Sunday, 9 June 2013

Sinopsis All About My Romance Episode 13 Part 2

Sampai di rumah Bibi masih saja ngomel-ngomel. “Itu sebabnya jangan dengarkan ucapan politikus. Ucapan politikus itu tak bisa dipertanggungjawabkan.” Min Young juga ikut sebel mendengar cerita tentang Soo Young dari Bibinya. Hahaha.
Bibi berkata apa Min Young ingat ketika Soo Young ke restouran mereka, “Apa kau ingat kau menyuruhnya untuk tutup mulut dan pergi? Tindakanmu itu tepat sekali. Jangan pernah dekat dekat dan menemuinya.”
“Tentu saja.” ucap Min Young terbata-bata.

Bo Ri melirik Min Young dengan tatapan sinis, “Huh.. Two faced.” ucapnya. Min Young heran apa maksudnya.
Bibi di restouran ayam miliknya, ia berbincang dengan seorang ahjumma. Mendengar pintu restouran ada yang membuka Bibi mempersilakan orang itu masuk. Ia mengira orang itu pelanggan yang akan makan disana. Seorang pria datang dengan wajah tertutup rangakain bunga indah.

Bunga itu turun perlahan dan munculah wajah Soo Young yang tersenyum pada Bibi. Bibi tak suka melihatnya. “Beraninya kau datang?” Soo Young berkata bagaimana kalau Bibi menerima bunga yang ia bawa. “Ini terutama karena .....”
“Awas saja kalau kau bilang aku seperti bunga, mulutmu akan kurobek.” ucap Bibi menyela perkataan Soo Young. Soo Young bersembunyi dibalik bunga yang dibawanya.

Tak hanya hari itu, dilain waktu juga Soo Young datang menemui Bibi dengan membawa bunga jenis lain.
Dengan penuh percaya diri, Soo Young menuju restouran ayam Bibi. Tapi Bibi yang tahu kalau Soo Young akan datang menempel tulisan di pintu masuk, ‘Tidak melayani Kim Soo Young’ Soo Young hanya bisa terdiam lemas.
Bunga yang dibawa Soo Young diberikan pada Aide Maeng. Aide Maeng senang menerimanya. Ia benar-benar tak menyangka Soo Young memberinya bunga. Soo Young berkata kalau ia juga senang melihat Aide Maeng senang.
Sang Soo merapikan baju Soo Young, ia mengatakan pada saat di foto nanti Soo Young harus terlihat keren. Soo Young bilang tak perlu itu jadi lupakan saja, ia tak butuh terlihat bagus di depan orang lain. Sang Soo mengingatkan kalau Soo Young tak boleh bicara begitu, bukankan ini acara besarnya GKP. Ia juga mengingatkan bukankah karir politik Soo Young sedang naik, apa Soo Young tak merasa beruntung.
Aide Maeng berkata kalau Ketua Go sudah mengatakan kemana-mana kalau dia akan membimbing Soo Young secara langsung. Soo Young tak suka mendengarnya. Ia permisi akan keluar.
Sebelum Soo Young keluar Sang Soo ngelendot memeluk dari belakang. Soo Young risih, “Apa yang kau lakukan?”

Sang Soo : “Aku akan mengikutimu seumur hidupku sampai kau menyerahkan tongkat estafetmu padaku!”

Wakaakak Sang Soo terus ngelendot.
Anggota GKP melakukan kegiatan sosial mengunjungi panti jompo dan itu diliput oleh wartawan. Ketua Go dan yang lain tampak memberikan bingkisan. (Huh pencitraan nih hahaha) Soo Young sih cemberut aja.
Sang Soo menyenggool mengingatkan kalau wajah Soo Young jangan ditekuk saja. Tersenyumlah. Soo Young pun senyum terpaksa. hahaha.
Min Young dan tim GJP lain berada di taman bermain bersama beberapa anak. Mereka bermain dan bersenda gurau. Joon Ha tampak menggendong seorang anak kecil. Min Young memotret seorang anak perempuan. Ia sendiri juga ikut berpose.
Anggota GKP pindah ke rumah sakit anak yang sepertinya penderita kanker. Mereka memperlihatkan raut wajah prihatin dan ikut sedih. (ah palsu deh nangisnya hahaha) Soo Young diem aja ga ngapa-ngapain.
Ketika rombongan GKP keluar dari rumah sakit, rombongan Min Young datang. Mereka perpapasan. Bedanya rombongan Min Young ini ga bawa wartawan.

