Tuesday, 18 June 2013

Sinopsis The Queen's Classroom Episode 1 Part 2

 
Ha Na berada di kamar mandi mengambil tisu-tisu kotor yang bau hueeeekkkk. Ia melihat jam tangannya. Ia cemas karena harus segera ke tempat les privat. Ia mengeluh kalau seperti ini ia bisa terlambat.
Dong Goo datang membawa alat-alat kebersihan. Dong Goo mencium bau tak sedap dari tisu-tisu yang Ha Na bereskan dan dari bau kamar mandi.
Dong Goo heran apa Ha Na benar-benar ingin menjadi ketua kelas bersamanya. Ha Na yang kesal cemberut tak menjawab. Dong Goo menilai Ha Na ini sungguh bodoh, kenapa mau menjadi ketua kelas bersamanya. Ha Na seharusnya mengatakan pada guru kalau ia yang menjatuhkan pensil milik Ha Na. Ha Na yang kesal menyuruh Dong Goo diam, lebih baik cepat bersihkan kamar mandinya.
Ha Na mengambil sikat dan mulai menyikat lantai. Dong Goo merasa bersalah dan minta maaf. “Ah ya ampun aku benar-benar menyesal.” kata Dong Goo. Ha Na tetap menyikat lantai.
Dong Goo melihat kaki Ha Na dari bawah sampai atas. Ia melihat rok Ha Na yang hanya sampai atas lutut. Pikiran jailnya pun muncul. Dong Goo mengendap-endap mendekat untuk mengintip. Karena terlalu jauh jadi ga kelihatan, Dong Goo semakin mendekat untuk ngintip.
Ha Na yang sedang menyikat tiba-tiba terhenti. Ia heran kenapa tak ada sahutan suara dari Dong Goo. 

Ha Na segera berbalik dan kaget bukan main Dong Goo sudah tepat berada di belakangnya. Mau ngintip wakakakaka.

“Dasar, apa yang kau lakukan?” bentak Ha Na.

Dong Goo tak berusaha mengelak, “Memangnya menurutmu apa? aku berusaha mengintip celana dalammu. Tapi tak kelihatan.” (wakakaka)
“Apa aku mau mati?” Ha Na mengayunkan sikat ke arah Dong Goo.

Dong Goo menangkisnya dengan sapu kamar mandi, “Aku ga mau mati.” kata Dong Goo sambil joget-joget membuat Ha Na kesal setengah mati, “Ya ampun kenapa aku harus bersih-bersih dengan anak ini di hari pertama sekolah?”
“Oh ya Tuhan kenapa kau berbuat begini padaku!” seru Dong Goo dengan tingkah lucunya.

Ha Na makin kesal dan kembali mengayunkan sikatnya ke arah Dong Goo. Dong Goo berusaha menangkis lagi dan menghindar tapi ia terpojok dan jatuh terduduk ditumpukan tisu-tisu kotor wakakaka.
Ha Na kembali melanjutkan menyikat lantai. Dong Goo mengatakan kalau ia akan membuang sampah dan menyarankan lebih baik Ha Na pulang saja lebih dulu. Ha Na heran pulang kemana, ia harus membersihkan kamar mandi ini dan juga kamar mandi di lantai 3. Dong Goo berkata kalau tadi guru bilang ia dan Ha Na tak harus membersihkan kamar mandi di lantai 3.

Ha Na kaget, “Benarkah?” ia tak tahu kalau Guru Ma mengatakan itu. “Kalau kau mau kau boleh melakukannya.” Kata Dong Goo.

Ha Na pun pulang lebih dulu. Ia bergegas pergi ke tempat les privat.
Dong Goo mengeluarkan boneka kecil kesayangannya dan bergumam kalau Ha Na sudah pergi. Dong Goo berkata pada bonekanya, “Baiklah apa kita bisa mulai membersihkan lantai 3?” Dong Goo membawa alat-alat kebersihan menuju kamar mandi lantai 3.

(huwaaaa jadi apa yang tadi Dong Goo omongin kalau Guru Ma bilang ga usah bersihin kamar mandi lantai 3 bohong donk ya. Dong Goo sepertinya akan membersihkan sendiri kamar mandi sebagai balasan atas rasa berslahnya karena sudah menjatuhkan tempat pensil Ha Na)
Ha Na sampai di tempat les privat. Ia lega karena belum terlambat. Disana ada juga Na Ri, Sun Young dan Hwa Jung. Keempatnya ternyata les privat bersama. Ha Na kelelahan.

