Sunday, 24 March 2013

Sinopsis May Queen Episode 37 Part 1

Geum Hee menyerahkan mikrofilm yang ia ambil dari brankas suaminya. Ia mengatakan kalau itu warisan ayah Hae Joo (Hak Soo) Semua kejadian ini terjadi berawal dari mikrofilm ini.
Presdir Jang yang membuntuti istrinya bersembunyi dibalik pohon natal. Ia marah karena istrinya mengambil benda itu. Ia pun merekam menggunakan ponselnya apa yang kedua wanita itu bicarakan.
 Hae Joo berkata kalau ia juga mendengar dari Jung Woo perihal kematian ayah San yang juga karena mikrofilm ini. Bahkan Kim Jung Bo, mantan anggota intelijen juga bersaksi mengenai hal itu. Hae Joo sangat penasaran apa isi mikrofilm ini hingga merenggut beberapa nyawa.

Geum Hee juga tak tahu apa isinya tapi karena benda ini sudah pasti Hak Soo dibunuh oleh Jang Do Hyun. Hae Joo bertanya dari mana ibunya mendapatkan mikrofilm ini. Geum Hee mengatakan kalau ia mengambil itu dari brankas suaminya yang dipindahkan ke rumah.
Hae Joo menebak kalau kemungkinan Presdir Jang akan tahu. Ia panik dan menilai ini akan berbahaya bagi ibunya. Ia minta ibunya segera meninggalkan rumah itu karena sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Geum Hee setuju ia akan segera pergi dari rumah itu. Tapi sebelum pergi ia harus bicara terlebih dahulu pada In Hwa. “Kau adalah putriku tapi In Hwa juga putriku.”

Hae Joo mengerti dan berpesan agar ibunya berhati-hati. Geum Hee juga berpesan agar Hae Joo berhati hati. Ia menyuruh Hae Joo membawa mikrofilm ini pada Jung Woo untuk diteliti. Presdir Jang yang menguping pembicaraan itu menahan marah.
Di kantor kejaksaan Jung Woo mengatakan pada bawahannya kalau pengadilan banding Jang Do Hyun akan dimulai 2 minggu lagi. Ia menanyakan apa persiapannya berjalan lancar. Bawahannya bilang ya tapi karena tak ada bukti yang jelas dari pengadilan sebelumnya kemungkinan hasilnya akan sama saja.

Jung Woo merasa sampai mereka melalui sidang itu mereka tak akan tahu. Siapa tahu dengan berjalannya waktu akan ada bukti yang terungkap. Dan juga opini publik tentang Presdir Jang sudah buruk karena penyerangan terhadap Kim Jung Bo dan penggelapan dana.
Hae Joo sampai disana tergesa-gesa. Jung Woo heran kenapa Hae Joo datang ke kantornya. Hae Joo mengatakan kalau ibunya sudah menemukan mikrofilm itu. Ia menyerahkan benda itu pada Jung Woo. 

“Penyelidik Lee, uraikan mikrofilm ini segera!” perintah Jung Woo pada bawahannya. (Namanya baru disebut ya haha) Lee mengerti ia segera melaksanakan perintah Jung Woo. Hae Joo dan Jung Woo berpandangan tegang ingin tahu apa isi mikrofilm itu.
Usai membuntuti istrinya, Presdir Jang duduk melamun di ruang tamu. Geum Hee tiba di rumah dan heran melihat suaminya masih di rumah. Presdir Jang bertanya dari mana istrinya ini pergi. Geum Hee mengatakan kalau ia baru bertemu dengan seseorang.

“Siapa yang kau temui?” tanya Presdir Jang.
 “Aku bertemu dengan hae joo, kenapa?” Ucap Geum Hee mengatakan yang sebenarnya dengan siapa ia bertemu.

