-katanya berakhir. Respon spontan.

“Tenang, Edward, aku cuma komentar.”

Yang lain kemudian datang. Rosalie langsung menyadari aromanya dan memelototiku. Marahnya masih belum reda. Entah apa masalahnya, yang bisa kudengar cuma celaannya.

Aku juga tidak suka dengan reaksi Jasper. Seperti Emmet, dia menyadari aroma Bella cukup mengundang selera. Tapi efeknya bagi mereka tidak sampai sepersekian dari yang kurasakan. Tetap saja, aku kesal darahnya terasa manis untuk mereka. Jasper masih sulit mengendalikan diri...

Alice menyelinap ke sisiku dengan tangan terbuka meminta kunci truk Bella.

“Aku cuma melihat aku melakukannya,” katanya samar-samar seperti kebiasaannya.

“Kau harus menerangkan alasannya.”

“Ini bukan berarti—”

“Aku tahu, aku tahu. Aku akan menunggu. Tidak akan lama lagi.”

Aku mendesah dan menyerahkan kuncinya. Aku mengikuti dia ke rumah Bella. Hujan turun sangat deras, begitu lebat hingga mungkin Bella tidak akan mendengar raungan mesin truknya. Aku melihat ke jendelanya, tapi dia tidak melihat keluar. Mungkin dia tidak disitu. Tidak ada pikiran yang bisa didengar. Membuatku murung tidak bisa mendengar apa-apa untuk mengecek keadaanya—untuk memastikan dia senang, atau paling tidak aman.

Alice masuk ke kursi belakang dan kami kembali ke rumah. Jalanan kosong, jadi cuma butuh beberapa menit. Kami sama-sama masuk ke rumah, lalu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Emmet dan Jasper meneruskan permainan caturnya yang rumit, menggabungkan empat papan catur jadi satu—memanjang sepanjang tembok belakang—dengan aturan rumit yang mereka buat sendiri. Mereka tidak mengijinkan aku ikut main; cuma tinggal Alice yang mau bermain denganku. Dia kini sibuk dengan komputernya, dekat Emmet dan Jasper. Aku bisa mendengar monitornya menyala. Alice sedang mengerjakan proyek fashionnya untuk pakaian Rosalie. Tapi Rosalie tidak menemaninya hari ini. Padahal biasanya dia berdiri di belakang Alice, memberi saran potongan dan warna sembari jari Alice menari di layar sentuhnya yang sangat sensitif (Carlisle dan aku mesti mengutak-atik sistemnya, agar layarnya bisa merespon temperatur dingin kami). Sebagai gantinya, Rosalie meringkuk dengan marah yang terpendam di sofa, mengganti-ganti chanel TV layar datar di depannya denga kecepatan dua puluh chanel pedetik tanpa henti. Bisa kudengar dia sedang berusaha memutuskan, apa sebaiknya ke garasi saja, untuk menyetel mesin BMWnya lagi. Esme di lantai atas, sedang bersenandung di depan rencana bangunan yang baru ia rancang.

Alice menjulurkan kepalanya ke balik tembok sebentar untuk memberitahu Jasper langkah Emmet berikutnya—Emmet duduk di lantai memunggunginya. Sementara itu Jasper menjaga ekspresinya tetap datar saat ia memakan Ratu andalan Emmet.

Dan aku, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hingga membuatku malu, duduk di depan grand piano indah yang ada di seberang pintu masuk. Jari-jariku mengalir lembut mencoba nadanya. Setelannya masih sempurna.

Diatas, Esme menghentikan pekerjaannya, menelengkan kepalanya ke samping. Aku mulai memainkan baris pertama dari alunan nada yang tadi mendatangiku sewaktu di mobil, merasa senang karena terdengar jauh lebih baik dari yang kubayangkan.

Edward bermain lagi, pikir Esme gembira. Senyum lebar muncul di wajahnya. Dia bangkit dari meja dan berjalan tanpa suara menuju tangga. Aku menambahkan harmonisasi baru, membiarkan melodi utamanya mengalir.

Esme mendesah bahagia, duduk di anak tangga paling atas, dan menyandarkan kepalanya pada pegangan tangga. Lagu baru. Sudah lama sekali. Alunan yang indah. Kubiarkan melodinya mengalir ke arah yang baru, mengikutinya dengan alunan bass. Edward menciptakan lagu lagi? Batin Rosalie, dan dia menggertakan giginya dengan sengit.

