Wednesday, 16 October 2013

Sinopsis Suspicious Housekeeper Episode 4 Part 1

Hye Gyul mengungkapkan kalau dirinya begitu menyayangi ayahnya, apa ayahnya juga menyayangi Hye Gyul. Sang Chul bingung harus menjawabnya bagaimana dan kata ‘Maaf’ yang keluar dari mulutnya. Itu tentu saja membuat Hye Gyul kecewa dan menahan sedih. Han Gyul dan yang lain tak menyangka kalau kata maaf yang keluar dari mulut Sang Chul.
Na Young menegur bukankah kakak iparnya ini sudah keterlaluan dengan mengatakan itu. Kakak iparnya seharusnya tak mengatakan itu pada anak-anak. Han Gyul bilang tidak apa-apa, karena yang namanya bicara jujur bukanlah sebuah tindakan kriminal. Itu lebih baik dari pada berpura-pura menyayangi mereka. 
Doo Gyul : “Noona, apa kau akan membiarkan ini setelah semua yang kau dengar?”

Han Gyul : “Tidak, karena inilah ayah kita yang sebenarnya. Dia mengkhianati ibu. Dia bahkan tidak tahu apa dia menyayangi kita. Aku rasa ayah harus pergi, dari rumah kami!”

Doo Gyul membenarkan perkataan Han Gyul, “Dia yang menyebabkan smeua ini. Kita tidak harus tidur di luar.”

Na Young berusaha menenangkan anak-anak, ia mengatakan kalau anak-anak tak akan bisa hidup sendiri. Se Gyul setuju ucapan tantenya, ia harap kakak-kakaknya jangan terlalu emosi, lebih baik semuanya dipikirkan dulu. Doo Gyul menilai adiknya ini pengecut, kalau Se Gyul takut silakan ikut dengan ayah saja. 
Han Gyul meminta adik-adiknya tak perlu khawatir, “Pernahkah kita tinggal dengan ayah? Kita baik-baik saja tanpa dia di Filipina.”

“Tapi waktu itu kita masih punya ibu.” sahut Se Gyul membuat kedua kakaknya terdiam.
Bok Nyeo keluar dari rumah sudah mengenakan jaket, topi dan membawa tas-nya. Ia akan pergi karena kontrak bekerjanya dengan Hye Gyul sudah habis. Han Gyul memandang ke arah Bok Nyeo dan berkata kalau ada seseorang yang akan menggantikan peran ibunya di rumah. Na Young menyahut tentu saja, ia akan melakukan apapun yang ia bisa untuk anak-anak. Tapi yang dimaksd Han Gyul bukanlah tantenya, melainkan Bok Nyeo.

Han Gyul : “Bok Nyeo-nim, maukah kau tinggal bersama kami?”

Bok Nyeo : “itu bukan saya yang memutuskannya.”

Han Gyul meminta ayahnya memilih, ayah ingin kami yang pergi atau ayah yang pergi. Sang Chul pun memutuskan kalau ia yang akan pergi dari rumah. Ia juga meminta Bok Nyeo untuk bekerja kembali di rumahnya untuk melayani anak-anaknya. Ia akan membicarakan kontrak kerja Bok Nyeo dengan Ny Hong. Bok Nyeo mengerti, ia menerima pekerjaannya kembali.
Bok Nyeo mengantar Sang Chul hingga di depan rumah. Sang Chul menarik nafas dan mengatakan kalau ia tak bisa membiarkan anak-anaknya meninggalkan rumah. Jadi ia merasa kalau ini adalah keputusan yang baik. “Aku memang bukan ayah yang baik tapi aku tak pernah memukul anak-anakku.” Ia menyesali apa yang ia lakukan pada Hye Gyul tadi.

Bok Nyeo yang sebelumnya tak pernah memberikan pendapat kali ini ikut ia ikut berpendapat yang membuat Sang Chul cukup terkejut. Menurut Bok Nyeo sangat wajar seorang ayah memarahi anaknya jika si anak melakukan sesuatu yang salah. “Itu hanya jika anda memang seorang ayah.”

Bok Nyeo menyerahkan pada Sang Chul batu ayah milik Hye Gyul yang ia temukan. Sang Chul pun pergi menginap di tempat lain.
Se Gyul berada di kelasnya tengah mengerjalan ulangan matematika. Ia melihat sekeliling dan berusaha melihat seseorang yang duduk di depannya. Teman Se Gyul yang duduk di depan tiba-tiba berbalik menatap tajam. Tapi tak lama kemudian anak itu tersenyum pada Se Gyul.
Tapi tiba-tiba pintu kelas terbuka, masuklah Bok Nyeo ke kelas itu. Ia mengeluarkan senjata dari dalam tas-nya. Ia menuju ke tempat duduk Se Gyul dan mengarahkan senjata itu pada Se Gyul yang tentu saja ketakutan.
Se Gyul gemetaran, “Ahjumma... maksudku Bok Nyeo-nim tolong jangan bunuh aku. Ini aku Se Gyul.” 

