Monday, 17 September 2012

Sinopsis May Queen Episode 3

Il Moon menyuruh Park Gi Chul dan Chang Hee mengambil beberapa makanan lalu pergi tapi Park Gi Chul bilang tak usah karena ia harus segera menemui Presdir Jang. Il Moon dengan sikap kasarnya menyuruh Park Gi Chul untuk tetap tinggal. San jengah melihat sikap tak sopan Il Moon terhadap orang tua.


Hae Joo berkata kalau Il Moon ini sudah berlebihan. Walaupun Il Moon putra pemilik rumah Il Moon sudah kasar pada orang tua. Bukan hanya kasar tapi juga tak sopan kata Hae Joo. Il Moon tak terima disebut seperti itu ia menatap tajam adiknya, In Hwa. Kenapa adiknya ini membawa perempuan pengemis.
Dan sroott... Il Moon menyiram wajah Hae Joo dengan air. Semua terkejut atas apa yang dilakukan Il Moon terahadap Hae Joo. San marah dan meninggikan suaranya apa Il Moon ini mau mati. In Hwa juga kesal dengan tingkah kakaknya. Hae Joo tak terima ia meninggikan suaranya berkata kalau ia bukan pengemis. Tapi menurut Il Moon apa yang baru saja Hae Joo lakukan adalah sesuatu yang dilakukan oleh perempuan pengemis.

Hae Joo berkata kalau ia mengambil makanan atas izin Geum Hee dan menurutnya bersikap kasar pada orang tua adalah sikap pengemis yang sesungguhnya. Hae Joo berterima kasih karena Il Moon sudah menyiramkan air padanya karena ia merasa kalau cuacanya cukup panas.
Mendengar itu Il Moon makin emosi. Melihat emosi Il Moon amarah San meledak. Ia membalikkan meja makan membuat semua makanan berjatuhan. “Apa kau tak melihatku? Apa kau pikir kau bisa bertingkah semaumu karena ini rumahmu?” bentak San. Mendengar kemarahan San, Il Moon langsung menunduk. (hmm bisa dipastikan Il Moon tak berani karena San, cucu Presdir perusahaan besar)

Hae Joo terkejut melihat semua makanan berjatuhan. Ia menilai San sudah gila kenapa melakukan ini pada makanan. San memandang tak percaya bukankah ia marah terhadap Il Moon karena akan membela Hae Joo tapi sekarang Hae Joo malah marah padanya. Chang Hee tak tahan melihat semua ini. Ia pun pergi meninggalkan tempat makan. San mengejarnya.
San bertanya apa Chang Hee ini bodoh atau apa. Awalnya ia selalu berfikir kalau Chang Hee ini hebat karena pintar dalam pelajaran tapi sekarang menurutnya Chang Hee bukan apa-apa, “Kenapa kau diam saja saat ayahmu dipermalukan seperti itu?”

Chang Hee mencibir, San ini tahu apa tentang masalahnya. San berkata meskipun ia tak tahu apa-apa tapi kalau ayahnya yang diperlakukan seperti itu jelas ia akan membela ayahnya. Apa Chang Hee ini tak punya harga diri sampai diam saja melihat ayahnya dipermalukan seperti itu. Chang Hee mengingatkan agar San jangan berpura-pura baik memikirkan orang lain karena itu sangat memuakkan.
Chang Hee meninggikan suaranya, “Apa bedanya antara kau dan Il Moon? Mengabaikan orang, bersikap semaunya dan berpura-pura mengetahui perasaan orang lain. Kau bahkan tak perlu melakukannya. Karena kau masih mampu hidup dan makan dengan baik.”

“Hei Park Chang Hee!” suara San tak kalah tinggi dicap buruk oleh Chang Hee.

Chang Hee : “Il Moon dan aku, kau dan aku.. kita ini orang dari kalangan berbeda. Tak perlu mengasihani aku dan jangan ikut campur dalam urusanku. Walaupun kau tak melakukannya tapi itu tetap menyakitkan.”

Chang Hee meninggalkan San yang terdiam setelah mendengar kata-katanya. (bisa diambil kesimpulan menurut Chang Hee pembelaaan dari San ini sama seperti hinaan baginya)
Hae Joo pulang membawa makanan enak untuk keluarganya. Ia memanggil adik kecilnya tapi tak ada sahutan dari Young Joo. Hong Chul keluar tergesa-gesa. Hae Joo heran kenapa jam segini ayahnya ada di rumah. Hong Chul kebingungan dan bertanya dimana Young Joo. Ia mengatakan kalau tadi ia dipanggil pulang ketika bekerja karena Young Joo menghilang. Ia bertanya pada Hae Joo apa tak menemukan Young Joo.

Hae Joo jelas terkejut mendengar adiknya menghilang. Ibu dan Sang Tae datang setelah mencari Young Joo kemana-mana dan keduanya tak menemukan Young Joo. Melihat Hae Joo sudah pulang dan Young Joo tak ada ibu langsung murka.
Tanpa bertanya terlebih dahulu ibu langsung menampar wajah Hae Joo. Ayah berteriak marah apa yang sudah dilakukan istrinya kenapa memukul Hae Joo. Ibu makin marah, “Lebih baik kubunuh saja perempuan ini!” kata ibu sambil menjambak dan mengacak-acak rambut Hae Joo.

Hae Joo terdiam tak tahu apa salahnya. Ayah menghalangi sikap brutal istrinya apa salah Hae Joo sampai ditampar dan dijambak seperti ini. Ibu bilang kalau ini semua salah Hae Joo, apa suaminya tak tahu kalau Young Joo itu selalu menempel pada Hae Joo. Ia marah karena Hae Joo lebih memilih berkeliaran kemana-mana dari pada tinggal di rumah dan menjaga Young Joo dan sekarang Young Joo pasti hilang saat berusaha mencari Hae Joo.
Ibu menjambak lagi ayah berusaha menghalangi. Mata Hae Joo berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggil. Young Joo keluar dari sebuah ruangan.

Ibu langsung menghampiri Young Joo dan memeluknya khawatir kenapa Young Joo keluar dari sana. Sang Tae ingat Young Joo pasti tertidur di ruangan sana lagi, kanapa hal ini tak terpikir olehnya malah mencari Young Joo keluar jauh-jauh.
Hae Joo terdiam melihat Young Joo datang. Matanya berkaca-kaca yang semakin lama membuat air matanya menetes. Ia jelas sedih ibunya selalu menyalahkan bahkan disaat ia tak tahu apa yang terjadi. Makanan yang ia bawa pun jatuh dengan sendirinya.

Ayah menatap Hae Joo dan merasa bersalah. Hae Joo mengambil bando-nya yang terjatuh dan berlari meninggalkan rumah ingin mencari ketenangan. Ayah mengejar dan memanggilnya ia khawatir. Tapi Hae Joo terus lari mengabaikan panggilan ayahnya.
Hae Joo sampai di tebing tempat ia biasa melihat pemandangan pabrik galangan kapal. Ia berusaha menguatkan dirinya dengan cara menyemangati dirinya sendiri, “Tidak apa-apa Hae Joo.” Hae Joo berteriak menyemangati diri sambil mengusap air matanya.
Ternyata di tempat yang sama Chang Hee pun sedang menatap jauh pabrik galangan kapal. Hae Joo tak menyangka ternyata Chang Hee ada disana, “Kakak apa yang kau lakukan disini?”

Chang Hee balik bertanya Hae Joo sendiri apa yang dilakukan disini kenapa datang ke tempat ini. Hae Joo mengatakan kalau kedatangannya ke tempat ini untuk melihat kapal. Hae Joo menunjuk pabrik galangan kapal yang pernah keduanya kunjungi kemarin. Ia datang ke sini untuk melihat kapal yang ada disana.

“Apa kau menyukai kapal?” tanya Chang Hee.
“Aku sangat menyukai kapal.” kata Hae Joo tersenyum. “Benda yang paling aku sukai di dunia ini adalah kapal. Bahkan saat aku merasa sedih atau merasa dadaku sesak dengan melihat kapal membuat semua perasaan itu hilang dalam sekejap.”
“Kau bilang namamu adalah Hae Joo, kan?”

