Wednesday, 26 November 2014

Sinopsis Mr Back Episode 5 Part 2

Dengan hadirnya Choi Shin Hyung di rumah, saudara-saudara Presdir Choi pun jadi was-was. Mi Hye ingin tahu apa yang akan Dae Han lakukan sekarang, apa Dae Han akan membiarkan Shin Hyung tinggal di rumah ini.


Young Dal berkata saat ini mereka tak ada pilihan lain selain membiarkan Shin Hyung tinggal. In Ja mengatakan kalau kita harus merencanakan sesuatu, kita tak boleh tinggal diam dan duduk saja seperti ini.

Pelayan Yoon melapor memberi tahu Shin Hyung terus meminta untuk dibawakan sesuatu ke kamar, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Mi Hye tanya apa yang Shin Hyung minta. Pelayan yoon berkata kalau Shin Hyung meminta teh hijau, jus bawang putih, jus mugwort, seleranya sama persis seperti almarhum Presdir Choi. Nn Yum menambahkan bahkan sekarang Shin Hyung menekan bel yang sering Presdir Choi tekan.

Terdengar suara bel, dan itu membuat Dae Han marah.
Dae Han masuk ke kamar Shin Hyung mengambil bel itu. Ia memperingatkan Shin Hyung agar jangan lagi menekan bel ini. Shin Hyung yang tengah membaca menanyakan alasan kenapa Dae Han melarangnya. Dae Han berkata itu karena sangat berisik. Shin Hyung menanggapinya santai bukankah Dae Han sudah terbiasa dengan itu selama bertahun-tahun. Ia menyuruh Dae Han meletakan kembali bel itu ke meja.

Dae Han malah menjatuhkan bel ke lantai dan menginjaknya kuat-kuat hingga bel itu rusak.
Shin Hyung mencoba bersikap sabar melihat apa yang Dae Han lakukan, “ini jelas rumahku dan kamarku. Kau harus berterima kasih padaku karena aku tak menendangmu keluar dari rumah ini.”

“Ashhhh...” Dae Han marah sekali.

Shin Hyung : “Almahum ayah kita mengatakan kalau adikku itu pemarah. Ternyata dia benar.”
Dae Han yang menatap marah matanya berkaca-kaca, “Almarhum ayah kita? Bagaimana kau bisa memanggilnya seperti itu setelah kau pergi ditinggalkannya? Apa dia tidak peduli tentang kematian ibuku karena keluargamu? Apa kau tahu kenapa ibuku meninggal? ayah kita yang hebat itu yang membunuhnya.”

Shin Hyung terkejut terdiam.
Air mata Dae Han menetes, “Dia terlalu sibuk mencari uang, jadi dia tidak peduli. Dia bahkan tidak tahu ketika ibu sakit. Dia tidak tahu apakah ibu pergi ke dokter atau tidak. Apa kau ingin kuberi tahu, hal apa yang paling menyedihkan dalam hidupmu? Kenyataan bahwa Choi Go Bong adalah ayahmu, itu adalah sebuah kemalangan.”
Shin Hyung kaget mendengar perkataan itu dari mulut Dae Han sendiri. “Keluar!” Shin Hyung menyuruh Dae Han keluar dari kamarnya. Dae Han diam saja menatapnya. “Keluar!” Sekali lagi Shin Hyung menyuruh Dae Han keluar, namun Dae Han tetap diam saja.

“KELUAR...!” Shin Hyung berteriak menyuruh Dae Han keluar dari kamarnya.
Shin Hyung duduk melamun di bangku depan rumah. Ia mengingat apa yang Dae Han katakan tadi di kamar.
Sekretaris Sung melihat Shin Hyung duduk sendirian di luar. Ia yang kedinginan duduk di samping Shin Hyung. Shin Hyung menoleh padanya. Sekretaris Sung langsung tahu diri dan segera berdiri, “apa kau sedang mengkhawatirkan sesuatu?” tanya Sekretaris Sung.
Shin Hyung tak menjawab ia malah bertanya apa yang terjadi dengan hal yang ia perintahkan pada Sekretaris Sung untuk memeriksanya. Sekretaris Sung menjelaskan ditengah situasi harga saham yang terpuruk ternyata ada orang yang membeli saham. Shin Hyung memerintahkan Sekretaris Sung untuk mencari tahu siapa yang membeli saham itu. Sekretaris Sung mengerti ia akan mencari tahu. Ia bertanya memangnya apa yang akan Shin Hyung lakukan.

