Saturday, 29 June 2013

Sinopsis The Queen's Classroom Episode 3 Part 2

Na Ri dan ibunya berada di depan gedung bimbel. Ibu Na Ri membaca brosur bimbel tersebut. Ia ingin tahu bagaimana Na Ri melewati tahap wawancaranya. Kita akan ke Ivy League Summer School, Ini sangat berarti buat Na Ri.

“Yes Mom,” ucap Na Ri dengan nada lemas.

Ibu Na Ri tak suka putrinya tak bersemangat seperti itu. “Kau tak boleh terlihat seperti pecundang hanya karena kau mendapatkan nilai jelek. Tegakkan pundakmu. Smile!” Na Ri berusaha untuk tersenyum.
Ada sebuah mobil yang berhenti di depan keduanya. “Ibu lily, sampai bertemu di lapangan golf, ya?” kata ibu yang berada di dalam mobil.

“Ok, take care. Ashley, see you!” ibu Na Ri melambaikan tangan sambil tersenyum ke putri ibu yang bawa mobil itu.

“Bye Lily!” Ashley melambaikan tangannya pada Na Ri. (Kenapa dipanggil Lily ya hahaha)

Setelah Ashley dan ibunya pergi, ibu Na Ri berkata kalau putrinya tak perlu kecewa karena anak lain di sekolah karena saingan Na Ri yang sebenarnya ada disini. Na Ri mengerti.
Ibu Na Ri menghubungi seseorang, ia menyuruh orang itu untuk mencarikan guru privat untuk Na Ri. “Guru di sekolahnya mengadakan tes tiap minggu. Aku ingin guru privat yang fokus pada pelajaran umum.”
Na Ri dan ibunya berada di mobil. Ibu Na Ri masih menelepon, ia ingin guru privat yang bisa segera menaikkan nilai-nilai pelajaran putrinya. Ia menyuruh orang suruhannya agar jangan sampai ada walimurid lain di kelas 6-3 yang tahu.

Setelah selesai menelepon ibu Na Ri mengatakan kalau persiapan untuk festival sekolah minggu ini bukankah yang mendapatkan rangking pertama akan ada diposisi depan. Na Ri membenarkan.

Ibu Na Ri : “Bukankah di kelasmu hanya kau yang mengikuti kelas balet? Kalau begitu kau akan dibarisan depan, Ibu menantikan penampilanmu. Kalau kau menari seperti biasanya, kau pasti akan berhasil.”

Na Ri diam menatap ke luar jendela.
Di sebuah taman bermain, Bo Mi menunjukan gambar-gambar yang ia buat pada Ha Na. Ha Na kagum Bo Mi bisa menggambar tokoh-tokoh kartun. Ia menebak nama beberapa karakter tokoh katun yang dibuat Bo Mi. Ha Na memuji kalau gambar yang dibuat Bo Mi sangat bagus. Bo Mi tersipu menilai pujian Ha Na itu tak mungkin. Ha Na melihat kalau karakter katun yang Bo Mi gambar itu lebih menawan. Bo Mi kembali tersipu.
Ha Na membuka tiap gambar yang dibuat Bo Mi. Ia melihat gambar seorang gadis yang sedang menangis. “Yang ini terlalu serem ya!” sahut Ha Na. Bo Mi terkejut dan segera merebut buku gambarnya, ia melarang Ha Na melihatnya.
Ha Na tak pernah tahu kalau Bo Mi selalu menggambar kartun, itu luar biasa. Ha Na pun memiliki satu permintaan, “Bisakah kau membuatkan karakter manga untukku?” Bo Mi tak mengerti.

Ha Na : “Karakterku dengan mata sedikit lebih besar, pipi lebih kecil dan kaki lebih panjang.”
Bo Mi mengamati tubuh Ha Na dan menilai itu tak mudah. Ha Na merengek meminta Bo Mi menggambarkan karakter kartun untuknya. Ia sudah lama menginginkan hal ini. Ha Na pun akan memberikan imbalannya, ia akan membantu Bo Mi latihan menari.

