Wednesday, 27 March 2013

Sinopsis May Queen Episode 37 Part 2

Presdir Jang memperlihatkan mikrofilm itu pada Chang Hee. Ia sudah memikirkan perkataan Chang Hee kemarin, ia menyarankan agar Chang Hee jangan memperlihatkan hasil penguraian mikrofilm ini pada mereka (Ocean). Karena ini sama saja memberi tahu mereka dimana lokasi minyak itu berada. Presdir Jang menyimpan mikrofilm itu kembali ke saku jasnya.

(Ya mikrofilm yang ditemukan Geum Hee itu mikrofilm Blue Print kapal. Sementara mikrofilm yang ada di tangan Presdir adalah mikrofilm yang telah merenggut nyawa Hak Soo dan orang tua San yang berisi lokasi tambang minyak)
Chang Hee berkata kalau begitu tak ada cara untuk bekerja sama dengan perusahaan Ocean. Karena mereka tak akan percaya jika hanya mendengar omongan belaka. Chang Hee pun menyarankan bagaimana kalau kita membeli saja hak pengeboran itu. Presdir Jang tak mengerti dengan usul Chang Hee.

Chang Hee : “Meskipun kita bekerja sama dengan perusahaan lain dan mengambil minyaknya bukankah kita harus membaginya. Dengan begitu, lebih baik kita membeli hak pengeborannya. Tak ada alasan untuk membaginya.”
Presdir menilai itu usul yang bagus tapi Cheon Ji sedang tak punya dana untuk melakukan itu. Chang Hee mengusulkan bagaimana kalau menggunakan dana gelap yang ada di tangan Presdir Jang. Presdir tak setuju karena itu akan sangat berbahaya. Chang Hee juga mengusulkan bukan hanya dana gelap, tapi jual juga seluruh saham Presdir Jang karena ayah mertuanya ini perlu memaksimalkan jalur kredit untuk mendapatkan pinjaman.

Presdir Jang merasa usul yang Chang Hee katakan ini, apa Chang Hee meminta dirinya untuk menyerah atas haknya di manajemen perusahaan. Chang Hee berkata begitu minyaknya sudah berhasil diambil bukankah semuanya akan kembali normal seperti semula. Tapi kalau ayah mertuanya ini punya cara lain lebih baik beritahukan itu padanya.

(huwaaa Chang Hee ingin Presdir Jang menggunakan seluruh harta untuk membeli hak pengeboran. Kalau gagal bangkrut donk)

“Baik,” Presdir Jang setuju usul Chang Hee. Pertama yang harus dilakukan adalah bernegosiasi dengan perusahaan Ocean setelah itu ia akan menggunakan dana gelap itu atau ia mendapatkan pinjaman. 

(Mendapatkan pinjaman menurutku itu sulit. Bank juga akan melihat kondisi perusahaan Cheon Ji yang dilanda krisis keuangan, ditambah lagi opini publik tentang Presdir Jang lagi buruk. Pasti deh pake dana gelapnya buat membeli hak pengeboran)
Chang Hee janjian bertemu dengan Direktur Ocean di restouran. Chang Hee melayani dengan baik direktur itu. Mendengar tujuan Chang Hee yang ingin membeli hak pengeboran membuat Direktur Ocean terkejut. Chang Hee membenarkan, ia mengatakan kalau perusahaannya akan membayarnya.
Dir Ocean tak menyangka karena mulanya ia berpikir kalau Cheon Ji adalah saingan perusahaannya. Chang Hee mengerti ia juga memiliki banyak tantangan, Presdir Jang bersikeras ingin mendapatkan hak pengeboran itu jadi ia juga ikut tender dengan perusahaan minyak nasional. Tapi setelah kemarin gagal, sekarang Presdir Jang bersikeras ingin membeli hak pengeboran itu dari Ocean.

Direktur Ocean heran kenapa Cheon Ji mencoba membeli hak pengeboran, bukankah itu hanya membuat sakit kepala saja. Chang Hee menyampaikan apa direktur tak tahu kalau sebelumnya Presdir Jang juga sangat ingin mendapatkan minyak.
Dierktur Ocean sih ok-ok saja Cheon Ji membeli hak pengeboran darinya. Tapi masalahnya ia sudah melakukan kerjasama teknologi dengan Ryan Kang. Karena kerjasama itu Ryan Kang juga memiliki setengah hak dari pengeboran minyak. Dan jikalau Ryan Kang tak setuju dengan pembelian hak pengeboran ini maka ini tidak akan mudah meskipun Ocean ingin menjual hak itu pada Cheon Ji.
Chang Hee berkata kalau masalah Ryan Kang biar ia yang mengurusnya. Chang Hee kemudian menatap tajam direktur, “Sekarang aku akan bertanya langsung. Berapa banyak yang anda inginkan?” Direktur terkejut mendengarnya. (Huwaaaa yang banyak direktur sampai harta Cheon Ji habis...haha)

(Berdasarkan kompetisi teknologi di episode 36, Ocean-lah yang mendapatkan hak pengeboran. Presentasi mereka diwakili oleh San-Hae Joo. Keduanya bekerja sama, San - Hae Joo yang menciptakan teknologi dan Ocean yang mendukung dananya. Nah, Chang Hee selaku Presdir Cheon Ji ingin membeli hak pengeboran itu. Jadi nanti yang mengebor minyaknya bukan Ocean melainkan Cheon Ji. Makanya Chang Hee menyarankan Presdir Jang untuk mengeluarkan semua harta guna membeli hak pengeboran itu. Chang Hee ingin menguras habis harta Presdir Jang)
Direktur Ocean menemui San dan Hae Joo di pabrik. Ia ingin mengakhiri kontrak. San tentu saja marah dan menggebrak meja.
Hae Joo juga ikut marah, “Teknologi yang kami ciptakan membuatmu mendapatkan hak pengeboran. Apa kau mau menjual hak pengeboran itu pada perusahaan lain? Bagaimana bisa kau melakukan itu tanpa memberitahu kami?”
Bong Hee ikut emosi, “Setelah kontrak itu berakhir kita akhirnya dihancurkan oleh kontrak itu sendiri. Kau sebenarnya membuat kami terlihat buruk dan kalian juga perusahaan yang terkenal.”
Direktur mengatakan kalau perusahaannya juga memiliki kendala. Karena untuk mendapatkan minyak dan untuk membuat kapal pengebor biayanya juga tidak sedikit. San kesal bukankah direktur memulai ini karena memang sudah tahu tentang hal itu.

