Wednesday, 16 July 2014

Sinopsis Temptation Episode 1 Part 1

Episode 1 dibuka dengan suasana diluar Bandara Incheon Korea Selatan.
Seorang wanita mengenakan kacamata hitam bernama Yoo Se Young (Choi Ji Woo) keluar dari mobil.
Ditempat yang sama sepasang suami istri Cha Seok Hoon (Kwon Sang Woo) dan Na Hong Joo (Park Ha Sun) keluar dari bus dan mengambil koper dari bagasi. Keduanya tampak sumringah.

Hmmm siapa lagi ya?
Seorang pria berkacamata hitam keluar dari mobil, dia adalah Kang Min Woo (Lee Jung Jin)

Kempat orang itu akan menuju Hong Kong.
Di dalam pesawat, tepatnya di kabin VIP dimana Yoo Se Young berada, ia menyempatkan diri membaca dokumen-dokumen perusahaan. Terdengar olehnya suara orang yang ia kenal. Ia pun menoleh, itu Kang Min Woo.
Min Woo mulai tebar pesona ia menanyakan makanan apa saja yang ada selama penerbangan ini pada seorang pramugari. Pramugari mengatakan kalau ia bisa menyediakan daging dan ikan.

“Bisakah kau membawakan aku menu favoritmu? Dan juga segelas wiski.” Pinta Min Woo (wehehehehe)

Se Young sepertinya paham betul sifat Min Woo itu, ia pun cuek.
Seorang pria disebelah tempat duduk Se Young, Pengacara Choi menyahut bukankah itu Tn Kang. Se Young tahu itu, ia menilai apa yang Min Woo katakan itu sebuah cara yang menyenangkan untuk mengawali hari.

Pengacara Choi mengatakan Min Woo tak akan bisa melihat keduanya disini jika dari tempat duduk Min Woo yang ada di belakang. Se Young mengingatkan kita tak boleh hanya memikirkan keuntungan lebih baik hentikan saja pesawatnya. Pengacara Choi  menyahut haruskah ia mengatakan ‘ada teroris di pesawat?’ Se Young tersenyum simpul menambahkan lebih baik katakan juga ada bom.

Pengacara Choi tak membahasnya lebih lanjut candaan itu. Ia kemudian mengatakan kalau dirinya akan memeriksa dan mem-booking ulang hotel dimana keduanya akan menginap.
Se Young tak menjawab, ia mengambil obat tetes mata dan meneteskan itu ke kedua matanya. Ia memejamkan matanya sekejap dan ketika membuka mata ia pun teringat akan kejadian sebelum kepergiannya ke Hong Kong ini.

Flashback

Se Young menemui temannya yang seorang dokter. Dokter mengatakan bahwa Se Young sedang mengalami awal menopouse. Ia menyadari bahwa ini tidak terlalu nyaman bagi para wanita di usia 40 tahunan. Tapi Se Young menjawab lain, ia senang mendengar tentang dirinya memasuki menopouse karena datang bulan sudah menganggunya setiap bulan.

Dokter terdiam, agak sulit mengatakan selanjutnya. Se Young menyadari kalau ada hal lain yang ingin temannya katakan padanya. Dokter serba salah haruskah ia bicara dengan Se Young sebagai dokter ataukah memberi saran sebagai teman. Se Young bilang yang mana saja.

“Kau memiliki kista di rahimmu. Jika kistanya terus tumbuh kita harus melakukan hysterectomy.” Jelas dokter (rahimnya dia angkat gitu)
Se Young walaupun terkejut tapi nampak tak khawatir, operasinya tidak mendesak kan. Ada transaksi baru yang harus ia lakukan di Hong Kong dan itu akan membutuhkan waktu beberapa bulan. Bisakah membicarakan tentang operasinya setelah ia menyelesaikan semuanya.

Se Young kemudian bertanya apa ada lagi yang ingin temannya sampaikan padanya mengenai kesehatannya. Dokter malah bertanya apa Se Young baik-baik saja. Se Young tersenyum dan balik bertanya haruskah ia tidak baik-baik saja.

Dokter mengatakan jika rahim Se Young diangkat itu artinya Se Young tak akan pernah bisa mengandung anak. Se Young seolah tak peduli bahkan sampai sekarang pun ia tidak hamil karena memang ia tidak mau.
Se Young pun mengatakan kondisi sebenarnya tentang kista yang ada di rahimnya dan akibat buruk yang akan ia alami nanti.

