Tuesday, 2 July 2013

Sinopsis The Queen's Classroom Episode 5 Part 1

Guru Ma menyidang Ha Na di kelas. Ha Na berdiri di tengah teman-teman yang mengerumuninya. Ha Na membela diri kalau bukan ia pelaku pencuriannya. Ia hanya disuruh temannya untuk kembali meletakan dompet itu di meja Soo Jin.

Guru Ma menanyakan siapakah teman Ha Na yang menyuruh itu. Ha Na menunduk diam. Guru Ma menilai kalau alasan yang dibuat Ha Na itu bohong. Na Ri yang berdiri di belakang Ha Na cemas. Ia takut kalau-kalau Ha Na mengatakan yang sebenarnya bahwa ia-lah pelaku sebenarnya.

Guru Ma menyuruh mengatakan siapa teman Ha Na itu, kalau Ha Na tak mengatakannya bagaimana ia bisa mempercayai Ha Na. Ha Na mengangkat wajahnya menatap Guru Ma, “Aku tak bisa mengatakannya.” Ha Na menunduk lagi.
 
Na Ri menarik nafas lega. Teman lain mencibir Ha Na pasti berbohong. Guru Ma tanya kenapa Ha Na tak bisa mengatakan siapa pelaku sebenarnya. Ha Na berkata kalau ia tak bisa mengkhianati temannya.

Guru Ma : “Kau tak bisa mengkhianati temanmu yang pencuri, akibatnya kau yang disalahkan. Tapi kenapa temanmu itu tak berkata apapun?”

Ha Na sedikit melirik ke belakang, ia tak bisa berkata-kata. Ia benar-benar berharap Na Ri mengatakan sesuatu untuk membantunya tapi Na Ri diam saja. “Aku.... tak tahu.” ucap Ha Na.
Guru Ma menilai ucapan Ha Na itu bohong dan menganggap Ha Na hanya mengarang cerita. “Karena kau tertangkap basah kau sengaja mengarang cerita ini.” Ha Na menegaskan kalau ia tak mengarang cerita.

Guru Ma : “Apapun yang kau katakan, kalau kau tak mau mengatakan nama si pelaku maka pelakunya adalah kau.”

Ha Na menunduk tak tahu harus mengatakan apa. Na Ri yang ada di belakang Ha Na merasa bersalah tapi ia juga tak ingin dihukum. Guru Ma pun memutuskan untuk menghukum Ha Na. Ha Na hanya bisa menunduk pasrah.
Ha Na berdiri di dekat pintu masuk, di sampingnya ada Guru Ma. Ha Na dihukum mengatakan pada setiap anak yang lewatbkalau ia seorang pencuri dompet dan menyesal telah melakukannya. Ha Na benar-benar sedih melakukannya ia berusaha menahan tangis. Apalagi semua temannya yang lewat menatap penuh kebencian.

“Aku pencuri dompet, aku sangat menyesal.” Ha Na mengucapkannya berkali-kali sambil menunduk. Guru Ma yang bardiri di samping tak mendengar. Ia menyuruh Ha Na mengatakannya lagi dan lebih keras.
Bo Mi menyeringai sinis melihatnya. Seo Hyun dan Dong Goo yang sedang bersih-bersih merasa iba. 
Na Ri lewat di depan Ha Na. Ia berhenti sesaat untuk melihat Ha Na. Tapi kemudian ia membuang muka. Ha Na diam terkejut Na Ri tak mengatakan apapun untuk membelanya. Ha Na hampir menangis tapi ia barusaha menahannya.
Dong Goo dan Seo Hyun ke kelas. Dong Goo sangat marah melihat Ha Na diperlakukan begitu. “Kalau sekolah seperti ini lebih baik aku keluar saja!” Dong Goo memberi tahu Seo Hyun kalau ia akan berhenti sekolah mulai hari ini.

Seo Hyun tertawa tahu kalau ucapan Dong Goo hanya omong kosong. Dong Goo meyakinkan kalau ucapannya ini serius. Ia tak akan pergi ke sekolah lagi. Seo Hyun tak peduli, silakan saja. Dong Goo berkata tentu saja, ok.
Ha Na masuk ke kelas usai melaksanakan hukuman dari Guru Ma. Dong Goo memanggilnya ingin tahu penjelasan dari Ha Na tentang semuanya. “Apa benar kau yang mencuri dompet itu?” Dengan nada malas Ha Na berkata bukankah ia sudah bilang kalau ia tak melakukannya.

