Tuesday, 19 March 2013

Sinopsis May Queen Episode 36 Part 1

Huwa udah sebulan aku ga update kelanjutan May Queen. Setelah tragedi penutupan blog aku malas melanjutkan sinopsisnya. Eh pas mau lanjut ternyata video episode 36 – 38 error. Nasib deh download ulang haha.
Ditambah lagi pas mulai ngetik selalu saja ada salah ngetik, mulai dari Jang Do Hyun jadi Do Kyung. Presdir Jang jadi Presdir Baek. Cheon Ji jadi Baek Hak. Dan yang lebih parah nama Hae Joo jadi panjang, apa coba. Hae Joo Da Hae. hahaha. Ternyata nyambung ya.

Untuk mengingat episode sebelumnya, nih link Episode 35 part 1 dan 35 part 2.

Sinopsis May Queen Episode 36 Part 1
Hae Joo menemukan kertas hasil tes DNA di kamar rawatnya. Matanya terbelalak ketika mengetahui kalau itu hasil tes DNA dirinya dengan Jang Do Jyun. Hasilnya bahwa ia putri kandung Jang Do Hyun. Tubuh Hae Joo gemetaran ia melempar kertas itu. Seluruh tubuhnya bergidik. Ia penasaran dengan kertas hasil tes DNA tadi, ia pun mengambilnya kembali untuk memastikan kebenarannya.
Geum Hee kembali dari toilet dan melihat Hae Joo memegang hasil tes DNA itu. Geum Hee langsung merebutnya.

“Ibu... apa itu?” tanya Hae Joo terbata-bata gemetaran.

“Bukan apa-apa. Ini bukan apa-apa!” Geum Hee mencoba menyembunyikan kebanarannya.

Hae Joo merebut kembali hasil tes itu. Tanpa ia sadari air matanya menetes, “Apa aku putri kandung Jang Do Hyun?”

Geum Hee meninggikan suaranya dan merebut kembali hasil tes DNA itu, “Kubilang ini bukan apa-apa. Kenapa kau bicara begitu?” ia pun turut menitikan air mata.

“Lalu. Itu apa? Bukankah disana tertulis seperti itu.” Hae Joo menuntut penjelasan ibunya.

“Bukan. Bukan. Pokoknya bukan!” teriak Geum Hee langsung lari keluar membawa hasil tes DNA. 
“Ibu....!” suara Hae Joo terdengar berat. Kakinya lemas ia tak sanggup berdiri. Seluruh tubuhnya gemetaran mengetahui kalau ia putri kandung Jang Do Hyun.

Hae Joo menangis tanpa bisa menjerit. Ia tak bisa mengeluarkan suaranya hanya air matanya saja yang terus mengalir. Ia berusaha menepis kenyataan yang baru saja diketahuinya. Ia menggelengkan kepala, tidak dia bukan ayah kandungku.

Hae Joo ingin sekali menjerit untuk menumpahkan semuanya. Tapi apa daya suaranya tak bisa keluar. Ia hanya bisa menangis, tangisnya semakin lama semakin keras. Ia tak mempercayai kenyataan yang baru diketahuinya.
Geum Hee berlari keluar rumah sakit seperti orang linglung. Ia menangis kebingungan. Ia melihat kembali hasil tes DNA yang ada di tangannya. Seolah tak percaya dengan hasilnya, ia ingin kembali memastikan kalau ia salah membaca. Tapi apa daya itulah hasil tes-nya, hasil tes yang menyebutkan kalau Jang Do Hyun dan Hae Joo memiliki hubungan darah.
Hae Joo masih di kamar rawat berusaha menguasai dirinya. Kini ia lebih tenang. Ia duduk diam. San datang mengatakan kalau dia sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit Hae Joo. Ia bertanya Hae Joo akan kemana setelah keluar dari rumah sakit. Tapi berhubung Hae Joo masih perlu istirahat sebaiknya pulang ke rumah saja.

Hae Joo diam tak merespos ucapan San. San tentu saja heran, ada apa. Hae Joo tersentak dari lamunannnya, ia bertanya tadi San bilang apa.
San : “Hei, orang bilang kalau orang yang sakit itu harus istirahat, apa kau mau kita pergi mencari angin segar? atau kita pegangan tangan dan pergi menonton film?”

Hae Joo tak menjawab ia mengatakan kalau ia harus menemui ibunya sebentar. San mengajak Hae Joo pergi sama-sama menemui Geum Hee. Tapi Hae Joo ingin pergi sendiri. Hae Joo pun bergegas keluar membuat San terheran-heran.
Geum Hee berjalan seperti orang kebingungan yang tak tahu arah. Tangannya terus mengenggam hasil tes DNA. Sambil terus menangis ia menyebrang jalan. Mobil ramai berlalu lalang.
Geum Hee hampir saja tertabrak mobil. Ia yang kaget terjatuh, hasil tes DNA itu pun berhamburan. Ia panik dan memunguti kertas itu. Ia terus menangis tersedu-sedu tak mendengarkan pengemudi mobil yang marah-marah padanya karena sembarangan menyebrang.
Hae Joo melihat ibunya berada di tengah jalan. Ia segera lari mengamankan ibunya ke tepi jalan. (Terlihat jelas kalau yang paling terpukul disini adalah Geum Hee) Ia benar-benar seperti orang linglung.
Hae Joo dan Geum Hee berada di sebuah restouran. Geum Hee terlihat lebih tenang, tapi raut wajahnya masih menampakan kesedihan yang mendalam. Hae Joo ingin penjelasan dari ibunya, ia bisa melihat yang sebenarnya dari wajah ibunya. Jadi ia harap ibunya ini bisa menjelaskan semua padanya.