Direktur : “Tapi bagaimana kalau setelah diselidiki tak ada minyak yang bisa diambil, apa yang harus aku lakukan?”

Hae Joo : “Bukankah kami sudah bilang kalau kami akan mengebor di tempat yang ada minyaknya. Kita memliki peneliti minyak yang terkenal, Ketua Tim Lee Bong Hee ada bersama kita.”

Tapi Direktur beralasan kalau ia tak mau mengambil resiko hanya bermodalkan informasi yang belum jelas dimana keberadaan minyak itu. Ia membutuhkan informasi keberadaan minyak yang jelas. Ia tak mau melakukan investasi seperti judi. Ia tak mau mengambil resiko.
San tentu saja tak bisa tinggal diam, “Menurut kontrak 50% hak pengeboran juga ada di tangan kami. Kau tak bisa memindahkan hak pengeboran itu begitu saja pada orang lain. Kami akan mengambil jalur hukum.”

Direktur tak mau tahu pokoknya ia akan melepas hak pengeboran itu. Jadi lebih baik mulai sekarang San bernegosiasi saja dengan Cheon Ji.

“Apa?” San kaget mendengar nama Cheon Ji dibalik semua ini.

“Apa kau sedang membicarakan Cheon Ji?” tanya Hae Joo.

Bong Hee benar-benar tak menyangka, “Jadi Cheon Ji menyerang kita dari belakang lagi?” Menurutnya sekarang Cheon Ji sudah terang-terangan menyerang mereka.

San ingin tahu siapa perwakilan Cheon Ji yang bicara dengan direktur mengenai hal ini.
Chang Hee berada di ruangannya menatap peta lokasi minyak. San masuk ke ruangannya dengan raut wajah tak bersahabat.
Tanpa berkata apapun San langsung melayangkan pukulan ke wajah Chang Hee. Pukulan tiba-tiba ini tentu saja membuat Chang Hee tersungkur. Chang Hee berusaha berdiri tapi dengan cepat San memukulnya lagi.
San marah, “Dasar brengsek sampai kapan kau akan berhenti? Sejak kecil kau satu-satunya temanku. Hae Joo juga seharusnya kau lebih menjaganya. Tapi kau malah menghancurkan kami. Dan kau juga mau merampas hak pengeboran kami. Kami tak akan pernah mau memberikan teknologi itu. Tanpa persetujuan kami, hak pengeboran itu tak akan dijual padamu. Bahkan kalau kau dari perusahaan minyak atau mengancam kami dengan hukum, lakukan saja.”
Chang Hee diam menunduk dengan ujung bibir berdarah akibat pukulan San. San tambah marah karena Chang Hee dari tadi diam saja, “Kau seharusnya bicara kalau kau memang punya mulut. Apa benar enak hidup sebagai anjingnya Jang Do Hyun?”
Chang Hee mengangkat wajahnya menatap San dengan tatapan sendu, “San. Kau itu, kupikir kau pintar. Apa kau tak bisa berfikir?”

San : “Apa kau bilang? Apa maksudmu?”

Chang Hee tak mengatakannya, ia hanya berpesan agar San bisa bersikap baik pada Hae Joo, itu saja. 
Chang Hee berbalik membelakangi San. San masih belum mengerti apa yang dimaksud Chang Hee.
Jung Woo meminta Geum Hee menemuinya di kantor kejaksaan. Geum Hee terkejut kalau mikrofilm itu sama sekali tak berguna. Jung Woo menebak kalau itu mikrofilm palsu. Ia merasa kalau Jang Do Hyun tak akan mudah dibodohi. Geum Hee tak mengerti kenapa suaminya menaruh barang palsu di brankas.
Jung Woo berkata kalau Intelijen Nasional juga tengah menyelidiki Presdir Jang. Kemungkinan meletakan mikrofilm palsu juga digunakan untuk mengancam orang yang mencari benda itu.

Geum Hee akan kembali ke rumah suaminya lagi untuk mencari mikrofilm yang asli. Tapi Jung Woo melarang, ia sudah mendengar kalau Presdir Jang tahu Geum Hee kembali ke rumah itu karena mencari mikrofilm. Ia tak mengizinkan Geum Hee kembali kesana karena itu sangat berbahaya. Tapi Geum Hee bersikukuh kalau ia harus mencari mikrofilm itu. Semua ini terjadi karena benda itu.
Geum Hee akan pergi tapi Jung Woo memanggilnya. Jung Woo harap Geum Hee tak memasukan ucapannya ke dalam hati ketika ia marah pada Geum Hee setelah tahu kalau Hae Joo bukan putri kandung kakaknya. “Hae Joo adalah keponakanku. Kakakku sudah memaafkan apa yang kau lakukan.” Tapi Jung Woo sadar kalau ia tak bisa memaafkan Geum Hee dengan sempurna. Tapi sekarang ia sedang berusaha melakukan itu, ini ia lakukan demi Yoo Jin.

Geum Hee terharu mendengarnya. Ia berterima kasih karena Jung Woo sudah berusaha memaafkannya. 
Presdir Jang menjenguk Il Moon di penjara. Wajah Il Moon babak belur. Ia menanyakan kenapa ayahnya datang. Presdir tak menjawab ia malah balik bertanya apa yang terjadi dengan mata Il Moon yang biru lebam. Il Moon mengatakan kalau ia dipukul oleh teman sekamarnya. Presdir Jang marah tapi ia berusaha mengendalikan emosinya. Ia pun bertanya apa putranya ini tak kedinginan.

