Saturday, 17 November 2012

Sinopsis I Miss You Episode 3

Siapin tisu untuk episode 3. Awalnya aku mau buat 2 part, tapi rasanya koknya gregetnya kurang. Ya sudah lah jadi full satu episode, maaf kalau piku-nya kebanyakan.

Sinopsis I Miss You Episode 3
Jung Woo sampai di rumah diantar pleh Detektif Kim. Detektif Kim kagum melihat rumah besar milik keluarga Han. Ia ingin tahu apa pekerjaan ayah Jung Woo. Jung Woo mengatakan kalau ayahnya seorang Presdir. Detektif Kim senang seharusnya Jung Woo mengatakan itu dari awal. Jung Woo mengucapkan terima kasih karena Detektim Kim sudah mengantarnya pulang.
Detektif Kim menepuk Jung Woo. Ia mengatakan kalau pekerjaannya itu seorang detektif jadi ia bisa tahu walau hanya dengan melihat seseorang. Ia berpesan agar Jung Woo tumbuh dewasa seperti Jung Woo yang sekarang karena dengan begitu mimpi yang tak bisa ia capai Jung Woo bisa mencapainya.
Jung Woo tertawa dan bertanya apa impian Detektif Kim. Detektif Kim berkata kalau impiannya adalah menjadi orang dewasa yang layak. Jung Woo tak mengerti. Detektif Kim tertawa dan berkata kalau itu impian yang sulit. Ia juga meminta Jung Woo melindungi Soo Yeon dengan baik. Keduanya pun saling memberi hormat.
Ada mobil yang tiba disana, mobil Han Tae Joon, ayah Jung Woo. Han Tae Joon menatap curiga Detektif Kim, pandangannya beralih ke mobil Detektif Kim. Ia melihat kalau mobil itu ada lampu sirinenya. Jung Woo memberi tahu kalau Detektif Kim itu polisi.

Detektif Kim mengulurkan tangan dan mengatakan kalau ia ayahnya teman Jung Woo. Han Tae Joon masa bodoh, ia tak menjabat uluran tangan Detektif Kim dan hanya bilang oh... ya... dan mengajak Jung Woo masuk.

Detektif Kim bengong, Jung Woo jadi tak enak hati. Detektif Kim menyuruh Jung Woo masuk dan beristirahat. Sekali lagi Jung Woo mengucapkan terima kasih. Detektif Kim berguman kalau Jung Woo itu anak yang baik tapi ayahnya...... ckck
Detektif Kim melihat-lihat sekeliling. Ia melihat disana ada mobil yang terparkir. Ada dua orang di dalam mobil itu. Detektif Kim penasaran ingin tahu, ia pun mendekati mobil itu untuk melihat lebih jelas. Ia melirik melihat nomor plat mobilnya.

Tapi begitu Detektif Kim mendekat orang yang berada di dalam mobil langsung menyalakan mesin dan tancap gas pergi. Detektif Kim jelas kaget dan curiga, ia pun mencatat plat nomor mobilnya. Seoul 3824.
Jung Woo dan ayahnya masih berada di luar rumah. Han Tae Joon mengingatkan putranya bahwa tak baik Jung Woo berteman dengan orang seperti itu (Detektif Kim) Jung Woo bilang itu karena ayahnya tak mengenal Detektif Kim, dia orang yang baik.
Tapi Han Tae Joon tak suka, ia tak peduli Detektif Kim itu polisi atau penjahat karena keduanya tetap berasal dari lingkungan yang sama. Ia meminta putranya jangan bergaul dengan orang yang tak berguna.

Jung Woo berkata kalau ia hanya tak ingin berbohong pada ayahnya, ia ingin bertemu dengan Detektif Kim lagi. Tapi ayahnya mengancam apa ia perlu mengirim Jung Woo kembali ke Amerika lagi. Ia tak membutuhkan anak yang tak mendengarkan perkatannya. Han Tae Joon menyuruh putranya masuk.
Jung Woo diam di tempatnya berdiri. Angin dingin berhembus meniup rambutnya. Ia mendesah menengadahkan wajahnya menatap langit. Ia mengangkat tangannya merasakan apa hari akan hujan.
Soo Yeon duduk sendirian di tangga depan rumah. Tiba-tiba ada suara telepon berdering. Soo Yeon segera menawabnya, telepon itu sebelumnya ia simpan di balik sweaternya.

“Jung Woo?” tanya Soo Yeon dengan suara lirih.

“Mataku berair.” ucap Jung Woo.

Soo Yeon kaget dan bertanya kenapa. Jung Woo berkata kalau ini terjadi karena angin bertiup dan membuat matanya berair. Soo Yeon menarik nafas lega ternyata bukan hal buruk yang terjadi.
Jung Woo tertawa dan bertanya Soo Yeon ada dimana. Soo Yeon menjawab kalau ia berada di tangga depan rumah. Jung Woo heran kenapa berada di luar apa tak kedinginan. Soo Yeon bilang kalau ia sama sekali tak kedinginan.

Soo Yeon bertanya bukankah hari ini melelahkan. Jung Woo menjawab tentu saja ia bahkan tak sempat makan, tapi baginya hari ini benar-benar menyenagkan. Ia menyukai Paman Detektif dan ibu Soo Yeon sangat menyenangkan. Ia minta izin bolehkan lain kali mengunjungi rumah Soo Yeon lagi. Soo Yeon mengangguk membolehkan.
Soo Yeon menulis sesuatu di tembok dan berkata kalau Eun Joo juga menyukai Jung Woo. Tapi Jung Woo malas membicarakan Eun Joo karena gadis itu terus-menerus membahas tentang ciuman. Tiba-tiba Jung Woo terdiam dan teringat ciuman tak terduga yang mendarat di bibirnya ketika di bus.
Jung Woo meminta Soo Yeon menyiapkan hadiah untuknya karena ia menebak kalau besok pasti hujan. Soo Yeon bilang tidak akan hujan karena ia mendengar kalau besok akan turun salju. Jung Woo tak mau itu, ia ingin sebelum salju pertama turun hujan harus turun terlebih dahulu, “Atau kau bisa memberikan hadiahnya padaku.”

Soo Yeon tersenyum ia ingin tahu apa yang akan Jung Woo lakukan pada saat salju pertama turun. Jung Woo berkata, “Aku akan bertemu denganmu, karena aku hanya punya satu teman, Lee Soo Yeon.”

Soo Yeon tersenyum mendengarnya. Jung Woo berkata kalau ia tetap berharap besok turun hujan. Ia menyuruh Soo Yeon masuk ke rumah karena pasti Soo Yeon sekarang kedinginan. Jung Woo mengucapkan selamat malam. Tapi Soo Yeon tak ingin obrolannya malam ini dengan Jung Woo berakhir, “Jung Woo?”

Jung Woo tak jadi menutup telepon dan mendengarkan apa yang akan disampaikan Soo Yeon tapi Soo Yeon diam saja. “Kenapa?” tanya Jung Woo. Soo Yeon tetap diam mendengarkan suara Jung Woo. Jung Woo heran kenapa Soo Yeon tak segera bicara, kenapa. “selamat malam.” Ucap Soo Yeon. Keduanya menutup telepon sambil tersenyum.
Jung Woo merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan tersenyum lebar. Ia sangat bahagia.
Soo Yeon kembali melanjutkan coretannya di tembok, aku merindukanmu. Malam itu angin dingin berhembus menerbangkan dedaunan di sepanjang jalan. Apakah ini pertanda musim dingin segera muncul dan apakah hujan akan segera datang?
Soo Yeon duduk sendiri di kamar membuka buku hariannya. Di sudut tiap halaman ia menggambarnya dengan sepasang kekasih dimana sang pria membawa payung dan yang perempuan berdiri menunggu.
Aha sweet deh nih gambar, bagian akhirnya payung itu menutupi kedua sepasang kekasih dan di atasnya Soo Yeon memberi tanda love.
Jung Woo berfoto bersama adik perempuannya, Ah Reum. Keduanya tampak senang berpose bersama dan bergantian.
Jung Woo menatap langit yang tampak mendung ia menengadahkan tangannya memastikan apakah hujan akan datang hari ini.
Soo Yeon berada di kamar menulis buku hariannya.

Dia datang, dia tak datang... dia datang, dia tak datang... Jung Woo sedang menunggu hujan turun tapi aku menunggu salju pertama turun. Aku tak pernah menunggu apapun dalam hidupku. Aku selalu memikirkan melarikan diri. Tapi sekarang, aku suka menunggu. Dan juga, aku menyukai Jung Woo. Aku benar-benar menyukainya. Jung Woo bagaimana denganmu?

