Wednesday, 12 June 2013

Sinopsis All About My Romance Episode 14 Part 1

Soo Young dan Min Young makan malam bersama, tapi Min Young tak nafsu makan. Ia tak seperti biasanya yang makan lahap. Ia hanya makan sedikit-sedikit dan itu membuat Soo Young heran, “Apa kau tak menyukainya?” Tanya Soo Young.
“Tidak. Aku tak suka.” jawab Min Young sambil menunduk.

Soo Young memberi tahu kalau yang keduanya makan ini menu istimewa. Min Young berkata masih sambil menunduk bahwa yang namanya menu istimewa itu belum tentu enak. Soo Young merasa heran dengan sikap Min Young dan bertanya ada apa, apa terjadi sesuatu. Min Young menjawab tidak ada apa-apa masih sambil menunduk tak memandang Soo Young.

Soo Young tak memaksa bertanya lagi. Ia menyarankan kalau Min Young tak suka makanannya lebih baik jangan dimakan ia akan membuatkan makanan yang lain. “Apa kau mau kubuatkan spaghetti?” 

Min Young masih menunduk, “Bagaimana kalau aku tak memakannya? Apa kau akan membuang semuanya?” Soo Young bilang kalau ia yang akan memakannya.
Min Young mengangkat wajahnya, “Kenapa kau seperti ini?”

Soo Young tak mengerti, ada apa?

Min Young : “Aku memikirkan hal-hal yang tak masuk akal. Kenapa kau tak memarahiku dan membentakku. Kenapa kau harus pengertian terhadap semua hal? Kenapa kau selalu baik padaku sedangkan kau tak begitu pada orang lain?”
Soo Young tersenyum tak mengerti, ada apa sebenarnya. Katakan. Mata Min Young berkaca-kaca. Soo Young tersenyum menunggu dengan sabar penjelasan Min Young.
Tatapan mata Min Young penuh air mata, “Haruskah kita... putus?”

Raut wajah Soo Young berubah terkejut mendengar ajakan putus dari Min Young. Air mata Min Young perlahan menetes.

Soo Young masih berusaha tersenyum, “Kenapa? kenapa kau mau putus?”
Min Young menunduk dengan linangan air mata. Ia mengatakan kalau tak ada alasan untuknya mengajukan putus. Soo Young tak percaya ia menebak apakah anggota partai atau anggota keluarga Min Young sudah mengetahui hubungan keduanya. Min Young menggeleng menjawab tidak.

Soo Young tak mengerti lalu apa alasan Min Young meminta putus, apa Min Young lelah melakukan kencan rahasia. Min Young mengusap air matanya, ia mengiyakan kalau ia lelah menjalani kencan rahasia.

Soo Young : “Apa ini begitu berat hingga kau ingin putus?”
Min Young kembali menjawab ya. Soo Young masih ingin tahu alasan lain. Min Young bilang tak ada alasan lain, terlalu berat baginya dan melelahkan. “Aku tak tahu apakah semua ini benar bagiku.”

Soo Young menatap kesungguhan setiap perkataan yang Min Young ucapkan. “Apa kau yakin kau tak akan menyesal?” Soo Young masih berusaha agar Min Young berubah pikiran. Tapi dengan tegas Min Young menjawab ya kalau ia tak akan menyesal dengan keputusannya.
Soo Young mengerti dan tak memaksa, “Baiklah. Ayo kita putus.”

Min Young tampak terdiam dengan ucapan Soo Young. Soo Young berkata dengan nada lemas kalau Min Young tak usah memakan makanan itu karena Min Young tak menyukai makanannya. Sisa makanan itu mau ia makan atau ia buang ke tempat sampah biarlah menjadi urusannya dan Min Young boleh pergi tanpa mengkhawatirkan makanan itu akan ia apakan.

Min Young masih diam menatap Soo Young, ia seolah tak percaya mendengar ucapan itu dari mulut Soo Young langsung. Soo Young sama sekali tak menolak ajakan putus darinya. Soo Young berkata kalau Min Young pasti tahu dimana pintunya jadi ia tak perlu mengantar.

“Kau boleh pergi sekarang!” Soo Young melanjutkan makannya.
Min Young pun memutuskan keluar dari rumah Soo Young, tapi katika ia memakai sepatunya ia tampak ragu. Haruskah ia meninggalkan rumah pria ini. Haruskah ia pergi meninggalkan pria ini. Soo Young tetap duduk di tempatnya melanjutkan makan dengan perasaan sedih. Min Young pun keluar dari rumah Soo Young dengan perasaan sedih juga.