Dong Goo heran lalu kenapa Ha Na melakukan ini. Apa Ha Na bodoh, lebih baik katakan yang sebenarnya siapa yang mencurinya. Ha Na diam saja dan itu membuat Dong Goo kesal dan menilai Ha Na bodoh. Ha Na yang juga kesal meminta Dong Goo diam, tak usah ikut campur. Ha Na mengambil tas-nya dan segera meninggalkan kelas. Seo Hyun hanya bisa menatap kepergian Ha Na. 
Di luar masih hujan, Ha Na berdiri memandang langit. Cuaca hari ini sepertinya menggambarkan perasaannya sekarang yang muram. Tapi ia menguatkan hatinya untuk tak boleh bersedih. Ia menerobos hujan berlindung di bawah payungnya.
Ha Na yang berjalan lemas tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Bo Mi yang mencegat langkahnya. Bo Mi mencibir tindakan Ha Na sebagai seorang pencuri dan pembohong. Ia menilai Ha Na benar-benar bodoh. Setelah mengatakan itu Bo Mi pergi dari sana membuat perasaan Ha Na tambah sedih. Sekarang ia benar-benar ingin menangis. Ponsel Ha Na bunyi ada sms dari Na Ri yang meminta bertemu dengannya di taman.
Ha Na pun menemui Na Ri. Na Ri minta maaf ia sungguh minta maaf. Ha Na menanyakan kenapa tadi Na Ri diam saja. Na Ri berkata kalau ia juga takut. Ha Na meminta lebih baik Na Ri mengatakan yang sebenarnya. “Kalau kau mengatakannya pada Guru secara diam-diam maka semua akan baik-baik saja.”
Na Ri menangis menilai itu tak akan baik-baik saja. Guru Ma tak akan melepaskannya semudah itu. Ibunya juga pasti akan tahu. Ia sadar kalau Ha Na tak seharusnya dihukum karena dirinya, ia sungguh minta maaf.

Na Ri berjanji setelah ulangan matematika besok, ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Guru Ma. Na Ri kembali meminta maaf pada Ha Na. Ia sangat berterima kasih tadi Ha Na tak menyebut namanya di depan teman-teman. Ia berjanji kalau ini hanya sampai besok setelah ulangan matematika. Jadi ia harap Ha Na bisa merahasiakan ini sampai besok. Kalau ia gagal dalam ulangan gara-gara ini ibunya mungkin bisa..... Na Ri semakin menangis.
Ha Na mengerti ia pun akan merahasiakan ini sampai esok. Tapi ia harap Na Ri benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya pada Guru Ma. Na Ri tahu kalau dalam hati Ha Na pasti menyalahkannya. Ha Na bilang tidak, bukankah ia dan Na Ri berteman. Na Ri sungguh tak menyangka kalau akan jadi seperti ini. Ha Na menepuk pundak Na Ri, menghibur gadis itu yang menangis khawatir.
Ha Na sampai di rumah, tapi rumah tampak sepi tak ada siapa-siapa. Eonninya, Shim Ha Yoon (saya baru tahu namanya setelah melihat di cast wiki addict hehe) masih dirawat di rumah sakit. Ha Na melihat keadaan rumahnya kacau balau, benar-benar berantakan. Piring kotor, bekas makanan dan baju berserakan begitu saja. Ya bisa dimaklumi karena ibunya mungkin tak sempat beres-beres rumah.
Ha Na melihat di meja ada tas jinjingan yang isinya makanan. Di sana ada pesan yang tertulis untuknya.

‘Ayah kembali ke kantor karena ada hal penting yang mendadak. Maaf ayah tak bisa makan denganmu. Ayahmu yang selalu mencintaimu.’
Ha Na menggerutu kalau makan sendirian itu tak enak. Ia mendengar suara ponsel. Ia celingukan mencari dimana ponsel itu. Itu ponsel ayahnya yang tertinggal di sofa. Ternyata yang menelepon ayahnya sendiri. Sepertinya ayah mencari dimana ponselnya. Ha Na mengatakan kalau ponsel ayahnya ada diatas sofa. Ha Na mengerti apa yang ayahnya katakan, ia akan segera menutup teleponnya, makan dan segera tidur.
Ha Na kembali meletakan ponsel itu di sofa tapi sesaat kemudian ia teringat password ponsel ayahnya. Ha Na pun mencoba memasukan password yang ia ketahui dan berhasil.
Tapi tiba-tiba ada suara orang yang membuka pintu rumah. Ibu pulang. Ha Na yang terkejut langsung berdiam diri. Ibu melihat Ha Na memegang ponsel ayah. Ha Na mengatakan kalau ponsel ayah tertinggal di sofa. Ibu bertanya apa Ha Na tahu password ponselnya. Ha Na terbata-bata menjawab ya. 0246 (kayaknya kemarin di sub 0146 deh hahaha, tak apa lah)
Ibu merebut ponsel itu dan bertanya Ha Na tak melihat isi ponsel ayah kan. Ha Na berkata kalau ayah menyuruh mematikan ponsel jadi ia tadi akan mematikannya. Ibu menyimpan ponsel ayah di tas-nya. Ia melihat di tas jinjingan ada makanan. “Apa ayahmu membeli makanan itu dan pergi?” Ha Na mengiyakan.

