Wednesday, 26 June 2013

Sinopsis The Queen's Classroom Episode 2 Part 2

Guru Ma masuk ke kelas dan melihat anak didiknya melongok ke luar jendela. “Apa yang kalian lakukan?” tanya Guru Ma membuat siswa-siswinya terkejut.

Anak-anak kelas 6-3 mengenakan kaos olahraga melakukan push up bersama di lapangan. Mereka mengikuti instruksi Guru Ma, “Luruskan lengan kalian. Sejajarkan dengan bahu, satu...!” Anak-anak menurunkan tubuhnya. “Pandangan lurus ke depan, turunkan dada kalian sampai menyentuh tanah, dua...”
Guru Ma berkeliling diantara siswanya yang melakukan push up, “Apa kalian penasaran? Bagaimana orang tua kalian bisa berada di pihakku? Satu. (anak-anak menurunkan tubuhnya) Mudah saja, itu karena aku lebih mengerti mereka daripada kalian. Dua (anak-anak mengangkat tubuh mereka-wah mereka ga kuat tuh menopang tubuh ketika push up) Setiap orang tua menginginkan anaknya memiliki sesuatu yang istimewa dan itu hanya bisa diketahui dari peringkat. Satu (anak-anak menurunkan tubuh lagi) Lalu guru yang seperti apa yang mereka butuhkan? Apa guru yang mengerti anaknya dengan baik? Itu tak akan terjadi. Dua (anak-anak mengangkat tubuh mereka lagi) Seorang guru yang paham terhadap kelebihan dan kekurangan siswanya dan membantu menaikan peringkat mereka. Satu (anak- anak nurunin tubuhnya lagi) Guru seperti itulah yang diinginkan orang tua.” 
Guru Ma kembali berdiri di depan. Ia menyuruh anak didiknya berdiri. “Sekarang ibu kalian sudah pulang. Hanya ada aku dan kalian sekarang. Bisakah kita belajar dengan lebih serius lagi?” Anak-anak menunduk lemas.
Ibu Na Ri berada di mobilnya menelepon seseorang (sepertinya suaminya) ia mengatakan kalau ia baru pulang dari sekolahnya Na Ri. Tampaklah amplop yang tadinya akan ia berikan pada Guru Ma (sepertinya Guru Ma tetap menolak suap ya) Ibu Na Ri memberi tahu suaminya kalau guru putrinya ini seseorang yang pemberani. Ia tak menyangka kalau Guru Ma bisa bicara seperti itu padanya. Ia sama sekali tak tahu apa yang Guru Ma pikirkan tapi ia merasa ini akan bagus untuk Na Ri. Ibu Na Ri ingin suaminya mencari tahu latar belakang Guru Ma, menurutnya Guru Ma ini bukan orang biasa. 
Ha Na membantu Seo Hyun dan Dong Goo membersihkan kelas. Ha Na ingin tahu apa yang ibu Dong Goo katakan mengenai nenek sihir itu. Apa ibu Dong Goo menyukai nenek sihir itu sama seperti ibunya. Dong Goo menyahut kalau ia tak punya ibu. Ha Na yang baru tahu terkejut. Dong Goo keluar kelas untuk membuang sampah. “Apa Dong Goo tak punya ibu?” Ha Na jadi tak enak hati sudah bertanya seperti itu pada Dong Goo.
Seo Hyun heran melihat Ha Na masih ada di sekolah, “Apa kau tak pulang?” Ha Na berkata kalau ia juga mau ikut membersihkan kelas. “Oh Bu Guru datang!” sahut Seo Hyun. Ha Na panik kebingungan. Ia harus sembunyi agar tak ketahuan kalau ia membantu melakukan piket. Ha Na sembunyi di balik meja.

Ternyata Seo Hyun hanya bercanda, tak ada bu guru yang datang. “Apa kau begitu takut padanya? tidak apa-apa pulang saja.” Menyadari kalau tak ada Bu Guru Ha Na berdiri lagi dan mengatakan bukan begitu maksudnya.
Seo Hyun membersihkan jendela, Ha Na mengikutinya. Ha Na mengeluh kalau ibunya akan memarahinya di rumah nanti. Ia menebak kalau Seo Hyun juga pasti bisa kena marah ibu Seo Hyun di rumah. Seo Hyun memberi tahu kalau ibunya tak datang.

Ha Na kaget, benarkah?

Seo Hyun : “Kami mengurus masalah kami sendiri-sendiri.”

