Saturday, 11 May 2013

Sinopsis Queen of Ambition Episode 14 Part 2

Ha Ryu berada di kantor pengacara. Ia konsentrasi mempelajari buku hingga kedatangan Soo Jung pun tak ia sadari.
Soo Jung mengetuk meja Ha Ryu dan itu membuatnya kaget. Ia heran kenapa jam segini Soo Jung datang ke kantor, ada apa. Soo Jung malah balik bertanya apa yang Ha Ryu lakukan disini, bukankah ayah Ha Ryu sedang menunggu. Bukannya menjawab Ha Ryu malah bertanya lagi, kenapa ayahnya menunggunya.
Soo Jung kesal, “Apa jangan-jangan kau tak tahu kalau hari ini ulang tahun ayahmu?” Ha Ryu minta maaf ia tak tahu. Soo Jung berkata kalau sekarang ia sudah memberi tahu Ha Ryu. “Kalau kau berakting sebagai Jae Woong, kau harus melakukannya dengan benar. Dia itu seorang anak yang baik, ulang tahun ayahnya ataupun janji bertemu dengan dokter. Jae Woong selalu mengutamakan hal itu untuk diingat dan direncanakan!”
Ha Ryu menunduk mendapatkan omelan dari Soo Jung. (haha lucu liatnya, berasa adik ipar diomelin kakak iparnya)

Soo Jung pun mengajak Ha Ryu menemui ayah Cha bersama. Ia ingat sesuatu dan menyerahkan sebuah amplop pada Ha Ryu. Ia menyuruh Ha Ryu memberikan amplop itu pada ayah Cha. Ha Ryu heran amplop apa ini. Soo Jung berkata karena ini ulang tahun ayah, maka dia akan mengingat putranya yang pergi menghilang kembali. “Kalau kau memberi tahunya bahwa kau sudah menghubungi adikmu dan dia mengirimimu surat, ayah akan senang.”
Ha Ryu membuka amplop itu. Di dalamnya ada surat dan sebuah foto. Foto Ha Ryu di atas kapal bersama sebuah ikan tangkapan. Ha Ryu menganga terkejut melihat foto dirinya. Haha. Ia hampir saja tertawa. Ha Ryu bingung bagaimana Soo Jung membuat foto ini. Soo Jung mengatakan kalau ia mengedit fotonya. “Apa itu terlihat palsu?” Ha Ryu bilang sedikit. Hehe. Keduanya pun pergi menemui ayah Cha membawa foto aneh Ha Ryu haha.
 Mereka bertiga berada di sebuah restouran. Ayah Cha meniup lilin ulang tahunnya. Seperti ulang tahun seorang anak, ayah cha mengenakan topi ulang tahun hehe. Tapi ia merasa tak nyaman mengenakan topi itu. Ia melirik ke sal soo Jung, “Apa kau tahu berapa usiaku? Kenapa kau selalu memintaku memakai ini?”
Soo Jung mengatakan kalau hari ini, hari spesial bagi ayah Cha. Bukankah ayah hanya memakai topi itu setahun sekali. Ia berharap ayah Cha akan memakai topi itu 30 kali lagi. Ayah kaget, “Untuk apa aku hidup selama itu?” Soo Jung menyenggol Ha Ryu.
Ha Ryu mengerti dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk ayahnya. Ia menyerahkan amplop yang berisi foto dan surat Ha Ryu pada ayahnya. Ayah Cha membuka surat itu dan melihat foto editan Ha Ryu. “Siapa ini? ini adikmu, Ha Ryu?”

Ha Ryu menunduk sedih mengiyakan. Ayah menyentuh foto itu dengan wajah sedih penuh kerinduan. Ha Ryu bingung mengatakannya bagaimana. Soo Jung yang mengerti berusaha menjelaskan, “Jae Woong menghubungi adiknya untuk memberi tahu tentang ulang tahun ayah. Jadi dia mengirim surat dan foto. Ayah apa kau bahagia?”

Ayah Cha terus menatap foto itu dan tersenyum. Sambil menangis ia mengatakan kalau ia bahagia. “Kupikir dia tak akan datang menemuiku karena aku telah menelantarkannya. Ternyata dia memang benar ikut kapal nelayan.”
Dalam suasana sedih seperti itu Soo Jung berusaha membuat ayah gembira, “Kenapa ayah menangis di hari bahagia ini?” Ayah Cha pun mengusap air matanya. Ia menyadari kalau seharusnya ia tak boleh menangis di hari bahagia ini. Ayah Cha mengajak Ha Ryu dan Soo Jung minum. Ha Ryu akan menuangkan minuman untuk ayahnya tapi Soo Jung melarang. Ia merebut botol minumannya. Ia mengatakan kalau jantung ayah lemah jadi yang akan minum hanya ia dan Jae Woong saja.