Ibu menyuruh Ha Na segera memakannya kemudian mengerjakan soal-soal latihan karena besok ada ulangan matematika. Ha Na menawarkan apa ibu mau makan bersamanya. Ibu tak bisa karena ia harus ke laundry dan kembali ke rumah sakit untuk menemani Ha Yoon. Ha Na menunduk sedih karena harus makan sendirian.

Ibu sepertinya mengerti Ha Na begitu kesepian malam ini. Ibu minta maaf karena Ha Na selalu makan malam sendirian. Ha Na tersenyum bilang tak apa-apa, ia tahu kalau sekarang ibunya sedang kesusahan. Ia berpesan ibunya jangan lupa makan.
Ha Na berada di kamarnya mulai berlatih soal matematika. Setelah dicoba ternyata masih banyak jawaban yang salah. Ha Na mengeluh kalau ini tak mudah. Ia ingin tahu berapa nilai yang didapat teman-temannya dalam mencoba menjawab soal-soal ini.
Ha Na membuka ponselnya. Ia membuka aplikasi chat (ah ga tahu apa namanya heheh) ia membuka grup chat tapi nama teman-temannya keluar dari grup. Tapi tiba-tiba username Ha Na diundang masuk ke chat room. Ha Na senang karena bisa ngobrol dengan teman-temannya.

Ha Na mulai mengetik, ‘Kenapa masuk room? Apa kalian keluar karena ada upgrade?’
Dan suasana kamar Ha Na pun berubah. Ha Na berada disebuah ruangan yang tak ia ketahui dimana. 

‘Shim Ha Na telah masuk ke chat room.’

Ha Na tak tahu dimana ia berada sekarang.

‘Teman-teman, berapa nilai yang kalian dapatkan disoal latihan?’

‘aku dapat nilai yang jelek sekali.’ ucap Ha Na sambil celingukan.
Tiba-tiba ada orang bertopeng muncul. “Shim Ha Na.” panggil orang betopeng itu. Ha Na bertanya, siapa kau. Orang bertopeng itu mengatakan kalau Ha Na sudah gila. Ha Na tanya lagi, siapa kau. Tidak hanya satu atau dua orang bertopeng yang muncul tapi banyak dan mengerumuni Ha Na.

‘Hei pencuri, kenapa kau mencuri? Menjengkelkan sekali!’
‘Hei pencuri kenapa kau mencuri? Berhentilah mencuri!’
‘Hei pencuri kenapa kau mencuri? Jangan katakan namaku!’
‘Apa ibumu mengajarimu mencuri?’
‘Dia gadis terkutuk, aku mengupload namanya. Kau tak akan beruntung selama 3 tahun. Berhati-hatilah saat malam, pencuri.’
Terdengar dalam telinga Ha Na suara mereka yang bersahutan. Ha Na mulai ketakutan. Mereka mendekat, Ha Na semakin ketakutan.
Ha Na membaca banyak obrolan yang tertulis di chat room ponsel-nya seperti sebuah teror untuknya. Tentu saja tulisan itu berisikan olok-olok yang ditujukan padanya. Ha Na ketakutan dan segera keluar dari chat room. Tapi Ha Na kembali diundang masuk ke chat room.
Ha Na pun kembali berada di ruangan antah berantah lagi. Ia dikelilingi orang-orang bertopeng.

‘Apa kau kira kau bisa kabur?’
‘Pencuri seharusnya dipenjara.’

Ha Na keluar dari ruangan tapi ia masuk ke ruangan itu lagi. Begitu seterusnya, ia keluar dan masuk ke sebuah ruangan. Dalam kenyataannya Ha Na keluar masuk chat room. Ketika ia keluar dari chat room tiba-tiba temannya menarik kembali untuk masuk ke chat room.
Ha Na meletakan ponselnya. Ia tak mau membaca lagi obrolan mereka di chat. Ya ini seperti teror untuk Ha Na.
Keesokan harinya di sekolah. Lebih tepatnya di ruang guru. Guru kelas 6 sepakat kalau mereka akan melakukan pengawasan silang di kelas 6. Guru Goo akan mengawas di kelas 6-3. Guru Ma mengawas di kelas 6-1. Guru Yang mengwas di kelas 6-4 dan Guru Jung mengawas di klas 6-2.
Guru Jung mengingatkan Guru Yang yang akan mengawas di kelasnya, ia melihat sepatu yang dikenakan Guru Yang cukup baik karena itu tak menimbulkan suara. Anak kelas 6-4 sangat sensitif terhadap suara sepatu hak tinggi. Ia juga memperingatkan Guru Yang agar hati-hati menjaga suara sleting jaket. Guru Yang mengerti.
Guru Goo bertanya apa Guru Ma juga mengenakan sepatu hak tinggi. Guru Goo mencoba melihat ke kaki Guru Ma. Guru Ma menatap tajam dan itu membuat Guru Goo jadi tak enak.
Guru Goo mendengar kalau kasus pencurian di kelas 6-3 sudah selesai dengan baik. Ia memuji Guru Ma benar-benar hebat. Guru Yang masih tak percaya kalau pelaku pencurian itu Ha Na, apa Ha Na mengakui melakukan itu. Guru Ma mengatakan kalau Ha Na bilang dia tak mencurinya.
Guru Yang terkejut kalau begitu apa Guru Ma sudah menghukum Ha Na padahal belum yakin kalau pelakunya itu Ha Na. Guru Jung merasa kalau Guru Ma tak akan mungkin menghukum tanpa kesalahan yang jelas. Ia yakin kalau Guru Ma pasti memiliki bukti hingga menghukum Ha Na. Guru Ma mengatakan kalau dompet yang dicuri ada pada Ha Na.

