Monday, 7 July 2014

Sinopsis Queen of Ambition Episode 19 Part 2

Ha Ryu menyerahkan dokumen rahasia Baek Hak pada Presdir. Presdir merasa kalau ia sudah berhutang budi pada Ha Ryu. Ia akan membalas apa yang sudah Ha Ryu lakukan untuknya.


Ha Ryu akan pamit pergi tapi Presdir Baek memberi tahu kalau sekarang Do Kyung ada di kamar dan sedang tak sehat, dia bersama dokter. Bisakah Ha Ryu membantu Do Kyung agar merasa lebih baik.
Do Kyung terdiam sedih di kamarnya. Dokter ada di sampingnya memeriksa infus yang terpasang pada Do Kyung. Dokter merasa kalau obat-obatan sepertinya tak berguna lagi bagi Do Kyung. Ia meminta Do Kyung jangan memikirkan hal lain dan lebih baik beristirahat. Do Kyung berterima kasih pada dokter.
Ketika dokter keluar dari kamar giliran Ha Ryu yang masuk. Do Kyung malas bertemu orang lain dan memalingkan wajahnya.
Ha Ryu mengerti bagaimana perasaan Do Kyung. Tapi apapun itu, yang Do Kyung lakukan tidaklah benar. “Ketika putriku meninggal, aku merasakan hal yang kau rasakan sekarang. Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku ingin memutilasinya dengan tanganku sendiri. Tapi itu tak akan membawa putriku kembali. Ketika aku kehilangan pikiran karena begitu merindukan putriku, ketika aku merasa ingin mati karena merasa bersalah karena kakakku, aku membayangkan Joo Da Hae tulus meminta maaf dan memohon pengampunanku. Dengan begitu amarahku bisa mereda dan balas dendam akan berakhir.”
Air mata Do Kyung menetes mendengar ucapan Ha Ryu. Begitu pun Ha Ryu, ia menitikan air mata mengatakan semua itu pada Do Kyung.
Soo Jung masih di depan gedung pertemuan menunggu gelisah kedatangan Da Hae. Ketika melihat Da Hae keluar dari taksi ia lega. Ia bertanya apa yang terjadi pada Da Hae karena tiba-tiba menghilang. Da Hae melihat tas-nya ada di tangan Soo Jung. Soo Jung menyerahkannya pada Da Hae. Da Hae berterima kasih dan tak mengatakan apapun.
Da Hae berjalan sempoyongan dan hampir jatuh. Soo Jung membantunya dan bertanya apa Da Hae baik-baik saja. Soo Jung membantu Da Hae masuk ke dalam kamar hotel.
Soo Jung menghubungi Ha Ryu memberi tahu semuanya. Ha Ryu berterima kasih atas bantuan Soo Jung. Soo Jung bilang Ha Ryu tak perlu berterima kasih begitu, ia tahu kalau Ha Ryu sudah bekerja keras dan canggung bertanya apa Ha Ryu sudah makan.

Ha Ryu terkekeh mendengar pertanyaan Soo Jung dan menjawab belum. Soo Jung bertanya lagi apa ia sudah melakukan hal yang baik hari ini. Ha Ryu kembali terkekeh dan menjawab ya.

(Hahaha agak ngarep juga Kwon Sang Woo dipasangin lagi sama Go Joon Hee. Masih gregetan gitu hahaha)
Disebuah taman dimana dapur umum tempat makan gratis bagi para tuna wisma. Banyak tuna wisma makan disana. Sam Do berada disana untuk mencari tuna wisma yang membeli mobil gelap.

Sam Do berusaha terlihat akrab dengan seorang tuna wisma yang sedang makan. “Aku membutuhkan mobil gelap.” sambung Sam Do menyelidiki dengan cara meminta bantuan. Tuna wisma itu cuek dan tetap makan. Karena orang itu cuek Sam Do pun menebak bahwa bukan dialah orangnya. Namun ada seorang tuna wisma yang tak sengaja mendengar ucapan Sam Do.
Sam Do terus berkeliling bertanya ke tuna wisma satu ke yang lain. Bertanya namun menyelidiki. “Apa kau mau uang? Aku hanya perlu membeli mobil.” Tuna wisma lain sebel makannya diganggu oleh Sam Do.

