Thursday, 14 February 2013

Sinopsis Queen of Ambition Episode 7 Part 2

 
Di rumah Keluarga Baek, Do Kyung menanyakan kenapa Bibinya tak juga sarapan. Bibi Ji Mi dengan malas berkata kalau ia akan makan kue beras ramen sekalian makan siang. Ia cemberut dan berkata mengingat betapa miskinnya ia sekarang, ia seharusnya mati saja ketika makan kue beras ramen.

Do Kyung mengerti suasana hati Bibinya. Bibi Ji Mi meminta Do Kyung memberinya uang 1 juta won. Do Kyung tak bisa memberikannya, ia takut ayahnya tahu dan akan marah. 
 
Bibi Ji Mi mengatakan kalau di dompetnya sekarang hanya ada 30rb won saja. Ia bahkan tak bisa membayar kartu kreditnya. “Karena aku sudah lama tak menghirup udara mall aku mungkin akan meninggal karena kehabisan nafas. Jadi beri aku 1 juta won ya?”
  
“1 juta won apa?” tiba-tiba suara Presdir Baek mengagetkan adiknya. “Ji Mi kau ini, aku akan mengatakannya lebih jelas, aku tak peduli dengan yang lain tapi kalau kau ketahuan meminta uang dari anak-anak kau juga tak bisa tinggal di rumah ini. Ketika kau keluar dari rumah ini, tak peduli kau mengemis makanan atau mencurinya, aku tak akan peduli. Kau mengerti apa yang kukatakan kan?”

“Iya aku mengerti!” Bibi Ji Mi kesal dengan ancaman kakaknya. “Aku pasti sudah gila meminta uang pada anak-anak. Maaf. Pergi kerja sana!”

Presdir Baek mengajak Do Kyung pergi bersama. Ia menyarankan putrinya untuk mampir ke klub berkuda. Do Kyung akan kesana karena ia juga sudah lama tak kesana. 
 
Sebelum pergi Do Kyung memberikan selembar uang pada Bibinya. Ia memberikan itu diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya. Bibi Ji Mi berbisik pada Do Kyung, semoga kau diberkati. 
 
Do Kyung selesai berkuda, ia akan mengandangkan Lisa. Ia tampak mencari seseorang, ia pun teringat pada Ha Ryu.

Penjaga peternakan menawarkan akan membawa Lisa ke kandang. Do Kyung heran kenapa ia tak melihat pria yang bekerja disini sebelumnya. Penjaga peternakan mengatakan kalau Ha Ryu sudah berhenti kerja. Dia tak mengatakan apapun dan tidak datang bekerja, sepertinya dia tak terlihat bisa melakukan pekerjaan disini.

Huwaaa Do Kyung, apa yang terjadi denganmu. Apa merasakan sesuatu pada Ha Ryu. 
 
Di pengadilan hukuman untuk Ha Ryu pun dijatuhkan. Diantara semua tuduhan terhadap Ha Ryu, tuduhan pembunuhan tak terbukti karena bukti yang tak cukup. Jadi Ha Ryu tak bersalah atas kasus pembunuhan. Tapi karena membuang mayat dan ada barang bukti kuat yang mendukung tuduhan itu, maka diputuskan kalau Ha Ryu bersalah karena membuang mayat. Dan ia pun divonis 4 tahun penjara. Ha Ryu menatap tajam putusan hakim. 
 
Da Hae berada di ruang kerjanya mencari informasi lewat internet mengenai beberapa sekolah di Amerika untuk Eun Byul. Setelah menemukan artikel yang cocok ia pun mencetaknya. Hmm Da Hae akan membawa Eun Byul ke Amerika nih bahkan dia sudah menyiapkan dua passpor. 
 
Da Hae menemui Do Kyung. Do Kyung terkejut dan menebak apa Da Hae akan melakukan apa yang ia minta. Da Hae membenarkan, seperti yang Do Kyung minta ia akan pergi dari kehidupan Do Kyung. Do Kyung merasa itu hal yang bagus karena Da Hae mengerti apa maksudnya. Ia bertanya apa yang akan dilakukan Da Hae agar membuat Do Hoon mengerti. Karena Do Hoon tak akan membiarkan Da Hae pergi dengan mudah.

Da Hae berkata kalau ia akan pergi tanpa sepengetahuan Do Hoon. “Aku akan ke Amerika. Kami tak akan pernah bertemu lagi!” Do Kyung masih ragu bisakah ia mempercayai perkataan Da Hae. Da Hae tak menjawab, ia hanya berpesan agar Do Kyung menyampaikan pada Presdir dan Bibi Ji Mi permintaan maafnya karena pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan. Da Hae pun permisi. 
 
Do Hoon sibuk di ruangannya. Do Kyung masuk membawakan kopi. Do Hoon tak menyadari kedatangan kakaknya hingga Do Kyung mengetuk dan menyahut kopi. Ia memberikan satu kopi untuk Do Hoon.
  
