Wednesday, 25 April 2012

Sinopsis The Equator Man Episode 9


Berita bagus, kabarnya Equator Man akan diperpanjang jumlah episodenya. Beritanya bisa dibaca [disini] ya semoga dengan ditambahkannya jumlah episode tak membuat ceritanya berputar-putar dan membuat penonton jenuh
Sinopsis Equator Man Episode 9
Moon Tae-joo mengeluarkan ucapan yang mengejutkan, “Aku ayahmu. Mulai saat ini aku akan mengubah hidupmu.”
Sun-woo tak percaya, “Siapa kau? Aku tak bisa melihat wajahmu. Walaupun kau membunuhku, aku tak akan bisa menemukanmu di neraka.” Sun-woo mencekik leher Moon Tae-joo, ia ingin tahu siapa yang mengirim Tae-joo ke rumahnya Jin No-sik atau Lee Jang-il.

Si Sekertaris langsung menarik dan menahan Sun-woo. Moon Tae-joo memberi kode pada sekertarisnya agar lebih tenang, tak perlu emosi atau menggunakan kekerasan, si sekertaris langsung mengerti dan melepas Sun-woo.

Moon Tae-joo mengatakan kalau ia sudah membaca surat dari Kim Kyung-pil. Kyung-pil menginginkan agar ia melindungi Sun-woo. Ia juga mengatakan kalau waktu itu Sun-woo yang menjawab teleponnya. Sun-woo mengingat ketika ia menerima telepon dan mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal.

Sun-woo meminta penjelasan siapa sebenarnya Tae-joo. Tae-joo mengatakan kalau Kim Kyung-pil adalah teman lamanya. Ia menyayangi Kyung-pil seperti saudara kandungnya. Keduanya bekerja bersama dibawah pimpinan Jin No-sik. Kyung-pil terkena penyakit kanker tapi dia berkata kalau dia tak akan menyerah. Dia bilang, dia memiliki seorang putra yang sangat dicintainya. Dia tak mau berpisah dengan putranya. Dia akan bertahan hidup sekuat tenaga. Sun-woo menyangkal kalau ayahnya meninggal bukan karena kanker.
Tae-joo ingin tahu sejak kapan Sun-woo menjadi buta. Sun-woo jelas tak ingin menceritakan rahasianya. Ia masih belum mempercayai orang yang ada di depannya ini sebagai kawan atau lawan, “Apa Jin No-sik yang mengirimmu untuk mencari tahu apa yang kuketahui?”
Tae-joo : “Kalau benar begitu, apa yang akan kau katakan padaku?”
Sun-woo : “Apa kau yang membunuh ayahku?”
Tae-joo : “Aku juga datang untuk menyelidiki itu. Ikutlah denganku. Akan kutunjukan padamu dunia yang tak pernah kau bayangkan.”

Sun-woo tak mau dan meminta Tae-joo pergi. Tapi Tae-joo tak peduli, ia akan tetap membawa Sun-woo karena itu wasiat dari Kyung-pil.
Sun-woo : “Kenapa aku harus percaya padamu?”

Sekertaris bilang kalau Sun-woo terluka. Sun-woo tak peduli ia ingin melepaskan diri dari tapi tenaga si sekertaris sungguh kuat. Tae-joo bilang kalau sekertarisnya bisa mematahkan tulang Sun-woo dalam hitungan 10 detik. “Jika aku ingin membunuhmu kau sudah mati sekarang. Di kamar yang berantakan seperti ini.”

Moon Tae-joo memberi kesempatan pada Sun-woo untuk menyelesaikan hal-hal yang perlu Sun-woo selesaikan. Ia akan memberi Sun-woo waktu selama 24 jam. Setelah itu Sun-woo harus ikut dengannya.
Sun-woo : “Bagaimana kalau aku tak mau?”
Tae-joo : “Maka kematian ayahmu akan selamanya dianggap sebagai bunuh diri.”
Soo-mi terbaring lemah di kamarnya. Ia teringat ketika Jang-il menyebut nama Ji-won dalam tidurnya setelah keduanya menghabiskan waktu bersama.

Kwang-chun masuk ke kamar putrinya dan berkata kalau ia akan pergi sebentar tapi ia heran dengan sikap Soo-mi. Ia khawatir apa Soo-mi sakit karena ia melihat wajah Soo-mi pucat. Soo-mi berkata kalau ia tak apa-apa dan ayahnya bisa pergi.

Kwang-chun menebak apa Soo-mi pergi ke Seoul untuk menemui Jang-il. Soo-mi berbohong kalau ia tak menemui Jang-il. Ia hanya melukis dan ia yakin akan menjadi juara pertama kemudian sekolah di luar negeri. Kwang-chun berjanji ia akan memudahkan hidup Soo-mi di luar negeri nanti. Soo-mi menolak ia bisa mengurus dirinya sendiri.
Choi Kwang-chun pergi ke suatu tempat. Ia menutupi wajahnya dengan masker agar tak dikenali orang. Ia masuk ke toilet dan mendapatkan tas besar yang ia pikir berisi uang. Ia pun membukanya dan ternyata isinya hanya potongan kertas bukan uang.

