Friday, 4 March 2011

Romance In The Rain Episode 1

Pada masa awal Republik Nasionalis di wilayah Manchuria. Lu Zhen Hua dijuluki Macan Kumbang Hitam. Ia seorang tokoh komandan tentara yang namanya terkenal dimana-mana.
Manchuria dimasa-masa awal Republik Nasionalis
Lu Zhen Hua, si Macan Kumbang berkuda bersama pasukannya melewati jalannan sebuah pasar. Banyak orang yang lalu lalang. Tapi ia terus melaju kudanya dengan kencang. Di belakang pasukan berkudanya, sekelompok pasukan tentara berlari mengikutinya.

“Cepat sembunyi, Macan Kumbang Hitam datang!” teriak salah satu pejalan kaki.

Tepat pada saat Lu Zhen Hua dan pasukannya mempercepat pacuannya, seorang gadis dan seorang wanita paruh baya berjalan persis di tengah-tengah jalan di mana pasukan berkuda akan lewat.

“Minggir....!”
“Ayo cepat pergi,,,!”

Wanita paruh baya yang semula berjalan bergandengan dengan gadis itu pun akhirnya terlepas dari gandengannya karena jarak dengan kuda yang dipacu Lu Zhen Hua sudah sangat dekat. Gadis itu pun terjatuh dan hampir saja terinjak oleh kuda yang dipacu oleh Lu Zhen Hua, jika saja Lu Zhen Hua tidak segera menguasai kudanya. Lu Zhen Hua kaget melihat gadis itu.


Tiba-tiba ada teriakan, “Wenpei.. Wenpei kau tak apa-apa ?” Seru wanita separuh baya itu sambil menghampiri gadis yang ia panggil Wenpei dan berusaha membantu membangunkannya. Lu Zhen Hua pun bertanya sambil tetap berada di atas kudanya, “Apa kau terluka ?” “Aku tak apa-apa” jawab gadis yang di panggil Wenpei tadi. “Kalau begitu jangan halangi jalan!” Perintah Lu Zhen Hua pada dua wanita itu.

Keduanya lalu segera menyingkir. Dan Lu Zhen Hua pun melanjutkan perjalanannya.

“Kau terluka ? Kau tak apa-apa ?” tanya wanita paruh baya itu lagi. Ia betul-betul cemas. Tapi tiba-tiba Lu Zhen Hua menghentikan kudanya dan berbalik arah menghampiri kedua wanita tadi. Keduanya kaget.

“Siapa namamu ?”Lu Zhen Hua bertanya pada wanita yang masih muda. “Aku... Aku..” jawab wanita muda itu dengan terbata sambil melirik arah wanita paruh baya yang berada di sebelahnya. “Marganya Fu, dia keponakanku. Kami mau membeli sesuatu” Jawab wanita paruh baya. “Aku tak bertanya padamu, jangan ikut campur. Katakan siapa namamu ?” Lu Zhen Hua bertanya kembali.
“Margaku Fu, namaku Wenpei.” Jawab gadis muda itu.


Kemudian Lu Zhen Hua memanggil ajudannya , Ajudan Li. Lu zhen Hua menyuruh Ajudan Li untuk mencari tahu tentang Fu Wenpei, siapa keluarganya, juga... “Siap Komandan, aku akan utus dua orang mengantar Nona Fu pulang ke rumah, dan aku akan bereskan urusan yang lainnya.” Jawab Ajudan Li yang langsung paham maksud dari komandannya itu. Fu wenpei kaget mendengarnya. Ia tak mengerti.


Keesokan harinya,
Rombongan tentara terlihat memasuki sebuah rumah, itu rumah milik keluarga Fu. Rombongan tersebut membawa banyak barang-barang. Mereka meletakkannya di dalam rumah. Kedua orang tua Fu Wenpei, Tuan Fu dan Nyonya Fu saling berpandangan tak mengerti.


Tuan Fu bertanya ada masalah apa ini ? dan Ajudan Li menjawab bahwa Putrimu dipinang oleh Komandan Lu Zhen Hua untuk menjadi istri yang ke-8. Semua kaget mendengarnya, bahkan Wenpei sendiri pun kaget.
Nyonya Fu menjawab kalau Wenpei sudah dijodohkan dengan orang lain. Ajudan Li mengatakan bahwa komandan Lu adalah seorang pahlawan, wanita mana di Manchuria ini yang tak ingin jadi istrinya, katanya pula bahwa peristiwa bahagia ini merupakan balasan dari perbuatan baik yang keluarga Fu lakukan di kehidupan yang dulu dan juga ini merupakan takdir bagi Wenpei. Ajudan Li juga mengatakan bahwa Wenpei bisa saja lebih awal atau lebih lambat berada di jalan raya pada waktu itu. Tapi justru saat Komandannya lewat Wenpei tepat berada di sana dan dilihat oleh Komandannya. Dan itu merupakan takdir.