Do Hoon menanyakan haruskah ia melakukan perjalanan bisnis ke Busan, bagaimana kalau Manajer Kim saja (Banyak amat yang namanya Manajer Kim) Do Kyung mengingatkan kalau ini adalah proyek pertama Do Hoon, memilih tempat, konsep desain, sampai logo merk, Do Hoon harus melakukan dan memutuskannya sendiri.

“Kalau begitu bolehkah aku pergi bersama Da Hae?” tanya Do Hoon.
 “Kau ini. Berapa lama kau akan bertingkah seperti anak kecil?” ucap Do Kyung.

Do Hoon langsung terdiam mendengar larangan kakaknya. Do Kyung meminta Do Hoon memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
  
Do Hoon bicara melirik ke arah kakaknya, “Memangnya siapa yang memperlakukanku seperti anak kecil?” Ia berkata kalau menjadi pebisnis dan pacaran diwaktu yang sama itu memang sulit. 
 
Da Hae berada di sebuah kafe menatap cincin pemberian Do Hoon. Do Hoon sampai disana dan tersenyum ketika melihat Da Hae. Do Hoon diam-diam mengambil foto Da Hae dengan ponselnya. Mendengar suara jepret kamera ponsel Da Hae mengangkat wajahnya. Do Hoon tersenyum mengatakan kalau setiap kali ia merindukan Da Hae ketika melakukan perjalanan bisnis ia akan melihat foto ini. 
 
Da Hae diam tak merespon. Itu membuat Do Hoon heran, “Apa kau baik baik saja? Kau terlihat tak sehat?” Do Hoon mulai khawatir. Da Hae menyentuh wajahnya dan mengatakan kalau ia baik-baik saja. Ia berharap semoga perjalanan bisnis Do Hoon ke Busan menyenangkan.

Do Hoon merasa sejak keduanya memulai berkencan di Amerika, kepergiannya ke Busan kali ini akan menjadi pertama kalinya ia dan Da Hae terpisah. “Aku terbiasa melakukan apapun bersamamu. Pergi sendirian membuatku gugup. Bukankah ini lucu?”

Da Hae sangat yakin kalau Do Hoon akan baik-baik saja jadi tak usah khawatir. Do Hoon tersenyum berterima kasih, ia berjanji akan melakukannya dengan baik. Setelah kembali dari perjalanan bisnis ia akan mengajak Da Hae berlibur berdua.
  
Da Hae tak menjawab ia malah mengeluarkan cincin pemberian Do Hoon. Ia mengatakan kalau cincin ini tak cocok untuknya. “Bisakah kau membetulkannya untukku?” Do Hoon mengatakan kalau ada sebuah toko di mall kenapa Da Hae tak memperbaikinya disana. Do Hoon menerima cincin itu, ia mengatakan kalau cincin ini adalah cincin pertunangan yang ia berikan pada Da Hae. Ia akan memperbaikinya. 
 
Ha Ryu akhirnya masuk ke lapas khusus. Ha Ryu, si tahanan bernomor 6453 dengan tatapan dingin harus berbagi ruangan dengan tahanan lain.
   
Ha Ryu melepas sepatunya dan duduk bersandar pada dinding ruangan tahanan. Disana beberapa napi sudah terlelap. Salah seorang napi yang terbaring berusaha menarik selimut tapi selimut itu tak sengaja diduduki oleh Ha Ryu. Ia terbangun dan menatap Ha Ryu yang terdiam, “Hei disini tak ada orang yang dipenjara karena bersalah. Tarikan nafasmu itu menggangguku. Berhentilah menarik nafas dan tidurlah!” Kata napi itu sambil menendang-nendang menyuruh Ha Ryu segera tidur. 
 
Tapi Ha Ryu diam saja. Napi itu heran, Ha Ryu bahkan tak bergeming sedikit pun. “Aku akan meletakan stetoskop padamu.” Ia mengangkat kakinya dan meletakan telapak kakinya ke dada Ha Ryu. Ha Ryu diam, ia tak marah ataupun protes karena tindakan tak sopan si napi. Ia mungkin lagi malas marah.

Napi itu heran dan mengatakan kalau diagnosa terhadap Ha Ryu sudah selesai, ternyata ia memiliki teman baru yang bodoh. Ia menyuruh Ha Ryu minggir dan menarik selimutnya. Ha Ryu kembali menarik nafas sambil menatap langit-langit ruangan tahanannya. Napi ini bernama Uhm Sam Do. 
 
Da Hae menunggu Eun Byul di depan sekolah. Ketika melihat putrinya muncul Da Hae langsung berteriak memanggilnya. Eun Byul tentu saja terkejut, tapi ia senang ibunya sudah pulang. Ia berlari memeluk ibunya. 
 
