Sunday, 20 March 2011

Romance In The Rain Episode 5


Yiping sukses menyanyikan lagu. Semua memberikan tepuk tangan. “Bai Meigui... Bai Meigui!” Teriak penonton. Tuan ke 5 Qin tersenyum.
“Nyanyian Bai Meigui ini sangat berkarakter. Rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya?” Ujar Du Fei pada Shuhuan sambil mengingat pertemuannya dengan Yiping. Shuhuan hanya mengatakan pada Du Fei untuk tetap di sini, ia akan kebelakang panggung. “Shuhuan kau mau kemana, aku ikut!” Teriak Du Fei.
Di belakang panggung tepatnya di ruang ganti tak kalah ramai, para penari dan penyanyi sibuk menyiapkan diri untuk tampil. Menurut salah satu penari sambutan hari ini sangat meriah dan itu berkat penampilan Bai Meigui. Yiping (Bai Meigui) mendapatkan banyak kiriman bunga.
“Selamat, pertunjukanmu hari ini sukses.” Ujar Hong Mudan salah satu penyanyi di Da Shanghai. Yiping hanya menyampaikan terima kasih. Hong Mudan pergi meninggalkan Yiping karena sebentar lagi ia tampil.
Yiping menghapus riasannya, ia bersiap pulang. Karena ia hanya menyanyikan satu lagu saja. Yiping melihat arlojinya. Sudah hampir tengah malam. Yiping cepat-cepat menghapus riasan dan aksesoris di baju dan kepalanya.
Salah satu anak buah Tuan ke 5 Qin menemui Yiping dan menyampaikan pesan dari Tuan ke 5 Qin kalau penonton meminta Yiping naik kembali ke atas panggung. Yiping menolak karena ini sudah terlalu malam dan dirinya harus pulang. Anak buah Tuan ke 5 Qin langsung keluar dari ruangan.
Shuhuan masuk ke ruang ganti di belakang panggung, ia mencari seseorang. Shuhuan langsung berdiri dibelakang Yiping.
“Hai...!” Shuhuan menyapa. Yiping kaget. ”Ingat aku?” Tanya Shuhuan. Yiping membalikan badannya dan menatap Shuhuan, ”He Shuhuan..!” Ucap Yiping masih mengingat nama Shuhuan. Shuhuan tersenyum senang. “Benar. Ternyata kau masih mengingat namaku. Ternyata aku memang tak salah mengenali orang.” Shuhuan mengatakan kalau ia melihat foto Yiping di pintu masuk Da Shanghai tapi tak berani memastikan kalau itu wanita yang parnah ia tolong. Shuhuan terkejut melihat Yiping menyanyi di Da Shanghai.
“Kau terkejut?” Tanya Yiping
“Kau banyak mengejutkanku!” Kata Shuhuan. Ia tak menyangka, wanita yang tampak mengenaskan tersiram hujan bisa berubah menjadi cantik dan ia juga tak menyangka Yiping bisa tampil menyanyi di tempat seperti ini (Da Shanghai) dan lagu yang dinyanyikan tadi sangat indah.
Yiping hanya tersenyum dan mengatakan wartawan seperti Shuhuan memang sudah terlatih bicara seperti itu (seperti bicara merayu gitu kali ya... melebih-lebihkan hahaha) malah menurut Tuan ke 5 Qin nada bicara Yiping lebih merdu dari pada nyanyiannya
Shuhuan mendekat pada Yiping dan mengatakan ada satu hal lagi yang membuatnya terkejut, “Aku tak menyangka kau bisa tersenyum!”
Yiping menjelaskan bahwa dulu nasib Shuhuan sedang tak bagus karena malam itu ia sedang sial. Yiping langsung berdiri dan mengatakan ia tetap tak bisa berteman dengan teman keluarga Lu, “Kau boleh keluar, aku mau ganti baju!” Ucap Yiping.
“Kau tak boleh ganti baju!” Ucap Tuan ke 5 Qin yang tiba-tiba masuk. Ia menyuruh Yiping naik panggung dan menyanyi satu lagu lagi. Yiping menolak karena ia harus pulang. Tuan ke 5 Qin marah. Mana ada penyanyi yang hanya menyanyikan 1 lagu lalu pulang. Tak peduli permintaan penonton, “Kau keterlaluan! “ teriak Tuan ke 5 Qin
Yiping menjelaskan kalau Hong Mudan malam ini terlalu lama di panggung dan banyak menghabiskan waktunya. Yiping memberi solusi besok ia akan naik panggung lebih awal dan akan menyanyi 4-5 lagu. Tapi Tuan ke 5 Qin tak mau mendengarnya,”Cepat naik panggung!” Perintahnya pada Yiping. Yiping kembali menjelaskan kalau ia harus pulang, sudah hampir jam 11 malam. Kalau kemalaman ia tak bisa naik kendaraan umum. Tuan ke 5 Qin akan menyediakan mobil untuk mengantar Yiping pulang. “Sekarang cepatlah naik ke panggung!” Tuan ke 5 Qin kembali memerintahkan Yiping naik panggung.
Yiping tetap menolak, ibunya sedang menunggunya. Kalau ibunya melihat dirinya diantar dengan mobil mewah, ibunya bisa jatuh pingsan. Lagi pula ia sudah menghapus riasannya. Yiping berlalu dari hadapan Tuan ke 5 Qin.
