Thursday, 4 October 2012

Sinopsis May Queen Episode 6

Dengan tangan gemetaran Park Gi Chul berniat mendorong Hong Chul dari atas tebing. Hae Joo yang berlari mencari ayahnya melihat apa yang akan dilakukan Gi Chul, ia pun memanggilnya.
Gi Chul tersentak kaget mendengar panggilan Hae Joo. Hae Joo tak mengerti dan bingung tangan Gi Chul tadi mau melakukan apa. Gi Chul bilang bukan apa-apa.
Hong Chul bertanya pada Hae Joo kapan datang. Hae Joo tak menjawab ia teringat kalau tadi ada rentenir dan pasti akan mencari ayahnya. Ia mengajak ayahnya makan di luar sekarang agar tak bertemu dengan si rentenir.

Hong Chul heran dengan ajakan makan di luar untuk apa makan di luar kalau kita bisa pulang ke rumah. Hong Chul mengajak putrinya pulang tapi Hae Joo menghalangi ayahnya. Hong Chul makin heran ada apa sebenarnya dan ternyata si rentenir datang juga kesana memanggil Hong Chul.
Hong Chul jelas terkejut dan berusaha melindungi putrinya. Bos rentenir memuji kalau pemandangan disini bagus. Kenapa Hong Chul disini dan bukannya makan malam di rumah. Hong Chul mencoba bersikap sopan dan berbasa-basi menanyakan kapan datang.

Bos rentenir mengatakan kalau tujuan kedatangannya tentu saja karena uang, apa Hong Chul pikir ia kesini hanya untuk bermain. Hong Chul sadar kalau kedatangan mereka untuk menagih hutang. Tapi Hong Chul bilang kalau hari gajiannya masih beberapa hari lagi. Bos rentenir mencibir orang berhutang seperti Hong Chul ini terlihat sangat santai. Ia memberi kode pada anak buahnya.

Mereka mengerti dan langsung membopong Hae Joo untuk dibawa pergi. Hae Joo meronta berteriak memanggil ayahnya. Hong Chul akan menolong tapi anak buah bos rentenir yang lain memeganginya.
Bos rentenir mencengkeram baju Hong Chul dan berkata kalau Hong Chul bisa saja meminta pembayaran gaji dimuka di tempat kerja. Ia memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor telepon dan nomor rekening. Ia meminta Hong Chul segera membayar bunganya minggu depan. Ia pun mengajak anak buahnya pergi dan menurunkan Hae Joo. Bos rentenir kembali mengingatkan kalau Hong Chul hanya memiliki waktu sampai minggu depan.
Ketika mereka akan pergi anak buah bos rentenir mengingatkan bos-nya bukankah mereka sudah jauh-jauh datang kesini apa mereka akan pergi begitu saja tanpa pengganti uang bensin.

Mereka pun meminta pengganti uang bensin pada Hong Chul tapi Hong Chul tak punya uang. Anak buah bos rentenir kesal dan akan memukul tapi Park Gi Chul bilang kalau ia akan memberikannya. Gi Chul mengeluarkan dompetnya tapi dengan cepat bos rentenir mengambil dompetnya. Ia mengambil semua uang Gi Chul dan melemparkan dompetnya dan kembali mengingatkan agar Hong Chul segera membayar bunganya.
Ketiganya sampai di depan rumah. Park Gi Chul ingin tahu bagaimana Hong Chul bisa terlilit hutang. Hong Chul mengatakan kalau ia menabrak kapal boat mereka saat sedang mabuk dan ia harus membayar bunga diatas bunga dan menurutnya pusarnya sekarang lebih besar daripada perut. (hmm mungkin bunganya sudah lebih besar daripada hutang aslinya)

Hae Joo berterima kasih atas bantuan Gi Chul tadi. Ia mengajak Gi Chul makan malam bersama. Tapi Gi Chul bilang tak usah karena ada yang harus ia kerjakan jadi ia harus segera pergi.
Park Gi Chul menemui Presdir Jang di kantor. Presdir Jang menanyakan kenapa Gi Chul datang sendirian bukankah ia jelas mengatakan menyuruh Gi Chul membawa Hong Chul. Gi Chul berbohong kalau Hong Chul tak mau datang, apapun sudah ia lakukan untuk membujuknya tapi Hong Chul bilang dia tak mau datang.

Presdir Jang heran apa sebenarnya keinginan orang itu, apa uang. Gi Chul terbata-bata berkata mungkin saja yang diinginkan Hong Chul adalah uang. Ia memberi tahu kalau Hong Chul datang ke Ulsan karena dia terlilit hutang, kalau Presdir Jang memberi uang mungkin Hong Chul akan meninggalkan Ulsan.

“Apa kau pikir kau bisa menyingkirkan orang seperti itu dengan mudah? Sekali kau menyelesaikan masalah menggunakan uang maka kau akan terus mengisi ulang celengan babi mereka seumur hidupmu.” jelas Presdir Jang.

Park Gi Chul menyangkal kalau Hong Chul bukan orang yang seburuk itu, dia bersikap seperti ini karena kantongnya sedang kosong. Presdir bertanya apa perkataan Gi Chul ini bisa dipertanggungjawabkan. Apa dengan memberi uang Hong Chul tak akan mengancam lagi. Gi Chul mengiyakan. Presdir Jang setuju ia akan memberikan uang itu lusa sebelum ia ke Seoul. Ia meminta Gi Chul bertanggung jawab atas semuanya dan mengembalikan ke situasi semula.
Kemudian Presdir Jang tertawa penuh ancaman, “Chang Hee sangat pintar kan? Bukankah sebaiknya hidupnya berbeda darimu?”

Gi Chul cemas Presdir Jang menggunakan Chang Hee untuk mengancamnya. Ia jelas tak ingin terjadi sesuatu pada putranya. Presdir Jang tertawa terbahak-bahak dengan ancamannya.
Hong Chul berjalan melamun di depan rumahnya, ia menghela nafas panjang memikirkan bagaimana mendapatkan uang dalam waktu singkat untuk membayar hutangnya. Tapi tiba-tiba panggilan Jung Woo membuyarkan lamunannya.

Jung Woo menanyakan apa yang dilakukan Hong Chul di depan rumah. Hong Chul berkata kalau ia sedang menikmati udara segar. Jung Woo pun pamit akan pulang tapi Hong Chul teringat sesuatu dan memberanikan diri bertanya.
Keduanya berbicara di rumah Jung Woo. Jung Woo terkejut dengan apa yang ditanyakan Hong Chul mengenai Presdir Jang Do Hyun. Hong Chul bertanya apa Jung Woo mengenal Presdir Jang. Jung Woo menjawab kalau ia sedikit mengenalnya dan bertanya kenapa Hong Chul menanyakan ini.

Hong Chul ingin tahu apa putri Presdir Jang yang meninggal itu benar-benar sudah meninggal. Jung Woo heran dari mana Hong Chul tahu tentang ini. Hong Chul menjelaskan kalau Presdir Jang pernah membawa kapal untuk diperbaiki di tempat reparasi kerjanya dan disana ia mendengar itu dari teman-temannya.
Jung Woo mengatakan kalau itu bukan putri Presdir Jang, anak itu benar meninggal tapi itu bukan putri Presdir Jang melainkan putri istrinya. Hong Chul bingung kalau dia putri istri Presdir Jang tentu saja dia juga putri Presdir Jang. Jung Woo memberi thu kalau ini pernikahan kedua bagi pasangan itu. Hong Chul terkejut mendengarnya. Jung Woo makin heran kenapa Hong Chul sangat penasaran dengan Presdir Jang. Hong Chul bilang bukan apa-apa.
Hong Chul pulang ia memikirkan apa yang baru saja didengarnya dari jung woo. “Jadi ini pernikahan keduanya?” Dan Hong Chul pun menarik sebuah kesimpulan.
Geum Hee memberi tahu suaminya kalau tadi Bong Hee datang. Presdir mengatakan seharusnya istrinya ini meminta Bong Hee untuk bertemu dengannya. Ia memberi tahu kalau sebenarnya ia sedang berusaha merekrut Bong Hee untuk masuk ke perusahannya.