Geum Hee kembali menangis. Tangannya menggenggam erat hasil tes DNA. Melihat ibunya menangis Hae Joo juga ikut menangis. Ia mengatakan kalau ia akan baik-baik saja jadi ia harap ibunya mau menceritakan semuanya.
Geum Hee pun mulai bercerita. Bukankah waktu itu ia sudah memberi tahu Hae Joo bahwa sebelum menikah dengan Hak Soo ia menyukai Jang Do Hyun. Tapi Jang Do Hyun mengkhianatinya dan bertemu dengan ibunya Il Moon di Seoul. Ia tahu kalau pada saat itu Jang Do Hyun tak punya pilihan karena pada saat yang sama ayahnya (kakek Hae Joo) mengusir keluarga Jang Do Hyun dari Ulsan.

Setelah itu Hak Soo datang melamarnya. “Dia begitu ceria dan bersemangat. Aku bisa melupakan luka itu karena Hak Soo. Tapi Jang Do Hyun datang mencariku setelah kami menikah. Dia memberitahuku kalau dia menyesal. Hatiku sangat terluka. Meskipun dia seseorang dari masa laluku, tapi kami sama-sama sudah mempunyai pasangan.”

Hae Joo mengerti kalau hal itu sulit ibunya jelaskan lebih baik tak usah mengatakannya lagi.
 
Tapi Geum Hee kembali melanjutkan ceritanya. “Waktu itu disaat Hak Soo pergi dalam perjalanan bisnis, Jang Do Hyun datang dalam keadaan mabuk. Ketika itu ibunya Il Moon sedang sakit. Dan setelah itu, aku hamil. Aku tak bisa melawan laki-laki itu. Mungkin di dalam hatiku yang paling dalam aku masih bersimpati padanya. Aku ini orang jahat, aku pantas mati.”
Geum Hee menangis tersedu-sedu. Mata Hae Joo penuh linangan air mata mendengar kisah pilu ibunya.
“Karena alasan itu aku meminta cerai pada Hak Soo. Itu aku lakukan karena aku merasa bersalah padanya. Setiap kali aku meminta cerai dia selalu menolaknya. Kemudian kau lahir. Aku memiliki firasat kalau kau putrinya Jang Do Hyun. Tapi Hak Soo mengatakan bukan. Hingga pada akhirnya dia membawakan padaku hasil tes DNA palsu. Pada waktu itu aku sama sekali tak tahu kalau hasil tes DNA itu palsu. Sejak saat itu seperti kebohongan, kau terlihat seperti Hak Soo. Itu karena dia begitu mencintaimu, maka aku mempercayainya. Sejak saat itu aku tak pernah meragukannya lagi. Bahkan setelah bertemu denganmu lagi setelah kehilanganmu, aku melihat wajah Hak Soo di dirimu. Kau begitu ceria dan bersemangat. Sama sepeti dia.”
Hae Joo bertanya kalau ibunya beranggapan begitu kenapa melakukan tes DNA ini. Geum Hee berkata saat ia mengetahui Hae Joo memiliki kadar gula darah yang tinggi, mimpi buruk itu hadir kembali dalam pikirannya. Karena Jang Do Hyun juga memiliki kadar gula darah tinggi. “Kau.. adalah putrinya, Yoo Jin!” tangis Geum Hee semakin menjadi.

“Tidak!” Hae Joo tak mau menerimanya.

Geum Hee : “Apa yang harus kulakukan dengan dosaku? Semua ini karena kesalahanku.”

Hae Joo : “Ibu, kubilang bukan. Dia bukan ayahku. Apa itu orang tua? Orang tua adalah mereka yang membesarkan anak mereka dengan cinta setelah membawa mereka ke dunia ini. apa artinya selembar kertas itu?”
Hae Joo merebut hasil tes DNA itu dan merobeknya. “Kertas ini sama sekali tak penting. Aku tak memiliki darah laki-laki itu di dalam tubuhku. Ayah kandungku adalah Yoon Hak Soo yang menerima dan mencintaiku. Ayah yang membesarkanku memang miskin, tapi dia seseorang yang hebat. Aku hanya punya 2 ayah. Meskipun langit runtuh aku tak akan menerima orang itu.”
 Hae Joo meminta ibunya juga berfikir begitu. Berfikir kalau Jang Do Hyun bukanlah ayah kandungnya. “Ibu, kau tak pernah melakukan tes ini. Ini hanya mimpi. Jadi lupakan saja. Kita akan melupakan semua ini.” 

Keduanya menangis dengan perasaan terluka. Hae Joo memeluk ibunya. Ia mengatakan kalau ibunya ini sama sekali tak melakukan kesalahan. Ia mengajak ibunya melupakan semuanya.
Il Moon masih berada di ruang interogasi bersama Jung Woo. Jung Woo melemparkan map yang isinya hasil penyelidikan terhadap bagian luar mobil yang dipakai Il Moon. Tanah yang tertinggal di ban mobil Il Moon adalah tanah yang berasal dari pabriknya Hae Joo karena tanah itu mengandung granit.

