Tuesday, 12 March 2013

Sinopsis Queen of Ambition Episode 10 Part 1

Da Hae ke restouran dimana Do Hoon memintanya datang untuk makan bersama. Do Hoon memperkenalkan Pengacara Cha Jae Woong pada Da Hae. Da Hae tersenyum menyapa dengan ramah. Tapi sesaat setelah ia menatap pria yang disebut sebagai Pengacara Cha, sungguh ini membuatnya kaget luar biasa. Pria yang dipanggil Pengacara Cha ini mirip dengan Ha Ryu. (memang Ha Ryu)
“Senang bertemu denganmu!” sapa Ha Ryu ramah. Da Hae terdiam tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ha Ryu memberikan kartu nama Cha Jae Woong pada Da Hae. Ha Ryu mengenalkan namanya, “Namaku Cha Jae Woong!” katanya.

Da Hae pun menerima kartu nama itu dan membacanya. Ia sekali lagi menatap pria yang mengaku sebagai Pengacara Cha.
Ha Ryu berkata kalau ia banyak mendengar tenang Da Hae dari Do Hoon. Ia pun setuju pendapat Do Hoon kalau Da Hae memang cantik.

“Benarkan? Aku belum pernah melihat orang secantik Da Hae.” kata Do Hoon sambil menoleh ke arah Da Hae.

Da Hae berusaha tersenyum dan menyembunyikan kekagetannya. Do Hoon menggenggam tangan Da Hae sambil mengatakan kalau Da Hae juga memiliki hati yang baik.

“Dia cantik dan juga hatinya baik, seperti malaikat.” Ucap Ha Ryu mengagetkan Da Hae. Karena kata seperti malaikat ini hanya pernah diucapkan oleh Ha Ryu padanya.

Do Hoon membenarkan, “Da Hae-ku ini seperti malaikat!” katanya sambil menuangkan wine. Ha Ryu menilai kalau Do Hoon dan Da Hae terlihat serasi. “Aku cemburu kau berpacaran dengan malaikat.”

“Hei kau juga bisa bertemu dengan seseorang!” sahut Do Hoon. Ha Ryu berkata kalau berpacaran dengan malaikat itu tak akan mudah. Da Hae diam saja, pikirannya tak fokus karena masih shock.

“Apa kau tak minum?” Ha Ryu menawarkan wine pada Da Hae. Da Hae jadi salah tingkah, ia akan mengambil gelas wine tapi karena gugup ia menumpahkannya. Do Hoon tentu saja khawatir apa Da Hae baik-baik saja. Sebagai bentuk perhatian Ha Ryu pun ikut khawatir, “Apa kau baik-baik saja?” Da Hae kembali menatap pria yang mengaku sebagai Pengacara dan mirip dengan Ha Ryu. Do Hoon dan Ha Ryu mengelap meja yang basah karena tumpahan wine.
Ha Ryu mendengar kalau Do Hoon dan Da Hae kuliah di Pennsylvania, “Apa kalian berdua bertemu disana?”

“Tidak. Kami sudah saling mengenal sejak di Korea!” jawab Do Hoon yang tentu saja membuat Ha Ryu terkejut. Ia kini tahu kalau ternyata Da Hae dan Do Hoon sudah saling mengenal dan dirinya tak tahu tentang ini. Ha Ryu berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Do Hoon mengatakan seandainya Da Hae tak datang menemuinya di Amerika, ia dan Da Hae tak akan bisa bersama sampai sekarang. Yang dikatakan Do Hoon tentu saja menambah keterkejutan Ha Ryu. Ha Ryu mengingat hari dimana Da Hae memintanya untuk membantu kuliah di Amerika. Kini Ha Ryu mengerti selain untuk kuliah ternyata Da Hae ke Amerika untuk menyusul Do Hoon. Ha Ryu berusaha menahan amarahnya. Ia berusaha untuk tersenyum. “Lalu, apa kau dipilih olehnya?” tanya Ha Ryu.

“Aku memohon padanya untuk memilihku. Aku pergi ke tempat tinggalnya dan memintanya ke Amerika bersamaku.” Jelas Do Hoon. Ha Ryu tak menyangka ternyata Do Hoon sempat ke tempat tinggal Da Hae yang juga tempat tinggalnya. (ga sempet ke rumah cuma ketemu di jalan beberapa waktu setelah Do Hoon keluar dari rumah sakit usai kecelakaan)

Ponsel Do Hoon berdering, dari Do Kyung. Ia mengatakan pada kakaknya kalau ia dan Da Hae sedang makan bersama Pengacara Cha. Do Hoon kemudian bicara menjauh. Tinggallah di meja makan itu Ha Ryu dan Da Hae, berdua saja.
Da Hae menatap pria yang mirip dengan Ha Ryu ini. Tangannya gemetaran tapi ia berusaha bersikap normal. Ha Ryu melihat di jari manis Da Hae ada cincin yang melingkar. Ia berkomentar kalau cincin itu cantik. Da Hae gelisah dan cemas, ia pun mohon diri akan ke toilet.
Dengan ekor matanya Ha Ryu menatap kepergian Da Hae, “Joo Da Hae jangan pernah menghindar. Aku akan berada di sekitarmu dan melihatmu mati perlahan-lahan.”
Da Hae berada di toilet tepatnya di depan cermin. Ia melihat wajahnya yang cemas. Ia tak menyangka kalau akan bertemu seseorang yang mirip dengan Ha Ryu. Ia penasaran dengan pria ini ditambah lagi pria yang mengaku bernama Cha Jae Woong ini mengatakan kalau selain cantik dan baik hati dirinya juga seperti malaikat. Ya seperti malaikat, kata yang pernah Ha Ryu ucapkan padanya. Tubuh Da Hae gemetaran, ia takut kalau pria itu benar-benar Ha Ryu.
Ada tangan seseorang yang perlahan-lahan menyentuh pundaknya. Da Hae yang masih ketakutan tentu saja terkejut bukan main. Ia hampir saja menjerit kaget. Tapi ternyata yang menyentuh pundaknya itu seorang wanita yang ingin mencuci tangan.
(tunggu, tangan yang menyentuh pundak Da Hae itu kan berpakaian lengan panjang ya tapi lihat baju wanita ini putih lengan pendek)
Da Hae segera keluar dari toilet. Di depan pintu toilet ia berpapasan dengan Ha Ryu. Ha Ryu bersikap biasa saja. Ia menatap sekilas Da Hae dan tangan keduanya bersentuhan.

