Friday, 28 June 2013

Sinopsis The Queen's Classroom Episode 3 Part 1

Sambil menangis sesenggukan Ha Na mengatakan kalau Dong Goo memiliki sisi baik yang tidak Guru Ma ketahui.

“Bahkan ketika siswa lain meledeknya, dia tak pernah mengatakan hal buruk pada siswa lain. Dia dipukuli karena tak bisa melawan, tapi dia tak pernah melakukan hal buruk dan dia bukan pengecut. Aku tak peduli siapa ibu dan ayahnya, aku menyukai Dong Goo. Oh Dong Goo adalah teman yang kusukai.”
Dengan air mata yang berlinang Dong Goo menoleh menatap Ha Na. Semua siswa diam dan merasa iba.
Guru Ma : “Kalau begitu, kalian berdua bisa menjadi ketua kelas karena kalian berdua berteman baik.”

Ha Na tercengang mendengarnya, ia menjadi ketua kelas lagi. Guru Ma mengingatkan bukankah ia sudah memperingatkan bahwa ia tak akan mentolerir sikap siswanya yang membangkang.

Guru Ma beralih menatap Seo Hyun, “Kim Seo Hyun kau tak perlu lagi menjadi ketua kelas.” Guru Ma juga mengatakan kalau ia tak akan lagi memilih ketua kelas setiap minggunya. “Kalian berdua melakukan semua tugas piket selama setahun penuh sebagai ketua kelas. Mulai hari ini sampai akhir tahun, aku menunjuk Shim Ha Na dan Oh Dong Goo sebagai ketua kelas.”
Sementara siswa lain pulang, Ha Na dan Dong Goo melaksanakan tugas kebersihan. “Terima kasih.” ucap Dong Goo tanpa melihat ke arah Ha Na yang tengah mengepel lantai. Ha Na menoleh menatap Dong Goo. Dong Goo kembali mengucapkan terima kasih.

Dong Goo menatap Ha Na, Ha Na jadi kikuk diperhatikan seperti itu. Dong Goo heran, kenapa. Ha Na bilang tidak apa-apa, hanya saja Dong Goo sudah membuatnya merasa tak nyaman melihatnya seperti itu.

Dong Goo mengeluarkan boneka kesayangannya. Ia bicara pada boneka itu, “Miss Rosa seseorang mengaku padaku hari ini.”

Ha Na yang mendengar meninggikan suaranya, “Apa yang kau bicarakan?”

Dong Goo terus bicara dengan bonekanya, “Gadis lamban itu mengatakan kalau dia menyukaiku.”

Suara Ha Na makin meninggi, “Kau mau mati ya?”

Dong Goo : “Dia mengatakannya di depan semua orang.”
Hei.. Ha Na mengejar Dong Goo. Dong Goo lari menghindar. Keduanya kejar-kerajan. Hingga pulang pun keduanya masih saling mengejar. Dong Goo mengolok-olok Ha Na mengatakan kalau Ha Na itu menyukainya. “Kau yang mengakuinya pertama, jangan lupa itu!”
Dari dalam ruangan ada yang memperhatikan keduanya, Eun Bo Mi. Ia tampak iri melihat kebersamaan Ha Na dan Dong Goo. Ia yang tak punya teman hanya bisa menunduk diam, iri.
Seseorang menghampiri Bo Mi. “Apa kau iri?” tanya orang itu yang ternyata Guru Ma. “Kau belum punya teman dekat di kelas, kan? Mereka tak membuatmu menjadi penyendiri tapi kau masih dikucilkan.”

Bo Mi menunduk diam.

Guru Ma : “Jika kau di pihakku, aku akan menjagamu selama setahun. Kau harus menjadi kuat jika tak mau menjadi penyendiri. Tapi tak semudah itu, siapa yang mau menjadi penyendiri? Kau harus berpihak pada seseorang yang kuat jika kau tak mampu menjadi kuat. Pertimbangkanlah!”
Guru Ma berlalu dari sana membuat Bo Mi memikirkan ucapan gurunya. Di depannya ada sebuah gambar wajah seseorang yang sedang menangis. (Sepertinya Bo Mi sedang menggambar dirinya) 
Keesokan harinya, sebagai ketua kelas lagi Ha Na memberi aba-aba temannya untuk memberi hormat pada guru. Guru Ma mengkritik dua ketua kelas, “Kenapa loker penyimpanan di luar sangat berantakan? Begitu juga dengan rak sepatu. Karena kalian sudah terbiasa, apa kalian hanya membersihkan bagian luarnya saja sekarang?”

