Monday, 9 May 2011

Midnight Sun Bagian 9

Port Angeles
Masih terlalu terang bagiku untuk berkendaraan di dalam kota saat tiba di Port Angeles; matahari masih terlalu tinggi diatas. Dan, meski jendelaku sangat gelap, tidak ada alasan untuk mengambil resiko. Mengambil resiko lebih, lebih tepatnya. Aku sangat yakin mampu menemukan pikiran Jessica dari jauh—pikiran dia lebih keras ketimbang Angela. Setelah menemukan Jessica, aku akan menemukan Angela. Kemudian, ketika makin gelap, aku bisa mendekat. Untuk saat ini, aku keluar dari jalan utama untuk menunggu di daerah pinggir kota yang tampaknya jarang dilewati orang. Aku tahu kira-kira ke arah mana harus mencari—hanya ada satu tempat untuk mencari gaun di Port Angeles. Tidak terlalu lama, setelah menemukan Jessica, yang sedang memutar-mutar badannya di depan tiga bidang cermin, aku bisa melihat Bella lewat pikirannya. Bella sedang memuji gaun panjang hitam yang ia kenakan.

Bella masih kelihatan kesal. Ha ha. Angela betul—Tyler cuma membual. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia sekesal itu. Paling tidak dia tahu dia punya kencan cadangan untuk pesta prom. Bagaimana jika Mike tidak menikmati pesta dansa besok, dan ia tidak mengajakku kencan lagi? Bagaimana jika dia mengajak Bella ke pesta prom? Apa Bella akan mengajak Mike ke pesta dansa jika aku tidak mengajaknya duluan? Apakah menurut Mike dia lebih cantik ketimbang aku? Apakah dia pikir dirinya lebih cantik dibanding aku?

“Kurasa aku lebih suka yang biru. Sesuai dengan warna matamu.”

Jessica tersenyum palsu pada Bella, sementara matanya memperhatikan dengan curiga. Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya? Atau yang ia inginkan aku terlihat seperti sapi di hari sabtu nanti? Belum-belum aku sudah lelah mendengarkan Jessica. Aku mencari Angela di dekat situ—ah, tapi Angela sedang ganti baju, dan aku langsung cepat-cepat keluar dari kepalanya untuk memberi dia privasi.

Well, tidak ada sesuatu yang akan menimpa Bella selama dia di department store. Biarkan saja mereka belanja dan kemudian mencari mereka lagi saat sudah selesai. Tidak akan lama lagi gelap—awan mulai berarak kembali, bertiup dari arah barat. Aku hanya bisa menangkap kelebatannya melalui sela-sela daun, tapi bisa kulihat awan-awan itu akan mempercepat matahari tenggelam. Aku menanti-nantikannya dengan tidak sabar. Besok aku akan bisa duduk disamping Bella lagi, memonopoli perhatiannya di jam makan siang lagi. Aku bisa menanyakan segala pertanyaan yang selama ini kusimpan...

Jadi, ia kesal dengan kepongahan Tyler. Aku bisa melihat itu di kepala Tyler—bahwa dia bersungguh-sungguh ketika menyinggung tentang prom, bahwa ia menegaskan niatnya. Aku mengingat kembali ekspresi Bella siang itu—tidak percaya dan marah—dan aku tergelak. Kira-kira apa yang akan ia katakan pada Tyler tentang ini. Aku tidak akan melewatkan kesempatan melihat reaksi Bella.

Waktu berjalan lambat selama menunggu gelap datang. Secara berkala aku mengecek Jessica; suara mentalnya paling mudah ditemukan. Tapi aku tidak suka berlama-lama disitu. Aku melihat dimana mereka berencana untuk makan. Pasti sudah gelap ketika waktunya makan malam...mungkin aku akan secara tidak sengaja makan di restoran yang sama.

Kusentuh handphone di kantongku, mempertimbangkan untuk mengajak Alice keluar makan... Dia akan suka itu, tapi dia juga pasti akan minta bicara dengan Bella. Aku belum yakin aku siap untuk melibatkan Bella lebih jauh kedalam duniaku. Bukannya satu vampir saja sudah merepotkan?

Aku kembali mengecek Jessica lagi. Dia sedang memikirkan tentang perhiasannya, minta pendapat Angela.

“Mungkin sebaiknya aku mengembalikan kalungnya. Aku sudah punya satu di rumah yang sepertinya juga cocok, dan aku sudah membelanjakan uangku lebih dari seharusnya...” Ibuku pasti akan marah besar. Apa yang kupikirkan?

“Aku tidak masalah kembali ke toko. Tapi bagaimana jika nanti Bella mencari-cari kita?”

Apa ini? Bella tidak bersama mereka? Aku memperhatikan lewat mata Jessica, kemudian ganti ke Angela. Mereka di trotoar di depan deretan toko-toko, baru saja balik arah. Bella tidak kelihatan dimana-mana.

Siapa yang peduli dengan Bella? Pikir Jess tidak sabaran, sebelum menjawab pertanyaan Angela. “Dia baik-baik saja. Kita masih punya banyak waktu sebelum ke restoran, bahkan jika kita kembali dulu. Lagipula, kurasa dia sedang ingin sendirian.” Aku menangkap sekelebatan gambaran toko buku yang Jess pikir tempat tujuan Bella.

“Ayo cepat kalau begitu,” ujar Angela. Kuharap Bella tidak beranggapan kami menelantarkan dia. Dia baik padaku selama di mobil tadi... Dia benar-benar orang yang menyenangkan. Tapi kelihatannya dia agak murung seharian ini. Aku bertanya-tanya, apa karena Edward Cullen? Berani taruhan, itulah alasannya kenapa ia menanyakan tentang keluarganya...

Seharusnya aku lebih memperhatikan. Apa saja yang sudah kulewatkan? Bella berkeliaran sendirian. Dan tadi dia menanyakan tentang aku?

Angela sedang memperhatikan Jessica sekarang—Jessica sedang mengoceh tentang si bodoh Mike—dan aku tidak mendapatkan info lebih banyak dari dia. Aku menilai sekelilingku. Sebentar lagi matahari di belakang awan. Jika aku tetap berada di sisi barat, dimana gedung-gedung akan menghalangi sinar matahari yang mulai redup...

Aku mulai cemas begitu menyetir melewati jalanan sepi menuju pusat kota. Ini sesuatu yang tidak kuperhitungkan—Bella memisahkan diri—dan aku tidak tahu bagaimana caranya menemukan dia. Aku harusnya mempertimbangkan hal ini.

Aku tahu seluk-beluk Port Angeles; mobilku langsung menuju ke toko buku yang ada di pikiran Jessica, berharap pencarianku singkat, tapi sekaligus sangsi ini akan berjalan dengan mudah. Mana pernah Bella membuatnya jadi mudah? Tentu saja tokonya kosong, kecuali seorang perempuan berbaju aneh dibelakang konter. Ini bukan tempat yang bagi Bella menarik—terlalu hipies untuk orang seperti dia. Aku bertanya-tanya, apa dia bahkan repot-repot mau masuk?

Ada sebidang lahan yang terhalang matahari, bisa untuk tempatku parkir... Juga ada jalur gelap yang langsung menuju ke toko itu. Aku seharusnya tidak melakukannya, berkeliaran ketika matahari masih bersinar itu tidak aman. Bagaimana jika ada mobil lewat yang memantulkan cahaya matahari di waktu yang salah? Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mencari Bella! Aku parkir dan langsung keluar, tetap berada dibalik bayang-bayang. Aku melangkah cepat-cepat menuju toko itu, ada sedikit sisa aroma Bella di udara. Dia sempat kesini, di trotoar, tapi tidak ada tanda-tanda aromanya di dalam toko.

“Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu—” sapa penjaga toko itu, tapi aku sudah keluar lagi.

Aku mengikuti bau Bella sejauh bayangan gedung-gedung, berhenti ketika tiba di tubir cahaya matahari. Betapa tidak berdayanya aku—terpenjara oleh seberkas sinar yang melintang di trotar di depanku. Terkungkung. Aku cuma bisa menebak dia terus jalan menuju ke utara. Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat disana. Apa dia tersesat? Well, kemungkinan itu tidak terlalu mengherankan.

Aku kembali ke mobil dan menyusuri jalanan itu pelan-pelan, mencari-cari dia. Aku keluar tiap menemukan sisi gelap yang terhalang matahari, tapi hanya sempat satu kali menangkap aromanya, dan arahnya membingungkan aku. Dia berencana mau kemana?