Sentuhan tangan ini membuat tubuh Da Hae bergidik. Ia terdiam sesaat dan kembali ke kursi makan. Ha Ryu berbalik menoleh menatap tajam Da Hae.
Ha Ryu kembali dari toilet, tepat saat itu ia melihat Da Hae pamit pada Do Hoon akan pergi lebih dulu. Ha Ryu menanyakan kenapa Do Hoon sendirian. Do Hoon minta maaf karena Da Hae pergi lebih dulu untuk menyelesaikan masalah penting. Ha Ryu berkata kalau ia juga ada sesuatu yang harus dikerjakan jadi ia pun permisi. Ia menawarkan bagaimana kalau makan malamnya lain kali saja. Do Hoon setuju, itu ide yang bagus lain kali ia akan meminta Da Hae untuk mengosongkan jadwal agar bisa makan malam bersama.
Da Hae berada di mobil menghubungi kakak tirinya, ia marah. Bagaimana bisa Ha Ryu masih hidup padahal sebelumnya Yang Hoon mengatakan padanya kalau Ha Ryu sudah mati. Yang Hoon tak mengerti apa maksud Da Hae kalau Ha Ryu masih hidup, ia mengatakan kalau Ha Ryu itu sudah mati. Ia tak mengerti dengan Da Hae, “Apa kau baru saja melihat seseorang yang mirip dengan Ha Ryu.”

Da Hae yakin kalau orang itu bukan hanya mirip, tapi ia berani memastikan kalau pria itu benar-benar Ha Ryu. Pria itu mengintai di sekitarnya dan berpura-pura menjadi seorang pengacara. Ia tak tahan lagi dan meminta bertemu dengan kakak tirinya.
Yang Hoon sudah menunggu Da Hae di jalan. Ketika mobil yang dikendarai Da Hae berhenti Yang Hoon masuk ke mobil itu dan menuju suatu tempat. Tanpa keduanya sadari Ha Ryu membuntuti mereka. Yang Hoon menjadi penunjuk jalan dimana ia mencelakai Jae Woong yang ia kira Ha Ryu.

Ha Ryu memberhentikan mobilnya di kejauhan agar tak terlihat. Ia turun dari mobil dan melihat sekeliling tempat.
Yang Hoon tak mengerti untuk apa keduanya ke tempat ini. Siapa coba yang mau berbohong tentang membunuh seseorang. Yang Hoon berkata kalau ia sama sekali tak berbohong tentang ia sudah membunuh Ha Ryu. “Ha Ryu itu benar-benar sudah mati.” Da Hae menyuruh kakak tirinya keluar dari mobil. Ia ingin tahu dimana Yang Hoon mengubur mayat Ha Ryu.
Da Hae dan Yang Hoon berdiri di tepi danau (Eh iya ya ini danau, aku pikir ini sungai haha) Da Hae bertanya apa kakak tirinya ini mengatakan kalau Ha Ryu ada di dalam danau itu. Yang Hoon meminta Da Hae memelankan suara, ia khawatir takut kalau ada yang mendengar.
Ha Ryu ternyata memperhatikan mereka. Ia berdiri menjauh supaya tak terlihat oleh mereka. Ha Ryu tentu saja marah, tapi ia berusaha menahannya. Ia mengepalkan tanganya.

Yang Hoon mengajak Da Hae kembali. Da Hae menebak bahwa bisa saja Ha Ryu masih hidup. Tapi Yang Hoon menegaskan kalau Ha Ryu sudah mati.
Yang Hoon : “Bahkan kalau dia masih hidup dia tak mungkin merangkak keluar dari sana. Kalau mayatnya keluar dari sana itu akan menjadi akhir hidupku. Apa kau pikir aku tak berhati hati?”

Yang Hoon kembali ke mobil. Da Hae berfikir keras, kalau memang Ha Ryu sudah mati siapa pria yang bertemu dengannya tadi, pria yang mirip dengan Ha Ryu apa benar Cha Jae Woong. Tapi sentuhan tangan itu terasa tak asing baginya. Da Hae pun kembali ke mobil. Ia dan Yang Hoon meninggalkan tepi danau.
Setelah Da Hae dan Yang Hoon pergi, Ha Ryu berlari menuju tepi danau. Kakinya lemas dan terduduk menatap sedih, “Hyung apa kau ada di dalam sana? Hyung, jawab aku!”
Ha Ryu mulai menitikan air mata dan memanggil Jae Woong lebih keras lagi. “Hyung, maafkan aku. Hyung, jawab aku!” Ha Ryu berulang kali memanggil kakaknya dan mengucapkan maaf sebab karena dirinya kakaknya jadi celaka seperti ini.
Da Hae sampai di apartemennya. Ia melempar tasnya ke sofa. Ia mengambil kartu nama Cha Jae Woong yang tadi ia terima. Ia mengingat ucapan Ha Ryu dulu yang mengatakan bahwa dirinya cantik sepert malaikat. Dan ucapan itu sama dikatakan oleh seseorang yang mengaku sebagai Pengacara Cha Jae Woong.
“Kau adalah Ha Ryu,” batin Da Hae sambil meremas kartu nama Jae Woong. Ya, Da Hae meyakini kalau pria yang mengaku Pengacara Cha adalah Ha Ryu.
Ha Ryu berada di kantor menatap foto kakaknya. Ia sedih dan merasa kalau kakaknya ini pasti menyesal sudah menemukannya. Sam Do menyentuh pundak Ha Ryu menguatkan memberi semangat dan berkata kalau rencana yang keduanya susun haruslah berhasil karena setidaknya hal itu bisa membuat Jae Woong beristirahat dengan tenang.
Ha Ryu melepas penutup bingkainya, ia mengambil foto lain yang ada dibalik foto Jae Woong. Foto dirinya bersama Eun Byul ketika mengendarai sepeda. Ia bertanya pada Sam Do, apa menurut Sam Do kakaknya ini siudah bertemu dengan Eun Byul. Sam Do berkata kalau mereka pasti sudah bertemu, karena bagi Eun Byul bertemu dengan Jae Woong itu sama seperti bertemu Ha Ryu.
“Hyung, ini putriku Eun Byul.” Kata Ha Ryu mengenalkan putrinya pada Jae Woong. “Eun Byul-ah, ini pamanmu yang terlihat sama seperti ayahmu.” Ha Ryu mengucapkannya dengan nada sedih.
Ha Ryu tak berada ditempat, di kantor hanya ada Sam Do yang asyik makan sosis. Di meja kerja terpasang foto Eun Byul dan Ha Ryu. Sementara foto Jae Woong berada di luar bingkai. Ada seseorang yang mengetuk pintu. Orang itu masuk membuka pintu, dan byar siapakah dia. Joo Da Hae.
Sam Do menoleh ke arah pintu berusaha bersikap ramah pada tamu yang datang. Tapi betapa terkejutnya ia kalau yang datang itu Da Hae. Ia langsung menyimpan sosisnya. Da Hae tak langsung menyapa pria yang ada di depannya, ia celingukan melihat-lihat seisi kantor.
Sam Do menanyakan apa kedatangan Da Hae ini untuk berkonsultasi. Da Hae menjawab ya, tapi tak menatap orang yang mengajak bicara. Ia sibuk melihat-lihat sekeliling kantor. Ia melihat begitu banyak sertifikat Jae Woong yang terpampang di dinding. Ia juga melihat plat nama yang ada di meja kerja, plat nama yang bertuliskan tentu saja Cha Jae Woong.
Sam Do kembali bertanya Da Hae ingin berkonsultasi tentang apa. Perceraian, Kekerasan, atau penipuan. Da Hae berkata kalau ia hanya ingin berkonsultasi beberapa masalah tentang hukum. Da Hae melihat di meja kerja ada foto, ia pun tertarik ingin melihatnya.