Dari arah toilet sebelah munculah seorang pria membawa palu akan memukulnya. Kwang-chun menghindar dan ia merasakan sakit di bahunya. Ia berusaha melawan dan berniat kabur menggunakan sepeda. Tapi orang itu dengan cepat menahanya.
Kwang-chun meronta, orang itu mulai mencekik. Tangannya berusaha menggapai pot bunga yang ada di dekatnya. Ketika pot itu sudah ia dapatkan dengan cepat ia memukul pria tadi dengan pot. Pria itu langsung ambruk. Kwang-chul segera melarikan diri menggunakan sepeda.
Sambil mengayuh sepeda ia pun bergumam setengah menangis marah, “Mencoba membunuhku? Tak mungkin bisa. Choi Kwang-chun tak akan mati!”

Sekertaris Cha memerintahkan anak buahnya untuk mencari seseorang di rumah sakit dan mencari siapa saja yang bahunya patah dan retak.

Kwang-chun naik taksi, ia kepayahan dan menahan sakit. Supir taksi cemas apa Kwang-chun baik-baik saja, apa mau diantar ke rumah sakit. Kwang-chun menolak ia meminta supir jangan tanya-tanya dan terus jalan saja.
Kwang-chun menelepon ke rumahnya, ia meminta Soo-mi segera menurunkan papan reklame sekarang juga dan hapus gambarnya. Soo-mi heran dan mengira ayahnya mabuk. Kwang-chun tak bisa sabar lagi, dengan suara keras ia memerintahkan Soo-mi cepat menurunkan papan reklame atau kalau tidak ia akan terbunuh.

Sun-woo memikirkan baik-baik perkataan Moon Tae-joo yang memberinya waktu 24 jam untuk segera menyelesaikan urusan sebelum pergi. Jika ia tak mau pergi, kematian ayahnya hanya akan dicap sebagai kasus bunuh diri.
Sun-woo datang ke tempat rehabilitasi. Petugas meminta bantuan Sun-woo agar memijat pelanggan. Sun-woo menolak ia tak bisa pergi sekarang. Petugas itu berkata kalau orang yang meminta ini sudah pernah Sun-woo pijat sebelumnya dan dia meminta hanya Sun-woo yang memijat. Sun-woo menebak kalau yang memintanya datang itu Jin No-sik.

Sun-woo segera menghubungi Geum-jool. Ia berpesan kalau dalam jangka waktu 2 jam ia tak menelepon Geum-jool, Geum-jool harus mencarinya. Ia akan pergi ke hotel Noil.
Sun-woo pergi ke hotel Noil. Ketika sampai di depan kamar ia langsung menekan bel. Pintu pun terbuka Sun-woo langsung masuk mengenalkan diri dan meminta orang yang akan ia pijat agar berbaring di tempat tidur. Sun-woo mengatakan kalau ia mendengar orang yang akan ia pijat sekarang ini sebelumnya sudah pernah ia pijat.

“Ya itu benar.” kata orang itu yang ternyata adalah Han Ji-won. Ia terpaksa melakukan ini agar bisa bertemu dengan Sun-woo, karena Sun-woo selalu menghindarinya.
Sun-woo diam membelakangi Ji-won yang duduk di tempat tidur. Ia teringat pesan Moon Tae-joo kalau ia memiliki waktu 24 jam untuk menyelesaikan urusannya. Ia tak tahu harus berbuat apa, ia tak ingin membahayakan jiwa Ji-won karena masalahnya.

“Apa ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Sun-woo dingin. “Kalau kau tak minta dipijat aku akan pergi.”
Ji-won menahan tangan Sun-woo agar tak pergi. Tapi Sun-woo menyingkirkan tangan Ji-won. Ji-won meminta sun-woo terus belajar dan masuk universitas.
Sun-woo : “Kau ingin aku menghiburmu? Ada banyak orang yang lebih tak beruntung dibandingkan denganku, Aku bahagia. Aku harus bersyukur.”
Ji-won meminta Sun-woo berhenti bersikap sinis, ia tahu kalau Sun-woo tak bermaksud seperti itu. Sun-woo berpesan agar Ji-won mencari hiburan di tempat lain.
Ji-won : “Kau tak bisa melihat wajahku tapi aku yakin kau bisa melihat hatiku.”
Sun-woo sedikit menaikkan nada bicaranya, “Apa yang kita lakukan di kamar hotel?”
Ji-won memastikan kalau ia hanya ingin bicara dengan Sun-woo.
Secepat kilat Sun-woo langsung merebahkan tubuh Ji-won ke tempat tidur.
Sun-woo : “Kalau aku bisa melihat, kau tak akan bisa berbuat seperti ini. Katakan!”
Ji-won : “Apa buta itu dosa? Kenapa kau harus bersembunyi?”
Sun-woo : “Apa yang ingin kau katakan padaku?”
Ji-won : “Aku sangat menyukaimu!”
Sun-woo : “Lalu? Apa yang akan kau dapatkan. Aku tak tahu kau begitu menyedihkan Nona Hemingway.”

Tak ada apa-apa setelah itu. Sun-woo langsung berdiri dan berkata kalau ia suka dengan wanita ambisius penuh harga diri, Seorang wanita yang bisa membedakan antara pengorbanan dengan kenyataan.
Ji-won : “Aku tak mencari pria buta sebagai pacar, aku seseorang yang membutuhkan pacar kaya. Tapi aku tak bisa menyukai mereka. Aku tak tahu kenapa aku seperti ini.”
Sun-woo tak bisa berkata-kata. Hanya dalam hati ia berharap, “Maukah kau menungguku, sampai aku kembali. Aku tak tahu kapan.”
“Bukankah ini cinta?” sambung Ji-won.
“Ini hanya belas kasihan dan rasa sombong.” jawab Sun-woo tegas. “Carilah ke tempat lain. Ada banyak orang buta yang lain.”
Ji-won sangat sedih mendengarnya.
Sun-woo akan pergi tapi secepat kilat Ji-won menahan dengan memeluknya dari belakang, ia menahan agar Sun-woo tak pergi.