Geum Hee bertanya kalau suaminya bertemu dengan Bong Hee apa hanya akan membahas masalah pekerjaan. Karena ia sendiri ingin membuat adiknya berhenti bekerja. Adiknya ini sangat tergila-gila dengan minyak sampai-sampai tak mau bertemu dengan pria. Presdir Jang tertawa itu sebabnya ia meminta istrinya agar Bong Hee menemuinya. Ia akan bertanggung jawab dan mempertemukan Bong Hee dengan pria baik. Ia ingin tahu dimana Bong Hee tinggal sekarang. Geum Hee tak tahu dimana adiknya tinggal, ia mendengar kalau adiknya sedang mengambil cuti panjang selama sebulan dari pekerjaannya.

“Siapa yang tahu dia dimana? Bisa saja dia pergi ke Himalaya seperti waktu itu.” Presdir Jang menegaskan pokoknya kalau Bong Hee datang lagi istrinya harus menahan dia. Presdir kemudian teringat kalau besok ia akan ke Seoul dan menginap selama semalam.

Geum Hee heran, pergi ke Seoul? Presdir Jang berkata kalau ada yang perlu ia kerjakan disana, “Kenapa apa kau tak mau aku pergi?” Kata Presdir Jang memeluk istrinya. Geum Hee tersenyum dan berkata bukan itu hanya saja... ia berhenti tak melanjutkan kata-katanya dan sambil melepas pelukan suaminya ia berpesan hati-hati di jalan.
Hong Chul duduk sendirian di depan rumah sambil memandang baju rajutan kuning. Hae Joo keluar rumah membawa selimut, ia melihat ayahnya tengah melamun. Ia pun memanggilnya dan membuat Hong Chul tersentak. Hong Chul segera menyembunyikan baju rajutan kuning itu.
Hong Chul melihat Hae Joo membawa beberapa selimut, akan Hae Jo apakan selimut itu malam-malam begini. Hae Joo mengatakan akan bagus jika ibunya menggunakan selimut yang baru dicuci setelah melahirkan nanti.
Hae Joo segera merendam selimut dan mencucinya. Hong Chul menatap keceriaan Hae Joo dengan perasaan sedih.
Keesokan harinya Hong Chul mengungkapkan pada keluarganya mengenai rencana pindah mereka. Mereka heran kenapa pindah lagi. Hong Chul mengatakan kalau penagih hutang akan terus datang kalau mereka tak pergi.

Si kecil Young Joo takut dengan orang-orang itu. Hae Joo berusaha menghibur ketakutan Young Joo memastikan kalau ada dirinya jadi Young Joo tak perlu takut. Sang Tae bertanya apa mereka harus melarikan diri lagi. Ayah tak menjawab. Ibu ingin tahu kemana lagi mereka akan pergi. Hong Chul tak tahu dan bertanya bagaimana dengan keluarga istrinya yang di Incheon.
“Apa kau gila? Apa kau mau aku kembali mendekati keluargaku dengan keadaan seperti ini? Apa kau pikir aku tak pernah minta tolong pada mereka? Karena kau, kakakku hampir bangkrut. Kenapa kau tak menyuruhku mati saja?” Ibu jelas tak setuju.

“Lalu kemana lagi kita harus pergi?” Tanya Hong Chul lirih tak tahu harus kemana.
“Kenapa bertanya padaku?” Ibu mengeluh, “Aku tak tahu apa kita harus melahirkan bayi ini dan tinggal di kolong jembatan atau menenggelamkan diri kita di laut. Pikirkan saja sendiri karena kau kan sangat hebat dan paling tahu,”
Ibu meminta Hae Joo minggir karena ia ingin berbaring. Melihat itu Hae Joo akan menggelar selimut tapi ibu bilang tak usah. Ia kembali mengeluh, kenapa hidupnya seperti ini sebentar lagi akan melahirkan tapi suaminya malah mau pindah lagi. “Ya ampun hidupku yang berantakan. Bagaimana mungkin Jo Dal Soon bertemu dan hidup dengan orang ini. Bayiku yang malang apa yang harus kulakukan.”
Ketika akan berangkat bekerja Hong Chul terkejut melihat Park Gi Chul berdiri di luar rumahnya. Keduanya bicara menjauh dari rumah.

Gi Chul memperlihatkan 2 amplop besar berisi uang. Hong Chul tak mengerti apa ini. Park Gi Chul mengatakan dengan uang sebanyak ini Hong Chul bisa membeli kapal setelah menyelesaikan hutang. Hong Chul mengambil uangnya, ia bingung. Park Gi Chul meminta agar Hong Chul menerima uang ini dan segera tinggalkan Ulsan. Ia juga meminta Hong Chul memberikan padanya baju kuning yang Hong Chul tunjukan pada Presdir.

Hong Chul bingung ia menimbang-nimbang semuanya. Ia sangat membutuhkan uang tapi Hae Joo jauh lebih penting. Ia teringat hari dimana Hae Joo mendengar kalau dia bukan putri kandung istrinya dan menanyakan siapa ibu kandungnya.
Hong Chul kembali meletakan uang itu. Ia tak bersedia menerimanya dan akan pergi tapi Gi Chul memanggilnya. Hong Chul bertanya apa Presdir Jang yang memberikan uang ini. Gi Chul berbohong ia mengatakan kalau uang ini miliknya. Hong Chul berkata kalau ia mendengar ini adalah pernikahan kedua bagi Presdir Jang dan istrinya, “Anak yang seharusnya mati, Yoo Jin. Dia itu Hae Joo kan?”
Gi Chul menyangkal bukan. Ia cemas apa yang Hong Chul bicarakan. Hong Chul bertanya apa Hae Joo menjadi penghalang Presdir Jang menikahi istrinya. “Apa itu sebabnya kau bilang kalau dia sudah meninggal dan menyerahkannya padaku?”

Gi Chul terus menyangkal. Hong Chul tak percaya ia akan memastikanya sendiri pada Geum Hee. Gi Chul menahan tangan Hong Chul dan memohon. Hong Chul emosi, ia tak mau mendengar apa yang Gi Chul katakan. Ia tak bisa lagi mempercayai Gi Chul. Gi Chul meyakinkan dengan uang ini Hong Chul dan keluarga akan bebas dari kemiskinan.

“Hae Joo, bukankah kau menganggapnya sebagai putrimu yang berharga.” Tapi Hong Chul tak mau melakukannya, ia tak bisa melakukan ini. Gi Chul mengeraskan suaranya memohon agar Hong Chul memikirkannya sekali lagi. Ia pun akhirnya berkata jujur dan membenarkan bahwa Hae Joo adalah Yoo Jin. “Tapi kalau anak itu kembali sekarang apa yang akan terjadi pada keluarga itu? kubilang padamu kalau hal ini tak akan berujung baik juga pada Hae Joo.” Tapi menurut Hong Chul itu akan jauh lebih baik daripada Hae Joo hidup menderita bersamanya. Sekarang ini Hae Joo seperti hidup di dalam neraka.
Gi Chul menahan tangan memohon tapi Hong Chul menepisnya keras hingga membuat Gi Chul terlempar jatuh. Hong Chul tak mempedulikannya ia meninggalkan Gi Chul seorang diri.
Gi Chul berusaha bangun. Ia melihat ada sebongkah batu. Muncul kembali niat jahatnya untuk menghalangi Hong Chul menemui Geum Hee. Ia mengambil batu itu dengan tangan gemetaran. Tapi ia marah dengan niatnya. Ia pun mengurungkannya.
“Baiklah aku mengerti.” ucap Gi Chul membuat langkah Hong Chul terhenti. Ia akan membiarkan Hong Chul bertemu dengan Geum Hee. Ia mengingatkan kalau tak ada hal baik yang akan terjadi kalau Presdir Jang mengetahuinya tapi setidaknya Hong Chul harus bisa mencoba menemui Geum Hee. Hong Chul ingin tahu kapan dan dimana ia bisa menemui Geum Hee. Gi Chul berkata malam ini pukul 9. Ia mengajak bertemu di tempat industri laut. (wow kenapa bertemu di tempat seperti itu, Gi Chul merencanakan apa lagi)
Chang Hee tengah berada di perpustakaan sekolah. Ia mengambil buku dan membacanya sekilas. Ia pun memutuskan untuk meminjam buku itu.
Di kelas yang sepi, Kang San tengah menulis-nulis di papan tulis. Apa yang ia tulis, sekedar iseng mencoret-coret papan tulis kah? Tidak. Ia mencoba memecahkan suatu soal matematika. Chang Hee masuk kelas dan terkejut melihatnya.