Shin Hyung berkata ada orang yang menginginkan Daehan, orang biasanya akan menjual saham mereka ketika harga saham turun. Seseorang sedang mencoba untuk menunggu dan mengambil alih perusahaan. Orang itu cepat atau lambat akan muncul.

Sekretaris Sung sedikit khawatir bagaimana jika harga saham terus turun dan kita tak bisa mendapatkan saham itu kembali.
“Tentu saja kau yang harus merawatku, bertanggung jawab untukku. Kau harus melakukannya.” ucapnya sambil menendang-nendang Sekretaris Sung. “Memangnya siapa lagi yang akan bertanggung jawab untukku, hah?” (hahaha)
Dae Han menggerutu kesal, “Bagaimana aku bisa hidup dengan pria itu di rumah yang sama?” Ia pun membalikan foto ayahnya dan pergi tidur.
Ketika Shin Hyung merebahkan tubuhnya, ia hampir menindih kacamata dan permen mint yang ia simpan di saku jaketnya. Ia teringat ucapan Ha Soo padanya bahwa Ha Soo tak memiliki hak mengatakan sesuatu pada Shin Hyung ataupaun Dae Han dan sekarang sepertinya Dae Han sedang mengalami kesulitan. Shin Hyung bertanya-tanya apakah ia begitu keterlaluan.
Ada pesan masuk di ponsel Shin Hyung. Pesan dari Ha Soo (Ha Soo ngirim chat nih ceritanya hehe)

Aku bahkan tak bisa tidur karena ini sangat tidak adil.

Memang benar aku pergi berbelanja dengan Direktur Choi

Dia tidak mengatakan apapun jadi kupikir itu tentang pekerjaan.

Aku harap kau jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Shin Hyung terdiam membaca pesan yang Ha Soo kirimkan. Ia nampak berpikir, apa dirinya sudah salah menuduh yang tidak-tidak.

Ha Soo gelisah karena tak mendapatkan balasan pesan dari Shin Hyung. Ia melihat pesan yang dikirimnya ini dibaca oleh Shin Hyung. Ia pun mengirim pesan lagi.

Kenapa kau tak menjawabnya jika kau sudah membacanya?
Shin Hyung terkejut bagaimana Ha Soo bisa tahu kalau ia sudah membaca pesan Ha Soo (haha nih kakek katro). Ia celingukan melihat sekeliling kamarnya, apa ada kamera pengintainya gitu, kok Ha Soo bisa tahu ia sudah baca pesannya.
Karena ga begitu ahli menggunakan smartphone, jadi Shin Hyung mencoba membalas pesannya tapi lama banget ngetiknya, ga tahu deh ngetik apaan. Sampai Ha Soo pun ngirim pesan lagi.

Apa kau pikir aku yang membujuknya untuk pergi berbelanja?
Shin Hyung kesal sendiri dengan tulisan yang ia ketik dan ia kirim ke Ha Soo. Kok ia nulis gitu ya. Ha Soo juga bingung apa maksud balasan pesan dari Shin Hyung ini. Ia pun membalas pesan menggunakan emot, gambar orang bingung gitu [confused] Shin Hyung terkejut ternyata ngirim pesannya bisa pake gambar juga.
Shin Hyung pun mencoba damak-dumuk mencari gambar juga, ketemu. Shin Hyung seneng banget berasa kayak anak-anak nemu mainan baru. Ia pun milih-milih gambarnya. Ia asal memasukan gambar ke pesan yang dikirim ke Ha Soo. Jadilah gambar orang marah-marah hahaha. (ini pake aplikasi chat apa ya?)

Ha Soo mengira Shin Hyung beneran marah padanya.

Aku mengerti, aku tak akan mengirim pesan padamu lagi.
Shin Hyung mewek-mewek bukan begitu maksudnya hahaha. Ia bingung sendiri karena ga bisa menggunakan smartphone ini. Ia bingung apa yang harus dilakukannya. Akhirnya ia melempar tubuhnya ke kasur hahaha.
Melalui Sekretaris Sung, Shin Hyung meminta Ha Soo menemuinya disebuah kedai. Ha Soo menanyakan alasan Shin Hyung memintanya datang kesini. Shin Hyung tak tahu menjelaskannya bagaimana, ia menyadari kalau kemarin ia sudah melakukan kesalahan. Ha Soo tanya apa tentang pesan itu. Shin Hyung membenarkan, ia tak sengaja menulis pesan itu dan salah mengetiknya.
Shin Hyung kemudian mengusulkan bagaimana kalau ia dan Ha Soo makan lebih dulu. Ha Soo bilang ia sudah makan sebenarnya apa yang ingin Shin Hyung bicarakan dengannya. Shin Hyung benar-benar bingung, ia menoleh ke arah Sekretaris Sung yang duduk di meja sebelah. Sekretaris Sung memberi kode.

