Tuesday, 23 July 2013

Sinopsis The Queen's Classroom Episode 10 Part 2

23 Juli 2013
Selamat Hari Anak nasional. Semoga anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, menjadi anak yang berprestasi,  membanggakan dan tercapai cita-citanya.

Bo Mi berada di kantor polisi. Ia menunduk ketakutan karena dituduh mencuri ponsel. “Apa kau sungguh tak mencuri ponsel Ibu ini?” tanya Pak Polisi.

Bo Mi menggeleng, “Bukan aku.”

Ibu-ibu itu tak percara dan menilai Bo Mi sudah berbohong. Pak polisi bertanya lagi, “Dan kau tak pernah bertemu dengan kedua gadis itu sebelumnya?” Bo Mi mengangguk mengiyakan.
Pak Polisi mencoba menghubungi ponsel ibu Bo Mi menggunakan ponsel Bo Mi tapi tak dijawab. Bo Mi terus menunduk menangis ketakutan. Pak Polisi bertanya kenapa ibu Bo Mi tak mengangkat telepon. Bo Mi diam. Pak polisi tak bisa membiarkan ini, ia bertanya dimana Bo Mi sekolah, setidaknya ia bisa menghubungi guru kelas Bo Mi.
Tepat saat itu Ha Na dan ibunya datang. Ibu Ha Na yang khawatir bertanya apa yang terjadi. Pak Polisi malah balik bertanya apa ibu walinya Bo Mi. Ibu Ha Na mengatakan kalau Bo Mi itu teman putrinya. 

Pak Polisi menjelaskan kalau Bo Mi sendirian berada di sauna. Dia dituduh mencuri ponsel ibu-ibu ini. Ha Na tak percaya Bo Mi mencuri, itu tak mungkin.
Pak Polisi yang lain menunjukan gambar rekaman CCTV dan pelakunya bukan Eun Bo Mi. Pernyataan yang disampaikan Bo Mi juga cocok. Bo Mi pun dinyatakan tak bersalah tapi Bo Mi tak bisa pergi dari kantor polisi tanpa wali.
Ibu yang iba melihat Bo Mi dituduh mencuri mengatakan pada pak polisi kalau ia yang akan membawa Bo Mi pulang. Ia akan menjadi walinya Bo Mi.
Bo Mi berada di rumah Ha Na. Ibu Ha Na menghubungi ibu Bo Mi. Ia meminta ibu Bo Mi tak perlu khawatir, ia akan menjaga Bo Mi selama beberapa hari. Bo Mi bicara dengan ibunya di telepon. Ia mengerti dengan penjelasan ibunya. Sekarang Bo Mi terlihat lebih tenang.

Ibu menanyakan apa Bo Mi sudah makan. Bo Mi bilang sudah. Ibu harap Bo Mi tak perlu sungkan, kalau ada pakaian kotor berikan saja padanya, apa Bo Mi punya baju ganti. Bo Mi membawa baju ganti pemberian ibunya ketika di sauna. Ibu juga berharap Bo Mi bisa menganggap rumah ini seperti rumah sendiri. Bo Mi berterima kasih atas kebaikan ibu Ha Na yang menerimanya untuk tinggal sementara di rumah ini.
Bo Ni minta maaf dan berterima kasih pada Ha Na. Ha Na tersenyum dan mengajak Bo Mi ke kamarnya.
Keesokan harinya di sekolah, tepatnya di ruang guru. Guru Yang menerima telepon dari walimurid. Guru Yang menjelaskan kalau tugas liburan musim panas siswa tidak harus dikerjakan bersama. Tapi sepertinya penjelasan Guru Yang tak bisa diterima oleh walimurid.

Guru Goo yang lagi mainan hape bertanya apa itu telepon dari orang tua siswa, ada masalaha apa. Guru Yang mengeluh kalau semakin hari semakin alasan para orang tua ini bermacam-macam.
Guru Jung yang sibuk mengetik di laptop mengatakan kalau hari yang menyenangkan sudah lewat dan sekarang mereka akan mulai berurusan lagi dengan siswa. (liburnya hampir usai) Guru Jung berpesan Guru Yang harus mempersiapkan diri untuk menghadapi semester 2 ini. “Kita harus mempersiapkan persiapan kelas dan juga album kelulusan. Kita harus melakukan sesuatu dua kali lebih berat dari kelas lain.” (haha iya benar kelas 6 emang gitu)

Guru Yang berkata kalau ia sudah ada rencana saat memulainya tapi sekarang ia hanya ingin mengajar saja.

Guru Jung : “Apa kau memahami keadaan seniormu sekarang?”