Ha Na dan Dong Goo mengerti, keduanya segera merapikan apa yang dimaksud Guru Ma.
Guru Ma membuka laptopnya dan menunjukan video tarian. “Seperti yang kalian ketahui, kita akan ada festival musim semi dalam 2 minggu lagi. Kita akan mengundang orang tua kalian dan melakukan tarian.”
Soo Jin yang pintar menari protes kenapa tarian seperti itu.
In Bo tak semangat, “Bukankah lebih baik melakukan paduan suara?”
Sun Young : “Bukankah lebih baik yang pintar menari saja yang melakukannya?”
Bit Na : “Apakah satu kelas harus melakukannya?”
Guru Ma tak suka ada yang menyela ucapannya. Ia ingin siswanya mengangkat tangan terlebih dahulu jika ada yang ingin dikatakan. Mereka diam. Guru Ma berkata kalau ini akan menjadi nilai akhir bagi siswa untuk UTS Pendidikan Jasmani. Siswa yang mendapat nilai tertinggi akan berada di posisi depan dalam barisan ketika tampil di acara puncak. Sisanya juga akan ditentukan berdasarkan nilai.

Anak-anak langsung menoleh ke belakang menatap Soo Jin yang kemungkinan berada di depan karena pintar menari. Soo Jin tersenyum bangga.

Guru Ma : “Jadi kalau kalian tak mau mengecewakan orang tua kalian berusahalah menjadi yang terbaik. Tentu saja peringkat terakhir akan menerima akibatnya.”

Eun Bo Mi yang duduk di bangku belakang menunduk diam.
Saatnya bagi anak-anak kelas 6-3 latihan tari di ruang olahraga. Tiap barisan memperagakan gerakan yang sudah mereka hafal, Bo Mi yang berada di barisan belakang cemas.
Guru Ma menyuruh anak-anak memperagakan gerakan secara bersamaan. Semua gerakan kompak dan baik, kecuali Dong Goo dan Bo Mi. Dong Goo bukannya tak bisa tapi gerakannya hanya gerakan seenaknya saja. Sedangkan Bo Mi, ia kesulitan mengimbangi gerakan cepat tariannya.
Guru Ma mengumumkan pada siswanya kalau mereka akan latihan lagi besok sepulang jam sekolah. Ia akan menghubungi masing-masing orang tua dan memberi tahu mereka tentang latihan ini. Jadi ia harap siswanya jangan menjadikan les bimbel sebagai alasan tak mengikuti latihan. Siswanya mengeluh.

Guru Ma berjalan diantara siswanya, “Kalian belum mahir tapi masih ingin mengeluh?” Guru Ma berjalan menuju Dong Goo yang terlihat senyum-senyum ke-pede-an, tapi Guru Ma berhenti tepat di depan Bo Mi yang menunduk. Ia menyuruh Bo Mi mencoba gerakan tarian sendirian.
Gerakan yang Bo Mi tunjukan tidak bagus, tak sesuai irama ketukan Guru Ma. “Kau memang payah. Tubuhmu tak fleksibel dan tak punya ritme.” Bo Mi menunduk minta maaf.
Guru Ma melihat semua siswanya juga menunduk, “Kalian cukup menggerakan mulut dalam paduan suara, tapi kalian akan merusak seluruh penampilan jika satu orang saja tak bisa menari. Kita akan terus latihan sampai semuanya bisa menari. Ingat itu.”
Guru Ma menatap Bo Mi dengan tatapan sinis, “Eun Bo Mi, bukankah kau seharusnya pintar dalam pendidikan jasmani kalau kau tak bisa mendapat nilai bagus di bidang akademik? Kau benar-benar dibawah rata-rata dalam segala hal.”

Ha Na kasihan melihat Bo Mi dikritik pedas seperti itu.
Di kelas, Yoon Ji Min kesal karena Bo Mi tak bisa melakukan tarian dengan baik. Kim Ga Eul juga sama, ia menunjukan gerakan mana dulu yang harus dilakukan Bo Mi. Bo Mi diam menunduk diomeli teman sekelasnya itu. Keduanya kesal karena Bo Mi ga bisa-bisa. Ha Na yang tengah membereskan buku dengan Dong Goo melihat Bo Mi yang lagi dimarahi, ia kasihan melihatnya.
Soo Jin datang menghampiri Bo Mi dan kedua temannya. “Apa kau ini bodoh?” Sahut Soo Jin sambil meledek gerakan tarian Bo Mi yang kaku. Itu membuat teman sekelasnya tertawa. “Gerakan apa ini?” 

Soo Jin mendorong kepala Bo Mi dengan telunjuknya, “Bukankah seharusnya kau pintar di penjas kalau kau tak pintar belajar? Bukankah kau ini penyendiri di kelas lima? Di kelas berapa kau dulu? Bukankah di kelas 5-2?”