Shin Hyung berkata kalau ia tak mengambil kesimpulan seperti itu tentang Ha Soo dan Dae Han. Ha Soo tanya apa itu sebabnya Shin Hyung mengajaknya kesini. Shin Hyung membenarkan. Ha Soo heran bukankah Shin Hyung bisa mengirimkan pesan saja padanya, tak perlu repot-repot begini.

Tapi Shin Hyung kan ga bisa ngirim pesan di chat haha. Ia kembali menoleh pada Sekretaris Sung. Sekretaris Sung memberikan kode padanya lagi. Shin Hyung berkata dengan mengajak Ha Soo kesini mungkin ia bisa makan bersama-sama dengan Ha Soo.
Ha Soo minta ijin bisakah ia mengatakan sesuatu. Shin Hyung membolehkan, apa itu. Ha Soo mengerti Shin Hyung harus mengambil alih posisi Presdir tapi apakah Shin Hyung tahu betapa sulitnya bagi kami para karyawan jika Shin Hyung cerewet seperti itu.

Shin Hyung kaget, cerewet? Ha Soo mengatakan kalau ia dan rekan kerjanya dimarahi oleh atasan tanpa mengetahui apa yang terjadi. Shin Hyung berubah bingung, kau dimarahi.

Ha Soo : “Hanya karena aku bekerja di perusahaan Daehan, aku mendapat makian diluar tempat kerja. Kau boleh mengatakan aku untuk berhenti jika itu terlalu kasar tapi orang-orang seperti kita sangat menderita berhenti dari pekerjaan paruh waktu dan tidak dibayar apa-apa. Ketika kami berpikir tentang sewa, biaya hidup, dan biaya tak terduga, kebanyakan dari kita adalah salah satu yang harus menderita seperti itu. Kau tak tahu akan hal itu, kan?”

Shin Hyung menarik nafas mendengar keluhan Ha Soo sebagai seorang pekerja yang pernah kerja paruh waktu.

Ha Soo tak tahu alasan Shin Hyung mencoba mencari uang dari kecelakaan itu. Ia tahu kalau Shin Hyung bahkan tak segan-segan menuntut siapapun yang menginginkan uang itu kan. Shin Hyung tanya lalu siapa yang Ha Soo pikir pemilik sah uang itu. Ha Soo tak peduli itu dana gelap Presdir Choi atau bukan, “apakah uang memiliki pemilik yang jelas?”
Shin Hyung tak mengerti maksud Ha Soo bukankah itu sudah jelas. “Kau adalah pemilik uang yang sudah kau peroleh.” Ha Soo tak yakin dengan pendapat Shin Hyung, apa benar begitu. Ia permisi pergi karena harus melanjutkan pekerjaannya.
Young Dal, In Ja dan Mi Hye mengundang Shin Hyung ditempat mereka, mengundang untuk menyambut kedatangan Shin Hyung begitu. Shin Hyung sebenarnya malas namun ia ikut bersulang juga.

In Ja berkata setelah sesuatunya berubah seperti ini ia harap Shin Hyung bisa mempermudah menjalin hubungan dengannya. Mi Hye setuju, “ah bagaimana kau bisa terlihat begitu mirip dengan kakakku? Kau sangat tampan.” puji Mi Hye.

Young Dal berkata bahwa apa yang ia katakan ini tidak melebih-lebihkan, tapi perlu Shin Hyung ketahui kami bertiga (Young Dal, In Ja, Mi Hye) yang telah membangun Daehan.
Shin Hyung menatap mereka dengan tatapan sinis, ia juga berpikir begitu. In Ja tersenyum bagaimana Shin Hyung bisa berkata sesinis itu pada paman sendiri.

Shin Hyung berkata kalau ayahnya menceritakan tentang In Ja padanya. “Setelah kau memohon dan menanngis, dia memberikan uang padamu untuk bisnismu. Tapi pada akhirnya kau menggunakan uang itu untuk mengirim anak-anakmu ke perguruan tinggi.”

In Ja terdiam, “Ah jadi almarhum Presdir choi tahu tentang itu ya.” Mi Hye menyindir kalau In Ja itu tak pernah melewatkan hari untuk mendapatkan uang.