“Kalau Kau melakukan ini lagi aku akan melaporkanmu ke pusat rehabilitasi.” ancam Sun-woo sambil melepaskan diri dari pelukan Ji-won. Kemudian pergi meninggalkan Ji-won seorang diri disana.
Di rumah, Sun-woo menulis surat untuk Ji-won. Bukan dengan huruf Braille tapi tulisan biasa.

“Aku ingin memintamu menungguku. Akulah yang menginginkanmu. Aku ingin memintamu tinggal bersamaku. Tunggu aku. Tolong tunggu aku. Aku akan kembali padamu. Aku tak tahu untuk berapa lama. Tapi aku akan kembali.”
Moon Tae-joo dan sekertarisnya menjemput Sun-woo. Sun-woo sendiri sudah siap. Ia meminta Tae-joo memeriksa barang-barangnya, ia takut kalau ada surat atau foto ayahnya yang tertinggal.

Tae-joo memeriksa sekeliling dan membaca surat yang Sun-woo buat untuk Ji-won. Ia tak melakukan apa-apa terhadap surat itu, ia meletakan kembali suratnya di atas meja dan mengatakan kalau tak ada yang tertinggal. Ia meminta Sun-woo segera ikut dengannya. Sun-woo ingin tahu ia akan dibawa kemana dan kapan ia kembali.
Sun-woo berjalan dipapah Sekertaris (namanya belum tahu tapi wajahnya lumayan ckckck)
Geum-jool tiba-tiba datang, ia khawatir karena Sun-woo tak meneleponnya setelah 2 jam. Ia tanya Sun-woo akan pergi kemana dan siapa orang-orang ini. Sun-woo langsung memeluk sahabat setianya dan mengatakan kalau mereka semua teman ayahnya, ia berjanji akan kembali.

Geum-jool masih cemas dan kembali bertanya Sun-woo akan pergi kemana. Sun-woo janji ia akan menceritakan semuanya ketika ia kembali nanti dan ia juga berjanji akan membelikan Geum-jool kalung emas yang bagus. Ia berpesan agar Geum-jool menjaga diri dan juga jangan mengatakan pada siapapun kalau Geum-jool melihatnya hari ini. Geum-jool janji dan Sun-woo pun masuk ke mobil Moon Tae-joo.
Sekertaris Cha melaporkan kalau ia menemukan 3 orang yang memiliki cidera di bahu tapi tiga-tiganya bukan yang mereka cari. Presdir Jin menduga kalau orang itu tak pergi ke rumah sakit, dia bersembunyi. Sekertaris Cha menyarankan agar memperluas jangkauan pencarian. Presdri Jin memerintahkan agar menemukan orang itu (Choi Kwang-chun)
Choi Kwang-chun pulang ke rumah dengan tangan di gendong. Soo-mi tanya kenapa. Ia menjawab kalau ia mabuk dan terjatuh dari tangga. Soo-mi menduga apa itu sebabnya ayahnya menyuruh dirinya untuk menurunkan papan reklame. Soo-mi penasaran apa bahu ayahnya patah. Kwang-chun meminta Soo-mi jangan menyebut ‘bahu’ dalam waktu 10 tahun.

Soo-mi jadi ingin tahu dimana kejadian ayahnya mengalami luka seperti itu. Kwang-chun tak mengatakannya ia malah menanyakan alamat Sun-woo di Seoul. Ia beralasan ingin menjenguk Sun-woo karena ia selalu mimpi buruk. Soo-mi meminta ayahnya jangan mengganggu Sun-woo. Kwang-chun menebak apa Jang-il masih menemui Sun-woo. Soo-mi berkata tidak, tapi Sun-woo sekarang sudah memiliki pacar.

“Tentang hari itu, ayah tak memberi tahu siapa-siapa kan?” tanya soo-mi.
“Apa kau pikir aku gila?” Kwang-chun meninggikan suaranya.
Soo-mi memberikan alamat rumah Sun-woo. Ia akan ke studio lukis dan akan pulang terlambat.
Choi Kwang-chun menulis surat untuk Sun-woo. Ia tahu kalau Sun-woo buta tapi ia yakin Sun-woo masih bisa mendengarnya. Karena itu ia akan mengirimkan surat ini. Ia yakin seseorang akan membacakannya untuk Sun-woo.

“Kim Sun-woo, ayahmu dibunuh oleh ayahnya Lee Jang-il. Presdir Jin No-sik ikut terlibat.”
Kwang-chun juga mengirim kembali surat kaleng pada Presdir Jin No-sik.

“Kau membuat kesalahan besar. Jangan harap rahasiamu akan aman. Aku masih ingat bagaimana dia meronta ketika akan digantung. Aku akan membongkar kebenaran ini pada saat yang tepat.”

