Friday, 7 February 2014

Sinopsis Prime Minister and I Episode 16 Part 2

Da Jung bertemu In Ho di lobi rumah sakit. In Ho menanyakan apa Da Jung bertemu dengan PM. Da Jung membenarkan, “Tapi ada sesuatu yang terjadi dengannya hari ini kan? Selain persoalan mosi pemberhentian, ada sesuatu yang terjadi kan?” tebak Da Jung.
In Ho pun memberi tahu kalau hari ini Yool bertemu dengan Na Young lagi. Itu mungkin alasan kenapa dia merasa sangat lelah. Da Jung pun mengerti kenapa Yool tak mengatakan itu padanya.
Park Joon Ki berkunjung ke rumah PM. Ia mengunjungi ketiga keponakannya. Ia memberikan ketiga keponakannya roti, terutama Man Se karena Man Se yang paling menyukai roti. Joon Ki melihat kalau keponakan kecilnya ini terlihat murung, “Kenapa kau kelihatan tak semangat? Samchoon bahkan membelikanmu roti yang kau sukai.”
“Aku tak suka roti lagi.” ucap Man Se dengan nada llirih.
Na Ra menyahut kalau Man Se bersikap seperti itu karena ahjumma (Da Jung) pergi. Man Se merindukan ahjumma.
Joon Ki heran ketiga keponakannya ini masih memanggil Da Jung dengan sebutan ahjumma bukan ibu. Woo Ri berkata kalau sejak awal mereka memanggil Da Jung dengan sebutan ahjumma dan menurut mereka itu lebih nyaman. Na Ra membenarkan ditambah lagi Da Jung itu kan bukan ibu kandung mereka.
Joon Ki menutup wajahnya dengan telapak tangan membenarkan ucapan keponakanya, “Benar begitu. Karena kalian kan sudah punya ibu. Kalian tak bisa memanggilnya ibu.” Woo Ri heran dengan ucapan samchoon-nya.
Tepat saat itu Yool sampai di rumah. Ia terkejut melihat Joon Ki ada disana. Joon Ki mengatakan kalau ia sengaja datang kesini untuk bicara dengan Yool.
Yool dan Joon Ki bicara berdua di ruang kerja Yool. Joon Ki mengatakan pada Yool kalau ia sudah memastikan bahwa mosi pemberhentian Yool ditolak hari ini, ia bahkan sudah meyakinkan presiden. Jadi ia harap Yool bisa kembali fokus bekerja sebagai perdana menteri.

“Kenapa kau membantu mengatasi masalahku?” tanya Yool. “Apa karena Na Young?” tebak Yool.

Joon Ki membenarkan. “Aku tahu aku sudah melakukan banyak hal padamu yang tak bisa dimaafkan. Tapi sebagai teman, anggap saja aku sedang membantumu. Yool-ah, tolong terima adikku lagi.”

Yool : “apa dia tak memberitahumu? Aku menyuruhnya kembali sebagai ibu anak-anakku, tapi tidak sebagai istriku.”
Joon Ki : “Yang harus kau lakukan adalah menutup matamu dan menerima dia sekali ini saja. Selama Na Young masih hidup, kau juga tahu jika pernikahanmu dengan Nam Da Jung itu tidah sah kan? Dan lagi, aku mendengar kalau wanita itu sudah kembali ke ayahnya. Dan dia pergi supaya Na Young bisa kembali.”

“Joon Ki-ya..” Yool sedikit meninggikan nada suaranya. “Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau begitu kejam?”

Joon Ki : “Katakan saja apa yang ingin kau katakan tapi kau tahu dengan baik wanita seperti apa Na Young. Dia menyembunyikan perasaan bersalahnya selama bertahun-tahun. Demi anak-anak, tak bisakah kau menerimanya? Ibu mereka masih hidup, jadi tentu saja dia harus tinggal bersama anak-anaknya.”
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Woo Ri masuk ke ruang kerja ayahnya. “Apa yang kalian bicarakan?”

Yool dan Joon Ki terkejut melihat Woo Ri ada disana mendengar semuanya.

Woo Ri meminta penjelasan atas apa yang didengarnya, “Samchoon, apa yang baru saja samchoon katakan? Apa maksud samchoon kalau ibu masih hidup? Apa maksudnya ibu masih hidup?”
Da Jung dan In Ho bicara berdua. In Ho menanyakan apa yang terjadi antara Da Jung dengan Yool. Da Jung berkata kalau ia dan Yool harus berpisah. In Ho bertanya lagi lalu apa yang akan Da Jung katakan pada ayah Da Jung.

Da Jung akan memastikan kalau ayahnya tak mengetahui hal ini. “Ayahku sangat bahagia ketika aku akan menikah dengan perdana menteri. Jika dia tahu bahwa ini hanyalah pernikahan kontrak, maka dia akan semakin terkejut.”

In Ho bertanya apa Yool juga berpikiran sama seperti Da Jung. Da Jung menjawab tidak, itulah kenapa ia tak tahu harus berbuat apa.
In Ho : “Da Jung-ssi, kalau begitu berkencanlah denganku. Jika kau benar-benar ingin berpisah dengan perdana menteri, berkencanlah denganku. Tidak, daripada seperti itu, kita bisa berpura-pura sedang pacaran. Begitu saja. Aku akan membantumu.”

