Thursday, 14 July 2011

Romance In The Rain Episode 13



“Aku tak punya pilihan karena aku adalah putri Lu Zhenhua.” kata Yiping.

Menurut Shuhuan kenyataan itu seumur hidup tak akan berubah. Shuhuan bertanya apa Yiping seumur hidup ingin mengurung diri dalam kepedihan.

Yiping mengatakan dalam hidup ada banyak ingatannya yang tak bisa dilupakan. Walaupun Shuhuan seorang dokter, Shuhuan tetap tak bisa membakar otaknya untuk menghilangkan ingatan itu. Tak bisa pula menggunakan pisau operasi untuk mengerat semua peristiwa yang sudah terjadi. Shuhuan diam mendengarnya.


Tapi sesaat kemudian Shuhuan menarik Yiping dan mengatakan kalau ia bisa melakukannya. Ia meminta Yiping memberinya waktu. “Jangan menyingkirkan aku!” kata Shuhuan.

Yiping : “Kenapa kau bersikeras ingin mengoperasiku?”

Shuhuan : “Aku tak mau kau mati karena tumor mematikan itu. Aku ingin kau sehat dan bahagia menikmati kehidupan dunia.”

Shuhuan mengajak Yiping melihat keluar, asalkan Yiping mau membuka mata untuk melihat dunia, Yiping akan merasa masih ada hal-hal yang indah di dunia.

Shuhuan mengatakan ia bukan bermaksud untuk mencampuri pikiran Yiping tapi ia sangat menyayangkan kalau Yiping tak bisa menikmati kehidupan ini.

Yiping memandang Shuhuan dan mengatakan kalau Shuhuan sungguh bodoh. Seharusnya Shuhuan tak usah memperdulikannya. Jangan membiarkan dirinya masuk dalam kehidupan Shuhuan dan mengacaukan langkah Shuhuan, “Aku takut akan melukaimu lagi.”


Shuhuan membelai wajah Yiping, “Kau tak mungkin melukaiku! Kau begitu baik, tak mungkin melukai siapapun!” (keduanya saling membelai wajah)

“Hiduplah sedikit lebih bahagia. Demi diriku!” kata Shuhuan. Yiping memandang sejenak lalu memeluk Shuhuan (lama juga pelukannya). Yiping berjanji akan melupakan kejadian-kejadian yang tak menyenangkannya.


Keduanya melepaskan pelukan. Shuhuan menyarankan Yiping mengunjungi ayahnya dua hari lagi. Kalaupun Yiping tak mau meninggalkan pekerjaan di Da Shanghai, Yiping tetap bisa memulihkan hubungan dengan ayahnya.

Shuhuan : “Ada pepatah yang mengatakan ‘dipukul karena sayang, dihina karena cinta. Jika tak dipukul dan tak dihina itu artinya bukan darah dan daging sendiri’!”

Yiping menyangkal pepatah Shuhuan, “Ini tak cocok untukku. Dipukul bukan karena sayang, dihina pun bukan karena cinta.”

Shuhuan tetap berusaha menghibur Yiping dengan mengatakan pepatah yang lain, “Budi baik tak boleh dilupakan, dendam tak boleh diingat terlalu dalam.”

Yiping tersenyum mendengarnya dan bertanya apa ada pepatah yang lain.

Shuhuan : “Ada. Makin banyak orang terdekat makin banyak jalan keluar. Makin banyak musuh makin banyak tembok penghalang.”


Yiping merangkulkan tangannya ke leher Shuhuan sambil tersenyum, “Aku patuh padamu. Kecuali tak mau meninggalkan pekerjaan di Da Shanghai. Aku akan mematuhi permintaanmu. Karena dirimu yang seagung ini, sebaik ini, perhatianmu padaku sungguh membuatku menyerah padamu.” Kata Yiping langsung memeluk Shuhuan erat.

Shuhuan mengantar Yiping menemui ayahnya. Keduanya berjalan sambil ngobrol. Yiping mengatakan kalau ia masuk rumah keluarga Lu semuanya kerana permintaan Shuhuan. Yiping meminta Shuhuan membujuk ayahnya supaya tak membuat keributan lagi di Da Shanghai dan jangan mencampuri pekerjannya. Shuhuan mengangguk dan akan berusaha sekuat tenaga.