Hae Joo membenarkan. Chang Hee berterima kasih Hae Joo sudah membela ayahnya karena walaupun ia putranya ia tak bisa melakukan itu. Hae Joo berkata itu karena kakaknya In Hwa yang tak sopan. Hae Joo mengaku kalau ia ini orang yang temperamental jadi ia tak tahan melihat yang seperti itu.
Chang Hee bertanya kenapa Hae Joo merasa sedih. Hae Joo heran kenapa Chang Hee tiba-tiba menanyakan ini. Chang Hee berkata bukankah Hae Joo bilang kalau melihat kapal membuat Hae Joo senang disaat sedih. Hae Joo berusaha tersenyum dan berkata kalau itu bukan apa-apa ia tak ingin menceritakan masalah yang dihadapinya. Hae Joo pun balik bertanya kenapa Chang Hee disini. Seperti yang dilakukan Hae Joo, Chang Hee mangatakan kalau ia sedang melihat pabrik galangan kapal. Hae Joo menebak kalau Chang Hee seperti dirinya yaitu menyukai kapal. Chang Hee berkata tidak juga. Hae Joo heran dan bertanya kenapa.
“Aku ingin memiliki semua galangan kapal itu.” sahut Chang Hee dengan tatapan tajam memandang pabrik galangan kapal. Hae Joo terkejut mendengar keinginan Chang Hee. Ia menilai kalau saat ini ia melihat Chang Hee seperti seseorang yang serakah karena baginya satu buah kapal saja sudah cukup.
Keduanya kembali memandang pabrik galangan kapal yang ada di depan mereka. Hae Joo memandangnya penuh senyuman sedangkan Chang Hee penuh dengan ambisi.
Chun Hong Chul bertemu dengan Park Gi Chul keduanya bicara. Hong Chul heran kenapa Gi Chul mengajaknya bicara sampai jauh ke tepi pantai seperti ini. Park Gi Chul menanyakan apa tujuan sebenarnya Hong Chul berada di Ulsan, “Aku jelas-jelas mengingatkanmu untuk tak membawa anak itu ke rumah kami. Apa alasanmu mengizinkannya keluar masuk rumah itu?” Hong Chul bertanya apa yang sedang dibicarakan Gi Chul ini tentang Hae Joo, apa Hae Joo pergi ke rumah Gi Chul.

Park Gi Chul mencengkeram baju Hong Chul dan meminta temannya ini jangan berpura-pura tak tahu. Melihat sikap temannya seperti ini Hong Chul menilai kalau Gi Chul sudah gila karena yang dilakukan temannya ini adalah sebuah pelanggaran.

Gi Chul tak peduli ia meminta Hong Chul jangan bersikap bodoh, “Katakan sejujurnya kau datang kesini karena kau tahu semuanya kan? Berapa banyak yang kau tahu? Dari siapa kau mendengarnya? Apa kau sengaja menyuruhnya mendekat dengan tujuan tertentu. Berapa banyak yang kau minta?”
Hong Chul tak mengerti apa maksud perkatan Park Gi Chul. Ia kesal karena Gi Chul sudah menuduhnya yang tidak-tidak ia tak menginginkan uang apapun dan karena saking kesalnya Hong Chul memukulkan kepalanya ke kepala Gi Chul hingga jatuh.

Hong Chul marah dan meminta temannya ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar ia mengerti. Park Gi Chul merasa kalau ia tak perlu banyak bicara apapun yang penting Hong Chul segera membawa Hae Joo pergi dari sini.

Hong Chul semakin kesal dan berkata kalau temannya ini sangat aneh apa kedatangan Hae Joo ke rumah Presdir Jang itu merupakan tindakan yang membuat Hae Joo pantas dihukum mati. Ia sudah bertanya pada putrinya dan dia mengatakan kalau Presdir Jang sudah bersikap baik pada anak-anak. Ia jelas kesal bagaimana bisa Gi Chul berbohong seperti itu padanya. Park Gi Chul tak mau tahu pokoknya tak perlu banyak bicara dan segera pergi saja. Ia mengingatkan kalau Hong Chul tak melakukannya Hong Chul juga akan mati.

Hong Chul makin marah apa sekarang temannya ini sedang mengancamnya. Ia tak peduli terserah lakukan saja semau Gi Chul karena ia juga tak ingin hidup di dunia yang busuk ini. Hong Chul meninggalkan temannya sendirian. Sementara Gi Chul menatap penuh kecemasan.
Chun Hong Chul mengingat ketika dulu Park Gi Chul menyerahkan Hae Joo padanya dengan imbalan uang yang bisa digunakan untuk membeli sebuah kapal. Ketika itu Gi Chul berpesan sebelum ia menemui Hong Chul terlebih dahulu jangan pernah datang ke Ulsan.

Hong Chul berfikir apa sebenarnya yang terjadi karena sekarang Park Gi Chul begitu ketakutan ketika tahu Hae Joo keluar masuk rumah keluarga Presdir Jang. “Apa itu karena....” pikirnya.
Chun Hong Chul dan teman sekerjanya berada di dermaga untuk menyambut kedatangan seseorang. Ada sebuah kapal yang merapat ke dermaga, kapal dari Chun Ji Group. Hmm siapa lagi kalau bukan Presdir Jang.

Sepertinya kapalnya ada masalah. Presdir Jang bertanya ke sekertarisnya apa pekerja yang disana itu bisa dipercaya. Sekretarisnya berkata ya walaupun mereka terlihat berantakan tapi mereka itu pekerja terbaik yang bisa memperbaiki kapal.
Hong Chul dan yang lain pun memberi hormat pada Presdir Jang. Hong Chul berusaha mengingat-ingat karena seingatnya ia pernah melihat Presdir Jang. Ia pun teringat kalau sebelumnya ia pernah melihat sekilas wajah Presdir Jang ketika ia dan keluarganya baru tiba di Ulsan.
Hong Chul mencoba mencari tahu lewat atasannya. Ia bertanya tentang bayi berusia 1 tahun yang pernah hilang dulu. Ahjussi itu membenarkan dan heran dari mana Hong Chul tahu tentang ini. Hong Chul penasaran apa kejadian seperti itu benar-benar ada. Ahjussi mengatakan kalau istri Presdir Jang kehilangan bayinya.

Hong Chul berusaha mencari tahu lebih banyak dengan bertanya bagaimana kejadian sebenarnya. Ahjussi itu mengatakan kalau ada seseorang yang bernama Park, dia seorang pegawai yang bekerja di rumah Nyonya itu dan bertugas menjaga bayi tapi dia lengah sampai bayi itu jatuh ke laut. Mereka bahkan tak bisa menemukan tubuh bayi itu.

Hong Chul bertanya apa mungkin nama orang itu Park Gi Chul. Ahjussi itu membenarkan. Hong Chul lemas mendengarnya kini ia tahu kalau bayi yang hilang itu adalah Hae Joo. Bayi kecil yang Park Gi Chul serahkan padanya. Hong Chul tak habis pikir kenapa Park Gi Chul melakukan hal kejam seperti ini. Memisahkan bayi kecil dari keluarganya.
Park Gi Chul berusaha menepis pikiran negatif kalau Hong Chul tahu sesuatu. “Tidak tidak mungkin, aku terlalu banyak berfikir. Dia tak mungkin mengetahui dan mendekatinya. Aku sudah bertindak bodoh.” batinnya.
Park Gi Chul menemui salah satu pemilik tanah perkebunan pir. Ternyata paman ini akan menjual tanahnya pada Presdir Jang. Park Gi Chul berterima kasih karena paman ini sudah menjual tanah perkebunan pir pada Presdirnya. Paman ini berkata kalau seharusnya ia yang berterima kasih karena sekarang perkebunan pir-nya sedang sekarat tanamannya bahkan tak berkembang dan juga ia melihat kalau pagi ini ia harus memusnahkan pohon pir yang mati. Meskpun ia menjualnya dengan harga murah ia harus segera menyingkirkannya.

(hmm.. ini jelas rencana Presdir Jang dengan membuat tanaman pir mati dan petani menjual lahannya karena tak mau merugi dengan lahan yang rusak)
Kakek Kang naik mobil jip-nya menuju gubuk Jung Woo. Jung Woo bertanya ada apa kakek menemuinya. Kakek meminta Jung Woo naik ke mobilnya. Tapi Jung Woo berkata kalau ia tak ada urusan dengan Kakek Kang.

Kakek memaksa dan berkata kalau orang sibuk seperti dirinya datang mencari Jung Woo setidaknya sebagai balasan sopan santun Jung Woo harus masuk ke mobilnya. Jung Woo pun menurut.

Di dalam mobil Kakek Kang, Jung Woo melihat Park Gi Chul tengah berbicara dengan pemilik tanah lain (sedang bernegosiasi nih). Jung Woo menatapnya penuh tanda tanya.
Kakek dan Jung Woo berdiri menatap lahan perkebunan pir. Kakek mengatakan kalau Presdir Jang berencana menyingkirkan lahan ini dan membangun sebuah galangan kapal. Jung Woo heran, “Galangan kapal?”

Kakek mengatakan kalau lahan ini harus diserahkan kepada orang yang sudah bekerja keras, “Bukankah orang itu kakakmu? Bukankah seharusnya kau melindunginya?” Jung Woo tertawa dan menilai apa yang dilakukan kakek ini karena perusahaan galangan kapal Hae Poong sedang terancam, “Bukankah ini juga karena anda menginginkan lahan ini Presdir?”

