Thursday, 24 July 2014

Sinopsis Temptation Episode 3 Part 2

Han Soo menunjukan foto-foto itu pada Min Woo. Ia tahu menguntit orang untuk mendapatkan uang bukanlah cara terbaik tapi ia memiliki aturan sendiri. Keluarga bahagia membuat masyarakat bahagia.

Min Woo tersenyum-senyum melihat foto-foto dirinya, “Berapa banyak yang kau minta untuk foto-foto ini?”

Han Soo bilang itu tergantung dari seberapa banyak nilai kebahagiaan keluarga Min Woo. Min Woo tertawa menilai Han Soo sangat cerdas. Ia selalu memiliki tangan di atas saat membuat kesepakatan. Ia pun akan membayar harga yang bagus untuk foto-foto itu, tapi mau-kah Han Soo menerima tugas darinya. Han Soo bersedia.
Ketika sedang mengajari Roy belajar mengenal huruf dan menulis, Hong Joo menerima telepon dari adiknya. Hong Gyu tanya dimana kakaknya sekarang, apa ada di rumah. Hong Joo mengatakan ia sedang bekerja. Hong Gyu tanya lagi apa kakaknya ini sudah mendapatkan pekerjaan, di rumah sakit mana. Hong Joo heran kenapa tiba-tiba Hong Gyu bertanya begitu.

Hong Gyu sangat penasaran dengan foto bidikan Han Soo, “Noona apa mungkin kau memotong rambutmu?”

Hong Joo terkejut kapan Hong Gyu melihatnya, bukankah adiknya ini belum pulang selama beberapa hari. Hong Gyu terdiam, berarti benar wanita yang didalam foto itu adalah kakaknya.

Hong Gyu tanya di rumah sakit mana kakaknya ini bekerja. Hong Joo bilang bukan di rumah sakit, ia bekerja mengasuh anak. Hong Gyu semakin yakin dengan kecurigaannya, “apa kau berada di Yangpyeong?” Hong Joo semakin heran bagaimana Hong Gyu tahu. Hong Gyu meminta kakaknya tetap disana dan menutup teleponnya.
Hong Gyu akan keluar dari parkir tapi ia hampir saja menabrak sebuah mobil yang melintas di depannya. Hong Gyu kesal dan keluar untuk melabrak pengendara mobil itu.
Ia menggunakan ponselnya untuk memotret bagian mobilnya yang rusak.
Ternyata pengendara mobil itu Yoo Se Jin. “Hei... seharusnya kau minta maaf dulu setelah menabrakku. Kau bisa mengambil fotonya nanti.”
Hong Gyu tak terima disebut penabrak, “siapa yang menabrak siapa? Aku lebih dulu yang jalan.”

Se Jin kesal dan keluar dari mobilnya. Ia memperingatkan jangan coba-coba mencari keuntungan hanya karena ia seorang wanita. Ia tak pernah terlibat kecelakaan selama 7 tahun ini. Ia pun ikut memotret bagian mobilnya yang tabrakan.
Se Jin berkaca merapikan rambutnya. Tapi ketika Hong Gyu melihat ke arahnya Se Jin pura-pura terlihat sewot.
Se Jin kembali mengambil foto tapi bukan bagian mobil yang ia foto melainkan cowok yang ada di depan dia. hahaha.
Hong Gyu mengatakan kalau sekarang ia sedang sibuk jadi bicaranya nanti saja. Ia memberikan kartu namanya dan berkata kalau ia sudah memfoto plat nomor mobil Se Jin jadi jangan coba-coba kabur.

Se Jin heran dengan cowok judes di depanya ini, “Hei apa bukan kau yang mencoba kabur?”

Hong Gyu tak menjawabnya ia masuk ke mobil dan segera berlalu dari sana menuju tempat kakaknya sekarang berada.

Se Jin membaca kartu nama yang Hong Gyu berikan padanya.