Presdir Jang menahan marah menanyakan apa yang Geum Hee bicarakan dengan Hae Joo. Geum Hee balik bertanya kenapa ia harus memberi tahu suaminya tentang apa yang ia bicarakan dengan Hae Joo.
Presdir Jang memperdengarkan rekaman pembicaraan Geum Hee dan Hae Joo. Geum Hee tampak terkejut mengetahui kalau suamianya sudah tahu ia yang mengambil mikrofilm itu dan menyerahkannya pada Hae Joo. 
Presdir Jang bertanya apa Geum Hee pulang ke rumah setelah tinggal di hotel karena mencari mikrofilm ini. Geum Hee diam ia berusaha bersikap tenang dan cuek. Presdir Jang mengatakan kalau baginya Geum Hee itu segalanya melebihi apapun di dunia ini. Bahkan Geum Hee itu lebih penting daripada putranya sendiri. Ia rela berkorban apapun, “Aku tak pernah bertemu wanita lain setelah aku bertemu denganmu.”
Geum Hee menatap marah, “Kau benar-benar tak tahu malu, karena itu kenapa kau bertemu dengan ibunya Il Moon, membunuh Hak Soo dan menyuruh orang agar anakku juga dibunuh. Kau bukan manusia, kau ini monster!” Presdir Jang mulai meninggikan suaranya kenapa istrinya tak mengerti kalau yang ia lakukan ini untuk istrinya.

Geum Hee berkata kalau sekarang yang ingin ia lakukan adalah membunuh suaminya. Tapi ia tak ingin menjadi orang seperti diri suaminya.
Geum Hee yang marah masuk ke kamar beres-beres pakaian. Ia akan keluar dari rumah suaminya. Presdir Jang berusaha mencegah kepergian istrinya, ia berusaha meyakinkan agar Geum Hee tetap berada di sampingnya. Ia tak peduli Geum Hee akan membunuh atau membiarkannya hidup pokoknya Geum Hee barus ada di sampingnya. Geum Hee tak peduli, ia bahkan menepis tangan suaminya. “Singkirkan tangan kotormu itu dariku.”
Presdir Jang murka, ia menampar Geum Hee. Tapi ia terkejut dengan tindakannya yang kelepasan. Ia minta maaf, ia tak mengerti bagimana bisa ia melakukan itu pada istrinya.
“Itulah kau yang sebenarnya!” ucap Geum Hee menatap benci suaminya.
Presdir Jang memohon istrinya jangan pergi meninggalkannya, ia minta maaf. Ia mengaku kalau yang ia lakukan selama ini adalah kesalahannya. Ia mengaku kalau dulu menyuruh orang untuk mencelakai Yoo Jin. Kalau ia tak melakukan itu, ia berfikir tak akan bisa mendapatkan Geum Hee. “Ketika Hak Soo dan kau menikah apa kau tak tahu bagaimana perasaanku? Aku jadi gila dan ingin menghancurkan semuanya.” Presdir Jang terus memohon agar istrinya tak pergi. “Kau adalah segalanya dalam hidupku.”
Dengan mata berkaca-kaca Geum Hee mangatakan kalau suaminya yang sekarang adalah pembunuh, pembohong, dan orang yang berambisi. Ia ingin sekali melihat hidup suaminya ini hancur. Geum Hee membawa koper keluar dari rumah suaminya. Ia mengabaikan panggilan Presdir Jang.

Presdir Jang yang tak ingin istrinya pergi merasa frustasi. Ia melampiaskannya dengan memukul-mukul kasur.
San mengajak Hae Joo ke suatu tempat. Jreng... Hae Joo terjekut melihat tempat itu. San mengajaknya makan malam dan tempatnya wow diterangi cahaya lilin dengan penuh bunga mawar (huwaaa dinner romantis)

Keduanya duduk berhadapan. Hae Joo melihat sekaliling ia tak terdiam tak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini.
San berkata kalau ia ingin melakukannya di tempat yang mengesankan. Ia mengaku kalau ini agak tergesa-gesa karena ia melihat akhir-kahir ini Hae Joo sedikit aneh. Hae Joo terdiam merasa tak enak, ia tak tahu harus bagaimana tersenyum senang ataukah menangis terharu.
San tersenyum mengeluarkan cincin yang sudah ia siapkan. “Kau mungkin tahu dengan baik. Aku memiliki banyak kekurangan dan aku juga tak berpengalaman dalam hidup. Aku juga tak punya keluarga.” Air mata Hae Joo hampir tumpah.
San : “Ketika aku di Amerika, aku hanya memikirkan bagaimana membangkitkan Haepoong. Aku tak memiliki kesempatan untuk berteman. Aku membutuhkan seseorang yang akan selalu berada di sampingku selamanya. Hae Joo, menjadi keluargaku dan istriku, maukah kau melakukan hal itu bersamaku?”
Hae Joo menunduk menangis.