“Apa itu membuatmu senang mengetahui kau tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu? Kebahagiaan sejati seorang wanita......”
“Memangnya kenapa?” Se Young menyela ucapan ayahnya. “Kenapa aku harus bahagia? Ayah, aku mungkin tidak terlihat bahagia di mata ayah tapi aku bahagia dengan caraku sendiri.”

Tn Yoo kesal karena putrinya selalu ngejawab kalau dia lagi ngomong, ckckckckckckc....
Se Young di kamarnya melakukan olahraga sambil membuka dokumen laporan keuangan di tab-nya.
Ponselnya bunyi, telepon dari Pengacara Choi. Pengacara Choi bertanya kenapa tadi Se Young meneleponnya. Se Young ingin tahu apa CEO Jang Gang Hyun dari SD Consulting dan wakilnya sedang di hotel Dong Sung. Pengacara Choi berkata ia mendengar CEO Jang yang bertanggung jawab atas bisnis mereka di Hong Kong, Singapura, Macau, dan sebagian besar Asia Timur.

Se Young merasa ada sedikit kekurangan dalam laporan keuangan yang ia lihat. Jadi ia perlu bertemu sendiri dengan CEO Jang. Pengacara Choi menyahut kita memang perlu menemui CEO Jang. Se Young bisa pergi kapan saja setelah pukul 3 siang nanti. Pengacara Choi mengerti dan akan mengurus semuanya.
Se Young menyudahi olahraganya dan melihat dirinya di cermin. Ia meraba perutnya dimana ada kista disana. (Benarkah Se Young tak peduli akan hal itu?)

Flashback end
Cha Seok Hoon masuk ke kabin VIP, seorang pramugari menegurnya karena Seok Hoon bukan penumpang VIP. Seok Hoon tanya dimana toiletnya. Pramugari menunjukan toilet yang seharusnya digunakan oleh penumpang kelas 1 yang ada di belakang.
Sebelum menuju toilet Seok Hoon memberi tahu Hong Joo kalau di kabin VIP ada toiletnya sendiri. Hong Joo terkejut, benarkah? Seok Hoon pun menuju toilet.

Hong Joo kemudian terdiam mengingat hal yang menjadi alasan dirinya dan Seok Hoon menuju Hong Kong.

Flashback
Hong Joo melihat Seok Hoon dibentak oleh orang-orang yang datang mencari pimpinan tempat Seok Hoon bekerja. Mereka marah-marah karena pimpinan perusahaan itu menggelapkan uang mereka. Seok Hoon membela diri ia tak tahu apa-apa tentang ini, tapi mereka tak peduli bukankah Seok Hoon disini sebagai wakil. Mereka meminta uang mereka dikembalikan atau paling tidak bawa kembali pimpinan itu (Hwang Do Shik) kesini.

Seok Hoon melihat kedatangan istrinya di luar pintu. Hong Joo prihatin melihat keadaan tempat suaminya bekerja.
Setelah mereka pergi Seok Hoon pun mengatakan semuanya pada Hong Joo bahwa Hwang Do Shik membawa uang senilai 9 juta won. Hong Joo tanya apa Seok Hoon bisa mengurus itu. Seok Hoon bilang yang harus ia lakukan adalah menemukan Hwang Do Shik terlebih dahulu.

Hong Joo menilai Hwang Do Shik sudah menyembunyikan diri dengan baik hingga tak bisa dilacak dimanapun, jadi bagaimana Seok Hoon akan menemukan orang itu. Seok Hoon berpikiran positif, ia yakin Hwang Do Shik tidak akan menggelapkan uang perusahaan, ia yakin sekali kalau Do Shik  pasti punya alasan yang jelas. “Yang terpenting temukan dia dulu, baru kemudian mendengarkan apa yang harus dia katakan.”

Hong Joo mengeluh apartemen tempat tinggal keduanya sudah disita. Orang-orang dari pengadilan tadi datang dan memasang stiker dimana-mana. Seok Hoon meminta Hong Joo lebih baik pulang ke rumah ayah Hong Joo untuk sementara. Tapi Hong Joo tak bisa kesana, bukankah Seok Hoon tahu rumah ayahnya juga sekarang sudah dijadikan jaminan. Hanya rumah itu yang ayahnya miliki, kalau ayahnya kehilangan itu, ia pasti akan membenci Seok Hoon.

