Wednesday, 30 March 2011

Romance In The Rain Episode 7

Xueqin tidak mengizinkan nenek tua (Nyonya Tua Luo) makan bersama dengan mereka di meja makan. Tapi Ruping tidak setuju bagaimana pun juga nenek itu tamu mareka, “Tamu apa, dia itu hanya pengemis tua!” ucap Xueqin.
Lele muncul dan membuat Nyonya Tua Luo senang. Ia mengira itu adalah ‘sobat tua’ kucing kesayangannya. Ia berusaha menangkap Lele. Lele lari menghindari kejaran. Tanpa sadar Nyonya Tua Luo menginjak mainan mobil-mobilan Erjie dan membuatnya terjatuh.
Bukannya membantu membangunkan, Erjie malah bertepuk tangan. Ruping dan Mengping membantu Nyonya Tua Luo berdiri. Erhao menangkap Lele. Erjie malah tertawa. Erhao menjelaskan kalau itu adalah anjing peliharaan di rumahnya bukan sobat tua. Erhao memperlihatkan anjing itu pada Nyonya Tua Luo, “Lalu kemana sobat tuaku?” tanyanya sambil menangis.
Lu Zhenhua mulai bicara, ia menyuruh anaknya segera mengantar Nyonya Tua Luo pulang. Tapi Ruping meminta izin supaya Nyonya Tua Luo menginap semalam dirumahnya, dikamarnya juga tak apa-apa esoknya akan di antar pulang olehnya. Ibunya tak setuju, satu malam menginap nanti akan berubah menjadi dua malam, “Dia nanti akan terus bergantung padamu!”

Lu Zhenhua membenarkan perkataan istrinya, bahwa rumahnya bukan tempat penampungan orang miskin, Nyonya Tua Luo harus di rawat oleh keluarganya sendiri. “Lebih baik mengurus Yiping dan ibunya!” Mendengar suaminya mengatakan itu Xueqin tidak senang.
Tahu kalau Ruping sedang dimarahi, Nyonya Tua Luo membelanya, “Jangan memarahi Xibao. Dia gadis yang baik!” Xueqin bertanya siapa itu Xibao. Ruping menjelaskan mungkin Nyonya Tua Luo memiliki cucu namanya Xibao, “Seharian ini dia memanggilku dengan sebutan Xibao!”
Alan muncul dan mengatakan kalau makan malam sudah siap. Mereka makan bersama begitu pula dengan Nyonya Tua Luo. Ia makan satu meja dengan yang lainnya. Ruping mengambilkan makanan, “Ini telur, ini ikan!” kata Ruping. Nyonya Tua Luo heran melihat begitu banyak makanan. Ia mengucapkan terima kasih.
Xueqin kesal melihatnya, ia jadi tak selera makan dan meminta Ruping lain kali kalau membawa tamu telepon ke rumah dulu. Ruping minta maaf pada ibunya. Ruping mengambilkan sup ayam untuk Nyonya Tua Luo. Nyonya Tua Luo kaget melihat kalau itu benar-benar sup ayam. Erjie heran melihatnya, “Dia aneh sekali. Apa dia gila?” Sahut Erjie. Ruping mengingatkan adiknya agar jangan sembarangan bicara dan mengatakan kalau nenek ini sudah lama tak makan ayam.
Nyonya Tua Luo bertanya apakah sekarang tahun baru kenapa menyembelih ayam? Ruping menjawab kalau sekarang bukan tahun baru. Tak ada perayaan apa-apa kenapa menyembelih ayam? pemborosan kata Nyonya Tua Luo.
Xueqin mulai marah, “Membawamu ke sini adalah kesalahan besar!” Bentaknya membuat Nyonya Tua Luo kaget dan tak sengaja menjatuhkan mangkuknya. “Aku mau pulang. aku mau pulang!” Ucap Nyonya Tua Luo ketakutan. Kemudian berlari meninggalkan meja makan. “Dia mau pulang, Erhao cepat antar dia!” Xueqin menyuruh putranya.
Ruping mengejar Nyonya Tua Luo dan menahannya. Ia berbalik bicara dengan ibunya kenapa sikap ibunya seperti ini pada seorang nenek yang usianya 92 tahun bukankah dia lebih tua. Setidaknya harus menghormatinya. “Kenapa ibu tak berperasaan, dia juga manusia punya perasaan bisa melihat dan mendangar?”

