Tuesday, 25 February 2014

Sinopsis Ashita, Mama ga Inai Episode 2 Part 2

Di pesta ulang tahun Ren, anak perempuan yang memberikan hadiah syal pada Ren menunjukan kebolehannya bermain piano.
Piami yang melihat itu bergumam, “bechstein.” Posuto yang tak tahu bertanya apa itu, apa itu mahal. Piami dengan tatapan sedih berkata bahwa sebelum disita, di rumahnya juga ada piano seperti itu. “Ayah membelikannya ketika ulang tahunku yang ke lima.”

Posuto menyarankan bagaimana kalau Piami juga ikut memainkan piano itu. Piami menolak karena hal itu akan membuatnya teringat pada ayahnya. Posuto menyindir, ah ternyata itu perkataan dari Nyonya Muda.
Sementara di luar rumah, Bombi menaiki pagar yang ia temukan. Ia celingukan dan kecewa ketika tak melihat seseorang yang diharapkannya.
Bombi duduk melamun dan membayangkan si Joripi impiannya. Suami istri itu mengulurkan tangannya pada Bombi untuk menjadi anak mereka. Bombi dengan senang hati siap menjadi anak mereka.
Ya ya ya itu hanya khayalannya Bombi saja. Yang sebenarnya suami istri bule itu sudah punya anak perempuan. Bombi jelas kecewa.
Anak perempuan yang bermain piano selesai menunjukan kebolehannya. Teman-teman yang lain memberikan tepuk tangan, kecuali Posuto dan Piami yang hanya diam saja. Anak itu menghampiri Posuto dan Piami meminta keduanya untuk mencoba memainkan piano. Piami menyahut tidak perlu. Anak itu mencibir kalau keduanya pasti tidak bisa memainkan piano.

“Bukankah itu karena kalian berasal dari Kogamo No Le?” Sahut teman anak perempuan itu.

Ren meminta mereka jangan begitu. Posuto menerima tantangan anak itu. Piami akan memainkan piano karena bagi Piami memainkan piano itu masalah yang gampang. Piami melihat sekilas Piano yang ada di ruangan itu. Ia pun menyanggupinya.
Piami duduk di depan piano. Si anak perempuan menatap dengan tatapan remeh. Posuto menyombongkan diri, “Tunjukan pada mereka mantan Nona Muda.”
Piami memejamkan mata, ia menarik nafas dalam-dalam. Perlahan ia membuka mata dan jemarinya pun mulai menari diatas tuts piano. Sebuah alunan nada yang sangat indah diiringi kemampuan teknik bermain piano yang tinggi. Semua mata yang memandang hanya bisa menatap bengong, terkejut. Bagaimana mungkin seorang anak yang hidup di panti asuhan bisa memainkan piano sehebat itu.
Pachi bermain dengan ayah uji cobanya. Si ibu membuka tas Pachi berniat mengambil baju ganti untuk Pachi. Tapi ia terkejut begitu melihat botol sampo itu ada disana. Ia mengira kalau Pachi hari ini tidak membawa botol itu ternyata Pachi menyembunyikannya di dalam tas. Pachi menggeleng kalau ia tak menyembunyikan botol itu. (Pachi menggeleng karena memang bukan dia yang menaruh botol sampo di tas)
Si ibu berkata kalau ia mengerti bagaimana perasaan Pachi tapi Pachi tak boleh hanya terpaku pada masa lalu. “Lupakan penderitaan yang disebabkan ibumu.” Pachi menggeleng. Si Ibu berkata kalau ia akan menyimpan botol itu.
Pachi mengejar si ibu meminta botol itu dikembalikan padanya. Si suami juga meminta istrinya jangan melakukan itu. Pachi berusaha merebut botol sampo miliknya tapi si ibu berteriak meminta suaminya memegangi Pachi. Pachi meronta meminta botol itu dikembalikan padanya, si ibu pun membuang botol sampo ke tempat sampah.
Piami selesai memainkan piano dengan teknik yang luar biasa. Semua mata hanya terdiam bengong menatapnya. Posuto mengawali memberikan tepuk tangan. Kemudian Ren dan disusul tepuk tangan yang lainnya. Kecuali si anak cewek yang sombong itu.
Anak itu melihat ada tas bingkisan yang tadi dibawa Piami. Ia mengambilnya, “Jangan-jangan ini kado untuk Ren-kun?” tebak gadis itu pada Piami. Anak itu meminta Ren membuka kado di depan teman-teman. Ren membukanya, sebuah syal yang dibuat dengan tangan Piami sendiri.
“Syal? Jangan-jangan ini buatan tangan?” cibir teman anak itu. “Lihat baik-baik, jahitannya aneh. Aku akan malu kalau membuatnya, benar kan?”
Piami sedih hasil karyanya dipermalukan begitu. Ia pun merebut benda itu secara paksa. Ia dan anak itu tarik-tarikan syal hingga membuat syal itu putus jadi dua bagian.

