Sunday, 13 March 2011

Romance In The Rain Episode 3


Yiping menyanyi di depan Tuan ke-5 Qin, ia menyanyi dengan semangat dan membuat Tuan ke-5 Qin menyukai nyanyiannya.

Tuan ke-5 Qin menyampaikan kepada asistennya bahwa nyanyian Yiping sangat alami. “Dandani dia, siapa tahu bisa jadi aset berharga!”
Semua tepuk tangan ketika Yiping mengakhiri nyanyiannya.
Yiping menghampiri Tuan ke-5 Qin. “Kau masih muda” kata Tuan ke-5 Qin.
“Muda atau tua. Kalau kalian tak perlu pegawai. Aku pergi saja.” Ucap Yiping dengan sopan.
“Tunggu.” Cegah asisten Tuan ke-5 Qin menahan Yiping pergi. “Kami membolehkan kau menyanyi beberapa hari di sini, pakaian akan kami sediakan, gajinya sementara 20 yuan, jika banyak pengunjung yang tertarik, tiap bulan bisa menerima 100-200 yuan. Bagaimana?” Asisten Tuan ke-5 Qin memberikan penawaran yang menggiurkan.
Yiping hanya menjawab kalau dirinya memang butuh pekerjaan, tapi dia tak akan jadi penyanyi atau penari. Asisten Tuan ke 5 Qin menjelaskan kalau bekerja sebagai penyanyi jangan dianggap sebagai pekerjaan yang rendahan, pekerjaannya sangat bersih dan normal. Tidak memalukan. Yiping minta maaf dirinya tak bisa menerima pekerjaan itu.
Tuan ke-5 Qin memotong pembicaraan, “Nona, margaku Qin. Orang memanggilku Tuan ke-5 Qin. Pemilik klub dansa Da Shanghai ini. Jika kau berubah pikiran, setiap saat bisa mencariku. Jika perlu uang kita bisa negosiasi lagi.”
Yiping hanya menjawab terima kasih dan mengatakan kalau ibunya tak akan setuju ia melakukan pekerjaan itu. Kemudian Yiping pergi meninggalkan Da Shanghai. Asisten tuan ke-5 Qin ingin menghalangi Yiping pergi, tapi dicegah oleh Tuan ke-5 Qin, “Biarkan dia pergi. Beberapa hari lagi dia akan datang kemari.” Ucap tuan ke-5 Qin pada asistennya.
Di sebuah kampus jurusan seni , sekelompok mahasiswa sedang melukis gambar orang yang sedang duduk. Seorang gadis manis tengah melukisnya juga.




Semua mahasiswa disana melukis dengan serius.
Di luar ruangan Yiping muncul, ia memanggil gadis itu, tapi tak didengar. Yiping menyuruh mahasiswa yang lain untuk memanggilkannya.

“Fang Yu, teman baikmu datang.” Kata mahasiswa itu. Gadis yang di panggil Fang Yu menoleh ke jendela. Melihat Yiping datang gadis yang bernama Fang Yu tersenyum, Yiping juga tersenyum.