“Kau sudah berani mengguruiku!” jawab Xueqin, “Mentang-mentang sudah kuliah matamu pindah ke ubun-ubun dan tak memandang ibumu lagi!” ucap Xueqin sambil berdiri. “Nenek tua yang kau pungut dari jalan kau anggap terhormat, kau menganggapnya lebih tua. Lalu ibumu ini kau anggap apa?”
Lu Zhenhua mulai kesal dengan keributan saat ia makan. Ia melemparkan sendoknya. Ia tak berselera makan. Ia mengatakan kalau Ruping itu aneh kenapa tiba-tiba membawa seorang nenek ke rumah. Dan membenarkan perkataaan istrinya, sebelum menghormati orang lain Ruping harus menghormati keluarganya dulu. Ia juga marah pada istrinya dan meminta istrinya tak usah banyak bicara. Ia beranjak dari kursi makannya berjalan meninggalkan ruang makan dan tak peduli Xueqin mengikuti dan memanggilnya.

“Dasar gadis sial!” Ucap Xueqin sambil menjitak kepala Ruping. Kemudian berlalu mengikuti suaminya.
“Aku mau pulang!” rengek Nyonya Tua Luo.

Erhao menghampiri dan mengatakan akan mengantar Nyonya Tua Luo pulang dan siapa tahu sobat tua sudah pulang ke rumah. Ia juga menghibur adiknya, “kau tahu sifat ibu seperti itu. Kau jangan sedih!” Ruping menangis. “Xibao jangan menangis, tak ada sungai yang tak bisa disebrangi!” Ucap Nyonya Tua Luo menghibur. Ruping mengangguk, ia kemudian membungkuskan makanan agar bisa dibawa pulang Nyonya Tua Luo.

Paginya di kantor redaksi koran Shen Bao terlihat semua karyawan sibuk. Du Fei menghampiri Shuhuan, ia memperlihatkan judul iklan kehilangan “Nyonya Tua Sedih kehilangan kucingnya mohon bantuan dari anda” Shuhuan menyetujui usul pasang iklan di koran, karena lebih efektif dari pada mencari di jalanan. Du Fei juga akan mengusulkan untuk membuka rekening sumbangan agar bisa membantu Nyonya Tua Luo yang tak punya sanak keluarga dan hidupnya bergantung pada tetangga. Du Fei pergi ke ruang manajer (ruangan si Bos)
Melihat Du Fei begitu semangat Erhao sangat kagum. Ia kemudian mengatakanpada Shuhuan  kalau semalam dirumahnya kacau balau. Menurut Shuhuan semua kejadian di rumah keluarga Lu adalah kesalahan Ruping, “Hatinya terlalu baik untuk mengajak Nyonya Tua Luo ke rumahnya!”

Erhao menambahkan kalau akhir-akhir ini Shuhuan rajin sekali bekerjanya. Ia berencana mengundang Du Fei dan Shuhuan makan malam di rumahnya. Shuhuan bertanya siapa yang ulang tahun. Memangnya kalau tak ada yang ulang tahun tak bisa mengajak Shuhuan makan dirumahnya, kata Erhao.
Erhao melihat jam tangannya. Ia pamit pada Shuhuan akan keluar sebentar, jika ada yang mencarinya katakan saja sedang wawancara di penjara. Shuhuan tanya Erhao mau pergi kemana kalau tak mengatakannya Shuhuan tak akan membantu.”Aku mau berdebat dengan seorang gadis!” Ucap Erhao sambil berlalu.

Setelah Erhao pergi, Shuhuan berfikir kalau pun memang Bai Meigui itu kekesihnya Erhao sepertinya sudah tak ada bekas dihati Erhao.

