Tuesday, 25 November 2014

Sinopsis Mr Back Episode 5 Part 1

Choi Young Dal dan istrinya keluar dari gedung hotel dan berada di parkiran. Ia menerima telepon dari Dae Han. Ia marah sekali. In Ja tanya apa yang Dae Han katakan. Young Dal berkata hasil tes DNA Choi Shin Hyung itu cocok.


Tak jauh dari sana Young Dal melihat Shin Hyung juga ada di parkiran. Young Dal marah sekali, ia akan melabrak Shin Hyung namun istrinya melarang. In Ja meminta suaminya mendengarkan apa yang ia katakan.

In Ja mengeluarkan ponsel dan memotret Shin Hyun dan mobilnya. Young Dal tanya apa yang akan istrinya lakukan. In Ja berkata kalau ia harus menyingkirkan Shin Hyung, Kita tak bisa hanya duduk dan berdiam diri saat hari pelantikan Shin Hyung sebagai Presdir sudah semakin dekat. Young Dal menebak apa rencana istrinya ini akan membuat hal ini menjadi terlihat seperti sebuah drama.

In Ja menghubungi seseorang, “aku baru saja mengirimkan gambar. Lacak mobil itu menggunakan GPS!” Young Dal tak mengerti apa yang akan istrinya lakukan.
Didalam mobil Dhin Hyung menyalakan musik, namun ia heran kenapa musiknya jadul semua. Ya ampun Sekretari Sung, ini semua lagu yang disukai Choi Go Bong.

Mr Back Episode 5
Dae Han dan Ha Soo masih berada di bangku taman. Dae Ha minta maaf dan mengakui kalau ia agak kehilangan pikirannya sejenak karena Shin Hyung. Ia harap Ha Soo jangan memikirkan apa yang ia katakan tadi. Ia menyadari dirinya pasti terlalu sensitif.
Ha Soo memahami itu, ia juga minta maaf. Dae Han tanya minta maaf untuk apa, apa untuk ini? tanyanya sambil memegangi pipinya yang ditampar Ha Soo.

Ha Soo tahu pasti Dae Han merasa agak bingung sejak Presdir Choi meninggal dan ada orang lain yang menggantikannya.
Dae Han sendiri benar-benar tidak mengerti dan tidak tahu ayahnya ternyata memiliki anak yang disembunyikan. Karena sejauh yang ia tahu ayahnya itu tidak begitu bergairah dengan yang namanya cinta.

Ha Soo heran kenapa Dae Han berpikir begitu, Bukankah ibumu...

“Tidak, dia adalah seseorang yang tidak mengerti akan cinta.” Jelas Dae Han.
Shin Hyung mendatangi Galaxy Tailor Shop untuk mengambil pesanan jas-nya. Ibu Ha Soo berkata jika dipikir-pikir sudah banyak yang terjadi diantara keluarganya dan keluarga Shin Hyung. “Ketika ayahmu datang untuk memesan jas, aku tak tahu kalau dia itu Presdir Choi. Ayahmu dulu kadang datang kesini.” Shin Hyung tersenyum, untuk itu ia juga datang kesini. Ia mendengar tempat ini dari ayahnya.

Ibu berkata Ketika ayah Shin Hyung masih muda suaminya-lah yang menjahit jasnya. Shin Hyung pun teringat ke masa itu, masa dimana ia belum sukses seperti sekarang.

Flashback
Dibawah rintik hujan salju, Choi Go Bong berdiri di depan toko penjahit. Ia membawa bungkusan di tangannya. Ia ragu apakah ia harus masuk ke toko itu atau tidak. Ia pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke toko.
Pemilik toko menyambutnya penuh senyuman. Kedua suami istri ini adalah orang tua Ha Soo. Ibu Ha Soo yang tengah mengandung berkata bukankah pesanan jas Choi Go Bong sudah selesai. Ayah menjawab tentu saja, ia pun mengambilkan jas pesanan Choi Go Bong. Ia tanya apa Choi Go Bong menyukainya.
Choi Go Bong menyentuh jas itu dan memuji ayah benar-benar seorang penjahit yang terampil. Ayah tanya apa Choi Go Bong ingin mencobanya. Choi Go Bong bingung mengatakannya bagaimana, “jujur saja aku tak punya uang.” Ia meletakan di meja bungkusan yang dibawanya. Isinya kayaknya ubi deh. “Aku memulai sesuatu untuk bertahan hidup, tapi begitu cepat muncul sesuatu hal yang sulit saat ini.” Ia minta maaf, ia akan kembali mengambil jas nya setelah ia mendapatkan uang.
“Kau harus mengambil pakaianmu.” sahut ayah membuat langkah Choi Go Bong terhenti tak jadi pergi. Ayah mengerti betul bagaimana sulitnya menjalankan bisnis yang terkadang naik turun. Ibu juga paham betul dengan keadaan Choi Go Bong sekarang.