Sam Do mengikuti arah pandang Da Hae, tentu saja ia panik karena ia tahu tadi Ha Ryu mengganti foto Jae Woong. Da Hae mendekat ingin melihatnya. Tapi dengan cepat Sam Do ke arah meja. Ia berusaha menutupinya tapi sambil bicara dengan Da Hae.
Tubuh Sam Do membelakangi foto. Sambil tetap bicara dengan Da Hae tangannya berusaha menggapai bingkai foto dan memasukan foto Jae Woong ke dalam bingkai untuk menutupi foto Ha Ryu – Eun Byul. Da Hae bertanya apa ini kantor pengacara Cha. Sam Do membenarkan dan berkata kalau Pengacara Cha sebentar lagi akan datang, bagaimana kalau Da Hae duduk dulu sambil menunggu. “Apa kau mau minum kopi?”
Da Hae bilang tak usah sambil matanya terus mengamati sekeliling. Ia melihat di meja kerja ada foto. Ia mengambil salah satu foto, foto Jae Woong bersama Ayah Cha. “Apa ini pengacara Cha?” tanya Da Hae. Sam Do mengambil foto itu dari tangan Da Hae mengiyakan, bukankah Pengacara Cha Jae Woong sangat tampan. Sam Do mempersilakan Da Hae duduk. Tapi Da Hae malah melihat foto yang lainnya. Bingkai foto yang tadinya bersisi foto Ha Ryu dan Eun Byul tapi kini sudah diganti menjadi foto Jae Woong seorang diri.

“Benar, dia tampan!” sahut Da Hae dingin. Sam Do yang cemas berkata kalau Pengacara Cha itu akan lebih terlihat tampan kalau melihatnya langsung. Ia pun berbasa-basi apa Da Hae ini kenal baik dengan Pengacara Cha. Da Hae berkata kalau ia mendengar nama Cha Jae Woong dari seseorang yang ia kenal.

Da Hae merasa kalau Pengacara Cha ini sepertinya keluar agak lama, ia tak bisa berlama-lama disini, ia akan kembali kesini lain kali. Sam Do berkata kalau pengacara Cha akan kembali tak lama lagi, tapi Da Hae tak menggubris ucapan Sam Do dan berlalu keluar dari ruangan. Setelah Da Hae pergi barulah Sam Do menarik nafas leganya. Hampir saja ketahuan.
Ha Ryu ternyata menemui Do Kyung. Do Kyung berterima kasih karena Ha Ryu sudah membantu kasus adiknya, ia ingin menanyakan berapa biaya penyelesaian kasus Do Hoon. Ha Ryu bilang kalau itu bukanlah kasus yang sulit jadi Do Kyung tak perlu mengkhawatirkannya. “Bagaimana kalau kau keluar makan malam dan minum wine denganku?”

Do Kyung yang terkejut merasa kalau tawaran ini tak pantas sebagai ganti atas biaya kasus Do Hoon. Tapi Ha Ryu berkata kalau makan malam dan minum wine ini sebagai biaya atas apa yang ia lakukan terhadap kasus Do Hoon dan ia yang akan memilih tempatnya.
Do Kyung tersenyum bertanya apa ada tempat yang sering Ha Ryu kunjungi. Ha Ryu mengingat ucapan Sam Do kalau ada restouran wine yang baru dibuka oleh temannya Do Kyung belum lama ini. Ia kemudian mengatakan pada Do Kyung kalau di Cheongdam-dong ada restouran wine yang bernama Ma Gu. Untuk Lokasinya ia akan mengirimkan SMS alamatnya. Do Kyung tersenyum ia sudah tahu tempat itu.

“Benarkah? Wah itu bagus sekali!” sahut Ha Ryu pura-pura terkejut. Keduanya pun janjian makan malam dan minum wine malam ini.
Ha Ryu kembali ke kantor, ia melihat Sam Do tengah menatap foto yang ada di meja kerja. Ia pun bertanya apa terjadi sesuatu. Sam Do memberi tahu kalau tadi Joo Da Hae datang kesini. Ha Ryu tentu saja kaget, apa Da Hae masuk ke ruangan ini. Sam Do mengatakan kalau Da Hae tadi masuk dan melihat-lihat sekeliling ruangan.