Da Hae memuji putrinya sudah tumbuh besar dan cantik. Eun Byul senang sekali dan bertanya apa ibunya ini baru pulang dari Amerika. Da Hae mengiyakan ia sengaja pulang dari Amerika untuk menemui Eun Byul. Eun Byul bertanya apa ibunya menerima surat yang ia kirim ke Amerika, apa karena surat itu sekarang ibunya pulang.

Da Hae terlihat bingung surat apa, tapi ia berusaha menyenangkan putrinya menjawab kalau ia menerima surat itu. Eun Byul tertawa girang ia berteriak memberi tahu teman-temannya kalau ibunya baru pulang dari Amerika.
  
Kedunya duduk di bangku taman. Eun Byul mengatakan pada ibunya kalau ayahnya sekarang sedang dalam perjalanan bisnis ke Amerika. Jadi sekarang ini ayahnya tak ada di rumah. Da Hae berkata kalau ia sudah mengetahui itu. Eun Byul merasa akan lebih baik kalau ayahnya juga segera pulang.
  
Eun Byul menceritakan kalau sekarang ia sudah bisa naik sepeda. Ia ingin menunjukan kebolehannya bermain sepeda apa ibunya mau melihatnya mengayuh sepeda. Da Hae tersenyum dan berkata kalau ia akan membelikan Eun Byul baju baru. Eun Byul tentu saja senang, ia ingin ibunya membelikan rok karena selama ini ayahnya selalu membelikan dirinya celana. Da Hae setuju, ia akan membelikannya. Eun Byul senang bukan main. 
 
Da Hae ingin menggendong Eun Byul di punggungnya. Eun Byul heran bukankah ia sudah besar kenapa digendong. Da Hae berkata kalau ia sudah lama tak menggendong Eun Byul di punggungnya. Eun Byul pun naik ke punggung ibunya.
  
Keduanya berada di mall memilih-milih baju. Eun Byul ingin mencobanya di ruang ganti. Da Hae bertanya apa Eun Byul bisa melakukannya sendiri. Eun Byul tersenyum meminta ibunya tak perlu khawatir. Alamak ternyata Bibi Ji Mi berada di mall yang sama. 
 
Bibi Ji Mi melihat Da Hae tengah memilih-milih baju. Ia memanggil Da Hae tapi tiba-tiba ia terkejut karena ada anak kecil yang berlari ke arah Da Hae dan memanggil ‘ibu’
  
Da Hae memuji baju yang dipakai Eun Byul cantik. Ia bertanya apa Eun Byul akan tetap mengenakan baju ini sambil pulang. Eun Byul mengangguk. Da Hae menyuruh Eun Byul mengambil baju yang dipakai tadi. Bibi Ji Mi tentu saja tercengang melihat apa yang disaksikannya. Ia tak menyangka ternyata Da Hae sudah memiliki putri. Da Hae menoleh ke belakang tepat dimana Bibi Ji Mi berada tapi disana tak ada siapa-siapa. Bibi Ji Mi sudah meninggalkan tempat itu.
  
Bibi Ji Mi berada di sebuah kafe, ia berusaha mencerna apa yang baru disaksikannya tadi. Ya, Da Hae sudah memiliki seorang putri. Ia tertawa terbahak-bahak, “Lucu sekali. Joo Da Hae, aku tak pernah tertawa seperti ini sekian lama!” Tawa kerasnya membuat pengunjung kafe terheran-heran.
   
Da Hae mengajak Eun Byul ke apartemennya. Ia menyuapi Eun Byul makan omurice. Eun Byul menatap sekeliling rumah dan terheran-heran, apa ini rumah ibunya. Da Hae membenarkan. Eun Byul bertanya apa ia akan tinggal di rumah ini bersama ayah dan neneknya. Da Hae tak menjawab, ia malah menunjukan ikat rambut yang ia bawa dari Amerika. 
 
Melihat ikat rambut itu Eun Byul bersorak riang. “Apa ibu membelinya di Amerika?” Da Hae membenarkan, ia akan mengikat rambut Eun Byul dengan ikat rambut itu setelah Eun Byul selesai makan.
  
Da Hae mengikat rambut Eun Byul dengan ikat rambut yang ia bawa dari Amerika. Eun Byul ingin ikatan rambutnya berada di samping karena dengan begitu aksesoris ikat rambutnya akan terlihat dari depan. Sambil mengikat rambut putrinya Da Hae bertanya apa Eun Byul mau ikut ke Amerika bersamanya. Eun Byul : “Amerika? Apa naik pesawat?”
  
Da Hae mengatakan kalau di Amerika, Eun Byul bisa sekolah disana dan berteman dengan anak-anak Amerika. “Kau akan bersekolah dan belajar bahasa inggris juga. Jadi tak ada seorang pun yang akan memandang rendah dirimu.” Setelah selesai rambutnya diikat, Eun Byul bertanya bagaimana dengan ayahnya, apa ayahnya juga akan ikut. Da Hae tak menjawab ia malah berkata kalau keduanya akan menetap di Amerika terlebih dahulu.