Ayah memberikan setelan jas itu pada Choi Go Bong, “bayarlah kembali saat bisnismu berjalan baik.” Choi Go Bong pun menerimanya ia sangat berterima kasih. Ia berjanji akan memakai jas ini dan pasti akan membayarnya.

Flashback end
Ibu membantu Shin Hyung mencoba jasnya. Shin Hyung melihat dirinya di cermin. Ibu tanya bagaimana pendapat Shin Hyung, “apa kau menyukainya?”

“Ya, aku menyukainya.” jawab Shin Hyung lantang tersenyum memandang dirinya di cermin.

“Bukankah kau, Kau menyukai Ha Soo kan?” tanya ibu.

“Ya.” jawab Shin Hyung yang kemduian terkejut dan menoleh pada ibu, “apa?”

Ibu menilai Ha Soo mengukur Shin Hyung dengan baik, jas ini pas sekali.
Ibu tahu Shin Hyung pasti telah melalui masa-masa yang sulit tidak bisa memanggil ayah sendiri dengan sebutan ayah. Shin Hyung hanya tersenyum tipis. Dengan jas ini ibu berkata Shin Hyung bisa melebarkan sayap, bukankah pakaian yang baik akan menjadikan pria itu menjadi baik.
Shin Hyung keluar dari toko jahit membawa dua jas. Ia melihat Ha Soo yang baru datang, ia ragu apakah harus menyapa Ha Soo atau tidak, akhirnya... “hei.” Shin Hyung pun memanggilnya.

Melihat Shin Hyung membawa jas Ha Soo bertanya apa Shin Hyung menyukai jasnya. Shin Hyung menjawab ya dan memuji keterampilan menjahit ibu Ha Soo adalah salah satu yang terbaik.

Ha Soo permisi akan pergi, tapi Shin Hyung berkata meminta Ha Soo hati-hati. Ha Soo heran siapa yang Shin Hyung maksud. Shin Hyung berkata semua laki-laki itu pencuri. Ha Soo menebak apa yang Shin Hyung maksud itu Choi Dae Han. Shin Hyung membenarkan. Ha Soo merasa ini bukanlah haknya bisa mengatakan sesuatu tentang Shin Hyung ataupun Dae Han tapi ia bisa melihat Dae Han sedang mengalami kesulitan.
Melihat Ha Soo begitu mengkhawatirkan Dae Han, Shin Hyung menebak apa Ha Soo memiliki perasaan pada Dae Han. Ha Soo bilang bukan begitu maksudnya. Shin Hyung menasehati agar Ha Soo jangan pernah terlibat dengan seseorang seperti Dae Han, ia memint Ha Soo berpikir jernih jika Ha Soo tak ingin patah hati suatu hari nanti.

Ha Soo menahan kesal bukan itu maksudnya, “Ah lupakan saja apa yang sudah kukatakan.” Ia berlalu dari sana.

Shin Hyung sedikit berteriak, “Ya dia bukan orang jahat tapi aku hanya mengatakan kau berhati-hati.” Ha Soo terus saja berjalan mengabaikan ocehan Shin Hyung.
Dae Han masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Ia menatap foto ayahnya yang ada di meja samping tempat tidurnya, “Kau hebat orang tua. Kau terlalu sibuk pada anakmu tapi kau punya waktu untuk anak haram? Cukup mengejutkan.”
Dae Han membalikan foto ayahnya, ia tak ingin melihatnya. Ia akan tidur namun ada bunyi sms di ponsel. Bukan ponselnya melainkan ponsel jadul ayahnya. Ia mengambil ponsel yang ia simpan di laci. Ia heran siapa yang masih mengirimkan sms pada ayahnya.

Choi Go Bong, 48 hari lagi sebelum pembayaran.

