Friday, 7 June 2013

Sinopsis All About My Romance Episode 13 Part 1

Ketua Go menginginkan Soo Young menjadi juru bicara dari GKP untuk melakukan konferensi pers. Ia meminta Soo Young yang melakukan itu karena yang biasa menjadi juru bicara kebanyakan sudah sering melakukan skandal. Soo Young merengut tak senang tapi ia terpaksa melakukannya.
Soo Young pun melaksanakan konferensi pers. Tapi tepat saat Soo Young berbicara rombongan Min Young tiba di tempat konferensi pers. Soo Young menatap tajam Min Young.

“Untuk semua penyalahgunaan kekuasaaan yang telah terjadi dan untuk janji-janji yang tak konsisten. Pembohongan terhadap publik dan semua peristiwa yang sudah mengecewakan rakyat. Partai GKP kami, dengan sungguh-sungguh menyampaikan maaf dan penyesalan. Kami juga heran, apakah setiap pernyatan yang pernah dibuat wakil Noh Min Young itu semua adalah benar ataukah kita perlu meragukannya.”
Soo Young mengelus telinga dan hidungnya. Min Young mengingat ketika dirinya bersama Soo Young di tempat rahasia. Saat itu Soo Young mengajaknya untuk membuat kode rahasia yang akan digunakan jika keduanya harus saling bermusuhan (saling serang)
Mengingat kode rahasia itu Min Young tersenyum simpul. Senyum simpul Min Young dilihat para kameraman. Semua kamera langsung mengarah padanya. Min Young langsung bersikap biasa. Hee Sun yang berada disana heran kenapa Min Young senyum-senyum seperti itu.

Soo Young masih berdiri menjadi juru bicara partainya, “Setiap masyarakat yang tersakiti perasaannya oleh penghianatan wakil Noh Min Young dari GJP terimalah permintaan maaf yang tulus dari kami.”
Giliran Min Young yang berbicara di depan. Terkait masalah keponakannya yang belajar di sekolah international. Min Young sendiri sangat memerangi yang namanya bentuk sekolah internasional. Ia menunduk minta maaf karena sudah mengecewakan banyak orang. Soo Young pun meninggalkan ruang konferensi pers.
Tapi apa yang terjadi, malah muncul artikel lain yang menyatakan kalau permintaan maaf Min Young itu tidak tulus.

-Itukah senyum minta maaf? Senyum dan pernyataannya tak bisa dipercaya-
-Noh Min Young dari GJP menghina GKP-
-Noh Min Young menghina pernyatan Kim Soo Young-

Huwaaaaa akibat senyum simpul Min Young ternyata muncul berita baru yang negatif tentang Min Young.
Min Young yang membaca artikel berita itu kesal. Ia tahu kalau ia perlu bersujud minta maaf secara terbuka pada rakyat tapi ia tak habis pikir bagaimana mereka bisa menulis artikel negatif dan pedas seperti ini.
Dong Sook berkata kalau banyak artikel lain yang ditulis secara positif hanya saja itu tak ditulis di halaman utama. Min Young berkata kalau orang-orang lebih cenderung membaca berita di halaman utama. Dong Sook mengingatkan Min Young tak boleh mengatakan kalau artikel-artikel itu berbahaya. “Kau hanya menampilkan citra yang mereka inginkan dan ingin mereka tampilkan.”
Min Young tak mengerti. Dong Sook berkata kalau tadi ketika Soo Young bicara Min Young tersenyum. Benar, kan? Min Young membenarkan ia tak menyangkal, Dong Sook diam.
Yoon Hee masuk ruangan memberi tahu kalau ada orang-orang dari pendidikan swasta ingin bertemu dengan Min Young dan juga ada perwakilan dari komite orang tua murid dari sekolah internasional Nakwon. Dong Sook merasa kalau Min Young akan diomeli lagi. Ia akan keluar lebih dulu.
Moon Bong Shik yang berada di ruangannya cemas. Ia heran kenapa Kim Soo Young yang bicara padahal juru bicara partai itu ia sendiri. Ia panik, apa ia sudah dipecat sebagai juru bicara partai. Park Bo yang ada disana diam tak menanggapi.

Bong Shik marah sekretarisnya diam saja, “Kenapa kau tak menjawab? Apa mulutmu dijahit? Apa perlu aku membuka mulutmu?” Bentak Bong Shik. Park Bo jadi serba salah ia mengira kalau Bong Shik sedang bicara sendiri. Bong Shik meminta pendapat Park Bo kenapa Ketua Go mengabaikannya. Park Bo menebak mungkin Bong Shik sudah membuat kesalahan.
Bong Shik : “Jadi menurutmu, aku ini benar diabaikan?”