 Yiping memberi tanda kalau mereka harus bertemu di luar kelas. Fang Yu mengangguk.
“Yiping sudah lama kau tak menemuiku, aku kangen sekali..” ujar Fang Yu pada Yiping. Mereka berlari ke luar kampus. Yiping menjawab kalau Fang Yu kangen kenapa tak datang ke rumahnya. “Aku sibuk sekali, kuliah di jurusan seni benar-benar membuatku menderita.” Jawab Fang Yu
Fang Yu bertanya Yiping kenapa, “Oh aku tahu, kau punya pacar ya?” Fang Yu tertawa. “Aku mana mungkin seberuntung itu.” jawab Yiping sambil tertawa pula. Yiping lalu mengajak Fang Yu ke tempat sepi.
“Aku menemui jalan buntu. Maka dari itu aku menemuimu, apa kau punya uang?” tanya Yiping. Fang Yu merogoh kantong bajunya memeriksa apa dia punya uang atau tidak. Fang Yu punya sedikit dan bertanya Yiping butuh berapa.
Yiping mengatakan ia dan ibunya sudah tak bisa bertahan hidup lagi. Berapapun yang Fang Yu punya akan ia terima. Fang Yu bertanya tak bisa hidup kenapa? “Ayahmu?” Yiping memperlihatkan luka cambukan di tangannya pada Fang Yu. Fang yu merabanya dan bertanya, kenapa bisa begini? Yiping menjelaskan kalau itu perbuatan ayahnya, Tak hanya di tangan, di wajah juga ada tapi sudah tak kelihatan. Diseluruh tubuh juga.
“Beberapa hari yang lalu aku berkelahi saat mau mengambil uang disana. Uang tak kudapatkan, malah cambukan yang kuperoleh. Dia telah memutuskan hubungan antara aku dengan keluarga di sana” Yiping menjelaskan, “Beberapa hari ini aku mencari pekerjaan, tapi...”
Fang Yu memandang sahabatnya dan mengatakan ia akan mengumpulkan uang dari teman-teman dan akan memberikannya pada Yiping. Lalu Fang Yu pergi meninggalkan Yiping.
Fang Yu mengumpulkan uang dari teman-temannya, Fang Yu mengucapkan terima kasih pada teman-temannya.
Tak lama kemudian Fang Yu menemui Yiping kembali dengan membawa uang sumbangan dari teman-tamannya. Fang Yu menyerahkan uang itu pada Yiping,
“Hanya ada 3 yuan, pengumpulan dananya tak terlalu sukses, nanti akan kupikirkan lagi caranya.” Yiping menerima uang itu. Dan memandang Fang Yu dengan pandangan penuh rasa terima kasih.
Ruping berencana mambantu Yiping dan ibunya, Wenpei. Ia mengutarakan maksudnya itu pada Lele, anjing kesayangannya. Ruping membuka tempat uangnya, dan menghitung uang simpanannya. “ada 20 yuan, rasanya cukup untuk keadaan darurat” kata Ruping. Ia juga mengambil sepatu miliknya di lemari. Lalu membungkusnya. Dan memasukkanya ke tas. Tak lupa uangnya pun ia masukan ke dalam tas. Kemudian ia pergi.
Ruping datang ke rumah Yiping, disana hanya ada Wenpei, Ibu yiping, “Bibi, ini ada 20 yuan, aku tahu ini tak cukup, tapi hanya ini yang kupunya,” Ruping menyerahkan uangnya pada Wenpei.
Wenpei kaget mendengarnya, “Tak boleh begitu, ayah dan ibumu tahu tidak kau kemari?” Ruping menjawab kalau ayah dan ibunya tidak tahu ia menemui Wenpei. Wenpei menolak uang pemberian Ruping. “Aku dan Yiping tumbuh bersama, waktu aku cacar air, Bibi yang merawatku, menemaniku, dan menjagaku. Bibi sama seperti Ibu kandungku, ini uangku sendiri” ujar Ruping.
Wenpei tetap menolak dan mengatakan bagaimana kalau Yiping tahu, Yiping tak bisa menerimanya. “Yiping tak ada dirumah, dia tidak akan tahu.” Ruping mengeluarkan sepatu miliknya dan menyerahkannya pada Wenpei, ”Sepatu ini baru ku pakai 2 kali, masih baru, ukuran kaki Yiping sama seperti kakiku. Pasti muat.”
“Ruping kau anak yang baik, aku akan menerima sepatunya. Tapi bawa kembali uangmu.” Kata Wenpei. Ruping menjawab bahwa ini juga uang ayah, ayah yang seharusnya merawat Yiping dan ibunya. Ruping memaksa Wenpei agar mau menerima uang itu. Ruping buru-buru takut kalau Yiping segera pulang. Tak lupa Ruping meminta agar Wenpei menasehati Yiping, jangan pernah marah pada ayah, dan ibunya, “Bagaimanapun kita satu keluarga,waktu itu Yiping dipukuli karena emosinya. Ayah berkata satu kalimat, Yiping membalasnya dengan sepuluh kalimat.” Ruping terus menitip pesan pada Wenpei.
Tanpa disadari, Yiping pulang dan melihat Ruping berkunjung ke rumahnya.“Ruping...” teriak Yiping. Ruping dan Wenpei kaget melihat Yiping pulang.
Yiping masuk kedalam rumahnya, ia melempar tasnya ke meja, “Bagus sekali, kalian sekeluarga belum cukup menyakitiku. Ayah memukulku apa itu belum cukup. Kau malah mengadukan hal yang tidak-tidak tentangku pada ibuku. Kau keterlaluan.” Yiping marah pada Ruping. Ruping kaget mendengarnya.
Wenpei menenangkan Yiping dan mengatakan kalau Yiping sudah salah paham, Ruping datang bukan untuk mengadu. Dia datang untuk mengirimi uang. Wenpei memperlihatkan uang yang diberikan oleh Ruping.
Yiping bertanya pada ibunya, apa ibunya menerima sumbangan dari Ruping, apa ibu ingin melihatnya muntah sampai mati? Belum sempat Wenpei menjawab Ruping sudah mengatakan, “Aku datang hanya menyampaikan perasaanku saja.”
“Perasaanmu? Jadi menurutmu aku yang salah?” tanya Yiping pada Ruping dengan nada marah. “Menurutmu aku tak seharusnya menentang ayah, aku tak semestinya mengutarakan perasaanku pada ayah? Begitu?”
“Lihatlah ruangan ini, pikirkan tempat tinggalmu. Lihat ibuku dan pikirkan ibumu. Lihat aku dan pikirkan dirimu sendiri. Tahun lalu aku lulus ujian masuk jurusan seni musik tapi tak punya uang untuk melanjutkan sekolah. Sedangkan kau, kau sudah kuliah di Universitas St. John. Lihatlah baik-baik apa kita sekeluarga...” Ruping menjawab ia tahu bahwa  ayah sudah memperlakukan mereka tak baik,  tapi....
“Jangan bicara tapi, dalam kondisi tak adil ini, tak ada kata tetapi. Bawa uangmu. Bawa pergi perasaanmu!” Yiping mengusir Ruping dan mengembalikan uang yang dibawa Ruping.
“Kau ini kenapa? Ada apa denganmu? Maksud kedatanganku baik. Kau Selalu menganggap semua  orang sama. Tak bisa membedakan baik dan buruknya. Aku sudah bolos tiga mata kuliah, dua kali ganti kendaraan umum untuk sampai kerumahmu. Aku sudah jauh-jauh datang ke rumahmu.” Kata Ruping.
Yiping membenarkan kalau ini adalah rumahnya. Bukan rumah Ruping yang mewah itu. “Kenapa masih berani bilang kita satu keluarga?” setiap kali mendengar kata-kata dari Ruping, Yiping merasa bisa mati karena kesal. Menurut Yiping gaya Ruping yang sok anggun itu, seperti tak tahu kesulitan yang dialami orang lain itu membuatnya kesal. Ruping syok mendengarnya.
“Baik, akulah yang membuatmu marah. Semua musibah yang kau alami semua gara-gara aku. Kau puas? anggap saja aku sedang sial datang ke sini. Aku akan ambil uangku. Kelak aku tak akan peduli lagi denganmu!” Ruping marah, ia mulai kesal pada Yiping. Ruping berniat pergi tapi dicegah Wenpei.
“Yiping jangan begitu, kedatangan ruping tak bermaksud buruk.” Wenpei menenangkan kedua putri Lu Zhenhua. “Dia juga mengirimkan sepatu untukmu.”
Yiping mengambil sepatu yang ada di atas meja. “sepatu? Sudah pernah dipakai?” tanya Yiping pada Ruping, “Sepatu yang sudah tak kau inginkan kau bawa kemari? Apa kau juga membawa selimut dan baju bekasmu? Kau pikir rumahku tempat pengungsian, rumah yatim piatu atau kantor palang merah?” bentak Yiping.
Ruping mengambil sepatunya dari tangan Yiping, “Pantas saja ayah memukulmu, aku tak akan pernah bersimpati lagi padamu. Tak akan pernah mengasihanimu.” Ruping benar-benar kesal pada Yiping.
“Siapa juga yang butuh simpatimu? Siapa juga yang butuh belas kasihanmu? Aku paling tak tahan dengan simpati dan belas kasihan orang. Terutama dari keluarga kalian.” Yiping menjawab kata-kata Ruping dengan keras.
“Aku sudah berbuat salah padamu, apa kau puas.” Teriak ruping. “Aku tak akan bertengkar denganmu. Aku pergi.” Ruping berlari keluar dari rumah Yiping. Yiping dan ibunya hanya diam melihat Ruping pergi.
Yiping duduk di kursi ibunya mengikutinya. Wenpei cemas melihat putrinya bertengkar dengan Ruping yang tak lain juga adik tiri Yiping. Wenpei memeluk putrinya. Sambil menangis Yiping berkata pada ibunya,” ibu, aku punya harga diri dan kehormatan sendiri. Tanpa itu aku tak bisa bertahan hidup.”  “aku paham” jawab ibunya.