Ha Na melihat kalau Seo Hyun itu tampak sangat dewasa. Seo Hyun tersenyum tipis dan pindah tempat membersihkan jendela lain, Ha Na mengikutinya. (bukan jendela sih tepi meja di tepi jendela hahaha)
Menurut Ha Na apa yang dikatakan nenek sihir itu ada benarnya juga. Orang tua mengatakan kalau mereka akan merawat anak-anak mereka tapi mereka sebenarnya lebih peduli dengan diri mereka sendiri. “Ibuku tak marah kalau tentang aku tapi lebih marah kalau dipermalukan oleh ibunya Na Ri.” Seo Hyun setuju memang setiap perkataan Guru Ma ada benarnya.

Ha Na juga berpendapat bahwa yang dilakukan Guru Ma tidak semuanya benar. Ia tak setuju Guru Ma menghukum Seo Hyun karena telah membantunya. “Aku mungkin tak tahu hal lain tapi aku yakin kalau apa yang dikatakan guru juga salah dan apa yang kau katakan itu benar.”

Seo Hyun memperhatikan Ha Na, ia menilai Ha Na sudah berubah. Ha Na tak mengerti. Seo Hyun mengatakan kalau sekarang Ha Na lebih perhatian. Menurutnya mungkin lebih baik kalau Ha Na tetap seperti yang lain, kalau terlalu peduli mungkin Ha Na akan terkena hukuman lagi.
Ha Na melihat sesuatu bergerak-gerak di samping Seo Hyun, apa itu?
Ulat.

Ha Na menjerit menjauh. Seo Hyun melihat apa yang dilihat Ha Na dan ikut menjerit lebih histeris karena takut. Saking takutnya Seo Hyun langsung naik ke meja hahaha.

Ternyata itu ulah Dong Goo yang sengaja menaruh ulat itu disana. Dong Goo mengambil ulat itu dan menyamakan ulat itu dengan Ha Na. Ha Na yang jijik menyuruh Dong Goo untuk menjauhkan hewan kecil itu. Seo Hyun juga ketakutan dan menyuruh Dong Goo lebih baik membunuh hewan itu atau buang saja.
Dong Goo berkata kalau ulat ini lambat seperti Ha Na. “Dia akan terlambat setiap hari seperti ketika kau berangkat ke sekolah.”

Ha Na tak terima, “Bisa-bisanya kau menyamakan aku dengan hewan jelek itu.”

Seo Hyun masih ketakutan, “Apa yang akan kau lakukan dengan ulat itu? apa kau akan memakannya?”

“Makan ini?” Dong Goo heran. Seo Hyun mengatakan kalau ia pernah melihat di tayangan National Geographic bahwa penduduk primitif memakan ulat seperti itu sebagai protein mereka. Ha Na jijik mendengarnya huweekkk.

Dong Goo mendekatkan ulat itu pada kedua cewek ini. Huwaaaaaa si cewek-cewek ini njerit hahaha. 
 Dong Goo mengambil tanah di tepi sungai dan meletakannya di wadah dimana ia juga menaruh ulatnya. Ha Na dan Seo Hyun ikut bersamanya.

“Apa ulat ini akan berubah jadi kumbang?” Tanya Ha Na penasaran.

Seo Hyun : “Setahuku begitu, tapi kita belum bisa memastikannya sekarang. Tapi itu mungkin saja menjadi sesuatu yang lain.”

Dong Goo : “Jadi ternyata ini akan menjadi kumbang saat musim panas, seperti sebuah robot?”

Seo Hyun mengangguk. Dong Goo menyebut Seo Hyun sebagai dokter, “Dokter Kim, aku tak punya internet di rumah bisakah kau mencari tahu apa yang harus ulat ini makan agar berubah menjadi kumbang?”

“Apa kau tak punya komputer di rumah?” tanya Seo Hyun.

“Apa kau juga tak punya ponsel?” Ha Na ikut bertanya.

Dong Goo mengangguk. Mereka berdua heran, kenapa. Dong Goo berkata kalau ia tak menyukainya. 
Tiba-tiba terdengar seseorang yang memanggil Dong Goo. Itu dua siswa sekolah menengah yang menunggu Dong Goo kemarin. Ha Na yang heran berkata lirih, “Bukankah mereka itu berandalan?” Dong Goo bekata kalau mereka itu hanya penguntit.

