Wednesday, 23 October 2013

Sinopsis Suspicious Housekeeper Episode 7 Part 2

Bok Nyeo berjalan seorang diri, ia mengingat masa lalunya.
Disebuah tempat dimana Bok Nyeo baru kehilangan keluarganya. “Kau membunuh mereka.” Ibu mertua Bok Nyeo yang terkejut menjatuhkan tas-nya. Bok Nyeo berlutut menangis.

“Kau membunuh mereka!” ibu mertuanya Bok Nyeo menatapnya dengan tatapan marah. “Kau membunuh suamimu dan cucuku. Tersenyumlahm sampai mulutmu itu kering!” Bentak ibu mertua. Bok Nyeo hanya bisa menangis sambil belutut.
Di toko daging Keluara Shin. Mi Ja sibuk memilah-milah daging dan memotongnya. Woo Jae melaporkan pada ayahnya kalau Bok Nyeo sudah punya suami dan anak tapi mereka sudah meninggal.
Paman Shin terkejut, “Kenapa apa mereka mengalami kecelakaan?”

Woo Jae : “Menurut yang Han Gyul katakan, wanita itu yang membunuh mereka. Tapi aku merasa kalau dia tidak melakukannya.”

Mi Ja ikutan menyahut, “Pasti ada jawabannya.” Brak... dia menancapkan pisaunya. “Perselingkuhan. Kenapa menurutmu dia memberi tahu orang lain kalau dia membunuh suaminya?”
Mi Ja mengacungkan pisau ke arah suaminya, “Dia menghukum suaminya karena berselingkuh.” Paman Shin tegang melihat pisau tajam yang mendekat ke arahnya. Ternyata Mi Ja menyuruh suaminya untuk mengasah pisau itu hahaha. Paman Shin menerima pisau itu dengan tangan gemetaran.

Mi Ja kemudian tersenyum pada Woo Jae, “Anakku sayang, ayo kita ke dalam!” Mi Ja merangkul putranya.

(Orang tuanya Woo Jae ga banget sih hahaha. Woo Jae kelihatannya santai-santai saja melihat ayahnya naksir Bok Nyeo. Sepertinya itu bukan masalah bagi keluarga Shin tapi tetap saja bikin Mi Ja ngamuk-ngamuk hahaha)
 Paman Shin mengasah pisau sambil melamun. Ia antara percaya dan tidak kalau Bok Nyeo membunuh suami dan anak sendiri. “Jadi itu sebabnya dia tidak tersenyum.” Gumam Paman Shin dan orang yang dipikirkannya pun datang ke tokonya.
Paman Shin berusaha bersikap seperti biasanya, ia tersenyum lebar menyambut pelanggannya. “Apa kabar, bukankah cuaca hari ini bagus?” Bok Nyeo berkata kalau cuaca hari ini berawan. Senyum Paman Shin menghilang karena salah menyebutkan cuaca hari ini. Ia berusaha mencari alasan lain untuk diobrolkan dengan Bok Nyeo. Ia melihat di depannya ada tape yang sedang memutar musik. “Ah musiknya bagus kan ya?” ucapnya sambil tersenyum. Bok Nyeo berkata kalai ini lagu tentang kerinduan pada anak yang telah tiada. Paman Shin kembali terdiam.

Kedatangan Bok Nyeo ke toko daging jelas untuk membeli daging. Ia menginginkan daging babi 200 gram untuk membuat kimchi rebus.
Di kafe Dunkin Donuts, Sang Chul memesan kopi dan makanan. Di tempat yang sama ternyata juga ada Na Young. Na Young berpura-pura tidak tahu tapi ia sengaja berjalan di depan Sang Chul untuk pura-pura terkejut bertemu Sang Chul di kafe itu. Sang Chul yang juga terkejut menanyakan apa yang Na Young lakukan disini. Na Young berkata kalau ia biasanya sarapan di kafe ini. Na Young pun duduk di meja yang sama dengan Sang Chul.
Na Young memperhatikan penampilan Sang Chul yang lusuh. “Kakak ipar, kenapa kau masih memakai jaket itu? cuaca sangat dingin.” Sang Chul beralasan ia meninggalkan jaketnya di rumah.  Na Young heran kenapa Sang Chul tak menyuruh Bok Nyeo untuk membawakan pakaian.
Na Young kemudian menanyakan apa Sang Chul belum berbaikan dengan anak-anak. Ia memberi tahu kalau Han Gyul tiba-tiba ingin menemuinya. Sang Chul terdiam, ia kemudian mengingat perkataan Han Gyul yang memintanya untuk membuktikan kalau ia menyayangi anak-anaknya. Na Young melihat jaket yang Sang Chul kenakan sobek. Ia yang prihatin tak mengomentarinya.
Na Young berada di toko pakaiannya memilih-milih jaket. Ia kemudian menemukan jaket yang warna dan modelnya sama seperti yang Bok Nyeo pakai.
Malam hari, Hye Gyul membuka pintu karena ada yang menekan bel rumah. “Bok Nyeo-nim?” Hye Gyul heran melihat sosok wanita yang mengenakan jaket dan topi yang sama seperti Bok Nyeo. 

