Saturday, 22 November 2014

Sinopsis Mr Back Episode 4 Part 1

Apa yang sebenarnya terjadi ?

Di tepi tebing tergeletak pakaian dan sepatu milik Choi Go Bong. Di samping pakaian itu ada pula selembar kertas yang ditindih batu, catatan bunuh diri.


Mr Back Episode 4
Di kantor polisi, pakaian Presdir Cho Go Bong sudah dibawa kesana sebagai barang bukti. Sekretaris Sung berada di kantor polisi. Ia menangis dan terus-menerus membentur-benturkan kepalanya ke meja. Ia membela diri bahwa dirinya tak kenal dengan Choi Shin Hyung. Ia benar-benar berpikir bahwa Choi Shin Hyung itu pengantar makanan dari restoran China.
Detektif bertanya jadi Sekretaris Sung bilang orang yang masuk ke ruang cctv itu meminta pekerjaan dan Sekretaris Sung membantunya. Sekretaris Sung membenarkan, berapa kali lagi Detektif harus menanyakan itu padanya. Jika ia menerima uang dari Choi Shin Hyung, itu akan membuatnya terlihat seperti bajingan. Ia tak memiliki apapun untuk dikatakan lagi. Ia sendiri benar-benar tertipu oleh Choi Shin Hyung. Sekretaris Sung terus menangis, apa yang dilakukannya disini ketika Presdir Choi baru saja meninggal.
Dae Han datang ke kantor polisi bersama Ji Yoon dan Yi Gun. Sekretaris Sung yang masih menangis memeluk mereka satu persatu, ia sedih sekali. Ia tak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi, sulit baginya untuk mempercayai bahwa Presdir Choi sudah meninggal.
Ji Yoon meminta Sekretaris Sung tenang, tapi dalam keadaan begini bagaimana Sekretaris Sung bisa tenang ketika dirinya dituduh merupakan kaki tangan dari seseorang yang dicurigai membunuh Presdir Choi.  Ia menilai ini tuduhan yang omong kosong. Ia sudah bekerja untuk Presdir Choi selama 30 tahun. Ia sudah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Presdir Choi jadi tak mungkin ia melakukan hal sekeji itu.

Sekretaris Sung menangis memeluk sepatu Presdir Choi. Dae Han menilai kematian ayahnya ini sungguh tak masuk akal.
Yi Gun mengerti bagaimana perasaan Sekretaris Sung. Ia akan mewakili Sekretaris Sung, jadi tak usah khawatir. Ia percaya pada Sekretaris Sung tak akan bertindak seperti itu, itu sebabnya ia, Dae Han dan Ji Yoon berada disini untuk Sekretaris Sung. Sekretaris Sung yang menangis berkata memang seharusnya Yi Gun percaya padanya, bukankah Yi Gun juga tahu betapa kerasnya ia bekerja untuk Presdir Choi selama bertahun-tahun bahkan semua orang juga tahu.
Detektif bertanya pada Dae Han, apa Dae Han putra Presdir Choi Go Bong. Dae Han yang masih shock mengetahui ayahnya meninggal membenarkan bahwa ia putra Choi Go Bong. Detektif mengatakan polisi masih mencari tubuh Presdir Choi tapi ia menyadari ini tidak akan mudah. Bunuh dirinya sendiri belum bisa dikonfirmasi, tapi sidik jarinya sudah diidentifikasi dan itu sesuai dengan sidik jari Presdir Choi Go Bong. Namun Detektif juga tak bisa mengesampingkan kemungkinan Presdir Choi didorong seseorang di tebing. Tapi di lokasi kejadian tak ditemukan sidik jari orang lain. Maka untuk sekarang mereka bisa membawa Sekretaris Sung pulang.
Sekretaris Sung terus menangis, tapi ya tangis pura-pura. Ia tahu persis apa yang terjadi, Choi Go Bong belum meninggal.

Dae Han begitu terpukul kehilangan ayahnya, air matanya menetes.
Ha Soo duduk menyendiri mengenang Presdir Choi Go Bong. Ia mengingat pertama kali dirinya bertemu pria tua itu di Silver Town. Ia tak menyangka hidup pria tua itu akan berakhir dengan cara seperti ini.