Guru Jung tak menyangka, ia menilai Guru Yang tak tahu seperti apa anak-anak itu sebenarnya. Mereka tak seperti penampilan di luar, ada banyak anak yang bahkan sudah melewati batas. Guru Yang berpendapat kalaupun benar Ha Na yang melakukan bukankah lebih baik Guru Ma menyelesaikannya di kantor. “Bukankah membuat mereka menyesal terhadap perbuatannya itu lebih baik?”
Menurut Guru Ma tidak apa-apa jika kejadiannya diumumkan tapi yang namanya pencurian atau kekerasan apa menurut Guru Yang kita harus menyelesaikannya secara diam-diam di belakang layar. Itu sungguh logika yang aneh. Dengan membuat keributan akan kesalahannya bukankah kita harus menemukan yang bertanggung jawab.
Guru Goo membenarkan tapi dari apa yang ia lihat kemarin hal itu sudah termasuk diumumkan ke seluruh siswa dan kalau bocor keluar melalui internet atau semacamnya, meskipun siswanya bersalah bukankah itu bisa menjadi masalah yang besar.
Guru Ma menoleh menatap Guru Goo, “Menangani kejadian secara diam-diam, demi anak-anak itu bisa diterima. Tapi akhirnya bukankah ini akan menjadi bumerang bagi sekolah? Aku bertanggung jawab penuh atas kelas ku. Aku tak ingin menganggap enteng masalah ini. Sebagai walikelas jika sesuatu terjadi aku yang bertanggung jawab.”

Karena takut pembicaraan ini mengarah ke yang lebih serius lagi, Guru Jung melihat jam tangan dan waktu menunjukan kalau 5 menit lagi waktu sebelum ulangan. Ia mengajak semuanya siap-siap karena anak-anak akan mengeluh kalau mereka terlambat 1 menit.

Guru Goo mengingatkan kalau anak-anak sudah selesai mengerjakan soal suruh mereka mengangkat tangan (hahaha), jadi semua siswa memiliki waktu yang sama. Ia harap para guru ini memperhatikan ini.
Tanpa keempatnya ketahui wakil kepala sekolah memperhatikan mereka. hmmm Lebih tepatnya sih menurut saya memperhatikan Guru Ma deh. Mengawasi gerak-gerik Guru Ma gitu.
Guru Goo mengawas di kelas 6-3. Sebagai pengawas dia sepertinya yang paling aneh deh. Untuk mencegah bunyi sepatu yang akan mengganggu konsentrasi ia malah bersila diatas meja (bener-benar malah tidak mencerminkan kesopanan)

Bukannya diam tenang supaya anak-anak konsentrasi, Guru Goo malah terus ngoceh, “Aku bisa melihat. Kalian jangan mimpi bisa curang. Aku mendengar suara mata yang mencontek.” Katanya sambil memukul-mukulkan tongkat ke tangan.
Oh Dong Goo seperti biasa, ia tak menjawab soal dengan teliti. Ia mengundi jawabannya dengan karet penghapus yang sisinya sudah ditulisi pilihan jawaban. Guru Goo kembali bicara, “Kalau kalian ketahuan melakukan kecurangan, nilai kalian otomasis menjadi 0 (nol) jangan bermain-main dengan penghapus. Kalau tidak tahu, tidur saja.” (hahaha)

Seo Hyun tampak serius mengerjakan soal. Ia tak kesulitan mengerjakannya.
Ha Na memperhatikan Na Ri. Ia benar-benar berharap Na Ri akan mengatakan yang sebenarnya pada Guru Ma usai ulangan matematika ini.
Teng nong neng nong. Waktu mengerjakan ulangan pun habis. Guru Goo meninggikan suara, “Waktu sudah habis. Taruh tangan kalian diatas kepala. Siapa saja yang menyentuh kertas ulangan mereka akan dianggap gagal.”