Setelah Min Young keluar dari rumahnya, Soo Young menyudahi makannya. Ia seperti akan menangis tapi air matanya tak keluar.
Min Young berjalan lemas di sekitar apartemen Soo Young. Min Young terkejut mendengar langkah cepat seseorang yang datang. Ia menoleh berharap Soo Young lari keluar mengejarnya. Tapi itu orang lain, bukan Soo Young. Min Young kecewa. Ia menyesali tindakannya putus dengan Soo Young.
Min Young duduk sendirian di sekitar apartemen Soo Young. Ia menunduk menyembunyikan wajah sedihnya. Ada seseorang yang datang. Soo Young. (huwaaaaaaaaaa) Karena merasa ada seseorang yang datang, Min Young mengangkat wajahnya. Ia melihat Soo Young berdiri di depannya.
Min Young menangis diam, matanya penuh air mata. “Apa hakmu menangis sekarang?” tanya Soo Young dingin. Min Young menyadari kesalahannya, “Baik. aku yang salah. Aku tahu aku yang salah.”

Soo Young : “Apa salahmu?”

Min Young diam menatap Soo Young. Soo Young kembali bertanya apa salah Min Young. Min Young mulai kesal dan balik bertanya apa Soo Young benar-benar ingin mendengar apa kesalahannya. “Aku sudah salah mengajak putus. Aku terlalu kasar. Setelah mengatakannya aku langsung menyesal.”

Soo Young : “Kenapa kau mengatakan sesuatu yang akan membuatmu menyesal? Dan kalau kau melakukannya, kau seharusnya menyadari situasinya ketika kau menyesalinya.”
Min Young : “Makanya aku bilang kalau aku yang salah. Tapi apa kau perlu menyudutkanku seperti ini? Lalu kau sendiri bagaimana? Kau langsung setuju ketika aku mengajak putus. Seolah itu kesempatan yang kau tunggu-tunggu. Apa kau pikir kau juga tak bersalah?”

Soo Young menunduk dan berkata kalau ia juga bersalah. “Tapi membicarakan tentang putus, membicarakan tentang meninggalkan seseorang. Kata-kata itu, seharusnya tak diucapkan dengan mudah.”

Min Young menyadari hal itu, makanya ia mengatakan kalau ia sudah salah. “Aku mencabut kembali kata-kataku. Aku tak ingin putus denganmu. Apa kau puas sekarang?” Min Young mengusap air matanya.
Soo Young tersenyum, “Aku puas.” katanya. Min Young yang menangis memukul Soo Young dengan tas-nya. Soo Young tertawa dan duduk di samping Min Young.
Hee Sun berada di jalan dekat rumahnya. Ponselnya berdering, tapi belum sempat ia mengambil ponsel ia melihat Joon Ha berdiri tak jauh darinya memegang ponsel. Tahu lah dia kalau yang meneleponnya ini pasti Joon Ha.
Joon Ha berkata artikel yang Hee Sun kirimkan padanya melalui email apa itu supaya ia memohon pada Hee Sun untuk berhenti. Joon Ha menahan marah dan menilai kalau Hee Sun sudah berhasil melakukannya, Hee Sun sudah membuatnya menemui Hee Sun untuk menghentikan itu. Tapi Hee Sun bilang kalau Joon Ha sudah terlambat untuk mencegahnya.

Joon Ha terkejut, “Apa maksudmu?” Hee Sun diam. “Aku tanya apa maksudmu?” Joon Ha membentak keras membuat Hee Sun terkejut bukan main.
Joon Ha tak habis pikir bagaimana mungkin Hee Sun menulis artikel yang buruk seperti itu. “Kau bilang kekayaan Bo Ri nilainya milyaran? Kau benar. Kau tahu kan arti uang itu? Kakakku dan kakak iparku, ayah dan ibunya Bo Ri, itu uang santunan asuransi mereka.”

Hee Sun tercengang mendengarnya, ia baru tahu kalau Bo Ri memiliki uang asuransi akibat kecelakaan yang berakibat kematian orang tuanya.
Joon Ha benar-benar marah, teganya Hee Sun mengusik hal itu. “Baik aku, Min Young ataupun Bibiku, tak ada cara lain bagiku selain mengubur semuanya dalam tabungan Bo Ri. Bagaimana uang itu nanti akan digunakan, kami serahkan semua keputusannya pada Bo Ri.”

Mata Hee Sun berkaca-kaca mengetahui hal sebenarnya.

