Friday, 2 November 2012

Sinopsis Yes Captain Episode 6 Part 2

Tiba saatnya para co-pilot mengikuti pelatihan khusus dibawah arahan kapten Kim Yoon Sung. Semua co-pilot manatap tegang.

Kapten Kim Yoon Sung berkata, “Meskipun ada lubang kecil di pesawat tapi pesawat tak akan pernah jatuh. Yang bisa membuat pesawat jatuh adalah pilot-pilot yang dibawah standar seperti kalian.” Kapten Kim Yoon Sung membuka daftar nama peserta pelatihan.
“Wakil Kapten Jang Min Ah, orang yang menganggap pekerjaan sebagai hobi, kurang tanggap dan terlalu santai.”
“Wakil Kapten Heo Jae Soo, tipe orang yang paling mungkin menyebabkan kecelakaan pesawat.”
“Wakil kapten Han Da Jin, sebuah bom nuklir... yang bisa meledakkan bumi.”

Kapten Kim berkata kalau para co-pilot ini seperti bom waktu, “Sekali meledak bom.. bom.. bom... Kalian tak hanya membahayakan penumpang tapi juga rekan kerja.”
Da Jin mengangkat tangan menyampaikan pendapat bahwa sebagai pilot tak peduli situasi apapun yang kita hadapi keselamatan penumpang adalah prioritas utama.
Kapten Kim Yoon Sung berjalan mendekat menatap tajam Da Jin, “Kau bahkan tak bisa melindungi dirimu sendiri. Kalau kau berfikir bisa melindungi penumpang dengan kata-kata visionermu tadi itu juga bom. Kalau kau gagal dalam pelatihan khusus ini, kau harus berhenti atau kau tak boleh menyentuh kontrol penerbangan selamanya.”
Kapten Kim kembali ke tempatnya ia berpesan pada para co-pilot agar tetap datang ke pelatihan khusus ini, ia menunjukan beberapa buku tebal yang harus dipelajari dalam waktu seminggu, mereka harus menghafalnya.
Da Jin dan keduanya temannya ngobrol disela-sela istirahat. Jae Soo menilai kalau kharisma Kapten Kim Yoon Sung benar-benar menakutkan. Min Ah berkata menakutkan apa, nasib ketiganya saja yang jelek bagaimana caranya mereka bisa menghafal semuanya. Ia bertanya apa Da Jin mau menghafal semua itu, lebih baik cari saja salinan soal ujian itu jauh lebih mudah. (wahahah nyari bocoran soal ujian ya)

Jae Soo merasa kalau itu ketahuan mereka bisa tamat. Min Ah berkata kalau sekarang juga ketiganya sudah tamat, kalau gagal dalam pelatihan khusus ini ketiganya tidak bisa terbang lagi. Jae Soo bertanya kalau mereka tak bisa terbang untuk waktu yang lama bukankah mereka akan dipaksa berhenti. Min Ah menyahut bukankah sudah jelas seperti itu.

Jae Soo : “Min Ah, kalau kau keluar dari sini mungkin bukan masalah besar bagimu tapi aku masih harus membantu orang tuaku di kampung.”

Min Ah : “Siapa bilang kalau orang tuanya tidak tinggal di kampung bisa berhenti kerja seenaknya?”

Jae Soo bilang bukan begitu maksudnya. Da Jin melerai keduanya dan berkata kalau lebih baik mereka menggunakan waktu yang ada untuk belajar, siapkan diri dan berikan yang terbaik. Min Ah berkata kalau begini Da Jin sama menyebalkannya seperti Kapten Kim Yoon Sung. Jae Soo mengeluh hanya dengan mendengar namanya saja sudah merusak suasana hatinya.
Ketiganya tertawa bersama, tak jauh dari sama Kim Yoon Sung memperhatikan Da Jin yang tertawa cerah ceria.
Da Jin pulang melewati rumah Yoon Sung. Mobil Yoon Sung tepat berhenti di depan rumah itu. Yoon Sung keluar dari mobilnya.

