Sunday, 17 February 2013

Sinopsis May Queen Episode 35 Part 1

Setelah tersebar video di internet dan beritanya muncul di TV, Presdir Jang ditemani Chang Hee menuju kejaksaan. Di depan kantor kejaksaan keduanya berpapasan dengan Hae Joo dan San yang baru saja keluar dari sana. Keduanya menghampiri Presdir Jang dengan tatapan penuh dendam.


Presdir Jang bertanya apa San dan Hae Joo masih percaya kalau ia yang membunuh orang tua keduanya. San balik bertanya apa Presdir Jang tahu seberapa besar kejahatan yang sudah Presdir Jang lakukan sendiri. Ia tahu kalau Presdir Jang sama sekali tak berniat minta maaf. Presdir Jang mengelak tuduhan itu, apa San masih bersikeras terhadap tuduhan padanya adalah kenyataan. Kalau itu yang diinginkan San dan Hae Joo, ia mengajak keduanya melihat siapa nanti yang akan menjadi pemenang. “Apa kalian pikir kalian bisa mengalahkanku hanya dengan memasang CCTV seperti itu?”
Hae Joo mengingatkan kalau pemasangan CCTV itu bukan dilakukan oleh jaksa melainkan ia sendiri yang memasangnya. Presdir Jang mencibir menilai Hae Joo sudah banyak berubah. Hae Joo membentak memangnya siapa yang memulai permasalahan ini lebih dulu. “Aku hanya menghentikanmu, menggunakan caramu. Dibandingkan dengan apa yang sudah kau lakukan bertahun-tahun yang lalu, ini bukanlah apa-apa. Bukan hanya itu, kau melakukan pembunuhan. Apa lagi yang kau inginkan dari kami?”

Hae Joo menitikan air mata kemarahannya. “Jang Do Hyun, aku tak akan pernah memaafkanmu. Kau yang sudah membunuh ayah kandungku, kau juga membunuh ayah yang membesarkanku. Selama ini kau juga sudah membohongi ibuku. Aku akan membuat kau membayar semuanya yang tak akan bisa kau lupakan!” 
Hae Joo yang marah mencengkeram baju Presdir Jang, “Ini hanya awal. Lebih baik kau lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku akan memastikan kau membayar semua kejahatan yang kau lakukan!”

San meminta Hae Joo menghentikan kemarahan itu, karena berurusan dengan orang seperti Presdir Jang sama sekali tak ada gunanya. Presdir Jang yang juga marah masuk menuju kantor kejaksaan.
Chang Hee yang dari tadi diam saja mengikutinya. “Park Chang Hee!” panggil Hae Joo dengan suara tinggi membuat Chang Hee menghentikan langkahnya. “Kau juga sama seperti orang itu. Aku juga tak akan memaafkanmu.”
Chang Hee sedih mendengarnya. Ia berbalik menatap Hae Joo menyembunyikan kesedihannya. Tanpa menjawab perkataan Hae Joo, Chang Hee masuk ke kantor kejaksaan.
San mengerti perasaan Hae Joo, ia mengajaknya pulang karena keluarga Hae Joo akan khawatir. Hae Joo yang menangis marah pulang bersama San.
Mereka berada di ruang introgasi kejaksaan. Jung Woo meminta penjelasan bagaimana Presdir Jang datang sukarela seperti ini tanpa perintah pemanggilan. “Menyerang Kim Jung Bo dan menyuapnya, bagaimana perasaanmu ketika kau mempertontonkannya ke seluruh negeri aku juga ingin mendengarnya!”

Presdir Jang yang bingung menjawabnya melirik ke arah Chang Hee dan pura-pura terbatuk-batuk. Melihat itu Jung Woo tertawa ia tahu kalau Presdir Jang hanya berpura-pura.
Chang Hee berkata kalau memasang kamera tanpa seijin terdakwa bukankah Jung Woo tahu dengan baik itu tak bisa dijadikan bukti di pengadilan. Ia bertanya-tanya sejak kapan Jung Woo mulai mengalihkan sebuah kasus ke opini publik.
Jung Woo balik menyerang bukankah Chang Hee juga memasang perekam di kantornya tanpa rasa takut. Bahkan seorang pencuri kelas rendah pun tak akan melakukan hal itu di kampungnya sendiri. Chang Hee menolak tuduhan itu. Jung Woo berkata kalau mereka akan tahu ketika sudah diselidiki.

Jung Woo beralih menatap Presdir Jang yang dari tadi diam, “Jang Do Hyun-ssi apa kau tak punya mulut? Berhentilah bersembunyi di belakang Park Chang Hee seperti pengecut dan katakan sesuatu!”
“Untuk apa? Temanku yang itu, aku hanya memukulnya sekali itu karena aku marah dia percaya pada ancamanmu. Dan uang itu aku memberikannya karena aku merasa kasihan pada keadaannya. Apa kau puas?” Pesdir Jang menjawab tuduhan video.