Di kampus Fang Yu. Ia berjalan dan kaget melihat ada orang yang mencegatnya. Ternyata orang itu adalah Erhao, “Sudah lama tak jumpa. Aku datang untuk membuat perhitungan denganmu!” Sahut Erhao. Fang Yu bertanya untuk apa Erhao datang, ia tak menganalnya, lalu berjalan berlalu dari hadapan Erhao.
Erhao berjalan mengikuti Fang Yu. Ia memperkenalkan dirinya, “Margaku Lu, namaku Erhao. Aku lulusan jurnalistik Universitas Fudan dan bekerja di koran Shen Bao.” Fang Yu berbalik menatap Erhao dan mengatakan ia tak berminat tentang asal usul Erhao dan bertanya apa sebenarnya mau Erhao.
Erhao bertanya jam berapa Fang Yu selesai kuliah, ia akan menjemput dan mengajak jalan-jalan juga mentraktir makan. Tapi Fang Yu menolak ajakannya. Erhao tanya kenapa.

“Pertama, aku tak pernah sembarangan menerima undangan.”

“Kedua, aku bukan gadis seperti yang kau pikirkan.”

“Ketiga demi Yiping!”

Fang Yu kemudian menjelaskan pertemuan mereka sewaktu di rumah Yiping. Saat itu Erhao naik mobil terlihat sangat sombong. Pernahkah Erhao berpikir kehidupan yang dialami Yiping dan ibunya. Saat Yiping tak menerima uang kiriman ayahnya Erhao langsung pergi bahkan tidak berbicara yang enak didengar, “pernahkah kau merasa bersalah?”

“Kenapa harus merasa bersalah bukankah Yiping sendiri yang tak menginginkan uangnya.” Jawab Erhao. Fang Yu kembali mengatakan bagaimanapun juga Yiping itu adik Erhao, apa Erhao tak punya perasaan pada Yiping dan tak punya perhatian. Saat Erhao menjalani kehidupan yang mewah sebagai Tuan Muda apakah pernah terpikirkan bahwa Yiping sedang kelaparan dan hidupnya sangat mengenaskan, “Mungkin Dia mengorbankan segalanya!” Fang Yu berjalan berlalu dari hadapan Erhao.
Melihat Fang Yu meninggalkannya Erhao bergumam, “Aku ini memang bodoh, bukannya melewati hari yang indah malah jauh-jauh kesini untuk dimaki orang!” Lalu Erhao memukul dirinya sendiri. Fang Yu berbalik melihatnya dan tertawa. Kemudian berjalan menghampiri Erhao dan mengatakan ia sudah puas mengungkapkan semuanya dan menerima ajakan Erhao untuk jalan-jalan dan makan. Erhao senang mendengarnya.

Di kamar Ruping. Ia memandang foto hadiah ulang tahun yang diberikan Du Fei. Foto Ruping bersama Shuhuan sewaktu ia jatuh dan Shuhuan menolongnya. Ia tersenyum-senyum memandang foto itu. Lele anjing kesayangannya memandang majikannya yang tersenyum-senyum.
“Lele dia suka padaku tidak ya?” Ruping curhat pada anjingnya. “Ketika aku ulang tahun, bukankah itu janji. Apakah dia ingin berjanji sehidup semati? Apa aku harus lebih agresif padanya?” Lele menggonggong “Tapi aku malu! Hmm.. Kau mau aku menelponnya?” Lele kembali menggonggong.

Ruping menuju telepon yang ada dikamarnya. Ia ingin menelpon Shuhuan. Tapi yang mengangkat telepon Du Fei.
Mereka berdua membicarakan uang sumbangan untuk Nyonya Tua Luo. Ruping kemudian bertanya apa Shuhuan ada. Du Fei menjawab kalau Shuhuan sedang melakukan wawancara dengan Qin Wu Ye di Da Shanghai.