“Jika aku tahu akan jadi seperti ini, aku seharusnya bersikap lebih baik padanya di Silver Town.” sesal Ha Soo dalam hati.
Saudara-saudara Choi Go Bong berkumpul di rumah. Mereka menangis melihat berita tentang kematian Presdir Choi.

In Ja sungguh menyayangkan tindakan yang diambil Presdir Choi untuk mengakhiri hidup, “Bahkan jika dia dipaksa oleh penyelidik polisi bagaimana dia bisa berpikir untuk mengambil jalan seperti ini?”
Mi Hye kesal, “Eonni, apa kau tidak tahu orang seperti apa dia. Dia itu tidak akan pernah melakukan sesuatu seperti ini. Opppaaaa....” tangis Mi Hye.
Young Dal meminta Mi Hye jangan menangis terus, bukankah tubuh Presdir Choi belum ditemukan, jadi kematian apa ini, ini hanya spekulasi. In Ja membenarkan, mungkin saja Presdir Choi masih hidup, jadi kita tak boleh kehilangan harapan. Mi Hye tambah menangis, ia minta kakak iparnya ini jangan memebrikan harapan yang palsu, karena itu akan membuatnya tambah sedih.
Young Dal menyenggol istrinya, ia mencibir Mi Hye yang menangis. Ia tahu pasti kalau tangisan Mi Hye ini pasti pura-pura.
Dae Han dan Ji Yoon sampai di rumah. Dae Han mematikan tayangan televisi yang memberitakan kematian ayahnya yang katanya bunuh diri. Ji Yoon memberi tahu semuanya bahwa catatan bunuh diri sudah dikonfirmasi dan benar itu tulisan Presdir Choi. Ia sudah membawa salinannya.
Mi Hye yang masih menangis memeluk Dae Han. Sebagai Tantenya Dae Han, mulai sekarang ia akan bertindak selaku orang tua bagi Dae Han. Sebagai Om-nya Dae Han juga, Young Dal tak mau ketinggalan mencari perhatian, ia menilai Mi Hye itu terlalu sibuk dengan kehidupan sendiri jadi tak akan bisa mengurus Dae Han. Bukankah Dae Han masih memiliki dirinya. In Ja membenarkan ucapan suaminya, ia akan memperlakukan Dae Han seperti putranya sendiri.

Dae Han tak merespon ucapan mereka. Ia meminta Ji Yoon membacakan catatan bunuh diri ayahnya. Young Dal dan yang lainnya langsung duduk siap mendengarkan. (semangat banget)
Ji Yoon mulai membacakan catatan bunuh diri Presdir Choi, “Semuanya dengarkan. Terlambat untuk bertaubat setelah kematian orang tuamu. Terlambat untuk menyesal jika kau jauh dari keluargamu. Sebuah keluarga bahagia membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Jangan biarkan rintangan apapun menghentikanmu untuk mencapai impianmu. Lakukan apa yang perlu kalian lakukan sambil menunggu panggilan dari atas.”
“Tunggu sebentar...” sela Mi Hye, “apa catatannya terus seperti itu?” tanya Mi Hye aneh karena catatan itu seperti sebuah perumpamaan bukan pesan yang ditinggalkan. Ji Yoon menjawab tidak, karena ada yang selanjutnya jadi harap didengarkan.

Ji Yoon melanjutkan, “Dalam hal apapun aku sudah tua dan tidak akan hidup lebih lama lagi. Aku akan membawa semua kesalahan dan mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini. Aku harap kalian melepaskan aku pergi.
Aku meninggal dalam keadaan yang mencurigakan jadi jangan berpikir tentang otopsi atau menyumbangkan tubuhku untuk ilmu pengetahuan. Aku harap kalian tidak akan menambahkan nyeri di tubuh tua dan rapuh ini. Tidak jari, tidak pula rambut. Aku meminta pada kalian untuk tidak melakukan apapun pada tubuhku sebagai keinginan terakhirku. Aku tidak ingin menjadi pendonor organ tubuh. Aku ingin membawa tubuhku persis seperti ini. Aku harap kalian mengingatnya.

Dan tentang warisan dan perusahaan itu ada di bagian belakang. Aku berharap tidak akan ada perkelahian atau perdebatan yang tak berguna diantara anggota keluarga karena hal ini. Aku sekarang akan mengakhiri hidupku dan jatuh ke dalam tidur nyenyakku. Kalian semua.......”
Ji Yoon berhenti membaca. Mereka penasaran apa selanjutnya. Ji Yoon yang tak kuasa menahan tangisnya mengatakan kalau itu kalimat dibagian akhir dari catatan yang ditemukan, catatan selanjutnya kemungkinan hilang tertiup angin dan polisi belum menemukannya.