Ayah Cha menuangkan minuman untuk Ha Ryu dan Soo Jung. Ia menggerutu bukankah putranya bilang kalau tak akan menikah, apa itu sudah diralat lagi. Ia kesal karena tak bisa menghadapi Soo Jung kalau putranya bersikap seperti ini. Soo Jung dan Ha Ryu terlihat bingung bagaimana menjelaskannya. Ha Ryu akan mengatakan sesuatu tapi Soo Jung segera menyela meminta ayah Cha tak perlu khawatir.
Soo Jung melingkarkan tangan ke lengan Ha Ryu. Ia mengatakan kalau hubungannya dengan Jae Woong tidak seperti hubungan dimana mereka akan bersama selama satu atau dua hari saja. Ha Ryu dan Soo Jung berusaha terlihat bahagia di depan ayah Cha.
Ayah Cha menuangkan minuman ke gelas mereka. “Hanya karena Jae Woong tidak menyenangkan, hatimu tak boleh berpaling. Kau harus menikah dengan Jae Woong, mengerti?” kata ayah Cha pada Soo Jung. Soo Jung terdiam tapi sesaat kemudian dengan semangat untuk menyenangkan hati ayah ia mengatakan tentu saja dengan siapa lagi ia akan menikah selain dengan Jae Woong. Soo Jung kemudian terlihat terdiam lagi melirik ke arah Ha Ryu. Keduanya saling memandang tak tahu apa lagi yang harus mereka katakan pada ayah Cha. 

Soo Jung meminta ayah Cha segera menyelesaikan makan disini dan mengajak pergi ke tempat ronde ke dua. Pergi ke tempat yang biasa mereka kunjungi bersama. Ayah setuju. Ha Ryu yang tak tahu mereka akan pergi kemana memberi kode bertanya pada Soo Jung, akan pergi kemana.
Mereka bertiga ke tempat karaoke. Ayah Cha menyanyikan sebuah lagu. Soo Jung berteriak mengatakan kalau ayah Cha yang berbaik. Ia meminta ayah menyanyi sekali lagi. Tapi ayah Cha malah mengusulkan pada keduanya untuk menyanyi berduet. “Kenapa kalian tidak menyanyikan lagu yang biasa kalian nyanyikan bersama?”
Ha Ryu dan Soo Jung terlihat bingung. Ha Ryu yang tak tahu tentu saja semakin bingung, lagu apa. Ayah Cha berusaha mengingat-ingat, “Lagu yang itu lho, ya ampun apa ya judulnya. Jae Woong, apa itu judulnya?”
“Ah yang itu!” seru Ha Ryu bersikap seolah tahu lagu yang dimaksud ayahnya.

“Ah benar yang itu!” sahut Soo Jung bersikap seolah ingat lagu yang dimaksud. Padahal ia tentu saja tahu lagu yang sering ia nyanyikan bersama Jae Woong.
Keduanya menyanyi gembira. Ayah Cha mengikuti irama lagu sambil bertepuk tangan. Lagu ini, lagu yang biasa Soo Jung nyanyikan bersama Jae Woong. Tentu saja ia merasa sedih. Ia mengingat kenangan kebersamaannya dengan Jae Woong.

Soo Jung terdiam tak menyanyi. Tanpa terasa air matanya menetes. Semakin lama semakin deras.

Ayah Cha yang melihatnya heran kenapa Soo Jung tiba-tiba terdiam dan menangis. Ha Ryu ikut terdiam melihatnya. Skor dipapan nilai pun menunjukan kalau nilai lagu yang keduanya nyanyikan hanya 45 poin.
Soo Jung terduduk menangis. Ayah Cha yang khawatir bertanya ada apa. Soo Jung tentu saja tidak mengatakan kalau ia sedih mengenang Jae Woong. Sambil menangis ia mengatakan kalau nilai yang didapatkan sangat rendah padahal ia sudah mencoba yang terbaik. Ha Ryu yang melihat kecemasan ayahnya menekankan kalau Soo Jung menangis hanya karena nilai yang didapat ketika berduet sangat rendah.
Pesta ulang tahun ronde kedua pun usai. Soo Jung akan pulang tapi Ha Ryu tak tega membiarkan Soo Jung pulang sendiri dalam keadaan sedih seperti ini. Ia mengikuti Soo Jung. Soo Jung yang tahu kalau Ha Ryu mengikutinya meminta Ha Ryu pergi saja. Ia bisa pulang sendirian.
Ha Ryu mengingatkan apa Soo Jung tadi tak mendengar ayahnya bicara. Ayahnya menyuruh dirinya untuk mengantar Soo Jung pulang. “Karena kau menangis disana, ayah pasti sangat khawatir!”