Se Jin berpapasan dengan Han Soo yang baru saja keluar dari lift.
Hong Gyu menerima panggilan telepon dari Han Soo. Tapi ia malas menjawabnya dan sedang buru-buru. Ia pun tak menjawabnya.
Min Woo kembali melihat foto-fotonya bersama Hong Joo dan Roy. Ia terdiam kemudian menggelengkan kepalanya manilai ini tak boleh diketahui oleh keluarganya dulu.
Se Jin masuk ke ruangan Min Woo. “Oppa....” panggil Se Jin.

Min Woo terkejut melihat kedatangan Se Jin yang dadakan bukankah seharusnya Se Jin mengatakan padanya jika akan datang. Se Jin tanya kenapa, apa Min Woo tidak punya waktu minum kopi bersamanya.

Min Woo tersenyum ia mungkin kelihatan seperti seorang gelandangan tapi ia juga seorang pebisnis. Se Jin bilang kalau ia hanya ingin ngobrol dengan Min Woo dan mengadu tentang Eonninya.

Se Jin tanya apa Min Woo sudah tahu kalau sekarang Eonni-nya sedang melirik seorang pria. Min Woo bilang ia bertemu Se Young belum lama ini di Hongkong dan dari apa yang ia lihat Se Young masih seorang Ratu Es, jadi itu tidak mungkin.

Se Jin bilang Eonni-nya memang menyangkal itu, “tapi aku melihat pupil matanya bergetar sekitar 0,4 detik. Aku ini percaya pada indera keenamku.”

Min Woo teringat kalau Se Jin sangat faham betul dengan yang namanya merk baru. Se Jin tanya memangnya kenapa. Min Woo ingin tahu merk perhiasan apa yang sedang populer belakangan ini. Se Jin curiga apa Min Woo punya gadis baru. Min Woo tersenyum menilai Se Jin ini asal menebak saja.
Hong Gyu ke rumah dimana kakaknya bekerja. Ia memejamkan mata berharap bukan kakaknya yang ia lihat. Hong Joo terheran-heran bagaimana Hong Gyu bisa menemukan tempat ini. Hong Gyu membuka matanya dan kesal ia tak mau menjelaskan itu. Ia meminta kakaknya segera berkemas dan pulang bersamanya.

Hong Joo tak mengerti kenapa Hong Gyu seperti ini, kenapa marah padanya. Hong Gyu berusaha menahan marah apa kakaknya ini tidak tahu, apa kakaknya ini tahu siapa anak yang kakaknya asuh itu. Hong Joo menjawab tahu, “dia seorang anak malang dengan jiwa yang baik. Dia sangat tergantung padaku dan mendengarkan kata-kataku. Itu sebabnya aku memutuskan untuk menjaganya.”
Kalau begitu kakaknya pasti tahu tentang ayah anak itu. Kang Min Woo itu pria tak baik yang main mata dengan wanita manapun. Dia berusaha menggoda mereka dengan uangnya. Istrinya menyewa orang untuk mengikutinya kemana-mana.

Hong Joo yang belum percaya meminta adiknya jangan keterlaluan. Ia disini hanya untuk mengasuh anak itu. Hong Gyu tak bisa membiarkannya, ia meminta kakaknya jangan bersikap begitu, bagaimana jika Min Woo berusaha merayu kakaknya dengan menggunakan anak itu sebagai umpan.
Hong Joo semakin tak mengerti apa Hong Gyu sedang mengarang cerita. Hong Gyu bilang itu karena ia tak mau kakaknya seperti itu, ia meminta kakaknya segera berkemas dan pergi dari sini. “apa yang akan dikatakan suamimu jika dia tahu? Noona, kau sedang menusuknya dari belakang.”

Hong Joo meminta adiknya jangan sok tahu, “Kau menguntit orang demi beberapa won, tidak pada tempatnya kau bicara seperti itu padaku.”
Hong Gyu yang kesal menelepon Han Soo mengatakan kalau ia berhenti melakukan pekerjaan ini. Ia berhenti melakukan hal omong kosong seperti ini.
Selesai menelepon Han Soo, ia mematikan teleponnya bahkan mencopot baterainya untuk menunjukan pada kakaknya bahwa ia sedang tidak melakukan sesuatu hal yang omong kosong.