Ketika keduanya berjalan ada mobil yang melintas di depan mereka. Yiping memperhatikan mobil itu. Ia merasa Bibi Xue ada di dalam mobil itu. Tapi ia tak yakin.

Mobil itu ternyata benar membawa Xueqin dan putra bungsunya, Erjie bersama dua orang pria. Yang satu menggendong Erjie. Yang satunya seperti bawahan laki-laki tadi.

Mobil itu berhenti tidak di depan rumah keluarga Lu. Xueqin sembunyi-sembunyi. Ia melihat sekeliling apakah sudah aman baginya. Erjie memenggil pria yang menggendongnya itu Paman Wei.

Paman Wei : “Siapa yang paling kau sayang?”

“Paman Wei.” jawab Erjie


Paman Wei mengatakan pada Erjie kalau Erjie tak boleh lupa padanya. Erjie senang karena Paman Wei membelikan banyak mainan untuknya. Paman Wei kembali bertanya apa yang akan Erjie katakan pada orang rumah ketika ditanya. Erjie menjawab menemani ibu bermain kartu (anak kecil udah diajarin bohong)


Merasa sudah cukup aman Xueqin menyuruh pria yang bernama Wei segera pergi. Wei menurunkan Erjie. Wei berpesan pada Xueqin agar Xueqin patuh sambil mencubit pipi Xueqin. Xueqin salah tingkah, ia melihat sekeliling takut ada yang melihat dan mengiyakan.

Wei dengan mobilnya segera pergi. Xueqin dan Erjie langsung masuk rumah lewat pintu belakang.


Yiping kembali melihat mobil itu melintas di depannya. Ia memperhatikan siapa yang berada dalam mobil. Shuhuan heran dan bertanya Yiping melihat apa. Mobil jawab Yiping. kenapa mobil itu tanya Shuhuan lagi. “Sepertinya aku pernah melihatnya!” jawab Yiping. kemudian keduanya jalan lagi.


Lu Zhenhua melamun di jendela. Erjie memainkan mainan barunya dan memamerkan pada ayahnya. Xueqin mengatakan kalau hari ini ia sedang beruntung bermain kartu (Bohong tuh abis selingkuh dia hehehe) Menang sedikit jadi pulangnya membeli kue tart. Xueqin memanggil anak-anaknya untuk makan kue bersama.

Ruping, Mengping dan Erhao muncul. Erhao minta maaf ia tak bisa ikut makan kue bersama ia ada janji dan berpesan makan malam nanti ia juga tak bisa ikut makan bersama di rumah.


Mengping langsung menyahut kalau ia tahu kakaknya sekarang sedang punya hubungan dengan gadis bernam Fang Yu. Ibunya heran kenapa ia tak tahu sama sekali. Xueqin tanya siapa keluarga Fang itu. Erhao mulai kesal karena ibunya sudah mulai menyelidiki status keluarga.


Bibi Zhang mempersilakan Yiping dan Shuhuan masuk. “Tuan He dan Nona Yiping datang!” kata Bibi Zhang.

Xueqin menyindir : “Angin barat atau angin timur yang bertiup? Yang sudah meniup primadona Da Shanghai dan wartawan terhebat di Shanghai sama-sama datang ke sini.”

“Ibu jangan bicara begitu.” kata Ruping. “Mereka datang ini jarang terjadi.”

Xueqin membenarkan kalau ini memang kejadian yang langka. Dulu Shuhuan sering datang, sekarang mungkin lebih sering ke Da Shanghai yang lebih ramai dari pada rumahnya.

Yiping berbisik pada Shuhuan apa Shuhuan puas, “Usul baikmu mendapat pembuktian di sini.”

Lu Zhenhua menyuruh Bibi Zhang menuangkan teh untuk Yiping dan Shuhuan. “Ada tart yang masih hangat kita sama-sama makan!” kata Lu Zhenhua pada Yiping dan Shuhuan.

Erhao membenarkan perkataan ayahnya, “Ayo makan kuenya!”

Shuhuan menyampaikan salam Du Fei pada Ruping. Ruping senang mendengarnya dan bertanya bagaimana dengan luka-luka Du Fei apa sudah sembuh. Shuhuan mengatakan sudah tak apa-apa kalau Ruping mau menengok Du Fei mungkin akan langsung sembuh. Erhao menyangkal kalau Ruping datang nanti akan semakin parah. Semuanya tertawa. Xueqin tak senang mendengarnya.