Joon Ha : “Ahli waris jutaan? Itu bukan warisan harta atau warisan kekayaan. Kenapa hak hidup masa depan anak itu berani kau usik juga? Dari mana kau mendapatkan tulisan itu? Mana buktinya. Sebelum kau membeberkan prasangka burukmu, tunjukan dulu buktinya. Karena kami sanggup membuktikan bahwa kau salah besar. Nepotisme di lingkungan legislatif, kalau aku yang menjadi masalahnya, maka aku akan keluar. Apa kau puas?”
Tanpa terasa air mata Hee Sun menetes, Joon Ha yang marah besar akan pergi dari sana. Tapi Hee Sun mengatakan walaupun ia tak melakukan ini tetap saja artikel itu akan muncul. Joon Ha tak jadi pergi dan bertanya apa maksud perkataan Hee Sun.

Hee Sun mengatakan kalau bukan hanya ia sendiri yang menggali cerita ini, ia menerima cerita ini dari seseorang. Walaupun ia tak melakukan ini orang lain pasti akan melakukannya. Joon Ha yang tak mengerti bertanya apa maksudnya.
Soo Young dan Min Young jalan berdua menyusuri jalanan malam. Min Young mengatakan kalau ia sebenarnya juga terkejut dan menilai kalau Soo Young marah itu menyeramkan. Min Young mengulang ucapan Soo Young ketika bersedia putus dengannya. “Baiklah ayo kita putus, bangun pergilah.”

Soo Young menyangkal kalau ia tak mengatakan itu. “Kau itu bukan Reporter Ahn, kenapa memutar balikan kenyataan.” Soo Young ingin Min Young mengatakan alasan mengatakan semua itu. “Apa alasanmu ingin putus denganku?” Min Young diam.
Soo Young berkata kalau keduanya membohongi teman-teman karena terpaksa. Ia menyadari kalau tidaklah mudah menahan beban itu. Maka dari itu ia menyarankan kalau keduanya untuk tak saling membohongi satu sama lain, keduanya harus saling terbuka.

Min Young setuju tapi masalah ini harus ia yang menanganinya sendiri. Ia berharap Soo Young tak menanyakan padanya masalah apa itu. Soo Young mengerti. Min Young berterima kasih atas pengertian Soo Young dan tak lupa ia juga minta maaf. So Young tersenyum dan mengulurkan tangannya. Min Young menerima uluran tangan itu. Keduanya berjalan bergandengan tangan.
Soo Young melihat sebuah mobil melintas di depannya. Ia tampak terkejut melihat siapa yang berada di mobil. (ga begitu jelas karena gelap, jadi saya nebak kalau yang di dalam mobil itu Ketua Go) Min Young bertanya ada apa. Soo Young bilang bukan apa-apa.
Bong Shik di kantornya, ia tertidur membaca biografi miliknya. Ia terjaga dan berusaha untuk membuka matanya agar tak tertidur ketika membaca biografi. Ia mengeluh, “Apa hidupku begitu membosankan? Kenapa membacanya membuatku ngantuk? Apa seperti itu yang dipikirkan orang-orang tentangku?” (kisah hidupnya sendiri aja ngantuk dibaca apalagi orang lain yang baca hahaha)
Park Bo berkata pada Bong Shik bahwa ia telah menggambarkan kehidupan Bong Shik di masa lalu pada biografi itu. Apa menurut Bong Shik itu kurang dramatis? Apa karena itu buku ini jadi sangat membosankan. Bong Shik tak mengerti apa maksud Park Bo tidak ada drama.

Park Bo mengatakan kalau Bong Shik ini tak memiliki latar belakang yang misterius atau bahkan tak pernah bangkit dari yang namanya kematian. Belum pernah sembuh dari penyakit. Tak memiliki kisah sukses yang bangkit dari keterpurukan. Dan juga tak memiliki kisah yang mengharukan. Yang lebih parah Bong Shik adalah perjaka tua yang belum pernah menikah. (wawahahaha)
Bong Shik kesal dan menyuruh Park Bo menutup mulut. “Apa kau pikir hidup normal sepertiku itu mudah?”

Park Bo tertawa, “Tapi sekarang kau bukan orang biasa. Kau adalah bintang internet yang banyak dicari orang.” Bong Shik marah Park Bo mengejeknya begitu. Ia menendang kaki Park Bo. Bong Shik melihat papan nama di pintu. Ia membaca tulisan di pintu, kantornya Dong Sook. Ia menyuruh Park Bo untuk pergi kalau tidak ia akan menendang Park Bo lagi. Park Bo pun langsung lari ngibrit. 
Melihat pintu ruangan Dong Sook tak tertutup, Bong Shik masuk kesana. Ruangan Dong Sook tak begitu terang karena lampunya tak dinyalakan. Bong Shik melihat-lihat sekeliling, tapi tiba-tiba Dong Sook muncul. Keduanya sama-sama kaget.