Nyonya Fu membungkuk dan minta maaf karena putrinya itu tak mengerti tentang aturan di rumah Komandan Lu. Wenpei juga sudah punya calon suami. Sedangkan Komandan Lu sudah punya istri banyak. Mohon ampuni putri kami kata Nyonya Fu.

Ajudan Li bertanya, apa kalian tak pernah mendengar nama besar Komandan Lu ? dan apakah kalian pernah mendengar ada orang yang menolak lamarannya? Mendengar itu Nyonya Fu mulai cemas, ia menatap putrinya. “Ambil bajunya!” Perintah Ajudan Li pada anak buahya. Kemudian anak buah Ajudan Li meletakkan bungkusan berwarna merah di atas meja. Ajudan Li kemudian menjelaskan bahwa itu adalah baju pengantinnya. Ajudan Li juga mengatakan bahwa semuanya sudah disiapkan. Besok pagi tandu pengantin akan datang, baju pengantin harus dipakai sebelum naik ke tandu. Besok jam 9 adalah waktu yang baik dan tandu pengantin akan datang tepat waktu.

Semua anggota keluarga Fu kaget mendengarnya. Lalu Tuan Fu pun berkata bahwa keluarganya secara turun-temurun adalah keluarga terpelajar, ayahnya dulu pejabat istana. Ajudan Li menjawab bahwa komandan Lu juga sangat menghormati cendekiawan dan tak ada pengaruhnya pada lamaran pada putri Tuan Fu. Ajudan Li mengatakan bahwa istri komandan Lu yang ke-4 adalah putri pejabat Hanlin. Sudah begitu saja keputusannya kata Ajudan Li. Sudah kupilihkan empat pengawal untuk melindungi rumah kalian sampai Nona Wenpei menikah dengan komandan Lu.

Ajudan Li kembali menatap Wenpei dan mengingatkan, jangan lupa sebelum naik tandu Wenpei harus memakai baju pengantin itu. Kemudian Ajudan Li membawa anak buahnya pergi dari kediaman keluarga Fu.


Nyonya Fu kemudian membuka bungkusan yang katanya baju pengatin yang harus dipakai Wenpei besok. Nyonya Fu dan yang lainnya kaget melihat baju pengantin yang telah disiapkan itu. Baju pengantin apa ini, bukan baju China bukan pula baju barat. Bibi Wenpei pun ikut melihat dan mengamati baju itu, ia lalu mengatakan bahwa itu baju menunggang kuda. Menurutnya Komandan Lu ingin wenpei menikah memakai baju berkuda. Wenpei kaget mendengarnya.


Hari pernikahan pun tiba, iring-iringan pengantin yang membawa Wenpei menuju kediaman Lu Zhen Hua pun tiba. Rombongan iring-iringan itu menjadi tontonan orang-orang di jalan. Bunyi terompet dan alat musik lain mengalun mengiringi iring-iringan pengantin. Lu Zhen Hua berdiri menunggu dengan gagahnya. Berdiri disamping Lu Zhen Hua adalah Ajudan Li yang selalu setia pada komandannya. Wenpei yang berada di dalam tandu tertunduk diam.



Suara petasan kemudian mengiringi langkah kedua mempelai memasuki ruangan. Lu Zhen Hua dan Fu Wenpei berjalan bergandengan memasuki ruangan tempat upacara pernikahan. Tamu undangan yang berada di dalam ruangan bertepuk tangan menyambut kedatangan keduanya.


Ajudan Li memimpin jalannya proses upacara pernikahan.
“Mempelai pria dan wanita memberi hormat pada tamu undangan!” ucap Ajudan Li dengan lantang, yang kemudian diikuti gerakan Hormat Lu Zhen Hua pada tamu. Hormatnya pun dengan cara militer, bukan dengan membungkukan badan. Fu Wenpei bingung melihatnya, lalu ia pun memberi hormat pada tamu dengan cara membungkukkan badan. Tuan Fu dan Nyonya Fu pun bingung melihatnya.


“Mempelai Pria dan wanita memberi hormat pada Orang tua!” Ucap Ajudan Li kembali. Lu Zhen Hua menghadap Tuan Fu dan Nyonya Fu kemudian melakukan hormat yang sama seperti sebelumnya. Sedangkan Wenpei, dia membungkukkan badannya. Tuan Fu dan Nyonya Fu hanya saling berpandangan saja melihat semuanya.

“Kedua mempelai saling memberi hormat!” Ucap Ajudan Li. Keduanya pun saling berhadapan. Lu Zhen Hua melakukan hormat secara militer, sedangkan Fu Wenpei dengan cara membungkukkan badannya.