Kakek tak menyangkal dan berkata mana ada seorang pengusaha yang tak serakah tapi kasus Presdir Jang Do Hyun ini berbeda. “Presdir Jang itu akan melakukan apapun demi mencapai apa yang dia inginkan. Kalau kita tak menghalanginya. Selanjutnya mungkin ia akan memusnahkan perumahan tempat tinggalmu.”
Hae Joo tersenyum menatap kapal yang berada di lautan lepas. Ayahnya datang memanggilnya. Ayah bertanya apa yang dilakukan Hae Joo disini. Hae Joo menjawab kalau ia tengah menunggu ayahnya.

Hong Chul heran kenapa Hae Joo menunggunya. Hae Joo merasa tak enak ibu mungkin masih marah padanya karena tak bisa menjaga Young Joo dengan baik ditambah lagi ia melarikan diri dari rumah. Jadi ia berharap ayahnya bisa melindungi sedikit saja ketika ia pulang nanti. Tapi tentu saja dengan syarat ayahnya tak boleh bertengkar dengan ibunya. Hong Chul mengerti dan mengajak putrinya pulang.
Keduanya sampai di depan rumah dan berpapasan dengan ibu. Ibu jelas sebal melihat Hae Joo. Ia bertanya kenapa Hae Joo kembali ke rumah bukankah seharusnya Hae Joo ini tinggal di luar kalau sudah kabur dari rumah. Ayah berkata kalau masalah kepergian Hae Joo itu karena dia pergi ke rumah temannya supaya bisa membawakan makanan enak untuk Young Joo. Ia berharap istrinya berhenti marah-marah. Ibu menatap sinis Hae Joo, “Lihat dirimu. Kau pasti sudah membujuk ayahmu.” Hae Joo diam menunduk.

Hong Chul menyangkal bukan seperti itu. Ibu meninggikan suara apa maksud suaminya bukan begitu. Ia menatap marah Hae Joo, “Apa kau pikir aku tak mengenal sifat rubah jalangmu itu? kenapa? Aku tak mau melihatmu lagi, jadi pergi saja sana!”

Hae Joo berusaha tersenyum ceria di depan ibunya dan minta maaf, “Ibu kau belum makan malam kan? Aku akan segera menyiapkan makanan.” kata Hae Joo berusaha menyenangkan hati ibunya. Tapi ucapan Hae Joo ini tak membuat hati ibunya melunak. Ibu berkata apa Hae Joo tuli siapa yang menyuruh Hae Joo menyiapkan makanan ia tak akan memakan masakah Hae Joo jadi lebih baik pergi saja.
Ayah tak tahan lagi mendengar Hae Joo dimarahi seperti ini. Ia kesal apa istrinya ini benar-benar akan terus bersikap seperti ini. Bukankah Young Joo tidak hilang. Istrinya saja yang tak tahu kalau putri mereka tidur di lumbung jadi kenapa istrinya ini marah pada Hae Joo.

Ibu ikut meninggikan suaranya, “Itulah maksudku kenapa dia sampai tidur di lumbung? Dia mungkin tertidur disana karena mencari perempuan ini.”

Ayah makin murka mendengarnya. Hae Joo melerai dan mengingatkan karena tadi ayahnya sudah berjanji tak akan bertengkar dengan ibunya. Hae Joo memohon dengan tatapan penuh harap. Melihat mata Hae Joo yang memohon seperti itu padanya hati Hong Chul menjadi luluh.
Hae Joo memasak nasi di dapur. Ia menunggu nasinya sampai matang sambil melamun sedih mengingat betapa ibu sangat membencinya. Tanpa terasa air mata Hae Joo pun menetes. Hong Chul melihat kesedihan Hae Joo dan menghampirinya. Hae Joo kaget melihat ayahnya berada di dapur. Ia heran kenapa ayahnya ke dapur. Ayah bertanya apa Hae Joo tak sedih atas perlakukan ibu yang seperti itu. Hae Joo berkata kalau ia tak apa-apa. Ia menilai kalau sikap ibu seperti itu karena dia sedang hamil dan kelelahan.
Hong Chul berandai-andai, “Seandainya ibumu bukan ibu yang seperti itu.” Hae Joo menyela dan berkata kalau ia menyukai ibu. Ia merasa kalau ibu bersikap seperti itu mungkin karena penagih hutang dan sekarang sedang mengalami kesulitan hidup. Bukankah dulu ibu tak seperti itu.

“Apa maksudmu bilang dia dulu tak seperti itu? dia sama saja.” Ucap ayah.

Mata Hae Joo berkaca-kaca, “Karena aku anak perempuan tertua. Saat ibu sedang kesulitan labih baik dia mengomeliku agar dia bisa merasa lega. Karena setelah mengomeliku aku yakin ibu juga tidak akan merasa tenang.”

Hong Chul menatap Hae Joo dengan tatapan sedih. Hae Joo meneteskan air mata dan meyakinkah kalau ia tak apa-apa. Ia dengan benar sudah bicara jujur. Ayah bertanya kalau begitu kenapa Hae Joo menangis. Hae Joo menyangkal tak menangis ia mengusap air matanya dan berkata kalau asapnya terlalu panas. Hae Joo menyuruh ayahnya segera pergi dari dapur karena seorang pria tak seharusnya berada di dapur.
Chang Hee tak bisa konsentrasi belajar ia teringat ucapan Il Moon kalau ayahnya hanya seorang pembantu di rumah ini. Chang Hee menahan emosi tapi tangannya mencengkeram erat pensil yang ia pegang hingga ujung pensil itu patah. Ia kesal dan memukul-mukul pensilnya ke meja.

Ayahnya masuk ke kamar dan berkata kalau sekarang waktunya Chang Hee makan. Chang Hee diam saja. Ayahnya mengatakan kalau Nyonya (Geum Hee) memberikan banyak lauk ia menyuruh putranya segera makan.

“Ayah, ayo kita pindah rumah!” ajak Chang Hee mengungkapkan keinginannya. Karena menurutnya ia dan ayahnya tak harus hidup seperti ini. Park Gi Chul tak menanggapi ucapan putranya ia menyuruh Chang Hee segera keluar kamar untuk makan. Chang Hee tak tahan lagi dan bertanya sebenarnya kenapa, kenapa ia dan ayahnya harus bertahan hidup disini. Park Gi Ghul meminta putranya lebih baik bertahan saja.
Chang Hee emosi ia menggebrak meja dan berdiri hingga kursi tempat duduknya pun terbalik, “Aku sudah bertahan sebisaku bahkan aku sudah bertahan setengah mati demi dirimu. Aku bertahan sebisaku. Tapi aku tak lagi bisa menahannya.”

Chang Hee tetap mengajak ayahnya keluar dari rumah ini ia tak peduli jika ia dan ayahnya nanti tinggal di ruangan kecil di loteng atau tempat tinggal yang lebih buruk. Yang penting baginya segera keluar dari rumah ini. Ayahnya mengatakan kalau ia tak pernah meminta Chang Hee bertahan demi dirinya, “Aku bilang bertahanlah demi masa depanmu!”

“Ayah?” Chang Hee meninggikan suaranya.

Gi Chul : “Kalau orang seperti kita terlempar jauh dari pohon, mereka akan kering dan mati. Kau harus tetap disini dan mendapatkan persetujuan dari Presdir. Jangan berpikiran tentang apapun. Tahan saja dirimu dan terus belajar. Kau hanya harus mengalahkan Il Moon.”

Chang Hee : “Apa ayah pikir Presdir akan menyadarinya kalau kita melakukan hal itu? orang-orang itu.. bahkan tidak menganggap kita serangga. Ayah, bukankah saat ini kau bahkan tak bisa memasuki rumah Presdir.”

Park Gi Chul mengatakan kalau ia lebih mengenal Presdri Jang jadi Chang Hee jangan banyak bicara dan lalukan apa saja yang ia perintahkan. Hanya dengan begitu putranya bisa hidup. Chang Hee kembali meninggikan suara meminta ayahnya jangan lagi berkata kalau ayahnya hidup ini demi dirinya karena itu membuatnya semakin tersiksa. Chang Hee keluar kamar dengan kemarahannya. (Chang Hee n bapaknya punya rencana apa ya?)
Presdir Jang sekeluarga tengah makan malam. Geum Hee mengatakan rencananya menonton opera dengan In Hwa dan Il Moon. Tapi In Hwa merengut ia tak suka dengan opera karena menurutnya opera itu ribut dan ia tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi Geum Hee merayu kalau ia akan membelikan baju baru untuk In Hwa di mall. In Hwa tentu saja senang mendengarnya.

Geum Hee giliran merayu suaminya ia bertanya bukankah suaminya ini akan memberi mereka uang untuk belanja dan nonton opera. Presdir Jang langsung bercanda mengatakan kalau perutnya sakit. Hal ini tentu saja membuat istri dan anak-anaknya tertawa, “Aku tak boleh ikut tapi aku diminta menjadi investor.”