Dong Sook heran kenapa Bong Shik diam-diam menyelinap ke kantornya. Ia menuduh Bong Shik akan mencuri di kantornya. Bong Shik menyangkal tuduhan Dong Sook, memangnya apa yang ia ingin curi disini.
Bong Shik melihat ada yang lain di wajah Dong Sook. Menyadari kalau Bong Shik memperhatikan wajahnya, Dong Sook mengusap bekas air mata di wajahnya. Dong Sook menyuruh Bong Shik keluar dari ruangannya.

“Apa ini karena perbedaan ideologi partai yang menjadi masalah?” tanya Bong Shik. Dong Sook tak mengerti apa yang Bong Shik bicarakan.
Bong Shik : “Apa dengan keluar dari partai bisa menyelesaikan masalah?”

Dong Sook terkejut ia mengira Bong Shik mengetahui hubungan rahasia Soo Young dan Min Young,  “Jadi kau tahu tentang itu? apa itu yang sedang kau bicarakan?”

“Tentu saja aku tahu.” kata Bong Shik yang tentu saja bukan seperti dalam tebakan Dong Sook. Ia masih mengira kalau Dong Sook menangis karena dirinya hahahaha. Bong Shik tahu kalau ini masalah yang serius.

Dong Sook panik dan bertanya Bong Shik sudah menceritakan kemana saja masalah ini. Bong Shik berkata kenapa ia harus menceritakan masalah ini pada orang lain. Dong Sook menarik nafas lega dan memperingatkan agar Bong Shik tak menceritakan ini kemana-mana.
Bong Shik mengerti, “Tapi Dong Sook-ah kurasa masalah ini tak terlalu serius seperti yang kau pikirkan. Kita berdua kan bukan artis. Orang-orang tak akan tertarik pada politikus. Dan para nitizen, mereka hanya senang mengolok-olok video-ku. Tapi mereka akan melupakannya begitu ada lelucon yang baru. Dan mereka akan terus begitu. Selama ada lelucon baru, aku yakin masalah ini pun akan cepat dilupakan karena mereka itu haus terhadap isu-isu yang baru.”

Dong Sook tak mengerti apa sebenarnya yang ingin Bong Shik katakan.

Bong Shik : “Apa tujuan hidupmu? Makan, poop, dan tidur. Apa kau akan terus berpolitik sampai mati? Bukankah manusia itu membutuhkan cinta. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa hidup tanpa cinta itu sia-sia.”

Dong Sook : “Sejak kapan kau bisa berfikir begini?”

Bong Shik : “Sejak sekarang?”
Dong Sook tertawa dan menilai kalau Bong Shik sudah mulai sedikit matang (Dong Sook selalu bilang kalau Bong Shik itu masih anak-anak hahaha) Dong Sook keluar dari ruangannya. Bong shik terkejut mendengar dari Dong Sook kalau ia sedikit terlihat dewasa. Ia senang bukan main. “Jadi, apa dia mulai tertarik padaku?” Bong Shik kegirangan.
Joon Ha berada di mobil dalam perjalanan pulang. Ia mengingat perbincangannya dengan Hee Sun. Joon Ha menanyakan siapa yang memberi tahu Hee Sun cerita itu tentang Bo Ri. Hee Sun berkata lebih baik Joon Ha menganggap sumber itu tanpa nama alias anonim dan jangan tanyakan ini lagi padanya. Joon Ha mengerti ia tak akan memaksa Hee Sun mengatakannya, ia akan mencari tahu sendiri. Tapi Joon Ha meminta Hee Sun menjawab pertanyaannya yang ini, apa alasan Hee Sun memberinya informasi ini.

Hee Sun bilang tak ada alasan, ia hanya menyadari kalau dirinya sudah diperalat seseorang. “Aku membenci Noh Min Young, aku akan terus mencari kelemahannya dan mengeksposnya ke media. Tapi, aku sendiri yang akan menggali ceritanya.”
Soo Young mengantar sampai di depan rumah. Ketika Min Young akan masuk rumah Soo Young memanggilnya, Min Young-ah. Min Young menoleh.

Soo Young tersenyum, “Sampai bertemu besok!” ucapnya. Min Young membalas senyum Soo Young dan mengangguk.

Min Young akan masuk ke rumahnya tapi Soo Young memanggilnya lagi, “Min Young-ah.” Min Young kembali menoleh.

Soo Young : “Aku akan terus bersama denganmu lusa, esok dan esoknya lagi. Kita bertemu setiap hari, kan?”

Min Young kembali tersenyum dan mengangguk. Ia melambaikan tangan dan masuk ke rumah. Soo Young tersenyum membalas lambaian tangan Min Young. Ponsel Soo young bunyi, ada telepon dari Joon Ha.
Joon Ha memperlihatkan pada Soo Young artikel yang Hee Sun kirimkan padanya. Soo Young menghela nafas kesal, ia menilai mereka itu benar-benar menyerang dari sisi moralitas dan emosiaonalnya.