Ketua Go terkejut melihat rombongan GJP dan berkata kalau ia senang bertemu dengan mereka. Ketua Go dan Min Young berjabat tangan di depan kamera. Min Young bicara lirih menyindir, apa Ketua Go kesini untuk berfoto. Ketua Go tersenyum di depan kamera dan berkata apa Min Young pikir hanya Min Young saja yang ingin membuat acara sosial seperti ini.
Rombongan GKP pun pergi, Soo Young dan Min Young pun tak melakukan kontak mata. Mereka berlalu begitu saja. Bong Shik bertanya apa Soo Young tak merasa kalau GJP dan GKP sudah semakin jauh perbedaannya. Soo Young tak menanggapinya.
Min Young menilai kalau Moon Bong Shik dan Kim Soo Young bahkan semakin berwajah mirip seperti GKP kalau sedang berkumpul seperti itu. Yoon Hee menyahut tentu saja karena mereka itu anggota GKP, entah itu tua ataupun muda sama saja.

Dong Sook ikut menyahut bukankah Min Young sudah tahu itu, walaupun Kim Soo Young berusaha berhati-hati untuk tak ikut terpengaruh anggota GKP lain tapi selama dia berkumpul disana maka dia itu sama saja dengan anggota GKP lain.
Min Young berada di rumah Soo Young. Soo young menyiapkan buah, strawberry. Min Young membaca dokumen sambil sesekali melihat Soo Young yang sibuk menyiapkan buah. Soo Young heran kenapa Min Young melihatnya seperti itu. Min Young berkata kalau Soo Young itu begitu jauh ketika berdiri di dapur. Soo Young membawakan buah dan minuman, ia duduk di samping Min Young.
“Bukankah sekarang aku dekat denganmu.” ucap Soo Young tersenyum menatap Min Young. Soo Young berkata ketika keduanya memulai hidup bersama nanti ia merasa sebaiknya keduanya membeli rumah yang kecil saja (waakakakak udah kaya San Oppa pengennya rumah kecil atau bahkan tenda supaya bisa nempel2 wakakaka)

“Siapa bilang kita akan hidup bersama?” Min Young mendorong Soo Young menjauh.
Soo Young tersenyum ia mengambil garpu untuk mengambil buah strawberry tapi Min Young langsung mencomot buah strawberry dengan tangan dan langsung melahapnya. Bahkan jarinya dijilat wakakaka.

Soo Young terkejut dan heran melihat apa yang dilakukan Min Young. Min Young tanya kenapa Soo Young melihatnya begitu. Soo Young bilang bukan apa-apa, “Kuharap kau sudah cuci tangan.” kata Soo Young lirih sambil menyantap buah menggunakan garpu. (haha)
Soo Young merangkul Min Young, ia bertanya apa yang akan Min Young lakukan. Min Young mengatakan kalau ia harus mempelajari materi untuk rapat besok.

Soo Young tak suka Min Young membahas pekerjaan di rumah, “Apa itu masuk akal? Ini rumahku, hanya ada kita berdua disini dan tak ada yang melihat.” Soo Young menyalakan musik romantis untuk menemani keduanya.

Soo Young tersenyum manja dan bertanya bagaimana Min Young bisa memikirkan pekerjaan di rumahnya. Ia menyuruh Min Young menutup dokumen itu dan masuk ke pelukannya. Tapi Min Young tak mau hahaha.
Soo Young pun ngalah, tapi ia ingin tetap bermesraan meskipun Min Young menyiapkan bahan untuk rapat besok. Ia menarik Min Young berbaring bersama di sofa. Min Young tak menolak, Soo Young mengecup keningnya. Min Young tersenyum dan membalas mengecup pipi Soo Young. (huwaaaaa sweetu sweetu)
Keduanya tetap berada dalam posisi tiduran berpelukan sambil tetap mempelajari materi untuk rapat besok. Min Young meminta pendapat Soo Young. Soo Young setuju tapi Min Young tidak, menurutnya mereka belum siap melakukan ini. Soo Young merasa kalau ini akan lebih baik jika diatur dalam Undang-undang. Min Young menilai kalau Soo Young ini sudah seperti anggota partai oposisi saja. Soo Young tak suka mendengarnya, kenapa Min Young membicarakan itu. Soo Young mengingatkan kalau disini dilarang keras membicarakan politik. Soo Young menutup mulut Min Young dengan jarinya, keduanya tertawa.
Hee Sun berada di tempat kerjanya. Ia membaca beberapa artikel tentang Min Young yang sudah dibuatnya tapi belum diterbitkan. Hee Sun mengingat ucapan Joon Ha ketika berada di bar. Joon Ha berkata walaupun dia tak bisa melakukannya tapi dia berharap Hee Sun bisa menghadapinya. Apa yang membuat Hee Sun marah dan gelisah lebih baik sampaikan langsung pada orangnya dan selesaikan masalah itu hingga tuntas. Hee Sun menekan panggilan cepat nomor 1, Kim Soo Young. 
Ponsel Soo Young yang diletakan di meja menampilkan panggilan tapi tak ada suaranya, jadi Soo Young sepertinya ga tahu.