Geum Hee berkata meskipun suaminya ini ikut menonton opera tapi pada akhirnya juga suaminya ini hanya tidur disana. Mereka kembali tertawa.
Di luar Chang Hee menatap rumah Presdir Jang. ia mendengar gelak tawa bahagia mereka. Chang Hee menatap tajam dan menahan geram sambil mengepalkan tangannya.
Hong Chul ke rumah Presdir Jang. Sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah, Hong Chul sembunyi di balik pohon. Ia melihat Geum Hee dan In Hwa tertawa riang bersama sepulang belanja baju baru. Hong Chul sedih melihat kebahagiaan keduanya. Ia merasa kalau Hae Joo juga harus berbahagia seperti itu.
Hong Chul melihat Park Gi Chul keluar. Ia langsung memanggilnya jelas saja ini membuat Gi Chul kaget karena Hong Chul berani ke rumah Presdir Jang. Park Gi Chul menarik Hong Chul mengajaknya bicara berdua di tempat yang aman.

Park Gi Chul bertanya apa Hong Chul melupakan peringatannya bukankah ia sudah bilang jangan datang ke rumahnya. Hong Chul menatap tajam dan bertanya kenapa Gi Chul ketakutan melihatnya datang. Ia menilai Gi Chul sudah tak takut lagi padanya tapi takut kalau Hae Joo datang kesini. Gi Chul terbata-bata menanyakan apa Hong Chul tahu sesuatu. Hong Chul berkata kalau ia tahu semuanya. “Ibu kandung Hae Joo adalah Nyonya yang ada di rumah itu kan? Jadi kau berusaha menghentikan Hae Joo untuk ke rumah itu dan kau meminta kami meninggalkan Ulsan. Bukankah perkataanku benar?”

Gi Chul gemetaran tak tahu harus bilang apa. Hong Chul penasaran kenapa Gi Chul menitipkan Hae Joo padanya dan meninggalkan orang tua yang baik, kenapa Go Chul ini meninggalkan Hae Joo padanya. “Kenapa kau berbohong pada orang tuanya bahwa anak itu meninggal dan tenggelam di laut?” Gi Chul menyangka dan berkata kalau Hong Chul sudah salah paham. Hong chul tak percaya kalau begitu ia akan ke rumah itu dan mengeceknya sendiri.
Hong Chul akan ke rumah Presdir Jang tapi Park Gi Chul menahannya. Ia bertanya berapa banyak yang Hong Chul mau. Mendengar itu Hong Chul murka dan memukul Gi Chul keras hingga jatuh tersungkur. Hong Chul menarik dan mencengkeram baju Gi Chul, “Apa kau pikir aku melakukan ini karena uang? Karena kau meninggalkan Hae Joo padaku. Akibatnya berapa banyak penderitaan yang dia alami? Seharusnya dia dilayani seperti tuan putri di rumah orang kaya. Apa kau tahu berapa banyak penderitaan yang dia alami? Kau brengsek! Katakan padaku kenapa kau melakukannya? Kenapa kau meninggalkan Hae Joo Padaku?”
Gi Chul berkata kalau orang seperti Hong Chul tak perlu tahu apa alasannya. Hong Chul semakin murka dan kembali memukul Park Gi Chul. Keduanya pun saling memukul. Tapi tenaga Hong Chul lebih besar, “Apa kau ini manusia? Dasar brengsek. Bagaimana kau bisa memutuskan pertalian antara Hae Joo dengan ibu kandungnya dan memberikanya padaku? Katakan kenapa kau melakukannya?”

“Kalau kau mengetahuinya kau dan aku akan mati bersama.” ucap Park Gi Chul mengancam. Hong Chul makin marah dan akan memukul Park Gi Chul lagi. Park Gi Chul tak melawan ia menyuruh Hong Chul segera membunuhnya saja. Kalau Hong Chul tak bisa membunuhnya lebih baik tinggalkan tempat ini.
Hong Chul berada di jalan dekat rumahnya. Hae Joo memanggilnya sambil membawa ember. Hae Joo bertanya apa ayahanya baru pulang dari kerja. Hong Chul tak menjawab ia heran kenapa Hae Joo belepotan seperti ini. Hae Joo mengatakan kalau ia menangkap beberapa ikan lumpur supaya keluarganya makan sesuatu yang bergizi.

Hong Chul sedih melihatnya, ia marah kenapa Hae Joo melakukan ini. Melihat ayahnya yang tiba-tiba marah Hae Joo heran bukankah ayahnya juga menyukai ikan lumpur. Ayah meninggikan suaranya dan berkata meskipun Hae Joo tak melakukan hal ini ia tak akan membuat Hae Joo kelaparan bukankah ia pernah mengatakan itu kenapa Hae Joo harus menderita seperti ini. Hong Chul membanting ember yang berisi ikan lumpur membuat ikan-ikannya berhamburan.
Hae Joo jelas terkejut dengan sikap aneh ayahnya kenapa tiba-tiba bersikap seperti ini. Hae Joo mengambil embernya dan memunguti ikannya lagi. Hong Chul sadar kalau ia sudah terbawa emosi. Ia minta maaf pada putrinya. Hae Joo mengatakan kalau ia melakukan ini agar ibu berpandangan bagus terhadapnya. Hong Chul kembali minta maaf dan mengaku salah. Hae Joo meminta ayahnya membantu dirinya menangkap ikan-ikan lumpur yang berserakan.
Keduanya mengambil ikan-ikan lumpur yang sangat licin. Keduanya tertawa-tawa.
(Kalau ada ikan lumpur jadi ingat sama Go Joon Young di Feast Of The Gods Hehe)
Hae Joo dan ayahnya mencuci ikan lumpurnya (Ikannya masih hidup nih) Kemudian Hong Chul memberi garam di atasnya. Dan wow.. ikan-ikan itu loncat-loncat ketika bubuk garam jatuh di atasnya hehehe.

Ibu mendengar suara gaduh keduanya dan bicara sinis, “Aigoo kalian berdua bersenang-senang setengah mati ya. Kita tak tahu kapan rentenir itu akan datang lagi dan rumah ini nyaris rubuh. Kita juga tak tahu kapan bayi ini akan lahir. Dan lihat kalian berdua, menangkap ikan lumpur. Pekerjaan yang hebat. Kenapa kalian tak tinggal saja bersama ikan-ikan lumpur itu.” ibu menutup pintu kamar kesal.
Makan malam mereka pun dengan sup ikan lumpur. Sang Tae makan sangat lahap. Hae Joo menyuapi adiknya. Hae Joo bertanya pada kakaknya bukankah rasa ikannya enak. Sang Tae memuji kalau ini benar-benar enak ia pun bertanya-tanya sudah berapa lama terakhir kali keluarganya makan sup ikan seperti ini. Sang Tae tanya apa masih ada lagi karena ia ingin nambah.
Hae Joo membuka panci ternyata isinya sudah habis. Ia menawarkan apa kakaknya mau makan bagiannya, Sang Tae tentu saja mau. Tapi Sang Tae mendapatkan pukulan sendok dari ayahnya. Sang Tae mengaduh kenapa ayahnya memukulnya. Ayah berkata bukankah Sang Tae sudah makan dua mangkuk dan sekarang masih ingin mengambil jatah makan Hae Joo.
Ibu tak terima kepala Sang Tae dipukul begitu karena menurutnya kalau kepala Sang Tae dipukul bisa-bisa dia tak bisa belajar. Ibu mengatakan kalau Sang Tae perlu tumbuh besar. Ia mendengar kalau Sang Tae itu paling pendek di kelasnya. Sementaa Hae Joo sangat tinggi.

Hae Joo mencoba meredakan suasana dengan mengatakan kalau ia tak begitu suka dengan sup yang seperti ini jadi tak masalah kalau bagiannya dimakan oleh kakaknya. Ia kembali menyuapi Young Joo, tapi Young Joo bilang kalau ia tak suka sup ikan. Ia ingin makan daging. Ibu menyindir kalau Hae Joo memiliki kemampuan menangkap ikan lumpur seperti ini seharusnya Hae Joo menangkap lebih banyak dan menjualnya di pasar dan nanti kita bisa menggunakan uangnya untuk membeli daging di pasar. Hae Joo terdiam.
Seperti biasa Hae Joo tidur di luar. Hong Chul keluar kamar dan duduk di samping Hae joo yang sudah terlelap. Hong Chul membetulkan letak selimut Hae Joo. Ia menatap putrinya dengan tatapan sedih. Mata Hong Chul berkaca-kaca merasakan kehidupan berat yang harus dijalani Hae Joo ketika bersamanya.

