Sunday 8 April 2012

Sinopsis The Equator Man Episode 1

The Equator Man Episode 1
Matahari memancarkan cahaya kemerahan nan cantik. Seorang pria bernama Kim Sun-woo (Uhm Tae Woong) dengan tatapan tajam mengemudi mobil menuju suatu tempat. Ia memandang lurus ke depan.

Di tempat lain seorang pria bernama Lee Jang-il (Lee Joon Hyuk) berjalan dengan langkah gontai menemui penjual senjata ilegal. Ia membeli sebuah pistol dan kembali melanjutkan perjalanannya. Ia menyelipkan pistol di balik punggungnya.
Jang-il sampai di sebuah rumah besar nan indah. Rumah dengan pemandangan langsung menghadap matahari terbenam. Seorang pria, Jin No-sik tengah duduk menikmati pemandangan.

Jin No-sik menyadari kehadiran Jang-il, ia bersikap santai dan berkata kalau tempat ini sangat luar biasa indah, ia mencintai tempat ini.
“Apa kau mencuri tempat ini?” tanya Jang-il.
“Apa maksudmu mencuri? Tempat ini milikku.” Ucap Jin No-sik.
“Bukan milikmu lagi, Presdir Jin!” sanggah Jang-il.
“Apa aku belum pernah bilang? Aku akan mengambil semua yang pernah menjadi milikku. Aku akan mengembalikan semua seperti semula. Aku bukan orang yang menyerah begitu saja.” Jelas Jin No-sik.
Jang-il langsung mengarahkan pistolnya pada Presdir Jin, “Aku sudah membuat surat kematian untukmu dan untukku. Jadi kau tak perlu takut.”
Presdir Jin berbalik badan menatap Jang-il, “Kau sepertinya lupa bahwa keberhasilan yang kau miliki adalah karena pertolonganku.”
Jang-il berkata kalau ia tak tahu bahwa pertolongan Presdir Jin itu bergelimang darah. Presdir Jin tersenyum kalau sekarang sudah tahu apa Jang-il bisa menolaknya.
Jang-il memantapkan hatinya untuk melepas tembakan ke arah Presdir Jin, “Selamat tinggal Presdir Jin No-sik!”
“Jang-il...” tiba-tiba Kim Sun-woo datang. Jang-il sudah membulatkan tekadnya, “Kim Sun-woo kau datang tepat waktu. Kau akan menyaksikan pertunjukan yang bagus.”
“Jang-il hentikan!” pinta Sun-woo memohon.
Tangan Jang-il gemetaran, “Kalau saja Kim Sun-woo adalah anak dari Presdir Jin. Sungguh beruntung Presdir Jin. Aku sangat menyesalinya.” Air mata Jang-il tak terbendung lagi.
Presdir Jin : “Ternyata kau sama bodoh seperti ayahmu.”
Jang-il marah mendengarnya dan siap menembak, Kim Sun-woo langsung berdiri di depan Jang-il dan berusaha menghalangi niat Jang-il.
Dengan langkah gontai dan penuh amarah Jang-il menodongkan pistol ke arah Kim Sun-woo, tangannya gemetaran. Kim Sun-woo menatap tajam diam dan tenang namun penuh kesedihan. Raut wajah Jang-il berubah sendu melihat wajah Sun-woo yang tetap tenang menatapnya penuh harap.

15 tahun yang lalu.
Kim Sun-woo seorang pelajar sekolah menengah yang seperti kebanyakan anak muda lain bebas lepas wuah... dan sering terlibat perkelahian, hingga tembok di pinggir jalan pun menuliskan namanya ‘bunuh Kim Sun-woo’. Ia hanya tersenyum membaca tulisan itu.
Lain Kim Sun-woo lain halnya dengan Lee Jang-il seorang pemuda yang penuh prestasi. Keduanya belajar di kelas yang sama.
Kim Sun-woo kembali terlambat masuk kelas. Guru pun langsung membandingkan dirinya dengan Jang-il, “Kau jangan sampai menurunkan nilai rata-rata di kelas ini.” Tapi bukan Sun-woo kalau tak bersikap cuek.

Ujian Tengah Semester pun dimulai. Jang-il tanpa kesulitan mengerjakan soal-soal.
Tiba-tiba sekawanan rentenir masuk ke kelas mereka dan mencari Lee Jang-il. Jang-il diam saja. Guru menyuruh para rentenir itu untuk keluar tapi mereka mengancam kalau yang namanya Jang-il tak keluar bersama mereka, semua murid akan dalam kesulitan.
Jang-il menahan marah, ia mencengkeram pensil yang dipegangnya hingga patah menjadi 2 bagian. Sun-woo tercengang melihatnya.
Si rentenir bertanya pada Jang-il, apa Jang-il orang yang mereka cari. Baju Jang-il langsung dicengkeram paksa, mereka mencari ayah Jang-il. Jang-il meronta melepaskan diri. Tapi si rentenir tak melepasnya, “Sampai ayahmu membayar hutangnya kau harus ikut dengan kami.”
Jang-il langsung diseret keluar. Jang-il melepaskan diri membuat si rentenir marah dan menendang Jang-il hingga jatuh. Jang-il pun kembali diseret keluar. Sun-woo tak bisa membiarkan ini terjadi. Ia langsung menyusul mereka.
Jang-il akan dipukul tapi Sun-woo langsung menahan tangan si rentenir dan langsung memukulnya. Si rentenir bertanya siapa Sun-woo. Sun-woo mengatakan kalau ia teman Jang-il. “Jadi kau Kim Sun-woo yang terkenal itu?” Tanya si rentenir.
“Dia adalah siswa nomor 1 di sekolah ini biarkan dia menyelesaikan ujiannya.” Kata Sun-woo sambil melihat Jang-il.
Si rentenir akan melayangkan pukulan tapi dengan sigap Sun-woo bisa menahannya, “Kalau kalian mencari ayahnya kenapa kalian mengganggu anaknya?” Dan terjadilah perkelahian diantara mereka.
Jang-il mengepalkan tangannya, tapi ia tak berbuat apa-apa. Ia hanya kembali ke kelasnya. Ia berusaha menenangkan pikirannya dan melanjutkan mengerjakan soal ujian dengan cepat. Saking serius dan tegang ia sampai mematahkan pensil yang ia injak.
Sun-woo kembali ke kelas dengan sedikit luka di wajah, Jang-il langsung memberikan contekan pada Sun-woo sebagai balas jasa.
Kelas usai mereka pulang. Sun-woo langsung bertanya apa maksud Jang-il memberikan jawaban soal padanya. Jang-il berkata kalau ia berterima kasih atas bantuan Sun-woo tadi. Ia berjanji akan memberi contekan sampai UTS selesai. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
“Apa aku minta bayaran?” tanya Sun-woo.
“Kenapa kau mengikutiku keluar?” Jang-il balik bertanya.
“Apa aku harus duduk diam saja melihatmu dipukuli?”
Jang-il mengatakan kalau mereka akan kembali lagi dan ia membutuhkan bantuan Sun-woo. Sebagai bayarannya ia akan terus memberikan contekan jawaban pada Sun-woo. Sun-woo menghela nafas dan mengatakan kalau Jang-il hidup atau mati itu urusan Jang -l dan ia tak peduli dengan nilai pelajarannya.
Sun-woo menunjukan hasil UTS pada ayahnya dan ayahnya sangat senang putranya mendapat nilai yang memuaskan, “Kau selalu mencari keributan dan mengecewakan ayahmu tapi sekarang kau sudah sadar.”
Kim Kyung-pil (Ayah Sun-woo) langsung mencium pipi putranya dan membuat Sun-woo risih. Kemudian keduanya berbaring bersama, ayahnya berharap Sun-woo bisa masuk 20 besar di sekolahnya.
Sun-woo berkata kalau ketidakpintarannya itu menurun dari ayahnya, jadi ayahnya jangan terlalu banyak berharap. Tapi ayahnya berkata walaupun ia tak pintar di sekolah tapi ia cukup cerdas.
“Kalau begitu mungkin ibu yang tak pandai.” sahut Sun-woo.
“Ibumu sangat pintar jangan bicara begitu.” sambung Kyung-pil.
“Kalau kalian berdua pintar lalu aku anak siapa?” tanya Sun-woo.