Jung Woo : “Kau kenal Asisten Yang dari R&D kan? Setelah menyelidikinya aku mengetahui kalau kau ingin mencuri mata bor dari pabriknya Hae Joo. Apa kau masih mau menyangkalnya?”

Il Moon tak bisa menjawab, ia ingin bertemu dengan ayahnya.

Jung Woo membentak, “Apa ayahmu yang menyuruhmu membunuh Hae Joo?”
Il Moon ketakutan dan mengatakan kalau itu sama sekali bukan untuk membunuhnya. Itu hanya sebuah kesalahan. Meskipun ia membenci Hae Joo ia sama sekali tak berniat membunuhnya.
Hae Joo sampai di kantor pabrik. Disana San usai menerima telepon dari Jung Woo. San mengatakan pada Hae Joo kalau sepertinya Il Moon sudah mengaku, tapi Il Moon bilang kalau Jang Do Hyun sama sekali tak terlibat. Dia melakukan itu sendiri.

Hae Joo diam tak merespon omongan San. San heran kenapa Hae Joo keluar rumah, kenapa tak istirahat di rumah. Dengan suara lirih Hae Joo mengatakan kalau ia ingin bekerja. “Memangnya kerja apa yang ingin kau kerjakan dengan tangan seperti itu?” San mengkhawatirkan kondisi Hae Joo.

Hae Joo : “Bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku akan balas dendam padanya. Jadi, kita harus berhasil secepatnya.”

Hae Joo melihat-lihat rancangan. Tidak itu bukan melihat-lihat tapi seperti mengobrak-abrik karena pikiran Hae Joo sendiri tak fokus. San mengingatkan kalau kesehatan tangan Hae Joo lebih penting daripada balas dendam. Tapi bagi Hae Joo balas dendam-nya lebih penting. San tak mengerti kenapa tiba-tiba Hae Joo bersikap seperti ini.
Hae Joo meninggikan suaranya, “Kita ini tak punya waktu.”

San yang masih khawatir mengingatkan kalau ada orang yang bilang jika hal itu semakin penting maka akan semakin banyak waktu yang Hae Joo butuhkan. Ia tak bisa membiarkan Hae Joo melakukan ini disaat tangan Hae Joo masih belum pulih. Ia menyuruh Hae Joo pulang ke rumah dan istirahat. Hae Joo menyingkirkan tangan San dengan kasar. San semakin heran ada apa dengan Hae Joo.
Tepat saat itu Bong Hee datang mengatakan kalau ia sudah mendapat kabar dari Perusahaan Ocean kalau mereka sudah mengetahui penyebab keretakan pada bor-nya. Hae Joo ingin tahu apa penyebabnya. Bong Hee mengatakan kalau mereka bilang itu bukan berlian asli tapi sintetik.
San tak mengerti apa maksudnya kalau itu bukan berlian asli, karena berlian itu diproduksi langsung oleh Perusaahhan Noble. Tak mungkin Noble menipunya. Bong Hee meminta San mencari tahu itu, karena ada kemungkinan Noble yang membuat kesalahan.
Chang Hee menemui Presdir Jang di rumah sakit. Ia mengatakan kalau sepertinya Il Moon akan masuk penjara. Presdir Jang tentu saja kaget bagaimana bisa Il Moon akan masuk penjara, apa yang terjadi. Chang Hee mengatakan kalau Il Moon pergi ke pabriknya Hae Joo untuk mencuri mata bor dan menyebabkan kebakaran disana. Il Moon akan menerima dakwaan malakukan pelanggaran, menyebabkan kerusakan pada properti orang lain bahkan pembakaran. Jadi menurutnya Il Moon akan sulit menghindari hukuman.
Presdir Jang jelas dibuat jengkel dengan tingkah putranya. Chang Hee bertanya Presdir Jang tak menyurh Il Moon melakukan ini kan. Presdir tentu saja bilang bukan kenapa ia harus menyuruh Il Moon melakukan hal itu. Apa Chang Hee pikir dirinya gila menyuruh anak seceroboh Il Moon melakukan hal yang menyedihkan seperti itu. Presdir Jang menilai kalau putranya ini benar-benar bodoh.
Chang Hee mengatakan kalau situasi sekarang benar-benar buruk. Akibat dari konferensi pers kemarin membuat opini publik tentang Presdir Jang juga tak begitu baik. Kalau kasus Il Moon sampai dicetak di media, ini akan menjadi akhir bagi perusahaan Cheon Ji.

Presdir Jang ingin tahu pendapat Chang Hee, apa tak ada yang bisa mereka lakukan untuk keluar dari masalah ini. Chang Hee bilang kalau kita tak bisa menghadang masalah ini karena Jaksa Yoon Jung Woo tak akan diam saja. Presdir Jang makin kesal mendengar nama Jung Woo.
Chang Hee mengatakan kalau masalah terbesar yang sedang dihadapi adalah dana perusahaan. Karena ledakan tambang minyak di indonesia, kita menghabiskan uang terlalu banyak di kapal pengeboran. Bank juga sudah menolak pinjaman karena opini publik yang tak baik. Ditambah lagi mulai bulan depan, perusahaan bahkan tak bisa membayar gaji pegawai. Presdir Jang tentu saja stress.