Di Kantor redaksi Koran Shen bao,
Shuhuan dan Du Fei menghadap atasannya.




 “Disini ada 2 dua berita, coba kalian cari.” Perintah si Bos “Berita yang satu ini masih berkaitan dengan Tuan ke-5 Qin, kabarnya klub dansa Da Shanghai mulai ada pertunjukkan tarian gadis-gadis cantik, cobalah kalian untuk memotret. Tapi kalau kamera rusak lagi, urusannya bukan lagi hanya potong gaji” kata si Bos sambil menatap Du Fei.
Du Fei tertunduk lesu mengetahui nasib pekerjaannya. “Du Fei, apa yang kau katakan waktu mengambil kamera tempo hari?” si Bos bertanya pada Du Fei, dengan semangat Du Fei menjawab, “Kalau ada kamera, aku juga ada. Kalau kamera rusak, aku juga hancur!”
Bosnya mengatakan jangan hanya omong kosong saja. Urusan di klub Da Shanghai tidak terlalu mendesak. Si Bos punya tugas lain untuk Shuhuan dan Du Fei. Ada alamat yang harus didatangi, si Bos meminta Shuhuan dan Du Fei segera ke sana. “Potret dan wawancara Khusus.” Kata si Bos sambil menyerahkan secarik kartas alamat pada Shuhuan. “Dia seorang nyonya tua berusia 92 tahun, tanyakan padanya resep panjang umurnya. Kehidupan serta keluarganya.”
Erhao masuk ke ruangan si Bos dan menyerahkan berkas wawancara khususnya dengan orang yang bernama Li Youwei. Si Bos menerima berkas yang diberikan Erhao.
Shuhuan menyampaikan usul pada bosnya. Ia ingin sekali melakukan wawancara yang lain, ia minta izin agar si Bos mengirimnya ke Beiping. Si Bos bertanya Mau apa Shuhuan ke Beiping. Shuhuan menjawab kalau dirinya sudah bosan mewawancarai Tuan ke-5 Qin, bintang film atau penyanyi. Shuhuan ingin mewawancarai gerakan mahasiswa.




