Saturday, 29 November 2014

Sinopsis Mr Back Episode 6 Part 2

Orang suruhan Yi Gun (kalau menurut saya sih dia ini Kang Gi Chan) menemui Yi Gun di rumah sakit menyampaikan bahwa ia mencari seseorang yang mungkin mengetahui sesuatu hal tentang Choi Shin Hyung di Kanada namun ia belum bisa menemukan siapapun.


Yi Gun meminta Gi Chan untuk menggali lebih dalam lagi info tentang Shin Hyung. Gi Chan mengerti ia akan melakukannya.

Tepat saat itu Shin Hyung datang menjenguk Yi Gun bersama Sekretaris Sung.
Yi Gun merasa Shin Hyung tak perlu sering datang menjenguknya. Tapi Shin Hyung tak mau begitu karena Yi Gun terluka seperti ini karena dirinya. Yi Gun bilang tidak, karena seharusnya ia lah yang lebih berhati-hati. Ia minta maaf.
Gi Chan permisi pada Yi Gun akan pergi. Sekretaris Sung terus memperhatikan Gi Chan ketika pria itu keluar dari ruangan. Ia merasa aneh dengan tindak-tanduk pria itu. ia sepertinya pernah melihat pria itu.
Shin Hyung minta maaf pada Yi Gun karena tak bisa menepati janjinya. Yi Gun bilang tidak apa-apa, ia pun menghargai segala bentuk perhatian Shin Hyung padanya. Shin Hyung mengatakan kalau ia diusir dari rumahnya dan menjadi gelandangan. Ketika ia berada diluar rumah ia memiliki beberapa pamikiran, ia tak bisa terus-terusan membiarkan mereka menginjak-injak dirinya. Jika ia meninggalkan perusahaan tanpa pengawasan maka perusahaan akan bangkrut dalam beberapa tahun. “Apa kau ingin mengambil alih perusahaan?”

Yi Gun terdiam.
Shin Hyung berkata almarhum ayahnya mengatakan padanya, “Ketika seusiamu dia begitu sibuk bekerja dan tidak tahu istrinya sakit. Bagaimana bisa dia hanya melihat pekerjaan yang sudah dilakukannya seumur hidup akan hancur dalam semalam? Dia ingin seseorang untuk mengambil alih dan memimpin Daehan ke arah yang benar.” (nyadar juga nih kakek kalau dia sibuk terus sampai melupakan keluarganya)

Yi Gun tak tahu apakah ia bisa melakukan tugas itu. Shin Hyung meminta Yi Gun harus berada dipihaknya untuk mengelola perusahaan dari awal, jika ia tahu semuanya akan berubah seperti ini.
Keluar dari ruang rawat Yi Gun, Sekretaris Sung bertanya apa Shin Hyung benar-benar yakin ingin membiarkan Direktur Jung Yi Gun mengambil alih Daehan, bukankah lebih baik anggota keluarga yang bertanggung jawab.

Shin Hyung berkata Sekretaris Sung ini tak tahu, ada pertarungan dalam keluarganya. Pertarungan yang tak terlihat karena uang. Mereka saling menyerang dan menyembunyikan kemudian mengungkapkan rahasia masing-masing. Jika ia membiarkan mereka, maka mereka mungkin akan mati ditembak oleh peluru mereka sendiri.

Sekretaris Sung : “Kalau begitu biarkan aku saja yang mengambil alih.”
“Bang!” seru Shin Hyung tiba-tiba sambil menodongkan jemari layaknya pistol dan itu mengagetkan Sekretaris Sung.

“Ah kau membuatku takut, aku kan hanya bercanda.” seru Sekretaris Sung.
Sekretaris Sung melihat syal merah yang melingkar di leher Shin Hyung, “ada apa dengan syal merah ini?” tanyanya sambil menyentuh ujung syal itu. Namun Shin Hyung menabok tangan Sekretaris Sung yang sudah pegang-pegang syal yang dipakainya. “Jangan sentuh!” larang Shin Hyung. Ia pun membersihkan kotoran di bagian syal yang dipegang Sekretaris Sung tadi. hahaha.
Seorang wanita menjenguk Yi Gun (tapi wajahnya ga diperlihatkan) wanita itu akan menyiapkan makanan namun Yi Gun berkata ia sedang tak berselera makan.

“Pastikan Presdir Choi Young Dal tidak menempati posisi itu terlalu lama. Lakukan sekarang!” perintah Yi Gun.

Wanita itu membungkus kembali makanan yang dibawanya. (noh cincinnya unik)
Upacara peresmian Presdir baru Perusahaan Daehan pun dilaksanakan. Terdengar riuh tepuk tangan menyambut Choi Young Dal sebagai presdir baru. Dae Han yang menghadiri acara itu diam saja. Yi Gun yang belum sembuh benar pun menghadiri acara itu.
Young Dal pun mulai bicara di depan, “Berkaca pada filosofi manajemen almarhum Presdir Choi Go Bong, aku berjanji untuk memimpin Daehan ke arah baru.”
Shin Hyung datang ke perusahaan, ia melihat dari luar acara itu melalui layar TV yang disediakan.