Soo Jung menyuruh Ha Ryu pergi saja karena ia ingin minum lagi. Ha Ryu yang tak tega meninggalkan Soo Jung sendirian akan ikut minum bersama Soo Jung.
Keduanya pun minum di warung soju di pinggir jalan. Ha Ryu hanya minum sedikit, Soo Jung sudah terlihat mabuk. Melihat Ha Ryu yang tak minum banyak Soo Jung berkata kalau Ha Ryu tak perlu disini kalau memang tak ikut minum. Ia tak masalah kalau Ha Ryu pergi duluan. Ha Ryu mengajak Soo Jung segera pulang.
Setelah menghabiskan minumannya Soo Jung pamitan pada Ha Ryu. Ia akan pulang. Ha Ryu tak bisa membiarkan Soo Jung pulang sendirian malam-malam dalam keadaan mabuk. Ia khawatir dan mengikuti Soo Jung dari belakang. Karena mabuk langkah Soo Jung sempoyongan dan hampir saja terjatuh. Ia segera berpegangan pada dahan pohon yang ada di tepi jalan. Ha Ryu khawatir dan berniat akan membantu tapi ia mengurungkannya. Ia tetap mengawasi dari jauh tanpa disadari oleh Soo Jung.

Soo Jung sampai di depan rumahnya menekan bel rumah. Ia berusaha membuat wajahnya tak terlihat kalau ia sedang bersedih. Setelah melihat Soo Jung masuk rumah Ha Ryu pun meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya di perusahaan Baek Hak. Taek Bae berkunjung kesana. Di lobi perusahaan ia berpapasan dengan Ha Ryu. Keduanya tak saling berbicara hanya memberi kode lewat anggukan saja.
Taek Bae menemui Do Hoon. Ia menunggu di ruangan Do Hoon. Ia membuka amplop berisi foto Da Hae bersama Eun Byul. Taek Bae akan menunjukan foto itu pada Do Hoon. Ketika Do Hoon masuk ke ruangan, Taek Bae dengan segera menyimpan fotonya.
Do Hoon bersikap dingin melihat kedatangan Taek Bae. “Apa itu kau, seseorang yang mau menemuiku untuk bicara mengenai istriku?”

Taek Bae berkata kalau yang akan ia bicarakan juga menyangkut temannya. Bukankah Do Hoon sudah mendengarnya dari Hong Ahn Shim. “Pria yang membiayai Joo Da Hae di Amerika, dia adalah temanku!” 

Do Hoon menahan kesal, “Apa ada alasan bagiku untuk mendengar tentang teman seseorang yang tak kukenal?”
Taek Bae mengatakan kalau temannya ini bekerja seperti anjing untuk mendapatkan uang itu. “Dia menggunakan semua uang itu untuk membiayai Joo Da Hae di Amerika.”

Do Hoon heran kenapa Taek Bae yang melakukan ini, kenapa bukan pria itu saja yang menemuinya. Taek Bae mengatakan kalau pria yang dikhianati Joo Da Hae itu sudah seperti kakak baginya dan juga sudah seperti anak bagi Bibi Hong.
Do Hoon dengan sikap dingin berkata kalau ia bisa tahu alasan Da Hae putus dengan pria itu. “Dia bahkan tak bisa menunjukan dirinya. Dia pasti pecundang yang membuat temannya yang melakukan ini.”

Taek Bae terlihat marah, “Apa kau bilang? Joo Da Hae yang mengkhianati temanku dan itu karena uangmu. Itu bukan karena kau tapi karena uangmu. Kau hanya dimanfaatkan olehnya.”