Anak-anak meletakan tangan diatas kepala seperti seorang penjahat yang ditangkap polisi hahaha.
Na Ri menoleh ke arah Ha Na. Keduanya bertemu pandang. Na Ri mengangguk tanda ia akan menepati janjinya.

Guru Goo memerintahkan siswa untuk mengumpulkan jawaban ke depan. (Guru yang aneh tapi tegas hehe)
Na Ri menemui Guru Ma di depan kelas. Ia tampak mengatakan sesuatu. Ha Na mengintip dari balik tembok. Ia penasaran apa yang Na Ri katakan pada Guru Ma. Ia tak bisa mendengarnya. Tapi ia cukup senang akhirnya Na Ri mau mengatakan yang sebenarnya pada Guru Ma.

Dong Goo melihat Ha Na yang sedang mengintip. Ia heran apa yang Ha Na lakukan disitu. Ia mengajak Ha Na berers-beres dengannya.
Para ibu ngumpul di kafe. Masing-masing menerima jadwal kegiatan dalam bulan ini. Ibu Sun Young bertanya apa putri sulung ibu sudah sembuh. Ibu mengatakan kalau putrinya sudah semakin membaik. Hasil tes kesehatan akan keluar besok siang dan kalau tak ada halangan dia akan pulang dari rumah sakit. Ibu Hwa Jung melihat kalau ibu benar-benar sedang kesusahan. Ibu bilang ini tak apa-apa, ia merasa kalau ini juga kesulitan untuk anak-anakanya.
Ibu membaca jadwal itu dan terkejut, kenapa Eun Joo tak ikut kelas diskusi. Ibu menanyakan si ibu yang kemarin. Ibu Sun Young mengatakan kalau Eun Joo kemungkinan memiliki pengaruh buruk jadi ibu Na Ri mengeluarkannya. Ibu heran kenapa begitu.

Ibu Hwa Jung menjelaskan kalau Eun Joo bergaul dengan ibu-ibu walimurid kelas 2 dan memiliki selera minum yang keterlaluan. Ibu In Bo menambahkan ini karena mereka berbeda dengan kita-kita yang dari ibu rumah tangga. ibu khawatir apa keluarga Eun Joo tak apa-apa. Ia mendengar ayahnya mendapatkan pesan aneh.
Ibu Hwa Jung menebak ini mungkin karena dia suka bergaul. Dia mengambil catatan panggilan suaminya dan mengambil buktinya seperti pisau. Ibu heran apa itu bisa dilacak melalui catatan panggilan. Bukankah tak bisa kecuali untuk yang punya nomor itu saja. Ibu Hwa Jung memberi tahu bahwa melalui informasi di komputer itu ada caranya.
Ibu In Bo mengatakan kalau ibu pergi ke Yongsan High-tech, mereka juga bisa membuat salinannya bahkan mereka bisa menginstal aplikasi yang bisa mengetahui lokasi ponsel itu secara diam-diam. 

“Benarkah?” ibu Ha Na sepertinya berkeinginan untuk melacak panggilan telepon suamianya.

Ibu Sun Young mengatakan kalau sekarang layanan talk sudah gratis, sekarang komunikasi jadi lebih mudah daripada sms. Sekarang orang lebih senang memakai talk. Ia merasa sepertinya pintu gerbang perselingkuhan terbuka lebar, Ibu In Bo menanyakan kenapa ibu penasaran tentang itu apa mungkin ada sesuatu dengan ayah Ha Na. Ibu berkata kalau ia hanya mengkhawatirkan tentang Eun Joo, padahal benar ibu khawatir dengan suaminya yang mungkin saja berselingkuh di belakangnya.
Ibu Sun Young menerima sms dari ibu Na Ri. Dia bilang kalau hari ini tak bisa datang ke perkumpulan karena harus ke sekolah Na Ri. Ibu heran kenapa apa terjadi sesuatu pada Na Ri di sekolah.
Di kelas 6-3, Kim Tae Sung membacakan bacaan yang ada di buku. Semua siswa menyimak dengan baik.
Ha Na melihat tempat duduk Na Ri kosong. Ia menatap Guru Ma dan bertanya-tanya kenapa Na Ri di jam pelajaran berikutnya tak masuk.
Di jam istirahat Ha Na memberanikan diri bertanya pada Guru Ma tentang Na Ri. Guru Ma mengatakan kalau Na Ri pulang karena dia sakit. Ha Na terkejut, ia kemudian bertanya bukankah tadi Na Ri mengatakan sesuatu pada Guru Ma. Guru Ma balik bertanya tentang apa.
Ha Na bingung mengatakannya. Ia kemudian menanyakan apa Na Ri benar-benar sakit. Guru Ma berkata kalau itu bukan sesuatu yang perlu Ha Na khawatirkan, persiapkan saja pelajaran selanjutnya. “Apa Oh Dong Goo saja yang mengerjakan semuanya?” Ha Na pun kembali ke tempat duduknya. Guru Ma memperhatikan Ha Na yang terlihat begitu khawatir pada Na Ri.
Setelah pembelajaran usai, Ha Na mengirim sms pada Na Ri, ‘Na Ri apa kau sakit? Balas ya setelah membaca sms ini.’
Dong Goo dan Seo Hyun berada di sana tengah membersihkan kelas. Bo Mi datang memebri tahu kalau Guru Ma menyuruh mereka bertiga pulang. Ok-ok kata Dong Goo sambil tertawa-tawa. Tapi Bo Mi menatapnya sinis. Ha Na segera mengambil tas meninggalkan dua temannya yang masih beres-beres. Dong Goo menggerutu semakin hari Ha Na semakin aneh.
Seo Hyun menghampiri Dong Goo, “Kupikir kau berhenti sekolah, tapi sepertinya kau masih disini.” sindir Seo Hyun. “Oh tentang itu,” Dong Goo tak bisa menjelaskannya haha.