Jin No-sik menyimpan surat itu di laci meja kerjanya. “Dia meronta? Jadi saat itu dia masih hidup?”
Han Ji-won melamun mengingat perkataan Sun-woo padanya. Ia terus mengenakan syal pemberian Sun-woo. Teman sekelasnya, Hyun-Joo datang. Ji-won ingin meminjam catatan kuliahnya.

Ji-won melihat ada koran kampus yang memuat gambar Sun-woo tengah duduk di salah satu bangku kampus. Ia pun mencari tahu lewat reporter kampus yang bernama Seo-woon. Ia tanya kapan Seo-woon mengambil gambar itu. Seo-woon menjawab kalau ia memotret gambar itu hari senin.
Ji-won langsung pergi ke bangku seperti yang ada di koran. Tak ada siapa-siapa. Kemudian ia pergi ke rumah sun-woo. Ternyata rumah itu kosong dan berantakan. Ia juga melihat cermin yang retak. Satu persatu ia memunguti kertas yang berserakan. Sambil membersihkan ia mengingat semua kenangannya bersama Sun-woo.
Ji-won menemukan buku dengan tulisan huruf Braille yang sudah ia beri stiker. Ia ingat ketika Sun-woo membacakan untuknya isi buku itu.
“Kukirimkan puisi ini untukmu. Aku bahagia denganmu, tapi aku juga takut bersamamu. Aku tak mau kembali ke masa saat aku belum bertemu denganmu. Aku tak bisa melihat apapun di terowongan. Akan lebih menyenangkan jika aku bisa melihat ujung terowongan ini denganmu. Jalanan yang hanya kita berdua yang tahu. Diwaktu yang hanya kita berdua yang tahu. Jika kau merasakan hal yang sama, kumohon beritahu aku. Aku akan pergi berkelana, kau tinggal disini. Aku tak akan kesepian jika kau di hatiku. Ia menuliskan surat ini untuknya.”
Ji-won juga menemukan surat yang ditinggalkan Sun-woo untuknya.

“Aku ingin memintamu untuk menungguku. Akulah yang menginginkanmu. Aku ingin kau tetap tinggal denganku. Tunggu aku, tolong tunggu aku. Aku akan kembali untukmu. Aku tak tahu kapan, tapi aku akan kembali padamu.”

Ji-won tak kuasa menahan kesedihan. Ia membawa semua barang-barang yang ditinggalkan Sun-woo. Ia juga membawa surat yang dikirimkan Choi Kwang-chun untuk Sun-woo.

Ji-won meminta petugas di panti rehabilitasi untuk memberi tahu padanya judul buku yang dibaca Sun-woo. Petugas mengatakan kalau buku itu tentang teknik dasar memijat. (wohoho berarti apa yang diucapkan Sun-woo itu dari dalam hatinya)
Ji-won duduk di bangku dimana Sun-woo pernah berada disana. Jang-il datang menemuinya, ia melihat Ji-won menitikan air mata. Jang-il tanya kenapa Ji-won menangis apa ada masalah.
Ji-won : “Dia pergi. Dia pergi entah kemana.”
Jang-il : “Apa itu pantas ditangisi? Dia bukan keluargamu. Apa putus cinta pantas ditangisi? Apa tak ada hal lain yang sebaiknya kau lakukan?”
Ji-won : “Jang-il, kau sangat egois. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri.”
Jang-il : “Apa yang kau tahu tentang aku?”
Ji-won : “Kau bilang kau akan jadi jaksa kan? Untuk menjadi jaksa yang hebat kau harus memiliki hati nurani lebih dulu.”

Ji-won akan pergi tapi Jang-il menahan tangannya membuat barang-barang yang ia bawa jatuh berantakan termasuk surat yang ditujukan untuk Sun-woo. Jang-il melihatnya. Ji-won segera membereskannya dan mengatakan kalau ia akan mengembalikan barang-barang itu ketika ia bertemu lagi dengan Sun-woo nanti.
“Aku tak bisa menjadi temanmu!” Kata Ji-won langsung berlalu dari hadapan Jang-il.
Soo-mi mencoba mempelajari titik-titik huruf Braille. Ia senang akhirnya ia bisa membacanya. Dan ketika membaca tulisan Braille yang ditulis Sun-woo ia pun tercengang.

Hal terakhir yang kulihat di dunia ini adalah Lee Jang-il. Aku melihat wajahnya yang ketakutan dan duniaku menjadi gelap. Alasan kenapa Jang-il mencoba membunuhku adalah karena aku mempertanyakan sebab kematian ayahku.”

“Sun-woo, apa kau ingat?” gumam Soo-mi penuh tanya.
Ji-won menyimpan semua barang-barang milik Sun-woo di tempat yang sama. Mulai dari buku-buku, jaket, surat yang Sun-woo tulis untuknya dan juga surat dari Choi Kwang-chun untuk Sun-woo.
Soo-mi menemui Jang-il. Sepertinya Jang-il ogah-ogahan bicara dengan Soo-mi. Soo-mi mengatakan kalau kedatangannya tak ada hubungannya dengan kejadian malam mereka bersama jadi Jang-il tak usah khawatir. Jang-il minta maaf karena kejadian malam itu hanya sebuah kesalahan. Soo-mi tak ingin membahasnya, ia sudah kadung kecewa karena yang diingat Jang-il adalah Ji-won. (Jika ada yang membaca tulisan ini selain di www.anishuchie.blogspot.com maka tulisan ini sudah dicopas tanpa sepengetahuan penulis)