Tepat pada saat itu, dia kelepasan, dan aku bisa membaca alasan utama kemarahannya. Aku bisa melihat kenapa belakangan ini ia memusuhiku, kenapa membunuh Isabella Swan tidak mengganggunya sama sekali. Pada Rosalie, selalu tentang kesombongan.

Musikku terhenti, dan aku sudah tertawa sebelum bisa kutahan, gelak tawa yang sudah pecah sebelum tanganku sempat menutup mulut. Rosalie memelotiku, matanya nyalang marah besar. Emmet dan Jasper ikut menoleh, dan bisa kudenar kebingungan Esme. Dia secepat kilat turun, menatap aku dan Rosalie bergantian.

“Jangan berhenti, Edward.” Esme menyemangati setelah suasana sempet tegang.

Aku mulai main lagi, kembali memunggungi Rosalie sembari berusaha keras menahan seringaiku. Rosalie sendiri sudah bangkit berdiri dan berjalan keluar, lebih pada marah daripada malu. Tapi, tentu saja cukup malu. Kalau kau sampai buka mulut, aku akan memburumu seperti anjing.

Aku tertawa lagi.

“Ada apa, Rose?” Emmet memanggilnya. Rosalie tidak menengok. Dia terus saja berjalan kesal ke garasi, kemudian menggeliat masuk ke bawah mobilnya seakan mau mengubur diri dibawah situ.

“Tentang apa itu tadi?” Emmet bertanya padaku.

“Aku sama sekali tidak tahu.” Aku berbohong.

Emmet menggerutu frustasi.

“Teruskan lagunya,” Esme mendesak lagi. Tanganku baru saja terhenti.

Aku mengabulkan permintaannya. Esme pindah ke belakangku, meletakan tangannya keatas pundakku. Lagunya mulai terbentuk, tapi belum lengkap. Aku mencoba-coba bridgenya, tapi entah kenapa tidak pas.

“Lagu yang cantik. Apa sudah ada judulnya?” tanya Esme.

“Belum.”

“Apa cerita dibaliknya?” tanyanya dengan senyum. Ini membuatnya sangat senang, dan aku jadi merasa bersalah telah menelantarkan musikku begitu lama. Itu sangat egois.

“Ini lagu...nina bobo, kukira.” Akhirnya aku bisa menemukan bridgenya. Dengan mudah lalu menghantar ke bait selanjutnya, hidup begitu saja.

“Lagu nina bobo,” Esme mengulangi pada dirinya sendiri.

Ada cerita dibalik melodi ini, dan saat melihatnya, alunan berikutnya muncul begitu saja. Ceritanya tentang seorang gadis yang terlelap di sebuah ranjang sempit; berambut gelap, tebal, dan acak-acakan bagai ganggang laut terhampar di atas bantal...

Alice beranjak duduk di sebelahku. Dengan suara ringan bagai tiupan genta, ia menyenandungkan alunan nada dua oktaf lebih tinggi dari melodiku.

“Aku suka,” bisiknya. “Tapi bagaimana jika begini.”

Aku menambahkan baitnya ke dalam harmoni—jari-jariku kini menari di sepanjang tutsnya untuk menyatukan potongan-potongan itu jadi satu—menggubahnya sedikit, membawanya ke melodi yang lain... Dia menangkap suasananya, dan ikut bernyanyi.

“Ya, sempurna,” kataku mengomentari.

Esme meremas bahuku. Tapi aku bisa melihat bagian akhirnya. Dengan suara Alice meliuk tinggi dan membawanya ke tempat lain, aku bisa melihat bagaimana seharusnya akhir lagu ini. Karena sang gadis-tidur telah sempurna sebagaimana adanya, perubahan apapun akan salah. Alunan nadanya kemudian melayang menuju kenyataan itu, melambat dan semakin lambat. Suara Alice pun ikut turun, berubah khidmat, seperti alunan nada yang dikumandangkan di bawah gema lengkung katedral. Kumainkan nada terakhir, dan kemudian aku menundukkan kepala ke atas tuts piano.

Esme mengelus rambutku. Semua akan baik-baik saja, Edward. Akan ada jalan keluar yang terbaik. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan, anakku. Takdir berhutang padamu.

“Terima kasih,” bisikku, berharap bisa mempercayainya.

Cinta tidak selalu datang dalam kemasan yang umum.

Aku tertawa ironis.

Kau, diantara siapapun di dunia ini, barangkali adalah yang paling siap menghadapi kesulitan ini. Kau adalah yang terbaik dan paling cemerlang diantara kami semuanya.

