Saturday, 15 February 2014

Sinopsis Ashita, Mama ga Inai episode 2 Part 1

Di sekolah TK Pachi diadakan pertunjukan. Pachi menjadi salah satu pemainnya sebagai Momotaro. Posuto, Piami, Bombi dan Donki menonton dari luar jendela. (sekarang saya menyebut Maki dengan nama Donki)

Selesai pertunjukan mereka pun kembali ke Kogomo No Li (nama rumah panti). Pachi tidur nyenyak di punggung Posuto. Donki menawarkan gantian menggendong pachi tapi Posuto menolak karena itu akan membuat Pachi terbangun.

Tiba-tiba langkah mereka terhenti karena mendengar suara alunan piano. Piami marah-marah karena suara piano itu jelek sekali. “Ah bukan begitu memainkannya!” Teriaknya mengomel. “Mainnya harus pakai perasaan. Bukan begitu. Memainkan piano dengan buruk sungguh menjengkelkan sekali.”

Bombi meminta Piami jangan terlalu emosi, bukankah hari ini Mao akan membawakan dokumen calon orang tua asuh baru. “Kita mungkin bisa mendapatkan orang tua angkat yang kaya.” Sahutnya.

Donki masih tak mengerti dengan sistem orang tua asuh ini. Piami mengingatkan agar Donki jangan berfikiran begitu karena takut nantinya akan sepertio Otsubone. Posuto menirukan apa yang selalu Otsubone ucapkan, “kenapa hanya aku yang tidak dipilih siapapun.” ucapnya dengan logat seperti Otsubone. Mereka tertawa dan itu membuat Pachi terbangun.
Posuto menurunkan Pachi. Pachi merengek minta gendong lagi. Tapi Posuto menolak, “Jangan manja. Kalau sudah bangun, jalan kaki saja.” Donki melihat kalau Posuto seperti ibu bagi Pachi.

Pachi merebut tas-nya yang dibawa oleh Donki. Ia mengambil botol sampo miliknya. Botol sampo yang memiliki aroma seperti ibunya. Ia memeluk botol itu. Donki pun jadi teringat apa yang dikatakan Posuto bahwa Pachi akan marah jika ada orang lain yang menyentuh botol itu. Mereka pun melanjutkan jalan menuju pulang ke panti.
Di panti, Bombi berdoa di depan foto Joripi. Ia berdiri dan berseru, “aaaa Jooriippiii…” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Hahaha sumpah nih anak lucu banget.

Piami datang memberi tahu kalau Mao sudah datang. Tapi Bombi enggan meninggalkan kamar dan terus-menerus menatap foto Joripi. Piami pun terpaksa menarik Bombi keluar.
Mao menunjukan dokumen beberapa calon orang tua asuh. Piami menggerutu kalau sekarang hanya sedikit sekali. Mao menghentakan tongkatnya menegur, “Kelihatannya disini hanya ada orang-orang yang tidak bisa bersyukur.” Anak-anak langsung berebut melihat siapa saja yang akan menjadi orang tua asuh. Kecuali Posuto dan Pachi yang tak ikut melihat, kedua anak ini membantu Rokka membersihkan alat makan.
Bombi melihat salah satu calon orang tua asuh adalah pria dan wanita bule yang pernah ia lihat di taman. Ia langsung merebut dokumen itu, tapi sayang itu bukan pasangan orang tua yang dimaksud. Ia pun kecewa. Khayalannya Bombi terlalu ya hahaha.
Piami yang melihat data calon orang tua bertanya pada Donki tentang kondisi keluarga calon orang tua tersebut, “apa kira-kira mereka akan membolehkanku ikut les piano? Rumah mereka ini sewaan atau milik pribadi?” Donki tak tahu pasti. Piami pun memutuskan kalau ia akan mencobanya. Ia akan melakukan uji coba dengan calon orang tua asuh ini.
Anak laki-laki disana menolak melakukan uji coba karena kriteria calon orang tua yang tak sesuai dengan harapan mereka. Donki akan mengambil dokumen itu tapi Otsubone menahannya. “Berikan padaku. Sudah tak ada waktu lagi. Jika sampai musim semi tahun depan aku tak bisa mandiri dan tak punya tabungan, aku tak akan bisa keluar dari sini. Apa yang harus kulakukan dengan sistem negara ini?”
Mao merebut data orang tua asuh yang dipegang Otsubone. Ia mengingatkan kalau disana tertulis bahwa orang tua asuh ini menginginkan anak dibawah 10 tahun. Otsubone berkata kalau jiwanya ini berumur 9 tahun. (hahaha padahal dia sudah berusia 17 tahun)