Jung Woo tertawa bertanya apa Presdir Jang pikir Intelijen Nasional akan mempercayai perkataan seperti itu. Presdir Jang terkejut mendengar nama intelijen Nasional disebut-sebut. Jung Woo kembali berkata kalau Presdir Jang sudah menggelapkan dana intelijen Nasional, apa tak terfikir oleh Presdir Jang kalau mereka akan maju terhadap kasus ini.
“Kenapa kau membunuh kakakku?” Tiba-tiba Jung Woo bertanya perihal pembunuhan Hak Soo. Presdir Jang menolak tuduhan itu, ia tak pernah melakukannya. Jung Woo marah menggebrak meja mengatakan kalau Park Gi Chul sudah bersaksi padanya bahwa Presdir Jang lah pelaku pembunuhan itu. Memangnya siapa lagi yang ingin Presdir Jang tipu, “Apa isi microfilm itu?” bentak Jung Woo.
 
Presdir Jang diam berusaha tak terpancing emosi. Chang Hee berkata bukankah ayahnya sudah mengatakan di konferensi pers kalau dia diancam oleh Jung Woo. Ia memperingatkan Jung Woo jangan mengancam klien-nya sesuka hati.

Jung Woo tak habis pikir kenapa Chang Hee menjadi orang seperti ini. “Apa karena kau ingin menjadi Presdir Cheon Ji, kau membuang hati nuranimu?” Chang Hee berkata kalau ia tak akan menjawab pertanyaan yang sifatnya pribadi.
 Jung Woo mengerti, ia pun akan memulai dengan kasus Presdir Jang yang membeli saksi untuk memberikan tuduhan palsu. Ia tak peduli berapa lama introgasi ini akan berlangsung bahkan kalau ia harus mengundurkan diri ia pasti akan membuka kejahatan Presdir Jang. “Kita tunggu dan lihat saja!” Jung Woo menatap tajam Presdir Jang.
Di rumah, Sang Tae ingin penjelasan lebih lanjut apa benar Presdir Jang membunuh ayahnya Hae Joo dan orang tua Kang San. Young Joo menyahut bukankah kakaknya ini menonton semuanya di TV. Sang Tae merasa kalau membunuh orang bukan seperti menangkap lalat. Ia masih tidak percaya kalau Presdir Jang melakukan itu.
Ibu ikut bicara, ia heran melihat bagaimana sikap Jung Woo yang baik terhadap keluarganya bukankah dia bisa melakukan lebih dari itu. Ia tak mengetahui banyak hal tentang Jung Woo padahal ia begitu akrab. Ini membuatnya merinding. Young Joo juga merasakan hal yang sama seperti ibunya, bahkan putra Presdir Jang juga sama saja (Il Moon) ini benar-benar membuatnya merinding.

Sang Tae bertanya-tanya hukum apa yang negera mereka miliki kalau tak bisa menghukum pejahat seperti itu. San berkata kalau hukuman ini tak bisa dilakukan di pengadilan hukum (karena kasusnya sudah lewat dari masa tenggang yang 15 tahun) tapi ia yakin kalau Presdir Jang pasti akan mendapatkan balasannya suatu hari nanti.
Ibu melihat Hae Joo dari tadi diam, “Apa kau baik-baik saja?” Hae Joo yang tampak melamun terperanjat dan berkata kalau ia baik-baik saja. Ia pun meminta izin akan kembali bekerja. Ibu heran bukankah seharusnya Hae Joo beristirahat dihari yang melelahkan ini. Hae Joo bersikeras ia harus kembali bekerja. Ia pun mengajak San kembali ke pabrik.
Ibu bergumam tak menyangka, “Kupikir dia memiliki hidup yang sempurna tapi si Nyonya ternyata dia menghabiskan hidupnya bersama pria yang membunuh suaminya. Hidupnya juga berantakan. Benar-benar keterlaluan, ternyata hidupku sebagai janda jauh lebih baik.”

Sang Tae mengangguk membenarkan, orang bilang anjing pun punya hidup yang baik. kalau memikirkan tentang hal itu, ia merasa kehidupannya lebih baik. “Tapi kau tak bisa menghindar dari sebutan pengangguran!” sahut ibu. “Siapa bilang hidupmu lebih baik?” ibu menaboki Sang Tae.

“Ah ibu, kalau ibu berhenti memukulku hidupku akan lebih baik!” ucap Sang Tae tapi ia malah mendapatkan beberapa tabokan dari ibunya.
San mengkhawatirkan Hae Joo, “Apa benar kau tak apa-apa?” Hae Joo berkata kalau ia tak bisa memberi tahu keluarganya perihal kematian ayahnya (Chun Hong Chul) kalau bukan karena dirinya ayahnya tak akan meninggal seperti itu. Kalau ia ingat tentang itu, ia merasa begitu bersalah.

San meminta Hae Joo jangan bersikap menyalahkan diri sendiri. Kenapa Hae Joo seperti itu lagi, ia mohon agar Hae Joo keluar dari rasa bersalah yang tak masuk akal seperti itu. 
Hae Joo mengerti ia akan berusaha melakukannya. Ia minta San berjanji agar tak pernah memberitahu keluarganya perihal kebenaran kematian ayahnya. Kalau mereka tahu bagaimana ayah meninggal, ini akan membuat mereka terluka. San janji ia tak akan mengatakannya.
San mengajak Hae Joo melupakan masa lalu mulai dari sekarang. Keduanya hanya akan melangkah ke depan dengan apa yang keduanya harus lakukan. “Kalau kita tak bisa keluar dari masa lalu dan tak bisa berkonsentrasi tehadap masa depan maka kita sendiri yang akan rugi.”
In Hwa berlari terburu-buru ke rumah dan berteriak mencari ibunya. Geum Hee keluar dari kamar. In Hwa langsung menanyakan perihal berita di TV, ia sudah melihat semuanya. “Apa benar ayah yang membunuh Yoon Hak Soo, ayahnya Hae Joo?”
Il Moon datang dan langsung menyahut menolak tuduhan itu, apa menurut In Hwa itu masuk akal. In Hwa menyahut kalau semua berita itu ada di internet. Il Moon berkata kalau yang namanya asap tak mungkin keluar kalau tak ada apinya, “Apa kau pikir ayah kita bisa melakukan hal semacam itu?”

