Friday, 27 July 2012

Sinopsis A Gentleman's Dignity Episode 11

Mereka berempat mengisi liburan dengan berkemah (Udah kayak anak pramuka aja nih hihi)


Yoon dan Jung Rok ditugaskan mendirikan tenda, sementara Do Jin dan Tae San duduk manis. Yoon menyarankan pada Jung Rok lebih baik memasang bagian bawahnya dulu. Tapi menurut Jung Rok ditopang dari atas dulu supaya seimbang. Yoon bersikeras dari bawah dulu, karena ia paham betul bagaimana mendirikan tenda karena ketika SD dulu ia menjadi anggota pramuka dan nilai kepramukaannya tinggi. Jung Rok menyombongkan diri kalau ia juga pernah menjadi anggota Korps Astronot.
Jung Rok melihat kedua rekannya yang lain hanya duduk santai. Bukankah membangun rumah itu keahlian Do Jin dan Tae San. Tae San beralasan kalau tadi ia menyetir sendiri dalam perjalanan ke ini lagi pula ia dulu anggota ICY (International Youth Conference) jadi tugasnya itu melakukan pertolongan pertama dan memberi tindakan medis.

Do Jin : “Ketika kalian sibuk menari di klub malam aku sudah menyelesaikan satu desain. Ketika Yoon membaca di perpustakaan aku sudah selesai membangunnya. Jadi kalian berdua saja yang mengurus tendanya.”
Ok... dan tenda pun sudah berdiri. Yoon berbangga diri karena berhasil mendirikan tenda tapi ada yang lupa dipasang patok besinya hehe. Yoon pun menyimpan patok besi itu dan menyingkirkannya agar tak terlihat.
Yoon berseru kalau ia lapar dan mengajak ketiga temannya makan. Ketiganya membuka bekal masing-masing dan apa yang mereka bawa. Semuanya membawa minuman alkohol haha... tak ada yang membawa makanan. Keempatnya kesal bukan main.
Jung Rok punya ide, ‘Dimana ada wanita disana ada makanan’ ia membawa sebotol minuman untuk ditukar dengan makanan di tenda wanita. Jung Rok ingin menukar minumannya dengan beberapa ramen. Tapi sayang, beberapa wanita ini sudah menukar makanan mereka dengan minuman dari rombongan pria yang sedang bermain basket.

Dan benar saja di tenda anak muda yang tengah bermain basket itu ada banyak makanan. Yoon ngomel bukannya ia sudah bilang kalau segala sesuatu itu harus dipersiapkan sejak awal. Ia menilai ketiga temannya ini kurang memiliki kebijaksanaan.
Do Jin punya ide, ia akan mendapatkan ramen itu untuk ketiga temannya. Jung Rok menebak apa Do Jin akan mencuri makanan mereka.

Do Jin : “Orang-orang di planet ini tahu dulu julukanku adalah basket. Ah... aku terpaksa bermain dengan para amatiran. Memalukan sekali.”

Do Jin akan menantang anak muda itu bermain basket dengan taruhan minuman dan makanan.
Pertandingan basket 3 lawan 3. Do Jin, Yoon dan Tae San sudah di tempatnya melakukan pemanasan. (wakaka pemanasannya aneh Tae San kayak mau tinju, Yoon lumayan bener melatih cara shooting, Do Jin melatih gerakan dribbling dan shooting)

Sementara ketiga lawan mereka hanya diam menonton.
Permainan di mulai. Ketiga ahjussi ini bermain cukup percaya diri, dribling yang baik dan kerja sama tim yang bagus dalam mengoper bola. Ketiganya saling mengoper berputar-putar di area permainan sendiri. Tapi ketika tiba di area lawan Do Jin kehilangan bola.
Lawan berhasil merebutnya dengan mudah dan langsung melancarkan serangan balik yang cepat dan shoot, masuk. Do Jin dkk cuma bisa menatap bengong. (kebanyakan gaya sih haha)

Ketiga ahjussi berusaha membalikan keadaan tapi mereka berulang kali kehilangan bola. Bukannya mengoper kerekan sendiri malah memberikan bola ke lawan dan poin bertambah untuk lawan.
Tae San mengoper bola pada Do Jin dan dengan gayanya Do Jin berhasil memasukan bola. Ketiganya bersorak terlalu lama tak menyadari kalau lawan sudah berhasil memasukkan bola juga haha.

Skor mereka tertinggal sangat jauh 2-22 tapi mereka masih semangat. Tapi apa daya kondisi fisik mereka tak mampu mengimbangi kondisi fisik lawan yang lebih muda dari mereka. Ketiganya kepayahan. Satu persatu taruhan mereka dibabat habis lawan dan skor pun telak 4-30.
Mereka duduk sambil mengatur nafas yang terengah-engah karena kelelahan. Di depan mereka kardus tempat menyimpan minuman sudah ludes sebagai bahan taruhan.
Sementara anak muda lawan mereka tengah berpesta makan bersama para wanita. Ke empatnya hanya bisa menatap lemas nan lelah.
Tae San tanya sebenarnya kapan terakhir kali Do Jin bermain basket. Dengan nafas yang masih terengah-engah Do Jin menjawab kalau pertandingan terakhirnya terjadi pada tahun 1994. Jung Rok kesal bukankah itu 18 tahun yang lalu. Wahahahaha..
Kesialan mereka tak sampai disitu, tiba-tiba tenda yang didirikan Yoon roboh. Lengkaplah penderitaan mereka. Wakakaka.

Sinopsis A Gentleman’s Dignity Episode 11
Jung Rok bertemu dengan Eun Hee di sebuah restouran. Ia masih tak percaya kalau wanita yang kini ada di hadapannya adalah first love-nya yang sudah lama menghilang. Jung Rok dengan wajah terheran-herannya berkata kalau Eun Hee masih tetap cantik.

Eun Hee : “Bukankah semua cinta pertama di dunia ini sangat cantik?”

Jung Rok melihat kalau Eun Hee tak berubah sedikitpun. Eun Hee menolak anggapan Jung Rok, ia sekarang jadi lebih lembut karena sudah berumur. Eun Hee tanya apa semuanya baik-baik saja, ia mendengar kalau mereka berempat masih bersama-sama setiap hari.

Jung Rok : “Kata siapa kami tak punya teman lain? Aku tak akan menemui mereka kalau kau tak menyukainya.”

Eun Hee tertawa ia juga ingin melihat mereka semua. Jung Rok berinisiatif akan menelepon mereka tapi Eun Hee melarang ia harus mengejar pesawat malam ini. Jung Rok ingin tahu kenapa Eun Hee ada di Korea. Eun Hee mengatakan kalau ada beberapa masalah yang harus ia tangani dan juga ia datang kesini untuk meminta bantuan Jung Rok. Jelas saja Jung Rok mau membantu.

Eun Hee mengatakan kalau ia memiliki seorang putra dan sekarang berada di Korea. Jung Rok sedikit terkejut mendengarnya. Eun Hee kembali mengatakan kalau dilihat dari transaksi kartu kreditnya sekarang putranya berada di Seoul setelah berkeliling seluruh negeri dan kemungkinan dia akan mencari mereka berempat. Jung Rok heran kenapa putra Eun Hee mencari mereka. Eun Hee masih belum yakin tapi putranya membawa foto mereka berempat ketika pergi dan juga alamat kafe Jung Rok. “Kalau dia mencarimu mau-kah kau menghubungiku?”

Jung Rok jelas bersedia, “Jangan membicarakan yang lainnya tapi hubungan kita sangat mendalam kan?”
Eun Hee tertawa, ia juga meminta Jung Rok jangan mengatakan pada siapapun kalau Jung Rok bertemu dengannya. “Karena aku kesini benar-benar hanya untuk menemuimu!”

Jung Rok tak menyangka Eun Hee hanya ingin menemuinya, ia berjanji akan merahasiakan pertemuan ini. Ia bertanya jam berapa penerbangan Eun Hee. Apa Eun Hee mau diantar ke bandara. Eun Hee hanya tersenyum.
Jung Rok melamun memikirkan pertemuannya dengan Eun Hee. Ia menyadari kalau selama ini ia-lah orang yang disukai Eun Hee. Ia senang bukan main dan ingin memamerkan semuanya pada ketiga temannya tapi ia harus menahan diri tak mengatakan apapun.
Do Jin duduk di pinggir jendela menatap minuman Yi Soo. Tatapannya pun beralih ke pemandangan di luar kafe dan disana ia melihat Yi Soo berdiri memandangnya. Do Jin tak menyangka kalau Yi Soo akan kembali lagi karena ia mengira Yi Soo sudah pergi.
Do Jin mengambil pena dan menuliskan sesuatu di selembar tisu.
‘Janji pertama hari ini adalah Seo Yi Soo’
Keduanya tersenyum, Yi Soo perlahan mendekat ke arah jendela. Ia memejamkan matanya mencium jendela tepat dimana tulisan Do Jin tadi ditempelkan di jendela atau mungkin ini ciuman untuk Do Jin hehe.
Do Jin tak berfikir dua kali lagi, ia langsung bergegas keluar menemui Yi Soo. Keduanya bertatapan lama. Do Jin berfikir kalau Yi Soo sudah pergi. Yi Soo membenarkan tapi ia memutuskan untuk kembali.

Do Jin menilai Yi Soo wanita yang aneh, ‘tak ada yang perlu dikatakan diantara kita’ apa harus Yi Soo kembali hanya untuk mendengarkannya mengatakan itu. Yi Soo mendesah kesal apa Do Jin tak bisa berhenti mengatakan itu karena ia sudah merasa kesal. “Apa gunanya menyukaimu kalau hanya membuatku menderita seperti ini?”