Hwa Jung kasihan melihat Ha Na yang kelelahan seperti itu. Na Ri menilai kalau wali kelas mereka sangat galak. Ha Na juga tak menyangka, tak heran kalau panggilan Guru Ma itu ‘penyihir’ Na Ri merasa kalau ia harus mengadukan ini pada ibunya. Hwa Jung setuju, ia yakin kalau ibu Na Ri pasti bisa mengganti wali kelas mereka. (haiya jadi ingat ibunya Ha Kyung di school 2013)
Tapi Ha Na tak mau Na Ri melakukannya. Na Ri heran memangnya kenapa ia melakukan ini untuk Ha Na. Ha Na tak ingin ibunya tahu kalau ia mendapat nilai nol di tes tadi. Jadi ia mohon Na Ri tak mengadukan ini pada ibu Na Ri.
Sun Young teringat sesuatu, “In Bo mendapat cerita dari temannya yang di lain sekolah kalau Guru kita ini memang penyihir sungguhan. Dia masih muda, pucat dan cantik. Tapi itu karena dia menghisap darah dari murid-muridnya. Dan itu sebabnya dia menjadi guru di SD.”

Ha Na tak percaya, mana mungkin begitu. Na Ri penasaran, apa dia menghisap darah mereka?

Sun Young : “Kalau kau tinggal di kelasnya selama setahun dia akan semakin muda dan kulit murid-muridnya yang akan mengkerut menua. Apa kau pernah merasa merinding? Ketika dia berjalan melewatiku, aku merasa sekujur tubuhku merinding.”

Ha Na mulai ngeri, “Kau juga? aku juga merasakannya.”

Malam hari Guru Ma masih berada di ruang guru tengah memfotocopy dokumen. Ia duduk di meja kerjanya menatap laptop yang menyala. Ia kemudian beralih menatap sesuatu, air galon.
Guru Ma berdiri di tepi jendela sambil membawa gelas yang berisi minumannya. Ia melihat ke luar jendela. seteguk demi seteguk ia meminum minuman panasnya. Tatapan matanya dingin.
Sampai malam hari, Dong Goo baru saja selesai membersihkan kamar mandi lantai 2 dan 3. Ia keluar gedung sekolah bernyanyi-nyanyi. Hidupnya seperti tak ada beban, ia selalu ceria dengan kekonyolannya.

Tiba-tiba ibu kepala sekolah menyapa mengagetkan Dong Goo. Ibu kepsek heran bukankah seharusnya Dong Goo sudah pulang dari tadi kenapa baru pualng sekarang. Dong Goo pun segera pulang.

(nih ibu kepala sekolah malam-malam begini masih pegang peralatan kebun (abis berkebun malam-malam ya bu? haha)

Dong Goo bergumam heran, “Apa itu? menurutku kepala sekolah kita itu tak normal.”
Tiba-tiba ada yang memanggil Dong Goo. Dua siswa sekolah menengah. Dong Goo menarik nafas tak semangat melihat dua orang ini.
Ibu kepsek masuk ke gedung sekolah, tapi ketika berbelok ke lorong ia terkejut berpapasan dengan Guru Ma. Ibu kepsek pun akhirnya tahu siapa yang menyalakan lampu ruang guru, ternyata Guru Ma yang melakukannya. “Kenapa kau bekerja keras di hari pertama mengajar? Kau pasti lelah.” Kata Bu Kepsek. Guru Ma pun pamit, ia akan pulang lebih dulu. Ibu kepsek mempersilakan karena ia juga sebentar lagi akan pulang.
Bu kepsek teringat sesuatu, “Tapi Guru Ma, aku tahu apa yang terjadi sebelum ini, tapi karena sekarang kita bekerja sama aku harap kita bisa bekerja sama. kau mengerti maksudku kan?

(apa yang diketahui ibu kepala sekolah tentang masa lalu Guru Ma)
Keesokan harinya di jam makan siang. Sebagai ketua kelas Ha Na dan Dong Goo menyiapkan makan siang. Keduanya mendorong peralatan dan makan siang yang berat itu.
Anak-anak kelas 6-3 sudah tak sabar ingin segera makan. Mereka sudah kelaparan. Mereka senang karena menu makan siang hari ini adalah kari.