Do Hoon masih bersikap sabar dan menahan emosi. Ia menyuruh Taek Bae segera pergi dari kantornya kalau tidak ia akan memanggilkan petugas keamanan.
Taek Bae mencibir seberapa banyak yang Do Hoon ketahui tentang Joo Da Hae. Ia mengeluarkan amplop yang berisi foto Da Hae bersama Eun Byul. “Apa kau tak penasaran dengan apa yang kubawa, sudah berapa banyak kebohongan yang Joo Da Hae katakan padamu?”
Do Hoon menatap amplop itu dengan tatapan dingin. Ia mengambil amplop itu dan menghancurkannya di mesin penghancur kertas tanpa melihat isinya. Taek Bae tak menyangka Do Hoon akan menghancurkan tanpa melihatnya terlebih dahulu.
Do Hoon berkata kalau ia sama sekali tak penasaran dengan isinya. “Karena kalian berdua sangat menyedihkan, aku jadi merasa simpatik. Tapi ini yang terakhir kalinya.” Do Hoon menghubungi sekretarisnya ia mengatakan kalau tamu yang berada di ruangannya ini menolak untuk pergi. Ia menyuruh sekretarisnya memanggilkan petugas keamanan. Taek Bae yang kesal keluar dari ruangan Do Hoon. Do Hoon marah dan menggebrak meja kerjanya.
Do Hoon keluar dari ruangan dan melihat Taek Bae berpapasan dengan Da Hae yang baru saja tiba. Ia melihat keduanya saling menyapa di lobi perusahaan.
Da Hae jelas terkejut bertemu dengan Taek Bae di lingkungan Baek Hak. Taek Bae menyapa Da Hae ramah. Da Hae celingukan melihat sekeliling. Ia takut kalau ada dari keluarga Baek yang melihatnya. Do Hoon yang berada di lantai atas melihatnya penasaran. Da Hae ingin tahu kenapa Taek Bae datang ke Baek Hak. Dengan santai Taek Bae mengatakan kalau kedatangannya untuk melihat keadaan Da Hae yang sekarang. Karena takut ada yang memergoki, Da Hae pun mengajak Taek Bae bicara di luar kantor. Ok dan Do Hoon pun mulai berfikir yang tidak-tidak nih.
Da Hae dan Taek Bae berada di kafe. Taek Bae bertanya ada apa Da Hae mengajaknya ke kafe. Da Hae balik bertanya kenapa Taek Bae datang ke lingkungan Baek Hak. Taek Bae mencibir, memangnya kenapa, apa karena Da Hae istri dari pewaris Baek Hak maka ia harus mendapatkan izin dari Da Hae kalau mau datang ke kantor. Da Hae berkata sinis kalau ia tak ada waktu bercanda dengan Taek Bae jadi katakan saja alasan kenapa Taek Bae datang. Taek Bae mengatakan kalau kedatangannya ke kantor Baek Hak bukan untuk menemui Da Hae, jadi ia harap Da Hae bersikap santai saja. Ia datang untuk menemui Ha Ryu.
Da Hae tampak terkejut Taek Bae mengetahui perihal Ha Ryu yang masih hidup. Karena yang ia tahu Taek Bae dan Bibi Hong mengetahui kalau Ha Ryu sudah meninggal. Melihat keterkejutan Da Hae, Taek Bae bertanya kenapa terkejut bukankah Ha Ryu sudah mengatakan pada Da Hae bahwa dia bukan Cha Jae Woong melainkan Ha Ryu. Ia juga tahu hal itu.
Da Hae : “Mencoba untuk menghancurkan pernikahanku, sungguh kekanak-kanakan. Semua ini akal bulusnya ha Ryu, kan?”

Taek Bae mencibir, “Kekanak-kanakan? Akal bulus?”

Da Hae : “Datang ke kantor kami itu akal bulusnya untuk berada di sekitarku. Apa kau pikir aku akan semudah itu.”

“Tidak,” ucap Taek Bae sambil menatap tajam Da Hae. “Kalau kau begitu mudah, kau tak akan meninggalkan Eun Byul dan Ha Ryu untuk menikah dengan pria lain.”

“Jaga ucapanmu!” Da Hae mengingatkan agar Taek Bae tak bicara sembarangan tentang dirinya.

“Kau yang jaga ucapanmu.” sanggah Taek Bae. Ia tak punya waktu untuk bicara dengan Da Hae seperti ini. Ia memperingatkan kalau keduanya pasti akan bertemu lagi.
Taek Bae akan pergi tapi Da Hae menahan tangannya, “Aku peringatkan kau. Kalau kau terus memprovokasiku aku tak akan mentolerirnya.”