Hong Joo menilai itu bagus, karena ia tak pernah merasa senang dengan pekerjaan yang dilakukan Hong Gyu selama ini. Ia mengatakan kalau dirinya harus kembali ke dalam karena anak itu sedang sendirian.

Kini giliran Hong Gyu yang tak mengerti dengan sikap kakaknya, apa kakaknya akan benar-benar tinggal disini. Hong Joo memberi tahu kalau Seok Hoon sudah tahu tentang pekerjaanya. Ia bahkan sudah memberikan alamat rumah ini pada suaminya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.

Hong Gyu masih belum percaya. Hong Joo memberi nasehat pada adiknya agar lebih baik menghabiskan waktu yang berharga untuk mencari pekerjaan yang lebih baik bukannya mengkhawatirkannya seperti ini.

Hong Gyu tak mau tahu itu yang pasti ia melihat akhir-akhir ini kakaknya bertingkah aneh. Hong Joo merasa itu karena Hong Gyu belum terbiasa dengan rambut barunya. Hong Gyu bergumam tak percaya kalau kakaknya membayar biaya potong rambut. Hong Joo menyahut ia tak akan memberikan uang bensin kalau Hong Gyu mengajaknya bertengkar. Keduanya kemudian tertawa.
Jo Young Chul membaca artikel tentang Seok Hoon dan Hwang Do Sik. Ia bertanya pada temannya kapan artikel ini diunggah. Temannya mengatakan kalau Pengacara Choi yang meminta beberapa hari lalu. Young Chul menebak apa Presdir Yoo Se Young yang meminta itu.

Young Chul menghubungi sekretaris kantor Se Young bertanya tentang jadwal Se Young hari ini.
Seok Hoon menemui seseorang untuk menagih uang pinjaman. Tapi Pria itu mengatakan kalau pembayarannya sudah ia serahkan pada Hwang Do Sik. Ia bahkan punya nota-nya. Seok Hoon berkata kalau Hwang Do Sik menuliskan nota sebelum pria itu mengangsurnya sebagai permintaan pribadi. Perdebatan ini tak membuahkan hasil, Seok Hoon tak bisa meng-klaim perusahaan itu berhutang pada perushaannya.
Seok Hoon menemui peminjam lain. Pria itu bilang kalau perusahaannya merugi gara-gara ACE Company, maka dari itu sudah waktunya untuk mengambil jalan terpisah dari ACE Ccompany dan yang jelas lepas tangan gitu.
Seok Hoon jelas kecewa karena tak menghasilkan apa-apa. Ia duduk di depan kios usai membeli air mineral. Ia menekan panggilan cepat nomor 1, Hong Joo. Hong Joo menjawab teleponnya tapi ia tak segera mengatakan apapun. Ia diam saja.

Hong Joo tanya kenapa Seok Hoon diam saja. seok Hoon tak menjawab ia malah balik bertanya apa yang sedang Hong Joo lakukan. Hong Joo mengatakan ia sedang menyiapkan makan malam dengan ahjumma pembantu. Ia juga bertanya apa yang Seok Hoon lakukan. Seok Hoon mengatakan ia baru saja menemui klien perusahaan untuk mengklaim bahwa mereka memiliki hutang.
“Kau tak melewatkan makan kan?” tanya Hong Joo. Seok Hoon berkata kalau ia bahkan belum sarapan. Ia tak berselera makan tanpa kehadiran Hong Joo.

Seok Hoon menawarkan haruskah ia datang menjemput Hong Joo malam ini. Hong Joo diam tak segera menjawab. Seok Hoon heran apa Hong Joo tak mendengarnya. Hong Joo berkata bukankah ia sudah bilang dirinya harus tinggal disini sepanjang minggu. Ia akan pulang naik bis besok. Seok Hoon mengerti ia menanyakan itu karena ia merindukan Hong Joo.