Pintu kamar Ruping ada yang mengetuk. Ruping mengakhiri obrolannya dengan Du Fei. Yang masuk ke kamar Ruping adalah kakaknya. Erhao bertanya itu telepon dari siapa, Ruping menjawab dari Du Fei dan ia buru-buru menutup album fotonya. Ruping tanya akhir-akhir ini Shuhuan sibuk mewawancari Qin Wu Ye, “Siapa dia?” tanya Ruping.
Erhao mengusulkan besok malam ia akan mengajak Ruping ke Da Shanghai untuk memberi kejutan pada Shuhuan. Ruping bertanya apa itu boleh? Erhao menjawab kenapa tidak. Itu tempat pergaulan kelas atas. Banyak orang yang berkedudukan datang kesana untuk membicarakan bisnis dan berdansa di sana, sudah lama ia ingin pergi ke sana. Erhao berpesan pada Ruping jangan sampai ayah dan ibu tahu. Ruping setuju.

Ok lanjut... keesokan malamnya di Da Shanghai.

Erhao dan Ruping benar-benar datang ke Da Shanghai bersama Du Fei. Seperti biasa suasana Da Shanghai semakin malam semakin ramai.
Du Fei cemas karena ia sudah janji tak akan membawa anggota keluarga Lu ke Da Shanghai. Ia meminta lebih baik jangan ke Da Shanghi ke tampat lain saja jangan mengganggu kerjanya Shuhuan. Tapi karena sudah sampai Erhao tetap memaksa masuk ke dalam. Dan mengatakan kalau ia tak akan mengganggu Shuhuan yang sedang wawancara dengan Qin Wu Ye.” Tapi... Tapi..” Kata Du Fei. “Tapi kenapa?” Tanya Erhao.
Du Fei menarik lengan Erhao, “Tapi kau tak boleh marah jika melihat mantan pacarmu menyanyi di sini!” kata Du Fei “Pacarku yang mana?” tanya Erhao “Bai Meigui itu!” jawab Du Fei sambil menunjuk foto besar yang terpampang di depan pintu Da Shanghai.
Ya Tuhan Erhao kaget melihatnya. Ruping juga, ia kaget melihat foto itu. Erhao dan Ruping saling berpandangan. Mereka melihat foto itu lebih dekat. Du Fei bertanya, “kalian kenal dia? Dia mendapat banyak sambutan disini!”
Du Fei memandang Erhao dan mengatakan kalau Erhao sudah putus dan jangan mengurusi dia. “Aku pasti akan membuat urusan dengannya!” jawab Erhao sambil berjalan masuk. Ruping dan Du Fei mengikutinya.
Di dalam Da Shanghai Yiping menyanyi lagu yang pertama ia nyanyikan di depan Qin Wu Ye. Semua orang berdansa. Shuhuan melihatnya sambil mewawancarai Qin Wu Ye.
Du Fei, Erhao dan Ruping sudah masuk ke ruangan dansa Da Shanghai. Mereka melihat Yiping bernyanyi dan menari di atas panggung. Pelayan menghampiri dan bertanya ingin duduk dimana? Du Fei langsung menjawab mereka ingin duduk di kursi bagian belakang saja. Pelayan itu menunjukan tempatnya. Erhao dan Ruping saling berpandangan melihat penyanyi yang sedang menyanyi di atas panggung. Mereka bertiga duduk di kursi yang di siapkan pelayan.
Shuhuan menikmati penampilan Yiping. Qin Wu Ye tersenyum melihatnya. Du Fei menunjukkan tempat Shuhuan mewawancarai Qin Wu Ye, dan meminta Erhao menahan diri. Tapi Erhao diam saja. Tak mempedulikan ucapan Du Fei matanya menatap tajam ke arah wanita yang menyanyi di panggung.
Du Fei merasa bersalah, ia memukul kapalanya sendiri. Yiping mengakhiri nyanyiannya. Penonton bersorak memberikan tepuk tangan.
“Lagu apa ini. Menyebalkan!” Erhao marah sambil berdiri. Du Fei berusaha menenangkan Erhao. ”Dia menggoda di atas panggung, mana bisa aku tenang!” kata Erhao. Du Fei meminta Erhao jangan berteriak dan mengatakan kalau di Da Shanghai banyak tukang pukulnya. Ruping bertanya sudah berapa lama ia (Yiping) menyanyi disini? Du Fei menjawab sekitar 2-3 bulan. “Kenapa Bibi Pei tak melarangnya?” Sahut Ruping.
“Selanjutnya aku akan menyanyikan lagu ‘Man Chang Fei’ semua tepuk tangan dan kembali berdansa. Erhao mulai gelisah, Ruping cemas melihatnya. Tapi sebaliknya Shuhuan sangat menikmati lagu yang dibawakan Yiping.
Untuk menghilangkan gelisahnya Erhao meminum minuman yang ada di meja dan meletakkan gelas kosongnya kembali ke meja dengan keras membuat gelas itu patah. Du Fei dan Ruping takut melihatnya.
Du Fei punya ide. Ia menuliskan sesuatu di kertas dan menitipkannya pada pelayan untuk diserahkan pada Shuhuan.