“Aku akan mempercayai orang-orang sebagai prioritas utamaku, tak peduli apapun.” ucap Young Dal menggebu-gebu. “Aku sadar bahwa aku tak akan bisa menjalankan perusahaan tanpa mempercayai orang lain. Kepercayaan adalah aset kita yang paling penting. Aku akan menempatkan karyawan sebelum pelanggan kita. Aku akan menghargai karyawanku dan menyayangi mereka.”

“Dasar gila!” sahut Shin Hyung tak sependapat dengan apa yang Young Dal sampaikan.

Ha Soo yang melewati tempat itu melihat Shin Hyung berdiri disana.
Ketika Shin Hyung akan meninggalkan tempat itu, Ha Soo memanggilnya. Ha Soo menanyakan kabar Shin Hyung. Shin Hyung berkata bukankah Ha Soo tahu bahwa ia harus segera menemukan tempat tinggal baru.

Ha Soo mengerti Shin Hyung pasti sedang merasa tidak baik. Ia ingin Shin Hyung mencoba apa yang ia lakukan ketika suasana hati sedang gundah.
“Koong koong da. Koong koong da. Koong koong da.” Ha Soo memukul-mukul pelan dadanya, cara supaya hatinya tenang.

Shin Hyung heran, “Apa itu, apa yang kau lakukan?”

Ha Soo bilang ini untuk menghibur hati. “Jika kau melakukan ini kau akan merasa lebih baik. Lihat aku, koong koong da. Koong koong da.” Ha Soo sekali lagi menunjukan itu.

Shin Hyung mengehela nafas melihat tingkah yang menurutnya kekanak-kanakan.
Lee In Ja membersihkan papan nama suaminya yang ada di meja presdir. Young Dal sendiri duduk dengan nyamannya di kursi presdir. Ia bertanya apa istrinya ini sangat menyukai ini. In Ja menjawab tentu saja, apa suaminya tahu sudah berapa lama ia menunggu saat-saat seperti ini.
Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke ruangan presdri, Choi Shin Hyung. Ia datang membawa bunga beserta vas-nya dan bertanya harus ditaruh dimana ini. Young Dal dan In Ja kaget melihat kedatangan Shin Hyung.

Shin Hyung bersikap tenang kenapa Young Dal dan In Ja terkejut seperti itu melihat kedatangannya. Ia datang kemari untuk mengucapkan selamat pada Young Dal. Shin Hyung meletakan bunga di meja, ia menilai bunga ini lebih terlihat baik jika diletakan di meja. Young Dal mengingatkan bahwa Shin Hyung tak bisa seenaknya masuk ke ruangan ini. Shin Hyung tanya kenapa, apa ada biaya masuknya.
Shin Hyung mengambil papan namanya yang sudah dimasukan ke kardus. Ia sangat ingin tahu apa transaksi 5 milyar won yang ditemukan di mobil almarhum ayahnya itu seseorang menyuapnya dan melemparkan semuanya seperti itu. Dia (ayahnya) pasti sangat marah dituduh seperti itu, apa orang itu juga yang melakukan terhadap dokumen pengganti warisannya.

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Young Dal terbata bata.

Lee In Ja tak ingin Shin Hyung bicara macam-macam lagi. Ia memerintahkan suaminya agar memanggil polisi untuk mengusir Shin Hyung dari sini. Shin Hyung tak takut, kira-kira siapa yang akan polisi tangkap saat mereka datang. In Ja marah mendengar itu.

Shin Hyung mencibir menatap In Ja, “Di belakang suamimu, haruskah kau menjaganya agar tetap tersembunyi?” Young Dal menatap heran ke istrinya. Ia tak mengerti maksud perkataan Shin Hyung.

(yah Young Dal kan ga tahu kalau istrinya melakukan pencucian uang, dia ngirim uang buat keluarganya yang di Jerman)
Ha Soo ada di ruangan Dae Han membahas dokumen konsep yang Ha Soo pilih. Dae Han menanyakan alasan Ha Soo memilih itu. Ha Soo merasa jika proposal konsep yang warna biru ini tak ada bedanya dengan White Day, temanya sesuai dengan tema musim dingin. Tapi jika kita beralih ke Red Day, ia pikir itu akan lebih sedikit istimewa.

Dae Han : “Red Day?”
Ha Soo : “Ketika aku pertama kali pergi ke hotel, semuanya merah. Dalam ingatanku, di sekeliling hotel menjadi mewah dan hangat. Aku suka perasaan itu.”