 Tapi si Bos tak mengizinkan, tugas mahasiswa itu belajar, yang namanya cinta negara tak harus dengan gerakan. “Kalian baru bekerja dua tahun, patuhi saja tugas wawancara yang diberikan pada kalian. Segera wawancari Nyonya tua itu. Berita belakangan ini terlalu berat, kita butuh berita yang ringan.” Kata si Bos.
“Baik..” ketiganya meninggalkan ruangan si Bos.
Erhao memotivasi sahabat-sahabatnya, “Kalian jangan kecewa, mewawancarai Nyonya tua pun tak masalah. Paling tidak lebih bagus dari pada tugas wawancara di kebun binatang.” Erhao mengatakan kalau ia akan menemani sahabatnya melakukan wawancara, ia juga akan mengajak adiknya, Ruping.
Mendengar Ruping akan ikut wawancara Du Fei langsung semangat (hmmm... tanda-tanda Du Fei naksir ruping nih... hehehe..)

Disebuah rumah terlihat keramaian.
Seorang wanita tua tengah menangis. Tak ada yang dapat menghentikan tangisannya. Tak ada pula yang mengerti maksud ucapannya.
“Kembali, ayo kembali” tangis wanita tua itu.
Shuhuan, Du Fei, Erhao dan Ruping sampai ke tempat ramai itu. Mereka mendekat. Du Fei berjalan merangsak paling depan ditengah kerumunan.
Shuhuan bertanya pada orang yang berada disana, “Apa ini rumah Nyonya Tua Luo, yang mana orangnya?”
“Dia.” orang itu menunjuk kalau yang menengis itu adalah Nyonya Tua Luo. Erhao bertanya pada salah satu wanita disana kenapa Nyonya Tua Luo menangis, wanita itu tak tahu kenapa Nyonya tua Luo menangis, katanya sudah sepanjang pagi ia menangis. Tak ada yang mengerti kata-katanya.
Du Fei berjalan mendekati Nyonya Tua Luo, ia mulai memotret.
“Sobat tua, jangan tinggalkan aku..kenapa tinggalkan aku!” Tangis Nyonya Tua Luo.
Ruping mengatakan kalau Nyonya Tua Luo sedang mencari sobat tuanya. Ruping maju mendekati Nyonya Tua Luo dan bertnya, “Sejak kapan sobat tuamu pergi?”
“Kemarin malam dia pergi!” Nyonya Tua Luo menjawab pertanyaan Ruping. “Semua gara-gara pemburu itu. Dia terus berteriak di luar. Aku tahu akan terjadi hal yang buruk. Aku mengusirnya, tapi ia tak mau pergi.” Nyonya tua Luo tetap menangis. “sobat tuaku tak mau mendengarkanku. Dia tak memperdulikan aku lagi... aku mengejar dia, tapi dia malah melompat dari jendela, lalu lari.” Ruping bingung mendengarkan kata-kata Nyonya tua Luo yang terus menangis memanggil sobat tuanya, “sobat tuaku!”
Du Fei mendekati Nyonya Tua Luo dan bertanya, “Apa sobat tuamu pergi tengah malam dengan wanita lain? lompat dari jendela? Maaf berapa umurmu? Berapa umur sobat tuamu?”
“Tidak kurang tidur, tidak kurang tidur sama sekali.” Jawab Nyonya Tua Luo (ga nyambung sama yang ditanya Du Fei wakakaka...)
Semua tertawa mendengarnya.
“Aku tidak tanya soal tidur, tapi tanya soal sobat tuamu. Tahun ini berapa umurnya?” Du Fei kembali bertanya.
Nyonya Tua Luo menjawab, tangannya sambil memperagakan, “Dia tidak tinggi, juga tidak kurus. Tapi gemuk, bulat! Matanya besar, kumisnya panjang!“ (ga nyambung deui hahahaha)
Du Fei bingung mendengarnya. Ruping dan orang-orang disekeliling tertawa.
Du Fei kemudian berseru pada orang-orang disana, “Apa ada yang melihat kakek-kakek berjenggot panjang, ayo bilang?” Ruping, Shuhuan dan Erhao  juga menanyakan hal yang sama pada orang-orang disana. Tapi tak ada yang melihat.
Shuhuan berjalan mendekati Nyonya Tua Luo, “Margaku He, aku wartawan koran Shen Bao.”
“Kau mau menyebrang sungai? Disini tak ada sungai.” Jawab Nyonya Tua Luo. (Tak nyambung lagi hahah) “jangan menyebrang sungai, bantu aku mencari sobat tuaku!” Nyonya Tua Luo memintanya sambil menangis.
Erhao bertanya mungkin yang dimaksud adalah Tuan Luo. “Dimana dia sekarang?”
“Dia sudah meninggal 20 tahun yang lalu, selama ini dia tinggal sendiri.” Jawab salah seorang warga.
“Siapa keluarganya? Dimana anak cucunya?” Ruping turut bertanya.
“Dia tak punya keluarga.” Jawab seorang wanita di belakang Ruping.
Semuanya hanya saling memandang merasa Iba melihat Nyonya Tua Luo... Tiba-tiba..
“Aku dengar.” Kata Nyonya Tua Luo “Dia memanggilku, dia sudah pulang!” Nyonya Tua Luo berjalan keluar, “Dia telah kembali, lihat... “ Nyonya Tua Luo menunjuk ke arah atas.
Shuhuan melihat dan mengatakan kalau diluar tak ada orang.
“Ada, aku bilang ada ya ada.” jawab Nyonya Tua Luo (tumben nyambung hahaha..) “Kau dengar, miao.. miao.. dia sedang memanggilku”
“Ternyata namanya miao miao” Du Fei menyahut (hahaha) “bukan!” jawab Nyonya Tua Luo (nyambung juga ditanya sama Du Fei)