Ha Na mengomentari Dong Goo yang salah meletakan posisi makanannya. Tapi Dong Goo tak mempedulikannya, menurutnya tak masalah meletakannya dimana. Mendengar perpedaan pendapat itu Guru Ma menegur apa yang keduanya lakukan, teman sekelas kalian bisa kelaparan gara hara kalian. Keduanya pun cepat beres beres. Guru ma sendiri sibuk mengetik di latopnya.
Ha Na menggotong panci kari yang berat. Ia memanggil Dong Goo untuk membantu membawa kari yang berat ini. Dong Goo membantu tapi oh tidak, tanpa sengaja keduanya menjatuhkan panci itu membuat kari yang berada di dalamnya tumpah ke lantai semua.
Semua terkejut. Anak-anak kesal makanan mereka jadi tumpah. Ha Na minta maaf atas kecerobohannya. Guru Ma menatap keduanya dengan tatapan marah. Dong Goo berkata kalau ia akan kembali untuk mengambil lagi kari yang tersisa disana. Tapi Guru Ma bilang tak usah, berikan saja pada teman-teman sisa kari yang ada dipanci itu dari peringkat tertinggi sampai terendah.

Dong Goo mengatakan kalau sisa kari yang di panci hanya bisa paling tidak untuk 3-4 orang saja. Guru Ma berkata kalau begitu yang peringkat 1-4 saja yang bisa makan dengan kari.

Yeon Hoo protes, “Kalau begitu apa aku tak bisa makan karinya?”
“Apa guru ingin kami makan nasi dan kimchi saja?” seru Jung Soo ikut protes.

Guru Ma : “Kalian tetap bisa hidup meski tak makan kari. Bukankah biasanya kalian sering membuang makanan. Salahkan ketua kelas kalian dan diri kalian yang mendapatkan nilai rendah.”
Ha Na dan Dong Goo pun melayani mereka. Antriannya panjang, udah kayak ngantri sembako haha. Seo Hyun yang mendapat peringkat satu ketika tes berada di urutan terdepan. Disusul Kim Tae Sung, Choi Bit Na dan Son In Bo. Keempatnya mendapatkan jatah kari.
Tapi ketika tiba giliran Na Ri kari-nya habis. Na Ri cemberut kesal kembali duduk di meja tanpa kari di wadah makannya. Mereka yang mendapatkan nilai rendah pun cemberut kesal karena tak bisa makan kari. Ha Na dan Dong Goo jelas merasa bersalah pada mereka.
Mereka siap makan, tapi tengok kanan tengok kiri terutama yang wadahnya kosong, ga ada karinya. Mereka yang tak mendapatkan jatah kari makan sambil cemberut.
Lain hal-nya dengan Kim Tae Sung, dia sih asyik-asyik aja dengan peringkat dua yang masih kebagian kari hahaha.
Makan siang usai, Soo Jin memotret tempat makannya yang tak kebagian kari. Ia menunjukan foto itu pada teman-temannya. Sun Young juga melakukannya, ia berencana mengirimkan foto ini ke dinas pendidikan.
Kim Ga Eul, teman Soo Jin yang duduk di kursi menilai akan lebih bagus kalau menguploadnya ke internet. Teman-temannya setuju, mengupload foto itu ke internet akan lebih heboh. Ha Na yang merasa bersalah minta maaf. Na Ri bilang kalau semua orang juga bisa melakukan kesalahan, ia tak menyalahkan Ha Na. Na Ri menyarankan kalau mereka harus segera bertindak, sebagai perwakilan kelas ia akan....
“Aku tak ikut.” seru Seo Hyun menyela sambil membaca buku. Na Ri mencibir, Seo Hyun tak ikut dengan rencananya itu karena Seo Hyun peringkat satu dan bisa makan dengan kari. Seo Hyun bilang bukan begitu karena menurutnya itu tak akan ada gunanya. Mereka mencibir, Seo Hyun terlalu sombong.
Guru Yang muncul di pintu menanyakan apa yang anak-anak ini lakukan. Na Ri dan yang lain pun dapat ide. (Sepertinya mereka melaporkan hal ini pada Guru Yang)
Guru Yang bergegas menuju ruang guru. Ha Na diam-diam mengikuti dan mengintip di balik pintu. Guru-Guru kelas 6 berkumpul di satu meja untuk melakukan rapat.
Guru Goo selaku senior memimpin rapatnya. Tapi sebelum rapat dimulai Guru Yang berkata kalau ada yang ingin ia sampaikan pada Guru Ma. Guru Ma mendengarkan sambil sibuk dengan laptopnya menulis data-data perkembangan siswa, yang sekarang ia isi adalah data-data tentang Ha Na.

Guru Yang berkata kalau ia mendengar ada masalah di kelas 6-3 ketika makan siang. Guru Ma bertanya siapa yang memberi tahu hal itu pada Guru Yang.
Guru Yang : “Anda mengurutkan murid-murid berdasarkan nilai mereka dari tes dadakan, menunjukan pilih kasih dan diskriminasi. Aku rasa ada yang salah dengan semua itu. Aku ingin penjelasan dari anda.”

