Sunday, 26 August 2012

Sinopsis A Gentleman's Dignity Episode 18

Mereka berempat berada di mobil Yoon menyusuri jalan raya. Keempatnya mengagumi kalau hari ini sangat cerah. Yoon menawarkan bagaimana kalau mereka mencari makanan. Jung Rok setuju. Tae San menyahut kalau naik Betty pasti mereka dilarang makan apapun, tapi karena ini naik mobilnya yoon jadi it’s ok lah hehe...


Mobil berhenti di lampu merah. Keempatnya bernyanyi-nyanyi. Tapi tiba-tiba brak... ada yang menabrak mobil Yoon dari belakang. Keempatnya langsung terdiam kaget. “Apa itu? Apa kita baru saja mengalami kecelakaan?” tanya Yoon.
Do Jin menoleh ke belakang, “Mobil sedan besar pengendaranya pria berusia 20-an. Pasti mobil ayahnya. Tak usah bersikap lunak padanya!”
“Semuanya, leher!” ucap Tae San.
Keempatnya keluar dari mobil sambil memegangi leher masing-masing, pura-pura terluka padahal mereka tak apa-apa. (busyet Yoon yang seorang pengacara aja mau ngelakuin hal kekanakan kayak gini hahaha) Pemuda pengendara mobil yang menabrak juga ikut keluar.
“Aduh pinggangku!” ucap Yoon sambil memegangi leher dan pinggangnya.
“Ouch tulang belakang ketigaku!” rintih Tae San memegangi lehernya.
“Aduh gigiku!” kata Jung Rok sambil memegangi lehernya heheh.
“Aduh lututku!” Do Jin meringis memegang lututnya. Hahaha.

Jung Rok memarahi pemuda itu, apa pemuda itu tahu siapa mereka. Mereka adalah orang yang bisa mengguncang pondasi Republik Korea. Tae San mengeluhkan akan jadi seperti apa negara ini karena kecelakaan terjadi didalam negara yang diatur oleh hukum. Pemuda itu meminta keempatnya menunggu sebentar, ia minta izin mau menelepon. Keempatnya tertawa dan mereka juga mengeluarkan ponsel masing-masing akan menelepon seseorang sebagai ancaman terhadap pemuda itu.
Yoon langsung menelepon hakim dan mengatakan kalau ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Tae San menelepon kantor polisi ingin bicara dengan kepala polisi. Jung Rok menghubungi istrinya dan meminta istrinya menghubungi koneksi istrinya di kantor pemerintahan.

Do Jin siapakah yang dia hubungi. N.I.S.I (sebuah institute negeri di Korea untuk investigasi ilmiah) ia ingin bicara dengan Dr Yoon Ji Hun. Lha kok nelepon tim peneliti ilmiah.

Keempatnya terus menelepon orang yang mereka tuju tapi sebenarnya tak terhubung sama sekali niat keempatnya hanya ingin menggertak pemuda ini.

Yoon mengaku kalau ia tak terluka parah hanya.... Tae San berkata kalau leher belakangnya sedikit kaku tapi menurutnya yang namanya efek kecelakaan tidak akan langsung terlihat setelah kecelakaan terjadi.

Do Jin lebih mengagetkan, “Apa Dr Yoon Ji Hun meninggal?” Ketiga temannya heran menatap Do Jin kenapa menghubungi orang seperti itu untuk mengancam.
Pemuda itu mengeluarkan sebuah kartu nama dan menghubungi seseorang, ternyata ia menghubungi perusahaan asuransi. Ia mengatakan kalau ia mengalami kecelakaan dan menabrak bagian belakang sebuah mobil. Ia mengakui itu kesalahannya. Keempatnya kaget karena pemuda itu menghubungi perusahaan asuransi. Keempatnya tahu kalau berurusan dengan perusahaan asuransi proses menunggunya akan lama.

Pemuda itu minta maaf dan mengatakan kalau seseorang dari perusahaan asuransi akan datang dalam waktu 10 menit, “Apa kalian terluka parah?” Keempatnya langsung bersikap normal seolah tak terjadi apa-apa.
Mereka pun menunggu lama tapi seseorang dari perusahaan asuransi itu pun tak kunjung datang. “Kepala polisi?” Gumam Yoon “Memangnya kau tahu seperti apa wajah kepala polisi itu?”

Tae San balik menanyakan bagaimana dengan Yoon sendiri. Ia beralih ke Jung Rok kenapa menelepon Min Suk. Jung Rok berkata karena untuknya istrinya adalah pemilik kedudukan tertinggi. Ia pun bertanya-tanya Apa N.I.S.I? Do Jin berkata kalau ia hanya ingin menemukan seseorang dari bidang yang berbeda. Ia mengeluh kenapa lama sekali seseorang dari perusahaan asuransinya. Keempatnya lelah dan bosan menunggu lama.

Suara Do Jin : “Menelepon perusahaan asuransi setelah mengalami kecelakaan bukanlah hal yang tak kami ketahui. Tapi hari itu kami menggunakan trik kotor orang dewasa yang sangat kami benci ketika kami masih berusia 20-an. Kalau kau mempersulit masalah sederhana yang bisa diselesaikan dengan mudah atau berbohong demi mendapat keuntungan materi. Sayangnya, kau mungkin saja akan menjadi salah satu diantara ahjussi atau orang tua yang dibenci.”

Sinopsis A Gentleman’s Dignity Episode 18
Yoon melamun di kantor. Sambil memandang gelang hitamnya ia menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya dan keputusan apa yang harus ia ambil.
Do Jin dan Yi Soo masuk ke ruangannya. Ia segera menutup gelangnya dengan buku. Do Jin menanyakan kenapa ponsel Yoon mati, ia menyampaikan kalau Meari pergi dan dia sudah berada di bandara. Yi Soo menambahkan kalau Meari hanya mengirim SMS padanya, handphone-nya juga sudah dimatikan. Yoon diam saja. Do Jin bertanya apa Yoon akan membiarkan Meari pergi begitu saja.
Jung Rok masuk ke ruangan Yoon tergesa-gesa dan mengataan Meari pergi ke Amerika dan berangkat hari ini. Melihat disana juga ada Do Jin dan Yi Soo, ia menebak kalau mereka semua pasti sudah tahu perihal kepergian Meari. Yoon masih terdiam.

Do Jin melihat jam tangannya dan berkata Yoon masih bisa melihat Meari kalau berangkat sekarang dengan menginjak pedal gas mobil. Jung Rok menambahkan mungkin saja Meari masih di loket tiket karena dia tak terlalu bersemangat. Yi Soo mengatakan kemungkinan lain yang terjadi, menurutnya mungkin saja Meari sibuk berbelanja dan ketinggalan pesawat. Do Jin mengatakan kemungkinan yang lain, obat-obatan terlarang atau senjata api mungkin ditemukan di tas-nya.

Jung Rok : “Seorang pria asing mungkin membawa tas yang sama persis dengannya dan tas mereka tertukar lalu mereka saling jatuh cinta!” (drama banget om hahaha)

Do Jin dan Yi Soo langsung menatap kesal ke arah Jung Rok. Sadar kalau ucapannya tak masuk akal Jung Rok langsung terdiam dan meralat kalau Meari mungkin sekarang sedang menunggu Yoon.
Yoon meminta ketiganya lebih baik sekarang pergi karena besok ia ada sidang gugatan. Do Jin mengumpat dasar bodoh, sidang gugatannya besok tapi Meari pergi sekarang. Yoon kembali terdiam.
Setelah ketiga temannya pergi Yoon merenung. Haruskah ia membiarkan Meari pergi lagi, haruskah ia terus memungkiri perasaannya. Yoon mengambil keputusan ia mengambil kunci mobil dan bergegas menyusul Meari ke bandara.
Seperti yang kita tahu Yoon menarik Meari keluar dari bandara. Meari cemas bagaimana kalau kakaknya tahu tentang hal ini. Yoon langsung menarik Meari ke pelukannya, Meari jelas terkejut dengan perlakukan Yoon yang tiba-tiba. Yoon memeluknya sangat erat seolah tak ingin melepaskannya.

“Aku mencintaimu, Im Meari!” Ucap Yoon penuh perasaan. Meari terkejut campur rasa haru mendengar Yoon mengungkapkan perasaan terhadapnya. “Telah membuatmu menderita sendirian aku minta maaf. Karena terlambat mengungkapkan perasaanku, aku minta maaf.” Air mata Meari perlahan menetes. Yoon melepas pelukannya.
“Jangan pergi kemanapun juga. Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi.” Yoon mengusap lembut air mata Meari yang menetes. “Aku datang kesini bukan untuk mencegahmu pergi ke Amerika tapi untuk membuatmu tetap di sisiku. Mulai sekarang aku akan menunjukan perasaanku dengan berani. Mulai sekarang ikuti saja aku, aku yang akan mengurus semuanya. Walaupun jalan yang kita lalui mungkin akan sulit dan meresahkan tapi aku tak akan pernah melepaskanmu lagi. Aku tak akan membiarkanmu sendirian lagi.”
Meari mengangguk dengan air mata yang terus berlinang. Yoon kembali memeluknya erat.
Min Suk berada di parkiran kafe. Ia menghubungi seseorang dan akan menunggu di parkiran. Ia melihat mobilnya sangat kotor dan heran kenapa Jung Rok tak mencuci mobil.
Ia melihat ada yang aneh dengan kotoran di mobilnya. Ia mengamati bagian atas mobil yang seperti terkena sapuan benda yang biasa dilalui ketika sebuah mobil masuk ke parkiran hotel. Min Suk mencurigai suaminya pergi ke hotel bersama wanita lain.
Tae San sampai di rumah setelah melakukan perjalanan bisnisnya. Ia melepas lelah di kursi. Kemudian terdengar suara bel rumah, ia melihat kalau yang datang itu Yoon seorang diri, Tae San membukakan pintunya.