Dae Han ingin tahu saat itu Ha Soo pergi dengan siapa, apa dengan pacara Ha Soo. Ha Soo menjawab tidak, ia pergi dengan keluarganya ketika masih kecil dan saat itu ayahnya masih hidup.
“Ah ayahmu...” Dae Han tertunduk sedih karena Ha Soo bisa memilkki kenangan bisa menikmati waktu bersama keluarga, terutama bersama ayah.

Dae Han pun setuju dengan konsep pilihan Ha Soo.
Shin Hyung berada di kafe bersama Sekretaris Sung sambil minum es. Sekretaris Sung terus menyeruput es sambil memperhatikan Shin Hyung. Shin Hyung menegurnya karena cara minum Sekretaris Sung itu kuno sekali. Sekretaris Sung berkata Shin Hyung ini memang lebih muda tapi masih saja tidak mengetahui tren, ini adalah apa yang para pemuda minum hari ini, jus jeruk.
Sekretaris Sung heran semakin ia melihat Shin Hyung semakin ia kagum. “Bagaimana mungkin orang tua menjadi seorang pemuda dalam semalam?”

“Apa maksudmu tentang kematian?” tanya Shin Hyung.

Sekretaris Sung membenarkan, “Kau akan mati. Ketika takdir seseorang datang apa kau kaya, miskin, presdir atau seorang jenius sekalipun kenyataan bahwa usia dan kematianmu itu sesuatu yang tak bisa dihindari. Dalam kasusmu, kau menjadi tua, sakit, tetapi kau membalikan arah jarum jam. Kematianmu telah berubah menjadi kehidupan.”

Shin Hyung : “Jadi?”
Sekretaris Sung : “Apa maksudmu jadi? Kenapa kau tak menggunakan kepalamu (akalmu)? Kau akan melawan hukum alam. Bukankah ada efek sampingnya? Sejak kau menjadi muda, apa ada yang sakit atau ada gejala lainnya?”

Shin Hyung mengaku dirinya kadang-kadang memiliki rasa sakit di dadanya seakan-akan seperti ada batu yang terjebak di dalamnya.

Sek Sung terkejut, “Tuh Kan. Lalu?”

Shin Hyung : “Tapi setiap kali aku sakit dan aku ada bersamanya, aku menjadi lebih baik.”

Sekretaris Sung heran siapa yang Shin Hyung maksud ‘dia’. Shin Hyung bilang kalau itu adalah Eun Ha Soo, bukankah Sekretaris Sung tahu perempuan itu, dia yang magang di hotel.
“Oh wanita yang kecil itu.” seru Sekretaris Sung.

“Hei dia itu lebih tinggi dari kau.” Shin Hyung tak terima haha.

“Trus?” Sekretaris Sung penasaran.
“Itu hal yang sama saat kita jatuh ke lubang malam itu. Dia dan aku sama-sama selamat.” Shin Hyung memegang tangan Sekretaris Sung dan itu membuat Sekretaris Sung malu. Ia tersenyum menarik tangannya, “Apa karena kau jadi lebih muda seleramu jadi berubah?” (haha)

Shin Hyung: “Kau tak memegang tanganku pada malam itu, kan?”

Sekretaris Sung tak mengingatnya karena ia keluar dari lubang. Shin Hyung pun menebak mungkin Ha Soo yang melakukannya dan menyelamatkannya. Sekretaris Sung mengingatkan bahwa pada malam itu ia lah yang menelepon 911 untuk menyelamatkan mereka malam itu. Shin Hyung tak ingin menjelaskannya lagi karena sekarang itu tak penting.
Shin Hyung meminta Sekretaris Sung melihat data yang ia bawa. Sekretaris Sung berkata bukankah ini adalah laporan penjualan dari kantor cabang di Amerika dan yang bertanggung jawab itu adik Shin Hyung. (Kemungkinan Mi Hye)

Shin Hyung mengangguk, ia heran karena penjualannya naik tapi labanya dipotong setengah. Ini jumlah yang dia tidak bisa ambil sendiri. Itu berarti dia bersekongkol dengan seseorang.

Sekretaris Sung penasaran, “Bersekongkol dengan siapa?”

Shin Hyung memanggil pelayan kafe untuk menambahkan gula ke dalam kopinya. Ia menebak kalau seseorang yang bersekongkol dengan adiknya itu kemungkinan dari pihak perusahaan, orang dalam.
Pelayan datang sambil membawa gula dan pelayan itu adalah Eun Myung Soo. Myung Soo terkejut melihat Shin Hyung ada di sini. Shin Hyung pun sama terkejut, keduanya tos.

Myung Soo menebak apa kedatangan Shin Hyung kesini untuk bertemu dengan Noonanya. Shin Hyung kaget apa Ha Soo akan datang keisni. Myung Soo mengira kalau kakaknya akan datang kesini untuk menemuinya ternyata janjian dengan Shin Hyung. Myung Soo menyenggol lengan Shin Hyung, namun tiba-tiba Shin Hyung merasakan sakit teramat sangat di dadanya.
Sekretaris Sung panik melihat Shin Hyung tiba-tiba begitu, “Presdir presdir apa yang terjadi?” ucapnya cemas.