Guru Yang mengangguk.
Wakil kepala sekolah menemui Guru Yang di ruang guru. Melihat kedatangan wakasek Guru Goo langsung melempar ponselnya ke meja hahaha. Wakasek tampak marah, ia mendengar kalau ada dua siswa di kelas Guru Yang mengajukan pindah sekolah ketika liburan musim panas. Guru yang membenarkan, apa pindah sekolah itu masalah.

Wakasek tak mengerti bagaimana kinerja Guru Yang selama ini, “Salah satu orang tua siswa mengeluh ke dinas pendidikan. Mereka bilang tak suka dengan gaya mengajar anda, Guru Yang. Apa kau bahkan tak tahu akar permasalahannya?”

Guru Yang terkejut bingung tak tahu harus mengatakan apa. Ia minta maaf dan akan mencari tahu hal ini lebih jelas lagi. Wakasek menyuruh Guru Yang untuk menemui orang tua siswa itu dan menjelaskan semuanya. Ia harap Guru Yang menyelesaikan masalah ini sebelum sekolah di mulai. Ia ingin laporan itu langsung dilaporkan padanya.
Guru Yang curhat ke ibu kepala sekolah tentang masalahnya. Keduanya makan es krim hehe. Ibu kepsek mengatakan kalau menjadi seorang guru itu sesuatu yang sulit, khususnya bagi guru sekolah biasa seperti mereka. Guru-guru les privat akan dipuji kalau nilai siswanya naik, tapi itu bukanlah kita. Guru Yang tahu itu, ia hanya mau menjadi guru yang baik tapi itu bukan masalahnya. Ia bahkan sekarang tak tahu apakah dirinya guru yang baik atau tidak.

Ibu kepsek mengatakan kalau semuanya itu tak ada yang sempurna. “Tentu saja kau bisa merencanakan kurikulum kelas yang kau ajar. Tapi jawaban yang sempurna tak akan muncul hanya karena kau telah mempunyai tujuan. Semua siswa berbeda dan mereka punya keunikan dalam hal kelebihan dann kekurangan. Guru yang lebih tua dan berpengalaman seperti aku tidak dijamin bisa lebih baik ketika mengajar mereka dari pada kau, Guru Yang.”

Guru Yang : “Tapi semua guru senior sepertinya baik-baik saja, terutama Guru Ma.”
Ibu kepsek melihat kalau Guru Ma memiliki caranya sendiri dalam mengajar siswa. “Kau juga bisa menemukan caranya sendiri Guru Yang. Setiap guru akan menemukan caranya sendiri. Seperti Guru Ma.”

Guru Yang penasaran, “Sepertinya anda tahu banyak tentang Guru Ma?”

Ibu kepsek : “Aku bisa memberitahumu satu hal. Ketika pertama kali mengajar, Guru Ma itu seperti dirimu.”

Guru Yang terkejut, benarkah?

Ibu kepsek berharap Guru Yang jangan terlalu sedih. “Kalau kau mengikuti jalan lain kau hanya akan menjadi orang biasa. Namun, kalau kau putuskan kemana jalanmu dan berusaha keras untuk mencapainya kau bisa membuat jalanmu sendiri.”

Ibu kepsek memuji es krim yang ia makan enak sekali hehehe. “Aku itu selalu terbuka kalau ada Guru Yang membawa makanan dan meminta nasehatku.” (hahaha)
Siswa kelas 6-3 sudah mengumpulkan tugas kelompok mereka. Guru Ma pun sudah memeriksanya. Hari ini Guru Ma juga meminta siswanya untuk menuliskan satu nama anggota kelompok yang malas. Anak-anak diam menyimpan senyum mereka, karena mereka akan melakukannya sesuai saran Seo Hyun, menulis nama sendiri.
Guru Ma menatap curiga gelagat siswanya, “‘kita akan menulis nama kita sendiri’” ucap Guru Ma seolah bisa membaca pikiran siswanya. “Apa kalian berpikir begitu?”

Anak-anak terdiam terkejut.

Guru Ma pun mempersilakan anak-anak melakukan itu sesuka hati. Tapi kalau itu terjad maka semua anggota kelompok mendapatkan nilai terendah. “Teman yang duduk di sebelah kalian. Bisakah kalian mempercayai mereka?”
Anak-anak menatap teman sebangku mereka. Meraka tak yakin apa teman sebangku mereka itu akan menuliskan nama sendiri. Anak-anak pun menulis nama teman yang dianggap malas ketika kerja kelompok. Mereka tak jadi melakukan seperti yang direncanakan kemarin.
Hasilnya, tiap kelompok ada yang sama ada pula yang berubah. Kelompok 1 tetap Hwang Soo Jin. Kelompok 2 tetap Kim Min Jae. Kelompok 3 ganti jadi Lee Dong Jin. Kelompok 4 tetap Jo Yeon Hoo. Kelompok 5 ganti jadi Cha Jung Soo dan kelompok 6mendapatkan nilai terendah semua, artinya kelompok 6 ini sepertinya menuliskan nama masing-masing deh.
Soo Jin yang kesal protes ia mau ganti kelompok. Min Jae, Yeon Hoo dan Jung Soo juga mau ganti kelompok. Ini benar-benar menjengkelkan mereka. Mereka pun beradu mulut, kelas jadi gaduh, hanya kelompok 6 yang diam saja.
Guru Ma pun mengizinkan bagi yang ingin ganti kelompok dan tugas selanjutnya harus dikerjakan sesuai dengan kelompok pilihan mereka. Ia berharap tak akan ada keluhan lagi.
Setelah Guru Ma tak ada di kelas Soo Jin berkata pada teman-temannya, bukankah sekarusnya mereka menuliskan nama masing-masing. “Go Na Ri ada apa denganmu? Bukankah kau yang pertama kali setuju dengan idenya Kim Seo Hyun?”