Guru Goo mengomentari kalau hal tersebut tidak dibenarkan, kita tak bisa membiarkan para orang tua mengetahuinya karena mereka sangat sensitif dengan yang namanya diskriminasi.

Guru Ma balik bertanya, “Jadi masalahnya ada di diskriminasi atau kalau para orang tua tahu?”
Guru Goo menilai keduanya sama, dua-duanya adalah masalah. Guru Jung menilai kalau tindakan Guru Ma ini seperti seorang guru yang amatiran saja. Para orang tua itu mungkin tak seagresif orang tua yang di Gangnam tapi mereka bisa membuat keributan. Guru Yang berkata kalau Guru Ma tak boleh menyerahkan tugas piket hanya pada murid yang nilainya terendah dan membuat mereka makan nasi dengan kimchi saja karena kari nya tumpah. Bukankah ini menjadi masalah bagi semuanya.

Guru Jung kaget, “Benarkah? Guru Ma kenapa kau melakukan itu? Para ibu juga sangat sensitif mengenai makan siang anak-anak mereka.”

Guru Ma : “Apa ini caramu menunjukan keprofesionalanmu? Dengan ikut campur urusan kelas lain hanya karena laporan murid-murid?”

Guru Jung bertanya pada Guru Yang, “Apa kau mendengar itu dari para murid?” Ia mengira ada orang tua yang menelepon. Guru Jung beralih menyalahkan Guru Yang, itu namanya ikut campur. Guru Yang tetap saja tak bisa menerima ini.
Guru Ma menilai ini karena Guru Yang terlalu ingin tahu. Kenapa Guru Yang tak mengkhawatirkan murid-murid Guru Yang sendiri daripada mengkhawatirkan murid-muridnya. Guru Yang membela diri muridnya, memangnya murid-muridnya malakukan kesalahan. Guru Ma memberi tahu kalau murid Guru Yang di ruang kesehatan berkata perutnya sakit tapi tadi dia makan ramen di toko.

Guru Jung tahu siapa anak yang dimaksud Guru Ma. “Park Min Jung, bukankah dia murid di kelasmu?” Ia tahu sifat anak itu, dia terkenal seperti itu. Menurut Guru Jung, anak itu bisa memenangkan Academy Award untuk kemampuan akting pura-puranya. Ia tahu itu karena ia sudah beberapa kali tertipu oleh anak itu.
Guru Ma juga mengomentari anak-anak kelas 6-2 lain, “Aku juga melihat anak-anak dari kelasmu di tempat pembuangan sampah mengganggu teman sekelasnya.”

Guru Goo bisa menebak siapa anak yang berbuat ulah itu, Song Sang Hyun kemungkinan dia pemimpinnya. Dia terlihat seperti pembuat masalah. Ia menyarankan Guru Yang agar bisa memberi perhatian lebih pada anak itu. Guru Yang baru tahu kalau ternyata ada masalah seperti itu di kelasnya.

Guru Ma berkata kalau ia akan mengurus apa yang terjadi di kelasnya dan sebaiknya Guru Yang juga harus lebih peduli pada kelas sendiri. Guru Jung sependapat dengan Guru Ma, ia harap Guru Yang mengikuti nasehat Guru Ma yang lebih senior dari Guru Yang.
Guru Ma menoleh ke tempat Ha Na mengintip. Ia tahu Ha Na mengintip di balik pintu. Ha Na kaget bukan main dan segera pergi dari sana.
Ha Na yang membawa alat kebersihan melihat Seo Hyun sedang bicara dengan Guru Ma. Guru Ma bertanya apa Seo Hyun tak ingin mencoba mendaftar di tempat privat yang ia sarankan. Seo Hyun bilang tidak. Guru Ma berkata seandainya Seo Hyun berubah pikiran lebih baik beritahukan itu padanya karena ia yakin Seo Hyun pasti akan diterima. Seo Hyun pamit, Seo Hyun melihat Ha Na berdiri menatapnya.
Guru Ma tahu kalau Ha Na memperhatikannya tadi. Ha Na yang kaget segera pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih disana. Tepat ketika Ha Na lewat, Guru Ma memanggilnya membuat langkah Ha Na terkejut dan langsung berhenti.
Dengan suara gemetaran Ha Na menjawab panggilan gurunya dan berbalik. Guru Ma berkata kalau ia mendengar ada yang mengadu tentang dirinya. Ia bertanya apa Ha Na tahu siapa orang yang mengadu itu.