Dor...
Se Gyul terjatuh dari kursi tempatnya belajar. Ia terbangun dari mimpi buruknya. Rupanya ia tertidur ketika sedang belajar. Tubuhnya penuh keringat, nafasnya terengah-engah dan tubuh gemetaran ketakutan.
Se Gyul berusaha mengatur nafasnya. Ia kembali duduk, tapi tatkala ia berbalik badan, ia terkejut bukan main melihat sosok Bok Nyeo berdiri di belakangnya. Bok Nyeo menyampaikan kalau sarapannya sudah siap.
Bok Nyeo tiba-tiba mengeluarkan dan menyalakan alat penghisap debu. Se Gyul yang masih terkejut dengan mimpinya tadi kaget ketika Bok Nyeo tiba-tiba menyalakan alat itu. Ia mengira Bok Nyeo menodongkan senjata ke arahnya seperti di dalam mimpinya.
Anak-anak pun sarapan, Doo Gyul yang keluar dari kamar mandi mengoceh kalau perutnya sudah terasa enak. Doo Gyul tak suka mendengar ucapan seperti itu di pagi hari karena itu membuat nafsu makannya di pagi ini hilang. Tak mau kalah, Doo Gyul berkata kalau ia melihat Se Gyul membaca sambil makan juga membuat dirinya kehilangan semangat di pagi ini bahkan itu melebihi nafsu makannya.
Hye Gyul bertanya pada Han Gyul kapan ayahnya akan pulang. Keempat anak itu menatap kursi kosong yang biasa ayah mereka duduki. Han Gyul berkata pada adik kecilnya bukankah ia sudah mengatakan kalau mulai sekarang hanya mereka berempat yang tinggal di rumah. Ia harap Hye Gyul bisa mengurus sendiri keperluan dan barang-barang Hye Gyul.

Doo Gyul membenarkan, “Kita tak membutuhkan ayah seperti dia. Kita harus saling percaya. Kita harus semangat.” Hye Gyul mengangguk mengerti.
“Saya punya pertanyaan untuk kalian semua?” tiba-tiba Bok Nyeo bertanya. Keempat anak ini tentu saja merasa aneh karena tak seperti biasanya Bok Nyeo ingin mengajukan pertanyaan.

Bok Nyeo : “Mulai sekarang, siapa yang dituakan yang bisa memerintah? Karena ayah kalian tak ada disini, jika perintah dari kalian berbeda satu sama lain, saya akan kebingungan.”

Han Gyul : Oh kalau itu....
Doo Gyul buru-buru menyela, “Tentu saja aku. Aku anak laki-laki pertama dalam keluarga. Jika ayah tak ada, anak laki-laki pertama yang menjadi ayah kedua.”

Se Gyul : “Apa yang kau bicarakan? Bukankan ada Noona, dia yang tertua.”
Han Gyul bilang untuk saat ini kalau mereka berempat memiliki keinginan yang berbeda, mereka akan mendiskusikannya lebih dulu baru kemudian memberitahukan itu pada Bok Nyeo. Bok Nyeo mengerti.
Se Gyul : “Lalu aku harus menelepon ayah atau tidak? besok adalah hari terakhir pertemuan orang tua dan guru.”

Doo Gyul melarang Se Gyul menelepon ayah mereka, “Apa kau mau memohon pada dia?”

Se Gyul : “Lalu apa yang harus kulakukan? Besok adalah hari terakhir. Haruskah aku menyerah pada hidupku hanya karena ibu meninggal?”

Doo Gyul : “Sebaiknya kau menyerah saat aku masih bicara dengan baik. Menyerahlah.”

Han Gyul melerai kedua adiknya yang pagi-pagi sudah cek-cok. Ia mengatakan kalau mereka akan memikirkan masalah ini lagi.
Alarm ponsel Sang Chul bunyi. Ia terbangun dari tidurnya. Ia menginap di hotel. Ia kemudian membasuh wajahnya dan teringat ucapan putri kecilnya yang menanyakan apakah ia menyayangi Hye Gyul. Ia mengeluarkan batu ayah dari saku celananya.
Se Gyul berangkat sekolah. Di halaman sekolah ada yang memanggilnya. “Hei Filipina!” Panggil seorang anak bernama Jung Tae. Ia bersama dua orang temannya.