In Hwa kembali bertanya pada ibunya, bukankah ini tentang almarhum suami ibunya. “Ibu tahu apa yang terjadi kan? Ayah tak melakukannya kan bu, benar kan bu?” Il Moon berkata kalau Geum Hee sebenarnya ingin hal itu benar (Presdir Jang membunuh Hak Soo)
Geum Hee menggenggam tangan In Hwa mengatakan kalau berita mengenai tuduhan itu tak benar. Ia percaya ayah In Hwa tak melakukan itu. Dalam situasi seperti ini bukankah kita harus percaya dan berada di sampingnya. Il Moon memandang remeh ucapan Geum Hee, ia tahu kalau itu hanya manis di mulut saja. 
Pelayan memberi tahu kalau ada sesuatu yang serius terjadi. Jaksa datang untuk menyelidiki dan mereka membawa Park Gi Chul pergi. In Hwa terkejut ayah mertuanya dipanggil kejaksaan.
Park Gi Chul berada di ruangan Jung Woo. Jung Woo mempertanyakan kenapa Gi Chul memberikan kesaksian palsu. Bukankah saat itu Gi Chul sudah jelas ingin bersaksi dan berada dipihaknya. “Kau bilang kau mau balas dendam pada Jang Do Hyun. Tapi kenapa kau mengubah pikiranmu? Bahkan kalau itu sekarang, tolong katakan yang sebenarnya.”

Gi Chul terbata-bata berkata bukankah ia tak pernah mengatatakan itu. Jung Woo menebak apa Gi Chul diancam lagi. “Apa kau diancam lagi karena Park Chang Hee?” Gi Chul memalingkan wajahnya berkata kalau apapun yang ia katakan waktu itu, semuanya tak benar.
Jung Woo mengingatkan bukankah Gi Chul tidak lupa bagaimana kakaknya memperlakukan Gi Chul. Apa Gi Chul begitu sulit mengatakan kebenarannya. Gi Chul berkata bagaimana pun juga ia hanya mengatakan yang sebenarnya. Jadi Jung Woo jangan menyiksanya lagi.

Jung Woo kembali mengingatkan bukankah Gi Chul ingin memberi tahu kebenaran karena Gi Chul sudah tersiksa. “Sekarang apa yang menyiksamu adalah dirimu sendiri yang menyembunyikan kebenaran seperti pengecut. Bagaimana kau sendiri tak tahu hal itu?” Jung Woo yang kesal meninggikan suaranya. Gi Chul bungkam menolak anggapan Jung Woo.

Jung Woo tak mengerti apa Gi Chul akan menghabiskan seumur hidup sebagai budak. “Apa kau mau hidup sebagai anjingnya Jang Do Hyun?” bentak Jung Woo. Gi Chul tetap bungkam sambil memejamkan mata berusaha tak melihat dan mendengar apa yang Jung Woo katakan. Ia mencoba menahan dirinya untuk tak bicara apapun.
Bawahan Jung Woo melapor kalau ia sudah membawa Kim Jung Bo. Ia dan yang lainnya berhasil menangkap Kim Jung Bo di bandara ketika dia mencoba kabur keluar negeri. Gi Chul yang memejamkan mata mencoba melirik takut-takut. Jung Woo keluar ruangan akan menemui Kim Jung Bo. Gi Chul yang masih berada disana mulai cemas.
Jung Woo kembali ke ruang introgasi. Disana Presdir Jang masih duduk manis ditemani Chang Hee. Jung Woo menyindir bukankah berada di ruang introgasi dalam waktu lama merupakan cobaan yang panjang. Ia akan memberi Presdir Jang kesempatan terakhir untuk mengatakan yang sejujurnya. Presdir Jang berkata kalau ia sudah mengatakan apa yang bisa ia katakan. Jadi lebih baik Jung Woo hentikan saja.