Kyung-pil tak menjawab dan mengajak anaknya keluar makan. Sun-woo mengira ayahnya akan ke suatu tempat untuk mengambil sesuatu. Ayahnya tanya apa yang Sun-woo membutuhkan sesuatu nanti ia akan membelikan apa saja yang putranya inginkan. Sun-woo berkata kalau ia tak butuh apa-apa. Dan keduanya bersenda gurau penuh keceriaan.
Sun-woo dan ayahnya di dalam mobil truk. Sun-woo bertanya kali ini berapa lama ayahnya akan pergi. Kyung-pil menjawab 3 atau 4 hari. Sun-woo mengusulkan seharusnya pergi ke restouran dan memanggang daging. Ayahnya setuju dan akan mengajak putranya kesana akhir minggu ini.

Sun-woo melihat di jalan Jang-il dengan seorang pria. Ia menebak pria itu adalah ayah Jang-il. Kyung-pil tanya siapa. Sun-woo berkata kalau ada anak yang tak ia suka di kelasnya. Ayahnya mengingatkan jangan berkelahi dengan teman sekelas sudah banyak kerut di wajahnya gara-gara Sun-woo.

Sun-woo meminta ayahnya jangan mempedulikannya urus saja diri ayah sendiri. Ia menyarankan ayahnya segera periksa ke dokter. Kyung-pil meminta putranya tak perlu khawatir karena ia tak apa-apa.
“Lalu kenapa ayah selalu minum obat? Kalau ayah tak mau ke dokter aku juga tak mau sekolah.”
Kyung-pil mengalah ia akan segera ke dokter. Sun-woo mendesah karena ayahnya selalu saja mengatakan itu.
Kim kyung-pil mencoba menghubungi Presdir Jin No-sik dan yang mengangkat teleponnya adalah Sekertarisnya, Sek Cha.
Sek Cha melaporkan pada Presdir Jin kalau Kyung-pil menelepon. Kyung-pil sering menelepon dan mengatakan perlu bicara dengan Presdir Jin. Presdir Jin bersedia bicara dengan Kyung-pil di telepon.

Kyung-pil memohon ia harus bertemu dengan Presdir Jin tapi Presdir Jin menolak. Kyung-pil memaksa ia harus bertemu. Ia akan ke tempat Presdir jin. Presdir Jin meminta Kyung-pil mengatakannya di telepon saja.
Kyung-pil mengatakan kalau Presdir Jin memiliki seorang putra, Presdir Jin No-sik terkejut mendengarnya dan tak menjawab apa-apa.
Tiba-tiba istri Presdir Jin memanggilnya, ia meminta suaminya segera kembali karena para tamu ingin mendengar suaminya berpidato. Presdir Jin mengingatkan Kyung-pil jangan pernah menelepon lagi mengenai hal ini
Sun-woo makan di sebuah warung dan ia melihat Jang-il juga makan bersama ayahnya. Ayah Jang-il (Lee Young Bae) memberikan daging yang ada di mangkuk untuk anaknya. Jang-il meminta ayahnya makan yang banyak tapi ayahnya ingin gizi putranya tercukupi, “Gurumu bilang kau bisa masuk Universitas Korea benarkah? Aku akan berusaha untuk mencari uang supaya kau bisa kuliah di Seoul.”
Jang-il tak mau, ia lebih suka ke Universitas yang bisa memberinya beasiswa penuh karena mereka masih banyak hutang.
Tiba-tiba ada benda tajam yang menancap di meja makan Jang-il dan ayahnya. Ternyata itu si rentenir yang tadi siang. Ayah Jang-il mengajak rentenir itu bicara di luar.
Jang-il berteriak kalau ia akan membayar hutangnya nanti. Mendengar itu Rentenir itu kesal dan menyiramkan soju ke kepala Jang-il. Sun-woo makan sambil mendengarkan semuanya.
Rentenir memeriksa dompet ayah Jang-il dan ternyata ada uang di dalamnya. Ayah Jang-il memohon dompetnya dikembalikan karena uang itu akan ia gunakan untuk biaya sekolah anaknya. Jang-il meminta ayahnya jangan memohon seperti itu.
Rentenir berkata kalau ayah Jang-il tak pernah menanggapi perkataan mereka, jadi ia akan memberi ayah Jang-il pelajaran. Tangan ayah Jang-il dipegangi dan ditempelkan besi panas. Jang-il meronta dan berteriak ia akan membayar hutang ayahnya. Ia terus berteriak melihat ayahnya diperlakukan seperti itu.
Sun-woo pun tak tahan lagi melihatnya dan langsung menghantam para penjahat itu dengan benda keras.
Lalu terjadilah perkelahian diantara mereka di sebuah gudang. Jang-il keluar mencari mereka tapi ayahnya melarang. Jang-il menyuruh ayahnya ke rumah sakit untuk memeriksakan tangan.
Ayahnya tanya apa Jang-il mengenalnya. Jang-il mengatakan kalau dia teman sekelasnya. Ayahnya bilang Jang-il tak perlu ikut campur dan mengajak putranya pergi saja (lah kok? padahal Sun-woo sudah membantu)
Jang-il tak bisa membiarkan Sun-woo dikeroyok seperti itu. Ia berlari menuju tempat Sun-woo berkelahi dengan para rentenir.