Dong Goo menyerahkan ulat itu ke Seo Hyun, “Kau punya internet, kan? Bisakah kau cari tahu apa makanan mereka dan urus dia seperti adikmu, sehari saja.” Ha Na berteriak protes, “Bagaimana bisa dia jadi adikku?” Dong Goo berlari ke arah dua siswa SMP itu dan mengucapkan terima kasih pada Ha Na dan Seo Hyun.
Setelah Dong Goo pergi, Ha Na merasakan hembusan angin menerpa wajahnya. Ia melihat ke jembatan. Mata Ha Na membesar terkejut melihat sosok Guru Ma berdiri menatapnya tajam. Ha Na yang ketakutan menyentuh pundak Seo Hyun sambil menunjuk dan berkata lirih, “Disana. Bukankah itu Bu Guru?” Ha Na menunduk tak berani menatap wajah gurunya.
Seo Hyun berdiri melihat ke arah yang ditunjukan Ha Na, tapi ia tak melihat siapapun diatas jembatan. “Siapa? tak ada siapa siapa disana.” Ha Na mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah ia melihat gurunya tadi berdiri. Tapi sosok Guru Ma sudah tak ada disana. Seo Hyun merasa kalau Ha Na terlalu paranoid terhadap Guru Ma, jadi Ha Na seolah melihat Guru Ma padahal tak ada. Menurut Seo Hyun, Ha Na pasti mulai behalusinasi.
Apa yang terjadi pada Dong Goo? Dong Goo sepertinya disuruh membawakan uang untuk ke dua siswa sekolah menengah ini tapi Dong Goo tak membawanya. Mereka memukul-mukul wajah Dong Goo. “Kau seharusnya sudah membawa apa yang kami suruh. Lihat dirimu! Apa kau mulai melawanku sekarang?”

Siswa yang pakai jaket kuning akan memukul tapi siswa yang satunya menahan. Ia mengangkat wajah Dong Goo yang diam menunduk. “Dong Goo lihat wajahmu! Makanya seharusnya kau turuti kami. Ada apa dengan tangan ini? Hari ini akan kupotongkan kukumu!”

Dong Goo tak bisa melawan. Mereka meminta Dong Goo membawakan uang itu besok. Mereka tak peduli Dong Goo dapat uang dari mana. Entah itu uang ibu, ayah atau teman Dong Goo. “Aku akan memotong kukumu lagi kalau kau tak membawa sepeserpun.” ancamnya sambil memotong kuku Dong Goo. Dong Goo diam cemas.
Dong Goo sampai di rumah. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Wajahnya penuh luka akibat dipukuli dua siswa tadi. Dong Goo membuka lemari dan mengambil sebuah buku. Di dalam buku itu ada beberapa lembar uang. Haruskah ia memberikan uang itu pada mereka.
Keesokan harinya di sekolah. Seluruh siswa kelas 6 berkumpul di ruang auditorium. Mereka ditemani wakasek dan beberapa guru menyaksikan rekaman video tentang bela diri. Mereka tampak antusias menyaksikan beberapa teknik bela diri yang diperagakan di video. Setelah selesai menyaksikan video, wakil kepala sekolah mengatakan kalau anak-anak akan mempelajari seni bela diri.
Wakasek meminta Guru Goo yang waktu wamil-nya di marinir dan juga memiliki sabuk putih Taekwondo untuk mendemonstrasikan teknik bela diri bersama Justin yang menyandang sabuk hitam Taekwondo dan sabuk kuning judo. Anak-anak bertepuk tangan.

Wakil kepala sekolah mengumpamakan mereka menemukan kasus yang pertama, saat si pelaku pelecehan memeluk dari belakang. Ia meminta agar Guru Goo dan Justin memperagakan tindakan apa yang harus dilakukan ketika seorang lawan memeluk dari belakang. (Guru Goo jadi si korban dan Justin jadi si pelaku)

Wakasek : “Injak kaki mereka dengan tumit. (Guru Goo beneran menginjak kaki Justin) Lalu sikut dan segera tendang mereka. (Guru Goo menendangnya itu lho membuat anak-anak tertawa) apa kalian sudah mengerti?”