“Kapten...!” terdengar panggilan Ppo Song yang berlari ke arah keduanya.

Da Jin tersenyum senang dan membuka tangan siap memeluk adiknya, tapi Ppo Song berlari melewati Da Jin dan memeluk Yoon Sung.

(hahaha jadi inget sama adegan Meari meluk Yoon di lapangan baseball, Tae San udah buka tangan buat meluk adiknya eh si Meari malah meluk Yoon)

“Paman Pinguin!” sapa Ppo Song.
“Ya, Ppo Song apa kau sehat?” Tanya Yoon Sung.

Da Jin berbalik menatap adiknya yang memeluk Yoon Sung, “Hei Han Da Yeon, aku tidak kelihatan ya?”
Ppo Song berkata pada Yoon Sung kalau kaptennya (Da Jin) memanggilnya Han Da Yeon kalau dia sedang marah, lucu kan?

Yoon Sung tersenyum dan jongkok menatap Ppo Song, “Benarkah? Kalau kapten marah apa dia seperti itu?” Ppo Song mengangguk tersenyum.
Da Jin : “Hei Han Da Yeon, ketika kau berteriak ‘kapten’ seharusnya kau memelukku kenapa kau tak datang ke arahku?”
Ppo Song mendekat ke arah kakaknya dan meminta kakaknya menekan perutnya. Da Jin mengikuti apa yang disuruh Ppo Song. Ia menekan perut adiknya.
“I love you, I love you!” ucap Ppo Song seperti sebuah boneka bersuara setelah ditekan.

(haha lucu banget nih anak)

Da Jin gemes dengan tingkah adiknya. Yoon Sung tertawa melihatnya. Saking gemesnya Da Jin mengecup kening adiknya, “Karena kau semua kelelahanku hilang menguap seperti asap di udara.”
Ppo Song mengajak Yoon Sung mampir ke rumahnya, ia mengatakan kalau Bibi Yang memasak banyak makanan lezat. Yoon Sung bilang tak usah. Tapi Ppo Song memaksa, ia menunjukan wajah memohon dan memelasnya agar Yoon Sung mau mampir makan di rumahnya. Yoon Sung tak tega melihat wajah memelas Ppo Song.
Yoon Sung akhirnya mau makan bersama di rumah Paman Choi. Bibi Yang penasaran karena Ppo Song selalu memanggil Yoon Sung dengan sebutan Paman Pinguin, ia mengira kalau Yoon Sung itu memiliki kepala besar dan pantat yang besar. Ia dan Paman Choi tertawa tapi Da Jin memberi kode agar Bibi Yang diam.
Bibi Yang ingat dengan kejadian beberapa waktu lalu ketika Yoon Sung membantunya dari para rentenir. Ia benar-benar ingin membalas kebaikan Yoon Sung. Yoon Sung bilang tak perlu.