“Selesai!” Ajudan Li mengakhiri prosesi upacaranya. Lu Zhen Hua mengucapkan terima kasih kepada tamu-tamu. Nyonya Fu berkomentar kenapa tak memberi hormat pada langit dan bumi, tak juga memberi hormat pada leluhur, hanya selesai seperti ini. Tuan Fu pun menambahkan kenapa seperti ini di bilang menikah. Ajudan Li pun menjelaskan bahwa komandan Lu tidak pernah percaya pada bumi dan langit ataupun dengan leluhur, Komandan Lu hanya percaya pada dirinya sendiri. Seluruh keluarga Fu kaget mendengarnya dan Lu Zhen Hua hanya menganggukan kepala tanda bahwa apa yang di ucapkan oleh Ajudan Li itu benar.


Lu Zhen Hua merasa gembira dan tertawa. Dan berkata pada Wenpei bahwa ia akan membuat hidup Wenpei bahagia. Sambil menggenggam tangan Wenpei, Lu Zhen Hua kembali berkata,”Tanganku ini bisa taklukan dunia untukmu!” Wenpei hanya bisa menatap laki-laki yang sekarang berada di hadapannya yang tak lain sekarang adalah suaminya. Dan Lu zhen Hua kembali tertawa dengan senangnya.


Satu tahun kemudian,
Suara alunan musik pertunjukan opera diperdengarkan. Di panggung penari opera pun mulai menari. Yang menonton mulai bertepuk tangan. Lalu munculah penari wanita dengan dandanan khas pertunjukan opera.

Tak lama kemudian rombongan tentara memasuki tempat tersebut, ternyata itu adalah rombongan Lu Zhen Hua. “Macan kumbang datang, cepat siapkan meja!” ucap satu pelayan kepada pelayan lainnya. Mereka pun bergegas menyiapkan meja dan kursi untuk Lu Zhen Hua duduk. Mereka juga menyiapkan makanan dan minuman. Lu Zhen Hua kemudian duduk di tempat yang sudah disiapkan tadi dan langsung menonton pertujukan. Lu Zhen Hua menyaksikan pertujukan dengan seksama. Penari wanita tadi mulai menyanyikan lagu Operanya (aku ga ngerti sama lagunya hehehe) Ia pun mengatakan dengan lantang “Bagus..” sambil tepuk tangan dan membuat penonton yang lain bertepuk tangan pula. Lu Zhen Hua mulai tertarik dengan penyanyi wanita ini.


“Ajudan Li..” Lu Zhen Hua memanggil ajudannya. “Cepat pergilah kebelakang panggung dan cari tahu siapa nama penyanyi wanita itu ?” perintah nya pada ajudan Li. ”Siap komandan” jawab Ajudan Li. Lu Zhen Hua terus menyaksikan pertunjukan opera itu.

“Lapor komandan” Ajudan Li melaporkan temuannya, “Nona ini bermarga Wang namanya Xueqin dia belum lama bergabung dengan grup opera ini. Dia belum terkenal” Lu ZhenHua kembali bertepuk tangan dan tersenyum.

“Ajudan Li..” Lu zhen Hua kembali menyuruh ajudannya, ”cepat cari tahu tentang Wang Xueqin, siapa keluarganya? Juga...” “Siap komandan, aku akan mengutus dua orang untuk mencari tahu identitasnya, urusan lain serahkan padaku!” jawab Ajudan Li, seperti sudah menjadi kebiasaanya ketika sang Komandan menyukai seorang Gadis ia langsung paham maksud dari komandannya.

Tepuk tangan kembali terdengar ketika pertunjukan opera selesai. Dan Lu Zhen Hua pun tersenyum memandang penyanyi itu.


Di belakang panggung Ajudan Li menemui wanita yang bernama Wang Xueqin. Semua yang ada disana bingung melihat ada tentara yang datang. “Komandan Lu melamar Nona Wang Xueqin untuk dijadikan istri yang ke-9!” ucap Ajudan Li dengan tegas. Pemilik grup pertunjukan opera mengatakan bahwa Xueqin baru tiga bulan bergabung dengan mereka. Mana bisa menikah.


Ajudan Li kembali berkata bukankah Nona ini bukan putrimu, dan kau pasti pernah mendengar nama besar Komandan Lu. Komandan Lu pasti akan mendapatkan setiap gadis yang disukainya. Ajudan Li juga menyerahkan kotak yang berisi uang untuk pembebasan Nona Wang agar bisa keluar dari grup opera. Terimalah lamaran ini dan jangan menolaknya. Jika Nona Wang menikah dengan komandan Lu hidupnya akan makmur. Pemilik grup opera mengatakan kenapa Xueqin dijadikan istri ke-9, bukankah sebelumnya sudah ada 8 istri ?