Sam Do melihat di meja ada fotonya Eun Byul. “Kalau bukan karena aku, kau harus melupakan yang namanya balas dendam. Itu semua akan berakhir hari ini.”
Ha Ryu mengerti atas kecerobohannya dan minta maaf. Sam Do mengingatkan agar Ha Ryu jangan sampai lengah. Setelah ia melihat sendiri Joo Da Hae, menurutnya wanita itu bukan orang biasa. “Kalau dia takut padamu, dia tak akan datang kemari. Dia bahkan sama sekali tak terlihat gugup. Dia melihat-lihat kantor dan menikmati waktunya. Sepertinya dia tahu kalau kau itu bukan Cha Jae Woong tapi Ha Ryu dan dia kesini untuk mencari bukti.”
Menurut Sam Do tak masuk akal kalau Da Hae tak mengenal pria yang menjadi ayah putrinya dan pria yang tinggal bersamanya. Ha Ryu menyadari Da Hae sama sekali tak takut bahkan dia pergi ke tempat kakaknya dikuburkan.

Sam Do kembali memperingatkan kalau Ha Ryu tak berhati-hati dalam menghadapi Da Hae, itu akan menjadi akhir bagi Ha Ryu dan dirinya. “Kalau dia tahu kau adalah Ha Ryu, kau bisa dituduh melakukan pembunuhan terhadap pengacara Cha. Dan itu akan seperti kau membunuh kakakmu sendiri dan berpura-pura menjadi Cha Jae Woong. Yang pasti, kau sama sekali tak boleh ketahuan. Kalau seperti ini, balas dendam atas Eun Byul dan Jae Woong akan berakhir bahkan sebelum balas dendam ini dimulai.” Rencana yang keduanya susun akan gagal total. “Kau dan aku akan berakhir kembali membusuk di penjara.”

Sam Do meyakini kalau Da Hae ini tak percaya Ha Ryu sudah mati. Tapi karena Da Hae tak mendapatkan informasi apa-apa disini, dia mungkin akan pergi ke rumah lama Ha Ryu.
Benar saja Da Hae ke rumah Ha Ryu. Ia masuk ke kamar dimana ia pernah tinggal. Bibi Hong tentu saja marah melihat Da Hae datang. “Bagaimana bisa kau datang kesini mencari Ha Ryu?” Da Hae tak mempedulikan ucapan Bibi Hong. Bibi Hong kesal dan meninggikan suaranya apa lagi rencana busuk Da Hae terhadap Ha Ryu.

Da Hae melihat ke toilet siapa tahu ada petunjuk yang mengarah tentang keberadaan Ha Ryu, tapi ia tak menemukan apapun. Ia pun bertanya pada Bibi Hong dimana Ha Ryu, apa dia pergi menemui Taek Bae. Bibi Hong malah berkata kalau Da Hae tahu Ha Ryu ada dimana lebih baik katakan pada Ha Ryu untuk segera pulang ke rumah. “Ini sudah lama sejak dia dibebaskan dari penjara, kenapa dia masih belum pulang ke rumah? Kalau kau tahu Ha Ryu ada dimana tolong bawa aku kesana.”
Karena tak mendapatkan informasi apapun Da Hae pun akan segera pergi dari sana. Bibi Hong yang marah memperingatkan Da Hae, “Aku tak mau melihat wajahmu lagi disini.” Jangan pernah datang lagi kesini karena itu akan mengingatkannya pada Eun Byul. Da Hae menyela ucapan Bibi Hong, ia minta Bibi Hong jangan pernah membicarakan tentang Eun Byul. Bibi Hong menantang, apa ini karena Da Hae merasa bersalah pada Eun Byul, karena Da Hae lah orang yang membunuh anak itu. Bibi Hong yang marah masuk ke rumah membiarkan Da Hae seorang diri.
Ha Ryu memperhatikan Da Hae dari jauh. Ternyata dugaan Sam Do benar, Da Hae mencari informasi sampai ke rumahnya.
Da Hae menghubungi seseorang, sepertinya pemilik rumah kontrakan Ha Ryu. Ia mengatakan kalau ia akan memberi pemilik rumah uang sewa 2 kali lebih banyak asalkan keluarkan penghuni rumah itu segera. (menyuruh Bibi Hong keluar dari rumah itu)
Ha Ryu dan Do Kyung pun makan malam. Manajer restouran yang melayani mereka. Ia minta maaf atasannya tak bisa datang. Manajer restouran menyerahkan daftar menunya. Do Kyung akan memilih wine apa yang nanti diminumnya. Ha Ryu ingin ia yang memilih wine-nya, apa Do Kyung tak keberatan. Do Kyung tentu saja tak keberatan.
Ha Ryu mengingat kalau wine favorit Do Kyung adalah Chateu Mouton-Rothschild, 1989 dan Ha Ryu pun memesan itu. Do Kyung terkejut tak menyangka dengan pilihan wine Ha Ryu. Ia hanya tersenyum dan mengatakan kalau ia juga suka wine yang itu.
“Benarkah?” Ha Ryu pura-pura kaget. Do Kyung berkata kalau wine itu memang bagus dan banyak orang yang suka. Ha Ryu menambahkan khususnya yang berasal dari tahun 1973 yang populer karena dibuat oleh Picasso.
Do Kyung heran dan berkata kalau itu bukan dibuat oleh Picasso, “Apa yang kau bicarakan ini tentang label yang dirancang oleh Picasso?” tanya Do Kyung.

“Ah iya benar label!” Ucap Ha Ryu (wakaka salah ya)
Wine dan makanannya pun datang, keduanya menikmati makan malam mereka. Sambil makan Ha Ryu ingin terus berbincang mengenai Do Kyung. Ia pun ingat kalau film favorit Do Kyung adalah Breakfast at Tiffany’s. 

Ha Ryu pun kembali membuka percakapan dengan mengatakan kalau ia bermimpi menjadi sutradara film sebelum ia menjadi pengacara. “Setelah aku melihat Breakfast at Tiffany’s aku bermimpi menjadi seorang sutradara.”