“Apa ini?” tanya Chang Hee mengagetkan San. San mengumpat seharusnya Chang Hee memberitahu kalau datang apa Chang Hee ini hantu datang tiba-tiba. Chang Hee mendekat untuk melihat lebih jelas. Ia meminta penjelasan pada San apa semua ini.

“Oh ini? Ini teori terakhir Fermat” (Fermat Last Theorem)
“Fermat?” Chang Hee heran. San sadar kalau Chang Hee pintar jadi Chang Hee kemungkinan mengerti tentang ini.

San mengatakan kalau teori ini tak pernah terselesaikan selama lebih dari 350 tahun. Jadi ahli matematika dimanapun berusaha menyelesaikannya. Kata mereka bahkan Gauss tak pernah menyelesaikannya.

(Yang saya baca di wikipedia 357 tahun. Teori ini dipecahkan oleh Prof. Dr. Andrew Wiles seorang matematikawan muda (40 tahun) yang ahli teori bilangan dari Universitas Priceton AS. Aghhh saya ga mau bahas teori ini pusing. Googling sendiri aja)

“Tapi apa kau menyelesaikan ini? Tanpa satu buku pun?” Chang Hee masih heran. San menunjukkan dimana letak hitungannya terhambat dan dimana ia bisa menyelesaikannya.
“Saat n adalah bilangan bulat >2 maka terdapat tiga bilangan bulat positif x, y, dan z untuk persamaan x^n + y^n = z^n adalah benar (^ red=pangkat) sesuai perkiraan, masalahnya bilangan bulat jumlahnya tak hingga. Pasti ini berhubungan dengan elliptical. Apa aku harus mencobanya dengan persamaan elliptical?” San berfikir berusaha memecahkannya.
Chang Hee kembali menanyakan apa San yang menyelesaikan ini. San kesal Chang Hee terus bertanya apa ada yang salah dengan telinga Chang Hee, “Kubilang aku menyelesaikan ini karena aku belum bisa menyelesaikannya.”

Chang Hee makin heran ternyata San bisa menyelesaikan masalah seperti ini tapi apa yang salah dengan nilai pelajaran. “Kenapa kau rangking terakhir padahal kau memiliki kemampuan seperti ini?”
San tersenyum berkata kalau pekerjaan sekolah tidak menarik jadi lebih mudah menjadi urutan terakhir. Ah... San kesal dan akan melupakannya saja. Ia bahkan akan menghapus tulisan di papan tulisnya. Tapi Chang Hee mencegahnya ia akan melihat apa yang diselesaikan oleh San.

“Kenapa? Apa kau bisa menyelesaikannya?” Tanya San. Chang Hee diam mencoba berfikir. San sudah akan pergi, ia mengajak Chang Hee. Tapi Chang Hee diam saja. San pun meninggalkan Chang Hee sendirian di kelas yang masih bingung bagaimana San menyelesaikan soal ini.
Di depan gerbang sekolah San dikejutkan oleh panggilan In Hwa. San jelas malas melihatnya In Hwa, ini anak SD tapi kenapa selalu datang ke SMP setiap hari.

In Hwa : “Apa kau bertanya karena kau tak tahu? Kalau seorang wanita menunjukan usaha keras seperti ini bukankah sudah waktunya kau yang datang dan menunggu di depan sekolahku? Kalau dipikir-pikir aku ini terlalu baik padamu, Kak!” (wehehehe)
San : “Aigoo... kau bisa berhenti bersikap sebaik itu. pergi, pergi, tolong!”
San akan meninggalkan In Hwa tapi gadis itu berkata kalau ayahnya meminta dirinya memberikan buku ini pada San. San menoleh dan terkejut In Hwa membawakan buku yang ia cari ‘Fermat Last Theorem’ San meminta buku itu diberikan padanya. Tapi tentu saja In Hwa tak ingin memberikannya secara cuma-cuma. Apa yang akan San berikan padanya kalau ia memberikan buku ini.

“Dasar anak ini. Apa kau tak mau memberikan itu padaku?”
“Kalau kau tak menjawab aku akan merobeknya.” ancam In Hwa. Bahkan ia mengancam akan membuang bukunya. San mengerti ia akan membelikan In Hwa makanan yang enak. In Hwa tentu saja senang dan memberikan buku itu pada San.
San membuka tiap lembar buku itu dengan serius. In Hwa tanya makanan enak apa yang akan San belikan untuknya. San mengabaikannya ia terlalu serius dengan bukunya. In Hwa sewot.
Tok, San memukul pelan kepala In Hwa dan berkata kalau yang ia lakukan barusan adalah elusan yang nikmat hehe... Ia harap In Hwa menyampaikan ucapan terima kasihnya pada Presdir Jang. San berlalu meninggalkan In Hwa yang tentu saja kesal hehe.
Ketika membersihkan kamar Hae Joo menemukan kotak merah tempat ayahnya menyimpan baju rajutan kuning. Ia membuka dan mengambil baju kuning itu. Hae Joo menanyakan perihal baju itu ketika ibu masuk ke kamar. Ia bertanya apa ibunya yang membuatkan baju ini untuk adik bayi karena menurutnya baju ini hasil rajutan tangan. Ibu bilang kalau ia tak pernah melakukan itu ia ingin melihat bajunya.
Ibu langsung terdiam ketika melihat baju itu. Hae Joo berkata kalau baju itu bahkan ada gambar kapalnya. Ibu jelas marah karena baju itu mengingatkannya dengan hari ketika suaminya membawa seorang bayi yang bukan anak kandungnya. Ia menyuruh Hae Joo membuang baju itu. Hae Joo heran kenapa ibunya menginginkan baju ini dibuang karena sepertinya baju ini hadiah yang datang dari hati.

Ibu meninggikan suaranya, bukankah ia menyuruh Hae Joo untuk membuangnya. “Dimana kau mendapatkan benda busuk itu? kenapa kau mencoba memberikannya padaku?”

Hae Joo berkata kalau bukan ia yang membawanya. Ibu kembali meninggikan suaranya, apa Hae Joo ini tuli cepat pergi dan buang itu lalu bawakan lauk karena Sang Tae sudah kelaparan. Hae Joo mengerti ia segara keluar membawa baju itu.

Ibu menahan marah ternyata suaminya masih menyimpan baju itu, “Baik jadi kau tak bisa melupakannya sampai mati?” (mungkin maksud Ibu disini suaminya tak bisa melupakan selingkuhannya padahal Hong Chul ga selingkuh ya)
Park Gi Chul menemui seseorang. Sepertinya ia meminjam sebuah mobil bak terbuka. Ia pun pergi dengan mobil itu.
Sekertaris pribadi Presdir melihat Park Gi Chul berada di dalam mobil, ia menatap heran (wajahnya lumayan ya hehe)
Di jalanan sepi Park Gi Chul turun dari mobil. Ternyata ia akan mengganti plat nomor mobilnya. Nomor plat mobil 8755. Dengan tangan gemetaran ia menggantinya, ia melihat sekeliling siapa tahu ada yang melihat. Karena saking terburu-buru dan tangan gemetaran bahkan sampai kunci pas-nya pun terlepas dari tangannya. Ia marah kesal pada dirinya sendiri. Park Gi Chul mengganti plat dengan nomor 3480.
Dengan tangan yang masih gemetaran ia menyalakan mesin dan mencoba menabrakan mobil itu ke arah tong yang sudah ia siapkan sebelumnya.

Dan brak... Gi Chul menabraknya dengan keras. Tubuhnya penuh dengan keringat ketakutan, ia keluar untuk melihat apa yang terjadi pada tong setelah ia tabrak. Kakinya lemas melihat itu ia seolah tak kuat berdiri. Ia berusaha menguatkan hatinya atas apa yang telah ia rencanakan.
Chang Hee pulang sekolah. Di tengah jalan ia melihat Hae Joo. Ia tersenyum senang dan membunyikan bel sepedanya, Hae Joo berhenti dan menoleh. Chang Hee menanyakan apa yang dilakukan Hae Joo disini. Hae Joo menunjukan dedaunan yang baru saja ia petik. Chang Hee ingin tahu daun apa itu. Hae Joo mendekat dan bicara setengah berbisik sambil melihat sekeliling. Ia memberi tahu kalau ini daun labu, “Kalau kau mengukusnya bersama nasi dan saus kedelai rasanya sangat enak.”
Chang Hee heran kenapa Hae Joo berbicara sangat pelan. Hae Joo tersenyum malu mengatakan kalau ia mengambil dedaunan ini di tanah seseorang (yah nyolong dong ya hahaha) Hae Joo berkata kalau yang ia ambil ini terlalu banyak untuk dibilang sedikit. Chang Hee tertawa mendengarnya.