Tuan ke 5 Qin terlihat marah dan memberi isyarat pada anak buahnya.
Anak buah Tuan ke 5 Qin menangkap Yiping. Asisten Tuan ke 5 Qin mengancam kalau Yiping tak segera naik panggung, bisa-bisa Yiping tak akan melihat ibunya lagi. Anak buah Tuan ke 5 Qin menarik lengan Yiping kebelakang dan Yiping menjerit kesakitan. “Ahhh...”
“Lepaskan..” teriak Shuhuan sambil menarik tangan anak buah Tuan ke 5 Qin. Yiping terlepas dari cengkraman. Shuhuan memperlihatkan kemampuan bela dirinya.
“Beraninya kau berbuat onar di Da Shanghai! Cepat hajar dia” Asisten Tuan ke 5 Qin menyuruh anak buahnya. “Tunggu..” Shuhuan mengatakan pada Tuan ke 5 Qin “Namamu sangat terkenal, untuk apa menyulitkan seorang Nona? Bukankan dia sudah mengatakan alasannya. Sebagai atasan yang berhati besar, kau tak akan mempersoalkan kesalahan bawahanmu. Aku berani menjamin orang-orang yang sudah mendengar suara Nona Bai Meigui kalau belum puas malam ini, pasti besok datang lagi.”
Tuan ke 5 Qin memberi isyarat pada anak buahnya untuk menangkap Shuhuan. Shuhuan melawan. Para penari dan penyanyi yang ada di ruang ganti berlari menghindar. Shuhuan memukul, menendang. Tuan ke 5 Qin kaget melihat anak buahnya mudah dikalahkan Shuhuan. Kursi patah, kaca rias pecah. Semua berantakan. Yiping cemas melihatnya.
Du Fei datang dan langsung ikut menendang, “Shuhuan ternyata kau berkelahi di sini, kalau mau berkelahi aku juga tak bisa diam saja!” Teriak Du Fei
Du Fei langsung merangkul salah satu anak buah Tuan ke 5 Qin (kayak gendong-gendongan) mereka berputar-putar dan menabrak salah satu kayu di ruangan itu.. (Du Fei kejedut...hahaha) mereka terjatuh bersama.
“Kubunuh kau!” kata Du Fei sambil memukulkan kursi ke tubuh anak buah Tuan ke 5 Qin. Tuan ke 5 Qin kaget melihatnya.”Apa maksudnya ini? Cepat tangkap mereka berdua!” Tuan ke 5 Qin memerintah anak buahnya.
Du Fei beralih memandang Tuan ke 5 Qin, “Shuhuan aku akan menangkap kaisarnya, kau yang menagkap kasimnya!” ucap Du Fei
Du Fei menyerang Tuan ke 5 Qin, ternyata Tuan ke 5 Qin bisa kungfu. Tak masalah menghadapi Du Fei. Dengan sekali jurus dan hanya menggunakan tangannya Tuan ke 5 Qin hampir mematahkan pergelangan tangan Du Fei. Du Fei menjerit. Yiping takut melihatnya. Tuan ke 5 Qin menarik Du Fei dan berhasil meraih lehernya berusaha mencekik. Tangan Tuan ke 5 Qin beralih ke arah mata Du Fei yang mengenakan kaca mata. Ia menahan kaca mata kuat-kuat dengan jarinya.
“Kau mau apa? Aku tak bisa melihat!” Teriak Du Fei sambil menahan tangan Tuan ke 5 Qin. Tuan ke 5 Qin menjawab, “kau akan buta selamanya. Kaca matamu akan kuremukkan dan pecahan kacanya kutancapkan dibola matamu.” Krekkk... kaca mata Du Fei pecah.
“Tolong mataku!” Teriak Du Fei
“Tolong jangan lukai matanya!” Pinta Shuhuan, “Dia seorang juru foto yang berbakat. Kalau matanya rusak, habislah semuanya”
Shuhuan menghentikan perkelahiannya, “Kami mengaku salah, kami minta maaf!”
“Tuan ke 5 Qin ampuni mereka, aku akan naik panggung lagi!” ucap Yiping memohon sambil menangis. Yiping bergegas kembali ke panggung tapi Tuan ke 5 Qin menahannya tak membolehkan Yiping menyanyi dalam keadaan menangis.
Du Fei menjatuhkan diri memengangi matanya. Shuhuan dan Yiping menghampiri dan menanyakan keadaan Du Fei. Ia panik dan bertanya matanya masih ada tidak. Shuhuan menyuruh Du Fei membuka matanya. Du Fei membuka matanya. Ternyata matanya baik-baik saja hanya kacanya yang pecah.
Tuan ke 5 Qin bertanya, siapa sebenarnya Du Fei dan Shuhuan. Shuhuan bangkit mandekati Tuan ke 5 Qin. Ia memperlihatkan tanda pengenal wartawannya, ”Selama dua tahun ini aku diperintahkan mewawancarai Anda tapi selau gagal. Setengah tahun yang lalu, aku pernah memotret Anda. Tapi malah dikejar-kejar sampai ke seluruh Shanghai oleh anak buah Anda. Malam ini kami datang bukan untuk berbuat onar, hanya ingin membuat laporan tentang keramaian di Da Shanghai. Bai Meigui ini teman lama kami. Saat mendengar ia menyanyi kami ingin menyapanya. Tapi tak disangka malah terjadi salah paham. Kami minta maaf...”