Young Dal menggebrak meja, ia marah sekali. (jih kok marah, apa saking penasaran siapa yang dapet warisan gitu)
Dae Han yang menangis tak ingin mempercayai apapun sampai tubuh ayahnya ditemukan. Jadi jangan pernah berpikir untuk melakukan pemakaman terhadap ayahnya.

Young Dal kembali menangis pura-pura, “Aigoo Hyung-nim...”

“Oppa...” Mi Hye juga ikutan nangis.

(Halah nih dua saudara palsu nangisnya. Nyebelin hahaha)
Di malam hari, Sekretaris Sung bersama Dokter Kim mendatangi sebuah rumah. Keduanya menemui Choi Shin Hyung.

Di tempat persembunyiannya ini Shin Hyung siap memberikan dua batang emas pada Dokter Kim sebagai imbalan. Dokter Kim tanya apa Shin Hyung benar-benar mengharapkannya untuk mempercayai Shin Hyung. Shin Hyung berkata apa lagi yang bisa ia katakan ia sendiri juga sulit mempercayainya. Jika Dokter Kim percaya maka dua batang emas itu akan menjadi miliki Dokter Kim dan bahkan jika Dokter Kim tak percaya, ia akan tetap membiarkan dua batang emas itu menjadi milik Dokter Kim. Dokter Kim terus menatap dua batang emas yang ada di depannya.
Shin Hyung ingin melihat apa yang Dokter Kim bawa. Dokter Kim pun memperlihatkan apa yang dibawanya. Ia membawa sebuah botol kecil berisi cairan, “ini obat yang sangat berbahaya.” jelas Dokter Kim. Ia meminta Shin Hyung menyelesaikan semuanya dalam waktu 20 menit. Jika tidak maka Shin Hyung benar-benar bisa mati. “Kau akan mati dan aku akan masuk penjara.” Sekretaris Sung mengingatkan bagaimana bisa Dokter Kim bicara seperti itu di depan Presdir Choi.

Shin Hyung mengambil botol kecil berisi cairan itu dari tangan dokter kim. Ia mengira-ngira, sepertinya 20 menit itu cukup.
Shin Hyung beralih bertanya pada Sekretaris Sung apa sudah menyiapkan keperluan lainnya. Sekretaris Sung membuka kotak yang dibawanya, isinya rambut palsu putih. Ia memakai rambut palsu itu, “ini sample, lalu make up artis terbaik dari akan datang.”

“Takdirku tergantung pada kalian berdua.” ucap Shin Hyung tajam.
Sekretaris Sung yang tegang mengangguk mengerti. Dokter Kim menunduk cemas. Shin Hyung mengeluarkan tiga batang emas lagi, jadi ia akan memberikan 5 batang emas pada Dokter Kim.
“Presdir, lalu bagaimana denganku?” tanya Sekretaris Sung. Shin Hyung mendelik, Sekretaris Sung langsung diam.

Shin Hyung bertanya pada Dokter Kim, “Bagaimana? Pertimbangkan ini sebagai pesangon karena sudah menjadi dokter pribadiku selama 10 tahun.” Dokter Kim terus menatap 5 batang emas yang ada di depannya, ia pun mengerti dan siap melakukannya.

Shin Hyung mengingatkan Dokter Kim harus menghidupkannya kembali setelah 20 menit. Dokter Kim dengan tegas menjawab kesanggupannya. Sekretaris Sung meminta Shin Hyung jangan khawatir karena Shin Hyung juga memiliki dirinya.
Shin Hyung menatap tajam botol berisi cairan berbahaya yang akan membuatnya terlihat seperti orang meninggal selama 20 menit.
Ha Soo sampai di toko jahit ibunya. Ia membawa beberapa gulungan kain. Ia melihat ibunya tengah merapikan sebuah jas pesanan. Ia bertanya apa ibunya punya banyak pelanggan.
Ibu berkata apa Ha Soo tahu betapa istimewanya jas ini. “Yang memesan jas ini adalah orang tua ini,” ibu menunjukan foto Presdir Choi Go Bong di koran. Ha Soo penasaran, “siapa? Apa dia seseorang yang terkenal?” Ha Soo terkejut ketika melihat foto yang ditunjuk ibunya adalah Presdir Choi.