Chang Hee berkata kalau kesehatan Presdir Jang sedang tak baik, kalau memang Jung Woo tak memiliki bukti yang spesifik lebih baik lepaskan Presdir Jang. (Aneh deh kenapa minta dilepaskan padahal yang datang ke kejaksaan sendiri siapa, pihak kejaksaan juga ga manggil Presdir Jang. Dia datang sendiri tapi sekarang minta dilepaskan hehe)
Jung Woo menyuruh anak buahnya membawa masuk seseorang. Masuklah Kim Jung Bo ke ruangan itu. Presdir Jang tentu saja terkejut. Ia marah melihat kedatangan Kim Jung Bo. Jung Woo meminta Kim Jung Bo memberi tahu hal yang sebenarnya di depan Presdir Jang. Presdir Jang terlihat cemas. Jung Woo membentak menyuruh Kim Jung Bo cepat mengatakannya. Kim Jung Bo berkata kalau apa yang Jaksa Yoon katakan memang benar. “Dia menyerangku dan menyuapku!”
“Apa kau bilang? Bohong. Kau brengsek!” Presdir Jang membentak marah. Ia akan menyerang Kim Jung Bo tapi Chang Hee menahan tubuhnya dan bawahan Jung Woo menghalanginya. Presdir Jang meronta berusaha melepaskan diri akan memukul Kim Jung Bo. Melihat itu Jung Woo hanya tertawa-tawa.
“Oh Ya ampun, Chang Hee kepalaku pusing!” ucap Presdir Jang setelah marah-marah pada Kim Jung Bo. “Kenapa kepalaku pusing seperti ini?” Presdir Jang terkapar di lantai mengeluh kepalanya sakit, Chang Hee memeganginya. Jung Woo tertawa ia menebak kalau Presdir Jang hanya berpura-pura sakit.
Berita di TV menyebutkan kalau mantan anggota agen intelijen yang bernama Kim Jung Bo bersaksi bahwa dia diserang oleh Jang Do Hyun dan Intelijen Nasional pun mulai menyelidiki tentang dana yang dimaksud oleh Kim Jung Bo.
Di rumah keluarga Jang, istri dan anak-anak Presdir Jang menonton berita ini. Il Moon melirik ke arah Geum Hee. Ia ingin tahu reaksi apa yang akan Geum Hee tunjukan setelah melihat berita mengenai ayahnya. Dalam berita juga menyebutkan bahwa ketika Presdir Jang diintrogasi oleh jaksa, dia mengalami hipertensi karena diabetes yang dideritanya dan sekarang dilarikan ke rumah sakit. Karena kesehatan Jang Do Hyun yang memburuk maka kemungkinan kasus ini akan tertunda. Tapi tentang keterlibatan Presdir Jang terhadap pembunuhan Dr Yoon Hak Soo, Park Gi Chul menyangkal keterlibatan Presdir Jang.
Berita ini juga disaksikan oleh mereka yang berada di kantor pabrik. Bong Hee kesal dan mematikan TV. Ia tahu kalau Presdir Jang hanya berpura-pura melakukan semua itu karena sebelumnya dia sehat-sehat saja. Ia menilai kakak iparnya ini mencoba kabur dari permasalahan dengan cara ini.
Hae Joo juga tak mengerti bukankah sudah jelas kalau Park Gi Chul datang menemuinya dan berlutut di depannya. Ia ingat betul kalau Gi Chul bilang padanya bahwa Jang Do Hyun lah yang telah membunuh ayah kandungnya. Gi Chul juga bilang kalau dia sendiri yang membuanuh ayahnya. Waktu itu ia melihat Gi Chul begitu tersiksa, tapi bagaimana mungkin dia bisa berubah seperti itu. San menebak kalau itu pasti Chang Hee yang menyuruh.
Ponsel San berdering, ia menjawabnya. “Benar, aku Ryan Kang!” San tampak senang mendengar kabar yang ia terima dari seseorang yang ia panggil Direktur. Hae Joo ingin tahu ada apa.
San tersenyum sumringah mengatakan kalau sepertinya semua berjalan dengan baik. Perusahaan Perkapalan Ocean tempat dimana dulu ia bekerja tertarik bekerja sama. Hae Joo dan Bong Hee terkejut tak percaya. 
Bong Hee berkata kalau itu Perusahaan Ocean bukankah itu saingannya Cheon Ji. San berkata mereka bukan hanya akan menyediakan dana tapi mereka juga akan memberikan laboratorium penelitian. Hae Joo tentu saja senang, karena ia bisa melakukan eksperimen terhadap mata bornya. San berkata dengan adanya laboratorium kita akan bisa memasang berliannya dengan cara ekspansi termal, kita bisa melanjutkan merancang dan mencari cara yang lebih baik.

(mencoba mencari artinya dan inilah yang didapat, ekspansi termal : perubahan dimensi yang terjadi akibat adanya perubahan temperatur)

Bong Hee bersyukur Tuhan benar-benar sedang menolong kita. Kalau kita terus seperti ini, kita bisa menghancurkan Cheon Ji. San bilang tentu saja, bukankah tim terhebat di dunia ada disini.
 Mereka tertawa senang, sementara Sek Kim yang berada disana diam saja memperhatikan mereka satu persatu.
 Apa yang dilakukan Presdir Jang di rumah sakit. Ia duduk santai di kamar inapnya sambil menonton perkembangan berita di TV sambil mengunyah permen karetnya. Istri dan anak-anaknya datang.
Melihat kedatangan keluarganya Presdir Jang langsung meringkuk mengeluh kesakitan. Ia senang istri dan putrinya datang tapi begitu melihat wajah Il Moon ia langsung marah-marah, “Kenapa si brengsek ini datang?” Geum Hee berkata kalau Il Moon datang menjenguk karena khawatir. Il Moon bertanya apa ayahnya baik-baik saja.

Bukannya menjawab Presdir Jang malah nyolot, “Memangnya siapa ayah dasar kau brengsek?” Presdir Jang mengambil sesuatu di meja dan melamparkannya ke arah Il Moon, ia mengusir Il Moon keluar dari ruang perawatannya.