Dae Han yang tak mengerti pesan apa itu mengira itu adalah spam. Ia pun tidur.
Seluruh pegawai Daehan berbaris di lobi. Gi Chan berbisik pada Nan Hee, apa Choi Shin Hyung akan mengambil alih perusahaan mulai hari ini. Nan Hee bilang Shin Hyung itu akan menjadi pewaris masa depan Daehan, ia mengingatkan Gi Chan agar memanggil Choi Shin Hyung dengan sebutan presdir.
Mi Mye juga ikutan berbaris disana, In Ja heran dengan dandanan Mi Hye yang heboh. Mi Hye berkata setidaknya ia telah melakukan hal seperti ini untuk mendapatkan sesuatu dari Shin Hyung. In Ja mencibir bukankah kemarin Mi Hye menyebut Shin Hyung sebagai penipu.
Young Dal juga berbaris, ia sepertinya baru keluar dari toilet karena sleting celananya masih terbuka wakakaka. Istrinya yang melihat itu menegurnya, “tutup itu, akan terbang nanti jika terbuka.” (Hahaha) Young Dal pun langsung merapikan sleting celananya.
Ji Yoon bertanya pelan pada Yi Gun bagaimana dengan penggantian hak waris. Yi Gun bilang ada bebarapa langkah resmi yang harus dilakukan. Ia meminta Ji Yoon menerima ini, apalagi yang bisa keduanya lakukan selain menerima kehadiran Shin Hyung.
Choi Shin Hyung pun tiba. Ia berjalan gagah, di belakangnya ada sekretaris Sung. Shin Hyung melepas kacamata hitamnya untuk melihat dengan jelas seluruh direktur dan karyawan Daehan.
Tiba di depan Choi Young Sal, Shin Hyung menatap tajam, “kau orang yang tidak tahu terima kasih.” batinnya.
Begitupun ketika melihat In Ja dan Mi Hye, “dasar orang yang jahat.”
Namun Shin Hyung tersenyum bangga ketika ia melewati dan menatap Jung Yi Gun dan Hong Ji Yoon.
Nan Hee memainkan matanya ketika Shin Hyung tiba di depannya. Shin Hyung heran, “kerasukan apa nih orang.” batinnya (hahaha). Nan Hee menyentuh pipinya yang merona. Mi Hye melihat heran tingkah Nan Hee ini.
Dan ini nih ga tahu lagi ngelihat apa si Ha Soo. Matanya sampai ada di pinggir gitu pas Shin Hyung ada di depannya (haha). Shin Hyung tersenyum manis menatapnya.

Shin Hyung pun berlalu dari sana menuju ruang kerjanya. Mereka pun bubar.
“Lihat itu dia sangat mirip.” ujar Young Dal pada istrinya. “Bagaimana ini bisa terjadi? Dia kelihatan mirip seperti kakakku ketika masih muda. Wah bahkan cara jalannya juga sama.” Young Dal megal-megol memperagakan cara berjalannya Shin Hyung. In Ja jengkel, ia mengajak suaminya segera pergi dari sana.

Mi Hye memanggil Nan Hee, ia ingin bicara sebentar dengan Nan Hee.
Bersama Sekretaris Sung, Ji Yoon dan Yi Gun, Choi Shin Hyung masuk ke ruangan presdir. Namun disana sudah ada Dae Han yang duduk di kursi Presdir dengan posisi kaki diatas meja. Dae Han memberikan tepuk tangan untuk Shin Hyung, “Bravo. Akhirnya kau melakukannya.”

Shin Hyung meminta Sekretaris Sung menyingkirkan Dae Han dari sana. Dae Han berkata apa ia terlalu cepat datang ke kantor, ia tahu tidak biasanya ia masuk kerja sepagi ini.

Shin Hyung : “Apa kau pikir itu tempat dudukmu hanya karena kau datang terlalu pagi? Apa ini perpustakaan?”

Dae Han berkata ia ingin menyambut Shin Hyung dengan pesta yang meriah dan semuanya.
Yi Gun meminta dengan sopan agar Dae Han bangun dari kursi Presdir. Dae Han heran apa Yi Gun sudah bekerja untuk Shin Hyung, cepat sekali Yi Gun memutuskan untuk mengakui Shin Hyung sebagai Presdir Prusahaan Daehan.
Sekretaris Sung greget sekali dengan tingkah Dae Han.
Dae Han pun berdiri, ia menatap tajam Shin Hyung, “itu menyebalkan melihatmu mirip sepertinya. Bagaimana kau bisa mirip dengannya daripada aku?”