Soo Yeon menoleh ke jendela dan tersenyum senang karena hujan turun.
Jung Woo juga senang bukan main hujan turun. Ia berlari keluar rumah mengenakan jas hujan kuning.
Soo Yeon membuka tiap laci mencari payung kuningnya tapi tak juga ketemu. Ia bertanya pada Eun joo apa melihat payung kuning miliknya. Eun Joo bilang kalau ia melihatnya. Soo Yeon tanya dimana.
Soo Yeon menunggu kedatangan ibunya di luar rumah, Ibu datang setelah berbelanja mengenakan payung dan kesal kenapa sekarang turun hujan. Soo Yeon langsung berlari menghampiri ibunya. Ibu heran apa Soo Yeon sengaja akan menjemputnya, ia meminta Soo Yeon membawakan belanjaan. Tapi Soo Yeon malah menggapai payung dan menyuruh ibunya cepat masuk.

Ibu menunjukan sesuatu pada Soo Yeon, amplop berisi uang. Ibu bilang kalau Detektif Kim memberinya uang. Tapi Soo Yeon tak ingin bicara panjang lebar dengan ibunya. Ia melihat ibunya sudah basah kuyup tapi ibu tak peduli karena hari ini ulang tahunnya ia akan menyiapkan makan malam yang enak dan Detektif Kim bilang dia juga akan pulang lebih awal. Soo Yeon minta maaf pada ibunya dan segera berlari.

Ibu berteriak Soo Yeon mau kemana. Soo Yeon berkata kalau ia akan segera kembali. Ibu kembali berteriak, “Kau akan bertemu dengan Jung Woo kan?” Soo Yeon menjawab ya sambil berlari dan berkata kalau ia akan segera kembali.
Soo Yeon berhenti berlari, ia teringat sesuatu. Ia merogoh saku sweater mengambil jepit jemuran yang sudah menjadi jepit rambutnya. Ia menjepitkan itu ke rambutnya dan tersenyum bahagia. Jung Woo dan Soo Yeon terus berlari bahagia di bawah guyuran hujan.
Jung Woo berhenti berlari karena ia melihat percikan api di lampu yang kemarin ia perbaiki bersama Soo Yeon. Jung Woo melihat lebih dekat, lampu itu beberapa kali memercikan api. Hmm kan udah rusak ditambah kena air hujan jadi konslet deh.
Tiba-tiba ada seseorang yang membekap Jung Woo dengan sapu tangan, Jung Woo meronta. Soo Yeon sampai di sana dan terheran-heran siapa orang yang dibekap itu, akhirnya ia menyadari kalau orang itu Jung Woo yang akan diculik. “Jung Woo!” teriak Soo Yeon.
Si penculik terkejut karena ada seseorang yang melihat. Jung Woo terus meronta tapi lama-kelamaan lemas dan tak sadarkan diri karena sapu tangan itu sudah diberi obat bius.

Soo Yeon berteriak, ”Paman apa yang kau lakukan? siapa kau? kenapa kau melakukan itu?”
Penculik itu memasukan Jung Woo yang sudah tak sadar ke dalam mobil dan menyuruh temannya untuk segera menjalankan mobilnya.
Soo Yeon menjatuhkan payungnya dan berlari mengejar mobil penculik sambil berteriak memanggil Jung Woo.

Penculik 1 kesal karena apa yang ia lakukan sekarang ada saksi matanya, ia menyuruh temannya, si penculik 2 untuk menghentikan mobilnya. Ia bilang kalau Soo Yeon sudah melihat wajahnya.
Mobil berhenti, Soo Yeon terkejut dan ikut berhenti berlari. Soo Yeon menyadari kalau ini juga tak baik untuknya, ia bergerak mundur ketakutan. Tangannya gemetaran. Tapi ia ingin menolong Jung Woo. Ia pun memutuskan untuk mendekati mobil itu.
Soo Yeon melihat Jung Woo yang tak sadarkan diri melalui kaca mobil. Ia berteriak memanggil nama Jung Woo. Ia berusaha sekuat tenaga membuka pintu mobil tapi tak bisa penculik itu menguncinya.
Soo Yeon berputar ke pintu lain dan mencba membukanya tapi tak bisa, penculik 1 menahan geram. Tiba-tiba pintu terbuka, Soo Yeon terkejut dan ia pun ditarik masuk ke dalam mobil.
Payung Soo Yeon tertiup angin kesana kemari dan berhenti di bawah tiang lampu. Perawat Jung Hye Mi menghubungi si penculik dan berpesan agar semuanya jangan sampai gagal dan jangan main-main.

Hye Mi melihat kalau Hyung Joon tengah meminum obat. Ia melirik ke arah kalung yang dikenakan Hyung Joon dan berkata kalau Hyung Joon akan bertemu dengan Ibu Hyung Joon. Jadi ia minta Hyung Joon bersiap-siap.
Perawat Jung memarkirkan mobil di depan rumah sakit. Kamar rawat Hyun Joo dekat dengan jalan jadi Hyun Joo bisa melihat kedatangan mobil Hye Mi. Apalagi Hye Mi memberi tanda dengan menyalan lampu beberapa kali. Hyung Joon melihat keluar melalui kaca mobil, ia berusaha mencari-cari kamar rawat ibunya. 

“Ibu...” sebut Hyung Joon melihat seorang wanita berada di tepi jendela tengah menatapnya. Hyung Joon membuka pintu mobil. Ia berjalan dibawah guyuran hujan sambil menyeret kaki kanannya yang masih terluka. Hye Mi mengejar dan menahannya. Hyung Joo meronta ia ingin bertemu ibunya. Hyun Joo menangis melihat putranya.
Hyun Joo sadar kalau apa yang dilakukannya ini untuk menyelamatkan putranya. Dengan berat hati ia memberi kode anggukan pada Hye Mi. Hye Mi mengerti ia pun mengangguk. Hye Mi menarik Hyung Joon agar kembali masuk ke mobil. Hyun Joo menangis karena ia harus berpisah dengan putranya.
Tangis Hyun Joo tiba-tiba terdiam karena ia mendengar ada yang masuk ke kamar rawatnya. Ia pun segara menghapus air matanya dan bersikap wajar. Direktur Nam datang.

Direktur Nam tanya apa putra Hyun Joo datang. Hyun Joo tak menjawabnya ia malah meminta Direktur Nam untuk memanggilkan Han Tae Joon.
Han Tae Joon menerima telepon dari Direktur Nam, ia mengerti dan akan segera kesana. Han Tae Joon tersenyum sinis, ia menebak kalau apa yang ia inginkan akan terpenuhi.
Mobil Detektif Kim berhenti tepat dimana payung Soo Yeon ditemukan oleh Eun Joo. Eun Joo mengatakan ketika ia pulang dari toko buku payung ini ada disini. Jadi untuk berjaga-jaga ia tetap disini. Bukankah ini payung milik Soo Yeon, payung Lee Soo Yeon yang terkenal.
Eun Joo merasa kalau Soo Yeon tak mungkin membuang payung ini apalagi ditengah hujan. Detektif Kim mencaoba berfikir apa yang terjadi, ia bertanya bagaimana dengan ibu Soo Yeon. Eun Joo bilang kalau ia langsung menelepon ayahnya begitu ia melihat payung ini. Eun Joo berkata kalau Soo Yeon akan menemui Jung Woo dan Jung Woo tak menjawab teleponnya.

Detektif Kim berkata kalau ia akan mencoba mencari Soo Yeon. Ia minta Eun Joo jangan khawatir dan lebih baik menunggu di rumah saja. Ia berpesan agar Eun Joo jangan mengatakan apa-apa pada ibu Soo Yeon. Eun Joo bilang tentu saja tahu tentang hal ini karena ia putri seorang detektif ia tak akan memberi tahu Ibu Soo Yeon. Detektif Kim jadi bertanya-tanya kemana perginya kedua anak ini (Soo Yeon dan Jung Woo)
Jung Woo disekap disebuah gudang kosong, tangannya diikat di belakang. Jung Woo tersadar ia mencoba untuk bangun tapi sulit karena tangannya diikat. Terdengar siulan seseorang, penculik itu bersiul (lagunya kayak yang selalu dinyanyiin sama Joon Young n bapak angkatnya di Feast of The Gods-apa ya judulnya)
Jung Woo waspada melihat sekeliling. Ia melihat ada bayangan seseorang, Jung Woo panik dan ketakutan. Ia ingat kalau ia membawa ponsel di saku celananya. Ia pun berusaha mengambil ponselnya dengan tangan terikat lalu menekan panggilan cepat nomor 1 tapi ia tak tahu bagaimana caranya berbicara dengan ponsel yang jauh seperti ini. (siapa ya, apa ayahnya)
Tiba-tiba ada suara seseorang merintih, Jung Woo menoleh ke samping dan melihat kalau tak jauh dari tempatnya berada Soo Yeon tersadar dari pingsannya dalam keadaan terikat pula. “Soo Yeon...” panggil Jung Woo lirih.