Soo Young dan Min Young masih terbaring di sofa. Min Young terlelap dalam pelukan Soo Young. Soo Young sendiri tersenyum memandang Min Young yang terlelap. Suara ponsel membangunkan Min Young. Suara ponselnya Min Young.
Dengan mata terpejam tangan Min Young meraba-raba mencari dimana ponselnya. Min Young pun mengambil ponsel yang berada dekat dengan kaki menggunakan kedua kakinya.
Soo Young cuma bisa melongo melihat apa yang dilakukan Min Young. Benar-benar sebuah kepribadian yang luar biasa hahaha. Min Young menjawab panggilan telepon yang ternyata dari Bo Ri. Ia mengatakan kalau dirinya akan segera pulang.
Soo Young yang masih bengong bertanya apa Min Young tadi mengambil ponsel menggunakan kaki. Min Young yang masih setengah sadar tak mendengar jelas pertanyaan Soo Young hahaha. Soo Young meraba wajah Min Young yang masih setengah terpejam, Min Young tersenyum.
Karena panggilan teleponnya tak juga dijawab. Hee Sun bermaksud menemui Soo Young langsung. Tapi ia terkejut melihat Soo Young berjalan sambil merangkul seorang wanita. Hee Sun pun tak jadi menemui Soo Young. Ia menebak kalau wanita itu pasti Min Young.
Di gedung parlemen, Min Young melihat pintu lift akan segera tertutup. Ia berlari agar bisa cepat masuk kesana. Ia terkejut melihat yang berada di dalam lift itu Hee Sun.

Keduanya masuk lift bersama. Min Young dengan sikap juteknya menyapa Hee Sun, Hee Sun menanggapinya dingin. Dengan sikap dinginnya Hee Sun bertanya apa Min Young tak ingin mengatakan sesuatu padanya, misalnya minta maaf.
Min Young menoleh menatap tak mengerti, ia pun teringat ucapan Hee Sun ketika di restouran. Saat itu Hee Sun memberitahunya kalau dia menyukai Soo Young bukan Joon Ha. Min Young balik bertanya memangnya apa yang membuat dirinya harus minta maaf pada Hee Sun. Hee Sun menoleh menatap sinis, kalau tak ada yang lupakan saja ucap Hee Sun judes.

Min Young : “Kau sendiri? Apa ada sesuatu yang membuatmu harus minta maaf padaku? Kau sudah membuat artikel yang menjatuhkan martabatku.”

Hee Sun tertawa sinis, kenapa masalah sekecil itu membuat Min Young gelisah. Min Young kesal karena Hee Sun menganggap itu masalah kecil, ia ingin tahu apa lagi yang akan Hee Sun rencanakan padanya. Hee Sun masih bersikap dingin, “Entahlah. Itu semua tergantung padamu.”
Min Young : “Dengar Reporter Ahn....”

“Apa?” Hee Sun menoleh dengan tatapan mata menantang.

Min Young terkejut melihat tatapan mata Hee Sun yang galak, ia juga melihat tangan Hee Sun mencengkeram tas seperti siap akan melayangkan tas itu ke wajahnya.

Pintu lift terbuka, Hee Sun keluar lebih dulu. Min Young tak mengerti kenapa Hee Sun tiba-tiba marah seperti itu. Min Young pun keluar dari lift.
Go Dong Sook, Yoon Hee dan Yoon Ki keluar dari ruangan. Ketiganya berpapasan dengan Hee Sun yang baru saja keluar dari lift. Dong Sook heran kenapa tampang Hee Sun kesal begitu. Min Young yang juga keluar dari lift tampak kesal dan berlalu begitu saja membuat mereka bertiga heran.