“Bukan, aku bukan dia. Ini aku tantemu!” jelas Na Young. Ketiga kakak Hye Gyul tersenyum melihat tingkah polah tante mereka.
Hye Gyul heran apa tantenya meniru penampilan Bok Nyeo. Na Young berkata kalau Bok Nyeo bisa semuanya jadi ia pikir jika dirinya berpakaian seperti Bok Nyeo maka ia juga akan bisa melakukan semuanya. Doo Gyul menilai kalau pakaian itu boleh sama tapi yang namanya kepribadian jelas berbeda.
Bok Nyeo keluar dari dapur untuk melihat siapa yang datang. Ekspresi wajahnya menandakan kalau Bok Nyeo heran campur terkejut melihat Na Young mengenakan jaket dan topi seperti dirinya, “Anda datang.” Na Young akan menyapa balik tapi Bok Nyeo segera berbalik kembali meneruskan pekerjaannya.
Mereka mengitari meja makan. Bok Nyeo menyuguhkan minuman untuk Na Young. Na Young menanyakan untuk apa Han Gyul ingin bertemu dengannya. Han Gyul mengucapkan terima kasih karena waktu itu Na Young menolongnya di jembatan.

Na Young tersedak mendengar ucapan Han Gyul. Anak-anak terkejut tante mereka tiba-tiba tersedak, “Apa Tante baik-baik saja?” Na Young tertawa tak menyangka, “Ini pertama kalinya aku mendengar terima kasih darimu.”

Han Gyul berharap tantenya ini mau menyampaikan permohonan maafnya pada kakek. Ia menyadari kalau dirinya sudah bersikap kasar pada kakek. Na Young merasa kalau sekarang Han Gyul sudah lebih dewasa.
Na Young kemudian menanyakan apa yang anak-anak ini lakukan pada ayah mereka. Anak-anak diam. Na Young berkata kalau Sang Chul tampak seperti gelandangan. Doo Gyul terkejut, bagaimana ayahnya bisa berpakaian seperti gelandangan. Na Young berkata kalau ia melihat ayah anak-anak seperti sedang manjalani masa sulit. Ia juga melihat kalau wajah Sang Chul terlihat sangat kusut. Dia memakai jaket tipis di cuaca seperti ini bahkan jaketnya sudah belel. Anak-anak menunduk lesu mendengar kondisi ayah mereka yang tinggal di luar rumah.

Na Young memberikan jaket untuk Sang Chul. “Bagaimana kalau kalian berikan ini padanya dan menyuruhnya untuk kembali ke rumah?” Doo Gyul dan Se Gyul menatap Han Gyul yang harus mengambil keputusan sebagai anak tertua.
Mereka pun meminta pendapat Bok Nyeo tentang masalah ini, keputusan apa yang harus mereka ambil.

Bok Nyeo : “Itu.... ayah anda sendiri yang harus memutuskannya.”

Anak-anak tak mengerti apa maksudnya.
Bok Nyeo : “Berselingkuh itu seperti memakai narkoba atau judi yang membuat anda berada diluar pikiran anda. Jika anda sudah terjebak di dalamnya anda harus memutuskan dalam pikiran anda untuk tidak melakukannya lagi. Tapi jika anda masih ingin melakukannya, itu hal yang sangat berbahaya. Jadi meskipun itu menjadi harapan anda, tapi itu tergantung pada keinginan ayah anda. Ingin kembali ke rumah atau tidak.”
Doo Gyul dan Se Gyul di kamar, Doo Gyul menebak kalau pasti ada kisah panjang dibalik semuanya. Se Gyul tak mengerti siapa yang Hyung-nya maksud.

Doo Gyul berkata kalau ia sedang membicarakan Bok Nyeo, “Aku merasa dia (Bok Nyeo) punya kebencian yang mendalam terhadap perselingkuhan. Apa kau melihat matanya ketika dia bicara tentang perselingkuhan? begitu berapi-api.”
Han Gyul masuk ke kamar adiknya. Ia merasa kalau membuktikan rasa sayang itu pasti sulit dibuktikan oleh ayah mereka.