Sambil melihat ke atas Nyonya Tua Luo mengatakan, “Kanapa kau lari ke tempat setinggi itu? Aku sudah tua. Turun. Jangan lompat dari loteng!” Semua memandang ke atas. Nyonya tua menunjuk ke arah atas. “Disana kalian lihat!”
Ternyata itu seekor kucing.
“Ternyata yang dimaksud kucing,” Semua memandang ke arah kucing itu berada, Du Fei terus memotret.
“Aneh sekali, kenapa kucing itu bisa sampai ke atas sana!” Tanya Shuhuan.
Tapi menurut Erhao kucing itu bisa naik, pasti bisa turun sendiri, tak perlu mencemaskannya. Mereka semua melihat kucing itu terjepit disebuah pipa. Tapi menurut Du Fei kucing itu tak bisa turun, bahkan sudah tak bisa bergerak lagi.
“Sobat tua kalau kau meninggalkanku, aku tak sanggup hidup lagi.” Ucap Nyonya Tua Luo sambil menangis.
Ruping meminta tolong orang-orang yang ada disana agar dipanggilkan pemadam kebakaran (kok pemadam kebakaran ya,,, kan ga ada yang kebakaran)
“Kucing itu sudah lemas ketakutan,“ kata Du Fei, “Kalau tak segera ditolong pasti akan mati! memangnya regu pemadam kebakaran mau datang untuk menolong seekor kucing?” tanya Du Fei.
“Masa bodoh, aku akan menolong kucing itu, aku akan naik. Kalian harus menolongku.” kata Shuhuan. Du Fei dan Erhao membantu Shuhuan.
Shuhuan menggunakan tangga untuk naik, “hati-hati” Erhao berpesan pada Shuhuan.
Shuhuan mulai naik, Ruping dibawah cemas melihatnya.
“Adegan pahlawan menolong kucing, harus di potret.” Kata Du Fei sambil memotret.
Du Fei terus memotret berjalan semakin ke pinggir, tanpa sadar ia tak mendapat pijakan di kakinya. Du Fei hampir jatuh, Jika Erhao tak menagkapnya.
Karena menarik menahan Du Fei yang hampir jatuh, Erhao tak memperhatikan Shuhuan yang naik menggunakan tangga. Tangga pijakan Shuhuan terjatuh. Shuhuan pun bergelantungan di atas. Semua yang di bawah berteriak cemas, “Shuhuan hati-hati!”
Shuhuan berhasil menggapai atap rumah. Du Fei terus memotret.
“Jangan buat masalah, cepatlah turun.” Erhao memerintahkan Du Fei untuk turun. Du Fei menurut.
Shuhuan berjalan dengan hati-hati di atap rumah.
Nyonya Tua Luo dan Ruping cemas melihatnya.
Tiba-tiba kaki Shuhuan terpeleset. Dia hampir jatuh. “Shuhuan hati-hati” teriak Erhao
Shuhuan berdiri dan berjalan kembali dengan hati-hati.
Du Fei sudah sampai dibawah, “Shuhuan hati-hati” teriak Du Fei dari bawah.
Shuhuan sampai di mana kucing itu terjepit pipa. Shuhuan menggapai dengan tangannya. Sulit sekali.
Shuhuan berhasil menyentuh kucing itu, tapi sulit untuk mengambilnya. Kucing itu betul-betul terjepit.
Shuhuan berusaha menarik kucing itu, ia memaksanya. Kucing itu mengeong,
“Shuhuan sudahlah, itu hanya seekor kucing” kata Erhao.
“Sedikit lagi, aku sudah bisa menggapainya. Hanya tak bisa menariknya.” Shuhuan menyahut.  Shuhuan berusaha menarik kucung itu. Ia menariknya sekuat tenaga. Shuhuan berhasil menarik kucing itu. Tapi tiba-tiba pengait pipa itu terlepas dan membuatnya terlempar dari atap. Shuhuan melayang-layang dengan hanya berpegangan pada pipa.
Semua syok melihatnya!
Ruping menggenggam tangannya dan berdoa, “Ya Tuhan, berikanlah bantuan dan perlindungan-Mu. Berikan pertolongan-Mu pada kami. Ku mohon lindungilah kami. Agar terhindar dari bencana buruk, lindungilah Shuhuan.”
“Ya Tuhan aku hampir pingsan!” ucap Ruping.
“Ruping jangan pingsan,” Du Fei memegangi Ruping. “Regu pemadam kebakaran sudah datang!”
Regu pemadam kebakaran segera menurunkan tangga untuk menolong shuhuan.
Shuhuan masih bergelantungan berpegangan pada pipa yang hampir patah, sambil memegangi kucing yang berhasil ditolongnya.
Ahhhh... Shuhuan terlepas dari pegangan pipanya. Tangannya langsung menggapai tangga yang sudah disiapkan petugas pemadam kebakaran.
Ruping hampir pingsan melihatnya, Du Fei segera menangkap Ruping.
Semua tepuk tangan, “Lihat dia berhasil!” teriak Du Fei pada Ruping yang dari tadi menutupi wajahnya.
Ruping melihat ke atas. Bagus sekali, dia berhasil. Semua senang. Ruping berteriak kegirangan. Ia langsung memeluk Du Fei.
Shuhuan langsung turun. Dan menyerahkan kucing itu pada Nyonya Tua Luo. Du Fei memotretnya. Nyonya Tua Luo mengucapkan terima kasih pada Shuhuan sambil berlutut, tapi Shuhuan menahannya.
“Sobat tuamu sudah pulang, semoga nanti tak ada pemburu lagi!” ucap Shuhuan.
“kita pulang, nanti tak boleh begini lagi ya. Paham?” kata Nyonya Tua Luo sambil memeluk sobat tuanya.
Ruping mengatakan kalau yang dipeluk Nyonya Tua Luo bukan hanya seekor kucing, tapi mainan seumur hidupnya. Shuhuan hanya memandang Ruping dan tersenyum.

