Tuesday, 11 February 2014

Sinopsis Ashita, Mama ga Inai Episode 1 Part 3

Rokka (Locker) mendatangi sebuah warung makanan siap saji. Ia membeli dua paket nasi. Tanpa bersuara, ia berkomunikasi menggunakan kode. Rokka memperhatikan si penjual yang sedang melayani.
Tak jauh dari sana, Mao menerima data-data calon orang tua asuh yang baru dari Mizusawa. Mao tanya apa orang-orang ini sudah ditelusuri secara langsung dan mereka tahu peraturannya. Mizusawa berkata jangan khawatir. Mou mengingatkan kalau Mizusawa dipecat, ia yang akan repot karena sumber informasi berharganya akan lenyap.

Mizusawa berkata kalau ia tidak melakukan ini untuk kepentingan Mao. “Aku hanya ingin tahu mengenai bagaimana orang tua memilih anaknya sekarang ini. Seharusnya anak pun memiliki hak untuk memilih orang tuanya.”
Mao : “Maksudmu?”

Mizusawa : “Anak-anak itu hanya membutuhkan tempat untuk mereka bisa pulang.”

Mao : “Tempat? Jadi yang dibutuhkan itu tempat, bukan orang.”

Mizusawa : “Karena bergantung pada orang itu tidak hanya menciptakan tragedi.”

Mao : “apa? Apa kau juga pernah melihat pria yang punya pengalaman pahit? Hanya menebak saja.”

“aku tak merasakan pengalaman pahit itu.” ucap Mizusawa kemudian berlalu dari sana.

Mao masuk ke mobil dan disana sudah ada Rokka dengan paket nasi yang dibeli tadi. Rokka menyerahkan satu paket nasi pada Mao. Mao memandang jauh ke depan pada si penjual nasi paket itu.
Posuto berada di rumah calon orang tua angkatnya. Ia bersama ibu itu sedang membuat kue. Si ibu meminta Posuto untuk duduk saja tapi Posuto ingin membantu membuat kue. Ibu senang Posuto akan membantunya karena bisa membuat makanan bersama seorang anak itu seperti mimpi untuknya. Posuto tersenyum ia juga seperti itu. Ibu merasa kalau suaminya akan senang jika tahu Posuto ikut membantu memasak. Posuto tersenyum lebar.
Sementara itu, Piami, Bombi dan Maki berada di kamar. Piami bertanya-tanya apa Posuto baik-baik saja. Maki yang tiduran diam saja memandangi parfum ibunya. Piami berseru kalau rambutnya bercabang.
Maki.. Maki.. Terdengar suara seseorang memanggil Maki. Maki yang terkejut campur heran berusaha mengenali suara siapa itu. Ia berlari ke arah jendela untuk memastikannya.
Seorang wanita melambaikan tangannya pada Maki. “Ibu….” seru Maki bahagia melihat ibunya datang. Ia pun segera berlari turun menemui ibunya.
Maki memeluk erat ibunya. Piami dan Bombi yang melihat dari kamar lantai atas hanya bisa diam iri. Ternyata ibu Maki benar-benar datang.
Posuto selesai membuat kue. Ia minta ijin pada calon ibu angkatnya akan ke toilet. Ibu berkata kalau sebentar lagi rumah ini akan menjadi rumah Posuto juga, bukankah Posuto tahu disebelah mana toiletnya. Posuto tersenyum mengiyakan.
Posuto akan ke toilet tapi ia melihat sebuah ruangan yang tak terkunci dan ia melihat bagian dalam ruangan itu. Ia melihat ada boneka manekin disana. Posuto penasaran ia pun masuk ke ruangan itu.
Posuto terkejut dan terheran-heran karena di ruangan itu banyak sekali boneka yang memakai pakaian indah-indah, sama seperti pakaian yang dikenakannya.
Tiba-tiba si ibu angkat masuk ke ruangan itu, “Kupikir kau pergi toilet.” ucapnya dengan tatapan tajam.
Oh itu.. Posuto berjalan mundur.

Ibu : “Ini hobi orang itu. Hadiah boneka dariku juga ada. Tapi akhir-akhir ini dia terlihat kurang senang. Tapi sekejap saja melihatmu, aku tahu. Inilah yang orang itu inginkan dalam hidupnya.”

Posuto terdiam terpojok.

Ibu : “Boneka… ahhh manisnya… orang itu pasti akan senang, aku yakin. Makanya aku menginginkanmu secepatnya kesini, hari ini. Seperti selingkuhan muda yang tinggal menetap.”