Hong Chul membopong Hae Joo yang terlelap dan memindahkannya supaya tidur di kamar yang hangat di samping istrinya dan Young Joo.
Hong Chul melamun sendirian di luar sambil menatap bintang. Istrinya keluar kamar dan bertanya apa yang dilakukan suaminya diluar kenapa perempuan jalang itu tidur di dalam dan suaminya hanya duduk di luar. Hong Chul mengatakan kalau Hae Joo kelelahan setelah menangkap ikan lumpur dan juga cuacanya sangat dingin ia tak tega membiarkan Hae Joo tidur di luar.
Ibu berkata apa suaminya tak melihat kalau perutnya juga sakit. Hong Chul khawatir apa itu sangat sakit. Ia ingin mengeceknya tapi istrinya bilang lupakan saja lebih baik suaminya ini masuk ke kamar dan suruh Hae Joo tidur di luar. Tapi Hong Chul tak tega melakukannya bagaimana bisa istrinya bersikap seperti itu pada Hae Joo. Bukankah istrinya ini sudah membesarkan Hae Joo lebih dari 10 tahun. Apa istrinya tak merasa bersalah sedikitpun pada Hae Joo. “Demi makan dan bertahan hidup apa kau tak melihat kalau Hae Joo sudah berusaha sangat keras. Hae Joo adalah putrimu!”

“Bagaimana mungkin dia putriku? Dia itu putrimu!” ibu meninggikan suaranya. Hong Chul meminta istrinya menjaga ucapan karena Hae Joo mungkin saja mendengarnya. Ibu tak peduli karena walaupun ia meninggal ia tak akan pernah berfikir kalau Hae Joo itu putrinya. “Orang harus punya kesadaran. Setelah kau menikam hatiku dengan pisau bagaimana mungkin kau bicara begini?” Ia meminta suaminya lekas masuk kamar dan berhenti bicara omong kosong.

(Dal Soon masih belum tahu kalau Hae Joo ini bukan putri kandung suaminya. Ia masih mengira kalau Hae Joo itu putri suamianya dengan wanita selingkuhan. Wanita mana coba yang ga sakit hati membesarkan anak selingkuhan suaminya dan diminta menganggap sebagai anaknya sendiri. Ya walaupun ada dia pasti perempuan yang luar biasa kalau bisa menerima anak selingkuhan suaminya)
Pulang sekolah Hae Joo akan mencari ikan lumpur lagi. Ia sudah menyiapkan ember sebagai tempat ikannya. Ia meyembunyikan embernya di balik semak-semak rumput. Ketika ia mengambil ember tiba-tiba terdengar San memanggilnya. Seperti biasa dengan sebutan ‘tukang las’ Hae Joo jelas kaget setengah mati.

San tanya apa yang dibawa Hae Joo. Hae Joo dengan ketus berkata apa San tak punya mata, apa San tak lihat kalau ini ember dan yang satunya keranjang. San heran kenapa Hae Joo mengambilnya dari semak-semak. Hae Joo tetap judes dan berkata lebih baik San mengurusi urusan sendiri. San bilang kalau ada yang perlu dibicarakan dengan Hae Joo.
In Hwa memanggil San. San jelas malas bertemu dengan gadis manja ini. Ia bergumam kesal, “Kenapa dia selalu muncul disaat-saat penting?” Hihihi...

Melihat Hae Joo bersama San, In Hwa memarahi Hae Joo. Kenapa Hae Joo selalu bersama San. Hae Joo menyuruh In Hwa lebih baik tanyakan sendiri pada San. Hae Joo langsung berlalu San mengikutinya tapi In Hwa menahan lengannya dan bertanya mau kemana. San heran, “Kau ini apa? Apa kau permen karet?”
In Hwa : “Kakak, apa kau sudah pernah menonton opera?”
San : “Belum pernah. Tapi aku sudah pernah melihat hantu. Kau!” (hahahaha)

San berlari menyusul Hae Joo. In Hwa cemberut kenapa San selalu mengekor pada Hae Joo.
Hae Joo mencari tanaman bumbu. Tiba-tiba San muncul mengagetkannya. Hae Joo tanya apa yang dilakukan San disini. San malah balik bertanya kenapa Hae Joo memetik rumput. Hae Joo berkata kalau ia memetiknya agar bisa di jualnya.

“Apa orang-orang sungguh akan membeli rumput?” tanya San.
“Ini bukan rumput ini tanaman bumbu!” jelas Hae Joo.
“Benarkah? Jadi kau akan mengisi ember dan keranjang dengan tanaman itu?”

Hae Joo mengatakan kalau embernya untuk menangkap ikan lumpur. Hae Joo kesal karena San terus bertanya. San heran, “Ikan lumpur? Apa kau akan menjual itu juga?” Hae Joo tak menjawab ia mengatakan kalau ia sibuk dan menyuruh San menyingkir.
San : “Hei kenapa kau melakukan pekerjaan sesulit ini? Kalau kau menjual semua ini berapa harganya? Aku akan memberimu uang.”

San mengeluarkan uang dan akan memberikannya pada Hae Joo, “Apa ini cukup?” Hae Joo jelas kesal melihatnya, “Kau ini benar-benar. Pergi sana. Apa kau pikir aku pengemis? Berhenti membuatku gila dan sana pergi!” San heran kenapa Hae Joo marah.
San pergi ke pasar dan mencari tanaman bumbu seperti yang dicari Hae Joo. ia memborong semuanya.
Hae Joo menemukan banyak tanaman bumbu. Ia senang dan langsung mencukilnya tapi ia merasa aneh kenapa mudah sekali mencabut tanamannya. Ia pun terheran-heran tapi karena melihat begitu banyak tanaman bumbu ia melupakan keheranannya dan segera mengambil tanaman bumbunya banyak-banyak.
Dan ternyata San dibalik semua ini. San menancapkan kembali tanaman bumbu yang ia beli dan membiarkan Hae Joo menemukan dan mengambilnya hehehe.
Kini giliran Hae Joo mencari ikan lumpur di sawah (kayaknya aku belum pernah nonton K Drama dengan settingan sawah deh hahaha) Hae Joo mengeluh karena ikan lumpur yang ia dapatkan hanya sedikit. Ia pun mencari di kubangan lumpur lain.
Dan aigoo... banyak sekali ikan lumpur yang akan ia tangkap. “Wahhh.. bagaimana mereka bisa berkumpul semua disini? Ini seperti sungai ikan lumpur.” Seru Hae Joo.
Dari manakah asal ikan lumpur yang banyak itu? Ya Kang San yang menaruhnya hehehe. San menuangkan ikan-ikan lumpur di kubangan lumpur. Ia sembunyi-sembunyi melakukannya.
Pandangan Hae Joo tertuju ke tempat San bersembunyi. Hae Joo mendekatinya dan ia menemukan San berada disana. Hae Joo jelas terkejut apa yang dilakukan San disini. San berbohong dan berpura-pura kalau ia menangkap semua ikan lumpurnya. Hae Joo menatapnya heran.
Keduanya pun mengambil ikan lumpur bersama-sama. San kelelahan dan merasakan sakit di punggungnya, keduanya sudah belepotan karena lumpur. Hae Joo menyuruh San cepat mengambil ikan kalau tidak ikan itu akan masuk kembali ke tanah.
Hae Joo dan San menjual ikan hasil tangkapan mereka ke pasar (hasil tangkapan? Ga deh hahaha)

Hae Joo mencoba menawarkan ikan-ikannya pada pembeli yang lewat tapi tak ada yang tertarik dengan cara menjual Hae Joo yang bicara dengan suara pelan dan tak meyakinkan. San menyindir apa Hae Joo pikir bisa menjualnya dengan cara seperti itu.
Dan inilah aksi San dalam menjual ikan lumpur. Partama ia mencoba mengumpulkan pembeli dulu dengan suaranya yang lantang.

‘Bapak-bapak ibu-ibu. Semuanya jangan malu-malu. Ayo mendekat. Kalian tahu apa ini? LARGE ukurannya besar kekuatannya besar. Ikan lumpur berukuran besar.’ Hahaha...

San terus berceloteh tentang ikan lumpur yang berbeda dengan ikan-ikan import, “Kalian tahu kenapa burung-burung yang tebang itu jatuh? Itu karena mereka menderita kekurangan gizi. Paman, kenapa kaki anda lemah, itu karena kurang gizi.” hahahaha...

Beberapa ahjumma tertarik ingin membelinya. Mereka bertanya berapa harga satu plastiknya. Hae Joo menjawab kalau harganya 2rb wo. Mereka senang karena harganya murah. Mereka pun membelinya, ada yang beli satu kantong ada yang dua hehehe.
Dan ikan lumpur jualan Hae Joo pun habis. Hae Joo mendapatkan banyak uang. Ia berterima kasih atas bantuan San. Ia penasaran apa orang tua San itu pedagang keliling hahaha.
San : “Apa kau hanya mau mengucapkan terima kasih dengan kata-kata? Bagaimana dengan bayaran hariannya?”