Wang Xueqin memotong pembicaraan, katanya sudahlah, tak usah banyak bicara lagi. Tak ada gunanya. Komandan Lu menyukainya, dia tak dapat mengelak lagi. Siapa tahu ini mungkin keberuntungannya. Tak masalah berada diurutan ke-9 atau ke-10. Jika 8 istri sebelumnya disayangi, tentu nanti juga gilirannya tiba. Xueqin memandang Ajudan Li dan berkata bahwa mulai saat ini mohon Ajudan Li menjaganya. Ajudan Li kaget mendengarnya.

Ajudan Li kemudian menyuruh anak buahnya membawakan baju pengantin. Ini adalah baju pengantinnya, besok jam 7 malam adalah waktu yang bagus, tandu pengantin akan menjemput, dan ia juga meminta Nona Wang mengenakan baju itu sebelum naik ke atas tandu pengantin. Wang Xueqin menatap heran.


Suara musik mengiringi langkah iring-iringan pengantin wanita. Lu Zhen Hua berjalan memeriksa barisan musik sambil menunggu kedatangan mempelai wanitanya.

Disisi lain terlihat istri ke 8 Lu Zhen Hua yang tak lain adalah Fu Wenpei. Wajahnya terlihat murung. Dia melihat suaminya berdiri tegak menunggu mempelai wanita yang akan menjadi istri yang ke 9.


Iring-iringan pengantin pun tiba, para pelayan berhamburan ingin melihat wajah mempelai wanita, salah satu dari mereka berbisik agar memelankan suaranya karena mereka berada dekat dengan kamar istri ke 8 komandan Lu. Setelah ada nyonya ke 9 aku tak tahu bagaimana nasib Nyonya ke 8 kata salah satu pelayan. Kemudiam para pelayan pun pergi. Wenpei hanya bisa melihat kepergian para pelayan itu, ia tetap berdiri dan diam.


Bibi Wenpei datang menghampiri Wenpei, dia membawakan segelas minuman. “Apa kau dengar! Mempelai wanita sudah datang! Apa kau tak ingin melihat keramaiannya ? entah seperti apa dandanannya?” Ucap Wenpei pada bibinya. Bibi Wenpei mengatakan bahwa dialah yang telah mencelakai keponakannya. Jika saja saat itu, ia tidak mengajak Wenpei ke luar rumah, pasti Wenpei tidak akan bertemu dengan komandan Lu.

Wenpei hanya menjawab tak perlu bersedih, karena dia juga sudah melewati hari-hari bahagianya bersama komandan Lu. Bibinya kembali bertanya apa benar sudah bahagia, apa benar Wenpei menganggapnya sebagai hari-hari yang bahagia. Wenpei hanya menjawab Paling tidak hari-hari bergairah dan penuh dengan hal-hal baru dan sulit dilupakan sudah dirasakannya. Bibi Wenpei menengis mendengarnya. Menurut bibi ini baru satu tahun, ini terlau singkat, entah berapa lama nyonya ke 9 akan disukai oleh komandan Lu. Wenpei hanya diam.


Bibi Wenpei melanjutkan bahwa masa kejayaan dan kekuasaan si Macan Kumbang pasti akan segera berlalu, saat tak bisa lagi menggunakan kekuasaan entah apa yang terjadi nanti. Wenpei tak mengerti maksud dari bibinya. Menurut Bibi Wenpei, semua pahlawan besar pasti akan menjadi bagian dari masa lalu. Macan Kumbang sekalipun pasti nanti menjadi tua. Wenpei mulai paham maksud dari bibinya itu.

Kedua mempelai memasuki ruangan. Ajudan Li kembali menjadi pemimpin jalannya proses upacara pernikahan.


“Mempelai memberi hormat pada tamu!” Ucap Ajudan Li.
Seperti biasa Lu Zhen Hua langsung menghadap pada tamu dan melakukan hormat tentaranya. Wang Xueqin memperhatikannya. Dan ia pun berbalik ke arah tamu kemudian melakukan hormat seperti yang dilakukan oleh Lu Zhen Hua yaitu hormat cara militer. Lu Zhen Hua melihatnya heran, karena hormat yang dilakukan Xueqin tidak sama dengan hormat yang dilakukan istri-istrinya terdahulu. Ajudan Li juga melihatnya heran dan kaget. Lu Zhen Hua hanya tertawa melihatnya.


Proses upacara pun berlanjut...
“Upacara selesai!” Ajudan Li mengakhiri semuanya.

Sambil menggenggam tangan Xueqin, Lu Zhen Hua mengatakan seperti yang ia pernah katakan pada Wenpei bahwa dengan tangannya itu, ia akan taklukan dunia.


Shanghai, musim semi 1935.


Di sebuah rumah, terlihat lelaki paruh baya tengah melamun.