Soo Yeon terdiam beberapa saat tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jung Woo kembali memanggil Soo Yeon tetap dengan suara lirih. Soo Yeon menoleh ke arah Jung Woo.
Keduanya menitikan air mata, Jung Woo beringsut mendekat kearah Soo Yeon. Soo Yeon pun demikian. (kenapa ga berdiri aja kan kakinya ga diikat, apa kaki keduanya lemas dan ga bisa berdiri)
Jung Woo bertanya kenapa Soo Yeon ada disini, Soo Yeon menangis dan menjawab kalau ia ingin menyelamatkan Jung Woo. Jung Woo ikut menangis karena dirinya Soo Yeon jadi ikut menderita.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mendekat ke arah keduanya. Jung Woo dan Soo Yeon melihat si penculik 2 menyeret kursi menuju meja yang sudah disiapkan bersama barang-barang pelengkap narkoba-nya.

Soo Yeon ketakutan, Jung Woo mendekat ke arah Soo Yeon berusaha melindungi agar gadis ini tak terlihat ketakutan. Si penculik 2 menikmati narkobanya. Soo Yeon dan Jung Woo memejamkan mata berusaha tak melihat apa yang penculik 2 itu lakukan. Keduanya menitikan air mata.
Penculik 2 ini melihat kaki Soo Yeon dan Jung Woo yang bergerak sambil terus bersiul (hmm menurutku penculik ini melihat ke arah kaki Soo Yeon deh)
Jung Woo dan Soo Yeon mencoba melirik apa yang dilakukan si penculik 2. Si penculik sedang santai menikmati narkobanya. Jung Woo menatap Soo Yeon sambil menangis dan mengajak Soo Yeon pulang. Soo Yeon mengangguk menitikan air mata.
Jung Woo melihat sekeliling dan menemukan pecahan botol. Ia mendapatkan ide untuk melepas ikatan di tangan. Ia bergerak ngesot mendekati pecahan botol. Jung Woo mengambil satu pecahan botol.
Han Tae Joon menemui Kang Hyun Joo di rumah sakit. Di kamar itu Hyun Joo tengah menyelesaikan hasta karya dari selang infus. Hyun Joo berkata kalau Han Tae Joon bukanlah orang yang penting. Han Tae Joon mencibir apa Hyun Joo menghubunginya hanya untuk mengatakan itu.

Hyun Joo berkata kalau ia harus keluar dari sini jadi ia minta Han Tae Joon membawakan pakaiannya. Han Tae Joon berkata kalau Hyun Joo juga pada akhirnya sudah menjadi gila setelah tinggal di rumah sakit jiwa ini.
Hyun Joo menatap marah, apalagi yang bisa ia lakukan untuk menghadapi orang gila seperti Han Tae Joon maka ia juga harus menjadi orang gila seperti Han Tae Joon. “Apa anakmu bernama Jung Woo? Han Jung Woo?”
Hyun Joo melempar hasta karya buatannya ke lantai (hmm bentuk apa ya) “Berikan ini padanya kalau kau menemukannya....” Han Tae Joon memandang benda yang dilempar Hyun Joo. Ia terlihat terkejut dan marah, kau...

Hyun Joo berkata kalau kemungkinan Jung Woo belum mati. Han Tae Joon ingat kalau ucapan yang barusan pernah ia ucapkan pada Hyun Joo. Ia pun bergegas keluar.
Han Tae Joon menghubungi istrinya di rumah yang tengah memasker wajah. Ia menanyakan keberadaan Jung Woo. Hwang Mi Ran menjawab kalau Jung Woo ada di kamarnya, Han Tae Joon meminta istrinya memberikan telepon pada Jung Woo, ia ingin bicara dengan putranya.

Mi Ran heran apa terjadi sesuatu. Han Tae Joon tak mau berlama-lama dan membentak istrinya agar cepat memberikan telepon pada Jung Woo.
Kang Hyun Joo sudah berganti pakaian, tiba-tiba Han Tae Joon kembali masuk ke kamar rawatnya. Hyun Joo berkata kalau Han Tae Joon tak perlu mengantarnya pulang karena setelah ia meninggalkan tempat ini dengan aman, Han Tae Joon akan bisa melihat Jung Woo. Tapi dengan cepat anak buah Han Tae Joon memegangi Hyun Joo agar tak kabur.

Hyun Joo meronta, apa yang kau lakukan. Han Tae Joon berkata bahwa ia tak peduli Hyun Joo membunuh Jung Woo atau tidak tapi yang pasti ia akan mendpatkan putra Hyung Joon.
Hyun Joo marah, “Han Tae Joon... apa kau pikir aku tak bisa melakukannya? Kalau aku tak keluar dari sini sekarang, Jung Woo benar-benar akan mati.”

Hyun Joo mengingatkan kalau ia tak hanya sekedar mengancam. Han Tae Joon tak mempan dengan ancaman Hyun Joo, apa Hyun Joo pikir ia takut dengan ancaman seperti ini. Ia menyuruh anak buahnya membawa Hyun Joo dan berpesan jangan pernah membiarkan Hyun Joo melihat sinar matahari lagi.

Hyun Joo menantang, “Baik silakan bunuh aku. Kau akan kehilangan uang dan anakmu. Meskipun aku mati dan masuk ke neraka, aku akan membawa uangmu bersamaku. Jadi hati-hatilah.” Hyun Joo berjanji dengan nyawanya, ia memastikan kalau ia akan membuat Hyung Joon berhasil dengan uang Han Tae Joon. Hyun Joo diseret keluar.

Han Tae Joon bergegas menuju mobil bahkan ia menolak dipayungi oleh anak buahnya padahal hari tengah hujan. Ia terburu-buru masuk ke mobilnya.
Setelah mobil Han Tae Joon pergi, mobil Jung Hye Mi tetap disana. Ia menunduk ketika mobil Han Tae Joon melintas, ia menerima telepon dari si penculik yang mengabarkan bahwa ada anak lain yang mereka bawa selain Jung Woo. Hyung Joon mencoba bangun dan melihat kamar tempat ibunya di rawat. Lampu ruang perawatan tiba-tiba dipadamkan. Hyung Joon terkejut dan menyebut ibunya.

Si penculik menginginkan Hye Mi segera membawa Jung Woo dan Soo Yeon karena kedua anak ini polisi bisa saja menangkap mereka. Hyung Joo mencoba membuka pintu mobil tapi tak bisa pintunya terkunci. Ia meminta Hye Mi membukakan pintu mobil. Hye Mi berkata pada si penculik agar menunggu sebentar, tak peduli apa yang dilakukan polisi ia harap agar si penculik menahan Han Jung Woo.
Hye Mi menjalankan mobilnya, Hyung Joon berteriak meminta dibukakan pintu. Ia terus memanggil ibunya. Hyung Joon mnyuruh Hye Mi menghentikan mobil. Hye Mi memarahinya, “Apa kau ingin mati? Diam! kau tak bisa melihat ibumu lagi. ibumu sudah mati.”