Hae Joo tanya berapa banyak uang yang harus ia berikan pada San sebagai bayaran. San bilang kalau bayarannya bukan uang tapi sesuatu yang lain. Hae Joo tak mengerti (Saya jadi berandai-andai San bilang gini, “Bayar dengan hatimu....” Huwa gubrak wakakakaka)
Ternyata San meminta Hae Joo mengajarinya mengelas. Hae Joo tak mengerti bukankah San pernah bilang kalau San pernah mengelas dengan bahan yang berbeda tapi kenapa sekarang San mau ia yang mengajari. San berkata kalau ia sudah mencoba semuanya tapi ia kurang berbakat menangani bahan murahan seperti ini.

Hae Joo menyuruh San mencobanya tapi San bilang kalau Hae Joo harus menunjukkan terlebih dulu padanya. Tapi menurut Hae Joo ia harus melihat keahlian San dulu sebelum mengajarinya.
Keduanya memakai pelindung kepala. San mulai menyalakan alat las-nya. Wusss percikan api membuat San kaget. Hae Joo kesal dan menyuruh San segera memulai mengelas.

San takut-takut mengelasnya, tangannya mengelas tapi pandangannya menjauh tak memperhatikan benda yang ia las. Hae Joo memegangi kepala San agar memperhatikan apa yang di-las. San mengelasnya tak lurus hahaha.
Hae Joo berkata kalau sekarang ia tahu San itu pembohong alias pembual. Ia merasa kalau San ini belum pernah melakukannya. San membela diri, “Tapi kalau aku bagus saat pertama kali melakukannya apa itu berarti aku punya bakat?”

Hae Joo berkata kalau anjing saja akan tertawa dengan cara mengelas San. Karena tak peduli sebagus apapun logamnya dengan kemampuan yang dimiliki San tak mungkin San bisa melakukannya. San heran kenapa Hae Joo menggunakan bahasa nonformal dengannya bukankah ia lebih tua dari Hae Joo.

Hae Joo beres-beras ember dan keranjangnya. San bertanya Hae Joo mau kemana bagaimana mungkin Hae Joo langsung pergi meninggalkannya begitu saja.

Hae Joo : “Bagaimana mungkin orang yang takut air mau belajar berenang? Itu sama saja dengan api.”

San berkata kalau itu karena dulu ia pernah terkena luka bakar. Jadi apa Hae Joo akan langsung pergi saja. “Apa kau tahu seberapa keras aku bekerja hari ini?” (Membantu menangkap ikan lumpur hehe) Hae Joo bilang kalau ia tak bisa mengajari mengelas hari ini. Ia harus pulang dan memasak. San tanya kapan bisanya, “Hei tukang las!” Hae Joo mengingatkan bukankah ia sudah bilang jangan memanggilnya dengan sebutan tukang las. San tanya lalu bagaimana ia memanggil Hae Joo. Karena sekarang Hae Joo mengajari San mengelas Hae Joo meminta San memaggilnya guru. Ia berjanji akan mengajari San mengelas besok. San tersenyum menatap kepergian Hae Joo. (mengajari mengelas apa ini trik San untuk bisa bersama Hae Joo hihi..)
Park Gi Chul terus mendatangi pemilik perkebunan pir tapi ada salah satu yang menolak membubuhkan cap tanda tangan. Park Gi Chul jelas tak mengerti bukankah waktu itu paman ini telah memutuskan untuk menjualnya. Paman itu bilang kalau rumor yang ia dengar tak begitu baik. Gi Chul tak paham rumor apa.

Paman itu mengatakan kalau ia mendengar akan ada pabrik galangan kapal yang akan dibangun di perkebunan pir ini dan ia juga mendengar kalau pemilik lahan mau menunggu beberapa saat lagi kemungkinan ia dan pemilik lain akan memperoleh harga penjualan yang lebih tinggi. Park Gi Chul bertanya siapa yang bilang begitu.
“Aku yang bilang.” ucap seseorang yang baru saja datang. Yoon Jung Woo. Park Gi Chul jelas terkejut Jung Woo ada disini. Jung Woo menebak apa Gi Chul yang melakukan pembelian perkebunan ini. Gi Chul mengiyakan. Tanpa banyak bicara Jung Woo langsung merobek surat perjanjian penjualan lahan pir. Jung Woo mengatakan kalau kontrak penjualannya tidak sah dan pemilik lahan ini akan mengembalikan kembali uangnya.
Park Gi Chul dan Jung Woo bicara berdua di depan gubuk tempat tinggal Jung Woo. Gi Chul menanyakan sejak kapan Jung Woo tinggal disini. Jung Woo menjawab kalau ia sudah 2 bulan menetap disini. Ia berkata kalau ia sedang belajar di kuil tapi ia harus datang kesini karena ada situasi yang tak terduga. “Kakak, kenapa kau hidup seperti ini di bawah Jang Do Hyun?” tanya Jung Woo. Gi Chul tak mengerti, “Aku? Kenapa?”

Jung Woo : “Membeli perkebunan pir. Kau yang paling tahu kalau kakak-ku memberikan perkebunan pir itu pada masyarkat. Kau tahu karena kau selalu mendampinginya. Tapi apa dekat dengan Jang Do Hyun membuatmu mencoba mengambil alih perkebunan pir ini?”

Gi Chul memberi tahu kalau tiap lahan milik mereka akan dibayar dan juga perkebunan pir ini panen-nya sedang tak baik. Jung Woo mengatakan kalau alasan panen pir tidak bagus itu karena pabrik petrokimia milik Presdir Jang Do Hyun. Ia menilai kalau Presdir Jang pura-pura membantu setelah menyebabkan semua masalah dan bantuan itu bernilai sangat kecil. Ia bertanya pada Gi Ghul bagaimana nasib pemilik lahan itu kelak. Dimana dan apa yang akan dilakukan orang-orang itu setelah mereka memperoleh uang yang hanya sedikit. Gi Chul terdiam tak bisa menjawab.

Jung Woo : “Kakak, kenapa kau tinggal disana? Apa itu karena keponakanku yang meninggal? Karena kau sangat menyesal sudah membuat Yoo Jin meninggal. Apa itu sebabnya kau tinggal dekat dengan kakak iparku? Apa kakak ipar bahkan pernah menengokmu?”

Gi Chul berkata kalau itu masalah pribadinya dan kali ini ia berkata demi Jung Woo. Ia mengingatkan Jung Woo jangan coba-coba memulai pertengkaran dengan Presdir Jang. Karena Presdir Jang Do Hyun yang sekarang bukan Jang Do Hyun yang dulu. Jung Woo berkata kalau ia bicara seperti ini karena ia manyukai Park Gi Chul tapi ia meminta Gi Chul jangan lagi melakukan pekerjaan kotor atas perintah Jang Do Hyun karena ia tak akan tinggal diam.
Presdir Jang berlatih golf di depan rumah ditemani sekertarisnya. Park Gi Cchul datang melaporkan hasil pekerjaannya. Presdir Jeng bertanya apa pembelian perkebunan pir-nya sudah selesai. Park Gi Chul terbata-bata mengatakan kalau semuanya belum selesai. Presdir marah karena ia sudah memberikan waktu yang lama untuk penyelesaian masalah ini. Ia meminta berkas pembelian perkebunan pir-nya. Surat kontrak pembeliannya hanya sedikit yang Park Gi Chul dapatkan ini jelas membuat Presdir Jang marah dan melemparkan surat itu ke wajah Gi Chul.
Presdir Jang murka dan mulai memukuli Gi Chul dengan tongkat golf-nya hingga membuat Gi Chul jatuh. “Belakangan ini dimana kau menaruh otakmu? Karena kau tak mengerjakan apapun dengan benar. Kau bahkan menyemprot cairan kimia ke perkebunan pir itu. Tapi apa ini? Apa kau sedang bermain-main sekarang?” Presdir Jang terus melayangkan pukulan tongkat golf ke kaki Park Gi Chul.

Chang Hee tak sengaja melintas disana dan melihat ayahnya tengah dipukuli. Ia ingin maju menolong ayahnya tapi apa mau dikata ia tak berani berhadapan langsung dengan Presdir Jang. Ia menatap sedih ayahnya yang terus dipukuli habis-habisan. Chang Hee menangisi dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong ayahnya.

Park Gi Chul mengatakan kalau ada orang yang menghasut warga supaya tak menjual lahan pir mereka. Presdir tanya siapa orang itu. Gi Chul mengatakan kalau orang itu Jung Woo. Adiknya Hak Soo, Yoon Jung Woo.