Anak itu terus menghina hadiah buatan Piami. “Karena dibuat dari benang murahan jadi pasti cepat rusak.”
Piami menangis menatap marah.
Anak itu menantang, “apa? Apa kau tak terima?” ia mendorong Piami.

Posuto tak tahan lagi melihat Piami dihina seperti itu. “Kau itu terlalu ikut campur.” ucap Posuto pada anak itu. Piami meminta Posuto jangan melakukan hal yang tidak-tidak.

Posuto langsung menyerang anak itu. Terjadilah perkelahian di ruang pesta ulang tahun. Bombi yang masih duduk melamun diluar terkejut begitu mendengar dan melihat ada keributan.
Bukan hanya Pusoto saja yang penampilannya awut-awutan karena keributan di pesta ulang tahun Ren, ternyata Piami dan Bombi juga sama. Hahaha, kayaknya keduanya ikut berkelahi deh.

Piami kesal sekali, karena pesta ulang tahun Ren jadi berantakan dan sekarang Ren pasti membencinya. Posuto minta maaf sambil melipat lidahnya. Piami makin kesal, “kau jangan bertingkah seperti anjing.”

Bombi ikutan kesal melihat dua temannya ini. Piami heran kenapa Bombi ikutan nangis kesal begitu. Bombi terus ngomel-ngomel yang tak dimengerti oleh Piami.
Ren memanggil menyusul ketiganya. Piami yang terkejut segera bersembunyi di belakang Posuto dan Bombi. Ia segera mengambil cermin untuk merapikan penampilannya.

Ren minta maaf atas kejadian di rumahnya. Posuto bilang tak apa-apa karena itu bukan kesalahan Ren.
Piami ikutan bicara membenarkan kalau itu bukan kesalahan Ren. Ia menunjuk dan menyalahkan Posuto karena sudah bersikap kasar.

Ren berterima kasih atas syal pemberian Piami. Ia meminta tolong ibunya untuk memperbaiki bagian yang rusak. Piami senang sekali.
Posuto bertingkah cuek, ia berlalu dari sana lebih dulu. Tapi Ren memanggilnya. Ren melihat ke arah matahari terbenam, “hari ini senjanya indah juga kan?”

Piami dan Bombi terejut menatap posuto, ada apa antara Ren dan Posuto. Posuto menatap geli ucapan Ren hahaha.
Ibu uji coba Pachi menerima telepon dari Mao yang menanyakan keadaan Pachi. Ibu mengatakan kalau Pachi baik-baik saja, Pachi baru saja selesai makan dan sekarang sedang istirahat.
Selesai menelepon Mao bersembunyi dibalik pohon mengamati seorang wanita. Dia wanita yang menjual nasi paket itu. Wanita itu merasa ada yang mengikutinya. Tapi ketika ia menoleh tak ada siapa-siapa di belakangnya.
Mao memperhatikan wanita itu dari balik pohon. Ia belum berani menemui wanita itu. Ia menggerutu pada dirinya sendiri, apa yang dilakukannya, kenapa ia melakukan hal ini, seperti seorang penguntit.
Ayah uji coba Pachi bertanya pada istrinya apa tidak masalah kalau mereka tak mengatakan perihal sampo itu. Istrinya menjawab tak apa-apa, karena kelihatannya sekarang Pachi sudah lebih tenang.
Pachi duduk diam memeluk tas-nya. Ia mengingat ucapan marah Posuto padanya. Pachi melihat tas-nya, disana ada nomor telepon Kogamo No Le. Ia mengingat ucapan Posuto yang mengatakan kalau terjadi sesuatu, segera telepon panti asuhan karena Posuto akan segera kesana jikalau Pachi menelepon.
Pachi beranjak ke arah telepon tapi ketika ia mengambil benda itu si ibu merebut teleponnya. Ia tersenyum mengajak Pachi mandi. Ia ingin sekali menjadi orang tua yang baik untuk Pachi. Tapi pachi menolak.
Si ibu pun habis kesabarannya, ia memaksa Pachi untuk mandi. Pachi tak mau. Si ibu memaksa menarik Pachi. Pachi berteriak kesakitan dan memanggil nama Posuto bermaksud minta tolong.
Posuto yang baru saja tiba di depan panti seakan-akan mendengar teriakan Pachi. Piami heran kenapa Posuto diam saja. Posuto menyebut nama Pachi. Piami pun bisa menebak kalau Posuto pasti mencemaskan Pachi. Posuto berkata kalau perasaannya tak enak.