Hae Joo teringat kalau ia harus segera pulang. Chang Hee menyuruh Hae Joo naik ke sepedanya ia akan mengantar Hae Joo pulang. Hae Joo merasa tak enak, apa tak masalah Chang Hee mengantarnya. Chang Hee mengangguk tersenyum.
Hae Joo pun memboceng di belakang. Seperti sebelumnya Hae Joo berpegangan pada baju Chang Hee.
Keduanya pun sampai di rumah, Hae Joo menunjukkan pada Ibu daun labu yang ia dapatkan. Ia akan segera membuatkan nasi dan mengukusnya ia harap ibunya bisa menunggu sebentar.

“Hey perempuan, siapa yang akan menunggu sampai kau selesai memasaknya? Kukus saja roti gandum.” Perintah Ibu.

Hae Joo mengerti ia akan mengukus roti gandum. Karena sudah memberinya tumpangan ia meminta Chang Hee menunggu sebentar sebaiknya makan sedikit roti gandum sebelum pergi. Hae Joo pun segera membuatnya. Ibu sebal melihat kedatangan Chang Hee.

Di dapur Hae Joo memotong roti gandum menjadi beberapa bagian.
Saatnya makan dengan roti gandum. Sang Tae makan sangat lahap. Tapi Chang Hee diam saja. Sang Tae menyuruh Chang Hee makan karena roti gandum ini rasanya sangat enak. Hae Joo juga menyuruh Chang Hee mencobanya. Si kecil Young Joo juga meyakinkan kalau roti gandum buatan kakaknya benar-benar enak.
Hae Joo memberikan sepotong tapi ibu menyindir apa keluarga Chang Hee tak punya hati nurani, “Kau tahu kapan terakhir kali ayahmu berusaha mengusir kami dari Ulsan? Tapi putranya malah dengan gesit menikmati roti. Kulitmu pasti terbuat dari lembaran baja.”
Mendengar itu Chang Hee meletakkan kembali roti gandumnya. Sang Tae tak mengerti kenapa ibunya bicara seperti itu. Ia memberi tahu kalau Chang Hee ini temannya yang juara satu di sekolah. Ibu kembali menyindir, “Bisakah si brengsek yang juara satu ini mencuri cemilan orang?”
Hae Joo pamit akan membawakan roti gandum untuk ayahnya. Tapi ibu tak peduli mau Hae Joo berikan roti gandum itu pada ayah Hae Joo atau tidak itu terserah. Chang Hee menawarkan ia akan mengantar Hae Joo ke tempat kerja ayah Hae Joo. Tapi Hae Joo bilang tak usah. Chang Hee bersikeras ia mengatakan kalau ia hanya perlu alasan untuk tetap bersepeda di jalan.
Hae Joo pun memboceng sepeda Chang Hee. Seperti tadi ia berpegangan pada baju Chang Hee. Chang Hee berkata kalau baju seragamnya bisa sobek kalau digenggam seperti itu lebih baik Hae Joo pegangan saja pada pinggangnya. (ckckckck)
Hae Joo mengerti ia melingkarkan tangannya di pinggang Chang Hee. Keduanya pun tersenyum wehehehe....
Sambil mengayuh sepeda Hae Joo ingn Chang Hee memakan sebuah roti gandum. Tapi Chang Hee bilang tak usah karena roti itu untuk ayah Hae Joo. Hae Joo bilang tak apa-apa karena ia membawakannya banyak dan juga Chang Hee tadi belum sempat memakannya. Chang Hee tetap menolak tapi Hae Joo mendesaknya dan akan memberikan roti gandum itu pada Chang Hee.
Chang Hee akan menerima dengan tangan kanannya tapi naas roda sepedanya mengenai batu yang ada di tengah jalan. Sepedanya oleng dan keduanya pun terjatuh bergulingan. (kenapa ga pakai tangan kiri aja ya nrimanya, ga sopan mungkin menerima makanan dengan tangan kiri hehe)
Dan oh.. tidak Chang Hee mendarat tepat di atas Hae Joo. Keduanya terkejut berpandangan sebentar kemudian segara bangkit untuk memunguti roti gandum yang berjatuhan.
Keduanya mengambil dan membersihkan roti dari kotoran tapi keduanya mengambil roti yang sama bersamaan hingga tangan keduanya pun bersentuhan. Keduanya berpandangan, sesaat kemudian tertawa bersama.

(ahhh mak... love line remaja cie cie. Maaf saya ga ngalamin yang kayak gini jadi kalau liat adegan kayak gini senyam-senyum aja haha)
Tanpa keduanya sadari mobil yang dikendarai Park Gi Chul melintas.
Hae Joo dan Chang Hee sampai ditempat kerja ayah Hae Joo. Hae Joo berterima kasih karena Chang Hee sudah mengantarnya dan membuang waktu untuknya.

Chang Hee : “Membuang waktu karenamu itu tak masalah.”
Hae Joo berharap Chang Hee melupakan perkataan ibunya tadi. Ia meyakinkan tak ada maksud jahat dari perkataan ibunya.

Chang Hee tersenyum, “Kau sungguh... baik. Keceriaanmu. Tiap aku melihatmu, aku menjadi merasa lebih baik.” (huwaaaaaaa)

Hae Joo lega mendengarnya ternyata Chang Hee tak mempermasalahkan perkataan ibunya tadi. Chang Hee bertanya apa Hae Joo bisa naik sepada. Hae Joo bilang ia bisa mengendarainya. Chang Hee berkata kalau Hae Joo bisa membawa sepedanya untuk pulang nanti. Hae Joo bilang tak usah tapi Chang Hee memaksa, bukankah Hae Joo harus segera pulang untuk memasak makan malam kalau jalan kaki perjalannya akan jauh. Hae Joo berkata kalau Chang Hee tak perlu berbuat itu. Tapi Chang Hee tetap meninggalkan sepedanya agar bisa dipakai Hae Joo. Hae Joo pun menerimanya. Chang Hee pamit, ia juga harus pulang.
Hae Joo tersenyum menatap kepergian Chang Hee. Tiba-tiba Chang Hee berbalik tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Ia pun membalas lambaian dan senyum Chang Hee dari jauh.
Setelah Chang Hee menjauh ia merasakan jantungnya berdegup. Ia heran apa yang terjadi kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. (huwaaaa)
Hae Joo menemui ayahnya. Hong Chul tanya ada apa dengan sepedanya ia mengira ada kerusakan lagi pada sepeda itu. Hae Joo mengatakan kalau seseorang memberinya tumpangan. Hae Joo menebak ayahnya ini pasti belum makan siang, ia membuat roti gandum dari tepung yang diberikan Jung Woo.

Hong Chul heran apa Hae Joo tahu caranya membuat roti gandum. Hae Joo mengatakan kalau ia mencoba meniru roti yang dijual di jalan tapi rasanya masih kurang enak. Ia memberi tahu kalau rasanya akan lebih enak kalau ditambahkan kacang-kacangan tapi sayangnya ia tak memilikinya.

Hong Chul mengajak Hae Joo makan bersama. Hae Joo bilang kalau ia sudah memakannya sebelum datang kesini. Tapi ayahnya memaksa ia ingin memakan ini bersama Hae Joo, akan menyenangkan kalau Hae Joo bersamanya. Hae Joo merasa aneh bukankah ia dan ayahnya selalu makan bersama kenapa tiba-tiba bersikap begini.
Keduanya duduk memandang lautan sambil menikmati roti gandum. Hae Joo ingin bicara sesuatu tapi tak jadi ia katakan. Hong Chul berkata kalau ada yang ingin Hae Joo katakan lebih baik katakan saja karena tak jadi mengungkapkan seperti itu tidak seperti sifat Hae Joo.