“Apa kau... menyukaiku?” Tanya Do Jin.
“Apa kau tak tahu? Baru saja di jendela, aku.... sebelumnya kau-lah yang begitu agresif mengejarku. Ya benar, aku menyukai Kim Do Jin. Aku menyukaimu. Aku takut kau akan berfikir kalau aku akan berubah-ubah pikiran menyukai seorang pria setelah pria lain. Jadi aku tak berani menunjukannya. Pengakuanku ini juga bukan supaya kau menerimaku, jadi kalau kau mau menolak.....”
Belum sempat Yi Soo melanjutkan kata-katanya yang panjang lebar Do Jin membungkamnya dengan sebuah ciuman cepat (ah hihi..)

Yi Soo terdiam menatap Do Jin, ia kehilangan kata-katanya.
“Pengakuan ini cukup berkesan,” sahut Do Jin. Kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Yi Soo dan menciumnya lebih dalam penuh perasaan. (long kiss)
Do Jin mengantar Yi Soo pulang. Di depan rumah Yi Soo tak segera masuk, ia masih tersenyum malu-malu. Do Jin ingin tahu sejak kapan Yi Soo menyukainya. Yi Soo tertawa. Do Jin kembali bertanya apa yang Yi Soo sukai darinya. Yi Soo menjawab karena Do Jin seperti bunga. Do Jin meminta Yi Soo tak perlu menjawab yang terlalu objektif selain yang sudah diketahui seluruh negeri.

Yi Soo : “‘Aku sudah memutuskan untuk memulai cinta bertepuk sebelah tangan denganmu’ aku sedikit gugup setelah mendengarnya. Ketika kulihat fotoku terselip di dompetmu, aku terharu. ‘Tak bisakah kau menyukaiku sedkit saja?’ aku sudah mulai bimbang setelah mendengar itu. Di depan restouran ketika kau mengatakan bahwa kau akan melepaskanku, pertama kalinya aku merasa ketakutan. Kalau orang ini tak lagi menyukaiku apa yang harus aku lakukan?”

Do Jin : “Sejak pertama aku melihatmu sampai kemarin, aku terus berfikir apa yang harus kulakukan kalau wanita ini tak menyukaiku?”
Do Jin menarik Yi Soo kepelukannya, memeluknya erat. “Sekarang kita sudah berciuman dan berpelukan apa lagi yang akan kita lakukan pada pertemuan selanjutnya?” Tanya Do Jin. Hehe

“Berpegangan tangan, kita belum pernah melakukannya.” Kata Yi Soo. Do Jin memeluknya semakin erat.
“Guru...!” tiba-tiba Meari datang dan terkejut melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya. Yi Soo dan Do Jin juga terkejut melihat Meari datang.

Meari : “Apa ini? Dua hari ini Guru menangis meraung-raung. Apa pada akhirnya kalian berdua jadian? Kalian berdua?”
Do Jin heran dan bertanya apa Yi Soo menangis. Meari kesal dan tak mau mengatakannya pada Do Jin. Yi Soo sadar seharusnya ia memberi tahu Meari lebih awal. Ia berharap Meari akan mendukung hubungannya dengan Do Jin.

Meari tersenyum, “Tentu saja aku akan mendukung kalian. Tapi kenapa aku merasa ingin menangis?” Meari pamit akan pulang saja.
Yi Soo meminta Meari masuk dulu ke rumah. Tapi Do Jin menawarkan akan mengantar Meari pulang dan lebih baik Yi Soo masuk saja. Yi Soo setuju, ia mempercayakan Meari pada Do Jin. Yi Soo bilang kalau ia nanti akan menelepon Meari. Meari tak peduli.

Do Jin membukakan pintu mobil untuk Meari. Ia mengingatkan Yi Soo agar meneleponnya juga.
Di dalam mobil menuju rumahnya Meari diam saja. Do Jin ingin tahu apa Meari sudah memanfaatkan informasi password rumahnya. Meari tak peduli ia mengatakan kalau ia lupa. Do Jin menyahut bukankah Meari pernah mampir sekali. Meari gelagapan dan bertanya kenapa Do Jin terus mengajaknya bicara ia sedang tak ingin bicara dengan Do Jin. Do Jin menyela lalu kenapa Meari menjawab pertanyannya, bahkan Meari masuk ke mobilnya. Meari sewot meminta Do Jin lebih baik menurunkannya saja.

Do Jin sadar betul suasana hati Meari sedang tak bagus, ia juga tahu kalau pendapat Meari tentang hubungannya dengan wanita sangat buruk. Tapi kali ini perasaannya pada Guru Meari memang nyata. Meari tahu itu ia bisa melihatnya.

Do Jin menawarkan apa Meari mau mampir ke rumahnya, berpura-pura kebetulan agar bisa bertemu dengan Yoon. Meari malah bertanya untuk apa, karena Yoon bilang padanya dia tak akan pernah mau melihatnya lagi.

Do Jin menyarankah hal lain, cara yang menurutnya sangat efektif. Tapi Meari bertanya apa tak ada yang lebih mudah. “Apa kakak tak bisa menikahi guru akhir pekan ini? Dengan begitu Kak Yoon pasti akan muncul. Atau... apa kakak punya anak yang kakak rahasiakan keberadannya dan merayakan ulang tahunnya yang pertama.”
Mereka berdua sampai di rumah Meari. Cuaca sedang tak bagus hujan turun walaupun tak begitu deras tapi cukup membuat si Betty kebasahan.

Meari akan turun dari mobil tapi ia dikejutkan dengan adegan yang ia lihat. Kakaknya, Tae San tengah berpelukan dengan Se Ra di depan rumah, “Ada apa dengan semua orang? Kenapa mereka melakukan semua ini padaku?”

Do Jin membenarkan apa yang mereka berdua lakukan di depan rumah. Memangnya hanya mereka yang jatuh cinta. Meari mendelik marah kearah Do Jin. Do Jin langsung terdiam dan menyahut kalau Hong Pro sudah mau pergi.
Tae San mengatakan kalau ini kejutan yang luar biasa sukses, Se Ra bahkan mengantarnya pulang ke rumah. Se Ra pamit mengucapkan selamat malam sambil mengecup pipi Tae San. Tapi Tae San tak menyukai perpisahan seperti malam ini. Se Ra beranggapan kalau saling merindukan satu sama lain itu bagus karena dengan begitu akan lebih menarik dan akan jauh lebih baik daripada harus bangun dengan orang yang sama setiap pagi. Ia ingin menjadi wanita Tae San bukan keluarga Tae San. Tae San meminta Se Ra tinggal 5 menit lagi, ia memeluk Se Ra erat-erat. Se Ra merasa kalau 5 menit itu akan berubah menjadi 25 menit.
Meari makin kesal melihatnya. Do Jin berkata kalau ia sedang mengembangkan hobi baru akhir-akhir ini. Bagaimana kalau kita menabrak mobil Hong Pro. haha.

“Kakak kau lah yang paling buruk,” ucap Meari pada Do Jin.
Do Jin : “Karena sekarang kau sudah menyebutkan itu, bisakah kau tak menemui gurumu untuk sementara waktu?”
Meari : Kenapa?
Do Jin : “Baseball dan mengajar sudah cukup membuatnya sibuk kalau dia harus mengurusimu juga aku takut kalau aku akan tersisih. Mulai besok aku akan mengencani wanita itu.”
“Ah keterlaluan sekali, menyebalkan!” bentak Meari.
Keesokan harinya Do Jin menemui Yi Soo di kafe dekat sekolah. Yi Soo merasa tak nyaman karena banyak siswanya yang melihat ia bersama seorang pria. Yi Soo tanya kenapa Do Jin datang ke tempat kerjanya. Do Jin bilang kalau kedatangannya untuk makan siang dengan Yi Soo dan juga sekalian untuk mengumumkan kalau sekarang Yi Soo sudah punya pacar. Apa ia harus pergi ke kentor (ruang guru) untuk mengatakannya. Yi Soo ngomel-ngomel apa Do Jin sudah gila datang ke tempat kerjanya.

Do Jin melihat siswa-siswa yang berlalu lalang, ia bertanya apa Yi Soo pernah mempertimabangkan untuk pindah mengajar ke sekolah lain. Misalnya ke sekolah khusus putri karena Yi Soo cukup terkenal diantara siswa laki-laki disini.
Beberapa siswa memperhatikan Yi Soo yang tengah berdua dengan seorang pria. Salah satu siswa berteriak, “Apa itu pacarnya guru? Guru benar-benar handal. Dewi Etika berkencan. Pacarnya sangat tampan!”

Yi Soo berusaha menutupi wajahnya karena malu, semua siswa mengerumuni melihat dari jendela. Piss.... Do Jin memberi salam pada semua siswa disana.
Yi Soo mengajak Do Jin pindah tempat. Ia berbalik memarahi siswa-siswanya, “Kalian semua. Siapa yang mengizinkan kalian keluar pada jam makan siang? Bukankah kalian harus kembali ke sekolah?”
“Guru pacarmu sangat tampan!” seru salah satu dari mereka.
“Kau anak laki-laki yang sangat jujur,” sahut Do Jin.
“Kami percayakan guru kami padamu!” seru mereka lagi.
“Ikut denganku!” Yi Soo membentak Do Jin.
Keduanya pindah kafe. Yi Soo terkejut mendengar apa yang dikatakan Do Jin. Ia meneguk minuman sodanya tanpa menggunakan sedotan karena saking kesalnya. Do Jin bergumam apa Yi Soo tak bisa sedikit lebih anggun karena sekarang ini kencan mereka yang pertama.

