Monday, 10 February 2014

Sinopsis Ashita, Mama ga Inai Episode 1 Part 2

Posuto memberikan pada Pachi kue yang ia dapatkan dari calon orang tua angkatnya. Tapi Posuto memberi syarat pada Pachi jika menginginkan kue itu. Syarat seperti biasa.

Pachi mengerti, ia segera berdiri dan menari. Hehehe. Si Pachie lucu pisan euy… Posuto tepuk tangan dan memberikan satu kue itu untuk Pachi.
Maki datang dan terkejut melihat pakaian yang dikenakan Posuto. “Kenapa kau berpakaian begitu?” Posuto berdiri memamerkan gaunnya, “aku cantik kan?” ucapnya ganjen hahaha. Tapi itu tak membuat Maki tertawa, malah ia menatap bingung.
Posuto kembali duduk dan mengatakan kalau gaun ini hasil dari uji cobanya. Ia memberikan satu kue pada Maki, tapi maki menolak tak usah. Maki melihat sekeliling sangat berantakan. Ia akan membereskannya termasuk sebuah botol. Tapi Pachi merebut botol itu. dia memeluknya.

Posuto berkata kalau Pachi akan marah jika Maki menyentuh botol itu. “Benda itu memiliki wangi yang sama seperti ibunya. Dia tak akan bisa tidur tanpa itu.” Maki minta maaf dan berharap Pachi bisa kembali bertemu dengan ibu Pachi.

Tanpa sengaja Pachi menjatuhkan kue yang ia makan. Tapi ketika ia mengambil kue itu dan akan memakannya, Posuto melarangnya. “Jangan dimakan itu sudah jatuh!” Posuto pun memberikan kue yang baru untuk Pachi. Ia tersenyum senang melihat Pachi menikmati kue itu.
Keesokan harinya, anak-anak berlari menuju sekolah mereka. Posuto menggandeng Pachi menuju sekolah. Sementara Maki berdiam sendirian di kamar. Maki melihat dan menyentuh gaun milik Posuto.
Tiba-tiba Mou masuk kamar mengagetkan Maki. “Hei. Proses pemindahanmu sudah selesai. Mulai minggu depan kau akan masuk sekolah. Bersiaplah.”

Maki berkata kalau Mou seharusnya mengetuk pintu dulu sebelum masuk kamar.

Ck ck.. Mou cuek.

Mou menuju suatu tempat. Melihat Mou pergi, Maki pun pergi juga tanpa sepengetahuan orang panti.
Maki pulang ke rumahnya. Ia menekan bel rumah tapi tak ada yang membukakan pintu. Ia pun masuk karena pintu ternyata tak dikunci.
“Ibu…!” panggil Maki. Namun tak ada sahutan dari siapapun, rumah itu sepi. “Apa ibu masih di kantor polisi ya?”
Maki menuliskan pesan di sebuah kertas yang ia letakan diatas meja. Ia kemudian melihat di meja rias ibunya ada botol parfum. Ia mengambil parfum itu dan menciuminya. Itu aroma parfum ibunya. Maki rindu pada ibunya. “Ibu…” isaknya.
Bombi keluar dari toilet dan terkejut ketika melihat seorang wanita bule duduk di bangku sedang melukis. Bombi pun teringat akan Angelina Jolie. Sosok ibu yang menjadi idamannya.
Tak lama kemudian seorang pria bule menghampiri wanita bule itu. Dan Bombi langsung membayangkan kalau pria bule itu adalah Brad Pitt.
Topi yang dikenakan Bombi tiba-tiba terbang dan jatuh tepat di kaki bule itu. Si bule pria mengambil dan meyerahkannya kembali ke Bombi. Mulut Bombi menganga hahaha.
Dan imajinasinya pun muncul, si pria bule itu menjadi ayah angkat Bombi dan memberikannya topi yang bagus. Bombi juga mengenakan gaun yang bagus layaknya seorang putri. Si ayah bule mengajak Bombi menari. Bombi menari berputar-putar.
Dan toeng hahaha itu hanya imajinasi Bombi saja. Bombi celingukan di taman itu. Ia hanya seorang diri. “Mana Joripi? Joripi?"
Joooriiippiiiii? Teriak Bombi hahahaha….
Di sekolah tepatnya di ruang seni. Piami bermain piano dengan sangat baik. Tiba-tiba Posuto datang menunjukan cermin pada Piami. Ia memperlihatkan bahwa wajah Piami terlihat menyeramkan. Piami pun menyudahi latihan pianonya.
Posuto tanya bagaimana dengan Festival paduan suara, bukankah mereka menginginkan Piami yang mengiringi. Piami menolak itu, karena menurutnya mengiringi Festival paduan suara tak akan memberikan apa-apa untuknya.