Sam Do mengeluh kalau ini tidaklah mudah, tidak mudah mencari tuna wisma yang ia cari. Ia pun berteriak lantang, “apa ada orang yang bisa membantuku mendapatkan mobil gelap? Aku akan membayarmu dengan pantas.”
Seorang tuna wisma terus memperhatikan Sam Do. Orang itu tanpa sengaja menjatuhkan tempat makannya. Sam Do mendekati pria itu, pria itu gugup dan memalingkan wajahnya. Sam Do tanya apa pria itu tahu mobil gelap. “Jika kau meminjamkan aku namamu kau bisa mendapatkan uang.” selidik Sam Do. Tuna wisma itu diam.

Sam Do pergi, si tuna wisma terus melihat ke arah Sam Do. Tapi ketika Sam Do berbalik menatapnya, si tuna wisma itu memalingkan wajah pura-pura tak melihat. Sam Do curiga.
Taek Bae berada di gedung tua untuk menyelidiki tentang bom pesanan. Seorang pria datang menghampiri dan bertanya apa Taek Bae datang karena iklan di internet. Taek Bae membenarkan dan bertanya apa benar-benar bisa memungkinkan menyetelnya hanya dengan satu tombol. Pria itu berkata kalau itu tergantung apa yang ingin Taek Bae ledakan, yang mudah atau yang sulit.

Taek Bae berkata kalau akhir-akhir ini ada ledakan mobil, seperti itulah yang ia inginkan. Pria itu tertawa dan curiga, “kau siapa? Apa kau dari kepolisian? Atau kau bekerja untuk kepolisian? Berani-beraninya kau mengaitkanku dengan ledakan itu?” Pria itu tak mau berurusan dengan Taek Bae. Kalau Taek Bae masih mengganggunya, ia mengancam Taek Bae akan terluka.
Taek Bae dan Sam Do kembali ke restouran melaporkan apa yang keduanya dapatkan pada Ha Ryu. Sam Do mengatakan kalau ia sudah memeriksa semua dapur tapi tak seorang pun yang datang. “Kita seharusnya menggunakan kecantikan Bibi Hong.” Kelakarnya sambil melirik ke arah Bibi Hong yang sedang mengelap meja. (hahaha)

Bibi Hong bertanya lalu bagaimana dengan Taek Bae, apa yang didapatkan. Taek Bae bilang kalau pria itu marah dan kabur. Bibi Hong heran kenapa marah, memangnya apa yang Taek Bae katakan pada pria itu. Taek Bae berkata kalau ia meminta untuk dibuatkan bom rakitan yang akhir-akhir ini meledakan mobil. Tapi pria itu malah bertanya apa ia bekerja pada kepolisian atau semacamnya.
Plok plok Sam Do menabok Taek Bae. “Hey, aku juga pasti akan kabur. Semua pembuat bom rakitan ilegal pasti khawatir dengan kasus itu. Jika kau mengungkitnya mereka tentu saja akan curiga. Bagaimana bisa kau mengacaukannya seperti ini?”

Sam Do mengambil makanan yang ada di depannya, ia kesal apa Taek Bae tak bisa menukarnya dengan baik. “Ini kan rasa kal bi, tukar sana dengan rasa kue ikan!” Perintahnya pada Taek Bae.
Taek Bae sewot kalau Sam Do yang membelinya bukankah seharunya Sam Do sendiri yang menukar, kenapa menyuruhnya. Bibi Hong membenarkan kenapa Sam Do malah menyuruh Taek Bae. Sam Do bilang kalau pemilik toko membolehkan orang lain yang menukarnya, asalkan ia punya bon-nya. Ia menyuruh Taek Bae menukarnya.
Ha Ryu memperhatikan bon yang ada di tangan Sam Do. Ia mengambilnya. Sam Do heran, kenapa lagi.