Jung Tae langsung merangkul Se Gyul, “Hei ada apa? apa kau tak suka bertemu dengannku?” Jung Tae mengatakan pada teman-temannya kalau si Filipina ini akan mentraktir mereka hari ini.
Keempat anak ini berada di minimarket membeli cemilan. Se Gyul mengatakan pada Jung Tae kalau ia sudah bilang bahwa dirinya tak punya uang tunai.

Jung Tae : “Aku tak menyuruhmu membayarnya dengan uang tunai. Kau punya kartu kan? Kartu transportasi?”

Se Gyul pun terpaksa mengeluarkan kartu transportasi sebagai alat pembayaran membeli cemilan seharga 17.300 won. Ia mengeluh kalau dirinya tak bisa naik bus. Jung Tae tak peduli, itu urusan Se Gyul. Ia ingin Se Gyul mengisi kembali uang yang ada di kartu transportasi.
Sang Chul berada di ruangannya di lokasi konstruksi. Ia makan siang seadanya. Ia mengirim sms pada Song Hwa.

Song Hwa bisakah kita bertemu? aku tinggal di sebuah hotel di sebelah kantor baruku.
Song Hwa membaca sms dari Sang Chul tapi ia tak segera mambalasnya. Hmm ia mengabaikannya.
Malam hari, pulang kerja Sang Chul menunggu di depan rumah Song Hwa. Ia mengirim sms pada Song Hwa memberi tahu kalau dirinya ada di depan rumah Song Hwa dan akan menunggu kedatangan Song Hwa. Tak berapa lama kemudian sebuah mobil sampai disana. Sang Chul segera bersembunyi dibalik tembok. Itu Song Hwa yang diantar pulang oleh Manajer Choi. Sang Chul mengintip dari balik tembok.

Song Hwa pamitan dan berterima kasih pada Manajer Choi tapi ketika Song Hwa akan pergi, Manajer Choi mengejar dan menghentikan langkah Song Hwa. Manajer Choi menunjukkan kalau ponsel Song Hwa kelupaan di mobilnya. Song Hwa kembali mengucapkan terima kasih dan segera masuk ke rumahnya.

Sang Chul yang mengintip di balik tembok kaget ketika dering ponselnya bersuara. Ia panik takut kalau persembunyiannya ketahuan. Ia segera menjawabnya dengan suara pelan, telepon dari Bok Nyeo.
Bok Nyeo menyampaikan kalau setelah beberapa jam anak-anak berdiskusi, mereka akhirnya menentukan keputusan bulat untuk menghubungi Sang Chul. Sang Chul tanya untuk apa, apa anak-anak menginginkan ia kembali ke rumah.

“Tidak.” jawab Bok Nyeo. “Besok adalah hari terakhi pertemuan orang tua dan guru untuk SMP internasional.”
“Ayah kau dimana?” Hye Gyul ikutan bertanya.

“Nona Hye Gyul bertanya, ‘ayah kau dimana?’” Bok Nyeo mengucap ulang pertanyaan Hye Gyul.

Sang Chul bingung menjawabnya, “Aku... di kantor... maksudku... aku sedang makan malam... ah bukan-bukan... akan lebih baik kalau kau mengatakan padanya kalau aku ada di sebuah hotel.”

Bok Nyeo pun menyampaikan pada He Gyul apa yang Sang Chul katakan, dia berkata, akan lebih baik jika kau mengatakan padanya kalau aku ada di sebuah hotel. Bok Nyeo kembali mengingatkan kalau Sang Chul harus datang ke sekolah Se Gyul tepat pukul 3. Bok Nyeo pun menutup teleponnya.
Sang Chul akan melihat keadaan sekeliling tapi ia terkejut di balik tembok Manajer Choi berdiri disana. Manajer Choi menyarankan pada Sang Chul untuk segera menghubungi Song Hwa kalau memang Sang Chul ingin bertemu dengan Song Hwa karena Song Hwa baru saja pulang. Sang Chul berkata kalau ia nanti akan meneleponnya karena sekarang pasti Song Hwa kelelahan bekerja. Ia khawatir jika seseorang melihat ia ada disini pasti mereka berfikir kalau dirinya sedang membuntuti Song Hwa.

Manajer Choi berkata kalau ia tak mengerti dengan wanita, yang ia lihat Song Hwa belum mengakhiri hubungannya dengan Sang Chul. Apa aku benar? Sang Chul menyangkal, itu tidak benar.
Keesokan harinya sebelum berangkat sekolah Se Gyul meminta uang yang dititipkan ayahnya pada Bok Nyeo. Bok Nyeo yang tengah mencuci piring menanyakan untuk apa Se Gyul membutuhkan uang itu karena ia harus mencatat setiap pengeluaran uang dari majikannya.