Shin Hyung tak menanggapi ucapan Dae Han, ia bertanya pada Ji Yoon apa jadwalnya hari ini. Dae Han menyahut silakan nikmati posisi Shin Hyung sebagai presdir karena ia yakin ini tak akan berlangsung lama. Berharap setiap saat seperti pasien yang sakit parah. Shin Hyung tak mengerti maksudnya, pasien yang sakit parah? Dae Han pun keluar dari ruangan itu.
Sekretaris Sung menawarkan apa Shin Hyung ingin minum teh hijau. Shin Hyung yang sudah duduk di kursinya menjawab tidak, ia ingin minum kopi, buatkan kopi yang manis. Sekretaris Sung mengerti ia akan membuat kopi dengan 2 sendok gula dan 2 sendok krim.
Ji Yoon akan memberitahu jadwal Shin Hyung untuk hari ini apa saja, namun Shin Hyung berkata ada sesuatu yang harus dilakukan terlebih dahulu. “Tentang ledakan mobil di lubang, bawa kembali semua uang yang mereka ambil itu.”

Yi Gun dan Ji Yoon tentu saja kaget.

Shin Hyung bilang semua uang itu harus diambil tak peduli uang itu terbakar ataupun robek, pokoknya ambil kembali. Bila perlu ajukan tuntutan pada pemerintah atas kerusakan kecelakaan itu.
Ji Yoon menilai itu tak masuk akal karena sekarang nama baik perusahaan dan harga saham turun. Yi Gun membenarkan orang-orang akan protes dan curiga tentang adanya aliran dana almarhum Presdir Choi akan bermunculan lagi. Shin Hyung tak peduli pokoknya lakukan apa yang sudah ia katakan tadi.
Ketika ledakan terjadi banyak warga yang mengambil uang yang terbakar itu. Para karyawan Daehan berusaha meminta kembali uang itu dari mereka yang mengambilnya. Mereka menunggu dering telepon terus dan mengatakan pada orang disana agar mengembalikan uang itu. Mereka sampai pusing mendengarkan dering telepon.
In Ja tak mengerti bagaimana bisa Shin Hyung melakukan ini, dia semakin tidak sabaran. Young Dal berkata Shin Hyung itu tidak akan peduli meskipun orang-orang mengeluh.

In Ja menilai Shin Hyung ini lebih buruk daripada Presdir choi, dia juga bahkan mempekerjakan lebih banyak karyawAn paruh waktu. Young dal tanya berapa banyak. In ja berkata itu cukup untuk melumpuhkan perusAhaan dan membuat karyawan protes. Kita benar-benar harus berhasil keluar hidUp-hidup. Apa kau ingin kembali? Young Dal menggeleng. In Ja ingin suaminya melakukan apa yang sudah ia katakan jika suaminya ini ingin tetap hidup.
Jung Yi Gun berada disebuah restoran ia membaca koran tentang uang yang terbakar di mobil itu. Ia pun mengingat perbincangannya dengan Choi Shin Hyung sebelumnya.

Flashback
Ketika keluar dari gedung hotel, Yi Gun bertemu Shin Hyung yang mengajaknya bicara berdua.

Shin Hyung mengatakan kalau ayahnya menyuruhnya untuk menemui Yi Gun. Ia mengerti betul pasti ini sulit bagi Yi Gun untuk menerimanya. Ia mendengar Yi Gun jauh lebih dekat dengan ayahnya daripada Dae Han.

Yi Gun : “Lalu?”
Shin Hyung menyodorkan map besar ke Yi Gun. Yi Gun membukanya, pemberitahuan penggantian hak waris.
Shin Hyung ingin Yi Gun yang memimpin Daehan sebagai Spesialis Manajemen. Itu juga keinginan ayahnya sebagai seseorang yang mbangun perusahaan daehan.

Flashback end
Yi Gun membolak-balikan dokumen penggantian hak waris itu. Ia memasukan itu kembali ke map ketika sekretarisnya datang melapor. Yi Gun tanya apa sekretarsisnya sudah memeriksa tentang asal usul Shin Hyung. Sektetarisnya menagtakan McGill Universty di Montreal itu benar adanya, segera setelah tahun ajaran dimulai, dia tak pernah muncul. Ibunya meninggal dalam kecelakaan kereta api lima tahun yang lalu. Yi Gun mengerti dan mempersilakan sekretarisnya pergi.
Setelah Sekretaris-nya pergi, rombongan Shin Hyung datang. Yi Gun memberi tahu kalau masalah dengan dewan direksi menjadi semakin serius. Tapi itulah yang Shin Hyung harapkan, Shin Hyung tanya bagaimana dengan lubangnya. Yi Gun berkata kalau kecelakaan itu sudah diputuskan bahwa itu akibat dari meteor sangat sulit membuat tuntutan ke pemerintah untuk kerusakan yang dialami mobil. Shin Hyung tak peduli pokoknya lakukan saja apa yang ia perintahkan.