Ibu mengatakan beberapa hari yang lalu Presdir Choi ingin mengambil foto jadi dia datang untuk mencoba jas-nya. “Ketika dia masih muda, terkadang dia datang kesini. Aku tak bisa mengenalinya ketika dia sudah menjadi tua. Bukankah kau bekerja di perusahannya?” Ha Soo membenarkan.

Ibu menghela nafas panjang karena sekarang Presdir Choi tak bisa mengambil jasnya. Ia sendiri tak tahu apa yang akan ia lakukan dengan jas ini.
Yoo Nan Hee membantu Gong Gi Chan membagikan majalah bulanan pada para pegawai. Namun ketika tiba di depan Ha Soo, Gi Chan tersenyum memberikan majalah itu sendiri. Hehe. Gi Chan menilai suasana di hotel sekarang berubah jadi muram setelah adanya kabar Presdir Choi meninggal karena bunuh diri.
Direktur Jung Yi Gun menghampiri mereka. Ia tahu kalau para pegawai pasti gelisah dan sedikit bingung tentang berita Presdir Choi. Ia memastikan kalau semuanya akan baik-baik saja, jadi tak usah khawatir dan teruslah bekerja dengan baik. Mereka mengerti.
Yi Gun melihat ada sesuatu di baju Woo Young. Ia dengan gaya cool-nya mengambil sedikit kotoran di baju Woo Young. Woo Young terpana melihat perhatian Yi Gun. Yi Gun tersenyum pada mereka berharap hari mereka menyenangkan. Ia pun pergi dengan gaya cool-nya membuat Woo Young semakin terpesona. (hahaha)

Woo Young memuji Yi Gun sebagai pria yang tampan. “Bagaimana dia bisa memahami karyawannya dengan baik? Dia begitu berbeda denngan Direktur Choi. Bukankah kau berpikir begitu?” tanyanya pada Ha Soo.
Ha Soo membuka majalah yang ia terima. Di dalam majalah tertulis artikel mengenai kunjungan Presdir Choi ke Silver Town. Itu adalah saat dimana ia pertama kali bertemu dengan Presdir Choi Go Bong.
Yi Gun masuk ke ruangan Ji Yoon. Ia melihat Ji Yoon menerima telepon dan mencoba mengklarifikasi tentang kematian Presdir Choi, “catatan bunuh dirinya memang ditulis dengan tulisan tangan sendiri tapi itu masih spekulasi. Kami tidak akan mengakui kematiannya. Aku harap kau tidak akan menarik kesimpulan begitu cepat tanpa ada tubuhnya. Jadi cabut kembali artikelnya.”

Yi Gun menyajikan makanan yang dibawanya untuk Ji Yoon. Ia meminta Ji Yoon makan terlebih dulu, kalau tidak Ji Yoon bisa sakit. Ji Yoon berterima kasih namun ia tak nafsu makan, ia minta maaf karena Yi Gun sudah repot-repot menyiapkan itu untuknya.

Yi Gun meminta Ji Yoon bersikap tenang. “Apakah kau tahu betapa sulitnya kau sudah bekerja untuk Daehan? Membungkuk di belakang untuk menyenangkan suasana hati pria tua itu.”

Ji Yoon menegaskan bahwa ia akan tetap membantu Direktur Choi Dae Han untuk memimpin perusahaan Daehan di masa depan. Pasti itu juga yang diinginkan Presdir Choi.

Yi Gun terkejut, “Choi Dae Han? apa dengan memberikan harapan yang akan bermanfaat bagi perusahaan ini.”
Ji Yoon akan keluar dari ruangannya namun langkahnya terhenti ketika Yi Gun mengingtkan dirinya untuk memikirkan kembali. Ia dan Ji Yoon tak punya banyak waktu. Dengan kepercayaan yang dimiliki Ji Yoon, ia dan Ji Yoon bisa melakukan ini bersama-sama. Ji Yoon diam saja dan keluar dari ruangannya.
Dae Han mendatangi tebing dimana ayahnya melakukan bunuh diri. Tempat itu sudah dipasang garis polisi. Ia berdiri disana mengenang masa kecilnya. Ia menangis.