Tae San langsung berbalik setelah membuka pintu dan bertanya apa Yoon sudah makan bagaimana kalau keduanya makan malam bersama. Tapi langkah Tae San terhenti karena ia mendengar suara lain. Ia pun menoleh dan terkejut melihat Yoon membawa tas Meari.

Bersamaan dengan itu Meari masuk ke rumahnya dengan wajah tertunduk. Tae San jelas shock melihat semua ini, ia berusaha menguasai dirinya atas keterkejutan yang baru saja ia lihat. Yoon berkata kalau ia menjemput Meari, ia akan mengantar Meari masuk, Yoon menggandeng tangan Meari. Tae San masih tak percaya kenapa semua ini terjadi.
Tae San terbata-bata, “Kau... bagaimana mungkin? Choi Yoon Pal, kenapa kau tega?”
Yoon menyadari kesalahannya, “Aku minta maaf, kalau aku membiarkannya pergi sekarang aku akan kehilangan dia selama-lamanya.”

Tae San berkata kalau Yoon lebih baik kehilangan Meari selamanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang. “Meminta maaf seperti ini padaku, katakan padaku apa yang harus kulakukan?”
Tae San beralih menatap adiknya yang menangis, “Im Maeari apa kau tak mau berhenti?”
Yoon meminta Tae San lebih baik menyalahkannya, apapun itu ia akan menanggungnya. Ia akan menanggung semua konsekuensinya.

“Aku sudah mempertimbangkannya seribu kali dan seribu kali kujawab ‘tidak’, aku sudah melakukan yang terbaik untuk menahannya tapi ketika kudengar Meari akan pergi lagi duniaku terasa runtuh. Saat itu juga aku menyadari bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan bersembunyi, seharusnya aku mengakui perasaanku sejak awal.

Maaf, karena selama ini sudah membuat Meari menangis. Aku akan menyayanginya. Aku akan menyayangi Meari sepanjang sisa hidupku. Tae San, ini permintaanku yang pertama dan terakhir. Tolong maafkan aku sekali ini saja.”
Tae San : “Kau... apa sudah siap kehilangan aku? Im Meari, apa kebahagiaan seperti ini yang kau inginkan?”
Air mata Meari semakin menetes, “Kakak tolong maafkan aku kali ini saja.”

Tae San : “Bukankah sudah berkali-kali aku memaafkanmu? Aku menyesal sekarang. Aku tak pernah menyangka kalian berdua tega melakukan ini padaku. Akulah yang bodoh, akulah yang gila!”

Meari : Kakak?
Tae San : “Mulai sekarang aku sudah kehilangan kalian berdua. Im Meari, kau keluar dari rumah ini. Ini bukan rumahmu lagi dan aku bukan kakakmu lagi!”

Tae San segera naik ke kamarnya. Meari menangis histeris, “Kakak.. kakak.. kakak.. kakak..!”
Yi Soo, Do Jin dan Jung Rok berada di Mango Six. Jung Rok menilai kalau gadis bodoh itu (Meari) sebalumnya dia selalu melawan sepanjang hidupnya tapi sekarang kenapa dia patuh. Kalau dia sepatuh ini kenapa dia tak pernah mendengar kata-katanya.
Do Jin mengeluarkan lotion dari tas-nya. Ia mengatakan kalau Meari itu cerdas. Yi Soo bertanya-tanya apa mereka berdua sudah bertemu. Jung Rok malah balik bertanya apa menurut Yi Soo, Meari akan benar-benar pergi.

“Dia pergi 1 tiket, mereka beretmu 2 tiket!” sahut Do Jin sambil mengoleskan lotion ke tangan Yi Soo. Yi Soo tanya kenapa bisa seperti itu. Do Jin berkata kalau ia adalah contoh pria yang pernah kehilangan seseorang dan menemukannya kembali, perasaan bahwa dunia akan kiamat ia sudah pernah menjalaninya.

Yi Soo risih Do Jin mengoleskan lotion ke tangannya, ia merasa tak enak karena terus dilihat Jung Rok. Tapi Do Jin tak peduli ia terus mengoleskannya. Tapi sesaat kemudian Yi Soo pun tersenyum menikmatinya. Jung Rok jelas risih melihat kemesraan keduanya, “Walaupun kau jatuh cinta memakaikan lotion ke tangannya itu sudah berlebihan. Berlebihan.”
Do Jin heran apa Jung Rok tak pernah melakukan ini ketika Jung Rok pacaran dengan Min Suk. Ingin melakukan sesuatu untuknya, mengkhawatirkan ketika dia sendirian. “Aku akan marah sekali kalau wanita ini makan sendirian. Bukan, kalau aku tak menyuapinya bisakah dia melakukannya sendiri?” (wekekeke)
Yi Soo tertawa, Jung Rok mual mendengar gombalan Do Jin, “Aih.. gw tiba-tiba pengen muntah!” katanya. Jung Rok kesal melihatnya, “Kalau ini dibiarkan terus kalian mungkin akan menciumi jendela lagi. Manusia normal menciumi jendela orang lain tanpa alasan sama sekali.” Yi Soo terkejut bagaimana Jung rok bisa tahu, tepat saat itu ponsel Yi Soo berdering. Yoon yang meneleponnya. Yoon meminta bertemu dengan Yi Soo.
Yi Soo dan Yoon duduk di bangku taman. Yi Soo menebak pasti keputusan yang Yoon ambil itu sangat sulit. Yoon minta maaf karena sudah membuat Yi Soo menemuinya disaat situasi seperti ini. Yi Soo tak masalah ia sudah lama mengenal Yoon tapi apa yang Yoon lakukan sekarang menurutnya adalah yang paling keren. Yoon menyangkal apa kerennya pria seperti itu yang sudah membebani temannya sendiri.

Yi Soo : “Sebagai seseorang yang sudah mengalami hal seperti ini sebelumnya maka nasihatku untukmu adalah pada awalnya beban itu terasa sangat berat untukku sampai aku tak bisa melangkah setapak pun. Tapi tiba-tiba aku menyadari ‘ah.. beban ini adalah berat hati’ seberapa besar cinta dan kebahagaiaan dapat diukur dengan seberapa besar beban yang kau miliki. Aku menyadari bahwa aku benar-benar... mencintainya...”

Yoon setuju dan akan sangat baik kalau Tae San bisa memahami itu. Yi Soo yakin kalau Tae San akan memahaminya, jadi Yoon tak perlu khawatir.
Ada sesuatu yang ingin Yi Soo sampaikan pada Yoon. Ia tahu kalau ini agak terlambat mengatakannya tapi ia ingin berterima kasih. Yoon tanya untuk apa. Yi Soo bilang kalau ia sudah tahu orang yang menolongnya di kafe, orang yang menolongnya menyelesaikan perselisihan itu adalah oppa-oppa. Yi Soo tahu pasti kalau mereka (anak tiri ibunya) mungkin akan menghubungi Yoon. Ia berpesan kalau mereka menghubungi Yoon tolong beritahu padanya. Ia tak ingin membebani mereka berempat.

Yoon berjanji akan menghubungi Yi Soo begitu mereka menghubunginya, karena sekarang ia sudah menjadi penasehat hukum Yi Soo. Yi Soo sudah mengurus Meari setidaknya inilah yang bisa ia lakukan untuk membalasnya.

Yoon penasaran bagaimana Yi Soo tahu kalau mereka berempat ada disana. Yi Soo mengatakan kalau kalian berempat memecahkan gelas dan pergi tanpa membayar ganti rugi. Yoon ingat itu ia jadi tak enak hati. Yi Soo berkata kalau menolong adalah menolong, uang adalah uang. Ia berencana mengumpulkan setiap sen-nya dan kalau Tae San tak merestui hubungan Yoon dengan Meari haruskah ia membuat Tae San yang membayar semuanya. keduanya tertawa tapi tawa Yoon lebih mengarah ke tertawa pahit.
Se Ra terkejut mengetahui kalau yang mencegah kepergian Meari adalah Yoon. Meari mengangguk pelan. Se Ra cemas apa kakak Meari mengatahui ini. Dengan perasaan sedih Meari mengatakan kalau setelah ia pulang ke rumah dengan Yoon kakaknya mengusir dirinya dan Yoon. “Katanya dia tak punya adik seperti aku.”

Se Ra tak menyangka apa Meari pergi karena Tae San menyuruh pergi. Meari bilang apa yang bisa ia lakukan kakaknya marah sekali. Se Ra heran kenapa Meari tetap melakukannya, meninggalkan Tae San sendirian. Ia tanya apa tak apa-apa kalau Meari ia tinggal sendirian. Ia berpesan agar Meari Tidur yang nyenyak.