Geum Hee berusaha menenangkan suaminya, kalau suaminya marah-marah seperti ini maka kesehatan suaminya akan semakin memburuk.

In Hwa khawatir apa ayahnya benar-benar sakit. Presdir Jang menjawab tak apa-apa, bukankah keluarganya juga tahu kalau ia menderita diabetes, kali ini kadar gulanya naik lumayan tinggi. Terlebih lagi sekarang ini ia berada diantara mereka yang membuatnya marah, kata Presdir Jang menatap kesal putranya.
 Presdir Jang bertanya apa istrinya menonton berita di TV. Geum Hee membenarkan, ia berfikri kalau suaminya tak akan melangkah sejauh itu. Il Moon tertawa mencibir mendengar jawaban Geum Hee. Ia menilai kalau wajah Geum Hee terlihat berbeda ketika menonton TV.

Geum Hee bersikap lembut di depan suaminya, ia heran dengan sikap Il Moon, setelah menghabiskan bertahun-tahun dengan suaminya apa Il Moon pikir ia tak mengenal suaminya. Kalau ia tak percaya pada ayah Il Moon, ia tak akan berada disini sekarang.
In Hwa membenarkan dan meminta kakaknya jangan terus-terusan berprasangka buruk pada ibunya. Il Moon tak percaya ternyata semua orang membela Geum Hee, bahkan ayahnya pun marah-marah padanya.
Chang Hee datang menemui Presdir Jang karena ada hal yang ingin ia sampaikan. Presdir Jang pun menyuruh anak dan istrinya lebih baik pulang dan istirahat. In Hwa khawatir bukankah ayahnya sedang sakit tapi kenapa masih menguruh urusan perusahaan. Geum Hee pun pamitan, ia berpesan agar suaminya tetap bersikap tenang. Kalau kesehatan suaminya memburuk bukan hanya Cheon Ji, tapi keadaan keluarga pun akan memburuk. Presdir Jang tersenyum senang dengan perhatian istrinya.
Geum Hee dan In Hwa keluar kamar tapi tidak dengan Il Moon. Ia tetap berada di ruang rawat ayahnya. Presdir Jang tentu saja marah. Il Moon membela diri, bukankah ia pernah menjabat sebagai Presdir Cheon Ji dan ia juga pemegang saham. Presdir Jang marah dan mengancam akan melempar Il Moon dengan benda yang dipegangnya. Ia membentak menyuruh Il Moon pergi. Dengan wajah takut Il Moon keluar dari ruang perawatan ayahnya. Tapi Il Moon tak benar-benar pergi. Ia berdiri di depan pintu menguping apa yang dibicarakan ayahnya dengan Chang Hee.
Chang Hee melaporkan kalau ia mendengar dari Sek Kim kalau San dan yang lainnya akan bekerja sama dengan perusahaan Perkapalan Ocean. Presdir Jang tentu saja kesal, ternyata mereka tak menyerah. Chang Hee bilang kalau permasalahnnya bukan itu, ia mengatakan kalau badan Intelijen Nasional mulai menyelidiki tentang dana rahasia itu dan sekarang opini publik juga benar-benar buruk.

Presdir Jang yakin kalau opini publik akan hilang seiring berjalannya waktu. Tapi Chang Hee berkata kalau masalah ini lain, karena menurut orang-orang dari perusahaan Minyak Nasional yang ditemui kemarin kalau Cheon Ji dipengaruhi oleh opini publik yang buruk mereka bilang akan sulit untuk mendapatkan izin pengeboran minyak. Presdir Jang tak mengerti apa maksudnya. 
Chang Hee berkata kalau teknologi baru dilakukan oleh perusahaan lain maka akan sulit bagi Cheon Ji untuk mendapatkan izin pengeboran hanya dengan bermodalkan azimuth thruster. Ditambah lagi perusahaan perminyakan Nasional harus mempertimbangkan opini publik dan politik. Presdir Jang mengambil kesimpulan kalau begitu kita harus menghadang perusahaaan lain yang membuat teknologi baru. Chang Hee berkata kalau cara melakukannya apa dengan mencuri desain seperti yang dulu. Presdir Jang tak peduli caranya bagaimana yang penting Cheon Ji harus mendapatkan izin pengeboran minyak itu kalau tidak, kita yang akan hancur.
 Mendengar pembicaraan ayahnya dengan Chang Hee, Il Moon berniat melakukan sesuatu.
 San, Hae Joo dan Bong Hee menemui Direktur yang berbicara dengan San di telepon. Direktur itu menilai akan baik sekali kalau Ryan Kang bisa bekerja sama dengan perusahannya. Ia tak menyangka kalau kesempatan ini akhirnya tiba juga. San merasa tersanjung dan berterima kasih.

Direktur melihat daftar staf yang dimiliki oleh San, ia terkesan karena San memiliki kombinasi ahli yang bagus melebihi perkiraannya. Lee Bong Hee seorang sarjana perminyakan. Chun Hae Joo, bukankah kau yang membuat azimuth thruster untuk Cheon Ji.
Hae Joo membenarkan dan berkata kalau ia membuatazimuth thruster bersama Ryan Kang. Direktur senang, ia tahu kalau San akan membuat sesuatu yang besar. Direktur pun memutuskan akan bekerja sama dengan San dkk karena ia percaya pada keahlian masing-masing orang yang ada di depannya. “Akhirnya datang juga hari untuk kita bisa melampaui Cheon Ji.”