Hyung Joon tak percaya. Hye Mi berkata apa Hyung Joon pikir kalau Han Tae Joon akan membiarkan ibu Hyung Joon tetap hidup. “Dia membunuh ayahmu dan menyakiti kakimu seperti itu, kalau kita tertangkap kita akan mati.”
Hyung Joon berteriak histeris sambil memukul-mukul Hye Mi yang sedang menyetir. Hye Mi berkata kalau sekarang tak ada lagi orang yang rela mati untuk Hyung Joon. Ia berjanji kalau ia pasti akan mendapatkan Jung Woo dan setelah mendapatkanya ia bisa melakukan apapun. Ia akan melakukan apapun yang ia bisa dan meninggalkan tempat ini bersama Hyung Joon.
Han Jung Woo terus berusaha memotong tali yang mengikat tangannya dengan pecahan botol. Telapak tangannya sudah terluka dan berlumuran darah tapi tali itu masih belum bisa putus. Ia malah beberapa kali terluka karena tertusuk pecahan botol. (hmm tali jemuran jadi rada susah)
Soo Yeon khawatir, Jung Woo meminta Soo Yeon menunggu karena ia juga akan segera melepaskan Soo Yeon. Soo Yeon meminta pecahan botol ia juga ingin mencobanya tapi Jung Woo melarang karena ini akan melukai Soo Yeon. Jung Woo beberapa kali tertusuk pecahan botol, Soo Yeon menatapnya khawatir.
“Apa yang kau lakukan?” tiba-tiba penculik 2 bertanya. Keduanya menoleh kaget. Penculik 2 yang berada di bawah pengaruh narkoba mendekat ke arah keduanya.
Jung Woo dan Soo Yeon cemas sekaligus ketakutan. Keduanya saling mendekat dan menggenggam tangan kuat-kuat.
Jung Woo memohon pada penculik 2 agar menghubungi ayahnya. Ia yakin kalau ayahnya akan melakukan apa saja. Jung Woo memohon, “Tolong bebaskan kami, biarkan kami pulang!”
Si penculik 2 menatap Soo Yeon dan secepat kilat menggapai kedua kaki Soo Yeon dengan tangan dan menariknya. Genggaman tangan keduanya pun terlepas, Jung Woo berteriak memanggil nama Soo Yeon. Soo Yeon berteriak meronta, penculik 2 menyuruh Soo Yeon diam, ia akan melepaskan Soo Yeon. Soo Yeon berteriak meronta dan berusaha melawan.
Jung Woo berteriak, hentikan. Jangan lakukan itu... kumohon bebaskan kami. Kumohon bebaskan kami. Jung Woo berteriak ketika melihat penculik 2 ini akan melampiaskan hawa nafsunya pada Soo Yeon.
Penculik 2 kesal karena Jung Woo terus berteriak, ia marah dan menendang perut Jung Woo. Tutup mulutmu. Jung Woo merasakan sakit yang tertamat sangat di perut dan dadanya. Penculik 2 pun memplester mulut Jung Woo agar tak bersuara. Penculik 2 pun kembali menendang perut Jung Woo.
Ketika si penculik 2 berbalik, plok... sebuah kayu mendarat di kepalanya. Soo Yeon yang memukulnya. Hentikan ucap Soo Yeon ketakutan dengan tangan gemetaran memegang kayu. Penampilannya sudah berantakan. Soo Yeon yang ketakutan berjalan mundur sambil mengacungkan kayu pemukul, “Jangan mendekat, pergi. PERGI.”

Jung Woo berusaha mengiris tali yang masih mengikat tangannya.

Soo Yeon menatap penculik dengan wajah ketakutan dan suara yang gemetaran, “Apa kau tahu siapa aku? Ayahku. Ayahku seorang pembunuh.” Soo Yeon menangis berteriak, “Aku anak seorang pembunuh. Apa kau mengerti maksudku?” Soo Yeon terus mundur ketakutan. “Aku juga, aku juga bisa membunuh. Jangan mendekat, aku benar-benar akan membunuhmu.”
Soo Yeon memukulkan tongkat kayunya sampai kayu itu terjatuh. Sepertinya si penculik 2 ini menepis pukulan Soo Yeon dan akibatnya Soo Yeon mendapatkan tamparan yang sangat keras hingga membuatnya tersungkur.
Jung Woo mencoba berteriak agar penculik itu tak melakukan hal buruk pada Soo Yeon tapi apa daya ia tak bisa berteriak atau menolong Soo Yeon karena tangannya masih terikat. Yang ia lakukan adalah secepatnya mengiris tali yang mengikat tangannya untuk menolong gadis tak berdaya ini.
Di depan mata Jung Woo penculik 2 melampiaskan hawa nafsunya pada gadis malang ini. Soo Yeon berteriak meminta dilepaskan. Jung Woo berteriak histeris menangis memohon agar penculik 2 jangan melakukannya pada Soo Yeon. Jung Woo menangis marah karena ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Soo Yeon.
Tiba-tiba pintu terbuka, penculik 1 datang dan tepat saat itu tali yang mengikat Jung Woo lepas. Penculik 1 terkejut melihat perbuatan rekannya, ia memarahi dan memukuli temannya.
Jung Woo mencoba berdiri dengan kakinya, tapi kakinya terasa lemas ia seperti tak mampu berdiri.
Jung Woo melihat Soo Yeon yang tergeletak tak berdaya. Ia menangis melihatnya, tubuh Soo Yeon penuh dengan luka. Bibir Soo Yeon tak bisa bergerak, padahal sepertinya ia ingin memanggil Jung Woo, tatapan mata Soo Yeon sungguh mengenaskan.

Jung Woo melihat pintu gudang terbuka dan kedua penculik itu sedang berkelahi. Ada kesempatan untuk kabur, ia beralih menatap Soo Yeon yang tergeletak tak berdaya. Ia mencoba menimbang-nimbang, apa yang harus dilakukannya. Haruskah ia pergi cepat dan mencari bantuan ataukah pergi membawa Soo Yeon. Tapi ia takut kalau tertangkap lagi. Jung Woo menangis dilema, ia pun memutuskan untuk pergi lebih dulu mencari bantuan. Dengan langkah berat ia berusaha untuk keluar dari gudang penyekapan dan berlari jauh.
“Jung Woo....” sebut Soo Yeon lirih melihat Jung Woo meninggalkannya yang sudah tak berdaya. So Yeon menangis melihat Jung Woo meninggalkannya dalam keadaan seperti ini.
Jung Woo berusaha lari secepatnya, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena tendangan si penculik.
Tiba-tiba langkah Jung Woo terhenti, ia melihat butir-butir salju turun. Salju pertama yang selalu ditunggu Soo Yeon.

Ia pun teringat ucapan Soo Yeon, “Han Jung Woo, apa yang akan kau lakukan saat salju pertama turun?”

“Aku akan menemuimu, karena kau satu-satunya temanku, Lee Soo Yeon.”
Jung Woo menangis merasakan sesak di dadanya. Ia sudah berjanji pada Soo Yeon bahwa ketika ia melihat salju pertama turun ia akan menemui Soo Yeon tapi ia bimbang kalau ia kembali berarti ia menyerahkan diri pada penculik. Ia hanya bisa menangis, ia ingin berteriak untuk menumpahkan segala kepiluannya. Turunnya salju pertama yang ia dan Soo Yeon lalui sungguh menyedihkan.
Jung Woo menoleh ke belakang tiba-tiba ada cahaya lampu mobil, penculik itu mengejarnya. Jung Woo sekuat tenaga berusaha untuk tak tertangkap.
Jung Woo melompati pagar untuk menghindari kejaran si penculik. Penculik 1 keluar dari mobil mengejar Jung Woo. Ia menyuruh temannya si penculik 2 untuk memakai mobil guna menghalangi Jung Woo yang berusaha kabur.
Jung Woo lari diantara rerimbunan pohon di hutan yang gelap. Penculik 1 terus mengejarnya. Jatuh bangun Jung Woo berusaha menghindar agar tak tertangkap. Penculik 2 menggunakan mobil untuk mencegat Jung Woo. Penculik 2 keluar dari mobilnya dan ikut mengejar Jung Woo.
Jung Woo sampai di sebuah stasiun kereta api, ia bersembunyi di bawah gerbong kereta. Kedua penculik itu berpencar, penculik 1 bersikap manis dengan mengatakan kalau ia bukan orang jahat jadi ia minta Jung Woo keluar dari persembunyian. Jung Woo mengintip tapi sesaat kemudian ia kembali bersembunyi. Si penculik meminta Jung Woo berhenti membuatnya marah dan lebih baik keluar dari persembunyian.
Jung Woo gemetaran dan ketakutan saat penculik 1 melewati tempatnya bersembunyi. “Kalau kau tertangkap kau benar-benar mati.” kata penculik 1 yang tak juga menemukan Jung Woo. Jung Woo berusaha menahan mulutnya agar tak bersuara. Penculik 1 celingukan mencari, “Jung Woo bukankah kau harus membawa kembali pacarmu?” Ketika dirasa cukup aman Jung Woo pun segera lari dari sana.
Soo Yeon masih tergeletak tak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya. Ia merasakan butir salju mendarat di wajahnya, ia melihat dengan jelas salju pertama yang ia nantikan turun. Tatapannya kosong menunggu kedatangan Jung Woo.
Jung Woo sampai di pemukiman penduduk tapi wilayah itu terlihat sangat sepi. Jung Woo menggedor tiap rumah mencari bantuan. Tapi tak ada sahutan dari tiap rumah.