Meari berterima kasih, Se Ra bilang kalau ia tak butuh terima kasih dari Meari, “Kau urus pacarmu, aku akan mengurus pacarku. Aku akan memberitahunya kalau kau ada disini dia pasti sangat mengkhawatirkanmu.”
Tae San berdiam diri di rumah. Ia membiarkan rumahnya dalam keadaan gelap. Hanya ada lampu kecil yang menerangi ruang tamu. Ia mendengar kalau ada seseorang menekan password rumahnya, terdengar suara Se Ra bertanya dimana dirinya.
Tae San langsung duduk lemas. Se Ra heran kenapa Tae San tak menyalakan lampu. Se Ra melihat kalau wajah Tae San benar-benar murung, ia mengerti perasaannya dan berusaha menghibur Tae San, “Apa kau tak apa-apa?” Tae San diam saja.
Se Ra memberi tahu kalau sekarang Meari ada di rumahnya. Tae San tetap diam. Se Ra memeluknya memberi semangat, Tae San langung menitikan air mata. Se Ra berkata kalau semuanya akan baik-baik saja.

“Gadis nakal itu menyakiti hati kakaknya seperti ini. Im Meari, dia pasti akan mendapat balasan dariku. Beraninya dia membuat pacarku menangis. Aku akan membuat perhitungan dengannya!” Se Ra menemani Tae San yang tengah dirundung kesedihan, ia terus berusaha menghiburnya.
Min Suk di rumah menahan kesal. Tepat saat itu Jung Rok pulang, ia heran kenapa tak bisa menghubungi istrinya seharian ini, istrinya juga tak ada di parkiran (oh jadi Min Suk diparkiran tadi nungguin Jung Rok) Min Suk diam menahan marah.

Jung Rok akan menceritakan perihal Yoon dan Meari, tapi Min Suk menyela dan bertanya apa Jung Rok pergi ke motel. Jung Rok heran, “Motel? Apa bahkan mereka pergi ke motel? Kapan?”
Min Suk makin kesal apa Jung Rok pikir sekarang ini ia sedang bercanda bukan mereka tapi Jung Rok yang pergi ke motel. Jung Rok makin heran, “Aku? Ke motel? Motel apa?”

Jung Rok kemudian ingat dan membenarkan, ia mengatakan kalau Tae San buru-buru pergi ke Chuncheon untuk melakukan perjalanan bisnis jadi ia membawakan bajunya ke sana. Min Suk jelas tak menyangka bahkan sekarang Jung Rok tanpa ragu-ragu lagi mengatakannya, ternyata banyak latihan sudah membuat Jung Rok terlihat lancar.

Jung Rok sekarang paham istrinya sudah menuduh yang bukan-bukan bahkan kemarin Min Suk juga melakukannya di pesta. Ia mengatakan kalau ia jujur, tanyakan saja pada Tae San kalau Min Suk tak percaya. Min Suk jelas tak percaya karena suaminya ini selalu bersekongkol dengan mereka, berlagak seolah-olah tak berbuat kesalahan.

Jung Rok mulai kesal, apa maksud istrinya ia bersekongkol. Ia bisa gila kalau dituduh macam-macam seperti ini. Ia mengerti kenapa Min Suk bersikap seperti ini, itu terjadi karena ia sering melakukan kesalahan tapi kali ini ia memang tak melakukannya. Kalau Min Suk tetap tak percaya tanya saja pada Meari karena dia yang meminta dirinya menolong Meari.

Min Suk menilai kalau Jung Rok sedang menggunakan taktik tarik mengulur-ulur waktu. Ia meninggikan suaranya kalau Meari sedang dalam perjalanan ke Amerika bagaimana mungkin ia bisa meneleponnya sekarang. Suara Jung Rok ikut meninggi dan berkata kalau Meari tak jadi pergi karena Yoon mencegahnya. Ia sadar kalau apapun penjelasannya Min Suk tak akan percaya, jadi ia menyarankan istrinya lebih baik menghubungi Meari sekarang juga.
“Apa kau pikir aku tak berani melakukannya?” Min Suk segera menghubungi Meari. Jung Rok tak menyangka apa Min Suk benar-benar akan melakukannya, ia berharap istrinya ini tak mempermalukan diri di depan Meari. Min Suk tak peduli kenapa kalau ia malu.

Min Suk pun langsung menanyakan ke Meari, “Kata bos-mu kau meminta dia pergi ke Chuncheon apa benar?”
Meari : “Benar, aku bertengkar dengan kakakku jadi aku meminta Kak Rok untuk pergi. Memangnya kenapa? Apa Kak Rok belum sampai di rumah?”
Min Suk bilang tak apa-apa, ia mengerti. Jung Rok tanya Meari bilang apa, bukankah yang dikatakannya tadi benar. Min Suk diam saja, Jung Rok bertanya lagi apa Meari menyangkal semuanya. Min Suk berkata dengan nada lemah dan menangis kalau yang dikatakan Jung Rok semuanya benar. Jung Rok heran kalau memang benar lalu kenapa Min Suk menangis, apa Min Suk merasa bersalah.

Min Suk : “Aku tak bisa melanjutkan ini. Aku benar-benar tak bisa melanjutkannya lagi. Kita bercerai saja.”

“Lagi! kau selalu minta cerai. Aigoo.. minta maaf saja kalau kau merasa bersalah. Kenapa kita harus bercerai? Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan marah padamu.” Kata Jung Rok sambil memeluk istrinya kemudian ke kamar karena ia ingin istirahat.

Min Suk masih berdiri menitikan air mata, ia tak bisa melepaskan rasa berfikiran negatif terhadap suaminya. Ia ingin menghilangkan perasaan seperti itu dan menurutnya bercarai adalah jalannnya.
Colin memainkan gitar di kamarnya (hmm irama lagu My Love nih) Do Jin masuk ke kamar putranya dan melihat permainan gitar Colin. Ia mengetuk rak buku memberi tanda kalau ia ada disana.
Do Jin duduk di kursi orange dan bertanya tentang sekolah colin. Apa menarik, apa menyenangkan. Colin berkata sejak kapan sekolah menyenangkan. Do Jin mendesah pelan dan kembali bertanya apa Colin sudah memiliki banyak teman. Colin berkata kalau ia memiliki satu, apa satu bisa dianggap banyak. Do Jin ingin tahu siapa nama teman Colin ini. Colin memberi tahu kalau nama temannya itu Kim Dong Hyub (what haha ini kan  anak yang terlibat perkelahian dengan Do Jin di episode 1)

Do Jin menebak apa Kim Dong Hyub itu orangnya tangguh dan jantan. Colin menambahkan kalau Dong Hyub ini juga malas belajar. Do Jin jelas tak suka Colin bergaul dan berteman dengan orang yang seperti itu. Colin balik menyerang, memangnya paman Jung Rok rajin belajar. Wekeke.

Do Jin ingin tahu kapan saat-saat yang menjadi favorit Colin, tentu saja tidak termasuk jam makan siang dan istrahat. Colin berkata kalau satu menit sebelum makan siang, satu menit sebelum waktu istirahat itu saat yang paling ia sukai.
Do Jin : “Satu menit sebelum bertemu ayah kandungmu, masuk hitungan tidak?”
Colin tak menjawab, ia beralasan kalau ia ngantuk dan mengucapkan selamat malam pada ayahnya.
Do Jin keluar dari kamar putranya dan berpapasan dengan Yoon yang baru saja sampai di rumah. Do Jin langsung bertanya apa Yoon memasrahkan pacar Yoon pada pacarnya. Dengan nada lemas Yoon menjawab ya dan mengatakan kalau Tae San sudah mengusirnya.

Do Jin terkejut, “Benarkah? Melihat mulusnya wajahmu sepertinya Tae San tidak memukulimu!” Yoon bilang kalau hari ini kacau sekali.
Keduanya duduk di kursi. Yoon bertanya apa Do Jin masih ingat ketika Meari masih di SD seorang anak laki-laki memukulnya dan Tae San sangat murka. Ketika dia sampai di rumah anak itu, dia menanyai anak itu apakah dia tahu anak seperti apa Meari. ‘dia akan menjadi Miss korea, apa yang akan kau lakukan?’

Do Jin ingat itu karena ketika itu ia menemani Tae San. Bukan karena Meari terluka tapi karena tubuhnya terlalu pendek untuk menjadi Miss Korea. Kenapa Yoon mengungkit hal itu.
Yoon : “Dia marah karena itu dan aku sudah mencuri hidup Meari. Dari sudut pandang Tae San ini adalah sebuah penghianatan. Dia tak akan pernah memaafkanku.”
Do Jin : “Cinta jahat ini, kenapa rasanya seperti perang? Apa yang bisa kubantu?”

Yoon bilang kalau ia tak apa-apa, berilah dukungan pada Tae San. Ia harus (pantas) menderita mengingat betapa pentingnya Meari bagi Tae San.
Yoon dikamarnya, ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam laci mejanya. Ia memandang cincin pernikahannya, dengan tekad bulat dan penuh keyakinan ia melepas cincinnya dan menyimpannya.
Di Hwa Dam Do JIn menyuruh pegawainya agar menyampaikan pada Manajer Choi untuk menyiapkan presentasi tentang proyek desa loteng, ia ingin melihatnya segera dalam waktu 10 menit. Do Jin mengeluarkan kamera dan melihat beberapa bangunan hasil fotonya. Tae San dengan wajah lemasnya datang ke kantor dan minta maaf karena ia sudah terlambat datang.