Soo-mi memberi tahu kalau ia akan sekolah ke luar negeri, ia akan ke Chicago. Jang-il berusaha tersenyum dan memberi selamat. Soo-mi mengatakan kalau ia akan mendalami teknik melukisnya. Jang-il berbasa-basi berharap Soo-mi sukses.
Soo-mi juga mengatakan kalau Sun-woo menghilang dan kamar kontrakannya berantakan. Pemilik kontrakan mengatakan kalau Sun-woo menghilang sudah seminggu yang lalu dan pada suatu malam sebelum Sun-woo menghilang terdengar tangisan dan teriakan dari kamarnya. Menurutnya mungkin Sun-woo bersembunyi karena terlalu sedih. “Apa kau tahu kalau Sun-woo mencintai seseorang? Kelihatannya gadis itu juga mencintai Sun-woo. Aku kasihan padanya.”

Jang-il tak ingin lagi mendengar apapun tentang Sun-woo. Ia memotong pembicaraan dengan menanyakan kapan Soo-mi berangkat ke luar negeri. Soo-mi menjawab bulan depan. Jang-il langsung pamait. Soo-mi meninggikan suaranya dan berkata kalau ia belum selesai bicara. Jang-il langsung menghentikan langkahnya.

Soo-mi : “Saat aku kembali nanti kau tak bisa memperlakukanku seperti ini lagi.”
Soo-mi pergi meninggalkan Jang-il yang masih berdiri mematung.
Jang-il berkunjung ke rumah kontrakan Sun-woo yang sudah kosong. Ia melihat dirinya dalam kaca yang dipecahkan Sun-woo. Ia mengubungi Geum-jool untuk mencari tahu dimana keberadaan Sun-woo. Geum-jool yang memang tak tahu keberadaan Sun-woo menjawab seadanya. Geum-jool memang setia kawan, ia tak mengatakan kalau ia bertemu Sun-woo di malam terakhir sebelum Sun-woo pergi.
Jang-il berjalan setengah melamun, ia mengingat ketika dulu Sun-woo memintanya kuliah dan Sun-woo yang akan membiayai kuliahnya. Ia berbalik badan dan dilihatnya Sun-woo tersenyum padanya dan mengatakan kalau Sun-woo pandai mencari uang. Jang-il pun teringat ucapannya ketika mabuk, ia mengatakan kalau sukses ia akan membantu Sun-woo.

Di belakang Jang-il, di kejauhan sebuah pesawat melintas.
Sun-woo berada dalam pesawat itu bersama Moon Tae-joo dan sekertaris yang sampai sekarang saya belum tahu namanya. Sun-woo tampak melamun, Moon Tae-joo meminta agar Sun-woo melupakan siapa diri Sun-woo yang dulu, anggap saja Sun-woo yang dulu sudah meninggal. “Kau dilahirkan sebagai manusia baru.”

13 tahun kemudian, tahun 2012.
Wartawan mengerumuni mobil yang baru saja tiba. Setelah pintu mobil terbuka ternyata wartawan itu salah mobil. bukan dia bukan dia. Mereka pun ke mobil yang di belakangnya.
Keluarlah seorang pria dari dalam mobil dengan langkah tegap. Jaksa Lee Jang-il. Wartawan langsung memberondong pertanyaan padanya.
Wartawan : “Kami dengar anda mendapatkan bukti? Bagaimana anda mendapatkannya? Kapan anda akan memulai penyelidikan?”
Jang-il tak menjawab satupun pertanyaan wartawan, ia hanya tersenyum simpul. Jang-il ternyata tengah menyelidiki kasus korupsi, ia sudah membentuk tim penyelidik dan menemukan bukti penyelewengan keuangan.
Choi Soo-mi menjadi seorang fotografer yang cukup ternama di Chicago.
Lee Young-bae menatap layar besar yang ada di jalan, putranya Lee Jang-il sudah menjadi jaksa yang disegani masyarakat. Ia tersenyum puas.
Di sebuah rumah mewah, Kim Sun-woo tengah melakukan olahraga membentuk otot bisep-nya wow. Keren.
Jang-il pulang ke apartemennya. Young-bae langsung menawarkan mie untuk putranya. Jang-il mau saja walaupun di kantor ia sudah makan.

Lee Young-bae bercerita kalau hari ini ia bertemu dengan presdir Jin dan ia diajak makan di restouran yang mahal. Jang-il sepertinya tak suka ayahnya membicarakan Presdir Jin. Young-bae juga mengatakan kalau bisnis Presdir Jin berkembang pesat. Dan ujung-ujungnya ternyata Presdir Jin minta dikenalkan kepada kepala polisi yang Jang-il kenal.

Jang-il jadi malas makan, apa Presdir Jin menghubungi ayahnya hanya untuk itu. Young-bae menyangkal bukan karena itu. Jang-il mengingatkan ayahnya kalau ia ingin dihormati masyarakat dan ayahnya jangan lagi membantu Presdir Jin.
Jang-il : “Ayah tahu kapan saat yang paling membahagiakan dalam hidupku? Ketika aku mendapatkan pekerjaanku. Aku berhasil membela seorang tukang cukur dari tuntutan 8000 dollar. Aku bahagia menjadi jaksa.”

Jang-il mengatakan kalau sebentar lagi akan ada pemilihan jaksa agung melalui pemilihan umum. Ia tak mau terlibat kasus apapun yang tak lurus. Ayahnya meyakinkan kalau Jang-il pasti bisa menjadi jaksa agung bahkan putranya bisa menjadi menteri hukum.