“Hae Joo-ya!” San menunggu jawaban Hae Joo.

“Oppa, aku minta maaf, kita tak bisa!” tangis Hae Joo.
“Kenapa?” suara San lirih menatap sedih.

Hae Joo diam tak bisa mengatakan alasannya.

“Apa mungkin ini karena Chang Hee?” tebak San. “Apa kau masih belum bisa melupakannya?”

“Bukan itu!” kata Hae Joo.

“Lalu apa alasannya? Apa aku masih belum layak untuk menikah?” San menyadari kalau sekarang ia yatim piatu tak memiliki apapun.
Hae Joo menangis menjawab Bukan itu, “Aku rasa kita cukup hanya menjadi rekan baik dan pasangan yang baik di tempat kerja. Maafkan aku.”

San yakin kalau itu bukan alasan utama Hae Joo. Ia ingin Hae Joo mengatakan yang sebenarnya. Ia perlu tahu alasan kenapa Hae Joo menolak lamarannya.
Air mata Hae Joo semakin deras, “Kita benar-benar tak bisa. Aku minta maaf.” Hae Joo segera meninggalkan tempat dengan mata penuh air mata.

Penolakan ini tentu saja membuat San kecewa. Ia tak mengerti kenapa Hae Joo menolaknya.
Hae Joo menangis di sepanjang jalan. Ia berulang kali menengok ke belakang takut kalau San mengejarnya. Ia tak bisa memandang pria baik itu sementara ayah kandungnya adalah penyebab kehancuran hidup keluarga San. Hae Joo duduk di tepi jalan menangisi semuanya.
San masih di tempat makan malamnya. Hatinya benar-benar terluka, satu persatu ia melepas kelopak bunga mawar dengan hati sedih.
Presdir Jang berada di rumah besarnya sendirian. Ia duduk melamun di ruang tamu dengan cahaya remang-remang karena lampu ruang tamu tak ia nyalakan. Chang Hee datang menemuinya. Ia heran kenapa Presdir duduk melamun di tempat gelap. Ia pun menyalakan lampu. Presdir Jang tetap duduk diam di tempatnya. 

“Ayah mertua, kenapa kau tak menyalakan lampunya?” tanya Chang Hee. Presdir Jang diam saja.
Chang Hee menyampaikan kalau ia sudah mengatur pertemuan dengan direktur dari perusahaan perkapalan Ocean besok. Dan untuk meyakinkan mereka ia membutuhkan mikrofilmnya.
Presdir Jang menarik nafas panjang membuat Chang Hee bertanya apa ada sesuatu yang terjadi. Presdir Jang berkata kalau ia ingin sendirian. Ia akan membicarakan hal pekerjaan itu nanti. Chang Hee mengerti ia pun segera pergi. Presdir Jang menyuruh Chang Hee untuk mematikan kembali lampunya. Chang Hee yang heran tak bertanya, ia pun mematikan lampunya.
Geum Hee dan In Hwa bertemu di restouran. Geum Hee akan menceritakan sesuatu jadi ia harap In Hwa mau mendengarkan apa yang ia ceritakan dan tidak terkejut. In Hwa penasaran ada apa karena ini membuatnya gugup.

Geum Hee merasa kalau sekarang In Hwa sudah dewasa dan harus mengetahui hal ini. Ia tak bisa menyembunyikan ini selamanya. “Aku tak bisa hidup bersama ayahmu lagi.”

In Hwa terkejut, “Kenapa?”
Geum Hee berkata bukankah In Hwa sudah melihat konferensi pers itu sebelumnya. Semuanya itu benar. In Hwa bingung karena sebelumnya ibunya mengatakan kalau yang di konferensi pers tentang ayahnya itu bohong, bukankah ibunya mengatakan untuk percaya pada ayahnya.

Geum Hee meralat kalau yang di konferensi pers tentang ayah In Hwa itu benar. “Orang itu membunuh suami pertamaku, Hak Hoo.” In Hwa tentu saja kaget.