Il Moon menjawab tentu saja ia kedinginan, di tahanan ia hanya memakai baju tipis untuk bertahan hidup. Tahanan yang lain tak kedinginan seperti dirinya karena mereka beruntung keluarga mereka membawakan sweater. Apa ayahnya tak bisa melihat kalau dirinya juga kedinginan. Il Moon bahkan terbatuk-batuk. Wah kesehatan Il Moon benar-benar memburuk.

Presdir Jang minta maaf. Il Moon mencibir kalau sekarang yang bisa ayahnya lakukan hanya minta maaf, “Karena ayah tak menyewa pengacara untukku aku tak bisa keluar. Apa sekarang ayah menyesal?”
Il Moon berkata kalau ayahnya-lah yang bersalah sudah membuatnya jadi seperti ini, “Ayah selalu membandingkan aku dengan Chang Hee sejak aku masih kecil. Apa ayah tahu kalau itu begitu menyakitkan untukku?”

Presdir Jang mengangguk mengerti, “Semua salahku membuatmu menjadi anak singa.”

Il Moon : “Ayah begitu keras padaku karena ayah ingin yang terbaik dariku, kan? Begitu kan? Jadi apa aku dalam keadaan yang baik sekarang? Ayah, kau hanya mengharapkan aku menjadi sesuatu yang kau inginkan. Aku juga tahu kalau aku bukan orang yang baik. Tapi apa orang yang buruk tak berhak untuk dicintai? Ketertarikan ayah hanya pada wanita itu, tak ada lagi yang lain. Bahkan binatang pun tahu bagaimana melindungi anaknya.”
Presdir Jang menyadari itu. Selama ini ia sudah mengabaikan putranya. Ia berkata kalau ia akan mengirim sweater untuk Il Moon.

Il Moon tak mau, “Lupakan saja. Kalau ayah sudah meninggalkanku sekali, ayah seharusnya meninggalkanku sampai akhir. Aku bukan lagi putramu.”

Il Moon berdiri dan memberi tahu petugas kalau kunjungannya sudah selesai. Ia kembali masuk ke ruang tahanannya.
Presdir Jang berjalan keluar dari tahanan. Langkahnya gontai, ia sepertinya memikirkan perkataan putranya. (apa bener dia mikirin ucapan anaknya)
Geum Hee berada di ruang kerja suaminya di rumah. Ya ia kembali ke rumah itu untuk mencari mikrofilmnya. Ia mencari disetiap sudut ruangan. Rak buku bahkan laci-laci meja. Tepat saat itu Presdir Jang masuk ke ruang kerjanya.

Presdir Jang terkejut melihat istrinya ada disana. Geum Hee tak kaget ia ketahuan mengobrak-abrik ruang kerja suaminya. Ia bahkan meminta mikrofilm itu diberikan padanya.


Geum Hee : “Berikan padaku dimana mikrofilm yang kau ambil dari Hak Soo sebelum dia meninggal.”

“Aku tak punya.” kata Presdir Jang berbohong.

Geum Hee tahu kalau suaminya ini berbohong, ia marah kenapa suaminya ini masih saja berbohong. Ia mengatakan kalau dirinya dan Park Gi Chul juga melihat benda itu jadi cepat katakan padanya dimana mikrofilm itu. Presdir Jang berkata kalau ketulusannya hanya satu yaitu mencintai Geum Hee. Presdir Jang akan memeluk istrinya tapi Geum Hee menyingkirkan tangan suaminya.
Geum Hee : “Cinta? Apa kau mau bilang kalau kau membunuh suamiku dan membunuh putriku juga karena kau mencintaiku? Karena kau mencintaiku dan menginginkanku disampingmu kau merebut semua yang aku kasihi dan menyembunyikannya dariku selama 27 tahun. Cinta seperti apa itu? kau hanya menginginkanku, kau tidak mencintaiku. Kalau kau mencintaiku bagaimana bisa kau merobek-robek hatiku seperti ini?” 
Presdir Jang berusaha meyakinkan istrinya, “Terlepas dari apa yang kau katakan. Meskipun dunia ini membuat semuanya menjadi sulit untukku, aku masih mencintaimu. Ini sungguh tulus.”

Presdir Jang akan memeluk istrinya, tapi Geum Hee mendorong dan memperingatkan jangan pernah mendekat padanya karena ia merasa mau muntah. Ia memaksa Presdir Jang agar memberikan mikrofilm itu padanya.
Geum Hee yang marah dan kecewa memukul-mukul suaminya. Presdir Jang diam saja. Geum Hee menangis marah, “Kau sudah tak bisa disembuhkan lagi. Kalau kau tak dihukum oleh Tuhan, aku tak akan memaafkan Tuhan yang tidak menghukummu.”

Geum Hee yang marah segera keluar dari ruang kerja suaminya. Ia membanting pintu. Presdir Jang hanya bisa menarik nafas.
In Hwa bersih-bersih di rumah mertuanya. Ia mengelap meja. Park Gi Chul keluar dari kamar dan terkejut karena penghisap debu yang berjalan sendiri haha. (wakakak itu penghisap debu bukan ya)
Gi Chul heran melihat menantunya bersih-bersih. Ia pun bertanya kenapa In Hwa melakukannya. In Hwa mengatakan kalau ia ingin mengubah suasana rumah. Kalau kita mau memulai awal yang baru, pertama yang harus kita lakukan membersihkan debu di sudut kata In Hwa.
Presdir Jang datang berkunjung, In Hwa sebel melihat ayahnya. ia membanting lap dan masuk ke kamarnya. Gi Chul menyadari kalau Presdir Jang pasti melihat In Hwa bersih-bersih rumah. Ia meyakinkan kalau dirinya sama sekali tak menyuruh In Hwa melakukan itu. In Hwa melakukan itu karena dia ingin mengubah suasana. 