Chang Hee mengingatkan kalau masalah ini sampai terdengar keluar (ke publik) maka akan sulit bagi Cheon Ji untuk mendapatkan hak pengeboran minyak. Presdir mengerti ia akan mengurus semuanya begitu keluar dari rumah sakit. Ia meminta Chang Hee agar bisa bertahan paling tidak selama sebulan. Presdir Jang berkata kalau kita bisa mendapatkan hak pengeboran minyak maka semuanya akan berjalan lancar. Ia merasa kalau dirinya tak bisa hanya terbaring diam di rumah sakit seperti ini. Ia menyuruh Chang Hee bersiap-siap untuk mengeluarkannya dari rumah sakit.
Untuk memastikan semuanya San menghubungi Noble. Ia menyampaikan pada Bong Hee dan Hae Joo kalau Noble mengirim berlian yang asli. Hae Joo menebak kalau begitu pasti ada seseorang yang menukarnya. San juga menebak kalau ini pasti ulah Cheon Ji.
Bong Hee meminta keduanya tak perlu khawatir karena perusahaan kapal Ocean akan mendapatkan berlian yang asli. Ia malah mengkhawatirkan Hae Joo, “Apa kau bisa bekerja dengan tangan seperti itu?”

Hae Joo mengingatkan kalau waktu yang mereka miliki hanya tersisa sebulan. Jadi ia harus melakukan apa yang ia bisa lakukan. San juga mengingatkan bebarapa kali ia sudah mengatakan kalau Hae Joo tak akan bisa melakukan pekerjaan dengan kondisi tangan seperti itu.
“Kubilang aku bisa, kenapa kau seperti ini!” bentak Hae Joo pada San. San kaget kenapa tiba-tiba Hae Joo marah padanya.
Bong Hee juga terkejut, “Ya ampun anak ini. Lakukan saja kalau kau mau melakuaknnya.” Hae Joo yang kesal meninggalkan kantor pabrik. Bong Hee heran kenapa sikap Hae Joo jadi seperti itu, “Apa dia berfikir kalau ada orang lain yang mengatakan kalau dia bukan keponakanku?” San juga heran dengan sikap aneh Hae Joo.
Geum Hee duduk melamun di rumah. Presdir Jang yang sudah keluar dari rumah sakit menghampirinya. Ada sesuatu yang ingin ia katakan pada istrinya. Geum Hee tak ingin bicara, ia menghindar akan pergi. Presdir Jang mengatakan kalau Il Moon sudah menyebabkan kebakaran di pabriknya Hae Joo.
“Apa kau bilang?” Geum Hee pura-pura terkejut padahal ia sudah tahu kalau Il Moon pelakunya. Presdir Jang berkata karena saham Il Moon yang Geum Hee berikan pada Hae Joo, ia berpikir kalau karena itulah Il Moon membuat masalah.

Geum Hee manatap marah suaminya, “Apa kau bermaksud mengatakan kalau Hae Joo hampir mati karena Il Moon?”
Presdir Jang mengatakan bukankah Geum Hee tahu bagaimana sifat Il Moon. Geum Hee yang marah memukul-mukul suaminya. Ia menangis, “Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?” Presdir Jang meminta istrinya tenang.

Geum Hee menangis marah, “Apa kau tahu betapa jahatnya kau ini? Ketika kau mengadakan konferensi pers, aku masih percaya padamu. Tapi bagaimana bisa kau melakukanya pada Hae Joo?” (Geum Hee masih pura-pura di depan suaminya)
Presdir Jang mengatakan kalau ia sama sekali tak menyuruh Il Moon melakukan itu. Il Moon yang melakukannya sendiri. Geum Hee yang menangis marah bertanya apa suaminya ini tahu siapa Hae Joo itu.

Presdir Jang : “Aku tahu, aku tahu kalau dia itu putrimu, Yoo Jin.”

Geum Hee tetap manangis marah. Ia menatap suminya dengan tatapan benci. Ia pun segera berlalu ke kamarnya.
Chang Hee bicara dengan ayahnya. Park Gi Chul mengatakan kalau Il Moon sudah mematikan jalannya sendiri. Ia tahu kalau Il Moon pasti akan seperti itu. Ia merasa kalau pada akhirnya Jang Do Hyun sudah mulai menerima hukuman dari langit. Bukankah semuanya ini berjalan sesuai dengan rencana Chang Hee.

Chang Hee mengatakan kalau ini masih belum berakhir. Gi Chul berkata bukankah Chang Hee sudah berhasil melakukannya. Chang Hee mengingatkan ayahnya kalau ini hanya permulaan karena tujuan utamanya adalah menarik Jang Do Hyun hingga ke situasi yang paling putus asa.
Park Gi Chul ingin tahu apa yang Chang Hee lakukan sekarang. Chang Hee mengatakan kalau kita masih memiliki waktu sisa 1 bulan hingga pengadilan mengenai dana gelap Presdir Jang. “Selama waktu itu, aku akan mencari tahu lebih banyak lagi tentang korupsinya dan aku yang akan menangkapnya. Semua yang dia miliki, aku akan membuat dia kehilangan semuanya.”

“Setelah itu, apa Cheon Ji akan menjadi milikmu?” tanya Gi Chul. Chang Hee tak menjawab ia menatap tajam ayahnya.
Makan malam bersama di rumah Hae Joo. San mengambilkan makanan ke mangkuk Hae Joo. Sang Tae terkejut mendengar permintaan San, apa San meminta dirinya untuk mengambil berlian. San membenarkan, bukankah Sang Tae bisa melakukannya. Ia tak tahu tentang kemampuan Sang Tae yang lain tapi ia meyakini kalau Sang Tae pasti seorang supir yang hebat.
Sang Tae senang sekali dipuji seperti itu, “Kalau tentang mobil aku bisa menutup mataku, tanganku diikat, dan aku bisa menyetir dengan kakiku.”