Posuto : “selingkuhan?”
Si ibu menyentuh wajah Posuto dengan kedua tangannya, “terimakasih bonekaku yang manis.”

Posuto berusaha melepaskan diri dengan cara halus, “tapi aku bukan boneka…” ucapnya terbata-bata.

“Tenanglah…” ucap si ibu sambil mengelus pipi Posuto. “Tapi rambut ini benar-benar seharusnya tak dipotong seperti ini supaya cocok dengan gaunnya.”
Si ibu mengeluarkan gunting dan akan memotong rambut Posuto. Posuto meronta tapi rambutnya dijambak oleh ibu itu. Si ibu menyeringai dan kres… menggunting sedikit rambut Posuto. Posuto marah, ia menginjak kaki si ibu. 
Ibu Maki melihat ruang dapur panti asuhan. Ia senang ruangan itu terlihat bagus. Maki menyuguhkan minuman untuk ibunya. Ibu Maki berkata kalau tinggal di tempat ini pasti rasanya menyenangkan. Maki tak sependapat menyenangkan apanya. Orang-orang disini menakutkan.

Ibu Maki berkata kalau ia senang melihat putrinya baik-baik saja. Ia minta maaf karena sudah membuat Maki khawatir. Maki membenarkan ia benar-benar khawatir. Ia meminta ibunya menunggu sebentar karena ia harus mengambil kopernya dulu. Ibu berseru tak usah mengambil koper. Maki menatap heran.
Posuto berusaha lari dengan menuruni tangga tapi ia terpeleset dan jatuh. Si ibu ikut turun menyusul Posuto sambil tetap membawa gunting, “apa yang tidak kau suka? Gaunnya? Kalau begitu ayo kita ganti.”

Posuto marah, “kau saja yang pakai.”

“Apa itu cocok untukku?” Tanya si ibu dengan tatapan tajam.

Posuto menggeleng dan itu membuat si ibu murka. Ia berteriak sambil mengacungkan gunting di tangannya. Posuto lari menyelamatkan diri.
Maki terkejut mendengar penjelasan ibunya. Ibu Maki kembali berkata kalau ia ingin menikah lagi. Maki tanya apa menikah dengan pria itu (pacar yang dipukul pakai asbak) ibu Maki mengangguk membenarkan. Maki heran kenapa ibunya akan menikah dengan pria itu, ia tak setuju.

Ibu Maki : “Orang itu bilang kalau dia menyukaiku. Dia sudah bilang begitu dan aku juga menyukainya. Tapi kalau ayah Maki, dia bilang akan berpisah dengan istrinya tapi dia tak menepati janjinya. Dia tak memilih ibu. Tapi Takuya berbeda. Ini pertama kalinya, ada orang seperti dia. Ibu juga ingin bisa hidup bersama dengannya. Jadi kau bisa mengerti, kan?”

Maki menjawab lirih kalau ia mengerti. Ibu Maki senang karena ia yakin Maki pasti akan mengerti itu. Maki merasa tinggal bersama sepertinya cukup menyenangkan. Tapi ibu Maki melarang. Maki terkejut apa maksudnya. Ibu Maki merasa kalau Maki lebih bahagia tinggal disini. Maki makin tak mengerti apa maksud perkataan ibunya.
Ibu Maki menjelaskan bukankah banyak berita tentang ketidakpedulian terhadap anak bawaan pernikahan sebelumnya. Ibu juga tak ingin melihat Takuya dan Maki seperti itu.

Maki pun paham maksudnya, ia berjanji pada ibunya kalau ia akan menjadi anak baik dan bersahabat dengan suami ibunya kelak. Ia hanya ingin tinggal dengan ibu.

Ibu Maki tak ingin pernikahannya bermasalah karena ia membawa anak ke dalam pernikahan barunya,  “Maki ibu mencintai orang itu.”

“Mencintai?” Maki melepas tangan ibunya.

Ibu Maki minta maaf. Ia memeluk putrinya dan berkeyakinan jika putrinya dewasa nanti dan mendapatkan seseorang yang dicintai pasti akan mengerti perasaannya. Bukankah disini banyak teman dan suasannya juga menyenangkan. Maki terdiam tanpa bisa menangis.
Posuto yang lari menghindari ibu angkatnya yang aneh masuk ke sebuah ruangan. Ia bersembunyi dan mengunci ruangan itu.