Jang-il dipukuli disana sini tapi ia juga melawan. Sun-woo sudah terluka. Jang-il kalap dan menendang sekuat tenaga. Sun-woo cemas dan menahan Jang-il, “Kau akan membunuhnya!”
“Mereka pantas mati.” teriak Jang-il.
Dan gerombolan mereka pun datang lebih banyak lagi. Sun-woo dan Jang-il lari menghindari kejaran mereka. Keduanya lari sekuat tenaga.
Keduanya tertawa lepas di bawah menara. Sun-woo tanya apa Jang-il tak terluka karena tadi Jang-il dipukul sangat keras. Jang-il berkata kalau ia baik-baik saja.
Sun-woo ingin tahu kenapa ayah Jang-il meminjam uang pada rentenir, apa Jang-il tak tahu betapa bahayanya mereka. Jang-il tak menjawab. Sun-woo mengerti dan minta maaf.
Tapi kemudian Jang-il mulai bercerita, “Katika ibuku meninggal dua tahun yang lalu ayahku tak bisa menerimanya dia mabuk dan berjudi setiap hari itu sebabnya dia berhutang. Kau lihat kan tadi bahwa orang yang tak memiliki harta dan kekuasaan selalu disiksa.”
Sun-woo menilai Jang-il hanya kurang beruntung sudah bertemu dan berurusan dengan mereka. Jang-il menolak pendapat Sun-woo, “Ini masalah kekusaan. Kalau kau tak memiliki kekuasaan kau akan ditindas. Aku akan menjadi jaksa. Apa yang mereka lakukan pada ayahku, akan kubalas pada mereka.”
Sun-woo meminta Jang-il jangan memikirkan balas dendam. Jang-il tetap bersikeras kalau ia akan membalas ini. Ia tak mau hidup seperti ini.
Sun-woo : “Apa kau pikir kau bisa merubah ini hanya karena kau tak setuju dengan caranya? Kau harus belajar bersabar.”
Jang-il : “Ternyata kau tak sepenuhnya bodoh.”
Sun-woo : “Kalau kau lebih sabar kau akan berubah, kau akan lebih kuat kau lebih bisa memaafkan.”
Jang-il bosan mendengar ocehan Sun-woo tapi ia tak akan melupakan kejadian hari ini. “Aku akan menjadi kaya dan berkuasa.”
Sun-woo : “Apa kau tahu apa yang kulihat tadi mengubah pandanganku terhadap dirimu. Kau tak membenci ayahmu, kau tak putus asa dan tetap rajin.”
Jang-il meminta Sun-woo diam, ocehan Sun-woo tak akan bisa menghiburnya. Sun-woo minta maaf kalau ia sudah menyinggung Jang-il. Jang-il berjalan pergi dan meminta Sun-woo jangan bicara lagi. Tapi tiba-tiba Jang-il langsung ambruk, pingsan.
Jang-il membuka mata dan ia menyadari kalau dirinya sudah berada di rumah sakit. Ia melihat Sun-woo terlelap di sebelah menjaganya. Jang-il membangunkan Sun-woo. Sun-woo langsung terbangun kaget dan mengkhawatirkan Jang-il. Jang-il hanya tersenyum melihat Sun-woo mengkhawatirkannya.

Jang-il dan Sun-woo kembali masuk sekolah. Sun-woo tanya apa tangan ayah Jang-il tak apa-apa. Jang-il mengangguk pelan dan tersenyum.
Tiba-tiba guru masuk dan mencari Kim Sun-woo. Guru marah dan menyuruh Sun-woo keluar. Guru berkata bahwa akibat pemukulan dengan orang kemarin Sun-woo terancam akan dipenjara.
Sun-woo dipanggil ke ruangan kepala sekolah, Jang-il mengintip dari luar ruangan.
“Apa kau tak mau mengatakan siapa yang membantumu berkelahi?”
“Hanya aku sendiri.” jawab Sun-woo.
Dan Kim Sun-woo pun di skors. Jang-il duduk menyendiri karena dirinya Sun-woo di skors dari sekolah.
Jang-il melihat Ayah Sun-woo berlutut memohon agar putranya jangan di skors. Sun-woo datang ia tak bisa membiarkan ayahnya berlutut seperti itu.
Kim Kyung-pil meminta putranya kembali ke kelas saja masalah ini biar ia yang urus. Sun-woo mengatakan walaupun ayahnya berlutut itu tak akan mengubah keadaan. Kyung-pil bersikeras ia akan terus memohon.
Sun-woo dan ayahnya keluar dari gedung sekolah. Ayahnya minta maaf ia sudah berjanji akan membesarkan Sun-woo dengan baik dan akan menjadikan putranya manusia yang terhormat dan berguna.
Ayahnya bertanya apa benar Sun-woo memukul orang itu karena anaknya bukan tipe orang yang langsung main pukul saja. Apa benar Sun-woo yang melakukan. Sun-woo diam tak menjawab.
Kyung-pil mendesah sedih, “Maaf, aku bukan ayah yang baik.” Sun-woo meminta ayahnya jangan mengatakan itu. Ini semua salahnya. Tapi ini bukan akhir hidupnya. Ia ingin ayahnya percaya padanya.
“Apa kau lapar?” tanya ayahnya. Kyung-pil mengajak putranya pulang dan makan. Mata Sun-woo berkaca-kaca.
Dari lantai atas di kelasnya, Jang-il melihat ayah dan anak ini pergi meninggalkan sekolah.

