Tuesday, 8 July 2014

Sinopsis Queen of Ambition Episode 20 Part 1

Ha Ryu dan Da Hae bertemu di kantor polisi. Keduanya saling menatap tajam. Detektif Nam membawa Da Hae ke ruang interogasi.

Detektif Nam : “Joo Da Hae-ssi kau menyuruh Joo Yang Hoon membeli ponsel gelap, dan mobil gelap, kan?”

Da Hae tak menjawab.

Detektif Nam : “Pada pukul 4 sore di hari ledakan mobil, kau ada di TKP kan?”

Da Hae tetap tak menjawab membuat Detektif Nam kesal, “Berapa lama kau akan tetap diam? Pria tuna wisma sudah mengkonfirmasi bahwa Joo Yang Hoon pelakunya dan kami tahu kau yang memberi uang pada Joo Yang Hoon.”

Da Hae tetap bungkam tak membuka mulutnya, ia tak mengatakan sepatah katapun.

Detektif Nam heran apa Da Hae tak merasa bersalah pada almarhum mantan suami Da Hae (Do Hoon), “kau menyuruh Joo Yang Hoon membunuh Pengacara Cha. Iya atau tidak?” bentak Detektif Nam hilang kesabaran.

Tapi Da Hae tetap saja tak bersuara sedikit pun.
Ha Ryu mengunjungi rumah lamanya. Ia masuk ke kamar yang tak ada perabotannya. Ia duduk melepas lelah disana.
Detektif Nam berkata bahwa dengan diamnya Da Hae maka itu tak akan merubah apapun. “Ketika kami sudah memiliki semua bukti apa kau masih tak mau bicara?” Detektif Nam benar-benar kesal, ini bisa membuatnya gila.

Detektif Nam tahu kalau Da Hae juga sudah lelah, jadi ia harap Da Hae menyelesaikan ini secepatnya. “Jawab saja iya atau tidak. Joo Da Hae memiliki kakak tiri bernama Joo Yang Hoon yang menyiapkan mbil gelap dengan bom rakitan yang terpasang. Dan tujuanmu adalah membunuh Pengacara Cha. Apa aku benar?”

Da Hae diam saja.
Seorang Detektif masuk ke ruang interogasi mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu dengan Detektif Nam. Detektif Nam tanya siapa. Orang itu pun masuk ke ruang interogasi, Joo Yang Hoon.

Da Hae terkejut melihat kedatangan kakaknya. Yang Hoon mengatakan bahwa Da Hae tak bersalah, ia melakukan semua itu atas inisiatifnya. Da Hae tambah terkejut mendengar pengakuan kakaknya.
Ha Ryu yang tiduran bersantai di kamar rumahnya yang dulu menerima telepon dari Detektif Nam yang mengatakan bahwa Joo Yang Hoon baru saja menyerahkan diri. Joo Yang Hoon telah membuat pernyataan bahwa dia sendiri yang terlibat.

Ha Ryu terkejut dan bilang itu tidaklah benar, “kau tak boleh melepaskan Joo Da Hae. Sama sekali tak boleh.” Ha Ryu bergegas menuju kantor polisi.
Joo Yang Hoon berada di ruang interogasi, “Setelah dia membunuh ayahku, di hari Ha Ryu dibebaskan dari penjara tanpa menebus kesalahan sepenuhnya, aku membunuhnya. Hyung-nya, Cha Jae Woong tahu dan mulai menekanku. Jadi aku mencari mobil gelap untuk membunuhnya. Tapi sayang, Baek Do Hoon yang malah mati. Semua itu, aku sendiri yang melakukannya.”

Detektif Nam : “Kau mengatakan kalau kau sendiri yang melakukan semuanya sendirian? Menurut pernyataan Pengacara Cha, Joo Da Hae ada di TKP ledakan dan ponsel gelap itu dipakai oleh Joo Da Hae. Tapi apa kau masih tetap bersikeras bahwa kau yang melakukan semuanya sendiri?”