Hae Joo juga sangat yakin kalau mereka pasti bisa mengalahkan Cheon Ji. Direktur bertnya mereka akan memulainya dari mana dulu. San berkata kalau ia sudah menyelesaikan tahap pertama, jadi apa yang harus mereka lakukan sekarang adalah melakukan uji coba.
Direktur berkata kalau uji coba akan beres kapan pun San dkk ingin melakukan penelitian. (laboratoriumnya selalu siap sedia) Mereka pun akan memulai untuk uji cobanya hari ini, kebetulan Hae Joo sudah membawa alat bornya. Direktur sangat terkesan dengan cara kerja tim Ryan Kang. Ia tak menyangka kalau San dkk bukan hanya mampu tapi juga mempunyai kekuatan untuk memulai. Tapi Hae Joo tak bisa ikut dengan mereka. Ia harus kembali ke pabrik.
Bong Hee heran, apa Hae Joo tak ingin melihat sendiri hasil dari apa yang Hae Joo buat. Hae Joo berkata kalau kita itu tak boleh puas dengan percobaan yang pertama. Tentu saja akan lebih baik kalau yang pertama ini berhasil, tapi untuk berjaga-jaga ia harus melakukan penelitian lagi dengan mengelas untuk melihat apa ada cara yang lebih baik.
 Tapi San khawatir, “Apa kau tak takut kalau tak ada aku?”
 “Ya ampun, Oppa aku lebih takut padamu!” seru Hae Joo. hahaha.
Bong Hee cemberut, “Kalian ini tak takut dengan orang yang lebih tua. Berani-beraninya kalian saling merayu di depanku?” Bong Hee tak masalah Hae Joo tak ikut, silakan Hae Joo mengurus urusannya sendiri dan Kang San akan ikut dengannya. Tapi San masih khawatir kalau meninggalkan Hae Joo seorang diri. Apalagi terhadap kasus penculikan sebelumnya. Bong Hee tetap menyuruh San ikut dengannya.

Hae Joo meyakinkan kalau ia tak akan apa-apa karena ada Sek Kim dan pegawai lain di pabrik. Jadi ia minta San tak perlu khawatir.
Il Moon berada di ruangan Presdir. Ia menerima tamu seorang pengacara, Pengacara Woo. Il Moon menanyakan bagian saham yang ayahnya janjikan padanya. Ia sengaja memanggil Pengacara Woo untuk melihat apakah mungkin untuk menjual sahamnya.
Pengacara Woo bilang kalau itu tak mungkin. Il Moon heran kenapa tidak, apa ada masalah tentang hukum atau tentang pajak warisan. Pengacara Woo bilang kalau bukan itu masalahnya, tak ada satu pun saham atas nama Il Moon. Il Moon tentu saja terkejut, apa maksud pengacara Woo bukankah belum lama ini saham sudah diberikan padanya. Pengacara Woo meralat kalau saham itu diberikan pada orang lain.
Il Moon marah, “Pada orang lain? Siapa?”
Il Moon pulang ke rumah menemui Geum Hee. Ia menanyakan apa ini ulah Geum Hee. Geum Hee yang tengah minum teh diam saja. Il Moon habis kesabaran dan menggebrak meja. “Aku tanya apa itu ulahmu?” Geum Hee menatap Il Moon santai. Il Moon yang marah berkata kalau pada akhirnya ternyata Geum Hee mengambil sesuatu dari ayahnya, saham miliknya di perusahaan diberikan pada Hae Joo.

Geum Hee tak terkejut Il Moon mengetahui ini, ia malah berkata kalau Il Moon sepertinya terlambat mengetahui ini. “Memangnya kenapa? Apa ada masalah?” Il Moon jelas tak bisa mentoleransi tindakan Geum Hee ini. Ia mengobrak-abrik meja menjatuhkan vas bunga dan gelas minuman Geum Hee.
Geum Hee berusaha bersikap tenang memanggil Bibi pembantu untuk mengambilkan teh lagi. Il Moon mengancam, “Tunggu dan lihat saja, tak akan ada yang berjalan sesuai keinginanmu.” Geum Hee meminta Bibi pembantu melihat kejadian ini. Bukankah si Bibi melihat sendiri apa yang dilakukan Il Moon. “Katakan pada Presdir apa yang kau lihat!” Il Moon yang marah berjanji kalau ia pasti akan membuat Geum Hee menyesal sudah melakukan ini terhadapnya. Il Moon berteriak marah membuat Geum Hee sedikit tersentak. Ia keluar dari rumahnya. Geum Hee tersenyum sinis menatap kepergian Il Moon.
Il Moon menemui Hae Joo di kantor pabrik. Ia meminta Hae Joo memberikan kembali apa yang Hae Joo ambil darinya. Hae Joo menebak maksud kedatangan Il Moon kali ini apa akan mencuri mata bornya.

Il Moon : “Aku menyuruhmu untuk mengambalikan sahamku!”