Soo Jin bertanya pada Na Ri, “Apa dia ini sekelas denganmu dulu?”
Na Ri yang tak begitu ingat bertanya pada Sun Young apa Bo Mi sekelas dengannya dulu. Sun Young mengangguk membenarkan, Bo Mi suka menyendiri di pojok kelas.
Soo Jin menyuruh Bo Mi mengulangi gerakan tarian. Bo Mi melakukan apa yang disuruh Soo Jin. Tapi dengan jail-nya si Soo Jin malah akan merekam dengan kamera ponselnya. Ga Eul tanya apa yang akan Soo Jin lakukan. Soo Jin tersenyum mengatakan kalau ia akan mengunggah video tarian Bo Mi. Ga Eul memperingatkan kalau Soo Jin bisa saja dituntut karena melakukan itu. Soo Jin pun tak jadi merekam.

“Hei penyendiri, kau harus lebih banyak latihan atau kau akan menerima akibatnya!” ancam Soo Jin sambil mendorong-dorong kepala Bo Mi dengan telunjukanya. Soo Jin berlalu dari sana sambil menabrak Bo Mi. Bo Mi diam menunduk kembali ke tempat duduknya. Ha Na yang melihat itu merasa iba pada Bo Mi.
Di ruang guru, Wakil kepala sekolah memberikan sedikit pengarahan pada Guru Yang. Kalau Guru Yang tak punya ide tentang penampilan anak-anak di acara festival nanti lakukan saja paduan suara, baca puisi atau semacamnya. Wakasek mencontohkan menyanyi, suaranya ya ampun hahaha. Yang seperti itu juga bagus, kata wakasek.
Guru Yang berkata kalau ia sudah meminta siswanya untuk memutuskan apa yang akan mereka tampilkan secara demokratis. Mereka sudah mempersempit pilihan, antara melakukan pentas drama atau pertunjukan seni beladiri. Tapi siswanya belum memutuskan yang mana.
Guru Jung heran apa Guru Yang menyuruh siswa kelas 6-2 untuk mengambil keputusan, kenapa. Guru Yang berkata kalau segala keputusan di kelasnya dibuat oleh siswanya dan dirinya selaku guru. Guru Goo menilai menyerahkan keputusan pada anak-anak kedengarannya menjanjikan tapi itu tidaklah mudah.

Wakil kepala sekolah tak peduli pertunjukan apa yang akan dipentaskan oleh anak didik Guru Yang yang pasti cepat dibuat keputusan akan menampilkan apa. Ia meminta semua wali kelas 6 fokus pada pertemuan antara guru dan orang tua yang dimulai besok. Keempat wali kelas 6 ini mengerti. Wakasek pun berlalu dari sana.
Setelah wakasek pergi Guru Goo mengeluarkan ponselnya (mainan hape hehe). Guru Jung berkata kalau Guru Ma pasti sudah lega karena sudah melakukan pertemuan dengan orang tua murid. Guru Ma diam tak menanggapi ucapan Guru Jung. Ia konsentrasi mengisi data siswa di laptopnya. Guru Jung sedikit kesal ucapannya diabaikan begitu saja.
Guru Ma kemudian bertanya pada Guru Jung, “Eun Bo Mi yang di kelas mu tahun lalu, dia tak punya laporan tentang pertemuan orang tua.”

Guru Jung heran, Eun Bo Mi? Ia melihat foto Bo Mi di laptop Guru Ma, “Oh dia? Kau mungkin khawatir karena dia penyendiri, dia itu tak ada masalah. Mereka mengucilkannya bukan karena sengaja, kasusnya tak terlalu serius kok. Dia pasti akan lulus, jadi kau tak perlu mengkhawatirkannya.”

Guru Ma terdiam penasaran, ia kembali mengisi data perkembangan siswanya. Ia tak bisa kalau tak mengetahui perihal siswanya. (haiyyaaaa hayo apa ada guru seperti ini yang rutin mengisi data perkembangan siswanya hahaha)
Eun Bo Mi berada di pojokan perpustakaan sendirian. Ia tengah menggambar. Gambar apa ya ini, apa gambar Guru Ma.

Pertugas perpustakaan mengatakan kalau Bo Mi harus pulang karena sebentar lagi perpustakaan tutup.
Bo Mi berada disebuah minimarket. Ia mengambil beberapa snack yang dijual disana dan menyembunyikannya di kantong jaketnya. (yah Bo Mi nyolong)
Hei... Seorang ahjumma berteriak setelah memergoki Bo Mi mengambil snack jualannya. “Eun Bo Mi, apa kau tak ikut bimbel lagi kemarin?” tanya ahjumam itu yang ternyata ibunya Bo Mi.

“Apa yang kau lakukan setiap hari sepulang sekolah? Apa kau mau ibu pukul lagi? Kau sama saja seperti ayahmu yang selalu gagal dalam bisnis.” Ibu Bo Mi mendorong-dorong kepala putrinya, “Kau seharusnya ikut bimbel kalau nilaimu tak bagus. Apa kau sungguh putri kandungku?”

Pegawai ibu Bo Mi baru saja datang. Ibu Bo Mi marah-marah padanya, “Hei Nona Kim kau sudah terlambat 30 menit. Akan kupotong gajimu, jadi jangan mengeluh.” Nona Kim mengangguk mengerti.