Piami menebak apa Posuto juga bisa merasakan insting seorang wanita. Posuto menggeleng, ini bukan insting seorang wanita melainkan insting seorang ibu. Posuto segera pergi ke rumah uji coba Pachi. Piami dan Bombi ikut menyusulnya.
Si ibu uji coba Pachi berusaha sebaik mungkin pada Pachi. Tapi Pachi yang menolak pun akhirnya dipaksa mandi karena kesabarannya sudah habis.
Posuto dkk sampai di depan apartemen rumah uji coba Pachi. Ada seseorang yang datang, ketiganya segera sembunyi dibalik pohon. Itu ayah uji coba Pachi, dia keluar malam-malam untuk membuang sampah.
Setelah ayah uji coba Pachi pergi, Posuto yang curiga pun segera membongkar isi sampah itu. Piami dan Bombi panik dengan apa yang Posuto lakukan. Ketika Posuto mengeluarkan isi sampah, Piami dan Bombi memunguti sampah yang diobrak-akbrik Posuto untuk dibereskan kembali.
Pachi berendam di air hangat. Si ibu uji coba Pachi berusaha bersikap baik padanya. Ia menyemprotkan air yang keluar dari pistol air. Tapi kondisi badan Pachi berubah pucat. Nafasnya putus-putus. Ia pun teringat akan hari ketika dirinya dehidrasi sendirian di kamar ketika ditinggal ibu kandungnya. Berulang kali Pachi menggumamkan kata sampo.

Ibu uji coba Pachi mengatakan kalau benda itu sekarang sudah tak ada, “akan ada kebahagiaan yang baru untukmu.” Si ibu pun mulai menghitung mundur supaya Pachi menikmati berendam. Hitungan mundur itu membuat nafas Pachi semakin putus-putus, ia mulai lemas.
Posuto menemukan botol sampo milik Pachi diantara sampah-sampah yang dibuang ayah uji coba Pachi. Ketiganya terkejut. Posuto pun semakin mencemaskan keadaan Pachi.
Si Ibu berteriak memanggil suaminya. Suaminya datang tergesa-gesa ke kamar mandi dan terkejut begitu melihat Pachi menggiggil tak sadarkan diri. Suaminya menyarankan untuk segera menghubungi pusat konsultasi anak atau panti asuhan. Tapi istrinya menolak, “ini anak kita. Jika kita tak melakukan sesuatu, dia akan diambil.” ucap si istri panik.
Posuto akan berlari menuju rumah uji coba Pachi tapi tiba-tiba sebuah mobil mencegatnya. Mao dan Rokka keluar dari mobil itu. Mao menatap marah Posuto dan berkata kalau ia baru saja bicara dengan ibu uji coba Pachi dan sekarang Pachi tak ada masalah. Tapi Posuto tak percaya, ia menunjukan botol sampo yang ditemukannya di tempat sampah. Bombi memberi tahu kalau botol itu baru saja dibuang di tempat sampah.