Se Gyul menunjukan kartu transportasi, ia mengatakan kalau ia harus mengisi ulang kartu transportasinya. Bok Nyeo berkata kalau kartu transportasi itu sudah diisi untuk jangka waktu satu bulan. Se Gyul pun mengatakan alasan lain, ia ingin membeli buku matematika baru. Bok Nyeo bertanya buku matematika apa lagi yang ingin Se Gyul beli, bukankah Se Gyul sudah punya banyak buku matematika.

“Oh iya benar aku kehilangan pakaian olahragaku.” Se Gyul mengatakan alasan lain.

Bok Nyeo : “Pakaian olahraga anda ada di laci kedua lemari anda.”

Sadar kalau dirinya tak bisa memberikan alasan yang meyakinkan untuk meminta uang Se Gyul tak jadi meminta uang pada Bok Nyeo. Ia pun berangkat sekolah. Bok Nyeo seperti mencium gelagat yang tak beres dari Se Gyul.
Karena kartu transportasinya kosong, Se Gyul tak bisa ke sekolah naik bis. Ia pun jalan kaki.
Alarm ponsel Sang Chul bunyi menandakan kalau sekarang waktunya ia ke sekolah Se Gyul. Tapi ketika ia akan pergi bawahannya melaporkan kalau mereka sedang dalam masalah, ada yang salah dengan peralatan pendinginnya. Pelanggan marah karena berpikir kalau kita membangun tidak sesuai dengan ketentuan.
Di belakang sekolah, Jung Tae menagih uang pada Se Gyul. Se Gyul menyerahkan kartu transportasinya. Jung Tae menanyakan berapa isi uang di kartu itu. Se Gyul menjawab tidak ada, “Kalian menghabiskan semuanya, aku bahkan tak bisa naik bus.”

Jung Tae menahan marah, “Aku bilang kau harus mengisinya kembali.”

“Aku tak bisa!” tolak Se Gyul.

“Kenapa?” suara Jung Tae meninggi.

“Karena ayahku pergi dari rumah.” jawab Se Gyul.
Jung Tae mengelus pipi Se Gyul, “Kau si miskin yang malang. Ibumu meninggal dan sekarang ayahmu pergi dari rumah?” Wajah Jung Tae tampak memelas seolah menyesal telah membully Se Gyul. “Teman-teman ayo kita berhenti mengganggu si Filipina ini sekarang.”

Tapi wajah Jung Tae kembali berubah menjadi sangar ketika menatap Se Gyul, “Apa kau pikir aku akan benar-benar mengatakan itu? dasar bodoh.”
Yang menemui guru Se Gyul bukanlah Sang Chul melainkan Bok Nyeo. Guru Se Gyul agak cangguung bicaranya. Ia menanyakan kenapa ayah Se Gyul tak bisa datang. Bok Nyeo mengatakan kalau sesuatu terjadi di tempat kerja ayah Se Gyul jadi majikannya menyuruhnya datang ke sekolah untuk menggantikannya.

Pak guru bingung mau menanyakan yang mana dulu, “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” (hahah) 

Bok Nyeo : “Kita harus membahas tentang SMP Internasional Eun Se Gyul.”

Pak Guru mengaku kalau ia agak sedikit canggung karena ini pekerjaan pertamanya. Pak Guru pun menjelaskan bahwa untuk bisa masuk ke SMP Internasional itu harus dilihat dari nilai semester pertama di kelas enam.
Pak Guru : “Sejak Se Gyul tiba-tiba pindah ke Filipina dia tak pernah masuk untuk ujian akhir. Jadi aku melihat beberapa kasus dan memutuskan dia bisa mengganti kelasnya dengan ujian yang akan datang. Tapi dia belum menyiapkan rencana pengembangan diri dan itu masih kurang 15 poin.....”

“20 poin.” Ucap Bok Nyeo meralat.

Pak Guru kaget dengan ucapan bok nyeo, “itu 15 poin.” Tegasnya. Tapi Bok Nyeo ngotot 20 poin yang menjadi kekurangan nilai Se Gyul.

Pak Guru tertawa, “Kau mungkin berpikir aku tak terlalu paham karena ini pekerjaan pertamaku. Aku akan menunjukannya padamu, seperti yang kau lihat, disini disebutkan kalau rencana pengembangan diri bernilai 20 poin....?” (Hahaha)

Pak Guru terdiam menunjukan data yang ternyata benar kekurangan nilai Se Gyul adalah 20 poin. Ia pun menyadari dirinya yang salah dan Bok Nyeo yang benar. Ia minta maaf karena ini pekerjaan pertamanya. 
Bukan hanya kasus Se Gyul saja, Pak Guru malah berkonsultasi kasus anak didiknya pada Bok Nyeo karena dirinya merasa kasus anak didiknya sulit diatasi. Tapi Bok Nyeo tak menjawabnya, “Itu sesuatu yang anda sendiri harus memutuskannya!”