Si ibu terdengar marah dan berusaha membuka pintu dimana Posuto sembunyi, “Apa kau juga ingin mempermainkanku? Sama seperti wanita itu. Kau pikir karena kau masih muda maka kau bisa dimaafkan?”
Terdengar suara si suami ibu itu pulang dari bekerja. Si ibu menyapa ramah suaminya dan berkata kalau ia dan Posuto sedang bermain petak umpet. Si suami terdengar ramah pada istrinya. Ia bertanya sudah belum bermain petak umpetnya, “aku punya kunci duplikatnya.”

Kunci pintu ruangan itu perlahan dibuka. Posuto yang berada di dalam ruangan itu menahan nafas tegang.
Si suami calon ayah angkat Posuto mengantar Posuto kembali ke panti. Ia minta maaf pada Mao atas perbuatan istrinya. Mao yang mengerti dan berkata tak apa-apa.

Si suami pun menjelaskan, “Kami tak bisa memiliki anak. Hubungan kami sudah tak baik karena itu mental istriku memburuk. Aku mohon, ini perkara mudah kan. Jika saja kami punya anak… kami memang tak memenuhi kualifikasi untuk mengadopsi anak. Aku mohon dengan sangat anggap permasalahan kita ini tak pernah terjadi.” (istrinya ternyata stres)

Mao melirik ke arah Posuto yang masih duduk diam di dalam mobil. Ia membuka pintu mobil itu. Posuto pun keluar dari mobil.
Calon ayah angkat Posuto minta maaf. Posuto menggerutu padahal ia sudah berusaha menjadi anak baik.

Tiba-tiba posuto menirukan apa yang diucapkan si istri yang stres itu. “Orang ini…” ucapnya sambil menunjuk si suami, “Ber-se-ling-kuh….” teriak Posuto seperti teriakan si istri yang stres.
Posuto masuk ke rumah. Piami bertanya apa yang terjadi di luar karena ia mendengar teriakan Posuto tadi. Posuto bilang bukan apa-apa.

Maki yang membawa pakaian kotor menyambut Posuto dengan senyuman. “Apa ada pakaianmu yang kotor? Biar sekalian aku cuci.” Posuto heran dengan sikap Maki, ia mengatakan kalau ia tak punya pakaian kotor. Maki tersenyum sumringah dan berkata kalau ada pakaian kotor katakan saja padanya. Maki menuju ruang cuci.
Posuto heran dengan sikap Maki, “Kenapa dengannya?” Piami menenebak mungkin itu karena Maki akan tinggal disini dalam waktu yang lama. Sepertinya Maki ingin menjalin hubungan yang baik dengan Posuto.

Posuto : “Dalam waktu lama?”

Piami : “Seperti yang kau katakan. Anak itu ternyata dibuang ibunya.”
Maki menari-nari sambil memasukan pakaian kotor ke mesin cuci. Ia tampak riang. Posuto memperhatikan dengan seksama sikap ceria yang ditunjukan Maki. Ia tahu kalau itu palsu. Itu hanya untuk menutupi perasaan sedihnya saja.
Maki bahkan rajin bersih-bersih. Ia mengelap meja makan sambil bersenandung. Ia menegur anak laki-laki yang ada disana yang dari tadi bermain saja. Posuto terus memperhatikannya sambil memainkan ikat rambutnya.

Pletak.. pletak… Posuto terus memainkan ikat rambutnya hingga menimbulkan suara yang keras. Posuto memakai jaketnya dan mengambil jaket milik Maki. Ia menarik tangan Maki.
Di sebuah ruangan di panti itu, dimana hanya ada Mao dan Rokka. Rokka memasukan data ke file map anak yang sudah diadopsi oleh keluarga baru.
Mao duduk berdoa, “Nampaknya hasrat dunia manusia itu sebanyak 108. Selanjutnya berapa orang lagi… Berapa lagi hingga ada 108 orang. Berapa lagi agar aku bisa bebas. Lalu.. aku…”

Terdengar suara Maki yang meronta meminta Posuto melepaskan tangannya.
Kedua anak ini berada di depan rumah. Maki heran kenapa tiba-tiba Posuko seperti itu padanya. Posuto berkata sepertinya ada yang sedang patah hati. Maki paham maksud perkataan Posuto. Ia berusaha menghibur dirinya, “aku baik-baik saja, asal ibuku bahagia.”
Posuto : “Sampai kapan? Sampai kapan kau ingin mencintai ibumu tanpa balasan? Kau berkata padaku ‘tidak pernah melihat wajah orang tuaku’ kau berkata seperti itu, kan? Tapi yang tak pernah melihat itu, bukankah itu kau yang percaya dan berpegang teguh pada yang namanya hubungan darah. Berpura-pura tak melihat wajah buruknya. Entah kau menjadi anak sebaik apapun, ibumu tak akan kembali.”