“Hei Chibi..!” Mao memanggil Pachi. (Chibi : orang pendek atau sebutan untuk anak kecil)

Pachi menghampiri Mao tak lupa ia membawa botol samponya. Mao tahu kalau Pachi belum pernah melakukan uji coba. Ia memberikan Pachi kesempatan untuk melakukan uji coba. Donki berkata bukankah Pachi masih memikirkan ibunya.

Mao mengingatkan kalau wanita seperti itu tidak pantas disebut ibu. “Pada awalnya anak asuh atau anak angkat, anak yang lebih kecil lah yang diinginkan orang tua. Kau ini mainan yang lucu. Kenapa kau tak mencobanya?”
Posuto mendelik tak suka pendapat Mao. Mao melihat tatapan marah Posuto padanya, “Kenapa kau menatapku begitu? Sejak kapan kau menjadi ibu anjing ini?” bentak Mao. Posuto hanya bisa diam menatap marah.

Mao mengatakan kalau minggu ini adalah pertemuan pertama untuk uji coba. Untuk sementara kita lihat bagaimana perkembangannya. Ia menyuruh Pachi untuk pergi melakukan uji coba setiap akhir pekan.
Setelah Mao pergi, Pachi berbalik menatap Posuto.
“wuakkkk….” Posuto menirukan suara ibu anjing.

“Kuyuunnn….” Pachi menirukan suara anak anjing.
Di sekolah, Posuto dengan semangat melakukan permainan lempar bola, bukan semangat sih tapi itu seperti pelampiasan marahnya. Pami, Bombi dan Donki menonton dari tepi lapangan. Bombi menilai kalau Posuto itu sedang marah. Piami berkata kalau Posuto pasti mengkhawatirkan Pachi. Donki menebak apa tentang uji coba itu.

Piami membenarkan, Posuto tidak mengenali wajah orang tuanya, dia sudah menganggap Pachi seperti keluarganya. Bombi merasa ketika Pachi bilang kyuuuunn, Pachi seperti sedang memanggil ibunya.
Keempatnya bertemu dengan Ren. Piami yang naksir Ren langsung berdiri di depan Ren. Ren yang menoleh pada Posuto bertanya apa mereka ada acara di hari sabtu nanti. Piami menebak apa itu acara ulang tahun Ren. Ren senang Piami tahu itu.

Piami jadi salah tingkah dan langsung bersembunyi di belakang Posuto. Ia hanya menebaknya saja, karena hal ini bisa juga disebut sebagai instingnya wanita. Ren memberi tahu kalau ulang tahunnya akan diadakan di rumahnya, apa mereka bisa datang. Piami langsung melihat buku catatannya. Ren sedih, apa mereka tak bisa datang. Piami menjawab sambil menunjukan buku catatan kalau pada hari itu ia tak ada kegiatan jadi bisa datang.

Posuto malas membahas ini, ia pergi lebih dulu dengan wajah jutek. Ren menoleh melihat kepergian Posuto. Ia menyarankan Piami agar mengajak yang lain supaya acara ulang tahunnya menyenangkan. Piami pun berjanji.
Setelah Ren pergi, Piami berseru pada Bombi dan Donki, “Aduh bagaimana ini, Ren-kun mengundangku.” Bombi memuji kalau Ren itu sangat tampan. Piami menambahkan kalau ayah Ren itu seorang politikus, rumahnya juga sangat besar. “Ah sudah kuduga, Ren pasti punya perasaan padaku.” (ge-er banget haha)