Posuto : “Begitu ya?”
Piami mengambil cermin yang ada di tangan Posuto, “Tentu saja. Aku ingin bermain dalam pertunjukan yang lebih besar dan menarik perhatian semua orang dengan piano. Lalu di koran akan ditulis besar-besar ‘Gadis Jenius’.”
Piami kemudian mengeluh, ia ingin cepat-cepat diadopsi. Dibawa ke rumah yang bagus. Minta dibelikan piano dan yang pastinya dengan ruang kedap suara. Memanggil guru privat untuknya. Dengan begitu ayah juga pasti…. Piami menunduk sedih.

Posuto seakan mengerti perasaan temannya ini. Ia pun kembali memperlihatkan wajah Piami di cermin. Ih lucunya… ucapnya sambil mendorong kepala Piami dengan telunjuknya. Posuto lari, Piami mengejarnya, kembalikan cerminku.
Keduanya berlari di koridor. Seorang anak lelaki mengingatkan keduanya untuk tak berlari di koridor. Keduanya langsung berhenti. Piami terkejut melihat anak lelaki itu. Ia bersembunyi di belakang Posuto.

“Ternyata kau.” sahut Posuto jutek.
Anak lelaki itu menyerahkan sebuah buku pada Posuto. Piami kaget, “apa? tukeran buku harian?” Piami langsung berdiri di depan Posuto. Anak lelaki itu bilang bukan, ini buku catatan hari ini. Piami menerimanya. Anak lelaki itu menatap Posuto sebentar sebelum ia pergi.
“Hei.. Ren-kun sepertinya menyukaiku ya.” sahut Piami ke-geer-an. Posuto cuek ia menyerahkan cermin itu pada Piami.

Di TK nya Pachi.
Teman Pachi memberikan kue padanya. Pachi berterima kasih dan memakan kue itu. Anak itu tanpa sengaja menjatuhkan kue-nya ke tanah dan diambil lagi akan dimakan. Pachi yang teringat akan larangan Posuto ketika kue jatuh tak boleh dimakan lagi langsung melarang temannya agar jangan memakan makanan yang sudah jatuh.
Tapi anak perempuan itu tak mau, ia bersikeras akan memakannya. Keduanya pun tarik-tarikan hingga membuat si anak perempuan jatuh terjengkang. Nangis lah tuh anak.
Posuto dan Piami datang untuk menjemput Pachi. Keduanya melihat Bu guru minta maaf atas nama Pochi pada ibu si anak itu. Ibu-ibu itu tak terima karena hal ini sudah terjadi berulang kali. Perbuatan kasar ini memang tidak menimbulkan luka serius tapi pasti akan membawa dampak buruk di TK ini.
Piami menanyakan pada ibu-ibu ini apa yang dilakukan Pachi. Ibu itu bisa menebak kalau Piami dan Posuto pasti anak-anak dari rumah pria aneh itu. “Dia (Pochi) telah melakukan kekerasan pada Kaguya (anaknya)”
“Kekerasan?” Piami tak percaya Pachi melakukan itu.

“Dia merebut makanan anakku (lha anaknya sendiri yang ngasih kok). Dia tidak diberi makan dengan baik, makanya dia melakukan hal yang buruk. Dasar, jadi ini kelakuan anak yatim.”

Piami tak terima Pachi disebut seperti itu. Ia menilai ibu ini sudah keterlaluan. Ia yang akan maju ditahan oleh Posuto.
Posuto maju ke arah ibu itu. Ibu-ibu ini mundur perlahan, kenapa kau ini?

Piami senang karena posuto akan melawan ibu-ibu ini. Tapi tidak, Posuto malah membungkuk minta maaf atas kejadian ini.
Di pintu gerbang TK, Piami kesal karena Posuto meminta maaf seperti itu. Ini bukan posuto yang dikenalnya, “Kau kenapa? Apa kau akan membiarkan ini? apa kau tak marah?” Posuto tersenyum mencurigakan
Dan… brak.. Posuto menendang sepeda yang terparkir di depan gerbang sekolah. Sepedanya ibu-ibu yang anaknya sekolah TK disini hahaha. ambruklah sepeda-sepeda itu.

“Bagaimana dengan ini?” tanya Posuto. Piami tersenyum.