Anak-anak serempak menjawab ya.
Wakasek : “Kasus kedua, saat pelaku pelecehan menarik kerah baju kalian. (Justin menarik kerah baju Guru Goo) angkat tangan kanan kalian lalu pukul ke lehernya. (Guru Goo memperagakan gerakan sesuai instruksi wakasek) rangkul tangannya dan apit dengan ketiak kalian.” (Guru Goo ga mengapit malah muter-muter ga karuan membuat anak-anak tertawa dan itu bukan menjatuhkan si pelaku malah membuat Guru Goo sendiri yang terjatuh)

Guru Ma menatap anak-anak dengan tatapan dingin. Menyadari ada kesalahan gerakan Guru Goo akan mengulangi gerakannya, tapi wakasek menyuruh untuk istirahat saja. Ia giliran menyuruh Guru Yang untuk mencoba menjadi korban. Guru Yang ragu karena harus berlatih melawan Justin. Justin sendiri senyum-senyum aja hehehe.
Wakasek memberikan istruksi yang sama. Justin memegang kerah leher Guru Yang. “Satu!” teriak Guru Yang mengayunkan tangannya ke leher Justin.
Ketika memasuki gerakan kedua merangkul tangan lawan, Guru Yang tak kuat mengangkat tubuh Justin hehe. Wakakaka bikin anak-anak tertawa. Guru Jung mesam-mesem aja, Guru Ma ya diem aja. 
Ketika Guru Yang akan melakukan gerakan jepit, posisi dia malah salah. Dia hampir jatuh untung Justin memeganginya. Dan posisinya ya ampun hhahaha... so sweeetuuu.... hahaha... Anak-anak kembali tertawa dan mereka berteriak, kissu kissu kissu kissu hahaha....

Guru Yang dan Justin yang malu langsung berdiri. Guru Jung menyahut apa Justin menyukai Guru Yang. Hahaha.
Guru Ma menghampiri wakasek, ia mengambil mic dan mengumumkan pada siswa terutama kelas 6-3 agar segera masuk ke kelas. Wakasek terkejut apa yang Guru Ma lakukan, pelatihan bela diri ini belum selesai. Guru Ma menilai pelatihan bela diri ini hanya buang-buang waktu saja. “Apa anda pikir mereka benar-benar akan menerapkannya setelah menonton videonya berkali-kali?”

Wakasek mengatakan kalau pelatihan ini atas instruksi dari dinas pendidikan.

Guru Ma : “Jadi ini diperlukan bagi sekolah bukan untuk siswa? Ini adalah mekanisme pertahanan dari sekolah dengan tujuan agar mereka mencoba melakukan yang terbaik jika terjadi sesuatu.” 

“Dengar Guru Ma,” wakasek akan menjelaskan tapi Guru Ma terus bicara.
Guru Ma : “Apa pelatihan ini akan berakhir setelah demontrasinya selesai?”
Wakasek : “Kenapa? apa kau mau menunjukannya pada kita?”
Guru Ma : “Aku akan menyelesaikannya untuk anda.”
Guru Ma siap menjadi korban dengan si pelaku tetap Justin. Justin memeluk dari belakang, dengan sigap Guru Ma langsung menginjak, memuntir dan membanting Justin. Apa yang dilakukan Guru Ma membuat anak-anak tercengang. Para guru juga terkejut bahkan mulut wakasek menganga karena saking kagetnya. Hahaha.
Tak sampai disana pada kasus kedua, ketiga dan keempat pun Guru Ma demonstrasikan dengan baik. Justin keok, ia jadi bulan-bulanannya Guru Ma. Guru Ma hampir menancapkan senjatanya yang tak lain adalah pena. Mereka terkejut Guru Ma memiliki kemampuan bela diri.

Guru Ma berdiri dan bertanya apa masih mau dilanjutkan lagi. Wakasek yang masih terkejut bilang kalau ini sudah cukup jadi tak usah dilanjutkan. Guru Ma pun memerintahkan anak kelas 6-3 untuk kembali ke kelas.
“Guru Ma..!” panggil Guru Yang. “Lalu bagaimana cara terbaik mengajar mereka tentang cara melindungi diri? Apa anda tahu jawabannya?”

Guru Ma menoleh menatap Guru Yang, “Pada kenayatannya ketika kau bertemu lawan yang lebih kuat darimu lebih baik kabur secepat mungkin daripada melawannya.”

Dong Goo mendengarkan dengan seksama karena apa yang dikatakan ini sama seperti yang ia alami. 

Guru Yang bertanya lagi, “Lalu bagaimana kalau tak bisa kabur dalam situasi seperti itu? apa yang akan anda lakukan?”