Flashback
Dae Han kecil berdiri di depan TV menirukan nyanyian yang ada di TV. Ibunya ada disana memberikan tepuk tangan untuknya. Ibu memuji nyanyiannya. Ibu mengajak Dae Han menunjukan nyanyian itu pada ayah ketika ayah pulang nanti. Tapi Dae Han tidak mau. Ibu tanya kenapa.
Dae Han : “Dia bekerja sepanjang waktu dan dia hanya mencintai uang. Dia tidak mau bermain denganku.”

Ibu memeluk Dae Han berusaha memberikan pengertian bahwa yang ayah Dae Han lakukan itu karena dia ingin membelikan Dae Han mainan yang banyak dan menyekolahkan Dae Han di sekolah yang bagus.

Dae Han membuang mainan yang ada di meja, “aku tak butuh mainan. Aku suka digendong ayah. Tapi dia terus saja bicara tentang uang. Aku benci itu.”
Dae Han membongkar semua celengannya. Ia memasukkan semua uang celengannya ke dalam plastik.
Ketika ayahnya akan pergi bekerja Dae Han menyerahkan uang celengan itu pada ayahnya. Choi Go Bong heran apa yang Dae Han lakukan ini. Dae Han bilang ayahnya mendapatkan uang segitu dalam satu hari. Choi Go Bong tanya siapa yang bilang begitu. Dae Han menjawab ibunya yang bilang. Dae Han harap uang celengannya itu cukup untuk ayahnya supaya bisa mengambil hari libur dan bermain dengannya.

Choi Go Bong jengkel dengan tingkah putranya, “Kau ini seperti orang bodoh saja.” Ia membentak istrinya, “apa kau yang mengajarinya?” Ia menyerahkan sekantong uang celengan itu pada istrinya dan pergi bekerja.

Dae Han terdiam sedih.

Flashback end
Dae Han mengangis tersedu-sedu mengingat masa lalunya yang begitu sulit bersama dengan ayahnya. Sejak kecil ia merindukan kebersamnan dengan ayahnya. Namun sekarang ia harus mendapati kenyataan bahwa ayahnya sudah pergi untuk selama-lamanya. Hikshiks...
Ternyata bukan hanya Dae Han saja yang mendatangi tempat itu, Ha Soo juga sampai disana. Ha Soo menghampiri Dae Han. Melihat ada orang lain yang datang, Dae Han mengusap air matanya.

Dae Han tanya apa yang lakukan ditempat ini. Ha Soo berkata kalau ia hanya ingin mampir kesini sebelum pulang karena ada yang sedikit mengganggu pikirannya. Dae Han heran kenapa Ha Soo melewati jalan ini. Ia berpesan agar Ha Soo segera pulang sebelum malam tiba. Ia akan pergi lebih dulu.
Belum jauh Dae Han pergi, ponselnya berdering. Telepon dari Ji Yoon yang mengabarkan bahwa tubuh ayahnya sudah ditemukan. Pupus sudah harapan Dae Han yang  berharap ayahnya ditemukan dalam keadaan hidup.
Young Dal dan istrinya sampai di depan rumah sakit. Mi Hye yang juga sampai disana memanggilnya. Mi Hye heran kenapa kakak tertuanya ada disini. Young Dal mengatakan ia mendapatkan telepon dari Dokter Kim untuk memastikan apa benar itu tubuh kakaknya. In Ja tanya bagaimana kalau itu benar-benar tubuh Presdir Choi Go Bong. Mi Hye merasa lebih baik cepat menemukan tubuh kakaknya daripada nanti. Ketiganya pun bergegas masuk.
Ji Yoon dan Yi Gun pun sampai disana. Dae Han bahkan Ha Soo juga ada.

Dokter Kim membuka kain penutup yang menutupi tubuh Presdir Choi. Keluarga diminta mengidentifikasi tubuh korban apa benar itu Presdir Choi. Dae Han terkejut melihat tubuh yang terbujur kaku itu benar ayahnya.
Young Dal menangis, “Hyung-nim bagaimana ini bisa terjadi?”