Tuan ke 5 Qin mengangguk dan membaca kembali kartu pengenal Shuhuan, ”He Shuhuan!” kemudian ia beralih memandang ke arah Du Fei yang masih duduk dibawah.
Du Fei segera berdiri dan memperlihatkan tanda pengenalnya pada Tuan ke 5 Qin, ”Aku Du Fei.”
“Ternyata kau juru foto berbakat?” tanya Tuan ke 5 Qin
Du Fei hanya tertawa dan meralat ucapanTuan ke 5 Qin bahwa dirinya bukan juru foto berbakat, tapi orang sial berbakat. Dari pagi sampai malam kacamatanya selalu menyulitkannya. Tuan ke 5 Qin tertawa mendangarnya dan segera menyuruh anak buahnya membereskan ruang ganti yang berantakan.
“Kalau mau wawancara khusus dan memotret sebenarnya tidak sulit. Kenapa harus merusak tempatku?” tanya Tuan ke 5 Qin. Shuhuan menjelaskan mereka terpaksa, hal yang menurut Tuan ke 5 Qin tak sulit, tapi menurut Shuhuan itu sangat sulit.
“Besok pagi jam 10.00 datanglah ke kantorku!” kata Tuan ke 5 Qin. Du Fei dan Shuhuan saling berpandangan tak percaya. “Maksudnya anda mau menerima wawancara khusus dengan kami? Apa boleh membawa kamera?” Tanya Du Fei penasaran. Tuan ke 5 Qin membolehkan Du Fei membawa kamera tapi tak boleh memotret dengan hasil yang jelek seperti dulu. “Mana mungkin hasil Fotoku jelek, malah banyak yang mengatakan bahwa Tuan ke 5 Qin ternyata keren juga kalau di Foto!” Ujar Du Fei. Tuan ke 5 Qin tertawa. Yiping ikut tersenyum.
Mereka bertiga keluar dari Da Shanghai, Shuhuan memuji Du Fei yang punya cara hebat dalam menggunakan pujian. Kenapa Du Fei bisa memberikan pujian yang cerdas pada Tuan ke 5 Qin. Tapi justru Du Fei kagum pada Shuhuan, ternyata cara berkenalan Shuhuan dengan Tuan ke 5 Qin berkelahi dulu, Du Fei meminta Shuhuan mengajari dua atau tiga jurus padanya.
“Kau harus berteriama kasih pada Nona Bai Meigui ini.” kata Shuhuan.
Shuhuan bertanya pada Yiping kalau ia tak tahu ada penyanyi Da Shanghai yang bernama Bai Meigui. “Aku baru menyanyi di sini.” jawab Yiping
“Jadi nama aslimu tentu bukan Bai Meigui kan?” Shuhuan kembali bertanya, “Kami boleh tahu siapa nama aslimu?”
“Nama asliku adalah...” Yiping menghentikan ucapannya. “Kalian teman keluarga Lu. Teman mereka tak boleh menjadi temanku!”
Du Fei menyahut kenapa. Menurut Du Fei semua anggota keluarga Lu itu baik. Erhao setia kawan, Ruping sangat manis, Mengping lincah dan ceria. “Paman Lu dia seorang pahlawan. Sedangkan Bibi Lu (Xueqin) dia tidak sepeti ibu dari 4 anak. Dia ibu termuda dan tercantik yang pernah kulihat.”
Yiping kesal mendengarnya dan beranjak pergi meninggalkan Shuhuan dan Du Fei. Keduanya mengejar Yiping, “Kalian jangan mengikutiku lagi, aku mau mengejar trem. Sampai jumpa!“ Ucap Yiping
“Kau tinggal dimana kau akan mengantarmu?” Ucap Shuhuan.
Yiping menolak. “Kalian ingin tahu namaku, namaku Bai Meigui, penyanyi di Da Shanghai ini.” Yiping pergi meninggalkan keduanya. Yiping kembali berbalik menatap keduanya dan berkata, “Dirumahku ada seorang ibu tua yang menungguku pulang. Kecuali itu tak ada yang perlu aku beritahukan. Aku sangat berterima kasih malam ini kalian membantuku. Tapi cukup sampai disini kalian tak usah mengejarku lagi!” mendengar itu Shuhuan dan Du Fei saling berpandangan, “Selain itu, jangan sebut namaku didepan keluarga Lu.” Yiping beranjak pergi. Shuhuan mengejar Yiping. Yiping marah dan mengatakan pada Shuhuan apa setiap kali bertemu dengan wanita kelakuan Shuhuan seperti itu. Apa perlu dirinya memanggilkan anak buah Tuan ke 5 Qin
Tepat pada saat itu Ajudan Li datang dan langsung memarahi keduanya.