Doo Gyul membenarkan, ia pun menyamakan pembuktian rasa sayang itu dengan pelajaran matematika. “Aku sendiri benci yang namanya pembuktian matematika. Bagaimana bisa caranya membuktikan cinta? Apa ada jawabannya untuk hal itu?”
Bok Nyeo keluar dari kamar Hye Gyul usai menidurkan gadis kecil itu. Ketiga kakak Hye Gyul sudah menunggunya di luar kamar. Han Gyul menyampaikan kalau ia memiliki permintaan pada Bok Nyeo. “Bisakah kau mencari tahu ayah bersedia atau tidak untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita itu?”

Bok Nyeo minta maaf ia tak bisa melakukan itu. Doo Gyul heran bukankah Bok Nyeo akan melakukan semua yang diperintahkan.

Bok Nyeo : “Seseorang tidak bisa melihat perasaan mereka sendiri. Jadi, saya tidak bisa mengetahui bagaimana sebenarnya perasaannya pada wanita itu.”
Han Gyul pun menyuruh Bok Nyeo untuk menyampaikan pesan pada ayahnya, “Katakan pada ayah untuk kembali ke rumah.”

Bok Nyeo : “Jadi yang harus saya katakan adalah kalian ingin ayah kalian kembali ke rumah?”

Han Gyul : “Tapi ada satu syaratnya. Jika ayah mengakhiri hubungannya dengan wanita itu, ayah bisa kembali ke rumah.”

Bok Nyeo mengerti ia akan melaksanakan perintah Han Gyul.
Di perusahaan Konstruksi JK. Sang Chul yang kebetulan di kantor pusat tanpa sengaja melihat Song Hwa bersama Manajer Choi. Ia mendengar keduanya janjian makan malam bersama di rumah Song Hwa.
Tak lama setelah Song Hwa pergi, Manajer Kim menghampiri Manajer Choi. Sang Chul yang akan pergi pun mendengarkan obrolan mereka tentang Song Hwa.

“Manajer apa kau berencana untuk menikah dengan Yoon Song Hwa?” tanya Manajer Kim. 

“Memangnya kenapa?” Manajer Choi balik bertanya.

Manajer Kim : “Aku sudah menebaknya. Aku merasa kau benar-benar menyukainya. Hampir semua orang tahu kalau dia dipermainkan oleh Manajer Eun (Sang Chul).”

Manajer Choi : “Dia itu seperti piala yang memperlihatkan kalau aku menang melawan Eun Sang Chul.”

Sang Chul geram mendengar hal itu. Tangannya mengepal mendengar bahwa Song Hwa hanya dianggap sebagai piala bergilir oleh Manajer Choi.

Ponsel Manajer Choi bunyi, ia menerima telepon dari atasannya. Ketika Manajer Choi akan pergi sambil menelepon, Sang Chul mencegatnya. Manajer Choi mematikan teleponnya.
Manajer Choi mempertanyakan kenapa Sang Chul ada di kantor pusat. Sang Chul tak menjawab ia malah balik bertanya apa yang tadi Manajer Choi katakan. Manajer Choi tak mengerti kemana arah pembicaraan Sang Chul.

Sang Chul : “Apa Yoon Song Hwa seperti mainan buatmu? Sebuah piala?”

Manajer Choi tertawa. Sang Chul yang menahan emosi mengatakan kalau Yoon Song Hwa bukan wanita yang harus diperlakukan seperti itu. Hidup Song Hwa sudah berantakan karena jatuh cinta dengan pria beristri seperti dirinya. Dia bukan mainan murahan yang bisa Manajer Choi permainkan seperti itu.
“Kalau kau bisa melakukannya kenapa aku tak bisa?” sahut Manajer Choi menilai kalau ia pun bisa mempermainkan Song Hwa seperti Sang Chul.

Sang Chul meninggikan suaranya, ia berkata jujur kalau memiliki perasaan pada Song Hwa sejak awal bahkan sampai sekarang.

“Oh jadi cinta pertamamu?” sahut Manajer Choi cuek. Ia akan pergi tapi Sang Chul menarik kerah bajunya.