Do Jin melihat kalau tampang Tae San sangat lusuh ia menebak sepertinya Tae San belum tidur, “Apa kau tak apa-apa?”

Tae San mengeluarkan sesuatu dari saku celana dan menaruhnya dimeja, “Bukankah kau yang bilang? Kalau kau berpura-pura baik-baik saja mungkin akan baik-baik saja. Apa yang terjadi, benar-benar terjadi.” Tae San bertanya apa sekarang Yoon masuk kerja.
Do Jin : “’Apa Tae San sekarang masuk kerja?’ Yoon mengirim SMS seperti itu padaku. Apa kau ingin kukirimi SMS-nya agar bisa membalasnya?”

Tae San mendesah kesal, Do Jin mengatakan kalau tingkah Tae San ini tak akan menyelesaikan masalah dan tentang masalah Meari ia pasti berada di pihak Tae San. Tae San heran dan bertanya kenapa. Do Jin mengatakan kalau Yoon memintanya supaya memihak Tae San. Katanya dia tak memerlukannya dan jangan mengganggunya. Tae San makin kesal dan tak percaya.

Do Jin : “Aigoo, apa kau tak mempercayaiku? Apa kau mau aku menggunakan kesempatan ini untuk menendang Yoon? dan meminta pacarku untuk menendang Meari juga? Baiklah kalau begitu aku akan melakukannya. Tendang dua orang itu ke jalanan agar mereka....”
Tae San menyela, “Kenapa? Lebih baik kau belikan rumah saja untuk mereka.”
Do Jin berkata kalau presentasinya sudah mau dimulai. Tae San berkata kalau ia akan kesana. Tae San keluar kantor akan menghadiri presentasi Manajer Choi. Do Jin menyusulnya tapi langkahnya terhenti di depan meja Tae San, ia melihat sebungkus rokok dan koreknya. Ternyata masalah Meari ini benar-benar membuat Tae San stres sampai melampiaskannya ke rokok padahal mereka berempat sudah berhenti merokok.
Manajer Choi memaparkan presentasi tentang desain desa loteng. Tae San melamun, ia seperti tak mendengarkan apa yang disampaikan Manajer Choi. Do Jin memperhatikan Tae San yang dari tadi diam melamun. Bahkan seluruh staf desain juga memperhatikan presdirnya. Manajer Choi bertanya apa presentasinya ini perlu diulangi.

Tae San tersadar dari lamunannya. Do Jin menyuruh Manajer Choi tak usah menghiraukan Tae San karena dia sedang menghadapi masalah keluarga. Tae San berkata kalau ia mendengarkan semuanya, “Rumah dengan hembusan angin, ruangan yang terbuka itu tak buruk.” Kata Tae San membuat staf desain tertawa, ternyata benar Tae San mendengarkan hehe. Tae San heran kenapa staf-nya tertawa. Ia mengancam kalau sekali lagi membuat keributan apa staf-nya ini mau gajinya dipotong hahaha.. stafnya langsung diam melanjutkan pekerjaan mereka.
Do Jin menambahkan kalau secara umum konsep itu sudah baik tapi terkesan membosankan karena kurang memiliki humor, “Apa itu humor?” tanya Do Jin pada staf desainnya.

“Menyampaikan pendapatmu dengan sopan setelah evaluasi secara keseluruhan!” sahut staf desain bersamaan.

Tae San memberi saran sebaiknya staf-nya ini melakukan sedikit revisi. Pemanas dan pendinginan, keamanan dan aspek-aspek teknis ini adalah kerancuan yang umumnya terjadi pada klien yang tinggal di apartemen. Sebagai referensi pendingin ruangan pada proyek ini ia menyarankan lebih baik menggunakan sistem koding. Stafnya mengerti dan segera melakukan apa yang disarankan Tae San tadi.
Do Jin menopang wajahnya tersenyum imut menatap Tae San, “Ah Presdir Im kami, dia kelihatan tak memperhatikan tapi ternyata penuh perhatian. Kau mau makan apa? Aku yang traktir.”
Tae San menyuruh Do Jin makan lebih dulu karena ia ada janji. Do Jin merengut Tae San mengabaikannya begitu saja. Ia sewot, “Dengan siapa?”
Ternyata Tae San makan siang dengan Yoon. Tae San melihat kalau Yoon sudah tak mengenakan cincin pernikahannnya lagi. “Kau....”
Yoon sadar kalau Tae San memperhatikannya, “Cincin pernikahanku... aku melepasnya!”
Tae San menarik nafas lemah dan berkata kalau ia akan menyederhanakan masalah ini. “Seandainya suatu hari kau membawa pulang gadis berusia 24 tahun maka aku pasti akan mengatakan ini. ‘Hei pencuri’ tapi gadis 24 tahun itu adalah adikku, bagaimana mungkin aku bisa memahaminya? Tentang Jung Ah, sebagai sahabat aku ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Tapi sebagai Kakak Meari, sangat berat bagiku untuk menerima masa lalumu. Pikirkanlah dari sudut pandangku. Kalau kau jadi aku apa kau akan setuju?”

Yoon berkata kalau ia memahami reaksi Tae San yang seperti ini karena reaksi ini sangat logis.

Tae San : “Tapi meskipun kau memahaminya, kenapa kau masih melakukan ini dan kenapa membuatku mengatakan hal itu? kenapa?”
Yoon : “Karena aku tak bisa menyerah. Aku tahu, aku pria jahat yang tak tahu malu. Aku juga tahu kalau kau merasa dirampok,”
Tae San : “Kau tahu tapi kau masih saja melakukannya? Meskipun aku tak mempercayai Meari tapi aku mempercayaimu.”
Yoon : “Maafkan aku. Tapi Tae San, Meari sudah banyak menangis karena aku. Aku sangat membenci itu. Jadi, aku tak akan membiarkannya menangis lagi.”
Tae San : “Lalu bagaimana dengan impiannya? Masa depannya. Sebenarnya, tentang keinginan Meari untuk menjadi desainer tas sejujurnya aku tak menyukainya. Tapi itulah impiannya. Aku ingin dia lebih banyak belajar dan berlatih agar dia bisa meraih impiannya.”
Yoon : “Aku pun tak menginginkan Meari kehilangan impiannya. Tae San, Meari juga impianku. Aku tak peduli dia menjadi desainer atau yang lainnya, aku akan memberikan segalanya untuk mendukung impianku.”

Tae San kecewa dengan sikap yang diambil Yoon, dengan perasaan kesal ia meninggalkan tempat makan siangnya.
Meari tertunduk lemah di kamar Yi Soo, ia tak bersemangat. Yi Soo mengatakan kalau ia akan keluar mencari rumah baru apa Meari mau ikut dengannya. Meari tahu kalau gurunya ini akan pergi dengan Do Jin jadi ia tak mau mengganggu kebersamaan mereka. Walaupun ia sekarang tak berdaya tapi ia tetaplah Meari yang selalu menyemangati gurunya.

Yi Soo sedikit cemas apa Meari tak apa-apa di rumah bersama Se Ra yang selalu judes pada Meari. Meari berkata kalau ia tak menyangka Se Ra begitu menyukai kakaknya. Yi Soo mengatakan kalau dalam kehidupan Se Ra hanya ada musuh dan sekutu tak ada yang lainnya. Ia mengingatkan kalau Meari dalam masalah. Meari tersenyum dan berpesan gurunya hati-hati.
Yi Soo dan Do Jin melihat-lihat apartemen. Petugas mengantar keduanya melihat-lihat dan bertanya apa keduanya akan tinggal disini. Do Jin berkata bukankah sudah terlihat seperti itu. Yi Soo meralat kalau yang akan tinggal disini 2 orang wanita. Ia mengatakan pada Do Jin kalau ia dan Se Ra akan tingggal bersama tapi kali ini ia-lah pemilik rumahnya. Do Jin menilai kalau untuknya ini kabar buruk.

Petugas mengatakan kalau harga sewanya sangat wajar karena lokasi ini sangat populer jadi kalau benar-benar Yi Soo menyukainya segera saja tanda tangani kontrak sebelum orang lain mengambilnya. Ia meninggalkan keduanya agar berfikir.
Do Jin menatap manja, “Bukankah kita terlihat seperti pengantin baru!” (hihi) Yi Soo merasa kalau Do Jin sedang bermimpi indah di siang bolong. Ia lebih merasa kalau mereka berdua mirip pasangan yang menikah lagi.
Do Jin : “Apa kau mengungkit kekuranganku karena aku sudah punya anak?”
Yi Soo : “Maksudku kita sudah melewati usia yang pantas untuk menikah. Aku tak menyngka ternyata kau memiliki rasa rendah diri juga.”
Do Jin mengatakan kalau pesona kekanak-kanakan seperti ini juga diperlukan. “Kalau kau merasa pesonaku terlalu menyilaukan, jadilah seperti tokoh utama dalam drama.”
Do Jin menyarankan lebih baik Yi Soo mengambil rumah ini. Sebagai seorang yang ahli menurutnya rumah ini yang terbaik diantara beberapa rumah yang sudah mereka lihat. Yi Soo ingin tahu apa pendapat sang ahli mengenai rumah ini. Do Jin memeluk Yi Soo dari belakang dan berkata kalau rumah ini adalah yang paling dekat dengan rumahnya. Yi Soo tersenyum dan bertanya sebelumnya bagaimana cara Do Jin menahan semuanya. Do Jin mengatakan kalau selama ini sangat sulit untuk menahannya (menahan apa ya haha)

Tiba-tiba terdengar pintu terbuka, petugas yang tadi datang lagi. Do Jin panik dan langsung melepas pelukannya dan bersikap wajar dengan mengatakan kalau mereka harus melakukan pengecatan pada dindingnya. Yi Soo tersenyum-senyum melihat Do Jin yang salah tingkah hihi.
Yi Soo berharap Do Jin nanti yang mengecatnya. Do Jin bertanya haruskah orang yang ahli turun tangan langsung. Tiba-tiba pandangan Do Jin tertuju ke lantai dan berseru kaget kalau disana ada lebah. Do Jin langsung lompat ketakutan.