Presdir Jang tak mempermasalahkannya karena tujuannya kesini bukan untuk itu. Ia bertanya dimana Chang Hee. Gi Chul memberi tahu kalau putranya belum pulang dari perusahaan. Presdir Jang tak bertanya lagi ia segera meninggalkan kediamaan Gi Chul.
Presdir Jang menemui Chang Hee di kantor. Ia bertanya berapa yang Chang Hee butuhkan untuk membeli hak pengeboran itu. Chang Hee menjawab 5000 bilion (5000 milyar) Presdir menilai itu sungguh besar. 
Chang Hee mengatakan kalau pada awalnya mereka meminta 1 triliun. Ia mengatakan kalau harganya segitu maka Cheon Ji akan menyerah dan akhirnya mereka setuju dengan 5000 milyar. (kalau menurut saya sih 500 milyar kali ya maksudnya) Presdir Jang merasa kalau 5000 milyar untuk hak pengeboran. Bahkan tanpa dana gelap itu masih bisa dilakukan.

Tapi Chang Hee mengatakan kalau kita masih membutuhkan dana gelap itu. “Tim teknologi Kang San dan Hae Joo, mereka berdua memegang setengah dari hak itu. Kita juga perlu memberi mereka uang. Dan perusahaan minyak nasional juga meminta kita untuk punya kapal pengeboran.”
“Jadi, berapa banyak dana yang kau butuhkan?” tanya Presdir Jang.

“1,5 trilun!” jawab Chang Hee.
Presdir Jang : “Kalau kau butuh 1,5 triliun sepertinya aku harus menyerahkan segala yang kumiliki sekarang.” 
Di kantor pabrik, Bong Hee masih marah-marah atas tindakan Chang Hee. Ia menilai kalau perusahaan besar itu (Cheon Ji dan Ocean) keduanya bergabung untuk menginjak-injak perusahaan kecil seperti kita. 

Hae Joo : “Kalau kita menyerah, mereka hanya memegang setengah dari hak pengeboran. Lalu apa yang bisa kita lakukan?”
“Kupikir Chang Hee sedang menyembunyikan sesuatu.” San menebak apa yang dimaksud Chang Hee ketika ia menemuinya.

“Apa maksudmu?” tanya Bong Hee.

San mengatakan kalau pada awalnya ia sangat marah pada Chang Hee. Tapi menurutnya Chang Hee sedang menyembunyikan sesuatu. “Aku rasa dia juga mau balas dendam seperti kita.”
“Balas dendam seperti kita?” Bong Hee belum mengerti maksudnya.

San : “Benar. Dia mau menghancurkan Jang Do Hyun.”
Bong Hee makin tak mengerti omong kosong apa yang San bicarakan. Hae Joo sependapat dengan pendapat San. Apa yang dikatakan San itu mungkin saja benar karena ketika Chang Hee menemuinya waktu itu dia berkata seperti ini, kita jangan melakukan apapun. Tanggung jawabnya adalah untuk balas dendam. San dan Bong Hee berfikir keras berusaha menebak kenapa Chang Hee malakukan ini.
Asisten Yang menemui Chang Hee. Ia mengatakan kalau ia sudah mempelajari yang Chang Hee minta dari Presdir Jang. Chang Hee ingin tahu apa yang Asisten Yang temukan. Asisten Yang mengatakan kalau sepertinya ada beberapa kali penggunaan dana ilegal dari dana perusahaan. Investigasi lebih lanjut sedang dijalankan.
Chang Hee menyerahkan dokumen pada Asisten Yang. Ia mengatakan kalau semua detail dari dana perusahaan ada di dokumen itu. ia penasaran bagaimana Presdir Jang mengeluarkan uangnya. Ia menyuruh Asisten Yang untuk memeriksanya. Asisten Yang menerima dokumen itu, ia mengerti dan akan melaksanakan tugasnya.

Chang Hee juga menyuruh Asisten Yang untuk mengirimkan itu pada Jaksa Yoon Jung Woo di kantor kejaksaan. Asisten Yang tentu saja kaget, ia bertanya untuk memastikannya apa ini dikirim ke Jaksa Yoon. Chang Hee dengan tatapan tajam mengangguk.
 Pulang dari kantor Jung Woo berada di kamarnya berganti pakaian (ABS nya Samchoon huwaaaa)

“Jung Woo cepat makan!” seru Bong Hee masuk ke kamar Jung Woo tanpa mengetuk pintu. Oh oh. Keduanya tentu saja kaget. Bong Hee segera menutup mata dengan tangannya.

Jung Woo panik menyuruh Bong Hee menutup pintu, “Cepat tutup pintunya! Kenapa kau tak cepat menutup pintunya?”
“Tutup pintunya ya? Baik-baik aku mengerti.” Bong Hee pun menutup pintu. “Aku sudah menutup pintunya jangan khawatir.” kata Bong Hee tetap berada di kamar Jung Woo setelah menutup pintu.

“Kenapa kau masih masuk, bukannya keluar!” protes Jung Woo.

“Bukannya kau menyuruhku masuk setelah menutup pintunya?” tanya Bong Hee.

Jung Woo kesal, “Kapan? Aku mau ganti pakaian nih. Cepat keluar!”
“Ah, kau mau ganti pakaian ya. Baik-baik. Aku tak tan melihat jadi tak usah khawatir, ganti pakaian saja silakan!” Bong Hee menutup mata dengan tangan tanpa keluar dari kamar Jung Woo. Tapi matanya masih ngintip haha.

Jung Woo tambah kesal, “Cepat keluar!”
“Ah keterlaluan, aku tak melihat apapun. Kenapa kau terus menyuruhku keluar?” Bong Hee yang giliran protes. “Apa ini? Tak ada yang bagus untuk dilihat disini.” Bong Hee cengingisan sambil keluar kamar.