Aku mendesah. Setiap ibu punya pikiran yang sama tentang anak mereka. Esme masih sangat gembira karena setelah sekian lama akhirnya ada yang bisa menyentuh hatiku, tak perduli betapa besar kemungkinannya akan berakhir tragis. Sebelum ini dia mengira aku akan selamanya sendirian...

Dia pasti mencintaimu, pikirnya tiba-tiba, mengejutkan aku dengan arah pikirannya. Jika dia gadis yang cemerlang. Dia tersenyum. Tapi tidak bisa kubayangkan ada orang yang begitu lambannya hingga tidak menyadari betapa menariknya dirimu.

“Hentikan, Mom, kau membuatku tersipu,” godaku dengan canda. Perkataannya, meski terdengar mustahil, ternyata menghiburku.

Alice tertawa dan memainkan sepenggal lagu “Heart and Soul.” aku tersenyum dan menyelesaikan melodinya yang sederhana bersamanya. Kemudian aku menyenangkan hatinya dengan memainkan “Chopsticks.”

Dia tertawa geli, kemudian mengehela napas. “Kuharap kau mau memberitahu apa yang tadi kau tertawakan pada Rose,” ujarnya. “Tapi aku bisa melihat kau tidak bakalan cerita.”

“Tidak.”

Dia menggelitik telingaku dengan jarinya.

“Jaga sikapmu, Alice,” Esme mengingatkan. “Edward hanya bersikap sopan.”

“Tapi aku ingin tahu.”

Aku tertawa mendengar rengekannya. Kemudian aku berkata, “Ini, Esme,” dan mulai memainkan lagu kesukaannya, sebuah lagu yang kudedikasikan untuk rasa cinta yang kutangkap diantara Esme dan Carlisle selama ini.

“Terima kasih, sayang.” Dia meremas pundakku lagi.

Aku tidak perlu berkonsentrasi untuk memainkan lagu yang sudah sering kumainkan ini. Sebagai gantinya, aku memikirkan Rosalie, yang masih menderita memikirkan aibnya di garasi, dan aku menyeringai sendiri. Karena aku baru saja bisa merasakan cemburu itu seperti apa, aku jadi sedikit merasa kasihan padanya. Rasanya sangat tidak mengenakan. Tentu saja, kecemburuannya beribu-ribu kali lebih dangkal dibanding kecemburuanku. Kecemburuan dia lebih mirip dengan kisah serigala dan tiga babi.

Aku membayangkan, mungkinkah kehidupan dan kepribadian Rosalie akan berbeda seandainya dia tidak selalu menjadi yang paling cantik. Apa dia akan lebih bahagia jika kecantikan tidak selalu menjadi andalannya? Tidak terlalu egosentris? Lebih murah hati?

Well, sepertinya sia-sia. Yang terjadi, sudah terjadi, dan dia selalu menjadi yang paling cantik. Bahkan ketika masih manusia, dia selalu jadi pusat perhatian. Bukannya dia keberatan, sebaliknya, dia justru menyukai perhatian itu lebih dari segalanya. Dan itu tidak berubah seiring transformasinya jadi seperti sekarang.

Maka tidak terlalu mengejutkan—mengingat kebutuhannya itu bisa dianggap sebagai sifat bawaan—dia merasa tersinggung ketika aku, sejak pertama kali bertemu, tidak memuja kecantikannya seperti yang ia harap semua pria memujanya. Tapi itu bukan berarti dia mendambakan aku dalam konteks romansa—jauh dari itu. Walau bagaimanapun, baginya itu tetap menjengkelkan bahwa aku tidak menginginkan dirinya. Dia terbiasa diinginkan.

Kasusnya berbeda dengan Jasper dan Carlisle—mereka berdua sudah lebih dulu jatuh cinta. Sedang aku, tidak berhubungan dengan siapapun, dan tetap saja bergeming. Kupikir kebencian lama itu telah terkubur, bahwa dia telah lama melewatinya. Dan, dia memang sudah lupa...sampai hari ketika akhirnya aku menemukan seseorang yang kecantikannya menyentuhku dengan cara yang tidak ia dapatkan.