(maksudnya sebagai alibi kali ya, agar kesan perpisahan Da Jung dan Yool itu ada sebabnya)

Da Jung : “Ketua kang?”

In Ho : “Apa kau mau melakukannya?”

Da Jung : “Apa sebenarnya yang ingin kau katakan padaku sekarang?”
In Ho bisa menebaknya kalau Da Jung tak akan melakukan hal itu, “Kau tak ingin berbuat sejauh itu kan? Melihatmu bersikap seperti ini kau tak ingin berpisah dengan perdana mentri. Kau hanya bicara saja. Kenapa kau terus membohongi dirimu? Kau hanya harus menyukainya. Dan kau bisa mengkhawatirkan hal lain nanti. Apa Nam Da Jung wanita seperti ini? kenapa kau jadi pengecut?”
Da Jung : “Kau bisa mengatakan aku pengecut sepuasnya. Jika seseorang bisa bahagia karena aku, maka tak masalah. Aku tahu kau melakukan ini karena khawatir padaku. Tapi ketua Kang, mulai sekarang lebih baik kau selalu berada di sisi perdana menteri. Seperti yang kau katakan waktu itu, kau akan selalu berada di sisiku. Jangan berpikir seperti itu sekarang. Tolong, selalu-lah berada di sisi perdana menteri. Saat ini, hanya ada kau di sisinya.”

Da Jung permisi akan ke kamar ayahnya.
Di kamar ayahnya, Da Jung heran melihat ayahnya sudah tidur. “Apa ayah sudah tidur?” Da Jung mendekat ke ayahnya namun tak ada respon apapun.
Da Jung menyentuh pelan ayahnya, tapi ayah diam saja tetap memejamkan mata. Da Jung mulai berfikiran yang tidak-tidak, “ayah ayah…” ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya.

Da Jung mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya. Namun ayah tetap tak bergeming. Da Jung panik, “ayah ayah ayah…”
Da Jung akan keluar dan berteriak memanggil dokter. Tapi tiba-tiba terdengar suara ayahnya terbatuk-batuk. Da Jung yang semula panik setengah mati akhirnya menarik nafas lega karena ayahnya baik-baik saja.
Ayah yang tebangun mengomeli Da Jung karena berisik sekali dan membuatnya tak bisa tidur. Da Jung yang tadi panik juga mengomeli ayahnya kenapa membuatnya ketakutan setengah  mati. Ayah pun melanjutkan tidurnya lagi.
Kembali ke rumah PM. Sebelum pulang, Joon Ki minta maaf pada Yool, ia tak menyangka jika Woo Ri akan mendengar ini. Yool berkata kalau ia sudah berencana untuk mempertemukan Woo Ri dengan Na Young tapi karena sudah seperti ini maka sebaiknya ia percepat saja pertemuan itu. “Dan aku tahu apa yang ingin kau katakan. Tapi aku tak bisa memenuhi keinginanmu. Walaupun itu tak merubah fakta bahwa Na Young adalah ibu dari anak-anak. Aku tak bisa bersamanya.”

“Apa karena wanita itu, Nam Da Jung?” tebak Joon Ki. Joon Ki minta maaf kalau ia sudah tak sopan, ia akan menunggu kabar dari Yool tentang rencana pertemuan antara Woo Ri dan Na Young. Joon Ki kemudian pamit pulang.
Woo Ri terdiam sedih di kamarnya usai mendengar sesuatu yang membuatnya shock. Yool masuk ke kamar putra sulungnya. Tapi Woo Ri tak ingin bicara dengan siapapun. Ia menunduk menangis.
Yool mengerti bagaimana perasaan putranya. Ia pun mengatakan kalau sebenarnya ia berencana untuk memberitahukan hal ini pada Woo Ri. “Maafkan ayah karena kau mengetahui hal ini dengan cara seperti ini. Bukankah kau harus bertemu ibumu?”

Woo Ri yang menangis menoleh menatap marah ayahnya, “Dimana ibuku? Aku tak punya ibu. Ibuku sudah meninggal. Dia meninggal karena kecelakaan mobil.” Woo Ri meninggikan suaranya. “Tapi dia ternyata masih hidup. Dan dia tak datang menemui kita? Ibu macam apa dia?”

Yool berusaha menjelaskan kalau ibu Woo Ri memiliki alasan melakukan itu. Tapi Woo Ri yang dilanda kemarahan tak mau tahu itu, “aku tak butuh ibu seperti itu. aku tak ingin menemuinya.”
Na Young menjenguk Soo Ho. Ia membersihkan wajah Soo Ho dengan handuk basah yang disiapkannya. “Soo Ho-ssi, Kwon Yool… dia bilang akan mempertemukanku dengan Woo Ri. Aku sangat senang. Walaupun aku merasa bersalah padamu, tapi aku sangat bahagia.”
Ponsel Na Young berdering, ia menerima telepon dari kakaknya. Ia bertanya bagaimana, “Apa Woo Ri ingin bertemu denganku?” Joon Ki menjawab tidak, Woo Ri belum siap menemuimu. Ia meminta Na Young jangan terlalu mencemaskan dan tunggulah sebentar lagi.
Hye Joo masuk ke ruangan Joon Ki. Joon Ki memberi tahu Hye Joo kalau Yool ingin mempertemukan Na Young dengan Woo Ri, tapi sampai sekarang Yool belum juga menghubunginya. Hye Joo menilai kalau Na Young pasti merasa tak enak hati.