Piami ingin Bombi dan Donki juga ikut datang ke pesta ulang tahun Ren. Donki mengingatkan bukankah pada hari sabtu besok Piami akan melakukan uji coba. Piami terkejut, ia menoleh menatap tajam Donki. Ia berpesan agar Donki hati-hati. Donki terkejut. Yup.. Piami menyerahkan uji coba ketemuan sama calon orang tua itu pada Donki hehe.
Rokka membeli dua paket nasi di toko bento. Sebelum pergi Rokka menatap wanita pemilik toko. Wanita itu heran, ada apa. Rokka menggeleng dan segera pergi dari sana.
Rokka kembali ke mobil dan disana sudah ada Mao. Ia memberikan satu paket nasi itu pada Mao. Dari dalam mobil Mao terus-menerus menatap wanita penjual nasi bento. “Dia wanita yang baik kan? Apa dia sudah bersuami?” tanya Mao. Tak ada sahutan dari Rokka. Mao menilai percuma saja ia bertanya pada Rokka yang selalu diam. Bertanya apapun pada Rokka ia tak akan mendapatkan jawaban. (kenapa Rokka tak pernah bersuara)
Malam hari disaat yang lain sudah terlelap, Posuto masih terjaga. Ia mencium sesuatu. Seseorang membuka pintu kamar, Posuto turun dari tempat tidurnya. Pachi datang ke kemarnya. Posuto tanya apa Pachi ngompol lagi. Pachi yang memeluk botol sampo menggeleng. Posuto tanya apa Pachi takut, Pachi diam. Posuto mengajak Pachi masuk ke kamar dan naik ke tempat tidurnya. Donki yang terbangun melihatnya.
Posuto berbagi tempat tidur dengan Pachi. Ia menyelimuti Pachi. “Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun. Pikirkan seperti kau akan makan makanan yang enak.” Posuto mengenggam tangan Pachi. “Kau tak perlu memaksakan diri. Kalau ada yang Mao tak bisa lakukan, aku yang akan melakukannya. Kalau terjadi sesuatu, kalau kau menelepon ke Kogamo No Le, aku akan segera kesana. Kau tak perlu takut lagi. Karena aku akan melindungimu.”

Pachi tertidur di samping Posuto. Posuto menatap lekat-lekat Pachi. Donki yang melihat dan mendengar itu terharu.
Posuto melihat dari jendela kamarnya Pachi dan Donki berangkat melakukan uji coba. Donki melakukan uji coba menggantikan Piami. Pachi menoleh menatap jendela kamar Posuto tapi Posuto segera sembunyi. Mizusawa meminta kedua anak itu lekas naik ke mobil.
Mizusawa bertanya apa Donki dan Pachi merasa tegang. “Kalian tak usah khawatir. Aku sudah mewawancarai mereka. Keduanya adalah orang tua yang baik. Aku juga begitu saat pertama kali.” Donki terkejut mengetahui kalau dulu Mizusawa juga melakukan uji coba. Mizusawa berkata kalau dulu juga ia tegang ketika pertama kali melakukan uji coba.
Mobil berhenti di rumah orang tua yang pertama. Orang tua angkat untuk Pachi. Pachi yang masih takut, enggan keluar dari mobil. Donki menyentuh pundak Pachi memberi semangat dengan mengatakan sampai jumpa nanti. Pachi mengangguk pelan. Kedua calon orang tua angkat Pachi tersenyum menyambut pachi. Sepertinya calon orang tua yang baik.
Mereka sampai di rumah calon orang tua angkat yang kedua. Seperti Pachi, Donki juga merasakan kecemasan.
Posuto berlari menuju jembatan. Ia yang cemas melihat Pachi dari jauh. Pachi sedang bermain-main di balkon rumah bersama calon orang tua angkatnya. Mereka tampak senang. Pachi terlihat gembira bermain gelembung sabun. Apakah kekhawatiran Posuto ini berlebihan?
Posuto berdiam diri di jembatan memandang matahari sore yang hampri tenggelam. Ren melintas tak jauh dari sana. Ia memberanikan diri menghampri Posuto. Ren menyapa Posuto, apa yang Posuto lakukan dsini.
“Cantik, ya?” sahut posuto memandang matahari yang hampir tenggelam.