“Baik!” tantang Taek Bae. “Lakukan apapun yang kau suka!”
Taek Bae akan pergi meninggalkan kafe tapi ia berhenti dan berbalik menatap Da Hae. “Joo Da Hae, semoga kau gagal!”
Do Hoon berada di kantornya memikirkan semua yang terjadi hari ini. Ia mengingat perkataan Taek Bae yang mengatakan kalau Da Hae mengkhianati teman Taek Bae bukan karena Do Hoon tapi karena uang yang dimiliki Do Hoon. Ia mengaitkan perkataan Taek Bae tadi dengan apa yang dilihatnya di lobi perusahaan. Do Hoon yang sedang galau menghubungi Jae Woong Hyung. Ia mengajak Ha Ryu minum bersama.
Do Hoon dan Ha Ryu berada di sebuah bar. Do Hoon minum hingga mabuk untuk menghilangkan keresahannya. Ha Ryu yang menemani hanya minum sedikit. Ia heran kenapa tiba-tiba Do Hoon bersikap seperti ini. “Kenapa kau tak menceritakan apa yang mengganggu pikiranmu? Jangan hanya minum!”
Do Hoon sedikit tertawa, “Kenyataan bahwa aku memiliki sesuatu yang ingin kulindungi dan tak ingin kehilangan, aku tak tahu kalau ini akan begini sulit!”

“Apa maksudmu?” tanya Ha Ryu.

Do Hoon mengatakan kalau ia belum pernah ingin memiliki sesuatu sejak ia masih kecil. Karena sebelum ia menginginkannya kakaknya sudah memberikan semua untuknya. “Untuk alasan itu, aku tak peduli entah aku memiliki sesuatu atau tidak. Tak ada yang ingin kujaga.”
“Lalu? Sekarang, apa kau memiliki sesuatu itu?” Ha Ryu seperti menuntut penjelasan Do Hoon lebih panjang padahal ia sepertinya sudah tahu kemana arah penjelasan Do Hoon.
Do Hoon : “Walaupun membuat keributan dalam keluarga dan penolakan dari kakakku, apa kau tahu kenapa aku menikahi Da Hae? Da Hae menjadi wanita pertama yang ingin kujaga. Itulah sebabnya dia adalah wanita yang ingin kulindungi.”

Wajah Do Hoon kemudian berubah sedih dan kembali minum. Tapi Do Hoon sudah mabuk dan tanpa sengaja menumpahkan minumannya. Ha Ryu khawatir apa Do Hoon tak apa-apa. Do Hoon tersenyum mengatakan kalau ia baik-baik saja. “Bagimu, kakakku itu orang yang seperti apa?” tanya Do Hoon.

Ha Ryu mengangkat sedikit ujung bibirnya berusaha tersenyum. Ia tak menjawab pertanyaan Do Hoon. Ia hanya meminum minumannya.
Ha Ryu mengantar Do Hoon yang sudah mabuk pulang ke rumah. Do Kyung heran kenapa Do Hoon begitu mabuk, ia bertanya apa yang terjadi. Da Hae membantu memapah Do Hoon. Ha Ryu minta maaf, ia tak bisa mencegah Do Hoon yang banyak minum.
Do Kyung menyuruh Da Hae membawa Do Hoon ke kamar. Ketika akan menuju kamar Do Hoon menggenggam tangan istrinya. Langkah keduanya terhenti. Do Hoon menatap Da Hae dengan tatapan sedih huhu. Keduanya ke kamar.
Do Kyung berterima kasih karena Ha Ryu sudah mengantar Do Hoon pulang. Ha Ryu permisi mohon diri. Do Kyung berkata kalau ia akan mengantar Ha Ryu pulang. Tapi Ha Ryu bilang tak usah. Do Kyung memaksa akan mengantar. Ia meminta Ha Ryu menunggu sebentar. Ia akan mengambil kunci mobil dulu.

Do Kyung bergegas ke kamarnya. Ia mengambil kunci mobil dan sweater-nya. Tanpa sengaja ia melihat dirinya di pantulan cermin. Ia memperhatikan penampilannya. Do Kyung membuka lemari mencari sweater yang lebih baik. Ia menemukan dan langsung mengenakannya. Sesaat ia terhenti menyadari apa yang dilakukannya. Ia segera keluar dari kamar untuk mengantar Ha Ryu pulang.
Di dalam mobil keduanya diam tak bicara. Ha Ryu menoleh menatap Do Kyung yang tengah menyetir. Do Kyung bertanya ia harus belok kanan atau belok kiri di persimpangan nanti. Tak ada jawaban dari Ha Ryu. Do Kyung heran dan menoleh menatap Ha Ryu. Keduanya pun bertatapan. “Apa kau ingin minum?” tanya Ha Ryu.
Keduanya pun memutuskan untuk sejenak minum wine. Do Kyung pun mulai membicarakan perihal Do Hoon. Sejak Do Hoon berhenti berolah raga ia tak pernah melihat Do Hoon semabuk itu. Ia ingin tahu apa Do Hoon tak menceritakan masalah Do Hoon pada Ha Ryu.

