Sunday, 9 February 2014

Sinopsis Ashita, Mama ga Inai Episode 1 Part 1


Pertama kalinya saya menulis sinopsis Drama Jepang. Semoga reader suka ya...

Drama: Tomorrow, Mom Won't Be Here (literal title)
Romaji: Ashita, Mama ga Inai
Japanese: 明日、ママがいない
Writer: Saya Matsuda
Network: NTV
Episodes: Katanya 9 episode
Release Date: January 15, 2014 --
Runtime: Wednesdays 22:00
Language: Japanese
Country: Japan

Cast

Tomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Mana Ashida.jpgTomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Rio Suzuki.jpgTomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Hiyori Sakurada.jpgTomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Konomi Watanabe.jpgTomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Shohei Miura.jpg
Mana AshidaRio SuzukiHiyori SakuradaKonomi WatanabeShohei Miura
PosutoMakiPiamiBombiLocker
Tomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Hiroshi Mikami.jpgTomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Fumino Kimura.jpgTomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Yuu Shirota.jpgTomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Suzuka Ohgo.jpgTomorrow, Mom Won't Be Here (Ashita, Mama ga Inai)-Sawa Suzuki.jpg
Hiroshi MikamiFumino KimuraYuu ShirotaSuzuka OhgoSawa Suzuki
Tomonori SasakiKanai MizusawaYuuki ToujyouOtsubonemysterious woman

 Ashita, Mama ga Inai Episode 1 Part 1
Hujan deras disertai petir memecah malam. Terdengar teriakan seorang wanita yang menolak dibawa oleh polisi. Ia terus meronta meminta dirinya dilepaskan. Tapi polisi tetap membawa wanita itu. “Lepaskan aku, orang itu tak bisa kalau aku tak ada. Kalau aku tak ada.. Takuya… dia akan….” Ucapnya memohon sambil menangis berteriak.
Kenapa wanita itu ditangkap polisi. Itu karena dia melakukan pemukulan terhadap seorang pria (pacarnya) menggunakan benda tumpul (asbak) hingga membuat pria itu terluka. Mobil polisi pun membawa wanita itu.
Orang-orang yang tinggal disana melihat wanita itu dibawa polisi. Tak jauh dari sana ada seorang anak perempuan berdiri kebasahan, itu anak perempuan si wanita. Maki nama anak berusia 9 tahun itu.
Maki berada di lorong kantor polisi bersama seorang wanita bernama Kanai Misuzawa. Maki menoleh melihat wanita yang tampak diam dengan tatapan kosong. Misuzawa mengajak Maki keluar dari kantor polisi. Maki yang agak takut pun mengikuti Misuzawa.
Keduanya berada di depan kantor polisi, sebuah mobil berhenti disana. Seorang pria yang berjalan menggunakan tongkat keluar dari mobil itu. Maki menatap takut ketika melihat pria itu mendekat ke arahnya.
Dengan nada dingin Misuzawa meminta bantuan pria itu untuk membawa Maki. Tanpa mengatakan sepatah katapun, pria itu berbalik menuju mobilnya membukakan pintu untuk Maki.
Maki menatap sekilas Misuzawa yang berdiri di sampingnya. Misuzawa tersenyum tipis, senyum dingin yang terkesan menakutkan. Maki pun masuk ke mobil pria itu.
Maki yang ketakutan di dalam mobil hanya bisa diam. Pria itu mengambil sapu tangan yang ada pada Maki. Ia menggerutu, “Pertengkaran rumah tangga selalu saja terjadi di malam hari.”
Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah. Pria itu membuka pintu untuk maki. Tapi setelah membuka pintu, ia berlalu begitu saja masuk ke rumah lebih dulu. Malam ini masih hujan, Maki keluar dari mobil dan melihat rumah itu. Seram. Itulah kesan pertama yang dirasakan oleh Maki. Ini mirip seperti rumah berhantu. Ia masuk ke rumah mengukuti pria itu.
Maki melepas sepatu, tapi ketika jongkok ia terkejut melihat sesosok wanita yang juga jongkok di depannya. Wanita muda dengan mata tertutup satu sambil membawa boneka menatapnya tajam. Wanita itu diam saja, dia segera berdiri dan masuk ke sebuah ruangan.
Keterkejutan Maki tak berhenti sampai disana. Di sebuah ruangan ia melihat seorang pria muda tengah memotong ayam dengan pisau. Pria dengan wajah sebagian tertutup rambut itu menoleh menatap Maki. Maki yang ketakutan segera menyusul pria itu.
Dengan suara gemetaran Maki pamit akan pulang saja. Dengan nada menyeramkan pria itu tanya mau kemana. Ia pun membuka pintu sebuah ruangan. Ia memberi kode dengan kepalanya menyuruh Maki masuk ke ruangan itu. Maki pun menurut dan brak pintu ditutup keras oleh pria itu.
Ruangan itu gelap. Hanya sedikit cahaya rembulan yang masuk menyinari kamar itu melalui jendela. Maki terkejut mendengar sebuah suara. Ia melihat di kamar itu ada dua tempat tidur tingkat (Jadi ranjangnya ada 4). Maki memberanikan diri duduk di atas tempat tidur. Ia ketakutan memeluk tasnya.
“Kau menangis ya?” Tiba-tiba sebuah suara muncul mengagetkan Maki. Dan bersamaan itu kepala seorang anak tiba-tiba muncul dari atas membuat maki kaget setengah mati. Anak itu tersenyum, turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu.
Anak itu bertanya lagi, “Kau menagis kan?” Maki menggeleng menjawab tidak. Anak itu merasa kalau pada awalnya semua penghuni tempat ini manangis karena takut pada Mao. Maki heran, siapa Mao. Ia pun menebak kalau yang bernama Mao itu pasti pria yang tadi.
Maki melihat sekeliling kamar itu. Ada tas sekolah, jadwal pelajaran kelas 3 SD dan ada foto Angelina Jolie dan Brad Pitt. Ini dimana? tanya Maki.
Huachhiii.. tiba-tiba terdengar suara anak lain yang bersin. Group Home, jawab anak itu sambil memakai kacamatanya. “Ini tempat dimana anak-anak dibawa dengan berbagai alasan. Kau mengerti kan?” tatanya mengambil tisu dan membuang ingusnya.
Maki merasa kalau ini bukanlah tempat seharusnya Ia berada. Ia harus pulang, ibunya pasti khawatir. Pletak.. pletak… terdengar suara seseorang pemainkan ikat rambut. Maki yang terkejut menoleh ke sumber suara. Ia menatap ke tempat tidur bagian atas dimana suara itu berasal.
“Tapi ibumu kan sudah membunuh pacarnya. Jadi tak bisa.”