Hong Joo tak menjawab ungkapan kerinduan suaminya. Seok Hoon diam menunggu tapi Hong Joo malah mengatakan sampai bertemu di rumah. Pembicaraan telepon pun selesai.
Hong Joo menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata, “aku juga merindukanmu Seok Hoon-ssi.”
Seok Hoon menerima sms dari Young Chul yang mengajaknya minum bersama, sekalian ada yang ingin dikatakannya pada Seok Hoon.
Hong Joo melihat-lihat pemandangan di luar rumah. Ia kemudian menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Di tempat lain Seok Hoon pun menatap cincin pernikahanya. Ia mencium cincin itu sebagai bentuk kerinduannya terhadap istrinya.
Se Young menemukan uang 3 dollar (3rb won) di buku catatannya. Uang ketika Seok Hoon membeli waktunya selama 3 jam. Se Young tersenyum kecil mengingat itu dan kembali menyimpan uang itu dibuku catatannya.

Seok Hoon mendatangi hotel tempat ia janjian dengan Young Chul.
Di tempat yang sama Min Woo mengajak istrinya makan malam bersama. Tanpa diduga Se Young dan Pengacara Choi pun berada di tempat itu. Keempatnya bertemu.

Min Woo tak menyangka ia akan selalu bertemu dengan Se Young secara kebetulan seperti ini. Se Young mengingatkan kalau ini adalah hotelnya, ada apa Min Woo kesini. Min Woo mengatakan kalau istrinya sangat menyukai restoran Jepang yang di lantai atas.

Ji Sun menyapa Se Young dengan sebutan Presdir Yoo. Ia melihat kalau Se Young tampak hebat seperti biasanya. Se Young mengucapkan selamat karena Ji Sun baru melahirkan.

Ji Sun tersenyum mengait lengan suaminya erat. Ia meminta suaminya ini bertanggung jawab, “Dia (Se Young) begitu kompeten dan cantik. Apa kau tak punya teman yang bisa kau kenalkan padanya?”

Se Young tersenyum tipis mendengar ucapan Ji Sun.

Min Woo berkata kalau Presdir Yoo (Se Young) itu memiliki standar setinggi langit. Ji Sun berkata pada Se Young tentang kesehariannya, ia menghabiskan sepanjang waktu untuk mengasuh anak-anak dan mengurus suami. Ia menilai terkadang kehidupannya seperti tak berarti, ia iri pada kehidupan mewah Se Young.

Se Young paham betulkalau Ji Sun sedang menyindirnya yang masih sendiri. Ia tersenyum berterima kasih atas pujian Ji Sun. Ia harap Ji Sun menikmati makan malam disini.
Se Young akan pergi tapi ia teringat sesuatu, “Oh iya Presdir Kang apa kau sudah memberi tahu istrimu tentang apa yang terjadi di Hongkong?”

“Hongkong?” Ji Sun terkejut.

Min Woo menjelaskan pada istrinya itu ketika perjalanan bisnisnya. Se Young juga ada disana untuk menutup suatu transaksi untuk membeli hotel baru, ini tentang itu kok.

Se Young bilang bukan yang itu, “apa kau ingat, apa yang kau katakan padaku?”

Min Woo tanya tentang apa.

Se Young pura-pura mengingat-ingat, “Kurasa namanya Roy.”
Min Woo memejamkan mata berusaha menahan diri karena Se Young mengungkit masalah Roy di depan istrinya. Ji Sun ingin tahu siapa itu.

Se Young bertanya ke Pengacara Choi, bukankah namanya Roy. Pengacara Choi menjawab bukan, nama Inggris Presdir Jong itu Joy Jong. Se Young kemudian menyahut kalau ia sudah salah mengingat nama. “Dia itu Presdir perusahaan konsultan di Hongkong. Dia diam-diam membeli hotel tanpa sepengatahuan kami, kami bisa mengurusnya berkat Presdir Kang.”