“Siapa kalian? Berani mengganggu Nonaku! Kalian pikir aku sudah tua dan tak bisa melawan kalian!” Teriak Ajudan Li
Du Fei menenangkan. Yiping menarik Ajudan Li dan meminta jangan memperdulikan mereka. “Kenapa kau datang menjemputku?” Ajudan Li malah bertanya pada Yiping apa mereka berdua ini mengganggu Yiping.Yiping menjawab mereka tidak mengganggunya. Ajudan Li menyuruh Yiping naik ke rickshawnya. Yiping menurut. Ajudan Li meraih rickshawnya yang sudah dinaiki Yiping. Ia kembali berpesan pada Shuhuan dan Du Fei jangan mengganggu Nonanya lagi. “Kalau berani mengganggu dia, aku akan melawannya sampai mati.” Ajudan Li dan Yiping pergi dari Da Shanghai. Shuhuan dan Du Fei hanya memandang kepergian keduanya dengan penuh penasaran.
Menurut Du Fei, Bai meigui itu wanita yang aneh. Sepertinya miskin tapi punya supir, memanggilnya dengan sebutan Nona segala. Nyanyiannya juga bagus dan tak peduli teriakan penonton yang mengingikannya tampil lagi. “Kita dipukuli dia menangis, tapi setelah bicara dengan kita, dia memusuhi kita. Apa perlu mengikutinya? Atau tanya pada Erhao, dia selalu marah kalau kita menyebut keluarga Lu. Siapa tahu benar-benar menjadi laporan eksklusif dan berita utama.“ kata Du Fei. Tapi Shuhuan menolak membuntutinya. Bertanya pada Erhao pun ia tak mau. Bukankah Bai Meigui meminta jangan menyebut namanya di depan keluarga Lu. Shuhuan kembali memandang foto Yiping yang berada di pintu depan Da Shanghai. Kemudian mengajak Du Fei pergi dari sana.
Di sepanjang jalan Yiping berbicara dengan Ajudan Li yang menarik rickshaw. Yiping menolak kalau Ajudan Li selalu menjemputnya, lebih baik Ajudan Li membantu Bibi Li menjaga Keyun. “Sehari kau menyanyi di tempat itu, maka hari itu juga aku akan menjemputmu!” ujar Ajudan Li. Kalau dirinya yang menjemput, maka ibu Yiping tak akan curiga tentang pekerjaan Yiping.

Dirumah Yiping
Wenpei menerima kiriman buah persik. Yiping dan Ajudan Li tiba di rumah. Wenpei menyambut keduanya. Wenpei menyuruh Ajudan Li masuk ke dalam rumah. Awalnya menolak karena sudah terlalu malam, tapi Wenpei memaksa dan Ajudan Li pun menurut.
Wenpei menyiapkan banyak makanan. Yiping kaget melihatnya. Ia meminta ibunya tak usah menyiapkan makanan karena dirinya sudah makan dan menyuruh ibunya agar tidur lebih awal. Tapi Wenpei menjelaskan kalau hari ini adalah ulang tahun Yiping. Yiping kaget mendengarnya. Ia lupa kalau sekarang adalah ulang tahunnya.
“Benar. Ulang tahun Nona Yiping yang ke 19!” Ajudan Li minta maaf karena tak mengingat ulang tahun Yiping. Ia juga tak membawakan apa-apa untuk Yiping. Wenpei ke dapur membuat mie. Mereka makan mie barsama.
“Tahun ini hanya ulang tahun kecil, tapi tahun depan usiamu 20 tahun mungkin keadaanya akan lebih baik. Siapa tahu Keyun sudah sembuh. Kita akan merayakannya dengan meriah!” Ucap Wenpei sambil memandang putrinya. Yiping menghampiri dan memeluk ibunya. Ulang tahun atau tidak Yiping tak peduli. Yiping mengatakan yang paling menderita selama 19 tahun adalah ibunya. Yiping bahagia sudah merayakan ulang tahun dengan ibunya dan Ajudan Li.

Di apartemen Shuhuan
Du Fei kesana kemari mencari sesuatu. Ia mebuka laci. Sementara Shuhuan latihan tinju dengan karung pasir yang ada di ruangan itu.
“Menurutku, Bai Meigui itu 80% pacarnya Erhao!” ujar Du Fei sambil terus mencari-cari sesuatu. Shuhuan menghentikan pukulannya dan bertanya kenapa bisa Du Fei berpikiran begitu. Menurut analisanya, Shuhuan pertama kali bertemu dengan Bai Meigui di depan pintu gerbang keluarga Lu, dia juga terluka. Tiap kali mereka menyebut nama keluarga Lu dia marah. Ia menyebut nama Erhao, Bai Meigui malah memalingkan wajahnya. Kuncinya ada pada Erhao. “Erhao itu suka berteman dengan wanita, ada yang baru lalu melupakan yang lama. 80% pasti Bai Meigui pernah berhubungan dengan Erhao lalu dicampakan. Mungkin malam itu luka-luka karena berkelahi dangan Erhao.”
Shuhuan memuji kemampuan mengarang cerita Du Fei yang ternyata lebih hebat darinya. Du Fei menyarankan kalau tak percaya lebih baik tanya pada Erhao langsung. Shuhuan menolak, jadi orang harus memegang janji. Walaupun Bai Meigui itu pernah jadi kekasihnya Erhao, tapi itu masa lalu, sudah berlalu. Tak usah diungkit lagi. Du Fei setuju tak akan mengungkitnya lagi tapi dalam hati Du Fei rasanya ada yang mengganjal, ”Tak enak rasanya.” Hahaha
Du Fei kembali meneruskan mencari sesuatunya sambil bertanya pada Shuhuan, apa Shuhuan tertarik pada Bai Meigui. Shuhuan hanya menjawab mana mungkin
“Sudah ketemu. sudah ketemu!” Teriak Du Fei kegirangan karena menemukan yang ia cari. “Kau mencari apa?” tanya Shuhuan
“Kaca mata yang rusak tahun lalu.” Du Fei memperlihatkan kaca mata yang rusak waktu dikejar-kejar anak buahnya Tuan ke 5 Qin dulu. Kaca mata yang kacanya pecah dibagian kanan, sementara sekarang yang rusak adalah kacanya yang sebelah kiri.