Sang Chul marah, “Kalau kau ingin mempermainkannya langkahi dulu aku. Jangan mempermainkan hati wanita yang lemah.”
Manajer Choi yang juga emosi mendorong Sang Chul hingga terjatuh membentur dinding. Ia yang marah berlalu dari sana malas berurusan dengan Sang Chul. Akibat terjatuh itu tangan Sang Chul lecet dan mengeluarkan darah.
Sang Chul kembali ke lokasi konstruksi. Ia menghubungi Song Hwa tapi ponsel Song Hwa tak aktif. Sang Chul menunduk menarik nafas panjang.
Ketika Sang Chul kembali mengangkat wajahnya ia terkejut begitu melihat sosok Bok Nyeo sudah berdiri di depannya. Bok Nyeo yang melihat luka di tangan Sang Chul meminta maaf dan meraih tangan Sang Chul dan mengobati luka itu. sang chul berterima kasih. Bok Nyeo mengambil kotak obat di tas besarnya. Ia membersihkan darah dan mengoleskan antiseptik di atas luka lecet Sang Chul. 
Sambil lukanya diobati, Sang Chul menanyakan apa yang Bok Nyeo lakukan disini. Bok Nyeo berkata kalau ada sesuatu yang ingin anak-anak sampaikan pada Sang Chul lewat dirinya. Sang Chul tanya tentang apa itu.
Belum sempat Bok Nyeo mengatakannya, Na Young juga datang ke tempat itu. “Kakak ipar!” panggilnya. Sang Chul yang terkejut menarik tangannya yang tadi diolesi obat oleh Bok Nyeo. Na Young senang melihat Bok Nyeo juga ada disana, ia akan menghampiri keduanya. Tapi dasar sial, Na Young malah kesandung wakakaka.
Ketiganya berada di kafe, Na Young menasehati pada kakak iparnya bahwa sebagai seorang pria, Sang Chul harus memiliki yang namanya keberanian untuk melakukan sesuatu. Lebih baik pura-pura saja tidak terjadi apa-apa dan pulanglah ke rumah. Ia sudah bilang pada anak-anak kalau Sang Chul sedang mengalami masa sulit. Anak-anak akan membolehkan Sang Chul kembali ke rumah. Karena yang namanya sebuah keluarga harus tetap bersatu apapun yang terjadi.
Ucapan panjang lebar Na Young, Sang Chul renungkan, tapi ia malah meminta pendapat Bok Nyeo. “Aku tak tahu bagaimana membuktikan kalau aku menyayangi anak-anak dan aku bahkan tak yakin apa anak-anak akan membolehkan aku kembali ke rumah.”

“Anak-anak jelas mau tinggal bersamamu!” sahut Na Young.

“Dan aku masih belum bisa melupakannya!” sambung Sang Chul mengungkapkan kalau ia belum bisa melupakan Song Hwa. Na Young terdiam terkejut. Sang Chul mengatakan kalau ia menyadarinya hari ini bahwa ia masih memiliki perasaan pada Song Hwa.

Na Young menarik nafas, ia tak menyangka kalau kakak iparnya masih belum melupakan wanita itu. Ia pun permisi, ia beralasan kalau dirinya tak bisa meninggalkan tokonya dalam waktu yang lama. 
Sang Chul menanyakan apa yang ingin Bok Nyeo katakan padanya. Bok Nyeo menyampaikan kalau Sang Chul harus kembali ke rumah. Tapi ada satu syaratnya, “Jika anda mengakhiri hubungan dengan wanita itu, anda bisa kembali ke rumah. Itu yang anak-anak ingin saya katakan pada anda. Apa yang ingin anda katakan pada anak-anak? ‘Aku tak bisa mengakhiri hubungan dengan wanita itu. Aku menyadarinya hari ini kalau aku masih memiliki perasaan padanya. Aku tak bisa melupakannya’ Apa itu yang anda ingin saya katakan pada anak-anak?”

Sang Chul melarang Bok Nyeo mengatakan itu. Bok Nyeo tanya lalu apa yang harus ia katakan pada anak-anak. Sang Chul melarang Bok Nyeo mengatakan apapun pada anak-anak. “Aku sangat menyedihkan bukan?” keluh Sang Chul.

Bok Nyeo : “Saya merasa anda... sangat menyedihkan.”

Ucapan Bok Nyeo benar-benar seperti sebuah tusukan tajam bagi Sang Chul. Ia tak bisa berkata-kata. 
Di rumah, anak-anak bertanya pada Bok Nyeo yang sedang menyetrika, apa yang ayahnya katakan setelah Bok Nyeo mengatakan hal itu. Bok Nyeo menjawab seperti perintah Sang Chul, “Dia bilang jangan mengatakan apa-apa pada anak-anak untuk saat ini.”