Yoon Hee mengejarnya menanyakan apa Min Young sudah mendengar topik mengenai debat di radio. Ia memberi tahu kalau itu debat terbuka.
Dong Sook yang terheran-heran menebak apa ada kemungkinan kalau Reporter Ahn Hee Sun sudah mengetahui hubungan Min Young dengan Soo Young. Yoon Ki menyahut hubungan apa. Dong Sook tentu saja tak mengatakannya, kau tak perlu mengetahuinya. Dong Sook menggerutu, “Ah ya ampun bikin kesal saja.”

Yoon Ki heran kenapa Dong Sook seperti itu, kenapa bersikap seperti Wakil Noh.
Ketua Go menugaskan Bong Shik untuk mensukseskan RUU yang dirancangnya. Bong Shik terkejut, “RUU anti Nepotisme?” Ketua Go membenarkan, ia mengatakan kalau RUU ini sudah lama ditunda. Ia ingin Bong Shik berjuang untuk meloloskan RUU ini menjadi UU yang disahkan. Bong Shik kaget Ketua Go menugaskan ini padanya.
Soo Young berkunjung ke restourannya Bibi. Ia melihat Bibi sibuk memasukan minuman ke lemari pendingin. Bibi terkejut bukan main ketika melihat Soo Young tiba-tiba ada di restourannya. Soo Young tersenyum manis pada Bibi. Bibi yang marah berkata bukankah ia sudah melarang Soo Young untuk datang ke restourannya.

Soo Young tersenyum ramah mengatakan kalau kedatangannya kesini sebagai pembeli. Bibi tak peduli ia tak mau melihat Soo Young berada di restourannya. Ia membentak menyuruh Soo Young diam. “Kalau kau tak mau mengaku kenapa kau menyanjungku, jangan pernah kau datang kesini.” 
Soo Young akan menjelaskan tapi tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan. Joon Ha yang bertepuk tangan memuji Bibi, “Bibi kau hebat!” Bibi senang melihat Joon Ha datang. Ia menyuruh Joon Ha menyeret Soo Young keluar dari restourannya. Joon Ha bilang Bibi tak perlu khawatir, ia akan menyingkirkan Soo Young. Joon Ha pun menarik Soo Young keluar.
Keduanya duduk di bangku taman. Soo Young tampak terkejut, “Hee Sun kenapa? Apa dia sudah tahu tentang hubunganku dengan Min Young? Apa dia sudah tahu?” Joon Ha tak tahu pasti karena Hee Sun tak pernah menceritakan itu padanya.

Soo Young kesal seharusnya Joon Ha bisa mencegah Hee Sun. Joon Ha malas melakukannya ia mengatakan kalau ia lelah. Soo Young tambah kesal, jadi apa Joon Ha tak mencegahnya. Joon Ha mengangguk.
Soo Young tak habis pikir kenapa Joon Ha jadi bodoh begini. Joon Ha tak suka disebut bodoh apa Soo Young sadar dengan siapa Soo Young bicara sekarang. Ia memperingatkan agar Soo Young menjaga mulut supaya tak bicara sembarangan. “Karena kalian berdua aku sibuk menenangkan Hee Sun.” Soo Young mengerti ia yang akan mengurus Hee Sun. Joon Ha masa bodo. 

Soo Young menarik nafas, Joon Ha bertanya apa ada masalah antara Soo Young dan Min Young. Soo Young balik bertanya apa Joon Ha memang berharap begitu. Joon Ha mengiyakan. Soo Young berkata kalau ia dan Min Young tak ada masalah. Giliran Joon Ha yang menarik nafas panjang, ia berharap hubungan Soo Young dan Min Young ada masalah.
Soo Young dan Min Young mengisi acara debat di radio. Menurut Min Young semua aturan yang menghina dan mendiskriminasi kebebasan berbicara itu perlu dihapuskan. Soo Young setuju tapi hal itu membutuhkan proses pendewasaan pada pemikiran masyarakat, bukankah untuk mencapai itu jalan yang ditempuh masih panjang.
Min Young : “Negara kita adalah negara yang bisa menuntut orang yang menyuarakan pemikirannya.”