Joon Ki kemudian mengatakan kalau ia dan Hye Joo harus ke rapat dewan nasional (rapat anggota dewan) “haruskah kita berangkat sekarang?”

“Sunbae..” sela Hye Joo seperti akan mengatakan sesuatu.

Joon Ki berkata kalau ia merasa ketakutan setiap kali Hye Joo memanggilnya sunbae. “Apa yang akan kau katakan?” Hye Joo minta maaf untuk kejadian sebelumnya.

Joon Ki tersenyum berkata kalau permintaan maaf Hye Joo itu tak perlu. “Aku tahu bagamana sifatmu. Kau tak akan pernah kembali ke sisi Kwon Yool lagi. Sebagai seniormu aku ingin menjadi kekuatan bagimu. Kau adalah wanita yang pintar dan berbakat lebih dari yang diketahui orang lain. Menjadikanmu hanya sebagai asistenku sangat disayangkan. Aku harap kau punya mimpi yang lebih besar dan punya visi jauh ke depan.” (setuju sama Park Joon Ki)

Hye Joo terharu dengan mata berkaca-kaca
Joon Ki : “Sampai kau menemukannya aku harap kau tetap menjadi asistenku. Tapi mulai sekarang kau jangan memeriksa laci mejaku lagi.”

Hye Joo tertawa malu karena ketahuan pernah membongkar laci meja Joon Ki. Joon Ki tersenyum sambil menepuk pundak Hye Joo. (sunbae n hoobae yang cute, ga apa2 deh ga jadi couple juga haha)
Da Jung tergesa-gesa masuk ke ruang rawat ayahnya. Ia akan mengajak ayahnya berolahraga. Tapi ia terkejut ketika melihat Yool ada disana sedang bermain kartu bersama ayahnya. Ayah berusaha menutupi kartu yang dimainkannya hehe, takut dimarahin Da Jung coz main kartu melulu.

Da Jung yang terkejut melihat Yool ada disana bertanya bagaimana Yool bisa disini. Ayah menyahut kalau ia yang menyuruh menantunya untuk datang. Da Jung mengingatkan ayahnya bukankah Yool itu sangat sibuk, kenapa ayahnya malah meminta Yool untuk datang kesini.

Ayah terbata-bata membela diri, “oh itu aku bilang kalau sibuk tak usah datang. Dia datang kesini berarti dia tidak sibuk. Bukankah begitu menantu Kwon?”
Yool tersenyum membenarkan, ia punya waktu luang sebelum ke Cheong Wa Dae (Blue House) jadi ia mampir kesini sebentar.

Yool melihat jam tangannya dan mengatakan pada ayah kalau ia harus pergi sekarang. Ayah bertanya Yool akan datang kesini lagi kan. Yool menjawab tentu saja, ia pasti akan datang lagi.
Da Jung mengantar Yool hingga ke depan kamar. Yool merasa kalau ingatan ayah Da Jung semakin memburuk, ayah tidak bisa mengingat kartu dengan baik. Da Jung berkata kalau ayahnya sudah berusaha keras. Ia akan memastikan kalau ayahnya tak akan melakukan hal ini lagi pada Yool. Ia minta maaf. Yool merasa kalau Da Jung tak perlu minta maaf seperti itu. Karena ia sudah ada disini, bukankah tak apa-apa kalau ia bertanya. Ia harus membuat keputusan penting hari ini dan ia membutuhkan bantuan Da Jung.
Yool : “Nam Da Jung-ssi, kau bilang kau sangat tahu setiap sudut dan celah kota Seoul kan? Bagaimana jika ada jalan yang tak bisa dikenali oleh sistem pemetaan? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengambil jalan itu?”

Da Jung berfikir sejenak, “Tujuan. Ada sebuah tempat yang sudah pasti ingin anda datangi, kan?”

“Tentu saja.” jawab Yool.

Da Jung tersenyum, “Tentu saja anda harus pergi. Ini mungkin akan membuat anda memulai dari awal lagi. Tapi selama ada tujuan, maka suatu saat anda akan tiba disana. Dan itu akan menjadi sebuah jalan hanya jika ada yang melewatinya. Dengan begitu, maka tidak kah anda pikir jalan itu akan muncul dalam sistem pemetaan?”

Yool mengulang kalimat yang Da Jung ungkapkan, “itu akan menjadi sebuah jalan hanya jika ada yang melewatinya.” Yool tersenyum, ia terkesan dengan jawaban Da Jung. “Jawabanmu lebih menakjubkan dari yang kubayangkan.” Da Jung turut tersenyum.
Pertanyan kedua yang akan Yool ajukan ke Da Jung, “Apa kau benar-benar ingin berpisah dariku?”