Ha Ryu bilang tidak. Ia tak menyangka bahkan disaat seperti ini Do Kyung masih mengkhawatirkan Do Hoon. Ia menilai kalau Do Kyung pasti sangat menyayangi Do Hoon. “Aku mengerti kenapa kau begitu mengkhawatirkan Do Hoon, tapi aku tak mau kau terluka!”
Do Kyung berkata meskipun ia terluka tapi tetap saja ia tak berdaya untuk membantu Do Hoon. Karena biasanya seseorang yang lebih mencintai-lah yang akan menjadi lemah. Ha Ryu menilai itu filosofi yang omong kosong. Kalau memang Do Kyung lebih mencintai seseorang apa itu sebuah kerugian. Kalau Do Kyung lebih mencintai, apa hal itu akan membuat Do Kyung bodoh. Do Kyung merasa bukankah memang seperti itu adanya. Ha Ryu berharap Do Kyung berhenti mengkhawatirkan orang lain. Lebih baik jalani hidup Do Kyung sendiri.

Do Kyung tak mengerti apa maksudnya.
Ha Ryu berharap agar Do Kyung lebih sering mengungkapkan perasaan. “Kalau kau tak suka, marahlah. Kalau kau suka, tersenyumlah. Kalau kau sedih, menangislah. Hiduplah seperti itu!” Ha Ryu berkata karena kenangan menyakitkan dari masa mudanya, ia memutuskan untuk egois ketika berurusan dengan cinta. “Kalau aku bisa mencintai lagi, aku akan membiarkan hatiku pergi kemanapun yang dia inginkan.”

Do Kyung menatap diam meresapi apa yang Ha Ryu katakan. Keduanya saling bertatapan cukup lama.
Keduanya berdiri di depan restouran menunggu supir yang akan menjemput Ha Ryu. Tapi yang ditunggu tak juga datang. Keduanya berdiri beriringan dalam diam. Do Kyung merasa kalau supir yang dipanggil akan lama datangnya. Ha Ryu berkata kalau supir yang dipanggilnya akan segera datang. Keduanya kembali terdiam.
Do Kyung membetulkan letak sweater-nya agar lebih hangat dipakai. Tapi ketika ia menjatuhkan tangannya ke samping tak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Ha Ryu. Keduanya sama-sama terkejut, keduanya sama-sama diam.
Jemari Do Kyung gemetaran dengan sentuhan itu. Tanpa menoleh, secara perlahan tangan Ha Ryu menggenggam tangan Do Kyung. Do Kyung yang terkejut menoleh menatap Ha Ryu. Tapi ia membiarkan Ha Ryu menggenggam tangannya.
Keduanya menoleh dengan tatapan semakin dalam (huwaaa saya deg-degan) Ha Ryu semakin erat mengenggam tangan Do Kyung. Do Kyung pun demikian ia pun turut menggenggam tangan Ha Ryu.
Perlahan Ha Ryu menarik Do Kyung kepelukannya. Do Kyung membenamkan diri ke pelukan Ha Ryu. Tangannya perlahan terangkat untuk mendekap Ha Ryu. Do Kyung merasakan kenyaman dalam pelukan itu.
Do Kyung sampai di rumah ia berada di kamarnya. Hmmm Do Kyung galau nih memikirkan perasaannya pada Ha Ryu. Setelah sekian lama ia kembali merasakan yang namanya cinta.
Ha Ryu sampai di kantor pengacara. Ia menyalakan lampu. Disana Sam Do yang sudah memejamkan mata terbangun melihat kedatangan Ha Ryu. Sam Do heran kenapa Ha Ryu datang malam-malam begini ke kantor. Ha Ryu membuka plastik yang ia bawa, isinya minuman (ya ampun mau minum lagi).

Melihat dua botol minuman Sam Do makin heran kenapa Ha Ryu membawa minuman, apa terjadi sesuatu di Baek Hak.
Ha Ryu menjawab tidak. “Ketika aku memikirkan tentang Joo Da Hae aku lebih berniat untuk balas dendam. Tapi ketika aku memikirkan Do Hoon dan Do Kyung sejujurnya aku merasa tak enak.”

Sam Do tak mengerti apa yang Ha Ryu bicarakan. Ha Ryu mengatakan kalau mempermainkan perasaan orang itu membuatnya tak nyaman. Sam Do menebak apa jangan-jangan Ha Ryu sudah benar-benar jatuh hati pada Do Kyung. Ha Ryu menegaskan kalau ia benar-benar seperti itu maka ia pantas untuk dihukum.