Tak lupa Young-bae menyampaikan kalau Presdir Jin akan memperkenalkan pada Jang-il gadis-gadis yang bisa Jang-il peristri. Jang-il tak mau, ia sendiri yang akan memilih calon pengantinnya.
Dan di sebelah keduanya TV di ruangan itu memberitakan Choi Soo-mi yang baru kembali ke Korea setelah 13 tahun. Keduanya tak menyadari tayangan TV.
Han Ji-won menyiapkan perencanaan sebuah acara. Ia menjelaskan pada juniornya untuk menyiapkan acara sesempurna mungkin. Ia menjadi manajer perencana acara VIP di sebuah hotel bintang lima.
Atasan Ji-won mengatakan kalau akan ada tamu VVIP yang bernama David Kim pebisnis keturunan Korea-Amerika. Dia mencari hotel di Seoul untuk tinggal dalam jangka waktu lama dan mereka meminta dikerjakan secara rahasia. Yang mereka inginkan adalah saat mereka bertemu investor atau mengadakan rapat harus ada seorang manajer yang mengatur semuanya dan atasan Ji-won menunjuk Ji-won menerima tugas itu.

Ji-won mengatakan kalau ia memiliki banyak kegiatan dan juga ada pesta pernikahan penting yang harus ia tangani. Atasan Ji-won mengatakan kalau ia sudah mengirimkan data 5 manajer dan mereka memilih Ji-won.
Seorang pria berada dalam pesawat menuju Korea. Tangannya meraba buku bertuliskan huruf Braille. Sambil membaca ia mengambil minuman yang ada di sebelahnya, tangannya meraba-raba dan juga matanya tertutup. Kita tahu kalau dia adalah Kim Sun-woo.
Choi Kwang-chun terbangun karena bermimpi. Ia berada di bangku penonton gedung teater. Ia heran dengan mimpinya. Salah satu pekerja teater meminta Kwang-chun membantu bersih-bersih dan jangan hanya tidur saja.

Kwang-chun kesal karena ada anak muda yang tak sopan padanya, “Hey anak kecil, aku tak tidur. Kenapa kau tak memanggilku Paman?”
“Baiklah. bisakah kau membersihkan sisanya, paman?” kata pemuda itu membuat Kwang-chun kesal.
Choi Kwang-chun teringat mimpinya tadi, “Mimpi apa itu? apa Sun-woo masih hidup?” gumamnya.

Seorang wanita masuk, “Tuan Choi!” panggil wanita itu yang ternyata Soo-mi. Ia mengagetkan ayahnya. Soo-mi tersenyum dan berterima kasih karena ayahnya sudah menepati janji dengan bekerja di tempat teater.
Choi Kwang-chun sudah merindukan putrinya, ia langsung memeluk dan menangis haru. Dengan sikap seolah galak Kwang-chun bertanya kenapa Soo-mi kembali. “Kau bisa hidup di panggung besar dan memperlihatkan kemampuaanmu. Untuk apa kau kembali?”
Soo-mi tertawa hampir menangis, “Apa aku harus pergi lagi?”
“Jangan pergi!” kata Kwang-chun. Soo-mi mengajak ayahnya minum bersama. Kwang-chun memberi syarat kalau Soo-mi yang harus membayarnya. Soo-mi setuju.
Soo-mi menunggu seseorang di restouran. Park Yoon-joo (anak tiri Presdir Jin) menemuinya. Tapi ternyata Soo-mi tak membuat janji dengan Yoon-joo, ia janjian bertemu dengan Ma Hee-jung. Yoon-joo bilang kalau ibunya akan segera datang. Soo-mi juga malas menjabat tangan Yoon-joo. (Mungkin masih kesal dulu karyanya ga dilirik sama sekali)

Yoon-joo mengatakan kalau galerynya sudah tutup selama 2 tahun karena renovasi dan akan ada pameran ketika pembukaannya nanti. Soo-mi memberi ucapan selamat karena pembukaan galery itu menampilkan karya-karyanya.
Ma Hee-jung datang, ia minta maaf karena terlambat datang. Ma Hee-jung ternyata sangat mengagumi Soo-mi, ia sangat menyukai lukisan Soo-mi di Chicago. “Kami ingin menjadi yang pertama di Korea yang memamerkan karya anda!”
“Aku cukup jeli menilai lukisan.” sahut Soo-mi memuji dirinya sendiri.
Yoon-joo menawarkan jika ada orang yang ingin Soo-mi undang ke pembukaan bisa mengatakan padanya, ia akan mengirim undangannya. Soo-mi menolak ia yang akan melakukannya sendiri.
Soo-mi mendapatkan beberapa undangan yang masih kosong agar bisa mengundang orang yang ia inginkan. Tapi ia hanya membutuhkan satu saja, ia menyingkirkan undangan yang lain.
Lee Young-bae menerima telepon dari seseorang. Ia mengira telepon itu dari biro jodoh. tapi ia terkejut ketika mendengar si penelepon menyebutkan namanya, Kim Sun-woo. Tangannya gemetaran.
Sampai di rumah Lee Young-bae langsung memberi tahu Jang-il kalau Sun-woo meneleponnya. Jang-il tak yakin dan bertanya apa itu benar suara Sun-woo, kenapa dia mendadak ingin bertemu. (www.anishuchie.blogspot.com) Apa yang dilakukannya selama ini. Young-bae merasa kalau itu benar suara Sun-woo.