“Apa kita benar-benar akan pindah dari sini?” Tanya Hae Joo. Ayahnya tanya kenapa, apa Hae Joo mau bilang kalau Hae Joo tak ingin pergi. Hae Joo berkata kalau sebenarnya ia memiliki teman-teman disini dan ia sudah merasa akrab dengan mereka. Karena kemanapun pergi menurutnya tak ada tempat sebaik tempat ini. Tapi Hae Joo menyerahkan semua keputusan pada ayahnya karena bagaimana pun mereka sekeluarga akan tetap pergi.

Hong Chul berkata kalau Hae Joo bisa tinggal disini dan Hae Joo akan sesekali menemui dirinya. Hae Joo tak mengerti apa yang ayahnya bicarakan meskipun ia menyukai tempat ini tapi bagaimana bisa ia berpisah dengan ayahnya. “Keluarga adalah keluarga karena mereka hidup bersama. Tak ada gunanya hidup kalau tanpa ayah.”

Hong Chul menawarkan apa Hae Joo ingin jalan-jalan dengan kapal.
Keduanya pun naik kapal bersama. Hae Joo jelas senang menikmati pemandangan laut seperti ini. Ia memuji kalau sekarang cuaca dan udaranya bagus ditambah lagi ada ayah yang bersama dengannya disini.

“Apa kau sangat menyukainya?” tanya ayah. Hae Joo mengiyakan karena setelah kecelakaan itu ia berfikir kalau ayahnya tak akan mengajaknya naik kapal lagi. Hong Chul berkata kalau Hae Joo perlu mengalami kecelakaan untuk bisa belajar tentang kapal dan lautan.

“Karena kita disini kenapa kau tak mencoba menyetir?” Hae Joo terkejut ia tak yakin apa boleh melakukannya karena ia sedikit takut. Hong Chul mengingatkan kalau putrinya ini bernama Hae Joo. Ia memberikan nama itu agar putrinya menjadi pemilik lautan (Hae : Laut dan Joo : Pemilik. Wow great...) tapi kenapa putrinya takut hanya karena kecelakaan kecil itu. Hae Joo tersenyum kalau ayahnya berada di belakangnya tak ada kekhawatiran lagi.
Hae Joo pun mengambil alih kemudi. Hong Chul meraih pundak putrinya dan berkata, “Tentang keluarga kau tak perlu tinggal bersama untuk menjadi sebuah keluarga.”

Hae Joo tak mengerti kenapa tiba-tiba ayahnya bicara begitu.

Hong Chul melanjutkan kata-katanya, “Meskipun keluarga tinggal bersama dalam sebuah rumah mereka bertengkar seperti anjing dan kucing setiap hari. Tapi ada keluarga yang tinggal terpisah sangat jauh. Mereka tak melupakan satu sama lain dan saling merindukan. Menurut pendapatku, yang terakhir itulah keluarga yang sesungguhnya.”

Hae Joo meresapi apa yang dikatakan ayahnya. Ia pun setuju dengan pendapat ayahnya.

Hong Chul : “Bagiku, apakah kau bisa melihatku atau tidak. Aku akan selalu berdiri di belakangmu seperti ini dan memperhatikan kehidupanmu. Apakah anak itu menyetir dengan benar? apakah dia menjadi ketakutan setelah membuat satu kesalahan? Apa dia merasa kesepian karena dia di kapal seorang diri? Aku akan selalu memperhatikanmu dari belakang.” 

Hae Joo tak mengerti kenapa ayahnya membicarakan ini seolah-olah ayahnya akan meninggalkan dirinya di suatu tempat. Hong Chul berkata kalau Hae Joo juga suatu hari nanti akan merasa ingin pergi jauh.

Hong Chul : “Hae Joo, jangan lupa yang namanya keluarga bukan sesuatu yang dipastikan oleh darah. Berbagi kesedihan, luka, dan air mata adalah sesuatu yang membuatmu menjadi keluarga. Jadi bukan hanya ayah saja tapi juga ibumu, kakakmu dan adik-adikmu. Mereka adalah bagian dari keluargamu, apa kau mengerti?”

Hae Joo masih merasa heran kenapa ayahnya mengatakan ini, “Ayah apa ini karena aku berkata kalau ibu bukan ibu kandungku? Kalau itu aku sudah minta maaf. Jadi lupakan itu. Aku tahu kalau keluarga kita adalah sesuatu yang paling berharga.”

Hong Chul membenarkan dan memuji putrinya sangat pintar. Hae Joo berpesan ayahnya jangan terlalu bersedih, ia tahu kalau ini akan menjadi terakhir kali untuk mereka bisa menaiki kapal di Ulsan. Hong Chul terharu ia mengusap air matanya. Ia mengajak Hae Joo menyanyi sambil menyetir. Hae Joo bilang kalau ia harus konsentrasi menyetir ayahnya saja yang bernyanyi. Hong Chul mnyenandungkan sebuah lagu (hiks hiks kenapa lagunya sedih ya seperti tentang perpisahan)
Jung Woo dan Bong Hee mengunjungi makam Hak Soo. (hmm sepertinya sekarang hari peringatan meninggalnya Hak Soo)
Setelah memberikan penghormatan Bong Hee menungkan minuman di kuburan Hak Soo, “Kakak ipar lama tak bertemu. Kau tak pernah suka alkohol tapi aneh kalau aku menawarkanmu minyak. Kau dan aku seharusnya lahir di timur tengah. Tapi karena kita lahir di negara yang tak menghasilkan minyak setetespun, apa ini?”

Bong Hee meminum minuman sisa yang tadi ia tuangkan. Bong Hee berkata kalau ia pasti akan mencari tahu penyebab kematian kakak iparnya. Tunggu saja, meskipun ia harus mencari dan mengelilingi seluruh kepulauan Jepang ia tetap akan mengungkapkannya.
Jung Woo tanya apa Bong Hee masih belum menyerah. Bong Hee berkata bagaimana bisa ia menyerah karena belum ada yang terungkap. Jung Woo berkata kalau ini sudah lebih dari 10 tahun kalau memang itu seharusnya terungkap pasti sudah sejak dulu terungkap.

Bong Hee mengingatkan kalau ada yang melihat Jung Woo bersikap seperti ini mereka pasti tak akan tahu kalau Jung Woo dan Hak Soo kakak beradik. Apa Jung Woo tak penasaran mengetahui penyebab Hak Soo meninggal.

Jung Woo berkata selama 10 tahun ia tak pernah berhenti memikirkannya walaupun itu hanya satu detik, “Saat aku makan, saat aku tidur, aku hidup dalam keputusasaan saat memikirkan kakakku. Tapi aku hanya menghancurkan hidupku, tak ada yang terungkap.” Ia mengajak Bong Hee mulai sekarang lebih baik hiduplah tanpa beban karena kakaknya juga pasti mengharapkan itu.
“Samchoon (paman)?” Panggil Geum Hee tiba-tiba datang menyapa Jung Woo. Ia terkejut bertemu dengan Jung Woo disana. “Samchoon lama tak bertemu? dimana saja kau? Apa kau tahu seberapa sering aku mencarimu?” Ucap Geum Hee.
Jung Woo membuang muka ia tak suka melihat Geum Hee. Bong Hee memberi tahu apa kakaknya tak tahu kalau Jung Woo ini tinggal di desa dekat dengan perkebunan pir. Geum Hee tak menyangka ternyata Jung Woo tinggal dekat dengannya. Tapi Jung Woo diam saja tak menanggapi pertanyaan Geum Hee.
Sementara Geum Hee melakukan ritual untuk memperingati hari kematian almarhum suaminya Jung Woo berdiri menjauh. Geum Hee menangis mengingat perpisahannya dengan Hak Soo.
Geum Hee menghampiri Jung Woo dan tetap memanggilnya dengan sebutan Samchoon tapi Jung Woo tak suka dipanggil seperti itu oleh Geum Hee. Kenapa ia harus menjadi paman, sudah berapa lama sejak kematian Yoo Jin. Geum Hee minta maaf. Ia ingin tahu dimana tempat tinggal Jung Woo.