Bo Mi menunduk diam menyadari kekurangannya. Menurutnya sekeras apapun ia latihan, ia pasti tak akan bagus menari. Bo Mi minta maaf, karena ia-lah yang seharusnya menjadi ketua kelas. Ha Na tak mempermasalahkannya, alah ga usah dipikirkan.
Ha Na mengayun ayunannya, “Aku tak peduli menjadi ketua kelas atau tidak, piket, terutama dengan Oh Dong Goo yang sangat menyebalkan. Tapi itu tak cukup untuk mengkhianati pertemanan kita. Bagaimana denganmu? Jika nenek sihir itu memberimu pilihan antara pertemanan atau tidak melakukan piket, mana yang akan kau pilih?”
Bo Mi tersenyum menjawab ia akan lebih memilih teman. Ha Na tersenyum lebar karena ia juga akan melakukan itu. Ha Na lompat dari ayunan, ia mengajak Bo Mi segera latihan menari dengannya.

Ha Na dengan sabar melatih Bo Mi menari disela-sela mereka bermain bersama.
Di tempat latihan balet, Na Ri pun melatih gerakan tariannya agar lebih bagus lagi. (Lee Young Yoo keren ya, kayaknya nih anak jago balet deh)
Ha Na dan Bo Mi tak kenal lelah berlatih. Berangkat sekolah atau pun pulang sekolah bersama keduanya sisipkan dengan melatih gerakan tari. Tak peduli cuaca terang ataupun hujan, keduanya terus berlatih. Hingga malam pun keduanya masih asyik latihan.
Bukan hanya ketika di luar sekolah saja, ketika di lingkungan sekolah pun Ha Na terus melatih Bo Mi. Dong Goo hadir di tengah-tengah keduanya.
Tanpa ketiganya sadari ada seseorang yang memperhatikan. Guru Ma melihat ketiganya dari gedung sekolah. Ia sedikit menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.
Guru Ma melihat di dekatnya ada kupu-kupu putih yang hinggap di jendela. Senyum simpul Guru Ma pun hilang berubah kembali menjadi tatapan wajah yang dingin. Guru Ma berlalu dari sana, kupu-kupu itu ikut terbang.

Saatnya tes menari.
Soo Jin tambil sangat baik, gerakannya luwes. Na Ri tak suka melihatnya, ia tak suka ada seseorang yang tampil lebih bagus. Ia mulai khawatir dengan penampilannya nanti. Guru Ma pun memberikan nilai yang baik untuk penampilan Soo Jin.

Bo Mi menunduk khawatir akan penampilannya nanti. Ha Na yang duduk di sebelahnya memberikan semangat. Bo Mi tersenyum mendapat suntikan semangat dari Ha Na.

Anak-anak memberikan tepuk tangan atas penampilan sempurna Soo Jin. Na Ri cemberut diam saja. 
Guru Ma memanggil siswa berikutnya, Oh Dong Goo. Tapi Dong Goo tak hadir. Yeon Hoo memberi tahu Guru Ma kalau ia melihat dong goo ada di pintu masuk. Guru Ma pun mencoret Oh Dong Goo dari peserta yang akan tampil nanti di festival.
Selanjutnya Go Na Ri. Na Ri tak mengawali gerakan tarian dengan baik. Ia agak canggung dan banyak melakukan kesalahan. Raut wajah Guru Ma memperlihatkan kalau ia tak suka dengan penampilan Na Ri. Tidak hanya bagian awal, bahkan dibagian akhir tarian pun Na Ri tak melakukannya dengan sempurna. Na Ri kesal dengan dirinya sendiri.
Berikutnya Eun Bo Mi. Bo Mi takut-takut untuk tampil, ia tak percaya diri dan gemetaran. Ia menoleh ke arah Ha Na. Ha Na memberikan semangat untuknya, Bo Mi tersenyum kepercayaan dirinya tumbuh.
Bo Mi melakukan tarian dengan cukup baik. Walaupun tak sebagus penampilan Soo Jin, tapi yang Bo Mi tampilkan malah lebih baik daripada Na Ri yang banyak melakukan kesalahan. Teman-teman yang memperhatikan terkagum-kagum. Bagaimana Bo Mi bisa menari cukup baik seperti itu.
Setelah Bo Mi selesai menari Ha Na memberikan tepuk tangan untuk Bo Mi, teman-teman yang lain pun ikut tepuk-tangan. Tapi Na Ri ga ikut tepuk tangan.
Guru Ma pun mengumumkan siapa saja yang menempati barisan terdepan di acara festival nanti. Sudah pasti Hwang Soo Jin berada di depan. Dia yang mendapatkan nilai diposisi pertama. Na Ri tak suka melihatnya Tempat terakhir adalah Oh Dong Goo karena dia tak ikut tes.
Guru Ma menghampiri Bo Mi, “Eun Bo Mi kau tak perlu datang ke sekolah saat festival di selenggarakan.”