Ibu bertanya berlian yang San maksud itu bukankah barang yang mahal. Apa San bisa meminta tolong pada orang seperti Sang Tae untuk melakukan hal itu. San bilang tak apa-apa. Sang Tae meyakinkan ibunya ia memang tak ahli di hal lain, tapi tentang mobil seharusnya ibunya ini berpihak padanya.
“Dasar anak ini!” ibu menabok Sang Tae. “Memangnya berapa kali kau sudah gagal dan apa aku masih harus berpihak padamu?” ibu mengancam kalau kali ini Sang Tae gagal dalam bekerja maka bukan hanya harus keluar dari rumah ini. Ia juga akan mencoret nama Sang Tae dari daftar keluarga.
San melihat Hae Joo tampak kesulitan mengambil makanan dengan sumpit di tangan kiri. San membantu mengambilkan makanan. Hae Joo terlihat kesal dengan perhatian yang San tunjukan padannya, “Kenapa kau seperti ini? aku juga punya tangan.”

San berkata ia melakukan itu karena melihat Hae Joo menjatuhkan semua lauknya di meja. Ibu membela San, ia mengatakan kalau San melakukan itu karena dia khawatir pada Hae Joo, “Kenapa kau begitu sensitif?”
Hae Joo berkata kalau ia menggunakan sumpit dengan tangan kiri ini juga caranya melatih tangan kirinya. Kalau San selalu melakukan semua untuknya, apa yang harus ia lakukan. Young Joo juga berkata kalau San melakukan itu karena Hae Joo tak bisa makan lauknya dengan baik. Jin Joo membenarkan ia melihat kalau kakaknya ini tak bisa makan kacang dengan baik.

Hae Joo tentu saja kesal mendengar keluarganya mengatakan itu. Ia pun mengganti sumpit dengan sendok agar ia mudah mengambil makanan. “Kalian lihat? Aku bisa makan seperti ini.” Hae Joo meminta keluarganya tak perlu memusingkan ia makan atau tak makan.
Sang Tae heran dengan sikap Hae Joo yang tiba-tiba dingin dan galak. “Apa kau makan sesuatu yang busuk sebelum makan malam? Apa ada yang mengganggu perutmu hingga kau seperti itu?” Ibu membenarkan, kenapa Hae Joo bertingah aneh seperti ini. Hae Joo diam saja.
San yang melihat keanehan disikap Hae Joo berusaha mencairkan suasana. Ia mengatakan kalau ini bagus sekali. Ia merasa seluruh keluarga mendukungnya. Ia akan merasa baik-baik saja walaupun tanpa makan.
Ibu menatap aneh, “Ya ampun meskipun dia diperlakukan dengan buruk oleh Hae Joo, dia masih saja bisa senang. Kalau kau tetap senang seperti itu, ya baguslah. Tapi jangan lupa, aku menyuruhmu untuk tidak memimpikan Hae Joo-ku sebelum kau berhasil.” Ibu mengingatkan San agar sukses dulu sebelum memimpikan hidup dengan hae Joo.

San tertawa, “Ah ibu, kau ini selalu konsisten. Kau ini orang yang konsisten dari awal sampai akhir.”

San akan makan ia melihat ke meja makan, “Apa hari ini tak ada telur dadar gulung?”
San melirik ke arah Hae Joo yang diam saja. Ia melihat gelagat aneh disikap Hae Joo sepulang dari rumah sakit.
Jung Woo dan Bong Hee menyusuri jalanan malam. Tiba-tiba tangan Jung Woo meraih tangan Bong Hee, menggenggam dan menggandenganya. Bong Hee terkejut, “Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” Tapi Bong Hee senyum-senyum senang hehe.

“Kau tahu bagaimana perasaanku. Oh dinginnya!” sahut Jung Woo memasukan genggaman tangan ke saku jasnya agar terasa hangat. Bong Hee tersipu, ia mengatakan bukankah tak nyaman kalau keduanya berjalan seperti ini. Jung Woo tersenyum.
Bong Hee melihat sekeliling gedung yang ada di jalanan itu. Hotel, motel. Di sepanjang jalan penuh bangunan hotel dan motel. Bong Hee berusaha menepis pikiran ngaconya haha. Jung Woo berjalan menuju salah satu motel yang ada disana. Bong Hee panik, ia menarik tangannya.
“Ada apa denganmu? kau keterlaluan. Aku masih belum siap!” kata Bong Hee dengan mata melirik ke arah motel yang ada di depan mereka.

“Untuk apa?” Jung Woo tak mengerti.

Bong Hee pun akhirnya menyerah, “Ya sudah. Baiklah, ayo pergi kesana. Selama kita saling mencintai, tidak apa-apa. Aku akan pergi kesana.”

Jung Woo bengong ga ngerti apa yang diomongin Bong Hee.
Keduanya pun berjalan menuju depan sebuah motel. Bong Hee akan ke motel itu tapi tujuan Jung Woo lain. Jung Woo menuju sebuah taksi yang ada disana. Ia membuka pintu taksi yang terparkir di depan motel. (haha si tante pikirannya kemana-mana nih)
Jung Woo menyuruh Bong Hee masuk ke taksi. Kini giliran Bong Hee yang bengong, “Apa kita masuk kesini?”