Yi Soo bilang tidak, karena ia baru saja mengakhiri cinta bertepuk sebelah tangannya. Ia berfikir akhirnya ia memiliki asmara merah jambu. Tapi kenapa Do Jin melakukan ini padanya. Apa Do Jin ingin ia mengawali cinta bertepuk sebelah tangannya lagi. Do Jin mengatakan kalau cinta bertepuk sebelah tangan Yi Soo tak pernah ditunjukkan untuknya hanya untuk Tae San.
Yi Soo kesal apa mungkin sekarang Do Jin sedang cemburu. Do Jin tanya kenapa, Memangnya pria tua yang biasa-biasa saja tak boleh memiliki hati seluas samudra. Yi Soo heran kenapa sekarang Do Jin mengatakan hal seperti ini, seharusnya Do Jin mengatakannya sebelum ia mengungkapkan perasaannya.

Do Jin menyebutkan permintannya. Petunjuk Cinta Bertepuk Sebelah Tangan.
1. Pikirkan aku sepanjang hari tanpa makan atau tidur.
2. Kalau aku tak menjawab teleponmu atau tak membalas SMS-mu terlukalah dan merasa gelisah.
3. Menunggulah disekitar kantor atau rumahku sambil berharap kau akan melihatku.
4. Ketika kau melihatku, tetaplah berada di kejauhan dan lihat aku dengan penuh perhatian dengan tatapan mesra.
5. Ketika aku bicara dengan wanita lain cemburulah dan rasakan seolah-olah kau ingin menabrakan mobilmu ke arahnya.
6. Kau harus mengumpulkan foto kelulusanku dari SD sampai SMA. Selipkan di dompetmu.
7. Beri aku kejutan dengan datang ke rumahku sampai aku merasa terharu.

Do Jin ingin Yi Soo merasakan apa yang ia rasakan dulu ketika cintanya bertepuk sebelah tangan pada Yi Soo dan untuk sementara petunjuknya itu dulu. Yi Soo tak habis pikir bagaimana kalau ia tak bisa melakukannya. Do Jin menganggap kalau Yi Soo menolak melakukan itu berarti Yi Soo setuju bepergian dengannya. Yi Soo kesal karena sekarang ia masih ada kelas. Ia kemudian menyadari sesuatu dan bertanya apa pembicraan Do Jin dengan Meari kemarin berjalan lancar. Do Jin memberi tahu kalau ia sudah mengatakannya sangat jelas pada Meari, “Jangan berkeliaran di sekitar wanitaku. Mulai sekarang waktu wanita itu akan menjadi milikku,” Yi Soo membentak kesal.
Di Mango Six Meari menerima telepon dari ibunya. Ia heran bukankah kakaknya yang tak menjawab telepon kenapa bertanya padanya. Ia mengatakan kalau kakaknya tak sibuk tapi mencoba menghindari ibunya. Siapa suruh ibunya mengungkit-ungkit masalah pernikahan. Menurutnya pacar kakaknya lah yang tak mau diajak menikah. Meari mengatakan kalau ia sedang berkerja dan cukup sibuk, ia memutus teleponnya.
Ada pelanggan datang Meari tersenyum menyambutnya tapi ketika tahu yang datang itu Yoon senyumnya pun menghilang. Yoon memesan Mango Banana dan Mango Coconut masing-masing satu. Ia memesan tanpa memandang Meari. Meari menatapnya penuh harap Yoon juga menatapnya. Tapi Yoon mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Meari berbalaik ke belakang untuk membuatkan pesanan dan tepat saat itu Yoon pun melirik ke arah Meari. Ketika Meari berbalik setelah membuatkan pesanan, Yoon pun kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Meari jelas kecewa Yoon sama sekali tak memandangnya. Ia memberikan pesanan Yoon. Yoon menerimanya dan terjadi tarik-tarikan minuman.
Meari ingin kenapa Yoon membeli dua gelas, apa yang satunya untuk Pengacara Kang. Yoon tak menjawab ia segera mengambil minumannya dan meninggalkan Mango Six untuk segera ke kantornya.
Di pintu keluar kafe Yoon berpapasan dengan staf-nya. Staf-nya mengatakan kalau ada klien yang menunggu di kantor. Yoon memberikan minuman yang ia beli tadi kepada staf-nya. Staf-nya heran tapi diterima juga, ia bertanya kenapa membeli dua gelas.

Yoon : “Satu gelas terlalu singkat, tiga gelas sedikit kejam. Karena itulah aku membeli dua gelas.”
Siapakah klien itu, Colin. Yoon terkejut melihat pemuda ini datang ke kantornya. Karena yang ia tahu Colin ini teman Meari. Colin menyapa dengan sopan dan berkata kalau keduanya sudah pernah bertemu sebelumnya, apa Yoon mengingatnya. Yoon menjawab ya.

Yoon bertanya apa keperluan Colin datang ke kantornya. Colin mengatakan kalau ia memerlukan masukan tentang beberapa masalahnya tapi ia tak mengenal seorang pun pengacara. Yoon menyahut kalau tempat ini bukan untuk konsultasi masalah cinta. Colin mengatakan kalau masalah ini mempunyai konsekuensi yang jauh lebih luas daripada masalah cinta.

Yoon malas menanggapi atau mungkin kesal karena cemburu, ia menyarankan agar mencari pengacara lain saja. Ia mengatakan kalau rata-rata tarifnya 50rb won perjam dan juga ia tak bisa memberi rekomendasi pengacara yang tepat dan ia tak menyediakan jasa konsultasi.
Colin tak mengindahkan ucapan Yoon, ia memberi tahu kalau ia memiliki seorang ayah. Lebih tepatnya ia memiliki dua ayah. Dan barulah Yoon mulai terhenyak kaget sekaligus penasaran.
Yoon : “Lalu?”
Colin : “Ayah kandungku tak tahu keberadaanku. Aku juga baru tahu beberapa waktu yang lalu. Tentu saja kami tak terdaftar dalam keluarga yang sama. Tapi kalau aku mengetuk pintu rumahnya, mengatakan padanya kalau aku putranya dan meminta melakukan tes DNA apakah aku ikut berhak atas semua kekayaannya? Atau aku harus menunggu sampai dia meninggal?”
Yoon di bar Jung Rok. Jung Rok melihat temannya ini sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Yoon tanya apa Jung Rok masih ingat pemuda yang mencari Meari di kafe. Jung Rok tentu saja ingat ia sudah bertemu dengan pemuda itu beberapa kali.

Yoon penasaran apa Meari dan pemuda itu terlihat dekat. Jung Rok heran cemburu seperti apa lagi ini jangan bilang kalau Meari sekarang diam-diam berkencan dengan anak itu, apa karena itu hatimu sakit. Yoon kesal kenapa Jung Rok menyulutkan kembang api kepadanya.
“Apa kau merasakan panasnya, teman?”
“Diam...” Yoon makin kesal.
Do Jin dan Tae San datang. Tae San tanya kenapa, apa membuat keributan lagi. Jung Rok berkata kalau ia memang selalu membuat keributan makanya ia selalu mendengar kata-kata seperti ‘diam’ atau ‘omong kosong’

Tae San melihat fasilitas bar dan bertanya apa Jung Rok tak ada rencana memasang layar karena sekarang sedang musim Baseball. Jung Rok menilai kalau layanan layar seperti itu merupakan layanan pelanggan sendiri. Kalau Tae San mau pasang saja sendiri.

Do Jin melihat-lihat menu dan bertanya apa Blue Cat berencana merekrutnya.
Tae San : “Sebagai apa? Bola?” (Hahaha)
“Pitcher.” kata Do Jin.
“Kau jadi pitcher?” Yoon tak percaya Do Jin akan bisa melakukannya. “Satu-satunya yang bisa kau lempar hanyalah gelas minuman.”

Tae San ingin tahu alasan Do Jin tiba-tiba ingin menjadi pitcher. Jung Rok mengatakan alasan Do Jin ingin ikut menjadi bagian Blue Cat tentu saja agar dia bisa melihat wajah wasit. Do Jin meminta Jung Rok diam, ia menyuruh Jung Rok mengambilkan Black Russian untuknya. Jung Rok segera akan melayani pelanggannya.
Ada seorang pria paruh baya berkunjung ke bar Jung Rok. Si pria ini langsung mengenali Jung Rok. Jung Rok heran siapa pria ini, ia benar-benar tak ingat. Do Jin pun bertanya pelan pada Yoon siapa pria itu.
Tae San melihat pria itu, ia jelas terkejut dan langsung menyembunyikan wajahnya. Ya Tae San mengenali pria itu. Ia menyuruh Do Jin dan Yoon agar menyembunyikan wajah supaya tak terlihat oleh pria itu. Do Jin dan Yoon bingung. Jung Rok berpura-pura mengenal pria itu dengan tatapan bingung dan berkata kalau pria itu banyak berubah sampai ia tak mengenalinya.
Pria itu juga mengenali Do Jin dan Yoon. Ia tak menyangka kalau mereka semua masih terlihat bersama. Do Jin bertanya apa Yoon mengenal pria itu. Yoon dengan tampang bingung menjawab tidak tapi sepertinya Tae San kenal. Tae San memberi kode yang tak dimengerti oleh Do Jin dan Yoon.
Tae San pura-pura bangun dari tidur. Pria paruh baya ini jelas mengenal Tae San, begitu juga sebaliknya. Tae San menjabat tangan dan berkata kalau sudah lama sekali tak bertemu.

“Kalian semua benar-benar tak berubah, aku sudah semakin tua kan? Bahkan putriku sudah kuliah.” Sahut Pria itu. Ketiga teman Tae San masih bingung siapa pria ini.