Ha Ryu : “ini alibinya Joo Da Hae.”
Ha Ryu mendatangi toko yang tempo hari didatanginya. Toko yang merupakan albi Joo Ha Hae. Ha Ryu kembali menunjukan foto Da Hae ke pelayan itu, “Kau bilang orang ini datang menukar barang.” Pelayan membenarkan.

Ha Ryu tanya apa pelayan itu juga ingat siapa yang membeli barang itu, bukan orang yang menukar tapi orang pertama yang membelinya. Pelayan mengatakan karena orang ini (Da Hae) yang datang menukar maka dia lah orang pertama yang membelinya.
Ha Ryu : “Kau memberi tahu polisi bahwa kau mengingat wanita di dalam foto itu. Maksudmu itu orang yang datang untuk menukarnya kan?”

Pelayan membenarkan, tapi seharusnya wanita ini yang membelinya karena dia yang datang menukarnya. Di samping itu, barangnya dibayar dengan kartu kredit.

Ha Ryu menilai bisa saja orang lain yang membelinya. “Apa memungkinkan untuk menukar selama kau punya bon-nya?”

Pelayan berkata kalau hal itu mungkin saja bagi wanita itu menyuruh orang lain membeli dengan kartu kreditnya dan wanita itu sendiri yang datang untuk menukarnya. Ha Ryu pun mengambil kesimpulan kalau pelayan itu tak mengingat yang membeli barang itu tapi si pelayan hanya ingat bahwa wanita itu datang untuk menukar. Pelayan membenarkan. Ha Ryu tersenyum berterima kasih.
Ha Ryu menemui Detektif Nam di kantor polisi. “Sekitar pukul 4 sore, diwaktu kami seharusnya bertemu Joo Da Hae menyuruh orang lain yang membeli barang itu. Ketika kau melakukan transaksi dengan kartu kredit maka akan terlihat waktu transaksinya. Karena itu kenapa dia sengaja menggunakan kartu kreditnya. Alibi Joo Da Hae itu dipalsukan. Detektif Nam, tolong lakukan investigasi ulang!”

Detektif Nam mengerti sekarang ini pihak kepolisian sedang memeriksa rekaman CCTV di toko. Ia harap Ha Ryu bersabar.
Seorang polisi menyerahkan hasil rekaman CCTV pada Detektif Nam. Polisi itu mengatakan diselang waktu antara 30 menit sebelum dan sesudah kecelakaan, Joo Da Hae tak ada di dalam rekaman.

Detektif Nam terkejut, dia tidak ada?

Ha Ryu menyahut tentu saja tidak ada, karena saat itu Da Hae sedang berdiri tepat di depannya dan di depan Do Hoon.
Detektif Nam : “Jika apa yang kau katakan itu benar apa kau bermaksud mengatakan dia sendiri yang menyiapkan ponsel ilegal, mobil gelap, dan bom rakitan? Itu sulit dipercaya?”

Ha Ryu berkata kalau ada seseorang yang membantu Joo Da Hae. “Itu kakak tirinya, Joo Yang Hoon. Karena dia juga memiliki catatan kriminal, kau bisa memeriksanya.”
Detektif Nam mengetik nama Joo Yang Hoon di laptopnya, dan benar ada nama Joo Yang Hoon sebagai tersangka dengan kasus tertentu.

Ha Ryu : “Demi Joo Da Hae, orang ini bersedia melakukan apapun. Detektif Nam, kumohon percaya padaku dan lakukan investigasi ulang.”
Di kantor pusat Seok Tae Il, Da Hae meminta Soo Jung untuk memeriksa media yang berada dipihak oposisi dan serahkan itu padanya. Soo Jung mengerti.