Ibu Bo Mi juga marah-marah pada pegawai lainnya, “Bukankah sudah kubilang ‘beli satu gratis satu’ kenapa labelnya belum terpasang?” Ibu Bo Mi terus ngomel.
Bo Mi menunduk dimarahi ibunya. Ia menyerahkan undangan orang tua untuk hadir diacara festival musim semi sekolah. Ibu Bo Mi yang masih marah tanya, apa ini. Ibu membaca undangan festival itu. “Kenapa mereka membuang waktu untuk hal tak berguna seperti ini?”

Bo Mi menebak lirih, “Ibu tak bisa datang, kan?”
Ibu Bo Mi berkata bukankah Bo Mi bisa lihat kalau ia sibuk. Ia tak bisa pergi sampai toko tutup tengah malam. Ibu Bo Mi pergi mengatur pegawainya dan membuang undangan festival.

Ibu memperingatkan Bo Mi, kalau membolos bimbel lagi ia akan mengusir Bo Mi dari rumah. “Kau seharusnya menurut jika kau tak bisa mendapat nilai bagus.” Bo Mi mengambil undangan itu kembali dengan perasaan sedih.
Ha Na menunjukan undangan festival pada ibunya. Ibu yang sedang sibuk menulis angka mengatakan kalau ia sudah menandai tanggal waktu pelaksanaan festival itu supaya ingat. Ha Na senang mendengarnya, ia penasaran dengan yang ibunya lakukan sekarang. Ha Na mendekat ingin tahu.
Ha Na : “Ulang tahun Eonni 0512, ulang tahunku 0907, ulang tahun pernikahan 0419.”

Ibu bertanya pada Ha Na, berapa nomor pemain baseball kesukaan ayah. Ha Na menjawab sambil berfikir, 11. Ibu berfikir angka apa lagi yang punya empat angka ya.
Ha Na dan Eonni berada di kamar. Ha Na mengamati ulat milik Dong Goo yang ada padanya. Eonni yang sedang di depan pianonya mengatakan kalau sekarang ibunya sedang mencari sesuatu. Ha Na menebak apa ibu sedang mencari tahu password ponsel ayah. Eonni juga merasa sepertinya begitu.

Ha Na mengeluh, “Apa ayah benar-benar punya kekasih?”
Eonni tak menjawabnya, ia mengalihkan pembicaraan ke ulat yang tengah Ha Na perhatikan. Ia mengira kalau Ha Na akan menjaganya sehari saja, apa sekarang Ha Na yang merawat ulat itu. Ha Na berkata kalau ia tak bisa mempercayai si bodoh (Dong Goo) itu untuk merawat ulat ini, dia bilang akan memberinya minuman soda.
Eonni menghampiri Ha Na, “Bukankah itu menjijikan.” Ha Na bilang tidak, awalnya ia juga berfikir begitu tapi kalau diperhatikan terus ulat ini cukup imut.

“Jadi apa itu tanda cinta diantara kalian berdua.” sahut Eonni menggoda Ha Na. Hahaha.

Ha Na merengut, apa yang Eonni-nya bicarakan, “Siapa yang suka pada si bodoh itu?”

Eonni pun tak menggoda Ha Na lagi, “Tapi apa nenek sihir itu masih merepotkanmu dan Dong Goo?”

Ha Na bilang bukan hanya dirinya saja, “Menurutku dia melakukannya pada siapapun yang tidak dia suka.” Eonni menilai nenek sihir itu benar-benar menakutkan.
Siswa kelas 6-3 kembali latihan menari seusai sekolah. Gerakan mereka kompak kecuali, Dong Goo yang bergerak seenaknya sendiri dan Bo Mi yang kurang mahir melakukannya. Guru Ma mematikan tape-nya.
Guru Ma menegur Bo Mi, “Eun Bo Mi, kau sama sekali tak ada peningkatan!” Bo Mi menunduk minta maaf.

Guru Ma menatap sinis, “Maaf? Kau tak mau melakukan yang terbaik dan kau hanya bilang ‘maafkan aku’, ‘aku salah’, ‘aku menyesal’. Itulah yang selalu dikatakan oleh orang yang tak bertanggung jawab sepertimu.”

Bo Mi terus menunduk.
Guru Ma : “Jika kau melakukan kesalahan, kau seharusnya menerima hukuman tapi kau malah berlutut dan memohon maaf. Sambil menangis mengatakan ‘maafkan aku’, ‘aku sungguh menyesal’. Biasanya orang mengatakan maaf hanya untuk menghindar, apa kau juga begitu?”

Kritikan gurunya tanpa terasa membuat air mata Bo Mi menetes.

Guru Ma : “Kau minta maaf sekarang tapi itu tak akan merubah pelajaran berikutnya. Kau akan minta maaf saat itu juga, tapi tak ada yang akan berubah.”

Bo Mi diam menahan tangis dengan air mata yang mengalir di pipinya.