Da Jung menunduk terdiam sejenak. Tapi kemudian ia mengangat wajahnya untuk menatap Yool dan menajwab ya, ia ingin berpisah dari Yool. Yool mengerti dan tak bertanya lagi. ia meminta Da Jung masuk ke ruang rawat ayah karena mungkin ayah sudah menunggu Da Jung.

Yool pun segera pergi, Da Jung masih berdiri terpaku di tempatnya dengan tatapan berkaca-kaca.
Yool berdiri di depan lift, ia diam sejenak sebelum akhirnya menekan tombol lift. Ia pun masuk ke lift itu. Da Jung mengejarnya namun sayang pintu lift sudah tertutup. Yool tak tahu Da Jung mengejarnya.
Da Jung terus mengejar Yool menggunakan tangga. Ia berlari sesegera mungkin menyusul Yool.
Pintu lift terbuka, Yool segera keluar dari sana. Da Jung yang menyusul Yool melihat pria itu semakin menjauh darinya. Langkah Da Jung terhenti, ia hanya menatap punggung Yool yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.
Yool yang sudah ada di depan rumah sakit menoleh ke lantai atas dimana ruang rawat ayah Da Jung berada. Ia kemudian masuk ke mobilnya untuk segera menuju suatu tempat.
Da Jung duduk melamun seorang diri. Tatapan matanya mengisyaratkan kesedihan yang menyatakan bahwa sebenarnya ia tak ingin berpisah dengan Yool.
Yool yang berada di dalam mobil mengingat ucapan Da Jung. “Tentu saja anda harus pergi. Ini mungkin akan membuat anda memulai dari awal lagi tapi selama ada tujuan, maka suatu saat anda akan tiba disana. Dan itu akan menjadi sebuah jalan hanya jika ada yang melewatinya.”
Yool menghadap Presiden di Blue House. Ia menyerahkan surat pengunduran dirinya pada presiden. Presiden tak mengerti, apa ini? Yool mengatakan kalau itu surat pengunduran dirinya. Ia akan tetap sebagai perdana menteri sampai calon berikutnya terpilih.

Presiden menilai kalau Yool hanya kesal saja karena mosi pemberhentian itu, “Jika kau berhenti seperti ini, apa yang akan dipikirkan rakyat tentang diriku? Bukankah seharusnya kita harus bersama sampai akhir?”
Yool : “apa anda akan mereformasi perusahaan-perusahaan besar?”

Presiden terdiam.

Yool : “apa anda akan mengatasi masalah mengenai proyek-proyek nasional secepatnya? Bisakah anda memegang janji untuk memperhatikan kesejahteraan rakyat? Ketika saya menyetujui menjadi perdana menteri, itu karena saya berpikir bahwa kita mempunyai tujuan yang sama. Bagaimana pun, bahkan jika tujuan kita sama, kita tak bisa bersama-sama jika jalan yang kita tempuh berbeda.”
Pertemuan Yool dengan Presiden pun selesai. In Ho menanyakan perasaan Yool setelah menemui presiden. Yool merasa kalau ia agak tak enak melakukannya. In Ho agak kurang sependapat dengan langkah yang Yool ambil, apa ini satu-satunya jalan, bukankah ada banyak hal yang ingin Yool wujudkan untuk kesejahteraan rakyat. Apa Yool akan menyerah begitu saja.
“Siapa yang bilang begitu?” Sahut Yool. “Seperti yang kau bilang bahwa ada banyak hal yang harus dan ingin kukerjakan. Pengunduran ini adalah awal dari semuanya.”

“Kalau begitu, maka aku tak perlu mengatakan hal yang menenangkan anda. Selamat atas pengunduran diri anda perdana menteri.” In Ho tersenyum.

Yool tertawa, “Ketua Kang, tidak kah kau berpikir ini terlalu awal? Sampai calon berikutnya terpilih, maka aku tetap perdana menteri lho.” In Ho ikut tertawa.
Di rumah sakit, Na Young bicara berdua dengan Da Jung. Na Young mendengar kalau Da Jung berada disini, tapi ia tak sampai berpikir kalau keberadaan Da Jung disini dan meninggalkan rumah itu karena dirinya. Da Jung berkata kalau ia harus merawat ayahnya.  Da Jung bertanya apa Na Young sudah bertemu dengan anak-anak.