Maki mengatakan kalau ibunya tidak membunuh pria itu.

“Begitu ya? Tapi kudengar dia memukulnya dengan donki.” (donki : senjata/ benda tumpul)

Maki membenarkan tapi pria yang dipukul ibunya dengan benda tumpul itu tidak meninggal. Anak berkaca mata berseru kalau begitu pria itu pasti kuat. Ia memakan cemilan yang ada di meja.

Maki berkata kalau ibunya tak mungkin melakukan hal itu. “Ibu sering menangis, memasak makanan sendirian dan takut dengan hantu. Tak mungkin ibu membunuh seseorang.”
“Ini seperti kisah cinta buta ya?” sahut si anak berkaca mata. “Kita tak tahu apa yang ada diantara pria dan wanita.”

Maki heran kenapa anak itu mengetahui hal yang seperti itu. Anak berambut panjang berkata kalau ia mendengar pembicaraan antara Mao dan Ice Doll di telepon.

Ice Doll, wanita yang bersama maki di kantor polisi. Misuzawa.

“Oh iya donki itu apa?” tanya si anak berambut panjang sambil berdandan.

Maki heran, “kau mengatakanya tapi kau tak tahu maksudnya?”
Tiba-tiba anak yang terbaring di ranjang atas terbangun dan turun dari ranjangnya. Ia memakai ikat rambutnya.

Anak itu mendekat ke arah Maki. Ia mencengekeram kerah leher Maki. Ia mengendus, kemudian mendorong Maki ke tempat tidur.
“Donki itu alat pemukul atau asbak atau benda yang seperti itu.” jelasnya sambil mengambil cemilan disana. “Singkatnya ibumu memukul seseorang dengan benda itu lalu ditangkap. Itu salahnya sendiri.” Maki tak terima ibunya disebut seperti itu.