Guru Ma mengatakan pada semua siwa kalau mereka akan menambah jam latihan menjadi satu jam sepulang sekolah. Anak-anak mengeluh lemas. Guru Ma kembali mengatakan kalau hal ini jangan disalahkan padanya yang menambah waktu latihan, bukankah mereka tahu siapa penyebab latihan ini menjadi lebih lama. Anak-anak melirik kesal ke arah Bo Mi. Ha Na melihatnya iba.
“Bu Guru!” Ha Na menangkat tangan. “Bisakah ibu memberinya kesempatan lagi? Bo Mi sudah mencoba yang terbaik.”

Guru Ma juga mengkritik Ha Na, bukankah Ha Na seharusnya memperbaiki kesalahan Ha Na sendiri sebelum mengkhawatirkan orang lain. “Apa kau pikir kau sudah melakukannya dengan benar?”

Ha Na menunduk. Guru Ma mengingatkan bukankah sudah berulang kali ia mengatakan kalau ia tak akan mentolerir yang namanya sikap membangkang. Apa Ha Na juga tak mau memperbaiki kesalahan.

Guru Ma pun menghukum Ha Na dan Bo Mi membersihkan lantai ruang olahraga setelah mereka selesai latihan. “Itu akan membantu melatih otot bagian bawah kalian. Anggap saja itu latihan khusus!”
Ha Na dan Bo Mi pun mengepel lantai ruang olahraga. (kalau ngepel maju kayak gini kira-kira bersih ga ya hahaha. Ngepel itu bukannya mundur kan ya hahaha)
Bo Mi kelelahan dan beristirahat sebentar untuk mengatur nafasnya. Ha Na berbalik menghampiri Bo Mi. Ia juga mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Bo Mi menilai ruangan ini tak akan selesai dibersihkan dengan cepat, ini terlalu luas kalau hanya dua orang yang membersihkannya. Ha Na menyemangati kalau keduanya pasti bisa melakukannya. Ini akan selesai, kita sudah membersihkan setengahnya.
Bo Mi melihat kalau Ha Na juga kelelahan. Ha Na mengiyakan, ia merebahkan tubuhnya yang lelah ke lantai.

Bo Mi tahu kalau dalam hati Ha Na juga menyalahkannya yang tak bisa menari bagus. Tapi Ha Na harus mengingat ini bahwa ia tak pernah meminta bantuan pada Ha Na untuk membelanya. Ha Na berkata kalau ia sama sekali tak menyalahkan Bo Mi.

Bo Mi tak mengerti kenapa Ha Na membantah Guru Ma padahal Ha Na tahu apa yang akan terjadi.

Ha Na : “Dia membuatku kesal. Kenapa dia tega mengatakan kau tak berguna karena tak bisa menari.”

Bo Mi merasa kalau yang dikatakan Guru Ma tidakalah salah. Ia menyadari kalau dirinya tak pintar dalam pen-jas ataupun pelajaran lainnya. “Aku punya banyak kekurangan. Tidak, aku penuh dengan kekurangan.”

Ha Na duduk, “Apa maksudmu? Di dunia ini tak ada yang sempurna dan tak ada yang penuh dengan kekurangan.”

Bo Mi berkata kalau Ha Na tak tahu apa-apa tentang dirinya, “Kau punya banyak teman.”
Ha Na berdiri, “Yang benar saja? Siapa coba yang tidak penyendiri selama di SD? Kalau kau pintar, kau penyendiri. Kalau kau bodoh, kau penyendiri. Jika terlalu aktif, kau penyendiri. Jika kau pendiam, kau penyendiri. Jika kau banyak makan, kau disebut babi dan penyendiri. Jika kau tak makan, kau dikatakan diet dan penyendiri. Ada banyak sekali penyebabnya jadi tak ada yang pasti. Jadi jangan mengatakan kalau kau penuh dengan kekurangan.”

Bo Mi : “Lalu aku harus bagaimana? Jika memang karena kekuranganku, aku bisa memperbaikinya. Tapi bagaimana aku akan memperbaikinya kalau tak ada penyebab yang pasti?”
Ha Na berfikir dan mendapatkan ide. Ia mendekat menatap Bo Mi, “Kau bukan penyendiri lagi, karena aku temanmu. Jika kau punya teman maka kau bukan penyendiri. Kita berteman, jadi kita tak akan menjadi penyendiri.”

Bo Mi tak yakin, “Apa kau mau menjadi temanku?” Ha Na mengangguk yakin. Bo Mi yang masih tak percaya berusaha menegaskan, apa Ha Na mau berteman dengan anak seperti dirinya. Sekarang giliran Ha Na yang heran bukankah ia dan Bo Mi tak berbeda.
“Kita berdua imut,” kata Ha Na memperagakan gerakan imut andalannya dan itu membuat Bo Mi tersenyum.