Da Hae tersenyum Soo Jung melakukan itu, ia membolehkan Soo Jung merasa nyaman jika didekatnya. “Apa kita bisa makan malam bersam ayahmu besok? Semakin sering kita bertemu kita akan saling nyaman.” Soo Jung minta maaf ia sudah ada janji. Da Hae mengerti dan tak memaksa.
Da Hae menerima telepon dan tampak terkejut mendengar sesuatu dari sebrang sana. Soo Jung heran melihatnya.
Joo Yang Hoon saat ini sudah berada di kantor polisi dan duduk di ruang interogasi bersama Detektif Nam. Detektif Nam bertanya, “pada pukul 4 sore dihari ledakan terjadi anda ada dimana?”

Yang Hoon kesal, berapa kali ia harus bilang kalau saat itu ia sedang tidur. “Aku tak punya kerjaan dan aku bosan, jadi aku tidur siang.”
Kini giliran Da Hae di ruang interogasi. “Anda dimana saat itu Joo Da Hae-ssi?”

Da Hae : “Kupikir alibi ku sudah dikonfirmasikan. Aku berbelaja di toko stasionari dan kembali.”

Detektif Nam membenarkan Da Hae sudah mengatakan itu, tapi saat itu Da Hae tak terekam kamera CCTV di toko tersebut. “Anda ada di rekaman CCTV ketika pergi menukar barang di stasionari. Bagaimana bisa kau tak ada di rekaman pukul 4 sore?”

Yang Hoon lagi yang diinterogasi.
Detektif Nam : “Ponsel ilegal, mobil gelap dan bom rakitan apa anda yang menyiapkan semuanya Joo Yang Hoon?”

Yang Hoon menolak tuduhan itu. Detektif Nam meninggikan suaranya dan berkata kalau Yang Hoon juga memiliki catatan kriminal.
Da Hae kesal karena Detektif Nam memintanya datang kesini disaat ia ada jadwal kampanye. Apa Detektif Nam memperlakukannya seperti kriminal. Ia akan meminta pengacara. Ia tak akan mengatakan apapun hingga pengacara datang. Detektif Nam mempersilakan.
Da Hae dan Yang Hoon berada diluar kantor polisi. Yang Hoon mengingatkan alibi yang Da Hae buat itu kurang kuat, apa yang akan Da Hae lakukan selanjutnya.

Da Hae berkeyakinan dengan alibinya ia bisa membuat alasan kalau itu keluar karena ia ketakutan. Ia yakin ia akan menemukan cara yang ampuh. “Tanpa bukti maupun saksi mereka tak bisa melakukan apapun. Karena itu, oppa kau pergi temui tuna wisma itu dan tutup mulutnya.” Yang Hoon mengerti.
Ayah mengajak Ha Ryu makan di restouran. Ha Ryu heran memangnya ada acara apa ayahnya ingin makan ditempat seperti ini. Ayah juga heran memangnya kenapa apa ia tak bisa minta untuk makan ditempat seperti ini, apa putranya ini berharap ia makan makanan rebusan setiap hari. Ha Ryu tertawa menjawab bukan begitu.

Ayah mengatakan kalau Soo Jung akan segera datang. Ha Ryu terkejut Soo Jung akan datang dan makan bersama mereka. Ayah berkata kalau putranya dan Soo Jung sudah terlalu lama menunda pernikahan. “Kalau terus begini, bagaimana jika ada pria yang lebih muda dan tampan yang bisa bernyanyi dengan baik datang merebutnya? Apa yang akan kau lakukan? Jadi kalian berkencanlah!”
Soo Jung pun sampai disana. Ayah berkata pada Soo Jung kalau putranya akan mengatakan sesuatu pada Soo Jung. Ayah akan pergi untuk membiarkan anak-anak berduaan. Soo Jung tanya ayah mau kemana.