“Apa?” Bo mi terkejut.

Guru Ma : “Kau masih dibawah rata-rata, akan kubuatkan izin sakit jadi kau tetaplah di rumah daripada nanti merusak penampilan.”

“Apa?” Bo Mi masih terkejut, matanya mulai berkaca-kaca.
Guru Ma mengumumkan pada siswanya kalau penampilan di festival nanti hanya diikuti oleh 22 siswa, Bo Mi dan Dong Goo tidak ikut. Guru Ma pun membubarkan anak-anak, ia berlalu dari sana. 

Bo Mi masih terdiam karena jerih payahnya selama ini masih kurang baik dimata Guru Ma. Ia masih tak layak ikut ambil bagian menari diacara festival nanti.
“Bu Guru, tunggu sebentar!” panggil Ha Na yang tak bisa menerima keputusan ini begitu saja. Ha Na menoleh melihat Bo Mi yang masih terdiam terkejut.
Tanpa terasa air mata Bo Mi menetes. Ia benar-benar tak menyangka kalau hasilnya akan seperti ini. 
Dong Goo masuk ke kelas dengan tingkah lucunya. Ia bertanya pada teman-temannya siapa yang menempati posisi terakhir. Semua menunduk lesu tak ada yang menjawab. Dong Goo heran melihatnya, kenapa semuanya diam saja. Ia melihat Ha Na dan Bo Mi menunduk diam.

Dong Goo bertanya apa Ha Na melakukan sesuatu lagi. Ia menebak kalau Ha Na pasti jadi makanan si nenek sihir itu lagi. Ia menyuruh teman-temannya lebih baik berhenti melakukan tarian robot itu seperti dirinya.
Mendengar ucapan Dong Goo, Ha Na membenarkan. Tiba-tiba muncul ide itu di kepalanya, kalau ia dan yang lainnya lebih baik tak usah tampil di acara festival nanti. Teman-temannya terkejut dengan ide gila Ha Na.
Sun Young ragu dengan ide itu, bukankah itu hanya akan menambah masalah saja.

Ha Na : “Apa kalian mau tampil tanpa Bo Mi? Bo Mi sudah berlatih keras. Kalian semua melihat penampilannya tadi.”

Soo Jin : “Jujur saja, aku melihat ada yang lebih buruk dari Bo Mi.” (haha Na Ri ya?)

Semua mengangguk setuju. Hwa Jung menebak apa sekarang Guru Ma sedang mengucilkan Bo Mi. Apa ini maksudnya seorang guru mengucilkan muridnya. In Bo menyahut tentu saja si nenek sihir itu bisa melakukannya.

Ha Na pun memutuskan kalau ia dan yang lainnya tak usah tampil di acara festival nanti. “Apa kalian mau mengabaikan usaha teman kalian dan menari seperti boneka dengan nenek sihir itu?” Semua diam.
Na Ri menerima sms dari ibunya, ‘Tak ada masalah dengan tes menarinya, kan? Kau pasti sudah berusaha keras. Ayo kita belanja hari ini. Ibu akan membelikan gaun indah untuk ulang tahunmu.’ 
Setelah menbaca sms dari ibunya, Na Ri berdiri. “Benar kita tak usah tampil. Kita sudah cukup menerima perlakukan tidak adil. Kita buktikan ke seluruh sekolah dan orang tua kita betapa tak adilnya si nenek sihir itu. Ini demi tujuan bersama, jadi semua harus berpartisipasi.”
Bit Na kurang setuju bukankah ini sama saja dengan menentang Guru Ma.