Esoknya terpasang di papan pengumuman mengenai di skors-nya Kim Sun-woo.
‘Siswa senior Kim Sun-woo di skors selama 7 hari karena perkelahian.’
Jang-il membaca pengumuman itu dan segera menemui Sun-woo di ruang BP (sepertinya). Sun-woo tengah melakukan push up di atas meja. Ia terkejut melihat kedatangan Jang-il yang tiba-tiba.
“Kenapa kau tak mengatakan yang sebenarnya pada wali kelas kita?” Tanya Jang-il.
“Kebenaran tentang apa?” Sun-woo balik bertanya.
“Bahwa kau berkelahi karena hutang ayahku, dan bahwa aku juga ada di sana.” ucap Jang-il.
“Bukan kau yang berkelahi dengan mereka.” Seru Sun-woo
“Apa kau akan berlagak sebagai seorang pahlawan dan menerima semua hukuman? Aku tak mau berhutang budi padamu.”
Sun-woo mengatakan kalau Jang-il tak berhutang apapun padanya jadi pergi saja. Jang-il meminta Sun-woo berhenti menjadi kambing hitam, “Jangan pikir aku akan berterima kasih padamu”
Sun-woo : “Tentu saja. Apa kau tersinggung karena takut aku memandang rendah dirimu? Lee Jang-il sampai saat ini kau tak pernah menolong siapapun dan tak menerima pertolongan siapapun kan?”
Jang-il : “Memangnya kenapa?”
Sun-woo : “Aku tak tahu kalau kau begitu kesepian. Apa kau mau menjadi temanku?”
Jang-il : “Dengan orang seperti kau?”
Sun-woo tertawa, “Kau harus segera masuk kelas kalau kau ingin jadi jaksa dan balas dendam pada mereka.”
Emosi Jang-il tak tertahankan lagi dan langsung melayangkan pukulan ke wajah Sun-woo. Sun-woo tertawa dan memuji pukulan Jang-il semakin baik. (Jika ada yang membaca tulisan ini selain di www.anishuchie.blogspot.com maka tulisan ini sudah dicopas tanpa sepengetahuan penulis)

Sun-woo menyuruh Jang-il masuk kelas. Jang-il berteriak marah dan langsung mendorong Sun-woo hingga keduanya jatuh. Jang-il akan memukul lagi tapi Sun-woo kali ini menahannya dan giliran Sun-woo yang akan memukul Jang-il.
Tapi tepat saat itu guru mereka datang. Keduanya berdiri. Guru bertanya kenapa Jang-il ada disana. Jang-il mengatakan bukankah gurunya takut nilai rata-rata kelas akan turun, ia datang untuk mengatakan pada Sun-woo kalau ia bersedia menjadi guru untuk Sun-woo.

“Tapi Sun-woo malah menolak dan mengajakmu berkelahi?” tebak si guru. Plok... kepala Sun-woo dipukul dengan tongkat. Sun-woo melirik ke arah Jang-il, ia tak habis pikir Jang-il mengatakan itu di depan wali kelas mereka.
Jang-il benar-benar menjadi guru untuk Sun-woo. Tapi Sun-woo seolah cuek saja dan mengajak Jang-il pulang. Jang-il meminta Sun-woo menyelesaikan soal yang ia tulis di papan tulis. Sun-woo bersikeras mengajak Jang-il pulang karena ia lapar.
“Aku bilang jawab dulu soalnya!” bentak Jang-il. Ia memberikan kapur pada Sun-woo tapi Sun-woo membanting kapurnya, “Tak perlu lagi berakting wali kelas sudah pulang.”
Jang-il : “Aku akan membuatmu belajar sampai nilaimu membaik.”
“Lakukan apa yang kau inginkan.” Sun-woo tak mempedulikannya.
Jang-il kembali mengatakan kalau ia akan membantu Sun-woo belajar. “Bukan karena aku merasa berkewajiban. Kau tak perlu percaya, tapi itu benar. Sampai bertemu besok.”
Akhirnya Sun-woo mengerjakan soal yang dibuat Jang-il. Ternyata Sun-woo bisa mengerjakannya dengan baik. Jang-il tak percaya, apa Sun-woo mengintip jawaban.
Sun-woo kesal dan akan memukul Jang-il pelan tapi Jang-il langsung menahan pukulan. Sun-woo senang gerakan reflek Jang-il sudah baik.
Sekarang giliran Sun-woo mengajari Jang-il teknik berkelahi. Wehehe... dan keduanya menjadi semakin akrab.
Presdir Jin No-sik berdiri di depan rumahnya yang tengah diperbaiki. Sek Cha melaporkan kalau pekerjaan ini ia perkirakan selesai minggu depan.

Presdir Jin mengajak sekertarisnya pergi. Tapi Ayah Jang-il menyapanya. Sek Cha menyuruh ayah Jang-il meneruskan pekerjaan. Ayah Jang-il mengerti dan segera pergi. Presdir Jin memperhatikan luka di lengan ayah Jang-il dan bertanya pada Sek Cha apa dia terluka. Sek Cha menjawab kalau ayah Jang-il mengalami luka kecil, “Dia bilang anaknya juara kelas dia tanya apa ada beasiswa untuk itu, dia bertanya seperti itu setiap hari. Aku pikir kita pecat saja dia setelah proyek ini selesai.”
Presdir Jin bertemu dengan rekan kerjanya, Presdir Han beserta keluarga. Han Ji-won putri tertua Tuan Han tak suka dengan pertemuan ini.

Presdir Han berfikir kalau ia dan keluarganya akan makan malam bersama keluarga Presidr Jin. Presdir Jin berkata itu lain kali saja. Presdir Jin tak nyaman membicarakan pekerjaan tapi ada anggota keluarga rekan bisnisnya dan mencari tempat lain untuk bicara berdua dengan Tuan Han.
Keduanya bicara di ruangan yang sepi. Presdir Han bertanya apa benar Presdir Jin akan membeli saham untuk merendahkan kekuasaan pemegang saham yang lain.
Han Ji-won menguping pembicaraan ayahnya dengan Presdir Jin.
Presdir Jin : Aku dengar kau membiayai sekolah putrimu dengan uang perusahaan. Uang yang disediakan oleh sekolah.”
Presdir Han : “Aku tak pernah mengambil uang perusahaan.”
Presdir Jin : “Kita akan tahu ketika rapat pemegang saham.”
Han Ji-won menahan amarah mendengar ayahnya dituduh yang bukan-bukan.

Sun-woo lari-lari menghindari kejaran orang, ia masuk ke sebuah mobil. Han Ji-won keluar dengan kekesalannya. Ia menatap marah mobil Presdir Jin. Ia mengambil batu besar dan memukulkannya pada kaca mobil Presdir Jin. Ternyata Sun-woo bersembunyi di mobil yang kacanya tengah dipukul Ji-won.
Kaca itu pecah dan berlubang, Ji-won terkejut di dalam mobil ada yang melihat perbuatannya. Keduanya bertatapan melalui lubang kaca yang pecah.