Eun Byul kembali bertanya kalau ia tinggal bersama ibunya di Amerika apa ayahnya akan datang. Kalau ayahnya akan datang, ia tak masalah tinggal dimanapun. “Kapan kita akan pergi ke Amerika?” Da Hae menjawab secepatnya keduanya akan pergi.
  
Di lapas, Ha Ryu dan napi lain mengisi kegiatan dengan apa ya kayak orang kerja bangunan. Menggergaji kayu.
   
Sementara itu orang yang satu ruangan dengan Ha Ryu yang bernama Uhm Sam Do tengah menerima konsultasi dari beberapa napi lain. Hmm sepertinya dia napi yang cukup disegani. Karena ia seringkali memberi nasehat napi lain. Misalnya ada napi yang mengeluh tentang istrinya yang berselingkuh ketika ia di penjara. Si istri ini sangat menyukai pasangan selingkuhannya. Jadi tak ada yang menghentikannya sekarang. Sam Do mengatakan kalau ancaman seperti apapun tak akan mengubah hati istrinya si napi. Jadi biarkan saja dia pergi karena itu akan lebih baik bagi si napi dan juga anak-anak. Napi itu menangis dan berterima kasih. Sebagai bayarannya ia menyerahkan mangkuk jatah makannya pada Sam Do.
   
Selanjutnya ada napi lain yang ingin konsultasi, bayarnya pake sosis hehe. Napi itu menceritakan kalau saat ia dipenjara ia mendengar kakaknya mewarisi semua harta ayahnya. Ia jadi tak bisa tidur karena terus memikirkannya. Sam Do mengatakan kalau hukum tentang warisan itu sangat sulit. “Ah aku haus!” ucap Sam Do. “Hey 6453!” panggil Sam Do pada Ha Ryu yang tengah menggergaji kayu.
   
Ha Ryu mengangkat sedikit wajahnya. Sam Do menyuruh Ha Ryu membawakan air minum untuknya. Tapi Ha Ryu cuek aja dan membuat anak buah Sam Do kesal. “Hey 6453!” Sam Do mengacungkan sosis yang ia dapatkan tadi. “Apa kau mau makan ini?” Ha Ryu cuek ia berbalik tak ingin melihat kumpulan orang-orang ini.
  
“Ya ampun keterlaluan. Gue dicuekin sama anak baru!” sahut Sam Do. Ia pun bertanya pada napi yang konsultasi tadi ada berapa jumlah saudaranya. Napi itu menjawab kalau ia memiliki 3 saudara. 
 
Ada tamu yang menjenguk Ha Ryu, Taek Bae. Ha Ryu langsung menanyakan Eun Byul. Taek Bae menunjukkan foto terbaru Eun Byul dan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Ha Ryu meraba foto itu. 
 
Taek Bae bertanya-tanya kalau Da Hae membawa Eun Byul apa tak akan apa-apa. Ha Ryu berkata kalau Da Hae itu ibunya Eun Byul, ia yakin kalau itu tak akan apa-apa. Taek Bae berjanji ia dan Bibi Hong akan menjaga Eun Byul, maka dari itu bisakah Ha Ryu mencegah mereka pergi ke Amerika. Kalau Da Hae bisa membesarkannya di Korea kenapa harus ke luar negeri.
  
Ha Ryu berkata seandainya Eun Byul sekolah di Korea, maka anak itu tak bisa menyembunyikan kenyataan kalau ayahnya di penjara. Ia tak bisa melakukannya sampai ia keluar dari penjara. Da Hae bilang akan menyekolahkan Eun Byul di Amerika. Jadi ia menyetujui itu, ia harap Taek Bae tak perlu khawatir.

Taek Bae berkata kalau selama ini ia tak pernah bertemu ibunya jadi tak tahu bagaimana rasanya bertemu dengan ibu yang lama tak dijumpai seperti Eun Byul. Ia ikut senang bisa melihat Eun Byul bahagia ketika melihat Da Hae. Tapi memikirkan apa yang sudah Da Hae lakukan pada Ha Ryu, pengkhianatannya pada Ha Ryu, bukankah Da Hae bisa saja melakuannya pada Eun Byul juga.

Ha Ryu mengalihkan ke pembicaraan lain, ia bertanya bagaimana kabar Bibi Hong. Taek Bae berkata kalau Bibi Hong bertambah tua. Ha Ryu berpesan agar Taek Bae menjaga Bibi Hong dengan baik. Ia kembali menatap foto Eun Byul dan bergumam kalau putrinya semakin tumbuh besar.
  
Eun Byul dan Taek Bae bermain bola di depan rumah. Keduanya saling melempar dan menangkap bola. 
 
