Sunday, 25 November 2012

Sinopsis May Queen Episode 10


Kang San alias Ryan Kang melempar kertas-kertas rancangan. Hae Joo yang tengah melakukan interview melihat itu dan memungutinya satu per satu. Ia pun menyerahkan kumpulan kertas rancangan itu pada San.

Keduanya bertemu pandang, San jelas terkejut melihat wanita yang pernah manjatuhkannya secara kasar di klub malam. Hae Joo juga tak menyangka kalau ia akan bertemu lagi dengan pria yang ia lumpuhkan di klub malam.

San tertawa, “Senang bertemu denganmu. Kau ingat wajahku kan? Bahuku masih terasa sakit.”

Il Moon menanyakan apa San dan Hae Joo saling mengenal. San ingin tahu siapa wanita yang ada di hadapannya ini. Hae Joo diam saja. Ketua Tim Jo Min Kyung memberi tahu kalau Hae Joo ini calon pegawai baru untuk Tim pengembangan teknik. San tak mengerti apa perusahaan akan mempekerjakan preman.

Il Moon heran apa maksudnya preman. Hae Joo mencoba meluruskan kalau antara dirinya dengan San sebelumnya pernah ada kesalahpahaman. San menyahut kalau ada salah paham bukankah seharusnya Hae Joo memulainya dengan minta maaf.

Hae Joo mendekat ke arah San dan bicara pelan kalau ia tengah melakukan hal penting. San menyahut kalau kedatangannya juga karena ada hal penting.

Il Moon menyuruh Hae Joo keluar. Hae Joo jelas kaget karena ia belum selesai memperkenalkan diri. Tapi menurut Il Moon ini sudah lebih dari cukup, “Wanita preman yang hanya lulusan SMP bekerja sebagai teknisi tapi berani melamar untuk posisi tim pengembangan teknik pada perusahaan besar yang membuat komponen berteknologi mutakhir.” Kang San tertawa mendengar apa yang disampaikan Il Moon.

Hae Joo berkata sejauh yang ia tahu tak ada batasan pendidikan untuk kualifikasi pekerjaan ini. Kalau Il Moon tak mempercayainya ia akan dengan senang hati melakukan tes tambahan. Tapi Il Moon tetap menggagalkan Hae Joo dalam interview kali ini. Hae Joo jelas kecewa dan berkata kalau ini masalah yang penting untuknya. Ia minta tolong agar diberi kesempatan.

Il Moon malah bertanya apa Hae Joo tak tahu caranya pergi dari ruangan ini. Hae Joo menatap San, San hanya mengangkat bahunya. (San Oppa ekspresi-mu sangat lucu) San mengambil kumpulan kertas rancangan yang ada di tangan Hae Joo. Hae Joo keluar dari ruangan dengan perasaan kecewa.
Hae Joo berjalan lemas tak semangat. Calon pelamar yang akan melakukan interview menatapnya heran dan menebak kalau Hae Joo pasti tak diterima bekerja.

Kembali ke ruang interview. Il Moon minta maaf dan meminta si Ryan Kang menunggunya hingga ia menyelesaikan interview. San berkata interview ini mungkin penting untuk Il Moon tapi baginya kapal pengebor seharga 900 juta dollar jauh lebih penting. San kembali melempar kertas rancangan ke meja Il Moon. “Sampai kau menjelaskan ini kau tak boleh melakukan apapun.”

Il Moon menyindir bahasa Korea Ryan Kang sangat bagus tapi apa Ryan Kang ini tak belajar menggunakan bahasa formal. Ia mengatakan kalau ia ini direktur divisi keluatan Cheon Ji. San tertawa meminta Il Moon berhenti bermain-main. Il Moon bingung kenapa San bicara begitu.

San : “Hei saat kau kecil kau bahkan tak sepintar Chang Hee. Apa sekarang kau juga manjadi buta? Itu sebabnya kau selalu terkena pukulan dariku.”

Il Moon masih belum paham, “Siapa?” Kemudian ia menyadari sesuatu, “Jangan-jangan apa kau Kang San?”

San menyindir daya ingat Il Moon buruk. “Kalau orang penting datang bukankah setidaknya kalian mengecek siapa dia. Atau apa aku sudah semakin tampan melebihi bayanganmu?” (hahaha)

San keluar dari kantor di depan kantor ada mobil merah yang berhenti. In Hwa keluar dari mobil dan menyapa San. San jelas bete bertemu lagi dengan In Hwa. Ia heran apa In Hwa menempelken alat pelacak pada tubuhnya. In Hwa berkata kemana pun San pergi sudah menjadi takdir kalau keduanya akan selalu bertemu.

San akan pergi tapi In Hwa menahan dan bertanya mau kemana. San hanya berkata lebih baik In Hwa menyalakan alat pelacak dan temukan dirinya. San naik ke motornya. In Hwa berkata bukankah San memiliki kapal Yacht, apa San sekarang akan ke laut.

San : “Kalau kau suka laut aku akan pergi ke gunung. Dan kalau kau menyukai gunung maka aku akan ke laut.”

In Hwa mengancam kalau tingkah San seperti ini padanya ia akan memberi tahu ayahnya kalau San adalah Ryan Kang. San menyindir apa In Hwa mau mengancamnya terhadap hal yang sudah In Hwa sepakati untuk dirahasiakan. Bagaimana ia bisa mempercayai kalau In Hwa seperti ini. Ia memberi tahu kalau ia sudah mengaku tentang identitasnya.

In Hwa kaget, “Apa? Aku sudah mengunci mulutku dan siap membuang keluargaku demi dirimu.”

Kini giliran San yang kaget, “Apa? Apa kau sungguh akan melakukan hal seperti itu?”  hi San ngeri. Haha.

San menyalakan motornya dan tancap gas mengabaikan panggilan In Hwa.

Hae Joo berada ditempat pembuatan kapal. Ia menatap kapal besar yang tengah dibangun. Ia menatapnya sedih sekaligus kecewa karena gagal masuk ke perusahaan besar.

San melintas disana dan menghentikan motornya ketika melihat Hae Joo berdiri mematung memandang kapal. Ia heran dengan apa yang dilihat Hae Joo. Ia pun menatap kapal pengebor yang ada di hadapannya. Tatapannya bergantian antara menatap kapal dan Hae Joo. Kemudian terdengar suara klakson mobil meminta motor San menyingkir. San pun menjalankan motornya segera pergi dari sana.

Sambil pergi meninggalkan tempat San melirik Hae Joo lewat kaca spion.

Di kantor kejaksaan Chang Hee mencoba menghubungi Hae Joo tapi nomor yang ia tuju tak aktif. Chang Hhee penasaran bagaimana hasil interview Hae Joo.

Chang Hee teringat ucapan ayahnya, “Chang Hee kalau kau menikahi In Hwa kau bisa mengalahkan Il Moon dan Perusahaan Pembangunan Kapal Cheon Ji akan menjadi milikmu. Chang Hee, kau bisa melakukan itu. Kau pikir demi apa aku menahan semua penderitaan yang aku alami di rumah ini?”

Chang Hee pun menghubungi ayahnya ia ingin bertemu karena ada yang ingin ia bicarakan dengan ayahnya.

Hae Joo pergi ke tebing batu karang tempat ia dulu menaburkan abu ayahnya.

“Aku minta maaf ayah. Aku tak bisa sering berkunjung. Kalau aku lulus hari ini, aku bisa datang kesini setiap hari menggantikan ketidakhadiranku selama ini.”

Mata Hae Joo berkaca-kaca, “Aku minta maaf ayah. Aku sungguh sangat ingin berhasil kali ini.” air mata Hae Joo mulai menetes.

Ternyata Chang Hee sudah berada tepat di belakangnya. Chang Hee mendekat dan menyentuh lembut pundak Hae Joo. Hae Joo berbalik dan terkejut melihat Chang Hee ada disana ia segera mengusap air matanya. Ia bertanya dari mana Chang Hee tahu kalau ia ada disini. Chang Hee balik bertanya memangnya Hae Joo bisa kemana lagi, “Kau mematikan ponselmu. Kalau kau lulus kau pasti sudah senang sekali.”