Ada yang datang. Sun-woo segera bersembunyi, itu teman sekolah Sun-woo. Mereka bertanya pada Ji-won apa melihat anak laki-laki lewat. Ji-won melirik ke arah mobil, Sun-woo memberi tanda agar Ji-won tak mengatakan keberadaannya. Ji-won menunjukan ke lain arah. Mereka langsung pergi ke arah yang ditunjukan Ji-won.

Sun-woo keluar dari mobil, Ji-won menatap cemas karena Sun-woo melihat apa yang ia lakukan. Sun-woo mengambil batu yang dibawa Ji-won dan melanjutkan apa yang dilakukan Ji-won tadi yaitu memecahkan kaca mobil. Ji won terkejut melihat apa yang dilakukan Sun-woo.

Sun-woo berterima kasih karena Ji-won tadi menolongnya, Sun-woo langsung pergi dari sana. Baru beberapa langkah ia berjalan Sun-woo kembali berbalik untuk menatap Ji-won. Tapi hanya sebentar, ia kemudian melanjutkan jalannya lagi.
Presdir Jin dan Sek Cha datang, Ji-won langsung sembunyi. Keduanya terkejut melihat mobil Presdir Jin rusak. Ji-won mengintip dan tersenyum puas.

Sun-woo berbaring di lantai kamar, ia tersenyum mengingat pertemuannya dengan Ji-woon tadi. “Gadis aneh, aku seharusnya tanya siapa namanya.” Batin Sun-woo.
Ada kehebohoan di sekolah, anak-anak banyak yang membicarakan ini. Ada gadis cantik yang baru pindah ke sekolah mereka. Jang-il mendengar apa yang diributkan teman-temannya tapi setelah itu ia meneruskan memeriksa hasil latihan Sun-woo. Hukuman skors Sun-woo pun sudah berakhir, Sun-woo juga duduk diam tak mempedulikan kehebohan itu.

Jang-il akan keluar ia membawa payungnya dan mengatakan kalau soal yang Sun-woo kerjakan hanya salah satu. Jang-il berjalan dibawah guyuran hujan deras menggunakan payung yang dibawanya, langkahnya pelan.
Tiba-tiba ada seorang gadis yang masuk ke bawah payungnya, Jang-il terkejut melihatnya. Gadis itu bernama Choi Soo-mi. Soo-mi minta maaf, ia tak membawa payung dan bertanya bolehkah ia ikut menumpang. Jang-il mengijinkannya.
Jang-il memperhatikan gadis cantik yang ada didepannya ini, Soo-mi Juga menatap jang il. Keduanya berjalan di bawah guyuran hujan deras.
Tiba-tiba Soo-mi lari dan melindungi tubuhnya hanya menggunakan tas yang ia bawa. Jang-il mengejarnya dan kembali memayungi. Jang-il beralasan kalau ia akan pergi ke tempat yang sama. Dan kembali mata keduanya bertatapan. Soo-mi tersenyum.
Melihat kemampuan Jang-il, Sun-woo berencana membiayai kuliah kawannya ini. Sun-woo memuji dirinya pandai mencari uang. Jang-il menilai Sun-woo sudah gila. Sun-woo tertawa mendengarnya.
Sun-woo : “Kau pergilah ke sekolah yang besar dan bergaulah dengan orang-orang penting, dengan begitu kau akan tumbuh juga. Aku akan membuat mimpimu menjadi kenyataan.”
Jang-il ingin tahu apa alasan Sun-woo melakukan. Sun-woo berkata ini semua karena ia teman Jang-il satu-satunya.
Jang-il melihat Soo-mi di ruangan lukis dan tengah melukis, “Kau sungguh pandai melukis.” ujar Jang-il melihat lukisan yang dibuat Soo-mi. Soo-mi terkejut Jang-il menemuinya disana, keduanya tersenyum.
Jang-il tanya kapan Soo-mi pindah ke sekolahnya. Soo-mi menjawab senin. (Oh berarti ketika teman-temannya meributkan anak baru itu) Jang-il memuji lukisan yang dibuat Soo-mi.

Soo-mi tanya apa Hye Mi Ri jauh dari sini. Jang-il menjawab kalau tempat itu tidak jauh. Jang-il tanya kenapa Soo-mi menanyakan itu. Soo-mi mengatakan kalau ada yang memberitahunya pemandangan disana bagus. Jang-il menjelaskan Soo-mi bisa ke sana menggunakan bis dan memerlukan waktu 1 jam.
Soo-mi memberikan sesuatu untuk Jang-il, sebuah lukisan. Malu-malu Soo-mi memberikannya pada Jang-il. Jang-il membuka lukisan yang dibuat Soo-mi untuknya, sebuah lukisan dirinya.
Jang-il kembali menemui Soo-mi di ruang lukis, ia berkata kalau ia akan mengajak Soo-mi ke Hye Mi Ri sebagai ganti hadiah yang ia terima. Soo-mi tersenyum senang. Keduanya janjian bertemu pada hari minggu nanti.

Sun-woo dan Jang-il pulang sekolah bersama. Jang-il terus tersenyum dan membuat Sun-woo merasa heran. Sun-woo pun bertanya apa ada yang istimewa hingga membuat Jang-il terus tersenyum. Jang-il tak mengatakannya, ia akan menceritakan itu nanti.
Choi Kwang-chun memasang papan di depan rumahnya, sepertinya ia baru saja pindahan. Ia seorang peramal. Sun-woo mengenali Kwang-chun dan langsung menyapanya, “Bukankah kau Paman Kwang-chun? Ini aku, Kim Sun-woo.”

Choi Kwang-chun tak menyangka bisa betemu dengan Sun-woo dan bertanya apa Sun-woo tinggal di sekitar sini. Sun-woo menjawab ya dan bertanya apa Paman Kwang-chun juga tinggal disini.
Jang-il berdiri menjauh, Paman Kwang-chun bertanya apa itu teman Sun-woo. Sun-woo menjawab ya.