Plok... Yi Soo langsung memukul lebah itu dengan koran yang dibawanya. Yi Soo jelas tak takut apapun. Hehe.
Yi Soo langsung tersadar kalau seharusnya wanita juga ada sisi ngeri terhadap hewan kecil, Do Jin menatapnya aneh. Yi Soo langsung terduduk mundur dan berteriak ketakutan. Hahaha.
“Yi Soo Oppa is the best!” Do Jin memberikan jempolnya karena melihat keberanian Yi Soo.
“Kau bilang apa?”
“Apa kau tak tahu? Kau adalah seorang kakak kalau kau bisa membunuh serangga.” Ucap Do Jin.
Yi Soo langsung berdiri dan mengatakan pada petugas kalau ia akan mengambil rumah ini. Ia minta izin akan datang untuk membersihkan dan mengecat sendiri rumahnya.
Waktunya mengecat rumah. Keren banget scene ini mereka berdua mengecat bersama. mulai dari mencampur cat, mengaduk sampai proses mengecatnya pun mereka lakukan berdua. Do Jin sebagai orang yang ahli memberi instruksi pada Yi Soo.
Ketika Yi Soo tak bisa menjangkau bagian yang tinggi Do Jin mengambil kesempatan menggendongnya. Keduanya tampak riang.
Lha ini kok Yi Soo yang menggendong.
Kalau seperti itu jadinya mereka jatuh bersamaan hahaha.
Mengecat dinding pun selesai. Do Jin mengeluh seluruh badannya pegal. Ia berbaring di lantai yang sudah dialasi dengan kardus. Yi Soo berbaring di sampingnya menggunakan lengan Do Jin sebagai bantal.

Yi Soo mengeluhkan kalau pekerjaan ini tak mudah. Do Jin menyombongkan diri kalau tanpa dirinya pekerjaan ini tak akan pernah selesai. Yi Soo malah merasa kalau tanpa Do Jin pekerjaan ini mungkin akan lebih cepat selesai. “Kenapa kau harus menggendongku padahal ada tangga yang lebih kuat?”

Do Jin : “Aku tak menyangka kau langsung melompat naik ketika ditawari. Aku mempertaruhkan hidupku untuk menolongmu. Pinggangku hampir copot. Jadi kesimpulannya semua adalah kesalahan Seo Yi Soo!”
“Ah dasar!” Yi Soo menabok Do Jin. Do Jin mengaduh dan mengatakan kalau yang dilakukan Yi Soo barusan adalah pelecehan seksual. Namanya pelecehan seksual ketika korbanya merasa tak bahagia.
Yi Soo : “Apa seperti itu ekspresi tak bahagia?”
Do Jin : “Ini adalah ekspresi yang menyedihkan.”
Yi Soo : “Ah dasar aku sungguh tak tahu harus berkata apa.”
Cup.. dengan cepat Do Jin mencium Yi Soo dan meminta lebih baik melakukan yang lain saja. Yi Soo dengan cepat membalas ciuman Do Jin. Apa Do Jin pikir hanya Do Jin yang tak bisa menahan.

Do Jin merasa kalau wanita ini memang pembuat masalah. Ia terus menatap Yi Soo tapi Yi Soo menyuruhnya untuk kembali berbaring. Do Jin menyahut kalau kali ini ia akan melepaskan Yi Soo, ia pun kembali berbaring di samping Yi Soo.

Yi Soo menanyakan keadaan Tae San dan memberi tahu kalau keadaan Meari tak terlalu buruk. Do Jin berkata kalau Tae San tak meninggalkan celah sama sekali, kalau berkaitan dengan Meari dia tak akan mau berkompromi. Yi Soo menilai kalau Meari sangat berani, Do Jin malah menilai kalau yang Yi Soo hadapi juga bukan hal yang mudah.

Do Jin berjanji kelak ia akan membangun rumah yang indah untuk Yi Soo. Sebuah rumah yang besar dan indah dengan pencahayaan yang baik, ventilasi yang baik. Sebuah rumah yang siapapun tak ingin meninggalkannya.
Yi Soo kemudian menanyakan tentang keluarga Do Jin, “Orang tuamu tinggal di Kanada bagian mana?” Do Jin mengatakan kalau mereka tinggal di Toronto. Tempat yang selalu dingin meskipun sedang puncaknya musim panas. Yi Soo ingin tahu sampai kapan Do Jin hidup dengan mereka.

Do Jin mengatakan begitu ia masuk kuliah mereka tak sabar ingin pergi. Sebenarnya ia ingin mengulang masa SMA-nya, masa dimana ia berkumpul dengan orang tuanya. Tapi ketika itu ibunya bilang, ‘Dengan pencapaianmu sebenarnya sudah cukup baik. Kami ingin pergi ke Kanada. Kau kuliah saja’

Do Jin merasa kalau ia mirip ibunya. Yi Soo menilai kalau keluarga seperti itu sangat harmonis. Do Jin mengungkapkan walaupun keluarganya bukan keluarga kaya tapi yang mereka miliki sudah lebih dari cukup untuk mereka. Orang tuanya sangat dekat, ia selalu dianggap sebagai penghalang kemesraan orang tuanya. Waktu itu ia sangat sedih tapi kemudian ia menyadari kalau waktu itu adalah anugrah.
Yi Soo menebak apa berawal dari sana sikap Do Jin yang santai dan sifat rasa percaya diri itu muncul. Ia merasa ia juga cukup percaya diri tapi ia berbeda dengan Do Jin. Ia mendapatkan semuanya dengan bekerja keras sedangkan rasa percaya diri Do Jin muncul secara alami. Pekerja keras seperti dirinya akan langsung mengenali kepercayaan diri Do Jin yang alami itu tapi terkadang itu membuatnya frustasi. Yi Soo mengungkapkan kalau masa kecilnya tak bahagia dan juga keadaan keluarganya tak pantas untuk dibanggakan.
Do Jin bangkit dan menatap Yi Soo lekat-lekat meminta Yi Soo menatapnya. Ia menggenggam tangan Yi Soo. “Apa kau tahu? Kebahagiaan Seo Yi Soo akan mulai mekar pada musim ketiga diusiamu yang ke 36. Dan sekarang sudah dimulai.” Yi Soo tertawa mendengarnya.
Do Jin terus menatap Yi Soo dengan tatapan lebih dalam dan mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium wanita yang ada di depannya ini penuh perasaan. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Yi Soo. (entah dari sekian kali keduanya kissu yang ini bikin saya deg-degan apalagi backsound-nya You are My everywhere)
Do Jin : “Janji kau akan bahagia, bolehkah kumulai lagi? mulai hari ini sampai besok, dari besok sampai lusa. Kau akan semakin dan semakin bahagia. Aku janji.”

Do Jin kembali menggenggam erat tangan Yi Soo. Yi Soo tersenyum dan berkata kalau untuk kali ini ia juga mempercayai Do Jin. Do Jin berjanji kalau kali ini ia akan menjaganya mati-matian.
And then keduanya pun kissu lagi.
Se Ra keluar dari tempat latihan golf-nya sambil menelepon supir taksi untuk mengantar pulang. Tapi Ia terkejut mobil merahnya tiba-tiba datang dan di dalam mobilnya Tae San tersenyum memandangnya.

Tae San bertanya apa Se Ra naik taksi karena tas yang Se Ra bawa. Se Ra mengatakan kalau ia sesekali naik taksi karena ia ingin pergi sendirian. Tae San membawakan tas perlengkapan golf dan memasukannya ke bagasi mobil.

Tae San memberi tahu kalau mobilnya sudah di servis bahkan ia sudah menyiapkan ban cadangan. Ia memilihkan yang kualitasnya bagus. Ia memberikan kunci mobil pada Se Ra. Ia meminta Se Ra yang menyetir dan mengantarnya pulang.
Di rumah Tae San. Ia menanyakan kapan Se Ra pindah. Se Ra mengatakan kalau ia sudah menghubungi jasa pindahan rumah jadi Tae San tak perlu khawatir. Tapi Tae San merasa sebagai pacar Se Ra setidaknya ia harus membantu. Se Ra berkata kalau yang pindahan ini bukan mahasiswi, lagi pula disana ada Meari. Bukankah Tae San tak mau melihatnya.

Tae San ingin tahu dimana Meari tidur. Se Ra mengatakan kalau Meari kadang-kadang tidur di sofa sambil nonton TV terkadang juga tidur di kamar Yi Soo. Tae San teringat bukankah Se Ra dan Yi Soo ini jarang memasak bagaimana dengan makannya. Se Ra meminta Tae San tak perlu mengkhawatirkan itu, dari semua brosur makanan siap antar ada lebih dari 30 jenis masakan dari mulai masakan ala Korea sampai masakan ala Meksiko.