Na Ri : “Hei.. Choi Bit Na coba kau pikirkan lagi. Bayangkan kau membuat satu kesalahan dan itu mengacaukan semuanya. Apa kau pikir si nenek sihir itu akan masih menganggapmu pintar? Bukankah kau tahu kalau Kim Seo Hyun berada di tempat terakhir bukan karena dia tak pintar. Apa kau yakin kau tak akan membuat kesalahan?”
Ga Eul meminta pendapat Soo Jin, apa yang akan Soo Jin lakukan, bukankah sangat disayangkan kalau Soo Jin juga menyerah. Soo Jin tampak berfikir. Na Ri juga bertanya apa Soo Jin merasa dirugikan kalau mereka memboikot acara festival itu. Soo Jin bilang tidak. Ia juga tak tertarik berdiri paling depan untuk melakukan tarian bodoh ini. Menurutnya ini tarian yang memalukan.
Yeon Hoo setuju, “Baik. kalau begitu kita tunjukan pada nenek sihir itu.” Dong Goo senang mendengar semuanya sudah sepakat.
Tae Sung bertanya, “Lalu siapa yang akan mengatakannya pada Bu guru?”

Na Ri bersedia melakukannya, “Aku akan menyampaikan padanya bagaimana pendapat kita. dan aku akan mengundang kalian semua ke pesta ulang tahunku minggu ini. Aku tak butuh kado, jadi ayo kita bersenang-senang dan kita kembali datang di hari senin dengan permainan kita.”
Mereka serempak setuju, tapi Seo Hyun diam saja. Ha Na menghampiri Seo Hyun, “Bukankah ini akan berhasil, Seo Hyun?”

Seo Hyun tak yakin kalau ide ini akan berhasil, menurutnya teman-temannya terlalu mengnaggap remeh masalah ini. Ha Na bilang tidak, mereka sudah setuju. Seo Hyun masih tak yakin, apa menurut Ha Na mereka akan berhasil. Ha Na terdiam, ia sendiri juga masih belum yakin apa ide ini akan berhasil. Seo Hyun pulang lebih dulu.
Pesta ulang tahun di rumah Na Ri. Na Ri menyapa teman-temannya yang datang. Soo Jin datang membawa kado dan mengucapkan selamat ulang tahun. Na Ri senang Soo Jin datang, bukankah ia sudah bilang tak perlu bawa kado. Soo Jin bilang tak apa-apa. Ha Na juga sudah hadir dan mengucapkan selamat ulang tahun.
Acara ulang tahun Na Ri diisi dengan hiburan permainan sulap (kayak ulang tahunnya anak kelas 1 SD aja hiburannya sulap hahaha) Sebagian anak-anak tertawa menyaksikan pertunjukan sulap.
Ha Na celingukan mencari seseorang, ia tak melihat keberadaan Bo Mi. Hwa Jung berbisik ke Sun Young mengenai pesta ulang tahun Na Ri tahun ini. Menurut Hwa Jung ulang tahun kali ini membosankan padahal biasanya keren. Ia bosan karena pertunjukannya selalu sama. hahaha. Ha Na tak begitu memperhatikan apa yang Hwa Jung katakan pada Sun Young. Ia bertanya pada keduanya apa melihat Bo Mi. Keduanya tak melihat dan menebak mungkin Bo Mi tak datang.
Bo Mi dalam perjalanan menuju rumah Na Ri, ia lari-lari tergesa-gesa. Tapi tanpa sengaja ia menabrak pengguna jalan lain hingga membuatnya terjatuh. Bo Mi minta maaf, ia membereskan buku gambarnya yang terjatuh. Ia juga membereskan gambar yang sengaja ia buat khusus untuk Na Ri. Sebuah gambar ucapan selamat ulang tahun. Ia tersenyum senang karena gambarnya tak rusak. 
Tiba-tiba Bo Mi merasakan seseorang hadir di belakangnya. Ia melihat bayangan hitam seseorang berdiri di sebelahnya.

Bo Mi menoleh dan terkejut bukan main begitu melihat Guru Ma berdiri di sampingnya. “Kau mau kemana?” tanya Guru Ma.
Di pesta ulang tahunnya, Na Ri mengenakan gaun cantik. Sun Young memuji gaun cantik yang dikenakan Na Ri. Hwa Jung berseru kalau Na Ri juga pakai make up. (BTW ini ulang tahunnya Na Ri yang ke 13 lho hehe)

Ha Na masih mencari keberadaan Bo Mi, tapi ia belum melihat anak itu. Ia mencoba menelepon Bo Mi.
Bo Mi bersama Guru Ma duduk di bangku tepi jalan. Guru Ma melihat kalau ponsel Bo Mi dari tadi menampilkan panggilan dari Ha Na, tapi Bo Mi tak menjawabnya. Bo Mi terlihat tak tenang. Ia cemas dan gugup.