Seok Hoon menggenggam tangan Hong Joo, ia mengatakan itu tak akan pernah terjadi. Ia akan menemukan Hwang Do Shik dan uang itu. “Kau percaya padaku, kan?” Hong Joo mengangguk percaya dan ia juga mencintai Seok Hoon. Hati Seok Hoon merasa terhibur, ia kemudian memeluk erat istrinya.
Dari jauh Hong Joo melihat ayahnya bekerja sebagai apa ya... ga tahu. hehehe. ia tak tahu harus minta bantuan pada siapa. Ia tak mungkin mengatakan hal ini pada ayahnya, yang bisa membuat ayahnya khawatir.
Hong Joo menerima telepon dari Seok Hoon yang mengabarkan kalau suaminya itu baru saja mendapatkan telepon dari Hwang Do Shik. “Dia sekarang ada di Hongkong. Dia bilang semua masalah keuangan kita bisa terselesaikan sekarang. Dia menyuruhku untuk terbang kesana besok.” Hong Joo senang mendengarnya. Ia benar-benar lega. Seok Hoon berkata lagi Hong Joo juga harus datang ke Hong Kong bersamanya.

Flashback end
Hong Joo memandang sedih wajah suaminya yang terlelap. Ia membetulkan letak selimut Seok Hoon.

Tak lama kemudian terdengar suara Kapten Pilot yang mengatakan kalau mereka akan segera mendarat di Bandara Hongkong.

Se Young segera merapikan dokumen-dokumen dan menyerahkannya pada Pengacara Choi. Pengacara Choi menoleh ke tempat duduk Min Woo yang duduk sendirian.
Min Woo tampak melamun memegang cincin yang melingkar di jari kelingkingnya. (kayak cincinnya Jae Kyung hahaha)

Flashback
Min Woo menghampiri istrinya yang baru saja melahirkan di rumah sakit. Ia menggenggam tangan istrinya yang sudah melahirkan bayi perempuan dengan selamat. Ia bilang putrinya ini pasti menjadi model karena dia sangat cantik.

Tapi raut wajah istrinya yang bernama Ji Sun ini tidaklah senang. Ia menarik kasar tangannya dari genggaman Min Woo. Ia pun dibawa ke ruang perawatan oleh dua orang perawat.
Min Woo menerima telepon dari ibunya, Ny Lim. Ibunya marah-marah karena Ji Sun lagi-lagi melahirkan bayi perempuan. Apa Ji Sun ini sedang berusaha mengakhiri garis keturunan keluarga Kang. Bukankah Min Woo tahu apa yang ayah Min Woo katakan sebelum meninggal.

Min Woo tanya kapan ibunya akan datang menjenguk Ji Sun. Ibu yang marah menjawab ia tak akan pernah menemui Ji Sun. “Sekarang bayi itu tidak akan pernah memiliki apa yang seharusnya dia miliki.”
Min Woo menemani istrinya, ia melihat sekeliling banyak sekali tempelan yang dibuat oleh putri-putrinya, Yoon Ah dan Song Ah. Ia menilai kedua putrinya ini mirip seperti Ji Sun, berbakat. Ji Sun diam saja.
Min Woo mengenggam tangan Ji Sun, ia mengerti bagaimana perasaan Ji Sun yang hidup ditengah-tengah keluarga dimana anak laki-laki lebih disukai. Ji Sun mengatakan kalau sekarang ia tak bisa punya anak lagi. Min Woo menyahut tentu saja, mereka bisa menghentikan kapanpun Ji Sun mau. Ia akan memberi tahu ibunya.
Ji Sun menyela untuk menegaskan bahwa sekarang ia sudah tak bisa mengandung lagi bahkan jika ia sangat ingin memiliki anak. Min Woo tanya apa dokter yang mengatakan itu. Ji Sun mengatakan kalau rahimnya sudah tak sehat lagi, jika ia melahirkan lagi maka pertaruhannya adalah nyawa. Ia harap Min Woo bisa mengatakan pada ibu Min Woo untuk berhenti bersikap tamak, dan Min Woo juga harus menyerah untuk mendapatkan anak laki-laki
Didalam mobil Min Woo menerima telepon dari ibunya. Ibu bilang setelah Ji Sun pulang dari rumah sakit, mereka akan mencari rumah sakit lain untuk program kehamilan lagi supaya dapat anak laki-laki. Ia meminta putranya ingat apa yang ia katakan sebelumnya, Putri menantu wakil menteri itu memliki dua anak laki-laki berturut-turut setelah pindah berobat kesana. Min Woo jengah mendengar itu-itu terus dari ibunya. Ia pun beralasan ada panggilan telepon lain masuk dan menyudahi telepon dengan ibunya.