Na Ri : “Kau juga tak menuliskan namamu sendiri.”

Soo Jin : “Tapi kenapa harus aku lagi? kalian menjengkelkan sekali!”

Soo Jin yang kesal mendorong mejanya dan segera keluar dari kelas.
Di kelompok 2 Kim Min Jae juga mau ganti kelompok. Choi Bit Na tak peduli, bodo amat. Min Jae benar-benar kesal dengan teman sekelompoknya. Bit Na berkata apa ada yang menyuruh Min Jae terlambat mengerjakan tugas. Min Jae berkata bukankah ia sudah bilang kalau ia sakit perut. “Hei itu masalahmu!” sahut Sun Young.
Yoo Seok Hwan melamar ingin masuk ke kelompok In Bo. Ia berjanji akan bekerja keras. (hahaha) 
Yeon Hoo menyambut baik Seok Hwan yang mau masuk ke kelompok In Bo karena ia sendiri akan keluar dari kelompok ini. Ia terlibat adu mulut dengan Lee Da In.
Kelomok 6 diam sedih memperhatikan teman-temannya yang terus beradu mulut.
Usai membuang sampah, di pintu masuk Bo MI bertemu Guru Ma. Guru Ma menilai Bo Mi sungguh beruntung, “Menjadi paling bodoh di kelompok 6 dan berpikir tidak masalah mendapatkan nilai paling rendah.” Bo MI diam.
Guru Ma bertanya pernahkah terpikirkan oleh Bo mI bahwa Bo MI telah membuat teman-teman menderita. Mereka terus berkata tentang teman baik dan berteman untuk selamanya. Tapi dalam hati, mereka menyesalinya. Tidakkah Bo MI melihat kejadian itu hari ini. ‘Apakah kau yang akan mendapatkan akhir yang buruk? Apa aku akan disingkirkan? Karena ini dunia dimana kau ingin hidup, aku harus melampaui yang lain’ Tidak ada yang namanya hidup bersama.

Guru Ma : “Meskipun kau senang sekarang karena mereka memanggilmu teman tapi aku penasaran. Berapa lama lagi anggota kelompok 6 akan bertahan darimu? Kau yang tak bisa diharapkan dan juga tak berguna. Kalau kau putuskan berada dipihakku, aku akan menerima mu kapan saja.”

Setelah mengatakan itu, Guru Ma berlalu dari sana.
Keempat sekawan berada di perpustakaan mengerjakan tugas kelompok. Bo Mi tampak terdiam memikirkan ucapan Guru Ma padanya. Ha Na mengeluh merasa masalah di kelasnya semakin besar saja. Seo Hyun merasa bersalah seharuanya ia tak menyarankan mereka untuk menulis nama masing-masing. Dong Goo menilai ini bukan kesalahan Seo Hyun, kita sekarang kembali dikalahkan nenek sihir itu. Bo Mi mengangguk.
Ha Na tadinya merasa kalau suasana kelas akan berubah selama liburan musim panas. Biasanya anak-anak sibuk karena ada bimbel selama liburan tapi sekarang mereka masih saling bertemu karena Guru Ma.
Dong Goo merasa kalau liburan musim panas untuk anak muda sekarang sudah berakhir. Ha Na juga merasa kalau kejadiannya seperti ini maka akan sama saja di semester 2 nanti. Ia berani bertaruh saat foto kelulusan nanti, anak-anak pasti wajahnya terlihat muram semua. Ia yang tak punya ide bertanya pada Seo Hyun apa tak ada jalan lain. Seo Hyun merasa kalau teman teman yang lain tak akan mendengarkan hanya karena ia mencoba mengajak secara logika.
Mendengar teman-temannya bicara begitu Bo MI pun bercerita, “Kalian tahu, sejak kemarin aku menginap di rumah Ha Na.” Bo Mi memberi tahu Seo Hyun dan Dong Goo.