Paman Kwang-chul melirik Jang-il dan bergumam aneh. Lalu Paman Kwang-chun berbisik pada Sun-woo, “jangan bergaul dengannya.” Jang-il tak suka melihat paman ini apalagi dengan pekerjaannya.
Sun-woo tanya dimana Soo-mi. Paman Kwang-chun menjawab tak tahu kemana putrinya pergi (Bapaknya Soo-mi toh) Sun-woo menitipkan salam untuk Soo-mi. Jang-il berlalu begitu saja. Sun-woo juga pamit pulang.
Jang-il penasaran dan bertanya siapa dia. Sun-woo menjawab kalau Paman Kwang-chun itu ayah dari teman masa kecilnya (oh jadi Soo-mi teman masa kecilnya Sun-woo)
Kim Kyung-pil memeriksakan dirinya ke dokter. Dokter mengatakan kalau Kyung-pil mengidap kanker hati stadium akhir. Kyung-il bertanya berapa lama lagi umurnya. Kyung-pil menulis surat untuk Sun-woo.
Jang-il melihat Soo-mi dan tersenyum, tapi raut wajahnya berubah ketika melihat Soo-mi bicara dengan si dukun itu. Ia pun mengintip dan mencuri dengar.
Paman Kwang-chun meminta Soo-mi membelikannya minuman tapi Soo-mi menolak. Paman Kwang-chun kesal ia sudah memberi putrinya makan dan menyekolahkan tapi sikap putrinya tetap seperti itu. Jang-il akhirnya tahu kalau Soo-mi anaknya si peramal.
Di kamarnya Jang-il memandang lukisan yang dibuat Soo-mi, kemudian ia meremas lukisan itu.
Soo-mi menunggu Jang-il di tampat mereka janjian, ia tersenyum malu akan bertemu lagi dengan Jang-il tapi Jang-il tak kunjung datang. Awalnya ia tak menggunakan syal tapi karena terlalu lama menunggu ia pun kedinginan dan mengenakan syal yang ia bawa. Ia menunggu sangat lama, ia kecewa Jang-il tak jadi datang.
Dimana Jang-il. Ternyata ia pergi ke toko buku bersama Sun-woo. Soo-mi melintas di depan toko buku tempat dimana Jang-il dan Sun-woo berada. Sun-woo langsung mengenali dan memanggilnya.
Sun-woo senang bisa bertemu lagi dengan Soo-mi. “Apa kau masih selalu menang lomba lukis?” Soo-mi masih dengan perasaan kecewa karena batal bertemu Jang-il dan menjawab seadanya.
Soo-mi mengingatkan Sun-woo jangan berlagak kenal dengannya. Ia juga akan pura-pura tak mengenal Sun-woo. Sun-woo meminta Soo-mi jangan seperti itu.
Jang-il keluar dari toko buku dan terkejut melihat Soo-mi ada disana. Keduanya bertemu pandang. Jang-il langsung memalingkan wajahnya dan pergi. Sun-woo meminta Jang-il pergi duluan. Soo-mi tanya apa Sun-woo kenal dengan Jang-il. Sun-woo mengangguk dan menjawab kalau Jang-il itu teman baiknya.
“Dia tahu ayahku seorang peramal kan?” Tebak Soo-mi.
Soo-mi menyuruh Sun-woo pergi saja. Mata Soo-mi terlihat sedih dan berkaca-kaca. Ia kecewa karena ketika ia menyukai seseorang orang itu menjauhinya karena pekerjaan ayahnya.
Sun-woo melihat ayahnya berdiri di samping truk dan sudah menghabiskan beberapa puntung rokok. Sun-woo bertanya apa yang ayahnya lakukan. Kyung-pil menjawab kalau ia ingin melihat wajah putranya.
Keduanya jalan bersama. Kyung-pil mengajak putranya berjalan sambil bergandengan tangan. Sun-woo tersenyum kenapa ayahnya mirip seperti ibu-ibu. Tapi Kyung-pil tetap menggenggam tangan putranya erat-erat. Ia berkata bahwa ulang tahun Sun-woo hari jumat depan.

Sun-woo senang apa ayahnya akan membelikan hadiah. Ayahnya minta Sun-woo menemuinya hari jum’at sore. Ia akan mengajak putranya ke suatu tempat. Mereka akan bertemu dengan orang yang sangat penting. Sun-woo tanya siapa.

Kyung-pil melepaskan genggaman tangan dan berkata kalau orang itu akan melindungi dan menafkahi Sun-woo mulai dari sekarang. Sun-woo belum mengerti maksud ayahnya. Kyung-pil berkata kalau ada suatu hal yang harus ia sampaikan pada Sun-woo ketika Sun-woo berusia 20 tahun nanti, tapi ia tak bisa menunggu selama itu. Ia memberi tahu kalau ia tak bisa bersama Sun-woo lebih lama lagi.
Sun-woo : “Kenapa ? apa ayah akan menikah? Silakan saja aku tak melarang.”
Kyung-pil menatap sedih putranya, Sun-woo langsung mengerti dan bertanya bagaimana hasil pemeriksaannya dan apa kata dokter. Kyung-pil hanya menjawab kalau hasilnya tak bagus. Sun-woo ingin tahu seberapa buruk kondisi ayahnya.
“Kanker hati.” jawab Kyung-pil.

Sun-woo menguatkan ayahnya dan berkata kalau ayahnya masih bisa hidup 50 tahun lagi, ia yakin ayahnya akan sembuh. Kyung-pil tak bisa menahan kesedihannya, ia langsung memeluk Sun-woo erat-erat. Sun-woo berpesan agar ayahnya jangan menyerah.