“Dia ini benar-benar keterlaluan!” gerutu Jung Woo haha.
Di luar kamar, Bong Hee bersandar pada dinding kamar Jung Woo. “Dia benar-benar terlihat seperti pria.” Bong Hee tersipu sambil cengingisan. “Lee Bong Hee, kau begitu beruntung hari ini.” gumamnya sambil terus tersenyum malu-malu.
“Apanya yang begitu beruntung?” Tanya Sang Tae membuat Bong Hee tersadar kalau ada yang memperhatikan dirinya.
Bong Hee terdiam menatap mereka yang ada di meja makan. Tatapan empat pasang mata yang penuh tanda tanya. Bong Hee langsung bersikap biasa dan ikut duduk bersama mereka, siap makan malam. “Ayo makan!” katanya terlihat kikuk haha. Tapi tak lama kemudian ia senyum-senyum cengingisan mengingat dirinya melihat Jung Woo bertelanjang dada.
Melihat itu ibu ikut tertawa cengingisan. Jung Woo yang sudah mengenakan kaos keluar dari kamar. Reseleting kaosnya ia pasang sampai ke leher hahaha. Ia duduk diantara Young Joo dan Sang Tae. Jung Woo jadi salah tingkah haha.

“Kenapa kau duduk disitu?” tanya ibu pada Jung Woo. Ibu menyuruh Jin Joo menukar tempat duduk dengan Jung Woo. Jung Woo bilang tak apa-apa. Jin Joo yang mengerti segera bangkit dari duduknya. Ia bersedia bertukar tempat duduk dengan Jung Woo. Bong Hee senyum-senyum senang. Jung Woo pun nurut pindah duduk di sebelah Bong Hee.
Jung Woo berkata kalau sudah lama mereka tak makan bersama dan itu dikarenakan dirinya sibuk. Ibu melihat Jung Woo dan Bong Hee duduk bersandingan ia mengatakan kalau keduanya ini pasangan yang sempurna. Jung Woo diam saja. Bong Hee senyum-senyum haha.
“Karena Bibi kita ini yang membelikan makanan jadi kau harus mencobanya dulu.” Sang Tae mengambilkan makanan untuk Bong Hee.

Ibu menabok Sang Tae, “Kenapa kau melakukan itu? Bukankah tangan pak jaksa masih disitu?” Ibu menggoda nih menyuruh Jung Woo untuk mengambilkan makanan pada Bong Hee.
Jung Woo melirik ke arah Bong Hee, “Aigoo. Apa tanganmu tak nyaman?”

Bong Hee mengangguk.

Jung Woo : “Kau bisa makan sendiri kan?”

Bong Hee menggeleng.

“Akan lebih baik kalau disuapi dari tanganmu.” usul Young Joo hihi.
Jung Woo jadi ga enak diliatin kayak gitu. Bong Hee langsung membuka mulut menunggu suapan Jung Woo. Jung Woo pun mengambil daging dan memasukannya ke mulut Bong Hee. Agak kasar sih sampai Bong Hee tersedak, tapi Bong Hee tersenyum senang.

Sang Tae berkata ketika ia melihat Bong Hee menjadi lebih lembut ia merasa kesepian. “Kenapa aku merasa kesepian, ya?” Ibu menyenggol supaya Sang Tae diam.
Ibu tersenyum menggoda memberi usul pada Jung Woo sambil menepuk tangan, “Ah mumpung besinya masih panas, hari ini langsung saja kalian berdua buat anak.” (hahaha)

“Aku orang yang selalu siap!” seru Bong Hee. (hahaha)
Jung Woo langsung mengalihkan pembicaraan, “Apa Kang San belum pulang? Kemana dia pergi? Sudah lama kita tak makan bersama.” Jung Woo mengajak semuanya lekas makan.

Prok prok prok ibu dan Sang Tae kembali menggoda Jung Woo. Jung Woo jadi kikuk n salting haha.
 Hae Joo melihat San berdiri melamun menatap kapal-kapal. Ia memberanikan diri mendekati San. “Cuacanya dingin kenapa kau memanggilku ke luar?” tanya Hae Joo.

San berkata kalau ia sudah tahu alasan kenapa Hae Joo menolak lamarannya. Ia sudah mendengar semuanya dari Jung Woo. Hae Joo kaget ia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Ia menunduk diam.
 San menoleh menatap Hae Joo yang menunduk, “Hae Joo-ya, apa kau sendiri berpikir kalau kau putrinya Jang Do Hyun?”

“Tidak. Sama sekali tidak,” jawab Hae Joo tegas.

“Benarkah? Lalu apa masalahnya?” tanya San.
 
Hae Joo kembali menunduk, “Meskipun begitu aku terlahir karena dia. Karena dia orang tuamu dan kakek meninggal.”

San : “Lalu bagaimana denganmu? Kau tak sama seperti dia. Dr Yoon Hak Soo memperlakukanmu seperti putrinya sendiri. Begitu juga ayah yang membesarkanmu. Jang Do Hyun adalah orang yang mencoba melenyapkanmu. Dan lagi untuk merebut ibumu orang itu mau membunuhmu.”

Tapi Hae Joo masih saja merasa bersalah, “Meskipun begitu aku memiliki darah Jang Do Hyun.”
San : “Bukankah kau tak mengakuinya. Bukankah kau memanggil Jaksa Yoon, samchoon? Lalu kenapa kau memperlakukanku seperti ini?”

Hae Joo berkata ini karena ia merasa bersalah pada San. Kalau ia sanggup ia ingin membuang semua yang berhubungan dengan Jang Do Hyun.

Tapi San tak mempermasalahkan Hae Joo memiliki darah Jang Do Hyun atau tidak. Hae Joo bisa hidup dengan percaya diri seperti ini, itu karena Dr Yoon Hak Soo. Ayah Hae Joo itu bukan Jang Do Hyun. “Aku tak bisa hidup tanpamu. Memangnya kenapa kalau kau memiliki darah Jang Do Hyun?”
Hae Joo menunduk menangis.