Dengan ketus Jung Woo berkata kalau Geum Hee tak perlu tahu, untuk apa Geum Hee datang ke sini. Geum Hee berkata kalau ia selalu datang kesini setiap tahun karena ia berduka terhadap Hak Soo. Jung Woo tertawa remeh dan berkata kalau itu namanya bukan berduka melainkan tak tahu malu. Ia mengingatkan kalau Geum Hee tak perlu datang ke makam kakaknya. Kakaknya mungkin akan mengerti tapi ia tidak.

Geum Hee : “Samchoon?”
“SUDAH KUBILANG JANGAN MEMANGGILKU BEGITU.” bentak Jung Woo membuat Geum Hee tersentak kaget, “Apa kau pikir aku sudah lupa apa yang terjadi dimasa lalu? Kita ini orang asing.”

Jung Woo mencibir, bukankah semua sudah selesai ketika Geum Hee berbahagia menikah dengan si hebat dan mulia Jang Do Hyun. Ia mengingatkan Geum Hee jangan lagi pernah bertingkah seolah mengenalnya. 

Jung Woo meninggalkan tempat membuat Bong Hee yang baru datang terheran-heran memanggilnya. Bong Hee yang tak tahu apa yang dibicarakan keduanya bertanya pada kakaknya kenapa Jung Woo seperti itu. Dengan perasaan sedih Geum Hee hanya berkata kalau tak ada apa-apa.
Di Seoul Presdir Jang menemui salah satu juniornya, Direktur Ahn. Presdir Jang meminta Direktur Ahn tak perlu memanggilnya dengan sebutan Presdir cukup memanggilnya Sunbae saja. Presdir Jang langsung mengutarakan maksudnya menemui Direktur Ahn. Bukankah Direktur Ahn tahu kalau ia sedang berusaha membuat usaha pembangunan kapal.

Direktur Ahn sudah tahu ia melihatnya di berita. Ia pun bertanya ada masalah apa. Presdir meminta juniornya ini jangan pura-pura tak mengerti, ia meminta Direktur Ahn menebak siapa yang menjadi masalah penghambatnya.

“Presdir Kang Dae Pyung?” Tebak Direktur Ahn. “Orang tua itu, bukankah dia orang tua yang tak bergigi.” 

Presdir Jang berkata kalau orang tua itu yang terlebih dahulu memprovokasi dirinya. Galangan kapal yang akan ia bangun terlalu kecil. Ia pun bertanya kapan kira-kira Direktur Ahn ini menjadi pejabat, ia minta paling lama dalam waktu satu tahun.
Direktur Ahn sedikit sulit dengan permintaan seniornya ini. Presdir Jang meminta bantuan pada Direktur Ahn sekali ini saja dan ia yang akan bertanggung jawab terhadap semua konsekuensinya.
Presdir Jang menyuruh sekertaris pribadinya masuk. Presdir membuka koper yang dibawa dan membukanya, isinya tumpukan uang (suap....) Direktur Ahn terlihat menimbang-nimbang bingung. Presdir Jang tersenyum, “Bagaimana? Kita bisa mulai makan sekarang kan? Aku kelaparan.”
Yoon Jung Woo dan Bong Hee turun dari bus setelah mengunjungi makam Hak Soo. Dari tadi Jung Woo hanya diam saja dan itu membuat Bong Hee bertanya ia ingin tahu apa sebenarnya yang dibicarakan Jung Woo dan kakaknya. Jung Woo menegaskan kalau ia tak bicara apa-apa dengan Geum Hee. Tapi Bong Hee tak percaya, apa Jung Woo ini sedang berusaha membodohi hantu. Ia sungguh tak mengerti jalan pikiran Jung Woo, apa keluhan Jung Woo terhadap kakaknya.

Seseorang memanggil Bong Hee dan menyampaikan hasil tes kimia terhadap akar pohon pir. Ia pun memberikan hasil tesnya. Dan seperti yang sudah diduga Bong Hee, akar pohon pir itu mengandung Glyphosate. Pestisida racun, itu sebabnya pohon pir banyak yang mati.
Malam itu juga Jung Woo mengajak Bong Hee melihatnya langsung. Apa benar ada yang menaruh zat kimia berbahaya diakar pohon pir. Keduanya sembunyi di bawah pohon. Tapi Bong Hee merasa tak yakin apa keduanya perlu bertindak sejauh ini. Menurutnya sangat tidak mungkin ada seseorang yang menyiramkan pestisida beracun dengan sengaja kecuali mereka itu gila.

Jung Woo melihat ada orang dan dengan sigap ia membungkam mulut Bong Hee agar tak bicara terus. Ternyata yang datang lebih dari seorang. Dan benar saja mereka menaruh sesuatu di akar pohon pir nya. 

“Hey kalian brengsek!” teriak Bong Hee. Ternyata Jung Woo sudah melepas bungkamannya. Teriakan keras Bong Hee membuat ketiga orang itu kaget dan langsung lari. Bong Hee jelas tak mau kehilangan mereka. Ia dan Jung Woo mengejarnya. Sampai dipertigaan mereka bertiga berpencar agar tak tertangkap. 

Ok, Bong Hee menginginkan salah satu dari mereka harus ditangkap. Bong Hee dan Jung Woo pun berpencar mengejar salah satu dari mereka.
Salah satu dari mereka menabrak gerobak hingga terjatuh. Bong Hee menarik celananya agar tak bisa kabur lagi. Pria itu berusaha melepaskan diri. Duk.. Pria itu menendang Bong Hee hingga terjatuh.
Jung Woo datang dan mencegat pria itu. Tapi pria itu dengan mudah bisa lolos dan menjatuhkan Jung Woo hingga tepat mendarat di atas Bong Hee.
Bong Hee berteriak meronta dan menaboki. Ia mengira yang jatuh tepat di atasnya itu pria tadi. Jung Woo berteriak memberi tahu kalau itu dirinya.

Dengan nafas terengah-engah Bong Hee bertanya kenapa Jung Woo ada disini. Jung Woo balik bertanya apa Bong Hee tak apa-apa. Bong Hee terdiam ia menyadari sesuatu, “Tapi sekarang tanganmu ada dimana?”
Jung Woo menoleh ke tangannya dan terkejut ketika menyadari tangannya berada di atas dada Bong Hee hahaha. Jung Woo dan Bong Hee pun segera berdiri. Keduanya kikuk. Tapi tak lama kemudian Bong Hee marah karena penjahat itu lari semua.
Jung Woo menilai kalau Bong Hee sudah bertindak gegabah dengan mengejar mereka. Karena menurutnya itu sangat berbahaya. Bong Hee tak mengerti orang seperti apa mereka sampai melakukan hal itu. Apa ada yang ingin balas dendam pada pemilik perkebunan pir. Jung Woo bilang bukan itu, Bong Hee penasaran jadi apa itu.
Jung Woo melaporkan hasil temuannya pada Kakek Kang. Kakek terkejut mendengar kalau ada yang menaruh pestisida beracun di pohon pir. Kakek menilai kalau Presdir Jang Do Hyun benar-benar sudah gila. Kakek bertanya apa Jung Woo berhasil menangkap mereka. Jung Woo berkata kalau ia tak berhasil menangkapnya.

Kakek merasa kalau Jung Woo seharusnya menangkap mereka, “Kalau begitu kita harus memergokinya. Benar, kita tak harus menangkap para penjahat itu.” Kakek mengajak Jung Woo memberi tahu semua ini pada wartawan. Jung Woo merasa mereka akan menyangkal karena tak ada bukti. Kakek bilang tak perlu ada bukti karena satu telepon darinya saja maka semua stasiun TV berita dan media akan datang berlarian, “Jang Do Hyun si brengsek itu, kita lihat saja!”
Park Gi Chul berada di dalam mobil bak terbuka pinjamannya. Ia cemas menunggu Hong Chul. Ketika dilihatnya Hong Chul keluar dari tempat kerja ia pun bersiap siap akan menyalakan mobilnya. Tapi ketika ada seorang teman kerja Hong Chul datang ia mengurungkan niatnya. Ia melihat Hong Chul kembali lagi ke lokasi kerja sepertinya masih ada yang harus mereka kerjakan atau dipanggil atasan.
Hong Chul sendiri duduk merenung sambil meminum minumannya.
Di rumah, Hae Joo dan yang lainnya tengah makan malam dengan nasi yang dibungkus daun labu. Hae Joo melihat kalau ibu sepertinya tak nafsu makan. Ibu bahkan meletakan sendoknya. Hae Joo bertanya kenapa dengan ibunya apa makanannya tidak enak.