Ayah : “aku ini pria yang lebih memilih rebusan pasta kacang dibandingkan dengan steak.” (hahaha)

Ayah pun pergi.
Soo Jung melihat kehadiran ayahnya dan Da Hae di restouran yang sama. Ha Ryu menoleh ke arah pandang Soo Jung. Ia terkejut melihat Seok Tae Il dan Da Hae ada di restouran itu.
Soo Jung menyusul ayah Cha. Ayah heran kenapa Soo Jung malah menyusulnya. Soo Jung bilang kalau hari ini ia akan mengantar ayah Cha pulang. Ayah semakin heran kenapa Soo Jung bertingkah seperti ini. Ia menoleh ke belakang dan melihat Seok Tae Il (ayah Soo Jung) tengah berbincang dengan putranya. Soo Jung menarik ayah Cha menjauh dari sana.
Di dalam mobil Soo Jung mengusulkan pada ayah Cha tentang makan malam bersama lain kali. Lain kali ia akan membawa ayah Cha ke restouran yang lebih baik dengan steak yang lebih enak.

Ayah tersenyum dan berkata kalau ia tahu apa yang terjadi. “Tadi aku melihat ayahmu disana. Kau tidak merasa nyaman mengenalkan kami. Karena itu kenapa kau mengantarku pulang sekarang, ya kan?” Ayah Cha mendengar kalau ayah Soo Jung punya kantor. Ia menyadari kalau dirinya tak sepadan dengan ayah Soo Jung yang mantan walikota dan calon presiden.

Soo Jung jadi tak enak hati dan berkata bukan begitu. “Aku akan mengatur jadwal untuk kita bertemu secara formal lain kali. Ayahku hanya terlalu sibuk dengan kampanye akhir-akhir ini. Dan juga hari ini dia ada tamu. Jika aku mengenalkanmu padanya tiba-tiba, kupikir akan sangat tidak nyaman bagi kalian berdua.”
Ha Ryu menjelaskan pada Seok Tae Il kalau ia bertemu Soo Jung karena pekerjaan. Da Hae tak percaya, pekerjaan? Ia penasaran pekerjaan apa itu. Seok Tae Il juga ingin tahu. Ha Ryu bilang bukan apa-apa, karena persiapan kampanye Soo Jung menanyakan beberapa hal tentang hukum padanya.
Seok Tae Il bertanya ditahun berapa Ha Ryu masuk Institut Penelitian dan Pelatihan Peradilan. Ha Ryu menjawab di tahun ke 38. Seok Tae Il bertanya lagi apa Ha Ryu di tahun yang sama dengan Pengacara Kim dari Distrik Seoul. Ia penasaran tahun berapa pengacara Kim masuk.
Da Hae tampak tersenyum mendengar pertanyaan Seok Tae Il yang pasti tak diketahui Ha Ryu karena Ha Ryu bukan Jae Woong.

Ha Ryu teringat buku diary kakaknya yang ia baca. Disana ada beberapa nama pengacara. Ada nama pengacara Kim yang masuk institut di tahun ke 37.

Ha Ryu mengatakan pada Seok Tae Il kalau pengacara Kim setahun diatasnya. Da Hae terdiam tak menyangka Ha Ryu tahu tentang itu.
Seok Tae Il juga ingin tahu bagaimana pengacara Cha Jae Woong bisa kenal dengan putrinya. Ha Ryu mengatakan kalau ia dan Soo Jung kuliah ditempat yang sama.

Seok Tae Il merasa kalau ia pernah mendengar itu dari Soo Jung. “Soo Jung pernah menyebut pria yang ingin dia nikahi dan dia ingin mengenalkannya padaku. Dia bilang pria itu seorang pengacara. Pengacara Cha, apa mungkin kau kenal siapa dia?”

“Entahlah aku tak tahu.” jawab Ha Ryu gugup.

Soek Tae Il : “Kata Soo Jung, mereka kuliah ditempat yang sama dan pria itu seniornya. Soo Jung juga bekerja padanya. Pengacara Cha, apa mungkin....?”
Soo Jung tiba-tiba datang dan menyela ayahnya, “Ayah kenapa kau membicarakan tentang itu? Sudah kubilang kalau aku sudah putus dengan orang itu. Ah itu memalukan. Pengacara Cha bahkan tak tahu siapa dia.”