Tae San berkata kalau mereka berempat sedang sibuk dan masih ada janji di tempat lain. Ia mengajak teman-temannya segera pergi. Jung Rok bingung memangnya mau kemana. Do Jin dan Yoon juga bengong ada janji dengan siapa. Dan apa boleh buat untuk mengingatkan temannya Tae San kembali menjabat tangan pria ini dan menyebut namanya, “Jeong Suk. Na Jeong Suk.”
Kini ketiga teman Tae San langsung bisa mengenalinya bahkan terkejut tak menyangka. Apa yang membuat mereka begitu terkejut.
Gadis ini...
“Ahjussi bagaimana kalian bisa tahu ayahku?”
Hahahaha..... ini bapaknya si cewek yang mereka temui di bar di Episode 3

Na Jeong Suk tak menyangka bisa bertemu dengan mereka berempat. Ia bertanya apa mereka sudah menikah, ia mengajak mereka semua minum bersamanya. Ia akan memesan minumn tapi Jung Rok buru-buru merebut daftar menunya dan berkata kalau bar ini sangat mahal dan makanannya menjijikan pergi saja ke tempat lain. Jangan disini karena semua yang ada disini sangat jelek.

Na Jeong Suk melihat sekeliling, ia menilai kalau tempat ini cukup bagus. “Oh ya kalian belum pernah melihat putriku kan?” (hahah sudah kok Om)
Tae San memberi kode agar teman-temannya segera kabur dari sana dan mereka berempat pun lari ngibrit bahkan sebelum Na Jeong Suk memperlihatkan foto putrinya.
Se Ra merapikan pakaian yang ia jemur sementara Yi Soo melipat pakaian dalamnya. Yi Soo mendapat SMS dari Do Jin yang isinya tentang 7 petunjuk cinta bertepuk sebelah tangan. Yi Soo tersenyum membacanya.
Yi Soo melihat koleksi pakaian dalamnya yang menurutnya terkesan biasa, ada yang motif kucing juga tuh hihi...

Se Ra melihat tampang Yi Soo yang aneh, ia menebak kalau Yi Soo dan Do Jin pasti sedang berkencan. Ia menilai kalau pakaian dalam Yi Soo aneh. “Apa kau tak pernah memikirkan kapan, dimana dan tipe pria yang akan kau temui?” Se Ra menunjukan salah satu pakaian dalam Yi Soo.

“Apa kucing tak bagus?” tanya Yi Soo. Se Ra mengangguk. Tapi menurut Yi Soo mungkin saja ada laki-laki yang menyukai motif pakaian dalam seperti yang ia miliki.

Se Ra menjawab tentu saja, tapi Kim Do Jin bukan salah satunya. Ia meminta Yi Soo ganti baju. Ia akan mengajak Yi Soo ke suatu tempat.

Kemana keduanya pergi, Se Ra mengajak Yi Soo ke toko pakaian dalam. Hihi...
Tentu saja Yi Soo tetap memilih pakaian dalam yang biasanya. Se Ra mencibir pilihan Yi Soo, apa Do Jin menyukai yang seperti itu. Ia menunjukkan model pakaian dalam yang disukai Tae San.
“Memangnya laki-laki menyukai yang seperti itu?” tanya Yi Soo.
“Tak ada alasan untuk tak menyukainya. Yang dianggap seksi oleh pria bukan ketika kau tanpa pakaian sama sekali. Tapi ketika kau melepasnya.” Jelas Se Ra.
“Hei orang lain bisa mendengar kita,” ucap Yi Soo.
“Ini untuk kau dengar, tahu!” sahut Se Ra. Haha..
Se Ra menilai kalau beralih dari pakaian dalam yang bergambar kucing menjadi macan memang sedikit berlebihan. Ia meminta Yi Soo memilih salah satu dari yang ia pilihkan. Se Ra mengambilkan satu dan mengatakan kalau yang ini memiliki kesan mengundang. Yi Soo tak paham. Se Ra menyanyikan sebuah lagu sambil bergoyang.
Kalau Yi Soo menginginkan yang lebih seksi ada. Se Ra pun kembali menyanyi dan bergoyang sesuai dengan tema pakaian dalam yang ia pilih. Yi Soo tertawa dan ia mangambil satu pakaian dalam dan menyanyikan lagu berdasarkan pakaian dalam yang ia pilih.

(kalau boleh jujur suara Se Ra ketika menyanyi lebih bagus daripada Yi Soo hehe)
Setelah belanja pakaian dalam keduanya pulang dan di jalanan mereka menyanyi dan menari-nari. Tingkah keduanya kayak masih seperti anak muda.
Yoon memasukan baju ke lemari dan ia pun melihat kotak tempat ia menyimpan tas pemberian Meari. Yoon membuka kotaknya dan teringat ketika Meari baru kembali dari Amerika. Ketika bertemu dengannya Meari langsung memeluk dan mengatakan rindu padanya. Juga ketika Meari tiba-tiba menciumnya, ketika Meari menangis mengungkapkan perasaan ketika ulang tahunnya. Dan kejadian kemarin ketika Meari nekat menyebrang jalan hanya untuk menemuinya. Hati yoon bimbang.
Yoon menerima SMS dari Meari, ‘Sudah malam terakhir di bulan Juni’
Yoon akan membalas SMS ke Meari, ‘Ini adalah satu-satunya cara kita bisa berbicara..’

Tapi Yoon mengurungkan niatnya dan menghapus kembali tulisan yang sudah ia ketik. Ia pun menelepon Meari meminta bertemu. Dari suara yang didengar jelas Meari senang bukan main.
Keduanya bertemu di sebuah kafe. Meari jelas senang bisa janjian dengan Yoon. Ia penasaran apa yang ingin Yoon bicarakan. Ia datang ke tempat ini secepat yang ia bisa.

Yoon menyampaikan sepertinya ia belum memperlakukan Meari layaknya seseorang yang berumur 24 tahun. Ia mendengar di Amerika Meari mempelajari bisnis. Ia bertanya apa Meari lulus. Meari menjawab kalau ia berhenti ditengah jalan. Ia ingin membuat tas dan juga merindukan Yoon. Ia ingin belajar desain tapi itu memakan waktu yang sangat lama. Ia heran kenapa Yoon bertanya padanya tentang semua ini.

Yoon : “Karena hal seperti itulah yang seharusnya kubicarakan dengan seseorang yang berumur 24 tahun. Im Meari kau tak memiliki mimpi sama sekali? Saat ini selain mengejarku, kau tak melakukan hal lain kan?”

Meari terdiam, ia sadar kemana arah pembicaraan Yoon.
Yoon : “Kau bilang kau ingin membuat tas, bagaimana kau mencapainya kalau kau tak berusaha sama sekali? Orang-orang yang seumuran denganmu dengan mimpi yang sama. Semuanya sibuk mengikuti tes bahasa inggris, menghadiri pameran, mencoba masuk ke perusahaan besar, menyibukan diri. Tapi apa yang kau lakukan sekarang?”

“‘Jangan menelponku’ ‘jangan menyukaiku’ aku berfikir aku akan mendengar kata-kata seperti itu. Bahkan kalau kakak mengatakan kata-kata seperti itu, aku tetap ingin melihat kakak sekali lagi. Siapa bilang aku tak punya mimpi? Aku juga punya. Tapi bagiku, Kakak lebih penting daripada itu. Aku menunggu kakak lebih lama daripada yang lain. Menjadi seorang desainer adalah mimpiku. Kakak adalah takdirku, tapi takdir itu terus bersembunyi dariku.” tanpa terasa air mata Meari menetes deras.

Yoon berkata kalau cinta memang penting, tapi apakah hanya itu yang menjadi tujuan hidup Meari. Kalau sudah ditakdirkan Meari tak bisa bersembunyi dari cinta. Jadi jangan buang-buang waktu lagi untuknya. Fokus saja pada diri Meari sendiri.
Yoon pamit meninggalkan Meari sendirian dengan tangis yang kian menjadi.
Hari hujan, Tae San menemukan adiknya tertidur di depan rumah. Ia hanya bisa menarik nafas panjang melihat tingkah adiknya. “Andai saja aku bisa memukulmu aku pasti sudah melakuannya. Aku bahkan tak bisa menggundulimu karena itu akan membuatmu menjadi jelek. Benar-benar membuatku gila.”
Di Hwa Dam, Do Jin dan Tae San membicarakan proyek mereka. Mereka memutuskan untuk memeriksa lokasinya minggu depan. Do Jin mengucapkan selamat melakukan perjalanan peninjauan pada Tae San. Ia bergumam kenapa akhir-akhir ini ia kurang enak badan. “Kepalaku sakit perutku juga sakit.”
Tae San tahu kalau Do Jin cuma mencari alasan saja. Bukankah waktu itu Do Jin sudah cuti sakit. Do Jin kesal ia mengatakan kalau Tae San sudah berkencan selama 2 tahun sedangkan dirinya baru 2 hari. Akhir minggu ini sangat penting untuknya. Tae San mengatakan kalau wanita bisa menunggu Do Jin sebanyak 3 kali. Tapi klien tak mau menunggu walaupun itu 3 menit saja. Tae San akan pergi ke lokasi sekarang ia meminta Do Jin mampir ke rumah Se Ra.

Do Jin melihat jam tangannya dan merasa heran kenapa tak ada kabar dari wanita itu (Yi Soo)
Yi Soo menyusuri jalanan dengan senyum sumringah. Ia berpapasan dengan sepasang kekasih dan si wanita itu menata rambutnya dengan disanggul. Yi Soo pun mengikuti gaya rambut si wanita.
Ia juga berpapasan dengan sepasang kekasih lain dan kali ini si wanita mengepang dua rambutnya. Yi Soo pun mengikuti gayanya.
Yi Soo tersenyum malu-malu tapi akhirnya ia memutuskan untuk tetap pada gayanya. Membuat rambutnya tergerai.
Do Jin mendapat laporan dari Manajer Choi tentang rancangan proyek mereka. Manajer Choi berjanji kalau ia akan menyelesaikan dan menyerahkannya minggu depan. Do Jin menyuruh Manajer Choi kembali bekerja.