Hae Joo membenarkan dan berkata kalau ia gagal dengan begitu saja. Ia sudah menyiapkan banyak hal untuk interview tapi ia tak bisa menunjukannya. Hae Joo memberi tahu kalau yang menangani interview-nya itu kakaknya In Hwa. Ia bisa langsung mengenali pria itu meskipun sudah lama berlalu karena pria itu masih tetap saja brengsek.

Chang Hee bertanya apa Il Moon mengenali Hae Joo. Hae Joo bilang tidak karena orang itu hanya bisa melihat seseorang memalui tingkat pendidikannya. Chang Hee mengerti Hae Joo tak lulus karena kualifikasi pendidikan yang kurang. Ia ingin tahu apa perasaan Hae Joo tak apa-apa. Hae Joo mengangguk tersenyum karena hal ini bukan sekali dua kali ia alami jadi tak ada yang bisa ia lakukan. Ia merasa sepertinya tak akan pernah bisa tinggal dekat dengan Chang Hee. Ia juga merasa kalau mungkin ini yang terbaik, karena kata orang cinta itu harus terpisah supaya semakin menggebu.
Chang Hee tak tersenyum sedikitpun wajahnya malah tampak murung. Hae Joo heran kenapa Chang Hee sedih seperti itu paling tidak ia bisa mendapatkan baju dan sepatu baru.

Chang Hee menanayakan kenapa Hae Joo menenteng sepatu bukankah seharusnya Hae Joo mengenakan itu. Hae Joo berkata kalau pasir dan kerikil bisa merusak sepatu. Chang Hee tersenyum dan mengajak Hae Joo pergi makan. Chang Hee membawakan barang-barang Hae Joo dan tangan yang satunya menggandeng Hae Joo.

Hae Joo berjalan pelan menuruni tebing batu karang Chang Hee membantu memeganginya. Ups... Hae Joo kehilangan keseimbangan sepertinya kakinya terkilir. Untung Chang Hee langsung memeganginya.

Chang Hee melepas jasnya dan memakaikannya untuk menutupi rok Hae Joo. kemudian ia jongkok dan menyuruh Hae Joo naik ke punggungnya. Tapi Hae Joo tak enak hati dan berkata kalau tubuhnya berat. Chang Hee tertawa mengingatkan kalau ia ini laki-laki.

Hae Joo tersenyum dan naik ke punggung Chang Hee. Chang Hee merasakan berat badan Hae Joo, “Apa kau ini terbuat dari besi?” Hae Joo menabok punggung Chang Hee, keduanya tertawa.

Tangan Hae Joo merangkul erat dan berkata kalau ini sangat nyaman. “Ini mengingatkanku saat bersama dengan ayahku.”

Park Gi Chul menunggu kedatangan putranya di sebuah restouran. Ia tersenyum senang karena majikannya menginginkan putranya menjadi menantu sang majikan.

Hae Joo dan Chang Hee sampai di restouran itu. Hae Joo heran kenapa makan siang ditempat ini. Ia ingin makan sesuatu yang sederhana saja. Chang Hee tersenyum dan menggandeng tangan Hae Joo mengajaknya masuk.

Park Gi Chul langsung berdiri terkejut melihat putranya datang bersama seorang wanita. Ia tak mengenali wanita itu. Is bertanya siapa wanita itu. Chang Hee mengatakan kalau gadis ini yang akan ia nikahi.

Park Gi Chul jelas terkejut. Hae Joo jadi tak enak hati karena tiba-tiba Chang Hee mengajaknya untuk bertemu dengan ayah Chang Hee. Ia menyapa Gi Chul dengan sopan. Gi Chul bingung ia berusaha mengenali siapa wanita yang di depannya. Chang Hee bertanya apa ayahnya ingat, ini Hae Joo.

“Siapa?” Gi Chul kaget ingin memastikan nama siapa yang ia dengar.

“Paman aku Chun Hae Joo. Yang dulu tinggal di dekat perkebunan pir.”

Gi Chul terdiam shock. Chang Hee menyuruh ayahnya duduk tapi Gi Chul masih diam menatap Hae Joo. Ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan gadis ini.

Tanpa berkata-kata lagi Gi Chul langsung keluar meninggalkan Chang Hee dan Hae Joo. Hae Joo jelas sedih dan meminta penjelasan dari Chang Hee apa arti semua ini kenapa Chang Hee membawanya menemui ayah Chang Hee. Bagaimana bisa Chang Hee mengatur hal seperti ini tanpa bicara dulu dengannya.

Chang Hee bertanya kalau hal ini ia beritahukan apa Hae Joo mau datang. Tapi menurut Hae Joo walaupun begitu bagaimana mungkin Chang Hee memutuskan ini tanpa memberitahunya dan juga ayah Chang Hee pasti sangat terkejut melihatnya. Ia mengajak Chang Hee cepat keluar untuk menjelaskan. Chang Hee bilang tak apa-apa karena suatu hari nanti hal ini pasti akan terjadi. Kalau keduanya tak melakukan ini keduanya tak bisa melakukan apapun.

Park Gi Chul menunjukan wajah kemarahan dan kegelisahannya. Ia mengingat kejadian dimana ia mencelakai Chun Hong Chul. Ia gemetaran mengingat semua itu.

Chang Hee minta maaf karena tak memberi tahu Hae Joo terlebih dahulu. Ia meminta Hae Joo duduk tapi Hae Joo tak mau ia tak bisa terus seperti ini. Ia belum menyiapkan diri untuk bertemu dengan ayah Chang Hee.

Chang Hee menanyakan kapan persiapan itu akan selesai. Ia merasa kalau ia tak bisa menunggu lagi, kalau keduanya berpisah sekarang kapan lagi keduanya akan bertemu. satu bulan, dua bulan. Meskipun ia pergi ke Geojae untuk menemui Hae Joo ia tetap tak bisa menemui Hae Joo dengan tenang, “Kau bekerja di pabrik saat siang dan warung makan disaat malam. Pernahkah kita bertemu dengan tenang selama satu jam. Aku tak bisa lagi menunggu,”

Chang Hee berjanji akan meyakinkan ayahnya. Kalau hal itu tak bisa ia akan tetap meyakinkannya jadi Hae Joo tak perlu terlalu khawatir. Hae Joo berkata kalau masalahnya bukan terletak pada ayah Chang Hee. Ia juga memiliki anggota keluarga.

Chang Hee berkata kalau ia juga bisa menemui mereka. Tapi bukan tentang itu yang Hae Joo maksud. Kalau ia tak disana bersama keluarganya, mereka tak bisa berbuat apapun bukankah Chang Hee tahu hal ini kenapa Chang Hee bersikap seperti ini.

Chang Hee : “Lalu apa aku harus menunggu sampai keluargamu hidup makmur? Berapa lama lagi kau harus menanggung ibumu, adikmu dan kakakmu?”

Hae Joo : “Mereka keluargaku!”

Chang Hee : “Mereka seperti rantai di pergelangan kakimu. Menghalangimu meraih kebahagaiaan. Apa itu keluarga? Sekali ini, setidaknya sekali ini saja bisakah kau memikirkan kebahagiaanmu sendiri?”

Hae Joo terdiam. Chang Hee mengerti kalau begitu ia yang akan mengurus keluarga Hae Joo. Ia akan bertanggung jawab tentang perekonomian keluarga Hae Joo. Chang Hee mengajak Hae Joo menikah. Tapi Hae Joo tak setuju karena memenuhi kebutuhan keluarga adalah tugasnya. Bagaimana bisa ia begitu tak tahu malu membiarkan Chang Hee yang mengurusi keluarganya. Kenapa Chang Hee tak bisa mencoba untuk mengerti. Ia perlu bekerja.

Chang Hee : “Kau bisa bekerja. Kalau kau mau bekerja di Cheon Ji, Bekerjalah. Kalau perlu aku akan berlutut pada Il Moon untuk mempekerjakanmu.”
Hae Joo : “Kakak kenapa harus sejauh itu?”

“Karena aku mencintaimu.” Suara Chang Hee meninggi membuat Hae Joo terdiam. “Tidakkah kau tahu kalau aku mencintaimu.” suara Chang Hee memelan.

Tiba-tiba Park Gi Chul masuk dan menarik putranya untuk keluar. Ia ingin bicara dengan putranya. Chang Hee tak mau kalau ayahnya mau bicara lebih baik disini saja. Gi Chul marah dan membentak menyuruh Chang Hee keluar bersamanya.