Anak berkaca mata memuji si anak yang mencengkeram kerah Maki tadi. “Posuto wajah barumu adalah kelembutan.”

Maki heran, “apa Posuto itu namanya?”
“Semua orang disini punya nama panggilan. Karena aku berbakat bermain piano. Namaku Piami.” ucap si anak berambut panjang. (Ok saya pun akan menyebutnya Piami) “Orang orang bilang aku ini cocok menjadi putri dengan piano mewah.”

Posuto menyahut, “siapa yang bilang begitu?”
“Aku Bombi.” si anak berkaca mata mengenalkan nama panggilannya. “Itu karena aku lucu seperti Bambi.”

“Bukan begitu.” sanggah Piami, “Itu karena kau ditemukan di rumah kumuh kan?”

“Lalu Pasuto?” tanya Maki.

“Posuto adalah anak yang diambil dari Kotak pos.” jelas Bombi.

Maki minta maaf pada Posuto karena ia tak tahu asal muasal Pasuto.
Posuto yang sedang membaca buku tersenyum sinis, “kau pikir aku menyedihkan? Orang yang berpikir aku menyedihkan, dia lebih menyedihkan.”
Piami menanyakan nama panggilan Maki. Maki bilang kalau ia tak perlu nama panggilan karena dirinya akan segera pulang. “Saat ibu keluar dari kantor polisi aku akan pulang, jadi sebentar lagi.” ucap Maki penuh keyakinan.

“Rupanya kau tak mengerti ya?” sahut Posuto.

Maki menyebutkan kalau namanya Maki. Posuto menyarankan lebih baik nama Maki itu diganti Donki saja. Piami dan Bombi setuju, itu gampang disebut dan keren. Maki berteriak tak mau.

Tiba-tiba terdengar suara orang yang mengetuk pintu kamar. Maki terdiam terkejut, apa itu pria yang tadi? Posuto mengendus hidungnya, sepertinya ia bisa menebak siapa yang berada di luar kamar itu. Ia tetap santai membaca bukunya.
Seorang anak laki-laki kecil masuk ke kamar. “Ngompol..” katanya yang sudah ngompol di celana.

Piami dan Bombi mendekat dan berseru, bau. Ya ampun Pachi ngompol di celana. Keduanya tertawa.
“Jangan tertawa.” Posuto tak suka ada yang menertawakan Pachi yang ngompol di celana. Ia mendekat ke arah Pachi dan menutup hidung. Tak lama kemudian ia pun ikut tertawa. Karena ditertawakan begitu Pachi pun nangis. Posuto minta maaf dan mengajak Pachi ke kamar mandi. Ia akan membersihkannya. Ia meminta Piami dan Bombi membantunya.