Park Bo bilang bukan begitu.

Bong Shik yang panik membentak, “Benar atau tidak?”
Park Bo : “Maksudku, aku tak tahu.” (hahaha)
Bong Shik yang tak puas dengan jawaban Park Bo berterima kasih karena sudah jujur dalam menjawab kegundahannya. Ia kesal dan menjewer kedua telinga Park Bo hahaha. Ia bertanya apa Park Bo sudah menyiapkan yang ia minta. Park Bo mengeluarkan dua bingkisan yang diminta Bong Shik. Bong Shik yang masih jengkel kembali menjewer kedua telinga sekretarisnya. Hahaha. Ia membawa dua bingkisan itu menuju ruangan Ketua Go.
Soo Young berada di ruangan Ketua Go. Ketua Go mengusulkan bagaimana kalau Soo Young menjadi juru bicara partai yang baru. Soo Young berkata apa Ketua Go tak merasa sudah terlalu banyak memberinya tugas.

Ketua Go menyarankan agar Soo Young mempertahankan saja apa yang sudah Soo Young lakukan. “Tunjukan wajahmu ketika aku memerintahkannya termasuk perintah lain yang kuperintahkan.” Ketua Go juga menyarankan agar Soo Young menjaga baik-baik kehidupan pribadi Soo Young.
Soo Young menilai Ketua Go pasti belum paham dengan yang dimaksud kata ‘pribadi’. “Yang dimaksud kehidupan pribadi adalah kehidupan yang tak boleh dicampuri oleh orang lain. Mau aku menjaganya atau tidak itu hak-ku.”

Ketua Go : “Apa kau pikir kau ini orang biasa yang bisa seenaknya melakukan yang kau inginkan? Kau ini pejabat publik.”

Soo Young mengingatkan kalau Ketua Go hanya boleh mencampuri urusannya dalam hal pekerjaan saja, dengan begitu ia akan mendengarkan semua perintah Ketua Go. “Tapi kalau kau mulai ikut campur dalam kehidupan pribadiku dan mulai mengusiknya .....”

Ketua Go menyela, “Lalu kau mau apa?”
Bong Shik sampai di kantor Ketua Go. Sekretaris Ketua Go mengatakan kalau Ketua Go sedang rapat. Bong Shik ingin tahu rapat dengan siapa. Sekretaris bilang dengan Kim Soo Young. Ponsel sekretaris bunyi, ia menerima panggilan teleponnya menjauh.
Bong Shik penasaran apa yang Ketua Go dan Soo Young obrolkan di dalam ruangan. Ia pun berniat menguping tapi tak kedengaran apa-apa. Bong Shik membuka sedikit pintu ruangan Ketua Go.
Soo Young mengancam kalau Ketua Go mengusik kehidupan pribadinya, maka ia akan mempermalukan Kerua Go. “Di depan publik, walaupun aku membencinya aku akan memanggilmu ayah.” Ketua Go menahan geram dengan ancaman Soo Young.

Bong Shik yang ingin mengetahui apa yang diperbincangkan berusaha mengintip. Tapi tetap saja tak bisa mendengar atau melihat apapun.

Soo Young : “Singkatnya kita berdua akan jatuh.”
Dan brakkkkk.... tiba-tiba Bong Shik terdorong masuk ke ruangan membuat Ketua Go dan Soo Young terkejut.

Bong Shik jadi serba salah, ia bingung mesti ngomong apaan. Ketua Go menatapnya marah, “Apa yang kau lakukan disini?” Bong Shik menunduk langsung duduk di kursi, “Bukankah kau menyuruhku untuk menemuimu, Ketua Go?” Ketua Go yang ga merasa memanggil Bong Shik bilang tidak. Soo Young pun keluar dari ruangan Ketua Go.
Bong Shik menyerahkan dua bingkisan yang ia bawa pada Ketua Go sebagai ungkapan hari ayah dan hari guru. Bong Shik mengatakan itu karena Ketua Go merupakan figur seorang ayah dan guru baginya.
Ketua Go : “Tapi bagaimana ya? Aku ini tak memberikanmu apa-apa ketika hari anak.” Bong Shik tersipu bilang kalau itu tak perlu (Hahaha). Ketua Go bilang kalau ia hanya bercanda.