San menatapnya sedih, “Ketika kau menolakku apa kau tak terluka?”

Hae Joo berkata kalau ia merasa bersalah ketika melihat wajah San, walaupun ia tak melakukan kesalahan apapun. “Aku benar-benar mencintaimu. Tapi kenapa aku .....”
Hae Joo belum selesai melanjutkan kata-katanya. San langsung menarik Hae Joo ke pelukannya setelah ia mendengar bahwa Hae Joo mengatakan kalau dia mencintainya.

San : “Jangan katakan apapun, aku tahu semuanya. Jadi, jangan pernah mengatakan untuk meninggalkanku lagi. Aku benar-benar tak bisa memaafkannya, mengerti?”

Hae Joo menangis mengucapkan maaf berkali-kali.
Setelah berbaikan keduanya berjalan menuju rumah bergandengan tangan. San menilai kalau Hae Joo ini sungguh keterlaluan, “Apa kau tahu betapa sakitnya hatiku selama ini?”

Hae Joo : “Aku tahu. Aku benar-benar minta maaf.”

San mengeluh merasakan dadanya sakit. “Ah lukaku...” keluhnya. “Lupakan saja luka yang ini. Kita tak akan bisa menggunakan analgesik sintetis. Karena zat yang bisa menyembuhkan luka seperti ini juga bisa tumbuh dengan alami di dalam tubuh.”

Hae Joo tak mengerti apa yang San katakan, “Apa maksudmu?”
San berkata kalau zat itu disebut dengan endorfin. Itu bisa membuat orang merasa bahagia dan tertawa lebih banyak. Itu sebuah anastesi alami, efek dari morfin.

Hae Joo tersenyum. Ia mulai mengerti maksudnya. Ia menatap menggoda, “Lalu?”
San : “Oh jadi, lupakan saja luka ini. Karena kau sudah menyiksaku selama 28 hari. Penelitian menyebutkan kalau kau harus menciumku 28 kali.” (hahaha)

Hae Joo mengangguk, “Oh begitu ya?”

“Iya..” ucap San.
Hae Joo meraih wajah San dengan kedua tangannya. Dan cup... Hae Joo mengecup bibir San cepat. “Begini kan?” Hae Joo langsung lari setelah mengecup San.
San yang tadi bengong sekarang protes, “Hei apa kau tak dengar apa yang baru saja aku katakan? Kubilang bukan cium tapi berciuman. Apa kau tahu apa bedanya cium dengan berciuman?” San lari menyusul Hae Joo. (hahaha) 
Chang Hee sampai di rumah, ia masuk ke kamarnya dan melihat In Hwa sudah terlelap. Ia duduk di samping istrinya tidur.
Perlahan Chang Hee mengusap lembut kepala In Hwa. In Hwa merasakannya tapi sentuhan lembut itu tak membangunkannya. Chang Hee menatap In Hwa dengan tatapan sedih.
Di kantor kejaksaan Jung Woo menerima rincian pengeluaran dana gelap Jang Do Hyun. Ia tentu saja kaget dari mana datangnya laporan ini. Penyelidik Lee mengatakan kalau yang mengirimkan tak mencantumkan nama.
Jung Woo heran karena sebelum ini diterima, Jang Il Moon juga pernah mengirimkan hal yang sama. Tapi sekarang tak mungkin Il Moon yang melakukan karena dia ada di penjara. Penyelidik Lee meminta Jung Woo tak mempedulikan siapa yang mengirimnya yang penting pengadilan Jang Do Hyun itu minggu depan dan laporan rincian penggunaan dana gelap ini akan bisa membantu.

Jung Woo bilang tentu saja bisa membantu, ”Menghindari pajak dll. Hanya hakim yang memiliki masalah mental yang tidak menghukumnya. Kali ini kita tak akan kalah dalam gugatan hukum. Terlebih lagi opini publik juga berpihak pada kita.”
Jung Woo menyuruh Penyelidik Lee untuk segera memeriksa aktivitas nomor rekening ini. Penyelidik Lee mengerti dan segera melaksanakan tugasnya. Jung Woo tersenyum tak menyangka, siapa sebenarnya yang melakukan ini.
Presdir Jang terkejut mendengar laporan yang tak menyenangkan. (Ahjussi di samping Ketua Tim Jo ga kenal namanya siapa, nyebutnya direktur aja ya) Direktur mengatakan kalau ada telepon dari Profesor perminyakan bahwa Presdri Go dari perusahaan konstruksi menginvestigasi Presdir Jang dari belakang. “Aku pura-pura tak tahu dan menanyakan itu padanya. Dana gelap, dia mencari jalur lain dan mengcopy akunnya.”

Mendengar itu Presdir Jang marah. Direktur mengatakan kalau ia menyelidiki kantor kejaksaan mengenai informasi yang diberikan Il Moon pada jaksa waktu itu. Dan hal itu diketahui juga berasal dari Presdir Go. 

Presdir Jang tambah marah, “Apa kau bermaksud mengatakan kalau Presdir Go mengkhianatiku?”
“Tidak Presdir.” kata Ketua Tim Jo Min Kyung. “Aku sudah melacak tim Research & Development kita. Asisten Yang lah yang bertemu dengan Presdir Go. Tapi Asisten Yang ini adalah tangan kanannya Presdir Park Chang Hee.”

“Chang Hee?” Presdir Jang tentu saja heran.