Gi Chul menarik tangan Chang Hee. Chang Hee mengerti kalau ayahnya sangat marah tapi ia tak punya pilihan lain. Gi Chul tak mau mendengar ia mengajak putranya pulang dan bicarakan hal ini di rumah.

Chang Hee akan pulang bersama ayahnya tapi ia minta ayahnya menerima dulu ucapan salam dari Hae Joo karena dia bukan orang asing. Hae Joo menyusul keduanya dan minta maaf karena sudah membuat Gi Chul terkejut.

Gi Chul tak sudi menatap Hae Joo, ia membuang muka. Ia tak mau bicara dengan Hae Joo dan membentak meminta Hae Joo pergi dari hadapannya.

Chang Hee kaget ayahnya berteriak sangat keras pada Hae Joo, “Ayah kenapa kau seperti ini?”

Hae Joo mengerti dengan kemarahan Gi Chul. Ia pun pamit dan akan menghubungi Chang Hee lagi nanti. Hae Joo segera pergi mengabaikan panggilan Chang Hee.

Chang Hee akan menyusul tapi Gi Chul menahan putranya jangan mengejar Hae Joo. Chang Hee tak mengerti apa yang telah ayahnya lakukan, tak peduli semarah apapun ayahnya bagaimana bisa ayahnya mengusir orang seperti itu.

Chang Hee bersikeras akan mengejar Hae Joo tapi Gi Chul tetap menahan putranya memohon jangan pergi. Kalau Chang Hee pergi menyusul Hae Joo lebih baik membunuhnya terlebih dahulu.

Hae Joo berada di terminal Ulsan. Ia menangis atas apa yang terjadi tadi. Ia menatap sepatu pemberian Chang Hee yang kotor. Ia mengusap kotoran yang menempel di sepatu dengan tisu.

Park Gi Chul terkejut mendengar penjelasan Chang Hee kalau selama 15 tahun ini putranya tetap berhubungan dengan Hae Joo. Chang Hee mengatakan kalau keluarga Hae Joo tinggal di Geo Jae, “Alasaku tak pernah memberi tahu ayah karena harapan ayah yang sangat besar padaku sejak aku masih kecil.”

Chang Hee sadar kalau ayahnya sangat kecewa padanya, ia minta maaf karena tak pernah memberi tahu tapi Hae Joo adalah seorang wanita seperti mercusuar dalam hidupnya. Kalau bukan karena Hae Joo ia bisa saja menjadi monster. Meskipun ia membenci kehidupannya yang seperti ini, tapi Hae Joo adalah orang yang pertama dan satu-satunya yang bisa membuatnya ingin mencoba hidup.

Park Gi Chul berkata kalau ia tak mengerti hal seperti itu. “Masa depanmu sebagai menantu keluarga Cheon Ji sudah di depan mata. Setelah menggertakan gigiku dan memanjat begitu lama akhirnya aku bisa melihat puncak. Tapi kau, bagaimana bisa kau berfikir untuk jatuh kembali ke tanah? Chang Hee, apa kau tak tahu bagaimana hidupku? Apa kau sudah lupa bagaimana hidupku demi dirimu? Aku hidup melewati semua penghinaan, dipukuli oleh Presdir dan direndahkan oleh Il Moon, apa kau pikir aku melakukan semuanya untuk melihat hal ini?”

Chang Hee bilang kalau ia tak melupakan itu, “Aku ingin merancang pembalasan dendamku pada Presdir Jang dan Il Moon melebihi ayah.” Ia ingin hidup lebih baik melebihi kehidupan orang-orang itu. “Kalau ayah menyuruhku untuk meremukkan dan menang atas Presdir Jang dan Il Moon, akan kulakukan. Tapi hidup bukan hanya tentang itu, aku juga ingin bahagia. Dan hanya Hae Joo yang bisa melakukan itu padaku.”

Park Gi Chul membentak meminta putranya jangan bicara omong kosong. Chang Hee ikut meninggikan suaranya. Park Gi Chul menyuruh Chang Hee memilih, “Bunuh aku dan pergi ke wanita itu atau kau menjadi menantu Presdir Jang.”

Mata Chang Hee berkaca-kaca karena menahan marah. Ia tak bisa meninggalkan Hae Joo begitu saja.
Sekertaris Choi memberikan laporan tentang Ryan Kang (Kang San) “Dia (Ryan Kang) dibayar dengan gaji dan fasilitas yang hebat oleh perusahaan Noble, perusahaan tempat bekerja Ryan Kang saat ini.”

Presdir Jang menahan kekesalannya, ia mengira kalau harimau sudah mati tapi ternyata dia sedang membesarkan anaknya. Il Moon berkata kalau menurutnya ini hanya salah paham karena ketika masih sekolah San selalu rangking terakhir mana mungkin dia mendapatkan gelar doktor dari MIT. Ia menduga kalau itu hanya gelar palsu dan hasil rekayasa.

Presdir Jang membentak putranya agar jangan berfikir bodoh, apa Il Moon pikir perusahaan Noble yang termasuk perusahaan top dalam bidang pengeboran akan bertindak sebodoh itu.

Ada yang mengetuk pintu ruangan Presdir, Kang San. Sekertaris Choi mohon diri keluar ruangan. San bersikap akrab pada Il Moon tapi Il Moon cuek.

San bertanya apa Presdir memanggilnya. Presdir Jang berusaha tersenyum di depan San, ia memberikan tepuk tangan, “Ryan Kang, bukan-bukan. Kang San.” Presdir minta maaf karena tak mengenali San. Ia bertanya kenapa San tak mengatakan identitas San dari awal padanya.

San berkata ia akan canggung kalau ia sendiri yang mengatakannya. Presdir berkata kalau ia sangat terkejut, ia pun ingin memastikan apa San benar-benar pengawas dari perusahaan Noble. San pun berkata kalau ia juga terkejut, “Saat anda menelan perusahaan kapal Hae Poong aku tak menyangka anda akan menjadi seperti ini.”

Presdir menyadari kalau San menyindirnya. “Jadi karena dendam lamamu, apa kau menjadi sangat bertingkah tentang inspeksi?”

San berkata tidak, ia tak bisa begitu. Sekarang ini ia hanya seorang pegawai yang dikirim oleh pemilik kapal perusahannya jadi mana mungkin ia bersikap semaunya padahal ia tak punya kekuatan. Kalaupun ia memiliki dendam apa yang bisa ia lakukan dalam level sehebat Presdir Jang. Ia harus menahan dan membiarkannya berlalu (apa benar San begitu, Hmmm tentu saja tidak kan?)

San bertanya apa ada hal lain yang ingin Presdir Jang katakan padanya karena ada banyak hal yang harus ia lakukan. Presdir mengerti ia akan bicara dengan San lain waktu karena keduanya pasti akan sering bertemu.

San kembali ke kantor ia bertanya pada Ketua Tim Jo Min Kyung, apa sudah menyelesaikan lembar instruksi produksi. Jo Min Kyung menjawab belum selesai. San heran kenapa belum selesai, kenapa lama sekali. Jo Min Kyung mengatakan ini karena mereka memerlukan orang yang benar-benar paham tentang produksi aktual, mereka sedang meninjau beberapa kandidat utama.

San ingat dengan seorang wanita yang dilihatnya sedang melihat kapal (Hae Joo) ia bertanya pada Ketua Tim Jo Min Kyung, “Gadis itu tidak gagal wawancara karena aku kan?” Jo Min Kyung tanya siapa yang dimaksud San. San mengatakan gadis yang ia temui saat wawancara pagi ini.

“Oh itu Chun Hae Joo.” Ketua Tim Jo Min Kyung berkata kalau gadis itu gagal wawancara bukan karena San tapi karena kualifikasi pendidikannya yang kurang. San mengangguk menegrti ia berbalik tapi langkahnya terhenti. “Tunggu sebentar!”

“Kau bilang siapa?” Tanya San untuk memastikan apa yang tadi ia dengar. “Gadis yang gagal wawancara pagi ini, siapa namanya?”

“Chun Hae Joo, apa ada masalah?” tanya Jo Min Kyung bingung.