Se Young mengatakan pada Pengacara Choi kalau makan malam Kang Min Woo ini ia yang akan traktir. Pengacara Choi mengerti ia akan menghubungi restoran.

Sebelum pergi Se Young berkata kalau ia senang melihat Ji Sun bahagia. Ji Sun tampak tersenyum kecut. (Hahaha siapa suruh pamer didepan Se Young)

Min Woo menarik nafas lega karena Se Young tak membuka rahasianya tentang Roy di depan istrinya.
Ji Sun langsung menuduh suaminya, apa sekarang suaminya juga sedang mengincar Se Young. Min Woo mengatakan kalau ia hanya main mata dengan para wanita, wanita sepertimu yang seksi, ucapnya sambil memeluk pinggang istrinya.

Wakakakak dasar.
Pengacara Choi melihat kalau tadi Kang Min Woo terlihat bingung. Se Young tersenyum ingin sekali-kali memberi Min Woo saat-saat yang sulit dan menurutnya tadi itu cukup menyenangkan.

Se Young akan pulang setelah berkeliling hotel, apa Pengacara Choi akan ikut. Pengacara Choi berkata ia akan menemui teman kuliahnya. Temannya ini baru berhenti dari Ajin grup, jadi ia memiliki sedikit pertanyaan untuk temannya. Jika kita mendapatkan gambaran yang jelas tentang keseluruhan manajemen mereka kita akan mendapatkan ide lebih baik tentang apa yang sedang mereka coba lakukan dalam bisnis hotel.
Tanpa keduanya ketahui ada seseorang yang mendengarkan, dia adalah Park Han Soo.
Seok Hoon menemui Young Chul di restouran hotel. Ia kira tadi temannya ini mengajak minum bir, kenapa disini. Young Chul mengira Seok Hoon masih murung atas apa yang sduah terjadi, apa itu masih menganggu pikiran Seok Hoon. Seok Hoon meminta temannya melupakan itu dan lebih baik minum saja.
Young Chul melihat sekeliling seperti menunggu seseorang. Seok Hoon tanya apa keduanya sedang menunggu orang lain. Young Chul mengatakan presdir perusahaannya sedang berkeliling disekitar hotel hari ini. Ia berharap Seok Hoon jangan hanya memikirkan masa lalu yang bisa menghalangi masa depan. Ia tahu ide-ide bisnis Seok Hoon itu mengherankan dan juga menyegarkan. Ia ingin membicarakan itu dengan...

Seok Hoon menyela tak mau membahas itu, ia akan pergi. Young Chul berusaha menahan Seok Hoon agar tak pergi, ia mengatakan Presdir-nya menyukai ide-ide Seok Hoon. “Dia meminta sekretarisnya untuk melihat ke dalam perusahaanmu.” Ia rasa ini kesempatan besar untuk Seok Hoon.
Seok Hoon tak tertarik dan akan pergi tapi keduanya terkejut melihat kedatangan Se Young. Seok Hoon tak menyangka akan bertemu dengan Se Young lagi.

Young Chul berbasa-basi tak menyangka bisa bertemu dengan Se Young disni. Se Young tanya apa yang Manajer Jo Young Chul lakukan disini. Young Chul bilang ia ingin minum disini dengan teman lamanya. Ia pun mengenalkan Seok Hoon pada Se Young sebagai seseorang yang pernah mendaftar di perusahaan ini. Keduanya pun saling menyapa, namun tatapan Seok Hoon terlihat dingin.
Min Woo menghadiahkan kalung untuk istrinya. Ji Sun terharu menerimanya. Ia menilai kalung itu sulit dicari bahkan jika punya uang banyak sekalipun. Ia penasaran bagaimana Min Woo mendapatkanya.