Pak Guru kemudian menyerahkan selembar dokumen pada Bok Nyeo. Dokumen yang harus ayah Se Gyul tanda tangani.
Bok Nyeo keluar dari ruang guru, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti dan menatap ke luar jendela. Disana ia melihat Se Gyul diganggu oleh tiga siswa lainnya. Bok Nyeo diam saja dan berlalu dari sana.
Jung Tae berkata kalau ia seharusnya tak membuat Se Gyul melakukan hal-hal yang kecil. “Untuk menggantikan kartu transportasimu, aku seharusnya mendapatkan smartphone.”

Mata Se Gyul membesar, Jung Tae merangkul Se Gyul. “Jangan terlihat terkejut seperti itu. Ayahku bilang jika aku mendapatkan nilai 100 di ujian matematika, dia akan membelikanku smartphone. Jadi buat aku mendapatkan nilai 100 di ujian selanjutnya.”

Se Gyul : “Nilai 100? Bagaimana?”

Jung Tae kesal dan menjitak kepala Se Gyul, “Hei.... Untuk anak pintar sepertimu, apa kau tak bisa berpikir sejauh itu? Jika kau mendapatkan 100 maka aku juga harus mendapatkannya.”

Se Gyul : “Apa maksudmu aku harus memberikan jawabanku saat ujian?”

Jung Tae : “Kenapa? kau tak mau?”

Se Gyul menunduk berfikir.
Dong Shik dan Song Hwa ke lokasi konstruksi tempat Sang Chul ditempatkan bekerja. Dong Shik menilai kalau Sang Chul seharusnya tidak bekerja di lokasi konstruksi. Dong Shik dan Song Hwa melihat Sang Chul ada disana tapi Sang Chul belum tahu kalau keduanya datang.

Melihat keadaan Sang Chul di lokasi konstruksi Song Hwa permisi pada Dong Shik akan ke menunggu di mobil saja. Dong Shik heran bukankah seharusnya Song Hwa menyapa Sang Chul dulu. Song Hwa beralasan kalau ia harus menelepon seseorang.
Sang Chul melihat Dong Shik ada disana, ia tak melihat Song Hwa. Dong Shik menanyakan keadaan konstruksi. Sang Chul mengatakan kalau di lokasi konstruksi tak ada masalah yang serius.

Dong Shik berusaha menghibur manajernya, “Anda terlihat seperti pria sejati Manajer. Anda berkeringat dan bau, itu seperti seorang pria.” ucapnya sambil tertawa. Sang Chul ikutan ketawa haha.

Sang Chul tanya apa Dong Shik datang kesini sendirian. Dong Shik berbohong menjawab ya. Ia berbohong tak mengatakan kalau ia datang bersama Song Hwa.
Dong Shik dan Song Hwa berada di dalam mobil menuju kantor pusat. Dong Shik merasa kalau ia melihat Sang Chul bekerja di tempat itu bagai seorang sarjana yang terbuang. Kalau saja hal itu tak terjadi, Sang Chul pasti akan terus berada di depan tanpa berhenti. Ia bertanya apa Song Hwa memutuskan untuk mengabaikan Sang Chul. Song Hwa balik bertanya apa hal itu sekarang menjadi urusan Dong Shik, ia tak senang Dong Shik ikut campur.

Dong Shik heran Song Hwa ini wanita seperti apa, “Apa rumor itu benar? kalau kau mengatakan pada direksi bahwa itu pelecehan secara sepihak.”
Tanpa menyangkal Song Hwa membenarkan. Dong Shik tak menyangka bagaimana Song Hwa bisa melakukan itu, bukankah Sang Chul dan Song Hwa saling menyukai.

Song Hwa kesal, “Ya itu karena aku mendengar mencuri apel yang manis itu jauh lebih baik, jadi aku akan memakannya. Dan aku tak tahu bagaimana cara membersihkannya, jadi aku membuangnya.”

Song Hwa yang kesal meminta Dong Shik menghentikan laju mobilnya. Walaupun heran, Dong Shik menuruti apa yang Song Hwa inginkan. Song Hwa keluar dari mobil dengan perasaan kesal yang campur aduk.
Han Gyul ditemani Soo Hyuk duduk di bangku tepi sungai. Han Gyul yang selalu mencurahkan permasalahan keluarganya meminta pendapat Soo Hyuk. Apa ia terlalu kasar pada ayahnya, tapi kalau ia memikirkan bagaimana nasib ibunya, ia tak bisa memaafkan ayahnya.