Bo Mi : “Walaupun sementara, kalau aku seperti diriku yang dulu ini akan terasa sulit. Sebelum itu aku terus berpikir kalau aku akan melarikan diri. Dan setelah tahun berlalu, aku tak akan pergi sekolah. Aku akan berada di sauna mencuri barang-barang. Aku akan berubah menjadi jahat.”

Bo Mi tersenyum menatap Ha Na, “Tapi aku tak seperti itu sekarang. Aku sekarang temannya Ha Na. Saat aku dalam kesulitan, aku mendapatkan pertolongan dan suatu saat nanti aku juga bisa menolong Ha Na.”

Tentu saja!” Ha Na juga tersenyum. Dong Goo dan Seo Hyun pun tersenyum melihat kesungguhan hati Bo Mi.

Bo Mi berkata kalau ia juga tak ada rencana untuk membantu mengatasi masalah kelas. “Tapi kalau teman-teman sekelas seperti diriku yang menyadari bahwa teman itu penting, tidakkah mereka juga akan berubah? Kalau mereka mengerti sepenuh hati satu sama lain kurasa mereka tak akan bertengkar hanya karena ini.”

Ha Na bergumam, “Sepenuh hati.”
Dong Goo ingat kalau Nyonya Oh selalu menulis, “‘surat cinta yang menyatakan hati yang sesungguhnya’, seperti itu?” Dong Goo mengatakan kalau Nyonya Oh itu tidak tahu yang namanya email jadi dia masih memakai pena dan menulis surat.
Seo Hyun berkata kalau ia juga sama, ketika ketiga temannya mengetahui perihal ayahnya, ia sangat marah. Seo Hyun menatap Dong Goo, “Tapi ketika ada seseorang yang sepenuh hati mengatakan kalau aku ini bodoh. Aku kembali sadar.” Dong Goo tersenyum menatap Se Hyun. (Huwaaa lirikan mata Dong Goo sesuatu banget hahaha)
Mendengar ucapan teman-temannya Ha Na dapat ide, “Bagaimana kalau ini? bukankan ini ide yang bagus?” Ketiga teman Ha Na ini bengong tak mengerti. Seo Hyun menyuruh Ha Na mengatakan apa ide itu. Ha Na tertawa ide itu adalah.....
Ha Na dan Bo Mi berada di kamar. Ha Na menulis surat di secarik kertas, Bo Mi menghias kertas itu dengan kemampuan menggambarnya. Bagi teman yang suka sepak bola Bo Mi menggambar orang yang bermain sepak bola. Bagi mereka yang suka belajar Bo Mi menggambar anak yang sedang belajar. Sedangkan Ha Na, dia yang menulis surat dan menyusun kalimatnya.
Ha Na berpikir apa keahlian Jo Yeon Hoo. Bo Mi berkata berdasarkan data yang ditulis Dong Goo, Yeon Hoo itu hebat bermain di sepak bola. Ha Na pun akan menulis surat menanyakan pemain sepak bola kesukaan Yeon Hoo.
Keduanya tampak bersenda gurau sambil menulis. Tiba-tiba Ha Yoon masuk ke kamar adiknya. “Apa yang kalian lakukan?” Ha Na mengatakan kalau ia dan Bo Mi sedang menulis pertanyaan wawancara untuk teman sekelas. Ha Yoon berkata kalau ibu mengira Ha Na dan Bo Mi sedang belajar. Ha Na meminta kakaknya diam. Ha Yoon tak akan mengatakan itu pada ibu, tapi Ha Na sudah berhutang padanya satu rahasia hahaha. Keduanya pun kembali membuat surat.
Dengan kemampuan menggambar yang dimiliki Bo Mi surat itu jadi terlihat bagus. Ha Na pun menulis dengan tangannya setiap kalimat yang ia tujukan untuk teman sekelasnya. (OMG Ha Na menulis surat untuk ke 20 temannya) menulis sendiri sampai larut malam, bahkan Bo Mi aja sampai tertidur saking lelahnya menggambar.
Bo MI terbangun dan melihat Ha Na tetap semangat berfikir dan merangkai kalimat apa yang cocok, ia juga melanjutkan menggambarnya.
Pagi Hari Ha Na dan Bo Mi berangkat sekolah bersama. Keduanya tersenyum ceria membawa surat yang mereka buat.