Yiping langsung menyampaikan maksud kedatangannya pada ayahnya. Ia memutuskan akan terus menyanyi di Da Shanghai dan meminta ayahnya mengizinkannya.

Lu zhenhua menolak ia tetap meminta Yiping meninggalkan pekerjaan di Da Shanghai.

Yiping tetap mempertahankan kata-katanya. Ini pekerjaan pertamanya tak peduli seburuk apapun pekerjaan itu di mata ayahnya pekerjaan itu bisa menghidupi dirinya dan ibunya, menyewa rumah dan membeli pakaian. Ini artinya sangat besar baginya.

Lu zhenhua meminta Yiping tak usah membicarakan masalah uang dan Yiping tak akan menderita lagi karena mengambil uang.

Yiping tetap tak bisa meninggalkan Da Shanghai karena ia sudah terikat perjanjian dengan Qin Wuye. Lu Zhenhua mengatakan ia sudah mencarikan pengacara untuk Yiping, “Kau baru berumur 19 tahun. Menurut hukum, seseorang dianggap dewasa apabila telah berumur 20 tahun. Jadi perjanjianmu itu tak sesuai dengan hukum.”

Yiping kaget : “Ayah menyewa pengacara?”

Lu zhenhua membenarkan kalau Qin Wuye tak bersedia melepaskan Yiping ia akan melawannya. Yiping gelisah mendengarnya.

Shuhuan mulai bicara dan mengatakan kalau tindakan Lu zhenhua ini kurang baik. Qin wuye merupakan tokoh di dunia hitam dan putih (Hitam putih Kayak acaranya Deddy corbuzier aja hehehe) kekuasaannya sangat besar di Da Shanghai. “Dia bukan orang sembarangan kalau bertarung melawannya kita akan rugi.”

Shuhuan merasa lebih baik membiarkan Yiping menyanyi, ia akan menemaninya setiap hari.

“Tidak! Putriku tak boleh menyanyi di tempat seperti itu!” kata Lu zhenhua.

“Susah payah aku mendapatkan pekerjaan kau malah menghancurkanku!” kata Yiping mulai emosi. Shuhuan berusaha menenangkan Yiping.


Xueqin mengatakan pada suaminya lebih baik tak usah mengurusi masalah Yiping lagi, “Dia sudah menjadi Bai Meigui di Da Shanghai bukan Yiping-mu lagi. Macan kumbang sepertimu kenapa bisa melahirkan mawar putih. Dia sudah hidup penuh dengan kesenangan mana mungkin mau hidup penuh dengan aturan lagi. Apalagi sudah punya pengawal pribadi. Kenapa kau mencemaskannya?”

“Tutup mulutmu! Aku tak bicara padamu.” Bentak Yiping. Xueqin kaget mendengarnya, “Kau dengar. Aku ibu dari anak-anakmu. Hari ini aku dihina.”

“Kau memang banyak bicara.” kata Lu zhenhua pada istrinya. Lu zhenhua kembali bertanya pada Yiping apa Yiping tak bisa mengalah.

Yiping : “Apa maksudmu mengalah? Ibu yang tahu apa artinya mengalah hingga menyembunyikan dirinya. Dia sudah bertahun-tahun sembunyi. Kau tahu apa arti kata itu, seumur hidup tak pernah mengalah kau sama sekali tak pernah tahu.”

“Kau kenapa? tanya Shuhuan. Bukankah Yiping datang untuk berdamai. “Jangan urusi aku!” kata Yiping.

“Jangan mengurusi dia! kata Lu zhenhua. “Kalau dia berani biarkan dia bicara!”

Yiping memberi tahu arti kata mengalah, “Yang mengawali kata mengalah adalah lemah. Terlalu banyak mengalah maka jadinya melepaskan haknya. Pada akhir dinasti Qing pemerintah membiarkan tanah wilayah kita diambil lawan. Kampung halaman kita, Manchuria juga diberikan pada Jepang. Kau ingin aku mengalah? Harus mengalah sampai sejauh apa? Dalam kamusku tak ada kata mengalah.”

“Aku hanya mengatakan kata mengalah kenapa kau ngelantur seperti itu!” ucap Lu zhenhua. “Di kamusmu tak ada kata mengalah, kulihat terlalu banyak kata lain. Yang tak ada dalam kamusmu ‘rasa hormat’ dan ‘sopan santun’!”