“Apa kau tak mau masuk?” Jung Woo balik bertanya. “Oh ya ampun dinginnya!” seru Jung Woo masuk lebih dulu ke taksi tak tahan merasakan dinginnya angin malam. Hahaha.

“Ah ya ampun, tentu saja aku akan ikut kemanapun kau pergi!” seru Bong Hee lirih. Sebelum masuk ke taksi mata Bong Hee menatap motel yang ada di depannya haha.
Keduanya sampai di depan rumah dan tentu saja masih bergandengan tangan. Bong Hee yang kesal menarik dengan kasar genggaman tangan Jung Woo. Ia cemberut. “Hei Yoon Jung Woo, apa kau benar-benar tak suka padaku?” tanya Bong Hee.
“Bukankah aku sudah bilang padamu!” ucap Jung Woo mengingatkan kalau ia sudah mengungkapkan isi hatinya ketika Bong Hee mabuk dan tertidur.

Bong Hee kesal, “Tapi apa kau mau pulang ke rumah di hari yang bagus seperti ini?”

“Ya lalu mau kemana lagi? Apa kau mau pergi ke noraebang?” tanya Jung Woo.

Bong Hee tambah kesal, “Aku seharusnya tak mengatakannya. Ah sudah lupakan saja.”
Bong Hee akan masuk ke rumah tapi tangan Jung Woo menarik tangannya. Jung Woo tersenyum menatap Bong Hee, “Aku ini pria yang keras kepala dan kolot. Aku ingin melamarmu dengan tulus dan menikah.”

Bong Hee kaget, “Apa itu benar?”
Jung Woo mengatakan kalau Bong Hee akan menjadi pasangan hidupnya yang akan hidup bersama seumur hidupnya. “Aku ingin membuat malam pertama kita spesial.”

Bong Hee tersipu malu. Ia meminta Jung Woo melihat sekeliling. Jung Woo melihat sekelilingnya tak ada apa-apa dan tak ada siapa-siapa. Bong Hee tanya apa Jung Woo tak memikirkan apapun.

“Apa?” tanya Jung Woo.

“Kau dan aku berciuman disini!” ujar Bong Hee mengingatkan kalau ia pernah mencium Jung Woo di tempat ini.

Jung Woo meralat kalau saat itu Bong Hee yang menciumnya. Bong Hee kesal apa harus Jung Woo menjelaskannya seperti itu. Ia jadi bete dan akan masuk ke rumah tapi Jung Woo kembali menahan dan menarik Bong Hee.
Bong Hee tersentak kaget, Jung Woo menahan tubuh Bong Hee. Perlahan wajahnya mendekat ke wajah Bong Hee. Lebih dekat, lebih dekat, lebih dekat.
“Oh ya ampun!” seru San tiba-tiba muncul mengagetkan keduanya... haha...
Bruk... Bong Hee pun jatuh karena saking kagetnya. San jadi salah tingkah bingung ga tahu mesti ngapain. Ia sudah menangkap basah dua orang yang mau ciuman.

Jung Woo membantu Bong Hee berdiri, “Apa kau baik-baik saja?”
San yang merasa tak enak bertanya, “Apa aku mengganggu sesuatu?” (San udah kayak orang bloon aja nih haha)
“Lalu apa menurutmu kau menolong kami?” Bong Hee merasakan sakit di pinggangnya karena jatuh tadi. “Tak ada seorang pun di rumah ini yang menolongku. Ya ampun malangnya nasibku.” Bong Hee berjalan tertatih ke rumah sambil memegangi pinggangnya yang sakit.

Jung Woo khawatir, “Hei Bong Hee apa kau tak apa-apa?”
San minta maaf karena sudah merusak suasana, “Ah kenapa tiba-tiba aku jadi seperti Sang Tae ya?” San sekali lagi minta maaf.

Jung Woo yang juga kikuk bilang tak apa-apa. Ia pun menanyakan mau kemana San selarut ini. San mengaku kalau ia sedang menunggu kedatangan Jung Woo. Jung Woo heran dan bertanya apa terjadi sesuatu.
San mengatakan kalau Hae Joo terlihat agak sedikit aneh. “Aku mengerti dia agak sensitif karena masalah yang dibuat Il Moon tapi sekarang dia lebih sensitif dari yang kukira.”

“Benarkah?” tanya Jung Woo mencoba menerka apa yang terjadi pada Hae Joo.
Hae Joo berada di kamarnya mengingat perkataan Presdir Jang padanya. Presdir Jang mengatakan kalau Hae Joo itu terlihat mirip dengannya. Hae Joo benci mengingat itu. Ia menangis.

Tiba-tiba terdengar suara Jung Woo memanggil dari luar kamar, apa ia bisa masuk ke kamar Hae Joo. Hae Joo segera mengusap air matanya dan membolehkan Jung Woo masuk.
Jung Woo menanyakan keadaan tangan Hae Joo. Apa luka di tangan ini sakitnya masih bisa ditahan. Hae Joo menjawab kalau tangannya baik-baik saja. Ia tak menatap Jung Woo, ia takut kalau wajah sedihnya membuat Jung Woo ikut sedih.