Rosalie beranggapan bahwa jika aku tidak menganggap kecantikannya pantas dipuja, maka jelas tidak ada kecantikan di bumi ini yang akan sanggup menjangkauku. Dia sudah mulai uring-uringan sejak saat aku menyelamatkan Bella. Dia sudah menebak, dengan ketajaman intuisi perempuannya, pada ketertarikanku yang tidak kusadari. Rosalie sangat-sangat tersinggung bahwa aku bisa menemukan seorang manusia biasa yang kuanggap lebih menarik dibanding dirinya.

Aku menahan dorongan untuk tertawa lagi. Meskipun sebetulnya sedikit mengesalkan juga, melihat bagaimana penilaiannya tentang Bella. Rosalie sungguh-sungguh berpikir gadis itu biasa-biasa saja. Bagaimana
mungkin dia bisa mempercayai itu? Itu sangat tidak masuk akal buatku. Buah dari cemburu, pasti itu.

“Oh!” Alice tiba-tiba berkata. “Jasper, coba tebak?”

Aku melihat apa yang barusan ia lihat, dan tanganku langsung membeku di satu nada.

“Apa, Alice?” tanya Jasper.

“Minggu depan Peter dan Charlotte akan datang mengunjungi kita! Mereka akan lewat di sekitaran sini, bukankah itu menyenangkan?”

“Ada apa, Edward?” tanya Esme saat merasakan ketegangan di bahuku.

“Peter dan Charlotte akan datang ke Forks?” Aku mendesis pada Alice.

Dia memutar bola matanya ke aku. “Tenanglah, Edward. Ini bukan kunjungan pertamanya.”

Gigiku langsung menggertak. Ini kunjungan pertamanya sejak Bella datang, dan darahnya yang manis bukan cuma mengundang seleraku.

Alice mengerutkan dahi melihat ekspresiku. “Mereka tidak pernah berburu disini. Kau tahu itu.”

Tapi vampir yang bisa dibilang saudara Jasper dan vampir kecil pasangannya berbeda dengan kami; mereka berburu seperti vampir kebanyakan. Mereka tidak bisa dipercaya dengan adanya Bella.

“Kapan?” tanyaku.

Alice cemberut tidak suka, tapi memberitahu apa yang kubutuhkan. Senin pagi. Tidak akan ada yang akan menyakiti Bella.

“Itu betul,” aku sependapat, dan kemudian bangkit berdiri. “Kau siap, Emmet?”

“Kupikir kita akan pergi besok pagi?”

“Kita akan kembali minggu malam. Terserah padamu kapan perginya.”

“Oke. Aku pamit dulu dengan Rosalie.”

“Tentu.” Dengan suasana hati Rosalie sekarang, itu akan singkat. Otakmu benar-benar terganggu, Edward, batinnya ketika berjalan menuju pintu belakang.

“Sepertinya aku memang begitu.”

“Mainkan lagu baru itu untuk ku, sekali lagi,” pinta Esme.

“Kalau kau memang suka,” aku setuju, meski sedikit bimbang mengikuti alunannya menuju akhir yang tak terelakan—akhir yang membuatku sakit dengan cara yang tidak lazim.

Aku merenung sejenak, kemudian mengeluarkan tutup botol dari kantongku dan meletakannya diatas piano. Itu agak menolong—sedikit kenang-kenangan dari jawaban 'ya' darinya.

Aku mengangguk pada diriku dan memulai lagunya. Esme dan Alice bertukar pandang, tapi tidak satupun bertanya.

“Bukankah pernah ada yang bilang, jangan bermain-main dengan makananmu?” Aku meneriaki Emmet.

“Oh, hei Edward!” Dia berteriak balik, menyeringai dan melambai. Beruang itu memanfaatkan kelengahannya dengan menyapukan cakar besarnya ke dada Emmet. Cakar tajamnya merobek baju Emmet, dan mendecit menggaruk kulit Emmet. Beruang itu melenguh keras.

Oh sial, Rose yang memberikan baju ini!

Emmet mengaum balik pada beruang marah itu.

Aku menghela napas dan duduk dengan nyaman diatas sebuah batu besar. Ini tidak akan makan waktu lama. Emmet sudah hampir selesai. Dia memberi kesempatan pada beruang itu untuk menyambar kepalanya dengan ayunan cakarnya lagi, tertawa saat sambaran itu terpental dan membuat beruang itu mundur kaget. Beruang itu meraung dan juga Emmet meraung dari balik tawanya. Kemudian ia melontarkan dirinya ke arah beruang itu, yang menjulang jauh lebih tinggi dari Emmet saat beruang itu berdiri, dan mereka berdua jatuh ke tanah saling bergumul, membuat pohon cemara besar tumbang bersama mereka. Geraman beruang itu terhenti seiring bunyi tegukan.