Guru Ma : “Kalau kau tak bisa melawannya ataupun kabur, maka menyerahlah. Sebaiknya turuti permintaannya dan ikuti perintahnya. Cobalah memohon belas kasihan dan bertahan, itulah cara terbaik dalam mekanisme pertahanan diri dikehidupan yang sebenarnya,”

Guru Yang tak percaya dengan penjelasan Guru Ma, “Bagaimana mungkin seorang guru tega mengatakan hal seperti itu di hadapan siswanya?”
“Bu Guru!” seru Dong Goo mengangkat tangannya dan berdiri, “Bagaimana kalau aku tak mau kabur atau menyerah? Kalau yang lemah tak bisa melawan apa tak ada cara lain selain dipukuli?”
Guru Ma : “Solusinya, tidak ada. Selain mempertaruhkan nyawa. Pelaku memilih korban yang lebih lemah karena mereka pengecut. Mereka memilihmu karena kau lebih lemah dibanding mereka. Jika kau tak punya pilihan lain selain melawan mereka maka kau harus mempertaruhkan nyawamu. Tapi tak semua orang memiliki keberanian seperti itu. Akan lebih bijaksana kalau kau menyerah atau lari.” 
Dong Goo mendengarkan dengan seksama perkataan Guru Ma. Muncul dalam dirinya bahwa ia tak boleh menyerah begitu saja. Dong Goo mengepalkan tangan, ucapan Guru Ma ini membakar semangat di dirinya agar tak boleh menyerah dan lari.
Malam hari, dua siswa menengah itu bersenda gurau. Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh kedatangan Dong Goo. Keduanya marah karena Dong Goo sudah mengagetkan mereka. Mereka heran Dong Goo bahkan datang sendiri, “Apa kau sudah membawa uang yang kami minta?”
 Dong Goo membuka saku jaketnya yang kosong, “aku tidak punya uang.”

“Apa? apa kau sudah gila?” Mereka marah, Dong Goo terlihat mengepalkan tangannya.
Dong Goo melawan, tapi tenaganya tak kuat melawan mereka. Dong Goo dipukuli habis-habisan, tapi ia tak menyerah. Ia berusaha bangun lagi untuk menantang mereka. Mereka memperingatkan Dong Goo agar besok membawa uangnya kalau tidak Dong Goo akan mati ditangan mereka dan akan memotong lagi kuku Dong Goo.
Dong Goo yang tak takut berdiri melempar mereka dengan kaleng bekas. Ia menantang silakan saja potong kukunya karena setelah kukunya dipotong itu akan tumbuh lagi. Mereka marah dan kembali menghajar Dong Goo.
Dong Goo dipukul dan dinjak-injak oleh mereka. Terngiang dalam benak Dong Goo ucapan Guru Ma bahwa pelaku memilih korban yang lebih lemah karena mereka pengecut.

Keduanya kelelahan memukuli Dong Goo, “Kau akan mati kalau dipukul lagi. Jadi kau jangan bodoh.”
Dong Goo yang sudah babak belur tertawa mencibir, “Aku masih punya tenaga untuk menerima pukulan kalian. Pertarungan ini belum berakhir.”

Dong Goo berusaha bangun menggapai tubuh mereka, “ayo berkelahi lagi!” Mereka mendorong Dong Goo, keduanya heran kenapa Dong Goo tiba-tiba begini. “Hei bukankah sudah kubilang kau akan mati.”

“Aku tak takut lagi.” seru Dong Goo berusaha bangun lagi. “Kenapa kalian jadi pengecut dan memalak anak sepertiku? Ayo berkelahi, kita lihat siapa yang menang!”
“Kenapa dengannya?”
“Aku tak tahu. Apa dia sudah gila?”
“Ayo pergi.”

Keduanya lari. Dong Goo kembali berusaha berdiri, “Kenapa kalian kabur? Kubilang ayo kita berkelahi!” Teriak Dong Goo.
Dong Goo terlentang di jalan, ia tertawa senang karena mampu melawan mereka meskipun dirinya babak belur. Ternyata ia mampu menunjukan keberaniannya.
Dong Goo berjalan tertatih sambil menendang-nendang kaleng bekas. Tanpa ia ketahui ada orang yang memperhatikannya dari jauh. Guru Ma Yeo Jin. Dong Goo berjalan menuju rumah penuh senyuman. Guru Ma menatapnya dingin. Ah ya walaupun tatapan matanya dingin tapi terlihat dari raut wajahnya kalau ia peduli terhadap siswanya.
Keesokan harinya, Ha Na sampai di kelas dan menyapa teman-temannya. Na Ri memanggil dan menunjukan sesuatu pada Ha Na sambil tertawa. Ha Na mengikuti arah yang ditunjukan Na Ri. Apa yang dilihat mereka?
Dong Goo semangat mengelap meja Bu Guru hingga bersih. Ia melakukannya dengan senang hati. Ia bahkan mengomentari Seo Hyun yang menyapunya kurang bersih. Ini harus bersih supaya suasana hati guru kita dalam kondisi nyaman. Seo Hyun cuek saja dengan ocehan Dong Goo. Ia heran kenapa Dong Goo jadi rajin begini.
Ha Na terkejut melihat wajah Dong Goo yang babak belur, “Hei Oh Dong Goo kenapa dengan wajahmu?”