Do Kyung mengangguk mengiyakan. Ga ada respon yang antusias dari Do Kyung. Ha Ryu kecewa haha. “Apa kau sudah menonton Breakfast at Tiffany’s?” tanya Ha Ryu. “Sudah ratusan kali!” jawab Do Kyung. 
Ha Ryu senang karena Do Kyung meresponnya. Ia menilai kalau Do Kyung pasti sangat menyukai film itu karena sudah menonton ratusan kali. Do Kyung berkata kalu itu sudah sangat lama. Film itu memang menarik karena bercerita tentang seseorang yang mendaki kelas sosial. Ia mengaku kalau dulu dirinya begitu naif. Tapi sekarang ia tak mengasihani tokoh Audrey Hepburn tapi ia lebih mengasihani pria yang berasal dari kelas sosial tinggi yang dimanfaatkan.

(oh filmnya bercerita tentang itu ya, berarti lebih mirip nasibnya Do Hoon dong ya)

“Begitu ya...!” sahur Ha Ryu yang kayaknya si Ha Ryu juga baru tahu nih jalan cerita film-nya hehe.

Ha Ryu bingung mau ngomongin apa lagi. Ia pun berkata kalau hal ini (makan malam) membuatnya memikirkan tentang yang terakhir kali keduanya bersama. “Saat aku membawakan tas mu kau dan aku makan malam seperti ini.” Ia merasa kalau waktu itu sangat tak nyaman dan sekarang pun begitu. Ia merasa kalau makan malamnya dengan Do Kyung kali ini juga tak nyaman. Do Kyung senyum-senyum tipis.
Makan malam pun usai, Ha Ryu membukakan pintu mobil untuk Do Kyung. Sekali lagi Do Kyung mengucapkan terima kasih karena Ha Ryu sudah membantu Do Hoon. Ia berharap kalau Pengacara yang ada di depannya ini sukses selalu.

Ha Ryu bertanya kapan Do Kyung memiliki waktu luang lagi. Do Kyung tentu saja terkejut dengan pertanyaan Ha Ryu. Ha Ryu berkata kalau ia ingin mengajak Do Kyung makan malam diluar. Ia akan menghubungi Do Kyung lagi nanti untuk memastikan waktunya. Do Kyung masuk ke mobilnya, Ha Ryu menatap kepergian mobil Do Kyung.
Huwaa... ternyata benar, Bibi Hong diharuskan segera meninggalkan rumah kontrakan Ha Ryu. Taek Bae bertanya untuk memastikan apa Bibi Hong sudah mengemasi semuanya. Bibi Hong bilang sudah.

Sebelum pergi Bibi Hong menatap rumah itu. Ia sama sekali tak mengerti kenapa pemilik rumah tiba-tiba menginginkan dirinya segera keluar dari rumah ini. Ia cemas bagaimana kalau tak ada orang yang berada di rumah ini ketika Ha Ryu pulang nanti.
Taek Bae meminta Bibi Hong tak perlu khawatir. Ia sangat yakin kalau Ha Ryu akan menghubungi mereka nanti. Bibi Hong berpesan agar Taek Bae jangan mengganti nomor ponsel. Sekali lagi Taek Bae meminta Bibi Hong tak perlu mengkhawatirkannya.

Karena udara sangat dingin Tae Bae mengajak Bibi Hong cepat pergi dari sana. Ia mengatakan kalau dirinya sudah mengosongkan kamar untuk Bibi Hong di tempat tinggalnya. Bibi Hong merasa tak enak, ia merasa bersalah karena harus tinggal sementara di tempatnya Taek Bae. Ia berjanji akan mencari pekerjaan yang menyediakan tempat tinggal dan segera pindah dari kediaman Taek Bae.

Taek Bae tak mengerti, ia menilai Bibi Hong ini sudah bertambah pikun dan bicara hal yang tak masuk akal. “Tinggalah di tempatku dan anggap saja kau tinggal bersama putramu. Tunggu dulu, bukankah aku ini memang putramu!” Bibi Hong terharu mendengarnya. Ia berterima kasih. Keduanya pun segera meninggalkan rumah itu tapi sekali lagi Bibi Hong menatap rumah yang sekarang ia tinggalkan. Rumah yang penuh kenangan.
Di Droptop, Da Hae duduk sendirian menunggu seseorang. Ha Ryu dan Sam Do berada di dalam mobil di luar kafe menatap Da Hae. Sam Do penasaran kenapa tiba-tiba Da Hae ingin menemui Ha Ryu. Ha Ryu juga tak tahu alasannya. Ia mengatakan kalau Da Hae ingin bertemu dengannya secara langsung. Ia sama sekali tak tahu apa yang Da Hae pikirkan sekarang.

Sam Do berpesan agar Ha Ryu menghubunginya jika selesai. Sekarang ia lapar dan akan mencari sesuatu untuk dimakan. Ha Ryu melihat jam tangan, ia heran bukankah satu jam yang lalu Sam Do baru saja makan. “Apa di dalam perutmu ini ada karung?”
“Hei, bahkan kalau aku memakan habis seluruh makanan, siapa kau berkomentar tentang itu?” Protes Sam Do yang tak ingin seseorang mencampuri selera makannya.

“Ah aku muak mendengarmu kelaparan setiap hari!” seru Ha Ryu sambil keluar dari mobil. Hahaha.

“Ah, dasar anak ini...!” gerutu Sam Do haha.
Ha Ryu dan Da Hae pun duduk berhadapan. Ha Ryu menyapa Da Hae dengan ramah, ia mengungkapkan keterkejutannya karena tiba-tiba menerima pesan dari Da Hae. Da Hae minta maaf karena meminta seorang pengacara untuk datang secara tiba-tiba karena ia ada permintaan.

Droptop berencana mengganti pemasok biji kopi. Da Hae ingin memastikan persyaratan dari pemasok yang tidak menyebabkan masalah hukum dikemudian hari.

Ha Ryu tersenyum karena permintaan ini seolah-olah Da Hae tengah mengujinya. Da Hae masih tak percaya Ha Ryu sudah mati. Menurut Ha Ryu sekarang ini Da Hae sedang mengujinya dengan ilmu hukum.