Na Young menjawab belum. “Tapi hati manusia pasti ada tidak tahu terima kasihnya ya. Ketika aku bersembunyi, sudah lebih dari cukup bagiku untuk melihat anak-anak dari jauh. Sekarang aku menjadi egois karena berpikir bisa bertemu langsung dengan mereka. Aku berharap bisa bertemu dengan mereka secepatnya. Dan saat itu terjadi, aku ingin memeluk mereka dan memanggilku ibu. Akan sangat menyenangkan jika mereka mamanggilku ibu. Sepertinya keserakahan manusia tak ada habisnya ya. Lucu sekali kan?”
Da Jung : “Sama sekali tidak. Apa yang kau rasakan itu hal yang wajar. Kau adalah ibu mereka. Pasti akan ada hari dimana kau bisa memeluk dan mendengar mereka memanggimu ibu,”

Na Young : “Da Jung-ssi, kupikir aku mengerti kenapa dia menyukaimu. Ketika terakhir kali aku bertemu dengannya, dia mengatakan padaku untuk kembali sebagai ibu anak-anak bukan sebagai istrinya. Sepertinya itu juga yang kupikirkan.”
Usai bicara dengan Na Young, Da Jung menerima telepon Hye Joo. Hye Joo yang cemas bertanya apa sekarang Da Jung sedang bersama Yool. Da Jung menjawab tidak. Hye Joo bertanya lagi, apa Yool benar-benar tidak bersama Da Jung. “Kau sedang tak main-main kan?” Da Jung yang bingung kembali mengatakan kalau Yool sedang tak bersamanya, “tapi ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

Hye Joo mengatakan kalau Yool menyerahkan surat pengunduran diri pada presiden hari ini. “Dia tak menjawab teleponya dan aku tak tahu dimana dia berada sekarang. Kalau dia meneleponmu, segera kau hubungu aku, mengerti?”
Woo Ri mengajak kedua adiknya menemui Da Jung di rumah sakit. Nara menilai ini benar-benar kejutan Woo Ri ingin bertemu Da Jung. Tanpa mereka ketahui, Da Jung baru saja lewat di belakang mereka, pergi tergesa-gesa. Da Jung juga tak melihat anak-anak ada disana.

Woo Ri berkata kalau ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Da Jung. Man Se menebak kalau Da Jung pasti akan tekejut ketika melihat mereka bertiga datang. Woo Ri diam saja.
Ketiganya sampai di ruang rawat ayah Da Jung. Man Se kecewa karena Da Jung tak ada ditempat. Ayah Da Jung mengatakan kalau Da Jung sedang pergi karena harus mengurus sesuatu. “Kalian seharusnya menelepon dulu sebelum datang.”
Woo Ri bertanya kapan Da Jung kembali. Ayah Da Jung tak tahu, yang pasti dia akan segera kembali. “Tapi apa kalian kesini hanya untuk bertemu dengan ahjumma?”
“Ah tentu saja tidak.” sahut Nara. “Kami datang kesini untuk melihat kakek.” ucapnya dengan nada manja. “Kakek, kami sangat merindukanmu.” Ayah Da Jung senang sekali mendengarnya.
Man Se teringat sesuatu, “Hyung jangan lupa hadiahnya.”

Ayah Da Jung terkejut, “hadiah?”
Woo Ri memberikan sebuah hadiah untuk ayah Da Jung. Ayah heran darimana anak-anak  mendapatkan uang untuk membeli hadiah. Hadiahnya Sebuah topi berbulu yang lucu. Man Se dan Nara meminta ayah Da Jung memakai itu. Ayah pun langsung memakainya, “Bagaimana pantas tidak?”

“kakek kelihatan lucu.” Seru Man Se.

Ayah : “Lucu? kau itu yang jauh lebih lucu. Ah dasar anak-anak.”

Ayah Da Jung bertanya apa anak-anak ini ingin minum sesuatu. Ayah akan keluar untuk mengambil minuman tapi Woo Ri berkata kalau ia saja yang akan keluar membelinya.
Woo Ri membeli empat minuman kaleng dari kantin rumah sakit. Tanpa ia sadari dirinya berjalan berpapasan dengan Na Young. Na Young tak menyadari keberadaan Woo Ri. Tiba-tiba Woo Ri menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah wanita yang tadi lewat di sampingnya. ia menatap penuh tanda tanya, itu seperti seseorang yang dikenalnya.
Da Jung lari secepat mungkin menuju gereja, ia menebak Yool berada disana. Tapi Yool tak ada di gereja. Ia khawatir berada dimanakah Yool. Ia berlari keluar dari gereja untuk mencari keberadaan Yool.
Yool berjalan seorang diri di jalan dimana ada kenangannya bersama Da Jung. Sementara Da Jung hingga malam terus kesana kemari mencari keberadaan Yool terutama ditempat yang pernah Yool datangi.
Da Jung naik taksi menuju suatu tempat. Ia melihat sekeliling siapa tahu, ia melihat keberadaan Yool.
Yool menghentikan langkahnya, mengenang kebersamaannya dengan Da Jung di jalan itu. Saat itu Yool meminta Da Jung untuk tetap berdiri di tempat Da Jung. Ia yang akan mendekat pada Da Jung, menghampiri Da Jung selangkah demi selangkah.