(hmm bukan rumah deh kayaknya toko gitu n kalau malam pemilik tokonya ga ada jadi terlihat sepi)

Jung Woo menatap jalanan malam dengan bangunan yang sepi. Ia menoleh dan melihat ada telepon umum.
Dengan tangan gemetaran Jung Woo memasukan koin tapi naas koinnya terjatuh karena tangannya yang gemetaran (seperti Hae Joo nih) ia mengambil koinnya kembali dan mencoba memasukannya lagi. Ia menghubungi ayahnya.
Jung Hye Mi bicara di telepon dengan penculik itu dan berkata kalau ia akan segera tiba. Tapi sesaat kemudian ia terkejut karena mendengar Jung Woo kabur.
Direktur Nam menunggu perintah dari Han Tae Joon. Ia akan memeriksa ini dengan bantuan para detektif. Mereka harus menemukan Jung Woo secepatnya. Tapi Han Tae Joon meminta Direktur Nam menutup mulut jangan membesar-besarkan masalah. Kalau perawat Jung yang membawa Jung Woo, dia pasti akan menghubunginya.
Telepon di mobilnya berdering, Jung Woo yang menghubunginya. Jung Woo yang menangis ketakutan langsung memberi tahu ayahnya kalau Soo Yeon berada di dalam gudang, gudang yang ada di hutan. Han Tae Joon bertanya dimana lokasi Jung Woo sekarang. Jung Woo melihat sekeliling dan menemukan baliho yang ada tulisannya. Ia menjawab kalau ia berada di Soosung, ada sebuah stasiun kereta api.

Jung Woo ketakutan dan terus menangis karena disana tak ada orang sama sekali. “Ayah kita harus menyelamatkan Soo Yeon. Dia berada dalam gudang di hutan.” Han Tae Joon terlihat marah, ia memerintahkan anak buahnya untuk menangkap penjahat itu. Ia menyuruh anak buahnya untuk memanggil bantuan.
Dengan tangan yang masih gemetaran Jung woo menekan 112, ia mencoba menghubungi kepolisian. Jung Woo memohon meminta tolong, ia mengatakan kalau ia sedang tak bercanda dan bukan lelucon. “Tolong hubungi Detektif Kim di Gangnam. Kami diculik. Temanku sedang dalam bahaya.”
Mereka menanyakan keberadaan lokasi Jung Woo. Jung Woo menoleh dan terkejut melihat sesuatu, ia menjatuhkan gagang teleponnya. Ada tangan yang mengambil gagang telepon yang menggantung, ah penculik 1. Ia menutup teleponnya.
Penculik 1 dan 2 celingukan mencari keberadaan Jung Woo. Keduanya yakin kalau Jung Woo belum jauh dari sana. penculik 1 marah karena Jung Woo menelepon pihak kepolisian. Ia menyuruh temannya segara menemukan Jung Woo dan cepat pergi sebelum tertangkap. Penculik 2 kesal, tunggu saja sampai aku menangkapnya.
Keduanya mendengar sesuatu yang terjatuh. Jung Woo bersembunyi di balik tirai sebuah kedai. Lalu tiba-tiba brak.... tirainya dibuka Jung Woo terkejut melihat penculik menemukannya.
Detektif Kim mendatangi rumah Jung Woo untuk mencari tahu keberadaan Soo Yeon. Ia memohon ingin bertemu dengan Jung Woo karena anaknya belum sampai di rumah. Tapi pihak dari dalam rumah mengatakan kalau Jung Woo sedang tidur dan menyuruh Detektif Kim kembali besok.
Detektf Kim tak menyerah begitu saja, ia berteriak memanggil Jung Woo. Tiba-tiba teleponnya berdering. Detektif Kim bertanya apa ada yang menghubungimu. siapa? Detektif Kim terkejut. Ia pun bertanya apa benar kalau itu Han Jung Woo. Darimana dia menelepon. (hmmm saya nebak yang menghubungi ini petugas kepolisian yang diminta Jung Woo untuk menghubungi Detektif Kim)
Jung Woo dipukuli karena mencoba kabur. Penculik 2 sangat kesal dan berulang kali menendang Jung Woo. penculik 1 meminta rekannya membawa Jung Woo dan bereskan anak perempuan itu.
Jung Woo memohon agar kedua penculik ini tak melakukan hal yang buruk pada Soo Yeon. Ia menangis memohon agar membebaskannya bersama Soo Yeon. Penculik bertanya apa ia tadi mengatakan kalau ia akan membunuh Jung Woo kenapa memohon begitu karena mereka tak akan membunuh Jung Woo.

Jung Woo melihat kalau penculik 2 akan pergi, ia menarik kaki penculik 2 dan memohon. Si penculik 2 makin kesal dan beniat menendang Jung Woo lagi tapi penculik 1 mencegahnya dan berkata kalau keduanya harus menerima uangnya. Penculik 2 yang kesal segera pergi dengan langkah sempoyongan karena pengaruh narkoba deh kayaknya. Penculik 1 kesal karena temannya ini berani memukul anak-anak.
Penculik 1 mencoba membangunkan Jung Woo. Ia mengatakan kalau ia dan temannya tak sejahat itu kalau Jung Woo tetap diam Jung Woo akan selamat. Jung Woo memohon agar Soo Yeon dibebaskan. Penculik 1 lelah dengan ocehan Jung Woo. Ia hilang kesabaran dan mencengkeram baju Jung Woo. Tapi tiba-tiba ada beberapa mobil yang datang. Penculik 2 yang belum jauh dari sana terkejut dan bersembunyi. Tenyata itu rombongan ayah Jung Woo.
Penculik 1 panik dan menahan leher Jung Woo mengancam mereka semua jangan bergerak. Tapi dengan cepat anak buah Han Tae Joon melumpuhkan si penculik 1. Penculik 2 yang bersembunyi segera kabur menyelamatkan diri. Penculik 1 mengaku salah dan mengatakan kalau ia hanya melakukan apa yang disuruh kepadanya, ia bilang kalau ia tak tahu apa-apa.
Jung Woo menghampiri ayahnya, sambil menangis ia mengatakan kalau Soo Yeon berada dalam bahaya. Ia memohon ayahnya menyelamatkan Soo Yeon. Han Tae Joon menatap Direktur Nam. Direktur Mam mengangguk mengerti, ia membawa beberapa anak buahnya ke suatu tempat.

Melihat Diretur Nam pergi Jung Woo bilang kalau ia juga ingin ikut menolong Soo Yeon. Ia tahu dimana Soo Yeon berada. Tapi Han Tae Joon menahan putranya, “Kalau kau mau menemukan temanmu, dengarkan aku.”

Jung Woo memberi tahu kalau masih ada pelaku yang lain. Mereka harus menangkap pelaku yang kedua itu sebelum penjahat itu membawa pergi Soo Yeon. “Ayah aku tahu itu, aku harus pergi. Bajingan itu...” Jung Woo menangis tak sanggup melanjutkan kata-katanya. “Kubilang aku harus pergi.”
Plok.. Jung Woo mendapatkan tamparan dari ayahnya. Han Tae Joon berteriak memerintahkan anak buahnya agar membawa Jung Woo pulang. Jung Woo memohon pada ayahnya agara menyelamatkan Soo Yeon. Jung Woo dimasukan paksa ke dalam mobil.
Ponsel penculik 1 berdering si penculik cemas apalagi Han Tae Joon menatapnya tajam. Siapa yang menelepon? siapa lagi kalau bukan perawat Jung Hye Mi.
Perawat Jung kesal karena mereka tak mengangkat teleponnya. Tapi penculik itu menelepon balik. Hye Mi langsung bertanya apa mereka berhasil menangkap Jung Woo. penculik 1 menjawab ya dan bertanya apa Hye Mi sudah menyiapkan uangnya. Ia akan membawa Jung Woo ke hadapan Hye Mi sekarang.
Ternyata yang memegangi ponsel si penculik adalah anak buah Han Tae joon. Hye Mi masih belum percaya apa benar mereka sudah menangkap kembali Jung Woo. Tapi tiba-tiba terdengar oleh Hye Mi suara Jung Woo berteriak memanggil, Ayah ayah ayah. Sadarlah ia kalau Han Tae Joon sudah berada disana.
Tiba-tiba ada seseorang yang melintas di jalan tepat di depan mobil yang dikendarai Hye Mi melaju. Hye Mi ngerem mendadak dan hampir menabrak orang itu, siapa dia. Lee Soo Yeon.

Dengan tubuh lemas Soo Yeon berusaha mengangkat kepala meminta tolong. Hye Mi dan Hyung Joon terkejut kalau itu adalah Soo Yeon. Hye Mi pun teringat ucapan si penculik kalau ada anak lain yang mereka bawa, ia pun menyadari kalau yang dimaksud dengan anak yang lain adalah Soo Yeon.