Soo Hyuk ingin tahu bagaimana dengan saudara-saudara Han Gyul yang lain. Han Gyul berkata kalau semuanya berantakan. Doo Gyul tak tahu kemana, Se Gyul hanya mengurus dirinya sendiri dan dirinya merasa benar-benar buruk. Ia merasa kalau dirinya dan saudara-saudaranya akan segera menjadi anak panti asuhan.
Soo Hyuk menghibur dengan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Tanyannya menyentuh wajah Han Gyul, “Lihat dirimu. Kau kelihatan tak baik.”
Soo Hyuk pun seperti sedang berusaha mengambil kesempatan di bawah kegalauan hati Han Gyul dengan masalah keluarganya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Han Gyul, ia akan mencium gadis itu.

Tapi tiba-tiba.. buk... sebuah bola basket mendarat di kepala Soo Hyuk. Hahaha. Tak lama kemudian muncullah Shin Woo Jae.
Soo Hyuk tahu kalau itu pasti perbuatan Woo Jae yang disengaja. Ia benar-benar kesal.

Woo Jae : “Apa yang kalian berdua lakukan?”

Soo Hyuk balik bertanya, “Kau sendiri apa yang sedang kau lakukan? apa kau melemparnya dengan sengaja?” Woo Jae menjawab santai, itu hanya bolanya yang tahu.
Soo Hyuk pun mengajak Han Gyul pergi dari sana. Woo Jae menatap kepergian dua orang itu, ia menilai kalau Han Gyul gadis yang terlalu lugu. Ia merasa akan berbahaya bagi Han Gyul kalau ia membiarkannya begitu saja.
Di rumah, Se Gyul yang sedang belajar terus-menerus menarik nafas. Disana juga ada Bok Nyeo yang tengah melipat baju, Doo Gyul yang baca komik dan Hye Gyul yang menggambar. 

Berita di televisi menyebutkan bahwa ada seorang siswa kelas enam SD yang melompat dari atap apartemen setelah meninggalkan sebuah wasiat. Hasil investigasi menunjukan kalau anak ini diperas dan diancam oleh teman sekelasnya dan dipanggil ‘pecundang’. Perhatian Se Gyul dan yang lainnya teralihkan ke berita di televisi.
Tepat saat itu Han Gyul sampai di rumah. Han Gyul langsung mendapatkan serangan pertanyaan dari Hye Gyul, “Eonni, pecundang itu apa?”

Han Gyul : “Itu ketika teman sekelasmu membuatmu menangis dan mengganggumu sepanjang waktu.”

Hye Gyul bertanya lagi, “Kenapa mereka melakukan itu?”

“Itu karena....” Han Gyul tak bisa menjelaskan secara gamblang. Ia menoleh ke arah Doo Gyul meminta bantuan untuk menjelaskan. Tapi Doo Gyul menggelengkan kepala menolak menjelaskan, karena ia sendiri tak bisa menjelaskannya. Hye Gyul pun bertanya pada Bok Nyeo kenapa harus ada pecundang.
Bok Nyeo : “Karena manusia itu bodoh. Jika orang melihat orang lain yang lebih lemah atau berbeda dan mereka tidak mengakui kalau mereka berbeda dari yang lain, mereka berpikir yang lain salah sehingga mereka mengganggunya. Sebaliknya jika mereka melihat orang lain lebih kuat dari mereka bahkan jika orang lain itu salah, mereka hanya berpangku tangan dengan apa yang mereka lihat. Itu adalah pengecut dan itu sifat manusia yang tidak baik.”

Hye Gyul : “Mereka hanya berpangku tangan bahkan kalau itu perbuatan salah? Itu sangata aneh.”

Bok Nyeo membenarkan, ia beralih menatap Se Gyul. Se Gyul menunduk mengalihkan pandangan kembali ke buku tugasnya.
Doo Gyul bertanya pada Se Gyul, “Kau tidak diganggu temanmu kan? Sangat mudah untuk orang sepertimu diganggu orang lain.”
Telepon di rumah berdering Bok Nyeo yang menjawabnya, telepon dari Sang Chul. Sang Chul berterima kasih karena Bok Nyeo sudah menggantikannya datang ke pertemuan di sekolah Se Gyul. Bok Nyeo berkata kalau ada satu hal yang belum diselesaikan, Sang Chul harus menandatangani surat pernyataan. Sang Chul meminta Bok Nyeo mengantarkan surat itu ke hotel tempatnya menginap. Bok Nyeo mengerti. Sang Chul ingin Bok Nyeo juga membawakan pakaian ganti untuknya. Ia menginap di hotel Ilsung kamar 609. 