Shin Hyung berkata ayahnya juga menceritakan tentang Mi Hye padanya, “Kau tidak belajar, jadi dia menyuruhmu untuk belajar di luar negeri. Tapi kau akhirnya menghancurkan kantor cabang di New York. Kau sudah menyia-nyakakan bangunan di Nonhyung-dong dan departemen store. Dia menentang pernikahamu, kemudian suamimu menipumu untuk keluar dari biaya pajak dan bercerai denganmu.”

Mi Hye berusaha tertawa ia tak menyangka Shin Hyung tahu tentang itu juga, ia merasa Shin Hyung tak perlu tahu tentang itu secara rinci. In Ja dan Young Dal tersenyum mencibir Mi Hye.

Young Dal kemudian mengingatkan bukankah sekarang mereka ini satu keluarga. Sudah tak ada rahasia lagi diantara mereka. Ia pun mengajak Shin Hyung kembali minum.
Mi Hye menelepon Yoo Nan Hee, bukankah ketika bertemu tadi siang ia sudah mengatakannya, ini tentang Presdir Choi Shin Hyung, “kami sekarang sedang merayakan kedatangannya ke perusahaan. Apa kau ingin datang untuk menyapanya?”
Shin Hyung berada disebuah kamar dalam keadaan setengah sadar karena mabuk. Kepalanya pusing, ia mengingat-ingat apa yang terjadi. Hmm ternyata mereka memaksanya minum banyak dan mencampur salah satu gelasnya dengan obat tidur.
Shin Hyung yang bertelanjang dada memanggil Sekretaris Sung. Ia mengambil ponselnya, karena tak bisa melihat dengan jelas layar di ponsel ia pun salah menelepon orang, bukan Sekretaris Sung yang ia telepon melainkan Ha Soo.
Ha Soo yang menjawab telepon dari Shin Hyung heran kenapa nada bicara Shin Hyung seperti itu. Ia benar-benar tak mengerti apa maksudnya. “Apa dia memintaku untuk membantunya?”
Diseberang gedung ada seorang pria yang menyiapkan kamera siap memotret apa yang dilakukan Shin Hyung di kamar itu.
Karena undangan dari Mi Hye, Nan Hee pun sampai di kamar dimana Shin Hyung berada. Ia melihat sekeliling kamar itu sepi. Ia membawa keranjang yang isinya bunga dan wine.

Nan Hee menyalakan lampu kamar dimana Shin Hyung terkapar. Pria yang akan memotret pun telah siap. Nan Hee terkejut begitu melihat Shin Hyung tidur bertelanjang dana. Ia berteriak dan menjatuhkan bunga yang dibawanya. Ia menutupi wajahnya, malu.

Namun tak lama kemudian ia malah tersenyum karena berada satu kamar dengan Shin Hyung. Ia heran kemana anggota keluarga Shin Hyung pergi. Ia mendekati tempat tidur  untuk mengecek apa Shin Hyung benar-benar tidur atau tidak.
Nan Hee memberanikan diri akan mencium Shin Hyung yang tak sadar itu. Namun tak jadi karena malu. Ia melepas jaketnya dan merapikan bunga dan wine yang tadi jatuh.
Shin Hyung perlahan membuka matanya dan melihat ada seorang wanita disana. Ia kaget sekali, siapa wanita itu. Ia segera mengambil pakaian, sepatu dan ponselnya. Ia berteriak ketakutan lari dari sana. Nan Hee yang terkejut juga ikutan berteriak.
Ha Soo berlarian di luar kamar mencari keberadaan Shin Hyung. Ia bertabrakan dengan Shin Hyung yang lari sambil berteriak. Kalung milik Dae Han yang Shin Hyung bawa jatuh ke lantai. Tas Ha Soo juga jatuh ke lantai hingga isinya berhamburan. Ha Soo heran, siapa itu. Ia merapikan isi tasnya dan tanpa ia sadari kalung itu masuk tersimpan ke dalam tasnya.
“Presdir...” teriak Nan Hee berlari keluar sambil membawa bunga dan wine. Ia terkejut begitu melihat Ha Soo ada disana. Begitupun dengan Ha Soo yang sama terkejutnya melihat Nan Hee. Ha Soo pun akhirnya tahu yang tadi lari itu Choi Shin Hyung.
Keesokan harinya, ketika berpapasan dengan Ha Soo, Nan Hee menjelaskan bahwa kejadian semalam itu hanya salah paham, ia datang kesana karena keluarga Choi Shin Hyung yang mengundangnya. Ia harap Ha Soo tak berpikiran yang macam-macam. Ha Soo mengerti.
Sekretaris Sung memberikan obat penghilang mabuk pada Shin Hyung. Ia heran kenapa Shin Hyung bau alkohol sekali, “Janhan minum terlalu banyak. 70 tahun itu tidaklah muda, kau tahu kan? Tapi tunggu, kau kan lebih muda ya.” (haha)
Shin Hyung tanya apa Sekretaris Sung menemukan sesuatu. Sekretaris Sung menunjukan apa yang ditemukannya, “Jika kau melihat ini, pada hari setelah kecelakaan di lubang dan hari kau meminta uang kembali, ada puncak dalam penjualan saham.