Min Woo menyuruh Supir Kim agar menghubungi Sekretarisnya untuk menyiapkan perjalanan bisnis. Ia benar-benar suntuk dengan semuanya, ia akan pergi sekitar 5 hari. Supir Kim mengerti.
Min Woo melihat-lihat surat-surat yang ada di tangannya. Ia membuka sebuah surat yang didalamnya terdapat brosur sebuah Bar di Hongkong. Moon River Bar. Ia mengatakan pada supirnya kalau Hongkong tujuan dia akan pergi 5 hari itu.

Fashback end
Mereka sampai di Bandara Hongkong. Kang Min Woo keluar lebih dulu dan langsung menyetop taksi. Se Young dan Pengacara Choi melihatnya namun Min Woo tak menyadarinya.
Pengacara Choi mengatakan Kang Min Woo tidak berada didalam daftar tamu di hotel tempat ia dan Se Young akan menginap. Se Young senang mendengar itu, keduanya pun segera pergi ke hotel tujuan.
Di belakangnya Seok Hoon dan Hong Joo keluar dari bandara. Seok Hoon mencoba menghubungi Hwang Do Shik sambil celingukan siapa tahu Do Shik menjemputnya. Hong Joo tanya apa Do Shik bilang akan menjemput di bandara. Seok Hoon menjawab tentu saja bahkan Do Shik sudah tahu jadwal penerbangannya. Tapi sayang ponsel Hwang Do Shik tak bisa dihubungi.

Hong Joo menebak jangan-jangan terjadi masalah. Seok Hoon beranggapan Do Shik hanya terjebak macet karena di Hongkong jam sibuk itu seharian. Ia punya alamatnya, jadi tunggu 10 menit lagi dan jika tidak datang kira langsung ke rumahnya saja. Hong Joo setuju.
Karena yang ditunggu tak kunjung datang, Seok Hoon dan Hong Joo mendatangi langsung rumah Hwang Do Shik. Ia mengetuk pintu rumah sewaan itu dan memanggil-manggil Do Shik, tapi tak ada sahutan dari dalam. Hingga membuat tetangga di sebelah merasa terganggu.
Seok Hoon bicara menggunakan bahasa inggris bahwa ia datang dari Korea dan mencari pria yang tinggal di rumah itu. Paman itu tahu siapa pria yang dimaksud. Ia menyuruh Seok Hoon ke kantor polisi saja. Seok Hoon heran untuk apa. Paman itu tak menjawab, dia malah masuk kembali ke rumahnya.
Seok Hoon dan Hong Joo keluar dari kantor polisi dengan langkah lunglai.

Tn Hwang Do Shik bunuh diri dengan melompat. Dia meminta untuk memberikan barang-barang miliknya pada temannya dari Korea.
Seok Hoon tak tahu lagi harus bagaimana. Ia membawa tas peninggalan Do Shik. Langkahnya sampai di tepi pantai. Hong Joo yang sudah lelah terduduk lemas.
Seok Hoon membuka tas peninggalan Do Shik. Tas itu berisi baju, buku yang di dalamnya terselip pesan singkat dari Do Shik.

Aku tak bisa menemukan uang dimanapun. Maafkan aku.

Air mata Hong Joo menetes. Dari mana ia dan Seok Hoon mendapatkan uang pengganti perusahaan.

Seok Hoon menangis marah, “Kau sudah kabur dengan uang kami. Seharusnya kau hidup mewah. Kenpa kau mati?” Teriaknya.

Hong Joo mengerti bagaimana perasaan suaminya sekarang. Ia berusaha menghibur dengan memeluk Seok Hoon.
Kang Min Woo sampai di Moon River Bar. Ia melihat seorang wanita paruh baya tengah menyanyi di panggung.
Ia pun teringat akan wanita muda yang pernah menyanyi di tempat itu.
Saat itu Min Woo langsung akrab dengan si penyanyi muda yang bernama Jenny. Hubungannya pun semakin dekat. Kencan di pantai, menyatakan cinta bahkan Jenny menyanyikan lagu ketika ia bangun tidur.
Ketika wanita itu selesai menyanyi Min Woo menghampirinya. Wanita itu terkejut melihat kedatangan Min Woo.