Aku bolak-balik antara toko buku dan restoran beberapa kali, berharap melihatnya di jalanan. Jessica dan Angela sudah sampai di restoran, berusaha memutuskan apa akan langsung memesan atau menunggu Bella dulu. Jessica memaksa untuk memesan secepatnya.

Aku mulai berganti-ganti melihat ke pikiran orang-orang asing, mencari lewat mata mereka. Pastilah seseorang sempat melihat dia di suatu tempat. Makin lama dia hilang aku semakin was-was dibuatnya. Tidak pernah terpikir sebelumnya betapa sulitnya mencari dia. Seperti sekarang, dia hilang dari pengawasanku, dan keluar dari jalur normal orang-orang. Aku tidak suka ini.

Awan-awan mulai berkumpul di horizon. Beberapa menit lagi, aku akan bebas mencarinya di luar. Kalau sudah begitu tidak akan memakan waktu lama. Sinar matahari lah yang membuatku tak berdaya. Hanya beberapa menit lagi, kemudian keuntungan akan berada di pihakku lagi dan manusia lah yang tidak berdaya. Pikiran satu ke pikiran lainnya. Ada begitu banyak pikiran-pikiran sepele.

...kurasa anakku telinganya infeksi lagi...

Apakah enam-empat-kosong atau enam-kosong-empat...?

Terlambat lagi. Aku mesti memberitahunya...

Ini dia datang! Aha!

Itu dia wajahnya. Akhirnya seseorang menyadari dia!

Kelegaanku hanya berlangsung sepersekian detik, karena kemudian aku membaca lebih jauh pikiran pria yang memandang penuh nafsu ke wajahnya di tengah keremangan. Itu pikiran orang asing, tapi tidak sepenuhnya asing. Dulu aku pernah memburu orang-orang dengan pikiran seperti ini.

“TIDAK!” teriakku, dan geraman panjang keluar dari tenggorokanku. Kakiku menginjak pedal gas dalam-dalam, tapi kemana tujuanku? Aku cuma tahu kira-kira lokasi pikirannya, tapi tidak tahu pasti persisnya. Sesuatu, pasti ada sesuatu—nama jalan, plang toko, sesuatu dalam pandangannya yang bisa menunjukan keberadaannya. Tapi Bella tenggelam di balik bayang-bayang, dan mata pria itu hanya fokus ke ekspresi takut Bella—menikmati ketakutannya. Wajah Bella jadi buram di pikirannya, terselimuti ingatan wajah-wajah lainnya. Bella bukan korban pertamanya.

Suara geramanku menggetarkan kaca mobil, tapi tidak mengalihkan perhatianku. Tidak ada jendela-jendela di tembok di belakang Bella. Di sekitar daerah industri, jauh dari lokasi pertokoan yang ramai. Mobilku mendecit membelok di pertigaan. Pada saat pengemudi lain membunyikan klakson, suaranya sudah jauh di belakangku.

Coba lihat bagaimana dia gemetaran! Orang itu terkekeh. Ekspresi ngerilah yang ia cari—bagian yang ia nikmati.

“Pergi dariku.” Suara Bella rendah dan tenang, bukan jeritan.

“Jangan seperti itu manis.”

Pria itu menoleh ke suara tawa kasar yang berasal dari jurusan lain. Keributan itu membuatnya marah—diam, Jeff! batinnya—tapi dia senang melihat Bella menjengit kaget. Itu membuatnya bergairah. Dia membayangkan bagaimana Bella akan memohon-mohon...

Aku tidak menyadari masih ada tambahan satu orang lagi sampai mendengar suara tawanya menyusul si Jeff tadi. Aku pindah ke pikiran orang itu, putus asa mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Dia melangkah ke arah Bella, melenturkan tangannya.

Pikiran dua orang itu tidak sebusuk yang pertama. Mereka tidak menyadari seberapa jauh orang yang mereka panggil Lonnie itu akan berbuat. Mereka asal mengikuti Lonnie. Mereka dijanjikan akan bersenang-senang... Satu dari mereka memandang ke ujung jalan dengan gugup—dia tidak ingin kepergok sedang melecehkan seorang perempuan—dan itu memberi tahu apa yang kubutuhkan. Aku mengenali perempatan yang ia lihat.

Aku langsung menerabas lampu merah, memotong diantara celah sempit diantara dua mobil yang melintas. Bunyi klakson nyaring di belakangku. Teleponku bergetar di kantong. Tidak kugubris.

Lonnie maju pelan-pelan ke arah Bella, sengaja membikin tegang—saat-saat penuh teror membangunkan minatnya. Dia menunggu Bella menjerit, siap-siap untuk menikmatinya.

Tapi Bella mengunci rahangnya rapat-rapat. Orang itu terkejut—dia berharap Bella akan mencoba untuk lari. Terkejut dan agak kecewa. Dia suka jika harus mengejar mangsanya, ketegangan dari berburu. Yang ini pemberani. Barangkali lebih baik...akan lebih ada perlawanan.

Aku tinggal satu blok lagi. Monster itu bisa mendengar raungan mesinku, tapi tidak mempedulikannya, dia terlalu memperhatikan korbannya. Aku ingin melihat bagaimana dia menikmati perburuan ketika dialah mangsanya. Aku ingin melihat bagaimana pendapatnya tentang gaya berburuku.

Di bagian lain dalam kepalaku, aku sudah mendata berbagai bentuk siksaan yang pernah kusaksikan selama masa perang dulu, mencari yang paling menyakitkan. Dia harus menderita atas hal ini. Dia harus betul-betul tersiksa. Yang lainnya hanya akan mati karena ikut membantu. Tapi si monster bernama Lonnie ini tidak akan mati secepat itu. Dia akan memohon-mohon, tapi tidak akan segera kukabulkan. Dia ada di tengah jalan, menyudutkan Bella. Dengan ngebut aku membelok di pojokan hingga mobiku terbanting kesamping.

Lampu sorotku menerangi mereka, membuat mereka terloncat kaget. Aku bisa saja menerjang si pemimpinnya, tapi kematian itu akan terlalu cepat. Aku langsung membanting kemudi hingga mobilku berputar dan berbalik arah, dengan begitu pintu penumpangnya lebih dekat dengan posisi Bella. Aku segera membukanya, dan ia sudah lari menuju mobilku.

“Cepat masuk,” teriakku setengah menggeram.

Apa-apan ini?

Aku tahu ini ide yang buruk! Dia tidak sendirian.

Harus kah aku lari?

Sepertinya aku mau muntah...

Tanpa ragu-ragu Bella meloncat masuk, membanting pintu di belakangnya. Dan kemudian ia menatapku dengan pandangan paling percaya yang pernah kulihat, dan segala rencana kejiku langsung runtuh. Butuh waktu tidak sampai sedetik untuk menyadari bahwa aku tidak akan sanggup meninggalkan dia sendirian di mobil sementara aku memberi perhitungan dengan empat orang tadi. Apa yang akan kukatakan padanya, jangan melihat? Ha! Kapan dia pernah menuruti yang kuminta? Kapan dia pernah melakukan tindakan yang aman? Mungkinkah aku menggiring mereka pergi, menjauh dari Bella, dan meninggalkan dia sendirian disini? Hampir tidak mungkin ada penjahat lain yang berkeliaran di Port Angeles malam ini, tapi yang pertama tadi juga hampir tidak mungkin! Seperti magnet, dia menarik segala bahaya menuju ke arahnya. Dia tidak boleh lepas dari pengawasanku.

Sepertinya, sebagian ekspresi Bella mirip dengan para penjahat tadi saat aku membawanya pergi begitu cepat, ternganga bingung. Dia tidak menyadari kebimbanganku yang sekejap tadi. Dia akan mengira sedari awal rencananya memang akan melarikan diri. Aku bahkan tidak sanggup menerjang mereka. Itu akan membuat dia ngeri. Keinginanku untuk membunuh monster itu begitu hebatnya hingga mendengingkan telingaku dan mengaburkan penglihatanku, dan sampai terasa di lidahku. Otot-ototku menegang, memohon untuk segera dilampiaskan. Aku harus membunuhnya. Aku akan mengulitinya pelan-pelan, sedikit demi sedikit, kulit dari dagingnya, daging dari tulangnya... Kecuali bahwa sang gadis—satu-satunya gadis di dunia ini—sedang mencengkram kursinya dengan dua tangan, menatap ke arahku. Matanya masih lebar dan sepenuhnya percaya. Balas dendam mesti menunggu.

“Pakai sabuk pengamanmu,” perintahku. Suaraku kasar, sarat kebencian dan haus darah. Bukan haus darah yang biasanya. Aku tidak sudi menodai diriku dengan memasukan bagian dari monster itu ke badanku.