Anak-anak tak mengerti apa maksudnya. Bok Nyeo tak mengatakan apapun. Karena menyetrikanya selesai ia permisi akan membersihkan kamar mandi.
Se Gyul penasaran, kenapa ayahnya mengatakan jangan mengatakan apapun. Apa ayah masih bertemu wanita itu. Doo Gyul menilai itu tidak mungkin. Han Gyul yang juga tak mengerti hanya bisa menarik nafas panjang.
Di perusahaan Kakek, ia menerima laporan dari sekretarisnya. Ia ingin tahu karena siapa Sang Chul diturunkan dari jabatan. Sekretaris menyampakan kalau itu terjadi karena pembantu Sang Chul memberikan selebaran pada semua orang di kantor. Sekretaris menyerahkan selebaran itu pada kakek. 

Kakek terkejut membaca selebaran bertuliskan tentang perselingkuhan dan bunuh diri ditambah lagi di bagian bawah selebaran ada tulisan tangan putrinya, Sun Young.
Kakek segera menghubungi Bok Nyeo untuk mencari tahu lebih jelas, “Apa benar kalau putriku bunuh diri karena suaminya berselingkuh?” Bok Nyeo membenarkan. Kakek bertanya lagi, “Apa benar kalau kau yang menyebarkan selebaran pada orang-orang di kantornya Sang Chul?” Bok Nyeo kembali membenarkan. Kakek Heran, kenapa Bok Nyeo melakukan itu.
Bok Nyeo : “Dia berusaha membakar wasiat istrinya yang bunuh diri tapi ketahuan oleh Han Gyul dan Han Gyul tahu semuanya. Dia kemudian menyuruh Han Gyul jangan mengatakan apapun tentang itu pada kedua adiknya.”

Kakek : Apa?

Bok Nyeo : Saya belum selesai. Han Gyul kemudian sangat marah hingga dia mengatakan dia tak bisa memaafkannya. Dia menyuruh saya untuk memberi tahu semua orang tentang kejadian ini di kantor. Saya sudah selesai.”

Pet... Bok Nyeo pun menutup telepon.

Kakek menahan marah mengetahui semuanya. “Pria brengsek itu!” geram kakek.
Song Hwa yang tengah menyiapkan makan malam di rumah menerima telepon dari seseorang yang menginginkan bertemu dengannya. Song Hwa tampak terkejut mengetahui siapa yang meneleponnya, ia berjanji akan menemui si penelepon di kafe dekat apartemennya.
Song Hwa menunggu kedatangan seseorang yang meneleponnya tadi di kafe. Ia menoleh menatap tempat duduk yang pernah ia tempati ketika berbincang bersama Sun Young.
Ternyata orang yang menelepon Song Hwa dan meminta bertemu adalah Kakek Woo. kakek penasaran apa Song Hwa pernah bertemu dengan putrinya, Sun Young. Song Hwa berbohong menjawab kalau ia belum pernah bertemu dengan Sun Young.

Kakek mengatakan kalau Sun Young tadinya tinggal di Filipina tapi dia tiba-tiba kembali ke Korea sendirian dan ditemukan meninggal di sungai karena bunuh diri dan meninggalkan keempat anaknya. Pasti ada alasan kenapa Sun Young melakukan itu, apa praduganya ini benar.
Song Hwa tak mau disalahkan terhadap bunuh dirinya Sun Young, “Pertama putrinya, lalu pembantunya dan sekarang anda, setiap orang menyalahkan seolah-olah saya yang mendorong Sun Young masuk ke dalam sungai, memangnya apa kesalahan saya?”

Kakek : “Beraninya kau bertingkah tak tahu malu seperi itu? Merusak sebuah keluarga sama dengan membunuh seseorang.”

“Bukan aku yang merusak keluarganya!” tegas Song Hwa tak mau disalahkan. “Anda bicara seolah-olah saya menghancurkan keluarganya. Keluarga itu sudah bermasalah sejak awal. Manajer Eun kehilangan surat cerai yang sudah ia tanda tangani dan disetujui oleh istrinya. Bahkan jika itu bukan karena aku, mereka tetap akan bercerai.”
Song Hwa pun menunjukan buktinya. Ia menunjukan foto berisi surat cerai yang sudah ditandatangai oleh Sun Young. Kakek jelas terkejut mengetahui hal ini. Song Hwa mengaku kalau sekarang ia sudah punya tunangan. Hubungannya dengan Sang Chul benar-benar sudah selesai.