Sebelum ke kemar mandi Posuto mengingatkan Maki, “kau tidur saja lebih dulu.” (hahaha kirain mau ngingetin apapan)
Keesokan harinya, saatnya sarapan.
Ternyata ada beberapa anak yang tinggal disana. Maki bertabrakan dengan gadis yang matanya ditutup satu. Gadis itu marah. Maki yang terkejut takut minta maaf. Piami memberi tahu Maki kalau gadis itu memiliki nama panggilan Otsubone. (wanita pekerja paruh baya yang belum menikah)
Maki melihat sekeliling meja makan, “apa kita sarapan disini?” Piami membenarkan dan berkata kalau Maki akan kaget dengan rasa makanannya yang enak. Posuto memberi tahu ini resep masakannya Rokka. Dan yang disebut Rokka pun menyuguhkan makanan untuk Maki. Ya.. itu pria muda yang dilihat Maki semalam yang tengah memotong ayam.
Tiba-tiba terdengar suara tongkat pria yang semalam menjemput Maki. Pria yang disebut Mou oleh anak-anak ini bernama Tomomari Sasaki. Semuanya duduk rapi tapi tidak bagi Posuto yang duduk santai sambil menopang dagu.
Mou yang masih mengantuk sesekali menguap. Ia melihat satu persatu anak yang ada disana. Brak… ia menghentakan tongkatnya ke lantai. “Menangislah!” perintah Mou pada anak-anak. Anak-anak diam menunduk kecuali Posuto yang santai saja, sedangkan Maki menatap bingung.
Mou : “Kenapa? Apa tidak ada satupun dari kalian yang bisa? Kalau kalian seperti ini, kalian tak akan menerima apapun (tidak menerima makanan). Dengar, di tempat ini kalian sama seperti anjing di toko hewan. Kebahagiaan hewan peliharaan ada pada pemiliknya. Bagaimana seseorang memilih hewan peliharaan? Mereka memilih yang lucu. Memberi senyuman manis untuk menyegarkan pikiran. Menangis sedih untuk mendapatkan perhatian mereka. Hewan yang memperlihatkan wajah cemberut saat pertemuan pertama, tidak akan dipilih oleh siapapun.”
Mou mendekat ke arah Maki, “bahkan seeokor anjing pun tahu hal itu. Kalau sudah mengerti, menangislah. Dengan menangis kalian bisa makan.” Brak Mou kembali menghentakan tongkatnya ke lantai.
Pachi menutup wajahnya berusaha untuk menangis. Anak-anak yang lain juga sama. Tapi nangis yang dipaksakan malah jadi aneh. Mou pun menggeplak kepala salah satu anak yang menangis aneh. “Memangnya ada laki-laki yang menangis seperti itu? sudah kubilang perlihatkan wajah yang lucu.” omelnya.
Otsubone ikut menangis meratap. Tapi Mou tak suka menangis begitu.
Mou pun meminta Maki untuk melakukannya. Tapi maki tak mau, “aku bukan seekor anjing.”

Mou : “Lalu apa? Kucing?”

“Meoongg….” sahut Posuto meniru suara kucing.

Mou pun meminta Posuto memberikan contoh menangis pada Maki.
“wani piro?” Posuto meminta bayaran.

Cckk.. Mou berdecak
Posuto pun mulai memperlihatkan wajah sedihnya. Semakin lama sedihnya semakin mendalam. Air matanya perlahan menetes dengan sendirinya, semakin lama semakin mengalir deras. (pinter banget nangisnya, kira-kira posuto ngebayangin apa ya sampai bisa nangis begitu) bahkan dengan melihat Posuto menangis saja, Otsubone serasa ikut menangis sedih.
 Mou pun membolehkan Posuto makan. Posuto langsung menghentikan tangisannya dan makan. Mou sepertinya kesal deh karena Posuto berhasil dengan tantangannya. Ia keluar dari ruang makan.
Di kamar, Piami terus merapikan rambutnya. Sementara Posuto bersiap-siap akan pergi. Piami tanya apa Posuto akan pergi uji coba hari ini. Posuto membenarkan. Maki heran, uji coba?
Hug.. Posuto menirukan suara anjing hahaha.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah panti. Posuto dan Mou ada di depan rumah menyambut tamu yang datang. Tamu itu sepasang suami istri yang akan mengadopsi Posuto. Kedua pasangan itu akan membawa Posuto ke rumah mereka. Maki, Piami dan Bombi mengintip dari jendela kamar mereka.
Piami menjelaskan, “ketika menemukan keluarga baru, kita bisa keluar dari sini.” Maki tak mengerti, “kelauarga baru?” Piami kembali menata rambutnya, orang tua asuh atau diadopsi, atau hal semacam itulah.

Bombi ikut menjelaskan, “Nah uji coba itu, mereka akan mempertemukan anak yang mereka inginkan dan anak mereka di rumah. Mereka bisa saja langsung akur, kan?”
Maki : “seperti itulah uji coba?”

Piami : “Ya. Setelah beberapa kali pergi ke rumah bersama, mereka akan memutuskan untuk mengadopsi atau tidak. Kepastian akan diadopsi atau tidak itu saat yang penting.”

Piami bertanya pada Bombi bagaimana model rambutnya. Biasa aja jawab Bombi. Piami pun merubah lagi gaya rambut yang lain.