Ha Na teringat ucapan Eonni-nya, “Eonni-ku bilang kalau kita tak perlu cantik seperti artis. Karena anak cowok lebih suka pada cewek manis.”

Bo Mi tertawa, apa itu?

Ha Na yang tadi tertawa kembali merengut lemas, “Teman, kapan kita akan menyelesaikan ini?”
Bo Mi yang tadi tak semangat sekarang bersemangat, ia mengatakan kalau keduanya tinggal setengah lagi mengepelnya. Keduanya pun saling memberi semangat mengepel lantai ruang olahraga. Keduanya kembali membersihkan lantai dengan gembira.
Ha Na dan Bo Mi yang kelelahan usai membersihkan lantai ruang olahraga merasakan kalau seluruh badan mereka sakit. Tapi keduanya tak mengeluh, malah tertawa-tawa senang. Dong Goo sengaja menunggu keduanya sambil membawakan tas. Ha Na heran apa yang Dong Goo lakukan.

“Terimakasih? Oh ya sama-sama sahut Dong Goo ke-pede-an (huwaaaa udah kayak Kim Do Jin wakakaka)

Ha Na berkata kalau ia tak pernah meminta Dong Goo membawakan tas-nya. Dong Goo berkata kalau gara-gara Ha Na, ia harus membersihkan ruang kelas sendirian. Ha Na jadi tak enak dan merasa bersalah, ia minta maaf dan berterima kasih.
Dong Goo meledek apa Ha Na dan Bo Mi sudah cukup berolahraga, “Betis kalian akan segera berotot yang besarnya seperti lobak.” Ha Na kesal mendengarnya, ia mengajak Bo Mi pulang. Dong Goo mengikuti keduanya.
Dong Goo berkata kalau membersihkan lantai tak akan meningkatkan kemampuan menari karena itu hanya melatih otot bagian bawah. Ha Na yang kesal menyuruh Dong Goo mengurus diri sendiri saja. Dong Goo dengan gurauannya berkata kalau ia sedang bicara dengan Bo Mi. Dong Goo berkata pada Bo Mi kalau ia yakin ini akan berguna. Ha Na ingin tahu apa itu.
Dong Goo mengajak Ha Na dan Bo Mi ke tempat permainan semacam timezone. Dong Goo melakukan Dance Dance Revolution gitu deh (bener ga tuh namanya)
Ketika Dong Goo kelelahan ber-DDR gantian Ha Na n Bo Mi yang menari bareng. Bo Mi yang kurang gesit sedikit kewalahan tapi ia menikmatinya. Huwaaaa sepertinya jurus Dong Goo ini lumayan jitu ya.
Dong Goo menawarkan apa mau bermain lagi. Ha Na dan Bo MI yang kelelahan bilang tidak usah. Dong Goo menyandarkan lengan ke pundak Bo Mi, “Bagaimana menurutmu? Apa kau bisa merasakan ritme-nya?” Bo Mi menggeleng.
Ha Na mendengar sesuatu ditempat itu dan mengenali suaranya. Ia menoleh untuk memastikannya. Ia terkejut melihat seseorang yang dikenalnya ada disana, Bu Guru Yang Min Hee.
Ngapain Guru Yang main ditempat kayak gini. Ya menghilangkan penat lah. Hehehe. Guru Yang memainkan permainan tembak-tembakan (permainan favorit saya kalau ke tempat bermain seperti ini hahaha)

Guru Yang berteriak sambil menembak, “Mati kau, mati kau!” Membuat pengunjung lain memperhatikannya dengan tatapan heran.
Guru Yang bergumam kesal, “Putranya pintar taekwondo jadi mereka mau menampilkan itu. Putrinya pandai bermain biola jadi mereka mau menampilkan itu. Apa mereka mau menampilkan kompetisi taekwondo dan biola atau bagaimana? Apa mereka pikir itu audisi untuk menjadi artis? Kenapa mereka hanya mau menampilkan apa yang bisa dilakukan anak mereka? Aku benci semua orang tua murid, pergi dari hadapanku!”

Guru Yang terus menembak dan berteriak hahaha.

(Guru Yang lagi kesal nih sama orang tua murid yang pengen anaknya tampil ini dan itu. Dia jadi pusing dan melampaiskan kekesalannya dengan bermain kayak gini)
Ha Na, Dong Goo dan Bo Mi menghampiri Guru Yang. Ketiganya heran melihat salah satu guru mereka ada di tempat permainan. Guru Yang konsentrasi dengan musuh-musuh yang harus ia tembak, “Majulah aku akan menghancurkan kalian semua!”
Tapi Guru Yang menyadari sesuatu, semua mata tertuju melihatnya. Pengunjung lain memperhatikannya. Ia menoleh ke belakang dan tersentak kaget begitu melihat tiga anak ini ada di belakangnya.

“Bu Guru annyeonghaseyo!” sapa ketiga anak ini. Pengunjung lain yang memperhatikan dari tadi cengingisan melihat tingkah Guru Yang.
Guru Yang mentraktir ketiganya makan es krim di sebuah kafe. “Anak-anak mengenai hari ini...”