Ketua Go berharap Bong Shik tak kecewa karena hari ini ia menyuruh Kim Soo Young untuk menjadi juru bicara partai. “Apapun perkataan orang kau itu juru bicara resmi partai kita dan kau adalah tangan kananku.” Mendengar itu, Bong Shik berusaha menahan senyum bahagianya. hahaha. 
Bong Shik keluar dari ruangan Ketua Go. Ia masih tak yakin dengan perkataan Ketua Go yang mengatakan kalau dirinya ini juru bicara GKP dan tangan kanan Ketua Go. “Apa dia sedang membodohiku?” Ia pun bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan Kim Soo Young hingga Ketua Go begitu memperhatikan Soo Young.

Bong Shik sempat mendengar sedikit apa yang dikatakan Soo Young di ruangan tadi, bahwa mereka berdua (Soo Young dan Ketua Go) akan sama-sama jatuh. Bong Shik kembali bertanya-tanya, apa maksudnya itu.
Soo Young berpapasan dengan Hee Sun. Ia mengatakan kalau kemarin ia menelepon Hee Sun tapi tak dijawab, apa Hee Sun sibuk. Hee Sun yang saat itu sedang bersama Joon Ha mengatakan kalau ia sudah melihat panggilan tak terjawab dari Soo Young.
Hee Sun memuji Soo Young terlihat hebat di konferensi pers tadi. Soo Young bilang kalau ia tak memiliki bakat menjadi juru bicara. Hee Sun berkata kalau Soo Young hebat di bidang apapun, termasuk pandai membuat orang patah hati.
Kim Sang Soo berdiri tak jauh dari sana memperhatikan keduanya.

Hee Sun berkata kalau Soo Young sering melakukan itu padanya, salah satunya dnegan menyebut dirinya jurnalis murahan. Soo Young tak mengelak dan mengatakan kalau ia memang bicara jujur menyebut Hee Sun jurnalis murahan. Hee Sun membenarkan Soo Young memang jujur.
Soo Young berkata kalau artikel tentang keponakan Noh Min Young itu memiliki dampak yang besar. Hee Sun dengan tenang mengatakan kalau artikel itu ditulis bukan atas namanya, ia hanya membantu menuliskannya. Ia mengingatkan kalau ia tak akan berhenti sampai disini saja karena banyak kasus penyelewenangan antara politikus dan pejabat. Termasuk skandal. Hee Sun menambahkan ada juga beberapa anggota parlemen yang ketahuan mengirim sms pada pacar gelapnya. Hee Sun berkata kalau ia ada rapat, ia pun permisi.
Sang Soo menghampiri Soo Young (lucu liat cara dia lari jinjit-jinjit hahaha) Sang Soo bertanya anggota parlemen mana yang mengirim sms pada pacar gelapnya. Mana gue tahu jawab Soo Young hahaha.
Sang Soo menebak kalau Hee Sun itu sudah mengetahui hubuangan antara Soo Young dengan Min Young, walaupun ia sendiri masih belum yakin. Soo Young berkata kalau Hee Sun itu bukan orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.
Soo Young teringat ucapan Hee Sun ketika mereka melakukan kunjungan kerja ke daerah. Saat itu Hee Sun mengatakan kalau dia tak suka ada yang berbohong padanya. Dia sudah berusaha mati-matian untuk tak menjadi gila. Tapi kalau ada yang berbohong padanya, dia akan gila. Lebih dari sekedar gila.

Soo Young berkata pada Sang Soo kalau Hee Sun akan sanggup melakukan itu kalau dia memang sudah gila. Soo Young bertanya-tanya rahasia apa yang diketahui oleh Hee Sun yang bisa membuat Hee Sun gila.
Tak jauh dari sana Soo Young melihat Min Young bersama perwakilan dari pendidikan swasta. Min Young berjanji kalau dia akan berfikir baik-baik sebelum membuat keputusan. Soo Young dan Min Young berpapasan tapi tak saling menyapa.
Mata keduanya bertemu. “Apa kau tak apa-apa?” tanya batin Soo Young.

Min Young tersenyum, “Aku tak apa-apa.” jawab Min Young dalam hati pula.