Soo Young menyela, “Lihat. Betapa miskinnya mental rakyat negara kita. Mereka masih membutuhkan aturan seperti itu.”

Min Young : “Kejahatan kebencian bisa menimbulkan kejahatan penghinaan. Penghinaan dan kebencian adalah dua hal yang berbeda. Penghinaan itu sangat subjektif.”

Soo Young : “Kerusakan yang disebabkan oleh para pembenci itu tidak hanya dialami oleh pemerintah tapi juga mengancam keselamatan rakyat biasa.”
Min Young diam dan debat pun selesai. Tapi keduanya masih saling menatap tajam.

Min Young berkata dalam hati. ‘Kalau kulihat dari sudut pandang yang berbeda semua hal yang tak kusukai dari GKP muncul di hadapanku. Begitu berbedanya kami dan begitu miripnya dia dengan GKP.’
Min Young dan Soo Young nonton acara TV. Min Young tertawa terpingkal-pingkal tapi menurut Soo Young itu tak lucu sama sekali. Ia tak tertawa sedikitpun. Tapi ketika menonton acara humor lain, Soo Young tertawa ngakak tapi Min Young sama sekali tak tertawa.
Min Young membuatkan ramen untuk Soo Young. Ia bertanya Soo Young ingin ditambahkan berapa telur di ramennya. Soo Young menolak jangan mencampur mie dengan telur. Kalau dicampur telur rasanya jadi amis.

Benar-benar dua kepribadian yang berbeda ya.
Ada lagi nih. Ketika di mobil Soo Young berkata kalau ia tak percaya bahwa setiap manusia pada dasarnya baik. “Lihat saja anak-anak di luar sana. Mereka itu setan-setan kecil.” (hahahah)
Ketika mereka makan di restouran, Soo Young meletakan apa ya namanya semacam saus gitu diatas nasi. Tapi berbeda dengan Min Young. Kalau Min Young langsung mencampur nasi dengan saus itu. 

Sambil makan keduanya membicarakan pekerjaan, Soo Young merasa kalau dana politik itu sebaiknya dilegalisasikan saja. Min Young tak setuju karena nantinya akan semakin kacau.
Min Young heran kenapa Soo Young tidak banyak memasukan makanan itu ke mulut. Min Young mengunyahnya lahap. Haha.
Di suatu siang di sebuah taman, Min Young menghadiahi Soo Young sebuah scarf. Soo Young memuji scarf itu cantik. Min Young akan membantu memakaikannya. Soo Young sebenarnya menolak karena sekarang ia tak perlu memakainya. Tapi Min Young memaksa memakaikannya dan memuji kalau Soo Young tampak seperti bule Prancis.
Soo Young terlihat tak nyaman memakainya. Ia bertanya apa Min Young sendiri yang memilih warnanya (warnanya hijau tua haha) Min Young mengiyakan dan bertanya apa Soo Young menyukai scarf pemberiannya. Soo Young berkata tentu saja ia menyuakainya. Ia perlahan melepas scarf itu memujinya cantik sekali dan berkata lebih baik ia simpan saja.
Dong Sook duduk sendiri, melamun. Sesekali ia menarik nafas panjang. Bong Shik keluar dari ruangannya dan heran melihat Dong Sook duduk melamun sendirian. Bong Shik teringat perkataan Dong Sook padanya yang mengatakan kalau orang bilang cinta itu tak mengenal batas usia.

Bong Shik memberanikan diri menghampiri Dong Sook. Ia mengetuk meja tempat Dong Sook melamun. Dong Sook mendongakan wajahnya menatap Bong Shik. “Dong Sook-ah, apa kau mau menemaniku minum teh?” ajak Bong Shik.
Keduanya berada di kantor Bong Shik. Bong Shik memberanikan diri bicara lebih dulu, “Dong Sook-ah, aku sudah memikirkannya. Yang ingin kukatakan .....”

“Apa ini?” tanya Dong Sook tiba-tiba karena melihat sesuatu di meja. Bong Shik mengatakan kalau itu dokumen RUU anti Nepotisme. Bong Shik sedikit kesal karena perkataannya tadi belum selesai. “Bisakah aku menyelesaikan perkataanku? Memangnya ini apa? ini hanya RUU.”
Dong Sook yang membaca itu menilai bukankah RUU ini yang bisa mengancam kedudukan anggota GKP di parlemen. Partai kalian itu yang terbanyak memiliki anggota keluarga yang mengambil uang rakyat.