Ponsel Song Hwa berdering, telepon dari Sang Chul. Melihat Sang Chul menghubungi Song Hwa kakek menilai kalau Song Hwa sedang berbohong padanya. Song Hwa berkata kalau hubungannya dengan Sang Chul sudah selesai tapi tidak tahu bagi Sang Chul mungkin dia belum merasa mengakhiri hubungan dengannya.
Song Hwa menemui Sang Chul yang menunggu di depan rumahnya. Dengan sikap judesnya Song Hwa mencibir apa lagi mau Sang Chul sekarang. Sang Chul mengajak Song Hwa bicara di tempat lain. Song Hwa menolak, ia tak bisa pergi karena sebentar lagi tamunya akan segera datang.

Song Hwa akan masuk ke rumahnya tapi Sang Chul menahan tangannya. Sang Chul ingin Song Hwa berhenti menemui Manajer Choi, karena pria itu berbahaya bagi Song Hwa.
Song Hwa tersenyum sinis, “Apa dia sama berbahayanya dengan pria yang sudah menikah?”

Sang Chul mengatakan kalau Manajer Choi tak serius menjalin hubungan dengan Song Hwa, “Dia hanya mempermainkanmu agar bisa menginjak-injak aku.”

Song Hwa kembali mencibir, “Apa kau pria seperti ini? Apa kau pria yang suka membicarakan orang di belakang mereka?”

Sang Chul berkata kalau yang ia lakukan ini karena ia khawatir perasaan Song Hwa akan terluka karena Manajer Choi, ditambah lagi ia masih memiliki perasaan pada Song Hwa.

Song Hwa tak ingin mendengarnya lagi, dimana Manajer Eun yang ia sukai, dia yang plin plan tapi dia tidak pengecut. “Di mataku kau hanya pecundang yang menyedihkan.”

Song Hwa memperingatkan, ia melarang Sang Chul datang lagi ke rumahnya. Kalau Sang Chul memaksa datang ia akan melaporkan Sang Chul ke polisi dengan tuduhan sebagai penguntit. Song Hwa masuk ke rumahnya.
Tak jauh dari sana kakek memperhatikan keduanya dari dalam mobil bersama sekretarisnya. Melihat mereka berdua kakek yang emosi ingin melabraknya. Tapi sekretarisnya melarang, ia harap kakek tenang karena hal ini tidak akan membantu proyek yang sedang kakek kerjakan.
Kakek pergi ke sungai tempat Sun Young menainggal, disana ia menangis. “Dia memiliki surat cerai dengannya, kenapa kau....” Kakek mengusap air matanya. “Aku akan mendapatkan stempel-nya sekarang juga.” (Oh My stempel apa)
Sang Chul yang berjalan sendirian menerima telepon dari kakek.
Di rumah, Hye Gyul sangat menanti kedatangan ayahnya. Ia bertanya pada Han Gyul kapan ayahnya datang, ia sangat merindukan ayahnya. Han Gyul tak bisa menjawab kapan kepastian ayah mereka akan datang.
Han Gyul membuka tirai jendela berharap ayahnya benar-benar datang. Pucuk dicinta ulam pun tiba, orang yang ditunggu berdiri di depan rumah. “Ayah....?” sebut Han Gyul melihat ayahnya mondar-mandir di depan rumah.
Hye Gyul membuka pintu dan memeluk ayahnya ketika sang ayah masuk ke rumah. Ketiga putra-putri Sang Chul yang lain pun ikut senang melihat Sang Chul pulang ke rumah. Bok Nyeo menyapa majikannya yang datang.
Sang Chul ingin mengucapkan sesuatu tapi tiba-tiba Bok Nyeo menyela, “Sampah.” Sang Chul dan anak-anak kaget dan menoleh pada Bok Nyeo. Bok Nyeo mengatakan kalau hari ini ia harus membuang sampah. Bok Nyeo pun keluar membawa sampah.
Bok Nyeo tak segera membuang sampah dia berdiri diam menatap bulan yang terang bersinar. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah. Bok Nyeo menoleh melihat mobil itu.
Hye Gyul menunjukan kemahirannya membaca pada ayahnya. Doo Gyul bertanya apa ayahnya tidak bangga pada Hye Gyul yang sudah bisa membaca. Sang Chul berkata kalau ia merasa bangga karena Hye Gyul belajar membaca selama ia tak ada.

Se Gyul bertanya apa ayahnya senang kembali ke rumah. Sang Chul terdiam.

“Jadi hubungan dengan wanita itu, sudah berakhir kan?” Han Gyul ikut bertanya. Sang Chul akan menceritakan yang sebenarnya tapi tepat saat itu Bok Nyeo masuk dan menyampaikan kalau kakek anak-anak datang.
Kakek langsung bertolak pinggang begitu sampai di depan anak-anak dan Sang Chul. kakek meletakan di meja dengan keras selebaran yang pernah Bok Nyeo bagikan di kantor Sang Chul. Ia menyuruh Bok Nyeo membaca kembali itu.