Di kediaman keluarga Lu. Mereka semua sedang makan malam.
Lu Zhenhua sepertinya tak berselera makan. Ia kemudian berkata pada Erhao, “Erhao, pergilah ke tempat Bibi Pei (Wenpei) dan sampaikan pesanku. Suruh Yiping datang malam ini.”
“Baik.” Kata Erhao. Ruping hanya memandang saja.
Xueqin bertanya pada suaminya, untuk apa memanggil Yiping. Tempo hari dia kasar sekali. Tiap kali datang selalu buat keributan. Seperti orang gila sampai seluruh keluarga jadi tak tenang.
Lu Zhenhua memandang istrinya dengan pandangan tidak sukanya. Xueqin menambahkan kalau suaminya juga paham sifat keras Yiping, kalau sudah marah tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Xueqin tak takut pada apapun, ia hanya takut kalau Yiping datang,  bicara yang tak karuan dan tidak sopan. Xueqin juga mencemaskan kalau suaminya nanti akan marah.
“Sepertinya Yiping tak akan datang!” Ruping menyahut “Dia sudah dendam pada keluarga kita, aku rasa dia sudah tak sudi lagi bertemu dengan kita.”
Mengping juga menambahkan, kapan Yiping tak membuat ayahnya marah, bicaranya seperti bom.
“Aku tak mengerti bagaimana Wenpei mendidiknya!” ujar Xueqin, “Bukankah Wenpei berasal dari keluarga terpelajar. Kenapa anaknya jadi kurang ajar pada keluarganya sendiri!”
Lu Zhenhua menggebrak meja. Semuanya kaget.
“Tutup mulut kalian, kalau ada yang bicara satu kalimat lagi, kalian tak boleh makan!” gertak Lu Zhenhua. Semuanya diam.
“Ibu aku mau paha ayam.” Pinta Erjie.
Xueqin malah memukul tangan anak bungsunya dengan sumpit, “Kenapa ribut, mau cari mati ya?”
Erjie lalu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Lu Zhenhua, “Ayah, ibu memukulku, sakit sekali!”
Lu Zhenhua melihat tangan putra kecilnya, kemudian beralih memandang istrinya, “Dia mau makan paha ayam, berikan saja. Selesai kan?” Xueqin hanya diam.
“Sudah ini aku kasih paha ayam.” Ruping menghampiri adiknya. Dia mengambilkan paha ayam yang diminta Erjie. “cepat makan.” Ruping mengajak adiknya duduk di kursi dekat dengannya.