“Shuhuan apa kau punya plester?” tanya Du Fei. Shuhuan menjawab punya. Dan bertanya untuk apa. Du Fei berniat menukar kaca matanya yang pecah dengan yang tidak pecah tanpa harus membeli yang baru (kreatif juga hahaha)
Jadilah kacamata yang dibalut dengan plester. Hahaha.
Shuhuan tertawa melihatnya dan bertanya apa Du Fei akan mengenakan kacamatanya itu besok untuk mewawancarai Tuan ke 5 Qin? Tapi kata Du Fei bagaimanapun ini lebih baik dari pada memakai kaca mata pecah hahaha. Shuhuan tersenyum mendengarnya dan melanjutkan latihan tinjunya,
Du Fei pun mulai mencoba ikut menendang karung tinjunya. (Tapi kakinya ga nyampe ke karung. Jatoh deh hahahaha.) Shuhuan tertawa.

Esok harinya di Da Shanghai
Du Fei memotret Tuan ke 5 Qin dari depan, samping. Shuhuan melihatnya senang.
Foto-foto selesai. Du Fei melepas kacamatanya, ia merasa tak nyaman. Tuan ke 5 Qin bertanya apa dengan kacamata yang seperti itu Du Fei bisa memotret dengan jelas? Du Fei bilang tak masalah ia bisa menggunakan mata kanannya yang masih bisa melihat dengan jelas.
Du Fei mengatakan setelah dicetak fotonya akan ia perlihatkan pada Tuan ke 5 Qin.
Shuhuan bertanya pada Tuan ke 5 Qin apa sudah siap untuk wawancara.
“Jika kau mau menulis tentang aku, kau harus menulisnya secara resmi. Sebelum dimuat dikoran aku ingin melihatnya dulu!” ujar Tuan ke 5 Qin. Alasannya karena Tuan ke 5 Qin pernah wawancara dengan salah seorang wartawan tapi tulisannya berbeda dengan apa yang ia ucapkan. Shuhuan mengerti maksudnya dan ia akan memperlihatkan naskahnya terlebih dulu sebelum di cetak di koran.
Tapi menurut Tuan ke 5 Qin kehidupannya tak mungkin bisa diselesaikan hanya dalam satu kali wawancara yang pendek. Shuhuan menawarkan ia bisa melakukan wawancara beberapa kali dari awal sampai akhir dan akan dibuat bersambung.
Tuan ke 5 Qin menyarankan agar Shuhuan mewawancarainya setelah tanggal 20. Setiap malam dirinya selalu di klub dansa Da Shanghai. Dia akan menonton petunjukan sambil bercerita. Shuhuan setuju.
Mereka berdua keluar dari kantor klub Da Shanghai, berjalan pulang melewati jalanan kota Shanghai.
“Wawancara dengan Tuan ke 5 Qin ini pekerjaan yang besar. Lain kali kalau kau pergi untuk mendengarkan ceritanya aku tak akan menemanimu!” ujar Du Fei. Shuhuan bertanya yang benar? Bukankah di Da Shanghai banyak wanita cantik. Tapi menurut Du Fei, ia tak akan beruntung mendapatkan nona-nona yang ada disana.
Shuhuan bertanya apa Du Fei punya uang. Du Fei menjawab ia tak punya uang, gajinya habis dipotong. Shuhuan memberikan sejumlah uang pada Du Fei untuk membeli kaca mata yang baru. Tapi Du Fei berniat menggunakan uang pemberian Shuhuan untuk membeli kado Ruping yang akan berulang tahun hari sabtu. Shuhuan memaksa Du Fei membeli kacamata (Shuhuan setia kawan banget... huhuhu)

Hari ulang tahun Ruping pun tiba...
Rumah keluarga Lu ramai tamu, kebanyakan dari tamu itu adalah teman-teman Ruping. Kue ulang tahun juga sudah siap di meja.
Mereka memasang lilinnya. Erjie juga ikut memasangkan lilin pada kue.”Kakak Ruping aku saja yang tiup lilinnya” Ujar Erjie.
“Setan kecil ini bukan urusanmu, kenapa ribut di sini!” Ucap Mengping sambil menjitak kepala adiknya. Erjie mengadu pada ibunya. Xueqin menasehati Mengping. “Aku lebih muda 9 tahun darimu kalau aku setan kecil, berarti kau setan besarnya!” sambung Erjie membuat semua orang tertawa.
Ruping mengatakan pada adik kecilnya kalau mereka akan menyalakan lilin dan meniupnya sama-sama juga akan memotong kue kemudian memakannya. Erjie bersorak kegirangan.