In Ja pun turut menangis, “Bagaimana anda bisa mengambil keputusan seperti ini?”
“Oppaaa... apa yang harus kita lakukan tanpa dirimu?” tangis  Mi Hye yang air matanya menetes di atas wajah Presdir Choi.
Melihat itu Sekretaris Sung dan Dokter Kim cemas takut make up wajah Shin Hyung luntur. Sekretaris Sung langsung menutupi wajah Presdir Choi dengan memeluknya dan menangis. Ia mengusap pelan air mata yang tadi menetes di wajah Presdir. Ia yang menangis memberi kode pada Dokter agar cepat mengatakan sesuatu supaya mereka lekas pergi.
Dokter Kim berkata jika keluarga sudah memastikan bahwa ini benar tubuh Presdir Choi maka ia akan menempatkannya kembali. Mi Hye meminta tunggu sebentar dan berkata pada Dae Han bukankah mereka seharusnya melakukan otopsi.

Sekretaris Sung tersentak kaget. Yi Gun heran kenapa Sekretaris Sung kaget begitu. Sekretaris Sung pun kemudian menangis. Young Dal berkata bukankah dalam catatan bunuh dirinya Presdir Choi menginginkan tubuhnya tak diotopsi. Ia mengedipkan mata ke arah Mi Hye.
Dokter Kim merasa identifikasi tubuh korban ini sudah cukup. Tapi Mi Hye ingin memegang tangan kakaknya untuk yang terakhir kalinya. Ketika Mi Hye akan membuka kain penutup, Sekretaris Sung kembali menangis dan memeluk tubuh Presdir Choi untuk menghalangi Mi Hye. Ia kembali memberi kode pada Dokter agar mengatakan sesuatu yang melarang mereka memegang tubuh Presdir.

Dokter memberi tahu kalau tubuh Presdir Choi sudah dimandikan, jadi ia menyarankan pada mereka untuk tak menyentuh tangannya. Sekretaris Sung melihat ponsel, waktu sudah berjalan selama 16 menit. Ia cemas apalagi Lee In Ja ingin melihat wajah Presdir lebih lama lagi. Sekretaris Sung menyahut sambil menangis bisakah kita membiarkan beliau pergi ke tempat yang lebih baik sekarang. Mereka pun mengerti, Sekretaris Sung mengajak mereka meninggalkan tempat itu.
Dae Han duduk menyendiri dengan tatapan kosong. Ia begitu sedih dan terpukul ayahnya benar-benar telah pergi meninggalkannya. Ha Soo duduk di sebelahnya, “Apa kau baik-baik saja?” tanya Ha Soo.

“Bagaimana jika tidak?” ucap Dae Han lirih.

Bagi Ha Soo kematian Presdir Choi mengingatkan dirinya ketika ayahnya meninggal. “Tentang Presdir Choi, aku pikir dia sangat kesepian. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya di Silver Town, dia tampaknya tak tahu bagaimana bergaul dengan orang lain disana. Dimataku dia hanya seperti orang tua lainnya.”

Dae Han : “Dia tak punya waktu untuk merasa kesepian. Dia terlalu sibuk mencari uang.”

Ha Soo tahu ini pasti sulit bagi Dae Han tapi ia harap Hae Han menemukan kedamaian setelah kepergian Presdir Choi. Ha Soo permisi pulang.
Dokter Kim dan Sekretaris Sung berusaha sekuat tenaga mengambalikan Choi Shin Hyung untuk hidup kembali. Tapi Shin Hyung tak juga bernafas ataupun jantungnya berdetak. Sekretaris Sung menangis cemas Presdirnya akan benar-benar meninggal karena ini sudah lewat dari 25 menit.
Dokter Kim terus berusaha. Hingga pada akhirnya mata Shin Hyung kembali terbuka. Ia terbatuk-batuk dan bangun. “Apa kalian mencoba membunuhku?” bentak Shin Hyung.

Dokter Kim dan Sekretaris Sung berpelukan saking senangnya presdir mereka kembali hidup. Shin Hyung yang masih marah melempar Sekretaris Sung dengan sesuatu hahaha.
Pihak keluarga pun siap melakukan pemakaman untuk Presdir Choi. Banyak tamu yang datang melayat, diantaranya adalah dewan direksi perusahaan. Mereka turut berduka cita. Wajah Young Dal pinter banget menujukkan kesedihannya. Mereka mengantar tamu keluar kecuali Dae Han yang tetap berdiri dengan perasaan sedih.
Young Dal berkata pelan berterima kasih pada dewan direksi yang sudah datang. Direksi mengatakan dengan meninggalnya Presdir Choi maka Young Dal harus mengambil langkah untuk menggantikan posisi Presdir. Ia menoleh pada Dae Han dan menilai putra Presdir Choi itu tak tahu apa-apa mengenai perusahaan jadi Dae Han tak akan berhasil.