Joon Ha berkata kalau mereka menanam benih kebencian ke dalam benak setiap orang. Tapi kalau itu tidak benar mereka paling hanya bilang, ya sudah. Jadi menurutnya ini adalah serangan yang tak bertanggung jawab.

Soo Young tanya apa Hee Sun tak mengatakan siapa informannya. Joon Ha berkata kalau Hee Sun bilang padanya dia tak tahu. Tapi ia sendiri tak percaya.
Joon Ha pun menyalahkan Soo Young, “Ini semua karena kau?”

Soo Young : “Jadi menurutmu ini semua salahku?”

Joon Ha membenarkan, “Apa kau tahu apa yang ada dalam pikiranku? Kalau aku kecelakaan di jalan, itu adalah kesalahanmu. Kalau ada bom meledak di negara lain itu juga karena kau. Dan kalau ada kucing tetangga yang mati, itu juga karena kau. Kau mengerti?” Suara Joon Ha meninggi. (Tapi ini membuat saya ngakak hahahaha)

Soo Young bengong mendengar tuduhan tak masuk akal dari Joon Ha yang marah padanya. “Apa kau sadar kalau kau ini sudah gila?”

Joon Ha : “Tak mungkin aku tak menyadarinya.”
Soo Young menatap Joon Ha. Joon Ha tak suka dan melarang Soo Young menatapnya. Soo Young pun mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia berterima kasih karena Joon Ha sudah memberitahunya. Soo Young menyerahkan kembali tablet milik Joon Ha. Joon Ha yang sebal menerimanya kasar. Keduanya berlalu berlainan arah. Hahaha.
Di rumah Joon Ha membuat surat pengunduran diri.
Sementara Min Young berada di kamarnya mengingat ucapan Dong Sook yang sudah mengetahui hubungannya dengan Soo Young dan menyarankan putus. Min Young bergumam kalau mungkin akan lebih baik jika ia terbuka saja tentang hal ini pada Soo Young.

“Mengundurkan diri?” Min Young menepis pikiran bodohnya. “Katakan pada Kim Soo Young untuk keluar dari partainya. Tapi bagaimana aku bisa mengatakannya? Apa yang harus kulakukan?” Min Young bingung.
Di rumah, Soo Young mengetik sesuatu.

‘Aku Kim Soo Young. Akan mengungkap kebenaran tentang rahasia kehidupan pribadiku.’

(apa itu, apa Soo Young akan mengungkap pada publik hubungan cintanya dengan Min Young atau ada kehidupan pribadi lain yang akan ia ungkap)

Soo Young menyadari sesuatu, tapi ia lupa apa itu. Ia berusaha berfikir mengingat sesuatu yang ia lupakan. Ah Soo Young pun ingat. Ia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah bingkisan. 
Keesokan harinya Soo Young duduk di bangku taman menunggu kedatangan Min Young. Min Young datang mengendarai sepeda. Keduanya saling melempar senyum manis. Min Young bertanya memangnya apa yang Soo Young lupakan.
Soo Young mengambil sesuatu dan taraaaa... ia membuka kotak perhiasan yang isinya cincin. Min Young terkejut tak menyangka. Soo Young berkata kalau ia lupa memberikan cincin ini kemarin karena seseorang membuat insiden putus hubungan.
Min Young tersenyum dan mengulurkan tangannya. Soo Young memakaikan cincin itu ke jari manis Min Young. Tapi apa yang terjadi cincinnya kekecilan hahaha. Ga bisa masuk deh. Min Young berkata kalau ada kemungkinan jarinya sedikit melebar kalau pakai sabun mungkin bisa masuk hahaha.
Soo Young tak mempermasalahkannya. Ia mengambil sesuatu yang lain. Jreng... cincin lagi. Min Young kaget, ada cincin lagi. Soo Young melepas cincin yang kekecilan dan menggantinya. Tapi apa yang terjadi kali ini cincinnya kebesaran. Hahaha.
Ternyata Soo Young punya cadangan cincin yang ketiga, hahaha. Soo Young memakaikan cincin ketiga ke jari manis Min Young dan kali ini pas. “Yang ketiga kali selalu yang paling baik.” katanya sambil tersenyum lebar.
Min Young terharu tak menyangka, “Tapi kalau sampai membeli 3 bukankah itu terlalu...”

“Boros...!” Soo Young menyela. “Apa itu yang ingin kau katakan?”

Min Young minta maaf ia tak seharusnya cerewet disaat seperti ini. “Tapi...”