Shuhuan menerima dan kaget saat membaca pesan dari Du Fei, ia segera meminta izin pada Qin Wu Ye kalau ia akan menemui teman-tamannya yang datang. Qin Wu Ye mengizinkan.
Yiping selesai menyanyi. “Aku mau menemuinya!” Sahut Erhao dengan nada kesal. Du Fei dan Ruping menahan. Tepat saat itu Shuhuan datang dan bertanya kenapa datang bersamaan. Du Fei menjawab kalau Erhao memaksa datang, dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Erhao langsung berjalan menuju belakang panggung. Semua mengejarnya berusaha menahan.

Di ruang ganti di belakang panggung para penari siap untuk tampil. Erhao masuk ke ruang ganti dan berteriak, ”YIPING...” Yiping menoleh.
“Hebat sekali ternyata ini pekerjaanmu! Apakah ini kebanggaan dan Ini kehormatanmu!” kata Erhao dengan marah, Shuhuan, Du Fei dan Ruping memegangi Erhao.

“Kalian? Akhirnya datang? Siapa yang memberi tahu?” Tanya Yiping.

Shuhuan menjawab kalau dirinya tak pernah mengatakan apapun. Ia juga meminta Erhao agar bicara baik-baik. Erhao mengatakan agar Shuhuan menyingkir karena ini bukan urusannya.

Erhao bertanya pada Yiping sambil emosi sedang apa Yiping di Da Shanghai? Mengapa menyanyi genit seperti itu di atas penggung? Dengan santai Yiping malah balik bertanya, ”Kau sendiri mau apa datang kemari?”

“Kami datang untuk mencari hiburan. Sedangkan kau, kau sedang apa?” Tanya Erhao.

“Aku lebih terhormat. Aku sedang mencari uang!” ucap Yiping.

Erhao mengguncangkan tubuh Yiping. Shuhuan menahannya. Yiping mencari uang di tempat seperti ini (Da shanghai) apa yang sebenarnya Yiping jual? kecantikan? Masa muda? Tubuh? lagu? Kata Erhao sambil tertawa. Yiping marah mendengarnya dan bertanya apa yang Erhao tertawakan.

Erhao mengatakan bahwa ia menertawakan Yiping yang sudah menjual modal yang sudah diberikan keluarga Lu. Kecantikan, masa muda, tubuh, nyanyian, semuanya pemberian keluarga Lu. “Kau tak akan lepas dari pemberian keluarga Lu!”
Yiping maju hendak memukul tapi Erhao berhasil menangkap tangan Yiping dan menepisnya. Yiping mengatakan kalau ini adalah urusannya. Ia tak mengenal Erhao dan meminta Erhao membawa Ruping keluar dari Da Shanghai.
Erhao makin marah tapi Shuhuan dan Du Fei menahannya. Shuhuan menyarankan lebih baik mereka bicara di luar saja jangan di Da Shanghai. Ruping mendekati Yiping dan menyuruh mengganti baju. Mereka akan mencari tempat untuk bicara. Tapi Yiping menolak. Semua urusannya akan dia yang urus dan tak ada yang boleh ikut campur.