Yang Hoon membenarkan, “Da Hae bahkan tak tahu kalau aku mencoba membunuh Cha Jae Woong. Jika dia tahu, dia pasti menghentikanku. Da Hae tak ada di TkP, Pengacara Cha memfitnahnya.”
Da Hae yang masih di kantor polisi menunggu cemas interogasi yang dilakukan Yang Hoon.
Interogasi selesai, Yang Hoon keluar dari ruangan itu. Detektif Nam memerintahkan Detektif Min untuk memborgol dan membawa Yang Hoon. Da Hae tak menyangka kalau kakaknya nekat mengakui itu.

Detektif Nam mengatakan pada Da Hae kalau Yang Hoon sudah mengakui semuanya. “Kami akan mencari tahu lebih banyak lagi melalui investigasi, tapi untuk sekarang kau tak bersalah atas apapun. Kau boleh pergi.”
Ha Ryu sampai di depan kantor polisi dan berpapasan dengan Da Hae. Da Hae berkaa kalau sekarang semuanya sudah berakhir jadi ia harap Ha Ryu jangan ikut campur lagi. Da Hae pun berlalu dari sana.
Ha Ryu menghampiri Detektif Nam yang akan membawa Yang Hoon ke penjara. Ia menahan tangan Yang Hoon, “kenapa kau sendiri yang menanggung semuanya? Beritahu yang sebenarnya.” Yang Hoon tak bicara sepatah katapun, Detektif Nam membawanya ke penjara.
Ha Ryu menyampaikan perihal di penjaranya Yang Hoon pada Do Kyung. Do Kyung geram kenapa pelakunya Joo Yang Hoon bukan Da Hae. Bukankah Yang Hoon hanya melakukan apa yang disuruh, bagaimana bisa Da Hae dilepaskan seperti tak terjadi apapun. Ha Ryu mengatakan kalau Joo Yang Hoon memutuskan untuk menerima semua kesalahan itu sendiri.

Do Kyung ingat bukankah Ha Ryu bilang padanya bahwa Ha Ryu akan mendapatkan Da Hae. Dengan adanya saksi bukankah Ha Ryu bilang padanya bahwa Da Hae tak akan bebas dari masalah ini. “Kau bilang padaku untuk tidak membunuhnya tapi pada akhirnya Joo Da Hae berjalan dengan kepala tegak seolah tak terjadi apapun.”

Ha Ryu minta maaf. Do Kyung emosi bukan kata maaf yang ia ingin dengar dari Ha Ryu. Ia menyuruh Ha Ryu keluar dari ruangannya. Ia tak ingin bicara dengan Ha Ryu lagi karena setiap kali melihat Ha Ryu itu akan mengingatkannya pada Do Hoon.

Sebelum pergi Ha Ryu meyakinkan bahwa ia tak akan menyerah dan berharap Do Kyung juga demkian.
Da Hae sampai di hotel tempat tinggalnya. Ia menghubungi kantor meminta mereka mengosongkan jadwalnya hari ini. Jika Seok Tae Il menanyakannya ia meminta pegawainya untuk membuatkan alasan ketidakhadirannya.

Da Hae mengambil minuman untuk menenangkan pikirannya. Ia juga meminum obatnya. Da Hae bersandar pada kaca jendela, ia melamun.
Ayah mondar-mandir menunggu kedatangan putranya. Ketika Ha Ryu sampai di rumah ia meminta putranya untuk duduk sebentar.
Ayah yang terlihat bahagia mengatakan kalau tadi ia pergi berbelanja dan ia mendengar yang orang-orang bicarakan. Menurut mereka meskipun di kapal nelayan jika melalui internet maka bisa menelepon atau melakukan video chatting. Ia ingin putraya mencoba hal itu untuk menghubungi Ha Ryu yang berada di kapal nelayan.
Ha Ryu mengatakan kalau disana tak tersedia telepon. Ayah heran bagaimana bisa telepon tak tersedia disana. Bukankah akhir-kahir ini kita bisa menelepon ke Amerika bahkan ke Afrika. Ayah sedih apa putranya ini tak bisa walaupun hal itu hanya sekedar mencobanya. Ia tanya mana ponsel putranya.