Ha Ryu berkata bukankah akan lebih mudah kalau tim legal perusahaan Baek Hak yang mengatasinya. Da Hae berkata kalau sebelum ia mengalihkan hal ini ke tim legal Baek Hak ada baiknya ia memastikannya terlebih dulu dari sang ahli hukum.
Da Hae menyerahkan dokumennya, ia harap Pengacara Cha ini bisa mengkaji dokumen ini dengan baik. Tapi ia tak bisa terus menemani untuk mengkaji dokumen ini, ia harus mengurus beberapa hal untuk kafe sekarang. Ha Ryu mengerti ia akan mengkajinya. Da Hae tersenyum puas, ia pun meninggalkan Ha Ryu seorang diri.
Da Hae melirik ke seorang wanita yang ada di kafe. Keduanya saling memberikan kode anggukan.
Wanita itu menemui Ha Ryu. Dia mengatakan programnya, ia ingin dunia tahu tentang Dokdo yang merupakan bagian dari Korea Selatan. Jadi organisasinya sedang mengajukan petisi dengan sidik jari. Ia harap Ha Ryu mau berpartisipasi dalam petisi yang mereka ajukan.

Da Hae menatap sinis penuh penasaran, ia yakin kalau pria itu bukanlah Pengacara Cha Jae Woong melainkan Ha Ryu.

Wanita itu bilang kalau hal ini sangat sederhana, Ha Ryu hanya menuliskan alamat dan nama kemudian membubuhkan cap jari sebagai bukti ikut berpartisipasi. Ha Ryu mengerti, ia pun akan membubuhkan cap jarinya.
Da Hae masih menatap sinis, ‘Cha Jae Woong? Kau mungkin bisa mengganti penampilanmu tapi tidak sidik jarimu.’ Batin Da Hae.
Ketika Ha Ryu akan menempelkan jarinya ke kertas petisi, tiba-tiba tangan seseorang menahan tangannya. Ha Ryu terkejut dan menoleh ke orang itu, Sam Do. Da Hae dan wanita itu juga terkejut.
Sam Do menyebut Ha Ryu dengan nama Pengacara Cha dan mengatakan kalau pengacara Cha tak punya waktu untuk melakukan ini. Ia mengatakan kalau pengacaranya ini mendapatkan telepon darurat dari pengadilan. Ha Ryu tentu saja bingung mendengar apa yang diucapkan Sam Do. Dengan ekor matanya Sam Do memberi kode. Ha Ryu pun mengerti dan tersadar kalau Da Hae dibalik semua ini.

Sam Do segera keluar, Ha Ryu akan menyusul tapi Da Hae menahan, apa pengacara Cha sudah akan pergi. Ha Ryu membenarkan dan sesuai alasan yang dibuat Sam Do, ia mengatakan kalau dirinya menerima telepon dari pengadilan. Jadi ia harus pergi sekarang. Ia berjanji akan mengkaji dokumen yang Da Hae serahkan padanya dan akan menghubungi Da Hae lain waktu. Ha Ryu pun segera pergi.
Da Hae bertanya pada wanita itu apa sudah mendapatkan sidik jarinya. Wanita itu bilang belum, ia belum sempat mendapatkannnya. Ini tentu saja membuat Da Hae kesal karena gagal mengungkap siapa sebenarnya pria yang mengaku Cha Jae Woong.
Ha Ryu dan Sam Do sampai di kantor. Ha Ryu segera menghapus cap merah yang menempel di jarinya. Ia tentu saja kesal karena hampir ketahuan oleh Da Hae.

Sam Do jelas marah, “Apa kau tahu apa yang terjadi kalau aku tak menghentikan ini? Kalau dia mendapatkan sidik jarimu, maka semuanya akan berakhir. Bukankah aku sudah bilang padamu jangan sampai ketahuan!”
Sam Do tadi punya perasaan tak enak, ia sungguh berterima kasih pada Tuhan kalau ia datang disaat yang tepat. “Aku melihat Joo Da Hae yang sedang menatapmu dari belakang!”

Perkiraan Ha Ryu ternyata salah, ia mengira kalau Da Hae sedang mengujinya dengan dokumen tadi. Sam Do heran, setelah apa yang Ha Ryu alami apa Ha Ryu masih belum mengenal Da Hae yang sebenarnya. “Tak heran selama bertahun tahun ini kau dibodohi dan kau tak tahu!”
“Hentikan, aku tahu itu!” Ha Ryu menatap kesal Sam Do karena mengungkit masa lalunya.

“Kenapa kau marah padaku karena kesalahanmu?” Sam Do harap kejadian hari ini bisa menjadi pelajaran bagi Ha Ryu. Bukankah hal ini menujukkan bagaimana sebenarnya Da Hae itu. Ha Ryu mengangguk mengerti.

Sam Do tahu kalau rumah lama Ha Ryu itu di Mi Ah-dong. Ia mengatakan kalau Da Hae sudah mengatur sesuatu untuk mengusir wanita yang tinggal disana. Menurutnya Da Hae sedang mencoba menghapus masa lalu. Ha Ryu terkejut Bibi Hong ikut menjadi sasaran. Ia cemas karena Bibi Hong tak punya tempat tinggal lain.

Sam Do yang sudah menyelidiki berkata kalau wanita yang tinggal disana sudah pergi dengan seorang pria yang bernama Taek Bae. Ia harap Ha Ryu tak perlu mengkhawatirkan orang lain lebih baik khawatirkan diri sendiri. “Berapa lama kau berfikir untuk tinggal disini? Bukankah kau juga harus pulang ke rumah ayahmu?” (sebagai Jae Woong)

Ha Ryu bingung bagaimana ia harus pulang ke rumah kakaknya dengan identitas sebagai Jae Woong.
 Ha Ryu pun pulang ke rumah kakaknya menjadi diri Jae Woong. Di rumah ia berlutut di depan Ayah Cha dan Soo Jung. Dua orang ini menatap Ha Ryu penuh keanehan. Ha Ryu menunduk ia tak berani menatap keduanya. Ayah Cha dan Soo Jung saling bertatapan, keduanya terlihat bingung dengan sikap pria yang ada di depan mereka.
 (wakaka nih calon mantu n mertua lucu deh, kepalanya nengleng barengan haha)

Ayah Cha berkata kalau putranya ini sekarang bertingkah aneh. “Kenapa kau melakukan hal yang tak pernah kau lakukan sebelumnya? Kenapa kau berlutut di depanku?”