Ayahnya meminta agar Sun-woo datang tepat waktu di hari ulang tahun Sun-woo nanti. Tapi Sun-woo menolak dan pergi meninggalkan ayahnya. Kyung-pil dengan hati yang sedih mengatakan kalau ia akan menunggu sampai Sun-woo datang.
“Aku bilang aku tak akan datang.” teriak Sun-woo.
Kyung-pil langsung menarik Sun-woo dan menamparnya. “Ini pertama dan terakhir kali aku memukulmu. Datanglah besok!”
Kyung-pil kembali ke truk dan segera menjalankan mobilnya sambil mengusap air mata yang terus mengalir. Sun-woo berlari sekuat tenaga berusaha mengejar ayahnya tapi ia tak sanggup mengejarnya. Sun-woo hanya bisa menangis dan berlutut, “Ayah jangan tinggalkan aku...”
Kim Kyung-pil dengan pakaian rapi menemui Presdir Jin No-sik. Kyung-pil mengatakan kalau ia memiliki seorang putra yang ia besarkan dari penghasilannya sebagai supir truk. Ia dan istrinya sudah bercerai. Ia menilai Presdir Jin tidak berubah tapi Presdir Jin menyangkal ia sudah banyak berubah.
Kyung-pil memuji rumah yang sedang dibangun itu dan menilai rumah itu sangat baik. Keduanya lalu bicara di sebuah ruangan yang masih berantakan.
Kyung-pil mengatakan kalau Jin No-sik memiliki seorang anak, “Setelah neneknya meninggal aku menemukan dia di sebuah panti asuhan.”
Presdir Jin tanya kenapa Kyung-pil mencari anak itu. Kyung-pil mengatakan itu karena ia ingin menebus dosanya, “Memalsukan dokumen dan tanda tangan. Aku mengerjakan semua yang kau minta. Aku tak tahu kalau kau sudah merusak keluarga Eun Hye.”
Presdir Jin berkata kalau Eun Hye sudah menghianatinya dan berselingkuh dengan Moon Tae Joo. Kyung-pil berkata kalau itu hanya kecurigaan Presdir Jin saja. Ia tahu kalau Presdir Jin iri dan curiga pada Tae Joo. Ketika ia dan Tae-joo masuk penjara, ia pernah bersumpah tak akan bertemu lagi dengan Presdir Jin.
Jin No-sik : Jadi?
Kyung-pil berkata kalau ia tak lama lagi akan meninggal. Dokter mengatakan kalau dirinya mengidap kanker hati stadium akhir. Sebelum meninggal, ia ingin menolong hidup seseorang.
Presdir Jin : “Kalau kau datang demi uang, berlutut dan memohonlah padaku!”
Kyung-pil langsung berlutut dan memohon, “Aku tak membutuhkan apapun. Aku hanya memohon kau menerima anak itu.”
Presdir Jin : “Eun Hye tak ada bedanya dengan seorang pelacur. Walaupun dia mengandung, aku tak punya alasan untuk menerimanya (anak itu)”
Kyung-pil tak habis pikir bagaimana bisa Presdir Jin melakukan itu terhadap tunangannya sendiri dan pada akhirnya Presdir Jin membiarkan dia meninggal. Presdir Jin beranggapan kalau Kyung-pil juga menyukai Eun Hye, “Kalau begitu jangan-jangan dia anakmu?”
Kyung-pil berdiri ia sangat kecewa, ia berharap kalau anak itu adalah anak Moon Tae-joo tapi ia yakin Tae-joo bukan orang seperti itu. Kini ia mengerti kenapa Eun Hye jatuh cinta pada Tae-joo, itu karena Tae-joo berbeda dengan Presdir Jin.

Presdir Jin No-sik marah mendengarnya dan langsung menampar Kyung-pil keras. Kyung-pil menebak kalau Ayah Eun Hye juga pasti sudah dibunuh oleh Presdir Jin. Kyung-pil menilai kalau Presdir Jin akan berubah, tapi ia sudah salah menduga. Presdir Jin tanya dimana anak itu sekarang.
Kyung-pil : “Jika dia memiliki ayah seperti dirimu mungkin lebih baik dia berada di panti asuhan.”
Presdir Jin : “Apa kau pikir aku tak bisa menemukan anak itu?”
Kyung-pil marah dan mencengkeram baju Presdir Jin, “Jangan pernah berani menyentuh anak itu, aku tak akan membiarkannya.”
Presdir Jin : “Hal yang aku berani lakukan lebih banyak daripada yang tak berani kulakukan.”

Kyung-pil mengancam, “Apa kau tak tahu kalau aku orang yang bisa menghancurkanmu dalam waktu sesaat? Sebelumnya aku percaya kalau kau mau menjadi ayah anak ini. Itu sebabnya aku tak mengatakan apapun. Tapi sekarang berbeda, kau pembohong dan penghianat. Aku akan memberitahu segalnya sebelum aku meninggal. Kekayaan yang kau dapatkan dengan cara licik semuanya harus terungkap dan kau akan jatuh.”
Presdir Jin semakin marah mendengarnya dan kembali melayangkan pukulannya hingga Kyung-pil jatuh dan kepalanya membentur kayu kursi.
Presdir Jin tak mau Kyung-pil membongkar semuanya, ia mengambil linggis dan akan memukulkannya ke tubuh Kyung-pil, tapi secepat kilat Kyung-pil menghindar. Kyung-pil melawan tapi Presdir Jin lebih kuat.

Presdir Jin mencekik, Kyung-pil meronta berusaha melepaskan diri. Tak mau kalau Kyung-pil lolos begitu saja, Presdir Jin mengambil tali yang ada didekatnya dan melilitkan ke leher Kyung-pil hingga tak sadarkan diri.
Presdir Jin menyadari kalau ada seseorang yang melihat apa yang dilakukannya, ia menengok ke jendela dan di luar sana ayah Jang-il melihat semuanya.

Jang-il mengajak Sun-woo makan di rumahnya karena hari ini ulang tahun Sun-woo. Ia akan membuatkan Sun-woo sup rumput laut. Sun-woo tak bisa karena ia ada janji. Jang-il merasa kalau Sun-woo merasa sungkan. Sun-woo berkata kalau ia ada janji dan ia tak mau terlambat.

“Apa kau benar-benar ada janji?” Tanya Jang-il.
Sun-woo berlari bergegas, tapi ia menabrak sesuatu yang tergantung di pohon. ia pun terjatuh karenanya.
Sun-woo berbalik badan dan terkejut melihat apa yang tergantung di pohon, “A-a-a-ayah. AYAAAHHHHH.” Teriak Sun-woo melihat tubuh ayahnya tergantung di pohon.

Note :
Wow Great drama yang membuat saya penasaran bahkan sebelum tayang dan untuk episode pertama secara keseluruhan OK walaupun tidak dengan rating yang bagus. Tapi semakin ke sini ratingnya lumayan bertambah ......

Arghhhh saya belum bisa komentar apa-apa....  

28 comments:

  1. Aww..
    Sun Woo & jang Il..
    dimainkan dengan apik wktu remajanya..

    untuk aktor remaja putrinya ga begitu berkesan..
    penasaran sm karakter Lee Bo Young. lucu juga..
    ngelempar batu ke mobil org yg dia benci..

    apa pas udh gedenya dia ttp rebel ya?? :)

    Kumawo onnie sinopnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul Nisa, peran cewe2nya belum begitu terlihat mungkin karena scene-nya masih sedikit kali ya..

      Delete
  2. MBAK ANIIIIIIIIIIIIIS!!! YAY AKHIRNYA SELESAI JUGA EPISODE PERTAMA! xD MAKASIH MBAK!
    Jujur, dira pertama kali ini baca sinopnya mbak anis hehe :P
    Suka piku yang pertama mbak – manis >.< eh eh, jaksa kim comeback! dia nodong pistol lagi, ps:like like like him ^^
    Iya iya, itu kenapa ayah jang il malah mau melarikan diri, kesian sun woo T.T
    Kalo gak mau diajarin ma jang il, *angkattangan DIRA MAU KOK!!! Wkwkwkwk
    Han ji won? Hihihi jadi inget king 2 hearts :D
    Emang ANEH!!! Aneh ji won ma sun woo ini, firasat jodoh? ^^” tapi untung ya, batunya gak kena oppa…
    Haha, mbak anis juga ber”oh” ria sama kayak dira ^^ ternyata sebelum kenal ma jang il, soo mi kenal ma sun woo dulu oooooooooooh….
    aduh aduh episode pertama seperti biasa masih penuh teka-teki,
    gak kebayang menabrak mayat ayah sendiri POOR SUN WOO! :(
    sama kok mbak, dira juga tertarik ma drama ini bahkan sebelum tayang - ulasannya menggoda sih... (i read @PD by mbak vanilaeru first then be more curious when dramatized tell about it again ^w^)
    mbak irfa,alhamdulillah nyogoknya berhasil *guling2
    next mbak, next!