Do Jin mendapat SMS dari Yi Soo, ‘Agar aku bisa melihatmu dari kejauhan. Aku harus berdiri berapa jauh?’
Do Jin berbalik dan melihat Yi Soo ada di depan kantor Hwa Dam. Keduanya saling melempar senyum. Do Jin menelepon Yi Soo dan menyuruh Yi Soo mundur dua langkah ke arah jam 7. Yi Soo melakukan arahan Do Jin.

Yi Soo tanya apa sekarang ia terlihat seperti wanita aneh. Do Jin menjawab kalau Yi Soo lebih terlihat seperti seorang wanita yang telah terpikat olehnya. Yi Soo tertawa.

Do Jin : “Apa yang kau pikirkan tentangku sekarang ketika melihatku dari kejauhan?”
Yi Soo : “Dari kejauhan sedikit... tampan,”
Do Jin : “Tentu saja. Karena ini gaya khasku. Kemarilah, aku akan kelihatan lebih tampan dari dekat. Dan akan sulit untuk bernafas kalau kau melihat terlalu dekat.”
Yi Soo langsung masuk ke ruangan Do Jin. Disana Do Jin sedang menerima laporan dari staf wanitanya. Do Jin sibuk menanggapi laporan tapi disela-sela itu ia bertanya apa mencari Tae San. Yi Soo kaget tak mengerti maksud Do Jin.
Do Jin kembali mengatakan pada stafnya tentang desain dan kembali disela-sela obrolannya dengan staf ia bertanya, “Apa yang kau lakukan? Aku menunggumu.”

Yi Soo bingung, untuk apa. Cemburu ucap Do Jin tak bersuara hanya menampilkan mimik wajahnya. Ternyata Do Jin ingin Yi Soo cemburu ketika ia dekat-dekat dengan wanita. Staf Do Jin terkekeh dengan tingkah Presdirnya.
Staf Do Jin menyapa Yi Soo dan mengatakan kalau semua Staf sudah mendengar banyak cerita tentang Yi Soo karena Presdir-nya sendiri yang sudah menyebarkan berita kalau dia tengah berpacaran. Staf Do Jin sadar kalau dia sudah keceplosan bicara, ia bilang kalau ia tak pernah memberi tahu siapapun.

Do Jin : “Kenapa tidak? Aku-lah yang menyebarkannya. Sekarang karena beritanya sudah menyebar, aku bisa pulang lebih awal. Kalian semua memiliki hubungan dengan rekan kantor bahkan ada dokumentasi saat kalian bermain-main di tangga.”

Staf Do Jin malu dan permisi keluar hahaha... berarti Staf-nya banyak yang cinlok di kantor ya hahaha.
Do Jin berjalan ke arah Yi Soo. Yi Soo spontan mundur mengira Do Jin akan berbuat macam-macam padanya, “Apa kau gila? Keterlaluan. Ini di kantor.” Tapi ternyata Do Jin cuma mau mengambil tas yang ada di kursi.

Yi Soo tanya Do Jin belum mau pulang kerja kan. Do Jin balik bertanya apa yang harus mereka lakukan apa Yi Soo mau bermain cupang di tangga. Yi Soo menutup wajahnya karena malu dan langsung ngibrit keluar duluan.
Tae San dan Se Ra belanja bahan makanan di swalayan. Tae San memilih-milih wortel ia ingin tahu labih bagus wortel yang ujungnya lancip atau bulat. Tapi menurut Se Ra yang bagus itu yang sudah dicuci.

Tae San tanya apa Se Ra tak bosan terus-menerus makan di luar. Se Ra ternyata orang yang malas untuk yang namanya mencuci, memasak, bersih-besih, katanya semua itu melelahkan.
Se Ra berjalan lebih dulu, tapi arah jalan Se Ra terhalang oleh beberapa anak kecil dan troly belanjaan milik ibu-ibu. Dilihat dari reaksi tubuh Se Ra sepertinya ia kesal. Sebel sama anak kecil. Tae San terus memperhatikannya.
Sesampai di rumah Se Ra dan Tae San menyiapkan makanan, keduanya memasak bersama. Se Ra ingin tahu jam berapa Do Jin dan Yi Soo sampai. Tae San mengatakan sebentar lagi. Ia menyuruh Se Ra menambahkan minyak lalu dipanaskan. Se Ra mengerti dan segera mengerjakannya.

Tae San ingin mengatakan sesuatu tapi ia tak tahu memulainya dari mana. Ia mengatakan kalau ibunya ingin bertemu dengan Se Ra, ia pun bertanya kapan Se Ra memiliki waktu luang. Se Ra jelas terkejut mendengarnya. Ia menolak bertemu ibu Tae San.

Tae San merasa pembicaraan ini sangat penting ia pun mematikan kompor dan meminta Se Ra untuk duduk.
Tae San menanyakan apa Se Ra tak pernah berfikir untuk menikah dengannya. Se Ra balik bertanya kenapa Tae San tiba-tiba bicara tentang pernikahan. Tae San mengatakan bukankah Se Ra tahu kalau dirinya itu putra sulung. Ia kembali bertanya apa Se Ra benar-benat tak pernah berfikir untuk menikah dengannya.

Se Ra mengatakan kalau ia menyukai Tae San tapi pernikahan terlalu biasa untuknya. Tae San menyela kalau usia mereka malah sudah pantas untuk menikah yang kedua kalinya. Se Ra menyahut kalau itu untuk orang-orang pada umumnya tapi ia tak mau. “Kalau aku menikah bagaimana dengan karir olahragaku?”

Tae San tak masalah Se Ra bisa melanjutkan karir olahraga setelah menikah. “Kenapa kau bertingkah seolah-olah dunia akan kiamat kalau kau menikah?”

Se Ra berkata kalau karir golfnya akan berakhir begitu ia punya anak. “Kenapa kau mengatakan dunia akan kiamat? Apa kau pikir aku masih 25 tahun?”
Tae San kesal ini sungguh keterlaluan, saat ini ia benar-benar tak tahu harus mengatakan apa, “Kau benar-benar membuatku gila.”

Tae San kecewa dan meminta Se Ra memberi tahu Do Jin dan Yi Soo kalau pesta hari ini batal. Ia meninggikan suaranya kenapa Se Ra begitu membenci pernikahan. Suara Se Ra tak kalah tinggi, ia mengatakan kalau ia memang membenci pernikahan baginya membuat keputusan juga sulit. Tae San menawarkan kalau ia akan membantu Se Ra kelak.

Se Ra : “Memangnya kau yang melahirkan? Kau anak sulung kan? Sekarang kau bicara pernikahan, bukankah itu sama saja dengan meminta cucu?”
Tae San : “Benarkah itu satu-satunya alasanmu?”
Se Ra : “Apa maksudmu?”
Tae San : “Apa bukan karena kau masih ingin bermain-main? Bagiku ini kedengarannya seperti alasan yang dibuat-buat. Aku tanya padamu, apa kau masih belum puas berpesta pora?”

Se Ra mengingatkan bukankah ketika mereka berdua memulai pacaran ia sudah mengatakan pada Tae San jangan penah bertanya tentang pernikahan. Tae San paham jadi maksud Se Ra sejak awal pacaran dengannya itu hanya sekedar untuk bersenang-senang kemudian putus. Se Ra membenarkan dan pastinya ada lebih dari satu alasan ketika ia membuat keputusan. “Baiklah kalau begitu kita cukupkan sampai disini. Kita putus!” ucap Se Ra kesal.

“Baik. Lagi pula kalau aku ingin menikah aku tak akan memilihmu!” Tae San melepas celemek yang ia kenakan dan membantingnya kemudian meninggalkan Se Ra sendirian di rumah dengan penuh amarah.

Se Ra menangis marah, ia menerima telepon dari temannya yang mengajak minum bersama. Se Ra tentu saja mau ia ingin melampiaskan kekesalannya dengan minum sebanyak-banyaknya.
Do Jin dan Yi Soo berada di dalam mobil. Sesekali Do Jin melirik ke arah Yi Soo yang dari tadi hanya tersenyum diam. Ia menilai kalau Yi Soo lebih sabar dari perkiraannnya, menyukainya seperti ini bagaimana mungkin Yi Soo bisa menahannya begitu lama.

Yi Soo mengangkat bahu dan mengatakan kalau cintanya pada Do Jin tak pernah berada pada pilihan antara hidup dan mati. Do Jin ikut-ikutan mengangkat bahu, bagaimana mungkin?

Yi Soo ingin tahu sekarang mereka berdua mau kemana. Do Jin menjawab ke rumah. Yi Soo bertanya ke rumah siapa. Do Jin balik bertanya memangnya ada rumah lain yang ingin Yi Soo tuju, apa Yi Soo mau pergi ke rumah Tae San. Yi Soo mendelik kesal. Do Jin kembali bertanya kalau begitu apa Yi Soo mau bepergian dengannya.

Do Jin memberi tahu kalau hari ini pesta peresmian bar rumah Se Ra. Sebagai teman serumah kenapa Yi Soo tak tahu, kalau Yi Soo tak mau menghadirinya lebih baik bepergian saja dengannya. Yi Soo jelas tak mau bepergian.
Yi Soo minta ijin bolehkah ia menyalakan musik. Ia akan menyalakan radio mobil tapi Do Jin melarang. Do Jin yang akan menyalakannya. “Betty-ku belum mengizinkanmu menyentuh tubuhnya!”
“Kau menyukai Betty atau aku?” Tanya Yi Soo kesal.