Begitu pun dengan Myung Soo, apa karena sentuhan pelannya Shin Hyung jadi seperti ini, Myung Soo ikut panik.
Tepat saat itu Ha Soo sampai di kafe. Ia kaget begitu melihat Shin Hyung yang kesakitan seperti ketika di kedai soju. Myung Soo menghubungi ambulans menggunakan ponselnya.

Melihat Ha Soo datang,  Sekretaris Sung teringat apa yang Shin Hyung katakan. “Bisakah kau memegang tangannya?” Pinta Sekretaris Sung pada Ha Soo. Ha Soo tak mengerti apa maksudnya. Sekretaris Sung langsung meraih tangan Ha Soo dan menempatkannya di atas tangan Shin Hyung.
Shin Hyung yang semula kesakitan setengah mati dan sulit bernafas perlahan ia bisa bernafas dan sakitnya perlahan menghilang. Melihat Shin Hyung sudah tak apa-apa, Myung Soo tak jadi menelepon ambulans.

Sekretaris Sung tak menyangka ternyata benar apa yang Shin Hyung katakan tadi. Shin Hyung menoleh ke arah Ha Soo, hidupnya terselamatkan lagi.
Shin Hyung pun dibawa ke rumah Ha Soo untuk beristirahat. Sekretaris Sung berkata pada dua bersaudara Eun ini bukankah keduanya tahu bagaimana keadaan Shin Hyung, keluarganya mengusirnya dan perusahaan mengalami kekacauan, sekarang dia tak punya tempat untuk pergi. 
Hanya sampai semuanya kembali tenang dan terselesaikan, ia meminta bantuan pada keduanya.

Ha Soo sedikit tak nyaman sih dengan tinggalnya seorang pemuda di rumahnya.

Sekretaris Sung : “Siapa yang muda? Dia itu seperti orang jahat yang berumur 70 tahun.” (haaha)

“70?” Ha Soo tak mengerti.

Sekretaris Sung kaget dengan ucapannya yang barusan. Ia memukul wajahnya sendiri, “Ya ampun kenapa aku terus bingung antara dia dan almarhum ayahnya. Maaf ya, maaf ya.” Ha Soo dan Myung Soo mengangguk mengerti.

Sekretaris Sung heran kenapa Ha Soo khawatir akan kehadiran pemuda lain di rumah ini bukankah Ha Soo memiliki saudara laki-laki. Kalau Shin Hyung berbuat macam-macam bukankah Myung Soo bisa menamparnya. Myung Soo mengerti, ia bisa kok melakukannya. (haha)

Sekretaris Sung tanya apa yang sebenarnya Ha Soo khawatirkan itu uang. Jangan khawatir karena ia akan membayar uang sewa dan pelayanan yang Ha Soo berikan pada Shin Hyung. Ha Soo heran kenapa Sekretaris Sung membicarakan tentang uang, ia bukan menolak seseorang karena uang, kalau terjadi itu sungguh memalukan. Ia akan memikirkannya tapi jangan pernah mneyebut uang. Ha Soo pergi dari sana.

Sekretaris Sung tak mengerti apa yang Ha Soo katakan, “Dia mengatakan ya atau tidak?”

Myung Soo berkata kalau ia yang akan mewakili kakaknya, “apa maksudmu dengan uang yang cukup?” Sekretaris Sung berkata semua itu tak masalah. Myung Soo pun mengiyakan, menyanggupi membolehkan Shin Hyung tinggal di rumahnya.
Ha Soo ternyata berada di kamar dimana Shin Hyung terbaring. Ia mebersihkan wajah Shin Hyung menggunakan handuk kecil. Merasakan sentuhan lembut itu membuat Shin Hyung membuka matanya.
Ha Soo tanya apa Shin Hyung belum tidur. Ia bertanya lagi apa Shin Hyung benar-benar tak memiliki tempat untuk tinggal. Dengan wajah memelas Shin Hyung mengangguk (haha. Lucu ekspresi wajahnya) Ha Soo pun akhirnya setuju Shin Hyung tinggal di rumahnya.
Ha Soo dan Shin Hyung duduk di tangga jalan depan rumah. Sekretaris Sung dan Myung Soo melihatnya. Sekretaris Sung heran kenapa dua orang itu ada di luar, bukankah sangat dingin. Ia pun meminta Myung Soo untuk merawat Shin Hyung. Myung Soo tersenyum Sekretaris Sung tak usah khawatir. Sekretaris Sung pulang dan Myung Soo kembali ke dalam rumah.
Ha Soo masih cemas akan kesehatan Shin Hyung, apa Shin Hyung yakin tak perlu pergi ke dokter. Shin Hyung bilang tak apa-apa, ia sudah lebih baik.