Mao tanya memangnya kenapa. Ia merebut botol itu dan memarahi Rokka. “Bukankah aku sudah bilang, sejak awal buang botol ini. Abaikan saja apa yang bukan menjadi urusanmu.” Mao menyuruh Rokka membuang botol itu. Tanpa berkata apapun Rokka menuruti apa yang Mao perintahkan.
Mao menatap tajam Posuto, “Segera kau lupakan mengenai orang tua yang tak berharga itu. Selain itu, tak ada jalan lain untuk kalian hidup. Apa kau pikir peliharaan yang tak bisa melupakan pemilik lamanya bisa disukai orang lain.” Bentak Mao.

Posuto menatap marah Mao, “Pachi… kalau terjadi sesuatu pada Pachi… aku akan membunuhmu.”
Mao pun menghubungi orang tua uji coba Pachi. Dan ia terkejut mendengar sesuatu yang buruk tentang Pachi. Posuto yang melihat reaksi terkejutnya Mao langsung lari menuju rumah uji coba Pachi.
Posuto menggedor-gedor pintu rumah uji coba Pachi. Tapi tak ada yang membukakan pintu. Pintu rumah sebelah terbuka, seorang kakek yang mendengar keributan bertanya apa yang terjadi.
Posuto yang melihat rumah sebelah pintunya terbuka segera masuk ke rumah itu. Ia berlari menuju balkon. Posuto akan ke rumah uji coba Pachi lewat balkon. (jadi inget adegan Song Yi n Do Min Joon hahaha)

Piami dan Bombi yang melihat dari bawah menatap ngeri dan cemas. Ditambah lagi Posuto sempat terpeleset tapi untungnya tidak sampai jatuh. Posuto berhasil melewati balkon rumah.
Posuto melihat Pachi tergeletak tak sadarkan diri. Ia melihat sekeliling dan menemukan bata. Ia pun menggunakan bata itu untuk memecahkan jendela. Kedua orang tua uji coba Pachi terkejut melihat Posuto datang memecahkan jendela. Darah segar mengalir di tangan Posuto.
Posuto langsung memeluk Pachi. Ia yang cemas terus-menerus memanggil Pachi yang tak sadarkan diri. Terdengar gumaman Pachi menyebut ibu. Posuto memeluk pachi. Orang tua uji coba Pachi hanya bisa duduk terdiam pasrah.
Mao sampai di rumah itu. Melihat Mao datang, Posuto menarik melindungi Pachi. Ia menatap Mao dengan tatapan marah.
Pachi pun segera dilarikan ke rumah sakit. Di ruang tunggu dimana ada Kanae Mizusawa, Mao dan Rokka. Kanae (kayaknya lebih simple nyebut Kanae ya haha) tak menyangka dengan kejadian ini. Mao berkata kalau ia sudah menegaskan pada keluarga uji coba tentang peraturannya. Ia sudah menjelaskan semuanya.

Mao bertanya bukankah antara dua atau tiga hari Pachi aka kembali sembuh. Kanae balik bertanya apa Mao tidak tahu, “kita tidak tahu seberapa dalam trauma pada seorang anak tertaman dalam ingatannya.” Mao berkata kalau Kanae mengkhawatirkan masalah itu, maka adopsi tidak akan pernah terlaksana.
Kanae pun menceritakan masa lalunya bahwa ketika ia masih kecil, ia melakukan segala sesuatu tanpa mengeluh. “Berpakaian harus selalu terburu-buru, orang tuaku kuat… dia menarik tanganku kuat sambil berkata cepatlah. Takut, sakit, selalu, karena itulah sampai sekarang aku tak bisa percaya apapun dan pada siapapun.”

Kanae permisi pulang lebih dulu. Rokka yang dari tadi mendengarkan, memperhatikan Kanae yang berjalan menjauh.
Donki sampai di rumah sakit. Ia bertanya pada Piami dan Bombi bagaimana keadaan Pachi. Bombi tak sanggup mengatakannnya, ia malah hampir menangis. Piami yang sedih menunjukan dimana ruangan Pachi di rawat.
Donki melihat ke dalam ruangan dimana Pachi masih belum sadarkan diri. Di samping Pachi yang terbaring, Posuto setia menemani.
Perlahan Pachi membuka matanya. Posuto yang melihat Pachi sudah sadar memanggilnya. Pachi menolah, ia mengangkat tangan akan menyentuh Posuto. Posuto menggenggam tangan Pachi. Tangan Posuto yang terluka sudah diperban.