Ha Ryu yang juga sedih bilang kalau itu tak bisa karena tak punya telepon disana. Ayah semakin heran di jaman modern begini bagaimana bisa tak punya telepon disana. Ia hanya ingin melihat wajah Ha Ryu.

Ha Ryu : “Kalau ayah begitu ingin melihat wajahnya kenapa sejak awal ayah meninggalkannya?”

Ayah terkejut mendengar pertanyaan putranya, itu seperti sebuah tamparan keras baginya, “apa kau bilang?” ucapnya dengan suara bergetar.
“Kenapa ayah meninggalkannya ketika ayah selalu memikirkannya seperti ini? Ayah hidup baik-baik saja tanpa melihatnya selama 30 tahun. Kenapa sekarang tiba-tiba ingin melihatnya? Kenapa ayah melakukan ini?” suara Ha Ryu meninggi.

Ha Ryu yang juga sedih berlalu menuju kamar meninggalkan ayahnya yang tertunduk sedih bergumam membenarkan apa yang dikatakan putranya.
Di kamar, Ha Ryu melampiaskan emosi dan kesedihannya dengan memukul lemari. Ia marah pada dirinya sendiri karena tak bisa berkata jujur pada ayahnya mengenai kondisi yang sebenarnya.
Ketika hatinya sudah lebih tenang Ha Ryu keluar akan menemui ayahnya. Tapi ia hanya melihat ayahnya dari belakang. Ia melihat ayahnya tertunduk sedih. Matanya berkaca kaca dan merasa bersalah. Ia seakan ingin mengatakan sesuatu untuk memanggil ayahnya, tapi lidahnya terasa kelu.
Da Hae mengunjungi Yang Hoon di penjara. Ia tahu kalau ini pasti berat untuk kakaknya. Yang Hoon bilang tidak terlalu berat, setidaknya ia merasa lebih baik. Da Hae tak yakin apa kakaknya benar-benar merasa lebih baik. Yang Hoon tersenyum, ia tak berarap Da Hae merasakan seperti itu, tapi yang ia rasakan dirinya merasa lebih baik.

Da Hae akan mencarikan pengacara yang terbaik untuk membantu Yang Hoon. “Oppa, kau harus bisa mengurangi hukuman sekecil mungkin. Begitu kami memenangkan pemilu, aku bisa mengirimmu ke penjara yang nyaman.” Yang Hoon kembali tersenyum dan menilai itu ide yang bagus.

Da Hae tanya kakaknya ini akan bertahan kan. Yang Hoon menjawab tentu saja.

Dalam perjalanan dari penjara Da Hae menerima telepon dari Seok Tae Il.
Da Hae terlambat sampai di tempat tujuan. Ia minta maaf. Disana ada Seok Tae Il dan Direktur Lee yang sudah akan pergi. Da Hae heran kenapa Direktur Lee akan pergi, ia mempersilakan Direktur Lee kembali duduk karena mereka harus membuat keputusan mengenai kandidat tunggal.

Direktur Lee mencibir sepertinya Da Hae sudah ketinggalan berita. Ia mengingatkan bahwa dalam politik Da Hae harus teratas dalam hal berita. “Aku merubah pikiranku, kami tak akan bergabung dengan kandidat Seok Tae Il.”

Da Hae terkejut dengan keputusan Direktur Lee yang berubah. Seok Tae Il nampak diam menahan marah.
“Sepertinya kau berpikir bahwa kau memiliki kekuasaan terhadap kami atas kekurangan kami. Dunia tidak sesederhana itu. Memalukan sekali.” Direktur Lee beralih ke Seok Tae Il, “ Walikota Seok, sungguh memalukan.” Ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
Seok Tae Il menggebrak meja dan membentak Da Hae, “apa sebenarnya yang terjadi? Penghinaan macam apa ini? kenapa ancaman kita tidak berhasil? Dimana dokumen rahasianya?”