Geum Hee : “Bukan hanya itu bahkan Hae Joo juga sempat menjadi korban. Untuk memiliki-ku ayahmu menyuruh orang untuk membunuh Hae Joo.”

Geum Hee mengatakan setelah Gi Chul menerima perintah dari Presdir Jang untuk membunuh Hae Joo tapi dia tak sanggup melakukannya. Jadi Gi Chul menyembunyikan Hae Joo. “Dengan orang yang seperti itu bagaimana bisa aku hidup di rumah yang sama?”
In Hwa diam tak menyangka, antara percaya dan tidak percaya ini jelas membingungkannya. Geum Hee menggenggam tangan In Hwa dan berkata bukankah In Hwa tahu kalau ia mencintai In Hwa. Meskipun ia tak bisa tinggal berdekatan dengan In Hwa, ia akan selalu datang kalau In Hwa memanggilnya. Ia dan In Hwa bisa bertemu di luar seperti sekarang ini. In Hwa benar-benar tak menyangka ayahnya tega berbuat seperti itu.
In Hwa pulang ke rumah ingin menanyakan kebenaran atas apa yang disampaikan ibunya. Di rumah Presdir Jang minum alkohol sendirian. In Hwa menanyakan bagaimana bisa ayahnya melakukan hal sekeji itu. 

Presdir Jang yang belum paham pertanyaan In Hwa menanyakan apa yang In Hwa bicarakan ini. In Hwa benar-benar tak menyangka ternyata ayah yang ia kenal tega membunuh orang. Bahkan menyuruh orang untuk membunuh bayi.
 Presdir Jang yang sudah setengah mabuk akan memeluk putrinya. Tapi In Hwa menyingkir menolak. Ia mundur tak mau dipeluk ayahnya.

Dengan mata berkaca-kaca In Hwa mengatakan kalau ia tak punya alasan lagi untuk datang ke rumah ini karena ibunya juga tak ada disini. Ia memperingatkan ayahnya agar jangan pernah datang mencarinya. “Mulai sekarang aku tak mau melihat ayah lagi.”
“Hei Jang In Hwa...!” Presdir Jang terkejut dengan perkataan putrinya.

In Hwa menatap marah ayahnya. Ia mengatakan kalau dulu ia bangga menjadi putri Jang Do Hyun tapi sekarang ia begitu merasa malu. Kenyataan bahwa ia memiliki nama Jang In Hwa itu benar-benar memuakannya. In Hwa yang marah menangis keluar dari rumah ayahnya.

Presdir Jang duduk lemas, setelah Geum Hee kini In Hwa meninggalkannya.
In Hwa pulang ke rumah mertuanya. Di kamar ia melihat suaminya sudah ada disana. In Hwa menebak kalau Chang Hee pasti sudah tahu tentang semuanya. Semua yang ayahnya lakukan, ia menebak pasti Chang Hee sudah mengetahuinya. Tak mungkin kalau Chang Hee tak tahu itu karena Chang Hee orang terdekat ayahnya.

Chang Hee menunduk diam. In Hwa tak mengerti bagaimana bisa Chang Hee menyembunyikan ini dengan baik bahkan bekerja dengan ayahnya.
Chang Hee mengangkat wajahnya menatap In Hwa, “Lalu apa yang harus aku lakukan? Dia ayahmu, haruskah aku membawanya ke pengadilan? Apa itu tindakan yang benar untuk dilakukan?”
In Hwa : “Jadi kau menganggap remeh karena dia ayahku. Jangan memperlakukanku seperti orang bodoh. Kau sama saja seperti dia. Seperti ayah. Demi ambisimu, kau memanfaatkan semuanya. Kau bahkan memafaatkanku. Kalian berdua sama saja.”
In Hwa keluar kamar dengan kemarahannya. Di pintu ia bertabrakan dengan ayah mertuanya. Gi Chul yang heran bertanya pada Chang Hee apa yang terjadi kenapa In Hwa marah seperti itu. Chang Hee menunduk diam.
Sampai di rumah, San menceritakan perihal Hae Joo yang menolak lamarannya. Apa yang disampaikan San tentu saja membuat penghuni rumah terkejut. Ibu merasa kalau Hae Joo sudah tak waras menolak lamaran dari San. Ia ingin tahu alasan apa yang dikatakan Hae Joo, bukankah San sudah menyelesaikan proyek pekerjaan dengan sukses.
San mengatakan kalau akhir-akhir ini Hae Joo terus menghindarinya. Awalnya ia mengira kalau ini karena Chang Hee tapi sepertinya bukan karena itu.
Ibu pun memberi saran, “Beri dia minuman, buat dia mabuk lalu......” (haha)