“Ketika semua orang mencoba menjual saham, seseorang mulai membelinya.” Shin Hyung  bertanya-tanya siapa seseorang yang melakukan itu.

Sekretaris Sung berkata seseoang yang membeli 30% saham kita pada waktu itu ada di Jerman. Shin Hyung terkejut.
Jung Yi Gun mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Presdir. Yi Gun memberikan daftar nama-nama yang ia temukan siapa saja yang membeli saham berdasarkan sumber uang dan transaksinya.

Shin Hyung tertawa ia pun akhirnya tahu siapa orangnya, ternyata yang melakukan permainan ini masih kerabat jauhnya. “Nama Lee Min Woo disini, dia itu adiknya Lee In Ja.” Sekretaris Sung terkejut, jadi yang melakukan ini Direktur Lee In Ja.
Yi Gun tanya dana yang digunakan untuk Silver Town apa ada hubungannya juga dengan Lee In Ja. Shin Hyung berkata Lee In Ja sedang mentransfer dana ke keluarganya di Jerman. Sekretaris Sung menilai Lee In Ja ini sangat menakutkan. Shin Hyung menyuruh Sekretaris Sung mengawasi Lee In Ja mulai sekarang. Ia juga meminta Yi Gun melaporkan padanya setiap dana dari Lee In Ja. (apa ini yang dinamakan pencucian uang ya?)
Shin Hyung akan masuk ke lift, di dalam lift sudah ada Young Dal. Young Dal terkejut melihat Shin Hyung, Shin Hyung tersenyum sinis dan masuk ke dalam lift.

Young Dal tanya apa Shin Hyung masih mabuk. “Karena kau bagian dari keluarga kami dan kau anak kakakku, aku tak bisa berpura-pura tak mengenalmu. Jika ada apa-apa, katakan padaku.”

Shin Hyung bersuara keras, “haruskah begitu?”

Young Dal terkejut mendengarnya, ia mengingatkan di perusahaan keduanya memiliki jabatan masing-masing jadi ia akan menjaga nada bicaranya dengan Shin Hyung disini. Shin Hyung tak peduli lakukan saja apa yang menyenangkan bagi Young Dal.

Shin Hyung bertanya apa Young Dal tahu apa yang dilakukan mertua Young Dal sampai hari ini. Young Dal heran kenapa Shin Hyung menanyakan perihal mertuanya, ia tak yakin tak ada kabar dari mertuanya dan itu adalah kabar bagusnya karena mereka harus melakukannya dengan baik. Kenapa tiba-tiba Shin Hyung menanyakan itu.

Shin Hyung tanya lagi apa Young Dal tahu bagaimana dana Silver Town digunakan. Young Dal berkata istrinya lah yang bertanggung jawab terhadap dana itu, ia heran bukankah ia tadi bertanya pada Shin Hyung kenapa menanyakan itu padanya.

Pintu lift terbuka, Shin Hyung keluar lebih dulu. Ia menoleh, “kita itu cenderung mengabaikan apa yang tepat berada di bawah hidung kita.” Young Dal tak mengerti apa yang Shin Hyung katakan.
Shin Hyung menemui Ha Soo yang tengah duduk beristirahat sambil minum. Shin Hyung juga bawa minuman, yoghurt. Ha Soo heran melihat Shin Hyung ada disana. Shin Hyung tersenyum menunjukan yoghurt yang dibawanya dan mengatakan kalau ia sedang tak baik jadi yang ia minum ini hehe. (Dalam pikiran Ha Soo mungkin ngomong #GaNanya gitu haha)
Shin Hyung duduk disebelah Ha Soo. Keduanya nyedot minuman masing-masing. Shin Hyung bertanya-tanya apa mungkin ia melakukan kesalahan lagi. Ia mengakui kalau semalam ia salah menekan nomor. Ia ingin menelepon Ha Soo tapi waktunya tidak tepat, ini salah paham. Ha Soo bilang tidak apa-apa, Shin Hyung tak harus menjelaskan itu. Shin Hyung terkejut dengan sikap Ha Soo yang tak mempermasalahkan itu.
Ha Soo mengatakan almarhum Presdir Choi pernah memecatnya sekali karena melakukan hal yang sama (salah paham) dan pada saat itu hari pertamanya kerja. Ia benar-benar mengerti bagaimana perasaan Shin Hyung. Shin Hyung senang Ha Soo bisa memahaminya.