Soo Young : “Tapi... mulai sekarang aku akan terus cerewet kalau itu tantang kau. Aku tahu kau ini sangat tepat dalam berbagai hal. Seperti yang kau terapkan dalam anggaran parlemen. Menggunakan anggaran seperlunya. Begitu juga dengan anggaran pribadi, begitu kan?”

Min Young tersenyum dan menyindir kalau Soo Young ini pandai bicara. Soo Young berkata kalau Min Young bisa memakai cincin yang besar itu ketika berat badan Min Young mencapai 60 kg seperti rencana Min Young. Dan cincin yang kecil bisa dipakai ketika Min Young kurus ketika kalah dalam pemilu, walaupun ia ragu Min Young akan kurus.
Min Young memandang cincin yang diterimanya. Ia mengeluh kalau sekarang ini ia tak bisa memakai cincin ini. Soo Young tak peduli pokonya Min Young harus bisa memakainya. Min Young berjanji kalau ia bisa mengenakan cincin ketika di rumah disaat tak ada yang melihat. Ia akan memakai ketiga-tiganya.

Min Young berterima kasih, ia celingukan melihat sekeliling. Dirasa cukup aman dan sepi, Min Young pun memeluk Soo Young erat.
Min Young kembali ke kamarnya. Ia benar-benar mengenakan ketiga cincin itu di jarinya disaat sendirian. Yang besar di telunjuk, yang kecil di kelingking dan yang satunya di jari manis. Min Young merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan tak bosan-bosan memandang ketiga cincinnya. Min Young tersenyum malu-malu.
Ketua Go dan Soo Young makan pagi bersama di suatu tempat. Ketua Go memberi tahu kalau menu makan di tempat ini tak mewah. Ia berharap Soo Young tak keberatan. Soo Young berkata memang lebih baik begitu karena urusannya dengan Ketua Go juga sederhana kok. Keduanya pun makan.

Usai makan Soo Young menyerahkan sebuah dokumen pada Ketua Go. Ia meminta Ketua Go memeriksa itu. Soo Young mengatakan kalau materi sebenarnya sudah Ketua Go ketahui. Ia merasa Ketua Go tak memerlukan waktu yang lama untuk memahaminya.
Ketua Go membaca itu dan tampak mengernyitkan keningnya. “Apa kau akan menyebarluaskan ini ke media? Apa kau mengancamku?”
Soo Young : “Aku tahu, walaupun aku berusaha menyebarluaskan kau pasti selalu mempunyai cara untuk menghentikannya. Tapi aku tetap akan menyebarluaskannya. Kalau memang perlu, aku akan bicara di acara Talk Show pagi atau mungkin di radio. Bahkan kalau perlu aku akan memanfaatkan SNS (Social Networking service/ Social Networking site) dalam video clip internetnya. Apapun caranya aku akan mengeksposnya.
Disia-siakan oleh ayahku lalu didaftarkan sebagai anggota keluarga pamanku. Di usia kanak-aknak kehilangan ibuku dan hidup sebatang kara. Hidup tanpa pernah mempunyai seorang ayah. Dan karena aku benar-benar merindukan sosok seorang ayah, kurasa aku tak perlu bakat akting untuk mengekspresikannya. Kalau diperlukan, aku bisa mengeluarkan air mata. Lalu aku akan bercerita bagaimana aku bisa terjun ke dunia politik untuk mencari ayahku. Dan ayahku itu, tetap tak mengakuiku karena ingin tetap mempertahankan kekuasaannya. Yang membuat hatiku semakin sakit, sampai saat ini, aku masih tak membencinya dan tetap mencintainya.

Seperti itu, kata Soo Young, ia akan membeberkan perihal kehidupannya ke media seperti itu.

Ketua Go tampak terdiam tak suka dengan ancaman Soo Young.

“Kesimpulannya, aku akan merebut simpati mereka. GKP, yang selalu mengedepankan pentingnya keluarga tak pernah ada dalam sejarah seorang presiden yang pernah menyia-nyiakan anggota keluarganya.” Soo Young menatap tajam, “Jadi jangan pernah memancingku. Selama aku masih menjadi anak baik yang mau mendnegarkanmu. Namun, kau juga harus mendnegar kata-kataku.”
Soo Young berterima kasih atas hidangan makannya. Ia akan pergi lebih dulu tapi perkataan Ketua Go menghentikan langkahnya. “Mengancamku seperti ini, apa menurutmu hanya kau satu-satunya yang pernah melakukannya?” Keduanya saling menatap tajam.