“Oh si cacing lelet.” Dong Goo menyebut Ha Na denan sebutan cacing lelet. “Kau tepat waktu hari ini. Mulai sekarang kau memang harus datang tepat waktu. Bu guru tak suka kalau kita terlambat.”  Dong Goo terus membersihkan meja guru.
Bel tanda masuk pun bunyi, anak-anak segera duduk rapi ditempatnya masing-masing. Guru Ma datang tepat waktu ke kelas. Sebagai ketua kelas Seo Hyun menyiapkan teman-temannya. Dengan suara lantang dan semangat Dong Goo menyapa gurunya.
Guru Ma menanyakan kenapa wajah Dong Goo seperti itu. Dong Goo berbohong mengatakan kalau ia terjatuh. Guru Ma yang tahu terdiam mendengar jawaban bohong Dong Goo. Dong Goo tersenyum menatap gurunya.
Guru Ma berkata kalau ia mendengar ada siswa yang mengadu di belakangnya, siapa itu? semua siswa menunduk.

Guru Ma : “Olahraga, fitnes dan pendidikan fisik adalah bentuk dari hukuman. Kudengar siswa itu menulis dengan nama anonim di website dinas pendidikan.”

In Bo menunduk diam (hmmm apa In Bo yang melakukannya)
Guru Ma melirik Na Ri, “Mengadu pada ibu kalian tapi tak berhasil dan kalian mengadukan ini pada ayah kalian. Aku tahu semuanya. Siapa itu? bahkan sudah kukatakan kemarin, akan lebih bijaksana kalau kalian menyerah jika kalian tak bisa menang. Kalian harus berhenti membangkang. Aku tahu semua rahasia kalian.”
Guru Ma membuka laptopnya, ia memperlihatkan foto-foto yang ia dapatkan. “Cha Jung Soo, apa yang akan terjadi kalau orang tuamu tahu kau membolos dari bimbel untuk bertemu dengan pacar SMP-mu?”

Jung Soo kaget Guru Ma mendapatkan foto-foto dirinya yang lagi nge-date sama ceweknya (ampun kelas 6 SD sudah nge-date hahaha)
“Yoon Ji Min, Kim Ga Eul, Hwang Soo Jin, kalian pergi ke acara konser musik setelah berbohong pada orang tua kalian akan ke gereja pada hari minggu.” Ketiganya terdiam kaget dan cemas.
“Bu Guru!” Dong Goo mengacungkan tangan. Dong Goo berdiri, “Aku tahu ini sedikit memalukan, tapi aku sudah menyelesaikan masalahku berkat ibu. Terima kasih.” Dong Goo tersenyum, “Jadi tak ada yang kusembunyikan dari ibu karena aku sangat menghormati ibu. Aku akan taat pada ibu dengan tulus. Kalian juga harus menuruti ibu guru dan bersikap baik lho ya, mengerti?”

Teman-temannya heran dan terdiam mendengar ucapan Dong Goo. Dong Goo tersenyum sumringah. 
Guru Ma diam menatap tajam Dong Goo yang tersenyum padanya. “Oh Dong Goo, sepertinya ibumu kemarin tak datang. Apa mungkin dia tak perhatian padamu?”
Dong Goo dengan santai mengatakan kalau ia tinggal bersama Kakek. Menurutnya itu bukan berarti ia anak yang kurang diperhatikan. Ia tak memerlukan itu.
“Benarkah?” Guru Ma menatap sinis. “Lalu apa kau masih berhubungan dengan ibu yang sudah meninggalkanmu?” Dong Goo terdiam menunduk.

Guru Ma : “Ibu yang melahirkanmu dimasa mudanya dan ayahmu yang masuk penjara. Jadi dia meninggalkanmu dengan kakekmu dan pergi dengan pria lain.”
Guru Ma menghampiri Dong Goo, “Ibumu yang sedang mabuk mungkin mengatakan ini padamu, ‘karena dirimu hidupku hancur. Aku tak pernah mau memiliki anak sepertimu’”
Dong Goo terdiam menahan marah dan sedih. Ia mencengkeram celananya mendengar hal itu dari guru Ma. Ha Na juga tampak kesal mendengarnya.
Guru Ma menyentuh pundak Dong Goo, “Haruskah aku mengatakan pada mereka kenapa kau terus meniru gaya pelawak bodoh. Kau ingin lari dari kehidupanmu yang nyata. Kau kira dengan menjadi bodoh, Dong Goo yang kesepian bisa menjadi orang yang lucu. Kau takut untuk hidup sebagai Dong Goo.”