“Kalau kau masih punya kehormatan Cepat tinggalkan tempat ini!” Teriak Erhao.
Mendengar ada keributan Qin Wu Ye masuk ke ruang ganti. “Bai Meigui Ternyata kau. Kau tak puas kalau tak membuat onar di sini?” Qin Wu Ye memarahi Yiping.
“Ada yang cari gara-gara denganku. Cepat bantu aku melemparkannya ke luar!” ucap Yiping tanpa ragu sambil menunjuk ke arah Erhao.
Shuhuan menenangkan dengan memperkenalkan teman-teman sekerjanya yang bernama Lu Erhao dan adiknya Lu Ruping. Qin Wu Ye heran,” Lu Erhao, Lu Ruping!” Ucap Qin Wu Ye. Erhao minta maaf pada Qin Wu Ye dan menjelaskan kalau ini adalah masalah keluarganya dan ia harus membawa pergi Bai Meigui. “Karena dia adalah adikku!” ujar Erhao sambil menarik lengan Yiping. Shuhuan dan Du Fei kaget mendengarnya tak menyangka kalau Bai Meigui adalah adik sahabatnya.
“Qin Wu Ye apa kau percaya kalau aku ini adiknya? Apa kau percaya aku punya kakak sekaya dia? Dia datang ke sini untuk mempermalukanku menertawakanku. Apa dia mirip seperti kakakku? Jika aku punya kakak seperti dia mana mungkin aku menemui jalan buntu dan muncul dihadapanmu!” Sahut Yiping.

“Aku harus membawamu pulang!” kata Erhao sambil menarik lengan Yiping.

Qin Wu Ye memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Erhao. Terjadilah perkelahian di ruang ganti. Erhao yang tak begitu ahli kungfu menjadi bulan-bulanan anak buah Qin Wu Ye. Ia dipukuli. Ruang ganti Da Shanghai berantakan. Melihat Erhao dipukuli Yiping membalikan badannya. Melihat sahabatnya dipukuli Shuhuan berusaha membantu dan memohon pada Qin Wu Ye menghentikan anak buahnya.

Ruping menghampiri Yiping memohon agar menghentikan perkelahian itu. Yiping tak mempedulikan ucapan Ruping. Ruping terus memohon akhirnya Yiping menurut dan meminta Qin Wu Ye untuk menghentikan perkelahian anak buahnya.
Qin Wu Ye menyuruh anak buahnya berhenti memukul. Erhao babak belur. Shuhuan dan Du Fei langsung lari menghampirinya. Ia tak sanggup untuk berdiri. mereka berdua membantu memapahnya berjalan.
Qin Wu Ye menghampirinya dan berkata bahwa sebelum mempekerjakan Bai Meigui ia sudah tahu latar belakang keluarga Bai Meigui, “Katakan pada ayahmu aku tak peduli dia macan kumbang hitam atau putih. Siapapun yang mengganggu Bai Meigui dia tak akan lolos. Kau mengerti?” ujar Qin Wu Ye pada Erhao.
Qin Wu Ye bicara pada Yiping dan memperingatkan jangan pernah menguji kesabarannya dan berbuat onar di tempatnya. Kemudian pergi meninggalkan ruang ganti diikuti anak buahnya. Yiping menatap kepergian Qin Wu Ye dengan pandangan cemas.

Mereka semua keluar dari Da Shanghai. Ajudan Li ada di sana bersama para penarik rickshaw yang lain. Ia kaget melihat Erhao dan Ruping ada di sana. Yiping memberi isyarat menyuruhnya untuk pergi. Ajudan Li mengangguk. Ia kemudian pergi membawa rickshawnya.
Mereka akan pergi ke tempat lain untuk bicara. Shuhuan menawarkan apartemennya. Semua setuju. Mereka berangkat ke apartemen Shuhuan naik mobil Erhao.