Sementara di dalam rumah, Bibi Hong dan Da Hae mengemasi pakaian dan boneka Eun Byul. Melihat boneka itu Bibi Hong bertanya-tanya bukankah tak boleh membawa boneka seperti ini ke dalam pesawat menuju Amerika. Tapi Eun Byul butuh bantal boneka ini untuk tidur. Bibi Hong mengusap air matanya, ia sedih karena harus berpisah dengan Eun Byul.
  
Bibi Hong menggenggam tangan Da Hae. Ia harap Da Hae melupakan semua yang terjadi disini dan bisa menjaga diri baik-baik di amerika. Kalau si ibu sakit maka si anak akan kelaparan. Da Hae mengerti. Bibi Hong senang karena sekarang Da Hae sudah berubah pikiran dan mau membesarkan Eun Byul. “Kalau kau membesarkannya dengan baik Ha Ryu juga akan lebih tenang!” Ia juga senang karena Da Hae memilih berhenti mengejar karir demi membesarkan Eun Byul. Ia berpesan agar Da Hae lebih fokus membesarkan anak.
  
Setelah ngobrol seperti itu Bibi Hong mengingatkan agar jangan meninggalkan barang-barang yang disukai Eun Byul. Da Hae membawa koper berisi barang-barang Eun Byul keluar. Bibi Hong berpesan pada Eun Byul ketika sampai di Amerika Eun Byul harus belajar dengan rajin. Eun Byul berjanji akan melakukannya. 
 
Taek Bae berharap tindakan Da Hae kali ini tak membuatnya dan Bibi Hong kecewa. Mendengar itu Bibi Hong menjitak kepala Taek Bae dan berkata kalau Da Hae sedang berusaha melakukan yang terbaik. Sebelum pergi Da Hae berpesan agar Taek Bae dan Bibi Hong menjaga diri dan kesehatan baik-baik. 
 
“Hong Ahn Shim halmeoni, Taek Bae Samchoon jaga diri kalian ya!” ucap Eun Byul. 
 
Perpisahan ini membuat Taek Bae menitikan air mata. Bibi Hong pun ingin memeluk Eun Byul. Ia kembali berpesan sesampai di Amerika ia harap Eun Byul makan dengan baik.

Taek Bae juga memeluk keponakannya. “Taek Bae Samchoon, jangan menangis!” ucap Eun Byul melihat Taek Bae menangis. Eun Byul minta izin ada ibunya bolehkah ia membawa bola ini bersamanya. Da Hae membolehkannya. 
 
Eun Byul sekali lagi pamitan, “Samchoon, Halmeoni selamat tinggal.” Eun Byul berbalik melambaikan tangan pada Bibi Hong dan Taek Bae.
  
Do Hoon berada di sebuah mall dalam perjalanan bisnisnya di Busan. Mereka mengatakan kalau Shoping Mall ini dekat dengan stasiun bawah tanah jadi ramai dengan pelanggan dari segala usia dan Do Hoon tak akan bisa melihat banyak mall seperti ini di Busan.

Do Hoon juga merasa kalau sejauh yang ia lihat Shoping Mall adalah lokasi terbaik. Ia bertanya ada berapa banyak toko yang berjualan disekitar sini. Petugas menjawab termasuk toko yang menjual merk mewah semuanya ada 12 toko.
  
Ponsel Do Hoon berbunyi, dari Bibinya. Ia tampak terkejut, “Da Hae pergi kemana?” 
 
Bibi Ji Mi berkata kalau Do Hoon pasti belum tahu kalau Da Hae hari ini berangkat ke Amerika. Do Hoon jelas heran kenapa Da Hae pergi ke Amerika. Bibi Ji Mi tak tahu alasannya. Hanya saja Do Kyung bilang padanya kalau Da Hae berangkat ke Amerika hari ini. Do Hoon akan segera menyusul Da Hae. Bibi Ji Mi berpesan agar apa yang ia sampaikan pada ini dirahasiakan.

Bibi Ji Mi tampak puas atas apa yang baru saja ia sampaikan pada Do Hoon. (Saya masih belum ngerti nih maksud si Bibi apaan. Dia udah liat Da Hae sama anak kecil yang manggil ibu n dia ngebocorin kepergian Da Hae ke Do Hoon. Dia punya maksud apa sama keluarganya. Apa keluarganya sendiri mau dipecah belah, atau hanya iseng ga ada kerjaan doank)

Do Hoon mencoba menghubungi Da Hae tapi ponsel Da Hae tak aktif. Ia pun memutuskan untuk kembali ke Seoul meninggalkan tugas bisnisnya. Ia menyerahkan semua pada manajernya.
  
Do Hoon ngebut kembali ke Seoul. Dalam perjalanan ia terus berusaha menghubungi Da Hae. Tapi ponsel Da Hae masih belum aktif. Ia tampak gelisah.
  
Da Hae mengikat rambut Eun Byul. Eun Byul menanyakan apa ia dan ibunya akan naik pesawat sekarang. Da Hae membenarkan keduanya akan pergi setelah ia mandi. Da Hae pun pergi mandi.