Se Ra penasaran dan ingin tahu apa Tae San sudah bicara dengan Yoon. Tae San mengangguk dan berkata kalau ia sudah mengatakan sikapnya pada Yoon.

Se Ra : “Sejujurnya, melihat kehidupan Meari ada peluang Meari kebahagiaan. Aku baru bertemu pria yang kusukai saat usiaku 36 tahun. Sedangkan dia bertemu pria yang disukainya saat usianya baru 24 tahun. Dia lebih bahagia daripada aku 12 tahun lebih awal.”

Tae San memandang kesal dan mengingatkan Se Ra jangan pernah berada dipihak Meari. Ia akan tetap merasa kasihan meskipun usia Meari 34 tahun tapi dia sekarang masih 24 tahun.
Se Ra berkata kalau ia sudah memarahi Meari berkali-kali, apa ia harus bicara dengan Yoon juga. Apa yang harus ia lakukan untuk membantu Tae San. Lagi pula ia ini seorang sarjana olah raga dan mereka akan mati di tangannya, kata Se Ra sambil mengepalkan tangannya. Tae San tersenyum mendengarnya, ia berkata kalau Do Jin pasti ada disana untuk membantu pindahan dan ia akan meminta Jung Rok untuk ikut membantu.
Se Ra kembali meminta Tae San tak usah khawatir, ia memeluk Tae San dan menyandarkan kepalanya ke bahu Tae San.
Saatnya beres-beres rumah baru. Do Jin dan Jung Rok sampai disana. Jung Rok langsung ngomel-ngomel ke Meari, burung saja tahu bagaimana berterima kasih tapi Meari bahkan tidak berterima kasih sebelum kabur ke Amerika. Meari bilang bukankah pada akhirnya ia tak jadi pergi. Meari memanggil gurunya memberi tahu kalau Do Jin sudah ada disini.
Yi Soo keluar dan lihat baju apa yang ia kenakan. Dia memakai mini dress seksi hihi... Mereka semua heran dengan pakaian yang dikenakan Yi Soo, bukankah mereka akan beres-beres rumah tapi pakaian Yi Soo tak menandakan kalau baju itu untuk beres-beres rumah seperti baju ingin kencan hihi.

Se Ra heran kenapa Yi Soo berganti pakaian. Bukankah kalau memakai gaun akan tak nyaman. Yi Soo bilang tidak dan mengatakan kalau bajunya yang tadi kotor. Meari merasa gurunya ini luar biasa, “Kalau kita tak pindah rumah apa guru berencana mengenakan bikini?”

Se Ra merengut Yi Soo sudah mendapat bantuan Do Jin disini dan karena seseorang Tae San jadi tak datang untuk menemuinya. Meari langsung diam dan permisi akan menyusun pakaian.

Yi Soo berkata kalau hanya pakaian ini yang biasanya ia kenakan. Do Jin menanyakan kenapa Yi Soo tak memakai pakaian bepergian saja. Yi Soo cemberut dan meminta Do Jin ikut dengannya membereskan buku-buku di kamar. Jung Rok menanyakan apa yang harus dilakukannya disini.
Jung Rok (ngapain ya ini) pokoknya memecahkan plastik pembungkus. Dia menemani beberapa petugas yang mengurusi pindahan mereka. Mereka tertawa-tawa.
Do Jin dan Yi Soo membereskan buku-buku ke rak. Do Jin mengambilkannya dari kardus sementara Yi Soo yang menyusunnya di rak. Do Jin menatap penasaran pakaian yang dikenakan Yi Soo sangat mini. Naluri laki-lakinya pun muncul. Ketika Yi soo sedikit jongkok dan pahanya terlihat ia pun berusaha untuk mengintip. Hahaha. Tapi ketika Yi Soo berbalik badan Do Jin berpura-pura bersikap wajar.
Do Jin tak kehilangan akal untuk mengintip ia melemparkan buku tepat didekat kaki Yi Soo dan berujar oh kenapa bukunya ada disini. Do Jin akan mengambil buku yang sengaja ia lemparkan tadi guna menjadi alasannya untuk mengintip hihi.
Tapi Yi Soo tahu sifat Do Jin, ia langsung berbalik jongkok menatap tajam. Do Jin jelas kaget karena perubahan posisi Yi Soo yang tiba-tiba.
“Ah dasar, ganti posisi!” Yi Soo paham betul apa yang akan Do Jin lakukan.
“Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian itu?” Do Jin ngomel. “Kau ini hanya pembunuh serangga apa kau pikir model baju ini sesuai denganmu?”
“Omo ada lebah!” seru Yi Soo menakuti Do Jin. Do Jin panik dan langsung berdiri. Yi Soo pun sudah jongkok di depan kardus berganti posisi agar Do Jin yang membereskan buku di rak.
“Aish.. nomor berapa?” tanya Do Jin ingin tahu sekaligus penasaran.
“Apa?” Yi Soo belum paham.
“Nomor 1, 2, 3, 4, 5, yang mana? Apa nomor 3 yang kusuka?” Do Jin menebak pakaian dalam yang dikenakan Yi Soo.
“Pergilah ke neraka dengan nomor 3 mu!” Yi Soo membentak kesal. Tapi kemudian ia tersenyum, “Nomor 2?”
“Ah.. nomor 2. Bagaimana kemarin?”
“Kemarin yang gambar kucing.” Ucap Yi Soo.
“Aha....” Do Jin tersenyum-senyum. Keduanya tersenyum-senyum membicarakan pakaian dalam... wakakakakaka.
Setelah beres-beres rumah ketiga wanita ini langsung memanjakan diri men-cat kuku-kuku mereka. Yi Soo tersenyum-senyum mengingat obrolannya dengan Do Jin tadi. Se Ra dan Meari menatapnya aneh. Yi Soo langsung bersikap biasa-biasa saja dan mengatakan kalau ia sedang memikirkan hal lain.

Meari tanya jam berapa mereka akan makan karena ia sudah lapar setelah bekerja keras seharian. Se Ra mengatakan kalau Tae San bilang dia tak lapar. Katanya dia tak nafsu makan.
Meari tahu kalau Se Ra menyindirnya, ia berkata kalau ia juga gelisah. Tapi ia tak mau menunjukannya. Se Ra meminta lebih baik tunjukan saja karena ia benar-benar tak bisa melihatnya.

Yi Soo bertanya pada Meari apa sudah bertemu dengan Yoon sejak tarakhir kali keduanya bertemu. Meari mengatakan kalau Yoon menelepon setiap hari dan juga dia datang beberapa hari yang lalu. Kita hanya bisa menunggu sampai kemarahan kakaknya mereda.

Yi Soo ingat bukankah Se Ra sudah bertemu dengan Tae San, bagaimana kabarnya. Se Ra malah menatap marah ke Meari. Meari paham itu berarti kakaknya masih marah padanya.
Malam hari Tae San latihan baseball sendirian. Ia melatih pukulannya. Do Jin dan Jung Rok datang melihat latihannya. “Presdir Im, pukulan bagus!” teriak Do Jin dan Jung Rok bersamaan sambil memberikan tepuk tangan.

Tae San heran kenapa keduanya datang kesini. Do Jin memberi tahu kalau pindahannya sudah selesai. Ia mengatakan kalau rumahnya agak kecil, rumah yang seharusnya cukup untuk 2 orang wanita. Ia juga mengatakan kalau Meari betah disana dan sudah seperti di rumah sendiri. “Meari sangat mengkhawatirkanmu!” Jung Rok bingung dan berbisik pada Do Jin, “Kapan?” Do Jin menyenggol Jung Rok meminta temannya diam.

Jung Rok menunjukan kalau ia membawakan koyo herbal untuk Tae San. Ia menawarkan apa mau dipasangkan. Do Jin juga menawarkan apa Tae San ingin pergi ke sauna dan disana keduanya akan membantu menggosok punggung Tae San.
“Kami akan selalu mendukungmu, kau tahu kan?” Kata Jung Rok. Ia dan Do Jin pun membuat tanda love sambil tersenyum. Tae San terkekeh melihatnya. Tapi sesaat kemudian ia menyuruh keduanya pergi.
Sementara Tae San latihan memukul bola, Yoon latihan melempar bola. Ia juga latihan sendirian untuk melampiaskan kegalauan.

Do Jin dan Jung Rok sampai ditempat Yoon latihan melempar. “Pengacara Choi, nice pitching (lemparan yang bagus)!” seru keduanya bersamaan.
Yoon bertanya kenapa keduanya ada disini ada perlu apa. Seperti yang dikatakan pada Tae San, Do Jin juga mengatakan pada Yoon kalau pindahannya sudah selesai dan Meari sudah seperti berada di rumah sendiri. “Meari sangat mengkhawatirkanmu!”

“Apa kalian tak menemui Tae San?” tanya Yoon.

Do Jin dan Jung Rok bertatapan sebentar untuk menyamakan jawaban tapi jawaban keduanya berbeda. Yang satu menjawab ya, yang satu menjawab tidak. Keduanya saling mengumpat.

“Kalau kalian ingin berbohong rencanakan terlebih dahulu.” Kata Yoon.