“Oh ternyata saham,” Hae Joo mengatakan kalau itu pemberian ibunya kenapa ia harus memberikannya pada Il Moon.
Il Moon menyebut Hae Joo dengan sebutan wanita pengemis, “Kau menggunakan ibumu untuk mengambil sahamku di Cheon Ji. Benar, darah kotor miskinmu tak pernah pergi dari dirimu. Berikan padaku cepat. Itu milikku!” Bentak Il Moon.
Hae Joo mencibir kalau pada akhirnya orang seperti Il Moon tak beda jauh dengan ayah Il Moon. “Apa karena itu kau mempertaruhkan hidupmu. Bahkan kalau aku memberikan saham itu aku tak akan memberikannya pada orang sepertimu. Aku akan memberikannya untuk orang yang bekerja keras.”
“Apa kau mau mati?” Il Moon mengambil map dokumen akan memukulkannya pada Hae Joo tapi dengan sigap Hae Joo menahan dan menepisnya. Sek Kim masuk ke ruangan karena mendengar keributan. Il Moon yang marah mengambil kertas desain dan merobeknya, “Baik. Kau... kita tunggu dan lihat saja. Karena aku tak akan diam saja.”
In Hwa berdiskusi dengan pegawainya di butik. Chang Hee datang menemuinya. In Hwa heran kenapa tiba-tiba Chang Hee datang, keduanya pun bicara berdua.
Chang Hee minta maaf atas kejadian sebelumnya. In Hwa bertanya yang mana. Chang Hee memberi tahu kalau permintaan maafnya ini tentang kesalah pahaman Hae Joo yang masih ada di hatinya. Tentang hal itu In Hwa sudah salah paham.

In Hwa : Mengenai menyukaiku sejak kita masih kecil, bukankah kau sendiri yang bilang kalau itu bohong.” 

Chang Hee berkata kalau ia sudah tahu tentang Hae Joo yang putri Ibu mertuanya dan ia merasa kasihan pada Hae Joo. Tapi ia merasa lebih menyesal telah menyakiti hati In Hwa daripada hari dimana ia putus dengan Hae Joo.
In Hwa menyadari kalau Chang Hee sudah aneh sejak malam pertama keduanya menikah. “Aku merasa seperti cangkang kosong yang berada di sampingmu!”
Chang Hee pindah duduk di samping In Hwa. In Hwa tak mengerti kenapa Chang Hee bersikap seperti ini. Chang Hee berkata bukankah sebelumnya In Hwa bilang percaya apa yang ia katakan adalah kebohongan. Kali ini ia harap In Hwa juga percaya pada ucapannya.
In Hwa menatap sedih, ia juga ingin mempercayainya tapi ketika ia berusaha memikirkan untuk memulainya lagi dari awal, meskipun ia ingin melakukannya dengan baik, apa yang bisa ia lakukan kalau hati Chang Hee selalu pergi ke tempat yang jauh.
Chang Hee menunjukan sebuah gelang pada In Hwa. Melihat itu hati In Hwa tak tersentuh. “Apa ini? Apa kau menggunakan ini supaya kau bisa mempermainkanku?” Chang Hee tersenyum, ia memakaikan gelang itu ke tangan In Hwa.
Chang Hee : “Ini adalah rantai yang akan menahan hatimu. Jangan tinggalkan aku!”
In Hwa terharu menatap sedih, “Aku membencimu sampai mati.”
Chang Hee menarik In Hwa ke pelukannya. (Ah... aku harap Chang Hee mulai tulus ke In Hwa)
Il Moon mengajak Asisten Yang bicara berdua. Ia akan menugaskan Asisten Yang untuk menjalankan rencananya mencuri mata bor. Tapi Asisten Yang menolak menjadi orang suruhan Il Moon, “Aku datang kesini sebagai pegawai yang memiliki keahlian bukan untuk menjadi pencuri.” Il Moon mengingatkan kalau dulu bukankah Asisten Yang mencuri informasi. Apa itu bukan pencurian juga. Ia minta Asisten Yang jangan banyak bicara lebih baik ikuti saja apa yang ia perintahkan.
“Kubilang tak mau!” tegas Asisten Yang. Penolakan ini tentu saja membuat Il Moon marah. Ia mencengkeram baju Asisten Yang, “Karena kau bekerja di bawah Park Chang Hee apa sekarang kau menolak perintahku?” Asisten Yang melepaskan diri dari cengkeraman Il Moon, “Kalau kau sudah mengerti itu seharusnya kau menghilang diam-diam. Aku tak ingin bekerja denganmu.” Asisten Yang berlalu sambil menabrakkan diri ke tubuh Il Moon. Il Moon jelas saja jengkel.
Hingga malam Hae Joo masih berada di kantor pabrik. Ia menerima telepon dari San yang mengabarkan kalau uji coba mereka terhadap alat bor-nya kurang memuaskan. Ini terjadi karena mata bor-nya patah. (ya iyalah berliannya kan palsu)
San dan Bong Hee berada di dalam mobil menuju pabrik. San mengatakan kalau ia tak tahu pastinya kenapa, ia akan mencoba mencari tahu penyebabnya di laboratorium penelitian. Ia yakin pasti akan mengetahui sesuatu yang terjadi.