San jelas kaget, “Chun Hae Joo?” ia minta Min Kyung membawakan surat lamaran pekerjaan Hae Joo.

San membaca surat lamaran Hae Joo disana tertera siapa ayah, ibu, kakak dan adik-adik Hae Joo. San kesal dan membodohi dirinya sendiri kenapa ia tak langsung bisa mengenali Hae Joo.

(Ada yang aneh nih di surat lamaran Hae Joo, tepatnya dibagian anggota keluarga. Disana tertulis nama-nama yang usianya 58, 52, 31, 21 dan 18. Aku menebak 58 itu ayah, 52 itu ibu, 31 itu Sang Tae, 21 Young Joo dan yang 18 Jin Joo. Tapi ada yang aneh kok Jin Joo 18 tahun ya bukannya seharusnya dia 15 tahun.
Kalau misalkan 18 itu usia Young Joo mana usia Jin Jo dan tidak mungkin kalau yang 21 itu Hae Joo. Coz 15 tahun yang lalu saja Hae Joo sudah 12 tahun-an, kira-kira ada yang bisa menjelaskan ini)

Hae Joo tiba warung ibunya. Ibu langsung bertanya bagaimana hasil wawancaranya. Hae Joo terdiam lemas, ibu langsung mengerti kalau Hae Joo tak diterima kerja di kantoran.

Sang Tae yang sedang minum dan makan dengan teman-temannya berseru kalau pilar keluarga dan sumber keuangan keluarga sudah datang. Hae Joo melihat kakaknya ini sudah mabuk.

Sang Tae menghampiri Hae Joo dan mengatakan kalau hari ini ia keluar dari perusahaan asuransi. Hae Joo jelas kaget mendengarnya. Sang Tae berkata kalau Hae Joo selalu meremehkannya yang bekerja tanpa hasil di perusahaan asuransi jadi ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu dan kali ini ia akan menjalankan bisnis sendiri.

Hae Joo : “Kakak, kau bahkan tak punya modal untuk menjalankan usaha. Jadi kau keluar kerja lagi kurang dari sebulan?”

Sang Tae meminta Hae Joo jangan khawatir ia berjanji akan membuat Hae Joo tersenyum terus-menerus selama sebulan. Hae Joo meninggikan suaranya kalau kakaknya pernah mengatakan hal itu bulan lalu. Sang Tae melirik ke arah teman-temannya tak enak karena ia dibentak oleh adiknya. Ia pun mengingatkan Hae Joo agar menjaga sikap didepan teman-temannya, kenapa Hae Joo memancing pertengkaran dengannya.

Ibu menyuruh Sang Tae berhenti ia melihat kalau putranya ini sudah mabuk. Kedua teman Sang Tae tak nyaman karena ada keributan di keluarga ini, keduanya pun pamit. Tapi Sang Tae mencegahnya karena mereka baru saja mulai minum.

Hae Joo melihat makanan dan minuman yang dimakan teman-teman kakaknya, ia menyebut harga semuanya, 67ribu won.

Sang Tae tertawa dan berkata jangan bayar ia menyuruh teman-temannya pergi saja, “Gadis ini tak pernah kuliah jadi dia tak paham tentang pertemanan di dalam kampus.” (saling mentraktir gitu ya)
Tapi Hae Joo tak bisa membiarkan teman-teman kakaknya ini makan gratis begitu saja, Ia meminta bayaran atas makanan yang mereka makan. Teman Sang Tae pun membayarnya dengan kesal. Sang Tae tentu saja malu. Setelah menerima uang itu Hae Joo pulang akan ganti baju. Sang Tae yang jengkel menyusul adikanya.

Hae Joo sampai di rumah ia melihat Jin Joo tengah menyiapkan makan malam. Hae Joo tanya apa yang sedang dilakukan adiknya, bukankah ia sudah bilang Jin Joo jangan melakukan pekerjaan rumah.

Sang Tae yang marah membalikkan badan Hae Joo dnegan paksa, “Hei perempuan kau tak menganggapku serius ya?” Hae Joo minta kakaknya diam karena ia sedang menahan diri. Sang Tae tertawa memangnya apa yang akan Hae Joo lakukan kalau tidak menahan diri. “Karena kau menghasilkan sedikit uang, apa kau menganggapku sebagai pecundang?”

Sang Tae akan menjambak rambut Hae Joo tapi dengan cepat Hae Joo menahan tangan kakaknya. Sang Tae berteriak kesakitan.

Ibu datang memarahi keduanya. Hae Joo tak habis pikir saat Sang Tae bilang pada ibu kalau dia keluar dari pekerjaannya kenapa ibu hanya diam saja tak berbuat apapun. Tapi ibu malah menyalahkan Hae Joo yang setiap hari mengganggu Sang Tae membicarakan tentang uang. Menurut Ibu seharusnya Hae Joo memberi semangat pada Sang Tae. Adik seperti apa yang memperlakukan kakaknya seperti orang bodoh.

Hae Joo yang sudah kesal meninggikan suaranya, “Kalau kakak pernah melakukan hal yang benar aku akan menggendongnya siang dan malam.”

Ibu bilang kalau mereka harus melihat dan menunggu hasil usaha Sang Tae membuahkan hasil atau tidak. Sang Tae bahkan belum memulainya tapi kenapa Hae Joo meruntuhkan semangat Sang Tae.

Hae Joo bertanya uang seperti apa yang akan digunakan kakaknya untuk memulai usaha. Apa belum cukup kakaknya ini menghabiskan dana simpanan untuk sewa rumah jangka panjang, karena kakaknya mereka terpaksa harus menyewa bulanan. Semua rekening bank yang dihabiskan kakaknya apakah ia harus membawa buku rekening dan menunjukannya.

Sang Tae marah ia menggunakan kakinya untuk membalikan meja makan. Tumpahlah semua makanan yang ada disana. Sang Tae membentak meminta Hae Joo berhenti meributkan tentang uang. Melihat makanan berantakan suara Hae Joo makin meninggi, ia membentak lebih keras. “Kenapa kau menendang meja?” Hae Joo memukuli kakaknya.

Ibu melerai Jin Joo menahan kakaknya. Young Joo yang dari tadi di dalam kamar keluar dan ikut marah-marah, “Semuanya berhenti. Kalian menyuruhku untuk belajar, tapi kenapa semua orang membuat keributan? Di tengah pertengkaran ini apa kalian pikir aku bisa belajar? Apa bisa?” Young Joo kembali ke kamar dengan kekesalannya.

Hae Joo ke kamarnya dan menatap sedih foto mendiang ayahnya, “Ayah kenapa ini berat sekali? Menjalani hidup ini kenapa semuanya tak pernah membaik.” Hae Joo menitikan air mata.

Jin Joo masuk ke kamar dan langsung memeluk kakaknya, “Maaf kak. Aku akan menjadi lebih baik. Meskipun semua orang membuatmu marah, aku akan belajar lebih keras untuk meringankan bebanmu.” Hae Joo berkata kalau ia tak apa-apa, ia merasa tak terbebani, ia hanya sedikit marah.
Lee Bong Hee berdiri di pintu restouran milik In Hwa. Ia tengah menunggu seseorang. Dandanan Bong Hee terlihat wah.. seksi hehe. Ia melihat dadanya dan bergumam apakah ia harus menggunakan pads (pake busa) haha

Yoon Jung Woo masuk ke restouran itu, Bong Hee menyapanya dengan sopan dan manis. Jung Woo langsung mengajak Bong Hee mencari tempat yang enak karena ia sudah lapar. Ia mengajak ke lantai 2. Bong Hee kesal karena Jung Woo tak memandangnya sedikitpun. Tapi ia mencoba tersenyum dan berjalan seseksi mungkin.

In Hwa melihat Bong Hee ada disana, ia mengambil menu yang ada di tangan pelayan dan menyuruh si pelayan pergi biar ia yang melayani tamu-tamu ini. In Hwa menyerahkan daftar menu pada Jung Woo dan Bong Hee. In Hwa melirik terkejut melihat pakaian yang dikenakan Bong Hee, tapi Bong Hee cuek saja. Keduanya tarik-tarikan daftar menu.