Bong Shik menahan kesal, “Tidak. Ketua Go sudah menyingkirkan mereka semua.” Dong Sook heran, benarkah. Bong Shik membenarkan. Dong Sook mulai menebak kalau begitu ini bukan RUU yang tidak berkaitan dengan dirinya di GJP kan. Bong Shik kembali menahan kesal dan mengajak Dong Sook kembali ke topik semula yang ia perbincangkan.
“Terima kasih teh-nya!” ucap Dong Sook langsung keluar dari ruangan Bong Shik. Ia tak mau membahas yang Bong Shik katakan tadi. Bong Shik berusaha menahan sabar, “Kenapa dia seperti itu lagi? kenapa jadi begini?” keluh Bong Shik.
Hee Sun berada di kantornya mengirim email pada Joon Ha. Hmmm yang Hee Sun kirim ini artikel tentang Min Young yang ia buat.
Joon Ha masih berada di sekitar gedung parlemen, ponselnya bunyi. Ia mendapat kiriman email dari Hee Sun. Tapi belum sempat Joon Ha membuka file kiriman Hee Sun, Dong Sook memanggilnya. 

Joon Ha terkejut mendengar dari Dong Sook bahwa ada RUU anti Nepotisme. Dong Sook heran apa Joon Ha tak merasa ini aneh. Joon Ha yakin kalau ini pasti bukan tentang dirinya. Kalaupun memang benar, maka tak akan ada pengaruh untuknya. Tapi menurut Dong Sook kalau hal ini terus terjadi maka ceritanya bisa berubah. Joon Ha mengangguk.
Dong Sook masuk ke ruangan Min Young. Min Young masih terlihat sibuk. Dong Sook duduk menunggu dan mempersilakan Min Young menyelesaikan pekerjaan.

Sambil melanjutkan pekerjaannya Min Young sedikit curhat, “Apa kau tahu Wakil Go, apa menurutmu manusia itu memiliki perbedaan. Baik sesama teman, atau hubungan pribadi antara pria dan wanita. Mungkin berbeda tapi mereka bisa beradaptasi. Dan dalam prosesnya mereka semakin memiliki banyak kesamaan. Begitu kan?”

Dong Sook tampak terdiam sebentar, ia tahu kalau yang Min Young katakan ini berkaitan dengan doo Young. Ia menjawab tidak. Min Young terkejut dengan jawaban Dong Sook.
Dong Sook menghampiri Min Young dan kembali menjawab tidak. “Itu sebabnya kau harus putus dengannya. Aku tahu kau sedang membicarakan Kim Soo Young. Putuskan hubunganmu dengannya.”

Ucapan Dong Sook ini benar-benar membuat Min Young terkejut. Ia tak menyangka ternyata Dong Sook sudah mengetahui hubungannya dengan Soo Young. Min Young terdiam mendengar saran putus dari Dong Sook. Dong Sook mengerti perasaan Min Young dan ikut sedih. Tapi yang dilakukan ini tidak benar. Dengan nada suara lemah Min Young berkata kalau ia juga tahu.

Dong Sook : “Kalau kau sudah tahu, aku percaya kalau kau akan melakukan hal yang benar. Aku tak akan membicarakan tentang ini lagi.”

Dong Sook keluar dari ruangan Min Young. Min Young terdiam sedih.
Di luar ruangan Min Young, Dong Sook merasa tak enak hati sudah menyarankan putus. Ia ingin masuk lagi ke ruangan Min Young tapi ia ragu.
Min Young melamun di ruangannya mengingat perbincangannya dengan Soo Young. Soo Young yang tak memiliki keluarga, hidup seorang diri, tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun bahkan ulang tahun pun membeli kado sendiri. Mata Min Young berkaca-kaca mengingatnya. Ia segera bangkit keluar menyusul Dong Sook.
Min Young menangis, ia menolak saran Dong Sook untuk putus dengan Soo Young. “Aku tak bisa putus dengannya. Aku tahu pandangan politik kami berbeda dan kami berbeda partai. Aku tahu karena alasan itu kami tak bisa bersama. Aku juga kesal dan marah karena perbedaan itu. Tapi aku merasa simpati padanya. Hatiku hancur melihatnya. Seorang manusia yang hidup sebatang kara dan hanya bisa mencintai dirinya sendiri. Pria yang dibesarkan tanpa pernah menerima cinta dan dia mencintaiku tanpa syarat. Bagaimana aku bisa meninggalkannya? Sedangkan aku belum pernah membalas apa yang telah dia berikan padaku atau melakukan sesuatu untuknya. Bagaimana aku bisa meninggalkannya? Tidak, aku tak bisa. Aku tak mau. Aku tak akan berpisah dengannya. Aku tak mau putus dengannya.”
Tapi itu semua tak dikatakan Min Young pada Dong Sook. Min Young hanya berdiri diam di depan Dong Sook dan dengan suara sedih mempersilakan Dong Sook pergi.