Sang Tae : “Ah ibu, apa ada alasan untuk membuat Kang San mati? apa ibu tak tahu kalau Hae Joo itu sangat kuat minum alkohol.”
Dengan malu-malu San mengatakan kalau sebenarnya ia membutuhkan dukungan semuanya. Sang Tae jelas bersedia, katakan saja apa yang harus dilakukannya. Ia akan menyiapkan semuanya. (Sang Tae mengira kalau San menyetujui usul ibu haha)

Kang San tertawa karena yang ia maksud bukan menyetujui usul ibu. Young Joo meralat kalau yang San maksud bukan itu. Sang Tae pun segera meralat ucapannya. Maksudnya kalau ia akan menyiapkan semua bantuan yang San perlukan.
Ibu merasa kalau Hae Joo itu benar-benar tak bisa dimengerti. “Ketika aku mengusirnya dia bersikeras tetap tinggal. Sekarang hidup sudah lebih baik kenapa dia melakukan ini?” Ibu tertawa, “Ya begitulah hati manusia.”

San : “Kalau begitu, aku akan terus maju dengan dukungan dari Sang Tae, Jin Joo, Young Joo dan ibu.”

Sang Tae : “Tentu saja, seperti buldoser. Maju terus.”

“Ok, ayo kita pergi makan. Ibu, kau ingin makan apa?” San menawarkan akan mentraktir mereka makan. 

“Aku? Oh apa saja yang penting mahal.” kata ibu haha. Mereka tertawa dan pergi makan di luar.
Hae Joo berada di kantor pabrik membereskan blue print. In Hwa datang menemuinya. Hae Joo tak menyangka In Hwa datang tiba-tiba seperti ini.

In Hwa berkata kalau ia sudah mendengar semua dari ibunya. “Ayah kandungmu dibunuh oleh ayahku. Dia juga mencoba membunuhmu agar bisa menikah dengan ibumu.”

(berati In Hwa belum tahu ya kalau Presdir Jang ayah kandung Hae Joo)

Hae Joo merasa kalau ibunya tak seharusnya menceritakan itu pada In Hwa. In Hwa merasa bersalah, kalau bukan karena ayahnya Hae Joo pasti akan hidup bahagia dengan orang tua kandung Hae Joo. Hae Joo dan Chang Hee juga akan hidup bersama kalau ayahnya tak mengacaukan semuanya.
Hae Joo menegaskan kalau ia sama sekali tak memiliki perasaan buruk sangka terhadap In Hwa. In Hwa menangis merasa bersalah karena sudah merebut semua milik Hae Joo. merebut ibu, bahkan Chang Hee juga. Hae Joo meyakinkan kalau itu semua bukan kesalahan In Hwa. Menurutnya In Hwa sama sekali tak merebut ibunya. Bagaimana pun waktu itu ibunya juga mempunyai waktu yang sulit ketika kehilangan dirinya. Dan ketika itu In Hwa-lah yang menolong ibunya melewati masa sulit itu.