Bong Hee bersikap manis pada Jung Woo menanyakan mau makan apa. Jung Woo mengambil kacamata-nya untuk melihat daftar menu. Ia memilih-milih menu. Sementara itu Bong Hee melancarkan aksinya lagi, ia pura-pura kepanasan dan melepas jaketnya dan woh Bibi hahaha... berulang kali ia menarik ke atas kembennya haha (wakaka kok kemben kaya baju jawa aja)

Jung Woo meminta Bong Hee memilih sendiri menu makannya.

“Benarkah?” Suara Bong Hee menggoda. “Apa aku memilih apapun yang kuinginkan?” Bong Hee berbisik kalau tempat ini cukup mahal gaji bulanan jaksa bisa saja habis.” Jung Woo tertawa berkata kalau ada juga perampok tanpa pisau. Bong Hee tertawa menggoda, “Kalau itu kau jaksa, borgol saja aku. Aku tak akan apa-apa.”

In Hwa tak mengerti apa maksud bibinya bertingkah seperti ini. Bong Hee membuka menu ia memesan beberapa makanan. In Hwa dengan suara kesal berkata kalau ia akan segera membawakan pesanan mereka.

Bong Hee memberi tahu Jung Woo kalau steak disini enak katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya menggoda, haha.

In Hwa menelepon ibunya sambil mengintip apa yang dilakukan Jung Woo dan Bong Hee. Ia memberi tahu kalau Bibinya tengah bersama wakil jaksa lagi. Ia menabak pasti ada sesuatu diantara mereka. “Ibu kau tahu sedang apa dia? Dia biasanya minum sebotol soju tapi sekarang dia minum segelas wine dengan elegan.”

Adegan tadi Jung Woo nguap ya, lebar banget nguap-nya haha.

Jung Woo dan Bong Hee pun menikmati hidangan steak mereka. Jung Woo menanyakan kabar tim pengeboran Bong Hee. Bong Hee menjawab kalau tim-nya sangat sibuk tentang eksploitasi pertambangan. Tapi sekarang tim-nya sedang memodifikasi prosedur pengeboran minyak.

Jung Woo bertanya apa kesepakatan Presdir Jang dengan perusahaan minyak sudah disetujui. Bong Hee menjawab tentu saja. Tapi menurut Jung Woo perusahaan minyak itu tidak akan dengan mudah melepaskan saham mereka.

“Yoon Jung Woo...” Bong Hee merengut, “Saat bertemu denganku apa kita hanya bisa membiacarakan masalah pekerjaan.” Jung Woo bertanya sambil mengunyah steak-nya, “Memangnya kenapa? Bukankah kita memiliki minat yang sama?”

Bong Hee kesal meninggikan suaranya, “Bagaimana bisa itu disebut minat yang sama?”

Jung Woo heran kenapa tiba-tiba Bong Hee Jadi marah. Ia melihat sekeliling malu karena Bong Hee berteriak. Jung Woo berkata bukankah ia tidak bisa membicarakan kasus yang sedang ia tangani. Bong Hee berkata kalau beberapa hari ini ada banyak kasus pembunuhan. “Mereka pasti memiliki motif khusus kan?”

Jung Woo menjawab tentu saja, apa itu direncanakan atau terjadi tanpa sengaja, setiap kasus pembunuhan memiliki motif tersendiri. Jung Woo terus menjelaskan tentang hukum.

Bong Hee bertambah kesal, “Hei...” teriak Bong Hee sambil melempar sendok ke wajah Jung Woo hahaha.

Jung Woo mengaduh, “Kau ini kenapa?”

Bong Hee jelas jengkel setengah mati, “Dari pada aku sakit gigi sebaiknya kucabut saja gigi itu.” katanya sambil menacapkan pisau ke meja. Bong Hee berdiri membawa jaket akan pergi. Jung Woo menatap bingung, “Kenapa kau begini?”

Bong Hee : “Jaksa Yoon, bukankah seharusnya kau memiliki daya nalar yang tinggi?”

Jung Woo makin tak mengerti kenapa Bong Hee tiba-tiba marah dan berlalu pergi seperti itu.

Bong Hee ngedumel kesal, “Dia tak membicarakan tentang wajahku. Dia juga tak membahas tentang dadaku. Si brengsek itu, aku tak akan merasa dilecehkan seandainya dia melirik sedikit. Aku bahkan berusaha menggunakan pads.” (Hehe)

In Hwa masih melapor pada ibunya, ia memberi tahu kalau keahlian bibi-nya dalam menggunakan sendok digunakan lagi. Tepat dilemparkan di tengah-tengah dahi jaksa itu. In Hwa menebak kalau pads itu miliknya yang diambil Bong Hee.

Ternyata Bong Hee sudah berada di belakang In Hwa, “Siaran langsung yang terasa sangat bagus. Dengan menggunakan benda tak berguna ini. Hei.. pads tak bisa menggoda laki-laki. Apa ini bahkan bisa disebut pads. Aku akan menyita ini.” katanya sambil membawa pads milik In Hwa.

In Hwa kembali mengadu pada ibunya, apa ibunya dengar tadi. Kemarahan bibinya yang seperti itu tak akan keluar kalau tidak ada alasannya. Ia mulai khawatir, jangan-jangan ini tentang cinta bertepuk sebelah tangan. Sesaat kemudian In Hwa terheran-heran karena ia mendengar suara ibunya yang lain dari biasanya. Apa ibunya ini sakit. Geum Hee berkata kalau ia hanya kelelahan dan akan bicara lagi ketika In Hwa sampai di rumah.

Il Moon sampai di rumah. Geum Hee menanyakan ayah Il Moon (Presdir Jang). Dengan jutek Il Moon menjawab tidak tahu. Geum Hee mengajak Il Moon bicara berdua.

Dengan tangan gemetaran Geum Hee membawakan minuman untuk Il Moon. Il Moon memperhatikannya. Geum Hee mencoba memulai percakapan dengan membahas pekerjaan di kantor, bukankah itu melelahkan. Il Moon menjawab seperlunya sambil meminum minuman yang disiapkan ibunya.

Geum Hee terbata-bata menanyakan sejak kapan Il Moon tahu kalau ia bukan ibu yang melahirkan Il Moon. Il Moon merasa kapan ia tahu kenyataannya itu tidaklah penting. Geum Hee berkata kalau waktu itu bukankah Il Moon masih berusia 5 tahun, dari mana Il Moon mendengarnya.

Il Moon berkata kalau sejak kecil ia sering bermimpi, ibunya yang muntah darah dan adik yang menangis di sebelahnya. Mulanya ia berfikir kalau itu hanya sekedar mimpi, tapi kemudian ia sadar kalau itu bukan mimpi. Il Moon tahu ketika ibunya meninggal ia mendengar kalau ayahnya sedang bersama Geum Hee.

Geum Hee mencoba menjelaskan kalau ia juga mengetahui hal itu setelah ayah Il Moon yang mengatakannya. Il Moon berkata tak apa-apa, apa gunanya membahas tentang ibu yang tak bisa lagi ia ingat.

Geum Hee cemas Il Moon tak mengatakan hal ini pada In Hwa kan. Il Moon berkata kalau dirinya itu bukan orang yang tak punya pikiran, cukup dirinya saja yang terluka. Ia tak perlu melukai perasaan adiknya.

Il Moon akan berlalu meninggalkan ruang makan, tapi Geum Hee memanggilnya. Dengan air mata yang berlinang Geum Hee mengatakan bahwa apapun yang orang lain katakan Il Moon tetap putranya. Il Moon tersenyum mencibir diam meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.