Da Hae pun berkata jujur bahwa ia tak memiliki lagi dokumen rahasia itu. Seok Tae Il benar-benar marah pada Da Hae dan berkata ini akan menjadi akhir dari perjuangan Da Hae. Lupakan koalisi itu.

Da Hae tak bisa melepaskan ini begitu saja. Ia mengingatkan jika Seok Tae Il berdiri sebagai pihak independen maka Seok Tae Il akan kalah. Kita harus mencari partai, bahkan partai ketiga pun setuju menjadi kandidat tunggal. Ia meminta Seok Tae Il memberikan padanya kesempatan terakhir. Ia pasti akan sukses melakukan penggabungan ini. Ia harap Seok Tae Il percaya padanya.
Da Hae menemui Presdir Baek di rumah. Presdir menertawakan keberanian Da Hae menemuinya, bukankah Da Hae ini seorang pencuri yang mencuri dokumen rahasia dari rumahnya. Da Hae tersenyum simpul berkata kalau ia menghargai ucapan Presdir Baek jika Presdir menganggap itu sebagai lelucon.

Presdir Baek : “apa kau tahu kenapa aku membuka gerbang dan membiarkanmu masuk ke rumahku? Aku ingin melihatmu sekali lagi, makhluk seperti apa sebenarnya kau ini. karena itu kenapa aku menyuruh mereka membiarkanmu masuk. Kau... berani-beraninya kau datang ke rumahku?”

“Ayah mertua, aku datang untuk mengambil tunjanganku.” ucap Da Hae menyebutkan maksud kedatangannya.

“Tunjangan?” Presdir terkejut. “Apa kau akan memerasku lagi? Aku punya dokumen rahasia di tanganku. Aku tak melihat senjata apapun di tanganmu. Kenapa aku harus mendengarkanmu? Dasar bodoh.”
Da Hae tak gentar, ia bahkan memiliki senjata ampuh. “Ayah, apa ini cukup?” Da Hae menunjukan luka tusukan yang ada di perutnya. Presdir terdiam terkejut. Da Hae menilai kalau luka tusukan di tubuhnya ini senjata yang sempurna baginya karena satu-satunya pewaris Baek Hak grup (Baek Do Kyung) menusuknya dengan gunting dan menculik bahkan menyiksanya. Tidakkah publik senang mendengar cerita seperti itu. Dan lagi jika ia menambahkan bahwa Presdir lah yang membunuh suami Jimi itu pasti akan menimbulkan reaksi yang hebat. Tentu saja luka ini bukti untuk mendukung cerita itu.

Da Hae kemudian mengatakan kalau tunjangannya 500 juta won sudah cukup. Presdir Baek geram ia seharusnya membunuh Da Hae. Da Hae heran kenapa Presdir tak segera menelepon, karena 500 juta won itu akan menjadi 10 koper jika masing-masing koper berisi 50 juta won.

Presdir Baek tak sudi memberikan uangnya pada Da Hae. Apa Da Hae pikir akan semudah itu mendapatkan uang darinya, silakan lakukan saja sesuka Da Hae.
Da Hae terlihat bingung karena ancamannnya kurang berhasil. Ia pun menggunakan jurus berikutnya, “ayah mertua, apa kau tak berpikir kalau hanya itu satu-satunya salinan dokumen itu, kan?”

Presdir Baek tersentak kaget Da Hae memiliki copy-an dokumen rahasianya. Dah Hae tersenyum penuh ancaman, jika Presdir melakukan seperti apa yang ia minta maka Presdir tak perlu mengkhawatirkan dokumen-dokumen itu.

Presdir Baek pun apa boleh buat. Ia menuruti kemauan Da Hae. Ia menghubungi seseorang untuk menyiapkan 10 koper berisi masing-maisng 50 juta won. Da Hae tampak tersenyum puas. (Padahal bisa dipastikan kalau Da Hae ga punya copy-an dokumen rahasia itu ya, dia cuma nge-gertak doank)

Sebelum pergi Da Hae mengucapkan terima kasih. Ia akan menggunakan tunjangan itu dengan baik.
Da Hae berpapasan dengan Do Kyung yang baru saja pulang. Do Kyung marah melihat Da Hae ada di rumahnya. “Berani-beraninya kau menginjakan kakimu di rumah ini lagi?”