Min Young kembali ke ruangannya. Dong Sook menatapnya sedih.
Soo Young dan Sang Soo ke toko perhiasan. Sang Soo menunjukan cincin mana yang bagus. Tapi menurut Soo Young itu terlalu kebesaran. Sang Soo berfikir kalau lebih besar itu akan lebih bagus untuk seorang wanita. Soo Young menunjukan pilihannya pada Sang Soo. Ia meminta pendapat Sang Soo. Sang Soo menilai kalau yang ditunjukan Soo Young juga kebesaran, itu malah terlihat seperti cincin pernikahan.
Pelayan datang menanyakan ukuran cincinnya, Soo Young bengong karena ia tak tahu ukuran jari Min Young. Soo Young mengingat-ingat saat ia menggenggam tangan Min Young. “Itu sekitar sebesar kelingkingku?” kata Soo Young tersenyum.
Min Young yang galau karena saran putus dari Dong Sook masih berada di kantornya. Ponselnya menampilkan panggilan dari Myung Ran alias Soo Young. Min Young menjawabnya. Soo Young menanyakan dimana Min Young sekarang. Min Young mengatakan kalau ia masih berada di kantor. Soo Young heran kenapa malam-malam begini masih berada di kantor.
“Sudah malam ya? Aku tak tahu.” ucap Min Young sambil melihat jam tangannya.

Soo Young mendengar gelagat yang aneh dari nada bicara Min Young, “Apa yang terjadi?” Min Young bilang tak ada apa-apa. Soo Young bertanya apa Min Young sudah makan. Min Young berkata kalau ia tak ingat dirinya sudah makan atau belum. Tapi melihat ukuran perutnya sepertinya ia belum makan.

Soo Young marah sampai selarut ini Min Young belum juga makan malam. Ia menyuruh Min Young segera keluar dari kantor. Ia akan menjemput Min Young.

Dalam perjalanan menjemput Min Young, Soo Young tersenyum-senyum bahagia.
Joon Ha sampai di rumahnya. Ia ingat kalau tadi mendapat kiriman email dari Hee Sun. Ia membuka email di laptop-nya. Joon Ha terkejut membaca artikel kiriman dari Hee Sun.

-Noh Min Young, figur publik yang memiliki keponakan kaya-

Joon Ha geram membaca artikel itu. Ia segera keluar untuk menemui Hee Sun.
Joon Ha sampai disuatu tempat (sepertinya di sekitar rumah Hee Sun) ia akan menghubungi Hee Sun. Tapi Hee Sun baru saja tiba disana. Hee Sun yang akan mengambil ponselnya di tas terkejut melihat Joon Ha. Ia pun tahu kalau yang meneleponnya itu pasti Joon Ha.
Joon Ha bertanya apa Hee Sun sengaja mengirim artikel itu padanya supaya ia bisa mengentikan Hee Sun. Hee Sun diam menatap Joon Ha.
Min Young makan malam bersama Soo Young. Ia tampak tak bersemangat, makannya hanya sedikit-sedikit, benar-benar tak seperti biasanya ketika ia makan lahap. Soo Young aneh melihatnya, “Apa kau tak suka?”

“Tidak. Aku tak suka.” jawab Min Young tak memandang wajah Soo Young.
Soo Young memberi tahu kalau ini menu istimewa restouran. Min Young menimpali yang namanya menu istimewa itu belum tentu enak. Mendengar jawaban Min Young, Soo Young menebak pasti telah terjadi sesuatu. “Ada apa? apa yang terjadi?” tanya Soo Young. “Tidak ada apa-apa.” jawab Min Young masih belum memandang Soo Young.