“Iya…” jawab Ren sambil memandang Posuto. (hahaha)

“Senjanya…” sambung Posuto.

“Ah iya…” Ren jadi kikuk. Keduanya memandang matahari sore.

Ren kembali bertanya apa yang Posuto lakukan disini. Posuto berkata kalau Pachi tersenyum pada orang lain. Ren yang tak tahu siapa Pachi menebak apa Pachi itu orang yang Posuto sukai.
Posuto heran, “suka? Ah, apa aku terlihat seperti orang yang patah hati?”

Ren pun mengundang Posuto untuk datang ke pesta ulang tahunnya hari sabtu nanti. “Mungkin cinta yang baru bisa menyembuhkan patah hati.” (hahaha)

Posuto melongo kaget. Ren jadi tambah kikuk. Posuto tertawa, apa yang Ren bicarakan.

Ren beralih memandang matahari, “senjanya cantik ya.” Posuto bingung apa yang dibicarakan Ren.
Pachi terus bermain dengan calon orang tua angkatnya. Ia tampak senang. Si ibu berkata kalau kalau Pachi harus berhenti bermain nanti lelah dan berkeringat. Ia mengajak Pachi mandi.

Pachi langsung diam memeluk botol samponya. Si ayah heran kenapa, apa Pachi tak mau mandi. Pachi tak menjawab, ia memeluk botolnya erat. Suami istri itu berpandangan heran.
Pachi akhirnya mau mandi dengan si ayah dan botol sampo itu ada disana. Sambil mandi keduanya bermain. Pachi terus-menerus menatap botolnya. Si ibu masuk ke kamar mandi dan melihat mereka tampak senang. Si ibu berusaha dekat dengan Pachi. Tapi Pachi diam saja dan terus menatap botol.
Si ibu merasa kalau botol itu pasti sudah mengganggu mandi Pachi.  Pachi menggeleng. Si ibu pun membawa keluar botol itu. Pachi hanya bisa menunduk sedih. Si ibu akan membuang botol itu ke tempat sampah tapi niat itu ia urungkan.
Piami belajar merajut dari Rokka. Piami bertanya apa Rokka tidak mau tahu untuk siapa ia membuat syal rajutan ini. Rokka menampilkan ekspresi ingin tahu. Tapi Piami berkata kalau ia tak akan memberi tahu karena ini rahasia wanita. (wakaka si Rokka lucu juga ekspresinya haha)
Posuto ke dapur meminta susu, Piami segera menyembunyikan rajutannya. Posuto heran ada apa dengan Piami. Piami berkata kalau ini bukan urusan Posuto. Posuto langsung mengelabui ada yang datang, Piami langsung menoleh dan tepat saat itu Posuto merebut rajutan Piami.

Posuto heran kenapa rajutannya begini (ga rapi) Piami sewot dan berkata kalau hasilnya tetap bagus kalau itu dibuat dengan perasaan karena yang namanya barang buatan tangan berbeda dengan hasil membeli.
Calon orang tua angkat Pachi mengantar Pachi ke panti. Si ibu berkata pada Mao kalau hari ini benar-benar menyenangkan. Ia sangat menyukai ketika bersama Pachi. Ia harap uji coba selanjutnya juga akan sebaik ini. Si ayah dan ibu ini pun pamit dan berharap pekan depan lebih menyenangkan lagi. Pachi diam saja.
Mao merebut paksa botol yang dipeluk Pachi. Ia melemparkan itu pada Rokka. Ia menyuruh Rokka membuang botol itu. Ia menatap Pachi, “cepatlah terbiasa dengan pemilik baru.” Mao menghentakan tongkatnya. Pachi diam menatap Rokka. Tatapan memohon agar Rokka tak membuang botolnya. Rokka berlalu dari sana.
Bombi berteriak sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya di depan foto Joripi. Donki menceritakan uji cobanya pada Piami. Ia mengatakan kalau Bibi itu (si ibu orang tua uji cobanya) pandai membuat kue bahkan si ibu itu mengajarinya membuat kue. Donki tersenyum kalau paman juga bercerita sangat menarik. Benar-benar bagus.