Batin Soo Young : “Selama kau tak apa-apa, maka tak akan ada masalah.”
Soo Young bicara pelan pada Sang Soo menyuruh bertanya pada Min Young, apa malam ini Min Young tak ada rencana.
Sang Soo mengerti dan berlari jinjit menghampiri Min Young. Ia pun berbisik menyampaikan apa yang ditanyakan Soo Young. Min Young menjawabnya berbisik pada Sang Soo.
Dan begitulah seterusnya, bisik-bisikan lewat Sang Soo yang mondar-mandir hahaha. Yang mereka bertiga lakukan dilihat oleh anggota parlemen lain.
Mereka bengong heran, apa sampai sejauh itu permusuhan mereka berdua? Sampai bicara saja lewat perantara dan bisik-bisikan membuat sekretaris Kim Sang Soo menderita. Hahaha.
Min Young berada di dalam taksi. Ia kelelahan dan terlelap di taksi. Supir taksi membangunkan kalau Min Young sudah sampai tempat tujuan. Min Young terjaga. Pak supir menebak kalau Min Young pasti kelelahan. Usai membayar ongkos taksi Min Young pun keluar dari taksi.
Min Young berdiri di depan kaca sebuah toko. Ia melihat pantulan bayangan dirinya yang tampak tak bersemangat. Ia pun berusaha untuk tersenyum ceria.
Min Young melihat sekeliling, takut kalau identitasnya ketahuan ia memakai kerudung untuk menyamarkan diri.
Soo Young menunggunya di dalam mobil di tepi jalan. Min Young sembunyi di balik pohon sambil celingukan. Soo Young terkekeh melihatnya. Min Young lari ngibrit masuk ke mobil Soo Young. 
Keduanya pergi tapi oh tidak ada sebuah mobil yang mengikuti mereka.
Soo Young melihat mobil itu dari kaca mobilnya tapi ia tak mengatakannya pada Min Young. Agar bisa kabur dari penguntit Soo Young tiba-tiba membelokan mobilnya dan tancap gas cepat. Mobil yang mengikuti Soo Young terhenti, kagok kali ya.
Min Young khawatir, apa ada yang mengikuti mereka. Soo Young tersenyum bilang tidak. Soo Young mengatakan kalau di daerah ini besar kemungkinan keduanya bertemu dengan orang yang mereka kenal. Jadi keduanya harus berhati-hati sampai bisa keluar dari daerah ini.
Soo Young menawarkan apa Min Young mau mendengarkan musik. Ia pun menyalakan radio di mobilnya. Tapi bukan musik malah dialog yang membahas partai beraliran liberal dan Min Young. Soo Young akan mematikan radionya tapi Min Young melarang. Dialog di radio menyebutkan bahwa Min Young terang-terangan menghina Kim Soo Young yang sedang bicara. Mereka menilai tingkah laku Min Young itu tak sopan.

Soo Young yang kesal mematikan radionya. Ia jengkel apa orang-orang ini tak bisa melihat siapa diri mereka.
Min Young memukul dan menyalahkan Soo Young, “Ini gara-gara kau, kenapa kau membuatku tertawa?” Min Young akan memukul lagi tapi Soo Young menangkap tangan dan menggenggamnya. Ia tersenyum meminta Min Young duduk tenang saja di kursi. Min Young menarik paksa tangannya dan cemberut. Soo Young tanya apa Min Young marah.

Min Young meraih tangan Soo Young dan menggenggamnya. Soo Young tanya apa yang ingin Min Young lakukan. “Ayo kita hancurkan sesuatu.” ajak Min Young sambil memukul tangan Soo Young. 
Keduanya pun pergi ke tempat dimana bisa memukul. Keduanya ke tempat permainan bola baseball dan beberapa permaianan pukul. Keduanya tampak menikmati.
Hee Sun menemui Ketua Go. Ketua Go bertanya apa artikel yang dibuat Hee Sun sudah selesai. Hee Sun berkata seperti yang Ketua Go bilang, ada beberapa kelemahan kecil dan kelemahan itu terlalu ringan. Jadi ia kembali mempertimbangkannya.
Ketua Go berkata bukankah citra seseorang itu dipengaruhi oleh hal-hal kecil seperti ini. Hee Sun membenarkan dan kalau kelemahan kecil ini datang sekaligus maka akan menjadi pukulan besar. Yang namanya kesan baik akan bertahan selamanya dan kesan buruk akan mengeluarkanmu dari permainan. Image adalah sebuah hal yang sangat penting.