Bella memasang sabuk pengamannya, berjengit ketika mendengar suaranya. Bunyi kecil seperti itu membuatnya terloncat, namun dia bergeming saat aku membawanya pergi dengan ngebut, melanggar semua rambu lalu lintas. Bisa kurasakan pandangannya padaku. Anehnya, dia kelihatan tenang. Bagiku itu tidak masuk akal—tidak dengan apa yang baru saja dialami.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya dengan suara berat karena tertekan dan takut.

Dia ingin tahu apa aku baik-baik saja? Aku memikirkan pertanyaannya selama sepersekian detik, tidak cukup lama baginya untuk menyadari kebimbanganku. Baik-baik saja kah aku?

“Tidak,” aku menyadari. Nadaku menggelegak marah. Aku membawanya ke jalanan sepi, tempatku menunggu tadi. Sekarang gelap gulita. Rerimbunan pohon di pinggir jalan. Aku sangat murka hingga tubuhku membeku di tempat, sepenuhnya tidak bergerak. Tangan dinginku yang terkunci, gatal ingin meremukkan penyerang gadis ini, untuk mencincangnya kecil-kecil hingga badannya tidak mungkin dikenali... Tapi itu berarti meninggalkannya sendirian disini, tidak terlindungi di tengah kegelapan.

“Bella?” tanyaku dari sela-sela gigi.

“Ya?” jawabnya dengan suara parau. Dia berdeham pelan.

“Apa kau baik-baik saja?” Itu betul-betul hal yang paling penting. Prioritas pertama. Pembalasan adalah hal yang kedua. Aku tahu itu, tapi badanku begitu dipenuhi amarah hingga membuatku sulit untuk berpikir.

“Iya.” Suaranya masih pekat—karena takut, tidak salah lagi.

Dengan demikian aku tidak bisa meninggalkannya. Bahkan seandainya dia tidak selalu berada dalam bahaya karena alasan yang tidak masuk akal—karena lelucon tidak bertanggung jawab untuk mempermainkan dirik—, bahkan jika aku bisa yakin dia akan sepenuhnya baik-baik saja selama aku tidak ada, aku tetap tidak akan membiarkannya sendirian di tengah kegelapan. Dia pasti sangat ketakutan. Namun tetap saja, aku tidak sedang dalam kondisi yang sanggup untuk menenangkan dia—bahkan itu jika aku tahu bagaimana cara menenangkan dia, yang aku tidak tahu. Pasti dia merasakan hawa kekejaman keluar dariku. Itu pasti kentara sekali. Aku akan semakin membuatnya takut jika tidak sanggup mendinginkan nafsu membunuh yang mendidih dalam diriku. Aku mesti memikikirkan sesuatu yang lain.

“Tolong alihkan perhatianku,” pohonku padanya.

“Maaf, apa?”

Hampir aku tidak sanggup menjelaskan yang kumaksud.

“Coba ceritakan sesuatu yang sepele sampai aku tenang.” Rahangku masih terkatup rapat. Hanya karena dia membutuhkan aku, aku tetap bertahan di mobil. Aku masih bisa mendengar pikiran orang itu, kecewa dan marah... Aku tahu dimana menemukannya... Kupejamkan mata, berharap tidak bisa menemukannya.

“Mmm...” dia ragu-ragu—sepertinya berusaha memahami permintaanku. “Aku ingin melindas Tyler Crowley besok sebelum masuk sekolah?” Dia mengatakannya seakan itu sebuah pertanyaan.

Ya—inilah yang kubutuhkan. Tentu saja Bella akan mengatakan sesuatu yang tidak kukira. Seperti sebelumnya, ancaman yang keluar dari bibirnya begitu menggelikan. Jika aku tidak sedang terbakar oleh nafsu membunuh, pasti aku sudah tertawa.

“Kenapa?” tukasku, memaksanya untuk bicara lagi.

“Dia memberitahu semua orang bahwa ia akan mengajakku ke pesta prom,” suaranya diliputi kegeraman seperti kucing-manis, khas dirinya. “Entah dia gila atau dia masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo...well, kau pasti ingat,” tambahnya dengan nada datar. “Dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. Jadi setelah kuhitung-hitung, kalau aku membahayakan hidupnya, berarti kedudukan kami seri, dan dia tidak perlu terus-menerus memperbaiki hubungan. Aku tidak butuh musuh dan barangkali Lauren akan bersikap biasa kalau Tyler menjauhiki. Meski begitu aku mungkin perlu menghancurkan mobil Sentranya.” Dia melanjutkan, kali ini penuh pertimbangan, “kalau tidak punya mobil, berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom...”

Rasanya menyenangkan, sekali-kali melihat di salah. Kegigihan Tyler tidak ada hubungannya dengan insiden waktu itu. Bella tidak menyadari daya tarik dirinya di mata bocah-bocah di seantero sekolahan. Dan apa dia juga tidak melihat efek daya tariknya padaku?

Ah, itu manjur. Ketidak wajaran proses berpikirnya selalu mengasyikan. Aku mulai bisa mengendalikan diri, untuk memikirkan selain balas dendam dan penyiksaan...

“Aku sudah mendengar tentang itu,” kataku padanya. Dia berhenti bicara. Padahal aku butuh dia meneruskannya.

“Kau sudah mendengarnya?” tanyanya heran. Suaranya pun jadi lebih marah. “Jika dia lumpuh dari leher kebawah, dia tidak akan bisa ke prom.”

Kuharap, entah bagaimana, aku bisa minta dia terus bicara tentang mengancam dan melukai tanpa harus kedengaran gila. Dia tidak bisa memilih cara lain yang lebih baik untuk menenangkan diriku. Dan perkataannya—ungkapan sarkasme dan hiperbolanya—pengingat yang kubutuhkan di saat seperti ini. Aku menghela napas dan membuka mata.

“Lebih baik?” tanyanya takut-takut.

“Tidak terlalu.”

Tidak, aku lebih tenang, tapi tidak lebih baik. Itu karena aku sadar tidak dapat membunuh monster bernama Lonnie itu, padahal aku masih menginginkannya hampir melebihi segalanya di dunia. Hampir. Satu-satunya yang saat ini kubutuhkan melebihi keinginan membunuhku adalah gadis ini. Meski aku tidak bisa mendapatkan dia, dan hanya bisa memimpikannya saja, berhasil mencegahku untuk berkeliaran sebagai seoerang pembunuh nanti malam. Bella layak mendapatkan lebih dari sekedar seorang pembunuh.

Aku menghabiskan tujuh dekade berusaha menjadi lebih dari itu—apapun selain seorang pembunuh. Dan tujuh dekade itu tetap tidak membuatku layak atas gadis yang duduk disampingku ini. Dan jika aku kembali ke kehidupan itu—kehidupan seorang pembunuh—bahkan jika cuma untuk sehari, sudah pasti akan membuat gadis ini berada diluar jangkauanku selamanya. Bahkan jika aku tidak meminum darahnya—bahkan jika aku tidak meninggalkan bukti merah menyala di mataku—akankah dia melihat perbedaannya? Aku berusaha untuk bisa jadi lebih pantas. Aku tahu, itu tujuan yang mustahil, tapi aku tetap akan berusaha.

“Apa yang terjadi?” bisiknya.

Napasnya memenuhi penciumanku, dan aku diingatkan kenapa aku tidak mungkin layak baginya. Setelah semua kejadian ini, bahkan dengan segala perasaan sayangku padanya...dia masih membuatku meneteskan liur. Aku akan mengatakan sejujur yang kubisa. Aku hutang itu padanya.

“Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku, Bella.” Aku menatap keluar, ke kegelapan malam, berharap dia mendengar kengerian yang terkandung dalam perkataanku, tapi sekaligus berharap dia tidak mendengarnya. Seringkali dia tidak mendengarnya. Lari, Bella, lari. Tinggal, Bella, tinggal. “Tapi tidak akan menolong bila aku berbalik dan memburu...” Hanya memikirkannya hampir membuatku keluar dari mobil. Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan aromanya membakar tenggorokanku. “Setidaknya itu yang coba kukatakan pada diriku sendiri.”

“Oh.”

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Seberapa banyak yang ia dengar? Aku melirik diam-diam, tapi wajahnya tidak ketebak. Kosong karena syok, barangkali. Paling tidak dia tidak menjerit. Belum.

Selama beberapa waktu kami diam. Aku berperang dengan diriku sendiri, berusaha menjadi apa yang seharusnya. Sesuatu yang tidak aku bisa.