Dengan suara yang masih gemetaran Ha Na bilang tak tahu. Wajah Guru Ma mendekat menatap tajam Ha Na, “Kalau nanti kau tahu siapa pelakunya bisakah kau sampaikan ini pada mereka? katakan pada mereka agar datang padaku kalau ada masalah.”
Ha Na berdiri bergidik mematung di tempatnya berdiri. Guru Ma berlalu dari sana. Makan malam di rumah.
Ibu menimbang takaran makanan yang ia berikan pada Eonni. Ia benar-benar harus pas mengatur makan putri sulungnya yang menderita diabetes. Ayah sibuk mengetik sms.

Ibu melihat kalau akhir-akhir ini ayah tak lembur. Ayah bilang kalau ini hanya sementara, besok ia sudah mulai kerja lembur lagi. Ayah meletakan ponsel di sampingnya.
Ibu bertanya pada Ha Ha apa guru baru Ha Na itu benar-benar mengerikan.

“Dia benar-benar .... !!!” Ha Na terhenti membuat orang tuanya menatap penasaran seperti apa guru kelas Ha Na.

“Benar-benar sangat cantik.” sambung Ha Na tertawa. Eonni sepertinya bisa merasakan kalau bukan itu yang ingin Ha Na katakan.
Ponsel ayah bunyi, ada sms masuk. Ayah membacanya dan kembali menutup layar ponselnya. Ibu penasaran tapi tak berani bertanya itu sms dari siapa.

Ayah ingin tahu bagaimana dengan teman sekelas Ha Na. Ha Na mengatakan kalau ia dan Na Ri memiliki banyak teman. Ibu bertanya apa Na Ri yang menjadi ketua kelasnya. Ha Na takut-takut mengatakan kalau ketua kelasnya bukan Na Ri, “Aku yang menjadi ketua kelas sementara.”

Ibu dan ayah kaget. Ayah senang dan menebak kalau ibu guru ini pasti menyukai Ha Na. “Ah akhirnya putri kecilku ini jadi ketua kelas juga.”

Eonni heran, “Dengan status kita, bisakah kita melakukannya seperti Na Ri?”

Ayah bertanya pada Ha Na, “Jika kau menjadi ketua kelas, apa kau harus membayar atau bagaimana?”
Ha Na bilang tidak, ia menjadi ketua kelas hanya sementara waktu saja, hanya sampai akhir minggu. Lagi pula menjadi ketua kelas itu akan mengganggu belajarnya. Ibu berkata kalau memang Ha Na ingin menjadi ketua kelas, boleh-boleh saja kok. Ha Na meyakinkan kalau ia tak mau lagi.
Keesokan harinya, Dong Goo mengepel lantai kamar mandi. Ia memainkan alat pel sambil bermain main layaknya sepakbola. Tapi alat pel-nya bertemu dengan alat pel Ha Na. Dong Goo heran apa yang Ha Na lakukan disini. Ha Na mengatakan kalau hari ini ia tak ada les. “Kau pikir aku bodoh? Tidak semua orang sepertimu.”
Ha Na dan Dong Goo pulang bersama. Waw pemandangan sorenya bagus. Hihi.
Dong Goo menilai kalau sebuah pekerjaan dilakukan dua orang memang lebih baik dari pada dilakukan seorang, jadi selesai lebih cepat. Dong Goo menujukan boneka kesayangannya. Ha Na heran apa itu, aneh sekali.

Dong Goo : “Apa maksudmu aneh? Ini Miss Rosa.”

Ha Na makin heran, “Miss Rosa? Apa ini perempuan?”

Dong Goo bilang tentu saja, Miss Rosa selalu datang untuk menolong ketika dunia dalam bahaya.
Ha Na tambah heran, “Eh Oh Dong Goo kamu ini bodoh apa bego sih? Apa kau tak khawatir tentang tes?”

Dong Goo berkata kalau sebenarnya ia tak lagi berharap di kelas 6 ini. Ia menilai kalau ia dan gurunya yang sekarang merasa tak cocok satu sama lain. “Kurasa aku tak bisa mengalahkannya. Kupikir lebih baik aku berhenti saja sejak sekarang. Jadi, aku tak akan mengikuti tes besok.”

Ha Na kaget, “Kenapa tak ikut tes?”