Ketua Go menyarankan agar Hee Sun menunggu saja. Semakin Hee Sun mencoba memisahkan pria dan wanita maka keduanya akan semakin sulit dipisahkan. Hee Sun berkata kalau ia tak terlalu mengkhawatirkannya karena sejak awal ia tak percaya kalau hubungan mereka akan berhasil. Ketua Go membenarkan dan mengatakan kalau semua itu tergantung pada Hee Sun.
Hee Sun berkata kalau saat ini ia sendiri masih bingung tentang apa yang ia inginkan. Tapi ada satu hal yang membuatnya bingung dan penasaran, “Kenapa anda menolongku?” Tanya Hee Sun. Ia menebak apa sekarang ini Ketua Go sedang memanfaatkannya atau karena Ketua Go membutuhkan bantuannya atau lebih tepat lagi bantuan ayahnya. Ketua Go tertawa menatap Hee Sun.
Soo Young dan Min Young berada di bangku taman sambil makan es krim. Tangan keduanya selalu menggenggam. Min Young masih tak mengerti bagaimana pun ia memikirkannya hal ini masih terlihat aneh baginya. Walaupun wajahnya sering dikaitkan dengan insiden kekerasan bukankah ia ini masih seorang politikus yang tak berdaya. Jadi ia masih bingung kenapa artikel tajam itu dibuat.

Soo Young menarik nafas, ia menebak mungkin ini karena....

Min Young menyela pasti jawabannya ada diacara debat calon waktu itu. Ia tahu kalau pertanyaan yang ia ajukan menyinggung para pejabat. Apa mungkin artikel ini untuk menutupi kasus itu?

Soo Young meminta Min Young mendengarkan perkataannya, “Kupikir kau tak begitu penting untuk dimanfaatkan seperti itu.” (hahahaha)
Min Young menebak apa ini perbuatannya Reporter Ahn Hee Sun. “Tapi bagaimana mungkin begitu, dia kan tak tahu hubungan kita. Apa sebegitu bencinya dia padaku? Apa dia melakukan ini karena dia membenciku?”

Soo Young menghela nafas, entahlah. Min Young jengkel, apapun itu ia tak menyukai Hee Sun. Melihat sikap Min Young sekarang, Soo Young menebak kalau Min Young sebentar lagi pasti akan memukulnya.
Min Young : “Aku tak akan melakukannya. Aku akan rugi kalau memukulmu karena kau ini milikku.” (wuih hahaha)
Soo Young kaget mendengar ucapan Min Young. Min Young juga kaget dengan ucapannya. “Ya ampun bicara apa aku ini. Aku pasti sudah gila.” gerutu Min Young mengalihkan pandangan ke arah lain hahaha.
Min Young segera bangkit dari duduknya dan pergi dari sana. Soo Young yang tadi bengong terkejut kemudian tertawa mengatakan kalau Min Young belum gila. Ia menyusul Min Young dan mengatakan kalau sekarang Min Young sedang waras jadi katakan itu sekali lagi. Katakan sekali lagi aku ini milik siapa....(hahaha)
keduanya bersenda gurau dan tanpa keduanya sadari ada yang memotret kebersamaan keduanya dari jauh. (ahhhhh tidakkk)
Soo Young mengantar Min Young sampai di depan rumah. Soo Young tersenyum apa Min Young akan pulang begitu saja. Keduanya tertawa. Bo Ri keluar rumah untuk meletakan sampah di depan. Ia melihat kemesraan Min Young bersama Soo Young di dalam mobil (Bo Ri ngeliat Soo Young n Min Young kissu) tapi ia diam saja dan kembali ke rumah.
Setelah Min Young masuk ke rumah Soo Young melihat di belakang ada mobil yang ia curigai mengikutinya. Soo Young yang marah keluar untuk melabraknya. Soo Young memukul keras pintu mobil itu.