Dikelas, dibantu Dong Goo dan Seo Hyun mereka meletakan surat itu berdasarkan nama anak yang dituju. Mereka meletakannya di laci meja. Mereka berempat menunggu kedatangan teman sekelas. 
Satu persatu siswa kelas 6-3 datang dan menemukan sebuah surat di laci meja mereka masing-masing. Mereka membacaya dan merasa aneh dengan surat yang tiba-tiba itu. Mereka menoleh ke arah Ha Na dengan tatapan tak mengerti, apa maksud surat seperti itu.
Ha Na langsung berdiri di depan kelas, “Teman-teman surat yang kalian lihat sekarang aku meminta satu jawaban dari kalain.” Ucap Ha Na yang ternyata membuat surat pertanyaan.
Soo Jin tak mengerti, apa ini? Ha Na mengatakan kalau mereka semua menjadi jauh karena berbeda kelompok. “Meskipun kita mengatakannya itu karena Guru Ma tapi kalau kita menjadi teman baik yang saling memahami kurasa kita tak akan berkelahi lagi. Jadi kami membuat surat pertanyaan... tadaaaa...”

Mereka malas menanggapinya.

Ha Na : “Kalau kalian menjawab pertanyaannya, Bo Mi dan aku akan menghiasnya dan membagikan pada semuanya. Dan kita akan menambahkannya pada album kelulusan nanti.”
Yoo Seok Hwan : “Hei, ini menyebalkan. Apa ini? kami bukan anak kecil lagi.”
Jung Soo : “Hei Shim Ha Na, ini agak memalukan.”
Soo Jin : “Ini agak keterlaluan. Saat sudah SMP kita tak harus berjumpa lagi. Aku hanya harus bertahan setengah tahun lagi.”
Ha Na terdiam terkejut dengan reaksi teman-temannya.
“Hei apa kau menyukaiku?” tanya Kyung Hyun pada teman sekelompoknya Lee Da In. Sepertinya Kyung Hyun mendapatkan surat pertanyaan apa menyukai teman sekelompoknya. Lee Da In marah memangnya ia sudah gila menyukai Kyung Hyun. Da In berkata kalau ia tak menyukai teman sekelompoknya.

Kyung Hyun yang kesal juga berkata ia juga tak merasa nyaman sekelompk dengan Da In. Ia merobek suratnya. Da In yang juga marah merobek surat dan berkata kalau ia lebih-lebih tak nyaman sekelompok dengan Kyung Hyun. Mereka pun jadi ribut, sebagian besar dari mereka merobek surat yang ditulis oleh Ha Na dan marah-marah pada teman sekelompoknya.

Ha Na dan temannya di kelompok 6 terdiam kecewa.
Lee Dong Jin merebut surat yang ada di tangan Seok Hwan, “Hei kau tak usah menulis apapun karena kami tak ingin tahu apapun darimu.”
“Kau mau mati ya?” Seok Hwan berusaha merebut kertas surat miliknya. Dong Jin menghindar naik ke meja. Seok Hwan mengejar dan ikut naik juga ke meja untuk merebut kembali suratnya. Dong Jin merobek kertas surat milik Seok Hwan.
Dong Goo yang melihat hal itu marah, ia menyusul keduanya naik ke meja. “Shim Ha Na yang menulisnya kenapa kau merobeknya? Kalau kau tak mau menjawabnya berikan padaku!” Dong Goo juga berusaha merebut kertas itu.
Melihat perkelahian itu Ha Na berusaha melerai, “Apa yang kalian lakukan? Jangan berkelahi.” Ha Na naik ke kursi untuk melerai mereka. Seok Hwan yang juga ingin merebut kertas surat miliknya tanpa sengaja menepis tangan Ha Na.
Ha Na hilang keseimbangan dan jatuh terlempar ke jendela hingga membuat jendela itu pecah. Ha Na jatuh di atas kepingan-kepingan kaca yang pecah.
Naas kakinya menancap ke pecahan kaca yang tajam. Ha Na tergeletak di lantai luar kelas. Ia menahan kesakitan.
Semuanya terkejut melihat kejadian yang begitu tiba-tiba. Semuanya segera lari keluar untuk melihat keadaan Ha Na. Mereka terkejut melihat pecahan kaca yang banyak. Mereka bingung tak tahu harus berbuat apa. Bo Mi terlihat panik.
Karena sudah saatnya masuk kelas Guru Ma pun tiba disana. Ia melihat siswanya berkerumun di luar kelas, “Ada apa?” Guru Ma bergegas menuju ke depan kelasnya.
Guru Ma terkejut melihat Ha Na tergeletak di lantai diatas tumpukan pecahan kaca jendela. Ia melihat luka-luka Na Na, yang parah di kaki, disana tertancap beberapa kaca.
Guru Ma pun bergegas membopong Ha Na menuju ruang UKS. Ha Na menangis menahan sakit yang teramat sangat. Tangannya mencengkeram baju Guru Ma. Dan oh lihat ada sesuatu di leher Guru Ma yang selama ini selalu tertutup. Ada bekas luka disana. Darah meneter di lantai yang Guru Ma lalui ketika membopong Ha Na.
Anak-anak kelas 6-3 berdiri terdiam di depan kelas, tepat di depan Ha Na jatuh.
Dong Goo menilai teman-temannya sudah keterlaluan. “Apa kalian tahu perasaan Ha Na yang sebenarnya? Bahkan saat dia dikucilkan, dia masih mengkhawatirkan kalian. Kalau kita melakukan apa yang guru suruh pada kita, maka semua orang di kelas ini suatu hari akan dikucilkan. Karena kita akan merasa kesepian kalau sendirian. Kita tak akan bahagia kalau kesepian. Ha Na bilang dia tak akan membiarkan teman-temannya merasa saling mengucilkan. Sampai kapan kalian akan menjadi boneka nenek sihir itu? apa hebatnya mendapatkan nilai tinggi?” Dong Goo yang marah mendorong mereka untuk menyingkir, ia kembali ke kelas.
Dong Goo melihat Seo Hyun dan Bo Mi menangis memunguti kertas surat yang Ha Na tulis dan sekarang sudah sobek-sobek. Keduanya menangis berusaha menempelkan kembali surat-surat itu menggunakan selotip.
Bo Mi yang mengetahui perjuangan Ha Na membuat surat itu merasa sedih. Ia dan Seo Hyun menangis terisak menempel satu demi satu sobekan kertas. Teman sekelas melihat dan menyadari kalau mereka sudah keterlaluan.
Guru Ma mengambil pecahan kaca di kaki Ha Na. Ha Na meringis menahan sakit. Guru Ma dengan penuh kesabaran mengobati kaki Ha Na, ia meminta Ha Na untuk menahan rasa sakit itu sebentar. Untunglah pecahan kaca itu tidak menancap dalam.
Guru Ma membersihkan darah yang ada di kaki Ha Na. Ha Na memperhatikan gurunya dan tanpa sengaja melihat di leher Guru Ma ada bekas luka. Guru Ma yang menyadari Ha Na melihat kearah lehernya, sesegera mungkin ia menutupnya. Ia menyuruh Ha Na berbaring karena ia akan membalut lukanya dengan perban.
 Ibu Na Ri menemui wakil kepala sekolah. Ia membawa dokumen yang didapatnya dari jaksa. Ia mengatakan kalau di catatan dokumen ini ada sesuatu yang menarik tentang Guru Ma, sebuah catatan berharga yang Guru Ma sukai. Waksek membuka dokumen itu dan terkejut begitu membacanya.