Soo Young tak memaksa Min Young mengatakannya ia malah berkata kalau Min Young tak suka makanannya lebih baik tak usah dimakan. Ia akan membuatkan Min Young makanan yang lain. Apa Min Young mau ia buatkan spaghetti. (huwaaaaa baik banget kan Soo Young)

“Bagaimana kalau aku tak mau?” Min Young masih menunduk tak memandang Soo Young. “Apa kau akan membuang semua ini karena aku tak memakannya?”

Soo Young bilang kalau ia yang akan memakannya.
Min Young mengangkat wajahnya, “Kenapa kau seperti ini?”

Soo Young semakin heran, “Ada apa?”

Min Young : “Aku memikirkan hal-hal yang tak masuk akal. Kenapa kau tak marah dan berteriak padaku. Kenapa kau selalu memberi pengertian pada setiap masalah? Kenapa kau bersikap baik padaku sedangkan kau tak begitu pada orang lain?”

Soo Young tersenyum, “Ada apa ini? katakan padaku.”
Mata Min Young berkaca-kaca. Ia memandang Soo Young yang dengan sabar tersenyum padanya. 

“Haruskah kita......... putus saja?” ucap Min Young dengan tatapan penuh air mata.

Soo Young terkejut mendengar ajakan putus dari Min Young.

Komentar :

Huwaaaaaa putus? Apa keduanya akan benar-benar putus. Soo Young emang baik banget, pengertian bangat. Mauuuu, minta satu donk yang setipe Kim Soo Young hahaha.

Apa sebenarnya yang Hee Sun tulis kali ini. Kenapa dia membawa nama keponakan Min Young segala. Kenapa Joon Ha sampai melabrak Hee Sun seperti itu. Ya tentu saja karena ini menyangkut Bo Ri yang juga keponakannya.

Soo Young sepertinya butuh kerja keras untuk menaklukan keluarga Min Young. Bibi sebel liat dia, apalagi Bo Ri hahaha.

Pencitraan partai ketika melakukan kegiatan sosial dimana-mana sudah umum ya. Saya malah salut atas apa yang dilakukan tim Min Young, tak perlu mengundang wartawan mereka tetap melakukan kegiatan sosial, ga perlu diliput media gitu. Sekarang ini jarang deh partai yang begitu, ada kegiatan sedikit saja pasti diliput media. Hahaha.

RUU Nepotisme itu sepertinya untuk menjegal Min Young deh. Min Young kan pake penasehat dari kalangan keluarga. Kira-kira apa ya yang bakal Joon Ha lakuin terkait RUU Nepotisme ini.

Bong Shik mulai unjug gigi lagi nih ke Dong Sook, tapi Dong Sook nya cuek aja. Huwaaa Moon Bong Shik, fighting hahaha.

7 comments:

  1. Huwaaaa... kenpa tiba2 mata saya berair yah ...Kim Soo Young sabar n perhatian banget ditambah senyum nya ituloh...

    Thanks Nis ...

    ReplyDelete
  2. mau ama pria kaya soo young...:))
    thx for the synopsis. semangat ya...

    ReplyDelete
  3. indria purnawati10 June 2013 at 19:13

    sweetu?? oke jg istilahnya anis, ato bahasa korea yah?? he..he..
    enaknya nonton episode ini nis..sukaaaaa bgt adegan sweetu itu..
    dibanding agd, aamr ini " adegan sweetunya "lebih luwes ya nis? maksudnya?? gak tahu saya jg bingung..pokoknya ngerasa " tek" dihati

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah wah saya baru sadar kalau sudah membuat istilah baru, bener juga ya.

      Entah kenapa enak aja gitu pake istilah Sweetu, menggambarkan sesuatu yang lebih dari sekedar sweet ehehehe....

      #kayak nama peran film india ya hahaha...

      Delete
    2. Salam kenal yah,ditunggu kelanjutannya,thx yah atas sinopsisnya

      Delete
  4. So sweet..... Makasih sinopsisnya, ditunggu episode 14nya ya

    ReplyDelete
  5. gara gara bc sinop.nya mba anis jd jatuh cintrong sm ni film apalagi sm si mr soo young.trs nyari deh ni film di lapak,setlh ditonton smpe abis and berulang-ulang crtany bnr2 uapikk...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...