Ha Soo merasa senang Shin Hyung ada disini. “Kau bisa tinggal disini untuk saat ini, menarik diri bersama-sama dan bertahan disana.”

Shin Hyung bekata dalam hati, “Bagaimana aku bisa mendengar sesuatu yang seperti itu darimu.”

Ha Soo : “Kau tahu, itulah hidup. Setiap kali kau terjatuh, kau akan menemukan sesuatu di tanah.”

“Dalam kasusku, aku menemukan sosis di tanah.” Shin Hyung kembali berkata dalam hati. (haha)
Ha Soo berharap Shin Hyung jangan takut, “Kau bahkan belum memulai menjalani hidupmu sepenuhnya.”

“Apa maksudmu belum mulai. Aku telah sepenuhnya menjalani kehidupanku.” Ucap lagi Shin Hyung dalam hati.”

“Jadi, kau jangan putus asa.” Ha Soo menyemangati, ia memberi contoh dirinya. Ia yang tak pernah putus asa akhirnya bisa mengakhiri kerja paruh waktunya dan memulai pekerjaan yang sebenarnya. Ya walaupun ia merasa dirinya terlambat dibandingkan orang lain, dan itu memang membuatnya takut. Tapi jika ia terus menjalani hidup sepenuhnya, suatu saat nanti ia akan berada di atas.

Shin Hyung : “Lebih penting untuk melakukannya dengan baik daripada hanya bekerja keras. Kerja keras hanya menyumbang, semua orang juga bekerja keras. Menjalani kehidupan yang lebih baik adalah sesuatu yang penting.”

Ha Soo tanya apa artinya, “apa dengan memiliki banyak uang? atau tinggal di rumah yang mewah?”
Shin Hyung terdiam.

Ha Soo : “Bukankah menjalani hidup dengan sehat dan bahagia bersama keluarga yang penuh kasih sayang adalah hidup yang baik?”

Shin Hyung tak ingin membahasnya lebih jauh, ia mengajak Ha Soo ke dalam rumah. Ha Soo bergumam heran, apa tadi ia mengatakan sesuatu yang salah kenapa Shin Hyung jadi begitu.
Shin Hyung tidur sekamar dengan Myung Soo. Namun malam ini matanya tak juga terpejam. “Ini benar-benar menakjubkan. Bagaimana rasa sakit ini menghilang setiap kali aku bersama Eun Ha Soo? Dan ada apa dengan rasa sakit ini? apakah ini efek samping karena menjadi muda kembali?”
Keesokan harinya, Ha Soo terkejut begitu melihat Shin Hyung sudah bangun dan berada di dapur. Ia bertanya apa yang Shin Hyung lakukan. Shin Hyung yang kaget karena tiba-tiba mendengar suara Ha Soo berkata kalau dirinya lagi minum haha.
Ha Soo juga akan mengambil minum tapi bersamaan dengan Shin Hyung yang akan mengambil air minum lagi, hehe barengan gitu. Keduanya jadi canggung. Shin Hyung bilang ia akan minum sedikit lebih banyak. Ha Soo tersenyum dan menuangkan air minum ke gelas Shin Hyung.
Ketika Ha Soo tengah menatap layar laptop, Shin Hyung bertanya apa Ha Soo sedang sibuk. Ha Soo menjawab kalau ia sedikit sibuk. Shin Hyung yang melihat itu berkata sepertinya Ha Soo sedang merencanakan Festival akhir tahun. Ha Soo membenarkan, ini pertama kalinya ia merencakanan sesuatu seperti ini sejak ia mendapatkan pekerjaan di hotel. Ia menilai ini sangat sulit.

Shin Hyung duduk di samping Ha Soo, “Di Eropa, ada permainan ini dimana anak muda memecahkan buah tomat dan saling melamparkanya selama satu jam. Pada hari itu mereka melepaskan stres dari kehidupan sehari-hari mereka. Mereka membiarkan stres mereka keluar dan melupakan kemarahan mereka pada hari itu.”

“Tomat?” Ha Soo terkesan, ia menyukai ide itu. Di depannya ada setumpuk buah tomat segar. Ia harus mencari ide itu selengkapnya di internet.
Shin Hyung ikut melihat ke layar laptop, Ha Soo menoleh karena wajah Shin Hyung begitu dekat dengan wajahnya. Keduanya saling bertatapan. Shin Hyung langsung memundurkan tubuhnya dan berkata kamar mandi ada di sebelah sana kan? Aku harus ke kamar mandi. (hehe)
Keluar dari kamar mandi Shin Hyung tak mendapati Ha Soo di ruangan depan. Ia celingukan, kemana si Ha Soo, kok udah ga ada.

“Apa yang kau cari?” tiba-tiba Ha Soo muncul di belakang Shin Hyung dan mengagetkannya.