Dong Goo menunduk dan mulai menangis.

Guru Ma : “Kau pikir orang lain akan meninggalkanmu seperti yang ibumu lakukan kalau kau menjadi diri sendiri. Seperti pengecut. Jika kau menjadi diri sendiri kau takut tak ada yang menyukaimu. Kau tak punya keberanian untuk hidup sebagai Oh Dong Goo. Seperti pengecut.”

Air mata Dong Goo perlahan menetes.

Guru Ma : “Benar. Kau benar. Tak ada yang menyukaimu di kelas ini.”
Anak-anak menatap Dong Goo. Seo Hyun akan berdiri protes atas apa yang baru saja guru Ma ucapkan. Tapi Guru Ma langsung mencerca Seo Hyun dengan ucapannya, “Kim Seo Hyun ibumu juga tak datang. Haruskah aku menceritakan semua tentangmu juga?” Seo Hyun tak jadi protes ia menunduk diam.
“Benar Bu Guru!” sahut suara seseorang. Siapa? apa Seo Hyun? Semua menatap ke sumber suara. Itu Ha Na.
Ha Na menitikan air mata, “Dong Goo, dia lebih suka menangkap serangga daripada belajar dan dia memang meniru pelawak bodoh. Tapi Dong Goo adalah teman yang baik. Dia bahkan bersikap bodoh demi aku saat aku terlambat beberapa hari yang lalu. Saat kami menjadi ketua kelas dan sedang membersihkan toilet dia berbohong agar aku tak terlambat les privat dan dia yang mengerjakan sisanya sendirian.”
Ha Na berdiri menunduk dengan air mata terus berlinang, “Ketika aku memikirkannya, ketika aku tak punya teman di kelas satu, aku yang selalu sendirian, Dong Goo adalah orang pertama yang bicara denganku. Saat aku di kelas empat, dia membantuku menemukan sepatuku yang disembunyikan teman sekelasku hingga larut malam.”

Tangis Ha Na sesenggukan, “Bu Guru tak tahu tentang hal ini, Oh Dong Goo memiliki sisi baik yang tak ibu ketahui. Tak peduli betapa dia bodoh betingkah di depan teman-teman, aku belum pernah melihatnya berbuat buruk pada temannya. Karena tak bisa berlekahi dia diremehkan, tapi dia bukan orang jahat, dia juga bukan pengecut. Dong Goo terus hidup meskipun tahu ibunya meninggalkannya dengan pria lain karena dia.”
Air mata Ha Na semakin deras berlinang, “Aku menyukai Oh Dong Goo. Oh Dong Goo, dia adalah teman yang kusukai.”
Guru Ma menatap Ha Na dan meresapi setiap yang Ha Na katakan.

Bersabung di episode 3

Komentar :

Bu Guru, apa maksudmu mengatakan itu pada Dong Goo disaat dia begitu menyanjungmu. Dia begitu bangga padamu, apakah kau akan kembali menjatuhkannya setelah mengangkatnya begitu tinggi. Nangis saya, hiks hiks.

Ya pasti ada maksud kenapa Guru Ma mengucapkan itu, ia ingin Dong Goo menjadi diri sendiri tanpa perlu menutupi kesepian hidup dengan lelucon. Ia ingin Dong Goo membuka mata bahwa akan ada seseorang yang menyayangi Dong Goo selain ibu yang meninggalkannya. Ia ingin menjadikan Dong Goo anak yang kuat, tapi bukankah Dong Goo sudah kuat menjalani hidup tanpa ibunya. Ya Guru Ma ingin Dong Goo lebih kuat lagi dan tentu saja tanpa menutupi perasaan kesepiannya.

24 comments:

  1. sampe menitikkan air mata bacanya mbak...
    makin suka deh sama Oh Dong Go
    semangat terus ya mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. baik di dorama ataupun K drama saya juga suka sama karakter dong goo, polos, baik, penyayang n kasihan hiks hiks...