“Jessica dan Angela pasti khawatir,” ucapnya pelan. Suaranya sangat tenang. Aku tidak yakin bagaimana dia bisa begitu. Apa saking syoknya? Atau, barangkali kejadian malam ini belum mengendap dalam pikirannya. 

“Aku seharusnya menemui mereka,” ucapnya lagi.

Apa dia ingin menjauh dariku? Atau dia cuma tidak ingin teman-temannya mencemaskan dia? Tanpa berkata apa-apa aku menyalakan mobil dan mengantarnya. Semakin dekat ke kota, semakin sulit untuk bertahan pada tujuanku. Aku begitu dekat dengan berandalan itu... Jika itu mustahil—jika memang tidak mungkin mendapatkan, atau pantas, atas gadis ini—maka apa alasannya membiarkan orang itu tidak dihukum? Tentu aku bisa membolehkan diriku jika kondisinya seperti itu... Tidak. Aku tidak menyerah. Belum. Aku terlalu mengiginkan Bella untuk menyerah.

Kami sudah tiba di restoran sebelum sempat menyelesaikan pikiranku. Jessica dan Angela sudah selesai makan. Sekarang keduanya benar-benar mencemaskan Bella. Mereka sudah mau mulai mencarinya, menuju jalanan yang gelap. Ini bukan malam yang tepat bagi mereka untuk berkeliaran—

“Bagaimana kau bisa tahu dimana...?” Pertanyaan Bella yang tidak selesai menyelaku, dan aku sadar lagi-lagi telah bertindak ceroboh. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga lupa bertanya dimana dia mesti bertemu dengan teman-temannya.

Tapi, alih-alih mencecarku dengan pertanyaan, Bella cuma menggeleng dan setengah tersenyum. Apa itu maksudnya? Well, aku tidak punya waktu untuk memikirkan penerimaan anehnya atas pengetahuan anehku. Aku membuka pintuku.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya, kedengarannya kaget.

Tidak membiarkan kau lepas dari pengawasanku. Tidak membiarkan diriku sendirian malam ini. Dengan urutan seperti itu. “Mengajakmu makan malam.”

Baiklah ini akan menarik. Sepertinya akan sangat berbeda dengan bayangan akan mengajak Alice dan pura-pura secara tidak sengaja memilih restoran yang sama. Dan kini, disinilah aku, bisa dibilang kencan dengannya. Hanya saja ini tidak masuk hitungan, karena aku tidak memberinya kesempatan untuk menolak.

Dia sudah setengah membuka pintunya sebelum aku memutar lewat depan—biasanya aku tidak sefrustasi ini saat harus bergerak secara wajar—dan bukannya menungguku untuk membukakan pintu. Apa ini karena dia tidak terbiasa diperlakukan seperti seorang perempuan terhormat, atau karena dia tidak menganggapku sebagai seorang laki-laki terhormat? Aku menunggunya menyusulku, yang makin waswas saat teman-temannya mulai masuk ke lorong gelap.

“Cepat hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga,” perintahku cepat-cepat. “Kurasa aku tidak akan sanggup menahan diriku kalau bertemu berandalan-berandalan itu lagi.” Tidak, aku tidak akan cukup kuat untuk itu.

Dia gemetar, tapi kemudian cepat-cepat menguasai diri. Dia mengejar mereka kemudian berteriak, “Jess! Angela!” dengan suara keras. Mereka menoleh, dan Bella melambaikan tangan kearah mereka.

Bella! Oh, dia aman! Pikir Angela lega.

Setelat ini? Jessica menggerutu sendiri, tapi juga bersyukur karena Bella baik-baik saja.

Ini membuatku sedikit lebih menyukai dia. Mereka buru-buru kembali, dan kemudian terhenti, syok, ketika melihatku disampingnya.

Eh-oh! Pikiran Jessica kalang kabut. Tidak mungkin!
Edward Cullen? Apa Bella pergi sendirian untuk mencari dia? Tapi kenapa Bella menanyakan kepergian mereka keluar kota jika Bella tahu dia ada disini... 

Aku menangkap sekelebatan ekspresi malu-malu Bella ketika menanyakan Angela apakah keluargaku sering absen dari sekolah. Tidak, Bella tidak mungkin tahu. Pikir Angela kemudian. Pikiran Jessica beralih dari terkejut jadi curiga. Bella menutup-nutupi sesuatu dariku.

“Aku tersesat. Dan kemudian aku berpapasan dengan Edward,” ujar Bella sambil menunjuk kearahku. Nadanya luar biasa normal, seakan itu sepenuhnya yang terjadi.

Pikirannya pasti syok. Itu satu-satunya penjelasan kenapa dia begitu tenang.

“Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” tanyaku bersikap sopan; aku tahu mereka sudah makan.

Ya ampun, dia keren banget! Batin Jessica. Mendadak pikirannya tidak karuan.

Angela juga tidak terlalu berbeda. Coba tadi tidak makan duluan. Wow. Tapi. Wow.

Nah, kenapa juga aku tidak bisa melakukan seperti itu pada Bella?

“Eh...tentu saja,” Jessica setuju.

Angela mengerutkan dahi. “Mmm, sebetulnya, Bella, kami sudah makan ketika menunggu tadi,” dia mengakui. “Sori.”

Apa? Diam! Protes Jessica dalam hati.

Bella mengangkat bahu dengan santai. Begitu tenang. Pasti memang syok. “Tidak apa-apa—lagi pula aku tidak lapar.”

“Kurasa kau tetap butuh makan sesuatu.” Aku tidak sependapat. Dia membutuhkan gula di aliran darahnya—meski begini saja sudah terasa manis, pikirku masam. Sebentar lagi serangan syoknya akan muncul ke permukaan, dan perut kosong tidak akan membantu. Dia mudah pingsan, berdasar pengalaman yang lalu. Teman-temannya tidak berada dalam bahaya jika mereka langsung pulang. Bukan mereka yang dikuntit oleh bahaya. Lagipula aku lebih memilih berdua saja dengan Bella—selama dia tidak keberatan.

“Apakah kalian keberatan jika nanti aku saja yang mengantar Bella pulang?” tanyaku pada Jessica sebelum Bella bisa merespon. “Dengan begitu kalian tidak perlu menunggu dia makan.”

“Eh, tidak masalah, kurasa...” Jessica menatap kelat-lekat pada Bella, mencari tanda-tanda bahwa inilah yang ia inginkan.

Aku tidak mau pergi...tapi barangkali Bella menginginkan Edward untuk dirinya sendiri. Siapa yang tidak akan begitu? batin Jess. Pada saat bersamaan, dia melihat Bella mengedip. Bella mengedip?

“Oke,” ujar Angela cepat, ingin segera menyingkir jika memang itu yang Bella mau. Dan kelihatannya memang itulah yang dia mau. “Sampai ketemu besok, Bella...Edward.”

Angela berjuang mengucapkan namaku dengan nada santai. Kemudian ia menyambar tangan Jessica dan menyeretnya pergi. Aku harus mencari cara untuk berterima kasih pada Angela.

Mobil Jessica berada tidak jauh, diparkir dibawah lampu jalan. Bella mengawasi mereka dengan seksama—sedikit kerut prihatin terlihat diantara matanya—sampai mereka masuk ke mobil. Jadi dia pasti sepenuhnya sadar atas bahaya yang menimpanya tadi. Jessica melambai saat pergi, dan Bella melambai balik. Baru setelah mobilnya lenyap, ia menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arahku.

“Jujur saja aku tidak lapar,” katanya padaku.

Kenapa dia harus menunggu mereka pergi baru bicara? Mungkinkah dia betul-betul ingin berduaan saja denganku—bahkan sekarang, setelah menyaksikan nafsu membunuhku? Entah itu masalahnya atau bukan, dia perlu makan sesuatu.

“Kalau begitu, hibur aku.”

Kubukakan pintu restoran untuknya. Aku berjalan di sisinya menuju ke tempat penerima tamu. Bella kelihatannya masih menutup diri. Aku ingin menyentuh tangannya, keningnya, untuk mengecek suhu badannya. Tapi tangan dinginku hanya akan ditolaknya, seperti yang lalu.

Ya ampun, pikiran penerima tamu itu menyelinap kedalam kesadaranku. Oh, ya ampun.

Sepertinya ini malam keberuntunganku. Atau, aku hanya menyadarinya lebih karena sangat berharap bahwa Bella akan memandangku seperti itu? Kami selalu terlihat menarik bagi mangsa kami. Aku belum pernah terlalu memikirkan tentang itu sebelumnya. Biasanya—kecuali pada orang-orang seperti Ms. Cope dan Jessica Stanley, yang berusaha keras menumpulkan ketakutannya—rasa takut langsung melanda setelah daya tarik awal...