Dong Goo dengan santai berkata kalau ia tak berminat belajar. Ha Na menilai kalau seperti itu, artinya Dong Goo akan terus mengerjakan piket. Dong Goo berkata kalau ia juga tak ingin melakukan piket lagi, yang ia lakukan hanya tak perlu datang ke sekolah.
Ha Na belajar di kamarnya untuk menyiapkan tes yang akan dilaksanakan setiap senin. Ia memikirkan Dong Goo, “Apa dia benar-benar tak akan mengikuti tes?” Ha Na akan menghubungi Dong Goo tapi tak jadi.
Tiba saatnya hari Senin. Sebagai ketua kelas dan Dong Goo tak masuk Ha Na memimpin memberi aba-aba untuk memberi salam pada guru. Tes pun akan segera dimulai, Guru Ma meminta siswanya menyimpan semuanya dari meja kecuali alat tulis.
Ha Na gugup, ia tak ingin kejadian tes senin lalu terulang lagi. Ia memeriksa semua pensilnya. Ok itu sudah diraut semua.

Tapi oh tidak, Ha Na merasakan ada yang lain di perutnya. Naluri manusia itu muncul, Ha Na pengen ke toilet. Kebelet pipis.
Tes pun dimulai. Guru Ma keliling dan melihat meja Dong Goo kosong, “Apa Oh Dong Goo tak masuk?” Tanya Guru Ma. Semua siswa mengangkat wajahnya tak ada yang menjawab. Mereka tak tahu. Guru Ma pun memutuskan kalau minggu ini mereka sudah punya satu ketua kelas. Jelas Oh Dong Goo akan menempati peringkat bawah lagi dan tinggal 1 lagi siapa itu.
Ha Na yang pengin pipis berusaha menahannya. Ia benar-benar tak bisa konsentrasi mengerjakan soal. Ia gelisah, duduk tak tenang. Seo Hyun yang duduk di belakang melihatnya.
Keringat dingin Ha Na mulai keluar. Ia benar-benar sudah tak tahan lagi. Dengan suara terbata-bata Ha Na pun meminta izin pada Guru Ma agar membolehkannya ke toilet. Guru Ma berkata bukankah sebelumnya ia sudah bilang tak ada yang namanya izin ke kamar mandi ketika tes berlangsung. Ha Na tahu itu, tapi ia tak bisa menahannya. Keringat Ha Na semakin banyak yang keluar.
Ha Na berdiri memohon agar Guru Ma mengizinkannya sekali ini saja. Guru Ma membolehkan silakan pergi ke toilet tapi dengan catatan Ha Na tak bisa melanjutkan mengerjakan tes. Ha Na yang tak mau berada di peringkat akhir lagi terpaksa menahan keinginannya untuk buang air. Ia kembali duduk.

Teman-temannya menatap Ha Na dengan tatapan iba. Mereka sepertinya tahu kalau Ha Na tak bohong dan benar-benar ingin buang air. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak mereka kembali mengerjakan soal-soal tak mau berada di peringkat bawah.
Seo Hyun iba melihat Ha Na, ia pun dengan berani meminta izin pada Guru Ma untuk membolehkan Ha Na ke toilet. Ia melihat kalau Ha Na sudah tak bisa menahannya. Guru Ma berkata kalau itu hanya pura-pura dan pasti di kamar mandi Ha Na akan mencontek, siapa yang akan mengawasi kalau Ha Na benar-benar mencontek. Ia tak bisa terus-menerus mengikuti Ha Na.
Seo Hyun meyakinkan kalau Ha Na ke toilet bukan untuk mencontek tapi benar-benar kebelet. Guru Ma mengingatkan kalau yang namanya peraturan itu harus ditaati. Ha Na boleh saja pergi ke toilet kalau dia mau, tapi tes-nya akan dianggap gagal.

Seo Hyun : “Saya merasa tak ada peraturan yang menyiksa orang. Meskipun peraturan yang Ibu terapkan itu benar tapi kali ini ibu salah. Bukankah ibu sedang menyakiti Ha Na?”

Guru Ma tertegun dengan protes yang diucapkan Seo Hyun. Ia mendekat menatap tajam Seo Hyun, “Kalau begitu kenapa kau tak pergi bersamanya saja? Tapi kau harus tahu kalau setiap tindakan pasti ada konsekuensi-nya. Kalau kau pergi dengannya sekarang, maka kau juga akan gagal dalam tes. Tak ada pengecualian dalam peraturanku.”