Maki : “itu.. apapun yang kau katakan…”
Posuto mencengekram baju Maki dan mengendus-endus, “Hari ini, hari membuang sampah, benar kan? 18 januari, hari ini.. hari dimana ibumu meninggalkanmu.”

Maki menilai ucapan Posuto itu salah. Posuto membenarkan, “itu salah.” Sambil berjalan lebih dulu, ia menoleh. “Hari ini akan menjadi hari dimana kau membuang orang tuamu.” Maki berlari menyusul Posuto.

Dari jendela lantai atas Rokka memperhatikan dua anak kecil itu.
Mao berdecak, “ck.. hari ini hari tomobiki.” (tomobiki : hari untuk tidak mengadakan pemakaman. Jika ada orang yang meninggal, maka akan mengajak temannya yang masih hidup unyuk ikut dengannya)
Maki mengkuti Posuto menuju suatu tempat. Posuto berkata bahwa yang namanya patah hati itu bukan menghancurkan diri sendiri dan berusaha untuk kuat. “Bahkan aku pun, jika orang tuaku ada di hadapanku, aku ingin membuang mereka. Tapi tak ada yang namanya ‘orang tua yang terbuang’ Karena itulah aku membuang namaku.”

Maki terkejut.
Posuto : “karena itu adalah satu-satunya yang tersisa dari orang tua. Ayo bersama denganku kita tulis nama kita pada kertas yang kugunakan. Ichi mai peratto. Aku tak lagi membutuhkan nama yang diberikan orang tuaku.”

Maki berkata kalau malam itu ia berada disana ketika ibunya memukul pria itu. “Ekspresi ibu benar-benar… aku tak pernah melihat wajah yang mengerikan itu. Mengayunkan asbak dan mengejar pria itu dengan rambut acak-acakan. Aku tahu itu bukanlah ibuku. Tapi mungkin itu ibu yang sebenarnya. Ibu yang baik itu bohong.”

Posuto : “Aku rasa tidak semuanya bohong. Tapi orang dewasa itu aneh. Apa yang kau lihat itu bukanlah ibu, itulah wajah wanita.”

Maki : “wanita?”

Posuto tertawa, aku bercanda. Ia pun menjulurkan lidahnya seperti anjing hehe.
Keduanya sampai di depan kompleks rumah ibu Maki. Terdengar oleh Maki dan Posuto ibu Maki sedang bersenda gurau, bercanda dengan pria itu. Keduanya terdengar sedang bersenang-senang, tawa bahagia. Maki menatap sedih jendela dimana ia pernah tinggal dengan ibunya.
Maki menoleh ke belakang dan Posuto sudah mengeluarkan parfum milik ibu Maki. Posuto melemparkan parfum itu ke Maki. Maki membuka tutup parfum itu dan menciumi aromanya. “Selamat tinggal.” ucap maki.
Maki menoleh ke posuto, ia pun membulatkan tekad untuk membuang ibunya. Sama seperti ibunya yang meninggalkannya. Maki melempar parfum itu kuat kuat ke arah jendela rumah ibunya.

Prang.. kaca di rumah itu pecah. Yang berada di dalam rumah kaget. Maki dan Posuto langsung lari, kabur.
Keduanya tampak puas terutama Maki. Keduanya berteriak meluapkan kegembiraan mereka.
Maki berhenti berlari, biarpun ia berteriak lepas seperti itu tapi hatinya tetap sakit. Ia menangis meraung-raung. “Ibuuuu…. Kenapa…. Ibuuuuu…”
Piami dan Bombi sampai disana, keduanya iba melihat maki.
“Kau pantas mendapatkannya.” sahut Posuto. Melihat Maki menangis ia berpendapat kalau yang tadi itu ternyata tak satupun berarti. “Seperti yang kau katakan, aku memang tak bisa mengingat wajah ibuku. Tapi ini sama saja kan? Kau dan aku sama saja. Mengingatnya hanya membuatku muak, aku tak akan mengingatnya lagi.”

“Kau kejam.” Maki terus menangis.