Do Jin tak tahu bagaimana menjawabnya, ia serba salah dan mengalihkan ke pembicaraan lain.
“Kau menyukai Betty atau aku?” Yi Soo tambah kesal.
“Aku akan menjawabnya setelah kita keluar dari mobil.”
“Kenapa?”
“Betty akan mendengarnya,” sahut Do Jin pelan.
Hahaha...
Keduanya sampai di rumah, tapi suasana rumah sepi tak ada orang. Yi Soo mengira Do Jin berbohong. Tapi Do Jin mengatakan kalau ia tak bohong dan menunjukan di dapur ada bahan makanan yang berserakan. Do Jin menebak sepertinya terjadi sesuatu sampai mereka berhenti memasak. Ia menebak Se Ra dan Tae San pasti bertengkar. Yi Soo tak percaya tapi Do Jin meyakinkan kalau mereka memang pasangan yang seperti itu.
Untuk memastikannya Yi Soo berniat menelepon Se Ra. Belum sempat Yi Soo menelepon Tae San mengirim SMS pada Do Jin memberitahukan kalau makan malam bersamanya batal. Do Jin pun mengajak Yi Soo menyelesaikan bahan makanan yang belum dimasak. Yi Soo masih tak yakin kalau Se Ra dan Tae San bertengkar.

Do Jin melepas jaket dan menaruhnya di kursi tapi Yi Soo menyuruh Do Jin menaruh jaket di kamarnya saja kalau ditaruh di dapur takut bau. Do Jin mengerti dan segera menaruh jaketnya di kamar Yi Soo.
Yi Soo akan memakai celemeknya tapi ia menyadari satu hal dan ia kaget setengah mati. Ia bergegas ke kamarnya.
Dengan wajah penasaran Do Jin melihat 5 pasang pakaian dalam Yi Soo yang terjejer di tempat tidur. hahaha... ia mengamatinya satu demi satu.
Yi Soo tentu saja panik dan segera menutupi ke 5 pasang pakaian dalamnya dengan selimut, “Kenapa kau memandangai pakaian dalam orang lain?”
“Kau membentangkannya, apa bukan karena ingin kupilihkan?”
Yi Soo mendorong Do Jin agar cepat keluar. Do Jin mengatakan kalau itu ukurannya tidak pas ia melihat kalau ukurannya terlalu besar. Yi Soo menjelaskan kalau ukurannya memang segitu bagaimana bisa tidak pas. Yi Soo terus mendorong Do Jin supaya keluar dari kamarnya.

Do Jin memberi tahu kalau ia tidak terlalu suka yang belakangnya bersilangan atau yang bentuk selempangan, itu sangat mengganggu. Yi Soo makin panik dan menaboki Do Jin menyuruh cepat keluar.
“Tapi kenapa kau membeli lima?”
“Aku hanya kebetulan saja membelinya,” kata Yi Soo menjawab seadanya supaya Do Jin cepat keluar dari kamarnya.
Yi Soo menyuruh Do Jin lebih baik membersihkan meja saja dan juga kalau nanti Do Jin mencampuri kehidupan pribadinya lebih baik Do Jin berhati-hati. Yi Soo juga memperingatkan ia minta Do Jin menghentikan perilaku Do Jin yang seperti itu.
Do Jin mengunci tubuh Yi Soo di meja dapur sambil memandangnya tajam, “Aku paling suka yang nomor 3 dari bra yang baru saja kita lihat,”
“Dari kiri atau kanan?” tanya Yi Soo.
“Semuanya ada lima,” sahut Do Jin (yang ditengah dong haha)

Yi Soo malu tapi ia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan kalau ia lapar. Hahaha
Keduanya pun makan bersama. Sepertinya Do Jin tak menyukai wortel, ia menyingkirkannya. Do Jin menyahut kalau ini pertama kalinya mereka makan bersama. Yi Soo membenarkan sambil memperhatikan dan berkata sepertinya Do Jin pilih-pilih makanan kenapa wortelnya tak dimakan.

“Apa karena aku belum dewasa?” Sahut Do Jin. Yi Soo tertawa dan beralih memandang pena recorder yang ada di saku baju Do Jin. Yi Soo merasa sepertinya semua masa lalu Do Jin tersimpan disana kata Yi Soo sambil memandang pena recorder. Do Jin meralatnya ia mengatakan kalau lebih tepatnya tersimpan di komputer, ia selalu memindahkannya setiap hari.

Yi Soo memberi tahu kalau ia sudah mendengar tentang ‘Rahasia Kehidupan Pribadi Kim Do Jin’ yang ada di laptop itu benar-benar dunia yang tak ia mengerti. Do Jin menyahut bukankah sangat jorok dan menarik. Yi Soo kembali tertawa dan berfikir kalau ia mengencani pria ini pasti akan sangat jorok dan menarik.

Yi Soo : “Tak peduli apakah aku tahu atau aku tak tahu. Apakah di depanku atau di belakangku terima kasih karena sudah menyukaiku.”
Do Jin menggunakan kesempatan ngobrol ini untuk menanyakan kenapa Yi Soo menyukai Tae San. Yi Soo tak mau membahasnya ia mengalihkannya dengan mengatakan ia penasaran bagaimana kabar Eun Jae. Ia melihat kalau Eun Jae terlihat muda dan bertanya berapa usianya.

Do Jin berkata kalau perkembangannya sangat cepat, menggunakan masa lalunya untuk memperjuangkan kasih sayangnya tapi Yi Soo berpura-pura cuek. Ia merasa Yi Soo benar-benar melakukan tiga hal sekaligus. Yi Soo menanyakan memangnya memiliki banyak wanita layak untuk dipamerkan. Do Jin menjawab ya dan menurutnya itu bukan sesuatu yang memalukan. Kalau tak begitu apa yang harus ia lakukan, bukankah Yi Soo juga mengejarnya.

Yi Soo meninggikan suaranya kembali bertanya berapa usia Eun Jae. Do Jin menjawab kalau dia lebih muda dari Yi Soo, seorang mahasiswa pascasarjana. Yi Soo tanya lagi siapa nama belakangnya (nama keluarga), “Eun Jae siapa?”
“Sexy Eun Jae,” sahut Do Jin hehe.

Yi Soo kesal mendengarnya. Do Jin bertanya kenapa Yi Soo ingin tahu soal itu. Yi Soo mengatakan kalau wanita sangat wajar jika penasaran dengan hal-hal semacam itu. Do Jin mmberi tahu nama belakang Eun Jae itu Kim. Jadi namanya Kim Eun Jae. Yi Soo menilai nama itu terdengar sangat umum.

Do Jin mengusulkan apa mungkin sebaiknya ia memberikan daftar nama mantan pacarnya pada Yi Soo. Yi Soo tambah kesal meminta Do Jin melupkan saja apa yang ia tanyakan dan sekarang lebih baik Do Jin pergi. Do Jin tanya kemana apa bepergian. Yi Soo mengeraskan suara meminta Do Jin pulang, bukankah keduanya sudah selesai makan. Ia makin kesal karna Do Jin pilih-pilih makanan.
Yi Soo membuka pintu agar Do Jin cepat pergi. “Pulanglah! Hati-hati di jalan dan sampai bertemu dimusim mendatang.”
Do Jin heran kenapa Yi Soo tiba-tiba marah. Ia menadapt SMS, ‘119 gawat darurat’
Tae San melamun di kamarnya ia memandang ponsel dan rancangannya. Ia bergumam bahwa ia akan bertahan sampi akhir.

Tiba-tiba Meari masuk ke kamarnya bertolak pinggang marah. Kenapa kakaknya selalu menghindari telepon ibunya smpai-sampai ibu memintanya untuk menangkap kakaknya dan memastikan kakaknya akan menelepon ibunya. Meari menghubungkan teleponnya ke ibunya. Tapi Tae San malah mematikannya.

Tae San meminta Meari mengatakan pada ibu kalau ia sedang dalam perjalanan bisnis di belahan dunia lain. Chili, Peru, Brazil atau tempat yang seperti itu.
Meari kesal kenapa. Tae San memohon Meari melakukan apa yang dikatakannya, ia tahu kalau ibu menginginkannya segera menikah. Meari menawarkan kalau kakaknya bertingkah seperti ini lebih baik ia saja yang duluan menikah.

Tae San jelas tak mau, “Apa kau pikir aku menghabiskan biaya sekolahmu di luar negeri hanya agar kau menjadi ahjumma di usia 24 tahun?”

Meari juga kesal ia mengingatkan kakaknya jangan biarkan ibu meneleponnya lagi. Kalau ibu meneleponnya lagi ia mengancam akan membuka rahasia Se Ra. Tae San mendapat SMS yang sama seperti yang diterima Do Jin, ‘119 gawat darurat’
Keempatnya berkumpul di rumah Do Jin. Yoon menyampaikan kalau Min Suk ingin datang ke kantornya dengan membawa stempel. Tae San bertanya apa Min Suk masih ingin mengakhiri kontrak sewa gedung. Yoon berkata bukan tentang sewa gedung tapi ingin mengakhiri pernikahan. Ia baru saja menerima pemberitahuan itu dari Min Suk.

Yoon merasa kali ini tampak sangat aneh jika dibandingkan dengan 2-3 kali permintaan cerai yang Min Suk ajukan setiap tahunnya, ada perbedaan yang sangat mencolok. Jung Rok menyahut kalau berita pengajuan cerai istrinya bukan hal yang baru, ia menilai teman-temannya ini terlalu melebih-lebihkan.
Ketiganya jelas kesal Jung Rok bersikap santai. Tae San berkata bukankah Yoon bilang ada perbedaan yang sangat mencolok apa Jung Rok bener-benar tak berencana menghabiskan hidup dengan Min Suk.
Jung Rok : “Lalu dengan siapa lagi?”
Tae San : “Bukan begitu, aku bertanya apakah kau mencintai Min Suk?”