Dengan kondisi tak berdaya Soo Yeon memohon Hye Mi menyelamatkannya. Tapi Hye Mi malah memundurkan mobilnya, ia menyuruh Hyung Joon mengenakan sabuk pengaman. Soo Yeon tergeletak di tanah dingin penuh salju. Hyung Joon jelas terkejut dengan tindakan yang akan dilakukan Hye Mi. Dengan sisa tenaga yang dimiliki Soo Yeon mencoba untuk berdiri.
Hye Mi memasukan gigi mobil. Hyung Joon ketakutan, apa yang akan Hye Mi lakukan? Kenapa mau melakukannya. Hye Mi berkata kalau Soo Yeon mengetahui wajah pelakunya, kalau mereka menyelamatkan Soo Yeon maka ia dan Hyung Joo pasti akan dibunuh. Hye Mi mamacu mobilnya, Soo Yeon yang mencoba berdiri dengan sisa tenaganya terkejut melihat mobil yang meluncur cepat ke arahnya.
Direktur Nam berada di gudang tempat anak-anak itu disekap. Ia menyalakan korek. Anak buahnya sudah mengumpulkan barang-barang yang bisa menjadi bukti. Mereka menyiram barang-barang itu menggunakan minyak tanah (solar kali ya) Terlihat jepit milik Soo Yeon tertindih.
Direktur Nam membungkus sweater milik Soo Yeon dan ponsel Jung Woo. Ia melemparkan korek ke tumpukan barang yang sudah diberi minyak. Api menjalar menghanguskan barang bukti, seperti tali dan jas hujan kuning milik Jung Woo.
Detektif Kim akan menuju tempat yang dimaksud petugas kepolisian, tapi lajunya terhambat karena ada kereta lewat. Ia menatap kejauhan dan melihat kepulan asap. Ia menatapnya heran. Detektif Kim keluar dari mobilnya ingin melihat lebih jelas kepulan asap apa itu.
Setelah kereta melintas ada beberapa mobil yang lewat, ya itu mobil yang membawa Han Tae Joon dan Jung Woo. Tapi sayangnya pandangan Detektif Kim tertuju pada kepulan asap, ia tak menyadari siapa yang berada di dalam mobil yang lewat. Tapi tidak dengan yang berada di dalam mobil. Han Tae Joon mengenali Detektif Kim, ia heran kenapa Detektif Kim bisa berada disini. Jung Woo melihat sekilas tapi ia tak bisa berbuat banyak.
Eun Joo yang sedang membaca buku harian Soo Yeon sambil menerima telapon dari ayahnya dan mengatakan kalau Jung Woo tak menelepon. Ia bertanya apa ada masalah. ia menanyakan keberadaan ayahnya.
Ibu Soo Yeon masuk Eun Joo langsung menutup teleponnya. Ibu melihat kalau Eun Joo baru saja menerima telepon, ia bertanya apa itu telepon dari Detektif Kim apa yang dikatakannya, apa Detektif Kim menemukan Soo Yeon. Eun Joo menjawab tidak, ia berbohong bilang kalau Soo Yeon tak ada di rumah sakit. Ia berfikir kalau yang dialami Soo Yeon bukanlah kecelakaan mobil. Ibu menarik nafas cemas, “Kalau begitu apa yang dilakukannya sampai larut begini?”
Ibu menyuruh Eun Joo menghubungi Jung Woo karena Soo Yeon bilang padanya akan menemui Jung Woo. Eun Joo menyembunyikan buku harian Soo Yeon dan bilang kalau ia tak tahu nomor Jung Woo padahal di dalam buku itu ada nomor ponsel Jung Woo.

Eun Joo berkata bukankah ayahnya mengatakan kalau dia akan menemukan Soo Yeon jadi tunggu saja. Ibu sangat yakin kalau Soo Yeon sedang bersama Jung Woo. Ia menilai putrinya sudah gila karena pemuda itu. Ibu melihat makanan yang ada di meja, ia tambah kesal tak tahu harus diapakan makanan yang banyak itu. Ibu mendesah kalau suami dan anakanya benar-benar membuatnya lelah.
Detektif Kim dan beberapa rekannya sampai di gudang tempat penyekapan Jung Woo dan Soo Yeon yang terbakar. Mobil pemadam kebakaran telah dikerahkan. Detektif Kim memeriksa bagian dalam gudang terutama barang-barang yang sengaja di bakar. Teman Detektif Kim yang diam saja merasa kalau penjahatnya sudah melarikan diri.
Detektif Kim melihat sesuatu di bawah sana yang tertindih drum. Jepit jemuran milik Soo Yeon, ia memungutnya. Ada bagian dijepit itu yang meleleh karena kobaran api, tapi bentuknya masih terlihat jelas. Detektif Kim ingat kalau ia pernah mengambil jepit itu dari rambut Soo Yeon kemarin. Ia pun mengambil kesimpulan kalau Soo Yeon tadi berada disini.
Temannya tanya apa yang Detektif Kim temukan. Detektif Kim berkata kalau mereka harus segera memasang police line dan menyelidiki tempat ini. Ia bertanya kapan para penyelidik akan datang. Temannya tanya kenapa. Detektif Kim mengatakan kalau ia menemaukan sebuah jepit jemuran dan itu milik anaknya. Ia meminta temannya untuk mendukung penyelidikannya. Tapi temannya mencibir kalau ia juga memiliki benda itu lebih dari dua puluh buah di rumahnya.
Detektif Kim kesal ia mengatakan kalau seseorang sudah hilang. Kalau mereka membuang waktu hidup orang itu kemungkinan akan terancam. Temannya tahu kalau Detektif Kim ingin mencari anak itu tapi ia menilai kalau Detektif Kim ini terlalu berlebihan di daerah hukum orang lain. Lebih baik membuat laporan anak hilang dan serahkan berkasnya dan ikuti prosedur seperti biasa.
Detektif Kim melihat sekeliling lokasi untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai petunjuk. Ia menyusuri jalanan dan menemukan jejak kaki. Jejak kaki Jung Woo ketika kabur. Ia juga mengamati pagar yang tadi Jung Woo gunakan untuk memanjat.
Han Tae Joon membanting putranya hingga jatuh kesakitan di kamar. Hwang Mi Ran mencoba membantu Jung Woo. Han Tae Joon marah karena Jung Woo membiarkan diri Jung Woo diculik. Ia juga memarahi putranya karena menghubungi polisi.

Hwang Mi Ran membela uacapan suaminya dan bertanya kenapa Jung Woo melakukan itu, “Apa kau tak tahu kalau ayahmu pernah dipenjara? Kalau dia berani melibatkan diri dalam masalah seperti ini, kali ini dia tak akan bisa lolos. Ini akan menjadi akhir keluarga kita.”
Jung Woo mengeraskan suaranya berkata kalau itu tak ia lakukan Soo Yeon bisa mati karena dirinya. Dengan tubuh penuh luka Jung Woo memohon pada ayahnya kalau mereka harus segera menemukan Soo Yeon. Ia mengatakan kalau Soo Yeon mencoba menyelamatkannya, “Dia mencoba menyelamatkanku.....” Jung Woo tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Menyelamatkanmu?” Han Tae Joon membentak, “Dan kau melarikan diri meninggalkan anak itu?” Jung Woo mengaku salah, itu karena ia takut. Saat itu ia tak bisa berfikir jernih.

Han Tae Joon : “Kalau terjadi sesuatu maka kau yang sudah membunuhnya.”