“Suara apa itu?” terdengar ibu-ibu mendekat.
“Waduh gawat, ayo lari!” Posuto menggandeng Pachi untuk segera lari dari sana. Ibu-ibu itu ngomel-ngomel tak karuan.
Posuto menggendong Pachi di punggungnya. Ia dan Pachi tertawa gembira. Di belakang keduanya Piami turut berlari gembira.
Di kamar, Piami menceritakan kejadian di TK-nya Pachi pada Maki. Ia menilai perempuan tua itu (ibunya Kaguya) terlalu protektif dan aneh. Kau tahu tidak, dia menamai anaknya dengan nama putri bulan. Dia mamanggilnya Kaguya. Benar-benar aneh kan? Padahal anaknya itu bodoh. Aku benar benar tak tahan.”
Piami memandang foto Angelina Jolie dan Brad Pitt. “Ahhhh Joripi… cepatlah menjemputku!” Piami mengeluh orang seperti itu (orang tua angkat yang diharapkannya) mungkin benar-benar tak ada.
Bombi teringat akan pasangan bule yang dilihatnya di taman tadi siang. Jo…. Sahutnya…

Mereka yang disana memandang heran, joo?
“Joripi…..” sebut Bombi langsung terkapar, terlentang… wakakaka..
Mou menunjukan beberapa data calon orang tua angkat yang baru. Ia harap anak-anak memperhatikan dengan baik. Anak-anak langsung berebut berusaha mencari orang tua asuh yang didam-idamkannya. Tapi tidak bagi Maki, ia sama sekali tak tertarik.
Bombi heran apa Maki tak mau melihat data calon orang tua angkat itu. Maki bilang kalau ia tak perlu karena ia yakin ibunya pasti akan menjemputnya. Mou yang berada di luar ruangan mendengar itu. Ia hanya berdecak sinis.
Posuto tertawa mendengar keyakinan Maki. Maki kesal kenapa Posuto tertawa. Posuto menjawab tidak apa-apa. Ia hanya sedang merasa senang. Maki tanya apa maksud Posuto. Posuto berkata kalau ia menertawakan Maki yang masih memiliki harapan bahwa ibu Maki akan datang. Ia menasehati Maki agar jangan terlalu berharap karena ibu maki tidak mungkin datang.

Tapi Maki tetap yakin kalau ibunya pasti datang, ibunya tak bisa hidup tanpa dirinya. Posuto yang tengah menuang minuman tertawa dengan cara pemikiran Maki. Maki berkata kalau Posuto tak mengenal ibunya. Posuto menjawab kalau ia tahu wanita seperti apa ibu Maki itu, dia orang yang melakukan percobaan pembunuhan dengan donki.
“Ibuku tak seperti itu.” ucap Maki membela ibunya. Ia menatap tajam Posuto, “Namamu Posuto kan? Kau pasti tak tahu apapun tentang ibu. Kau tak pernah melihat wajah orang tuamu. Makanya kau bisa berkata seperti itu. Sebenarnya kau iri, kan? Makanya kau mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Karena kau sama sekali tak bisa membayangkan sosok ibu. Posuto apanya?” Cibir Maki.

Posuto sedari tadi menahan marah mendengar ucapan Maki. Ia membanting gelas yang ada di tangannya hingga pecah berkeping-keping.
Posuto menarik maki dan mendorongnya hingga terjatuh ke lantai. Ia mengambil bantal kursi dan memukulkannya pada Maki. Anak laki-laki disana berteriak pukul pukul pukul. Bahkan Otsubone pun ikut berseru ayo pukul dia. Eh bukanya melerai ya, kan dia yang gede. Pachi menangis melihat ada yang berkelahi.

Maki mengambil sesuatu untuk melawan Posuto yang terus memukulnya menggunakan bantal. Ia mengambil vas bunga dan akan memukulkannya pada Posuto.
“Nah lhat itu donki.” seru Posuto menunjukan benda tumpul yang akan Maki gunakan sebagai senjata. Maki pun tak jadi memukul posuto dengan benda itu. Ia mendorong Posuto. Keduanya terus berkelahi hingga datanglah Mou memarahi keduanya.
Mou meminta kedua anak ini untuk angkat tangan, siapa yang memukul terlebih dulu. Posuto mengangkat tangannya. Posuto pun mendapatkan tamparan keras dari Mou hingga hidungnya berdarah.

Mou yang marah meminta anak-anak memperhatikan apa yang dikatakannya.
“Kalian itu manusia lemah yang saling terhubung. Anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya, itu saja sudah cukup tak adil buat kalin. Dunia mungkin mengasihani kalian tapi itu hanya simpati sementara. Perasaan seperti itu sama sekali tidak penting. Pendapat bahwa yang patut kalian dikasihani adalah perasaan kalian sendiri. Dengan kelemahan, kalian membuka tangan seseorang. Lalu dalam waktu singkat, mereka menggenggam tangan kalian…. ‘Jadi seperti ini anak yang tak punya orang tua’ ….dan pada akhirnya, hidup kalian menjadi lebih baik.”