Mereka selesai memasang lilin. Erhao bertanya kenapa memasang lilin sebanyak itu? Du Fei menjawab waktu dia mengambil pesanan kue ia meminta seikat lilin terus ia pasang semua lilinnya. Shuhuan menghitung lilin, semuanya ada 32 lilin. Bukankah sekarang ulang tahun Ruping yang ke 19. Kalau lilinnya tak dipakai semua nanti mubazir kata Du Fei hahaha. Erhao berniat mencabut lilinnya tapi Shuhuan mencegahnya
“Lebih banyak lilin makin meriah waktu dinyalakan, hari ini Ruping berumur 19 tahun. Kita menyalakan 32 lilin itu artinya ketika Ruping berumur 32 tahun kita akan tetap bersama-sama merayakan ulang tahunnya. Kita semua berjanji pada ulang tahun Ruping yang ke 32 kita semua harus datang! Setuju ?“ Semua setuju usul Shuhuan
Ruping senang dengan usul Shuhuan ia ingin mengambil lilin lagi menurutnya 32 lilin terlalu sedikit. Ruping ingin memasang 50-60 lilin.
“Alan, ambil semua lilin yang ada dirumah!” teriak Xueqin pada salah satu pembantunya. Alan mengambilkan semua lilin yang ada di rumah dari yang besar sampai kecil warnanya juga beragam. Shuhuan bilang tak apa tidak sama, kalau dinyalakan pasti ada sinarnya yang kita inginkan adalah maknanya.
Lu Zhenhua mengahampiri Shuhuan, “Sering-seringlah kau main ke rumah kami!” mendengar ucapan ayahnya Mengping menghampiri Ruping dan mengatakan ayah tertarik dengan Shuhuan. Ruping hanya menyikut adiknya dan tersenyum malu.
Xueqin menghampiri suaminya dan mengatakan bukankah Ruping dan Shuhuan sangat serasi. Sepertinya Ruping sudah dewasa dan Xueqin senang dengan shuhuan. Lu Zhenhua hanya mengangguk.
Mereka semua menyalakan lilinnya. Lilin yang berwarna warni, dan beraneka macam bentuknya. Ada yang panjang dan ada yang pendek. Du Fei memotret kue yang tertutup lilin itu. Erhao menghitung jumlah lilinnya. Semuanya ada 83 lilin.
“Tahun ini usia Ruping 19 tahun. Saat Ruping berumur 83 tahun bertepatan dengan tahun 2000 masehi. Jadi kita akan punya pertemuan di abad 21!” Ujar Shuhuan.
Ruping menambahkan pada saat itu mungkin dirinya sudah tua sekali. “Baik pada saat itu kita akan bersama lagi!” Semua setuju
“Ayo foto semua!” teriak Du Fei. Mereka semua berfoto.
Shuhuan menyahut sebaiknya mereka menyanyi lagu selamat ulang tahun dulu lalu tiup lilinnya.
Mereka semua menyanyi lagu selamat ulang tahun untuk Ruping dengan berbagai irama sambil bertepuk tangan. Ruping tersenyum senang.
Ruping meniup lilinnya. Du Fei kembali memotret. Semua bertepuk tangan.
Du Fei mendekati Ruping, ia menyerahkan kadonya. ”Disini ada tawamu dan tawa kita semua. Semoga selamanya kau akan selalu tersenyum!” Ruping senang menerimanya dan mengucapkan terima kasih dan langsung membukanya. Ternyata kado dari Du Fei adalah foto-foto meraka waktu jalan-jalan tempo hari. Ruping senang melihatnya.
“Hadiah Du Fei terlalu bagus!” ujar Shuhuan. “Hadiahku tak ada apa-apanya!” Ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan bungkusan kado dan menyerahkannya pada Ruping. Ruping berterima kasih dan langsung membukanya. Ternyata itu sebuah kalung dengan liontin salib.
“Setiap kali dalam keadaan yang bahaya, aku selalu mendengarmu berdoa. Semoga salib ini melindungimu dari berbagai bencana dan penyakit. Semoga bahagia selamanya!”
Ruping sangat menyukai hadiah dari Shuhuan dan meminta Shuhuan memakaikannya. Shuhuan menurut, ia mamakaikan kalung itu pada Ruping. Semua tepuk tangan. Du Fei memotretnya. Shuhuan dan Ruping tersenyum saling berpandangan. Lu Zhenhua dan Xueqin senang melihatnya.
Mereka semua berfoto
Lu Zhenhua tertawa senang. Tapi kemudian diam, ia teringat kata-kata Yiping sewaktu datang berkunjung. Lu Zhenhua memanggil Erhao, agar menemuinya di ruang kerja. Erhao mengangguk.
Lu Zhenhua menyerahkan uang 200 yuan pada Erhao dan meminta Erhao memberikannya pada Wenpei dan Yiping. Erhao menolak karena sekarang masih banyak tamu. Ia akan menyerahkan uang itu besok.
“Aku bilang sekarang. pergilah!” Ucap Lu zhenhua dan meminta Erhao tak usah menghiraukan tamu-tamu. Erhao tetap tak ingin pergi, “Apa kau takut pada Yiping?” Tanya Ayahnya. “Aku bukannya takut dengannya, hanya saja kalau aku datang hanya akan membuat dia marah saja.”