Dialah Si macan Kumbang, Lu Zhen Hua. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Seorang wanita yang masih tampak muda kemudian masuk dan menyapanya, “Kau sedang memikirkan apa? Dari tadi aku tak mendengar kau bicara?” ternyata wanita itu adalah istri ke 9, Wang Xueqin.
“Hari ini, entah kenapa sejak tadi aku terus mengingat Xinping.” Jawab Lu Zhen Hua. Xueqin bertanya lagi kenapa mengingatnya bukankah Xinping sudah lama meninggal. Xueqin menambahkan bukankah ia sudah memberikan empat orang anak, ada laki-laki dan perempuan, kenapa masih mengingat anak perempuan Wenpei yang sudah meninggal itu. Jangan mengingat Xinping lagi. Walaupun disini tak ada Xinping, bukankah ada Ruping dan Mengping. Lu Zhen Hua mengangguk mendengar ucapan dari istri ke 9 nya itu.

Kemudian Xueqin pun memanggil putrinya yang bernama Ruping, tapi yang datang adalah pelayan di rumah itu dan pelayan itu mengatakan kalau Nona Ruping belum pulang dari kuliahnya.


Di jalanan kota shanghai seorang gadis tengah melambaikan tangan pada teman-temannya. “Aku mau naik trem, sampai jumpa!” “sampai jumpa!” jawab teman-temannya. Gadis itu lalu melihat trem yang akan dinaikinya. Trem adalah sejenis kendaraan ditengah kota yang menggunakan jalur rel.


Gadis itu lalu naik trem melalui pintu depan yang sudah dibukakan pintunya oleh seorang petugas (kayaknya supirnya deh).

Sementara dari sebuah gedung terlihat dua orang pemuda yang diusir keluar oleh sekelompok orang berbaju hitam. Salah satunya membawa kamera dan berkaca mata. “Sudah ku bilang Tuan ke-5 Qin tak mau diwawancarai, memangnya kalian tak paham bahasa China ya ?” kata salah satu pria berbaju hitam. Ternyata dua pemuda itu adalah Wartawan.

“Kami wartawan koran shanghai, namaku He Shuhuan dan dia juru foto namanya Du Fei.” Kata salah satu pemuda itu memperkenalkan diri. “Siapapun kalian kami tak tertarik!” ucap salah satu pria berbaju hitam tadi. Wartawan yang bernama du Fei mencegat pria berbaju hitam tadi dan bertanya, “Apa kalian sudah memberitahu Tuan ke-5 Qin ? benar-benar menghina. Kalau tuan ke-5 Qin tidak bersedia diwawancarai harus dia sendiri yang memberi tahu kami.”


Pria itu marah, dan mengatakan apa kalian mau berkelahi ? kemudian datang lagi rombongan pria berbaju hitam yang lain. Mereka semua anak buah Tuan ke-5 Qin.


He Shuhuan kemudian menenangkan suasana dengan meminta maaf atas kelakuan temannya yang gampang emosian dan mengatakan maksud kedatangannya adalah baik. Mereka ingin menulis wawancara Khusus dengan Tuan ke-5 Qin. Pria itu menjawab, pokoknya tidak bisa Tuan ke-5 Qin ada urusan yang lebih penting lagi. “Kalian cepat pergi!” Usir pria itu.

Tepat pada saat itu, lelaki paruh baya keluar dari pintu gedung tersebut. Lelaki itu mengenakan kaca mata hitamnya. Dia berjalan bersama seorang wanita, dan dikawal oleh pengawalnya. Kemudian datang sebuah mobil yang akan membawa lelaki itu. He shuhuan menyuruh Du Fei segera memotret pria berkacamata hitam yang tak lain adalah Tuan ke-5 Qin.
Du Fei langsung memotret.


Tuan ke 5 Qin kaget. Dan meminta anak buahnya merebut kamera itu.
Tahu posisinya mereka dalam bahaya. He Shuhuan dan Du Fei langsung kabur meninggalkan tempat itu, mereka berdua di kejar-kejar oleh anak buah Tuan ke-5 Qin. Mereka berusaha mengamankan foto hasil jepretan Du Fei tadi. Mereka di kejar hingga ke tengah jalan. Mereka terus berlari , orang yang berjalan mereka tabrak. Dan tanpa sengaja Du Fei menabrak kayu yang di bawa orang. Du Fei pun terdorong kebelakang dan menabrak salah satu anak buah Tuan ke-5 Qin. Terjadilah perkelahian diantara mereka. Du Fei yang tak ahli kungfu langsung menjadi bulan-bulanan anak buah tuan ke-5 Qin. Dia dipukuli dan di tendang. Du Fei pun memanggil Shuhuan yang sudah berlari menyelamatkan diri di depan.