Dong Goo menyela, “Aku akan menulisnya dalam buku harianku.”

“Apa?” Guru Yang kaget.

Dong Goo : “Bu guru membelikan kami es krim dan berbagi kata-kata bijaknya, benar kan?”

Ha Na mengangguk, tapi Guru Yang tetap cemas takut kalau-kalau apa yang dilakukannya hari ini bocor ke sekolah. Guru Yang menanyakan apa yang mereka bertiga lakukan disini. Ha Na dan Bo Mi berpandangan. Ha Na tampak ragu mengatakannya.
Keesokan harinya di sekolah. Guru Yang mencegat Guru Ma di pintu masuk, ia mengajak Guru Ma bicara berdua.
Keduanya bicara di luar gedung sekolah. Guru Yang berkata kalau ia percaya acara festival musim semi sekolah ini akan menjadi pengalaman yang bagus bagi orang tua dan siswa. Lalu? tanya Guru Ma.

Guur Yang : “Menurutku tidak pantas menghukum mereka hanya karena satu siswa memiliki kekurangan. Kurasa itu akan menghalangi mereka untuk belajar.”

Guru Ma : “Lalu apa kita tidak perlu melakukan yang terbaik?”

Guru Yang : “Bukan itu maksudku. Selama siswa menikmati dan melakukan yang terbaik bukankah itu sudah cukup?”
Guru Ma menoleh, “Guru Yang, bisakah kau menikmati sesuatu dan melakukan sesuatu secara bersamaan?”

Apa? Guru Yang tak mengerti.

Guru Ma : “Menurutku kau sudah melakukan yang terbaik dengan membiarkan siswamu mengambil keputusan sendiri, tapi apa kau menikmati prosesnya?”

Guru Yang tak bisa berkata-kata, itu...

Guru Ma : “Jika pelari marathon menikmati saat dia berlari, mereka tak mencoba yang terbaik. Mencoba yang terbaik berarti mereka harus menderita dulu. Apakah salah mengajarkan mereka begitu?”

Guru Yang : “Tapi mereka itu hanya anak SD. Apa anda harus bersikap keras pada mereka?”
Guru Ma menyela, “Kau harus memperlakukan mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Apa kau pikir hal seperti itu ada dalam kehidupan nyata? Kenapa ada anak-anak bunuh diri karena mereka penyendiri?”

Guru Yang tetap tak bisa menerima tindakan Guru Ma.

Guru Ma : “Guru Yang, apa mau kutebak kenapa kau begitu tertarik pada kelas kami? Kau mengkhawatirkan siswa kelas lain, sementara kau tak peduli dengan siswa sendiri. Bukankah mirip seperti itu?”

Guru Yang terdiam.

Guru Ma berkata kalau menurutnya kelas Guru Yang lah yang paling tak siap untuk acara ini. “Bukankah kau seharusnya mengkhawatirkan siswamu daripada waktumu kau gunakan untuk mencemaskan kelas lain?”

Guru Yang masih menunduk diam.
Guru Ma akan masuk kembali masuk ke gedung sekolah tapi suara kepala sekolah menghentikan langkahnya. “Mereka cantik kan? Bukankah bunga ini sangat cantik?” seru kepala sekolah. Guru Ma membungkuk memberi hormat pada Bu kepsek.

Bu Kepsek mengatakan kalau bunga ini tumbuh sesuai dengan berapa banyak waktu dan usaha yang kita berikan dengan penuh kasih sayang pada mereka. Tapi ini berbeda dengan anak-anak, terutama anak jaman sekarang. Mereka tumbuh terlalu dilindungi. Mereka tumbuh menjadi tak terkendali, seperti gulma dalam rumah kaca.

Kepsek menghampiri Guru Ma, “Tapi kenapa kau melakukan itu?”

Guru Ma tak mengerti apa maksud ibu kepala sekolah.
Kepsek mengatakan kalau bersih-bersih di ruang olahraga itu hukuman yang terlalu keterlaluan. “Aku tahu kau punya alasan, kau sudah mempertimbangkannya, tapi sekarang semua sudah berubah. Sekarang para guru dan sekolah lah yang disalahkan bukannya siswa.”

Guru Ma terdiam.

Kepsek : “Maksudku, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik dan kau akan mempertahankannya. Jadi teruslah memperhatikan para siswa.”

Bu Kepsek bergumam kalau banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk merawat bunga dan siswa. Guru Ma terdiam meresapi ucapan kepala sekolah.
Di jam istirahat Na Ri membagikan undangan ulang tahun ke teman-temannya. Ha Na berterima kasih atas undangannya dan berjanji ia pasti akan datang. Ha Na tak tahu harus mengatakannya bagaimana, ia ingin Na Ri juga mengundang Bo Mi ke acara ulang tahun Na Ri.