Disebuah gang kecil, Yiping berjalan menyusuri malam.
“Yiping!” Seorang lelaki pengendara sepeda menghampirinya. Dia Erhao.
“Ada apa?” Tanya Yiping.
“Aku datang untuk menyampaikan pesan.” Kata Erhao “Ayah memintamu pulang kesana malam ini.”
Yiping bertanya pulang kemana. “Tentu saja pulang ke rumah.” kata Erhao.
“Rumah? Kata yang aneh sekali?  Kau tahu kata itu? Tahu apa artinya?” Yiping mendekat pada Erhao. “Aku dan ibuku hidup berdua saja, selain disini mana ada rumah lain?”
Erhao mengatakan kalau itu adalah urusan Yiping. Mau punya rumah atau tidak yang penting dia sudah menyampaikan pesan dari ayahnya. Mau pulang atau tidak itu juga urusan Yiping bukan urusannya.
Yiping menjawab dengan ketus, ”Kalau begitu sampaikan pada Tuan besar komandan kalian bahwa Lu yiping sejak 5 tahun yang lalu dia tak punya rumah.”
“Kau aneh sekali!” Erhao pergi meninggalkan Yiping.

Di rumah yiping. Wenpei tengah mencuci baju. Ia terbatuk-batuk.
“Ibu..” teriak Yiping.  Mendengar putrinya datang Wenpei segera menghentikan cuciannya.




 “Ibu..dimana kau? Seharian pergi tetap tak dapat pekerjaan.” Yiping mengomel saat memasuki rumahnya. Ia kaget melihat ibunya mencuci pakaian.
“apa ini? Pakaian siapa? Malam-malam begini kenapa ibu mencuci pakaian?” tanya Yiping.
“Tidak, bukan punya siapa-siapa. Nyonya Zhou minta tolong dicucikan bajunya. Lagi pula aku tak ada pekerjaan.” Jawab Wenpei.
“Ibu, apa kau terima cucian pakaian kotor tetangga untuk mendapatkan uang?” Tanya Yiping pada ibunya.
Wenpei tahu kalau yang dilakukannya ini tak baik, tapi ia tak suka seperti orang yang tak berdaya. Anggap saja mencuci itu olah raga.
Yiping bertanya apa di rumah sudah tak ada uang sedikitpun? Bukankah kemarin Fang Yu mengirimkan 5 yuan.
Wenpei menjelaskan kalau uang 5 yuan sudah diminta oleh pemilik rumah untuk bayar sewa. “Kita hutang 20 yuan uang sewa rumah. Mereka juga punya keluarga yang harus dihidupi, terpaksa kuberikan pada mereka.”
Yiping memandang ibunya sambil menangis, “Kau berikan semuanya? Sudah ke dokter belum? Sudah beli obat belum?”
Wenpei mengatakan kalau dirinya tidak sakit, untuk apa pergi ke dokter. Batuknya sudah hilang.
Yiping bertanya hari ini ibunya makan apa. Dirumah ada beras tidak. Wenpei diam tak menjawab. Yiping bergegas masuk ke dalam menuju dapur tempat ibunya menyimpan beras. Ia membukanya. Ternyata wadah beras itu kosong.
Wenpei datang mengejar Yiping, “Yiping aku sudah makan, sungguh. Aku makan beberapa mantao.”
Yiping memandang ibunya. Kemudian ia duduk dan menangis. Wenpei menenangkan putrinya dan mengatakan kalau dirinya sudah makan. Yiping terus menangis.

Wenpei meminta Yiping jangan sedih, masih ada cara lain. Mereka masih memilki sehelai kulit harimau. Wenpei akan menjualnya,
Yiping mencegah ibunya, jangan jual kulit harimau. Yiping mengatakan ia tahu dimana tempat ia bisa mendapatkan uang. Yiping sudah mau pergi tapi Wenpei bertanya Yiping mau kemana.
Yiping menjelaskan kalau beberapa hari yang lalu ia mendapatkan penawaran pekerjaan, tapi ia tidak mau. Sekarang ia akan menerima pekerjaan itu.
“Pekerjaan apa?” Tanya ibunya.
“Aku juga tak tahu, mungkin sebagai gadis penari atau penyanyi.” Jawab Yiping.
Wenpei melarang Yiping. “Aku tak akan izinkan kau jadi penyanyi atau penari.”
Yiping meyakinkan ibunya bahwa ia bisa menjaga diri dan kesuciannya. Tapi Wenpei tetap tak mengizinkan Yiping.
“Begitu orang salah ambil langkah, ia akan terus terjerumus kedalamnya.” ucap Wenpei mencemaskan putrinya. Ia mengatakan bahwa dulu di Harbin gadis-gadis dari keluarga terhormat, mengenyam pendidikan tinggi, tapi demi mencari uang mereka menjadi gadis penari. Dari seorang gadis penari kemudian menjadi WTS kelas tinggi. Mereka terus terjerumus ke bawah.
Yiping menjelasakan kalau ia tak akan seperti itu. Ia bisa jaga diri.
“Aku harus pergi, aku tak bisa biarkan kau kelaparan.” Yiping bergegas pergi.
Wenpei menghalangi putrinya pergi. Yiping mengatakan kalau mereka butuh uang. “Lebih baik aku mati kelaparan.” Ujar Wenpei.
“Aku tak akan terjerumus. Aku bersumpah padamu. Aku harus dapatkan uang!” Ucap Yiping sambil berlari ke luar rumah.
“Yiping... “ teriak Wenpei.
“Jika kau ingin hidup terhormat, kau tak boleh masuk ke tempat itu. Didepan ayahmu kau ingin memiliki kehormatan. Anak berpendirian kuat seperti kau, kenapa tak memahaminya. Begitu kau masuk ke tempat itu, kau tak akan punya kehormatan diri lagi.”
“Ibu aku tak bisa memilih, harus ada jalan yang ku tempuh.” ucap Yiping.
“Kalau kau memaksa pergi, lebih baik kau ambil pisau dan kau bunuh aku!” ancam Wenpei. Yiping takut mendengarnya. Yiping memeluk ibunya, “Ibu... Ibu... jangan menangis... aku tak akan pergi.”
Yiping melepas pelukannya dan memandang wajah ibunya. Dia berlari ke arah tempat cucian. “Biar aku saja yang mencuci pakaian.” Ucap Yiping sambil mencuci. Ia terus menangis.