Yi Gun khawatir jika tetap dilakukan maka kecurigaan terhadap aliran dana almarhum presdir choi... Shin Hyung menyela kalau ia sudah memilki rencana jadi Yi Gun tak usah khawatir.
Shin Hyung tanya apa Yi Gun sudah memikirkan tawaran ia berikan kemarin. Yi Gun tak yakin dengan tawaran itu, ia menghargai tawaran Shin Hyung namun sayangnya ia bukan bagian dari keluarga Presdir Choi.

Shin Hyung heran kenapa Yi Gun tidak bisa sedikit saja memiliki ambisius. “Jangan katakan apa-apa lagi, pergilah serahkan dan daftarkan dokumen penggantian waris itu ke pengadilan.”
Son Woo Young mengeluh, ia bisa gila jika mendengar dering telepon. Ha Soo berkata tentu saja orang akan mengeluh, ia penasaran apa yang akan dilakukan Choi Shin Hyung dengan uang itu.”

Gi Chan merasa Choi Shin Hyung itu kelihatannya lebih kejam jika dibandingkan dengan almarhum presdir choi. Bagaimana dia bisa berpikir tentang mendapatkan uang itu kembali. Woo Young menyahut, itulah maksudnya.
Untuk menghilangkan penat, Gi Chan mengajak Ha Soo makan siang bersama, ia yang akan mentraktir. Namun tiba-tiba Dae Han datang mengajak Ha Soo makan siang denganya. Ha Soo bilang kalau ia, Gi Chan dan Woo Young akan makan bertiga.

Dae Han mengatakan konsep iklan yang Ha Soo pilih itu ditolak. Ha Soo kaget.
Dan akhirnya Ha Soo pun pergi bersama Dae Han. Keduanya berada di dalam mobil menuju suatu tempat. Dae Han tak mengerti bagaimana Ha Soo bekerja seperti itu, bukankah ia sudah bilang untuk memillih konsep iklan itu dengan hati-hati. Apa Ha Soo memilihnya secara diacak. Ha Soo menjawab tidak, ia memilih sesuatu yang terlihat baik. Ia heran kenapa itu ditolak, apa alasannya. Dae Han bilang konsep idenya terlalu polos, jadi tidak akan ccok dengan tamu VIP hotel mereka.

Dae Han kemudian bertanya pernahkan Ha Soo menghabiskan uang 5 milyar won dalam sehari. Ha Soo kaget mendengar uang sebanyak itu.
Dae Han mengajak Ha Soo ke sebuah toko. Dae Han langsung menunjuk sepatu ini, tas itu yang akan ia beli. Sepatu dan tas wanita. Langsung nunjuk aja gitu. Ia tanya apa tak ada produk yang istimewa. Pelayan bilang ada, ia pun pergi mengambilkannya.

Dae Han meminta Ha Soo juga memilih barang. Ha Soo melongo kaget.
Pelayan datang membawakan produk sepatu dan yang merupakan tas produk istimewa. Dae Han pun akan mengambil itu. Ha Soo hanya bisa melongo melihatnya.

Dae Han mengambil sepasang sepatu dan meminta Ha Soo untuk mencobanya. Ha Soo melihat label harga sepatunya, ia kaget harganya snagat mahal 780 rb won.
Dae Han akan memakaikan kacamata ke Ha Soo. Namun Ha Soo spontan memundurkan tubuhnya. Dae Han memaksa memakaikan kacamata itu ke Ha Soo. Ha Soo melongo dengan mulut menganga membuat Dae Han terkekeh.
Dae Han mengambil tas dan melemparkannya pada Ha Soo. Ha Soo akan mengembalikan tas itu ke tempat semula namun Dae Han malah menariknya dari belakang hahaha.
Semuanya dibeli, Ha Soo hanya bisa geleng-geleng melongo melihat Dae Han belanja sebanyak itu. Melihat Ha Soo hanya diam saja, Dae Han bertanya apa yang Ha Soo lakukan, “bawa itu, itu semua milikmu.”

Ha Soo kaget, “Kenapa ini semua milikku?”