Seo Hyun tak masalah, ia sama sekali tak keberatan. Guru Ma sedikit terkejut dengan keberanian Seo Hyun.
Seo Hyun mengajak Ha Na segera ke toilet. Ia akan mengantar Ha Na. Seo Hyun meraih tangan Ha Na untuk segera ke toilet.
Seo Hyun menarik Ha Na untuk cepat sampai di toilet. Tapi Ha Na sudah tak sanggup lagi menahannya terlalu lama. Genggaman tangan Seo Hyun terlepas dari tangannya, ia tak sanggup lagi berjalan. Ia terduduk.
Seo Hyun melihat ada air yang mengalir di sela kaki Ha Na. Ya, Ha Na tak sanggup lagi menahan air seninya untuk tak keluar. Ha Na terduduk terdiam menangis.
Seo Hyun iba melihatnya. Seo Hyun mengajak Ha Na ke ruang UKS. Ia yakin kalau disana pasti ada pakaian dalam untuk ganti. Ha Na yang menangis berkata kalau ia bisa pergi kesana sendiri. Seo Hyun mengerti, kalau begitu ia yang akan membersihkan air seni ini. Ha Na sangat berterima kasih pada Seo Hyun.
Ha Na ragu apa ia akan membiarkan Se Hyun membersihkan ini. Seo Hyun meminta Ha Na tak perlu khawatir. Ia akan merahasiakan ini dari yang lain. Sekali lagi Ha Na berterima kasih.
Guru Ma melihat lembaran soal milik Seo Hyun, sudah dikerjakan semua. Ia menatap iba. Sepertinya hati Guru Ma mulai goyah nih.
Di luar sekolah tampak seekor kupu-kupu putih terbang masuk ke gedung sekolah.
Ha Na keluar dari ruang UKS dengan perasaan sedih. Tiba-tiba ia terkejut melihat Guru Ma berdiri di depan ruang UKS menatapnya. Ha Na menunduk diam. Guru Ma menyuruh Ha Na segera masuk ke kelas karena pelajaran akan segera dimulai. Ha Na mengerti ia pun segera kembali ke kelas.
Guru Ma melihat kupu-kupu putih itu terbang, ia menatapnya sedih. Kupu-kupu itu hinggap di bingkai kaca yang ada di depan Guru Ma.
Guru Ma melihat pantulan dirinya di kaca. Wajahnya yang begitu dingin tanpa senyuman ceria. Ia melihat kupu-kupu itu, wajahnya terlihat sedih. Sepertinya dia berfikir apa dia sudah salah melangkah. Tapi hatinya kembali memantapkan untuk melanjutkan langkahnya.
Bel tanda pelajaran selanjutnya dimulai berbunyi, anak-anak kelas 6-3 bersiap duduk di tempatnya masing-masing dan Oh Dong Goo datang. Ha Na menunduk diam. Dong Goo bertanya apa Ha Na berhasil mengerjakan tes hari ini. Ha Na tak menjawab. Dengan tingkah konyolnya Dong Goo berdoa semoga Ha Na berhasil dalam tes kali ini. Ha Na hanya tersenyum pahit.
Ha Na menoleh ke belakang tempat Seo Hyun duduk. Keduanya bertemu pandang dalam diam. Seo Hyun tetap berada dalam kesibukannya membaca buku.
Guru Ma masuk ke kelas. Ha Na akan memmpin teman-temannya untuk memberi salam tapi Guru Ma menyuruhnya duduk. Guru Ma akan mengumumkan hasil tes hari ini. Peringkat pertama dengan nilai 100 diperoleh kembali oleh Kim Seo Hyun. Teman-temannya kagum. Seo Hyun bisa mendapatkan nilai 100 padahal tadi sempat mengantar Ha Na ke toilet.

Seo Hyun berdiri akan menerima hasilnya. Guru Ma melanjutkan kata-katanya sambil menjatuhkan dengan sengaja lembar pekerjaan Seo Hyun, “Dan begitu juga dengan peringkat terakhir jatuh pada Kim Seo Hyun.”
Seo Hyun terbelalak kaget, peringkat pertama dan terakhir. Semua siswa kaget bukan main. Itu artinya Seo Hyun menjadi ketua kelas.
Guru Ma menatap tajam Seo Hyun dengan tatapan sinis, “Kau ini pintar, jadi kau pasti sudah menduga hal ini ketika kau menolong temanmu.”

Guru Ma menatap seluruh siswanya, “Siapa saja yang menentangku, aku akan menjadikannya ketua kelas tak peduli berapapun nilai tes-nya.”

Semua siswa menunduk diam. Seo Hyun masih berdiri dalam keterkejutannya.
“Semuanya, ayo kita nikmati tahun pelajaran ini!” Guru Ma menatap tajam seluruh siswanya.

Angin berhembus menyeka wajah Ha Na ketika menatap Guru Ma. Apa yang akan ia dan teman-temannya lalui selama tahun terakhir mereka di SD.