“Ny Tina, benar kan?” Tebak Min Woo.

Si penyanyi bar bernama Tina itu pun mengangguk. Min Woo yang sumringah bertanya dimana Jenny. Tina mengatakan Jenny sudah tidak menyanyi disini. Min Woo tidak percaya karena Jenny mengundangnya kesini. Min Woo menunjukan brosur yang didapatnya. Tina bilang dirinya-lah yang mengirim itu pada Min Woo bukan Jenny.

“Dia sedang menyanyi di surga sekarang.” Jelas Tina.
Min Woo terpukul sekali mendengar kabar Jenny sudah meninggal. Tina menjelaskan kalau Jenny menderita kanker payudara. “Dia meninggal 4 bulan yang lalu. Setidaknya dia tidak sendirian. Pemuda ini yang mengurusnya sampai akhir. Jenny tak suka itu, tapi kupikir kau harus bertemu dengannya, setidaknya sekali.” Jelas Tina seraya menangis.
Min Woo merasa ia tak memiliki alasan bertemu dengan suami Jenny.

Tina menegaskan kalau Jenny tidak menikah, pemuda yang dimaksud adalah putra Jenny. “Tn kang itu adalah anakmu, Roy.”
Tina menunjukan foto Jenny bersama Roy. Min Woo shock melihat foto itu.
Di dalam taksi Min Woo terus menatap foto yang ia terima dari Tina. Foto wanita yang pernah ia sukai sesaat dan sekarang ia ketahui wanita itu melahirkan putranya. Ia marasa bersalah pada Jenny.
Se Young dan Pengacara Choi selesai menjamu tamu bisnis mereka. Tepat setelah tamu itu pergi, keduanya melihat kedatangan Min Woo di hotel. Se Young yang tidak suka menyahut kalau hotel ini jelas-jelas buruk karena salah satu tamunya adalah Min Woo yang tidak menggunakan identitas asli. Min Woo yang melihat Se Young ada disana tak menyangka akan bertemu dengan Se Young.
Min Woo mendengar Se Young sedang membeli hotel ini, apa kedatangan Se Young ini untuk menandatangani itu. Se Young tertawa kecil dan berkata jika seseorang mencoba makanan di supermaket bukan berarti orang itu akan membelinya. Ia menegaskan dirinya sedang pikir-pikir tentang hal itu. Min Woo menyahut itu bagus.
Min Woo kemudian mengatakan ia perlu teman untuk minum-minum, apa malam ini Se Young sudah tak ada kerjaan. Se Young minta maaf, ia sudah lelah. Min Woo bilang jangan begitu, “Pikirkan masa lalu kita. Berikan aku satu jam. Siapa tahu si brengsek Kang Min Woo ini mungkin bisa membawamu mendapatkan bisnis bagus.” Se Young berterima kasih atas tawaran Min Woo, ia akan menghubungi Min Woo nanti jika memang dirinya memerlukan bantuan.
Se Young dan Pengacara Choi akan pergi tapi ucapan Min Woo tentang CEO Jang menghentikan langkah Se Young. Se Young melihat kalau Min Woo sepertinya mengetahui sesuatu yang tak ia ketahui. Ia pun meminta Pengacara Choi untuk istirahat lebih dulu.
Suasana malam di Hongkong saat itu benar-benar indah. Kembang api bertabur menghiasi langit malam disana. Namun tidak menyenangkan bagi Seok Hoon dan Hong Joo yang dilanda kebingungan.
Hong Joo tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang dengan uang-uang yang hilang itu. “Apartemen kita menjadi milik bank sekarang. Kita tidak akan mendapatkan banyak uang walaupun menjual mobil dan barang-barang milikmu.”

Tapi sebagai seorang pria apapun yang terjadi Seok Hoon akan berusaha memastikan ayah Hong Joo tak kehilangan rumah. Hong Joo tanya bagaimana caranya, bukankah ini penggelapan dana publik. “Kau akan di kirim ke penjara begitu kita kembali ke Korea. Apa yang bisa kau lakukan di penjara?” Ia bahkan lebih takut membayangkan Seok Hoon dalam penjara.
Seok Hoon memasukkan kembali barang-barang Do shik ke dalam tas. Namun ia menemukan sesuatu yang tersimpan di dalam kaoskaki. Seok Hoon mengambil benda itu yang tak lain adalah uang.
Seok Hoon mengatakan pada Hong Joo kalau Do Shik masih memiliki hati nurani juga karena meninggalkan mereka uang 3 juta won.
Hong Joo berkata kalau hati nurani Seok Joo bernilai lebih dari itu. Seok Joo yang mempercayai Hwang Do Shik bahkan tak pernah meragukan Do Shik sekalipun. Bukankah tidak semua orang bisa melakukan itu. “Itu sebabnya aku menghagaimu dan mencintaimu.”