Ibu Na Ri : “Guru kelas anakku pernah di penjara. Kalau orang tua yang lain tahu, akankah ini baik-baik saja?”

Wakasek sedikit cemas, “Seperti yang anda tahu dengan ini anda tak bisa mempengaruhi posisi Guru Ma sebagai guru.”
Ibu Na Ri tahu itu, maka dari itu ia sengaja datang ke sekolah menemui wakasek untuk mendiskusikan hal ini.

Wakasek : apa yang anda pikirkan?

“Kalau ada masalah ketika dia mengajar, bukankah ini akan berguna?” Ibu Na Ri paham betul posisi wakasek, “Bagi anda, anda tak ingin apapun terjadi pada sekolah. Namun, apakah masalah yang terjadi disini dibiarkan saja? kalau anda bisa naik ke posisi yang lebih baik, bagaimana menurut anda?”

Wakasek tampak berfikir dengan iming-imingi kedudukan yang lebih baik di sekolah. Ibu Na Ri tanpak tersenyum menang. (apa yang keduanya rencanakan)
Guru Ma membalut luka Ha Na dengan perban. Tiba-tiba Ha Na merasakan hangatnya perhatian Guru Ma yang selama ini ia ketahui berhati dingin.
Ha Na berkata kalau ia akan kembali ke kelas. Walaupun tak mengatakannya Guru Ma merasa lega karena luka Ha Na tak terlalu serius. Ia yang tak menunjukan perasaan leganya bertanya apa Ha Na akan terus melanjutkannya (hmmm mungkin melanjutkan menentang dirinya) Ha Na menjawab ya.
Ha Na keluar dari ruang UKS. Langkahnya terpincang-pincang. Ia berjalan berpegangan pada dinding. Ha Na menoleh ke belakang, ia merasakan sesuatu yang lain dalam diri Guru Ma. Bukan seseorang yang bersikap kejam dan dingin tapi seseorang yang sabar dan perhatian.
Guru Ma masih duduk diam di ruang UKS. Tatapan wajahnya mengisyaratkan kesediahan. Tapi ia tak boleh goyah.
Anak-anak kelas 6-3 duduk di tempat masing-masing membaca kembali surat yang dibuat Ha Na. Kyung Hyun melihat kaca jendela yang pecah tempat Ha Na terjatuh, ia sedih mengingat kejadian tadi. 
Mereka menangis terisak membaca surat pertanyaan Ha Na. Mereka menyadari selama ini sudah melakukan hal yang tak baik pada Ha Na. Ha Na sampai di lorong dekat kelasnya.
Bo Mi, Seo Hyun dan Dong Goo melihat Ha Na berjalan tertatih berpegangan pada dinding. Ketiganya tentu saja cemas. Bo Mi dan Seo Hyun membantu memapah Ha Na berjalan menuju kelas. 
Guru Ma tepat berada di belakang mereka dan terharu melihat betapa eratnya persahabatan mereka berempat. Guru Ma menyentuh perutnya. (kenapa? apa yang terjadi, apa ada masalah ketika Guru Ma membopong Ha Na tadi)
Guru Ma masuk ke kelas, ia marah. “Apa yang kalian lakukan? kenapa lorongnya masih berantakan? Siswa terburuk ditiap kelompok, cepat bersihkan itu! yang lain siap-siap untuk belajar.”
Ha Na, Seo Hyun, Bo Mi dan Dong Goo langsng berdiri karena mereka berempat siswa dengan nilai rendah.
Seok Hwa yang tadi tak sengaja membuat Ha Na terjatuh mengangkat tangan dan berdiri, “Bu guru. Aku juga akan membersihkannya. Shim Ha Na aku minta maaf, gara-gara aku, kau...”
Lee Dong Jin yang tadi merebut kertas Seok Hwan juga berdiri. “Aku juga akan membersihkannya. Ha Na maaf ya!”