Jang-il jadi bertanya-tanya kenapa Sun-woo ingin menemuinya. Ayahnya bilang kalau Sun-woo mengatakan padanya Sun-woo menyesal karena sudah kehilangan kontak dengan Jang-il. Jang-il ingin tahu apa saja yang dikatakan Sun-woo ditelepon. Ayahnya berkata kalau ia menanyakan pada Sun-woo kabar dan apa saja yang dilakukan Sun-woo tapi Sun-woo bilang akan menceritakannya ketika bertemu nanti.
Jang-il heran bagaimana Sun-woo bisa tahu nomor ponsel ayahnya. Young-bae mengatakan kalau Sun-woo menelepon villa Presdir Jin dan mengaku sebagai anak dari seorang teman. Jang-il makin penasaran kenapa Sun-woo bersikeras ingin bertemu. Ayahnya mengusulkan apa harus bilang pada Sun-woo kalau kita tak punya waktu. Jang-il menolak, ia mengajak ayahnya menemui Sun-woo.
Di sebuah restouran Sun-woo sudah menunggu kedatangan Jang-il dan Lee Young-bae. Sun-woo duduk tenang dengan kaca mata hitamnya.

Jang-il dan ayahnya sampai disana, tatapan Jang-il penuh tanda tanya. Jang-il dan ayahnya berdiri di depan Sun-woo. Sun-woo diam saja ia tak menyadari ada orang yang datang.
“Apa kau Sun-woo?” sapa Lee Young-bae.
Sun-woo tersadar ada seseorang di depannya. Ia membuka kacamata dan langsung berdiri.
“Lama tak bertemu.” sahut Jang-il dingin tapi penuh tanda tanya.
“Jang-il apa itu kau?” Sun-woo mengulurkan tangannya berniat salaman, tapi arahnya salah malah ke samping Jang-il. Jang-il memperhatikan tangan dan tatapan mata Sun-woo. Ia membelokan tangan dan menjabat tangan Sun-woo.
Jang-il langsung menarik dan memeluk Sun-woo tanpa senyuman, “Senang bertemu denganmu.” ujar Jang-il.
Ketiganya duduk, Jang-il dan ayahnya terus memperhatikan Sun-woo (barangkali ada sesuatu yang mencurigakan)
“Sudah berapa lama ya? Lebih dari 10 tahun kan?” ucap Jang-il.
“Aku pikir sudah 13 tahun.” jelas Sun-woo.

Lee Young-bae ikut bicara dengan menanyakan kabar Sun-woo. Sun-woo mengatakan kalau selama ini hidupnya berkelana kesana kemari. Ia tak banyak melakukan apa-apa, ia hanya memijat orang dan mengajari orang membaca huruf Braille.

Jang-il memperhatikan setiap detail penampilan Sun-woo, tak ada yang aneh untuknya tapi tetap saja ia curiga ada sesuatu dibalik itu semua.
“Kau kelihatan sehat.” sahut Jang-il.
“Kau kelihatan lelah seperti sudah tak tidur berhari-hari.” ujar Sun-woo.

Lee Young-bae membenarkan tebakan Sun-woo. Sun-woo mengatakan kelebihannya. Ia pandai memijat, kalau bahu Jang-il sakit bisa minta bantuannya untuk dipijat.

Lee Young-bae menanyakan apa Sun-woo sudah menikah. Sun-woo tertawa dan berkata kalau orang seperti dia tak bisa menikah. Sun-woo juga menanyakan hal yang sama, apa Jang-il sudah menikah. Jang-il menjawab kalau ia juga belum menikah. Sun-woo tanya kenapa bukankah banyak wanita yang tertarik pada Jang-il. Jang-il mengatakan kalau ia sibuk. Sun-woo merasa kalau itu bukanlah alasan, “Mungkin tak ada orang yang kau cintai sepenuh hatimu, benarkan?”

Jang-il kesal mendengarnya tapi ia tetap menahan diri. Ia melirik ke arah ayahnya dan melihat jam tangan.
Pelayan datang membawakan minuman. Sun-woo ingat kalau Young-bae selalu menambahkan gula yang banyak ke kopi. Ia akan menambahkannya. Sun-woo meraba-raba tempat gula dan akan menungkan ke kopi tapi ia malah mendorong gelas hingga gelas itu jatuh dan pecah, tumpahan gulanya mengotori pakaian Jang-il.

“Apa aku menumpakan sesuatu?” Sun-woo berusaha mengambil tisu tapi malah menyenggol gelas yang lain. Jang-il berkata biar ia saja yang membersihkannya, Sun-woo bersikeras kalau ia bisa melakukannya. Jang-il menahan tangan Sun-woo dan kembali berkata biar ia saja.
Jang-il yang dari tadi penasaran langsung bertanya apa ada alasan tertentu Sun-woo ingin bertemu dengannya. Sun-woo menjawab kalau tak ada alasan khusus, ia hanya merasa kalau ia sudah lama tak bertemu dengan Jang-il. Ia takut kalau Jang-il akan mengkhawatirkannya makanya ia menelepon.