Yiping membenarkan kata-kata indah itu memang tak ada dalam kamusnya. Tapi ia tahu kenyataan. Ia pernah mendengar kalau mata macan Kumbang sangat tajam. Yiping meminta ayahnya membuka matanya lebar-lebar. “Lihatlah sekitarmu, orang yang dulu setia bersamamu sekarang sudah lama pergi satu demi satu. Sekarang siapa yang masih di sekitarmu?”

Lu zhenhua berfikir. Xueqin kesal mendengarnya. “Ini sama saja menudingku sebagai penghianat“ kata Xueqin. “Setiap hari aku susah payah melayanimu.” sambung Xueqin. “Hari ini aku dihina Yiping.”

“Makhluk macam apa kau hanya kau sendiri yang tahu!” bentak Yiping pada Xueqin.
Brakkkkk.... Lu Zhenhua menggebrak meja. “Kau keterlaluan, tak pernah menghormati orang lain. Bagaimanapun juga Xueqin orang tuamu. Sikap macam apa ini. Aku merasa dalam kamusmu juga tak ada kata ayah.”

Yiping : “Dalam kamusku ada kata ini, tapi sayang penjelasannya berbeda dengan keadaan kita sekarang ini.”

Lu zhenhua : “Kau sengaja ingin berperang denganku? Kau sengaja ingin membuatku marah? Kau pikir aku tak berani menghajarmu lagi?”

Diam-diam Erjie pergi ke kamar kerja ayahnya mengambil cambuk ayahnya. “Ayah cambuknya ada disini!” kata Erjie menyerahkan cambuk yang diambilnya.


Semua kaget. Shuhuan mengatakan kalau cambuk tak akan menyelesaikan masalah. Lu zhenhua mengingat kejadian ia mencambuk Yiping. Ia menjadi lemas kalau mengingat kejadian itu.


“Ayah, hari ini aku datang ke sini untuk memanggilmu ayah.” kata Yiping dengan suara melemah. “Semua karena bujukan Shuhuan. Aku sengaja datang untuk berdamai, tak disangka malah seperti ini.” Yiping mulai meneteskan air matanya.

“Kelihatannya aku tak berjodoh dengan keluarga ini!” sambung Yiping “Aku pergi. Urusan Da Shanghai terserah kau akan urus dengan cara apa.” Yiping langsung keluar rumah di susul Shuhuan juga ikut keluar mengejar Yiping.

Lu Zhenhua menatap kepergian putrinya dengan pilu.


Di luar rumah Mengping memanggil Yiping. Mengping ingin bicara. Yiping mendekat. Tiba-tiba plakkkk tangan Mengping mendarat di pipi Yiping. Shuhuan kaget melihatnya.


“Ini hutangmu pada Ruping, aku membalaskan dendamnya!” kata Mengping emosi. “Juga hutangmu pada ibuku aku juga harus membuatmu membayarnya.” Mengping berniat menampar kembali Yiping tapi dengan cepat Shuhuan menahan tangan Mengping.


Shuhuan marah : “Apa maksudmu?”

Mengping : “Aku memberinya pelajaran, dia tak tahu malu. Merebut pacar Ruping, menyakiti ibuku. Kau juga tak tahu malu. Mempermainkan Ruping, mencampakkan Ruping!”

Erhao dan Ruping datang. Erhao menyuruh Mengping masuk ke rumah. Mengping menolak, ia ingin membuat perhitungan dengan Yiping. “Buat perhitungan apa. Kau masih kecil kenapa kejam cepat masuk!” kata Erhao. Mengping menolak, Erhao terpaksa menarik Mengping masuk. Ruping meminta Shuhuan cepat membawa Yiping pergi.

Yiping berjalan cepat mendahului Shuhuan. Yiping berhenti ia menangis. Shuhuan cemas melihatnya.
“Perlihatkan wajahmu!” kata Shuhuan. Tapi Yiping menolak.


Shuhuan minta maaf ia tak seharusnya mengusulkan Yiping untuk datang kesana. Shuhuan tanya sakit tidak? (ya sakit lah) Shuhuan akan memanggil delman dan mengajak Yiping pergi ke luar kota untuk menghibur diri melupakan kejadian buruk hari ini. Tapi Yiping menolak.