(Jadi yang Soo Young ketik semalam itu pemberitahuan ancaman pada Ketua Go ya, kalau Ketua Go berani macam-macam sama dia, dia akan mengungkap ke publik bahwa dia anaknya Ketua Go)
Soo Young sampai di kantornya. Aide Maeng menyapa kalau Soo Young datang terlambat pagi ini. Sang Soo juga khawatir karena Soo Young tak bisa dihubungi. Soo Young ingat ia kehilangan ponselnya, ia menyuruh Sang Soo mencari ponselnya.
Sang Soo jengkel, “Memangnya aku ini pesuruh yang bisa seenaknya disuruh ini itu?” Sang Soo pun mengirim sms ke ponsel Soo Young. Ponsel Soo Young kayaknya ketinggalan pas sarapan sama Ketua Go tadi deh.
Soo Young dan staf-nya rapat. Soo Young membaca informasi yang didapat Sang Soo dan Aide Maeng. Ia bertanya, “Apa hanya ini saja informasi yang dikumpulkan selama ini?” Informasi yang didapat ternyata bukan hanya politikus saja yang korupsi tapi asistennya juga. Aide Maeng merasa malu karena ia juga seorang asisten untuk Soo Young.
Sang Soo menerima sms dan berteriak terkejut, “Huuu memalukan.”
Soo Young tanya ada apa. Aide Maeng menebak mungkin Sang Soo malu dengan berita asisten yang korupsi. Sang Soo bilang bukan itu, ponsel Wakil Kim ada di hotel.

“Ah jadi disana jatuhnya!” seru Soo Young. Sang Soo menatap curiga, “Kenapa ponselmu ada di hotel?”

Aide Maeng menatap Soo Young nakal, “Ya ampun sekretaris Kim, kau sudah tahu jawabannya kenapa kau masih menanyakannya.” (hahaha)

Soo Young terkekeh dan mengatakan kalau yang terjadi bukan seperti yang keduanya pikirkan. Soo Young memerintahkan Sang Soo untuk segera mengambil ponselnya.
Jung Yoon Hee menyerahkan tumpukan surat yang ditujukan untuk Min Young. Min Young mengambilnya tapi karena terlalu banyak surat-surat itu pun jatuh berhamburan. Yoon Hee membantu merapikannya kembali. Tapi ada sebuah surat yang tak terambil karena tak terlihat, surat itu jatuh di bawah meja. Joon Ha masuk ke ruangan Min Young. Ketiganya pun rapat.
Min Young terkejut mendengar rencana Joon Ha, kalau mereka akan mengungkap kekayaan yang dimiliki keluarga Min Young. Yoon Hee menambahkan kalau mengungkap jumlah kekayaan itu harus sekaligus mengungkap keterangan berasal dari mana kekayaan itu. Min Young yang masih tekejut heran kenapa mendadak seperti ini, memangnya apa yang terjadi. Joon Ha mengatakan kalau ini hanya untuk berjaga-jaga saja.
Min Young menebak apa kali ini ia sedang di incar atau ini hanya untuk menutupi sesuatu. Yoon Hee mengatakan kalau materinya sidah ia siapkan. Tinggal menunggu persetujuan Min Young. Min Young mengerti, ia akan memikirkannya dulu.
Joon Ha menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Min Young. Bukan hanya Min Young, Yoon Hee juga terkejut.

Joon Ha : “Kau suka mengancam untuk memecatku, aku ingin keluar sebelum dipecat dan kembali ke firma hukumku.”

Min Young yang masih terkejut tak bisa berkata-kata.
Min Young dan Joon Ha bicara berdua di taman. Min Young bertanya apa ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Joon Ha berkata bahwa sampai detik ini ia sendiri masih belum yakin, tapi tentang surat pengunduran dirinya ia sudah memikirkannya baik-baik.
 Min Young tak menyetujuinya, “Aku tahu aku ini egois. Tapi disaat seperti ini aku membutuhkanmu.” Joon Ha meyakinkan kalau ia tak akan langsung keluar begitu saja. Min Young perlu mencari pengganti dirinya dan ia juga masih ada beberapa urusan. Ia ingin Min Young segera memproses surat pengunduran dirinya. Ia ingin secara resmi Min Young membuka lowongan sebagai penggantinya.”
Soo Young dan Sang Soo melintas tak jauh dari sana. Keduanya melihat Min Young bicara dengan Joon Ha. Joon Ha akan masuk ke kantor lebih dulu, ia menyarankan agar Min Young mencari udara segar sebelum kembali ke kantor.

Min Young menoleh dan melihat Soo Young berdiri tak jauh dari sana. Sang Soo yang mengerti situasi segera pergi dari sana. Soo Young memberi kode agar Min Young ikut dengannya mencari tempat aman untuk bicara berdua. Min Young mengangguk mengerti.
Joon Ha sepertinya tahu kalau tadi ada Soo Young. “Penasehat Song!” panggil Jung Yoon Hee tiba-tiba.