Guru Ma menanyakan apa Bo Mi mendapatkan undangan pesta. Bo Mi menjawab ya pelan. Guru Ma menatap Bo Mi dengan tatapan sekaligus senyum yang mencurigakan. Bo Mi cemas.
Tiup lilin dan potong kue pun sudah. Pertunjukan sulap dimulai lagi. Pesulap bertopeng ingin ada sukarelawan dari salah satu teman Na Ri untuk ikut permainan sulap bersamanya. Semua bersedia menjadi sukarelawan, pesulap pun memilih salah satu anak yang duduk paling belakang. Siapa?
Anak-anak menoleh ke belakang. Seorang anak yang duduk di belakang berdiri, itu Bo Mi. Ternyata dia sudah sampai. Ha Na tersenyum senang melihat Bo Mi datang. Bo Mi maju menuju panggung pertunjukan.
Pesulap menutupnya dengan kain hitam, kain itu dinaik-turunkan berkali-kali membuka dan menutup tubuh Bo Mi hingga akhirnya Bo Mi menghilang tanpa jejak (ngilang, ting) anak-anak tepuk tangan terkagum-kagum. Pertunjukan sulap usai.
Ha Na celingukan mencari keberadaan Bo Mi. Ia melihat si tukang sulap bertopeng itu tengah menerima bayaran dari ibu Na Ri. Pesulap itu akan pergi tapi Ha Na memanggilnya, “Dimana temanku?” tanya Ha Na.
Pesulap yang masih mengenakan topek berbalik menoleh. Ha Na bingung mengatakannya bagaimana, “Itu lho temanku yang menghilang tadi. Bukankah dia seharusnya kembali dalam pertunjukan sulap?”

“Teman?” terdengar suara si pesulap. “Kau punya banyak teman disini!” Kata pesulap itu menunjukan sekeliling dimana teman-teman Ha Na berada.
Semua teman Ha Na berbaris membentuk formasi rapi. Ha Na terkejut melihatnya. Mereka tampak terdiam tanpa senyuman menatapnya. Mereka kemudian memperagakan tarian yang seharusnya diperagakan di acara festival nanti. Mereka menari dengan ekspresi wajah dingin tanpa senyuman. Mata Ha Na membesar terkejut.
Ha Na berbalik menoleh pada pesulap, tambah terkejutlah Ha Na ketika si pesulap itu perlahan membuka topengnya dan wajah Guru Ma muncul dibalik topeng itu.
Ha Na terbangun dari mimpinya, ia ternyata tertidur di bis menuju rumahnya. (jadi tadi Bo Mi datang ga ya ke ulang tahun Na Ri. Kedatangan Bo Mi ke ulang tahun Na Ri itu sepertinya mimpinya Ha Na deh) Ha Na merasa lega yang tadi itu hanya mimpi. Ia melihat ke luar jendela dan terkejut karena halte tampatnya berhenti sudah kelewatan. Ia pun segera turun dari bis.
“Aku pulang!” seru Ha Na dengan nada lemas begitu masuk ke rumahnya. “Ibu hari ini aku...” ucap Ha Na mulai bercerita.

Tapi ibu menyela mengatakan kalau Guru Ha Na datang. Ha Na melihat sesosok wanita mengenakan pakaian hitam menoleh menatapnya tajam dengan senyum tipis yang mengerikan. Mata Ha Na membesar terkejut melihat Guru Ma berkunjung ke rumahnya. Angin berhembus mengiringi tatapannya ketika melihat Guru Ma ada di rumahnya.