Hae Joo ingat kalau ibunya pernah mengatakan bahwa ibunya pernah berencana untuk bunuh diri setelah kehilangan dirinya. Tapi karena In Hwa yang sudah memberikan ibunya keinginan untuk hidup ia berterima kasih hingga dirinya bisa bertemu dengan ibunya lagi. Dan tentang Chang Hee, ia benar-benar sudah tak ada apa-apa dengan Chang Hee. Hubungannya dengan Chang Hee sudah berakhir. Karena In Hwa adalah pilihan Chang Hee, ia harap In Hwa jangan sampai hidup tidak bahagia.
In Hwa mentitikan air mata dan mengatakan kalau ia sangat merasa bersalah pada Hae Joo. Mata Hae Joo juga berkaca-kaca, ia pindah duduk di samping In Hwa. Hae Joo mengatakan kalau In Hwa juga putri ibu. Jadi ia dan In Hwa jelas memiliki hubungan, ia berharap In Hwa jangan membiarkan masalah itu mengganggu In Hwa.
In Hwa memeluk Hae Joo, ia menangis. (Jadi apakah In Hwa belum tahu kalau Hae Joo saudara sedarahnya-sepertinya belum ya)
Chang Hee minum alkohol sendirian di rumah. Gi Chul melihatnya, ia tampak mengkhawatirkan putranya. Chang Hee tersenyum menatap ayahnya. Chang Hee bertanya pada ayahnya, bukankah apa yang ia lakukan sudah bagus. “Orang yang menyiksamu dan aku, bagiku untuk menghunuskan pisau pada Jang Do Hyun, aku sudah melakukannya dengan bagus kan?”
Gi Chul berkata kalau itu tergantung dari berapa banyak dan berapa lama dia menyebabkan kita menderita. Tapi Chang Hee merasa kalau hatinya tak tenang setelah melakukan itu. Sekarang semuanya hampir berakhir, pisau yang terasah tajam tak perlu membutuhkan banyak cukup satu serangan akhir dan itu pasti berhasil.
Gi Chul melihat kegalauan hati putranya, ia menebak apa ini karena In Hwa. Chang Hee berkata kalau In Hwa tidak melakukan kesalahan apapun, hanya karena dia putri Jang Do Hyun dia dimaafatkan olehnya. “Apa tidak masalah kalau aku menghancurkan hidupnya?”

Gi Chul meyakinkan putranya yang diambang kebimbangan bahwa sekarang Chang Hee tak boleh goyah. Chang Hee mengangguk mengerti.
Hae Joo sampai di rumah, Ibu langsung menariknya. Sang Tae dan kedua adik perempuan Hae Joo juga siap menyidang dirinya. Hae Joo heran kenapa semuanya seperti ini, ada apa.

Sang Tae bertanya bukankah hasil pemeriksaan kesehatan Hae Joo sudah keluar, “Tak ada yang salah dengan matamu, kan?” Hae Joo makin tak mengerti kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu.

Ibu mengatakan kalau tanpa Hae Joo sadari sebenarnya hidup Hae Joo ini sungguh beruntung, “Apa ada lagi pria di dunia ini yang sebaik Kang San? Kenapa kau menolak lamarannya?” Hae Joo mengerti kemana arah pembicaraan ini.
Young Joo berkata kalau Kang San itu bukankah lebih baik dari Park Chang Hee, “Dia pintar, humoris, dia mengajari Sang Tae-oppa dan memberikan pekerjaan.”

Jin Joo juga ikut bicara, “Sangat jelas sekali terlihat betapa dia mencintaimu, bukankah dia juga manis.”
Sang Tae berkata walaupun ia ini pria tapi ia bisa mengatakan pada Hae Joo kalau di dunia ini tak ada pria seperti San. Ibu juga menambahkan kalau San itu orang yang terbaik bagi Hae Joo, dia orang yang mencintai Hae Joo.

Hae Joo yang sedih malas membahasnya. Ia beralasan kalau ia sudah lelah dan akan masuk ke kamarnya. Ibu mengingatkan agar Hae Joo bersyukur karena ada Kang San. Hae Joo kembali duduk menatap kesal. Sang Tae berkata kalau Kang San itu memiliki latar belakang keluarga yang baik, pendidikan, dan dia juga memiliki kepintaran. Terlebih lagi dia orang yang menarik. Orang seperti dia, kalau dia melamar...
“Iya aku juga tahu itu... siapa coba yang tidak tahu? Kubilang aku tahu.” Hae Joo lelah mendengar ocehan keluarganya.

“Lalu apa masalahnya? Apa alasannya?” Tanya ibu menuntut penjelasan.