Bruk.. kaki Ha Ryu tak kuat berlutut. Ia pun duduk bersila dan beralasan itu karena ada sesuatu di pantatnya dan rasanya sakit (bisul ya hahaha)
Soo Jung terus memperhatikan Ha Ryu yang selalu menunduk, “Jae Woong-ssi kenapa kau mengihindar kontak mata denganku? Apa kau melakukan sesuatu yang salah?”

“Tidak!” jawab Ha Ryu pelan. Ia beralasan kalau matanya merah jadi ia tak boleh melihat Soo Jung. Soo Jung merasa kalau ini hanya alasan saja.
 Ayah Cha bertanya, “Apa kau baru saja mengatakan kalau adikmu tiba-tiba bergabung dengan kru kapal penangkap ikan dan sudah berlayar?”

“Ya..!” jawab Ha Ryu pendek sambil terbatuk dan menghindari kontak mata dengan dua orang yang ada di depannya.

Ayah Cha menarik nafas, ia mengerti ternyata saudara kembar Jae Woong ini masih marah padanya. Ia sendiri juga meragukan dan sudah merasa kalau putra kembar yang satunya (Ha Ryu) tak mau bertemu dengannya. Ha Ryu menunduk sedih, sudah tentu ia sangat ingin bertemu dengan ayah kandungnya. 

“Bagaimana dia tak marah padaku? Aku meninggalkannya ketika dia masih kecil.” Ayah Cha tak memaksa, bagaimana pun mereka sudah berusaha. Jelas ini membuatnya sedih. Ia pun permisi akan ke kamarnya.
Soo Jung tentu saja tak percaya kalau saudara kembar Jae Woong pergi berlayar dengan kapal pencari ikan. Ia mengajak pria yang ada di depannya ini ikut dengannya. Ia ingin penjelasan lebih rinci.
Keduanya bicara di kamar Jae Woong. Soo Jung ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kenapa tiba-tiba dia ikut kapal penangkap ikan?” Soo Jung menilai kalau hal itu merupakan suatu kebohongan yang tak masuk akal. Ha Ryu masih menghindari kontak mata dengan Soo Jung. Soo Jung menebak apa saudara kembar Jae Woong belum bisa keluar dari penjara karena melakukan sesuatu disana, jadi dia harus tinggal disana lebih lama, begitu kan? Tebak Soo Jung.

Ha Ryu terkejut wanita ini tahu mengenai dirinya yang dipenjara. Ia pun mengambil kesimpulan kalau kakaknya pasti sudah menceritakan perihal dirinya yang masuk penjara. Apa boleh buat Ha Ryu pun berbohong kepada Soo Jung. Ia membenarkan tebakan Soo Jung.
Soo Jung mengeluh sedih, “Jadi apa yang harus kita lakukan? Betapa malangnya nasib adikmu.”

“Aku sangat lelah!” seru Ha Ryu mencari alasan untuk beristirahat agar Soo Jung keluar dari kamar. Ia mengambil bantal dan akan merebahkan dirinya. Soo Jung ingat ia juga tak pergi ke kantor selama beberapa hari. Ia minta izin kembali bolehkah dirinya libur selama beberapa hari. Ha Ryu terkejut ternyata wanita ini bekerja juga di kantor kakaknya (beruntung donk ya selama Ha Ryu tinggal di kantor Soo Jung ga kesana)
Soo Jung memberi tahu kalau ayahnya akan datang minggu depan. Ia ingin menyusul ayahnya untuk membantu beberapa hal, kemudian kembali bersama-sana.

“Oh ya sudah pergilah!” ucap Ha Ryu yang tak tahu Soo Jung akan pergi kemana.

“Apa itu saja yang akan kau katakan?” Tanya Soo Jung. Ha Ryu bingung mungkin dalam hati ia bertanya memangnya aku harus mengatakan apa. “Apa aku ini akan pergi ke rumah sebelah? Aku ini mau pergi ke Jerman. Jerman lho dan kita tak akan bertemu selama seminggu.” Jelas Soo Jung.
“Oh Jerman!” Ha Ryu berusaha tersenyum, “Semoga perjalanannmu menyenangkan!”

Soo Jung kesal, “Ketika kau melamarku kau gemetaran. Sekarang kau kembali sebagai Pengacara Cha Jae Woong yang dingin. Aku tak seharusnya mengatakan ‘ya’ begitu cepat. Aku seharusnya jual mahal sedikit.” 

Ha Ryu tentu saja terkejut ternyata kakaknya sudah melamar wanita ini. Soo Jung tak mau tahu pokoknya begitu ayahnya kembali dari Jerman, ia mengajak keluarga keduanya untuk saling bertemu untuk menentukan tanggal pernikahan. Ha Ryu tercengang, “Apa pertemuan resmi keluarga?” Soo Jung mengangguk. Ha Ryu mengeluh kalau sekarang ia lelah dan matanya juga merah dan berkata pada Soo Jung kalau keduanya akan membicarakan itu kembali nanti. Ia akan istirahat dulu.

Soo Jung cemberut, “Baiklah. Kali ini aku akan membiarkanmu istirahat karena kau sudah banyak melakukan hal untuk adikmu.” Soo Jung pun keluar dari kamar.

Ha Ryu tentu saja tak istirahat. Itu hanya alasan untuk menghindar dari Soo Jung. Ia bingung ternyata kakaknya sudah melamar wanita ini.
Soo Jung akan pulang. Ia pamitan pada Ayah Cha. Soo Jung melihat disana ada sepatu hitam pria. Ia merasa heran karena baru melihat sepatu itu. Ia kemudian tersenyum merapikan sepatu yang tadi dipakai Ha Ryu. 
Ha Ryu meletakan kembali bantal ke tempatnya ia tak jadi istirahat. Di kamar itu ia melihat foto Jae Woong, ijazah, dan sertifikat lain yang diperoleh kakaknya. Ia melihat sekeliling kamar itu, kamar yang rapi. Banyak buku dan ada foto Jae Woong berdua dengan Soo Jung seperti yang ada di kantor.
Ha Ryu menatap foto kakaknya bersama Ayah Cha. Ia terlihat sedih, “Hyung lihatlah aku. Lebih dari siksaan yang harus kau derita. Ratusan atau ribuan kali, aku akan membalasanya!”
Kira-kira apa yang akan dilakukan Ha Ryu terhadap Soo Jung. Tetap melanjutkan hubungan ataukah ada rencana lain karena ia sendiri tengah berusaha memikat Do Kyung.