Da Hae tak tahu apa ia harus mengatakan alasan kedatangannya pada Do Kyung atau tidak karena Do Kyung bisa menanyakan itu pada Presdir Baek jika Do Kyung memang penasaran. “Karena putrinya membuat kekacauan, ayah harus terlibat dan menyelesaikanya dengan uang.”

Do Kyung pun bisa menebaknya apa Da Hae meminta uang pada ayahnya. Da Hae berkata jika seorang putri tidak membuat kekacauan maka sang ayah tak akan perlu mengeluarkan uang.
Do Kyung yang marah akan memukul Da Hae tapi Presdir yang ada disana meminta putrinya jangan melakukan itu lebih baik biarkan Da Hae pergi. Presdir menyuruh Da Hae cepat keluar dari rumahnya. Da Hae tersenyum pamitan pada keduanya.
Setelah ketiganya bubar Jimi yang memperhatikan dari lantai atas bergumam heran apa ini, Joo Da Hae datang kesini menemui kakaknya. Ia ampak bertanya-tanya kenapa Da Hae menemui kakaknya.
Do Kyung tak mengerti kenapa ayahnya memberikan uang pada Da Hae. Apa Da Hae memeras ayahnya lagi. Ia meneabak apa itu karena dirinya. “Apa dia mengungkit apa yang kulakukan padanya?”

Presdir berkata kalau ini bukanlah kesalahan Do Kyung. Do Kyung yang marah merasa kalau saat itu seharusnya ia membunuh Da Hae saja. Presdir mengatakan semua ini kesalahannya, ia menilai uang tidak lah ada artinya. Ia mengajak Do Kyung mengubur masalah ini sekarang.

Do Kyung tak mengerti kenapa ayahnya malah menyalahkan diri sendiri. Ia yang akan menghadapi Da Hae dan meminta ayahnya jangan ikut campur. Tapi Presdir tak mau Do Kyung melakukan hal yang tidak-tidak lagi.

Presdir berkata kalau semua ini terjadi karena karma. “Semua dosa yang kulakukan kembali menghantuiku. Suatu hari nanti kau akan tahu. Jika kau tahu, kau akan membenci ayahmu ini. Bagaimanapun, aku dengan kekuatanku akan melindungi keluarga ini. Hingga kau bisa mengatasi ini sendirian aku berharap aku masih ada. Fakta bahwa kau satu-satunya keluargaku yang tersisa aku tak bisa mempercayainya.”

Do Kyung hampir menangis mendengar ucapan ayahnya.
Da Hae mengatakan pada pegawai kantor bukankah mereka tahu betapa pentingnya kampanye pertama setelah mendaftar sebagai kandidat. Ia mengharapkan bantuan mereka untuk bersiap-siap membuat Seok Tae Il sebagai kandidat yang kuat.
Bibi JiMi mendatangi kantor tempat Da Hae bekerja. Da Hae tentu saja kaget dengan kedatanan Bibi Jimi yang tiba-tiba. Jimi memuji kantor kampanye ini terlihat bagus, haruskah ia datang sebagai relawan. Da Hae diam saja tak suka dengan ketangan Bibi Jimi ke kantornya.

Bibi Jimi heran kenapa Da Hae cemberut begitu, apa Da Hae tak suka bertemu dengannya. Da Hae bilang ia agak sibuk sekarang. Bibi Jimi berkata kalau begitu ia akan bicara disini saja biar cepat. “Kenapa kau mengembalikan dokumen rahasia yang kau curi waktu itu?” tanya Jimi ceplas ceplos.

Mereka yang ada disana kaget mendengar perkataan Jimi. Da Hae mengingatkan agar Jimi tak bicara sembaranagn di depan orang lain. Bibi Jimi bersikap santai dan bertanya apa sih sebenarnya isi dokumen itu. Da Hae yang tak ingin membicarakan ini hadapan orang lain mengajak Jimi masuk ke ruangan.
Da Hae menyuguhkan teh untuk Jimi. Bibi Jimi berterima kasih karena sudah lama sekali Da Hae tak membuatkan teh untuknya. Da Hae bisa menebak kedatangan Bibi Jimi bukan sekedar untuk berkunjung, pasti ada maksud lain.