Hae Joo : “Itulah masalahnya. Dia orang yang sangat baik. Karena itu aku tak ingin kehilangan dia. Karena hal itu aku juga terluka. Jadi tolong biarkan aku sendiri.”
Hae Joo keluar akan menuju kamarnya. Di pintu ia berpapasan dengan Jung Woo. Jung Woo heran melihatnya. Hae Joo tak berkata apa-apa ia segera masuk ke kamarnya.
Jung Woo langsung bertanya pada ibu apa yang terjadi. Ibu mengatakan kalau Kang San baru saja melamar tapi Hae Joo menolaknya. Ia tak tahu apa yang dipikirkan putrinya. Jung Woo menarik nafas panjang ia mengerti masalah yang dihadapi Hae Joo. Ia bertanya pada ibu dimana San sekarang.
Di kantor kejaksaan, San heran kenapa Jung Woo menyuruhnya datang ke kantor kalau memang Jung Woo ingin bicara. Bukankah keduanya bisa bicara di rumah.
Jung Woo langsung ke pokok pembicaraan. Ia sudah mendengar kalau Hae Joo menolak lamaran San. Ia memberi tahu kalau Hae Joo memiliki alasan kenapa mengambil keputusan itu. San terkejut Jung Woo mengetahui alasan Hae Joo menolak lamarannya.

Jung Woo : “Kau dan aku ada diposisi yang sama. Setidaknya aku berharap kau bisa melalui proses itu sama seperti yang kualami.”
San bingung apa yang sebenarnya ingin Jung Woo katakan padanya.

Jung Woo akan memberi tahu sesuatu. Ia harap San bisa mengerti kenapa Hae Joo tiba-tiba jadi seperti ini. San berkata kalau ia bisa mengerti semua hal mengenai Hae Joo. Tapi Jung Woo berkata kalau masalah ini sulit untuk dimengerti karena itulah kenapa ia akan memberi tahu San tentang ini. San jadi penasaran kenapa Jung Woo bicara begitu, apa sebenarnya yang ingin Jung Woo katakan.
“Sebenarnya, Hae Joo adalah .....” Jung Woo berat mengatakannya. “Putri kandung Jang Do Hyun.”

San : “Apa?”

Jung Woo : “Aku bilang kalau Hae Joo itu bukan putri kakakku tapi Jang Do Hyun.”
Jreng, San kaget mendengarnya. Matanya membesar, “Apa kau bilang?” Ini tentu saja mengejutkannya. 
Dengan langkah lunglai San berdiri menatap pabrik galangan kapal yang dulu milik kakeknya tapi sekarang itu milik Jang Do Hyun. Matanya sendu melihat sekeliling pabrik dan kapal yang sedang dibuat.
San mengingat hari dimana kakeknya kehilangan Haepoong. Saat itu kakek menangis karena harus kehilangan jerih payahnya dengan cara licik Jang Do Hyun. Melihat kakek menangis seperti itu, saat itu dalam hati San sudah bersumpah kalau ia akan mengambil kembali apa yang menjadi milik kakeknya.
San mengenang kejadian kematian orang tuanya yang diakibatkan oleh Jang Do Hyun. Kematian karena kecelakaan mobil di Jepang. Dimana saat itu Jang Do Hyun mencari mikrofilm. Kecelakaan itu menewaskan kedua orang tuanya.
San juga mengingat hari dimana ia kehilangan kakeknya. Ia menangis tersedu-sedu ketika kehilangan kakek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
San menatap galangan kapal yang ada di depannya dengan hati pilu. Musuh besarnya ternyata ayah kandung dari wanita yang ia cintai.
San pulang ke rumah, langkahnya terasa lemas dan berat. Ia berdiri di depan pintu kamar Hae Joo. Ia mengingat kenangan bahagianya bersama Hae Joo dulu.
San ingin mengetuk pintu kamar Hae Joo tapi ia mengurungkan niatnya. Ia tahu kalau Hae Joo berada dibalik pintu kamar. Hae Joo pun merasakan hal yang sama, ia tahu kalau San ada di luar kamarnya. Ia pun ingin keluar menemui pria itu, tapi ia tak sanggup menemuinya. (ngenes banget nih scene) Hae Joo nangis. 
Keesokan harinya, Jung Woo memanggil Hae Joo untuk menemuinya di kantor kejaksaan. Jung Woo menyarankan agar Hae Joo jangan menghindari San terus. Hae Joo menunduk diam.
Jung Woo berkata kalau San itu menyukai Hae Joo begitupun sebaliknya Hae Joo juga menyukai San. Hae Joo berkata kalau ia tak bisa menatap San karena ia merasa bersalah. Jung Woo tanya apa Hae Joo melakukan ini karena Hae Joo putrinya Jang Do Hyun.
Hae Joo tak suka ia disebut sebagai putri Jang Do Hyun. Ia minta Jung Woo tak mengatakan itu. “Dia buka ayahku!”