Sam Do heran kalau memang tidak demikian kenapa Ha Ryu tiba-tiba jadi lembut seperti ini. Ha Ryu meyakinkan kalau perang yang ia lakukan ini hanya antara dirinya dengan Da Hae. Ia merasa bersalah terhadap mereka yang ikut terlibat.

“Merasa bersalah?” Sam Do menegaskan kalau yang namanya balas dendam tak melibatkan yang namanya perasaan bersalah. Kalau Ha Ryu berfikir begitu, seharusnya tak usah memulai ini. “Kau memulai ini karena Eun Byul. Kau juga membuat janji di depan almarhum kakakmu yang kau temui setelah tiga puluh tahun. Kau harus kuat. Kau harus memikirkan Joo Da Hae saja!”
Mendengar ucapan Sam Do, Ha Ryu kembali termotivasi seperti tujuan awalnya. Ia mengepalkan tangan membenarkan ucapan Sam Do. Ia pun berjanji mulai sekarang ia hanya akan memikirkan bagaimana mengirim Joo Da Hae ke neraka. Setelah itu, ia akan siap menerima hukuman yang akan diberikan padanya.
Keesokan harinya di kediaman keluarga Baek. Do Hoon bersiap-siap akan pergi. Melihat suaminya tengah bersiap-siap Da Hae membantu memasangkan dasi. Ia bertanya apa Do Hoon akan pergi. Do Hoon mengatakan kalau ia ingin minta maaf pada Jae Woong hyung tentang kejadian semalam. Ia ingin pergi makan sup penghilang mabuk dengan Jae Woong Hyung.
Da Hae tersenyum berkata kalau ia sudah membuatkan sup ikan untuk Do Hoon. Ia harap Do Hoon tak pergi. Do Hoon tersenyum memeluk Da Hae. Ia minta maaf tak bisa makan sup ikan bersama Da Hae. Ia harus menemui Jae Woong hyung-nya.
Do Hoon sampai di depan ruangan kantor pengacara. Melihat pintu ruangan sedikit terbuka Do Hoon akan masuk tapi ia tekejut melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu. Disana ia melihat Hong Ahn Shim. Do Hoon terkejut melihat Bibi Hong ada di kantor pengacara Cha. Ia heran ada hubungan apa Bibi Hong dengan pengacara Cha.

Bersama Bibi Hong ada pula Sam Do dan Ha Ryu. Bibi Hong membawakan banyak makanan untuk keduanya. Do Hoon masih berdiri di depan pintu. Ha Ryu heran melihat begitu banyak makanan, “Ahjumma apa kau membuka warung makan? Kenapa kau membawa begitu banyak makanan?”
Bibi Hong menyahut kalau Ha Ryu tak suka, katakan saja. Sam Do menyahut kalau ia menyukainya, ini enak. Bibi Hong akan meletakan sisanya di kulkas dan menyuruh Ha Ryu untuk membawanya ke rumah. Kalau semua makanan ditinggalkan di kantor ia takut seseorang akan menghabiskannya, kata Bibi Hong sambil melirik Sam Do.
“Aku?” Seru Sam Do. Ha Ryu mengerti ia akan membawa pulang masakan Bibi Hong. Ia menyuruh Bibi Hong cepat membuka restouran. Dan di pintu Do Hoon sudah tak terlihat, kemana dia.