Presdir Jang jelas geram dan kembali memukuli Gi Chul dengan tongkat golf nya. Chang Hee tak sanggup melihat ayahnya diperlakukan seperti ini tapi apa mau dikata karena orang itu Presdir Jang. Ia tak bisa berbuat apa-apa.
Presdir Jang marah dan menebak pasti kakek tua ini (kakek Kang Dae Pyung) dibalik semuanya. Presdir Jang mengatakan kalau kakek tua itu yang menyeret Jung Woo ke dalam masalah ini. Presdir Jang melihat Chang Hee tapi ia tak peduli dan segera masuk rumah dengan kemarahannya.

Melihat Presdir Jang sudah pergi Chang Hee segera membantu ayahnya. Chang Hee mencemaskan kondisi ayahnya. Ia manatap geram Presdir Jang yang baru saja masuk ke rumah.
Chang Hee menempelkan koyo di kaki ayahnya. Ia melihat kaki ayahnya penuh dengan belas luka (hmmm salah satunya luka bulat. Luka terkena tembakan Jang Do Hyun 11 tahun lalu) Gi Chul mengatakan kalau itu luka yang ia dapat ketika wamil.
Chang Hee melihat kalau punggung ayahnya penuh bekas pukulan, biru lebam. Chang Hee menangis melihatnya. “Apa seperti ini? Bertahan dari semua ini? Kenapa ayah mau tinggal disini?”
Terdengar suara sekertaris Presdir memanggil Park Gi cul untuk segera keluar dan ikut dengan Presdir. Park Gi Chul segera memakai pakaiannya dan keluar. Dengan langkah terpincang-pincang ia ikut dengan Presdir Jang.
Sebelum pergi Presdir Jang berpapasan dengan putranya. Il Moon bertanya apa ayahnya akan pergi keluar, Presdir mengiyakan. Presdir gantian menanyakan apa Il Moon akan pergi menonton opera. Il Moon menjawab ya. Presdir Jang berpesan agar putranya bisa meredakan stres dan belajar lebih giat. Il Moon mengerti, kemudian ia menatap heran Park Gi Chul yang berjalan terpincang-pincang.
Chang Hee keluar dari rumah dan menatap cemas ayahnya. Il Moon bertanya kenapa kaki ayah Chang Hee pincang. Chang Hee tak menjawab. Il Moon kesal karena Chang Hee tak menjawab ketika ia bertanya. Il Moon memukul-mukul pelan wajah Chang Hee, sebuah pukulan dengan arti meremehkan. Il Moon tertawa-tawa Chang Hee diam menahan emosi dan yang pasti dia mengepalkan tangannya.
Kakek Kang berada di kantornya membaca berita yang menyatakan kalau perusahaan petrokimia Chun Ji sudah mengumumkan akan membuat kontruksi galangan kapal di Ulsan. Kakek geram membaca berita itu. Ia meremas koran dan membantingnya. Ternyata Jung Woo ada disana.

Jung Woo berkata kalau ia akan melakukan pekerjaan yang diminta kakek tapi dengan satu syarat, berikan 3 kali lipat pembayaran yang ditawarkan Jang Do Hyun pada pemilik perkebunan. Kakek membentak dan menilai Jung Woo sudah gila. Apa Jung Woo menyuruhnya kalah dalam bertransaksi. Jung Woo berkata kalau kakek tak akan kehilangan terlalu banyak setidaknya kakek bisa mencegah Presdir Jang membangun galangan kapal disini. Kakek berkata meskipun begitu ia tak bisa melakukan pembayaran 3 kali lipat.

Mendengar kakek tak mau membayar sebanyak itu Jung Woo pun mengancam kalau ia tak akan ikut campur kalau Presdir Jang akan membangun galangan kapal disini. Kakek jelas tak mau ada pabrik galangan kapal lain. Ia pun memberikan penawaran lain, bagaimana kalau 2 kali lipat dari harga penawaran Jang Do Hyun.
Presdir Jang, sekertarisnya dan Park Gi Chul naik kapal kecil meninjau pabrik galangan kapal yang ada disana. Ia memuji kalau angin laut disana sangat bagus. Ia mengatakan apapun yang terjadi mereka harus mengalahkan kakek tua itu supaya ia bisa melakukan tujuannya. Ia harus mendapatkan perkebunan pir, apapun yang terjadi ia harus mendapatkannya. “Dan kalau itu sudah didapatkan itu juga!” Kata Presdir Jang sambil menunjuk pabrik galangan kapal milik kakek. (ambisius, menginginkan galangan kapal Kakek)

Mata Park Gi Chul tertuju ke satu arah. Ia memberi tahu kalau air nya masuk ke dalam kapal. Presdir Jang melihat ada air tergenang masuk ke kapalnya makin lama makin banyak. Kapalnya bocor. Presdir Jang menatap marah sekertarisnya.
Presdir Jang kesal bukan main karena sepatunya jadi basah kuyup. Plak.. ia langsung menampar sekertarisnya keras karena berani mengatakan kalau bisnis reparasi kapal disini baik. Tapi nyatanya kapalnya masih bocor. Ia menuduh apa sekertarisnya ini bersaudara dengan pemilik tempat reparasi. Sekertaris Presdir menunduk minta maaf. Presdir Jang yang sudah kesal mendorong-dorong kepala sekertarisnya dengan telunjuk.

Presdir Jang akan masuk ke mobil jemputannya tapi ia melihat Park Gi Chul celingukan mencari seseorang. Ia pun menyuruh Gi Chul segera masuk ke mobil. (celingukan nyari Hong Chul nih)
Teman sekerja Hong Chul mengatakan kalau di kapal sana mengalami masalah dengan mesin. Hong Chul pun akan segera memeriksanya tapi ia berpapasan dengan Hae Joo dan San. Hae Joo bertanya pada ayahnya apa mereka bisa latihan mengelas disini. Ayahnya membolehkan tapi ia sekarang sedang sibuk dan berpesan agar Hae Joo hati-hati.
Hong Chul memeriksa mesin kapal dan bertanya apa mesin ini buatan Jepang dan mereka pun tak memiliki peralatannya untuk memperbaikinya. Teman kerja Hong Chul mengatakan kalau kemungkinan perusahaan Dae Han memiliki peralatannya.
Hae Joo melepas rompi dan akan memakai baju pelindung mengelas. San melihat kalau leher belakang Hae Joo ada bekas lukanya. San bertanya apa Hae Joo juga memiliki bekas luka bakar. San heran bagaimana bisa luka bakar ketika mengelas api ada di leher bagian belakang. Hae Joo mengatakan kalau luka itu bukan didapat karena mengelas. San penasaran jadi luka karena apa. Hae Joo bilang kalau ia juga tak tahu. “Tunggu sebentar kenapa matamu melihat-lihat kesana?” Hahaha
Plok... Hae Joo memukul kepala San dengan besi kecil yang ada disana. San sewot, “Hey tukang las apa kau tak tahu betapa berharganya kepalaku ini?”

Hae Joo marah San masih memanggilnya dengan sebutan tukang las. Ia mengancam kalau San memanggilnya dengan sebutan tukang las sekali lagi ia akan mengelas seluruh kepala San. hahaha.
Hae Joo menyuruh San diam dan memperhatikannya baik-baik.
“Baiklah tukang las aku mengerti!” sahut San.
Hae Joo melotot mendengarnya.
“Tidak maksudku guru!” Kata San sambil memberi hormat pada Hae Joo hihi..

San kembali menatap luka di leher belakang Hae Joo. Ia penasaran kenapa luka itu bisa berada disana.
Chang Hee menggantikan tugas ayahnya memotong rumput halaman. Ia mendorong alat pemotong rumputnya sambil melamun. Hingga panggilan Geum Hee pun tak didengarnya.
Geum Hee melihat bekas luka di leher belakang Chang Hee ia pun teringat kejadian 11 tahun lalu. Geum Hee kembali memanggil Chang Hee. Kali ini Chang Hee merespon panggilannya. Ia menanyakan kenapa Chang Hee melakukan pekerjaan ini. Chang Hee mangatakan kalau ayahnya sibuk jadi ia menggantikannya. Geum Hee berkata kalau anak sekolah seharusnya belajar tak perlu melakukan pekerjaan ini.
Geum Hee melihat tubuh Chang Hee penuh dengan keringat. Ia juga melihat Chang Hee dengan seksama dan tak menyangka kalau Chang Hee sudah sebesar ini karena ia ikut membesarkan Chang Hee ketika masih kecil.

Bibi pembantu melapor pada Geum Hee kalau In Hwa tak ada di kamarnya dan pergi ke pabrik.
Hae Joo terkagum-kagum melihat kapal yang ada di dermaga (hmm kapalnya Presdir Jang yang bocor tadi) Ia memuji kalau kapalnya sangat cantik. Ia pun berlari mendekat. San mengikutinya.
Hae Joo bertanya kapal jenis apa ini. San mengatakan kalau ini kapal pesiar. San menjelaskan kalau pendeknya ini bukan kapal pesiar tapi perahu motor.