Yoon Hee menghampiri Joon Ha, “Penasehat Song, aku menyukaimu!”
Joon Ha kaget mendengar pernyataan suka dari Yoon Hee yang mendadak.

Komentar :

What jadi selama ini Penasehat Jung Yoon Hee suka sama Joon Ha, hahaha. Gimana rasanya kalau ditembak langsung kayak gitu, serba salah, mau nolak gimana mau nerima gimana. Apa yoon hee akan patah hati... huhu...

Huwaaaaa ternyata couple kita ga jadi putus, senangnya hahaha. Agak sebel juga pas Soo Young langsung bilang ya putus, silakan pergi. Kalau jadi Min Young pasti sakit juga tuh. Tapi emang Min Young-nya juga sih yang ngajak putus akhirnya nyesel kan. Tapi untungnya Min Young langsung menyadari kalau dia sudah melakukan hal yang salah.

Hee Sun ternyata menulis tentang harta kekayaan yang dimiliki Bo Ri. Semua pasti berfikir dari mana Bo Ri bisa mendapatkan kekayaan dan menebak pasti warisan orang tuanya yang merupakan anggota parlemen. Tapi nyatanya Bo Ri mendapatkan biaya asuransi kematian orang tuanya yang mengalami kecelakaan. Hee Sun sepertinya merasa bersalah banget udah salah sangka. Pasti deh infromannya itu Ketua Go.

RUU Nepotisme sepertinya benar untuk menjegal Min Young. Makanya Joon Ha berinisiatif untuk mengundurkan lebih sebelum RUU itu disahkan.

3 cincin yang tentu saja sweetu-sweetu. Dapat satu cincin aja udah sweetu apalagi dapat tiga. Hahaha. Mau donk minta satu hahaha.

11 comments:

  1. Salam kenal mba anis :)

    Aku bolak balik ngechek sinop aamr ep 14 ini. Penasaran banget min young jadi putus atau gak sama soo young. Tp syukurnya gak ya mbaa :) Aku jadi deg2an sendiri baca sinopnya. Suka dgn sikapnya soo young >,<
    Ditunggu sinop berikutnya ya mba... Semangaaatt!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga ayu. Iya syukur banget Soo Young - MIn Young ga jadi putus.

      iya sikapnya soo young pengertian banget ke min young, sabar-nya itu lho... padahal ke orang lain ga gitu ya hahaha...

      Delete
  2. oppa Soo Young...
    I heart U...:*

    ReplyDelete
  3. Salam kenal mba anishuchie, senengnya ketemu blog ini, pernah baca di blgnya irfa (cakrawala senja) bahwa mba anis suka banget ya sama ajuhsi Shin Ha Kyun, wah kalo gitu aku punya saingan dong -lol-, sejak nonton Brain, aku cari2 pilemnya n ternyata aku dah punya beberapa, dan sangat senang ketika si ajuhsi mau main di AAMR ini. Sinopsisnya sangat bagus dibawakan oleh mba anies. Semoga sinopsisnya dilanjutkan sampai tamat karena daku suka -mohn ijin- untuk memfile sinopsis AAMR untuk di "print"dan akan dijilid buat koleksi pribadi. Tx

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga ibuaan.

      Jujur kalau saya sih ga begitu ngeh sama Shin Ha Kyun hahaha (padahal movie-nya udah banyak ya) nonton drama ini karena genrenya yang nyerempet ke politik dan saya malah suka sama aktingnya SHin Ha Kyun hihihi.

      sebenarnya sejak tahun lalu pengen banget nonton Brain, karena Shin Ha Kyun dapat daesang di KBS drama award 2011, tapi melihat genrenya yang medical n adegannya bedah2an saya jadi mundur teratur. ngeri liatnya. hahaha. jadi baca recaps-nya irfa aja. hehe..

      Delete
  4. Replies
    1. kemarin nyoba nulis yawang lagi, tapi baru sedikit. Mood2an sih, kalau mood nya lagi baik bisa selesai cepet, tapi kalau mood-nya angin2an ya lama.

      mood baik saya lagi asyik sama AAMR jadi yawang ntar2 dulu.

      Delete
  5. yawang bisa liat di bentara.asia mba ning sebelum mba anis nulis lanjutannya hehehe

    ReplyDelete
  6. pas bc sinop episode 14 ini langsung inget sm lagu "pink-just give me a reason" <3

    ReplyDelete
  7. kak, blm ad lanjutan'a y?

    ReplyDelete
  8. Annyeong mbak anis,,love love bgt dh ma AMR apalagi so young samchoon :p hehe mbak anis mf br komen lg ˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚ y udh open lg blogny mkin keren ja smpet galau wktu ga bs buka n lsg cr twitter mbak hoho,,semangatt y (งˆ▽ˆ)ง

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...