Paman Choi menyuruh Yoon Sung menambah makanan karena kemarin ia tak sempat menjamu Yoon Sung. Bibi Yang heran kemarin ada apa. Paman Choi mengatakan kalau Yoon Sung menggendong Da Jin di punggung ketika Da Jin mabuk.
Bibi tak percaya yang benar, ia pun berterima kasih pada Yoon Sung karena Da Jin ini suka kalap kalau sedang mabuk. Ia bertanya apa Yoon Sung baik-baik saja. Da Jin meralat ucapan Bibinya kalau ia tak kalap ketika mabuk. Paman Choi menambahkan kaetika Da Jin mabuk, dia juga suka lupa. Da Jin menahan malu.
Ppo Song mengajak Yoon Sung ke kamarnya, ia menunjukan boneka pinguin miliknya. Ia berucap mewakili boneka pinguinnya memberi salam pada Yoon Sung. Yoon Sung jongkok dan membalas sapaan pinguin dengan ucapan yang canggung.
Ppo Song menyerahkan boneka itu, Yoon Sung mengamatinya. (Yoon Sung mungkin mikir apa dirinya sama dengan pinguin itu haha)
Ppo Song menunjukan pada Yoon Sung album foto yang dibuatkan oleh Da Jin. Album foto yang berisi tempat-tempat wisata. Ppo Song berkata kalau ia makan dengan lahap dan minum obat secara teratur kakaknya berjanji akan mengajaknya ke tempat ini.
Yoon Sung : “Benarkah? Kalau begitu kau harus cepat sembuh. Jadi kau bisa pergi kesana.”
Ppo Song : “Paman apa kau tahu dimana kampung halamanku?”
Yoon Sung : “Dimana?”
Ppo Pong : “Kampung halamanku adalah San Francisco. Katanya ibuku melahirkanku di dalam pesawat. Kakak juga akan mengajakku ke San Francisco suatu hari nanti.”
Hati Yoon Sung sedih mendengarnya. Ia hampir menangis. Ppo Song menunjukan foto ayah dan ibunya, tentu saja ini membuat perasaan Yoon Sung semakin pedih melihat foto Kapten Han bersama sang istri. Tangannya gemetaran.
Yoon Sung langsung memeluk Ppo Song penuh kasih.
Da Jin masuk ke kamar membawakan buah-buahan. Yoon Sung langsung berdiri dan permisi akan pulang. Tapi Ppo Song ingin paman pinguinnya makan buah dulu. Yoon Sung bilang lain kali saja.

Yoon Sung pun keluar dari kediaman Paman Choi. Da Jin heran ia mengejar dan memanggil tapi Yoon Sung mengabaikannya. Yoon Sung berlari meninggalkan rumah paman Choi.
Yoon Sung terus berlari, sampai di jalan besar ia berhenti menoleh ke belakang dilihatnya Da Jin tak mengejar. Ada mobil yang melintas dan sorot lampu mobil menyilaukan matanya. Yoon Sung berada di sebuah gurun dengan matahari bersinar sangat terik. Tubuhnya penuh dengan peluh.
Dengan kaki telanjangnya ia berjalan menyusuri gurun yang gersang. Tubuhnya lemas dan terjatuh tapi ia berusaha untuk berdiri dan kembali berjalan.
Yoon Sung terbangun dari mimpinya ia melihat sekeliling dan tersadar kalau ia sudah berada di rumahnya. Tubuhnya penuh keringat.
Paman Kang menyetel musik kesukaannya dari penyanyi Yang Ma Ri (hoho itu kan gambar Bibi Yang Mal Ja Bibinya Da Jin). Ia terkagum-kagum akan kecantikan yang Ma Ri. Ia menebak pasti yang Ma Ri hanya minum tetesan embun.

Dong Soo datang menemui ayahnya. Ia masuk sambil bersiul-siul. Tapi ayahnya tak menyadari kehadirannya, Paman Kang menikmati alunan lagu yang dinyanyikan Yang Ma Ri. Dong Soo mengambil payung dan memainkannya hingga membuat ayahnya terkejut, “Dasar anak ini kenapa membuka-buka payung di dalam rumah? Berhenti membuat masalah, masuk kamar saja sana!”
Dong Soo dengan wajah memelasnya kali ini meminta ayahnya meminjami dirinya uang. Paman Kang tanya putranya punya jaminan apa. Dong Soo kesal, “Anakmu sedang berusaha mendapatkan pacar tapi ayah masih saja mencemaskan tentang uang?”

Paman Kang : “Hei bocah, obat terbaik adalah dengan menjadi pelit. Kalau kau punya uang di tanganmu kau harus tahu kapan menghabiskannya atau kapan harus menyimpannya.” 