Mendengar teriakan temannya, shuhuan pun menoleh. Dalam keadaan dipukuli, Du fei melemparkan kameranya ke arah Shuhuan. Dengan bantuan sebilah bambu panjang dan keahliannya kungfunya, Shuhuan berhasil menangkap kamera yang dilemparkan Du Fei. Tapi ketika dirinya belum sampai mendarat ke tanah. Salah satu anak buah Tuan ke-5 Qin memukul bambu yang menjadi pijakan Shuhuan, tapi dengan gesit Shuhuan langsung menendangnya hingga terjatuh.

Shuhuan membantu Du fei. Mereka berdua membuat anak buah Tuan ke-5 Qin terjatuh. Shuhuan memukul dan menendang sana sini. Du fei turut mambantu walaupun ia tak memiliki keahlian kungfu. Ketika berhasil menjatuhkan lawan mereka saling adu tos hehehe. Mereka berdua kemudian kembali berlari menghindari kejaran.


Sambil berlari Shuhuan mengambil negatif film dari kamera dan segera menyimpannya.
Mereka kembali sampai di jalanan kota Shanghai. Mereka terus berlari. Mereka berlari di sisi sebuah trem yang tengah melaju. Melihat ada orang yang kejar-kejaran. Penumpang trem pun melihat mereka. Tak terkecuali gadis yang tadi naik trem.


Shuhuan dan Du Fei menggapai pintu trem dan mereka pun berhasil masuk. Mereka berjalan ke arah tengah trem dengan tergesa-gesa. Anak buah Tuan ke-5 Qin terus mengejar Shuhuan dan Dufei. Mereka juga menaiki trem yang di naiki oleh keduanya.

Karena tergesa-gesa, Du Fei tanpa sengaja menyenggol lengan seorang gadis dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya. Gadis itu hampir jatuh jika saja Shuhuan tak sigap menangkap gadis itu. Keduanya berpandangan, Shuhuan melemparkan senyumnya pada gadis itu (klepek-klepek liatnya hahaha) Du Fei yang menabrak pun menoleh ke belakang melihat siapa yang di tabraknya tadi. Du Fei pun terpana.




Shuhuan membantu gadis itu berdiri, dan gadis itu pun langsung berterima kasih pada Shuhuan. “Minggir... minggir” teriak anak buah Tuan ke-5 Qin yang berhasil menyusul naik ke trem. Du Fei dan Shuhuan kaget melihatnya, mereka kemudian berjalan ke arah belakang trem, tapi anak buah Tuan ke-5 Qin yang lain mengejar sambil berlari mengikuti trem dari belakang. Betul-betul tak ada jalan buat mereka berdua. Mereka pun kembali ke tengah. Du Fei berusaha melawan mereka. Du Fei menendang mereka, tapi kemudian ia malah dipukuli.

Shuhuan tiba-tiba menyerahkan (menitipkan) negatif filmnya pada gadis yang ia tolong tadi. Gadis itu kaget menerimanya. Shuhuan berkata tolong terima dan sampai bertemu di halte berikutnya.


Du Fei berhasil memukul satu anak buah Tuan ke-5 Qin, tapi naas baginya ia juga malah terkena tendangan di tempat senjata para pria (Wakakaka kasian Dufei sampai meringis). “cepat tolong aku, aku sudah hampir mati “ teriak Du Fei. Shuhuan segera membantu Du Fei memukul anak buah Tuan ke-5 Qin. Shuhuan memukul dan menedang mereka. Ketika ada kesempatan untuk kabur keduanya kebur melalui jendela trem yang terbuka. Tapi Du Fei terjatuh. Dengan cepat anak buah Tuan ke-5 Qin juga ikut turun dari trem lewat jendela. Gadis yang dititipi negatif film oleh Shuhuan hanya menatap mereka yang berkelahi. Untuk menyelamatkan diri Shuhuan kemudian naik ke atas sebuah bus, tapi ia tetap saja di kejar. Mereka juga mengejar Shuhuan yang naik ke atas bus dan terjadilah perkelahian di atas bus.

Du Fei yang berada di jalan berlari mengejar trem yang di atasnya ada shuhuan, ia terus memanggil Shuhuan. Anak buah Tuan ke-5 Qin berhasil menangkap Du Fei dan memukulnya hingga salah satu kaca dari kaca matanya pecah. Tapi Du Fei juga berhasil melepaskan diri. Dan terus mengejar bus tadi.

Shuhuan terus berkelahi, tapi ia melihat ada selembar kain yang terpasang di jalan. Shuhuan menggapai kain itu dan meluncur turun dari bus. Dan mendarat persis di depan bus, sehingga membuat supir bus mengerem mendadak. Terjatuhlah semua anak buah Tuan ke-5 Qin yang tadi berada di atas bus.

Shuhuan dan Du fei kembali berlari bersama. Sementara gadis yang dititipi negatif film hanya memandang mereka yang berlari.