“Kalau begitu, bukankah sama sekali tak ada masalah!” ucap Jung Woo.

Tapi Hae Joo tak yakin kalau San akan mengerti dengan keadaan itu. Ia juga tak tahu bagaimana cara memberitahu yang sebenarnya pada San. San sudah kehilangan keluarga karena orang itu.

Jung Woo mengatakan kalau San adalah pria yang memiliki hati terbuka, dia belajar menerima kebenaran. “Kau tak akan tahu, dia mungkin bisa mengatasi masalah ini lebih baik daripada aku.”
Ketika keduanya sedang mengobrol, Penyidik Lee si bawahan Jung Woo masuk menemui Jung Woo. Ia melapor kalau hasil penguraian mikrofilm-nya sudah selesai.

“Apa ini?” tanya Jung Woo menerima semacam Blue Print kapal.
Hae Joo membenarkan ini sepertinya Blue Print dari kapal tua. Ini seperti kapal LPG. Hae Joo menebak apa karena Blue Print ini Jang Do Hyun membunuh Dr Yoon Hak Soo.

“Apa kau yakin?” tanya Jung Woo. “Apa negara ini mampu membuat kapal seperti ini?”

Hae Joo sangat yakin dengan tebakannya. Jung Woo berfikir apa benar karena Blue Print kapal ini Jang Do Hyun membunuh kakaknya dan kedua orang tua San.
Presdir Jang membuka loker ia mengambil sesuatu dari sana. OMG mikrofilm lagi.

Kenapa ada mikrofilm lagi. Mikrofilm apa lagi ini. ada dua mikrofilm donk. Jadi mikrofilm mana yang sudah menelan banyak nyawa.

9 comments:

  1. Betul kata Mbak Anis, semakin mendekati ending ceritanya makin ngenes..,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin dilihat, Hae Joo makin mirip Jang Do Hyun (bukan sifat jahatnya), misalnya kepintaran Hae Joo pasang CCTV waktu Jang Do Hyun mukulin agen intelijen jepangnya itu, mirip Jang Do Hyun yang pintar nyimpen mikrofilmnya.
      Trus diantara anak Jang Do Hyun, cuma Hae Joo yang punya gula darah yang tinggi.
      Cuma hae Joo yang punya semangat tinggi, cita2 tinggi. Trus kenapa hae joo nggak jahat? Soalnya dia dididik oleh Hong Chul yang penyayang. Kalau Jang Do Hyun, dia kecilnya punya luka dan dendam karena cuma anak pembantu.

      Delete
  2. critanya makin seru and menegangkan.., eps2 terakhir membuat mata aq banjir air.., apalagi ketika San ditolak Hae Joo anad San tahu kalau Hae Joo adalah anak kandung Jang Do Hyun.., sungguh memilukan..

    penasaran dengan endingnya.., walaupun dah pernah baca spoilernya..

    ReplyDelete
  3. huuaaa....
    Makin penasaran sama kelanjutannya..



    Lanjutkan ya mba..
    Fighting!!

    ReplyDelete
  4. Di tunggu part 2nya...SEMANGAT!!! By Alhaq

    ReplyDelete
  5. Y ampun,,knapa smakin ending crita ny smakin bkin gregetan,,brsa kyk ad brepisode2 lg yg bkalan tyang..

    Ikut skit hti wktu haejoo nolak san..
    (╥﹏╥) hiks

    Smangat lanjut part2

    *firza

    ReplyDelete
  6. ga sabaaaaarrr nunggu kelanjutannya..
    mba anis, selalu semangat ya..

    emma

    ReplyDelete
  7. thx u mb anis..lanjut..smgt^^

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...