Ha Soo kemudian bertanya apa Shin Hyung sudah mengumpulkan semua uang yang ditemukan di dalam mobil dalam kecelakaan itu. Shin Hyung menjawab belum. Ha Soo penasaran kenapa Shin Hyung mencoba melakukan itu dengan keras, karena itu membuat Shin Hyung banyak mendapatkan kritikan.
Shin Hyung tahu itu tapi ia melakukannya karena memiliki alasan tersendiri. “Seperti yang kau bilang, mungkin tidak ada pemilik untuk uang itu. Tapi karena itu adalah uang yang bertahun-tahun aku hasilkan dengan kerja kerasku dan menjadi tak berguna dalam sesaat.”

Ha Soo heran, “siapa yang bekerja begitu keras?”

Shin Hyung menyadari kalau ia sudah salah bicara di depan Ha Soo, “Bukan aku. Itu almarhum ayahku, Presdir Choi Go Bong.”

Shin Hyung merasa ini tidak adil, ayahnya akan merasa ini sangat tidak adil. “Dia tidak bisa mengurus keluarganya. Dia terlalu sibuk bekerja dan menghasilkan uang sepanjang hidupnya. Pada akhirnya dia akan diingat sebagai Presdir yang terlibat dalam korupsi. Mungkin ini terasa seperti hidupmu benar-benar diambil olehnya.” (yah baru nyadar nih kakek)
Ha Soo memiliki pemikiran lain, ia tak pernah berpikir Presdir Choi Go Bong melakukan kejahatan korupsi. Shin Hyung terkejut mendengar pendapat Ha Soo, benarkah Ha Soo tak pernah berpikir seperti itu. Shin Hyung menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Ha Soo.

Ha Soo : “Dia melakukan banyak perbuatan baik saat dia masih hidup.”

Shin Hyung jadi ge-er donk ya dibilang pernah berbuat baik haha. “Kau pasti tahu bagaimana menilai orang.”

Ha Soo merasa bukankah Shin Hyung seharusnya melupakan semuanya dan bangkit kembali tak perlu mengungkit uang itu. “Jika kau terus memikirkan almarhum ayahmu, itu mungkin akan sulit bagimu untuk memulai awal yang baru.”

Shin Hyung terdiam mendengar ucapan Ha Soo. Ia menatap Ha Soo, “Apa sekarang kau mengkhawatirkanku?”

Ha Soo bilang bukan begitu, itu karena Shin Hyung dikritik banyak orang. “Kau bahkan datang kesini dan menyamar sebagai tukang bersih-bersih. Jadi kau harus melakukan pekerjaan dengan baik.” Karena harus melanjutkan pekerjaannya, Ha Soo permisi lebih dulu.
Yi Gun yang berada di parkiran akan masuk ke mobilnya tiba-tiba diserang sekelompok pria tak dikenal. Ia yang sendirian dipukuli habis-habisan. Tujuan mereka adalah mengambil dokumen yang ada di dalam tas Yi Gun. Yi Gun sekuat tenaga melawan mereka mengamankan dokumennya. Namun sayang ia yang hanya sendirian tak bisa mempertahankan dokumen itu.
Di kantor, Shin Hyung bertanya pada Ji Yoon siapa pemilik gaji Ji Yoon. Ji Yoon terkejut apa maksudnya.

Shin Hyung : “Uang yang kau peroleh. Uang siapa itu?”

“Itu milikku.” jawab Ji Yoon. Ia berpikir sejenak, “aku tidak bisa mengatakan itu milikku,”

“Kenapa?” tanya Shin Hyung.

Ji Yoon : “Aku tak mendapakan itu sendirian. Ketika seseorang datang untuk bekerja itu semua terhubung dan semuanya membagi hasil akhirnya. Itulah sebabnya kami membayar pajak.”
Shin Hyung mengangguk mengerti.