Ibu berkata kalau perutnya terasa sakit karena suaminya. “Pria brengsek itu melemparkan granat dan berkata kalau kita harus pindah tapi sampai sekarang dia belum juga pulang.” Hae Joo berkata mungkin karena ayahnya sibuk. Sang Tae berkata kalau daun labunya akan terasa lebih enak kalau ditambah dengan daging, ia makan lahap.
Hae Joo mengambilkan nasi bungkus daun labu untuk ibunya karena ibunya sangat menyukai makanan ini. Tapi ibu menolak apa Hae Joo tak mendengar perkataan Sang Tae yang ingin makan dengan daging. Ia bosan makan dengan daun daunnan terus. Hae Joo mengerti lain kali ia akan membawakan daging. (kenapa harus Hae Joo yang memikirkan dapur, bukankah ini tugasmu Bu)

Hae Joo meminta ibunya meninggalkan saja piring kotor di teras. Ibu tanya kenapa? Apa Hae Joo mau pergi. Hae Joo mengatakan kalau ada yang ingin ayahnya bicarakan dengan dirinya.

Ibu menyindir bahkan sekarang suaminya memanggil Hae Joo keluar hanya untuk bicara. “Kenapa kalian tak membeli rumah dan tinggal berdua saja? Ya benar dia bahkan tak punya uang untuk makan dari mana dia bisa punya uang untuk membeli rumah?”

Hae Joo tak ingin ada omelan lebih lanjut ia pun pamit dan berjanji akan segera kembali. Ibu berkata apa maksudnya kembali, “Lebih baik tak usah berfikir untuk pulang. Aku tak punya keinginan untuk melahirkan bayi ini ditengah jalan. Kalau kau sangat ingin pindah rumah, kau dan ayahmu bisa pergi kemanapun kalian suka.”
Hae Joo langsung keluar. Ibu mencak-mencak, apa Hae Joo ini tuli atau bisu kenapa tak menjawab ucapannya. Ibu menyusul Hae Joo keluar.

Ibu kesal, “Kenapa kalian berdua tidak pergi mati saja berdua? Anggap saja ini kesempatan untuk kita berdua. Kau dan ayahmu bisa hidup di surga. Lalu aku dan anak-anakku bisa hidup disini.” Hae Joo seolah tak menanggapi ucapan ibunya. Ia tersenyum dan berkata kalau ia akan segera kembali. Ibu berteriak kesal karena ucapannya diabaikan begitu saja.

Hae Joo berlalu menuntun sepeda Chang Hee menyusul ayahnya ke tempat kerja. Hae Joo mengayuh sepeda menyusuri jalanan malam. Ia tersenyum mengingat ketika ia memboceng sepeda ini bersama Chang Hee.
Waktu menunjukan pukul 9 malam. Park Gi Chul masih di dalam mobil menunggu Hong Chul keluar. Ia melihat sekeliling sudah sepi, ia cemas dan takut siapa tahu ada yang mengenal dan melihatnya. Gi Chul melihat Hong Chul berjalan sendirian. Dengan tekad bulat ia menyalakan mesin mobil dan mengendarainya mendekati Hong Chul dengan kecepatan yang semakin meninggi. Hong Chul tak menyadari ada mobil yang berjalan mengarah padanya.
Hae Joo melintas di depan mobil dan memanggil ayahnya. Hong Chul menoleh dan tersenyum melihat putrinya datang. Tapi ia terkejut melihat ada mobil yang berjalan sangat cepat di belakang Hae Joo.

“Hae Joo Hati-hati!” teriak Hong Chul takut Hae Joo tertabrak mobil dan berlari mendekat.

Seperti ucapan Presdir Jang kalau Park Gi Chul ini orang yang tak punya nyali ketika akan membunuh. Ia tak sanggup melakukan hal ini. Ia membanting setirnya ke kanan tapi disana ia melihat ada Hae Joo yang mengendarai sepeda. Ia pun membanting setirnya ke kiri tapi naas disana ada Hong Chul. Ia tak bisa mengendalikan laju mobilnya yang sudah berjalan cepat.
Dan brak... Hong Chul terlempar jauh, tergeletak bersimbah darah. Hae Joo terjatuh dari sepedanya.
“Ayah!” teriak Hae Joo melihat ayahnya tergeletak tak sadarkan diri. Ia segara berlari menghampiri ayahnya.
Park Gi Chul langsung menjalankan mobilnya, kabur. Ia menangis ketakutan, tak menyangka kalau ia benar-benar melakukan hal bodoh.
Hae Joo berusaha membangunkan ayahnya yang sudah tak sadarkan diri. Ia berusaha menghilangkan noda darah dengan bajunya. Ia memanggil ayahnya cemas. Ia celingukan melihat sekeliling berteriak mencari bantuan.
“Ayah tolong bangun!” tangis Hae Joo. “Apa ada orang disini!” teriak Hae Joo. “Seseorang tolonglah aku. Ayah... Ayah... Apa ada orang disini. Tolongggg....” Hae Joo menangis.
Mobil ambulance membawa Hong Chul ke rumah sakit. Hong Chul pun langsung mendapat penangan dari dokter. Hae Joo terduduk lemas di depan ruangan. Tangan dan bajunya berlumuran darah. Ia menangis sesenggukan.
Dengan tangan gemetaran dan berlumuran darah Hae Joo berusaha menelepon mengabarkan pada orang rumah. Tapi uang koinnya berjatuhan karena tangannya gemetaran ketika akan memasukkan koin itu. Ia pun berusaha memunguti koin dengan tangan yang terus gemetaran.
Park Gi Chul menghentikan mobilnya didekat sebuah menara. Ia keluar dari mobil menangis menyesali perbuatannya. Ia ingin menjerit tapi suara tangis jeritannya tak keluar. Ia marah terhadap apa yang baru saja ia lakukan. Ia pun membenturkan kepalanya berkali-kali ke batu yang ada di hadapannya sambil terus menangis.
Ibu dan Sang Tae menyusul Hae Joo ke rumah sakit. Sang Tae yang datang sambil menggendong Young Joo bertanya apa yang terjadi. Hae Joo tak tahu harus mengatakan apa ia sendiri gemetaran karena melihat kejadiannya langsung. Ia tak bisa berkata-kata. Ibu minta Hae Joo tenang dan ceritakan apa yang terjadi.
Hae Joo tak tahu harus menjelaskannya dari mana, “Aku tak tahu.” ucapnya terbata-bata gemetaran. “Truk... darah... kepalanya... kepalanya terluka... dia tak bisa bangun.. darah.. darah..”

Ibu tak mengerti apa yang sedang Hae Joo bicarakan ia tak tahan lagi dan membentak meminta Hae Joo mengatakan sesuatu. Hae Joo diam menangis, ibu melihat noda darah di baju dan tangan Hae Joo. Mengertilah ia kalau suaminya terluka sangat parah. Matanya berkaca-kaca.
Sang Tae membaringkan Young Joo di kursi didepan ruang operasi. Ketiganya menunggu cemas.
Hong Chul dibawa keluar dengan kepala diperban. Ibu bertanya pada dokter apa yang terjadi dengan suaminya. Dokter berkata kalau ia sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi sebaiknya pihak keluarga pasien harus menyiapkan diri pada kemungkinan hal yang terburuk yang akan terjadi. Ibu lemas mendengarnya dan ambruk tak sadarkan diri. Sang Tae memegangi ibunya. Hong Chul dibawa ke ruang perawatan. Hae Joo mengikutinya sambil terus memanggil ayahnya.
Chang Hee tengah mencuci piring ketika ayahnya pulang. Sambil terus mencuci ia bertanya, “Ayah, apa itu kau?” Gi Chul diam saja dengan kepala berlumuran darah. “Ayah. Kau tahu Hae Joo kan? Semakin aku melihatnya, aku semakin kagum padanya.” ucap Chang Hee penuh senyuman tanpa menoleh ke ayahnya yang baru saja tiba. “Sejujurnya, bagaimanapun kau melihatnya. Kehidupan mereka lebih sulit daripada kita. tapi setiap aku melihatnya, aku merasa lebih baik.”
Gi Chul diam saja. Chang Hee heran karena ayahnya tak menangggapi ucapannya. Ia pun menoleh dan terkejut melihat ayahnya terluka. Chang Hee cemas apa ayahnya dipukuli lagi. Ia melihat luka di kepala ayahnya, “Ayah? Apa ini? Bagaimana ini?”
Chang Hee manangis marah kenapa ayahnya hidup seperti ini. Kesalahan apa yang sudah diperbuat ayahnya sampai harus terluka seperti ini. Park Gi Chul diam saja menahan tangisnya.