“Meja untuk dua orang?” kataku pelan ketika penerima tamu itu tidak juga bicara.

“Oh, eh, iya. Selamat datang di La Bella Italia.” Hmm! Suaranya! “Silahkan ikuti saya.” Pikirannya sedang menebak-nebak. Barangkali dia sepupunya. Gadis ini tidak mungkin adiknya, mereka sama sekali tidak mirip. Tapi keluarga, pasti itu. Dia tidak mungkin berkencan dengannya.

Mata manusia memang kabur; Mereka sama sekali tidak melihat dengan jelas. Bagaimana bisa perempuan picik ini menilai daya tarik fisikku—perangkap bagi mangsaku—begitu menarik, namun tidak dapat melihat kesempurnaan yang lembut pada gadis di sampingku ini?

Well, lebih baik tidak usah mengambil resiko, batin penerima tamu itu saat membawa kami ke sebuah meja di tengah ruangan yang paling ramai. Bisakah aku memberikan nomer teleponku selama ada gadis itu...?

Aku mengambil selembar uang dari kantongku. Orang-orang jadi sangat kooperatif jika uang dilibatkan. Tanpa ambil pusing, Bella sudah duduk di meja yang ditunjuk. Aku menggeleng, dan dia jadi ragu, menelengkan kepala penasaran. Ya, dia akan sangat penasaran malam ini. Keramaian bukan tempat yang cocok untuk pembicaraan seperti itu.

“Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” pintaku pada si penerima tamu sembari menyodorkan uangku. Matanya melebar terkejut, kemudian menyipit saat tangannya mengambil uang tip itu.

“Tentu saja.”

Dia mengintip uang itu saat mengantar kami memutari dinding pemisah.

Lima puluh dolar untuk meja yang lebih baik? Dia juga kaya. Itu masuk akal—berani taruhan pasti harga jaketnya lebih mahal dari gajiku. Sialan. Kenapa juga dia mau tempat yang lebih privasi bersama gadis ini?

Dia menawari kami sebuah bilik di pojokan yang sepi, dimana tidak ada orang yang akan melihat kami—untuk melihat reaksi Bella atas apapun yang akan kusampaikan. Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan dia tanyakan nanti. Atau, apa yang akan kuceritakan. Seberapa banyak yang bisa ia tebak? Apa penjelasan dari kejadian tadi, yang ia ceritkan pada dirinya sendiri?

“Bagaimana kalau disini?” tanya penerima tamu itu.

“Sempurna,” kataku dengan perasaan terganggu karena sikap tidak sopannya pada Bella. Aku tersenyum lebar-lebar ke dia, menunjukan seluruh baris gigiku. Biar dia lihat siapa diriku sebenarnya.

Wow. “Mmm...pelayan kalian akan segera datang.” Dia tidak mungkin nyata. Ini pasti mimpi. Barangkali gadis itu akan hilang...mungkin aku akan menulis nomer teleponku di piringnya memakai saos... Dia berlalu dengan langkah sempoyongan.

Aneh. Dia masih tidak takut. Aku jadi ingat Emmet pernah menggodaku di kafetaria beberapa waktu lalu. Berani taruhan aku bisa menakuti dia lebih dari itu. Apa aku kehilangan kemampuanku yang satu itu?

“Seharusnya kau tidak melakukan itu pada orang-orang,” Bella menyela pikiranku dengan nada tidak setuju. “Tidak adil.”

Aku memperhatikan ekspresinya. Yang dia maksud apa? Aku tidak menakut-nakuti perempuan tadi, meski itu yang kuinginkan. “Melakukan apa?”

“Membuat mereka terpesona seperti itu—barangkali sekarang dia sedang sesak napas di dapur.”

Hmm. Bella hampir betul. Penerima tamu itu bisa dibilang setengah linglung saat ini, menggambarkan penilaiannya yang keliru tentang diriku pada temannya yang pelayan.

“Oh, yang benar saja,” Bella mencemoohku ketika aku tidak langsung menjawab. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu.”

“Aku membuat orang terpesona?” Itu istilah yang menarik untuk mendeskripsikannya. Cukup akurat untuk malam ini. Aku bertanya-tanya, kenapa berbeda dengan...

“Kau tidak menyadarinya?” tanya Bella masih tidak percaya. “Kau pikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?”

“Apa aku membuatmu terpesona?” Aku langsung mengucapkannya begitu saja, dan sudah terlambat untuk menariknya kembali.

Tapi, sebelum aku sempat menyesalinya, dia sudah menjawab, “sering kali.” Dan pipinya bersemu merah muda.

Aku membuat dia terpesona. Jantungku yang mati membusung oleh harapan yang lebih besar dari apapun yang pernah kurasakan.

“Halo,” sapa seseorang. Seorang pelayan memperkenalkan dirinya. Pikirannya nyaring sekali, dan lebih ekplisit dari penerima tamu tadi, tapi kukecilkan volumenya. Alih-alih mendengarkan, aku menatap wajah Bella, melihat darahnya mengalir dibawah kulitnya. Kuabaikan bagaimana itu membakar tenggorokanku, perhatianku lebih tertuju bagaimana itu membuat terang wajah pucatnya, bagaimana itu melenyapkan cream pada kulitnya...

Si pelayan masih menunggu pesananku. Ah, dia minta pesanan minum kami. Aku tidak peduli dan terus saja memandangi Bella. Akhirnya si pelayan dengan enggan ganti menoleh ke Bella.

“Boleh saya minta coke?” tanya Bella, seakan minta persetujuan.

“Dua coke,” aku meralat. Haus—rasa haus manusia—adalah tanda-tanda syok. Akan kupastikan dia punya cukup gula dari soda pada sistem pencernaan tubuhnya. Meski begitu dia terlihat sehat. Lebih dari sehat bahkan. Dia terlihat bercahaya.

“Apa?” tanyanya—sepertinya bertanya-tanya kenapa aku memperhatikan dia. Samar-samar aku sadar pelayan itu telah pergi.

“Bagaimana perasaanmu?” tanyaku.

Dia mengerjap, terkejut oleh pertanyaanku. “Aku baik-baik saja.”

“Kau tidak merasa pusing, sakit, kedinginan?”

Sekarang dia bahkan jadi lebih bingung. “Haruskah begitu?”

“Well, sebetulnya aku menunggumu syok.” Aku setengah tersenyum, menantikan sangkalannya. Dia tidak akan mau diperhatikan.

Butuh semenit baginya untuk menjawab. Matanya berubah agak tidak fokus. Kadang-kadang dia terlihat seperti itu, ketika aku tersenyum padanya. Apakah dia...terpesona? Aku sangat ingin mempercayai itu.

“Kurasa itu tidak akan terjadi. Aku selalu bisa menguasai diri jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan,” jawabnya, sedikit kehabisan napas.

Berarti, apa dia sering mengalami kejadian-kejadian buruk? Apa hidupnya selalu penuh resiko seperti ini?

“Sama,” ujarku. “Aku akan merasa lebih baik jika kau sudah cukup mengkonsumsi minuman atau makanan yang manis-manis.”

Si pelayan kembali dengan membawa dua coke dan sekeranjang roti. Dia menaruhnya di depanku, dan menanyakan pesananku sambil berusaha menatap mataku. Aku memberi tanda agar dia seharusnya melayani Bella, dan kembali mengecilkan volume suara pikirannya. Isi pikirannya vulgar.

“Mmm...” Bella melirik sekilas ke menu. “Aku pesan jamur ravioli.”

Si pelayan cepat-cepat berpaling padaku. “Dan anda?”

“Aku tidak pesan apa-apa.”

Bella membuat ekspresi datar. Hmm. Dia pasti menyadari bahwa aku tidak pernah makan. Dia menyadari semuanya. Dan aku selalu lupa untuk berhati-hati di depannya. Aku menunggu hingga kami sendirian lagi.

“Minumlah,” aku memaksa.

Aku terkejut ketika ia langsung menurut. Dia minum sampai gelasnya kosong, jadi kudorong gelas kedua padanya. Dahiku sedikit mengerut. Haus, atau syok? Dia minum lagi sedikit, kemudian sempat menggigil.

“Kau kedinginan?”

“Ini cuma karena cokenya,” tapi dia gemetar lagi, bibirnya ikut menggigil seakan giginya akan menggemeretak. 