Bersambung di part 2

Komentar :

Seperti yang dikatakan Sam Do, Da Hae bukanlah wanita biasa. Dia cerdas. Tentu saja dia tak akan dengan mudah percaya kalau pria yang mirip dengan Ha Ryu ini adalah orang lain.  Apalagi ia menemukan beberapa hal yang mirip sekali dengan Ha Ryu.

Dan seperti yang Sam Do peringatkan supaya Ha Ryu lebih berhati-hati. Sepertinya benar, seandainya penipuan mereka terbongkar bukankah nanti akan ada tuduhan kalau Ha Ryu sengaja melenyapkan Jae Woong untuk kepentingan Ha Ryu sendiri.

Sampai kapankah Ha Ryu akan memakai identitas Jae Woong, apa yang akan dia katakan pada ayahnya mengenai Jae Woong. Apa pula yang harus dia lakukan terhadap Soo Jung, pacar kakaknya.

Note : Oh ya, bagi yang menunggu May Queen tak perlu khawatir atau takut ga dilanjut. Ini karena ada beberapa masalah file video-nya. Saya harus mendownload ulang 3 episode-nya karena file video yang terdahulu ada beberapa yang error.

Kenapa begitu? dulu saya mendownload 2 versi raw. Yang dari youtube n dari IDWS. Karena udah punya yang dari IDWS makanya raw youtube kuhapus, eh ternyata file download-an yang dari IDWS error. Terpaksa saya harus mendownload ulang di doramax264.

Jadi harap maklum ya dan ga perlu berkomentar kapan episode selanjutnya diposting. Kalau memang sudah selesai untuk apa saya simpan lama2 hehe.

21 comments:

  1. wah, blog ini memang paling TOP deh. sinopsisnya bukan asal sinopsis yg kaya blog yg lain. lengkap panjang ga pendek kaya yg lain. hehehe:D

    ReplyDelete
  2. siiip...suka sama backgroundnya .....san oppa :)

    ReplyDelete
  3. hampir saja ha ryu ketahuan, untung ada sam do...
    hmm.. apakah yang akan di lakukan ha ryu terhadap so jung? apa dia akan menikahi so jung dan juga tetap mendekati do kyung? wah wah kalo ntar begitu ha ryu maruk dong yaa masak semua perempuan yg ada di yawang jadi miliknyaa wkwk :v

    blog mba anis emang paling keren, penulisannya sangat akurat dan tajam setajam silet! *eh haha :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. kekecilan silet mah, golok mungkin hahaha.....

      Delete
  4. mba anis sinopsis may queen nya masih kutunggu ya..

    ReplyDelete
  5. mba anis semangat ngelanjutin sinopsisnya y.. :D

    baru kali ini aku liat pemeran utamanya tokoh antagonis.. hehehe..

    ReplyDelete
  6. Mba,may queen ny gmn?

    ReplyDelete
  7. trims buat sinopsisnya.. di tunggun kelanjutannya yach

    ReplyDelete
  8. Setuju dgn Sam Do,Da Hae memang pintar,Ha Ryu tuh polos n bodoh,liat aja gampang banget mau berikan cap jempolnya!!

    Dan setuju juga ama comment2 di atas,sinopsisnya mbak anis emang Okay punya :) lebih terperinci n ceritanya gak diringkas.Sebenarnya aku udh baca sinopsis episode 10 tapi tetep aja balik ke blog mbak anis utk cek udh d post atau blum,soalnya baca disini lebih memuaskan pembaca ^_^

    Oya pict nya kok gak bs muncul semua ya klo baca d hp? pictnya diperkecil mbak anis biar klo baca lewat hp bs liat pict nya juga.Gomawo :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh gitu ya. Ok ntar kukecilin lagi.

      Delete
    2. di reload aja mba kiki, kadang di hp ku juga gambarnya gak muncul/buka tp stlah ku reload gambarnya kelihatan semua :p

      Delete
    3. Oo gitu ya,iya ini gak d reload gambarnya mau kebuka kok,kdg mau kdg enggak.Ya udh ntar klo gak mau kebuka d reload aja.Thanks ya

      Delete
  9. Drama ini beneren bikin orang gila.
    Masa tadi aku mikir, gimana kalau Presidennya itu Presdir Baek, abis kalau Do Hoon, bagiku dia itu terlalu muda buat jadi Presiden. Trus karena Da Hae tahu kalau Presdir Baek lebih berpotensi ( walaupun udah tuwir), jadi dia ninggalin Do Hoon hehehe, just opinion

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dari awal aku juga mikirnya Do Hoon terlalu muda utk jd presiden jd menurutku bukan dia presidennya tapi aku gak berpikir klo yg jd presiden nanti tuh Presdir Baek,pikirku sih yg jd presiden (suami Da Hae) bapak kandungnya Do Hoon (mantan pacar Do Kyung)

      Delete
  10. wah.. pemikiran yg bgus! bisa jadi begitu.. dia kan ratu ambisi pasti dia akan nglakuin apapun untk mendapatkan yg ia inginkan..
    eh ntar si do hoon meninggal kah? hmm.. :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan meninggal dong do hoon sayang cakepp.. Hahaha...

      Delete
    2. haha, do hoon mungkin meninggal di yawang, tapi yg pasti do hoon tidak akan ''meninggal''kan hatiku karna dia cinta mati sama saya wkwk

      Delete
  11. Lanjut sinopsisnya mbak! *baru comment*

    ReplyDelete
  12. Dimana ya download film ini yglengkap? keknya ceritanya bagus neh..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...