Seok Hoon : “Kita tak akan pernah tahu apa yang mungkin terjadi saat kita kembali ke Korea. Kita simpan uang ini untuk keadaan darurat.”

Hong Joo menolak, “Kita lakukan apa yang disarankan Tn Hwang. Dia bilang, dia menginginkanku pesiar di sekitar Hongkong karena merasa bersalah padaku. Kita lakukan ucapannya. Kita habiskan semua uang ini.”

“Hong Joo-ya?” Seok Hoon heran.

Hong Joo mengajak Sek Hoon menginap di hotel terbaik kemudian makan di restouran paling bagus. Belanja. Ia ingin pergi belanja. Ia akan membeli produk mahal, terbaik, bukan yang murahan.

Seok Hoon tanya apa Hong Joo benar-benar ingin melakukan itu. Hong Joo tersenyum sedih mengangguk. Seok Hoon pun menyetujuinya.

Keduanya sampai di depan hotel mewah dan memutuskan akan menginap disana.
Se Young menemani Min Woo minum. Min Woo mengatakan yang sebenarnya bahwa ia baru saja mengetahui kenyataan dirinya memiliki seorang putra. Bukankah Se Young tahu bahwa di keluarganya lebih suka anak laki-laki. Jika ia menelepon sekarang, ibunya Ny Lim Jung Soon pasti akan mencari ke seluruh dunia. Ibunya pasti akan membangunkan sebuah menara untuk merayakan ini.

Min Woo bahkan menunjukan foto Roy pada Se Young, Bukankah dia anak yang manis? Tapi Se Young tak melihat, ia malas karena tak ada lagi yang membuatnya lebih bosan daripada melihat anak orang lain. Min Woo menyadari Se Young tak mau mendengar ceritanya. Se Young meminta Min Woo mengatakan saja apa yang ingin Min Woo dengar, apakah itu nasehat, simpati, hiburan atau bimbingan. Mi Woo bilang semuanya.
Se Young : “Jika aku adalah kau, aku akan melakukan 2 hal. Meminta nomor rekening wali itu. Kemudian mengirim sejumlah yang akan membuat mereka shock tapi masih layak untukmu sebagai dana pendukung anak.”

Min Woo jadi teringat sesuatu setelah mendengar ucapan Se Young, itu bukan karena ia tak bisa mendapatkan Se Young. Aku tak pernah mengejar Se Young. Jika aku punya, hidupku akan jadi sesingkat dan sekering itu. Ia tak ingin itu terjadi.

Se Young tersenyum dan merasa seharusnya Min Woo berusaha lebih keras lagi dari sebelumnya. Jika segalanya berhasil ia bisa menjalani suatu kehidupan yang penuh dengan cinta. Min Woo tertawa menilai itu menarik, ia tak pernah berpikir bahwa Se Young tahu tentang cinta. Se Young pamit akan pergi karena menurutnya pembicaraan ini sudah selesai. Tapi Min Woo memanggilnya.

Min Woo : “hidup itu seperti perkalian. Jika kau adalah angka nol maka kau akan berakhir diangka nol tanpa melihat siapa pria yang bersamamu.”

Se Young tersenyum tipis dan berterima kasih atas nasehat Min Woo. Ia juga mengingatkan agar Min Woo jangan terlalu banyak minum.
Seok Hoon dan Hong Joo sudah mendapatkan kamar hotel. Hong Joo berada di kamar mandi menelepon adiknya, Na Hong Gyu (Lee Jung Shin CN Blue) Hong Joo menanyakan kabar ayahnya. Hong Gyu bilang ayah sudah tidur setelah menonton berita. Hong Gyu iri sekali pada kakaknya yang bisa bepergian ke Hongkong, seharusnya kakak iparnya itu mengajak dirinya juga, adik ipar satu-satunya.