Dong Soo merengek kalau ia benar-benar butuh uang sekarang. Paman Kang tanya untuk apa. Dong Soo ragu mengatakannya, Paman Kang menebak apa ini untuk Han Da Jin. Dong Soo sudah kesal menjawab tak tahu. Dong Soo berkata kalau ibunya pasti mewariskan sesuatu untuknya jadi ia bisa memakai itu sebagai jaminan.
Paman Kang : “Woman and money, same same. Wanita dan uang itu sama saja. Mereka itu jinak-jinak merpati. Mereka akan lari kalau kau kejar dan kalau kau menunggu mereka akan datang sendiri. Tapi, sekarang waktunya untuk mengejar.”

Paman Kang menyuruh putranya menutup mata. Ia mengambil sesuatu dari bawah tumpukan buku, ia memperingatkan putranya jangan mengintip.
Dong Soo membuka matanya, Paman Kang menaruh buku rekening tabungan dan apa itu ya. Dong Soo senang melihatnya. Paman Kang menyuruh putranya mengambil itu. Dong Soo menggenggam tangan ayahnya dan berkata kalau ayahnya yang paling hebat. Ia berjanji akan mengembalikan uangnya. Dong Soo senang bukan main. Paman Kang bergumam apa kali ini ia perlu turun tangan.
Kim Yoon Sung menemui para rentenir dengan membawa tas besar yang berat. Bos rentenir tak menyangka kalau Yoon Sung akan datang langsung ke tempatnya bukankah seharusnya Yoon Sung menelepon biar ia yang mampir ke tempat Yoon Sung, seperti dugaannya bertransaksi dengan pilot itu enak karena cepat dan akurat.
Yoon Sung tak mau berbasa-basi, ia mengangkat tas besarnya menaruh di atas meja. Mereka langsung membukanya. Ternyata tas besar itu berisi uang pecahan seribu won banyak pisan. Mereka kaget campur kesal. haha. Yoon Sung berniat membayarkan hutang keluarga Da Jin.

Yoon Sung mengingatkan agar uang itu dihitung dengan benar, cepat dan kurat. Bos rentenir menahan kesal tapi apa mau dikata daripada tak dapat uang ia pun menerimanya. Ia menyuruh anak buahnya mengambil mesin hitung untuk menghitung jumlah uangnya.
Mereka pun mulai menghitung uangnya. Diikat dengan karet tiap seratus lembar. Haha. Yoon Sung diam saja memperhatikan.
Ternyata Dong Soo juga ke tempat yang sama dimana Yoon Sung membayar hutang keluarga Da Jin. Dong Soo tampak kepayahan dan keberatan membawa dua koper besar.
Yoon Sung keluar dari ruangan tempat tinggal si rentenir. Ia akan masuk lift dan menyeringai puas udah ngerjain si rentenir haha.
Dong Soo sampai di depan lift dengan nafas ngos-ngosan hehe. Ketika Dong Soo masuk lift, Yoon Sung keluar dari lift sebelah. Dong Soo keluar dari lift, “Dasar orang-orang ini. ini akan membuat kalian menderita.” Dong Soo kembali mengangkat dua koper besar yang dibawanya.
Mereka pun selesai menghitung uang pecahan seribu won. Mereka mengeluh lelah. Ketika mereka tengah menumpuk uang, mereka dikejutkan dengan kedatangan Dong Soo sambil mendorong dua koper besar.

Mereka jelas bingung apa ini. Apa yang kau lakukan? Dong Soo yang tadinya agak takut mencoba memberanikan diri dan berkata kenapa kalian kasar pada orang yang datang untuk bayar hutang. Bos rentenir heran siapa Dong Soo ini.
“Kau tahu Han Da Jin kan?” Tanya Dong Soo galak. Ia memperingatkan jangan lagi berani menindas Han Da Jin. Dong Soo mengangkat koper besar ke meja dan membukanya. Isinya ternyata beberapa kantong uang recehan sepertinya 500 won hahaha.
Bos rentenir kesal melihatnya dan menyuruh Dong Soo pergi. Ia sudah cukup lelah menghitung pecahan uang seribu won masa ia harus menghitung uang recehan 500 won. Dong Soo bingung bin melongo hahaha.
Dong Soo pun membawa kembali dua koper besar berisi uang recehnya. Rentenir itu memberi tahu kalau ada seorang pria bernama Kim Yoon Sung yang telah melunasi hutang keluarga Han Da Jin. Dong Soo berteriak kesal, “Kenapa harus Kim Yoon Sung?”
Paman Kang benar-benar akan turun tangan langsung untuk membantu kisah asmara putranya. Ia mendatangi tempat tinggal Da Jin. Ia membawa alamatnya (dapet darimana ya dari Dong Soo kan?) “Nomor 300. Dongchun-dong. Choi Dal Ho, namanya jelek sekali.” sahut Paman Kang.