Seorang wanita di dalam membuka kaca jendela dan bertanya ada apa. Ternyata bukan, Soo Young yang sudah salah sangka minta maaf. Ia kembali ke mobilnya.
Min Young menghampiri Bo Ri yang sedang belajar. Ia menanyakan pelajaran Bo Ri hari ini di sekolah. Bo Ri menatap Min Young dengan tatapan sinis. Min Young heran apa ada sesuatu yang salah, apa ada teman Bo Ri yang membaca artikel tentang dirinya dan mengganggu Bo Ri.
Bo Ri bilang tak ada. Ia mengatakan kalau ia bisa menjaga dirinya jadi Min Young tak perlu khawatir. Min Young cemas bagaimana bisa ia tak khawatir. Bo Ri berkata kalau itu namanya privasi. Min Young mengatakan kalau ia mendengar dari Nenek kalau Bo Ri akan dipindahkan ke tempat kursus lain. Ia minta maaf karena Bo Ri sampai harus pindah tempat kursus, “Seandainya terjadi sesuatu di sekolah....”
“Milik Kim Soo Young kan.” Bo Ri menyela membuat Min Young terdiam terkejut. Bo Ri menatap sinis buku yang ada di rak, “Disana. itu bukunya Kim Soo Young.” Min Young yang terkejut melihat buku itu membenarkan kalau buku itu milik Kim Soo Young.
Bo Ri kesal kesal dengan sikap Min Young, “Two faced.” gerutunya sambil berlalu dari sana.
Min Young tak mendengar dengan jelas yang Bo Ri katakan. Ia bingung kenapa Bo Ri tiba-tiba ngambek padanya. (Two faced – bermuka dua. Lain di mulut lain di hati- munafik gitu hehe) 
Joon Ha berada di mobilnya mengingat ucapan Hee Sun. Hee Sun mengatakan kalau artikel itu terbit bukan atas namanya, kenapa Joon Ha menuduhnya. Ia yang menulis atau bukan, artikel itu sudah dibuat berdasarkan fakta, apa Joon Ha akan menyangkalnya. Hee Sun mengatakan kalau yang ia lakukan hanya mengeluarkan debu ke permukaan. Hee Sun juga mengatakan kalau dia kesal pada semuanya. Joon Ha menghubungi Hee Sun.
Hee Sun berada di sebuah bar. Ia melihat di meja sebelah ada sepasang kekasih yang asyik bercengkerama. Di meja sebelahnya juga mereka berpasangan. Ia kesal melihatnya.
Tepat saat itu Joon Ha datang, tapi pandangan mata Hee Sun masih tertuju ke arah dua sejoli yang berada disana. Joon Ha menoleh mengikuti arah pandang Hee Sun. Ia bertanya apa yang Hee Sun lakukan. Hee Sun cemberut mengatakan kalau mereka berdua (sepasang kekasih) menghinanya karena ia duduk sendirian disini. Seharusnya mereka tahu diri kalau ia juga punya seseorang disini. Joon Ha tersenyum tipis.

Hee Sun bertanya kenapa Joon Ha datang ke sini, apa Joon Ha akan mengomelinya lagi terkait artikel Min Young. Joon Ha bilang bukan. Hee Sun menebak apa kedatangan Joon Ha ini ingin bernegosiasi dengannya. Joon Ha menanyakan alasan Hee Sun melakukan semua ini.
Hee Sun : “Apa maksudmu?”

Joon Ha : “Kalau begitu apa maksudmu? Waktu itu kau bilang aku mengerjakan pekerjaan yang sia-sia? Apa maksudmu mengatakan itu? Apa lagi yang sedang kau rencanakan?”

Hee Sun berkata kalau Joon Ha ini hanya memperhatikan Min Young saja. Joon Ha bilang tentu saja, tapi itu tak seperti yang Hee Sun pikirkan. “Min Young adalah keluargaku dan aku adalah penasehat hukumnya.” Jadi tentu saja Joon Ha mengkhawatirkan Min Young.

“Dan aku juga mengkhawatirkanmu.” ucap Joon Ha membuat Hee Sun terdiam terkejut. “Sungguh, aku merasa kau secara perlahan sedang menghancurkan dirimu sendiri. Aku mengkhawatirkanmu.” 
Soo Young sampai di parkiran depan rumahnya. Ia melihat ada dompet Min Young tertinggal disana. Ia mengambilnya.
Di dalam rumah Soo Young ingin sekali melihat isi dompet Min Young tapi ia menilai ini tak baik. Tak boleh melihat isi dompet orang lain. Soo Young melihat ke layar laptop-nya tapi ia sangat penasaran dengan isi dompet Min Young. “Melihat fotonya bisa membuat hatiku sejuk.” ucap Soo Young membuka dompet Min Young.
Foto keluarga Min Young. Joon Ha, Bo Ri, Bibi n Min Young. Soo Young tersenyum melihat foto Min Young yang ada di dompet.
Tapi tiba-tiba wajahnya berubah jutek ketika melihat foto Joon Ha juga ada disana. Soo Young menutup foto Joon Ha dengan jarinya dan kembali tersenyum menatap foto Min Young hehe.
Soo Young teringat pada pertanyaannya kenapa Min Young membenci hujan dan Min Young mengatakan kalau Eonni-nya meninggal ketika hujan. Soo Young pun mencari tahu lewat internet berita kematian Noh Min Hwa (Eonninya Min Young yang juga seorang politikus bahkan kandidat calon presiden) wajah Ketua Go ada di beberapa artikel yang termuat disana.