Jung Rok menjawab tentu saja, ia berkata kalau ia hanya minum teh dengan wanita lain. Ia tak tidur dengan mereka atau membelikan mereka rumah. Do Jin membenarkan apa yang dikatakan Jung Rok. Yoon menyela benar apanya, lalu kemana Jung Rok ketika berbohong pada mereka waktu itu. Jung Rok berkata kalau ia hanya menyelesaikan beberapa masalah. Tae San tanya masalah apa, ia menebak apa masalah Baek Hae Joo. Jung Rok tertawa mengatakan kalau itu sudah lama berlalu. Yoon menebak apa masalah Presdir Kang.

Jung Rok meyakinkan kalau bukan tentang masalah itu. Ini hanya masalah wanita, bukan tentang kencan atau perselingkuhan juga bukan berhubungan dengan wanita simpanan. Ia tak bisa memberi tahu lebih lanjut mengenai ini. Tae San bergumam kesal masalah Se Ra saja susah membuatnya pusing. Ia ingin tahu apa yang akan Jung Rok lakukan selanjutnya. Jung Rok berfikir tentang apa yang akan ia rencanakan untuk menghambat Min Suk mengajukan gugatan cerai.
Yi Soo menunggu kabar dari Do Jin. Ia mengira-ngira apa telah terjadi sesuatu, paling tidak seharusnya ia bertanya. Yi Soo menebak Do Jin tak akan menemui Kim Eun Jae itu kan.
Yi Soo pun berusaha mencari tahu siapa itu Eun Jae lewat Facebook hehehe. Tapi banyak yang namanya Kim Eun Jae. Kalau saja namanya jarang dimiliki pasti akan mudah menemukannya. Ia pun kesal dengan yang dilakukannya dan melanjutkan pekarjannya. Membuat soal ujian.

Ada yang menelepon Yi Soo. “Apakah anda wali dari Kim Dong Hyub.” Yi Soo kesal ulah apa lagi yang dilakukan anak itu. Si penelpon mengatakan kalau ia dari rumah sakit.
Yi Soo bergegas ke rumah sakit dan mendapati Dong Hyub terbaring penuh luka. Yi Soo panik dan bertanya kenapa Dong Hyub bisa babak belur seperti ini, apa kecelakaan mobil? Bagaimana bisa? Mana yang terluka?

Dong Hyub meminta gurunya lebih baik bertanya pada dokter saja. Yi Soo kembali bertanya apa yang terjadi, berkelahi dengan siapa lagi?
Perawat datang dan bertanya apa Yi Soo wali dari Kim Dong Hyub. Yi Soo membenarkan ia bertanya apa yang terjadi dengan Dong Hyub apa lukanya parah. Perawat mengatakan kalau ia sudah menyelesaikan perawatannya, tapi Yi Soo harus memutuskan siapa yang akan membayar tagihannya karena orang itu tak mau membayarnya.
Ada seorang wanita masuk dan marah-marah pada Dong Hyub, “Hei bukankah kau hanya mengantarkan saja kenapa kau membuat dirimu sendiri mengalami kecelakaan? Bagaimana dengan motornya? Kau benar-benar pengacau. Ini terjadi karena kelalaianmu sendiri. Jadi kau urus saja sendiri. Aku tak akan membayar tagihan pengobatannya dan biaya perbaikan motor akan kuambil dari gajimu. Mengerti?”

Dong Hyub : “Kenapa anda setega itu?”

“Memangnya aku yang mendorong dan menyebabkanmu mengalami kecelakaan? Apa aku yang mendorongmu? Jangan pernah menghubungiku lagi.” Ucap wanita itu kasar. Kini Yi Soo pun paham apa yang terjadi dan wanita ini adalah bos Dong Hyub tempat Dong Hyub kerja paruh waktu.
Yi Soo ingin bicara sebentar dengan wanita itu. Ia mengatakan kalau ia paham wanita itu pasti seorang Bos yang menjalankan bisnis di Korea. “Kelihatnnya anak ini bekerja sebagai juru antar di toko Anda.”

“Lalu kenapa?” tanya wanita itu judes.

Yi Soo : “Apa anda tahu kalau hukum melarang mempekerjakan anak dibawah umur? Siswaku usianya dibawah 18 tahun, apa anda tahu? Menjadwalkannya bekerja di malam hari sudahkah anda meminta persetujuannya? Gajinya harus ditambah 50%. Apakah anda sudah membayarnya? Diluar sekolah dia tak boleh bekerja lebih dari 7 jam. Apakah itu sudah anda penuhi? Apakah sepeda motor anda diasuransikan?”

“Kau ini siapa?” tanya wanita itu meninggikan suaranya. “Siapa kau berlagak tahu segalanya.”
“Dia waliku,” jelas Dong Hyub.

Yi Soo mengatakan kalau ia wali kelas Dong Hyub, “Sudahkah anda mendengar apa yang kukatakan tadi? Jika anda tak mendapat persetujuan dari karyawan anda dendanya akan sangat tinggi.”
“Jadi kau seorang guru,” ucap wanita itu memelankan suaranya. “Yang harus kulakukan hanya membyar tagihan pengobatannya kan?”

Yi Soo : “Anda tentu saja harus membayar tagihan pengobatannya. Tapi bagaimanapun, aku akan tetap melaporkan kasus ini ke polisi.”
Yi Soo meminta Dong Hyub memberitahunya bagaimana menghubungi orang tua Dong Hyub. Bos Dong Hyub jelas tak mau membawa masalah ini ke polisi, ia menyela obrolan Yi Soo dengan Dong Hyub. Yi Soo berkata bukankah wanita ini melihat kalau ia sedang bicara dengan muridnya. Si wanita langsung mengerti dan segera pergi.

Dong Hyub senang dengan apa yang dilakukan gurunya, karena itu ia menyukai gurunya. Yi Soo memarahi Dong Hyub meminta berhenti bicara omong kosong, bukankah Dong Hyub bilang akan mengikuti kursus, karena itulah ia tak pernah menyuruh Dong Hyub mengikuti kelas malam. Ia meminta Dong Hyub memberikan nomor telepon orang tua Dong Hyub.

Dengan suara pelan Dong Hyub berkata kalau ia tak pernah memberi tahu kalau ia sudah tak memiliki orang tua. Ibunya meninggalkan rumah ketika ia masih SMS. Sedangkan Ayahnya pasti sedang mabuk-mabukan entah dimana.

Dong Hyub tertawa miris meminta gurunya menjadi walinya hari ini. Yi Soo ingin ada timbal balik, sebagai balasannya apa yang akan Dong Hyub lakukan untuknya.

Dong Hyub : “Bagaimana mungkin seorang guru meminta sesuatu kepada muridnya?”

Yi Soo berharap murid dari kelasnya bisa memperoleh nilai yang bagus. Kalau tak bisa setidaknya mereka memiliki sifat yang baik, ia berharap semua orang bisa bahagia, memiliki mimpi. Ia juga berharap semua orang percaya bahwa dengan usaha mereka bisa meraih apa saja. Ia berharap mereka tak akan menyalahkan kelemahan mereka atas kegagalan mereka dengan sibuk bermain main dan menjadikan masa muda mereka sia-sia dengan melakukan kenakalan remaja. “Diantara semua itu, mana yang akan kau lakukan untukku?”

Dong Hyub bilang kalau ia akan memikirkannya. Yi Soo berkata kalau Dong Hyub sudah berjanji. Dong hyub tak ingin membahasnya ia ingin memikirkannya lebih dalam ia beralasan mau tidur karena lelah dan segera memiringkan tubuhnya.
Di kantor Yoon di gedung yang sama dengan kafe Mango Six. Jung Rok bertanya apa maksud temannya, kalau bukan ketiga temannya yang membantu membujuk istrinya lalu siapa lagi. Seperti sebelumnya, ia hanya perlu menulis surat perjanjian kalau ia berjanji hal itu tak akan terjadi lagi, bukankah itu cukup.

Ketiga temannya diam, Jung Rok tak habis pikir kenapa ketiganya jadi seperti ini. Apakah ia harus benar-benar bercerai. Kalau ia bercerai ketiga temannya mungkin akan ditendang dari gedung kantor yang ditempati dan kalian juga akan mengalami kerugian.

Min Suk datang dan mendengar yang keempatnya bicarakan.

Tae San meminta Jung Rok berfikir apa sebelumnya mereka menolong Jung Rok hanya gara-gara gedung kantor. Sebenarnya semua akan beres kalau mereka pindah dari gedung kantor itu, mereka hanya perlu membayar tambahan 2jt won untuk biaya sewa lalu bisa hidup damai selamanya. “Tapi setiap waktu dengan mengubah kehidupan seorang wanita akan mempengaruhi nasib sahabat kami karena itulah sebelumnya kami selalu berada dipihakmu. Sekarang sudah saatnya kau berubah!”

Jung Rok berkata bagaimana mungkin ia berubah, Apa yang harus diubah, karena inilah dirinya bukankah ketiga temannya ini tahu.”

Yoon jelas tak menyangka kalau ternyata ia sendiri yang akan mengurus proses perceraian Jung Rok, “Walaupun kadang-kadang kami menjadi alibimu untuk keuntungan kami sendiri, tapi apa hanya untuk itukah kami melakukannya? Kami dengan tulus berharap kalau kau dan istrimu akan bahagia bersama-sama.”
Jung Rok kecewa apa ketiga temannya ini sungguh-sungguh apa menurut temannya ia tak murah hati. Apa ketiganya benar-benar ingin melihatnya bercerai. Ketiga temannya diam. Jung Rok melihat Do Jin yang dari tadi diam saja.

Do Jin : “Apa kau ingin aku bicara jujur? Kalau bukan karena mereka berdua (Tae San dan Yoon) aku sudah memutuskan persahabatan kita sejak dulu. Kau sudah melampaui batas pertolongan kami.”