Young Dal berkata ia pun terpaksa akan melakukan itu, ia mungkin harus maju sebagai Presdir Daehan dan mengambil tanggung jawab itu. Ia sangat menghargai dukungan direksi.
In Ja berjanji, ia dan suaminya akan melakukan yang terbaik bagi perusahaan. Jadi ia harap mereka mendukung suaminya.
Mi Hye minta ijin pada dewan direksi itu bisakah ia bicara nanti. Ada sesuatu yang ingin ia diskusikan.
Setelah tamu pergi In Ja menarik Mi Hye, apa yang akan Mi Hye bahas dengan mereka, bukankah Mi Hye bilang akan mendukung suaminya. Mi Hye menyahut tentu saja, In Ja tak perlu mengkhawatirkan itu.
Mi Hye bertanya apa catatan bunuh diri Presdir Choi belum ditemukan juga. In Ja menjawab belum, ia tak tahu dengan pasti apa halaman selanjutnya itu ada. Young Dal berkata lirih ia sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari, jadi ia harap keduanya sedikit bersabar. Ketiganya langsung memasang wajah sedih begitu melihat pelayat datang.
Sekretaris Sung ngos-ngosan karena harus menaiki tangga untuk menemui Shin Hyung. Ia memberi tahu kalau semuanya sudah selesai. Shin Hyung tanya apa yang Sekretaris Sung masukan ke dalam peti mati. Sekretaris Sung bilang ia memasukan kayu, tulang ayam dan semacamnya ke dalam peti mati, ia hampir mempertaruhkan hidupnya melakukan ini. “Tak bisakah aku memiliki beberapa batang emas juga?”

Sssshhhh... Shin Hyung mendelik, “Bukankah aku sudah bilang aku akan memastikan kau akan diperhatikan untuk sisa hidupmu ini?”

Shin Hyung tanya lagi bagaimana dengan persiapakan peristirahatannya. Sekretaris Sung berkata semuanya akan siap besok. Shin Hyung mengerti, ia menepuk pundak Sekretaris Sung dan berkata Sekretaris Sung sudah melakukan pekerjaan bagus, sekarang percayakan semua padanya.
Dae Han yang begitu kehilangan ayahnya, berjalan dengan langkah gontai sambil membawa foto ayahnya. Mereka siap membawa abu Presdir Choi menuju tempat peristirahatan. Isak tangis mengiringi langkah mereka.
Shin Hyung melihat dari jauh, “Jadi seperti itukah Choi Go Bong meninggalkan dunia ini? Sungguh kehidupan yang tidak jelas.” Mata Shin Hyung berkaca-kaca, “Choi Go Bong, selamat tinggal. Beristirahatlah dalam damai.”
Setelah mereka pergi Woo Young bertanya pada Ha Soo apa Shin Hyung tak menghubungi Ha Soo. Ha Soo menjawab tidak. Woo Young pun pergi lebih dulu.

Ha Soo mencoba menelepon Shin Hyung. Shin Hyung yang berdiri tak jauh dari sana melihat layar ponselnya, panggilan telepon dari si Galaxy Eun Ha Soo. Ia terkejut campur heran untuk apa Ha Soo meneleponnya. Karena tak dijawab Ha Soo pun pergi dari sana.

Shin Hyung yang heran bertanya-tanya, “Kenapa dia meneleponku? Apa yang akan dia katakan pada Choi Shin Hyung?”
Keesokan harinya, reporter mengerumuni Dae Han yang baru keluar dari gedung. Mereka mengatakan ada rumor krisis mengenai manajemen perusahaan Daehan, mereka meminta pendapat Dae Han, apakah pengganti Presdir Choi Go Bong sudah diputuskan. Apakah saudara Choi Go Bong yang bernama Choi Young Dal yang menggantikannya.
Ji Yoon selaku perwakilan perusahaan mengatakan kalau pihak perusahaan akan membuat pernyataan resmi didepan para reporter setelah pertemuan dewan direksi pekan ini.