Seok Tae Il heran kenapa Soo Jung masih belum pergi, kenapa kembali. Soo Jung bilang rencananya dibatalkan, ditambah lagi ada beberapa hal yang perlu ia tanyakan pada pengacara Cha. Seok Tae Il bertanya apa itu tenang kampanye, bukankah Soo Jung bisa menanyakan itu pada staf pengacara mereka.

Soo Jung bingung menjawabnya bagaimana. Ia menoleh ke arah Ha Ryu. Ha Ryu memberi kode lewat matanya.

Soo Jung mengatakan pada ayahnya kalau ia harus tahu apa yang dipikrikan orang lain selain staf kampanye. Kalau ayah ingin menjadi presiden tidakkah seharusnya ia mendengakan beberapa opini dari orang lain.

Da Hae mengingatkan kalau Seok Tae Il sekarang ada janji. Seok Tae Il pun pamit pada Ha Ryu. Sebelum pergi Da Hae menoleh menatap Ha Ryu sebentar.
Setelah Seok Tae Il dan Da Hae pergi, Ha Ryu bersyukur Soo Jung datang tepat waktu. Kalau tidak ia akan berada dalam masalah besar. Soo Jung tanya lalu kenapa Ha Ryu malah bersama mereka, bukankah Ha Ryu bisa pergi saja.

Ha Ryu bertanya kenapa Soo Jung kembali. Soo Jung bingung menjawabnya, ia mengatakan kalau ia hanya khawatir, itu saja. Ha Ryu berterima kasih.
Ha Ryu dan Soo Jung sekarang berada di kantor pengacara. Soo Jung merasa tenang karena Ha Ryu tidak ketahuan oleh ayahnya. Ha Ryu berkata kalau itu semua berkat buku diary Jae Woong. Ia perlu mempelajarinya dengan seksama supaya bisa. Soo Jung berkata kalau ia juga bersedia membantu Ha Ryu.
Ha Ryu akan mengambil diary milik kakaknya di brangkas. Ia melihat disana ada dokumen tentang walikota Seok Tae Il. Ia heran kenapa kakaknya memiliki dokumen itu. Soo Jung yang melihat Ha Ryu terlalu lama mengambil buku bertanya ada apa. Ha Ryu berbohong mengatakan kalau sepertinya ia meninggalkan diary Jae Woong di rumah.

Soo Jung lalu tanya mulai dari mana ia akan membantu Ha Ryu. Ia mengusulkan Ha Ryu perlu membiasakan diri dengan pemilu, Haruskah keduanya mulai dengan topik itu. Ha Ryu setuju, tapi ia menilai hari ini bukan waktu yang tepat untuk mempelajari itu. “Kandidat Seok melihat kita bersama-sama tidakkah lebih baik bagimu untuk pulang lebih awal hari ini? untuk tidak membuatnya curiga.”
Soo Jung mengerti, ia pun akan pulang. Ha Ryu duduk di kursi dan menyimbukan diri dengan dokumen-dokumen yang harus ia pelajari. Soo Jung terlihat kecewa dan pergi dari sana. Ha Ryu melihat dengan ekor matanya Soo Jung yang ke luar dari kantor.
Ha Ryu membuka kembali brangkas kakaknya dan mengambil map bertuliskan dokumen Seok Tae Il. Ia pun membaca apa isi dokumen itu.

Dokumen-dokmen itu berisi tentang perusahaan Baek Hak. Sengketa manajemen buruh tekstil Baek Hak. Catatan penerima sumbangan. Disana bahkan ada foto Seok Tae Il yang menerima suap.
Ternyata selama ini Cha Jae Woong tahu apa saja tindak pelanggaran yang dilakukan oleh Seok Tae Il. Ha Ryu tak mengerti, kenapa kakaknya melakukan ini. Ia membuka diary Jae Woong dan membacanya.
Aku tersiksa, dugaanku benar. Ayahnya Soo Jung, walikota Seok terlibat. Park Min Guk, perwakilan persatuan buruh tekstil Baek Hak, sudah seminggu sejak kasus itu dinyatakan sebagai bunuh diri. Aku menemukan bukti walikota Seok memberi keterangan pada polisi.
Aku memutuskan untuk melamar Soo Jung setelah menemukan adikku. Namun, sekarang aku tahu korupsi yang dilakukan walikota Seok. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku membiarkan dunia tahu tentang korupsinya? Lalu bagaimana dengan Soo Jung?