Seo Hyun : “Apa alasan keluar sekolah dan tetap sekolah itu sama?”

Dong Goo : “apa kau tahu, kenapa dia tak memberi tahu guru siapa pelaku yang sebenarnya?”

So Hyun tak tahu, “Mungkin kalau dia mengatakan yang sebenarnya sekarang tak ada yang percaya.” 
Dong Goo bertanya apa Seo Hyun percaya Ha Na yang mencuri dompet itu. Seo Hyun berkata kalau apa yang ia percayai itu tak penting. Dong Goo bertanya lagi lalu apa yang terpenting. Seo Hyun berkata kalau tak ada bukti maka tak ada yang mempercayai Ha Na.

Dong Goo merasa kalau pencuri sebenarnya harus sadar dan mengakui kesalahan. Seo Hyun menilai kalau si pencuri asli bisa saja melakukan itu, tapi seperti hal-nya teman dan persahabatan itu hanya ada di buku cerita, menurutnya Ha Na sudah melakukan hal bodoh.
 
Ha Na lari-lari menuju tempat Bimbel-nya. Di kelas Bimbel ia melihat Sun Young dan Hwa Jung. Ia tak melihat Na Ri. Ia bertanya pada kedua temannya apa Na Ri tak datang. Sun Young menjawab pendek ya. Ha Na bertanya lagi apa Na Ri benar-benar sakit, sakit apa.

Hwa Jung berkata ketus kalau Ha Na mengkhawatirkan lebih baik hubungi saja Na Ri. Ha Na bilang kalau ia sudah mencoba menghubungi tapi Na Ri tak menjawabnya. Hwa Jung kesal dan menyuruh Ha Na berhenti bertanya, “Dia sakit karena kau!” Ha Na bingung kenapa Na Ri sakit karena dirinya. Hwa Jung mencibir Ha Na benar-benar hebat.

Sun Young : “Kudengar kau meminta sesuatu pada Na Ri supaya dia disalahkan demi dirimu.”
Ha Na tercengang, “Apa kau bilang?”

Hwa Jung : “Kau bilang nenek sihir itu tak akan mempermasalahkan karena ibu Na Ri donatur sekolah.”
Sun Young : “Itu mungkin berhasil dengan guru lain, tapi tidak dengan nenek sihir itu. Tak peduli sedekat apapun kau dengan Na Ri, bagaimana mungkin kau tega meminta itu pada Na Ri?”
Hwa Jung : “Baik sekali Na Ri mengaku demi kau dan sekarang kondisinya memburuk. Itu sebabnya dia tidak datang.”

Sun Young : “Berhentilah mengganggu Na Ri. Kenapa kau meminta Na Ri bertanggung jawab atas kesalahan yang kau lakukan?”

Ha Na benar-benar tak percaya Na Ri memutar balikan fakta seperti itu. Na Ri ternyata tak ingin dicap buruk oleh teman-teman, ternyata dia malah mengambing hitamkan dirinya. “Apa Na Ri bekata seperti itu?”

Guru bimbel datang, tapi Ha Na malah keluar kelas tak mengikuti bimbel.
Ha Na berada di jembatan penyebrangan berusaha menghubungi Na Ri. Tapi panggilan teleponnya tak dijawab oleh Na Ri. Ha Na menahan tangis atas fitnah yang Na Ri sebarkan ke teman-teman. Ia mengirim sms pada Na Ri. ‘Hubungi aku’