Karena mendengar suara putranya, ayah keluar dari kamar. Ayah tanya apa itu telepon dari Hong Joo. Ayah langsung merebut ponsel Hong Gyu dan bicara dengan putrinya.
Ayah yang khawatir kenapa Hong Joo menelepon jarak jauh bukankah biayanya mahal. Hong Joo bilang tidak mahal. Ayah ingat bukankah Hong Joo bilang padanya akan menemui seseorang di Hongkong, apa semuanya sudah beres. Mendengar ayahnya mengungkit hal itu Hong Joo berubah sedih dan air matanya menetes. Tapi ia berusaha sebisa mungkin agar tak terdnegar oleh ayahnya bahwa ia menangis. Hong Joo pun mengatakan semuanya sudah beers. Ayah senang karena memang ia tak seharusnya mengkhawatirkan Seok Hoo, menantunya. Karena menantunya itu sudah pasti bisa mengurus semuanya.

Hong Joo tanya apa ayahnya sudah makan malam. Bukannya menjawab ayah meminta Hong Joo jangan mengkhawatirkannya, lebih baik bersenang-sennag saja di Hongkong. Hong Joo mengerti ia akan melakukannya.
Hong Joo keluar dari kamar mandi dan melihat Seok Hoon sudah terlelap. Ia duduk di samping suaminya tidur. Ia melihat disana ada buku catatan berisi daftar hutang. Hong Joo menatap sedih, ia harus ikut melakukan sesuatu untuk membantu suaminya. Ia mengusap lembut wajah suaminya.

Hong Joo berpikir keras, apa yang harus dilakukannya untuk membantu suaminya. Ia berdiri di tepi jendela menatap tajam keluar.
Keesokan harinya, Yoo Se Young menanyakan jadwal pertemuan dengan CEO Jong. Pengacara Choi mengatakan kalau waktunya itu pukul 1.30 siang. Se Young berkata ia perlu menemui beberapa investor sebelum pertemuan itu. Ia perlu mengkonfirmasi sesuatu yang dikatakan Kang Min Woo semalam padanya.
Tak jauh dari Se Young lewat, lewat pula Seok Hoon dan Hong Joo. Seok Hoon terus memperhatikan Se Young yang berjalan menjauh. Hong Joo melihat ke arah pandang suaminya dan bertanya siapa, apa Seok Hoon mengenal orang itu. Seok Hoon berkata mana mungkin ia kenal seseorang di Hongkong, ia hanya mengenal HOng Joo. Hong Joo tertawa mendengarnya.
Seok Hoon tanya keduanya akan pergi kemana dulu. Hong Joo menunjukan daftar tempat yang ingin ia kunjungi selama di Hongkong.
Keduanya pun menikmati banyak tempat di Hongkong dan mengabadikannya dengan kamera. Pergi ke tempat wisata, jajan makanan, bahkan belanja. Keduanya sangat menikmati.
Keduanya masuk ke sebuah toko. Hong Joo tertarik ketika melihat sepasang sepatu yang terpajang disana. Seok Hoon tanya apa Hong Joo menyukai sepatu itu. Hong Joo menjawab tidak dan mengajak Seok Hoon pergi dari sana. Seok Hoon menyarankan kalau suka lebih baik beli saja, tapi Hong Joo tak mau karena itu sangat mahal. Seok Hoon mengingatkan bukankah Hong Joo ingin barang-barang bagus.
Seok Hoon pun meminta pelayan untuk membungkus sepatu yang disukai Hong Joo. Tapi pelayan minta maaf karena sepatu itu sudah dipesan oleh seseorang. Seok Hoon heran kalau sudah dipesan kenapa masih dipajang disana. Pelayan bilang pasti ada kesalahan sepatu itu masih terpasang. Seok Hoon memohon karena istrinya sangat ingin memiliki sepatu itu. Tapi kembali pelayan minta maaf, lebih baik melihat produk yang lainnya saja. Seok Hoon pun bilang ia akan membayarnya tunai. Tapi pelayan tetap tak bisa menjualnya. Hong Joo mengajak Seok Hoon segera pergi dari sana.

Seok Hoon meminta Hong Joo menunggu di luar toko sebentar, ia akan kembali ke dalam.
Seok Hoon kembali memohon pada pelayan agar diperbolehkan dirinya-lah yang membeli sepatu itu. Ia benar-benar membutuhkannya. Pelayan kembali menegaskan kalau ia tak bisa menjual sepatu itu pada Seok Hoon karena sudah ada yang memesan.