Hae Joo membantu ibunya mencuci piring di kedai. Ia menangis teringat kejadian di restauran tadi dimana ayah Chang Hee sangat membenci dan tak menyetujui hubungan asmaranya dengan Chang Hee. Ibu yang melihat Hae Joo menangis menanyakan alasan kenapa ia menangis, ia mengira Hae Joo menangis karena sikap Sang Tae. Hae Joo berkata bahwa ia menangis bukan karena itu. Ibu pun mengira kalau sedihnya Hae Joo ini karena gagal wawancara, bukankah ini juga bukan yang pertama kalinya kenapa harus menangis. Jika Hae Joo sedih bukankah Hae Joo bisa minum alkohol, tapi Hae Joo menolak karena itu akan membuatnya semakin sedih.
Melihat Hae Joo terus menangis dan bersedih membuat hati ibu ikut sedih. Ia akan bicara namun ponsel Hae Joo berbunyi. Hae Joo tidak menjawabnya dan itu membuat ibu heran. Hae Joo membiarkan saja ponselnya terus berdering dan terus menangis. Ia beralasan ada sesuatu yang masuk ke matanya hingga membuat air matanya keluar. Ibu tak bertanya lagi, ia mengerti perasaan Hae Joo dan hanya bisa menghela nafas panjang. Ternyata yang menelepon Hae Joo itu Chang Hee.
Ketika Hae Joo akan berangkat bekerja seseorang menghampirinya dan bertanya apa dia adalah Chun Hae Joo. Pria itu mengatakan kalau dia berasal dari perusahaan kapal Cheon Ji. Hae Joo heran. Pria itu membukakan pintu mobil agar Hae Joo masuk ke mobilnya.
Pria itu membawa Hae ke suatu tempat dimana banyak kapal pesiarnya. Ia menunjukan arah ke salah satu kapal dan permisi pergi.
Hae Joo menuju tempat yang dimaksud, salah satu kapal pesiar yang ada disana. Ia tersenyum bahagia melihat pemandangan disana. Ryan Kang (Kang San) keluar dari dalam kapal dan mengamati penampilan hae Joo, ia memuji Hae Joo pantas mengenakan pakaian yang dipakai itu.
Hae Joo heran kenapa seorang Ryan Kang ada disini, bukankah yang memanggilnya itu seseorang dari Perusahaan Cheon Ji. Kang San memberi tahu kalau ia adalah Pengawas kapal yang bekerja di Cheon Ji. Hae Joo tambah heran. San meminta Hae Joo untuk duduk, walaupun heran dan bingung Hae Joo duduk disana dan di depannya banyak makanan enak.
San heran Hae Joo itu kan bukan seorang kolektor kenapa mengoleksi begitu banyak lisensi. Hae Joo diam tak mengerti apa maksud perkataan pria di depannya ini. san tersenyum menilai sikap Hae Joo ini sungguh kaku. Ia berjanji akan memberikan Hae Joo kesempatan wawancara kedua.
Hae Joo berkata jika seseorang bekerja di berbagai bidang bukan berarti orang itu bisa menapatkan tipe pekerjaan yang selalu sama. San bertanya yang menjurus ke arah wawancara kerja, kalau begitu lalu kenapa Hae Joo masih menjadi pekerja sementara. Hae Joo mengatakan kalau di beberapa tempat kerjanya ia bekerja di posisi tetap, ya walaupun pada akhirnya perusahaan tempatnya bekerja itu harus tutup. San berkata dengan kemampuan dan latar belakang Hae Joo menurutnya Hae Joo itu bisa mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan pembangunan kapal. Menurut Hae Joo yang perusahaan inginkan di tempatnya melamar itu bukan keahlian melainkan sertifikat kelulusan (ijazah gitu) Bagi San ingatan Hae Joo itu sangat buruk. Hae Joo tak mengerti apa maksudnya.
San : “Saat kau masih kecil, apa kau pernah menyukai seseorang?”
Hae Joo heran mendengar pertanyaan itu. Kang San mengangkat kursinya untuk duduk lebih dekat dengan Hae Joo. San berkata kalau ia sedang bertanya pada Hae Joo. Hae Joo menjawab, ada seseorang. San penasaran orang seperti apa yang disukai Hae Joo itu. Hae Joo heran campur kesal bertanya apa itu adalah pertanyaan wawancara untuk pembangunan kapal. San beralasan itu karena ia ingin mengetahui masa lalu Hae Joo yang sentimental, kira-kira siapa orang yang membuat hati Hae Joo berdebar ketika masih kecil karena itu bisa membantu kelancaran kehidupan Hae Joo.
San mendekatkan wajahnya ke arah Hae Joo, apa sekarang Hae Joo memiliki seseorang, “Jika tidak punya, bagaimana denganku?” rayunya sambil membelai rambut Hae Joo. wakakaka.
Hae Joo kesal mendnegarnya dan bicara dengan logatnya hingga membuat San tertawa terbahak bahak. Ia sangat merindukan logat itu. melihat sikap pria di depannya ini tentu saja membuat Hae Joo semakin kesal dan menilai San ini pria mesum. Ia menyiram wajah San menggunakan wine.
Hae Joo yang marah beranjak pergi namun San menahannya, “Apa kau sungguh tak mengingatku?” tentu saja Hae Joo tak kenal, bagaimana ia bisa mengenal San.
“Tunggu,” San menahan tangan Hae Joo yang akan pergi.
Hae Joo yang marah menendang San hingga jatuh ke air. Itu Hae Joo lakukan karena sikap kurang ajar San padanya, ia menilai setidaknya San cukup sadar diri kalau dirinya ini cantik dan layak dirayu oleh Sa. Hahaha. Ia menilai San ini pembohong mengaku sebagai pengawas pemilik kapal, kalau San seorang pengawas kapal maka ia ini juga seorang Miss Korea.
Ketika Hae Joo akan pergi dari sana ia menerima telepon dari Jo Min Kyung di perusahaan Cheon Ji yang menanyakan apa Hae Joo sudah bertemu dengan Ryan Kang yang akan mengatakan kalau Hae Joo di terima di Cheon Ji. Hae Jo terkejut dan kembali ke tempat San, jadi benar itu perwakilan dari perusahaan Cheon Ji. Hae Joo memanggil San dengan nama panggilan Ryan Kang, mendnegar Hae Joo memanggilnya San pura-pura tenggelam, padahal sebelumnya ia sempat berenang.
Hae Joo panik dan akan menolongnya, tapi San malah menariknya hingga jatuh ke air. San masih pura pura tak bisa berenang hingga pada akhirnya Hae Joo berhasil mengangkatnya. San pura-pura pingsan.
Hae Joo sangat panik, ia bahkan memberikan pernafasan buatan. San yang menggoda Hae Joo dengan pura pura pingsannya ini sedikit membuka mata dan menutupnya lagi.
Namun ketika Hae Joo ingin memberikan pernafasan buatan yang kedua, San mempnyongkan mulutnya untuk mengecup bibir Hae Joo lebih dulu. mengetahui itu hanya pura pura Hae Joo marah dan akan memukulnya. Tapi kemudian San berkata, “senang bertemu denganmu, Tukang Las.”
Hae Joo terkejut, tak ada lagi yang memanggilnya dengan panggilan itu selain San, “Tukang Bohong?” San tersenyum manis seraya mengangguk.
Hae Joo mengeringkan diri menggunakan handuk, sementara San sudah berganti pakaian. San tentu saja protes ia itu hanya berusaha menjamu teman yang sudah 15 tahun tak ia temui, tapi apa ini, ia malah ditendang ke laut. Hae Joo berkata seharusnya San memberitahunya sejak awal. San mengatakan kalau ini kejutannya untuk Hae Joo. ia heran bagaimana bisa Hae Joo tak berubah sedikitpun. Hae Joo membela diri kalau San juga sama tidak berubah.
San megaku kalau ia sering memikirkan Hae Joo. Tapi ia yakin Hae Joo tidak begitu. Hae Joo membantah, ia mengatakan ia juga sering memikirkan San. Wajah San berubah cerah mendengar itu, benarkah?
Hae Joo berkata setiap ia melihat kapal pengebor pemberian San, ia akan memikirkan San. San tersenyum bahagia Hae Joo masih menyimpan benda pemberiannya, “kau masih memilikinya?” Hae Joo menjawab tentu saja, karena itu adalah hadiah pertama yang diberikan seseorang padanya.
San berkata kalau ia akan menunjukkan hadiah yang lebih bagus dari itu, bukan miniatur, tapi kapal pengeboran sungguhan. Tapi ia membutuhkan bantuan Hae Joo. Hae Joo menebak apa itu kapal pengebor yang sedang dibangun oleh Perusahaan kapal Cheon Ji. San mengangguk membenarkan, ia ini kepala pengawas pemilik kapal. Tapi Hae Joo tak yakin apa ia bisa membantu San karena tak terlalu paham mengenai kapal berteknologi tinggi. San berkata jika Hae Joo tidak tahu bukankah bisa belajar.