Na Ri juga akan ikut membersihkan lorong. Ia juga minta maaf pada Ha Na. Satu persatu semua siswa berdiri siap ikut membersihkan pecahan kaca itu bersama-sama. Mereka juga minta maaf pada Ha Na. Ha Na terharu melihatnya, ia hampir menangis.
Guru Ma menatap tajam seluruh siswanya, “Semuanya akan membersihkan kelas seperti ketua kelas terendah. Kelas khusus liburan musim panas berakhir hari ini.”

Anak-anak berpandangan heran.
 “Sampai jumpa di hari pertama semester kedua.”

Bersambung di episode 11

Komentar :

Huwaaaaaa nangis lagi tuh. Memang ya untuk menggerakan hati seseorang itu susah, dan akhirnya mereka menyadari kalu Ha Na tulus.

Apa yang terjadi dengan masa lalu Guru Ma? Bekas luka apa itu? Kenapa dia pernah masuk penjara? Apakah berhubungan dengan bekas lukanya? Apa yang akan terjadi di semester 2 nanti? Apa yang akan Ibu Na Ri dan wakasek rencanakan? Apa keduanya akan mengusir Guru Ma dari SD Sandeul?
Ada kejutan, Kim Do Jin ‘Ha Na’s First Love’ kembali ke SD Sandeul

33 comments:

  1. keren banget..jadi ngga sabar baca episode selanjutnya..setia menunggu kelanjutanya..!!

    ReplyDelete
  2. waaaaah seru banget
    eonni ditunggu episode selajutnya ya

    ReplyDelete
  3. yeeeayy,,,udah keluar..cepet amat yaa pasti mbak anis semangat bgt biar cepet2 ketemu sama kim do jin,,hihihiiii

    ReplyDelete
  4. yay udah mau episode 11 ,
    Eonni episode 11 dan 12 tentang bully, aish parahnya si do jin yang ngebully.
    Eonni fighting !!!

    ReplyDelete
  5. waduh emang bener banget nih drama tiap part-nya bikin sesek dada alias mewek terharu...pinter amat yg bikin scriptnya yah? ditunggu terus mba sinopsisnya...tx a lot

    ReplyDelete
  6. Wahh tambah seru nih epsd berikutnya....

    ReplyDelete
  7. Nggak sabar nunggu kelanjutannya,
    penasaran sama endingnya..

    ReplyDelete
  8. Wuaaaaaaah... Akhirnya diposting juga. Semangat eonni, aku tunggu sinopsis selanjutnya. Fighting!!!!

    ReplyDelete
  9. emang kim do jin dr mana o.o
    lanjut! semangat semangat, krn saya juga bersemngat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, barusan aku lihat, ganas bgt si do jin -_- masa in bo kyk disiksa gt dilemparin pk bola basket, trs ada yg dipukul pk pemukul kasti :3 sadis bener, tp si nenek Ma kyknye tambah dipaporitkan

      Delete
  10. makasih sinopnya eonni.. semangat bwt lanjutanya ya.. ini drama emang sgt menyentuh ^^

    ReplyDelete
  11. aduh...bacanya aja udah nangis...apalgi nontonnya yah....hiks....huwaaaaa

    san

    ReplyDelete
  12. lanjut min aku mau liat kim do jin nyaa ^_^

    ReplyDelete
  13. eonniii.. *aku manggilnya apa ya??kak ato ibu??* hehe ^^
    mianhe baru komen bu, keren deh drama ini, walopun baru baca sinop'y belum dramanya tpi udah sukaaaa bgt.. :D

    ditunggu sinop selanjutnya ibu guru ^^

    Salam

    ReplyDelete
  14. Ha Na dan 4 Sekawan bener-bener kerennn, bisa sedikit demi sedikit menggoyahkan hati Bunda mishil..... ^_^