Melihat Ha Soo sudah memakai jaket Shin Hyung bertanya apa Ha Soo akan pergi ke suatu tempat. Ha Soo bilang ibu meminta dirinya membeli pancake kacang hijau. Shin Hyung tahu tempat yang terkenal menjual pancake kacang hijau. Ha Soo tanya dimana. Shin Hyung bilang tempat itu tidak begitu jauh sih, tapi cukup jauh juga. Ha Soo mengusulkan keduanya bisa naik sepeda kesana.
Ya naik sepeda tapi Shin Hyung ga bisa mengayuhnya, dia yang mbonceng. Ha Soo heran pria macam apa Shin Hyung ini yang tak bisa mengendarai sepeda. Shin Hyung bilang ia bisa kalau ia ingin, hanya saja itu sudah sangat lama. Ha Soo berjanji akan mengajarkan Shin Hyung mengendarai sepeda. Shin Hyung bilang tak perlu sebagai gantinya lebih baik Ha Soo mengajarkan padanya bagaimana mengirim pesan (chat gitu) Ha Soo menilai Shin Hyung ini sangat kuno karena tak bisa mengirim pesan haha.

Ha Soo meminta Shin Hyung berpegangan erat-erat, ia pun ngebut haha. Shin Hyung memeluk erat pinggang Ha Soo, “Jangan cepat-cepat.” Teriaknya.
Keduanya sampai di tempat penjual pancake kacang hijau. Ha Soo membenarkan pancake ini rasanya enak. Shin Hyung berkata bukankah ia sudah bilang tempat ini yang terbaik. Ha Soo ingin tahu sudah berapa lama Shin Hyung mengetahui tempat yang menjual pancake ini. Spontan Shin Hyung menjawab tiga puluh tahun dan itu membuat Ha Soo terkejut campur heran. Shin Hyung langsung meralat sudah sekitar tiga atau empat tahun. Ia melihat sekeliling dan berkata tempat ini sudah banyak berubah.
Ha Soo berkata kalau ibunya sudah terlalu lama bekerja. Shin Hyung tak mengerti apa maksudnya. Ha Soo berkata kalau ia sedang membicarakan toko jahit ibunya yang dulu dikelola ayahnya. Ibunya tak bisa menutup toko itu meskipun hasilnya tidak begitu banyak mendapatkan uang.

“Itulah kenapa kau harus menjadi orang yang berhasil.” seru Shin Hyung.

Ha Soo berkata jika ada sesuatu yang ingin Shin Hyung makan beritahukan saja padanya. Ia akan membuat beberapa lauk pauk. Shin Hyung tersenyum senang, apa Ha Soo akan membuatnya.
Ha Soo berterima kasih, ia mengira Woo Young yang membawakannya minuman namun itu Gi Chan. Gi Chan mendengar Ha Soo sibuk bekerja untuk musim baru dengan direktur Choi Dae Han. Ha Soo membenarkan. Gi Chan berkata itu baik sih bagi Ha Soo namun ia mengingatkan agar Ha Soo berhati-hati terhadap Dae Han, jangan pernah bekerja dengan Dae Han semalaman.
“Apa alasannya?” tiba-tiba Woo Young yang baru datang bertanya.

Gi Chan mengatakan kalau Dae Han terkenal seperti itu. Woo Young bertanya apa dulu Dae Han terlibat dalam beberapa masalah dengan karyawan wanita. Gi Chan belum melihatnya sendiri sih, tapi ia sudah mendengar rumornya, yang pasti ia sarankan Ha Soo untuk berhati-hati saja.
Setelah Gi Chan pergi Woo Young bertanya-tanya memangnya berhati-hati untuk apa, bukankah ini akan meyenangkan bisa terlibat dengan anak seorang Presdir. Ha Soo tertawa tipis, ia sama sekali tak pernah berpikir Dae Han akan melakukan itu.
Tiba-tiba orang yang dimaksud datang. Ha Soo yang menoleh langsung siaga. Haha. Dae Han tersenyum menatapnya.
Keduanya berada di dalam mobil, Dae Han mengajak Ha Soo ke suatu tempat. Walaupun semula ia tak pernah berpikir Dae Han akan macam-macam terhadapnya namun ucapan Gi Chan membuatnya was-was juga. Ia sih berusaha menepis pikiran itu.

Ha Soo tanya ia dan Dae Han ini akan kemana. Dae Han berkata kalau ia dan Ha Soo akan menuju tempat terpencil dimana orang-orang tak mengetahuinya. Ha Soo tanya lagi dimana itu. Dae Han bilang ada sebuah tempat penyimpanan. Ha Soo mulai cemas, apa maksud Dae Han dengan tempat penyimpanan.

Dae Han balik bertanya Ha Soo bisa minum kan. Ha Soo kaget, minum? Ia melihat jalan, kemana sebenarnya Dae Han akan membawanya. Ia mulai cemas.
Keduanya sampai disebuah tempat, Dae Han turun dulu dari mobil sedangkan Ha Soo pikirannya mulai macam-macam, ia cemas. Ia terkejut begitu Dae Han mengetuk jendela kaca mobil dan membukakan pintu mobil, “kenapa kau tak keluar?”