San mendekatkan wajahnya bertanya dengan penasaran, siapa cinta pertama si tukang las ini. Hae Joo mengambil sendok dan memukulkannya ke kepala San hingga membuat San mengaduh. Ia berkata kalau itu bohong, jadi lupakan saja perkataannya tentang itu.
Hae Joo kemudian makan makanan enak yang ada di depannya dan San tersenyum melihatnya.
Malam harinya Presdir Jang mengunjungi Kakek Kang. Presdir kang menyapa kakek karena keduanya sudah lama tak bertemu. Kakek Kang yang sudah berusia lanjut bertanya siapa yang datang ini. Predir Jang mengatakan namanya, kakek yang tengah minum mengabaikannya begitu saja.
Presdir Jang memuji cucu kakek kang (Kang San) sudah tumbuh dengan baik dan sudah kembali ke Korea. Kakek kang menoleh terkejut Presdir Jang membahas tentang cucunya. Presdir Jang menyadari kalau ia sudah ceroboh, ia menyadari Kakek Kang bukankah orang yang mudah jatuh, ia terlalu sibuk menikmati kemenangannya tanpa menyadari Kakek Kang sudah membesarkan senjata pamungkas yang akan digunakan untuk melawannya. Kakek Kang tersenyum sinis, meskipun jika kang san tumbuh, memangnya cucunya itu akan bisa sebesar apa jika dibandingkan dengan Jang Do Hyun.
Dengan nada sindiran Presdir Jang meminta Kakek Kang jangan salah paham, karena ia juga tak ingin menginjak-injak tunas taoge, selama lawannya tidak menarik pisau tanpa menyadari siapa lawannya. Ia berpesan pada kakek Kang, jangan sampai anak yang tumbuh dengan baik itu nantinya terluka. Kakek kesal dan terus meminum soju miliknya. Ia mulai mengkhawatirkan cucunya setelah mendengar perkataan Presdir Jang.
Kang San sampai di depan apartemennya dan heran begitu melihat kedatangan Kakeknya, apa yang kakeknya lakukan disini bukankah kakeknya ini bilang tak mau datang ke rumahnya.
Di dalam apartemen, Kakek menanyakan tentang rencana San. Ia sudah mendengar semuanya dari Presdir Jang. San berkata kalau ia sudah memberitahukan semuanya pada kakek, ia tahu pasti kalau semuanya akan terungkap jadi ia akan mengambil langkah terang untuk melawan Presdir Jang karena jalur gelap itu merupakan keahlian Jang Do Hyun. Kakek kembali bertanya mengenai rencana San, ia juga perlu tahu. San tak bisa memberi tahu Kakek tentang rencananya itu sekarang. Ia meminta kakeknya agar mengambil alih pabrik untuknya. Itu adalah pabrik salah satu sub kontraktor yang membuat baling-baling.
Ada hal yang membuat San penasaran, kenapa Presdir Jang Do Hyun begitu tertarik dengan minyak. Dia sudah kaya dengan perusahaan pembuat kapal, kenapa dia sangat terobsesi pada kapal pengebor yang kesempatan suksesnya tidak tinggi. Ia tahu semuanya tentang Jang Do Hyun, tapi tak mengerti tentang itu.
Hae Joo menikmati angin pantai didekat mercusuar. Chang hee datang ke tempat itu, ia memanggil Hae Joo, menghampiri dan memeluknya. Ia mengatakan kalau ia sangat khawatir karena tak bisa menghubungi Hae Joo. Hae Joo bertanya bagaimana ayah Chang hee, apa dia baik baik saja. Chang Hee berbohong dan mengatakan kalau ayahnya menyesali perkataannya yang kejam pada Hae Joo.
Hae Joo tahu itu bohong, ia sangat mengenal Chang Hee. Ia bahkan bisa melukis wajah Chang hee dengan mata tertutup. Chang Hee tak perlu mengatakan kebohongan seperti itu. Chang Hee berkata bahwa menurut pendapat orang tak ada orang tua yang bisa menang dari anaknya. Ia yakin dengan berjalannya waktu segalanya pasti akan bisa teratasi.
Hae Joo menyentuh pipi Chang Hee dan mengatakan kalau Chang hee semakin kurus. “Oppa, sampai ayahmu menyetujui kita, haruskah kita berhenti berhubungan?” Chang Hee meminta Hae Joo tidak mengatakan hal itu, apapun yang terjadi Hae Joo tak boleh lemah. Hae Joo menghela nafas, ia mengangguk mengerti.
 Chang Hee kemudian bertanya apa Hae Joo jauh-jauh datang ke Ulsan untuk bertemu dengannya. Hae Joo berkata kalau ia punya berita bagus, ia diterima di Perusahaan Pembangunan Kapal Cheon Ji. Chang Hee heran, bukankah Hae Joo sudah ditolak. Hae Joo meminta Chang Hee menebak ia bertemu dengan siapa.
Lalu kita beralih ke ruang kerja Kang San dimana ia sedang mendengarkan musik klasik sambil mengayunkan tangan layaknya seorang konduktor. Ia sepertinya sangat senang hari ini.
Chang Hee terkejut, “San? San yang di Ulsan?”
Hae Joo membenarkan, sekarang Kang San bekerja sebagai Pengawas untuk pesanan kapal pengebor yang diperoleh Cheon Ji. Chang Hee pun akhirnya tahu kalau si Ryan Kang itu adalah Kang San. Ia pernah mendengar tentang Ryan Kang sebelumnya. Hae Joo berkata kalau San tidak berubah sedikitpun, masih saja nakal dan aktif. Ia merasa dirinya diterima di perusahaan Cheon Ji karena San. Chang Hee menilai itu bagus, karena San sudah melakukan hal yang hebat pada Hae Joo. Ia merasa kalau dirinya merindukan San.
Chang Hee ingin tahu kapan Hae Joo mulai bekerja. Hae Joo memperlihatkan barangnya, secepatnya besok. Chang Hee heran, apa secepat itu, bukankah keluarga Hae Joo juga harus pindah. Hae Joo merasa kalau ia harus menemukan rumah di Ulsan, sepertinya tak akan ada rumah seperti dulu di Ulsan.
Chang hee membawa Hae Joo ke sebuah rumah. Ia memanggil pemilik rumah dengan 'Boss!'. Pemilik rumah keluar dan itu adalah Yoon Jung Woo. Jung Woo heran kenapa Chang Hee malam-malam ke rumahnya. Chang Hee bertanya apa kamar di rumah Jung Woo sudah ada yang menyewa. Jung Woo menjawab belum, apa temannya Chang Hee ini mau pindah.
Hae Joo terkejut melihat Jung Woo, “Ajusshi, kau Jung Woo ahjussi kan? aku Hae Joo, Chun Hae Joo.” Jung Woo juga terkejut, “kau... Hae Joo?  si gadis ceria dari Hae Nam?” Hae Joo membenarkan, ia dan Jung Woo sudah lama sekali tak bertemu. Jung Woo tersenyum bahagia dan memeluk Hae Joo. ia melihat Hae Joo sudah tumbuh besar, kalau bertemu di luar ia pasti tak mengenali Hae Joo.
Jung Woo berkata kalau ia sudah lama mencari Hae Joo. Ia mendengar Hae Joo pergin ke Hae Nam tapi kenapa malah di Geoje, apa yang terjadi. Hae Joo berkata ceritanya sangat panjang.
Chang Hee memberi tahu kalau Hae Joo Joo diterima bekerja di Perusahaan Cheon Ji dan ia ingin Jung Woo mengizinkan Hae Joo tinggal di rumah Jung Woo sebelum ia menemukan tempat bagi Hae Joo dan keluarganya. Hae Joo menolaknya. Tapi Jung woo berkata tak masalah, ia punya 3 ruangan kosong. Hae Joo dan keluarganya bisa tinggal di rumahnya berdesakan seperti dulu.
Jung Woo heran bagaimana Chang Hee dan Hae Joo bisa masih berhubungan sampai sekarang. Chang Hee berkata kalau itu sudah sangat lama. Jung Woo tambah heran kenapa Chang Hee tak mengatakan apapun padanya. Ia menebak kalau keduanya pasti berpacaran. Keduanya tersenyum malu-malu dan Chang Hee mengiyakan. Jung Woo tertawa, ia mengira Chang Hee itu lamban tapi ternyata lebih cepat darinya yang masih jomblo hahaha. Ia mengatakan kalau mereka berdua serasi. 
Chang Hee pulang ke rumahnya dan melihat di meja makan, makanan tadi pagi masih rapi. Ia menghela nafas tahu ayahnya mogok makan. Park Gi Chul di kamar sedang kesal dan tiduran, Chang Hee masuk. Chang hee membawakan bubur untuk ayahnya yang masih ngambek. Ia berkata perasaannya tak akan berubah walaupun ayahnya bersikap begini, bukankah ayahnya ini tahu bagaimana sifatnya. Ia kemudian keluar membuat ayahnya tambah kesal.