Bersambung ke episode 2

Komentar :

Apa Guru Ma benar-benar penyihir? alah itu terlalu fantasy hahaha. Ini bukan drama fantasy jadi ga mungkin penyihir hahaha. Sama seperti ketika menonton doramanya, saya nangis pas Ha Na atau Kazumi menahan pengen buang air kecil, ditambah lagi pas dia bener-benar ga bisa nahan. Oh Dong Goo, biarpun terkesan bodoh tapi dia baik, bodoh tapi dia teman yang asyik.

Hmmmm Guru Ma sepertinya benar-benar sempat goyah dengan peraturan yang dia terapkan tapi dengan adanya satu korban yang sepertinya menurut dia kecil tak menyurutkan niatnya untuk melanjutkan metode mendidiknya, malah sekarang lebih keras lagi. Sekarang ia tak akan pandang bulu untuk menunjuk siapa yang menjadi ketua kelas, siapapun yang menentang dirinya, dia akan menjadi ketua kelas biarpun siswa pintar dengan nilai tertinggi sekalipun.

Saya sendiri sempat berfikir kenapa harus nilai kecil yang menjadi ketua kelas dan melakukan pekerjaan harian yang berat. Dilihat dari mental, kalau anaknya ga sanggup mungkin mentalnya akan jatuh dan stres tapi kalau anak itu kuat dan bisa menghadapinya, ini seperti sebuah motovasi tersendiri.

‘Saya ga mau capek, saya ga mau jadi ketua kelas, saya ga mau menjadi yang terendah, saya ga mau nilainya kecil, saya harus mendapatkan nilai tinggi maka dari itu saya harus belajar lebih giat lagi’ 

Sepertinya itu yang ingin diterapkan Guru Ma. Tapi ya kalau ga boleh ke kamar mandi memang sadis, naluri manusia donk ya ke kamar mandi itu ga bisa ditolerir harus dikeluarkan. Tapi terkadang maaf aja nih ya, ada siswa yang memang pura-pura/ bohong pengin ke kamar mandi dengan tujuan yang macam-macam. Tahu-lah kan pernah jadi murid haha. Jadi Guru Ma ga mau melanggar peraturannya baik itu untuk anak yang hanya pura-pura atau yang beneran pengen ke toilet.

Pesen buat siswa n para guru aja sih, kalau istirahat manfaatkan sebaik-baiknya untuk ke toilet deh. Soalnya kadang suka ada yang protes, si ini boleh kok si ini enggak, si itu kan bohong tuh bu ga buang air di kamar mandi, malah ke kantin. Ya walaupun beneran ada anak yang ke toilet untuk buang air, lha wong gurunya aja kalau kebelet ya ke toilet hahaha.
 
Dan memang ketika ada seorang siswa yang izin ingin ke toilet disela-sela kegiatan belajar atau bahkan tes, itu sedikit membuyarkan konsentrasi Guru maupun siswa lain. Jadi atur aja bagaimana baiknya dan beri pengertian pada siswa mana yang baik. 

Ok episode 2 nya sambil saya nulis rapor deh hehe. Maklum deadline hari Jum'at mau dibagikan hehehe... 

9 comments:

  1. Bagus ceritanya, ga mulu tentang cinta, anak ketuker wkwkk.. Ini sarat pesan moral ya mba.. Ditunggu kelanjutannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya banyak pesan moralnya, apalagi buat pendidik n orang tua.

      Delete
  2. di tunggu kelanjutannya.. lumayan buat tambah pengalaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul-betul tambah pengalaman. ambil yang positifnya siapa tahu bisa diterapkan di dunia nyata...

      Delete
  3. lanjut ya mba coz pengen liat mami misil dan lanjutan drama ini tentunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah2an mood buat lanjut terus ada hehe

      Delete
  4. Kalo diliat2 dong go kayaknya suka sama hana deh :/ hmm atau hanya perasaan doang? Haha
    Sikap guru ma aku suka sekali. Dari dlu emang paling suka guru tegas. Terkadang kalo lagi ujian trus ada anak yg ijin ke toilet emang agak terganggu. Jawaban yg tadinya mau ditulis jadi buyar ..

    Oh ya mba anis guru ya? Wah.. Sama kaya guru ma dong :) Sesama guru jadi mengerti nih hihi

    ReplyDelete
  5. Kak tlg tetep lanjutin sinop all about my romance jga ya...
    Makasih ... :)

    ReplyDelete
  6. GURU MA TERLIHAT CHUBBY DI SINI, PADAHAL SAYA KAGUM AMA KECANTIKANNYA
    HAHAHAHAHA BACA DRAMA INI JADI PENGEN NONTON DRAMANYA, TAPI GA SEMPET :(
    JADI SAYA BACA SINOPSISNYA AJA
    SEMANGAT YA WRITER

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...