Di apartemen Shuhuan

Erhao berjalan kesana kemari karena kesal. Yiping berdiri di tepi jendela. Shuhuan hanya duduk dan memandang Erhao yang mondar mandir.
Ruping muncul membawakan kompres. Ia diberikan pada kakaknya dan Shuhuan untuk mengompres luka-luka mereka.
Shuhuan langsung mengompres lukanya. Du Fei datang membawa gelas yang bentuknya macam-macam ada yang besar dan ada yang kecil. Ia menuangkan minuman. Hanya air putih.

“Jangan diam saja cepat beritahu aku kenapa kalian kakak beradik?” Tanya Du Fei. Yiping tetap berdiri di tepi jendela.
Shuhuan memanggil Yiping, “Ehh,, akhirnya aku tahu, ternyata kau bermarga Lu!”
Ruping aneh melihatnya. Ia memandang keduanya secara bergantian.

Yiping melihat jam tangannya dan mengatakan ia tak boleh terlalu lama. Kalau ada yang mau dibicarakan cepat katakan, Ibunya sedang menunggu. Ia juga mengatakan kalau ibunya tak tahu ia bekerja di Da Shanghai. Dan meminta Erhao menjaga rahasia.

Erhao tanya apa bisa menyembunyikan semuanya dari Bibi pei? Cepat atau lambat Bibi Pei juga akan tahu. Ayah juga akan tahu. Apa Yiping mau menghancurkan keluarga Lu?

Ruping juga mengatakan kalau Da Shanghai itu tempat umum, ayahnya juga punya teman yang sering keluar masuk Da Shanghai. Suatu hari nanti ayah juga pasti akan tahu. Yiping hanya menjawab ia tak peduli.
“Kau ingin ayah tahu? Ingin ayah malu? Ingin balas dendam pada keluarga Lu?” Tanya Erhao.

Yiping balik bertanya, apa perbuatannya yang membuat malu? Ia tak peduli pandangan kotor Erhao tentang pekerjaannya, “Hidupku suci dan bersih! Paling tidak aku tak mengemis minta makan pada keluarga Lu. Lebih terhormat dari pada dulu.”

Shuhuan melerai dan mengatakan sebelum bertengkar lebih baik keduanya menjelaskan hubungan masing-masing supaya ia bisa memberi saran.

Erhao menjelaskan kalau wanita yang bernama Bai Meigui sebenarnya bernama Lu Yiping, adiknya seayah tapi lain ibu.

Yiping juga menambahkan kalau dirinya dan ibunya sudah lama diusir dari keluarga Lu. Seandainya bisa memilih Yiping tak ingin bermarga Lu.

Ruping menasehati, sebaiknya jangan membicarakan masalah marga. Menurutnya, Qin Wu Ye itu orang yang berbahaya tahu asal usul mereka dan tak ada rasa takut. Ia juga menyuruh Yiping meninggalkan pekerjaannya.

Yiping menolak, ia menyukai pekerjaannya. Mau diterima atau tidak ia akan tetap menyanyi di Da Shanghai. “Jika kalian masih punya perasaan ingatlah waktu aku dicambuk dan tak usah menyinggung keadaan yang sekarang.”

Yiping harus segera pulang. Ia mohon diri dan berlalu meninggalkan semuanya. “Tunggu, kuantar kau pulang!” Sahut Shuhuan menaruh kompresnya di atas meja. Melihat Shuhuan mengejar Yiping, Ruping hanya menatapnya saja.
Dengan kesal Erhao mengatakan tak ada gunanya bicara dengan Yiping, sebaiknya pulang saja. Erhao mengajak Ruping yang dari tadi diam saja. ”Ruping kita pulang!” kata Erhao mengagetkan Ruping.