Eun Byul jenuh nganggur ga ngapa-ngapain, “Apa yang harus kumainkan? Ya ampun aku lupa, bukankah nenek memintaku untuk meneleponnya?” Eun Byul mengambil ponsel ibunya. Ia mengaktifkan dan menghubungi Bibi Hong. (haha anak kecil udah bisa ngaktifin ponsel yang baru dipegangnya) 
 
Ketika Eun Byul berusaha mengaktifkan ponsel ibunya ternyata di rumah Taek Bae sedang berusaha menghubungi ponsel Da Hae. Bibi Hong bertanya apa Da Hae masih tak menjawab telepon. Taek Bae mengatakan kalau ponsel Da Hae dinonaktifkan. Bibi Hong cemas ia bingung apa yang harus dilakukannya. Ia harus membungkus foto ini ntuk dibawa Eun Byul juga (foto Eun Byul dan Ha Ryu waktu bermain sepeda)

Taek Bae menawarkan haruskah keduanya pergi ke bandara. Tapi ia kemudian mengeluh karena tak tahu jam keberangkatan pesawatnya. Bibi Hong berkata kalau seharusnya ia bertanya dimana alamat Da Hae.
  
Tiba-tiba Ponsel Bibi Hong berdering, ternyata nomor Da Hae yang menghubunginya. Suara Eun Byul yang menyapanya. Taek Bae langsung mendekatkan telinganya ingin ikut mendnegar apa yang Eun Byul katakan. Bibi Hong bertanya dimana Eun Byul sekarang.
  
Do Hoon yang gelisah semakin memacu mobilnya cepat. 
 
Da Hae dan Eun Byul sudah keluar dari apartemen mereka. Tapi tiba-tiba ponsel Da Hae bunyi. Da Hae heran karena sebelumnya ia mematikan ponselnya. Ia bertanya pada Eun Byul apa tadi menggunakan ponselnya. Eun Byul mengiyakan ia menggunakan ponsel ibunya untuk menghubungi nenek. Ternyata ada pesan suara yang ditinggalkan Do Hoon. Pesan yang memberitahukan kalau Do Hoon sebentar lagi sampai ke rumah Da Hae. Dan kalau Da Hae menerima pesan ini Da Hae harus segera menghubunginya.

Da Hae akan menemui Do Hoon dulu. Ia berpesan pada Eun Byul jangan kemana-mana karena ia akan segera kembali. Eun Byul mengerti. Da Hae berbalik kembali berpesan kalau Eun Byul harus tetap berada disini (jangan menyusulnya)
  
Untuk menghilangkan kejenuhan ketika menunggu ibunya Eun Byul memainkan bola yang dibawanya. Main bola plastik kaya main bola basket.
   
Do Hoon sampai disekitar jalan apartemen Da Hae. Keduanya bertemu disana. Do Hoon tak mengerti apa maksud Da Hae dengan pergi ke Amerika. Da Hae mempertanyakan bagaimana Do Hoon bisa kembali kesini ditengah perjalanan bisnis.

Do Hoon berkata kalau sekarang itu tak penting. “Apa ini? Aapa kakakku yang menyuruhmu ke Amerika?” Tuduh Do Hoon. Da Hae bilang bukan begitu.

Do Hoo : “Apa maksudmu bukan begitu? Bagaimana bisa kau tak berada di kantor sekarang?”
Da Hae diam. 
 
“Joo Da Hae, apa kau bodoh? Bagaimana bisa kau tak memberitahuku tentang ini?” Do Hoon menggenggam kedua tangan Da Hae, ia akan menemui kakaknya sekarang. “Jangan pernah memikirkan tentang Amerika atau apapun yang seperti itu. Pulanglah ke rumahmu, mengerti?” Da Hae mengerti ia akan melakukan apa yang Do Hoon bilang.
  
Do Hoon memeluk Da Hae, “Karena tak bisa melindungimu dengan baik. aku minta maaf!”
   
Taek Bae dan Bibi Hong sampai disana. Keduanya terkejut melihat Da Hae berpelukan dengan pria yang tak mereka kenal.

“Apa yang terjadi? Apa dia gila?” Taek Bae yang terkejut terlihat marah. Do Hoon menyuruh Da Hae pulang ke rumah. Ia akan menemui kakaknya dan segera kembali menemui Da Hae.

Do Hoon bergegas menuju kantor untuk menemui kakaknya. Da Hae kembali ke tempat dimana Eun Byul menunggunya. Ia tak menyadarai kalau Bibi Hong dan Taek Bae sampai disana dan melihat semuanya. Bibi Hong tak menyangka bagaimana bisa Da Hae melakukan itu, ia menilai Da Hae sudah gila. Keduanya keluar dari mobil.
  