Blus cantik yang ia pakai terlihat terlalu tipis untuk bisa melindungi tubuhnya; blus itu menggantung seperti kulit kedua, hampir serapuh kulit aslinya. Dia terlihat sangat lemah, sangat manusia. “Kau tidak punya jaket?”

“Punya.” Dia mencari-cari bingung. “Oh—ketinggalan di mobil Jessica.”

Kucopot jaketku, berharap suhu tubuhku tidak terlalu berpengaruh. Seharusnya akan lebih menyenangkan jika bisa menawarinya jaket yang hangat. Dia menatapku, pipinya merona lagi. Apa yang sedang ia pikirkan sekarang? Kuserahkan jaketku ke seberang meja, dan ia langsung memakainya, kemudian menggigil lagi. Ya, akan lebih baik jika hangat.

“Terima kasih,” ujarnya. Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu menarik lengan jaketnya yang kepanjangan sampai tangannya muncul. Dia mengambil napas dalam-dalam lagi.

Apakah kejadian tadi akhirnya mengendap juga? Warna kulitnya masih bagus; kulitnya terlihat seperti susu dan mawar, jika dipadankan dengan warna biru-tua blusnya.

“Warna biru itu terlihat indah di kulitmu,” pujiku. Sekedar bersikap sopan. Dia tersipu, menambah indah efeknya. Dia kelihatan baik-baik saja, tapi tidak perlu mengambil resiko. Kudorong keranjang roti itu ke arahnya.

“Sungguh,” dia menolak, menebak niatku. “Aku tidak merasa syok.”

“Seharusnya kau syok—orang normal akan begitu. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran.” Aku menatapnya, menolak pendapatnya, bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa jadi normal, kemudian sangsi jika aku memang ingin dia seperti itu.

“Aku merasa sangat aman denganmu,” ujarnya dengan tatapan penuh percaya. Rasa percaya yang tidak pantas kudapatkan.

Instingnya sangat keliru—bertolak belakang. Pasti itu masalahnya. Dia tidak mengenali bahaya seperti orang normal lainnya. Sikapnya bertolak belakang. Alih-alih lari, dia tinggal, mendekati apa yang seharusnya membuat dia takut... Bagaimana caranya aku bisa melindungi dia dariku ketika tidak ada satupun dari kita yang menginginkannya?

“Ini lebih rumit dari yang kubayangkan,” gumamku.

Bisa kulihat dia berusaha mencerna perkataanku. Dan aku bertanya-tanya apa hasilnya. Dia mengambil secuil roti dan mulai memakannya tanpa sepenuhnya sadar dengan tindakannya. Dia mengunyah sebentar, lalu menelengkan kepala penuh pertimbangan.

“Biasanya suasana hatimu lebih baik ketika warna matamu terang,” ujarnya dengan nada santai.

Pengamatannya membuatku terkesima. “Apa?”

“Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam—tadi kupikir matamu berubah kelam. Aku punya teori tentang itu.”

Jadi dia telah punya penjelasan sendiri. Tentu saja dia begitu. Aku jadi khawatir, seberapa dekat pada kebenaran. “Teori lagi?”

“Hmm-mm.” Dia mengunyah satu gigitan lagi, benar-benar tidak sadar, seakan tidak sedang membahas tentang monster pada si monster sendiri.

“Kuharap kau lebih kreatif kali ini...” kataku bohong. Yang sesungguhnya, kuharap dia salah—meleset sangat jauh. “Atau kamu masih mengutip dari buku-buku komik?”

“Well, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik,” jawabnya agak malu. “Tapi aku juga tidak menduga-duganya sendiri,”

“Dan?” tanyaku dari sela gigi. Tentu dia tidak akan bicara setenang ini jika mau teriak.

Saat dia bimbang sambil menggigit bibirnya, si pelayan datang membawa pesanannya. Aku tidak terlalu memperhatikan pelayan itu saat ia meletakan piringnya di depan Bella dan bertanya padaku apa aku butuh sesuatu. Aku menolak, tapi minta tambahan soda. Pelayan itu tidak menyadari gelas Bella yang sudah kosong. Kemudian dia mengambilnya, dan pergi.

“Apa katamu tadi?” bisikku penasaran setelah kami sudah berdua lagi.

“Aku akan menceritakannya di mobil,” jawabnya pelan. Ah, ini pasti buruk. Dia tidak mau membicarakan tebakannya di tengah orang banyak. “Kalau...” dia menambahkan tiba-tiba.

“Ada syaratnya?” Aku begitu tegang hingga hampir menggeramkan kata-katanya.

“Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan.”

“Tidak masalah.” Aku mengiyakan dengan suara parau.

Pertanyaan-pertanyaannya mungkin cukup memberiku petunjuk kemana arah pikirannya. Tapi bagaimana aku mesti menjawabnya? Dengan kebohongan yang bertanggung jawab? Atau aku mesti mengelak? Atau tidak menjawabnya sama sekali? Kami duduk diam saat si pelayan mengisi kembali sodanya.

“Well, ayo mulai,” kataku dengan rahang terkunci ketika si pelayan sudah pergi.

“Kenapa kau berada di Port Angeles?”

Itu pertanyaan yang terlalu mudah—buat dia. Itu sama sekali tidak mengungkapkan isi pikirannya, sedang jawabanku, jika yang sebenarnya, akan mengungkapkan terlalu banyak. Biar dia mengungkapkan sesuatu dulu.

“Berikutnya,” sergahku.

“Tapi itu yang paling mudah,”

“Berikutnya,” kataku lagi.

Dia frustasi dengan penolakanku. Dia berpaling, menatap makanannya. Pelan-pelan, sambil berpikir keras, dia menggigit dan mengunyah rotinya dengan penuh pertimbangan. Dia menelannya dengan bantuan soda, dan akhirnya menatapku. Matanya menyipit curiga.

“Oke, kalau begitu,” katanya. “Katakan saja, secara hipotesis tentu saja, seseorang... bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, membaca pikiran, kau tahu—dengan beberapa pengecualian.” Bisa saja lebih parah dari ini.

Ini menjelaskan senyum kecil di mobil tadi. Daya tangkapnya cepat. Belum pernah ada orang yang bisa menebak kemampuanku, kecuali Carlisle. Itu jadi agak jelas karena pada awalnya aku menjawab semua isi pikirannya seakan dia mengucapkannya padaku. Dia mengerti duluan, sebelum aku...

Pertanyaannya tidak terlalu buruk. Dia sudah lebih dulu tahu ada yang tidak beres dengan diriku, jadi ini tidak seburuk sebelumnya. Membaca pikiran, bagaimanapun, bukan termasuk ciri-ciri vampir. Aku akan mengikuti hipotesisnya.

“Hanya satu pengecualian,” koreksiku. “Secara hipotesis.”

Dia menahan senyum—persetujuan samarku membuatnya senang.

“Baik kalau begitu, dengan satu pengecualian. Bagaimana cara kejranya? Apa saja batasan-batasannya? Bagaimana bisa... seseorang... menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bagaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?”

“Secara hipotesis?”

“Tentu saja.” Bibirnya mengejang, mata coklat beningnya berharap penasaran.

“Well,” aku ragu-ragu. “Kalau.. seseorang itu...”

“Sebut saja dia Joe.” Dia menawarkan.

Aku jadi tersenyum melihat semangatnya. Apa dia betul-betul berpikir bahwa yang sebenarnya adalah sesuatu yang baik? Apa tidak pernah terpikir, jika rahasiaku sesuatu yang menyenangkan, buat apa selama ini merahasiakannya dari dia?

“Ya sudah.” akhirnya aku setuju. “Kalau Joe memerhatikan, pemilihan waktnya tak perlu setepat itu.” Aku menggeleng, menahan untuk tidak gemetar pada pikiran bagaimana hampir terlambatnya aku tadi. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. Kau bisa membuat angka tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade, kau tahu itu.”

Sudut bibirnya turun, dan ia memberengut. “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotesis,”

Aku tertawa melihat kekesalannya. Bibirnya, kulitnya... Terlihat sangat lembut. Aku ingin menyentuhnya. Aku ingin menyentuh sudut birbirnya dengan ujung jariku dan mengembalikan senyumannya. Mustahil. Kulitku akan menjijikan buat dia.

“Betul juga,” kataku kembali pada pembicaraan, sebelum aku jadi tertekan. “Bisakah kita memanggilmu Jasmine?”

Dia mencondongkan tubuhnya di atas meja ke arahku, segala humor dan kesal hilang dari matanya.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya dengan suara rendah dan tajam.