Jung Woo mengerti betul Hae Joo pasti syok dengan kejadian yang menimpa tangan Hae Joo. Tapi itu sudah terjadi ia harap Hae Joo bisa melepaskan beban itu. Kalau Hae Joo terus mengingat insiden yang disebabkan oleh Il Moon, itu bukan diri Hae Joo. Hae Joo mengatakan kalau ia sudah melupakan kejadian itu.
“Lalu, apa kau ada masalah dengan San?” tanya Jung Woo. Ia mengatakan kalau San sangat mengkhawatirkan Hae Joo. Hae Joo menunduk diam. Jung Woo mengatakan kalau temannya yang satu itu, dia bukan hanya kehilangan kedua orang tuanya tapi dia juga kehilangan kakeknya. Dia tak punya orang lain lagi untuk bersandar. “Aku berharap kalian bedua baik-baik saja, sama seperti apa yang sudah kalian lakukan selama ini.”
Mendengar itu hati Hae Joo menjadi pedih. San kehilangan keluarga karena Jang Do Hyun, seseorang yang ternyata ayah kandungnya.

Jung Woo harap Hae Joo tak merasa rendah diri karena situasi Hae Joo yang sekarang. Ia tahu kalau Hae Joo itu berbakat dan pintar. “Kau tak perlu kecewa karena pendidikanmu, karena pendidikan itu hanya tolak ukur dunia. Dan mengenai keluargamu, bukankah aku ini Samchoon-mu. Aku akan ada di belakanmu, jadi kau jangan berkecil hati.”
Hae Joo menatap lekat-lekat wajah Jung Woo, “Samchoon?” sebut Hae Joo lirih.
Jung Woo yang dari tadi melihat Hae Joo menunduk, akhirnya bisa melihat wajah Hae Joo. “Benar aku ini Samchoon-mu.” Jung Woo menasehati kalau perasaan Hae Joo pada San disaat usia yang masih muda adalah sesuatu yang sangat berharga. “Kalau kau malu, kau akan kehilangan waktu seperti aku. Kapanpun kau merasa hidupmu sulit datanglah padaku. Samchoon-mu ini akan membuat semuanya menjadi baik.”
Hae Joo terharu mendengarnya tanpa terasa air matanya menetes. “Samchoon.” ucap Hae Joo tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.

Jung Woo : “Ya ampun, kau ini benar-benaar cengeng, kenapa kau menangis?”

“Samchoon, kau Samchoon-ku kan?” tanya Hae Joo dengan air mata berlinang.

Jung Woo : “Tentu saja. Kalau aku bukan Samchoon-mu, memangnya samchoon-nya siapa aku ini?”

Hae Joo berusaha tersenyum tapi senyum itu dirasa pahit di hatinya.
Park Gi Chul menonton TV di rumahnya tapi pikirannya kusut. Geum Hee datang berkunjung ke rumahnya. Melihat kedatangan majikan sekaligus besannya Gi Chul menanyakan alasan kedatangan Geum Hee.

Geum Hee menanyakan apa sebenarnya tujuan Gi Chul. “Kau memberitahuku tentang kematian Hak Soo dan kau bahkan meenyebutkan tentang mikrofilm tapi kenapa kau malah pergi ke konferensi pers itu, bersaksi sebaliknya dan menyerang Jung Woo?”

Gi Chul juga ingin tahu apa yang sebenarnya Geum Hee pikirkan sekarang. “Meskipun aku memberitahu anda semua kebenarannya tapi kenapa sekarang anda pulang ke rumah? Bukan hanya itu anda bahkan mengunjungi Presdir Jang yang diopname dan merawatnya dengan baik.”
“Apa mungkin kau juga berfikir sepertiku, pelayan park?” tanya Geum Hee.

“Kalau apa yang anda pikirkan tentang itu, aku juga berfikiran sama.” ucap Gi Chul.

“Kalau begitu, Chang Hee, apa dia juga memiliki pemikiran yang sama?” tanya Geum Hee.

Gi Chul mengangguk pelan. Apa yang mereka pikirkan. Huwaaa... memegangkan.
Hae Joo keluar dari pabrik dan melihat Chang Hee ada di luar pabriknya. Hae Joo mengabaikannya, ia tak peduli dan akan berlalu dari sana tapi Chang Hee mengajak Hae Joo bicara dengannya sebentar.

Hae Joo yang malas bicara dengan Chang Hee mengatakan kalau ia sedang sibuk. Tapi Chang Hee menahan tangan Hae Joo. Ia melihat tangan kanan Hae Joo masih diperban. Ia pun bertanya apa tangan Hae Joo baik-baik saja.
Hae Joo menarik paksa tangannya, “Memangnya kenapa? Apa kau kira aku tak akan bisa menyelesaikan bor-nya karena tanganku terluka. Kau tak perlu khawatir, bagaimana pun juga aku pasti berhasil.” ucap Hae Joo dingin.

Chang Hee meminta Hae Joo berhenti bekerja. Bukankah ia sudah mengatakan pada Hae Joo untuk tidak melakukan hal yang berbahaya seperti ini.

Hae Joo : “Kenapa? Tindakan bahaya apa lagi yang akan kau lakukan padaku?”
Chang Hee menyuruh Hae Joo melupakan semuanya. Lebih baik menikah dengan Kang San agar Hae Joo bisa hidup bahagia. Hae Joo mengatakan kalau ini tak ada hubungannya dengan San. Ia akan menyelesaikan proyek ini dan balas dendam pada Jang Do Hyun. Chang Hee berusaha meyakinkan agar Hae Joo menghentikan ini. ia mengatakan kalau Hae Joo tak mengenal Jang Do Hyun dengan baik. Ia mengerti kalau Hae Joo ingin balas dendam. Meskipun membuat bor Hae Joo tak akan bisa menjatuhkan Jang Do Hyun. Hae Joo mengingatkan Chang Hee agar tak perlu ikut campur urusannya, pergi saja pada Jang Do Hyun dan setia pada orang itu.
Bong Hee sampai di depan pabrik dan melihat keduanya bicara. Ia memanggil Hae Joo dan menghampiri keduanya. “Kenapa kau disini?” tanya Bong Hee pada Chang Hee. “Apa sekarang kau secara terbuka datang sendiri kesini dan mencari informasi?”