Min Woo tersenyum memakaikan kalung itu ke leher istrinya. “Ini sebuah medali untukmu atas semua yang sudah kau lalui. Mari kita saling mencintai seolah-olah tidak ada lagi hari esok. Mari kita menghargai setiap momen dan saling memaafkan satu sama lain.”
Ji Sun heran ada apa, kenapa Min Woo mengatakan itu, apa Min Woo sudah melakukan sesuatu yang salah hingga mengatakan itu. “Aku rasa ini lebih seperti obat penenang daripada sebuah medali. Kau sedang mencoba menyuapku.”

Min Woo bilang bukan seperti itu dan jangan mengajaknya bertengkar.

Ji Sun menyadari pernikahannya yang sudah berjalan 10 tahun. Ia kenal baik siapa Min Woo. “Kau akan terus memburu rok pendek untuk 10 tahun, 20 tahun atau 30 tahun berikutnya.” Aku akan tetap berusaha membebaskan dirimua dari stres tentang itu lagi dan lagi.

Min Woo tanya apa ia seburuk itu.Ji Sun bilang tidak apa-apa, karena ia tahu Min Woo yang paling buruk dalam hal itu, tapi juga yang terbaik dalam hal merayu karena kemewahan juga suatu cara untuk menunjukan cinta. Jadi ia mencintai Min Woo. Min woo berkata kalau ia akan mengubah itu menjadi keuntungan yang lebih baik dangan cara mempertahankan Ji Sun tetap berada di sisinya.
Ji Sun kemudian mengatakan pada Min Woo untuk tinggal terpisah dengan ibu. Kita bisa pindah atau meminta ibumu yang pindah ke Boston. Min Woo tanya kenapa harus ibunya yang harus tinggal dengan Min Jung, bukankah dia punya seorang putra.

Ji Sun : “Jika aku terus tinggal dengan ibumu, aku akan tercekik. Lalu bagaimana dengan anak anak kita? Aku bisa membiarkan ini karena aku menantunya tapi anak-anak kita tidak seharusnya mempelajari wajah (mungkin sifat maksudnya) nenek mereka sepanjang waktu.”

Min Woo mencengkeram cawan minumannya mendengar ucapan Ji Sun. Sekali lagi Ji Sun mengajak Mi Woo untuk tinggal terpisah dari ibu.

Min Woo yang marah menghentakan cawan minumannya, “aku sudah menyerah menjadi seorang putra yang baik tapi jangan membuatku melakukan apapun untuk mengabaikan ibuku.”

Ji Sun terdiam mendengar ucapan tegas suaminya.
Seok Hoon, Se Young dan Young Chul berada di meja yang sama. Young Chul gugup ketika mengucapkan terima kasih pada Se Young karena sudah meluangkan waktu. Ia dengar Pengacara Choi sudah menyiapkan laporan tentang ACE Company.

“Manajer Jo, bisakah kau ambilkan laporan yang ada di kantorku?” perintah Se Young. Young Chul mengerti, ia pun segera melaksanakan perintah. Ia mengedipkan mata pada Seok Hoon berharap berbincangan ini membuahkan hasil yang baik untuk Seok Hoon.
Seok Hoon menilai Young Chul sudah bekerja keras untuk melakukan hal yang sia-sia. “Dia itu sedang berusaha untuk membantuku dan memanggilku kesini. Aku tidak akan datang jika tahu kau akan kesini.”

Se Young malah merasa sebaliknya, ia sudah memiliki firasat kalau dirinya dan Seok Hoon akan bertemu lagi. Ia tadi melihat rencana pengembangan perusahaan Seok Hoon, menurutnya itu ide yang segar tentang bisnis trading Korea. Jika saja Seok Hoon berhasil itu akan menjadi teladan yang baik untuk yang lainnya.

Seok Hoon merasa perkataan Se Young itu aneh, bukankah itu benar-benar hanya omong kosong  yang berdasarkan pada sebuah idealisme.