Ruping tanya apa yang harus dikatakan ketika sampai rumah, Erhao menjawab sebaiknya tak usah mengatakan apa-apa.
Erhao dan Ruping pamit pada Du Fei lalu langsung pulang. Du Fei bengong, minuman yang ia siapkan tak diminum sama sekali dan ia pun meminumnya sendiri.
Shuhuan mengantar Yiping pulang dengan naik sepeda. Sambil dibonceng Shuhuan, Yiping mengatakan kalau malam ini ia sial, kenapa Erhao dan Ruping datang ke Da shanghai, ini membuatnya tak bisa lepas dari keluarga Lu. Selama ini ia sudah mati-matian ingin lepas dari keluarga Lu.
“Ternyata kau anak perempuan yang lain dari keluarga Lu. Lu Yiping!” sahut Shuhuan. “Aksara ‘Yi’ yang mana?” tanya Shuhuan.

“Aksara ‘Yi’ dari kata ‘Xiao Niao Yi Ren’ jawab Yiping.

“‘Xiao Niao Yi Ren’ (manis seperti burung kecil) seperti sekarang?” kata Shuhuan.

“Kau juga meledekku!” kata Yiping sambil menyikut badan Shuhuan. Yiping mengancam kalau Shuhuan bicara sembarangan lagi ia akan turun lompat dari sepeda.

Shuhuan minta maaf dan mengatakan kalau ia terlalu bersemangat jadi bicaranya agak membingungkan.

Yiping tanya kenapa Shuhuan merasa bersemangat. Shuhuan menjawab karena ia akhirnya tahu kalau Yiping hanya adik perempuan Erhao. Selama ini ia beranggapan Yiping adalah pacarnya Erhao. Yiping tertawa mendengarnya. Shuhuan kembali bertanya apakah ibu Yiping hanya memiliki seorang anak. Yiping menjawab kalau ia punya seorang kakak bernama Xinping yang 3 tahun lebih tua darinya. 7 tahun yang lalau meninggal di Harbin. Umurnya hanya 15 tahun. Ia anak kesayangan ayahnya. Shuhuan terus bertanya ayahmu punya berapa anak?
“Ibuku istri ke 8 dan ibunya Erhao istri ke 9. Bisa kau bayangkan berapa banyak anak yang lahir dari 9 istri.” di Shanghai ada 4 di rumah ‘sana’ dan dirinya.

“Hari sudah malam padahal banyak yang ingin kubicarakan denganmu. Besok bolehkah aku menemuimu?” tanya Shuhuan. Yiping mengangguk,”Besok siang datanglah jam 15.00 di depan gang rumahku!” kata Yiping.

“Janji ya!” sahut Shuhuan dengan senang.

“Apa kau tak bekerja?” tanya Yiping. “Aku berkerja, pagi berkerja siang mencari berita. Sekarang ini kau lah berita yang paling penting!” kata Shuhuan sambil terus mengayuh sepedanya. Yiping tertawa mendengarnya.
Yiping sampai dirumahnya. Wenpei cemas karena Yiping pulang malam sekali.

“Mana Ajudan Li. Apa dia tak menjemput?” tanya ibunya.

Wenpei membuatkan bubur untuk Yiping dan akan menghangatkan bubur itu karena sudah dingin. Yiping mencegahnya dan mengatakan agar ibunya tak usah membuatkan makanan lagi untuknya. Yiping juga akan bicara pada Ajudan Li tak usah menjemputnya lagi lebih baik menjaga Keyun di rumah. Yiping menyuruh ibunya untuk segera tidur. Yiping berjalan menuju kamarnya.

Wenpei bertanya kenapa pekerjaan Yiping pulangnya semakin malam saja, “Pekerjaan apa yang kau lakukan? apa pekerjaanmu lancar? Atasanmu menyukaimu tidak?”
Yiping menjawab bukankah ia sudah mengatakan sebelumnya kalau pekerjaannya mendapat giliran malam dan meminta Ibunya tak perlu mencemaskannya dan ia akan baik-baik saja. Yiping memeluk ibunya, ”Satu-satunya yang tak baik adalah kau selalu mencemaskanku!” kata Yiping sambil terus memeluk ibunya....

Bersambung.......

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...