Sun Young tak setuju, “Si penyendiri itu? kenapa?”

Hwa Jung juga tak begitu suka pada Bo Mi.

Tapi Ha Na berharap Na Ri juga mengundang Bo Mi, “Apa kau bisa mengundangnya?”
Bo Mi yang mendengar itu hanya diam menunduk. Na Ri menilai kalau Ha Na sekarang menjadi lebih perhatian pada orang lain. Ia pun setuju mengundang Bo Mi ke acara ulang tahunnya. Sun Young tak percaya kalau Na Ri akan melakukannya. Na Ri bilang itu tak masalah.
Na Ri menghampiri Bo Mi dan memberikan undangan ulang tahunnya. “Apa kau mau datang ke pesta ulang tahunku?”

Guru Ma yang sedang mengoreksi hasil latihan siswa diam memperhatikan.

Bo Mi tak menyangka kalau ia juga diundang. Na Ri berharap Bo Mi datang ke ulang tahunnya. Bo Mi tak perlu membawa kado. Bo Mi menerima undangan itu. Na Ri pun segera berlalu duduk di kursinya.

Ha Na ikut senang Bo Mi juga diundang oleh Na Ri. Ia mengajak Bo Mi pergi sama-sama dengannya. Ia menduga kalau pesta ulang tahun Na Ri ini pasti sangat meriah.
Bel tanda masuk berbunyi, anak-anak kembali ke tempat duduk masing-masing. Bo Mi memperhatikan undangan ulang tahun yang diterimanya. Guru Ma membagikan hasil tes siswanya. Yang mendapatkan nilai tertinggi adalah Kim Tae Sung dan Kim Seo Hyun. Keduanya mendapatkan nilai sempurna.
Tae Sung dan Seo Hyun maju menerima hasilnya. Ketika Seo Hyun akan mengambil hasilnya Guru Ma berkata kalau Seo Hyun menulis surat permohonan maaf ia akan memberikan kembali Seo Hyun hak istimewa. Seo Hyun diam menerima hasil tes-nya dan kembali duduk. Ia tak peduli dengan hak istimewa itu.

Yang menduduki nilai terbaik ketiga adalah Choi Bit Na, keempat Son In Bo.

Na Ri sudah siap berdiri karena ia yakin kalau dirinya akan menempati urutan kelima dalam tes kali ini. Tapi ia salah bukan dirinya melainkan Shim Ha Na.
Na Ri dan semuanya tak menyangka kalau Ha Na akan mendapatkan nilai terbaik kelima. Guru Ma menyayangkan Ha Na menjadi ketua kelas padahal nilai Ha Na meningkat.

Guru Ma pun menyuruh Ha Na membagikan sisa lembar hasil tes itu pada teman-teman Ha Na. Ia merasa kalau nama yang dibawah peringkat lima ini tak pantas dipanggil.
Na Ri yang berada di bawah posisi kelima menahan kesal.

Bersambung di part 2

Guru Ma semakin pedes aja nih omongannya, apa dia tiap hari makan cabe ya hehe....

8 comments:

  1. shim Hana makin perhatian sama temen"nya tapi dia jadi di bully terus sama guru Ma wkwkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  2. kacian bgt dpt guru gt.. ampe 1 thn krj gituan??? g dpt gaji pula???
    bener2

    ReplyDelete
  3. Makasih banyak banget ya udah bikin postingan ini. Aku suka banget sama drakor ini :D soalnya drama sekolah korea yang diadaptasi dari Jepang kan ceritanya bagus-bagus :D (ambil contoh drama ini, master of study, to the beautifull you) :D :D makasihhh
    oiya, makin lama HaNa jadi makin mantap! Aku paling suka sama karakter HaNa, DongGoo, SeoHyun sama BoMi. Mereka berempat punya karakter yang rada beda sama anak pada umumnya *apadeh. xD
    hihi, awalnya aku cuman penasaran sama drama ini karena SNSD Sunny yang ngisi OST, terus ada Kim SaeRon yang aku suka :D . eh taunya emang beneran bagus bangetnget! :D
    good work, chingu! :D :D

    ReplyDelete
  4. keren,
    di lanjut ya... ditunggu part 2 nya

    ReplyDelete
  5. gak tahan dech, kalo wali kelas aku d sekolah kaya gtu,,
    kabooorrrr,,, *_*

    ReplyDelete
  6. hmm... drama yg satu ini bener2 the best...
    akhirxpun happy ending...
    guru penyihir misterius tp hebat...
    guru paling tulus di dunia...:D
    n karakter Shim hana bener2 gadis hebat... (y)

    #saya suka saya suka... :)

    ReplyDelete
  7. saya suka bngt sama drama ini...
    dari awal sampai ending istimewah smw...
    sungguh ending drama ini sangat indah...
    tak habis air mata ini...

    g puas lht videox krg giliran baca versi cerpenx... :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...