Keduanya kembali menjawab dengan jawaban yang tak sama. Yang satu menjawab kalau keduanya baru saja pergi menemui Tae San, yang satunya menjawab kalau keduanya akan pergi nanti. Keduanya kembali saling mengumpat karena jawabannya tak sama. Yoon paham dan bertanya bagaimana keadaan Tae San.

Do Jin : “Kau melakukan pitching (melempar) dia melakukan batting (memukul) begitulah.”

Jung Rok menunjukan koyo herbal yang tadi ia tunjukan ke Tae San. “Kau ingin yang ditempel atau yang disemprot?” Do Jin juga menawarkan seperti apa yang ia tawarkan pada Tae San. Apa Yoon ingin pergi ke sauna, mereka berdua akan membantu menggosok punggung Yoon.
“Kami akan selalu mendukungmu, kau tahu kan?” Ucap Jung Rok dan keduanya kembali memperagakan tanda love untuk Yoon seperti yang keduanya tunjukan pada Tae San. Yoon tahu pasti dan menebak kalau hal yang sama sudah Do Jin dan Jung Rok lakukan pada Tae San. Do Jin bergumam, “Tapi kami sangat menggemaskan kan?” (hihi) Yoon tak menghiraukannya, ia terus melempar bola. Jung Rok dan Do Jin pun pergi dari sana membiarkan Yoon menyendiri.
Meari tersenyum malu-malu menunggu kedatangan Yoon. keduanya janjian kencan hihi. Ketika Yoon datang, Meari gugup campur gelisah (hihi tak seperti biasanya yang selalu ceplas-ceplos) ia terus menunduk tak berani menatap Yoon.

Yoon menanyakan kenapa Meari datang lebih awal bukankah ia sudah bilang kalau ia yang akan menunggu Meari. Dengan tatapan mata yang masih tertunduk malu Meari mengatakan kalau itu tak apa-apa, bagaimanapun ia sudah berada disini.
Yoon : “Tapi kenapa kau tak melihatku?”
Meari tersenyum dan berkata kalau ia tak berani menatap Yoon.
Yoon : “Tapi aku ingin melihatmu, Angkat wajahmu!” (huwaaaaaaaaa)
Meari mengangkat sedikit wajahnya tapi kemudian ia tertunduk lagi dan tersenyum malu. (greget sama pasangan ini)

Yoon menanyakan konsep apa lagi yang sedang Meari mainkan sekarang. Meari bilang kalau ini bukan konsep ia hanya merasa sangat cemas. Kenapa marasa cemas, ia sendiri pun tak tahu. (saya ikutan gugup berasa saya yang berangkat kencan hihi)
Meari melihat tas yang dibawa Yoon itu tas buatannya. Ia kaget karena ia mengira kalau tas itu sudah dibuang oleh Yoon. Yoon bilang bagaimana mungkin ia membuanganya bukankah tas ini Meari sendiri yang membuatnya. Meari kembali tertunduk tersenyum malu.
Yoon meraih tangan Meari dan menggandengnya. Terlihat gelang keduanya dipakai di tangan masing-masing. Yoon mengajak Meari makan bersama.
Min Suk tertunduk melamun, Jung Rok memberi tahu apa saja yang ia lakukan bersama Do Jin terhadap Tae San dan Yoon tadi. Jadi ia tak bisa menjawab telepon istrinya. Ia juga mengatakan kalau Tae San dan Yoon sedang berjuang antara hidup dan mati, jadi ia tak mungkin menjawab telepon istrinya dengan mengatakan ‘halo sayang’ sementara sahabatnya tengah dirundung kegalauan.
Min Suk menatap Jung Rok. Jung Rok aneh melihatnya dan bertanya kenapa, apa istrinya ini tak percaya apa yang ia katakan barusan. Ia menyarankan Min Suk menelepon Do Jin kalau masih tak percaya padanya. Min Suk tetap diam menatap suaminya. Jung Rok sadar kalau menelepon Do Jin akan sama saja Min Suk pasti tak akan mempercayainya. Ia kemudian menyarankan untuk menanyakannya pada Yoon, tapi menurutnya Yoon juga sama istrinya tak akan percaya. Ia ingat dan istrinya bisa mencari tahu lewat toko obat karena ia pergi kesana untuk membeli koyo herbal untuk Tae San dan Yoon.

Min Suk tetap diam. Jung Rok menanyakan apa istrinya ini benar-benar tak mempercayainya. Min Suk menjawab ya, ia tak lagi mempercayai Jung Rok. Meskipun Jung Rok mempunyai CCTV ia tetap tak akan mempercayai suaminya ini. Jung Rok heran kenapa istrinya tiba-tiba seperti ini.

Min Suk mulai menitikan air mata, “Semua orang berkata kalau aku mempunyai segalanya. Tidak. Aku memang mempunyai segalanya. Tapi aku, aku terus memperlakukanmu sebagai milikku.”

Jung Rok : “Kenapa kau menangis lagi?”
Min Suk memandang cincinnya, “Mengenai memakai cincin pernikahan ini, karena suami dan istri tidak bisa selalu bersama-sama. Cincin untuk menghubungkan suami dan istri di dalam hati ketika mereka saling berjauhan. Tapi sekarang cincin ini, aku ingin melepasnya. Benar. Sekarang, meskipun kau memberitahuku 1 ditambah 1 sama dengan 2, aku tidak bisa lagi mempercayaimu. Apa yang kau dan wanita itu bicarakan? Telepon dari wanita atau pria? Kau benar-benar tertawa atau hanya pura-pura? setiap hari aku selalu berjalan diantara surga dan neraka.”

“Aku minta maaf.” Jung Rok berkata dengan suara lemah karena selama ini sikapnya sudah membuat istrinya menjadi seperti ini. “Aku tahu semuanya salahku. Tapi istriku, mulai sekarang aku tak akan pernah melepas cincin ini lagi. Sungguh. Aku benar-benar tak ingin melakukannya lagi.”

Air mata Min Suk terus mengalir dengan suara yang makin gemetaran, “Sekarang akulah yang ingin melepasnya. Meskipun kau tak ingin, aku akan tetap melepasnya. Kumohon, kita bercerai saja! Karena aku berfikir kalau aku terlalu menyedihkan. Kurasa aku akan gila mencurigaimu seperti itu setiap saat. Aku dengan tulus memohon padamu!”

Min Suk melepas cincinnya, “Lepaskan aku. Kumohon kita bercerai saja. Kumohon padamu untuk membiarkanku menjalani kehidupan yang normal.”
Tangis Min Suk semakin keras dan air mata yang terus mengalir deras. Jung Rok terduduk lemas ia tak pernah melihat sikap istrinya yang begitu ingin bercerai darinya sampai-sampai Min Suk memohon sambil menangis agar ia melepasnya.
Do Jin membuat rancangan rumah yang terbuat dari benang merah baju Yi Soo. Sebuah rancangan rumah indah yang sesuai dengan harapan Yi Soo. Rumah yang siapaun tak ingin meninggalkannya.
Do Jin tersenyum puas dengan hasil rancangannya. Ia melirik ke arah kalender dimana ia menempelkan memo dengan tulisan nomor telepon Guru Park. Ia pun menghubungi salah satu guru SMA Ju Won ini.
Do Jin dan Yi Soo mengajak beberapa guru SMA Ju Won makan malam bersama. Yi Soo memandang tak mengerti apa maksud Do Jin mengajak rekan-rekan gurunya makan bersama. Do Jin berkata kalau ia tak tahu apakah hidangan ini sesuai dengan selera ibu-ibu guru ini. Guru Park mengatakan kalau ia juga sering datang ke restouran ini untuk makan bersama suaminya. Jadi ia menyukai tempat ini. Guru Park mengambil air minum se-elegan mungkin. Hihi.

Guru Park : “Tapi memangnya apa kami boleh menerima jamuan dari orang tua siswa?”
Do Jin : “Hari ini aku tak mentraktir anda semua makan malam sebagai orang tua murid, tapi sebagai pacar dari Guru Seo!”

Do Jin tak tahu apakah ibu-ibu guru ini menyukai anggur merah. Guru Park berseru antusias bagaimana Do Jin tahu kalau ia hanya minum anggur merah, ia bertanya pada Yi Soo apa Yi Soo yang memberi tahu Do Jin. Do Jin mengatakan kalau itu semua tertulis di wajah Guru Park yang terlihat terhormat dan elegan.

Guru yang lain menyahut bukankah harga anggur merah itu cukup mahal. Guru Park tak tahu itu, benarkah (lha katanya suka kok ga tahu harganya hahaha) Do Jin meminta kalau begitu pilih saja yang paling mahal. Ibu-ibu guru ini jelas senang ditraktir makanan dan minuman mahal. Semuanya bersulang meminum anggur merah. Kelihatannya mereka sudah hampir mabuk. Guru yang duduk di sebelah Guru Park berkata kalau Yi Soo sangat beruntung karena memiliki pacar yang mirip dengan bintang film. Yi Soo tersenyum mendengarnya.
Guru Park ikutan menyahut kalau suaminya juga tak jelek, bahkan kata orang-orang suaminya itu sangat mirip dengan Jang Dong Gun (buwahahahaha) Do Jin langsung pasang tampang muka bete oh ya dan berkata itu karena Guru Park sangat cantik wakakaka. Guru Park tertawa dan berkata sepertinya semua pria tampan memiliki selera yang sama. “Guru Seo kau benar-benar telah menemukan pria yang baik!”