Setelah menutup telepon, ponsel Sang Chul berdering, telepon dari Song Hwa. Ia segera menjawabnya. Song Hwa bertanya dengan suara lirih, dimana Sang Chul.
Song Hwa mendatangi hotel tempat Sang Chul menginap. Ia menuju kamar Sang Chul. Di dalam lift ternyata ada Bok Nyeo. Bok Nyeo yang berdiri di belakang tahu kalau itu Song Hwa.

Bel kamar Sang Chul bunyi, ada yang datang. Hmm siapa dulu nih? Sang Chul membuka pintu dan dilihatnya Song Hwa berdiri dengan wajah muram.
Sang Chul menyuguhkan minuman untuk Song Hwa, ia hanya memiliki minuman seadannya. Ia tahu kalau Song Hwa tak suka kopi yang dicampur, ia akan mencari kopi jenis lain.
“Kau kecewa padaku kan?” ucap Song Hwa. Ia mengaku kalau tadi ia datang ke lokasi konstruksi tapi ia pergi karena tak tega melihat kondisi Sang Chul. “Memang benar kalau aku mengatakan pada mereka kalau aku dilecehkan. Aku meraka itu akan lebih baik kalau aku tetap bertahan disana. Aku bisa saja menjadi wanita yang jahat, tapi aku benci menjadi wanita yang lemah dan menyedihkan. Hanya istri yang akan menyusahkan suaminya yang bicara tentang kesetiaan.”
Sang Chul mengerti dengan perasaan Song Hwa saat mengambil keputusan itu, ia tak peduli. Tapi Song Hwa merasa dirinya tak nyaman, ia ingin Sang Chul mengumpat atau menghina keputusannya. Ia sengaja datang kesini siap menerima hinaan dari Sang Chul sehingga ia benar-benar bisa mengakhiri semuanya.

Sang Chul berkata kalau Song Hwa sudah datang ke tempatnya untuk melihatnya, itu sudah cukup baginya. Ia tak peduli apa yang Song Hwa lakukan di depan orang lain selama Song Hwa menunjukan perasaan yang sebenarnya pada dirinya.
Song Hwa terlihat sedih campur bingung, “Apa yang membuat hubungan kita jadi seperti ini?” Sang Chul yang ikut merasakan kegalauan wanita itu berusaha menghibur dengan memeluk Song Hwa.
Di luar kamar, Bok Nyeo berdiri diam. Ia tahu kalau Song Hwa ada di dalam kamar itu. Ia tak segera menekan bel pintu kamar majikannya.
Song Hwa menanyakan hubungan Sang Chul dengan anak-anak. Sang Chul menjawab kalau semuanya semakin bertambah rumit. Ia menyakiti perasaan anak-anaknya lagi. “Itu bukan berarti aku meninggalkan mereka. Mereka yang meninggalkanku. Aku merasa berada jauh dari anak-anak adalah takdirku. Rasanya aku seperti akan menjadi seorang ayah yang tidak baik lagi.”

Song Hwa kemudian bertanya mengenai pembantu Sang Chul. Sang Chul yang heran dengan pertanyaan Song Hwa mengatakan kalau anak-anaknya menyukai pembantu itu. Sang Chul ingin tahu apa Manajer Choi bersikap baik pada Song Hwa. Song Hwa tak menjawab, ia malah pamitan akan pulang. Tapi Sang Chul meminta Song Hwa jangan pergi dulu.
Sang Chul berkata kalau ia tak bisa mengakhiri hubungannya dengan Song Hwa. Sudah saatnya bagi dirinya untuk membuat keputusan. “Kita bisa pergi sekarang tanpa harus mempedulikan apa yang orang lain pikirkan. Aku akan menyiapkan semua yang kita butuhkan. Mungkin sepertinya terlambat, tapi mau kah kau percaya padaku? Yang tersisa hanya kau,”

(ya ampun ayah apa kau ga punya tanggung jawab terhadap anak anakmu? Sadar dong ayah...>_<)

Song Hwa ingin mempercayai apa yang Sang Chul ucapkan. Tapi ia meminta waktu untuk memikirkannya. Sang Chul pun memberi kesempatan pada Song Hwa untuk berpikir lagi. Ia akan mengantar Song Hwa pulang.
Tapi ketika membuka pintu Sang Chul dan Song Hwa kaget bukan main melihat Bok Nyeo sudah berdiri di depan pintu. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Sang Chul. (pikun ya ayah, kan disuruh dirimu untuk datang)

Bok Nyeo : “Saya menunggu di luar karena Yoon Song Hwa ada di kamar.”