“Posuto.” panggil Pachi. “Kau lama sekali. Selalu, selalu, aku memanggil-manggil Posuto.”

Dengan suara lembut Posuto minta maaf. “Tapi aku perhatikan, kau kelihatan senang. Makanya, mungkin aku cemburu.”

Pachi : “cemburu?”

Posuto mengangguk.

Pachi : “apa itu artinya kau menyukaiku?”

Posuto tersenyum, ya begitulah. Ia mengusap lembut kepala Pachi. Pachi tersenyum menatap Posuto.
Donki, Piami dan Bombi terharu melihatnya.
Di Kogamo No Le, waktunya sarapan. Piami terkejut mendengar kalau Donki menolak uji coba kemarin. Otsubone yang ikut mendengar berseru kalau itu sangat disayangkan. Piami heran kenapa Donki menolak, padahal ia sudah sengaja minta maaf agar Mao tidak menyalahkannya. Bombi menebak apa itu karena Pachi, jadi Donki juga tak ingin keluar dari panti ini.  
Posuto ingin tahu alasan kenapa Donki menolak uji coba itu, apa terjadi sesuatu. Donki tersenyum menjawab tidak. “Ini pertama kalinya sejak aku lahir, aku pergi ke taman bermain. Itu sangat menyenangkan. Kebahagaiaan…”

Posuto heran, kalau bahagia dan menyenangkan kenapa menolaknya.
Donki : “kebahagiaan yang berlebihan itu jadinya malah menyakitkan.”

Piami tak mengerti apa yang Donki katakan. Posuto tersenyum dan berkata jadi bisa dibilang bahwa ketidakbahagiaan itu lebih menyenangkan.
Mao datang ke ruang makan. Semuanya langsung diam. Mao menegur mereka yang selalu saja ribut ketika makan. Ia melempar bungkusan pada Posuto. Ia memerintahkan anak-anak untuk makan cepat dan segera mandi. Posuto membuka bungkusan itu yang ternyata isinya sampo seperti milik Pachi.
Semuanya menatap terkejut dan heran dengan sikap Mao. Mao tak berkata apa-apa, dia cuma ck… hahaha dan Rokka sedikit menyunggingkan senyum. (huwaaa jackpot ga sih liat Rokka senyum)
Malamnya, Kanae mengantar Pachi yang baru keluar dari rumah sakit ke Kogamo No Le. Sampai di depan kamar cewek-cewek, Pachi mencium sesuatu. Ia masuk ke kamar itu.
Keempat cewek yang baru selesai mandi senang melihat Pachi keluar dari rumah sakit. Piami langsung pasang aksi, “aku seksi kan?” Hahaha…

Donki meminta Pachi menebak wangi sampo apa ini.
Posuto menunjukan botol sampo itu pada Pachi. Pachi senang sekali melihatnya. Ia segera memeluk botol sampo itu dan menciumi aromanya. “Wangi ibu…” sahut Pachi riang.
Donki, Piami dan Bombi membuka kedua tangan mereka berharap Pachi masuk ke pelukan mereka. Tapi Pachi malah berhambur memeluk Posuto. Donki, Piami dan Bombi tertawa karena ketiganya sudah bisa menebak ke siapa Pachi akan memberikan pelukannya.

Donki mengajak Piami dan Bombi mengeringkan rambut keluar.

Posuto tersenyum memeluk Pachi. Pachi juga merasa sangat nyaman berada di pelukan Posuto.
Posuto melepas pelukannya dan berkata bukankah Pachi pernah mengatakan dirinya jelek. Posuto mencubit pipi Pachi. Pachi berkata kalau Posuto cantik kok. Posuto dan Pachi kembali berpelukan erat.

Donki, Piami dan Bombi yang masih berada di ruangan itu ikut tersenyum senang.

Apakah kebahagiaan mereka sampai disana? Kapankah mereka mendapatkan orang tua idaman?

Nantikan kelanjutannya di Ashita, Mama ga Inai episode 3

2 comments:

  1. hahahaha... hanyut dalam membaca....
    sampai lupa blm mandi.. hohoho
    *rain

    ReplyDelete
  2. ya ampuun terharu bgt
    ni anak-anak aktingnya kereeennn bgggeeett .... :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...