“Mana bisa dilupakan! Mana mungkin dilupakan! Aku benci!” kata Yiping. “Kebencian seperti ini mana mungkin berubah menjadi cinta.”


Shuhuan memeluk Yiping dari belakang (mauuuuu..) berusaha menenangkan Yiping. “Aku paham, akhirnya aku mengerti. Aku tak boleh memaksamu!” sambung Shuhuan. Lalu keduanya pergi dari rumah Keluarga Lu.


Erhao memarahi Mengping. Semua orang sudah berusaha keras mengubah musuh menjadi kawan, tamparan Mengping membuat usaha semua orang menjadi sia-sia. Apa tadi Mengping tak mendengar Yiping datang untuk berdamai. Shuhuan pasti sudah melakukan banyak cara untuk membujuk Yiping. “Tamparanmu akan membuat Yiping benci setengah mati pada kita.”


Ruping juga ikut memarahi adiknya, kalau Mengping mau membantu tak perlu memukul lawan. Apa maksud Mengping, Shuhuan mencampakannya. “Kau bukan membantuku malah mencelakaiku!”

Mengping merasa kedua kakaknya ini aneh, bukankah Erhao membenci Yiping kenapa ingin merubah musuh menjadi kawan dan Ruping lebih aneh lagi pacarnya direbut yang dilakukan hanya membakar foto di kamar hampir membakar seluruh rumah.

“Kau tak perlu mencampuri urusanku!” bentak Ruping.

“Bagus sekali!” tiba-tiba Xueqin masuk. Ia memuji Mengping. Xueqin kesal pada Erhao dan Ruping, bukannya membela keluarga malah membela musuh. Ia senang melihat Yiping dipukul.

Xueqin malah memarahi Ruping, “Anak sepertimu pantasnya dipukul. Yiping menginjak kepalamu. Merebut kekasihmu. Jika aku lemah seperti kau mungkin Yiping dan ibunya yang tinggal di sini. Dan kau yang menyanyi di Da Shanghai. Tapi sepertinya jadi penyanyi pun kau tak bisa mengalahkan Yiping!” Xueqin menjitak kepala Ruping.


Ruping mulai emosi, “Tujuanmu datang ke dunia ini memang ingin merebut suami orang kan?” Ruping sadar ia tak mewarisi bakat ini dari ibunya. “Aku tak bisa merebut. Nikmati saja keahlianmu sendiri. Aku tak ingin menyaingimu!”

“Mungkin aku dan Yiping memang ditakdirkan seperti ini. Hutangmu aku yang membayarnya. Kelak jangan salahkan Yiping. jangan menyalahkanku yang tak bisa berjuang. Semua ada balasannya. Tuhan sangat adil.”


Emosi Xueqin memuncak ia langsung melayangkan tamparannya pada Ruping. Erhao berusaha menengahi mengapa keluarganya seperti ini, apa harus selalu ribut.

Ruping kembali mengatakan, Balasannya cepat sekali. Mengping baru saja menampar Yiping. “Aku mendapatkan balasannya darimu.” Ruping langsung lari pergi ke luar. Ibunya tanya mau kemana. Ruping menjawab ia akan pergi. Ia tak mau lagi pulang ke rumah. Erhao mengejar Ruping.


Erhao berhasil mengejar Ruping. Erhao menasehati agar Ruping jangan marah. Bukankah Ruping sudah tahu sifat ibunya. Sejak kecil sudah terbiasa.

Erhao : “Kau mau kemana ?”

Ruping : “Aku tak tahu!”

Erhao melihat jam tangannya. Ia ada kencan dengan Fang Yu. Erhao mengusulkan lebih baik menelpon Du Fei dan mengajaknya ke pacuan kuda. Ia berjanji akan berkuda dengan Fang Yu. Erhao meminta Ruping dan Du Fei ikut bersama dengannya. Jika ada Du Fei ratusan kesialan akan sirna. Ruping setuju.


Erhao memperkenalkan Fang Yu pada Ruping. Ruping sudah tahu tentang Fang Yu dan tentang kejadian di jalan berlubang itu. Fang Yu kaget mendengarnya, apa Erhao selalu terbuka pada adiknya. Erhao tertawa dan mengatakan kalau pengaruh Ruping sangat kuat dan lebih kuat dari pada pengaruh ibunya.