Haruskah aku memberitahu yang sebenarnya? Dan, jika iya, seberapa banyak? Aku ingin menceritakannya ke dia. Aku ingin merasa pantas atas kepercayaan yang masih kulihat dari wajahnya.

“Kau tahu, kau bisa mempercayaiku,” bisiknya. Dan ia mengulurkan tagan seakan ingin menyentuh tanganku yang ada di atas meja.

Segera kutarik tanganku—benci membayangkan bagaimana reaksinya atas kulit dinginku yang seperti batu—dan dia menjatuhkan tangannya. Aku tahu aku bisa memperyai dia untuk menjaga rahasiaku; dia sangat bisa dipercaya. Tapi aku tidak percaya dia tidak akan takut. Dia sebaiknya takut. Kebenarannya adalah horor.

“Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan,” gumamku. Aku ingat pernah sekali menggodanya dengan menyebut dia 'tak pernah memperhatikan sekelilingnya.' Dan waktu itu aku membuatnya tersinggung—jika aku menilai ekspresinya dengan benar. Well, paling tidak aku bisa meluruskan kesalahan persepsi itu. “Aku salah—kau lebih teliti daripada yang kukira.” Mungkin dia tidak sadar, tapi aku baru saja memberinya banyak pujian. Dia tidak melewatkan apapun.

“Kupikir kau selalu benar.” Dia tersenyum meledekku.

“Biasanya begitu.” Biasanya aku tahu apa yang kulakukan. Biasanya aku selalu yakin dengan langkahku. Tapi sekarang semuanya kacau dan tak terkendali. Tetap saja, aku tidak mau menukarnya. Aku tidak mau kehidupan yang masuk akal. Tidak jika kekacauan berarti bisa bersama Bella.

“Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal.” Aku melanjutkan untuk meluruskan poin yang lain. “Kau bukan daya tarik terdahadap kecelakaan—penggolongan itu tidak cukup luas. Kau daya tarik terhadap masalah. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. Masalah itu selalu bisa menemukanmu.” Kenapa harus dia? Apa yang sudah ia lakukan sampai pantas mendapatkan semua ini?

Wajah Bella berubah serius lagi. “Dan kau menempatkanmu dirimu sendiri dalam kategori itu?”

Ketimbang pertanyaan lain, kejujuran sangat penting untuk menjawab pertanyaan ini.

“Tak salah lagi.”

Matanya sedikit menyipit—kini bukan curiga, tapi anehnya prihatin. Dia mengulurkan tangannya ke atas meja lagi, pelan dan penuh pertimbangan. Aku sedikit menarik tanganku, tapi dia mengabaikannya, bersikeras untuk menyentuhku. Aku menahan napas—bukan karena aromanya, tapi karena takut. Takut kulitku akan membuatnya muak. Takut dia akan lari.

Ujung jarinya menyentuh ringan punggung tanganku. Kehangatan sentuhannya yang lembut tidak seperti yang pernah kurasakan selama ini. Ini hampir murni menyenangkan. Mungkin saja akan begitu jika tanpa ketakutanku. Aku memperhatikan wajahnya saat dia merasakan tangan dinginku yang membeku, masih dengan tidak bernapas. Secercah senyum muncul di sudut bibirnya.

“Terima kasih.” Dia balas menatapku dengan tatapan lekat miliknya. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku.” Jari-jarinya yang lembut tetap tinggal di tanganku seakan telah menemukan tempat yang menyenangkan.

Aku menjawabnya setenang yang kubisa, “Jangan ada yang ketiga kali, oke?”

Dia cemberut, tapi mengangguk. Kutarik tanganku dari bawah tangannya. Meski sentuhannya begitu menyenangkan, aku tidak mau menunggu sampai batas toleransinya yang ajaib habis, dan berubah jadi penolakan. Kemudian kusembunyikan tanganku di bawah meja.

Aku membaca matanya; meski pikirannya sunyi, aku bisa merasakan pancaran percaya sekaligus kagum dari situ. Saat itu juga aku sadar aku ingin menjawab semua pertanyaannya. Bukan karena aku berhutang padanya. Bukan karena aku ingin dia percaya padaku. Aku ingin dia mengenalku.

“Aku membuntutimu ke Port Angeles.” Kata-kata itu keluar begitu cepat tanpa sempat kuedit. Aku tahu bahaya dari kejujuranku, resiko yang kuambil. Kapan saja, ketenangannya yang ganjil ini bisa pecah jadi histeris. Namun, itu justru mendorongku untuk bicara lebih cepat lagi. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya, dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana...” Aku mengamatinya, menunggu. Dia tersenyum. Sudut bibirnya terangkat keatas, dan mata coklatnya menghangat. Aku baru saja mengaku membuntuti dia, dan dia tersenyum.

“Pernahkah kau berpikir mungin takdir telah memilihku sejak pertama, pada insiden van itu, dan kau malah mencampurinya?” tanyanya kemudian.

“Itu bukan yang pertama,” sanggahku sambil menunduk, menatap taplak meja yang berwarna merah marun. Bahuku terkulai malu. Pertahananku mulai runtuh, kebenaran terus saja mengalir dengan ceroboh. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu.”

Itu betul, dan itu membuatku marah. Aku telah memposisikan diriku bagai pisau guillotine dalam hidupnya. Itu sama seperti dia telah divonis mati oleh takdir kejam yang tidak adil. Dan—sejak kelemahan tekadku akhirnya terbukti—takdir itu melanjutkan usahanya untuk mengeksekusi dia.

Aku membayangkan wujud takdir itu—siluman rubah betina bengis yang pencemburu dan pendendam. Aku ingin ada seseorang yang bertanggung jawab—agar ada seseorang yang bisa kulawan. Seseorang untuk dihancurkan agar Bella bisa kembali aman. Bella sangat diam; napasnya semakin cepat. Aku mendongak melihatnya, sadar akhirnya akan segera melihat ekpresi takut di wajahnya. Bukankah aku baru saja mengakui telah hampir membunuhnya? Lebih dekat dari sekedar van yang seinchi lagi hampir melindasnya. Tapi tetap saja, anehnya, wajahnya tetap tenang. Matanya masih menatapku lekat-lekat, namun kali ini dengan tatapan prihatin.

“Kau ingat?” Dia pasti ingat.

“Ya,” jawabnya tenang. Matanya yang dalam, sepenuhnya sadar.

Dia tahu. Dia tahu aku pernah berniat untuk membunuhnya. Lalu, dimana jeritannya?

“Tapi toh sekarang kau tetap duduk di sini.” Aku mempertanyakan sikapnya yang bertolak belakang.

“Ya, di sinilah aku duduk... berkat dirimu.” Eksoresinya berubah, jadi penasaran, dan dengan mudahnya langsung mengganti topik, “karena, entah bagaimana, kau tahu bagaimana menemukanku hari ini...”

Dengan sia-sia, sekali lagi aku berusaha menembus pikirannya, mencoba mati-matian untuk memahami. Itu tidak masuk logika berpikirku. Bagaimana bisa dia peduli dengan yang lainnya, ketika kebenarannya yang mengerikan telah terungkap? Dia menunggu penasaran. Kulitnya pucat—yang memang aslinya begitu, tapi tetap saja membuatku khawatir. Makan malamnya masih tetap tidak tersentuh. Jika ceritaku diteruskan, dia akan butuh tambahan tenaga saat syoknya pecah. Aku pun mengajukan syaratku. “Kau makan, aku bicara.”

Dia mengolahnya selama sepersekian detik, lalu cepat-cepat menyendok dan mengunyah raviolinya. Dia terlihat lebih penasaran dari yang ditunjukan matanya.

“Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya.” Akhirnya aku meneruskan certaku. “Biasanya, setelah pernah mendengar pikiran seseorang, aku bisa dengan mudah menemukannya.”

Aku mengamati wajahnya baik-baik saat mengatakannya. Inilah saatnya kengerian dia akan muncul. Menebak reaksinya dengan betul adalah satu hal, menyaksikannya terjadi adalah kesulitan yang lain. Dia tidak bergerak, matanya lebar. Rahangku sendiri terkunci rapat saat menunggu detik-detik dia akan panik. Tapi dia hanya mengerjap satu kali, menelan keras-keras, dan cepat-cepat mengambil satu suapan lagi ke mulutnya. Dia ingin aku meneruskan.