Bibi Jimi tahu kemarin Da Hae datang ke rumah. Ia mendengar Da Hae mengambil uang dari kakaknya. Da Hae berkata kalau Presdir memberikan tunjangan untuknya. Jimi tahu betul kakaknya bukanlah orang yang begitu mudah membuka simpanan untuk orang lain.
Bibi Jimi kemudian menatap tajam Da Hae, “waktu itu kau bilang kau tahu sesuatu tentang almarhum suamiku, ya kan? Apa itu? Dimana dan bagaimana kau mendengar tentang itu? Beritahu aku. Beritahu aku semua yang kau ketahui. Kau tahu bagaimana suamiku meninggal kan? Beritahu aku apa yang kau lihat. Apa itu suara atau file video?”

Da Hae : “Kenapa aku harus memberitahumu hal itu?”

Bibi Jimi : “apa kau meminta pertukaran?”

“Itu file video.” jawab Da Hae.

Bibi Jimi semakin ingin tahu bagaimana suaminya meninggal, apa semuanya ada di file video itu. Da Hae diam membuat Bibi Jimi semakin penasaran. Ia bertanya siapa pelakunya, “siapa yang membunuhnya, oppaku atau Seok Tae Il? Dimana video itu sekarang?”

Da Hae berkata kalau ia tak memiliki video itu sekarang dan hari ini cukup sampai disini saja. Jika ada hal lain yang ingin Jimi ketahui, maka Bibi Jimi perlu melakukan sesuatu untuknya. Jimi mengerti, apa yang harus ia lakukan untuk Da Hae. Da Hae bilang kalau yang pertama sebaiknya Bibi Jimi pulang dulu, ia akan memberi tahu lagi nanti.

Jimi mengancam, “Jika itu bohong maka kau akan mati ditanganku.

Da Hae tak gentar dengan ancaman itu karena ia tahu bagaimana sifat Jimi dan meyakinkan kalau apa yang ia katakan itu tidak bohong. Jimi mengerti dan pamit pulang.
Ha Ryu berkunjung ke rumah Presdir Baek. Presdir minta maaf karena sudah meminta Ha Ryu datang larut malam begini. Ha Ryu bilang tidak apa-apa, ia heran melihat Presdir akhir-akhir ini banyak minum. Presdir menuangkan minuman untuk Ha Ryu.

Presdir berkata kalau ia diberi tahu bahwa dirinya akan mengalami kesialan di tahun-tahun terakhirnya. Dan ternyata itu memang benar. Ha Ryu meminta Presdir jangan berkata begitu karena itu akan segera berlalu.

Presdir Baek menawarkan bisakah ia menceritakan sebuah kisah. Kisah jaman dulu. Ia pun mulai bercerita.
“Dulu ada pria bodoh dan dia membunuh seseorang. Pria bodoh itu adalah aku.”

Ha Ryu terkejut mendengar pengakuan Presdir Baek.

“Aku tak waras saat itu.” lanjut Presdir Baek. “Lalu ada orang lain yang menolongku. Dia adalah konsultan pengacara di perusahaanku dan dia menolongku. Dia membuat orang itu seperti membunuh dirinya sndiri. Konsultan pengacara itu adalah Seok Tae Il yang saat ini sedang menjalankan kampanye. Pria yang dibunuh adalah suami adikku.”

Ha Ryu tambah terkejut mendengarnya.