Pelayan memanggil Dae Han karena tanda terimanya belum diambil. Ha Soo yang sudah kerepotan membawa banyak belanjaan akhirnya mengambil tanda terima belanjaan itu digigit hehehe.
Ha Soo memasukan semua belanjaan yang ia bawa ke kursi bagian belakang mobil. Sedang belanjaan Dae Han dimasukan ke dalam bagasi mobil. Ha Soo diam saja tak segera masuk ke mobil. De Han heran kenapa tak segera masuk, bukankah sekarang waktunya bekerja.
Dae Han mengajak Ha Soo ke restoran. Melihat Ha Soo tak juga makan Dae Han bertanya apa Ha Soo tak suka dengan makanannya, apa perlu ke tempat lain. Ha Soo bilang tidak, ia sedang berpikir sebenarnya apa yang ia dan Dae Han lakukan sekarang. Dae Han berkata bukankah ia sudah bilang kalau ia dan Ha Soo sedang bekerja.

Ha Soo menilai menghabiskan uang untuk sebuah pekerjaan adalah tindakan yang sembrono. Namun bagi Dae Han bukankah itu menyenangkan, ia bahkan ingin menghabiskan lebih banyak lagi namun ia menahannya.

Ha Soo tanya kenapa Dae Han melakukan itu. Dae Han menjawab Ha Soo tak perlu tahu alasannya. Ha Soo benar-benar tak mengerti dengan sikap Dae Han, apa Dae Han tahu ada berapa banyak keluhan yang masuk ke perusahaan. Pernahkah Dae Han membaca salah satu komentar tidak suka di website perusahaan. Dae Han tak peduli karena itu semua ulah Choi Shin Hyung, kenapa Ha Soo tak pergi dan katakan langsung pada Shin Hyung.”

“Hei...”
“Apa kau pikir aku sedang bercanda?” Dae Han berkata ia yang akan memimpin iklan untuk musim dingin ini. Ia menyuruh Ha Soo menulis sebuah proposal yang pasti akan disetujui dan tentu saja kita akan mempertahankan model kontraknya.

“Direktur Choi?” Ha Soo mulai kesal.

Tentang pakaian yang ia dan Ha Soo beli hari ini, Dae Han menyuruh Ha Soo mencobanya dan bawa ke kantor. “Kita akan melakukan pemotretan lebih dulu.” Ucapnya.

Ha Soo jelas saja kesal Dae Han memutuskan ini seenak sendiri, apakah seperti ini bagaimana seseorang biasanya hidup? Apa kau benar-benar mengabaikan pendapat orang lain?

Dae Han bilang umumnya begitu, tapi ini bukan biasanya bagaimana ia membelanjakan uang. Kami cenderung sangat teliti ketika menghabiskannya dengan orang lain.

Ha Soo : “Begitukah? Berapa banyak yang akan kau bayar jika aku menajdi modelnya?”

Dae Han tertawa ternyata Ha Soo mula menunjukan taring. Hargailah namamu, dan inilah tanda tanganku. Kita sudah memiliki kontrak sekarang, ok?”

Ha Soo benar-benar tak habis pikir dengan sikap Dae Han. Ia yang kesal pun akhirnya mencoba steak dari restoran mahal ini.
Ji Yoon membacakan artikel yang memberitakan tentang sikap Shin Hyung terhadap uang yang terbakar itu.

‘Presdir Choi Shin Hyung mengumpulkan uang yang terbakar dan sobek dari mereka yang mengambilnya pada hari ledakan. Dia tampaknya tidka peduli akan keluhan para warga....”

“Sudah cukup,” sela Shin Hyung. Ji Yoon tanya apa Shin Hyung ingin ia membacakan komentar-komentar yang masuk juga. Shin Hyung yang memejamkan mata sambil kakinya nangkring di meja mengiyakan. Ji Yoon pun mulai membacakan komentar di artikel itu.
“Hei, apa itu uangmu?”

Shin Hyung kaget dan membuka matanya.

“Apakah kau menulis namamu pada cek nya?”

“Kau adalah pendatang baru yang busuk di daehan.”

“Kau tidak sah Choi Shin Hyung, mundur.”

“Beraninya kau mengelola sebuah perusahaan tanpa sebuah prinsip. Menyerah sajalah.”

“Dia seperti almarhum ayahnya.”

“Seorang bajingan yang gigih yang berusaha untuk mendapatkan aliran dana almarhum ayahnya.”

“Kau adalah kehormatan untuk keluargamu, kau memang baik.”
“Ah sudah cukup sudah cukup.” Shin Hyung kesal dengan komentar pembaca hahaha.