Chang Hee tak menjawabnya. Ia hanya memberi hormat pada Bong Hee kemudian pergi dari sana. Bong Hee kesal melihat tingkah Chang Hee, “Si brengsek itu apa mulutnya dilakban? Beraninya dia mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun?”

Bong Hee ingin tahu apa yang Chang Hee katakan pada Hae Joo. Hae Joo bilang bukan apa-apa.
San berada di kantor pabrik tengah membuat rancangan bor. Bong Hee masuk kesana menanyakan apa yang sedang San kerjakan. San mengatakan kalau Hae Joo memiliki ide baru jadi ia mencoba menggambarnya di kertas. “Apa kau mau melihatnya?” San menunjukan gambar rancangan bor yang dibuatnya.

San : “Melihat idenya di atas kertas rasanya ini masuk akal. Bukankah dia akan senang kalau melihat ini?”
Bong Hee tertawa dan memuji kalau San - Hae Joo benar-benar pasangan sempurna. “Tapi daripada menyenangkan Hae Joo dengan gambar ini kenapa kau tak melakukan hal-hal yang kalian suka. Seperti yang membuat kalian merasa senang dan sebagainya. Seperti ide untuk membuat perempuan tersentuh, begitu. Cobalah hal-hal semacam itu.”

San tertawa malu. Bong Hee kesal melihat San hanya tertawa saja. Ia pun mengatakan kalau tadi Chang Hee datang. San kaget mendengarnya, untuk apa Chang Hee datang.
Bong Hee berpesan agar San hati-hati, “Apa kau pikir mudah melupakan orang yang kau cintai selama 15 tahun? Kalau kau pikir itu mudah, kau salah. Kalau seseorang bersandar padamu maka kau harus menjaganya. Kalau kau benar-benar bisa melakukannya, begitulah caranya. Kau bisa kan?”
San terdiam bertanya-tanya kenapa Chang Hee menemui Hae Joo hingga ke pabrik. Apa perubahan sikap Hae Joo ini ada hubungannya dengan Chang Hee.

Bersambung ke part 2

Komentar : 
Hae Joo jelas stress mengetahui kebenaran siapa ayah kandungnya. Ia menumpahkan kemarahan itu pada semua orang. San tentu saja heran dengan perubahan sikap Hae Joo yang tiba-tiba. Hae Joo sendiri pasti merasa bersalah banget, apa lagi keluarga San hancur karena seseorang yang terbukti adalah ayah kandungnya.
Chang Hee sekali lagi mengingatkan Hae Joo agar tak melakukan hal apapun untuk balas dendam pada Jang Do Hyun. Biar ia saja yang melakukannya, tapi Chang Hee tak bisa mengatakan alasannya.
ok, di saat kita sedih dengan kenyataan siapa ayah kandung Hae Joo tapi ternyata masih ada adegan yang bikin kita tertawa lebar. Adegan romantis Jung Woo - Bong Hee dirusak sama San Oppa. San sekarang bisa ngerasain gimana rasanya ketika moment terbaik diganggu orang hahaha.

Oh ya sepertinya ada yang di cut ya. Aku sendiri juga bingung, nemu piku yang sepertinya ini adegan sebelum Samchoon n Tante Bong Hee pulang bareng, cek ya.
Sepertinya itu adegan BTS di warung soju deh. Tapi kok ga ada di video nya ya. Bingung saya...

8 comments:

  1. Makasih sinopsisnya.............akhirnya keluar juga. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutannya.

    ReplyDelete
  2. asyiiiik disambung lagi sinopss nya.....semangat ya mba..soalnya dvd nya episod 36 juga error...jadi nunggu sinopsis nya mba anis aj deh....yawangnya dilanjut jg mba yaa....tq

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya aq jg seneng sinop'a dsmbung ge... sma dvd aq jg error, malah stiap episode ending'a gk ada...jd lbih enak bc sinop mbak anis dr pd nton di dvd...
      truz di posting ya mbk,,pnasaran bget ma ending'a... :)

      Delete
  3. kerèeeennn sinopnya mbak anis

    ReplyDelete
  4. Baru ngeh kalo Min Soo di CYHMH yg jadi pacarnya Jae Woong di Yawang..
    Udah merasa pernah liat..

    ReplyDelete
  5. salam kenal... join yuk di http://sobatcyber.com/ , komunitas pertemanan dari dunia maya. terimakasih :)

    ReplyDelete
  6. mba anis makasiih ya dah kembali melanjutkan sinopsis ini,,tetep semangat ya mba,, :)

    ReplyDelete
  7. Akhir ny klwr jg sinop 36,,
    Hmpir tiap hri ngcek blog bru x ni akhir ny kluar jg,,,
    Aaaahhh,,snang ny,,trimkasih mb' anis..
    Smangat part 2 ny..

    Ahahahaha,,luchu bgt liat adgn san mrgokin 2 sjoli itu..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...