Hae Joo menanyakan apa bedanya perahu motor dengan kapal pesiar. San menjelaskan kalau kapal pesiar menggunakan angin sebegai sumber utama penggerak kalau perahu motor dibedakan dari ukurannya. Kalau lambung kapal berukuran kurang dari 30 meter maka itu perahu motor atau kapal kecil. Hae Joo heran bagaimana bisa pembohong seperti San bisa tahu banyak tentang kapal.
In Hwa datang memanggil San. San jelas bete harus bertemu lagi dengan In Hwa, “Kenapa makhluk itu bisa muncul disini?” Hahaha..

In Hwa menatap heran Hae Joo kenapa selalu mencari kesempatan untuk berdekatan dengan San. Hae Joo menyangkal bukan dirinya yang mengikuti San. In Hwa melarang Hae Joo dekat-dekat dengan San nih.

San : “Hey siapa kau berani memerintah orang untuk dekat atau tidak pada seseorang? Kau ini gadis yang lucu.”
In Hwa langsung merangkul lengan San dan mengajaknya pergi. San tanya pergi kemana. In Hwa mengajak San menonton opera. San melepaskan rangkulan tangan In Hwa dan berkata kalau ia tak suka dengan opera jadi In Hwa saja yang pergi.

In Hwa kesal dan ingin tahu apa yang akan dilakukan San sekarang. San menjawab kalau ia akan melihat kapal. In Hwa heran dan melihat kapal yang ada di depanya. Ia langsung berseru kalau kapal ini milik ayahnya. Hae Joo tak percaya, benarkah?
In Hwa pamer bukankah kapal ayahnya ini bagus. San berkata kalau kapal ini sedikit bagus. In Hwa mengatakan kalau bagian dalamnya lebih menakjubkan lagi. Ia menawarkan apa San mau melihat-lihat ke dalam kapal ayahnya. Hae Joo jelas saja senang, “Apa aku benar-benar boleh melihat-lihat?”
In Hwa menatap sinis meminta Hae Joo jangan ikut campur. In Hwa kemudian tersenyum pada San dan mempersilakan San masuk ke kapal ayahnya.
San agak malas menanggapi In Hwa. Ia melirik ke arah Hae Joo. Hae Joo memberi kode agar San lebih baik masuk ke kepal. San pun akhirnya mau karena Hae Joo juga sepertinya tertarik untuk melihat.
Ada yang memanggil In Hwa, Chang Hee. Chang Hee mengatakan kalau Nyonya (Geum Hee) memintanya membawa In Hwa pulang. Tapi In Hwa tak mau. Ia pun masuk ke kapal ayahnya mengajak San.
Dan keempatnya pun naik ke kapal. Hae Joo langsung ke bagian depan. Ia memandang lautan luas dan terkagum-kagum.
Hae Joo masuk ke ruang kemudi disana ada San dan In Hwa. Sementara Chang Hee menunggu di luar. Hae Joo memuji kalau kapalnya sangat bagus. In Hwa meminta pendapat San tentang kapal ayahnya bukankah bagus sekali. San berkata kalau kapal ini biasa saja karena ini hanya kapal nelayan. Hae Joo tak terima kalau kapal ini dianggap sebagai kapal nelayan, “Bicara apa kau? Mana ada kapal nelayan sebagus ini?”

Chang Hee mengingatkan In Hwa kalau Nyonya di rumah sudah menunggu. Tapi In Hwa tetap tak mau pergi tangannya terus mengait lengan San.

Hae Joo memegang-megang bagian kapal tapi In Hwa memarahinya melarang hae Joo menyentuh apapun nanti kotor katanya. San melihat kalau kuncinya masih ada disana.

“Kakak, haruskah kita mencobanya?” In Hwa memberi usul.
“Apa kau tahu cara mengendarainya?” Tanya San.
“Bukankah cukup disetir saja.” ucap In Hwa santai.
In Hwa pun menyalakan mesinnya. Kapal pun bergerak. In Hwa kebingungan tak tahu harus bagaimana. Hae Joo berteriak kalau In Hwa harus hati-hati. Ia pun mengambil alih kemudinya. Dan kapal pun bergerak.

San tak percaya ternyata Hae Joo bisa menyetir kapal juga. Hae Joo mengatakan kalau ia belajar dari ayahnya. San memuji kalau kemampuan Hae Joo ini keren. In Hwa membenarkan kalau seorang supir itu harus bisa menyetir.
In Hwa menyuruh Hae Joo terus menyetir dan jalan-jalan sebentar dengan kapal ayahnya. Tapi Hae Joo tak bisa ia takut karena ini kapal mahal. In Hwa tak peduli karena ini kapal ayahnya jadi lakukan saja kalau Hae Joo memang bisa. San setuju usul In Hwa karena menurutnya ini menyenangkan. Ia mengajak agar kapalnya dibawa lebih jauh sedikit.

San ingin kapalnya bergerak lebih jauh lagi tapi Hae Joo tak bisa mereka harus segera kembali ke dermaga. Chang Hee setuju ia takut kalau nanti akan terjadi masalah. Tapi In Hwa tetap ngotot tak mau kalau Chang Hee dan Hae Joo mau pergi silakan saja lompat dan ia yang akan menyetir. In Hwa menyuruh Hae Joo menyetir lebih jauh lagi.
Teman kerja Hong Chul terheran-heran kemana kapal itu pergi. Ia pun bertanya-tanya apa kapalnya sudah diperbaiki (wah kapalnya masih rusak)

Hae Joo menunjukan kebolehannya dalam membelokkan kapal dan ini membuat San terkagum-kagum. Mendengar San begitu mengagumi kamampuan Hae Joo menyetir kapal In Hwa juga ingin mencobanya. Tapi Hae Joo tak membolehkan karena ini berbahaya. In Hwa memaksa karena menurutnya ini tidak sulit. Kapal ini milik ayahnya jadi biarkan ia menyetir.
Tapi ketika In Hwa akan mengambil alih setirnya tiba-tiba mesinnya mati. Keempatnya terkejut. Hae Joo mencoba menghidupkan mesin tapi tak berhasil.
Chang Hee dan San segera keluar mencari pertolongan. Keduanya berteriak dan melambaikan tangan mencari bantuan. Tapi sayang kapal mereka sudah berada jauh di tengah. Tak ada yang melihat ataupun mendengar keduanya.

Hae Joo terus mencoba menghidupkan mesinnya tapi gagal. Chang Hee mengatakan kalau kapalnya semakin menjauh dari pesisir. Ia cemas apa yang harus mereka lakukan. Hae Joo juga tak tahu harus bagaimana.
Tiba-tiba kapal mengalami goncangan. In Hwa takut, apa itu. Dan mereka melihat genangan air masuk ke dalam kapal.

“Kapalnya bocor bagaimana ini?” Mereka cemas.

Chang Hee mangajak semua mengeluarkan air yang masuk ke kapal. Ia bertanya apa di kapal ini ada ember atau semacamnya.

In Hwa berteriak cemas, “Bagaimana ini? Cepat cepat keluarkan airnya! Kita akan tenggelam kalau begini terus.”
Hae Joo menemukan beberapa baskom kecil. Ia, San dan Chang Hee berusaha membuang air yang masuk ke kapal. Tapi air yang masuk semakin banyak.
In Hwa menyingkir mancari tempat yang lebih tinggi, “Apa yang kulakukan? Bajuku jadi basah!” (busyet nih anak lagi kayak gini masih mencemaskan bajunya)
Ketiganya bekerja sama sekuat tenaga membuang air yang masuk ke kapal.

9 comments:

  1. kang san so sweet,,,lanjut mbak anis, Smangat ^_^

    ReplyDelete
  2. Hai anis
    Boleh request tdk?
    Minta lagu endingnya donk
    kalo ga salah judulnya goodbye to romance yg nyanyi sonya
    Saya ga dpt link buat download :(
    thx before
    -Yantie-

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga nyari link download ost-nya tapi emang belum ada... mungkin belum dirilis...

      Delete
  3. Para pemeran remajanya T.O.P yah,, totalitas aktingnya dpt 2 jmpol dah,, dngr2 ratingnya MQ jg naik trus yah nis?
    Oia nis, pmran dwasanya mulai nongol d eps brp ya?
    Lanjut sinopna nis...

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju Mimu pemeran remajanya top semua... iya ratingnya makin naik... Five Fingers yang makin turun ratingnya...

      karakter dewasa muncul di episode 9.

      pemeran dewasa sumpeh keren hahaha....

      Delete
    2. setuju mbak, eps 9 ma 10 dr yg blum ada subtitle, ulang lg nyari yg ada subtitle, addicted banget ^_^

      Delete
  4. ya iya keren, klo g keren mana mau mb anis ambil nie, apalgi KJW....

    ReplyDelete
  5. di awal episode nie aq masih nangis smp diadegan tidur di luar... mbk, air mataku jauh di lantai, dadi mrembes dech

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...