Mou menarik tangan Posuto, “Yang memukul duluan, menyerahlah.” Posuto tak melawan ia akan menerima hukumannya. Ia berdecak seperti apa yang menjadi kebiasaan Mou, ckck

Mou marah seakan Posuto mempermainkanya, ia menjambak rambut Posuto menatapnya tajam.
Posuto dihukum berdiri di kamar mandi dengan dua tangan mengangkat ember yang bersisi air penuh. Hidungnya yang berdarah sudah disumpal dengan kapas.
Ada yang masuk ke kamar mandi, Rokka akan mandi. Posuto yang tetap berada disana membalikan badan. Rokka pun mandi tanpa mengatakan apapun. (nih orang belum ngomong apa-apa)
“Anak itu, dia bilang, Posuto apanya?” sahut Posuto. “Tapi dibandingkan denganku, kau (rokka) lebih menderita kan?” Rokka merasakan dingiinya musim dingin dan panasnya musim panas. Aku bersyukur menjadi anak dalam kotak pos, bukannya anak dalam loker koin. Tapi tak ada bedanya kan?”

Posuto melanjutkan. “Memang benar, kita sama sekali tak menginat wajah ibu. Wajah ibu… aku hanya bisa mengucapkannya.”
Maki yang berada di kamar merindukan ibunya, ia menciumi parfum ibunya.
Di luar panti, seorang anak laki-laki datang dengan langkah terseret. Ia membawa kotak ramen yang berantakan. Celananya kotor karena ramen itu. Daifuku, ia sepertinya kabur dari rumah orang tua angkatnya dan ingin kembali ke panti. Wajahnya tampak sedih dengan pipi yang basah terkena air mata.
Posuto yang berada di kamar mandi mencium sesuatu. Ia bisa mengetahui bau siapa ini.
Piami dan Bombi berlari menuju toilet untuk memberi tahu Posuto. Tapi keduanya terkejut begitu melihat Rokka sedang mandi di kamar mandi. Melihat ada cowok mandi Piami bersembunyi di belakang bombi. Ia tak mau melihat tapi masih ngintip. Sementara Bombi melotot wae ngeliatin si Rokka mandi hahaha.

Piami memberi tahu Posuto kalau Daifuku kabur dari warung ramen. “Mou juga bilang kau bisa berhenti melakukan hukumanmu.” Posuto langsung menjatuhkan embernya dan segera berlari keluar untuk melihat Daifuku.

Piami menutup wajahnya karena malu melihat cowok mandi, tapi ia masih sempat mengintip melalui jari tangannya. Sedangkan Bombi, dia malah terus ngeliatin si Rokka yang mandi tanpa malu-malu hahaha.
Daifuku menunduk diam ketika dimarahi oleh Mou karena kembali ke rumah panti. “Siapa yang menyuruhmu pulang? Kau melarikan diri karena tak mau bekerja kan? Kau sudah tak ada hubungannya dengan tempat ini. kau hanya mengganggu saja, pulang sana!”

Daifuku hanya bisa menunduk sedih.

“Keluar…!” bentak Mou sambil menghentakan tongkatnya. Daifuku mennagis diam.
Bel rumah panti bunyi. Daifuku sepertinya tahu siapa yang datang. Segera ia bersembunyi dibalik tubuh Mou. Ia ketakutan.

Mizusawa datang bersama orang tua angkat Daifuku. Ibu angkat bersyuku karena bisa menemukan Daifuku. Ayah angkat minta maaf pada Mou karena lalai mengawasi Daifuku. Mou bilang tak apa-apa karena ini juga kesalahannya karena tak mengajarkan disiplin pada Daifuku.
Ibu angkat terlihat khawatir, “Kau kotor sekali, apa kau terluka? Tak ada yang terbakar, kan?”

Daifuku yang terus berpegangan pada Mou menggeleng merespon jawaban.

Ibu angkat menyesal karena terlalu banyak meminta Daifuku untuk mengantar pesanan ramen. Ia pun mengajak Daifuku pulang bersamanya. Tapi Daifuku diam saja, ia terus berpegangan pada Mou, tak mau pergi.