Soo Young berfikir apa Ketua Go terlibat dalam kasus meninggalnya Noh Min Hwa.
Keesokan harinya Min Young terjaga dari tidur ketika mendengar dering suara ponselnya. Tangannya meraba-raba mencari dimana ponselnya sambil matanya merem hahaha. “Ya ini aku Noh Min Young..” kata Min Young dengan mata masih terpejam.

“Apa kau tidur nyenyak?” terdengar suara Soo Young bertanya. Min Young tersenyum menjawab ya. Soo Young bertanya, “Apa kau tidak melaporkan barang hilang. Apa kau tak merasa kehilangan sesuatu?”

“Ada apa?” Min Young membuka matanya. Ia bertanya Soo Young ada dimana, apa ada di luar rumahnya. Soo Young mengiyakan, ia berada di luar rumah Min Young. Soo Young menyuruh Min Young melihat ke luar.
Dengan tampang masih ngantuk yang lusuh Min Young menuju jendela kamarnya. Ia terkejut melihat Soo Young berdiri di depan rumah sambil melambaikan dompet miliknya. Menyadari kalau dirinya masih kacau baru bangun tidur, ia pun segera menyiapkan diri. hihi.
Min Young keluar rumah mengendap-endap. Ia menutupi kepalanya dengan penutup kepala di sweater. Soo Young menyerahkan dompet Min Young. Min Young juga menutupi kepala Soo Young dengan penutup kepala yang ada di jaket dan memperingatkan kalau Soo Young harus hati-hati karena nanti bisa ketahuan tetangga. Ia menarik Soo Young untuk segera pergi dari sana.

Keduanya ngapain ya? olahraga pagi, lari pagi, jalan-jalan pagi. Pokoknya Min Young melingkarkan tangannya ke tangan Soo Young deh.
Di jalan Min Young menemukan jalan yang berlubang, ia segera memotretnya. Soo Young heran apa yang Min Young lakukan. Min Young mengatakan kalau ini harus segera dilaporkan ke kantor walikota supaya cepat diperbaiki karena wanita yang mengenakan sepatu hak tinggi bisa celaka kalau lewat jalan ini.
Min Young juga memotret lampu jalanan yang mati. Menurutnya walaupun ini hanya lampu jalanan biasa tapi akibatnya bisa fatal, karena lampu mati seperti ini bisa menimbulkan niat jahat orang untuk merampok. Tapi kalau lampunya nyala orang tak akan berani berbuat macam-macam.

Soo Young : “Jadi sebuah lampu jalanan bisa menentukan hidup mati seseorang ya?”

Min Young : “Apa kau meledekku?”
Soo Young tersenyum kalau yang ia katakan ini kebenaran. “Bagaimana aku bisa tidak jatuh cinta padamu sedangkan kau melakukan hal-hal seperti ini?” Soo Young akan mengecup pipi Min Young tapi Min Young yang tersipu mendorongnya.
Keduanya menikmati udara pagi sambil rangkulan hihihi. Asoyyy..... hahaha
Soo Young bertanya apa Min Young ingat kalau keduanya pernah membicarakan tentang Eonni-nya Min Young. Ia mempertanyakan bagaimana kalau hal tersebut bukan kecelakaan biasa.

Belum sempat Min Young menjawab keduanya melihat Bibi bersama seorang ahjumma berjalan ke arah mereka. Min Young kaget campur bingung, ia celingukan mencari tempat untuk sembunyi. Bibi tak boleh melihatnya bersama Soo Young. Min Young ngibrit lari sembunyi.
Soo Young yang bingung berdiam diri disana. Bibi melihat Soo Young ada disana. Ia menghampiri dan menyapa Soo Young. “Wakil Kim, apa kabar?”
Soo Young pun berkata ramah sambil tersenyum, “Lama tak bertemu tapi kau masih cantik seperti biasa.” jawab Soo Young membual hahaha.
Bibi jadi malu, “Ah kau ini pagi-pagi sudah merayu.” Soo Young berkata kalau ia hanya mengatakan yang sebenarnya kalau Bibi memang cantik. “Bagaimana mengatakannya ya, sejak awal aku merasa kalau kecantikanmu itu begitu alami. Aku merasa innocent tidak tepat, bagaimaan kalau menyegarkan?”