“Benar aku mengkhawatirkanmu.” Kata Jang-il, ia juga senang Sun-woo baik-baik saja. (tapi ekspresi wajahnya tidak menunjukan rasa senang)

Sun-woo tanya kenapa Jang-il tak pernah mencarinya. Jang-il minta maaf karena ia sibuk dan sekarang ia ada rapat tapi ia menundanya untuk bertemu dengan Sun-woo. Sun-woo meminta Jang-il bergegas kembali ke kantor. Ia berterima kasih karena Jang-il menemuinya hari ini. Jang-il juga minta maaf ia harus pergi lebih dulu dan ayahnya bisa ngobrol dengan Sun-woo. Sun-woo menolak karena ayah Jang-il pasti sibuk. Ia juga harus pergi dan bisa bertemu lagi lain waktu.

Dengan tatapan curiga Jang-il bertanya siapa yang mengantar Sun-woo ke sini (restouran). Sun-woo menjelaskan kalau ia sudah bisa bepergian sendiri jadi Jang-il tak perlu khawatir.
Jang-il dan ayahnya keluar dari restouran, Sun-woo tetap duduk di tempatnya. Jang-il merasa masih ada yang aneh dari sikap Sun-woo. Ia melirik ke arah Sun-woo yang masih duduk di kursinya dengan tatapan seperti biasa (orang buta). Sepertinya tak ada yang mencurigakan dari sikap Sun-woo. Ia pun bergegas pergi.
Sun-woo menatap tajam lurus, apa dia sudah bisa melihat? karena tatapannya berbeda dengan tatapan ketika ia bicara dengan Jang-il tadi.

15 comments:

  1. nah diep ini kalau sun woo remaja jadi dewasa baru bagus,,, kan 13 tahun kemudian,,pergantian dewasanya yang dulu terlalu cepat..

    aku kehilangan sosok ji won yang pemberani dan lantang.. kenapa setelah besar dia jadi melo.. harusnya tuh dia cuek ma jang ill #dendamkesumatmajangil.. hahhahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak anis + apni : setuju, kangen sosok ji won remaja... mungkin dia sudah bisa mengotrol emosinya, biar bisa kerja cari uang buat dia sm adeknya...

      Delete
    2. @Apni : sepemberani atau selantang apapun orang kalau sudah ngomongin hati dia pasti jadi melow haha, ini sifat manusiawi...

      @My Obsesion : iya kangen, apalagi waktu dia menggul2 barang. berasa cewek strong hahaha...

      Delete
    3. persaingan jang il dan sun woo makin seru deh :))

      Delete
    4. Yupe setuju, di eps ini nih yg pas buat pralihan remaja ke dewasa soalnya bedanya smpe 13 taun klo kmrn kan cm slisih 2 taun aj..
      Btw smuanya ktutup koq ma akting keren mereka :)

      Tetap sehat tetap semangat supaya qita tetap bisa jalan2 *lho koq?*

      Pokoké,, fighting^^

      Delete
    5. he.em mbak apni emang jadi melo nih, tapi bener kata mbak anis keke~
      @kak mimu:i agree too :P
      haha ayo kak mimu, mau jalan2 ke mana? ^^

      Delete
    6. @zahra:kangen mereka waktu remaja, senyumnya tulus=manis jadinya, akur bin rukun T.T

      Delete
  2. klo di korea, industri pertelevisian sgt ketat bgt, dimana channel satu memperhatikan channel yg laen, ngambil kesempatan, ketika yg laen tdk ditayangkan, apa di indonesia jg begitu ya?? tp aq merasa g ya, apa krn sering kejar tayang, jd g keliatan....

    equator man itu ada berp episode sech, n mau diperpanjng brp epi?? moga2 g diperpanjang dech, terlalu lama...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @nevi : di Indonesia juga sama. jika suatu sinetron ratingnya rendah siap-siap deh itu sinet dibungkus dan ini sering terjadi di R*TI dengan PH Sin**mart nya... kalau sinetron mereka ga masuk 5 besar, terima nasib deh... bungkus...

      Equator Man sebenarnya 20 episode tapi ada rencana ditambah 4 episode....

      ga masalah sih diperpanjang yang penting ceritanya ga muter-muter kayak sinet Indonesia...

      Delete
    2. dira tau yang itu mbak haha kebaca banget :P

      Delete
  3. wah,, Ji Won jadi manajer penyelenggara acara VIP,, liat lagi Lee Bo Young Eonnie dengan seragam hotelnya,, aku suka liat dia pake seragam pas di Mr. Goodbye,, disini bisa liat lagi,, cantik,,, ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. cantik ya, awet muda... haha...

      Delete
    2. iya, kesan pertama dira ma eonni lee bo young-pake seragam itu :)
      sweet...

      Delete
  4. mungkin hanya aku yang bilang jang ill cakepan pas poninya udah di naikin.
    -suka lee jun hyuk #efek city hunter

    ReplyDelete
  5. aih, paling suka di equator man ya bacaannya itu bikin melting >__<
    petugas rehabilitasi yang minta bantuan itu pernah main di my fair lady bukan hihihi
    eh tulisan bukan braillenya kim sun woo kayak gimana ya? *imagine
    lompatan waktu lagi :)
    oya mbak anis, yang keren tuh rumahnya, latihannya ato otot bisepnya?
    :akhir kata: JAKSA KIM GAK SAMA DENGAN JAKSA LEE xD
    sama seperti val, suka jaksa lee, i miss i miss untung deh tayang lagi city hunternya wkwkwkwk
    makasih mbak anis :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...