Mizusawa bertanya pada Daifuku kenapa bersikap seperti itu, ada apa. Katakan saja, kalau tidak kami tak akan tahu.
Piami yang ada disana berbisik pada Bombi kalau Daifuku itu Lemah dan sulit berbicara. Karena sejak awal memang begitu. Bombi berbisik pada Piami kalau siapaun pasti tak mau tinggal di warung ramen yang kecil dan kotor.

“Diam…” bentak Mou.
Daifku terbata-bata menangis mengatakan kalau ia tak bisa memanggil orang tua angkatnya dengan sebutan ayah dan ibu. Ibu angkat mengerti ia tak akan memaksa Daifuku untuk memanggilnya ibu dan ayah. Ia minta maaf dan meminta Daifuku untuk memanggilnya paman dan bibi saja.
Ibu angkat beraharap dengan seiring berjalannya waktu, entah berapa lama pun tahun berlalu, ia berharap Daifuku akan terbiasa hidup dengan keluarganya. “Maukah kau sekali lagi kembali ke rumah kami?”
Daifuku yang menangis menatap ayah angkatnya. Ayah angkat tersenyum mengangguk. Daifuku pun bersedia kembali ke rumah orang tua angkatnya. Ia menangis memeluk ibu angkatnya. Ibu angkat menangis meminta maaf.

Mizusawa dengan sikap dinginnya memberikan tepuk tangan tanda bahagia karena mereka bersama lagi. Anak-anak turut memberikan tepuk tangan. Kecuali Posuto dan Maki yang diam saja.
Otsubone merasa walaupun miskin asalkan memiliki kasih sayang, pasti kita hidup bahagia. Diumur segini, bagiku tak ada kasih sayang pun, tak apa-apa.
Mereka pun akan kembali ke kamar masing-masing karena Daifuku dan orang tua angkatnya sudah pulang. Mou menahan Jengkel, merepotkan saja, dasar anak bodoh.

“Begitukah?” tanya Maki.

Mou : “Anjing seperti itu bahkan tak mengetahui caranya bersikap. Kabur dengan alasan bodoh begitu. Anjing yang seperti itu, tidak pantas mengeluh.”

Maki mengerti bagaimana perasaan Daifuku, “Karena ibu yang sebenarnya akan terlihat menyedihkan. Jika aku harus memanggil orang yang tidak kukenal dengan sebutan ibu, tapi ibuku hanya satu.”

Halah ckck.. Mou tak peduli dengan ucapan Maki.

Maki : “aku tak bisa mengkhianati ibu.”

Mou mencibir, “Kau lupa ya, kau lah yang lebih dulu dikhianati.”
Keempat anak sudah berada di kamar. Bombi bertanya bukankah Posuto sabtu nanti akan menginap di rumah calon orang tua angkat Posuto. Posuto membenarkan. Piami merasa kalau Posuto adalah anak selanjutnya yang dipilih sebagai anak yang akan diadopsi keluarga baru.
Maki tetap pada pendapatnya bahwa ini salah. “Karena yang diinginkan seorang anak untuk menjempunya adalah ibu kandungnya bukan ibu angkat.”

Bombi membenarkan, “tentu saja yang diinginkan mereka untuk menjemput kembali mereka adalah ibu kandung tapi…”
Maki : “Benar kan? Menjadi bagian keluarga dengan orang yang hanya beberapa kali bertemu demi kepentingan pribadi, bukankah itu aneh? Bersabar agar seseorang menyukai kita, itu tak masuk akal. Apa itu yang namanya keluarga? Yang pasti ibu kandung tidaklah seperti itu. seseorang yang memanggilku, memelukku erat, yang selalu memanggil namaku. Kita mencari orang tua baru dengan wajah tenang, hal yang seperti itu benar-benar aneh.”
Posuto mencibir pendapat Maki, ia turun dari tempat tidurnya. Maki cemas apa Posuto akan memukulnya seperti tadi. Posuto tak melakukan apapun. Ia hanya akan keluar kamar sebentar karena mencium sesuatu. Ia membuka pintu kamar dan benar saja, di depan kamar sudah ada Pochi, ngompol.

Indera penciumannya si Posuto tajam juga ya....

Bersambung di part 3

Komentar :


Nylekit banget ucapannya, masa manusia disamain sama anjing di toko hewan. Tapi entah kenapa selalu saja ada benarnya, bahwa seperti itulah kehidupan yang anak-anak jalani di masyarakat. Rasa simpati hanya sementara, selanjutnya mereka tak akan peduli pada kita.

1 comment:

  1. ceritanya seru. anak-anaknya kawai kawai :)
    terima kasih sinopsisinya kak. semangat terus ^_^

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...