      Delete
  2. Tidakkah, sistem pengajaran guru Ma terlalu keras pada anak-anak....walaupun ada tujuan baik di belakangnnya...jika sistem pengajaran guru Ma di terapkan di indonesia, pasti banyak wali murid yang protes....wal

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya langsung masuk meja komisi perlindungan anak deh mbak kalau benar ada guru yang menerapkan metode seperti ini. dan mereka pasti bilang kalau ini melanggar Ham terutama hak anak hehehehe....

      Delete
  3. Nangis nonton episode ini, kasian deh ama hana.. Kok aku jd nganggep guru ma tokoh antahonis yaa.. Apalagi pas di episode selanjutnya, duhh kasian c hana makin di zolimi, belom lagi di hianatin ama c bo mi.. Makasi ya mba.. Gara2 influence dri mba aku nonton film yg keren dan sarat pesan inii.. Semngat mba buat sinopnya.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nur, di episode berikutnya berasa ha na tersakiti akibat pembullyan. tapi memang Guru Ma harus melakukan ini.. banyak pesan yang bisa diambil dari drama ini.

      mungkin banyak yang menilai apa yang guru ma lakukan ini kejam ya. ini yang jadi misteri kenapa guru ma melakukan itu, apa ada kejadian buruk yang menimpa dirinya dan siswanya dulu...

      Delete
  4. Aku sampai menitikan air mata lho mbak mendengar kisah dong goo mungkin karena ngga beda jauh sama kisah hidupku . Oiya salam kenal yah mbak aku seorang reader di blognya mbak tpi baru kali ini komen

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga irha, saya nontonnya juga nangis.

      Delete
  5. Lanjut mbak yeah,,, terima kasih.

    ReplyDelete
  6. mb Anis. baca sinopnya aja nangis....apalagi nontonnya yah..yg main anak2 tapi keren banget...kapan indonesia punya sinet anak spt ini ?

    aduh...masih sesegukan nih.....lanjut yah...

    tengkyu

    san

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu dia san, saya nungguin sinetron yang bagus tentang anak dan guru tapi yang muncul malah sinetron yang karakter guru nya jauh dari kesan wibawa.

      Delete
  7. akting ank2 nya keren2..
    ga kayak ank2 indonesia..
    disuruh akting,,,ekspresi mukanya??? datar aja... suara??? datar juga..
    payah kalo dibandingkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha mungkin mereka harus lebih banyak belajar lagi.

      Delete
  8. wow... kata2nya mengena bgt....
    ep 3,,, aku menunggumu..

    ReplyDelete
  9. oohh noo,,
    daebak ceritanya, saya sampe mewek" T___T
    kasian dong goo :((

    ReplyDelete
  10. Sampe berlinang air mata baacanya...

    ReplyDelete
  11. Pas baca episode 1, kangen waktu jaman kls 6 SD .

    Episode 2, bikin nangis, dong goo kasian :'(

    salam kenal, aku readers baru disini :)

    ReplyDelete
  12. Sdihnyaaaaaaaaaaa ampe nangis baca sinopsisnya... :((

    ReplyDelete
  13. saya baru pertamakali komen, salam kenal. ehbuset maksudnya emang baik sih.. Tapi kalimatnya tajem banget.. Kasihan dong goo, sampe nangis juga bacanya :(
    Aktingnya mereka bagus banget ya, meski masih anak2, salut~
    okeh semangat! Eps 3 saya menunggumu~

    ReplyDelete
  14. saya baru pertamakali komen, salam kenal. ehbuset maksudnya emang baik sih.. Tapi kalimatnya tajem banget.. Kasihan dong goo, sampe nangis juga bacanya :(
    Aktingnya mereka bagus banget ya, meski masih anak2, salut~
    okeh semangat! Eps 3 saya menunggumu~

    ReplyDelete
  15. BACA INI SEMBARI MAKAN SAMBIL NAHAN AIR MATA...SEDIHHHH :(
    APA BU GURU ADALAH IBUNYA DONG GOO???
    COBA YG SDH NONTON VERSI JEPANG?

    ReplyDelete
  16. hdewh, beneran menetes ne air mata q :'(

    ReplyDelete
  17. Sedih dan terharu baca episode ini..nangis bombay jadinya plus Belajar banyak dari kisah anak2 ini.. Makasih Mba Anis.. Semangat terus. Yaaaa.. ^_^

    ReplyDelete
  18. Aih pada nangis semua :D tapi bener2 , tanpa harus nonton cuma ngebaca aja sampe nangis , akting anak2 ini di drama ini bener2 mengagumkan :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...