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuih... panjangnya komentar @dira... ga apa-apa say, seneng lho dira ikut baca sinop yang aku buat...

      Ha Ji-won sana Han Ji-won beda2 tipis lah namanya ya hehe...

      Lho kok manggil Hyun Woo-nya Oppa??? penasaran usia dira berapa ya hehe..

      Delete
    2. *garuk2kepala hehe seperti kata mbak apni, dira cuma beda satu tahun ma oppa :) gak salah juga kan yang dira panggil mbak banyak wkwkwkwk
      semoga episode depan gak sepanjang ini deh komennya mbak :P mianhe..

      Delete
    3. oalah masih SMA toh.... msh muda donk, masih anak2 hehe

      Delete
  3. Anis,, aku langsung loncat Komen ya,, belum berani baca,, takut nggak menjiwai pas nontonnya,, ntar aku balik lagi kalo udah nonton,, aku hobi baca sinopsis dari drama yang udah aku tonton,, hihihi

    @Dira: hebat bangetlah dira kalo dalam masalah sogok menyogok,, dulu pun aku sering kok ke goda rayuan-rayuan Dira,, #sambil nginget2 udah berapa kali,,

    semangat Anis lanjutkan sinopsisnya,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya udah irfa buruan nonton lah.. sayang kan udah di download belum do tonton...

      Delete
    2. Ntar Nis,, aku tunggu sampe 10 episode dulu, baru aku tonton hehehe,, tabungan juga buat liburan Nanti,, sekarang masih fokus nonton Take Care of Us Captain dulu,,

      Delete
    3. hehe benarkah? wah wah merasa punya kehalian baru (selain ngrusuhin blog orang^^")
      mbak irfa punya banyak drama sih, jadi gak bisa dihabisin sekaligus... :P
      btw,mbak anis ngikutin drama ini ajakah?

      Delete
    4. keahlian menyogok maksudnya?? hahaha,, dira bisa aja,,,

      iya ya,, terlalu banyak drama ampe bingung nonton yang mana dulu,,, ujungnya kadang ga ditonton semua dan malah main game aja,, susahnya punya banyak idola,, susah milih yang mana dulu,,

      Delete
    5. lupa mw minta maaf ke anis,, aku malah nyepam disini,, ditemenin dira sih,, waduh,, kayaknya aku mulai ketularan dira,, ngerusuh di blog orang,, hihihihi

      Delete
    6. @dira : aku juga lagi nonton Feast Of The Gods sama Rooftop prince aja... yang lainnya aku baca sinopnya aja hehe...

      @Irfa : rusuhin aja biar rame haha.....

      Delete
    7. mereka udah join Cha,, episode 2 nya udah ada di blognya Apni,,

      Delete
    8. YAY! NGIKUTIN RP JUGAAAAAAAAA xD iya mbak, king 2 hearts baca sinopnya aja :ada kembarannya mbak anis tuh yang buat! haha bisa saling mendukung LOL
      hem mbak cha sampe sepemikiran gitu o.O
      iya iya, nunggu episode 3 nih - mbak anis sengaja ngademin esmosinya readers pake mosting ostnya! *digetoksutilFOG
      FOG... EM... :D

      Delete
    9. iya tapi baru nonton sampai 2 episode yang 3 n 4 belum kutonton entah kenapa jadi ga mood nontonnya haha... lebih tertarik ke EM...

      wekeke sabar ya yang episode 3 sebentar lagi...

      Ost nya enak lho... aku dengerin terus...

      Delete
  4. aq pikir yg akan jd pemern utamnya adlh yg jd jaksa kim ternyata yg main di sassy girl chunyang...

    jd penasaran,,,,jd berpikir klo harta yg dimiliki presdir Jin adlh milik Jang Il....dan anak yg dibuang nya su won.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. @nevi : masih banyak misteri... mudah2an ke episode2 ke depan ga membosankan ya...tapi yang aku lihat tiap episode membuatku penasaran...

      Delete
    2. LUPA INGATAN??? BUTAAAAAAAAAAAAA?!!! *nyogoksecarahalus(?)

      Delete
  5. ya ya I love mereka juga hehe...

    tapi scene nanti bakalan banyak adegan Jang-il sama Ji-won nih...

    ReplyDelete
  6. aw aw, adegan apa mbak? hehe i hope HAPPY ENDING FOR THEM!!! *nyanyi happyendingnya rooftop ^^

    ReplyDelete
  7. Wah,,wah,,wah,, ramenya,,
    Mianhe mba anis, mimu baru bs komen skarang :)

    Ntu yg jd sun woo kcil tuh yg di god of study ya? *baru nyadar klo nih anak udah gede. Hehe*
    Baru ngeh mimu klo vee@n teh mba apni *annyeong haseyo onnie.. <-SKSD hehe..*
    Owh, dira masih SMA toh,, masih ABG dunk :)

    @mba anis 'n vee@n: azza..azza..hwaiting..hwaiting^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak apni, kok jadi kayak siapa ya yang punya banyak nama wkwkwkwk *gone

      Delete
  8. makasih banget buat sinopsisnyaa :D
    sangat membantu buat kalo ada part yang kurang mengerti hehehehe

    ReplyDelete
  9. oaaa,lee hyun woo kerenn..
    mbak,minta film nya donk...
    inbok aku ya bagi yang punyaa the equator mann..
    Fb: Dhie-dhiel *fadhilamadevi@yahoo.co.id
    *sarabghaenun lee hyun woo oppaa

    ReplyDelete
  10. sempet nonton 1x.. seru si.. cm tayangnya malam sangattt jdi bete...

    ReplyDelete
  11. sempet nonton 1x.. seru kayaknya tp ya tayangnya malam sangattt jdi bete...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...

Sapaan di Tahun 2018

Assalamu'alaikum kawan, apa kabarnya? Buat teman-teman muslim Selamat Menjalankan Ibadah Puasa.