Reporter kembali bertanya apa mungkin ada pihak ketiga yang mengambil alih. Sekretaris Sung meminta reporter menyudahi pertanyaan mereka. Ia mempersilakan Dae Han dan Ji Yoon masuk ke mobil. Reporter terus memberondong mereka dengan berbagai pertanyaan.
Di dalam mobil, Ji Yoon menyadari semuanya menjadi sulit sejak kematian Presdir Choi tapi Dae Han harus segera membuat keputusan. Dae Han meminta Ji Yoon saja yang membuat keputusan itu. Tapi menurut Ji Yoon itu bukanlah wewenangnya, mengambil keputusan apalagi keputusan penting, bukanlah sesuatu yang bisa ia lakukan. Dae Han menyahut kalau begitu biarkan direksi yang mengambil keputusan. Ji Yoon tanya apa Dae Han yakin tak mau mengambil alih manajemen. Dae Han menjawab tak mau.

(Kelihatan ya kalau Dae Han bukan seseorang yang ambisius)
Dae Han masuk ke kamar ayahnya. Ia menuangkan minuman di altar ayahnya. Ia tahu ayahnya sangat menyukai minuman ini tapi tak bisa menikmatinya ketika masih hidup.
Dae Han membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ada sms masuk di ponselnya. Sms yang memberitahukan bahwa akan ada pertemuan mendesak untuk memutuskan penerus Daehan grup. Dae Han menarik nafas dalam-dalam, dari sudut matanya menetes air matanya.
Young Dal memanggil Jung Yi Gun untuk menemuinya di sauna. Yi Gun tanya apa ada yang bisa ia bantu, kenapa Young Dal memanggilnya. Young Dal tanya sudah berapa lama Yi Gun bekerja di perusahaan Daehan. Yi Gun menjawab sudah sepuluh tahun.
Young Dal terkesan dalam sepuluh tahun Yi Gun sudah menjadi direktur. Ketika semua orang menentang proyek konstruksi di Pulau jeju, ia tahu Yi Gun lah yang mendorong Presdir Choi melakukannya dan perusahaan kita mencapai tingkat keberhasilan. “Kau lebih dari seorang anak untuk Presdir Choi Go Bong.”

Yi Gun tersenyum ia merasa tersanjung atas ucapan Young Dal. Ia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan. Young Dal mengerti itu namun ia mengingatkan bukan saatnya bagi Yi Gun untuk menjadi seseorang yang ambisuis. Yi Gun tanya apa maksudnya.

Young Dal : “Siapa menurutmu yang akan mengontrol perusahaan Daehan sekarang? Apa sekarang kau ingin bekerja untukku?”
Yi Gun berterima kasih ia menghargai tawaran Young Dal tapi ia sudah nyaman dengan posisinya di perusahaan. “Namun katakan saja jika anda memerlukan bantuanku.”
Yi Gun akan pergi, ia berpesan Young Dal jangan disini terlalu lama. “Anda harus memikirkan usia anda sekarang.” Yi Gun permisi, Young Dal menahan jengkel mendengar ucapan Yi Gun yang sok itu.

Bersambung ke part 2

Wah keren ya rencana kematian yang benar-benar dipersiapkan dengan baik. Tinggal menunggu langkah Shin Hyung selanjutnya.

Sedih lihat Dae Han pas nangis di tepi tebing saat dia mengingat masa kecilnya. Ia benar-benar ingin merasakan belaian kasih sayang ayahnya. Saat kecil ia bahkan rela membeli waktu ayahnya dengan uang celenagnnya. Ah ya ampun sedih banget itu.


Apa hubungan antara Ji Yoon dan Yi Gun? Apa keduanya sengaja masuk ke perusahaan Daehan untuk menghancurkan Choi Go Bong? Apakah ada dendam? Apa mungkin niat awal Ji Yoon itu demikian namun seiring berjalannya waktu ia berubah pikiran setelah sekian lama bersama Presdir Choi. Apa mungkin ia menyukai Dae Han?

2 comments:

  1. Tisu mana Tisu hiks hiks hiks Choi Dae Han sedih banget sampek nangis lho aku, g nyangka keren banget Joon,,, Dae Han emang sepertinya g seperti ayahnya yg menyukai uang,,,scene flashbackya bener2 dech bikin sedih,,,,
    Fighting ya mbak recapnya !!!!




    Ofie

    ReplyDelete
  2. Hiks hiks :'( saya nangis waktu liat Dae Han nangis, kasian liatnya.. Ternyata dia begitu menyayangi ayahnya :'(

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...