Eun Byul masih menunggu ibunya sambil memainkan bola. Lari sana lari sini memainkan bola sepak seperti ia bermain bola basket. Eun Byul menghentakkan bolanya terlalu keras hingga bola itu menggelinding ke tengah jalan. Eun Byul mengejarnya.
   
Da Hae sampai disana dan tak melihat Eun Byul. Ia celingukan mencari dan berteriak memanggil putrinya. Eun Byul yang baru saja mendapatkan bolanya menoleh berteriak memanggil ibunya. Da Hae lega karena Eun Byul tak kemana-mana. Tapi kelegaan itu berubah menjadi kengerian tatkala ia melihat truk melintas di jalan. Truk itu meluncur menuju tempat Eun Byul berpijak. Da Hae berteriak berlari berusaha menyelamatkan putrinya.
   
Eun Byul berbalik dan menoleh ke truk besar yang meluncur cepat ke arahnya. Wajahnya terlihat ngeri. Belum sempat ia menghindar benda besar itu menghantam tubuhnya. Si supir sudah berusaha mengklakson dan mengerem mendadak.
 
Mobil berhenti, bola yang dipegang Eun Byul menggelinding terlepas dari genggaman Eun Byul. Da Hae yang terkejut berjalan gemetaran. Ia melihat putrinya tergeletak di tengah jalan. 
 
Bibi Hong dan Taek Bae kaget bukan main melihat ada truk yang menabrak Eun Byul. 
 
Da Hae berusaha membangunkan Eun Byul yang sudah tak sadarkan diri. Tubuhnya gemetaran ketakutan. Ia menggancang-guncangkan tubuh putrinya.
  
Ha Ryu dan napi yang lain tengah menyapu membersihkan lingkungan lapas. Sam Do dan anak buahnya tak ikut menyapu. Mereka heran dengan sikap Ha Ryu yang cuek saja. Tiba-tiba ada dua polisi datang menemui Ha Ryu. Sam Do dkk yang tadinya santai-santai langsung berdiri ikut menyapu.
  
Kedua polisi ini datang menemui Ha Ryu. Salah satu polisi mengatakan kalau Ha Ryu mendapatkan izin khusus untuk keluar dari tahanan hari ini, jadi ia minta Ha Ryu siap-siap untuk keluar. Ha Ryu bingung tak mengerti apa maksudnya. Sam Do yang ikut mendengar juga heran kenapa tiba-tiba Ha Ryu mendapatkan izin khusus keluar.
  
Ha Ryu yang tak mengerti menanyakan ada apa, kenapa ia harus mendapatkan izin khusus. Polisi itu tak tahu harus menjelaskannya bagimana. Ia mengetakan kalau menurut catatan bukankah Ha Ryu memiliki seorang putri. Ha Ryu makin bingung, “Putriku? Eun Byul? Ada apa dengan Eun Byul? Kenapa dengan dia?” 
 
Polisi menyuruh Ha Ryu kembali ke kamar untuk bersiap-siap keluar. “Pagi ini, putrimu meninggal!” Ha Ryu terdiam mendengar ucapan polisi. Sam Do yang turut mendengar terdiam prihatin. 
 
“Itu tak benar kan?” Ucap Ha Ryu dengan mata berkaca-kaca tak percaya. “Pasti ada yang salah!” tanpa terasa air matanya menetes. “Kenapa Eun Byul-ku bisa meninggal? Eun Byul tak boleh meninggal. Dia baru 6 tahun, bagaimana mungkin dia meninggal?” Tangis Ha Ryu pecah. 
 
Polisi itu menyuruh temannya untuk segera membawa Ha Ryu ke kamar untuk bersiap-siap. Ha Ryu masih tak percaya atas apa yang menimpa putrinya. Ia berlari kebingungan berteriak memanggil putrinya. Kedua polisi itu mengejar dan menangkapnya. Ha Ryu berusaha melepaskan diri. Ia berteriak, meronta dan menangis.
  
Polisi mengantar Ha Ryu ke tempat Eun Byul disemayamkan. Dengan tangan terborgol Ha Ryu diam tak bergeming didalam mobil. Ia mengingat kenangannya bersama Eun Byul. Tanpa terasa air matanya menetes. Ia menangis tak bersuara.

Ketika sampai di tempat jenazah Eun Byul disemayamkan, polisi membuka borgol Ha Ryu karena menurut aturan memang demikian. Polisi mengingatkan Ha Ryu tak boleh keluar dari aula pemakaman tanpa seizinnya. Polisi itu menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Ha Ryu.
   
Dengan langkah gontai Ha Ryu berjalan menuju tempat putrinya disemayamkan. Semakin ia mendekat ke tempat itu langkahnya semakin berat. Ha Ryu membaca papan nama di depan ruangan itu. Ya benar itu nama putrinya. Ha Ryu yang tak percaya hanya bisa menangis.
   