Piami : “Tujuan kita itu membawa kebahagiaan yang lebih daripada orang lain di rumah idaman. Dan impian terbesarnya….”
Piami dan Bombi menatap foto Angelina Jolie dan Brad Pitt. “Joripi…” teriak Bombi antusias dengan gaya seimut mungkin. (Singkatan Angelina Jolie dan Brad Pitt)
Piami membenarkan, “Impian terbesar adalah diadopsi oleh Angelina Jolie dan Brad Pitt. Bukankah itu menarik? Dengan menjadi anak di rumah mereka, tidak akan ada yang menandingi kita. Ibu yang cantik dan ayah yang keren. Mengenakan baju yang bagus seperti putri.”

Jooriiipppiiii teriak Bombi lagi hahaha…

Piami : “Pastinya aku bisa memainkan piano sepuasnya. Dan demi aku mereka akan membelikan sebuah piano mewah.” (wakakaka ngayal)
Jorriiipppiiii wakakakakaa…

Maki heran, “benarkah ada ibu yang seperti itu?”
Piami yang tadinya senang banget dengan khayalannya langsung bermuka masam, itu beda berita lagi. “Aku rasa, uji coba yang dilakukan Posuto juga tidak buruk. Dengan dilihat saja, mereka pasti kaya. Mereka baik, hidup enak bahkan ada piano. Pasti sangat nyaman.”

Piami pun jadi ingat Daifuku, anak laki-laki yang juga sedang melakukan uji coba dengan sebuah keluarga, “kabar Daifuku bagaimana ya?”

Maki heran (si maki heran mulu ya) ada anak yang bernama Daifuku. (mochi dengan strauberry utuh di dalamnya) Bombi menjelaskan, kalau Ibu Daifuku membawa Daifuku dan bilang ‘tolong rawat anak ini’ jadi diputuskan namanya Daifuku.

Piami memberi tahu kalau ada orang tua yang akan mengadopsi Daifuku, “Orang itu bukannya tidak baik sih, hanya nasibnya saja yang buruk. Bombi berkata kalau ia tak mau berada di rumah seperti rumah uji cobanya Daifuku. Maki penasaran memangnya rumah seperti apa. Piami berkata kalau itu warung ramen, rumahnya sangat kecil dan kotor.
Daifuku berada di sebuah warung bersama orang tua uji cobanya. Warung itu sangat ramai hingga membuat Daifuku yang tadinya hanya berdiri jadi ikutan sibuk membantu mereka.
Piami menilai kalau rumah uji coba Daifuku itu seperti neraka. Mereka bukannya menginginkan anak tapi hanya pekerja gratisan. Bombi menebak kalau Daifuku pasti ingin melarikan diri. Piami berkata tentu saja karena hari-harinya disana pasti sangat membosankan tapi kesepakatan sudah ditepatkan, ia merasa kasihan pada Daifuku.

Piami bertanya lagi pada Bombi bagaimana dengan model rambutnya yang sekarang. Bombi kembali menjawab seperti tadi, biasa saja. Hahaha.
Mou dan Misuzawa ke rumah ramen keluarga baru Daifuku dengan membawa dokumen dokumen resmi adopsi anak. Misuzawa mengatakan kalau ini pasti ada biayanya, prosedur dari pusat konsultasi anak akan segera selesai dibuat. Untuk selanjutnya ia meminta kepada ibu dan ayah baru Daifuku untuk membawa dokumen-dokumen itu ke kantor regional.

Misuzawa : “ada satu syarat lagi, jika ada tindakan pelecehan anak, anda akan dimasukan ke dalam daftar hitam dan tidak bisa menjadi orang tua asuh lagi.”

Ayah dan ibu baru Daifuku saling berpandangan mengerti, tak mungkin mereka melakukan hal buruk seperti itu. Misuzawa dengan dingin berkata kalau ia juga berharap demikian. Daifuku terdiam menunduk.

Mou menegur Daifuku yang dari tadi diam saja, “mana salamnya?”