“Aku mengikuti Jessica,” lanjutku sambil memperhatikan setiap kata-kataku meresap. “Dengan tidak hati-hati—”aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menambahkan,“—seperti kataku, hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles.” Sadarkah dia bahwa jarang orang punya pengalaman hampir mati seperti dia. Atau, apa menurutnya dia itu normal-normal saja? Dia jauh dari normal dibanding orang-orang yang pernah kutemui. “Awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak
bersamanya lagi, aku pergi mencarimu di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu kau tidak masuk ke sana, dan kau pergi ke arah selatan... dan aku tahu kau toh harus kembali. Jadi, aku hanya menunggumu, sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan—melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu di mana kau berada. Aku tak punya alasan untuk khawatir... tapi anehnya aku toh khawatir juga.”

Napasku memburu saat ingat kepanikan itu. Bersama derasnya udara yang masuk, napasnya membakar tenggorokanku. Dan itu membuatku lega. Itu adalah rasa sakit yang menandakan dia masih hidup. Selama aku masih merasa terbakar, berarti dia aman.

“Aku mulai bermobil berputar-putar, masih sambil... mendengarkan.” Kuharap katakataku terdengar masuk akal. Ini pasti membingungkan. “Matahari akhirnya terbenam, dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Dan lalu—”

Saat ingatan itu kembali—sejernih seperti sedang mengalaminya lagi—kurasakan napsu membunuh kembali membilas tubuhku, mengunci tubuhku jadi es. Aku mau orang itu mati. Aku butuh dia mati. Rahangku terkatup rapat saat berkonsentrasi untuk bisa tetap duduk. Bella masih membutuhkanku. Itulah yang paling penting.

“Lalu apa?” bisiknya dengan mata coklat gelapnya yang lebar.

“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan,” ujarku dari sela gigi, tidak sanggup untuk tidak menggeram. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya.”

Dorongan untuk membunuh itu begitu kuat, aku hampir tidak kuat menahannya. Aku masih tahu pasti dimana keberadaan orang itu. Pikiran-pikiran busuknya menghisap di kegelapan malam, menarikku ke arahnya... Aku menutup wajahku. Ekspresiku pasti seperti monster, pemburu, dan pembunuh. Dengan mata tertutup, aku membayangkan wajah Bella supaya bisa mengendalikan diri. Fokus hanya pada wajahnya, kelembutan tulang-tulang tubuhnya, lapisan tipis kulitnya yang pucat—seperti balutan sutra di atas permukaan kaca, sangat lembut dan mudah pecah. Dia terlalu rapuh untuk dunia ini. Dia butuh seorang pelindung. Dan, melalui takdir yang salah kaprah, aku satu-satunya yang paling memungkinkan untuk mengisi posisi itu. Aku coba menjelaskan reaksiku yang keji supaya dia mengerti.

“Sulit... sulit sekali—kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya—hanya pergi menyelamatkanmu, dan membiarkan mereka... tetap hidup,” bisikku. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela, tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian, aku akan pergi mencari mereka.”

Untuk kedua kalinya malam ini, aku mengakui niatku untuk membunuh. Paling tidak yang satu ini bisa dipertanggung jawabkan. Dia masih saja diam saat aku berusaha mengendalikan diri. Aku mendengarkan detak jantungnya; iramanya sempat tidak teratur, tapi makin lama makin lambat sampai akhirnya tenang lagi. Napasnya juga tenang dan teratur. Aku sendiri sudah hampir lepas kendali. Aku mesti cepat-cepat mengantarnya pulang sebelum...

Apakah setelah itu aku akan membunuh mereka? Apakah aku akan menjadi pembunuh lagi setelah kini dia mempercayaiku? Adakah cara untuk menghentikanku? Dia janji akan memberitahu teorinya ketika kami sendirian. Maukah aku mendengarnya? Aku penasaran, tapi jangan-jangan konsekuensinya justru jadi lebih buruk ketimbang tidak tahu. Dalam batas tertentu, dia sudah cukup banyak mendengar kebenaran yang sanggup dia terima dalam satu malam. Aku menatapnya lagi, dan wajahnya lebih pucat dari sebelumnya, tapi tenang.

“Kau sudah siap pulang?” tanyaku.

“Aku siap untuk pulang.” Sepertinya dia memilih kata-katanya dengan hati-hati, seakan jawaban sederhana 'ya' tidak sepenuhnya mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.

Benar-benar membuat frustasi.

Pelayan itu kembali. Dia mendengar pernyataan Bella saat sedang lewat di bilik sebelah. Dia membayangkan apa lagi yang bisa ditawarkan padaku. Dan aku ingin mengusir sebagian tawaran itu yang terlanjur terdengar oleh pikiranku.

“Jadi bagaimana?” tanyan pelayan itu padaku.

“Kami mau bayar, terima kasih,” jawabku sambil masih terus menatap Bella.

Napas pelayan itu memburu, dan sesaat dia—meminjam istilah Bella—terpesona oleh suaraku. Seketika itu juga, saat mendengar bagaimana suaraku kedengarannya di kepala pelayan itu, aku jadi menyadari kenapa malam ini aku bisa menarik begitu banyak kekaguman—tidak diiringi oleh takut seperti biasanya. Alasannya karena Bella. Berusaha mati-matian jadi aman buat dia, jadi lebih tidak menakutkan, jadi manusia, membuatku kehilangan tajiku. Kini manusia hanya melihat indahnya saja karena iner-hororku telah kutahan.

Aku mendongak, melihat ke si pelayan, menunggu dia menguasai diri. Sekarang jadi sedikit lucu, setelah mengerti alasannya.

“T-tentu,” ujarnya terbata-bata. “Ini dia.”

Dia menyerahkan folder berisi tagihan. Di benaknya dia memikirkan secarik kertas yang ia selipkan di bawah resi. Secarik kertas dengan nama dan nomer telepon dirinya.

Ya, ini cukup lucu.

Aku menyelipkan uangku tanpa membuka foldernya dan langsung kukembalikan. Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot menunggu telepon yang tak akan pernah datang.

“Simpan saja kembaliannya.” Kuharap tipsnya yang besar bisa mengobati kekecewaan pelayan itu.

Aku berdiri, dan Bella cepat-cepat mengikuti. Aku ingin menawarkan tanganku, tapi kupikir itu akan memaksakan keberuntunganku sedikit terlalu jauh untuk satu malam. Aku mengucapkan terima kasih pada si pelayan tanpa mengalihkan pandangan dari Bella. Kami berjalan menuju pintu keluar; aku berjalan di sampingnya sedekat yang aku berani. Cukup dekat hingga kehangatan tubuhnya terasa seperti sentuhan langsung pada sisi kiri tubuhku. Saat dia melewatiku yang sedang menahan pintu restoran untuknya, dia menghela napas pelan. Itu membuatku bertanya-tanya, penyesalan apa yang membuatnya sedih. Aku menatap ke dalam matanya, sudah ingin bertanya, ketika tiba-tiba ia menunduk, kelihatan malu. Itu membuatku lebih penasaran lagi, tapi juga segan untuk bertanya.

Keheningan diantara kami berlanjut sampai saat aku membukakan pintu mobil buat dia dan masuk. Aku menyalakan pemanas—hawa hangat memenuhi kabin mobilku; mobil yang dingin pasti membuatnya tidak nyaman. Dia bersidekap di balik jaketku, secercah senyum pada bibirnya.

Aku menunggu, menunda pembicaraan sampai lampu-lampu di pinggir jalan memudar. Itu membuatku merasa semakin berdua saja dengannya. Apa itu langkah yang tepat? Kini, saat hanya fokus padanya, mobilku terlihat sangat kecil. Aromanya bergelung-gelung didalam kabin bersama dengan hembusan dari pemanas, bergolak dan menguat. Aromanya tumbuh jadi kekuatan tersendiri yang lebih besar, seperti entitas lain di dalam mobil. Sebuah kehadiran yang membutuhkan pengakuan. Pasti begitu; aku terbakar. Meski begitu rasa terbakar ini bisa kuterima. Sangat pantas untukku. Aku sudah diberikan sangat banyak malam ini—lebih dari yang kuharapkan. Dan, disinilah dia, masih ingin berada di sisiku. Aku berhutang sesuatu atas hal ini. Sebuah pengorbanan. Perasaan terbakar.

Ugh, seandainya saja aku bisa menahan hanya sebatas itu; cuma terbakar, tidak lebih. Tapi yang terjadi; liur telah membanjiri mulutku, dan otot-ototku menegang, seakan aku sedang berburu...

Aku harus menghindari pikiran seperti itu. Dan sepertinya aku tahu apa yang bisa mengalihkan perhatianku.

“Sekarang,” kataku ragu, takut rasa terbakar ini jadi lepas kendali. “Giliranmu.”

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...