Ha Ryu berdiri di depan jenazah putrinya. Ia menatap foto putrinya yang tersenyum. “Eun Byul-ah...!” sebutnya dengan linangan air mata. Ha Ryu tak sanggup berdiri, ia menangis terduduk.
  
Dengan langkah gemetaran Da Hae menuju ke tempat Ha Ryu berada. Ia tak percaya kalau putrinya sudah tiada. Ia tak sanggup berjalan dan berpegangan pada dinding. Da Hae yang kehilangan putrinya hanya bisa menatap kosong tanpa bisa menangis.
  
Huwaaaaa huwaaaaa telah berpulang ke rahmatullah Ha Eun Byul yang lucu dan manis... 

Agak aneh juga sama kecelakaannya Eun Byul kenapa ga dikasih sedikit darah biar kesan tabrakannya nyata. Apa Park Min Ha menolak diolesi darah karena takut. Jadi maklum ya kalau adegannya bersih ga ada darah. Park Min Ha kan masih kecil, jadi kemungkinan dia takut beradegan dilumuri darah. Hehe tebakan saya aja sih.

22 comments:

  1. Wah,,,tambah dibuat penasaran sama drama ini,kasihan Ha Ryu, sudah di penjara kehilangan Eun Byul pula, jadi sedih.

    ReplyDelete
  2. Air mataku tak terasa menetes dengan sendirimya,...sedih,...!!!!!!!

    ReplyDelete
  3. Makin penasaran apakah ha ryu akan melarikan diri dari polisi atau tetap dipenjara. Gimana si Da Hae bisa jadi nyonya presiden

    ReplyDelete
  4. Ngga berani ntn cm baca sinopnya anis aja sejak awal...ngga ntn aja udh banjir apalg kl ntn :-(

    ReplyDelete
  5. Makin seru aj ni drama... Kasian ha ryu harus kehilangn ank kesayangnny jd pnasarn ama klanjutnny.... Gomawo y sist n fighting smp endng... ;)

    Ella

    ReplyDelete
  6. Makin seru ja drama nya... gak sabar nunggu ending nya :)

    ReplyDelete
  7. ceritanya berad bangeds,... bikin mata bengkak aja nih drama. jadi mikir 1000 kali buat nonton,...hahaha

    ReplyDelete
  8. kenapa tebakanku bener ya, eun byul meninggal ketabrak mobil,,
    d;tunggu kelanjutan.y y mba, gomawo ^^

    ReplyDelete
  9. Poor Eun Byul :( Pesan dari cerita kecelakaan Eun Byul : Jangan meninggalkan anak kecil sendirian di jalan!!
    Bibi Ji Mi mencurigakan hihi

    Di episode 8 kan ada dialog antara Do Kyung n bibi Ji Mi,emang bener klo Do Hoon itu anaknya Do Kyung.Jgn2 yg jd presiden bpk kandungnya Do Hoon hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut berita sih gitu, katanya muncul di episode 11 hehe...

      Delete
    2. Wah klo kayak gtu tebakanku bener,ceritanya tambah seru n tambah bkin galau pastinyaa.Pasangan Ha Ryu ama Do Kyung vs Da Hae ama Presiden (bpk kandung Do Hoon) hehe. Kasian Do Hoon..cup..cup..cup..Do Hoon :D

      Delete
    3. Aku nebaknya da hae ditendang dari baek hak n menjalin kerjasama (hubungan) sama tuh pengusaha calon presiden, hehe.

      Delete
  10. hhuuuaaaa...sedih..
    Lanjutkan ya mba..
    Hehee

    ReplyDelete
  11. sediiih... Eun byul harus meninggal.. :(

    ReplyDelete
  12. q nnggu next episod may queen eon :(
    blum da kinginan bca ne queen of ambition,..
    blum trgerak neh hti q.^^
    may queen ny blum end soal.y
    #amre^^

    ReplyDelete
  13. iya bulll,,, np bull...
    Mbklanjut ya... Thx....

    ReplyDelete
  14. Tooooooo hard emang si dae ha baru sebentar jaga eun byul langsung bikin eun byul meninggal cuman buat nemuin do hoon gara2 ke egoisannya dia yaaa aku harap bakalan dpt karmanya tuh si dae ha berharap banget endingnya si dae ha kesiksa huahaha *evil laugh*

    ReplyDelete
  15. mbak kemarin2 koq susah ya masuk ke blog ini..?? pdhal penasaran skali mo baca sinop QOA :))
    akhirnya skg bs lg :))
    yeepeee

    ReplyDelete
  16. Huaaaaaa sadis abis.. Eun byull yg imut nan lucu harus tyada, so sad

    ReplyDelete
  17. tetep semangat nulis sinopsisnya yah mbak sampai tamat klo bisa hehehe, Hwaiting!! ^^ nungguin bangget sinopsis dari drama ini soalnya jarang yg update

    ReplyDelete
  18. mengasyikkan...penuh emosi..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...