Yiping berada dikamarnya. Ia menyalakan lampu mejanya. Yiping mengambil buku harian di laci. Ia mulai menulis.

“Mengapa hidupku begitu mengenaskan seperti ini, begitu tak berdaya. Apakah ini ujian dari Tuhan? aku tak boleh jatuh. Makin sulit hidup, makin buruk nasib. Aku harus semakin kuat, tanggung jawabku sekarang ini bukan hanya merawat ibu. Tapi juga membalaskan dendamku pada Bibi Xue dan keluarganya. Hanya orang yang memiliki ambisi yang selalu akan ingat pada penghinaan yang pernah dialami olehnya.”

Yiping mengakhiri tulisannya. Menyimpan kembali buku hariannya di laci. Ia beranjak ke tempat tidurnya. Ia mulai berbaring sambil berfikir, “Aku harus pikirkan cara. Aku harus membuat ibu bahagia!” ucapnya. “Ya Tuhan, berikan aku kekuatan, berikan aku kesempatan.”

Di rumah keluarga Lu. Dikamar Ruping.
Ruping tengah membaca buku dan menuliskannya pada buku tulis (kayaknya lagi ngerjain tugas kuliah deh..) ibunya masuk membawa bungkusan berisi baju. Dan meminta putrinya mencoba baju itu.
Ruping bertanya apa ada pesta. “Bukan pesta kau harus memakainya untuk jalan-jalan besok!” Xueqin memperlihatkan baju itu pada Ruping.
Ruping tak mau mengenakan baju itu. Ia bisa ditertawakan oleh Shuhuan dan Du Fei.
“Jangan kampungan. Shuhuan itu sudah banyak pengalaman, caramu berpakaian harus sempurna. Harus bisa menarik perhatiannya” ujar Xueqin.
 “Ya Tuhan...” jawab Ruping tak menyangka ibunya akan berbuat ini.
Xueqin bertanya pada Ruping, sebenarnya ruping mau tidak dijodohkan dengan Shuhuan. “Ibu kenapa kau bertanya begitu?”
“Memangnya kenapa? Dengan ibu sendiri kenapa malu. Kau dan Shuhuan sudah lama saling kenal. Sebenarnya apa maumu?” Xueqin sudah mencari informasi kalau ayah Shuhuan seorang pejabat tinggi di Kementrian Luar Negeri di Nanjing.
“Ya Tuhan...!” Ruping kembali nyebut hahaha...
“Kalau kau berteriak ‘Ya Tuhan’ lagi aku tak akan memperdulikanmu. Kakakmu selalu membawanya kemari. Juga sudah mengatur untuk jalan-jalan besok, itu semua untukmu. Kalau kau suka, kau harus gunakan taktik. Kau harus berdandan lebih cantik. Besok berilah tanda padanya. Kau harus bisa menggunakan isyarat di matamu. Tuhan sudah memberimu mata yang cantik, itu bisa kau gunakan untuk menarik perhatian orang.”
“Baiklah, baiklah. tak perlu mencemaskanku, aku bisa mengatasi masalahku. Aku masih muda. Masih kuliah. Aku ingin bersamamu 2 tahun lagi.” Jawab Ruping sambil menerima baju yang dibawa ibunya dan memakainya.
“Sekarang mencari pria baik susah, Du Fei juga pria yang baik. Tapi sayang, keluarganya tak terlalu bagus (ga kaya n terhormat kayak Shuhuan)” ucap Xueqin.
Xueqin melihat putrinya memakai baju itu, “Lihat cantik sekali kan!”
Ruping mengusulkan kalau baju itu untuk pesta ulang tahunnya saja, besok ia akan memakai baju yang lain. “Tentang Shuhuan, aku yakin apa yang akan menjadi milikku, nanti pasti akan menjadi milikku.”
“Siapa bilang tidak, kalau menggunakan taktik apapun bisa didapatkan, kau jangan bodoh. Keluarganya bagus, Sifatnya baik, wajahnya tampan. Kalau tak gunakan otak bisa-bisa di ambil orang lain. kapan giliranmu...?”
 Ruping hanya diam saja...

Bersambung.......

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...