Jung Woo lemas mendengar ayahnya bicara seperti itu. Han Tae Joon menyuruh istrinya menghubungi dokter Kim untuk merawat Jung Woo dan pastikan Jung Woo tak keluar dari kamar tanpa seizinnya.
Han Tae Joon akan pergi tapi Jung Woo memohon kalau ia akan melakukan apapun yang ayahnya inginkan. Apa ayahnya ini mau mencari Soo Yeon karena ia percaya ayahnya mampu melakukan itu. Ia memohon ayahnya berjanji padanya. Han Tae Joon menepis tangan putranya, ia mengatakan kalau ia yang menumukan Jung Woo jadi ia harap Jung Woo jangan pernah melibatkan polisi lagi.
Hwang Mi Ran akan menyusul suaminya, tapi Jung Woo menahan tangan ibu tirinya. Ia memohon agar ibu tirinya ini berada di sisinya, untuk mendukungnya. Tapi Hwang Mi Ran bertanya untuk apa dia melakukannya bukankah Jung Woo sudah mengabaikan kata-katanya. “Kalau kau kembali ke Amerika hal ini tak akan terjadi.” Mi Ran memperingatkan Jung Woo jangan pernah bertingkah di depannya lagi mulai dari sekarang.
Jung Woo hanya bisa menunduk menangis atas apa yang baru saja ia dan Soo Yeon alami. Ia menangis untuk meluapkan semua emosinya, ia mulai menyalahkan dirinya kenapa ini bisa terjadi.
Hari mulai terang Detektif Kim menyusuri jalanan yang ditutupi oleh salju. Ia berusaha mencari sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk. Detektif Kim pun menemukan sesuatu. Noda darah disalah satu daun yang tertutup salju.
Ia mencoba mencari petunjuk lain dan ia pun menemukan hal yang mengagetkannya, sebuah sepatu. Sepatu sebelah kiri milik Soo Yeon. Ia mengambilnya dan menebak kalau Soo Yeon semalam melalui jalan ini.
Terlihat kilasan balik kejadian semalam, Detektif Kim melihat bayangan dimana Soo Yeon berjalan tertatih menyusuri jalanan yang dingin dengan tubuh penuh luka. Detektif Kim mengikuti arah jalur Soo Yeon berjalan.
Hari kembali terang, Detektif Kim sampai di jalan besar. Ia melihat sekeliling dan menemukan tanah bekas jejak seseorang dan noda darah. Detektif Kim menangis meyakini kalau Soo Yeon semalam berada di jalan ini, tapi kemana gadis ini.
Detektif Kim kembali ke rumah Jung Woo. Ia menggedor pagar rumah Jung Woo keras keras. Direktur Nam keluar menanyakan keperluan Detektif Kim. Detektif Kim menunjukan tanda pengenalnya, Ia beralasan kalau tadi pagi Jung Woo menghubunginya, bukankah Jung Woo ada di dalam.

Detektif Kim akan masuk tapi Direktur Nam menghalangi. Ia mengatakan kalau ketika Jung Woo menghilang ia yang membawa Jung Woo pulang jadi ada masalah apa Detektif Kim akan menemui Jung Woo.
Detektif Kim mengatakan kalau anaknya dan Jung Woo janjian bertemu lalu keduanya menghilang, jadi ia harus bertemu Jung Woo. Direktur Nam tak membolehkan Detektif Kim menemui Jung Woo kecuali membawa surat perintah. Ia mengancam kalau Detektif Kim membuat keributan lagi ia akan menghubungi polisi (lha kan polisinya detektif Kim sendiri)

Anak buah Han Tae Joon menyeret Detektif Kim pergi tapi Detektif Kim harus bertemu dengan Jung Woo untuk menanyakan sesuatu. Ia meronta meminta dilepaskan, ia ingin menanyakan beberapa hal pada Jung Woo.
Detektif Kim menyuruh juniornya mengambilkan beberapa foto mobil yang tengah diselidiki pihak kepolisian. Juniornya bertanya apa anak yang hilang itu putri Lee Tae Soo. Iia heran kenapa seniornya melakukan ini. Detektif Kim tak menjawab ia malah bertanya apa juniornya ini sudah memeriksa semua kamera lalu lintas di sekitar gudang.
Detektif Kim menemukan mobil itu, mobil yang sama dengan mobil yang terparkir di depan rumah Jung Woo, mobil dengan nomor plat Seoul 3824. Detektif Kim berkata kalau orang yang di dalam gambar adalah orang yang dicari. Ia meminta juniornya memperbesar gambar karena wajahnya tak bisa dikenali. Tapi juniornya menolak ia tak mau dilibatkan.

Detektif Kim tetap menyuruh juniornya untuk mencari mobil ini dan kirim ke tim investigasi. Detektif Kim menyerahkan sepatu sebelah milik Soo Yeon. Juniornya kesal dan berkata kalau mereka bisa dipecat karena melakukan hal ini. Detektif Kim juga kesal apa juniornya ini menjadi detektif hanya untuk mendapatkan uang. Kita semua bertanggung jawab kepada Soo Yeon, ia menyuruh juniornya cepat pergi jangan membuang waktu.
Atasan Detektif Kim datang, keduanya langsung menyembunyikan barang bukti agar tak terlihat atasan mereka. Atasannya bettanya apa Detektif Him pergi ke rumah presdir Han Tae Joon. Ia memarahi detektif Kim, “Apa kau tahu tempat seperti apa itu? Kenapa kau membuat keributan disana?”

Detektif Kim heran apa ke rumahnya juga tak boleh. Atasannya marah karena Detektif Kim menjawab omongannya dan akibatnya detektif Kim mendapatkan tendangan tepat mengenai kakinya. Atasannya berkata ia mendengar kalau putri Lee Tae Soo tinggal bersama Detektif Kim, “Apa kau ingin menghancurkan hidupku?” Detektif Kim melihat juniornya masih berdiri disana. Ia menyuruh juniornya cepat pergi.
Atasannya berkata apa Detektif Kim tahu kalau ada reporter yang mencoba mencari bukti bahwa tuduhan terhadap Lee Tae Soo itu salah. Ia memperingatkan kalau Detektif Kim membuat keributan tentang gadis yang menghilang, apa detektif Kim kira hanya ia saja yang mendapat masalah. Pak Komisaris juga akan sangat marah dan mereka semua akan mendapatkan masalah juga.
Atasan Detektif Kim meminta tanda pengenal dan mengatakan kalau Detektif Kim mulai hari ini diskorsing. Detektif Kim meyakinkan kalau hal ini bukan tentang kasus Lee Tae Soo. Ia hanya mencoba menemukan putrinya, Soo Yeon. Atasannya mengancam kalau Detektif Kim ketahuan melakukan penyelidikan ilegal maka Detektf Kim akan mendapatkan masalah. Detektif Kim menerima telepon dari Eun Joo, ia terkejut dan segera pulang.
Di rumah Eun Joo mencoba menghalangi Ibu Soo Yeon yang ingin mencari sendiri putrinya. Eun Joo mengatakan kalau ayahnya sedang mencari keberadaan Soo Yeon. Tapi ibu tak percaya pada Detektif Kim, kalau mereka belum mendengar kabar itu artinya sudah terjadi sesuatu pada Soo Yeon.
Detektif Kim sampai di depan rumah. Ibu bertanya apa Detektif Kim tahu alamat keluarga korban pembunuhan ayah Soo Yeon (ibu mengira Soo Yeon diculik oleh keluraga korban pembunuhan yang telah lalu) Eun Joo kaget, “Pembunuhan? Siapa yang membunuh?”

Detektif Kim meminta ibu Soo Yeon masuk tapi ibu tak mau. Ibu bertanya apa Detektif Kim ingin melihat putrinya mati. Ibu memohon Detektif Kim bicara dengan keluarga korban, katakan pada mereka kalau ayah Soo Yeon bukan pembunuh. “Katakan kalau kau salah tangkap dan kau tahu siapa pembunuh sebenarnya,”
Eun Joo makin bingung dan minta penjelasan ayahnya. Detektif Kim tak tahu harus menjelaskannya dari mana. Ia mengatakan pada ibu Soo Yeon kalau ini bukan tentang keluarga korban, tapi Ibu yakin pasti mereka karena mereka bertanya padanya kenapa putrinya masih hidup disaat anak mereka mati. Bukankah pada saat itu Detektif Kim mendengarnya.
Ibu menangis khawatir, Detektif Kim meyakinkan kalau tak terjadi apa-apa pada Soo Yeon, percaya padanya sekali ini saja. Ia berjanji akan menemukan Soo Yeon. Ibu menangisi nasib putrinya yang malang. Eun Joo tak mengerti apa yang ayahnya dan ibu Soo Yeon bicarakan, bukankah ayahnya bilang kalau ayah Soo Yeon juga seorang detektif.
Eun Joo mencoba mencari tahu. ia mencarinya diantara buku-buku soo yeon. Eun Joo kembali mengambil buku harian Soo Yeon. Detektif masuk ke kamar dimana Eun Joo tengah mencari tahu. Detektif Kim berjanji kalau ia akan mengatakan semuanya pada Eun Joo. Tapi Eun Joo tak mau mendengarnya.
Eun Joo tak mengerti bagaimana seorang Detektif seperti ayahnya bisa berbohong seperti seorang pengecut, bukankah ayahnya pernah bilang lebih baik mati daripada menjadi seorang pengecut.
Eun Joo tanya apa Soo Yeon tahu tentang ini, apa Soo Yeon tahu kalau ayahnya bukan seorang pembunuh. Detektif Kim diam tak menjawab. Eun Joo menangis mengatakan kalau ayahnya jahat, ia memukul-mukul ayahnya. “Bukankah ayah menangkap orang jahat seharusnya ayah tak menjadi orang jahat juga. Ayah bilang padaku jangan berbohong tapi kenapa ayah berbohong?”