Beberapa menit kemudian, Emmet sudah berjalan ke arahku. Bajunya rusak, robek-robek dan belepotan darah, lengket oleh getah, dan tertutup bulu-bulu. Rambut ikal gelapnya tidak lebih baik. Ada seringai lebar di wajahnya.

“Yang satu ini lumayan kuat. Saat dia mencakar, aku hampir bisa merasakannya.”

“Kau seperti anak kecil, Emmet.”

Dia memperhatikan kemejaku yang rapih dan bersih. “Bukannya tadi kau sedang mengikuti seekor singa gunung?”

“Memang iya. Hanya saja aku tidak makan seperti orang barbar.”

Emmet tertawa dengan tawanya yang menggelegar. “Kuharap mereka lebih kuat. Akan lebih menyenangkan.”

“Tidak ada yang pernah bilang kau harus berkelahi dengan makananmu.”

“Ya, tapi dengan siapa lagi aku harus berkelahi? Kau dan Alice curang, Rose tidak akan pernah mau rambutnya berantakan, dan Esme selalu marah jika Jasper dan aku mulai serius.”

“Hidup itu memang sulit, iya kan?”

Emmet menyeringai padaku, agak merubah tumpuan badannya hingga mendadak ia sudah dalam posisi siap menyerang.

“Ayolah Edward. Matikan itu sebentar dan bertarunglah secara adil.”

“Ini tidak bisa dimatikan,” aku mengingatkan dia.

“Kira-kira apa yang telah dilakukan gadis itu untuk menangkalmu?” renung Emmet.

“Barangkali dia bisa memberiku sedikit petunjuk.”

Humorku langsung lenyap. “Jangan dekati dia.” Aku menggeram lewat sela gigiku.

“Huu...sensitif...”

Aku mendesah. Emmet datang duduk disampingku.

“Sori. Aku tahu kau sedang melalaui masa sulit. Aku benar-benar berusaha untuk tidak terlalu kurang ajar, tapi itu pembawaan alamiku sama seperti bakatmu...”

Dia menunggu aku menertawakan leluconnya, dan kemudian mengerutkan muka. Selalu saja serius. Apa yang mengganggumu sekarang?

“Memikirkan tentang dia. Well, mencemaskan lebih tepatnya.”

“Apa yang perlu dicemaskan? Kau ada disini.” Dia tertawa keras-keras.

Aku mengacuhkan leluconnya lagi, tapi menjawab pertanyaannya. “Apa kau pernah memikirkan bagaimana rapuhnya mereka itu? Betapa banyaknya hal buruk yang mungkin terjadi pada manusia?”

“Tidak terlalu. Tapi aku bisa menangkap maksudmu. Dulu aku sama sekali bukan tandingan beruang itu, ya kan?”

“Beruang,” aku memberungut, menambahkan lagi satu ketakutan di daftarku. “Benar-benar kebetulan, bukan, seandainya ada beruang kesasar ke kota. Dan tentu saja akan langsung menuju Bella.”

Emmet terkekeh. “Kau kedengaran seperti orang gila.”

“Coba bayangkan sebentar bahwa Rosalie adalah manusia, Emmet. Dan mungkin saja ia bertemu beruang...atau tersambar petir...atau jatuh dari tangga...atau jatuh sakit—kena wabah!” kata-kata itu berhamburan tidak karuan. Rasanya lega sudah mengeluarkannya—hal itu membusuk dalam diriku sepanjang akhir pekan ini. “Banjir, gempa, dan badai! Ugh!

Kapan terakhir kau menonton berita? Apa kau pernah melihat hal-hal seperti itu menimpa mereka? Perampokan dan pembunuhan...” Gigi-gigiku langsung menggertak, mendadak sangat murka hingga tidak bisa bernapas, memikirkan bagaimana ada manusia lain yang akan melukainya.

“Woo...woo...! Tahan disitu, boy. Dia hidup di Forks, ingat? Paling banter dia akan kehujanan.” Dia mengangkat bahu.

“Aku rasa dia punya masalah serius dengan kesialan, Emmet. Sungguh. Coba lihat bukti-buktinya. Dari segala tempat yang bisa ia datangi, dia berakhir di kota dimana populasi vampirnya cukup besar.”

“Ya, tapi kita vegetarian. Jadi bukannya itu beruntung?”