Da Jung yang berada di dalam taksi menyesal mengatakan kalau ia ingin berpisah dari Yool.
Ketika Yool menikmati kesendirian dengan berjalan disana, ia terkejut begitu melihat Da Jung sudah berdiri tepat tak jauh di depannya. Da Jung menarik nafa lega karena berhasil menemukan Yool.
Hingga malam anak-anak masih di rumah sakit. Sementara itu, ayah Da Jung sudah terlelap sambil memeluk topi berbulu hadiah pemberian anak-anak. Woo Ri mengajak adik-adiknya pulang karena ahjumma pasti akan terlambat pulang kesini. Man Se menyahut bagaimana dengan hadiah yang akan mereka berikan untuk Da Jung. Nara melihat disana ada tas milik Da Jung, ia pun meletakan kotak kecil hadiah di dalam tas itu.
Man Se berseru melihat ayah Da Jung tidur sambil tersenyum. Woo Ri bicara lirih pamitan pada ayah Da Jung, “kakek kami pulang dulu.” Nara dan Man Se juga pamitan dengan suara pelan.
Kwon bersaudara bergandengan tangan keluar dari lift. Man Se cemberut kecewa karena tak bertemu dengan Da Jung. Nara menghibur adiknya, “bukankah kakek memberi kita uang jajan lagi.” katanya sambil menunjukan uang jajan pemberian ayah Da Jung. Woo Ri menegur adik perempunnya, “hei apa kau kesini supaya mendapatkan uang jajan?” Mereka tertawa.
Na Young melihat ketiga putra-putrinya. Ia berdiri terpaku melihat mereka. Tiba-tiba pandangan matanya bertemu dengan mata Woo Ri. Woo Ri terkejut melihat wanita itu benar-benar masih hidup. Nara dan Man Se menoleh melihat ke arah pandang Woo Ri. Mata Na Young berkaca-kaca melihat ketiga putra-putrinya.
“Ibu..” tiba-tiba kata itu keluar dari mulut Woo Ri. Ia terkejut melihat ibu kandungnya benar-benar masih hidup.
Air mata Na Young hampir jatuh. Ia seakan ingin menghampiri mereka, tapi langkahnya terasa berat. Kakinya seolah tak bisa diangkat untuk berjalan. Mulutnya ingin bersuara untuk memanggil mereka tapi lidahnya terasa kelu.
Da Jung berkata kalau ia khawatir ketika mendengar Yool tiba-tiba mengajukan surat pengunduran diri. “Anda seharusnya menjawab telepon dari Sek Seo? Kenapa anda tak menjawabnya?”

Yool berkata kalau ia sengaja tak melakukannya. Karena Hye Joo hanya akan mengomel kenapa ia mengundurkan diri. “Tapi, apa kau datang kesini hanya untuk menanyakan itu?”

Da Jung berusaha bersikap cuek padahal tadi ia khawatir bukan main, “aku senang anda baik-baik saja.” Da Jung akan pergi tapi Yool memanggilnya.
Yool menatap Da Jung dengan tatapan lembut, “Nam Da Jung-ssi.. bisakah kau hidup tanpa aku?”

Da Jung terdiam menatap Yool.

Note : Tetap berkomentar sesuai episodenya ya…

Komentar :

Seperti komentar saya sebelumnya bahwa memang Joon Ki egois ingin Na Young kembali ke sisi Yool. Ia mendesak yool, tapi Yool menegaskan bahwa dirinya hanya bisa menerima Na Young sebagai ibu anak-anak saja, bukan istrinya. Joon Ki pun akhirnya tak memaksa. Tapi yang pasti keinginannya sama seperti Yool, melihat anak-anak bertemu dengan ibu kandung mereka lagi. Tapi belum sempat keinginan itu diutarakan, Woo Ri sudah mendengarnya lebih dulu. Anak mana yang tidak akan kecewa ketika tahu bahwa setelah sekian tahun ibu yang dikabarkan meninggal ternyata masih hidup dan selama itu tak pernah menemui mereka. Kecewa jelas, marah tentu saja. Tapi dalam hati kecil seorang anak, betapapun ia marah atau benci, ia tetap akan merindukan ibu kandungnya.

Agar Na Young kembali ke sisi Yool, dengan berat hati Da Jung pun berusaha ikhlas melepas Yool. Tapi jujur sepertinya ia juga tak rela berpisah dengan Yool. Kalau ia rela, sepertinya ia sudah setuju dengan ide In Ho yang mengatakan keduanya pacaran agar bisa berpisah dengan Yool. Tapi Da Jung menolak ide itu. In Ho sepertinya sudah bisa melepas Da Jung dengan nyaman. Ia hanya ingin wanita itu bahagia dan kebahagian Da Jung bukanlah berada di sisinya sebagai kekasih melainkan teman.

Park Joon Ki memang menyukai Hye Joo tapi sekarang rasa suka itu sepertinya tak lebih dari seorang sunbae yang akan mendukung hoobae-nya. Seperti pendapat saya sebelumnya bahwa kemampuan Hye Joo itu jangan hanya sebagai sekretaris saja. Hye Joo bisa melakukan hal yang lebih besar dengan kemampuannya dan Joon Ki menyadari kemampuan Hye Joo itu. Ia siap mendukung Hye Joo untuk melangkah ke arah yang lebih baik lagi.