Se Young merasa kegagalan Seok Hoon karena sang partner menghilang. Secara keseluruhan ia melihat ide Seok Hoon ini tidaklah buruk. “Apa kau akan melanjutkan bisnismu dengan itu?”
Seok Hoon tertawa, kenapa, apa Se Young akan membayarnya jika dirinya gagal lagi. Sekali lagi Se Young tanya apa Seok Hoon akan melanjutkan bisnis itu. Sebelumnya ia sudah mengatakan bahwa Seok Hoon perlu melatih wajah poker Seok Hoon. Seok Hoon menyerah, ia sudah menunjukan kebahagiaan dan kesedihan saat ia merasakannya, karena begitulah dirinya.

Se Young : “Kalau begitu aku rasa wajahmu sekarang sedang menunjukan kau tidak nyaman dengan apa yang kukatakan.”

Seok Hoon bilang bukan begitu, “kau terlihat menyedihkan. Kau tak pernah bernasib buruk atau begitu senang hingga jantungmu berpacu. Karena itu kau bisa selalu mempertahankan wajah jokermu.”

“Bahagia? Jadi, apa kau bahagia Cha Seok Hoon-ssi?” tanya Se Young.

Seok Hoon berkata kalau ia berusaha seperti itu.

Se Young ingin tahu apa Seok Hoon sudah menyelesaikan masalah dengan istri. Seok Hoon diam pertanda masalahnya belum beres. Se Young minta maaf memang mudah menyebabkan suatu kesalah pahaman tapi sulit membuat seseorang mengerti.

Seok Hoon mengingatkan semua kesalahpahaman ini bermula karena penawaran Se Young. Tapi menurut Se Young ini karena Seok Hoon yang menerima tawarannya, apa Soek Hoon lupa itu. Seok Hoon diam tak membantah.

Se Young akan pamit lebih dulu, ia senang bisa betemu lagi dengan Seok Hoon.
Seok Hoon menyusul Se Young, ia ingin menanyakan sesuatu. “Apa yang kau lakukan waktu itu di pantai? Disaat anak-anak lain bermain dan membuat istana pasir, apa yang kau lakukan? Apa kau takut semuanya akan dihancurkan oleh ombak? Apa kau berdiri menjauh sendirian?”

Se Young tak mengerti apa sebenarnya yang ingin Seok Hoon katakan.

Seok Hoon : “Aku dan Hong Joo akan membangun kembali istana pasir kami jika itu memang hancur. Kami akan melakukannya lagi dan lagi, tapi kau tak bisa. Kau seorang pengecut sekarang, persis seperti ketika kau masih kecil. Bukankah itu benar?”

Se Young tak menjawab, ia berlalu dari sana mengabaikan perkataan Seok Hoon.
Dalam perjalanan pulang Se Young sepertinya memikirkan ucapan Seok Hoon. Untuk melepas penat ia membuka jendela mobil dan membiarkan angin malam menyapu wajahnya.

Seok Hoon memutuskan untuk menjemput Hong Joo. Ia kesana menggunakan mobil.
Min Woo sampai di rumah rahasianya. Hong Joo baru saja keluar dari kamar Roy. Ia yang melihat kedatangan Min Woo mengatakan kalau Roy baru saja tidur, kenapa Min Woo datangnya malam sekali. Min Woo memberi kode agar Hong Joo jangan bersuara. Ia akan masuk ke dalam kamar.
Min Woo duduk di samping putranya yang terlelap. Ia merapikan selimut dan menepuk-nepuk putranya sambil menyanyikan lagu yang selalu dinyanyikan oleh Jenny pada Roy. Hong Joo terharu melihat apa yang Min Woo lakukan.
Min Woo duduk sendirian di luar rumah sambil minum wine. Hong Joo menghampirinya mengatakan kalau ia akan pergi tidur juga. Min Woo meminta jika tak keberatan maukah Hong Joo menemaninya minum wine. Hong Joo berkata anggap saja ia dan Min Woo sudah minum wine bersama. Min Woo mengerti penolakan Hong Joo dan mempersilakan Hong Joo beristirahat. Ia akan pulang setelah pengaruh alkoholnya hilang.
Baru beberapa langkah Hong Joo berjalan ia kembali berbalik menghampiri Min Woo dan duduk di kursi. Min Woo menoleh terkejut. Hong Joo mengatakan kalau ayahnya suka minum jadi ia akan bisa mengatasi beberapa gelas wine.
Seok Hoon dalam perjalanan menuju Yangpyeong tempat dimana Hong Joo bekerja.
Sambil minum wine Min Woo bercerita kalau ia orang yang tak pernah gagal, “aku terlahir dalam keluarga kaya dan mendapatkan nilai tertinggi setelah belajar sepanjang malam. Aku mendapatkan gadis manapun yang kuinginkan. Ah mungkin itu bukan hal terbaik untuk diceritakan ya. Tapi bukankah itu suatu kehidupan yang bagus bagi seorang pria?”