“Dengan aroma seperti dia? Jelas itu sial. Dan kemudian, lebih sial lagi, bagaimana baunya bagiku.” Aku mendelik pada tanganku, membencinya lagi.

“Kecuali bahwa kau memiliki kontrol diri melebihi siapapun kecuali Carlisle. Lagi-lagi beruntung.”

“Mobil van waktu itu?”

“Itu tidak sengaja.”

“Kau harusnya melihat bagaimana van itu mengejarnya, Em, lagi dan lagi. Berani sumpah, seakan dia punya daya tarik seperti magnet.”

“Tapi kau ada disana. Itu beruntung.”

“Betul begitu? Bukankah itu hal paling sial yang mungkin manusia terima—mendapati seorang vampir jatuh cinta padanya?”

Emmet mempertimbangkan hal itu sejenak. Dia membayangkan gadis itu di kepalanya, dan menemukan sosoknya tidak menarik. Jujur saja, aku tidak mengerti bagaimana kau bisa tertarik padanya.

“Well, aku juga tidak bisa meliat ada yang menarik dari Rosalie,” kataku kasar. “Jujur saja, dia terlalu menganggap dirinya yang paling cantik dan tidak bisa melihat ada perempuan cantik lain.”

Emmet terkekeh. “Apa kau akan bilang bahwa dia itu...”

“Aku tidak tahu apa masalah dia, Emmet.” Aku berbohong dengan seringai lebar.

Kemudian aku melihat niatnya tepat pada waktunya untuk bereaksi. Dia coba menjatuhkan aku dari atas batu, dan terdengar suara pecahan keras saat batu besar itu retak.

“Curang.” Emmet menggerundel.

Aku menunggu dia mencoba lagi, tapi pikirannya beralih ke hal lain. Dia sedang membayangkan wajah Bella lagi, tapi kini wajahnya jauh lebih putih dan matanya merah terang...

“Tidak,” kataku dengan suara tercekik.

“Itu menyelesaikan segala kecemasanmu, kan? Kau juga tidak akan tergoda untuk membunuhnya lagi. Bukankah itu solusi yang paling baik?”

“Untukku? Atau untuknya?”

“Untukmu,” jawabnya mudah. Nada suaranya menambahkan tentu saja.

Aku tertawa datar. “Jawaban yang salah.”

“Aku sama sekali tidak keberatan.”

“Rosalie iya.”

Dia mendesah. Kami berdua tahu Rosalie akan melakukan apa saja, menyerahkan apa saja, jika itu bisa membuatnya menjadi manusia lagi. Bahkan menyerahkan Emmet.

“Ya, Rosalie pasti keberatan.”

“Aku tidak bisa... Aku tidak boleh... Aku tidak ingin menghancurkan hidup Bella.

Bukankah kau juga akan merasa begitu, jika itu adalah Rosalie?”

Emmet merenungkan itu sebentar. Kau betul-betul...mencintai dia?

“Aku bahkan tidak bisa menggambarkannya, Emmet. Tiba-tiba saja, Gadis ini segala-galanya bagiku. Bagiku tidak ada artinya lagi seisi dunia ini jika tanpa dia.”

Tapi kau tidak mau merubahnya? Dia tidak akan hidup selamanya, Edward.

“Aku tahu itu,” erangku.

Dan, seperti yang kau bilang, dia kedengarannya terlalu rapuh.

“Percayalah—itu juga aku tahu.”

Emmet bukan orang yang bijaksana, dan pembicaraan serius bukan keahliannya. Dia berjuang keras sekarang, sangat ingin untuk tidak kurang ajar.

Apa kau bahkan bisa menyentuhnya? Maksudku, jika kau mencintainya...bukankah kau ingin, well menyentuhnya...”

Emmet dan Rosalie mengungkapkan cinta mereka lewat kedekatan fisik yang intens.

Dia tidak bisa mengerti bagaimana seseorang bisa mencintai tanpa aspek itu.

Aku menghela napas. “Aku bahkan tidak berani memikirkan hal itu, Emmet.”

Wow, lantas apa pilihanmu, dong?

“Aku tidak tahu,” bisikku. “Aku sedang mencari cara untuk...untuk meninggalkan dia.

Hanya saja aku tidak mengerti bagaimana caranya untuk menjauh...”