Seemosional apapun Yiping, Erhao harus tetap kesana mengantarkan uang itu. Lu Zhenhua tak mau mendengar orang-orang mengatakan kalau dirinya menelantarkan istri dan anaknya sampai mati kelaparan.
“Pergilah!” Perintah Lu Zhenhua. Erhao mengambil uang itu dan segera pergi.

Di jalanan sebuah gang Fang Yu berjalan seorang diri. Tiba-tiba dari arah belakang muncul mobil yang berjalan cepat dan membuat kubangan air di jalan mengenai Fang Yu. Tas dan bukunya terjatuh karena kaget.
“Dasar gila!” umpat Fang Yu sambil memunguti bukunya yang jatuh dan basah di kubangan air. Pengendara mobil keluar. Pengendara mobil itu Erhao. “Kau bilang apa?” tanya Erhao
“Aku bilang kau gila.” Ucap Fang Yu pada Erhao. Fang Yu bergegas pergi. Erhao mengejar dan bertanya atas dasar apa dirinya disebut gila. Ada lubang di jalan, memangnya dia yang menggali. Di lubang ada air memangnya dia yang menuangkannya? ”Aku lewat jalan ini dan melewati lubang, itu kesialanku. Kau basah kuyup itu kesialanmu. Kita berdua sama-sama sial. Kenapa kata-kata gadis secantik ini menyakitkan orang. Aku nasehati kau lain kali jangan sekasar ini!”
Erhao membantu mengambilkan barang-barang Fang Yu, tapi Fang Yu menolaknya. Ia marah pada Erhao. “Aku lewat jalan ini tubuhku basah, itu kesialanku. Kau lewat jalan ini dan di maki orang itu kesialanmu. Kita sama-sama sial tak ada hubungannya. Kenapa kau turun dari mobilmu dan mencari masalah denganku!” ucap Fang Yu menantang
“Nona aku menghentikan mobilku bukan untuk mencari masalah, aku melihat barang-barangmu jatuh dan ingin membantu. Kenapa tahun ini semua wanita berubah menjadi galak, sama sekali tak lembut.” Sambung Erhao
“Sudahlah, tahun ini juga semua pria jadi sombong dan tidak sopan!” Fang Yu membalas kata-kata Erhao
“Baik. Aku tak bisa menang berdebat denganmu. Fang Yu mahasiswa jurusan seni!” Erhao membaca tulisan yang tertera di buku. “Aku akan mengingatnya, hari ini aku tak ada waktu. Lain kali akan buat perhitungan denganmu!”
Fang Yu bertanya dari mana tahu namanya. Erhao bilang itu tertulis di buku
Erhao bertanya Fang Yu mau kemana, Fang Yu bisa menumpang mobilnya. Fang Yu menjawab tak usah karena ia sudah sampai di tempat yang ia tuju. Fang Yu berjalan Erhao mengikutinya.
Fang Yu sampai di rumah Yiping, “Aku juga mau kesini!” ujar Erhao, “Bisa kutebak kau ini temannya Yiping. Benar-banar mirip. Pantas galak sekali!”
“Kau sendiri?” tanya Fang Yu
“Aku kakaknya.” jawab Erhao sambil mengetuk pintu rumah Yiping
“Ohhh... kakak dari sana pantas begitu sombong dan sok berkuasa.” Jawab Fang Yu
“Kenapa kau memaki orang lagi?”
“Aku sangat paham tentang kalian. Aku sudah lama mendengar ceritanya”
“Mendengarkan cerita dari Yiping? Dia dimana-mana menghancurkan nama keluarga.” Ujar Erhao dengan nada kesal
Yiping membukakan pintu, kaget melihat kedatangan Fang Yu dan Erhao secara bersamaan
“Suatu kebetulan yang sial.” jawab Fang Yu.
Yiping menarik Fang Yu masuk ke dalam rumahnya dan menjelaskan kalau akhir-akhir ini ia sibuk.
Fang Yu menyerahkan uang pada Yiping, “Aku pinjam 5 yuan dari teman dan langsung kukirimkan padamu!” tapi Yiping menolaknya malah Yiping akan mengambalikan uang yang ia pinjam tempo hari.
Erhao menyambung dan mengatakan bahwa hari ini Yiping bernasib baik karena semua orang mengirimkan uang. Erhao menyerahkan uang 200 yuan titipan ayahnya. Tapi Yiping menolaknya.
“Berfikir rasional, memangnya sifat kerasmu bisa dijadikan makanan? kalian jelas-jelas perlu uang.” Ucap Erhao
“Aku memang perlu uang, tapi sudah bisa ku atasi. Pulanglah dan beritahukan pada ayahmu aku sudah dapat pekerjaan. Hidupku baik-baik saja tidak mati kelaparan juga tak mati miskin. Aku tak perlu bantuan dari kalian!”jawab Yiping
Cara penyelesaian masalah Yiping bagus sekali pinjam uang dari teman, memangnya pinjaman tak harus dikembalikan? Kata Erhao
“Apa yang ku pinjam akan ku kembalikan! Pergilah dan bawa uangmu!” Yiping mengusir Erhao dengan suara kerasnya
“Kau bodoh!” teriak Erhao pada Yiping, Fang Yu kaget mendengarnya
“Cepat pergi!” teriak Yiping.