Yi Soo tersenyum kemudian menyodorkan gelas kosongnya pada Do Jin. Do Jin paham dan menuangkan minuman untuk Yi Soo. Do Jin menyahut kalau Yi Soo minum agak berlebihan hari ini. Yi Soo berkata itu karena ia sangat bahagia. Semuanya bersulang.

Do Jin berharap ibu-ibu guru yang ada disini bisa memperlakukan Yi Soo dengan baik walaupun dia agak kikuk dan ceroboh. Guru Park berkata kalau ia selalu mengganggap Guru Seo sebagai adiknya. Do Jin menuangkan minuman untuk semua ibu guru yang ia traktir makan. “Semua pasti sudah mendengar, dengan menyesal akulah orang yang telah merusak kehidupan wanita ini.” Kata Do Jin.

Guru Park : “Kerusakan apa yang kau bicarakan, tak seorang pun dari kami yang menganggapmu begitu (wuih padahal kemarin kan sempat menggunjingkan Yi Soo yang pacaran sama pria beranak satu)”
Do Jin bersyukur kalau meraka semua menganggapnya seperti itu. Ia berharap Guru Seo tetap melakukan pekerjaan yang dia sukai dan selalu bahagia. Karena itulah ia berharap rekan kerja Yi Soo ini bisa membantu Yi Soo. Dengan sopan Do Jin memberi hormat pada mereka semua. Guru Park merasa tak enak dan berkata kalau mereka semua selalu mendukung Guru Seo.

Mereka bersulang lagi. Do Jin menuangkan anggur merah sambil melirik ke arah Yi Soo. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Do Jin mengedipkan matanya pada Yi Soo.
Usai mentraktir ibu-ibu guru. Do Jin dan Yi Soo berada di dalam mobil tak langsung pulang. Do Jin bertanya apa Yi Soo baik-baik saja. Yi Soo bilang kalau ia tak apa-apa ia tak terlalu banyak minum. Yi Soo berterima kasih karena Do Jin sudah bekerja keras. Do Jin mengatakan kalau kerja keras ini ia lakukan dengan senang hati. Ia ingin agar keduanya duduk dulu seperti ini sebelum pergi. Yi Soo setuju.
Keduanya saling memandang penuh cinta (kagak nahan liat tatapan Do Jin bikin deg-degan) tak ada yang memulai pembicaraan keduanya diam saling memandang.

Yi Soo merasa gugup dan memulai pembicaraan apa radio-nya mau dinyalakan. Do Jin juga gugup dan menyalakan radio. Tapi lagu yang dilantunkan di radio benar-benar membuat mereka malu. Do Jin mengganti saluran radio-nya tapi tetap saja lagu-lagu itu menggambarkan suasana hati mereka.
Dari mulai lagu tentang cium, peluk, panas, dan lagu tertakhir lagunya Big Bang yang Don’t Go Home hehe. Keduanya berusaha menahan tawa. Tapi pada akhirnya keduanya tak tahan dan tertawa keras. Yi Soo merasa kalau lagunya sesuai dengan suasana hati mereka. “Kenapa semua lagu isinya tentang lagu seksi. Lain kali ketika kita mendengar lagu ini kita pasti akan mengingat hari ini.”
Do Jin : “Aku bisa membuat kenangan ini sedikit lebih dalam. Malam ini apa yang akan kau lakukan kalau aku tak membiarkanmu pulang? Malam ini aku tak ingin melepaskanmu!”

Keduanya saling memandang. Kira-kira apa yang ada dipikiran keduanya, dua orang dewasa yang saling memandang penuh cinta dan apa yang akan mereka lakukan.

Picture preview A Gentleman's Dignity Episode 19

Note :
Sebelumnya maaf karena keluarnya episode 18 ini lama. Kalau pada saat postingan Episode 17 keluarnya lama karena aku masih betah me-rerun episode terakhir drama ini. Nah kalau sekarang terlambatnya gara-gara menonton 2 drama baru. May Queen dan Five Fingers. Dua drama yang jempolan menurutku, konfliknya aku suka. May Queen dengan intrik perusahaan yang kusukai seperti di CYHMH dan Man Of Honor. Five Fingers dua pemuda yang memiliki kemampuan luar biasa dibidang piano (mirip Baker King, Kim Tak Goo) dan kemungkinan sinopsis drama selanjutnya aku akan buat May Queen, selain story line nya aku suka ini juga dikarenakan Kim Jae Won hehe. Kalau kata Apni drama ini Anis banget, sinetron banget. hahaha. Tapi ga apa-apa, aku suka kisah yang seperti ini.

31 comments:

  1. mksih akhirnya keluar juga episod 18, tinggal 2episod lg mb,anis..

    ReplyDelete
  2. .ah, komentar dulu ru baca sinopnya! Kekekeke...
    .mba nis, minal aidin walfaidzin mohon mav lahir dan batin yah!

    .hehehe, aq malah belum sempat beli kasetnya AGD, jadi klo mba anis mau berbaik hati menuliskan sinop lengkapnya aq bakalan berterima kasih banget deh! *pasang muka memelas:-(*

    ReplyDelete
  3. episode kali ini benar2 milk yoon-meahri... love it ! makasih ka sinopny. lanjutkn : )

    ReplyDelete
  4. akhirnya sinopsis ep 18 keluar jga, makasih mba anis sdh bersusah payah..
    lanjtin ya mba tinggal 2 ep lg, hehe
    tetap semangat.!

    ReplyDelete
  5. lanjutin ya mbak....
    nunggu banget buat kelanjutan nya..karna cuma di blog ini yang keren banget penyampaian nya..^^
    makasih..

    ReplyDelete
  6. semangat ya mba .. tinggal 2 episode lagi .... makasih ....

    ReplyDelete
  7. yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga
    lanjut oeni,,, semangaaattt

    ReplyDelete
  8. Keren ! Tinggal 2 episod lagi mbak Anis, confuse :D

    ReplyDelete
  9. kisah cinta i'am meari ma yoon bikin aq terharu....bikin mewek, menyukai seseorng dengan perbedaan umur yg sangat jauh membuat hati bener galau...

    ReplyDelete
  10. diah
    suka bangeeet ma a gentlemans dignity crii kaseetnya gk ktmu2 untungnya ada yng buat sinopsisnya
    ayooo lnjutkan sinopsisnya SEMANGAT!!!!!!

    ReplyDelete
  11. semgt ,lanjutkan sinopsisnya mbak Anis.tq

    ReplyDelete
  12. semgt ,lanjutkan sinopsisnya mbak Anis.tq

    ReplyDelete
  13. Tq mbak anis,baru kali ini ni ninggalin komen,ditunggu ep 19 dan 20 nya ya, aku suka sinopnya:)

    ReplyDelete
  14. semangaattt mbakkk

    ReplyDelete
  15. setuju bgt mb kl mw bikin sinopsis may queen bagus kayaknya apalagi ada kim jae won..hhehe

    ReplyDelete
  16. di tunggu banget sinopsis 19 n 20 nya,,, gumawo....

    ReplyDelete
  17. ceritanya makin bwt q ngakak truss,,,wah kurang 2 eps lg kak, ttp smgat ea kak bwt nglanjutin,,.
    makasih....

    ReplyDelete
  18. All : Episode 19 upcoming ya... belum selesai hehe...

    ReplyDelete
  19. aq juga deg..deg..an lihat yoon sm meari ngedate, hehehe
    lanjut episode 19 n 20 nya jgn lama2.
    sekarng aq lg nonton dvd love rain ternyata film nya seru jg yacha, melow tp ada sisi lucu nya jg walau sedikit

    hehehe :D
    gOMAWO,, semangat

    ReplyDelete
  20. cepetan dong mba anis sinopsis episode 19 sm 20 nya, mba emang dvd a gentleman's Dignity udah ada??, klo beli belinya dimana???

    ReplyDelete
  21. ditunggu lanjutannya ya mba, aku dah nonton filmnya tp blm lengkap klo blm baca sinopsis mba

    semangat

    ReplyDelete
  22. smngat mbak...
    rasax gk sbar pngen bca episode slanjutx....

    ReplyDelete
  23. yah , aku cari di youtube kok gag ada ya :(

    ReplyDelete
  24. yoon ahjussi....
    you'r so coolllllllllll
    #daridulukekkkkk

    ini nich yg pling aku tunggu......

    ReplyDelete
  25. izin copas difb yaw eonni :)

    ReplyDelete
  26. paling greget dan paling suka sama psangan yoon-maeri :3

    ReplyDelete
  27. Kyaaa..deg2an banget ngelyat do jin kissing sama yi soo di rmh baru...jadi membayangkan klo itu terjadi sama aku..
    Hehehehe.. dan saat do jin menatap yi soo dalam2 di mobil..wuii klo aku jd yi soo psti akan jatuh cinta jg sm do jin....
    Dan terharu bgt melihat yoon yg akirnya mengakui perasaannya pada meari psti menyenangkan bgt dikejar ke bandara sprti meari..
    Daebak bgt dah drama ini...romantis dan bisa membuat senyum2 sendiru

    ReplyDelete
  28. hmmmm....cerita yang sangat menerik.. do jin manis banget....

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...