Ketua Tim Jo : “Asisten Yang berhubungan dengan Presdir Go, bukankah itu aneh? Menurutku, dari awal Presdir Park Chang Hee sudah merencanakan untuk melibatkan Presdir Jang Il Moon .....”
“Tidak tidak. Sudah cukup!” Presdir Jang tak mau mendengar lagi. “Ini bukan Il Moon, lawannya adalah aku.” Presdir Jang tak menyangka ternyata Chang Hee dari awal sudah merencanakan ini.
Park Gi Chul di depan rumah menatap lautan luas. Mobil rombongan Presdir Jang tiba disana. Park Gi Chul segera menghampiri Presdir dan bertanya darimana saja Presdir Jang baru pulang.
Tanpa berkata-kata Presdir Jang langusng melayangkan pukulan ke arah Gi Chul. “Dimana Chang Hee?” tanya Presdir Jang marah.
Gi Chul tak mengerti kenapa Presdir Jang tiba-tiba marah dan memukulnya. “Kenapa anda melakukan ini?” tanya Gi Chul dengan kondisi mulut sudah berdarah.
Presdir Jang tambah marah karena pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan lagi. Ia kembali bertanya sambil menendang Gi Chul. “Dasar brengsek, aku tanya dimana Park Chang Hee?”
Presdir Jang menyuruh anak buahnya untuk membawa Gi Chul ke mobil. Gi Chul meronta memanggil Presdir Jang. In Hwa melihat ayah mertuanya dipaksa masuk ke mobil oleh ayahnya.
Di dalam mobil Presdir Jang menelepon Chang Hee. Ia yang marah berusaha menahan diri dan berbicara berbicara dengan bahasa yang halus. Ia bertanya dimana Chang Hee sekarang. Ia ingin bertemu dengan Chang Hee sebentar. Ia menolak bertemu di kantor. Ini mengatakan kalau tempat pertemuannya ini adalah tempat yang spesial.
Chang Hee berdiri di tempat yang diminta Presdir Jang. Tempat ini adalah tempat yang dulu biasa ia menatap Perusahaan kapal. Ia tersenyum mengenang masa lalunya ketika berdiri di tempat ini bersama Hae Joo.
Saat itu Hae Joo bertanya apa Chang Hee menatap perusahaan kapal karena Chang Hee menyukai kapal seperti dirinya. Chang Hee bilang tidak, ia menatap perusahaan kapal itu karena ia ingin memiliki semuanya. Saat itu Hae Joo menilai kalau keinginan Chang Hee itu serakah karena baginya dengan sebuah kapal kecil saja itu sudah cukup.

Chang Hee tersenyum mengingat kenangannya di tempat ini. Sekarang keinginan itu sebentar lagi terwujud. Ia-lah Presdir Cheon Ji pemilik perusahaan perkapalan.
Mobil yang membawa Presdir Jang sampai disana. Ia keluar menghampiri Chang Hee. Chang Hee menanyakan kenapa Presdir Jang memintanya bertemu di tempat ini.

Presdir Jang berkata kalau dulu di tempat ini, ia bertanya-tanya apa ia bisa mengambil alih perusaaan perkapalan Haepoong. “Aku sudah memikirkannya. Dan kau penasaran bagaimana kau bisa menghancurkanku disini, kan? Sepertinya kau sudah banyak memikirkannya.”

Chang Hee menahan senyum dan menyadari kalau Presdir Jang sudah tahu semuanya.
“Kau yang melaporkanku pada Yoon Jung Woo, kan?” Tuduh Presdir Jang.

Chang Hee tersenyum sinis, ternyata Presdir Jang tahu hal ini lebih cepat dari yang ia pikirkan. Presdir ingin tahu alasan kenapa Chang Hee melakukan ini. Bukankah ia sudah memberikan segalanya pada Chang Hee. Ia bahkan sudah memberikan putrinya bagaimana bisa Chang Hee mengkhianatinya seperti ini.
Chang Hee : “Hal yang kau lakukan pada ayahku, apa kau sudah lupa? Apa kau tahu kalau aku sudah lama menunggu untuk hari ini? Sejak hari aku berlutut di depanmu, menggertakan gigiku dan memukul dadaku. Aku disini setelah menyerahkan semua hal yang kumiliki. Kau sekarang seorang kriminal yang sudah bangkrut. Dengan dokumen yang kukirimkan pada Jaksa Yoon Jung Woo, aku pastikan kau akan dipenjara 3 tahun. Aku jamin itu. Dan setelah kau dibebaskan, perusahaan perkapalan itu menurutmu kepada siapa itu akan beralih?”

Presdir Jang tentu saja marah, “Lihat si brengsek ini masih saja bermimpi.”

Chang Hee mengingatkan kalau seluruh keluarga Presdir Jang sudah berpaling dari Presdir Jang. “Kau hanya memiliki 1 hal yang kau percaya, mikrofilm. Tapi untuk hak pengeboran, itu ada di tangan Presdir Cheon Ji yaitu aku, Kang San dan Hae Joo. Siapa yang akan berpihak padamu?”
“Dasar brengsek. Keterlaluan!” Kemurkaan Presdir Jang sudah diubun-ubun.
Chang Hee : “Kau, berlututlah di depanku dan memohon seperti yang kulakukan waktu itu. Seperti yang ayahku lakukan. Apa kau tahu apa itu darah, aku akan membalasmu dengan sedikit luka.”
Presdir Jang tertawa lebar, tangannya memberi aba-aba supaya mobil yang membawa Gi Chul datang. “Siapa yang berlutut mari kita lihat!” Presdir Jang menatap marah.
Mobil yang membawa Gi Chul pun datang. Presdir Jang juga sudah menyiapkan beberapa anak buah lengkap dengan tongkat pemukul. Mereka menyeret Gi Chul dari mobil. Chang Hee terkejut melihat ayahnya disandera.
Gi Chul berteriak menyuruh Chang Hee cepat lari. Setelah berteriak, Gi Chul mendapat tendangan di perut dari anak buah Presdir Jang. Melihat ayahnya diperlakukan seperti itu, Chang Hee akan menyelamatkannya. Tapi anak buah Presdir Jang mengepungnya.
Satu, dua orang bisa ia lumpuhkan tapi seorang anak buah Presdir memukulnya dengan tongkat dari belakang. Bahkan Presdir Jang pun telah siap dengan tongkat pemukulnya. Chang Hee masih berusaha melawan mereka, dengan cepat Presdir Jang memukulkan tongkat ke punggung Chang Hee.
Chang Hee tersungkur di depan ayahnya yang juga sudah terluka. Presdir Jang menatap marah ayah dan anak ini, “Kalian ini lebih parah daripada serangga. Keturunan pelayan, aku sudah mendukung kalian sampai disini. Apa sekarang kalian mengkhaianatiku? Dasar brengsek matilah kalian.”
Presdir Jang mengayunkan tongkat pemukul ke arah keduanya. Secepat mungkin Gi Chul melindungi putranya. Dan ia-lah yang terkena pukulan keras tongkat pemukul Presdir Jang tepat di punggungnya. Pukulan keras itu langsung membuat Gi Chul tak sadarkan diri.
Chang Hee panik melihatnya, “ayah, ayah, ayah.”