Bombi membela Posuto, apa yang Maki katakan, Posuto tidaklah kejam seperti itu. Piami membenarkan ia berkata kalau Posuto yang ia kenal selalu bilang bahwa kita itu bahagia. Anak lain tak bisa memilih orang tuanya sendiri tapi kita bisa memilihnya. Karena itulah kita bahagia.
Posuto meninggikan suaranya, “Kalian jangan bicara hal yang tak berguna. Aku marah untuk menghilangkan kesedihanku. Tak penting aku atau siapapun menerima begitu saja perlakukan buruk dari seorang ibu, kalian jangan bercanda. Dasar bodoh. Aku pasti akan bahagia.”
Posuto memelankan suaranya menangis penuh emosi, “Tapi apa itu bahagia? ‘Mendapatkan kasih sayang dari ibu yang sebenarnya apa itu kebahagiaan’ apa seperti itu. Kita tak mengenal siapapun. Ibu yang hidup kemarin pun, hari ini, besok akan menghilang. Tiba-tiba menghilang. Besok… ibu… akan menghilang…”

Posuto yang menangis marah pergi lebih dulu. Maki yang juga menangis menyusul Posuto. Piami dan Bombi juga menysul mereka.
Keempatnya sampai di panti kemalaman. Mereka sembunyi-sembunyi masuk rumah tapi di pintu Mao sudah menunggu mereka dengan tatapan marah. “Kalian pikir jam berapa sekarang?”
Mao menghukum mereka berdiri di kamar mandi sambil mengangkat ember berrisi air penuh di kedua tangan mereka.
Posuto memberikan alasan keterlambatan pulang mereka karena lupa membawa uang untuk membayar bis.

Ck…. Mao tak menerima alasan Posuto
Bombi : “Bisa disumpulkan kalau uang jajan kami kurang.”

Ck.
Piami : “ini sama artinya seperti memang piano tapi tak bisa memainkannya.”

Ck.
Maki : “Ini karena aku, mereka mengajakku jalan-jalan.”
Ck ck ck ck Mao kesal dengan alasan keempat anak ini. Ia keluar dari kamar mandi. (udah kayak cicak nih si Mao)
Maki tiba-tiba tertawa. Piami heran kenapa Maki tertawa. Maki menjawab tidak apa-apa. “Aku hanya berpikir, ibu memang tidak ada tapi aku jadi memiliki teman.”
“ah ya ampun.. aku gatal mendengarnya.” Sahut Posuto. “Kau benar-benar menyebalkan.” hahaha
Maki : “Namaku itu bukan kau.”

“Baik-baik Maki-chan.” Sahut Piami.

Maki : “Donki.”

Piami terkejut.

Maki : “Mulai besok, namaku Donki.”

“Aduh ga tahan nih…” sahut Bmbi keberatan mengangkat dua ember air.
Maki penasaran dengan nama Posuto yang sebenarnya. Piami yang tahu nama sebenarnya Posuto jadi tertawa. Posuto cemberut tak suka mereka membahas namanya yang sebenarnya.

“Ga tahan nih…” teriak Bombi keberatan.

Piami membisikan sesuatu ke telinga Maki. Maki tertawa, “Ya ampun lucunya.. itu berarti panggilannya…”
“Aduh berrraaaatttttt…” teriak Bombi.

Pleng… Maki, Piami dan Bombi melempar ember berisi air yang berat itu.
“Dokyun.” ucap ketiganya bersamaan ke arah posuto. (Dokyun : aneh/bodoh. Dokyun disini dimaksudkan ke nama Posuto sebenarnya yang aneh)

Posuto cemberut diam. Hahaha.

Bagaimana kisah mereka selengkapnya, akankah mereka menemukan kebahagiaan bersama orang tua angkat yang mereka harapkan...?

Bersambung ke episode 2

5 comments:

  1. ceritanya menarik .
    semangat buat lanjut nulisnya mbak Anis !! ^_^

    ReplyDelete
  2. Seruuuu.. Anis keren dh kalo recap drama aplge ttg anak2..
    .Boucye.

    ReplyDelete
  3. Mba Anis,, lanjutannya kok ga ada sih,, aq pengen tau kelanjutannya mpe akhir.. huhuhuu...

    ReplyDelete
  4. Realita kehidupan, kenyataan'a emang banyak orang tua yg seperti itu, TQ sinop'a semangat yaaa :D

    ReplyDelete
  5. paling suka sma Posuto,
    blak2an dan g jaim :) SUKKAA..
    hmm.. ngomong2 si Posuto yg main di Usagi Drop jg kan ??

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...