“Kupikir Seok Tae Il menyelamatkan nyawaku. Tapi Seok Tae Il mulai berubah. Dia menggunakan fakta bahwa aku membunuh orang dan dia mulai menginginkan banyak hal dariku. Jadi aku memutuskan untuk mencari kelemahan yang bisa melumpuhkannya. Fakta bahwa Seok Tae Il menutupi pembunuhan aku merekamnya sendiri dalam video pengakuannya. Aku menunjukan video itu pada Seok Tae Il. Aku menghentikannya memeresku. Tapi karena Joo Da Hae mencuri file video itu dariku masalah pun dimulai lagi. Setelah Joo Da Hae melihat video itu, dia memerasku.”
“Lalu, apa USB yang kubawa itu file videonya?” tanya Ha Ryu.

Presdir mengangguk, “tapi masalahnya file itu dikembalikan setelah Joo Da Hae melihat video itu.”

Ha Ryu mengerti karena itu bisa membuat Da Hae memeras Presdir Baek lagi. Presdir berkata kalau ia akan sangat menghargai jika Ha Ryu menemukan cara menghentikan Da Hae.

Ha Ryu ingin tahu kenapa Presdir Baek memberi tahu informasi rahasia ini padanya. Presdir tahu kalau Ha Ryu adalah pria yang menghabiskan seluruh hidup untuk membalas dendam. “Untuk membalas dendam pada Joo Da Hae kau mempertaruhkan segalanya, kan?” ia sudah mendnegar semuanya dari Do Kyung tentang Ha Ryu.

Ha Ryu minta maaf karena belum memberi tahu Presdir tentang itu. Presdri Baek tak mempermasalahkanya, ia mengerti. “Apa kau bisa menolongku?”

Ha Ryu punya syarat, “Turunlah anda dari posisi Presdir. Meskipun sakit, kita harus menarik patahan itu keluar dari luka. Sekarang anda terlalu rentan bagi Joo Da Hae. Anda harus mengundurkan diri dari posisi presdir. Dengan begitu, anda masih bisa menyelamatkan Baek Hak grup.”

Presdir : “Jika aku setuju dengan syaratmu, apa kau akan menolong Do Kyung?”
Ha Ryu di kantor pengacara merekam tumpukan uang yang ada di depannya.
Ha Ryu berada di parkiran menunggu seseorang. Yang ditunggu pun hadir, Joo Da Hae. Da Hae terkejut Presdir Baek mengirim Ha Ryu untuk menyerahkan uang itu padanya. Ia mencibir kalau Ha Ryu sekarang melakukan hal sepele untuk Baek Hak. Ha Ryu bilang kalau ini karena bisnis jadi silakan ambil uangnya.
Ha Ryu dan Da Hae membuka bagasi masing-masing mobil. Ha Ryu mengambil 10 koper berisi uang dari bagasi mobilnya dan memindahkannya ke bagasi mobil Da Hae.

(Transaksinya simple banget di parkiran mobil. Kira2 suap di Indonesia transaksinya dimana ya haha)
Ha Ryu menyindir Da Hae yang menggunakan Yang Hoon sebagai kambing hitam agar Da Hae bisa mencari jalan keluar, walaupun ia tahu kemenangan Da Hae sekarang tak akan bertahan lama. Da Hae tak menanggapi perkataan Ha Ryu, “kalau kau sudah selesai melakukan urusanmu, kembalilah ke tuanmu.”

Ha Ryu penasaran apa yang akan Da Hae lakukan dengan pemilu Presiden ini karena bukan Da Hae yang akan menjadi Presiden.

Da Hae : “Sudah jelas kau tak bisa membayangkan dengan imajinasimu yang sempit. Terus lakukanlah urusan sepele untuk Baek Hak dan habiskah seluruh hidupmu diberi makan oleh mereka.”

Ha Ryu heran kenapa Da Hae memilih hidup yang begitu rumit.
Da Hae : “Jika kau ingin mendaki puncak, maka itu membutuhkan kerja keras. Kau mungkin tak mengerti.”

“Jika kau naik jauh tinggi, akan membutuhkan waktu lama untuk jatuh. Dan ketika kau jatuh ke dasar.” Bak... Ha Ryu memukulkan tangannya ke badan mobil menandakan kalau itu akan sakit sekali.

Keduanya masuk ke mobil masing-masing dan pergi dari sana.


Bersambung ke episode 20 part 2

1 comment:

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...