Bong Hee yang duduk di samping San mendengarkan percakapan ikut bertanya apa ada yang salah dengan cara pengelasannya. San menyahut kalau itu tak mungkin, “Mana mungkin Hae Joo-ku bisa salah mengelas. Ini mungkin karena kesalahan desain atau yang lain.” (haha San ga terima Hae Joo disalahin, malah dirinya sendiri yang disalahin)

Hae Joo berkata kalau ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Ia merasa ada cara lain yang terbaik untuk membuatnya. Bong Hee menyindir, “Apa kalian mau pergi berdua supaya bisa bicara sambil merayu?” Hae Joo tertawa bukan begitu. Tentu saja Bibi-nya harus ada disini.
San bertanya pada Bong Hee, bukankah tadi Bong Hee bilang hari ini ada rencana. “Tidak ada!” Bong Hee menatap bingung. Yah.... San pengen berduaan sama Hae Joo haha. San memberi tahu Hae Joo kalau ia dan Bong Hee sebentar lagi sampai di pabrik. Selesai menerima telepon Hae Joo kembali konsentrasi membuat desain.
Karena Asisten Yang menolak tugas darinya, Il Moon pun melancarkan aksinya sendiri. Ia mendatangi pabrik Hae Joo malam-malam. Untuk alat penerangan ia membawa senter. Ia melihat sekeliling memastikan aman atau tidak untuknya masuk ke dalam pabrik. Il Moon masuk ke sebuah ruangan. Ia menerangi ruangan itu dengan sinar senter yang dibawanya.
Tanpa sengaja Il Moon menendang sesuatu ketika berjalan (apa ya itu) cairan dari benda itu pun membanjiri lantai. Il Moon sendiri meringis kesakitan memegangi kakinya.
Il Moon membuka tiap lemari mencari sesuatu. Ia menemukan gambar desain bor dan juga bornya. Il Moon tersenyum karena apa yang ia cari akhirnya ketemu juga. Ia mengambil bor itu dan menaruhnya di meja. Dengan bantuan sinar senter ia mengamati benda itu.
Tapi tiba-tiba senternya mati, untungnya Il Moon membawa korek api. Ia menggukan korek itu untuk menerangi ketika melihat bornya. Il Moon tersenyum puas telah menemukan bor itu tapi tanpa ia sadari kulitnya mendekat ke arah sumber api korek. Ia pun menjerit kepanasan dan reflek melempar koreknya. 
Naas cairan yang membanjiri lantai adalah bahan bakar hingga dalam hitungan detik saja api sudah menjalar. Il Moon panik berusaha mematiikan api. Ia mencoba mematikannya menggunakan kertas desain (bodo banget masa mau matiin api pake kertas) tentu saja itu tak berhasil malah api itu membakar kertasnya. Ia melempar kertasnya dan api semakin merambat kemana-mana. Dalam kepanikan itu, Il Moon kabur keluar dari pabrik.
Hae Joo keluar dari sebuah ruangan dan terkejut melihat seseorang berlari melintas di depannya. Tapi ia tak melihat jelas siapa orang itu.
Hae Joo menoleh ke arah pabrik dan tercengang ketika melihat kepulan api dan asap. Hae Joo segera lari menuju sumber kebakaran. Melihat kobaran api dimana-mana Hae Joo berteriak, “Kebakaran! Kebakaran!”

Il Moon yang panik sampai di mobilnya. Ia sesegera mungkin pergi dari sana. Ia ngebut.
Hae Joo berteriak berusaha minta tolong agar ada seseorang yang membantu memadamkan api. Tapi di pabrik tak ada siapa-siapa.

Hae Joo pun masuk ke ruangan berusaha mematikan apinya. Ia mencoba mengambil kain dan mematikan api. Tapi titik apinya ada dimana-mana ia kewalahan. Melihat di meja ada desain bor miliknya ia berusaha menyelamatkan itu sekaligus menyelamatkan bornya. Tapi ia tak bisa mengangkat bor-nya karena panas, ia pun menggunakan kain yang ada di tangannya.
Hae Joo terbatuk-batuk karena terlalu banyak menghirup asap. Ia bingung harus keluar lewat mana. 
 Tiba-tiba dari atas kepalanya jatuhlah sesuatu dan mengenai tangannya, Hae Joo tak sadarkan diri. 




Bersambung ke part 2

8 comments:

  1. trims sinopsisnya mbak dan d tunggu kelanjutannya. jadi ngga sabar pengen tau endingnya gimana.

    semoga san datang tepat waktu dan bisa nolongin hae joo.

    #rahmi.

    ReplyDelete
  2. Woow.. menegangkan. ditunggu part 2 ny y..

    ReplyDelete
  3. Ayo anis sedikit lagi!

    Semangat!!

    ~arma~

    ReplyDelete
  4. Smangat part 2 ny mba.... \(•ˆ⌣ˆ•)/

    ReplyDelete
  5. Thanks mba anis :) ditunggu terus sinopsisnya :)

    ReplyDelete
  6. hai mbak anis...aku reader newbie di blognya mbak anis...gomawo sinopsisnya mbak :)
    mbak, boleh share link kan??mbak, blog kakakku minta ijin copas dri blog mbak anis tpi pke credit link hidup ke blog mbak anis, boleh ga tuh?
    thanks mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nita : kalau share link saja boleh tapi copas tidak.

      Delete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...