Shin Hyung tanya bagaimana dengan semua orang di gedung. Ji Yoon mengatakan kalau karyawan tak bisa melakukan pekerjaan mereka karena jumlah panggilan keluhan yang tinggi. Para eksekutif dan pemegang saham menolak menerima Shin Hyung sebagai presdir yang baru. Shin Hyung mengangguk mengerti, ia tenang saja tak nampak cemas. Di ruangannya disana

Ji Yoon masih belum mengerti kenapa Shin Hyung melakukan ini. Shin Hyung tak mengatakan apapun pada Ji Yoon.
Sekretaris Sung masuk ke ruangannya. Ia jelas kesal sekali. Shin Hyung tanya apa yang terjadi. Sekretaris Sung mengatakan kalau ia baru saja mendapat kabar bahwa Dae Han telah menghabiskan uang dengan sembarangan. Mobil, pakaian dan perhiasan. Shin Hyung tentu saja marah, dimana Dae Han sekarang.
Shin Hyung yang marah melabrak Dae Han, “Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?” Dae Han bilang ia sedang bekerja, Memangnya kenapa?” Shin Hyung mengumpat, “bekerja gundulmu.”
Shin Hyung terkejut begitu melihat kemunculan Ha Soo. Ia pun mulai menilai Dae Han yang tidak-tidak, “kau ini masih belum sadar juga ya?”

Dae Han terkejut karena cara bicara Shin Hyung bahkan persis seperti cara bicara ayahnya. Apa itu yang disebut dengan saudara. “Jika kau menduduki posisi ayahku maka kau juga harus belajar bagaimana membersihkan kotoranku. Tak bisakah kau melakukan itu untuk adikmu?”

Ha Soo hanya bisa menunduk diam berada di antara pertengkaran dua orang ini.
Shin Hyung tak ingin berdebat lagi dengan Dae Han. Ia meraih tangan Ha Soo mengajaknya pergi dari sana. Namun Ha Soo menarik tangannya. Shin Hyung bertanya apa hari ini Ha Soo dan Dae Han pergi bersama-sama sepanjang hari. Ha Soo balik bertanya kenapa Shin Hyung mempedulikan itu. Shin Hyung tanya lagi apa Ha Soo dan Dae Han berbelanja menggunakan kartu kredit. Ha Soo tak bisa mengelak.

Ha Soo tanya sekarang apa yang Shin Hyung pikirkan, karena ini bukan seperti apa yang Shin Hyung pikirkan. Shin Hyung menyahut lalu apa itu, bukankah ia sudah memberi tahu Ha Soo untuk berhati-hati dengan Dae Han.
Dae Han meraih tangan Ha Soo dan bertanya pada Shin Hyung apa yang sedang Shin Hyung lakukan sekarang terhadap Ha Soo, akankah Shin Hyung meminta maaf pada Ha Soo. Dae Han akan mengajak Ha Soo pergi dari sana namun Shin Hyung menahan tangannya. Dae Han meminta dengan pelan Shin Hyung melepaskan tangannya pada Ha Soo.
Sekretaris Sung dan Ji Yoon heran apa yang mereka lakukan.
Shin Hyung menatap Dae Han, “apa ini waktu yang tepat untukmu tersenyum dan bergaul dengan seorang wanita? bukankah kau tahu apa yang sedang terjadi di hotel? Nada suara Shin Hyung meninggi. “Ini sebabnya kenapa almarhum ayahmu lebih mempercayai orang lain daripada kau.”

Dae Han balik bertanya lalu bagaimana dengan Shin Hyung, kenapa datang ke sini. “Kau kesini karena khawatir tentang biaya kartu kreditku atau khawatir padaku? Atau mungkin kau khawatir padanya?” ucapnya sambil menoleh pada Ha Soo. Dae Han heran kenapa sikap Shin Hyung begitu berlebihan.

Ha Soo melepaskan diri dari pegangan dua orang itu.
Shin Hyung mencoba mencari alasan, “itu karena dia (Ha Soo) dibesarkan sebagai putri yang berharga, “aku tak ingin dia tertipu oleh kebohongan ketika semuanya jelas apa yang terjadi disini. Bagaimana aku hanya bisa duduk dan membiarkan itu terjadi?” teriak Shin Hyung.

Dae Han terkejut Shin Hyung benar-benar mirip seperti ayahnya. “Apa kau menginginkanku secara langsung? itu sebabnya dia tak ada urusannya denganmu.”
Ha Soo tak mengerti urusan apa, “kalian berdua ini sama persis. Aku akan pergi saja. apa sih yang kalian bicarakan?” Ha Soo pun pergi dari sana.
Woo Young dan Myung Soo rebutan ramen. Keduanya heran apa Ha Soo tak ikutan makan. Ha Soo bilang silakan saja makan lebih dulu. Ha Soo yang pikirannya lagi pusing masuk ke kamar.