Dengan kepuasan mendalam, mendadak aku sadar, keputusanku untuk tinggal adalah tepat—paling tidak untuk sekarang, dengan berkunjungnya Peter dan Charlotte. Bella lebih aman dengan adanya aku di dekat dia, dari pada jika aku pergi. Untuk sementara, aku bisa jadi pelindungnya, dengan tanda kutip.

Pikiran itu membuatku gelisah; aku tidak sabar ingin segera kembali agar bisa cepat-cepat memainkan peran itu selama mungkin. Emmet menyadari perubahan ekspresiku. Kau sedang memikirkan apa?

“Sekarang ini,” aku mengakuinya agak malu-malu, “Aku ingin cepat-cepat kembali ke Forks dan melihat keadaannya. Aku tidak tahu apa sanggup bertahan sampai minggu malam.”

“Waduh-waduh! Kau tidak boleh pulang lebih cepat. Biarkan Rosalie tenang dulu. Tolonglah! Demi aku.”

“Iya, akan kucoba,” kataku ragu.

Emmet menepuk handphone di sakuku. “Alice akan menelepon jika ada tanda-tanda yang akan membuatmu kena serangan jantung. Dia sama tergila-gilanya pada gadis ini seperti kau.”

Aku meringis pada hal itu. “Baiklah. Tapi aku tidak akan tinggal sampai lewat hari minggu.”

“Lagi pula, tidak ada gunanya cepat-cepat pulang—matahari akan cerah. Alice bilang kita akan libur sampai hari rabu.”

Aku menggeleng tegas.

“Peter dan Charlotte bisa menjaga sikap mereka.”

“Aku tidak perduli, Emmet. Dengan keberuntungan seperti Bella, dia akan berkeliaran di hutan di waktu yang salah dan—” aku langsung membuang jauh-jauh pikiran itu. “Peter tidak terlalu baik dengan pengendalian dirinya. Aku akan pulang hari minggu.”

Emmet mendesah. Betul-betul mirip orang gila.

Bella sedang tidur pulas saat aku memanjat jendela kamarnya pada senin dini hari. Kali ini aku ingat untuk membawa pelumas, dan jendelanya bisa terbuka lancar tanpa suara. Bisa kulihat dari rambutnya yang tergerai halus di atas bantalnya, tidurnya lebih tenang dari terakhir aku kesini. Tangannya terlipat disamping pipi seperti anak kecil, dan mulutnya sedikit terbuka. Aku bisa mendengar napasnya bergerak pelan keluar dan masuk diantara bibirnya.

Sungguh sangat lega bisa berada disini lagi, bisa melihatnya lagi. Aku sadar bahwa aku tidak akan benar-benar tenang kecuali kalau itu masalahnya. Tidak ada yang terasa betul saat jauh darinya. Meski begitu, juga bukan berarti segalanya benar saat aku bersamanya.

Aku menghela napas, membiarkan rasa haus membakar tenggorokanku. Aku sudah lama tidak merasakannya. Waktu yang terbuang tanpa merasakan itu, termasuk godaannya, membuat sensainya jadi lebih kuat lagi sekarang. Sangat lebih buruk, sampai-sampai aku takut untuk jongkok di samping tempat tidurnya agar bisa membaca judul buku-bukunya.

Aku ingin tahu cerita-cerita di kepalanya. Tapi aku lebih takut untuk melakukan itu ketimbang takut dengan hausku. Aku takut jika sedekat itu, aku akan tergoda untuk lebih mendekat lagi...

Bibirnya terlihat sangat lembut dan hangat. Aku bisa membayangkan menyentuhnya dengan ujung jariku. Menyentuhnya lembut... Jelas itu kesalahan yang harus dihindari.

Mataku terus memandangi wajahnya, memperhatikan jika ada yang berubah. Manusia selalu berubah tiap waktu—aku sedih memikirkan telah melewatkan sesuatu... Dia kelihatan...lelah. Seakan tidak cukup tidur selama akhir pekan ini. Apa tadi malam dia punya janji dengan seseorang?

Aku tersenyum kecut, merasakan bagaimana hal itu membuatku kesal. Memang kenapa kalau dia punya janji? Aku tidak memiliki dia. Dia bukan milikku. Tidak, dia bukan milikku—dan aku murung lagi. Salah satu tangannya bergerak, dan aku menyadari ada bekas lecet di telapak tangannya. Dia terluka? Walau sadar lukanya cuma lecet kecil, itu tetap menggangguku.