“Mohon bantuannya.” Daifuku bicara pelan sambil membungkuk memberi hormat pada kedua orang tua barunya. Ayah dan ibu baru itu meminta Daifuku jangan terlalu formal, jangan terlalu tegang juga, bukankah Daifuku bisa memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu. Daifuku diam, ia tak bisa dengan mudah mengucapkan itu.
Daifuku melirik ke arah Mou yang menatapnya. Ia kemudian berusaha tersenyum cerah, “Baik, mohon bantuannya.” Tapi ketika membungkuk dengan semangat ia malah menyenggol meja dan menjatuhkan semua piring yang ada di atas meja.
Posuto kembali ke rumah panti setelah uji coba dengan calon keluarga barunya. Kedua suami istri itu membelikan gaun yang indah untuk Posuto. Bahkan sang istri juga membelikan kue untuk Posuto sebagai hadiah. Posuto merasa kalau ia tak bisa menerima itu. Tapi si istri memaksa Posuto untuk menerimanya dan jika ada sesuatu yang Posuto inginkan katakan saja padanya. Hadiah itu adalah wujud perasaannya pada Posuto. Posuto tersenyum berterima kasih dan berjanji akan memakan kue itu.

Posuto melambaikan tangan pada kedua calon orang tua baru itu. Tapi setelah kedua pasangan itu pergi, Posuto langsung melepas topi gaunnya. Ia lega karena melewati uji coba hari ini.
Posuto mengambil susu kotak dari kulkas dan meminumnya langsung. Otsubone yang berada di dapur sambil makan menilai kalau Posuto sungguh beruntung. Ia menebak apa rumah itu sangat bagus, karena mereka membelikan posuto baju yang bagus.
Otsubone memberi tahu kalau hari ini Daifuku sudah resmi pindah dari rumah ini. “Walaupun warung ramennya kecil, bukankah itu tak masalah? Manjadi anak angkat itu pasti enak kan ya? Hei sekarang aku sudah 17 tahun. Sampai kapan aku akan disini? Atau berapa kali lagi aku harus melihat seorang anak diambil dari sini? Posuto, apa yang harus kulakukan? Aku tak bisa menahan kecemasanku. Makanya aku selalu makan. Hei apa rahasianya?”

Posuto keluar dari dapur, terdengar suara Otsubine berterima kasih pada Posuto. Posuto berpapasan dengan Rokka dan memberi tahu kalau Otsubone memakan makanan lagi di dapur. Rokka langsung ke dapur, terdengar teriakan Otsubone yang menyangkal kalau ia tak memakan makanan di dapur karena makanan yang ia makan ini miliknya.
Ngapain nih ya hahaha….

Episode 1 akan saya bagi ke dalam 3 part ya. 20 menit aja udah nyampe 8 halaman hahaha...

Komentar :


Wow another human drama. Like this. Jadi ingat The Queen’s Classroom versi Jepang. Serem-nya dapat, ucapan nylekit-nya dapet, komedinya juga ada. Baru nonton episode 1 dan langsung jatuh cinta dengan jalan ceritanya. 

12 comments:

  1. kirain film horor tadi mbak heheheh. tapi setelah baca seru juga, bener kata mbak anis klo liat anak anak jadi inget Queen of Classroom. lanjut deh mbak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih, mbak anis pingin bareng anak2 lagi :P
      #genrenya mbak anis^^"

      Delete
  2. waww,,,kayak gini nih yg tak tunggu2,,semangat mbak anis,,saya jg semangat banget nunggu lanjutannya... ^^

    ReplyDelete
  3. Wah dikira horor,ternyata bukan.haha lanjtkan mba anis.semangat!^_^

    ReplyDelete
  4. Mba anis aq punya request neh.bsa recap drakor generation of youth ga ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf saya ga nonton drama itu jadi ga buat recaps-nya

      Delete
  5. Pasuto agak mirip moon geun young yaa... :D

    ReplyDelete
  6. keren ekpresi anak2nya haha so mysterious child :D
    ada yang masih mysterious juga tuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. suspicious child/lady hihihi
      btw mbak, itu takuya belum dijelasin siapa?

      Delete
  7. Boleh link tuk drama ni?? Teringin nak tgk budak2 lm drama ni, macam comel jeeeee :D

    ReplyDelete
  8. bagus kak ^^... mana yg ke 4 ??

    ReplyDelete
  9. Mana ashidaaaa, favorit ku nih. Dia nih ttrmsuk artis cilik kelas a lho djpang, suka bgt dia di bunny drop 😘😄

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...