Ji Yoon menerima telepon dan terkejut mendapat kabar Yi Gun masuk rumah sakit karena dikeroyok.
Shin Hyung dan Ji Yoon pun ke rumah sakit menjenguk Yi Gun yang terbaring disana. Shin Hyung cemas sekali apa yang terjadi. Ji Yoon yang juga cemas tanya apa Yi Gun baik-baik saja, apa benar tulang rusuk Yi Gun juga patah.

Yi Gun berkata kalau kita harus menangkap pria itu secepatnya, “Mereka mengambil dokumennya. Mereka mencuri dokumen penggantiaan ahli warisnya.” Mata Shin Hyung membesar terkejut. Yi Gun minta maaf karena tanpa dokumen itu...
Shin Hyung yang cemas tanya siapa saja yang tahu tentang hal ini. Yi Gun bilang hanya ia, Shin Hyung dan Ji Yoon saja. Shin Hyung memerintahkan Ji Yoon untuk memeriksa cctv dan mencari tahu siapa yang melakukan ini, “Untuk sekarang kita tak bisa membiarkan ada yang tahu tentang dokumen yang hilang itu.”

Ji Yoon terdiam sambil menoleh menatap Shin Hyung. Ia sepertinya punya rencana.
Disebuah ruangan yang gelap, seorang wanita berdiri memegang dokumen warisan milik Shin Hyung. Wanita itu adalah Lee In Ja. In Ja membakar dokumen warisan yang beratas namakan Choi Shin Hyung. Di tangannya juga ada sebuah usb, usb apa itu?
Dae Han duduk menunggu Ha Soo yang tengah mencoba pakaian. Tirai dibuka, muncullah Ha Soo yang cantik dengan gaun merah nan cantik pula.
Dae Han terpana melihatnya. Ekspresi Terpananya itu lho, bikin ketawa... hahaha

Ha Soo tersenyum sambil memegang bunga mawar, “Apa pendapatmu?”
Ekspresi Dae Han makin aneh wakakaka.
Ha Soo melempar satu persatu kelopak bunga mawarnya. Dae Han ketawa ketiwi ga jelas.
Sampai akhirnya Ha Soo memakan kelopak bunga mawar itu dan menyemburkannya ke arah Dae Han.
Dae Han pun tersadar dari lamunannya. (Ternyata Dae Han punya imajinasi liar juga ya haha)
Ternyata tirai itu belum dibuka. Ketika dibuka pakaian inilah yang dipakai Ha Soo. Sama sama sih warnanya, merah. Tapi bukan gaun melainkan jaket musim dingin. Ha Soo tanya bagaimana pendapat Dae Han.

Dae Han tak suka, “apa itu?”

“Kenapa? Apa ini aneh?” tanya Ha Soo.

Dae Han bilang bukankah Ha Soo diminta olehnya untuk membawa salah satu pakaian yang ia beli hari itu. Kenapa tak membawanya dan malah memakai pakaian seperti itu. Ha Soo menarik nafas kesal dan kembali ke balik tirai untuk mengambil semua barang yang dibeli Dae Han.
Ha Soo mengembalikan semua itu pada Dae Han. Dae Han heran karena ia membeli semua itu untuk Ha Soo. Ha Soo bilang ini terlalu banyak, akankah ia bisa membawanya, “dan pakaian ini aku yang membuat pakaian ini sendiri. Kau akan mengetahuinya setelah melihat proposalku.”
Belum sempat Ha Soo menjelaskannya lebih rinci Ji Yoon datang menemui Dae Han. Ji Yoon terkejut melihat Ha Soo juga ada disana. Dae Han tanya ada apa, apa begitu penting hingga Ji Yoon tidak menyampaikannya lewat telepon saja.

Ji Yoon tanya apa yang Dae Han lakukan disini. Dae Han yang cuek berkata apa Ji Yoon tak melihatnya, ia dan Ha Soo sedang bekerja. Ji Yoon meminta pada Ha Soo agar meninggalkannya bersama Dae Han. Ha Soo mengerti dan segera keluar.
Ji Yoon mengingatkan kalau sekarang bukan saatnya melakukan sesuatu ini. “Dokumen pergantian ahli warisnya hilang. Kami masih belum tahu siapa yang melakukannya tapi Direktur Jung dihajar preman dalam perjalanan menuju pengadilan.”

Dae Han terkejut apa maksud Ji Yoon ceritakan padanya pelan-pelan.