Ha Soo yang keluar dari mobil melihat sekeliling tempat itu, sebuah gedung yang lumayan besar. Dae Han membuka pintu gedung itu. Ia menolah menatap Ha Soo, wajah Ha Soo langsung berubah tegang.
Dae Han masuk ke dalam gedung yang gelap. Ha Soo mengekor di belakangnya, ia sangat cemas apalagi ruangan itu gelap. Ia hampir saja jatuh ketika menuruni tangga. Dae Han mengulurkan tangan menawarkan membantu namun Ha Soo yang takut Dae Han berbuat macam-macam menolaknya.
Dae Han menyalakan lampu sebuah ruangan. Ha Soo terkejut itu adalah ruangan penyimpanan wine. Ini seperti sebuah bar mini. Dae Han mengambil salah satu wine dan berkata Ha Soo akan terkejut jika mengetahui harga wine-wine disini, harganya sangat mahal sekali.
Ha Soo menanyakan alasan ia dan Dae Han ke tempat ini, untuk apa. Dae Han tak ingin mendengar pertanyaan itu, tak bisakah Ha Soo tak menanyakan itu. Kita datang kesini untuk memilih anggur merah untuk mempersiapkan Red Day. Ia pikir ia dan Ha Soo bisa mendapatkan beberapa sampel wine untuk acara itu. Ha Soo bernafas lega ternyata untuk itu Dae Han mengajaknya kesini.
Dae Han tanya apa Ha Soo biasanya seberani ini. Ia menabak pasti ada beberapa rumor yang buruk tentangnya di tempat kerja. Ha Soo berusaha bersikap tenang bukankah ini pekerjaan. Alasan Ha Soo ini tidak serta merta membuat Dae Han merasa baik atau buruk. Ha Soo tersenyum.
Shin Hyung tak bisa tidur karena Ha Soo belum pulang. Ia berdiri di depan rumah menunggu Ha Soo. Ia melihat jam di ponselnya, waktu sudah menunjukan pukul 12.55 dini hari. Ia cemas kenapa Ha Soo belum juga pulang. Ia ingin mengirim pesan namun tak bisa melakukannya. (ya telepon donk >_<)

Shin Hyung berjalan mondar-mandir bahkan untuk menghilangkan udara dingin yang menusuk ia lari-lari kecil. Ia juga duduk berpindah-pindah untuk menghilangkan kejenuhan.

Karena tak juga pulang Shin Hyung akan menelepon Ha Soo, tapi tak jadi. Ia marah, cemas karena Ha Soo tak kunjung pulang. Untuk mengusir kegelisahannya ini ia teringat akan apa yang Ha Soo ajarkan padanya supaya hati menjadi tenang.
Shin Hyung mulai memukul-mukul dadanya, “Kooong koong da. Koong koong da.” Awalnya sih pelan namun lama-kelamaan suaranya semakin keras hingga membuat Woo Young dan Myung Soo terbangun karena kaget. Woo Young kesal apa sih yang dilakukan Shin Hyun malam-malam begini. Apa Shin Hyung sedang berolahraga di tengah malam.
Semakin lama Shin Hyung semakin keras memukul-mukul dadanya, ia marah karena ini tak berhasil membuat hatinya tenang. Dadanya malah sakit dipukuli sendiri. Shin Hyung pun menelepon Ha Soo namun tak dijawab. Shin Hyung pun tambah cemas dan kesal sekali.

Ia pun sekali lagi memukul-mukul dadanya sambil lari-lari dan muter-muter. Tapi itu malah membuatnya marah, “apa ini? apa melakukan ini membuatku merasa labih baik? Kebohongan apa itu, ini tak berhasil.”
Dae Han mengantar Ha Soo pulang, ia akan mengantar sampai rumah. Tapi Ha Soo melarang dan bilang tak apa-apa sampai disini saja dan sebaiknya Dae Han langsung pulang. Dae Han berkata bagaimana Ha Soo bilang tidak apa-apa, karena perempuan jalan sendiri malam-malam itu menakutkan. Ha Soo bilang rumahnya sudah dekat jadi silakan Dae Han pulang. Ha Soo langsung lari, Dae Han pun kembali ke mobil.
Dae Han menggerutu, “aku ini menawarkan untuk menemanimu pulang.” Ia melihat ada map yang berisi konsep Red Day, “ah kenapa dia melupakan ini.” Dae Han pun keluar lagi untuk mengantarkan itu pada Ha Soo.
Shin Hyung masih duduk di depan rumah, melihat kedatangan Ha Soo ia pun akhirnya tenanng, apa yang membuat Ha Soo pulang begitu lama. Ha Soo bilang ia bekerja, ia heran kenapa Shin Hyung ada di luar rumah. Shin Hyung berbohong ia keluar untuk mencari udara segar. Ha Soo tambah heran udara segar bagaimana, kan dingin begini.
Dae Han melihat mereka berdua, ia tentu saja terkejut kenapa Shin Hyung ada disini.