Sang Chul : “Sejak kapan?”

Bok Nyeo melihat jam tangannya, “Sudah 51 menit 45 detik.” Jawabnya.

Sang Chul heran kenapa Bok Nyeo tak mengetuk pintu. Bok Nyeo menyerhkan baju ganti yang Sang Chul minta, empat pasang kaos kaki dan empat pasang pakaian. Song Hwa kesal, ia berlalu dari sana dengan perasaan marah.

Sang Chul akan mengejar tapi Bok Nyeo berkata kalau Sang Chul harus menandatangani surat dari sekolah Se Gyul. Sang Chul tak peduli, ia berlari menyusul Song Hwa untuk menjelaskan semuanya.
Song Hwa tak ingin mendengarkan penjelasan apapun, “Anak-anakmu, istrimu, pembantumu dan perabotan di rumahmu. Kau bahkan tak berpikir untuk menggantinya sejak awal.” Song Hwa mencibir ucapan Sang Chul ketika di kamar, “’Aku akan menyiapkan semua yang kuta butuhkan?’ kau bahkan tak bisa mengganti pembantumu, bagaimana kau akan menyiapkan semuanya?” Song Hwa masuk ke dalam taksi dan pergi mengabaikan panggilan Sang Chul.
Bok Nyeo menyusul Sang Chul keluar gedung hotel untuk menyerahkan surat yang harus Sang Chul tanda tangani. Sang Chul yang kesal pun menandatanganinya.

Sang Chul : “Berapa lama kau bilang kau menunggu di luar?” Bok Nyeo mengulang jawabannya tadi, “51 menit 45 detik.”
Sang Chul benar-benar heran kenapa Bok Nyeo melakukan itu, “Menurutmu apa yang sedang terjadi?” Bok Nyeo berkata kalau ia tak memikirkan apapun. Sang Chul meninggikan suaranya, “Kalau kau tahu ada seorang wanita di kamarku, kau seharusnya menunggu di tempat lain atau meneleponku. Bukankah itu yang seharusnya kau lakukan? apa yang coba kau lakukan? kau bahkan bukan istriku, kenapa aku harus kebingungan seolah-olah aku berselingkuh? Maksudku, apa yang dia (Song Hwa) rasakan sekarang? coba tempatkan dirimu dalam posisinya.”
Bok Nyeo tak menanggapi ucapan panjang lebar majikannya, “Jika anda sudah selesai bicara. Saya akan kembali.” Bok Nyeo pun berlalu dari sana. Sang Chul benar-benar dibuat jengkel.
Tak jauh dari sana ada mobil yang melintas. Kakek Woo yang berada di mobil itu. Ia melihat Bok Nyeo pergi meninggalkan hotel. Ia heran kenapa Bok Nyeo ada di hotel. Ia juga melihat Sang Chul berdiri di depan hotel. Makin terkejutlah dirinya melihat Sang Chul ada di tempat itu bersama Bok Nyeo.

Pikiran negatifnya pun muncul. Ia menebak kalau Sang Chul dan Bok Nyeo menjalin hubungan dan ketemuan di hotel.

Bersambung ke part 2

7 comments:

  1. Akhir nya bisa juga bca sinopsis eps 4 nya.. Lama bgt nunggu sinopsis eps 4 drama ini,,
    Ditunggu kelanjutan sinops nya eonnie, fighting ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya maaf. Seminggu kemarin ada UTS jadi ga sempat nulis kelanjutannya.

      Delete
  2. Wahhhhh makin rumit aja, seruuuu

    ReplyDelete
  3. makasih sinopnya ya mbak.. hore ada park ji bin, mudah2an han gyul selamat dari rayuan pacarnya. kasihan gadis lugu yg lagi galau malah dimanfaatkan

    ReplyDelete
  4. D jepang ending agk krng sreg mnrut q...pngn ny mita jdi ibu ny ank2..mga ja ending korea ny bda mna jpng...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kalau saya suka sama endingnya tuh... Mita bisa menyatukan kembali keluarga yg sempat retak. Yg saya suka, mita masih memegang teguh caranya dalam bekerja. Ini benar2 sama seperti sikapnya LF di Queen Classroom sama Queen of Office.

      Delete
  5. dsni sinopny lbh komplit, sbnre ak ud bca ini dtmpt laen beberapa hari yg lalu, tp iseng bca punya mbak, eh kok beda, kyk e lbh rinci, makasih ya mbak, tak tggu crita slanjutnya...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...