Paman Kang melihat ada orang di halaman rumah, ia berusaha menyapa dan bersikap sopan. Ia bertanya benarkah disini rumah Han Da Jin. Belum sempat Paman Choi menjawab Paman Kang terkejut melihat ada penyanyi idolanya, Yang Ma Ri yang tak lain adalah Bibi Yang Mal Ja.
Paman Choi mengenali Paman Kang ketika ia makan bersama atasan Dong Soo, “Kau si kupon makan?”
Paman Choi pun menjamu Paman Kang ke rumahnya. Paman Choi menanyakan kenapa datang kesini mancari Da Jin, ada keperluan apa. Paman Kang menjawab kalau waktu itu ia sempat merepotkan Da Jin sedikit.

“Menurutku kau malah sudah menimbulkan masalah untukku. Berikan padaku kupon makan siang waktu itu!” Paman Choi mengulurkan tangannya meminta kupon makan siang miliknya tapi Paman Kang malah menjabat tangan Paman Choi, “Senang bertemu denganmu!” sahut Paman Kang haha.
Ppo Song memberi tahu Paman Kang kalau kakaknya tak berada di rumah. Paman Kang bersikap manis terhadap Ppo Song, “Jadi kau adiknya kapten Han Da Jin? Kau benar-benar cantik!” kata Paman Kang sambil mencubit pipi Ppo Song.

Paman Kang memberikan hadiah untuk Ppo Song beruba baju baru. Paman Kang berkata kalau ia tak mungkin datang dengan tangan kosong. Bibi Yang berseru kalau Paman Kang ini baik sekali.

Paman Kang mengamati rumah dan berkata kalau rumah Paman Choi terawat dengan baik. Paman Choi menyahut kalau ia hanya merapikan sedikit. Paman Kang menilai kalau Paman Choi ini terlalu rendah hati, ia melengkapi ucapannya rumah ini hanya terawat dengan baik tapi belum rapi haha. Itu jelas membuat Paman Choi jengkel.
Paman Kang melihat suatu, Bibi Yang langsung ke tempat yang dilihat Paman Kang. Ia mengambil CD lagu miliknya, “Apa kau mau CD ini?” Paman Kang menebak kalau ini pasti harganya mahal. Ia kemudian menyebutkan judul lagu di album pertama Bibi Yang. Tak hanya menyebutkan judul lagu ia juga menyanyikannya. Bibi Yang tentu saja senang dan menyanyi bersama.
Kang Dong Soo datang ke rumah Kim Yoon Sung, ia menggedor pintu rumah Yoon Sung keras-keras. Yoon Sung keluar dan celingukan (nyari siapa Om) Dong Soo ingin bicara dengan Yoon Sung.
Keduanya bicara di sebuah tempat makan. Dong Soo memesan soju dan arak beras. Ia juga memesan bir dan semua yang ada di sini. Dong Soo menantang Yoon Sung minum sampai mati. Yoon Sung bersikap tenang dan bertanya apa benar-benar harus sampai mati.

Dong Soo meralat dan berkata kalau ia hanya bercanda, “Kenapa? Apa kau benar-benar ingin mati?”

“Apa kita sedekat itu sampai bisa bebas bercanda?” Tanya Yoon Sung.
“Kenapa tidak?” Ucap Dong Soo.