Ha Na yang terkejut tak tahu harus menyapa bagaimana. Ia jadi gagap dan berusaha memberi salam pada gurunya. Guru Ma pun pamit pulang.
Sebelum keluar dari rumah Ha Na, Guru Ma berdiri tepat di depan Ha Na menyentuh pundak anak itu, “Sampai jumpa di sekolah besok!” Ha Na masih terdiam di tempatnya berdiri.
Setelah Guru Ma pulang, Ibu tersenyum melihat Ha Na dan langsung memeluknya. Ibu berkata ia mendengar kalau hari ini Ha Na sangat serius belajar. “Gurumu memuji nilaimu yang mulai meningkat.” Ibu akan memamerkan peningkatan nilai Ha Na ini di depan ibu-ibu lain saat acara festival nanti. Ha Na berusaha tersenyum.
Hari H festival sekolah pun tiba. Ha Na sampai di depan kelas, ia melihat Na Ri, Sun Young dan Hwa Jung tampak mendiskusikan sesuatu. Ia menghampiri ketiganya sambil menyapa. Tapi sapaan Ha Na dibalas dengan tatapan saja.

Ha Na heran, ada apa. Ketiganya berpandangan tak mengatakan apapun hanya menimpali sapaan Ha Na tadi. Ha Na merasa ada yang tak beres, “Ada apa? apa yang terjadi?” Na Ri terbata-bata bilang tak ada apa-apa. Na Ri masuk kelas diikuti kedua temannya.
Ha Na melihat Bo Mi baru datang. Ia bertanya apa yang terjadi kemarin, “Kau tak datang ke pesta dan tak menjawab ponselmu. Aku sanagat khawatir.” (tuh kan bener Bo Mi ga datang berarti itu mimpinya Ha Na)

Bo Mi bilang kalau kemarin ia merasa tak enak badan. Ha Na khawatir, apa Bo Mi sakit. Bo Mi bilang kalau sekarang sudah lebih baik. Ha Na tersenyum bersyukur Bo Mi tak apa-apa.

Ha Na mengingatkan bukankah Bo Mi tahu hari ini, hari dimana mereka melancarkan rencana pemboikotan acara festival. Ia menyemangati Bo Mi. Bo Mi masuk kelas lebih dulu sambil menunduk dan itu membuat Ha Na bertanya-tanya.
Guru Ma masuk kelas. Ha Na memimpin memberi salam. Guru Ma mengatakan kalau orang tua akan menilai hasil latihan mereka selama ini. Ia berharap anak-anak kelas 6-3 melakukan yang terbaik diatas panggung nanti. Ia pun menyuruh anak-anak segera menuju auditorium dimana acara akan berlangsung.
Anak-anak berpandangan dalam diam. Guru Ma heran melihat anak-anak diam ditempat duduk masing-masing tak ada yang cepat ke ruang auditorium.

Na Ri berdiri seperti akan mengatakan sesuatu. Tapi ia tak mengatakan sepatah katapun, ia meraih tas dimana ia menyimpan seragam olahraganya. Ia melihat ke arah teman-temannya. Semua anak pun melakukan hal yang sama, mengambil tas baju olahraga.
Ha Na dan Dong Goo terkejut bukan main, ini bukan yang mereka rencanakan kemarin. Seharusnya Na Ri mengatakan pendapat mereka, bukan diam menuruti Guru Ma. Mereka akan keluar ruangan tapi Dong Goo memanggil Na Ri, “Go Na Ri bukankah ada yang ingin kau katakan pada Bu Guru?” 
Guru Ma bertanya pada Na Ri, apa benar begitu. Na Ri menjawab tak ada. Dong Goo tak percaya dengan jawaban Na Ri. Guru Ma marah dengan sikap Dong Goo. Dong Goo tak mengerti dengan sikap teman-temannya yang berubah, “Apa ini? kenapa dengan Na Ri?”
Guru Ma bertanya pada semuanya, apa ada yang ingin mereka katakan padanya. Mereka menunduk diam. Dong Goo makin tak mengerti kenapa dengan teman-temannya bukankah kemarin mereka sudah berjanji. Bukankah kalian bilang tak akan tampil.

Guru Ma menatap marah Dong Goo, “Oh Dong Goo hanya kau yang akan melakukan hal bodoh seperti itu.”
Ha Na berdiri dan mengatakan kalau ia juga seperti Dong Goo, tak ingin tampil di acara ini. Guru Ma mencibir, “Oh jadi kau juga, Shim Ha Na, apa ada lagi?”
Ha Na dan Dong Goo melihat sekeliling teman-temannya yang sebagian sudah berdiri akan ke ruang auditorium dan sebagian masih duduk di tempatnya. Guru Ma menilai ini sungguh tindakan yang hebat. Tapi ia merasa tak ada yang setuju dengan Dong Goo dan Ha Na. Ia kembali memerintahkan anak-anak untuk segera ke auditorium.