Hong Joo menilai itu memang kehidupan yang sangat bagus.
“Tapi akhir-akhir ini aku sering merasa sangat sedih.” sambung Min Woo. “Masalah keluarga, mengkhawatirkan Roy. Aku juga merasa tak enak padamu.”

Hong Joo meminta Min woo tak perlu begitu, “aku yakin tidak ada pengasuh anak lain yang dibayar sebaik yang kudapatkan dan bisa bekerja di tempat seindah ini. Aku juga memerlukan waktu untuk menjauh, untuk menenangkan diriku sendiri.”

Min Woo terkejut apa Hong Joo bertengkar dengan suami karena permintaannya agar Hong Joo bekerja mengasuh anaknya. Hong Joo bilang tidak, itu karena sesuatu yang lain, menurutnya ini tidak begitu menyenangkan bila diceritakan.
Seok Hoon sampai didepan sebuah rumah. Ia melihat sekeliling rumah dan tiba-tiba mendengar suara tawa. Ia mencari dimana sumber orang yang tertawa-tawa itu berasal.
Min Woo tertawa, “ada psikolog anak dan psikolog wanita, kenapa tidak ada psikolog pria?”

Hong Joo mencoba berfikir alasannya.

Min Woo menjawab itu karena pria dan anak-anak berpikiran sama.  Hong Joo dan Min Woo tertawa.
Min Woo menoleh ke satu arah dan melihat kedatangan seorang pria.

Hong Joo menoleh ke arah yang dilihat Min Woo. Ia terkejut begitu tahu bahwa pria yang datang itu adalah Seok Hoon, suaminya.
Apa yang dipikirkan Seok Hoon ketika melihat istrinya minum wine sambil tertawa-tawa bersama pria lain?

Bersambung ke episode 4

*****


Min woo mungkin bukan pria yang baik karena rayuannya pada wanita tapi ia merupakan ayah yang baik untuk anak-anaknya dan seorang anak yang sayang pada orang tuanya.

3 comments:

  1. Setuju sama komentarnya...
    Min Woo emang keren ...
    penasaran alur critanya gimana apalagi sama Min Woo yg ditunggu tiap scenenya... pngen lebih lama interaksinya Min Woo dan Roy...ineraksi ayah dan anak ....

    ReplyDelete
  2. aiiiiiiih, ada sinyal bakal tergoda ngikutin drama ini nih gara-gara mbak anis lagi t.t *masih inget pertama dulu karena CYMH (interaksi ayah-anak? mau banget :)
    APALAGI ada JUNGSHIN dan pemain muda laen yang imut imut gitu XD
    kok bisa sih baru tau gini T.T
    GUD JOB OPPA! jadi adeknya park ha sun bener2 pas banget wkwkwkwk
    FIGHTING MBAK ANIS sudah mempertemukan dengan dramanya jung shin lagi haha^^ (beda sama mbak anis, saya mah lebih suka jung shin acting daripada siwan setelah nonton MDSY -seperti kata ahjumma kim hye ok *kabur)

    ReplyDelete
  3. Lanjut terus Unni ^^
    fighting:)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...