Yoon Sung meminta Dong Soo cepat mengatakan apa yang ingin Dong Soo katakan selama Dong Soo masih sadar. Tapi Dong Soo ingin minum-minum dulu.
Dong Soo mencampur minumannya soju dengan arak beras. Ia memberikan segelas campuran minuman itu pada Yoon Sung. Tapi Yoon Sung tak suka mencampur minuman ia mengambil sendiri minumannya. Keduanya meminum minuman mereka bahkan minuman yang tadinya Dong Soo sodorkan untuk Yoon Sung ia meminumnya sendiri.
1 gelas 2 gelas 3 gelas 4 gelas. Keduanya melepas jaket mereka dan terus minum. Keduanya mulai mabuk tapi masih sadar.
Dong Soo mulai bicara, “Kau pikir dirimu siapa bisa melunasi hutang Da Jin-ku? Kenapa kau selalu mengalahkanku?”

“Apa kau menyukai Han Da Jin?” tanya Yoon Sung.
“Apa aku tak boleh menyukainya? Kenapa kau bersikap jahat di depannya tapi diam-diam membantunya. Itu namanya licik.”

Yoon Sung berkata kalau yang ia lakukan hanya tak ingin Da Jin mengganggu penerbangannya. Dong Soo tertawa kesal.
Yoon Sung memiliki permintaan, tolong katakan pada Da Jin kalau yang melunasi hutang adalah Dong Soo bukan dirinya. Dong Soo terkejut dengan permintaan Yoon Sung.
Yoon Sung akan pergi meninggalkan tempat tapi Dong Soo menahan tangannya ia meminta penjelasan. Yoon Sung berkata kalau Da JIn tahu ia yang melunasinya semua akan menjadi rumit, ia tak mau repot karena hal ini. Mata Yoon Sung terlihat memohon pada Dong Soo, ia pun permisi.
Yoon Sung berjalan sempoyongan menuju rumah. Di belakangnya Da Jin lari-lari kecil usai membeli makanan. Ia heran melihat Yoon Sung berjalan sempoyongan, ia pun mengimbangi langkah berjalan di samping Yoon Sung sambil memakan makanan yang ia beli. Yoon Sung benar-benar mabuk dan berjalan tak tentu. Ia sempoyongan dan bersandar pada dinding. Da Jin pun terkejut dan terkunci terdiam bersandar di dinding.
Yoon Sung menatapnya dalam keadaan mabuk. Makanan yang di makan Da Jin tetap berada di mulutnya.
Yoon Sung terus menatap Da Jin, “Han Da Jin!” ucap Yoon Sung pelan. Kemudian kedua tangannya mengunci tubuh Da Jin, jatuhlah makanan yang dimakan Da Jin.

“Han Da Jin!” suara Yoon Sung meninggi. Ia memejamkan mata, “Aku minta maaf.” ucapnya penuh penyesalan.

Da Jin bingung kenapa Yoon Sung bersikap begini. Yoon Sung segera berdiri dan meninggalkan Da Jin seorang diri dengan tatapan tak mengerti.
Esok harinya di tempat kerja Da Jin mencegat Yoon Sung, ia menanyakan kenapa semalam Yoon Sung minta maaf padanya. Ia berpesan lain kali kalau mau minta maaf harus dalam keadaan sadar.
Yoon Sung mendekat dan menatap tajam Da Jin, “Apa kau habis minum-minum?” Tanya Yoon Sung. Da Jin menjawab tidak dan berkata justru Yoon Sung lah yang kemarin mabuk dan bilang maaf.
Yoon Sung menyentuh dahi Da Jin membuat gadis ini terdiam. Yoon Sung berkata kalau ini aneh, Da Jin tidak demam. “Pergilah ke rumah sakit untuk cek kesehatanmu ke bagian kejiwaaan.” hahaha.