Guru Ma keluar lebih dulu, disusul beberapa anak yang mengikutinya. Na Ri menoleh sebentar kemudian mengikuti yang lainnya keluar. “Hei tunggu dulu, apa yang kalian lakukan?” Dong Goo berusaha menahan mereka, tapi mereka tetap keluar.
Ha Na menahan Soo Jin, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Soo Jin tak bisa menjelaskannya, ia hanya mengatakan kalau semua orang tua sudah hadir dan kalau kita tak melakukan pementasan maka ini akan menjadi sikap kita yang tak baik pada orang tua.

Yoon Ji Min menambahkan kalau mereka tak perlu melakukan pemboikotan hanya karena Bo Mi. Kim Ga Eul membenarkan kenapa Ha Na berfikir kalau pemboikotan itu sungguhan. Ketiganya pun keluar menuju auditorium. Bo Mi duduk diam menunduk di tempatnya. Ha Na bingung dengan semuanya. Tinggalah mereka bertiga di kelas. Ha Na, Dong Goo dan Bo Mi.
Anak-anak kelas 6-3 berjalan di belakang Guru Ma menuju ruang auditorium. Mereka sudah seperti terkena hipnotis Guru Ma, berjalan diam mengikuti di belakang Guru Ma.
Dong Goo benar-benar tak habis pikir, ia benar-benar marah. Bo Mi diam menunduk di tempat duduknya. Ha Na tak menyangka pemboikotan ini tak sesuai dengan rencana yang mereka janjikan kemarin. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Tak lama kemudian Bo Mi berdiri mengapai tas seragam olahraganya. Ia juga keluar kelas untuk menuju ruang auditorium. Ia menabrak Dong Goo untuk menyingkir. Dong Goo jelas saja kaget, “Hei Eun Bo Mi, apa kau juga...”
Langkah Bo Mi terhenti, ia menoleh ke arah Ha Na dan Dong Goo. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Bo Mi keluar dari kelas menyusul mereka menuju auditorium.
Ha Na dan Dong Goo benar-benar tak percaya ini. Dong Goo benar-benar marah, “Apa ini? apa ini hanya bercanda?” Dong Goo menendang meja hingga terbalik membuat buku gambar Bo Mi terjatuh. 

Ha Na terdiam tak percaya, ia seperti dikhianati teman-temannya. Bo Mi yang semula ditolak tampil oleh Guru Ma, rencana pemboikotan yang ia dan teman-temannya rencanakan karena Bo Mi tak ikut terpilih, ternyata ini berbalik menyerangnya.
Tanpa terasa air mata Ha Na menetes. Ia melihat buku gambar Bo Mi yang terbuka, tampaklah gambar manga karakter dirinya yang dibuat Bo Mi. Air mata Ha Na terus mengalir, ia mengambil buku dan melihat gambar karya Bo Mi. Dalam gambar itu tertulis, ‘si imut Ha Na’
Ha Na membuka lembar berikutnya, tampaklah gambar karakter manga dua orang bertuliskan ‘kami teman baik’
Tetes demi tetes air mata Ha Na membasahi gambar itu.
Apa yang terjadi, kenapa anak-anak tak jadi melakukan pemboikotan. Apa yang Guru Ma lakukan hingga membuat anak-anak ini seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Mereka begitu patuh tak berani melawan. Ia benar-benar tak akan membiarkan ada anak yang membangkang padanya.

Komentar :

Untuk episode 3 ini saya bingung bagaimana karakter si Bo Mi. Ketika awal melihat dia, seorang gadis pendiam karena memiliki kekurangan di bidang akademik maupun fisik, saya iba apa lagi begitu melihat dia diperlakukan keras oleh ibunya yang menuntut untuk mendapatkan nilai baik dalam pelajaran.