Seok Hoon langsung pasang muka memelas, “aku tak tahu bagaimana mengatakannya tapi sepatu itu akan menjadi sepatu terakhir dalam hidup istriku. Aku rasa kau mengerti apa yang terjadi kan? Dia sedang sekarat.”

Pelayan terkejut, ikut merasa iba. Seok Hoon menambahkan kalau perjalanan wisata ini adalah keinginan istrinya jadi ia harap dirinya diperbolehkan membeli sepatu itu. Seok Hoon memohon penuh harap dengan wajah memelas. Pelayan pun akhirnya luluh juga karena kasihan. Hahaha
Hong Joo mencoba sepatu bagus itu dan sangat menyukainya. Ia melihat dirinya di cermin mengenakan sepatu itu. Seok Hoon memuji sepatu itu terlihat bagus ketika Hong Joo yang memakainya.
Pelayan berbisik pada Hong Joo, memberi semangat. Setelah mengatakan itu pelayan berlalu dari sana membuat Hong Joo terheran-heran, apa yang dikatakan pelayan itu. Seok Hoon bilang tidak tahu. Ia kemudian memeluk istrinya.
Bersambung ke part 2

*****
Sudah jelas kelihatan kalau Seok Hoon dan Hong Joo sepasang suami istri yang kena sial karena Boss Seok Hoon menggelapkan uang perusahaan akibatnya Seok Hoon pun yang harus bertanggung jawab. Ok bagaimana cara suami istri ini mendapatkan uang untuk membayar hutang-hutang itu?

Yoo Se Young, wanita yang hanya mengejar karir karir dan karir. Dia sukses di pekerjaan tapi memasuki usia 40 dia bahkan belum bersuami. Apakah dia memang tidak pernah jatuh cinta. Atau dia malah pernah sakit hati karena cinta, jadi dia tak mau menjalin cinta. Bahkan dia pun tak peduli dirinya kelak akan memiliki anak atau tidak. Tapi sepertinya dia cukup was-was mengetahui ada kista di rahimnya. Semoga tidak sampai diangkat deh rahimnya. Keliahatan sekali kalau Se Young dan Min Woo memiliki masa lalu.

Kang Min Woo, si pria tepe (tebar pesona hahaha) dia sudah menikah dan memiliki putri. Istrinya melahirkan anak perempuan lagi. Tapi hal itu tidak dikehendaki ibu Min Woo yang menginginkan cucu laki-laki. Dan tak disangka, hubungan singkatnya dengan penyanyi bar di Hongkong memberikan padanya buah cinta seorang putra. Akankah Min Woo mengenalkan Roy pada ibunya. Bagaimana jika Ji Sun, istrinya mengetahui ini. pasti bakalan sakit hati banget. Huwaaa sedih banget sama nasibnya Jenny. Lagu ost yang mengiringi bagus banget. Yang nyanyi Fei 'Miss A' sendiri lho bareng Jo Kwon 2AM. huwaaa.. keren banget, manis gitu lagunya.

Oh iya, yang jadi Han Ji Sun disini juga main bareng Lee Jung Jin di A Hundred Year’s Inhertance, itu lho yang jadi Joo Ri, cewek yang suka benget sama Se Yoon. Di AHYI keduanya tidak dijadikan pasangan suami istri tapi di drama ini jadi suami istri. Hehehe.


Pertemuan kembali Kwon Sang Woo n Choi Ji Woo di drama, pada awalnya berharap di ending nanti keduanya akan bersatu bahagia. Tapi kalau liat Cha Seok Hoon yang sudah menikah agak ga enak juga kalau dia mesti pisah sama istrinya hehehe.

2 comments:

  1. kayaknya ini jadi next drma yg diikuti...
    aq suka scene MIn Woo ..uwahhh Min woo cakep banget yakkk...eh ternyata Min woo dah pnya anak 2 tambah 1 ...duh jadi ayah muda...Kepo bangt MW nikah ama istrinya krna cinta apa di jodohkan ya???...trus scene Se young ma Min Woo jg keren meskipun saling sindir....
    ditunggu part 2nya...
    ditunggu pula Triangle 22...
    Fightinggg!!!

    ReplyDelete
  2. Huwa... akhirnya keingian Joo Ri nikah sama Se Yoon terkabul juga.. hehehe... Anis, salam ya sama abang Lee Jung Jin. Sepertinya peran dia disini rada-rada playbo... gak apa dech asal tetap baik hati seperti Se Yoon. Semangat untuk sinopsisnya...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...