Shin Hyung mengingatkan Ha Soo, tak aman bagi seorang wanita sendirian di luar di malam hari. Ha Soo mengerti jadi Shin Hyung tak perlu cerewet. Shin Hyung tanya apa Ha Soo sudah makan, Ha Soo menjawab sudah. Shin Hyung tanya lagi dengan siapa Ha Soo makan. Ha Soo kesal karena Shin Hyung cerewet sekali. Keduanya pun masuk rumah.

Dae Han yang terkejut benar-benar heran bagaimana Shin Hyung bisa berada disini, di rumahnya Ha Soo.
Dae Han sampai di kamarnya, untuk mengusir rasa penasaran ia pun menghubungi Ha Soo. Shin Hyung yang melihat ada panggilan di ponsel Ha Soo ingin melihatnya dari siapa itu namun Ha Soo secepat mngkin mengambil ponselnya.

Ha Soo menjawabnya, Dae Han memberi tahu kalau tadi Ha Soo meninggalkan dokumen di mobil. Ia akan membawakan itu pada Ha Soo besok. Ha Soo minta maaf karena sudah kelupaan.

“Berikan remote-nya!” seru Shin Hyung meminta remote pada Myung Soo yang lagi tiduran. “Berikan remotenya!” bentak Shin Hyung membuat Myung Soo berjingkat kaget. “Kenapa kau menonton acara TV seperti itu?”
Ha Soo yang tengah menelepon terganggu dengan teriakan Shin Hyung, ia memberi kode agar Shin Hyung diam supaya Dae Han tak tahu bahwa Shin Hyung disini namun ocehan Shin Hyung semakin keras saja membuat Ha Soo semakin kesal.
Shin Hyung tertawa-tawa melihat tayangan di TV, bahkan ia sampai menendang-nendang dan menjambak Myung Soo haha.
Untuk memastikan Dae Han bertanya Ha Soo tinggal dengan siapa. Belum sempat dijawab Ha Soo, Dae Han pun menyudahi teleponnya. Ha Soo menatap jengkel Shin Hyung yang berisik sekali.

Shin Hyung terdiam begitu Ha Soo selesai menelepon. “Dengan siapa kau bicara malam-malam begini?”

“Kau tak perlu tahu.” sahut Ha Soo. “Apa kau harus bicara sekeras itu?” Ha Soo yang jengkel pergi ke kamarnya.

Shin Hyung juga kesal, ia melempar remote ke Myung Soo yang tidur. Myung Soo ikutan sewot kenapa Shin Hyung melemparkan itu padanya mengganggu tidurnya saja.
Shin Hyung masuk ke kamar, ia tak mengerti dengan dirinya. Kenapa ia jadi seperti ini, ada apa dengannya, ia berdiri menatap dirinya di depan cermin. Ia menilai apa yang dilakukannya ini sungguh salah. Ia tak boleh memiliki parasaan seperti ini.
Ketika Shin Hyung melihat pantulan dirinya di cermin, ia melihat wajah tuanya.

Bersambung ke episode 7

Ya Shin Hyung pun sama sudah jatuh hati ke Ha Soo. Ketika Ha Soo tak ada ia cemas, gelisah dan begitu khawatir. Ia pun sepertinya menyadari bahwa perasaan ini tak boleh terus berkembang di hatinya.

Kenapa ketika Shin Hyung merasakan sakit di dadanya dan ketika dipegang Ha Soo langsung sembuh, hmm itu mungkin karena Ha Soo yang menyimpan permata kalung Dae Han. Sepertinya permata itu juga batu meteor. Mungkin dulu juga ada hujan meteor terus Dae Han mendapatkan itu dari ibunya, sebagai kenang-kenangan. Makanya ketika dia kehilangan kalung itu dia marah sekali.

Ok gantian ya cemburunya, kemarin Shin Hyung yang ngeliat kebersamaan Ha Soo dengan Dae Han sekarang gantian Dae Han yang ngeliat kebersamaan Ha Soo n Shin Hyung. Hah, apa bakal ada persaingan cinta antara bapak n anak.


Yi Gun ini benar-benar musuh dalam selimut. Ah semoga saja Ji Yoon tidak.

2 comments:

  1. yaik!! keluar juga lanjutannya...drama nie ngingetin q sm drmaanyaa choi jin hyuk... ngelit SH yg balik ke tuaaaa laagi jd makin taambaah bikin penasaaraaan...akankah traansformaaasinya bs dikendaaliin?? gmn reaksi org2 liat oraang maati idup laagiii... wewhh

    ReplyDelete
  2. bingung mau komen apa makin seru Mr Back nya,,,, lanjutkan mbak Fighting y ...



    Ofie yg selalu hadir isi absen hehehe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...