Eun Joo menangis. Siapa yang bisa ia percaya sekarang. Detektif Kim minta maaf apa yang ia lakukan memang salah. Eun Joo bertanya bagaimana kalau Soo Yeon pergi setelah dia tahu tentang hal ini. Detektif Kim bilang kalau ini bukan karena masalah itu.

Eun Joo tak mengerti apa maksud ayahnya bukan karena masalah itu. Eun Joo berkata kalau Jung Woo juga tak menjawab teleponnya, ia yakin kalau mereka berdua sedang bersama. Detektif kim bekata mereka tak bersama karena Jung Woo sekarang berada di rumahnya sendiri. Eun Joo heran lalu kenapa dia tak menjawab teleponnya kalau dia berada di rumah. Apa ayah bertemu dengannya, apa yang Han Jung Woo katakan. Detektif Kim tak menjawab.
Jung Woo bermimpi, mimpi yang tak tenang. Berulang kali ia menggumamkan nama Soo Yeon.
Terbayang dalam mimpinya Soo Yeon yang tak berdaya dipaksa untuk menuruti nafsu si penculik. Terngiang ucapan Soo Yeon kalau dia datang untuk menyelamatkan Jung Woo tapi Jung Woo malah meninggalkan Soo Yeon yang tak berdaya. Terlihat dalam mimpinya, ia kembali ke gudang penyekapan, tapi Soo Yeon sudah tak ada.
Jung Woo membuka mata dan langsung bangun. Ia merasakan sakit di dadanya. Jung Woo mencabut selang infus yang menancap di lengannya. Ia keluar kamar.
Jung Woo menuruni tangga sambil terus meneriakan nama Soo Yeon. Ia bertanya pada bibi pembantu dimana Soo Yeon. Bibi pembantu jelas bingung. Mi Ran bertanya kenapa Jung Woo begini, apa Jung Woo sudah gila. Jung Woo membuka pintu ruang kerja ayahnya. Di ruangan itu ayahnya tengah berdiskusi dengan Direktur Nam.
Jung Woo bertanya pada ayahnya dimana Soo Yeon. Han Tae Joon marah melihat tingkah putranya. Jung Woo berkata bukankah ayahnya sudah berjanji akan mencari Soo Yeon. Dimana Soo Yeon. Air mata Jung Woo terus mengalir.
Jung Woo meninggikan suaranya, “Bukankah ayah akan membawanya pulang. Dimana Soo Yeon? Dimana?”
Han Tae Joon menggenggam kedua bahu Jung Woo meminta Jung Woo sadar. Jung Woo masih meninggikan suaranya, bukankah ayahnya sudah berjanji, dimana Soo Yeon. tangis Jung Woo semakin keras.

Hwang Mi Ran terus bertanya kenapa dengan Jung Woo. Han Tae Joon menyuruh istrinya memanggil dokter Kim, sementara ia terus memegangi Jung Woo yang menangis meronta.
Jung Woo melepaskan diri dari pegangan ayahnya hingga membuat ayahnya tersungkur ke meja dan di meja bisa kita lihat barang bukti berupa ponsel Jung Woo yang dimasukan ke plastik.
Jung Woo terus menangis bertanya dimana Soo Yeon. Bukakah ayah berjanji akan membawanya pulang. Jung Woo terus menangis bertanya dimana Soo Yeon...dimana Soo Yeon.

Bonus pict Lee Hwon
Adegan nangis ending episode ini mirip sama adegan nangis YJG di TMTETS episode 5.

Komentar :

Nangis nangis nangis, episode ini bener bener tragis. Ga nyangka nasib Soo Yeon akan setragis ini, Jung Woo juga tak bisa berbuat banyak di depan mata kepalanya sendiri gadis yang ia sukai dinodai. Arghhh... 

Kenapa Jung Woo meninggalkan Soo Yeon yang sudah tak berdaya? ya kalau kita jadi Jung Woo juga akan dilema keputusan apa yang harus diambil. Menolong Soo Yeon tapi kembali terkurung atau pergi mencari bantuan. Akhirnya Jung Woo memilih pergi untuk mencari bantuan ayanya tapi ternyata apa, Soo Yeon tak mereka selamatkan. Soo Yeon malah berjalan tertatih dengan luka tubuh dan batinnya. Menurut berita yang beredar adegan ini menuai protes, walaupun yang ditayangkan hanya ekspresi Jung Woo dan Soo Yeon tapi adegan pemerkosaan terhadap remaja ini menuai kontorversi di Korea Selatan sana. Awalnya pihak MBC juga katanya ga menayangkan adegan ini tapi akhirnya ditayangkan juga.

Ah... jadi ingat adegan Soo Yeon kejatuhan kotoran burung apa ini suatu pertanda. Seperti yang sudah saya sebutkan diepisode sebelumnya menurut mitos kalau orang kejatuhan kotoran burung dia akan mengalami salah satu dari dua hal ini, mendapatkan rezeki atau mendapatkan bencana. Ternyata yang dialami Soo Yeon adalah bencana. Tapi kita tak perlu mengarah ke mitos, ini hanya mitos yang bisa dipercaya bisa juga tidak. Well bagaimanakan nasib Soo Yeon selanjutnya. Episode selanjutnya masih nangis-nangis.

16 comments:

  1. ditunggu ya mba update episode 4 nya,
    klo boleh tau di update berapa kali seminggu ya?

    ReplyDelete
  2. mba anis...maaf sebelumnya, itu yang bagian stelah jung woo kabur kok gak ada screencaps nya..smua tulisan aja..jadi bingung bacanya?
    -Indah-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf ya tadi uploadnya belum semua... Sekarang udah komplit...

      Delete
    2. D tunggu yg episod 4 nya mba.. :D
      *Indah*

      Delete
  3. suka suka bgt.... semangat!!!!!! diyunggu lanjutannya
    _rere_

    ReplyDelete
  4. Kejadian yg tragis :'( memang seharus'y tdk layak tayang untuk adegan pemerkosaan. Walaupun dlm dunia nyata hal seperti itu pasti tak terelakan.

    ReplyDelete
  5. aku malah setuju dengan MBC yg tetap menayangkan adegan pemerkosaan (toh jg ga ada vulgar2nya kan) krn itu adalah puncak dari segala kesedihan, kemarahan, dan penyesalan Jung Woo.. jd lebih dapet feel nya dan kita jd ikut merasakan & memahami kepedihan yg dialami So Yeon & Jung Woo
    aku juga penasaran, kira2 kasus pembunuhan yg mengakibatkan salah tangkap ayah So Yeon ada hubungannya sama ayah nya Jung Woo gak yah.. mungkin ga sih kl pelaku pembunuhan sebenernya itu ayahnya Jung Woo walaupun korelasi nya agak mustahil sih hehee krn soal kasus pembunuhan itu masih belum jelas bgt gmn kronologisnya.. atau mungkin memang penulis sengaja ga memperjelas krn cm ambil point ttg pengaruh peristiwa itu terhadap So Yeon :P

    ReplyDelete
  6. setuju ma niken_m3i.
    aku ga kuat liat episode ini.
    tralu tragis.
    aku g sanggup ngebayangin kl menjadi soo yeon

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa episode ini tragis bgt, skrg malah penasaran gmn cerita nya sampe So Yeon bisa jd designer terkenal.. liat foto2nya So Yeon dewasa (yg diperanin YEH) keren bgt, designer terkenal, modis, cantik, tp tatapan matanya tetep mengandung kesedihan

      Delete
  7. Keren abiz dan sangat sangat menyentuh hati. Aku sebagai cewe yg juga seumuran sama So Yeon alias 15 tahun juga jadi ngeri bayangin itu semua. Kasihan banget So Yeon harus menerima itu semua. ckckck

    ReplyDelete
  8. wah,keren2..
    lanjutkan terus ya unnie.. ^^
    Hwaiting..!! ^^

    ReplyDelete
  9. mb anis aku hbs baca sinop. 2 part 2 trs ke sinop 3, ko aq g au klo jung won seo yon g sengaja berciuman di bus, apa aku yg ketinggalan baca sinopsnya ya heheh

    ReplyDelete
  10. NANGIS,TRAGIS,ngeri abis,ga bisa bayangin kalo jadi so yeon,apalagi aku seumuran sama dia,tapi bingung gimana ceritanya bisa jadi designer terkenal...lanjut episode 4

    ReplyDelete
  11. emg bener soo yeon di nodai?? Kirain nggak jadi.. Btw, ngeri bacanya kasihan bgt yah jadi soo yeon

    ReplyDelete
  12. sumpah, aku liat serial ini mewek2 beneran asli :'( ini, aku jadi suka inget kishnya soo yeon dna jung woo yang remaja, menyedihkan hiks.hiks

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...