Apa Na Ri sakit? Hmm sepertinya ga begitu sakit. Dia malah shopping dengan ibunya. Na Ri mengabaikan sms dari Ha Na. Na Ri mencoba pakaian di sebuah butik. Ibu Na Ri menanyakan apa perasaan putrinya sudah lebih baik. Na Ri bilang kalau ia baik-baik saja.
Ibu Na Ri tahu kalau putrinya ini stres karena ulangan. Ia menyarankan agar putrinya tetap di rumah saja dan kalau memang sakit tak perlu dipaksakan karena yang namanya kesehatan itu dasar dari belajar. Pelayan datang membawakan model pakaian yang diminta Na Ri.
Ibu Na Ri juga melihat gaun yang bagus untuk putrinya. Na Ri senang ibunya membelikan gaun untuknya. Ibu Na Ri pun berharap putrinya lebih giat lagi belajarnya. Na Ri tersenyum bahagia. Ha Na terus-menerus mengirimi Na Ri sms. Tapi Na Ri mengabaikannya.
Na Ri dan ibunya berada di mobil dalam perjalanan pulang. Setelah membelikan banyak baju untuk putrinya Ibu Na Ri masih akan menyiapkan kue keju yang enak. Na Ri tentu saja senang.

Ibu Na Ri melihat di depan gedung aparteman ada seseorang yang ia kenal. “Bukankah itu Ha Na? Apa yang dia lakukan?” Ha Na diam berdiri mematung menunduk menunggu Na Ri.
Na Ri menemui Ha Na. Na Ri menanyakan ada perlu apa Ha Na kesini. Ha Na tak mengerti bukankah Na Ri sudah berjanji. Na Ri berlagak tak mengerti, janji apa. Ha Na berkata bukankah Na Ri bilang akan mengatakan yang sebenarnya tapi kenapa Na Ri malah berkata bohong pada Sun Young dan Hwa Jung.
Na Ri terlihat seolah-olah bingung, “Aku? Berbohong apa?”

Ha Na semakin tak mengerti kenapa Na Ri jadi seperti ini. Na Ri meminta Ha Na sebaiknya jujur saja, “Kau yang melakukannya sejauh ini. Kau yang salah. Kalau kau tak muncul saat aku membuang dompet itu, hal ini tak akan terjadi.” Ha Na tak menyangka Na Ri berbalik menyalahkannya.

Na Ri : “Dan juga, kau seharusnya tak ketahuan. Kau yang melakukan kesalahan saat mengembalikan dompet itu. Kenapa harus aku yang bertanggung jawab atas kesalahanmu?”
Ha Na tak habis pikir kenapa Na Ri jadi seperti ini terhadapnya. Bukankah kita teman. Teman dekat. 

Na Ri : “Teman? Baik, kalau kau temanku kenapa kau tak mengatakan orang lain pencurinya. ‘Na Ri yang mencurinya’ jangan pernah kau mencoba mengatakan kata-kata seperti itu. Mereka tak akan mempercayaimu. Meraka akan mengira kau sudah gila.”

Na Ri meninggalkan Ha Na sendirian. Ha Na benar-benar ingin menangis. Na Ri bukan hanya memfitnahnya tapi menyalahkannya atas kesalahan yang dibuat Na Ri sendiri.
Dengan perasaan sedih dan kecewa Ha Na pulang menembus gelapnya malam dan hujan deras. Tubuhnya basah kuyup.
 Ha Na sampai rumah tapi kejadian di rumah yang ia lihat malah membuat hatinya semakin sakit dan sedih. Ia melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar.
Ayah kesal kenapa ibu melihat sms di ponselnya. Ibu marah, apa ia ini orang lain bagi suaminya sampai melihat sms saja tak boleh. Ayah mengatakan kalau sebagai pasangan mereka juga perlu menjaga privasi masing-masing. Apa istrinya ini meragukan dirinya. Ibu meminta ayah menunjukan bukti supaya ia bisa percaya. Ia ingin tahu siapa yang mengirim sms itu, kalau memang benar bukan seperti yang ia curigai maka jelaskan padanya alasan yang bisa ia percaya.

Ayah mengatakan kalau yang mengirim sms itu teman kerjanya. Bukankah di ponsel ini tertulis namanya Ketua Departemen Kim. Tapi ibu tak percaya, kenapa ketua departemen Kim memanggil dengan sebutan Oppa. Kalau benar itu Tn Kim telepon dia sekarang dan berikan padanya biar ia yang bicara. Keduanya terus bertengkar membuat Ha Na tak sanggup melihatnya dan segera keluar rumah. 
Dibawah guyuran hujan Ha Na seorang diri berdiri di taman bermain. Ia ingin menangis tapi ia berusaha untuk tetap kuat dan tegar.

“Apa yang kau lakukan sendirian disini?” tiba-tiba ada seseorang datang. Ha Na terkejut mendengar ada seseorang yang datang dan bertanya padanya. Ia tambah terkejut begitu melihat orang itu adalah Guru Ma. Ha Na menunduk diam.
Guru Ma : “Teman yang sangat kau percayai masih belum menghubungiku, memangnya apa yang terjadi?”

Ha Na diam.

Guru Ma : “Apa benar pencurinya bukan kau? Apa kau bohong?”

Ha Na bilang tidak. Ia tegas mengatakan kalau ia tak bohong. Ia benar-benar tak mencurinya.