“Ah ya ampun jangan bercanda.” seru Bibi makin tersipu dipuja-puji oleh Soo Young. Keduanya tertawa.
Min Young yang sembunyi heran apa yang mereka tertawakan. Min Young melihat bibinya berlalu dari sana. Ia pun menelepon Soo Young.
Ahjumma yang bersama Bibi bertanya apa Bibi dengan mudah bisa dirayu. Bibi heran apa maksud ahjumma. Ahjumma merasa heran, “Apa kau tah tahu kalau dia itu pasti ada maunya.” Bibi menegaskan kalau yang dikatakan Soo Young tadi benar-benar tulus. Bibi ingat kalau ia belum berterima kasih pada Soo Young karena sudah memujinya.
Soo Young menerima telepon dari Min Young yang masih ngumpet. Soo Young bilang hampir saja keduanya kepergok Bibi. “Sebenarnya aku ini bukan perayu. Menurutku Bibimu itu tidaklah cantik.” 

Dan Bibi pun berlari menyusul Soo Young tapi Soo Young tak menyadarinya. Bibi yang mengikuti Soo Young terkejut mendengar apa yang Soo Young katakan di telepon.

Soo Young yang tak tahu Bibi mengikutinya bicara santai. “Dia itu hanya wanita tua biasa. Semua wanita tua terlihat sama saja di mataku. Aku sendiri terpaksa menyebutnya menyegarkan.”

“Lalu kenapa kau bilang begitu padaku?” Tanya Bibi.

“Apa maksudmu kenapa? Tanya Soo Young mengira Min Young yang bertanya. “Aku hanya mencoba menyanjungnya.”

“Kenapa kau mencoba menyangjungku? Bibi mulai marah. “Apa tujuanmu menyanjungku? Apa yang kau inginkan dariku?” suara Bibi meninggi.
Soo Young terdiam terkejut tak menyangka kalau yang bertanya tadi si Bibi yang sudah berada di sebelahnya. Ia menoleh terkejut. Soo Young tersenyum berusaha menjelaskan kalau Bibi jangan salah paham padanya.
“Tutup mulutmu!” bentak Bibi sambil mengayunkan dirigen yang dibawanya. Untung saja Soo Young bisa menghindar. Min Young yang masih ngumpet terkejut melihat kemarahan Bibinya. “Aku tak mau lagi mendengar kata-katamu, jadi tutup mulutmu!” bentak Bibi pada Soo Young. “Untuk apa kau menyanjungku kalau bagimu aku ini hanya wanita tua biasa? apa tujuanmu?” Bibi kembali berusaha memukulkan dirigen ke arah Soo Young.

“Tak ada tujuan apa-apa kok.” Soo Young berusaha membela diri dan segesit mungkin menghindar.  “Kau salah paham, dengarkan aku!”

Bibi yang ngamuk-ngamuk berusaha memukul, menendang dan mengejar Soo Young. Wakakaka.
Min Young hanya bisa bengong melihat dari jauh. hahaha.

Komentar :

Huwaaaaaaa ngakak, senyum-senyum sendiri di kamar tiap kali rerun nih drama. Asli deh bener-bener sebagai penghilang stress. Adegan sweetu-nya bener-bener bikin iri.

Bagaimana hubungan Young-Young couple ini selanjutnya, BIbi pasti sebel banget sama Soo Young. Apa cara Soo Young untuk merebuta hati si Bibinya Min Young.

Kencan Min Young n Soo Young udah ada yang nguntit nih, apa hubungan asmara keduanya bakal terungkap ke publik....???

Huwaaaa Soo Young udah mulai berani mengancam Ketua Go nih, dia bakal ngumumin ke publik kalau dia anak ketua Go kalau ketua Go macem2 sama kehidupan pribadinya. Ketua Go tentu saja ga mau hal ini terungkap karena nantinya akan menjatuhkan citra politik yang sudah dibangunnya dan barangkali dia mengincar kursi di Blue House.

1 comment:

  1. Ga bisa tidur...malam2 baca sinop AAMR,,, dikasih yg sweetu..sweetuu.. sm Young Couple N' Anis...
    senyum.. snyum sendiri bacanya...

    Thanks Anis SINOPNYA... :D
    Fighting

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...