“Ah.. Ya ampun air mataku menetes!” seru Presdir Jang melihat Gi Chul sudah tergeletak dan Chang Hee yang mengkhawatirkan ayahnya. “Sekarang giliranmu!” Presdir Jang kembali mengayunkan tongkat pemukul ke arah Chang Hee tapi suara klakson mobil menghentikannya.
In Hwa datang. Ia akan melindungi suaminya. In Hwa menatap marah ayahnya, “Apa yang ayah lakukan sekarang?” Suara In Hwa tinggi.

Presdir Jang memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan In Hwa. Tapi In Hwa menepis dan memperingatkan jangan pernah menyentuhnya. In Hwa mengatakan kalau ia sudah memanggil polisi.

Dan benar saja, suara sirine mobil polisi pun terdengar. Presdir Jang tentu saja marah. “In Hwa kau....” Presdir menatap marah putrinya. Anak buah Presdir pun meminta Presdir Jang untuk segera pergi dari sana. Mereka pun kabur.

Chang Hee mengkhawatirkan ayahnya yang tak sadarkan diri. “Ayah, ayah, ayah.”
Presdir Jang berada di mobilnya dengan tangan gemetaran. Supir bertanya kemana mereka harus pergi. Presdir bilang kalau ia harus menemui istrinya, dalam keadaan seperti ini ia ingin bertemu istrinya. “Ah ya ampun kenapa ini seperti ini?” katanya sambil memegang tangan yang terus gemetaran.
Presdir Jang pun ke hotel tempat Geum Hee menginap. Tapi ia tak menemukan istrinya disana, malah ia bertemu dengan Hae Joo. Hae Joo menatap marah, “Kenapa kau datang kesini?” 
Presdir Jang memaksa masuk mencari Geum Hee, ia berteriak memanggil istrinya. “Yeobo kau dimana, aku membutuhkanmu.”
“Ibuku tak ada disini, jadi cepat pergi.” Usir Hae Joo. “Ibuku ngeri melihat wajahmu jadi keluarlah dari sini!” Bentak Hae Joo.
Presdir Jang berbalik menatap marah Hae Joo, “Benar. Semua ini karena salahmu. Kalau saja kau tak ada, kalau saja Park Gi Chul melenyapkanmu, semua ini tak akan terjadi.” Presdir Jang berjalan maju ke arah Hae Joo.

Hae Joo mundur menghindar, “Kenapa kau seperti ini?”

“Kau, kau seharusnya mati. Seperti ini!” Presdir Jang mencekik leher Hae Joo kuat-kuat. Hae Joo meronta berusaha mendorong pria yang tenaganya lebih besar darinya. “Kalau kau mati semuanya akan berakhir. Tak akan ada masalah lagi. Mati kau!”
Presdir Jang mencekik Hae Joo semakin lama semakin kuat. Hae Joo tak bisa bersuara meminta tolong.
Tepat saat itu Geum Hee datang dan terkejut melihat tindakan suaminya, “Apa kau tak mau berhenti?” Teriak Geum Hee.

Presdir Jang terkejut melihat kedatangan istrinya. Ia melepas cekikan tangannya dari leher Hae Joo.

Geum Hee mendekat ke arah suaminya dan marah-marah. “Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti ini pada anak ini. Apa kau tahu dia ini siapa?” Geum Hee berteriak marah hampir menangis.
“Ibu...”  Hae Joo menggeleng melarang ibunya mengatakan hal yang sebenarnya.
“Anak ini, dia putrimu.” Teriak Geum Hee sambil menangis.
“Ibu...” Hae Joo menjerit tak menyangka kalau ibunya akan mengatakan hal yang sebenarnya.
Presdir Jang menatap bingung kedua wanita ini.

6 comments:

  1. kereeen....tinggal satu episode lagi...semangat mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin dilihat, Hae Joo makin mirip Jang Do Hyun (bukan sifat jahatnya), misalnya kepintaran Hae Joo pasang CCTV waktu Jang Do Hyun mukulin agen intelijen jepangnya itu, mirip Jang Do Hyun yang pintar nyimpen mikrofilmnya.
      Trus diantara anak Jang Do Hyun, cuma Hae Joo yang punya gula darah yang tinggi.
      Cuma hae Joo yang punya semangat tinggi, cita2 tinggi. Trus kenapa hae joo nggak jahat? Soalnya dia dididik oleh Hong Chul yang penyayang. Kalau Jang Do Hyun, dia kecilnya punya luka dan dendam karena cuma anak pembantu.

      Delete
  2. 1 eps lgi..., smangat mb.., aku akan setia menunggu...

    ReplyDelete
  3. Sebenernya agak sebel juga sih sm chang hee caranya dia bales dendam sm jang do hyun kenapa dia terus nyakitin si hee joo sm san kan kesian sempet sebel dan sampe akhir juga masih gak ngerti kalo dia harus nyakitin mereka juga

    ReplyDelete
  4. Nga terasa tinggal satu episode lagi yaa?? Ayoo mba anis semangaaat .. ~~^^

    ReplyDelete
  5. semangat mbak anis
    tinggal 1eps lagi...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...