Fang Yu menenangkan Yiping buat apa bersikap keras seperti itu. “Fang yu apa kau juga membantu orang yang dari sana!” tanya Yiping
“Sudah.. sudah.. Ini urusan keluargamu aku tak mau mengurusinya, aku pergi saja. Lain kali saja aku menengokmu!” Melihatmu Fang Yu berniat pergi Yiping menahannya
Erhao kembali bertanya pada Yiping mau uang yang dibawanya tidak. Yiping tetap menolak. Tak mau ya sudah kata Erhao dengan kesal. Lalu pergi meninggalkan rumah Yiping.
Yiping ingin mengobrol dengan Fang Yu di taman, ia minta izin pada ibunya. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Fang Yu
Di taman Yiping menceritakan pekerjaannya. Fang Yu kaget mendengarnya, “Kau menyanyi di klub dansa? Dan ibumu sama sekali tak tahu?”
Yiping membenarkan dan meminta Fang Yu tak membocorkan pekerjaan pada ibunya. Yiping mengembalikan uang yang ia pinjam tempo hari.
Fang Yu bertanya apa klub dansa itu tempatnya ramai? “Benar, tapi gampang mencari uang. Sebelumnya bosku meminjamiku uang 100 yuan, setelah menyanyi beberapa hari bos kembali meminjami 100 yuan!” Ujar Yiping
“Kenapa bos mu baik padamu? Apa bosmu itu punya niat tertentu?” tanya Fang Yu. Yiping hanya menjawab itu tidak mungkin. Karena bosnya sangat galak padanya, sama sekali tak punya perasaan. Menyanyi kurang satu atau dua lagu langsung memanggil anak buah (tukang pukul) untuk memukulnya.
Fang Yu cemas mendengar bos Yiping menyuruh anak buah memukuli Yiping. Kemudian Yiping menceritakan ada dua wartawan koran Shen Bao yang berkelahi membelanya. Fang Yu tak percaya ada seseorang yang berkelahi demi Yiping. Yiping melanjutkan kalau wartawan itu akhirnya malah berteman dengan bosnya.
Fang Yu makin cemas , “Dengarkan aku. Hati Ayahmu sudah melunak, dia mengirimimu uang. Terima saja. Aku takut mendengar klub dansa itu. Pasti bukan tempat untuk gadis baik-baik. Cepat tinggalkan pekerjaan itu!”
“Kau ingin aku menatap lagi wajah keluarga Lu dan Bibi Xue? Aku tak akan melakukannya. Hidupku sekarang baik-baik saja.” jawab Yiping
Fang yu bertanya bagaimana kalau ibu Yiping tahu. “Dia tak akan tahu. Aku tak akan membiarkan ia mengetahuinya.” Jawab Yiping
Fang Yu bertanya lagi bagaimana dengan kuliah jurusan pendidikan musik Yiping
“Pendidikan musikku adalah klub Da Shanghai.” ucap Yiping

Malam hari di Da Shanghai
Tamu-tamu mulai berdatangan, Shuhuan duduk dengan Tuan ke 5 Qin. Ia mewawancarainya.
Yiping menyanyi. Semua orang berdansa. Tuan ke 5 Qin dan Shuhuan menyaksikan nyanyian Yiping (Bai Meigui) Shuhuan tersenyum-senyum menyaksikan Bai Meigui menyanyi. Semua penonton bertepuk tangan.


Ou Ran


Wo Shi Tian Kong Li De Yi Pian Yun,
Ou Er Tou Ying Zai Ni De Bo Xin,
Ni Wu Shun Ya Yi,
Ye Wu Shun Huan Xi,
Zai Zhuan Shun Jian Xiao Mie Le Zong Ying,


Ni Wo Xiang Feng Zai Hei Ye De Hai Shang,
Ni You Ni De, Wo You Wo De Fang Xiang,
Ni Ji De Ye Hao, Zhui Hao Ni Wang Diao,
Zai Zhe Jiao Hui Shi Hu Fang De Guang Liang

“Selanjutnya aku akan menyanyikan lagu Chao Shui..” semua tepuk tangan...
Tiba-tiba ada teriakan dari penonton, seorang pria mabuk berteriak. “Bai Meigui nyanyikan lagu ‘Jia zheng jing’ Kami mau dengar Jia Zheng Jing. Bisa tidak?”
“Mau dengar jia Zheng Jing? lagu yang mana? Apakah lagu yang banyak kata-kata Jia Xing xing (pura-pura)” Jawab Bai Mei gui
“Benar lagu itu. Jia xing xing.. jia xing xing..” sahut pria tadi sambil menyanyikan lagu yang dimaksud. Taman-teman pria itu juga berteriak setuju.
“Kenapa kau mau mendengar jiang xing xing(orang utan palsu) Apa kau seekor monyet betulan?” Kata Bai Meigui, “Hanya monyet betulan yang bingung waktu bertemu dengan ‘orang utan palsu’ dan mengira dirinya sejenisnya.”
Pria tadi dan teman-temanya marah mendengar ucapan Bai Meigui, “apa-apaan kau. Kaulah yang pura-pura. Jelas-jelas wanita srigala berlagak sok suci. Dasar menjijikan.” Ucap pria tadi. Shuhuan dan Tuan ke 5 Qin langsung berdiri mendengar ada keributan.
Yiping diam, ia merasa terhina...

Bersambung....

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...