Jung Rok merasa Do Jin sangat tega mengaluarkan kata-kata yang menyakitkan itu. Tae San bertanya selama sepuluh tahun pernikahan Jung Rok dengan Min Suk berapa hari Jung Rok tak membuat Min Suk sedih, karena mereka bertiga teman Jung Rok maka mereka memahaminya tapi sekarang walaupun Jung Rok temannya mereka tak bisa membenarkan lagi.
Yoon menyampaikan kalau Hwa Dam dan Myung Yu sudah memutuskan untuk pindah dari gedung milik Min Suk. Jung Rok kaget dan menilai ketiga temannya sungguh keterlaluan. Yoon meminta ketiga temannya segera pergi karena sebentar lagi Min Suk akan datang.

Jung Rok meyakinkan Yoon kalau ia masih mencintai Park Min Suk dan perasannya tak pernah berubah. Walaupun mulai hari ini ia akan kehilangan Yoon juga, tapi ia memohon Yoon menolong untuk yang terakhir kalinya sebagai teman. Jung Rok memohon Yoon membatu membujuk istrinya. Ia tak bisa hidup tanpa Min Suk. Siapa lagi yang mau menerima pria brengsek seperti dirinya, ia tak bisa kehilangan istrinya.
Yoon tak bisa berbuat banyak, kedua teman yang lain juga hanya bisa diam dan Park Min Suk mendengar semua pembicaraan mereka.
Jung Rok duduk melamun di kafenya memikirkan semua yang akan terjadi kalau benar istrinya akan mengajukan gugatan cerai terhadapnya. Tepat saat itu ketiga temannya datang.

Jung Rok berdiri menatap pasrah ketiga temannya, tatapannya sendu tapi lama kelamaan ada tawa tersungging di bibirnya. Ia berteriak senang memeluk ketiga sahabatnya bergantian.
Jung Rok memberikan tepuk tangan untuk ketiganya dan berkata kalau akting ketiga temannya sangat menakjubkan (Lha jadi tadi cuma akting doank ya hahaha...) Yoon kesal apa sebenarnya yang mereka lakukan apa hanya karena Jung Rok. Do Jin merasa kalau Jung Rok selalu membuat masalah.
Tae San menyahut lebih mudah mengendalikan dunia daripada mengendalikan Jung Rok. Jung Rok tak peduli karena menurutnya Park Min Suk benar-benar sudah termakan rencananya. Ia menilai kalau tadi yang diucapkan Do Jin terdengar sangat tulus. Do Jin berkata kalau tadi ia memang benar-benar tulus. “Ketika kita berbohong 99% itu kebenaran yang palsu hanya pesan yang disampaikan saja.”
Jung Rok mendapat SMS dari istrinya, ia tercengang ketika membaca SMS itu. Ia pun menunjukkan pesan itu pada ketiga temannya. Ketiganya membaca dan jelas sangat panik.

‘Aku menikmati tontonannya, akting kalian benar-benar menyentuh. Kuberi kalian satu setengah bintang.’

Tae San bergumam kalau Min Suk dan Jung Rok tak bisa hidup bersama. ketiganya jelas tambah kesal atas apa yang mereka lakukan tadi. Ketiganya langsung lari terburu-buru untuk menemui Min Suk. Jung Rok cuma bisa terdiam bengong, “Kenapa? Guys, kalian mau kemana?”
Ketiganya membawa bingkisan yang akan mereka tujukan untuk Min Suk. Mereka saling mendorong siapa yang harus mengetuk pintu dan tentu saja Yoon yang selalu jadi tumbal hehe. Yoon gelisah kenapa selalu dirinya. Do Jin meminta lakukan saja karena Min Suk paling mempercayai Yoon.
Dengan penuh percaya diri Yoon akan mengetuk tapi ketukannya sangat pelan, kedua temannya menyuruh Yoon mengetuk lebih keras. Yoon mengerti ia pun mengetuk pintu lebih keras tapi itu membuat dirinya dan kedua temannya kaget.

“Kenapa kau mengetuknya keras-keras?”
“Bukankah kalian bilang dia tak bisa mendengarku?”
Hahaha...
Yi Soo selesai mandi, ia duduk di depan meja rias menatap tulisan yang berisi tentang 7 petunjuk cinta bertepuk sebelah tangan. Yi Soo menggaris bawahi yang nomor 7 ‘Datang ke rumahku tanpa memberi tahu lebih dulu hingga aku merasa tersentuh’
Yi Soo berdandan cantik, ia melihat penampilannya di kaca. Yi Soo mengambil sepatu merah pemberian Do Jin. Ia teringat ketika Do Jin memberikan sepatu itu Do Jin ingin Yi Soo memakainya ketika bertemu dengan Do Jin selanjutnya, ketika cuaca cerah berdandanlah yang cantik. Yi Soo pun memakainya. Ia melihat lagi penampilan sempurnanya di kaca.
Mereka berempat ke rumah Do Jin lagi. Keempatnya tampak lemas. Yoon bertanya pada Jung Rok apa tak ada kabar dari Min Suk. Jung Rok tak menjawab ia memiringkan tubuhnya dan mendapat timpukan sandal dari ketiga temannya.

Tae San tak tahu lagi harus bagaimana. Do Jin bertanya apa yang Tae San ributkan dengan Hong Pro, apa tak bosan terus-terusan bertengkar lebih baik menikah saja. Tae San menejlaskan kalau ia bertengkar gara-gara masalah pernikahan. Tahun depan usia ayahnya sudah 70 tahun. “Belum pernah sekalipun mengkhawatirkan orang tuaku, semasa SMS atau ketika mencari kerja. Sekarang aku sudah setua ini tapi aku masih belum berbakti.”
Jung Rok membenarkan kalau Tae San memang kurang berbakti. Ketiga temannya berteriak meminta Jung Rok diam dan kembali Jung Rok mendapat timpukan sandal dari teman-temannya.
Ada yang menekan bel rumah, Do Jin membuka pintu dan melihat Yi Soo berdiri tersenyum malu-malu. Do Jin jelas terkejut tak menyangka Yi Soo akan datang. Ia jelas senang tapi di rumahnya ia sedang berkumpul dengan teman-temannya.

Ketiga teman Do Jin menyambut kedatangan Yi Soo. Yi Soo minta maaf sudah mengganggu karena kedatangannya ingin menemui Do Jin. Ia tak menyangka kalau ketiganya ada disini. Ketiganya tak masalah dan menyuruh Yi Soo masuk.

Tapi ada seorang lagi yang datang, Siapa itu?

Colin.
Yoon dan Jung Rok yang pernah bertemu dengan Colin merasa aneh kenapa Colin datang ke rumah Do Jin. Do Jin bingung dan bertanya siapa.
Colin memperkenalkan dirinya, “Aku datang kesini untuk menemui kalian berempat. Senang bertemu dengan kalian, aku putra Kim Eun Hee.”
Ok mereka berempat jelas terkejut tak menyangka putra cinta pertama mereka datang menemui mereka.
Yi Soo menatap tak mengerti.

14 comments:

  1. hore .. hore .. horree ..
    udah ada sinopsis episode 11 ..


    semangat terus buat bikin sinopsisnya ya ..
    ga sabar pengen cepet" baca sinopsis episode selanjutnya ..
    hohho ..


    -ndah-

    ReplyDelete
  2. akhirnya... keluar juga, ditunggu eps selanjutnya..., trims, semangat.

    ReplyDelete
  3. Yi soo - do jin.. Akhirnya.. Akhh, ikutan bahagia.. ^^
    penasaran siapa ayah collin??
    Semangat mba anis.. :D

    *echa*

    ReplyDelete
  4. Yang 12.. hahahahhahhhh... makin penasaran... pinter banget nulis...

    ReplyDelete
  5. Mbak anis salam kenal y,, aq udh bca 10 episode dan baru coment d'episode ini ..
    makin seru ,, semangat y nulisnya :)

    ReplyDelete
  6. makasih...makasih sinopsisy terus lanjut,aduh tambah penasaran aj,btw disonoy da mau tamat ya,gara2 baca sinopsis ADG jadi ga sabar nunggu dilapak...hehehe.semangat ya anis thanks to you...

    ReplyDelete
  7. ihh senengnya eps 11 dah kluar,,
    akhirnya Do jin & Yi soo jadian jg,,
    Tp di endingnya malah membuatku resah coz kedatangan collin.
    takut kalo hubungan do jin & yi soo renggang nantinya(hiks,,hiks,,hiks)

    ayo kak lanjutkan eps 12 nya,,,ttp semangat,di tunggu..
    makasih,,..

    ReplyDelete
  8. TOP..!!!
    lucu banget liat jung rok dkk gak berhasil ngibulin min suk..
    hahahahhaaaahaha...>,<

    ReplyDelete
  9. @ all... trims yang udah Comment... yang menunggu DVD nya dilapak harap bersabar menunggu sampai minggu depan karena drama ini mengalami penundaan penayangan.

    ReplyDelete
  10. asyik eps 11 nya dah keluar
    ,, seneng lht do jin sama yi soo bersama2 lg, tp jg taj=kut tar di eps berikut nya mereka marahan lg :(

    bener mba anis, kmrn aq nyari2 dilapak eh baru keluar 2 disc, ga jd dech belinya :(

    semangat ya mba anis, aq tunggu eps sinop eps 12 nya :)

    terima kasih...

    ReplyDelete
  11. Thanks sinopsisnya unni....ditunggu episode2 berikutnya...semangaaat...;)

    ReplyDelete
  12. Thanks sinopsisnya unni, asli ngakak guling2.....ditunggu episode2 berikutnya....semangaaaat...;)

    -indhy-

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...