Keduanya sampai di persimpangan. Mereka mencoba memisahkan diri dengan mengambil jalan yang berlainan untung memancingnya. Tapi anak buah Tuan ke-5 Qin malah mengejar Shuhuan. Sadar kalau dirinya tidak di kejar, Du Fei jadi berbalik. “Hei.. kejar aku!” kata Du Fei. Tapi mereka tetap mengejar Shuhuan dan ini membuat posisi Shuhuan terkepung. “Cepat serakan kameranya!”



Tapi Shuhuan melempar kamera itu. Du Fei yang datang pun berteriak “Kau gila ya!” sambil melompat berusaha menangkap kamera itu. Tapi kamera berhasil ditangkap oleh salah satu anak buah Tuan ke-5 Qin.



Dan Du Fei pun terjatuh, kaca matanya terlepas. Ia meraba-raba tanah mencari kacamatanya. Setelah berhasil menemukannya, ia langsung memakainya.


Melihat kameranya ada di tangan musuh, Du Fei memohon agar yang di ambil cukup nagatif filmnya saja, kameranya jangan diapa-apakan. Katanya kamera ada, dia akan selamat. Tapi permintaan Du Fei tak ditanggapi. Mereka malah membanting kamera itu ke tanah hingga hancur berantakan.


“Ya Tuhan, habislah aku “ kata Du Fei
Melihat tak ada negatif film dalam kamera itu, anak buah Tuan ke-5 Qin kembali menatap Shuhuan dan meminta negatif filmnya. Shuhuan kemudian memberikan negatif film yang lain dan mereka pun pergi.


Du Fei memungut pecahan-pecahan kameranya dan bergumam ini masih bisa diperbaiki tidak ya? Tapi kata Shuhuan sudahlah, barang rongsokan seperti itu mana bisa diperbaiki. Du Fei kesal dengan Shuhuan kalau mau memberikan negatif filmnya kenapa tidak dari tadi saja, sekarang kamera rusak, negatif filmnya diambil orang. Bagaimana lapor pada Bos?
Shuhuan kemudian berterus terang pada Du Fei kalau kameranya itu memang sudah rusak. Kamera boleh rusak tapi negatifnya masih ada. Yang di rampas tadi adalah foto-foto di kebun binatang yang isinya foto gajah dan monyet.


Kemudian Shuhuan mengajak Du Fei mencari negatif film yang ia titipkan di trem tadi.
Di halte berikutnya, gadis itu menunggu orang yang tadi menitipkan negatif film padanya. Ia celingukan mencari ke semua sisi jalan.
Shuhuan melihat gadis itu dan langsung menghampirinya. Shuhuan mengucapkan terima kasih dan meminta gadis itu mengembalikan negati filmnya. Tapi gadis itu menjawab negatif film apa ? Shuhuan menjelaskan negatif film yang ia titipkan di atas trem tadi. Gadis itu menjawab dengan enteng bahwa ia sudah membuang negatif filmnya itu di bawah tempat duduk di trem tadi. Karena ia mengira mereka berdua adalah orang jahat yang sedang di kejar-kejar. Shuhuan dan Du Fei cemas dan kaget. Shuhuan bertanya apakah mereka mirip dengan orang jahat. Lalu gadis itu melihat mereka berdua satu-persatu. Gadis itu menjawab tidak juga.


Du Fei kesal pada Shuhuan kenapa memberika negatif film pada orang yang tak dikenal. Shuhuan mengajak Du Fei mengejar trem tadi. Ketika mereka berdua akan pergi, Gadis itu bertanya “Siapa kalian sebenarnya?” Shuhuan menjawab “Kami wartawan koran Shen Bao (Shanghai), sudahlah kami tak punya waktu untuk menjelaskannya” “Koran Shen bao? Kakakku juga bekerja di sana sebagai wartawan!” jawab gadis itu. “Siapa kakakmu ?” tanya Shuhuan. “Lu Erhao..” “Ternyata Lu Erhao, Ayahmu Lu ZhenHua kan ?” sambung Du Fei. Gadis itu mengangguk.


Du Fei menghampiri gadis itu dan mengatakan ternyata teman sendiri, “Namaku Du Fei dan dia He shuhuan, kami berdua berteman baik dengan Lu Erhao. Kami sering mencari berita bersama-sama, dan kami di juluki ‘Tiga pendekar pedang’” Shuhuan mulai cemas dan mengatakan sekarang jangan sibuk berteman, katanya harus cepat mengejar trem itu atau pekerjaan hari ini akan sia-sia. Keduanya lalu beranjak pergi. Tapi gadis itu memanggil “Tunggu, kalian cari ini ya!” gadis itu memperlihatkan negatif film yang Shuhuan titipkan padanya. Shuhuan kaget melihatnya. Gadis itu yakin bahwa Shuhuan dan Du Fei buka orang jahat. Gadis itu menyerahkan negatif filmnya pada Shuhuan. Shuhuan menerimanya dengan senang. Gadis itu kemudian memperkenalkan namanya “Aku Lu Ruping”


Foto Tuan ke-5 Qin muncul di koran.