Du Fei berteriak memanggil Ruping. setelah menerima telepon ia langsung datang. “Apa kalian akan naik kuda? tanya Du Fei.

Erhao membenarkan, keluarga Lu dibesarkan di punggung kuda. Kebetulan Fang Yu juga bisa berkuda. Erhao tanya apa Du Fei bisa.


Dengan sangat percaya dirinya Du Fei mengatakan ia bisa menunggang kuda. “Kalian semua bisa kenapa aku tak bisa!”

“Apa wanita cantik ini bernama Fang Yu? tanya Du Fei. Du Fei memperkenalkan diri. Ia juga sudah mendengar kejadian di jalan berlubang, Fang Yu kesal kenapa semua orang tahu. Kemudian keempatnya memilih kuda.


Ruping menunggang kuda paling depan. Du Fei mengikuti di belakang. Karena luka di pantatnya belum sembuh benar Du Fei kesakitan. Du Fei meminta Ruping jangan terlalu cepat ia belum terlalu lancar berkuda. ‘Hujan menerpa pantainya’ belum sembuh benar. Ia tak bisa duduk dengan tenang.
Ruping tak menghiraukan. Ia masih kesal atas kejadian di rumah. Ia terus memacu kudanya. Du Fei terus memanggil.


Erhao dan Fang Yu memacu kudanya pelan. Keduanya mengobrol. Fang Yu tak menyangka kalau Ruping sangat cantik.

Erhao mengatakan kalau hari ini Ruping memiliki masalah. Yiping dan Shuhuan datang ke rumah dan terjadi pertengkaran. Ruping ikut terseret masalah.

Fang Yu tanya apa Du Fei menyukai Ruping. “Kalau kau tanyakan ini, lebih baik kau tanya apakah aku suka padamu atau tidak?” jawab erhao.. Mulai lagi kata Fang Yu hehe

“Kalian Keluarga Lu semua bisa naik kuda. Ayo adu balap!” ajak Fang Yu.

“Mau balapan kuda denganku, itu mustahil!” kata Erhao. “Ayo kita balap kuda!” Erhao dan Fang Yu siap memacu kudanya.

“Balap Kuda?” Du Fei tak percaya Erhao mengajak balapan. Ia belum mahir memacu kuda. Ia juga masih menahan kesakitan karena patatnya yang selalu menyentuh punggung kuda. Du Fei memanggil Ruping.

Ruping setuju diadakan adu balap kuda. Siapa yang kalah harus menggonggong seperti anjing kata Ruping.

Du Fei panik. “Guk..! Guk..! Aku mengaku kalah. Aku sudah menggonggong.” Sahut Du Fei smbil meringis menahan sakit.


Ruping meminta Du Fei lebih berani. Jarang-jarang mereka bisa berkuda. “Kalau kau punya nyali ikutlah balapan dengan kami.” Ruping mencambuk kuda yang dinaiki Du Fei.
Kuda Du Fei langsung berlari kencang. Du fei tak bisa mengendalikannya.

“Kudaku..! kudaku..! Aku menghormatimu. Jangan berlagak. Aku tak sanggup.” Du Fei langsung memeluk kudanya. Tapi ia tetap tak bisa menguasai kudanya.

“Lomba dimulai!” teriak Erhao. Semuanya memacu kuda masing-masing.

“Ampuni aku! kumohon pelanlah sedikit! Jangan ingin menang, kalah pun tak apa. Kau paham!” Pinta Du Fei pada sang kuda.. (Du Fei ini berbanding terbalik dengan peran Alex Su di Putri Huan Zhu dimana ia menjadi pangeran yang ahli dalam berkuda >>>> kangen sama sang pangeran hehehe )

Kuda du Fei di depan, tapi kudanya masuk ke area yang salah.

“Du Fei kau tak boleh masuk ke hutan. Berbahaya!” teriak Ruping. Bukannya mengendalikan kuda Du Fei malah meminta si kuda untuk jangan masuk ke hutan.

Ketiganya mengejar Du Fei. Du Fei menabrak beberapa ranting pohon. Ia kewalahan. Ia meminta tolong dan mengaku kalau ia sama sekali tak bisa berkuda dan ini adalah kali pertama ia menunggang kuda.


Ada rating pohon yang menjalar di depan Du Fei. Du Fei pun terjatuh dari punggung kuda (pasti sakit) semua panik. Du Fei langsung pingsan.