Bok Nyeo pun mengucapkannya sama persis seperti ketika dia membagikan selebaran itu, “Manajer Eun Sang Chul berselingkuh dengan Yoon Song Hwa...........”
Anak-anak terkejut kakek sudah mengetahui hal itu. Kakek menyuruh Han Gyul untuk segera mencari cap tinta. Han Gyul tanya untuk apa. Kakek tak mau ada pertanyaan ketika ia memerintah, ia hanya ingin Han Gyul melaksakan perintahnya dan segera mencari apa yang ia suruh. Mendengar suara keras kakeknya Hye Gyul jadi takut. Han Gyul tak tahu dimana menyimpan cap tinda itu. Bok Nyeo menyahut kalau ia punya tinta cap. Ia pun mengambil tasnya dan mengeluarkan tinta cap dari dalam tasnya.

Kakek mengeluarkan secarik kertas dan menyuruh Sang Chul segera membubuhkan cap jari ke kertas itu. Hye Gyul mengambil kertas itu dan membacanya.
Penyerahan Hak Asuh

Saya, Eun Sang Chul mengakui kalau saya menyakiti perasaan anak-anak saya dan mengabaikan mereka. Mulai sekarang saya memberikan hak asuh saya pada kakek mereka, Woo Geum Chi.

Sang Chul merebut kertas itu dan membacanya sendiri. Kakek benar-benar kecewa pada Sang Chul, “Bahkan binatang pun tidak akan meninggalkan pasangan yang telah melahirkan anak-anaknya. Aku berjanji pada Sun Young kalau aku akan mengambil anak-anaknya.”

(jadi stempel cap yang dimaksud kakek di sungai tadi adalah ia harus mendapatkan stempel tanda persetujuan ia mengambil alih hak asuh anak-anak)

Anak-anak terkejut dengan keputusan kakek mereka yang akan mengambil hak asuh dari ayah mereka. Na Young tiba di rumah Sang Chul.
Kakek yang menangis marah menarik tubuh Sang Chul, “Kenapa kau masih hidup dan putriku meninggal?” Kakek mendorong Sang Chul hingga terjatuh dan mengenai foto Sun Young yang ikut terjatuh pula.
Kakek terus-menerus memaki Sang Chul. Bok Nyeo membersihkan pecahan kaca dari foto Sun Young yang terjatuh. Na Young berusaha menenangkan ayahnya. Tapi kakek meminta Na Young diam dan menyingkir. Na Young mengingatkan kalau anak-anak melihat pertengkaran ini dan hal ini tak baik buat mereka.
Kakek juga kecewa dengan cucu-cucunya, “Kalian semua sama saja. Tidakkah kalian merasa bersalah pada ibu kalian?” Han Gyul berharap kakek bisa memberikan ayahnya kesempatan untuk menebus semuanya. Tapi kakek tak mau, ia membentak menyuruh Han Gyul diam. “Apa kau memihaknya hanya karena dia ayahmu? Kenapa kau masih memanggil pria ini ayah? Sejak awal pria brengsek ini bukan ayahmu.” Anak-anak jadi tambah takut mendengar suara keras kakek mereka. 
Sang Chul berlutut memohon agar kakek tak bersikap kasar pada anak-anak, lebih baik bunuh saja ia yang bersalah ini. Kakek tambah marah, apa Sang Chul pikir ia takut melakukan itu. Tentu saja ia akan melakukannya. Kakek akan memukul dan menendang Sang Chul tapi Han Gyul berteriak meminta kakek berhenti. Biarkan mereka akan menyelesaikan masalah ini.
Doo Gyul yang cemas membenarkan, kalau kakek mempermasalahkan hak asuh itu hanya akan membuat masalah ini semakin runyam. Se Gyul menambahkan kalau ayah mereka sudah menyesali apa yang dia lakukan.
Kakek menilai anak-anak ini sama saja seperti Sang Chul. Kakek mengambil foto Sun Young yang tadi Bok Nyeo bersihkan dari pecahan kaca. Ia menangis memeluk foto putrinya, “Sun Young kau kasihan sekali. Lihat anak-anakmu, apa kau benar-benar mengabdikan dirimu pada anak-anak ini dan pindah hanya untuk pendidikan mereka?”
Sang Chul yang tak tahan lagi berdiri ia juga kecewa dengan tindakan ayah mertuanya yang membentak kasar pada anak-anak, “Anda tak seharusnya melakukan itu pada anak- anak. Apa anda pernah membeli pakaian atau pensil untuk anak-anak? Dan sekarang, apa anda mencoba untuk menjadi kakek mereka?” suara Sang Chul meninggi.
Kakek semakin marah dengan tingkah kurang ajar Sang Chul. Ia mengambil sesuatu untuk memukul Sang Chul.
“Bok Nyeo-nim tolong hentikan kakek!” teriak Hye Gyul ketakutan melihat amarah kakek yang memuncak.
Bok Nyeo menangkap tangan kakek sebelum kakek memukul Sang Chul. Kakek marah Bok Nyeo menghalanginya, “Apa kau pikir aku tak bisa memukul wanita?”
Sang Chul menyentuh pundak Bok Nyeo meminta agar Bok Nyeo menyingkir saja karena ini akan berbahaya bagi Bok Nyeo. Mengetahui ada orang di belakang dan menyentuhnya. Bok Nyeo meraih tangan Sang Chul dan membantingnya ke lantai.
Sang Chul yang tebanting sangat keras langsung tak sadarkan diri. “Ayah!” teriak anak-anak terkejut sekaligus mencemaskan ayah mereka yang sudah tak sadar. Mereka terkejut tak menyangka melihat Bok Nyeo yang membanting orang seperti atlit judo.
Bok Nyeo : “Saya sudah bilang jangan berdiri di belakang saya.”