Piami heran dengan perubahan sikap Donki yang tiba-tiba. Bukankan kemarin Donki bilang tidak untuk yang namanya uji coba. Donki berkata bukankah Piami yang mengatakan kalau ia harus cepat terbiasa dengan sistem ini. Awalnya ia bingung harus bagaimana tapi ternyata mereka berdua (calon orang tua angkat) sangat baik. Piami berkata seharusnya ia yang pergi. Semenatra Bombi terus-terusan berteriak memanggil Joripi hahaha.
Pachi datang ke kamar cewek-cewek. Donki menawarkan apa Pachi mau kue. Pachi mengangguk mau. Posuto turun dari tempat tidurnya mengingatkan dengan nsikap jutek bukankah Pachi sudah gosok gigi, sebaiknya tidur saja. Posuto cuek pada pachi. Posuto heran mana sampo Pachi.

“Jelek…” ucap Pachi pada Posuto.

Posuto kaget, “ha? Berisik, chibi. Dasar cengeng,”

Keduanya saling mengolok-olok. Pachi yang sewot karena sikap jutek posuto kembali ke kamar dan menutup pintu kamar keras. “Jelek..” ucapnya lagi. Otsubone mendengar itu dan keluar kamar. Pachi langsung kembali ke kamarnya.
Uji coba yang kedua. Donki diajak ke taman hiburan. Naik segala macam wahan dan dibelikan macam-macam. Perlakukan si ayah dan ibu pun sangat baik pada Donki. Mereka sangat bahagia.
Si ayah memberikan balon pada Donki. Donki melihat ke kaca dan tampaklah pantulan dirinya dengan calon orang tua angkatnya yang terlihat bahagia. Ia terdiam. Tanpa terasa balon yang ada di tangannya pun terlepas dan terbang. Donki melihat balon itu terbang tinggi.
Ayah berkata kalau ia akan membelikan balon lagi untuk Donki. Donki tiba-tiba menangis sedih, ia minta maaf. Si ibu heran kenapa Donki tiba-tiba menangis, apa Donki tak suka naik roller coaster. Donki menggeleng terus menangis sambil terus menerus mengucapkan maaf.
Posuto, Piami dan Bombi sampai di depan sebuah rumah. Mereka memuji kalau rumah itu terlihat besar. Piami heran kenapa Posuto ada disini. Posuto berkata kalau Ren juga mengundangnya.
Tiba-tiba Bombi terkejut melihat sesuatu hingga mulutnya terbuka. Bombi melihat pasangan suami istri bule impiannya. Bombi berlari ke rumah si bule itu. “Rumah Joripi ternyata disini?” Piami dan posuto menyusul Bombi, “Hei apa yang kau lakukan? Rumahnya bukan disini.” Piami menarik Bombi. Hahaha.
Pachi juga akan melakukan uji coba lagi. Mao mengatakan kalau malam ini Pachi diperbolehkan menginap. Ia sudah menyiapkan baju gantinya juga. Pachi memeriksa tasnya dan terkejut begitu melihat botol sampo miliknya ada disana. Ia menoleh ke arah Rokka. Rooka memberi kode supaya Pachi diam saja. Hehe Mao ga tahu nih, kalau botol sampo itu belum dibuang sama Rokka. (ah rokka baik sekali dikau, kapan ya dia ngomong)
Di pesta ulang tahun Ren. Piami tak menyangka kalau yang diundang banyak juga. Posuto heran dimana Bombi. Bombi ternyata ada di halaman rumah Ren. Dia loncat-loncat di samping pagar karena rumah Joripi impiannya ada di sebelah rumah Ren. Ia melihat tak jauh dari sana ada tangga.
Ren senang melihat Posuto dan Piami datang ke ulang tahunnya. Piami gugup Ren menyapanya. Ia bersembunyi di belakang Posuto. Piami memberanikan diri mengucapkan selamat ulang tahun dan akan memberikan hadiah.
Tapi tiba-tiba ada penggemar Ren lain yang menyela. 3 cewek centil. Hahaha. Ketiganya mengucapkan selamat ulang tahun pada Ren dan memberikan hadiah pada Ren.