Ruping berusaha membangunkan Du Fei. Ia panik. Erhao takut kalau Du Fei gegar Otak. Fang Yu maminta agar tulang Du Fei diperiksa. Takut ada tulang yang patah.

Ruping minta maaf ia tak tahu kalau Du Fei tak bisa menunggang kuda. Ruping mulai menangis dan berdoa.


“Tuhan! kumohon perlindunganmu, sembuhkan luka kami selamatkan kami dari kegetiran. Berikan anugerahmu dan perlindungan penuh kasihmu.. Tuhan mohon kehadiranmu. Jauhkan kami dari kepedihan.”

Ketika Ruping berdoa mata Du Fei melirik. Ia ternyata pura-pura pingsan. Erhao dan Fang Yu menyadari kalau Du Fei hanya pura-pura. Keduanya berniat menggoda Ruping.

Erhao : “Celaka sepertinya keadaannya parah. Biar kuperiksa apa dia masih bernafas!”

Erhao meletakkan jarinya di lubang hidung Du Fei untuk mengetahui apa Du Fei masih bernafas.
“Celaka nafasnya lemah sekali!” kata Erhao berbohong. Fang Yu juga melakukan hal yang sama. Ia memeriksa nafas Du Fei. “Sepertinya tak bernafas!” kata Fang Yu.

Ruping takut mendengarnya, “Du Fei sadarlah jangan menakutiku.”

Du Fei melirik dan langsung membuka matanya. Ia juga langsung bangun. Ruping kaget. Du Fei terharu mendengar doa Ruping.


Ruping bingung. Ia merasa dikelabui, Dipermainkan. Ia kecawa semua orang sudah mempermainkannya. Sekarang Du Fei juga melakukannya. Ruping menangis.

Du Fei serba salah. Fang Yu minta maaf dan meminta Ruping jangan menagis. Ruping lari Du Fei berniat mengejar tapi Erhao menghalangi dan mengatakan kalau hari ini Ruping sedang banyak masalah tadi pagi sudah ditampar ibunya. Biarkan dia menangis.


Tapi Du Fei tetap mengejar Ruping dan meminta maaf. Ia mengaku kalau tadi memang pingsan sebentar dan mengatakan kalau seluruh badannya sakit dan patah. Du Fei merengek kesakitan. Juga ‘pantai pasir’nya sungguh mengenaskan.


Ruping tertawa mendengarnya dan mengusap air matanya sendiri.

Fang yu tersenyum dan menghampiri Ruping. ia mengatakan kalau saja Erhao tak lebih dulu masuk ke dalam hatinya ia mungkin akan menyukai Du Fei. “Du Fei ini sungguh menarik bagiku!”


Du Fei : “Benarkah?”

Erhao : “Tentu saja bohong! Aku cekik kau.”

Erhao mengejar Du Fei. Keduanya tertawa.

Du Fei jalan terpincang-pincang, Ruping khawatir. Tapi Du Fei mengatakan kalau ia tak apa-apa. Ruping memaksa ingin melihatnya. Du Fei menolak.

Du Fei : “Mana bisa kau lihat, yang sakit pantai pasirku!”


Ruping tersenyum. Fang Yu heran pantai pasir apa? apa maksudnya. Erhao berniat menjelaskan tapi Du Fei melarangnya. Kalau Erhao berani menceritakannya ia akan memutuskan hubungan dengan Erhao. Ruping kembali tersenyum.

“Apa ku bilang kalau ada Du Fei ratusan kegusaran pasti akan hilang!”


Wenpei berdiri mematung di depan Da Shanghai di bawah guyuran hujan yang lebat. Ia memandang setiap orang yang keluar dari Da Shanghai.

Shuhuan berniat mengantar Yiping pulang tapi hujan sangat lebat. Shuhuan akan meminjam payung dan meminta Yiping menunggunya.


Yiping melihat di seberang jalan seorang wanita tengah berdiri. Ia kaget begitu tahu kalau itu adalah ibunya. Yiping langsung berlari menghampiri ibunya.

Yiping tanya apa yang dilakukan ibunya. Kenapa datang ke Da Shanghai. Wenpei diam tak menjawab. Yiping menangis melihatnya.


Shuhuan keluar dengan membawa payung. Ia mencari Yiping. orang-orang menunjukkan dimana Yiping. Shuhuan langsung menghampiri Yiping dan ibunya. Ia memayungi keduanya.