Sebelum pergi Bibi Hong bertanya pada Sam Do selaku pemilik restouran. Kapan bos-nya ini akan datang ke restouran. Sam Do mengatakan kalau ia tinggal di kantor pengacara di pagi hari dan ia akan ke restouran di sore harinya. Bibi hong mengerti, ia akan meletakan makanan sisanya di kulkas tapi ha ryu melarang biar ia saja yang melakukannya.
Ha Ryu memberikan sejumlah uang pada Bibi Hong untuk ongkos taksi tapi Bibi Hong menolak. Ha Ryu memaka ia menyuruh Bibi Hong naik taksi jangan naik bus. Bibi Hong pun menerimanya.
“Hong Ahn Shim-ssi, hati-hati ya!” seru Sam Do tiba-tiba muncul di pintu sambil cengingisan. Ha Ryu kesal melihat tingkah Sam Do. Sam Do tertawa mengatakan ini karena ia menyukainya (Hahaha) Keduanya kembali masuk ke ruangan.
Do Hoon keluar dari persembunyiannya setelah Ha Ryu dan Sam Do masuk. Ia ternyata masih ada disana. Do Hoon heran dan bingung kenapa Pengacara Cha kenal dengan Hong Ahn Shim, ada hubungan apa diantara keduanya.
Do Hoon kembali ke mobilnya. Ia benar-benar tak mengerti dengan semua yang ia saksikan. Hong Ahn Shim dan pengacara Cha. Ia teringat ucapan Taek Bae ketika menemuinya bahwa pria yang dikhianati oleh Da Hae sudah seperti hyung bagi Taek Bae dan sudah seperti anak bagi Bibi Hong. (apa Do Hoon mulai curiga yang tidak-tidak)
Ha Ryu ke rumah keluarga Baek karena Presdir yang memanggilnya. Tak hanya Ha Ryu, Presdir juga meminta Da Hae menemuinya. Da Hae minta izin ke kemarnya terlebih dahulu untuk meletakan tas.
Ha Ryu melihat Do Kyung akan pergi, ia bertanya apa Do Kyung akan pergi. Ia meminta Do Kyung menunggunya sebentar. Setelah ia bicara dengan Presdir ia mengajak Do Kyung pergi bersama dengannya. Do Kyung tersenyum mengerti dan mempersilakan Ha Ryu bicara dengan ayahnya terlebih dulu.
Ha Ryu dan Da Hae berada di kamar Presdir. Sebagai ketua dan konsultan yayasan kedunya mendengarkan penjelasan Presdir. Presdir menjelaskan bahwa yang ingin dilakukan oleh yayasan Baek Hak adalah membantu salah satu calon dalam pemilihan Presiden negara ini. Tapi kalau diketahui bahwa perusahaan swasta seperti Baek Hak terlibat dalam pemilihan presiden maka itu akan menjadi akhir bagi Baek Hak.
Presdir menyuruh keduanya untuk memperketat keamanan. Keduanya mengerti. Presdir memberikan koper untuk keduanya. Ia menyuruh keduanya untuk melihatnya di rumah ini saja. “Dan ingat, setelah kalian selesai membacanya bawa kembali ke ruangan ini. Rincian tentang dokumen ini bahkan pada Do Kyung ataupun Do Hoon itu harus dirahasiakan!”
Da Hae membaca dokumen yang ia terima dari Presdir di kamarnya. Tepat saat itu Ha Ryu masuk ke kamarnya.

Da Hae marah apa yang dilakukan Ha Ryu, “Beraninya kau masuk kesini!”
Ha Ryu melihat-lihat isi kamar. Ia mengatakan kalau dirinya ada di posisi dimana ia bisa masuk ke ruangan ini. Bukankah sekarang ini ia konsultan pengacara di yayasan jadi wajar saja kalau ia di kamar berdua dengan Da Hae. Da Hae meminta Ha Ryu berhenti bersikap sinis seperti itu.
Bersamaan dengan itu, Do Hoon sampai di rumah. (huwaaaaaaa)

Da Hae menyuruh Ha Ryu keluar dari kamarnya sebelum ia berteriak. Ha Ryu tak peduli, ia malah menantang silakan berteriak karena dengan begitu Do Kyung bisa masuk ke ruangan ini dan melihat dokumen-dokumen itu. “Bukankah sudah kukatakan apa yang kuinginkan? kita mati bersama-sama.”

Do Hoon mulai menaiki tangga, ia menuju kamarnya.
“Apa yang kau ingin aku lakukan?” tanya Da Hae menahan marah.

“Apa yang bisa kau lakukan?” balas Ha Ryu.

Da Hae : “Apa yang harus kulakukan? Apa kau mau aku berlutut? Aku bisa melakukan hal yang lebih buruk. Aku tak akan mundur dari posisi ini. Jadi kau menyerahlah!”

Ha Ryu : “Apa kau begitu menyukai tempat ini?”

Da Hae menegaskan kalau ia tak akan kembali ke kehidupannya yang dulu. “Aku baru saja mendapatkan sayapku dan terbang. Aku tak akan jatuh. Untuk melakukan itu, aku akan melakukan segalanya,”
Da Hae kemudian berlutut di depan Ha Ryu. Ha Ryu menatap sinis apa yang dilakukan Da Hae. Do Hoon semakin dekat menuju kamarnya.

“Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih buruk!” Da Hae menatap tajam Ha Ryu sambil berlutut.
Huwwwaaaaaaa tegang.... Ending setiap episode selalu bikin penasaran.

1 comment:

  1. waaaa.....tegang bnget mbk....,,,,!!!!
    di episode kali ini aku puassss mantengin wjhnya Do hoon....wkkkkkkk,


    Mamamzarr

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...