Ren membuka hadiah itu, sebuah syal yang bagus. Piami jadi minder, ia malu dengan hadiah syal yang dibuatnya. Ia pun enggan memberikannya.
Posuto heran apa Piamo tak memberikan hadiah itu pada Ren. Piami berkata kalau sekarang kekuatannya tiba-tiba menghilang. Ia lemas hahaha.
Mizusawa membicarakan secara pribadi pada calon orang tua Pachi mengenai hal penting tentang Pachi.

Mizusawa : “Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, anak itu adalah anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga sebelum dibawa ke panti. Yang ingin saya sampaikan adalah anak ini ditinggalkan sendirian di kamar dalam keadaan kritis. Dia ditinggalkan dalam ruangan yang terkena sinar matahari langsung dan mengalami dehidrasi parah. Untungnya, seorang pegawai Pusat Konsultasi Anak menemukannya tepat waktu.”
Si ibu bertanya dimana orang tuanya Pachi. Mizusawa berkata kalau ayah Pachi sudah tidak ada. Ibu Pachi mengurus Pachi sendiri dan pergi dengan membawa semua tunjangan anak.

Si ibu menilai kalau ibu kandung Pachi sungguh tega sekali. Mizusawa berkata kalau ibu Pachi ketergantungan pada yang namanya judi. Sejak pagi selalu di tempat judi (pachinko), maka dari itu di Kogamo No Le anak itu nama panggilannya Pachi.
Posuto melihat seorang anak yang mirip dengan Pachi di rumah Ren. Ia memnggil anak itu dengan sebutan Pachi. Ren datang memberi tahu kalau anak kecil itu adiknya. Ia berkata kalau adiknya itu sangat manja.
Si ayah menilai kalau ibu kandung Pachi sungguh kejam. Ibu bertanya kenapa Pachi selalu membawa botol sampo. Mizusawa berkata kalau wangi di botol itu adalah wangi ibunya Pachi. Ia sendiri tak bisa melepaskan itu karena anak itu membutuhkannya, walaupun masa lalunya seperti itu.
Ibu merasa diberkahi anak seperti Pachi ibarat impian yang menjadi kenyataan. Ia juga bisa menerima kondisi jasmani suaminya. “Aku akan melakukan apapun demi anak itu. Aku ingin membantunya melupakan ingatan yang menyakitkan itu. Aku benar-benar ingin menjadi ibu anak itu.”

Apakah Pachi akan benar-benar menjadi anak di keluarga ini? Bagaimana dengan Donki? Apakah dia juga akan menemukan keluarga bahagianya? Lalu yang lain bagaimana?


Bersambung ke episode 2 part 2

5 comments:

  1. terima kasih sinopsisnya kak :)
    terus dilanjut ya kak sinopsisnya, ceritanya bagus. suka banget sama anak-anak ini. gemes lihatnya.

    oh ya kak queen of office masih dilanjutkan?

    ReplyDelete
  2. Alur cerita yg sangat bagus,jenis drama yg unik.berbeda dgn kebanyakan drama.bukan tentang cinta,bukan tentang perebutan harta,sprt kebanyakan drama.melainkan berlatar belakang anak2 yg terbuang.
    makin ksni jalan cerita nya makin seru.
    mksh ya mba anis.semangat.
    lanjutkan ^_^

    ReplyDelete
  3. Cerita-cerita drama jepang memang pakai persaan, jadi bikin terharu membacanya.

    ReplyDelete
  4. Di tunggu lanjutannnya ya,,

    ReplyDelete
  5. suka sm cerita ini...baguuusss
    ditunggu kelanjutannya...
    arigatoo

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...