Guru Ma : “Kalau begitu, apa sekarang kau dikhianati oleh temanmu yang berharga?”

Ha Na menunduk sedih.
Guru Ma : “Apa kau menangis? Apa menangis itu bisa menolongmu? Tak ada di kelas kita yang memihakmu. Kau bodoh karena menyimpan kebenaran dan tak seorang pun mengetahuinya. Kebenaran yang tak ada seorang pun tahu itu tak ada gunanya. Teman dan persahabatan hanyalah sebuah kata-kata. Pilihanmu salah. Kebenaran yang sesungguhnya adalah pandangan teman-temanmu terhadapmu. Pura-pura berani melawanku tapi diam-diam mencuri dompet. Bahkan yang lebih parah, kau berbohong tidak mencurinya. Mencuri barang teman, itulah kau yang sekarang. Mengerti?”

Ha Na dengan tegas mengatakan kalau ia tak seperti itu.

Guru Ma : “Lalu kenapa kau menangis sendirian disini?”
Ha Na menunduk sedih, ia berusaha sekuat tenaga untuk tegar. “Aku... tidak akan menangis.” Ha Na mengangkat wajahnya, “Sekarang aku tak akan menangis. Aku percaya atas apa yang kupercayai. Persahabatan yang sangat berharga dan suatu hari nanti kebenaran akan terungkap.”

Guru Ma : “Benarkah? Benarkah akan terjadi seperti itu?”

Ha Na mengatakan kalau Guru Ma sudah salah menilai arti persahabatannya.
Ha Na permisi pulang. Guru Ma menatap kepergian Ha Na, ada senyum tipis yang tersungging di bibir Guru Ma.

Bersambung ke part 2

Komentar :

Sedingin apapun Guru Ma dia tetap peduli pada siswanya. Ok kemarin saya bilang kalau Guru Ma seperti akan mengadu domba persahabatan mereka. Tapi sepertinya ia memiliki niat untuk menguji persahabatan mereka. Sejauh mana rasa persahabatan yang terjadi diantara anak didiknya. Ini ia ajarkan untuk memberi gambaran pada mereka bahwa dimasa mendatang yang namanya pengkhianatan diantara orang terdekat itu ada. Ia tak memberikan hal yang indah-indah untuk masa depan. Ia ingin memberikan gambaran nyata atas kemungkinan apa yang kelak mereka hadapi nanti. 

Penasaran apa yang Na Ri katakan ke Guru Ma. Apa sama seperti yang Na Ri katakan ke Sun Young dan Hwa Jung. Kalau iya, berarti Na Ri memang tak mau disalahkan dan ingin cuci tangan atas perbuatan buruknya dan ke depan Na Ri sepertinya akan semakin mengerikan hehehe.

Apa benar ayah Ha Na selingkuh? Masih tanda tanya ya.

12 comments:

  1. baru cari, langsung ada.. makasih ya mba udah di pst.. aku suka banget :3 terus pos ya :D ini peprtama aku coment :) karena kalau di hp ga bisa coment :D lanjutn terus ya mba :D


    Sinuha

    ReplyDelete
  2. mb anis.. aku suka bgt drama ini.. kasihan bgt hana ( namanya kyk nama anakq). smg hana nggak lg jd anak yg naif. hana hatimu terlalu baik utk disakiti.. ^^

    ReplyDelete
  3. all about my romance dong kak..

    ReplyDelete
  4. duh pengen nangis kalo liat hana
    aq merasa aq adalah hana si gadis bidih ga tau bisa ngadu sama siapa
    disatu sisi hana ada masalah dikelasnya,disisi lain keluarganya jg,duh pokoknya sediiiiiiiiiiiiiiiiiiih banget

    ReplyDelete
  5. kayaknya si ha na tuh adalh cerminan si guru ma tuh dulu deh,pernah dikhianati temen2nya makanya sikapnya gitu

    ReplyDelete
  6. sya merasa guru ma mengetahui segalanya tentang masalah domet itu dan itu sengaja di tunjukan agar bo mi sadar apa yg dilakukannya salah dan dgn menjadi cerminan hana pasti guru ma membuat hana terlhat dikhianati agar bo mi tak mengkhiatin teman2nya
    hanya pendapat saya

    ReplyDelete
  7. Mbak anis,sinopsisnya Queen Of Ambition dilanjutin lagi donk sampai tamat,sayang kan putus dijalan :'(

    Sari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah2an kalau Mood-nya dah ada dilanjut deh..

      Delete
  8. wow... keren drama ini

    ReplyDelete
  9. Kasihan kalo ngelihat Ha Na perasaan dia yg paling bnyak di salahin
    Poor Ha Na :/

    Mkasih kak sinopny, FIGHTING!!!!!! :)

    ReplyDelete
  10. Ditunggu part 2 nya ya......fighting!!!!

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...