Saya menyukai percakapan Yool dan Da Jung ketika di depan kamar rawat ayah Da Jung. Yool saat itu sepertinya sedang bimbang dengan keputusan yang akan diambilnya. Tapi setelah mendengar jawaban Da Jung tentang pertanyaannya, ia pun semakin yakin dengan jalan yang akan dipilihnya. Pengunduran diri sebagai langkah awal untuk tujuan yang lebih besar. Ya Yool pun melakukannya, ia tak bisa lagi berjalan beriringan dengan presiden yang tak memiliki tujuan yang sama dengannya. Dan setelah mendengar alasan Yool, In Ho yang semula tak setuju akhirnya menyetujuinya juga. Senang deh ketika In Ho bisa tersenyum lepas begitu di depan Yool.


Na Young memaklumi Yool yang tak bisa kembali ke sisinya sebagai suami, tapi ia cukup senang Yool mengijinkanya bertemu dengan anak-anak, padahal ia menyadari kalau semua itu kesalahannya. Ia pun sepertinya setuju jika Da Jung-lah wanita yang seharusnya berada disisi Yool.

21 comments:

  1. Ehm...ehm...mw ksh komen,tp tb2 tenggorakanku serak wkwkw...liat Yool yg msh pke cincin kwn,wah sng bgt htiqu^^ ya ampun ank2 Kwon in ya,mereka dkt bgt^^ kmna2 sll br3 dan bergandegan tgn,Woori syg bgt sm adk2x...

    Bt mbk Anisnya,thanks ya udh meluangkan wkt,tenaga dan jg pikiran unk menulis sipnosis in^^ahh sbnrx msh sdh bgt drama in brakhr,tp ya sdhlh....

    ReplyDelete
  2. Selesai jg sinop epis.16 tnggl 17 deh.. Dtmpt mb inda... Gomawo y ud meluangkn wkt tux bkin sinop PMI ini., walau masih blm rela dramanya udh finish...

    Inna_

    ReplyDelete
  3. Sinopsis terakhir ditempat mba anis.. sedih~~~
    Da jung-ssi bisakah kau hidup tanpa aku??? Nyesek dengernya . . .
    Akhirnya Na Young menyadari posisinya dihati PM Yool & dia tidak bisa mmaksakannya. Toh sekarang hanya Da Jung seorang yg dihati PM Yool.
    suka sm adegan joon ki & hye joo tetap bisa brsahabat & saling mendukung.
    Ini yg aku suka dr drama korea bhwa gak ada orang yg benar2 jahat smpai akhir & mau mengakui kesalahannya. Kayak joon ki, na young & in ho yg menyadari kesalahannya trhadap PM Yool.
    Onnie Gomawo tuk sinopsis drama ini.
    Terima kasih tuk karya & waktumu yg tlah dibagi brsama... ^^

    ReplyDelete
  4. hoaaaa.... tinggal 1 episode lg, makasih mbak anis :)

    pengennya sih lihat hejoo ama joonki jadian tp kasian yoon he ya... dajung ama yool itu emang pasangan serasi ya, walaupun tanpa banyak sentuhan fisik, tapi terlihat sekali kalo mereka itu saling cinta dan saling butuh satu sama lain.... good couple pokoknya

    ^_^nur

    ReplyDelete
  5. udah lama baca sinopsis dblognya mbak tp baru kali bisa coment..

    huuaaaa gk bisa bicara apa-apa deh,,
    keinget kata-kata da jung yg tdk perduli dkatakan pengecut asalkan mereka dpt bahagia. knpa mesti bo'ong.. :o

    ReplyDelete
  6. Untuk kebaikan yg lebih besar ya oenni
    Jd keinget sesuatu,heheheee
    Hye joo pnya kemampuan untuk berpolitik
    Klu yool jd presiden entr hye joo yg jd pmx hehehe
    (Ngarep)
    Sberx da baca sinopsisnya dblog lain tp kurang pas klu blom bc blogx oenni
    Makasih byk slama ini,proyek slanjutx ditunggu sehat slalu oenni

    æ

    ReplyDelete
  7. Gara2 lihat ahjussi LBS di sini aku jadi hunting nonton / Lihat cuplikan video drama / movie yg lain, dan sepanjang penglihtan ku, koq ahjussi justru paling keren di sini, kharismannya , wibawanya dapt bgt . Di Dr. Jin kyanya juga oke ya .
    Saya setuju sama Nur, walaupun tanpa banyak sentuhan fisik , tapi dpt bgt cemistrynya, betapa besar rasa cinta mereka Jadi teringan Couple Bidam QSD .Akting Yoona menurtku paling bgus nih di drama ini. Love Rain mah lewat , apalagi YAMD. Nunggu drama Ahjussi masih lama . Buat Mba Inda dan Mba Suci terimakasih banyak ya udah buat sinopsisnya . Walau udah nonton dramanya & dan udah baca sinopsisya juga di blog lain , tapi ttep blum afdhol klo belum " berkunjung " kesini . Maaf kepanjangan :)

    ReplyDelete
  8. Seneng liat kwon bersaudara,nangis pas liat adegan anak anak ketemu ibunya,dan begitu galau saat yool tanya apa apa da jung bisa hidup tanpanya.thanks mba,d tunggu last episodenya....walau bukan di blig ini

    ReplyDelete
  9. Nam Da Jung ssi, bisakah kau hidup tanpaku?....huawaaa KwonNam couple emang dapet bgt kemistrix mulai dr awal nonton udah ngrasa kuat bgt ma kemistrinya....
    aq pasti mrindukan kalian....siap2 hunting kasetx....