Ha Na juga sih kerjaannya suka ikut campur hahaha. Ha Na yang perasaannya peka tentu saja ingin membuat salah satu temannya berhasil juga. Setelah menerima hukuman membersihkan ruang olahraga, Ha Na dan Bo Mi memutuskan berteman. Ha Na yang mengetahui bakat Bo Mi, ingin Bo Mi membuat karakter komik tentang dirinya dan sebagai gantinya ia bersedia melatih Bo Mi menari sampai bisa.

Ok bagus, cukup berhasil sampai membuat Guru Ma sendiri terharu melihatnya. Yakin, kalau Guru Ma tersenyum melihat Ha Na akrab dengan Bo Mi. Tapi ya ampun Bu Guru yang satu ini selalu menyembunyikan senyum bahagianya. Yang dia tunjukan selalu saja wajah dingin dan menakutkan. 

Tapi apa coba, usaha dan kerja keras Bo Mi ternyata masih dianggap belum cukup oleh Guru Ma. Bo Mi tetap tak bisa mengikuti acara festival. Ha Na tentu saja tak terima, karena yang ia lihat Bo Mi cukup layak berpartisipasi ikut festival.

Walaupun saya kecewa karena Guru Ma menolak Bo MI tampil, saya sebenarnya kurang setuju ketika Ha Na memutuskan untuk melakukan pemboikotan. Ha Na seharusnya menghibur Bo Mi, bukan malah mengajak ke hal yang ga bener. Ok mungkin Ha Na menyebut ini tak adil bagi Bo Mi yang sudah berusaha keras latihan dan berhasil. Tapi kan tak harus mengorbankan harapan orang tua yang ingin melihat putra putri mereka tampil di panggung.

Dan inilah yang terjadi, Guru Ma tahu apa yang anak didiknya rencanakan. Dari siapa? hmmm kemungkinan Bo Mi. Karena Guru Ma melihat Bo Mi tampak senang datang ke ulang tahun Na Ri. Guru Ma merasa seharusnya Bo Mi sedih karena tak bisa tampil, tapi Bo Mi malah tersenyum gembira dan itu membuat Guru Ma curiga.

Tapi kenapa anak lain bisa nurut begitu, ah pengaruh Guru Ma memang sangat besar nih, sepertinya dia bukan hanya ke rumah Ha Na saja. Ia juga sepertinya berkunjung ke rumah semua siswanya dan mengatakan kelebihan siswanya dan itu membuat orang tua sedikit bangga. Mereka tentu saja ingin melihat penampilan putra putri mereka, anak-anak pun dibuat bingung, dan akhirnya mereka terpaksa memutuskan untuk tak meneruskan pemboikotan dan tampil di panggung, walaupun dengan hati yang berat.

Saya sedikit sebel melihat Na Ri di episode 3 ini dimana dia menunjukan sisi buruknya. Dia tak suka ada orang lain lebih baik darinya dalam segala hal. Benar-benar tipe anak yang ingin lebih hebat dibanding orang lain.

Apa yang terjadi pada Ha Na dan yang lainnya. Ahay makin seru. Satu hal yang saya ambil dari episode kali ini, bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagaimana dengan episode 4. Sabar hehehe.

5 comments:

  1. Aduh, msh belum ngerti ama cara mendidik guru Ma. Serem beut dah... Btw, All about My Romance belum sempat buat atw lupa diposting? Just asking, saya akan sabar nunggu koq. ;)

    ReplyDelete
  2. Ah bingung kan kenapa mereka semua gajadi boikot.. Bo mi juga kenapa? Bingung sama guru Ma yang bener2 misterius...

    ReplyDelete
  3. bener ,,, sampe skarang blum ngerti knapa cara ngajarnya gitu,
    kayanya lebih cocok untuk ngjar murid smp taw sma,
    tapi masih tetep ngalanjutin baca sampai tau knapa guru ma begitu.. makasig mba anis :)

    ReplyDelete
  4. Hmmm... Makin penasaran kelanjutan. Ditunggu lanjutannya ya mba. Semangat!

    ReplyDelete
  5. Haha.. Guru Ma sama kayak guru SD ku tapi bedanya dia bukan guru wali kelasku. Entah kenapa ep 3 ini juga mirip sama kejadian di sekolahku hanya saja kami disuruh main alat musik. Serasa deja vu. Wkkk~~

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...