Aku putuskan setelah melihat senyumnya Soo Jung. (Jae Woong melamar Soo Jung) Aku tak bisa menghentikan wanita yang kucintai untuk tersenyum. Aku memilih Soo Jung. Aku bahagia.
Ha Ryu ngenes membaca diary kakaknya. Ternyata kakaknya dilema juga antara membongkar korupsinya Seok Tae Il yang merupakan ayahnya Soo Jung atau membiarkan saja.
Ha Ryu dan Sam Do mencari keberadaan tuna wisma yang membeli mobil gelap. Sam So mengeluh kalau ia kelaparan. Ia mengajak Ha Ryu sebaikanya makan dan pulang saja. Ia menunjukan disana ada restoran yang terkenal dengan mie pedas yang katanya sampai meneteskan air mata. Ha Ryu berkata berhubung ia dan Sam Do ada diluar bagaimana kalau pergi melihat di sekitar. Sam Do kesal.
Keduanya melihat seorang tuna wisma dikeroyok beberapa tuna wisma lain. Si tuna wisma yang dikeroyok berteriak mempertahankan uangnya. “Itu uangku kembalikan!”
Ha Ryu dan Sam Do menghampiri mereka. Tuna wisma itu berebut uang milik si tuna wisma yang mereka keroyok. Ha Ryu dan Sam Do memisahkan mereka. Mereka akan pergi membawa uang tapi Ha Ryu dan Sam Do meminta mereka mengembalikan uang itu. Sebagai gantinya Har Ryu memberi mereka uang. Mereka pun pergi.

Ha Ryu dan Sam Do mengembalikan uang milik tuna wisma itu. Tuna wisma itu memiliki banyak sekali uang dan berterima kasih. Sam Do menatap Ha Ryu, ia curiga apa tuna wisma yang ia dan Ha Ryu cari adalah orang ini.
Sam Do menyahut, “ahjussi kau ternyata kaya.”

Ha Ryu menunjukan foto Yang Hoon ke tuna wisma itu, “ahjussi apa kau pernah melihat pria ini?”

“Aku tak tahu.” jawab tuna wisma itu gugup. Ia segera kabur dari sana.
Ha Ryu dan Sam Do mengejarnya. Keduanya berhasil menangkap si tuna wisma. Ha Ryu tanya kenapa ahjussi itu lari, “Kurasa kita punya saksi.” Ha Ryu tersenyum.

“Hei saksi, apa kau mau makan mie pedas meneteskan air mata yang terkenal itu bersama kami?” ajak Sam Do. (hahaha)
Yang Hoon yang juga mencari tuna wisma itu untuk meminta tutup mulut terkejut kalau si tuna wisma sekarang bersama Ha Ryu. Ia cemas.
Da Hae sampai di halaman sebuah gedung. Disaat yang sama Detektif Nam dan anak buahnya juga menuju gedung yang sama.
Yang Hoon yang melihat kedatangan Da Hae segera menarik Da Hae untuk bersembunyi. Keduanya melihat Detektif Nam menuju hotel tempat tinggal Da Hae.
Da Hae dan Yang Hoon memarkirkan mobil di tepi sungai. Yang Hoon memberi tahu Da Hae bahwa pria tuna wisma yang namanya ia pinjam sudah tertangkap. Kita tak akan bisa keluar dari masalah ini. Da Hae tanya apa maksudnya, bagaimana pun kita harus melakukan sesuatu. Yang Hoon menyarankan lebih baik keduanya mengehentkan ini. Da Hae merasakan sakit di bekas luka tusukannya. Yang Hoon khawatir.