    ReplyDelete
  10. Nam Dajung ssi bisakah kau hidup tanpaku... nyesss banget di hati dimulut berkata tidak, tpi lain di hati...

    Ngarep nya Joon Ki sm Hye Joo tapi ya sudah lah gpp lah antara sunbae dan hobae sweet kok mereka...

    Adu si om Ryu Jin manis bgt si senyumnya.. :)

    Kwon bersaudara... akrab bgt sama kakek nya ya...

    Makasih nis sinop nya...
    Di tunggu sinop terbarunya... ^^

    ReplyDelete
  11. sedihhhhh...
    udah episode 16.. :(
    dajung itu gak bisa hidup tanpamu lho yool..
    tapi dia malu ungkapinnya..
    heeemm gak sabar sama edingnya ...
    semagat mbak..

    ReplyDelete
  12. Lumayan pas lagi insomnia gini ternayata maba anis udah update part 2nya hehe thx u, udh nonton sampai ending sih tp tetap aja kurang fix klo belum baca sinopsisnya, btw aq sesuju bgt deh sama komentar2 mba anis ^^ hihi nara dan manse cute bgt semoga bisa ketemu mereka lg di drakor lain. Ah sumpah gara2 ney drakor list ajjusi yg aku sukai jd bertambah, aq jadi suka Lee bum soo juga haha tepikat aq sama aktingnya disini haha mau punya suami macem Yool lah rasanha ^^ ok mba sampai ketemu di sinopsis drakor lain yg nanti aq ingin baca dr blog ini, bye bye¡

    ReplyDelete
  13. mba anis, waktu aku liat farewell partynya PMAI aku ga percaya loh kalo yoon shi yoon itu yg jadi kim tak goo di bread king kim tak goo... eeh, pas aku liat episode ini aku baru sadar dia yang jadi kim tak goo, waktu dia senyum kalo keputusan PM untuk mungundurkan diri itu benar.... abisnya dia disini jarang banget senyumnya, ga kayak di bread king kim tak goo... oh iya, baru sadar kalo di episode ini pertama kalinya in ho senyum di depan PM. biasanya kan, dia murung terus. mungkin dia beneran uda ngelepas da jung kali yaaa. seneeeeng liaat in ho senyuuum, makin ganteeeeeng.... huaaaaa... uda tamat si. rerun rerun aaah~

    ReplyDelete
  14. Sedih banget baca sinopsis 16 ini...
    Yool dan da jung sama2 saling butuh,. Dan anak2 juga udah sayang ama da jung meski gak manggil da jung ibu... Hmmpphhh... Di tunggu episode 17nyaa segera... :) :) :)

    ReplyDelete
  15. ihh sdih bgt sih ngeliat yool sma da jung...

    tp lbih sdih lg krn dah tggal eps trakhir bkal kngen sma kwon-DJ pa lg sma trio kwoon...
    Mksih bnyk wat mb anis yg udah bkin sinop y mksh bnyk mb....

    ReplyDelete
  16. Bt mbk Anisnya,thanks ya udh meluangkan wkt,tenaga dan jg pikiran unk menulis sipnosis

    ReplyDelete
  17. di episode ini banyak banget yang sedih"...
    jadi nangis ela mba pas baca sinop mba anis,,,,,
    T.T
    ela masih belom bisa move on ne dari Urri JongRiNim mba........
    Gomawwo Mba anis buat sinopsis PMAInya selama ini.
    udah mau luangin waktu dan tenaganya
    walaupun baca d blog lain,,
    tapi tetap sinops mba anis dan mba inda itu yang paling the best alnya mencakup semua cerita per-episodenya...
    d tunggu projek selanjutnya ya mba..

    ReplyDelete
  18. Mksh ya mba anis atas usaha ny buat recap drakor ini...sedih jg hrs berpisah ama dajung,yool,man se, ....chemistry mrka berdua dpt biar pun jarang bersentuhan fisik.akting terbaik yoona memang ada di drama ini sy setuju.
    ^_^

    ReplyDelete
  19. "Nam dajung ssi bisakah kau hidup tanpa ku"nyesek banget bacanya,pengen cepat cepat beli kaset nya
    Gomawo mbak anis,kira kira episode 17 kapan di tulis

    ReplyDelete
  20. Aaaaaaaakkkk,,,,,, serius ini sih nyeseeeeeeeeeeeeeekkkkkkkkk :'(

    ReplyDelete
  21. Ah kemanakah scene yang bikin aku ketawa ngakak klo gk scene yang bikin gemes sama senyum sendri ???
    Haddeuh ngapa jadi melow gini coba T_T
    Akhir episode ini loh ,tatapan yool itu juga ,klo gini ceritanya bakal susah move on dari PMAI -__-

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...