Jung woo menjelaskan ruangan-ruangan yang bisa di pakai Hae Joo dan keluarganya. Hae Joo menolak memakai ruang utama. Tapi Jung Woo berkata kalau ia jarang di rumah jadi ia tak perlu kamar yang besar. Hae Joo berkata tetap saja ia tak punya uang banyak untuk sewa bulanan, ia tak akan bisa membayar banyak. Jung Woo kesal, pernahkah ada diskusi uang diantara ia dan Hae Joo, berikan saja sesuai kemampuan Hae Joo. Jika Hae Joo tak nyaman soal itu keduanya bisa membicarakan itu lagi. Hae Joo berjanji ia akan membayarnya ketika ia sudah mapan dan mendapatkan kenaikan gaji. Hae Joo berterima kasih atas kemurahan hati Jung Woo.
Jung Woo melakukan itu karena Hae Joo mengingatkannya pada keponakannya yang akan seumuran dengan Hae Joo, apa Hae Joo ingat surat yang pernah ia tunjukan pada Hae Joo dulu. Hae Joo ingat surat, surat yang ditulis Hyung-nya Jung Woo. Jung Woo membenarkan itu adalah surat yang hyung nya tulis untuk Yoo Jin. Jika Yoo Jin masih hidup mungkin dia seumuran dengan Hae Joo. Hae Joo bertanya apa Yoo Jin sudah meninggal. Jung Woo mengangguk membenarkan.
Tiba-tiba Bong Hee datang memanggil Jung Woo. Tapi Bong Hee terkejut melihat ada wanita muda di rumah Jung Woo. Ia tentu saja marah, selama ini Jung Woo bersikap penyendiri tapi ternyata seperti ini. Hae Joo tersenyum menyapa menanyakan kabar Bong Hee. Bong Hee yang marah menyahut kalau ia tidak baik-baik saja.Hae Joo langsung menutup mulutnya, diam.
Jung woo tertawa dan berkata apa Bong Hee tidak mengenal gadis itu. Bong hee meninggikan suaranya, siapa dia. Jung Woo memberi tahu kalau gadis muda ini adalah Hae Joo yang waktu itu tinggal di seberang rumah mereka. Bong Hee bingung dan akhirnya mengingatnya. Hae Joo mengenal Bong Hee sebagai perawan tua, sementara Bong Hee mengenalnya sebagai gadis kasar. Mereka bertiga tertawa bersama.
Hari pertama Hae joo bekerja. Ia masuk ke kantor penuh semangat. Ia memperkenalkan diri pada rekan kerjanya, ia juga memberi salam pada ketua Tim Jo Mi Kyung dan juga Direktur Jang Il Moon. Hae Joo berjanji kalau ia akan bekerja keras, ia juga berterima kasih karena sudah memberinya kesempatan. Il Moon berkata bukan dia yang memberi kesempatan, tapi Ryan Kang. Ia penasaran bagaimana Hae Joo dan Ryan Kang saling kenal. Hae Joo gugup dan berkata mereka bertemu saat bertengkar karena ada sedikit salah paham. Il Moon mengerti. Ketika Hae Joo sudah keluar dari ruangannya ia bergumam kalau Ryan Kang itu si brengsek yang aneh.
Ketua Tim Jo Mi Kyung menjelaskan tugas pada Hae Joo, yaitu menerjemahkan blue print yang dibuat oleh tim Development ke dalam lembar instruksi dan mengirimkannya ke pabrik. Ia harap Hae Joo bekerja keras. untuk tugas hari ini ia minta Hae Joo mempelajari dokumen yang ada di kantor baru kemudian pergi ke lokasi di siang hari.
Geum Hee bersiap-siap untuk bertemu dengan Bong Hee di kantor. In Hwa heran bukankah seharusnya ibunya ini mengatakan itu pada Bong Hee pagi tadi. Ia kemudian terkejut, apa Bibinya itu semalam tidak pulang. Geum hee tak menjawab tanda membenarkan. Karena ibunya ini akan ke kantor, ia minta tolong ibunya ini untuk menemui ayahnya, dan pergilah makan bersamanya. Geum Hee heran memangnya apa yang ingin In Hwa minta sampai-sampai bicara formal seperti itu. In Hwa mengatakan kalau ia ingin mengeluarkan merk baju outdoor tapi ayahnya tak setuju. Geum Hee heran, apa In Hwa kenapa pakaian out door apa In Hwa sudah bosan dengan restoran sehingga ingin buka toko pakaian. In Hwa bilang bukan begitu, ia sebenarnya sudah lama ingin melakukan ini. Ia belajar tentang mode di Amerika jadi ia rasa dirinya punya kesempatan bagus. Ia yakin merk ini sangat berkelas dan pasti sukses. Geum Hee mengelus kepala In Hwa, kenapa putrinya ini harus melakukan itu, bukankah In Hwa tidak kekurangan uang. In Hwa mengatakan kalau ia tak ingin hanya menjadi ibu rumah tangga saja seperti ibunya ini, meskipun ia menikah ia ingin sukses dengan tangannya sendiri.
Geum Hee menyapa Park Gi Chul yang berdiri melamun menatap lautan. Melihat Geum Hee sudah rapi Gi Chul bertanya, apa Geum hee akan pergi, Geum Hee menjawab kalau ia akan pergi ke kantor. Geum hee melihat Park Gi Chul terlihat tak sehat. Gi Chul berkata tidak apa apa.
Bong Hee datang terhuyung-huyung. Geum Hee tentu saja khawatir, apa yang terjadi pada adiknya ini. Dengan nada malas Bong Hee mengatakan kalau ia didepak dari rumah Jung Woo. Geum Hee terkejut, apa Bong Hee dari rumah Jung Woo. Bong Hee mengiyakan, disana ia minum semalaman, ia merasakan perutnya yang sakit dan merasa tak akan bisa ke kantor hari ini.
Bong Hee teringat sesuatu dan bertanya apa Eonni-nya ingat dengan Hae Joo teman lama In Hwa, sekarang ia tinggal di rumah Jung Woo. Hae Joo juga bekerja di divisi kelautan perusahaan kita. Ia menilai dunia ini begitu kecil. Geum Hee tentu saja terkejut. Bong Hee terlihat pucat dan berkata ia ingin istirahat karena perutnya sakit. Jadi semalam mereka minum bersama untuk menentukan siapa yang bisa tinggal di rumah Jung Woo. Park Gi Chul yang mendengar itu sangat kaget dan cemas.
Geum Hee segera masuk ke mobil dan pergi. Sementara Park Gi Chul berlari ke rumahnya dan mengambil kunci mobil. Geum Hee meminta supir agar cepat. Keduanya menuju perusahaan namun laju mobil Park Gi Chul terhalang lampu merah hingga tak bisa mengejar mobil Geum Hee. 
Geum Hee tiba di divisi kelautan dan bertanya pada ketua tim Jo apa Chun Hae Joo bekerja disini. Jo Mi Kyung mengiyakan, ia mengatakan Hae Joo mungkin di toilet.
Geum Hee pergi ke toilet dan melihat seorang gadis mencuci tangan dengan bekas luka di punggungnya. Geum Hee kaget melihatnya. Ia mendekat ke arah Hae Joo mencoba memegang bekas luka bakar itu. Hae Joo terkejut dan melihat ke arahnya. Geum Hee memandangi wajah Hae Joo dan luka bakar Hae joo di pantulan cermin. “Apa kau Hae Joo?”
Hae Joo juga terkejut dan menyapa Geum Hee, “Apa kabar.... Nyonya.”
Geum Hee kembali melihat di cermin luka bakar di tubuh Hae Joo.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...