Yiping kembali bertanya pada ibunya apa ibunya menghukum dirinya.

Wenpei : “Aku sedang menunggumu. Kalau kau ingin bekerja terus di sini aku akan setiap malam terus menunggumu disini. Terus menunggu sampai kau merubah niatmu. Barulah aku berhenti.”

Yiping menegaskan semuanya tak seburuk yang dibayangkan ibunya. Nyanyiannya disukai. Bosnya juga sudah melindunginya. Ia tak pernah melayani tamu.


Shuhuan meminta semuanya dibicarakan di rumah. Shuhuan takut kalau kehujanan seperti ini akan sakit. Wenpei tak peduli ia sakit, yang ia pedulikan hanya Yiping.

Wenpei mengatakan pada Yiping, seandainya Yiping juga peduli padanya maka Yiping harus patuh padanya. Seandainya saja Xinping masih hidup ia tak mungkin mencurahkan seluruh hatinya pada Yiping. “Sekarang aku hanya memiliki kau!”

Yiping meminta ibunya tak membahas Xinping. Ia tahu ia tak sebaik Xinping, tapi ia memiliki pendiarian.

Shuhuan menenangkan hati Wenpei dengan mengatakan ia akan melindungi Yiping dan meminta Wenpei jangan menyiksa diri.

Shuhuan memanggil kendaraan untuk pulang. Yiping mengusap air mata ibunya. Ketiganya pulang bersama naik delman.


Sesampai di rumah Yiping, shuhuan segera membuat sup jahe dan langsung menghidangkannya untuk Wenpei. Yiping mengambilkan sup jahenya. Tapi ibunya diam saja.

Yiping melihat Shuhuan yang masih basah kuyup. Ia langsung pergi mengambilkan handuk untuk Shuhuan.


Shuhuan duduk di depan Wenpei, “Bibi ini sup jahenya!” Tapi Wenpei tetap diam.

Yiping kembali membawa dua handuk yang satu ia berikan pada Shuhuan yang satunya ia gunakan untuk mengeringkan tubuh ibunya yang basah. Yiping sedih melihat ibunya seperti itu selalu mengenang kakaknya, Xinping.

Yiping : “Aku berharap kalau aku adalah dia. Tapi aku bukan dia.”

Yiping meminta ibunya jangan menggunakan standar Xinping untuk menuntutnya karena itu akan membuat hidupnya dan ibunya menderita.

Wenpei : “Bukan! Setiap hari aku selalu merindukan Xinping. Sama seperti aku merindukan semua. Tuntutanku padamu tak ada hubungannnya dengan Xinping. Aku hanya sayang padamu.”


Yiping paham dan meminta ibunya jangan bersikap keras seperti itu. Pekerjannnya memberikan banyak kesenangan padanya. Ia bisa menyanyi dengan penuh penjiwaan. Bisa melupakan semua kegusarannya.

Wenpei berpendapat pekerjaan Yiping ini hanya pelampiasan duka semata. Ia tak meyukainya. Ia menginginkan Yiping mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Ia menginginkan Yiping yang polos seperti dulu.

Yiping memandang Shuhuan. Shuhuan langsung mengerti.


Shuhuan : Bibi aku sangat menyukai Yiping. Jika dia menerimaku dan kau juga menerimaku. Aku akan mencintainya, melindunginya.”

Shuhuan menjelaskan kalau keluarganya juga terpelajar. Ia anak tunggal. Keluarganya memandang penting urusan pernikahan. Hari ini ia berjanji akan menjaga nama baik Yiping. Menjaga keamanan Yiping. Karena Yiping bukan hanya milik Wenpei seorang tapi juga miliknya. Biarkan Yiping menyanyi, ada dirinya yang menjaga dan mengawasi.

Wenpei diam memikirkan kata-kata Shuhuan.

Yiping kembali mengatakan pada ibunya biarkan dirinya menyanyi paling tidak memberinya kesempatan selama 2 bulan sampai bulan September. Jika ibunya masih menentangnya ia janji akan segera meninggalkan pekerjannya. Ijinkan ia mengumpulkan uang. Bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk Ajudan Li dan Keyun.


Wenpei memandang Yiping kemudian beralih memandang Shuhuan. Ia kemudian mengangguk setuju.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...