Woo Young memberi tahu Myung Soo kalau tadi Ha Soo pergi keluar dengan Direktur Choi Dae Han dan pasti keduanya memiliki sesuatu yang benar-benar baik.

Terdengar suara bel pintu rumah. Woo Young tanya siapa di luar. Terdengar suara bahwa yang datang itu kurir. Woo Young menyuruh Myung Soo untuk mengambil barang kiriman kurir itu. tapi tiba-tiba Ha Soo keluar dari kamar dan berlari, ia saja yang mengambil itu.
Woo Young terkejut tak menyangka melihat begitu banyak barang-barang, “Kau bilang Direktur Choi yang membeli semua ini? Wah daebak. Bisakah aku  melihat yang satu ini? Ya ampun ini bagus sekali.” seru Woo Young ketika mengeluarkan salah satu sepatu.

Ha Soo diam saja ia teringat ucapan Dae Han bahwa ia diminta untuk mencoba pakaian itu dan membawa salah satu yang ia suka.

Woo Young berkata apa yang Ha Soo khawatirkan, “Jika dia menginginkanmu menjadi model kau harus berterima kasih padanya.” Ia minta ijin bolehkan ia memakai salah satunya. Haruskah ia memilihkannya untuk Ha Soo. Ha Soo tak mau.
Woo Young melihat salah satu tas, “Ya ampun aku benar-benar tak mengerti dengan karakter wanita dalam drama yang menolak menerima hal-hal seperti ini.” Namun berbeda dengan pendapat Ha Soo, “Aku benar-benar memahami meraka.”
Shin Hyung pun akhirnya bisa masuk ke dalam rumahnya dengan nyaman walaupun kedua pelayannya agak canggung. Shin Hyung duduk di kursi di ruang belajar presdir, ia duduk disana dan berputar hehe.
Shin Hyung masuk ke kamar tidur. Ia duduk di ranjangnya yang empuk. Ia membuka laci mejanya dan mengambil kacamata rusak yang diperbaiki Ha Soo dan perment mint pemberian Ha Soo. Ia tersenyum menatap dua benda itu. (permennya ga disemutin ya hahaha)
Shin Hyung akan masuk ke kamar Dae Han. Pelayan Yoon akan melarang tapi Shin Hyung berkata kalau ini adalah kamar adiknya jadi tak apa baginya masuk kesana.

Shin Hyung melihat sekeliling kamar Dae Han. Ia terkejut begitu melihat foto tua dirinya terpajang di meja samping tempat tidur Dae Han.

Bersambung ke part 2


Eh saya ga ngerti sama sms yang masuk ke ponsel jadul Presdir Choi. ‘48 hari sebelum pembayaran’ apa maksudnya, siapa yang ngirim?

Hmmmm apa Choi Go Bong akan benar-benar mati setelah 48 hari. Hanya pemikiran saya aja nih ya. Mungkin sebenarnya disaat jatuh ke lubang Choi Go Bong seharusnya mati. Namun karena ada yang menariknya kembali maka ia diberi kesempatan selama 49 hari untuk memperbaiki semuanya. Jadi ia diberi waktu selama 49 hari gitu. Dan misinya baru saja lewat satu hari. Gitu kah? Hahaha, bingung... eh eh tapi udah lebih dari sehari kan ya kalau dihitung sama pas Choi Go Bong berubah muda. ngitungnya mulai kapan donk? Halah tambah bingung... gini nih kalau drama fantasy hahaha.

5 comments:

  1. Ceritanya bagus ^^
    Ditunggu part 2 nya :)

    ReplyDelete
  2. Daebak mba anis...
    Lanjut terus ya;-)
    ceritanya bikin pensaran dan unik.

    ~yanti~

    ReplyDelete
  3. Ayahnya Dae Han egois bingit sehh dr daehan kecil mpe udh bongsor gitu gak ngerti2 kenapa anaknya bisa punya sikap kyak gtu....ku rasa tu 48 hari lg waktunya menikmati masa muda dan nanti setelah 48 hari dia bakal balik tua lagi...cuma pemikiranku saja...Thanks sinopnya

    ReplyDelete
  4. Suka banget sama Dae Han ,,, karakternya meskipun kekanak-kanakan gemez gitu hahhaha



    Ofie

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...