Chang Hee tak terima ayahnya diperlakukan seperti ini, ia tak akan tinggal diam dan hanya melihat saja. “Suatu hari... aku akan....” Chang Hee manangis memeluk ayahnya. Sedangkan Gi Chul menangis ketakutan.
Presdir Jang kembali ke rumah setelah perjalanan dinasnya dari Seoul. Ia menyuruh sekertaris priabadinya memanggilkan Park Gi Chul.
Sampai di dalam rumah Presdir Jang mendapatkan sambutan senyuman ceria dari In Hwa. Presdir Jang berkata kalau ia sangat ingin bertemu dengan putrinya tapi In Hwa kemudian cemberut karena yang ingin ditemui ayahnya bukanlah dirinya melainkan ibunya.

Presdir Jang bertanya apa In Hwa sedang berkompetisi. In Hwa tetap cemberut karena ayahnya-lah yang sudah membuatnya seperti ini, ini semua salah ayahnya.

Il Moon datang menyapa ayahnya. Presdir Jang bertanya dimana ibu mereka. Il Moon mengatakan kalau ibunya ada di ruang utama. Il Moon memberi tahu kalau sejak kemarin ibunya terlihat tidak sehat setelah pulang dari suatu tempat.
Presdir Jang masuk ke kamar tapi tak melihat istrinya. Ia pun ke ruangan sebelah dan mendapati istrinya tengah berdiam diri. Presdir bertanya apa istrinya sakit.

Geum Hee diam saja tak menyambut kedatangan suaminya. Presdir Jang kembali bertanya sambil menyentuh pundak istrinya, tapi Geum Hee beringsut tak ingin diganggu. Geum Hee berkata kalau ia ingin sendiri. Presdir Jang minta maaf dan berkata kalau ia perlu bicara dengan Park Gi Chul di ruang kerja.
Presdir keluar dari kamar, di ruang tamu masih ada Il Moon. Il Moon bertanya apa ibunya sakit. Presdir tak menjawab ia malah balik bertanya tanggal berapa sekarang. Il Moon menjawab kalau sekarang tanggal 28. Presdir menjawab bukan itu, maksudnya adalah penanggalan bulan. Il Moon berfikir dan berkata kalau ia perlu mengecek kalender. Presdir berkata lupakan saja karena itu bukan apa-apa, putranya tak perlu khawatir.
Presdir Jang dan Park Gi Chul bicara berdua di ruang kerja. Presdir bertanya bagaimana, bukankah ia bilang kalau Gi Chul harus mendapatkan Hong Chul setelah ia kambali dari Seoul. Gi Chul terbata-bata, itu...
Ketika keduanya bicara tiba-tiba In Hwa masuk dan mengabarkan kalau ayah Hae Joo mengalami kecelakaan. Presdir Jang terkejut mendengarnya, Park Gi Chul terlihat cemas.
In Hwa meminta ibunya lekas bangun karena ia harus segera ke rumah sakit menjenguk ayah Hae Joo yang mengalami kecelakaan. Geum Hee yang lemas tiduran bertanya kenapa In Hwa harus kesana.

In Hwa : “Ibu, apa ibu tak tahu kalau Hae Joo dan aku itu berteman. Aku bilang aku harus pergi.”

Geum Hee bangun dan akan pergi ke rumah sakit bersama In Hwa.
Dengan langkah gemetaran Park Gi Chul keluar dari kediaman Presdir Jang. Di luar ia bertemu dengan Chang Hee yang mengabarkan kalau ayah Hae Joo mengalami kecelakaan. Ia meminta ayahnya harus cepat kesana mengantar Geum Hee dan In Hwa ke rumah sakit dan ia akan ikut bersama ayahnya.
Park Gi Chul menahan tangan putranya melarang pergi. Chang Hee heran kenapa ayahnya bersikap seperti ini. Park Gi Chul mengatakan kalau itu bukanlah tempat yang seharusnya Chang Hee kunjungi. Chang Hee berkata kalau ia kenal baik dengan Hae Joo. Kenapa ia tak boleh pergi. “Ayah kau akan tetap pergi kan?”
Di rumah sakit, Sang Tae dan Young Joo tertidur karena kelelahan. Ibu duduk melamun. Hae Joo keluar dari ruang rawat ayahnya dan membangunkan Sang Tae. Ia menyuruh kakaknya membawa Young Joo dan ibu ke ruang tunggu dan beristirahat. Ia yang akan menunggui ayahnya disini. Sang Tae mengerti ia juga sudah kelaparan. Hae Joo menoleh ke arah ibunya yang diam saja.
Park Gi Chul mengendarai mobil menuju rumah sakit setengah melamun. In Hwa dan Geum Hee duduk di kursi belakang. In Hwa ikut sedih atas musibah yang menimpa ayah Hae Joo. Chang Hee turut serta dan duduk di sebelah ayahnya.
Chang Hee melihat kalau sikap ayahnya lain dari biasanya. Ia melihat ayahnya tak fokus ketika menyetir hingga ketika mobil akan melewati lampu merah pun Park Gi Chul jalan terus.
“Ayah berhenti!” Chang Hee berteriak membuyarkan lamunan ayahnya. Gi Chul mengerem mendadak hampir menabrak pengguna jalan yang menyebrang jalan. In Hwa kaget dan memarahi Gi Chul, bagaimana Gi Chul ini menyetir. Pengguna jalan yang hampir tertabrak pun marah-marah. Chang Hee menoleh ke arah ayahnya yang terlihat cemas.
Hae Joo menggenggam tangan ayahnya. Hong Chul masih belum sadarkan diri. Hae Joo meminta ayahnya bangun, bagaimana mungkin ayahnya hanya berbaring seperti ini. “Hae Joo yang sangat ayah sukai ada disini. Cepat bangun!”
Hae Joo merasakan tangan ayahnya bergerak. Perlahan-lahan Hong Chul membuka matanya. Hae Joo senang, “Ayah. Ini aku Hae Joo. Apa kau bisa mendengarku?”

Hae Joo meminta ayahnya menunggu sebentar ia akan memanggilkan dokter. Tapi tangan Hong Chul menahan agar putrinya tak pergi. Hong Chul seolah ingin bicara, tapi ia berat mengeluarkan suaranya. Hae Joo mendekatkan telinga mencoba mendengarkan apa yang akan ayahnya katakan.
“Maafkan aku...” ucap Hong Chul dengan nada suara berat.
Hae Joo sedih, “Untuk apa minta maaf? Aku yang seharusnya minta maaf.”
“Aku ingin... merawatmu dengan baik. Aku ingin kau memiliki hidup yang bahagia.”
Hae Joo menitikan air mata mendengar ayahnya bicara seperti itu, “Ayah jangan bicara itu akan membuatmu lelah.”
“Ibumu adalah....” Hae Joo bertanya apa ia harus memanggil ibu, Hong Chul menggeleng sambil menitikkan air mata. “I..ibumu...”
Geum Hee masuk ke ruang rawat Hong Chul. Hong Chul melihatnya. Dengan tangan yang berat Hong Chul berusaha mengangkat tangan menunjuk pada Geum Hee. Ia ingin mengutarakan sesuatu tapi suara itu tak sampai keluar dari mulutnya.
Hae Joo menoleh ke belakang dan melihat Geum Hee sudah berada disana. Geum Hee menatap tak mengerti.

May Queen Episode 7 >

Note :
Seperti Update statusku di FB ketika menulis episode ini, inti dari eposode 6 May Queen adalah apapun yg kita ucapkan adalah sebuah doa, entah itu ucapan baik ataupun buruk. Jadi hati2lah berucap. Jangan sampai sesuatu yang buruk keluar dari mulut kita.

1 comment:

  1. ditunggu kelanjutannya mba....

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...