Tuan ke-5 Qin yang melihatnya langsung memarahi anak buahnya, kenapa tak bisa mengatasi dua wartawan kecil, katanya kamera sudah di rusak dan klise foto sudah di ambil tapi ini apa ? siapa nama wartawan itu ? kenapa tak ada namanya ? asisten tuan ke-5 Qin menjawab sepertinya itu wartawan baru, namanya belum bisa ditulis di koran. Mereka mungkin wartawan ingusan. Tuan ke-5 Qin bertanya pada anak buahnya, apa kalian tidak ingat siapa namanya? Anak buahnya hanya saling berpandangan, salah satu dari mereka mengatakan kalau mereka bertemu lagi pasti akan langsung mengenali dan mereka akan menghabisinya.

Mendengar itu tuan ke-5 Qin tambah marah, apa kalian mau menambah masalah ? asistennya menjawab, tentu saja tidak menghabisi mereka, hanya memberi pelajaran saja. Tuan ke-5 Qin bertanya bagaimana caranya ? apa mau ada berita di koran lagi anak buah Tuan ke-5 Qin berkelahi dengan orang diseluruh Shanghai ? Asisten Tuan Qin menjelaskan kalau mereka bertemu lagi dengan wartawan itu, mereka akan langsung melapor pada tuan ke-5 Qin.


Kemudian tuan ke-5 Qin mengingatkan tak boleh sembarangan berkelahi, jangan membuat malu. Mereka hanya wartawan kecil, tak ada pengaruhnya gambarku di muat di koran. Tuan Qin menjelaskan bahwa sekarang merupakan masa sulit, dan entah kapan usaha hiburan ini dapat berlanjut. Tahun depan adalah tahun penentuan, semua orang harus bisa memanfaatkannya.


Shanghai, 1936
Malam hari yang diliputi hujan deras, sebuah rumah kecil dengan perabotan rumah seadanya. Seorang wanita paruh baya meletakkan gelas di atas meja. Dan seorang gadis dengan rambut kepang duanya keluar dari kamar.

Gadis itu berkata, “ Ibu, aku buru-buru. aku pergi dulu. Nanti aku akan cepat pulang.” Wanita yang di panggil ibu itu mengangguk pelan. Gadis itu membuka pintu rumahnya, dilihatnya hujan sangat deras. “Yiping tunggu!” cegah Ibu itu.

Dia mengambilkan sesuatu untuk Yiping. Dia memberikan sebuah payung yang sudah usang untuk melindungi Yiping dari hujan. Yiping menerimanya. Ibunya menasehati kalau nanti sampai di sana Yiping harus bisa menahan emosi, dan katakan pada ayah kalau sewa rumah ini harus segera di bayar karena sudah menunggak dua bulan, dan juga hutang di warung harus segera dilunasi.


“Ibu tenanglah, walau aku dipermalukan seperti apapun, aku akan tahan, dengan cara apapun aku harus dapat uang.” Jawab Yiping. Ibunya kembali mengingatkan bahwa payungnya jangan sampai hilang. Karena setiap kali Yiping membawa payung pasti lupa membawanya pulang. Payung rusak masih Ibu sayang-sayang, jawab Yiping. “Hati-hati!”

Wanita paruh baya itu adalah Fu Wenpei, istri ke-8 Lu ZhenHua. Sedangkan gadis muda yang di panggil Yiping adalah putrinya yang nomor dua. Putri pertamanya Lu Xinping telah meninggal dunia.

Yiping Berjalan menuju jalan besar di bawah hujan yang cukup deras, payung usangnya tak bisa melindungi tubuhnya dari air hujan.

Sepatunya pun sudah mulai rusak. Yiping bergumam aneh sekali kenapa setiap kali mau ke sana untuk ambil uang selalu saja hujan. Tiba-tiba angin kencang datang dan menerbangkan payung milik Yiping. Yiping berusaha mengejar payung yang diterbangkan oleh angin tadi, tapi ia tak bisa menangkapnya, malah ia terkena cipratan air dari jalan karena mobil yang melaju kencang.
Yiping basah kuyup.
Kenapa sial begini, mobil saja menentangku, air juga. Yiping lalu melihat bus yang nanti akan membawanya. Ia lalu mengejarnya. “Tunggu... Tunggu... masih ada satu orang lagi..” tapi bus itu sudah menutup pintunya. Yiping berusaha agar supir mau membukakan pintu bus untuknya.


Tapi sia-sia bus itu malah pergi meninggalkan Yiping, dan ia pun terjatuh.
Yiping melihat bus itu pergi. Dan ia tetap diam duduk di jalan, basah kuyup karena hujan.


Bersambung...

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...