Yoon Sung berlalu, Da Jin terdiam menatap kaptennya yang pergi. Apa Yoon Sung lupa kalau semalam ia bilang maaf ke Da Jin.
Wakil Presdir Hong berkata pada putrinya kalau menteri Kim Young Sub sudah menjadi orang penting. Bukankah Mi Joo tahu hal ini, tak mudah membuat janji dengan putra Menteri Kim. Ia menyarankan putrinya jangan hanya pergi minum teh tapi pergilah makan dan menonton film. Mi Joo menjawab ya dengan malas.

Wakil Presdir Hong berkata kalau Mi Joo memerlukan kekuatan untuk bertarung dan untuk mendapatkan apa yang Mi Joo inginkan, “Masa depan Wings Air kita bergantung padamu. Demikian juga dengan masa depan keluarga kita!”

Mi Joo diam saja tak menanggapi ucapan ayahnya. Wakil Presdir Hong tanya kenapa putrinya tak menjawab. Mi Joo menatap tajam ayahnya kemudian tersenyum dan menjawab ya. Wakil Presdir Hong mengingatkan perasaan yang tak perlu hanya akan membuat Mi Joo hancur. Hanya putra Menteri Kim yang bisa memberi Mi Joo sayap.
Mi Joo pun mengikuti acara kencan buta dengan Putra Menteri Kim. Putra menteri kim minta maaf kalau ia sudah tak sopan mengatakan hal ini pada pertemuan pertama tapi ia jujur dan berkata Mi Joo benar benar cantik. Mi Joo tersenyum berterima kasih.
Mi Joo merasa ruangannya agak panas ia pun melepas jaketnya dan terlihatlah bekas luka bakar di lengan kiri Mi Joo. Putra Menteri Kim melihatnya. Hmm sepertinya Mi Joo sengaja memperlihatkan bekas lukanya agar putra Menteri Kim meralat ucapan bahwa ia cantik.

Putra Menteri Kim jelas terkejut. Mi Joo tanya apa putra menteri Kim takut melihat bekas lukanya. Putra Menteri Kim menjawab tidak. Mi Joo berkata bukankah bekas lukanya agak menjijikan atau sangat menjijikan. Putra Menteri Kim minum air untuk menenangkan diri. Hmm sepertinya ia mulai ilfeel nih tapi masih mencoba bersikap sopan. Mi Joo tersenyum senang sepertinya rencananya berhasil.
Di sela-sela istirahat dari pelatihan khusus Da Jin dan kedua temannya belajar bersama. Tapi Min Ah yang sudah lelah menutup buku yang tengah dibaca Da Jin dan Jae Soo. Ia berkata kalau jantungnya akan meledak. Da Jin tanya apa Min Ah sakit. Min Ah jelas kesal karena ia harus mengikuti tes tes dan tes terus. Ia sudah muak setengah mati. Ia berdiri menggebrak meja, ia tak bisa membiarkan terus begini. Ia mengajak Da Jin dan Jae Soo ikut dengannya.
Kemana Min Ah mengajak Da Jin dan Jae Soo. Ke sebuah klub malam. Hehe. Di klub malam ternyata Mi Joo juga ada disana tengah menari seksi. Da Jin dan kedua temannya melihat Mi Joo menari.
Mereka berempat pun minum dan makan bersama. Mi Joo yang sudah mabuk memesan banyak makanan. Min Ah mengeluh kenapa ia dan kedua temannya harus berada disini bersama salah satu petinggi Wings Air.
Mi Joo kesal dengan ocehan mereka, Hei you guys. Kalian peserta pelatihan khusus. Orang tak berguna nomor 1 katanya sambil menunjuk Min Ah. Nomor 2 menunjuk Jae Soo dan nomor 3 menunjuk ke arah Da Jin. Kalian bertiga tak berguna.
Min Ah kesal dan pergi meninggalkan tempat, Jae Soo mengikutinya. Ia tak mau kemalaman karena besok ia ada jadwal penerbangan. Tinggallah Mi Joo dan Da Jin berdua.
Yoon Sung minum teh bersama Ji Won di sebuah kafe. Ji Won merasa tempai ini sama sekali tak ada yang berubah. Ia menyendokan gula dan mengaduknya ke gelas Yoon Sung. Yoon Sung bilang Ji Won tak perlu melayaninya seperti itu. Ji Won berkata kalau ini sudah menjadi kebiasaannya.