Kuperhatikan lokasinya, dia pasti jatuh. Itu alasan yang paling masuk akal. Aku merasa jauh lebih tenang karena tidak mesti selamanya bertanya-tanya tentang misteri kecil ini. Kami teman sekarang—atau, paling tidak, berusaha menjadi teman. Aku bisa menanyakan akhir pekannya—tentang perjalanannya ke pantai, dan apapun yang ia kerjakan malamnya hingga membuatnya kelihatan letih. Aku bisa bertanya apa yang terjadi pada tangannya. Dan aku bisa sedikit tertawa saat tebakanku betul.

Aku tersenyum saat bertanya-tanya apakah kemarin ia terjatuh ke laut atau tidak. Kira-kira apa dia menikmati tamasyanya. Apakah dia sempat memikirkan aku. Apakah dia merindukan aku, bahkan jika itu cuma sepersekian persen dari kerinduanku padanya.

Aku berusaha membayangkan dia dibawah sinar matahari di pantai. Gambaran itu tidak lengkap karena aku sendiri belum pernah ke pantai La Push. Aku cuma tahu dari foto... Aku merasa agak gelisah saat mengingat alasanku tidak pernah ke pantai indah itu, yang lokasinya cuma beberapa menit jika berlari dari rumahku. Bella menghabiskan waktu di La Push—tempat terlarang bagiku, sesuai dengan perjanjian. Sebuah tempat dimana beberapa tetua masih ingat dengan cerita tentang keluarga Cullen. Ingat dan mempercayainya. Sebuah tempat dimana rahasia kami diketahui...

Aku menggeleng. Tidak ada yang perlu dicemaskan tentang itu. Suku Quileutes juga sama terikatnya dengan perjanjian itu. Bahkan jika Bella secara tidak sengaja berjumpa dengan para tetua itu, mereka tidak akan bilang apa-apa. Dan kenapa juga topik itu disinggung? Kenapa juga Bella mau mengutarakan rasa penasarannya disana? Tidak—suku Quileutes mungkin satu-satunya hal yang tidak perlu dikhawatirkan.

Aku marah pada matahari saat sudah mulai terbit. Itu mengingatkan bahwa aku tidak bisa memuaskan rasa penasaranku sampai beberapa hari kedepan. Kenapa matahari harus bersinar sekarang?

Dengan menghela napas aku keluar lewat jendela sebelum terlalu terang. Aku berniat untuk menunggu di kerimbunan hutan dekat rumahnya untuk melihatnya berangkat sekolah. Tapi, sesampainya di pepohonan, aku terkejut menemukan jejak aromanya di jalan setapak di dalam hutan.

Aku cepat-cepat mengikutinya, penasaran, dan berubah jadi cemas saat jejaknya masuk lebih dalam ke tengah hutan. Apa yang Bella lakukan diluar sini? Jejaknya tiba-tiba berhenti begitu saja. Sepertinya dia berjalan keluar dari jalan setapak, menuju ke semak pakis-pakisan, dimana dia menyentuh sebatang pohon tumbang. Barangkali duduk disitu...

Aku duduk di tempat ia duduk, dan memandang ke sekeliling. Yang bisa ia lihat hanya rerimbunan pakis dan pohon-pohon besar. Saat itu mungkin hujan—aromanya agak tersapu, tidak terlalu menempel di pohon.

Kenapa Bella datang kesini dan duduk sendirian—dan dia sendirian, tidak salah lagi— di tengah-tengah hutan kelam yang basah? Itu tidak masuk akal, dan, berbeda dengan penasaranku yang tadi, aku tidak mungkin menyinggungnya saat bertemu dengan dia.

Jadi, Bella, tadi aku mengikuti baumu kedalam hutan setelah sebelumnya keluar dari kamarmu dimana aku memperhatikanmu tidur... Ya, hal itu bisa memecahkan suasana. Selamanya aku tidak akan pernah tahu apa yang dia pikir dan lakukan disini. Selamanya. Dan itu membuat gigiku gemertak frustasi. Lebih parahnya, ini jauh lebih mirip dengan skenario yang kubahas dengan Emmet—Bella berkeliaran sendirian di tengah hutan, dimana baunya akan mengundang siapapun yang punya kemampuan melacak seperti...

Aku mengerang. Bukan cuma nasibnya yang sial, dia juga mengundang kesialan menghampiri dirinyanya. Well, untuk sementara waktu dia punya pelindung. Aku akan menjaganya, selama yang bisa benarkan.

Tiba-tiba aku berharap Peter dan Charlotte bisa tinggal lebih lama lagi.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...