    Thank's sinopnya mbak anis yang super cepet nge-postnya.... selalu sabar menanti aksi 4 sekawan ini. ^_^

    ReplyDelete
  15. di akhir ep ini 4 skawan itu menari lagunya apa itu mbak ? lucu bgt ha na dong go bo mi sama seo hyun ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu MV dari ost drama ini, judulnya 'Green Rain' yang nyanyi Shinee

      Delete
  16. Ep.10 nangis lagi dah u.u .
    Waaa cepet ne ep.11 nya udah aku tunggung'in lama, karena gak bisa nonton.
    Kang chan hee alias kim do jin nongol lagi :D
    tapi sayang do jin ngebully ....
    Ditunggu ep.11 nyaa :)

    ReplyDelete
  17. kok firasat aku ada hubungan antara kim do jin sama guru ma *just my opinion* XD Hwaiting, buat nulis sinopsisnya eonni!!!!! ( '-')9

    ReplyDelete
  18. kim do jin jd jahattt
    benciiiiiiiiii bgt liatnya..
    pdhl keadaan kls dh mulai bagus tp dia mengacau aja..
    ga usah balik sana
    huh

    ReplyDelete
  19. terima kasih mbak, lanjut terus yeah sinopsisx :)

    ReplyDelete
  20. terima kasih sinopsisnya nis..
    penasaran sama episode 11nya..
    kami setia menanti lanjutannya...

    btw anis ngajar sd,smp atau sma??

    @paulina

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama dengan kisah di drama ini, saya di SD.

      Delete
  21. setuju sama anis. selamat hari anak dan semoga setiap anak Indonesia mendapat pendidikan yang layak untuk bekal masa depannya.. bukan sekedar kelinci percobaan kurikulum :( back to the drama, kayanya realita kehidupan bersekolah anak Indonesia ga jauh beda sama korea, ya, nis.. anak2 dituntut nilai tinggi (kadang tanpa memahami apa manfaat matpel yang dipelajari), bimbel2 laris, dan kasus bully-nya itu loh.. ckckck. hasil survei-nya, Indonesia menempati urutan ke-2 kasus bully terbanyak di dunia! eh ada lagi yang sama.. cerita cintanya itu loh .. (mesem2) kayanya anak sekarang terlalu cepat dewasa :)
    ita

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf bolehkah bertanya ITA itu siapa ya ,soal nya di sekolaan saya juga ada yg bernama ita dia sering di bully oleh temen sekelas nya dari kelas satu(7) semester dua sampek kelas 3(9) semester satu,dia sering menyendiri di kls dandia tdk pernah d ajak ngobrol oleh teman nya dan setip haripun selalu meneteskan air mata,apakah gara2 sering meneteskan air mata karna dibully teman nya tdk mau mengajak maindia dan pernah dia dibuly sangat kejam oleh teman nya yaitu wajah nya dicoret coret oleh teman nya dan payudarah nya diremas remas itu dilihat dandisasikan oleh seluruh siswa kls 9 tpi tdk ada yg mau enolong nya.
      TOLONG SARAN DAN KRITIK NYA BAGI YANG ME DAN MBACA INI DAN JUGA TOLONG BLS LAH CURHATAN KU INI.3 -16 NAMA ANAK INI --- --------- ---- GABI YG TAU TLONG DIAM HANYA BOLEH MENYEBUT SINGKATAN/DIMANA DIA SEKOLAH DAN D KLS APAKAH DIA.
      OK SEKIAN DAN TERIMAKASIH.

      Delete
  22. eh iya tetep ditunggu kelanjutan sinopnya.. pengen liat ada hal baik apakah yang bisa kita terapkan dalam mendidik anak di sekolah.. oya bu kepsek keren euy..


    ita

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya semoga ada sesuatu yang bisa kita terapkan di sekolah.

      Delete
  23. Wah, iya... "Selamat hari Anak Nasional". Semoga anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan tidak takut bermimpi dan berjuang untuk mewujudkannya.Aamin...

    Di ep ni makin suka ama persahabatan kel 6. Makin solid. Suka :)
    Dan pastinya Hana yang paling keren, dy selalu peduli ama teman2nya.
    Guru Ma masih penuh misteri.
    Ditunggu ep berikutnya. Semangat mba anis.
    Makasih
    -Yumenas-

    ReplyDelete
  24. Seru ceritanya,, ditunggu episode berikutnya fighting!

    ReplyDelete
  25. dan aku pun menangis. hiks hiks hiks

    ReplyDelete

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...