Ji Yoon mengatakan sekarang Dae Han memiliki kesempatan lagi. “Jika dokumen itu tidak terdaftar maka penggantian warisan akan dilanjutkan sesuai dengan ketetapan tahun lalu. Choi Shin Hyung tidak tertulis disana saat itu, tapi namamu ada. Kau tak boleh membiarkan kesempatan ini pergi begitu saja.”
Dae Han tampak memikirkan ucapan Ji Yoon. Ha Soo yang sudah berganti pakaian menghampirinya, ia celingukan apa Ji Yoon sudah pergi. Dae Han menjawab pendek ya. Ha Soo heran, “apa sesuatu yang buruk sedang terjadi?”

Dae Han menjawab tidak, malah ini berita baik. Choi Shin Hyung tak akan ada lagi. Hak nya sebagai ahli waris cukup sampai disini.

Ha Soo : “Benarkah?”

Dae Han : “Dia menjadi Cinderella dalam semalam dan sekarang dia kembali menjadi seorang pangeran yang buruk.”
Shin Hyung terusir dari rumahnya, ia tak diperbolehkan masuk ke rumah. Betapapun ia berteriak meminta mereka membuka pintu mereka tak membukakannya.

“Buka pintunya, ini rumahku!” teriak Shin Hyung. “Kalian tak tahu terima kasih. Buka pintu.” Shin Hyung berteriak sambil menggedor-gedor pintu gerbang. Tubuh Shin Hyung basah karena hujan yang deras.
Mi Hye berada di dalam mobil melihat Shin Hyung masih diluar rumah. Ia memberi tahu In Ja kalau Shin Hyung masih disini.

Mi Hye keluar dari mobilnya, apa yang Shin Hyung lakukan. Ia mencibir Shin Hyung benar-benar ditinggakan tanpa apa-apa sekarang.

Shin Hyung marah sekali, “apa kau bilang?” Ia mencengkeram tubuh Mi Hye. Mi Hye berteriak mengancam akan memanggil polisi.
Young Dal dan In Ja keluar menyelamatkan Mi Hye. Ia mendorong Shin Hyung hingga tersungkur ke tanah, tangannya pun terluka.
Mereka melarang Shin Hyung masuk ke rumah. Ketiganya mengunci gerbang. Mereka mengabaikan Shin Hyung yang berteriak meminta pintu dibuka. Ketiganya masuk ke dalam rumah membiarkan Shin Hyung yang terus berteriak dan kehujanan.
Dae Han sampai disana, dari dalam mobilnya ia melihat Shin Hyung terduduk lemas di depan pintu gerbang di bawah guyuran hujan deras.

Bersambung ke episode 6

Ending episode kali ini sumpeh menegangkan. Eh saya pikir setelah Shin Hyung memiliki dokumen ahli waris dia sudah memiliki semuanya tapi ternyata harus didaftarkan dulu ke pengadilan gitu. Dan setelah dokumen itu hilang Shin Hyung ga punya bukti apa-apa donk buat meng-klaim kalau harta Choi Go Bong itu diwariskan padanya. Nah kalau begini bagaimana, akankah Dae Han yang memiliki semuanya. Hmm pasti Om sama Tentenya itu ga bakal ngebiarin Dae Han yang mewarisi semuanya. Pasti ada cara liciknya, terutama Lee In Ja nih. Trus Shin Hyung gimana, jadi gembel karena ga punya tempat tinggal donk.


Ngakak liat imajinasi liarnya Dae Han, ekspresi mukanya itu lho ga kuku...

5 comments:

  1. Dae Han i love u so muchh....keren banget aktingmu....mksih sinopsisnya

    ReplyDelete
  2. mbak anis.... seruuuu banget ceritanya. dilanjut ya mbak. Semangatttttt :)

    Hana

    ReplyDelete
  3. sinopnya keren, thankyu mb anis :)
    poor Shin Hyung, apa dy bisa balek lagi ke rumah ya...secara meski bukan lagi penerus perusahaan, tapi dia udah kebukti sebagai keturunannya Choi Go Bong kan, jd mungkin bs tinggal disitu( ngarep)...please balek dong biar bisa deket sama Dae Han. agak aneh juga waktu dy kaget liat foto tuanya di kamar DH, apa gak pernah nengokin kamar anak 1 itu ya??wehehe...
    penasaran bakal ngapain si Dae Han liat 'hyung' nya diusir. Trus apa dy mau ambil alih perusahaan n bersaing sama org2 yg siap nusuk dy dr belakang..
    Penasaran.

    ReplyDelete
  4. Jgn2 isi fd nya yg dipegang In Ja itu bukti rekaman ttg ahli waris yg wktu dksh liat ke dewan direksi.. Kasian Shin Hyung ;(

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...