Sang Chul pun dilarikan ke rumah sakit.
Ibu Eo Jin yang akan membuang sampah melihat Bok Nyeo keluar dari rumah bersiap akan pulang. Ia langsung menghampiri Bok Nyeo menanyakan apa yang terjadi, “Yang terluka itu ayahnya Han Gyul kan?” Bok Nyeo membenarkan.

Ibu Eo Jin : “Ya ampun, apa seseorang memukulnya?”

“Saya yang melakukannya!” jawab Bok Nyeo jujur tanpa rasa takut. Ibu Eo Jin menganga terkejut. Bok Nyeo pun berlalu dari sana.
Bok Nyeo menyusuri jalanan malam. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, ia tahu kalau ada seseorang yang mengikutinya. Ya, Tae Shik yang mengikuti Bok Nyeo. Pria misterius ini tampak menyeringai.
Bok Nyeo melanjutkan jalannya tanpa rasa takut dan tetap bersikap tenang. Tae Shik terus berjalan di belakang Bok Nyeo, mengikuti kemana Bok Nyeo melangkah.

Bok Nyeo masuk ke sebuah gedung yang masih belum jadi. Tae Shik mengikutinya.
Di dalam gedung yang kosong dan gelap itu Tae Shik celingukan mencari Bok Nyeo. Ia terus masuk ke ruangan yang lebih dalam.
Tapi tiba-tiba Bok Nyeo keluar dari persembunyian dan mendorong Tae Shik hingga ke tepi tembok. Bata tembok itu runtuh ke bawah. Bok Nyeo mencengkeram kuat kerah baju Tae Shik sambil menatapnya tajam.
Bok Nyeo mengancam dengan mendorong-dorong tubuh Tae Shik. Itu terlihat seperti Bok Nyeo akan menjatuhkan Tae Shik dari lantai atas gedung.
Bersambung ke episode 8

8 comments:

  1. Wuah makin seru aja ceritanya.. <3

    ReplyDelete
  2. wah....benar-benar....semakiin ,embuat penasaran....
    Makasiiih ya eonnie....gomawo....

    ReplyDelete
  3. Jujur aja mbak, waktu baca bok nyeo ngebanting majikannya, saya ketawa ngakak sampe diliatin orang. Apalagi bok nyeo dengan polos bilang ke tetangga bigos klo majikannya masuk rs karena perbuatannya.
    Semangat lanjutin sinop nya ya mbak...makin seru dan penuh misteri...

    ==yani==

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha..sama saya juga langsung ketawa waktu Bok Nyeo banting Sang Chul. Bok Nyeo Keren.

      Delete
  4. lanjut yah mb...eh...btw kok bok nyeo ga kenal ma tae shikgt ? kalo mmg tae shik itu keluarga suaminya ?

    san

    ReplyDelete
  5. akhirnya keluar jg, kl bca episode 1 it kyk e bok nyeo suru membunuh, itu suruh bunuh siapa ?
    masi penasaran ak mbak

    ReplyDelete
  6. Lanjut ♈å mba,makasih sinopnya..

    ReplyDelete
  7. Wah... Makasih mba Anis ^^
    -Yumenas-

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...