Yoon Sung tersenyum berterima kasih karena Ji Won sudah menasehatinya untuk tidak melarikan diri. Ji Won menatap Yoon Sung dan mengucapkan selamat karena Yoon Sung sudah kembali ke posisi Yoon Sung. Yoon Sung meminta Ji Won jangan memandangnya seperti itu ia tak tahu kenapa ia kembali dan ia juga tak tahu apa yang harus ia lakukan nanti.

Ponsel Yoon Sung berdering, Mi Joo yang meneleponnya. Ji Won menyuruh Yoon Song pergi saja kalau itu memang hal penting. Yoon Sung minta maaf, ia pun segera pergi. Ji Won menatap sedih kepergian Yoon Sung.
Yoon Sung menjemput Mi Joo yang sudah mabuk. Da Jin pun ikut pulang bersamanya. Da Jin mencoba menjelaskan apa yang terjadi, Mi Joo memang minum bersama ia dan temannya tapi sebenarnya Mi Joo sudah minum lebih dulu ketika di klub malam dan sepertinya Mi Joo minum terlalu banyak. Da Jin tak ingin Yoon Sung salah paham padanya. Da Jin penasaran apa hubungan antara Yoon Sung dengan Mi Joo. Yoon Sung tak menjawab.
Mi Joo bicara dalam mabuknya, ia memberi tahu Yoon Sung kalau hari ini ia melakukan kencan buta. Latar belakang keluarga yang bagus dan wajah yang tampan. Tapi baginya.... Mi Joo tak melanjutkan kata-katanya ia tak sadarkan diri karena terlalu banyak minum.
Wakil Presdri Hong melihat jam, sudah malam tapi Mi Joo belum pulang. Ia tersenyum puas karena sepertinya acara kencan buta putrinya dengan putra Menteri Kim berjalan baik. Ponselnya berdering. Ia tersenyum senang mengetahui siapa yang menelepon. Menteri Kim. Tapi bukan kabar baik yang ia dengar. Ia malah mendengar kabar yang tak mengenakan hatinya. Senyumnya berubah menjadi wajah penuh keterkejutan.
Mobil Yoon Sung sampai di depan rumah Mi Joo. Da Jin membantu menekan bel. Sementara Yoon Sung memapah Mi Joo. Mi Joo terbangun dan berkata kalau ia merasa sangat senang bisa bertemu lagi dengan Yoon Sung. Mi Joo langsung memeluk erat Yoon Sung.
Da Jin melihat keakraban yang ditunjukan Mi Joo. Yoon Sung melepas pelukan Mi Joo.
“Hong Mi Joo..!” tiba-tiba ada yang memanggil Mi Joo, ayahnya Wakil Presdir Hong In Tae. Wakil Presdir Hong langsung menghampiri Yoon Sung dan tanpa berkata-kata ia langsung menampar Yoon Sung.
Semua terkejut. Wakil Presdir Hong menatap Yoon Sung penuh amarah.

Bersambung ke Episode 7

Akhirnya episode 6 beres juga. Nano2 nonton episode ini. Sweet, kesal, lucu, menggemaskan semua ada. hehe. Untuk episode 7 akan ada di blog-nya Irfa, so tunggu aja episode selengkapnya.

3 comments:

  1. makasih ya mbak,,

    keep fighting..
    dephie_

    ReplyDelete
  2. tq mbak anis,di tgg kelanjutannya..

    ReplyDelete
  3. jd penasarn....alasannya yg lebih kompleks knp wakil pres hong begitu membenci yoon sung

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...