Flashback
Ketika Da Hae menangis karena ayah tirinya, Yang Hoon datang menolongnya. Yang Hoon memakaikan sepatu pada Da Hae yang menangis. Ketika terdengar suara ayah tiri memanggil Da Hae, Da Hae ketakutan. Yang Hoon membawa Da Hae pergi dari sana. Ia lebih memilih menyelamatkan Da Hae walaupun itu ayah kandungnya sendiri.

Flashback end
Yang Hoon : “Ada begitu banyak hal yang membuatku merasa bersalah padamu. Jika kau tak bertemu ayahku yang lebih jahat dari binatang, kau akan dicintai dan tumbuh bahagia.”

Da Hae menegang mendengar tentang ayah tirinya, kenapa kakaknya tiba-tiba membicarakan itu. Yang Hoon berkata itu karena ia merasa bersalah. Ia mengajak Da Hae menghentikan semuanya sampai disini saja. Ia juga mengajak Da Hae ke kantor polisi, “Jika kita menyerahkan diri sebelum ditangkap......”

“Oppa...” sela Da Hae. “Cobalah bertahan sedikit lagi. Meskipun aku melakukan hal yang menjijikan, oppa selalu ada di pihakku. Tak bisakah kau dipihakku sekali lagi? Aku tak mau kembali.”

Yang Hoon : “Aku akan menanggung semua dosanya. Kau bisa melanjutkan hidupmu. Kau tahu apa maksudku kan?”
Da Hae tak bisa melakukannya, ia tak bisa membiarkan kakaknya menyerahkan diri pada polisi begitu saja. “Tanpa dirimu kau tahu aku tak bisa melakukan apapun.”

Yang Hoon berkaa meskipun ada saksi yang menunjuk dirinya, maka Da Hae akan baik-baik saja. Ia khawatir pada Da Hae. Mata Da Hae berkaca-kaca, untuk itulah maka kakaknya tak boleh malakukan itu. Yang Hoon bilang tak ada jalan lain karena kali ini Ha Ryu benar-benar akan mendapatkan mereka.

Da Hae : “Untuk mencapai tahap ini kau tak tahu apa yang sudah kualami selama beberapa tahun terakhir. Pasti ada cara. Semuanya akan segera berakhir. Jadi, oppa jangan lakukan hal yang bodoh. Aku akan mengatasi semuanya.”

Yang Hoon pun tak bisa memaksakan kehendaknya lagi. Da Hae berpikir keras pasti ada jalan keluar dari masalah ini. Sama sekali mereka tak boleh menyerahkan diri begitu saja.
Malam hari Da Hae tak bisa tidur. Ia mengambil dan meminum obatnya. Ia berpikir apa yang harus dilakukannya.
Detektif Nam mendapatkan pernyataan bahwa pembeli mobil gelap itu pria tuna wisma. Ia mengajak temannya untuk menangkap Joo Yang Hoon. Tapi temannya mengatakan kalau Joo Yang Hoon bersembunyi. Detektif Nam pun berkata kalau begitu kita dapatkan Joo Da Hae dulu. Ia dan kedua temannya pun bergegas menuju hotel tempat tinggal Da Hae.
Detektif Nam dan kedua temannya sampai di hotel tempat tinggal Da Hae. Da Hae yang baru saja selesai menelepon terkejut melihat Detektif Nam datang menemuinya. Da Hae tanya ada apa lagi. Detektif Nam menatakan kalau ia memiliki beberapa pertanyaan pada Da Hae mengenai tuduhan pembunuhan terhadap Baek Do Hoon. Ia harap Da Hae ikut dengan mereka ke kantor polisi.

Ha Ryu sudah ada di kantor polisi. Da Hae datang bersama Detektif Nam. Keduanya bertemu pandang. Da Hae menghampiri Ha Ryu dan keduanya saling menatap tajam.

Bersambung ye ke episode20

1 comment:

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...